Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kinerja Perawat Pelaksana Dalam Pendokumentasian Keperawatan


2.1.1 Kinerja Perawat
a. Pengertian Kinerja
Kinerja menurut Mangkunegara (2005), adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikankepadanya.
Kinerja menurut (Prawirosentono dalam

Usman,

2011) kinerja adalah usaha yang dilakukan dari hasil kerja


yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawab

masing-masing

dalam

rangka

mencapai

tujuan

organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar


hukum dan sesuai moral serta etika. Sehingga dapat
disimpulkan

kinerja

adalah

hasil

kerja

yang

dicapai

seseorang baik secara kualitas dan kuantitas.


b. Pengertian Perawat
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.02/MENKES/148/I/2010
Penyelenggaraan

Praktik

tentang
Perawat,

Izin
perawat

dan
adalah

seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di


dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan yang berlaku (Kemenkes RI,


2013).
c. Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Dalam meningkatkan kinerja pegawai, secara teoritis
ada 3 kelompok faktor yang mempengaruhinya (Gibson,
1987), yaitu :
1. Faktor individu
Variabel individu terdiri dari variabel kemampuan dan
ketrampilan,latar belakang pribadi dan demografis.
2. Faktor psikologis
Terdiri dari variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar
dan motivasi.
3. Faktor organisasi
Terdiri dari variabel sumber daya, kepemimpinan, imbalan
(reward system), struktur dan desain pekerjaan.
2.1.2

Pendokumentasian Keperawatan
a. Pengertian
Nursalam (2013) mengatakan bahwa Dokumen
adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan
bukti dalam

persoalan

pendokumentasian

adalah

hukum.

Sedangkan

pekerjaan

mencatat atau

merekam peristiwa dan objek maupun aktifitas pemberian


jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting.
Dokumentasi

asuhan

dalam

pelayanan

keperawatan

adalah bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh


perawat

setelah

memberi

asuhan

kepada

pasien.

Dokumentasi merupakan suatu informasi lengkap meliputi


status kesehatan pasien, kebutuhan

pasien, kegiatan
9

asuhan

keperawatan

serta

respons

pasien terhadap

asuhan yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi


keperawatan mempunyai porsi yang besar dari catatan
klinis

pasien yang

atau situasi

yang

Disamping itu

menginformasikan
terjadi selama

catatan

juga

faktor

asuhan

dapat

tertentu

dilaksanakan.

sebagai

wahana

komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner)


yang dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta
aktual untuk dipertanggung jawabkan.
Dokumentasi
bagian

integral

dilaksanakan
pemahaman

asuhan keperawatan
dari

sesuai
dan

asuhan
standar.

keterampilan

merupakan

keperawatan
Dengan
dalam

yang

demikian
menerapkan

standar dengan baik merupakan suatu hal yang mutlak


bagi setiap tenaga keperawatan agar mampu membuat
dokumentasi keperawatan secara baik dan benar.
2.2.1 Manfaat Pendokumentasian Keperawatan
Menurut Nursalam (2013) menerangkan bahwa

dokumentasi

keperawatan mempunyai makna yang penting dilihat dari berbagai aspek


seperti aspek hukum, kualitas pelayanan, komunikasi, keuangan,
pendidikan, penelitian, dan akreditasi. Penjelasan mengenai aspek-aspek
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Aspek hukum

10

Semua

catatan

informasi

tentang

keadaan

pasien

merupaka

dokumentasi resmi dan bernilai hukum. Bila terjadi suatu masalah


yang berhubungan dengan profesi keperawatan, dimana perawat
sebagai pemberi jasa dan pasien sebagai pengguna jasa, maka
dokumentasi diperlukan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat
dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan. Oleh karena itu
data-data harus diidentifikasi secara lengkap, jelas, obyektif dan
ditandatangani oleh tenaga kesehatan (perawat), tanggal, dan perlunya
dihindari adanya penulisan yang dapat menimbulkan interprestasi
yang salah.
b. Jaminan mutu atau kualitas pelayanan
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan member
kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah
pasien dan untuk mengetahui sejauh mana masalah pasien dapat
teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi dan
dimonitor melalui catatan yang akurat. Hal ini akan membantu
meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan keperawatan.
c.

Komunikasi
Dokumentasi keadaan pasien merupakan alat perekam terhadap
masalah yang berkaitan dengan pasien. Perawat atau tenaga kesehatan
lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat komunikasi
yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan.

d.

Keuangan

11

Dokumentasi dapat bernilai keuangan. Semua tindakan keperawatan


yang belum, sedang dan telah diberikan dicatat dengan lengkap yang
dapat dipergunakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya
keperawatan bagi pasien.
e.

Pendidikan
Dokumentasi mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut
kronologi dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan
sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi
keperawatan.

f.

Penelitian
Dokumentasi keperawatan mempunyai nilai penelitian. Data yang
terdapat di dalamnya mengandung informasi yang dapat dijadikan
sebagai bahan atau obyek penelitian dan pengembangan profesi
keperwatan.

g. Akreditasi
Melalui dokumentasi keperawatan akan dapat dilihat sejauh mana
peran dan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada pasien, dengan demikian akan dapat diambil kesimpulan
tingkat keberasilan pemberian asuhan keperawatan yang diberikan,
guna pembinaan dan pengembangan lebih lanjut. Hal ini selain
bermanfaat bagi peningkatan mutu bagi individu perawat dalam
mencapai tingkat kepangkatan yang lebih tinggi.

12

2.2.2

Tujuan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan


Menurut Potter & Perry (2010) Sebagai dokumen rahasia yang mencatat
semua pelayanan keperawatan pasien, dokumentasi keperawatan dapat
diartikan suatu catatan hukum yang mempunyai banyak manfaat :
a. Mengidentifikasi

status

kesehatan

pasien

dalam

rangka

mendokumentasikan kebutuhan pasien, merencanakan, melaksanakan


asuhan keperawatan dan mengepaluasi intervensi.
b. Dokumentasi untuk penelitian, keuangan, hukum dan etika. Hal ini juga
menyediakan :
1. Bukti kualitas asuhan keperawatan
2. Bukti legal dokumentasi sebagai pertanggungjawaban kepada
pasien.
3. Informasi terhadap perlindungan individu.
4. Bukti aplikasi standar praktek keperawatan.
5. Sumber informasi statistic untuk standar dan riset keperawatan.
6. Pengurangan biaya informasi.
7. Sumber informasi untuk data yang harus dimasukkan.
8. Komunikasi konsep resiko asuhan keperawatan.
9. Informasi untuk peserta didik keperawatan.
10. Persepsi hak pasien.
11. Dokumentasi untuk tenaga professional, tanggungjawab etik dan
menjaga kerahasiaan informasi pasien.
12. Suatu data keuangan yang sesuai.
13. Data perencanaan pelayanan kesehatan di masa yang akan datang.
2.2.3

Hal-Hal Yang Perlu Di Perhatikan Dalam Pendokumentasian


Potter dan Perry (2010) memberikan panduan sebagai petunjuk
cara mendokumentasikan dengan benar :
a. Jangan menghapus menggunakan tip-ex atau mencoret tulisan yang
salah ketika mencatat, karena akan Nampak seakan-akan perawat

13

mencoba menyembunyikan informasi atau merusak dokumen. Cara


yang benar adalah dengan membuat satu garis pada tulisan yang salah,
tulis kata salah laludiparaf kemudian tulis catatan yag benar.
b. Tulislah kondisi obyektif klien dan tindakan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan. Jangan menulis komentar yang bersifat mengkritik klien
maupun tenaga kesehatan lain karena menyatakan tersebut dapat
dipergunakan sebagai bukti terhadap prilaku yang tidak profisional atau
asuhan keperawatan yang tidak bermutu.
c. Koreksi semua kesalahan sesegera mungkin karena kesalahan menulis
dapat diikuti dengan kesalahan tindakan. Oleh karena itu jangan
d.

tergesa-gesa melengkapi catatan, pastikan bahwa informasi akurat.


Catatan hanya fakta, catatan harus akurat dan reliable. Pastikan apa
yang ditulis adalah fakta, jangan berspekulasi atau menulis perkiraan

saja.
e. Jangan biarkan pada akhir catatan perawat kosong, karena orang lain
dapatmenambahkan informasi yang tidak benar pada bagian yang
kosong tadi. Untuk itu buat garis horizontal sepanjang area yang kosong
dan bubuhkan tanda tangan dibawahnya.
f. Semua catatan harus dapat dibaca, ditulis dengan tinta dan
menggunakan bahasa yang lugas, karena tulisan yang tidak terbaca
dapat disalah tafsirkan sehingga menimbulkan kealahan dan dapat
dituntut ke pengadilan.
g. Jika mempertanyakan suatu instruksi, catat bahwa anda sedang
mengklarifikasi karena jika perawat melakukan tindakan di luar batas
kewenangannya dapat dituntut.

14

h. Tulis hanya untuk diri sendiri karena perawat bertanggung jawab dan
bertanggung gugat atas informasi yang ditulisnya. Jadi jangan
menuliskan pertanggungjawaban tindakan orang lain.
i. Hindari penggunaan tulisanyang bersifat umum (kurang spesifik), tulis
secara lengkap, singkat, padat dan obyektif.
j. Mulailah mencatat dokumentasi dengan waktu dan akhiri dengan tanda
tangan (nama). Pastikan urutan kejadian dicatat dengan benar dan
ditandatangani, hal ini menunjukkan orang yang bertanggung gugat atas
dokumentasi tersebut Jangan tunggu sampai akhir giliran dinas baru
mencatat perubahan penting yang terjadi beberapa jam lalu.
2.2.4

Tahap Tahap Pendokumentasian Keperawatan


Pada tahun 1975 Mundinger dan Jaurou dikutip Nursalam (2013)
menambah adanya diagnosa pada proses keperawatan sehingga proses
keperawatan mencakup 5 tahapan, yaitu:
a. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien.
Pengkajian dilakukan guna mengidentifikasi, mengenali masalah
masalah, kebutuhan kesehatan, dan keperawatan. Pengumpulan data pada
pengkajian merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi (data data) dari pasien yang meliputi unsur bio psiko sosio kultural spriritual
yang komprehensif (Carpenito, 2005).
Pengkajian keperawatan terdiri dari :
1. Pengumpulan data , kriteria LLARB : Legal, Lengkap, Akurat, Relevan,
dan Baru
2. Pengelompokan data, kriteria :

15

1) Data biologis, yaitu hasil dari observasi tanda tanda vital dan
pemeriksaan fisik melalui IPPA ( Inspeksi, Perkusi, Palpasi,
Auskultasi) serta pemeriksaan diagnostik / penunjang (Laboratrium
dan foto rongsen);
2) Data Psikologis, sosial, spiritual melalui wawancara dan observasi;
3) Format pengkajian data awal menggunakan model ROS (Review, Of
System) yang meliputi data demografi pasien, riwayat keperawatan,
observasi dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang /
diagnostik.

b.

Diagnosis
Diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan dari masalah

pasien yang nyata maupun yang potential berdasarkan data yang telah
dikumpulkan, yang pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang
perawat utnuk melakukannya. Dalam merumuskan diagnosis keperawatan
dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut : PES (Problem, Etiologi,
Symptom) atau PE (Problem, Etiologi) (Carpenito, 2005).
Kriteria diagnosis keperawatan :
1. Status kesehatan dibandingkan dengan norma untuk menentukan
kesenjangan.
2. Siagnsis keperawatan diubungkan dengan penyebab kesenjangan dan
pemenuhan pasien
3. Siagnosis keperawatan dibuat sesuai dengan wewenang perawat.
4. Komponen diagnosis terdiri dari P-E-S
c.Perencanaaan
Rencana keperawatan

adalah

menyusun

rencana

tindakan

keperawatan yang akan dilaksanakan perawat guna menanggulangi


masalah klien sesuai dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan

16

dengan tujuan terpenuhinya kesehatan klien. Komponen rencana tindakan


terdiri dari tujuan, kriteria hasil dan rencana tindakan keperawatan yang
akan dilakukan ke pasien. Langkah langkah penyusunan perencanaan
keperawatan terdiri dari tujuan dan kriteria hasil. Tujuan dan kriteria hasil
disusun sesuai dengan prioritas masalah klien yang akan direncanakan
untuk dilakukan tindakan asuhan keperawatan. Dengan menentukan
tujuan dan kriteria hasil diharapkan asuhan keperawatan yang diberikan
akan memberikan keberhasilan sesuai dengan yang diharapkan klien
maupun perawat. Diagnosis keperawatan ditulis kembali pada formulir
rencana tindakan keperawatan dan pada kolom diagnosis disertai
penulisan tanggal serta jam ditegakkannya diagnosis. Rencana tindakan
keperawatan disusun sesuai prioritas masalah klien atau sesuai diagnosis
keperawatan yang sudah ditentukan (Carpenito, 2005).
Komponen Perencanaan keperwatan :
1. Prioritas masalah, criteria :
a. Masalah yang mengancam kehidupan merupakan perioritas
utama
b. Masalah yang mengancam kesehatan seseorang merupakan
prioritas ke 2
c. Masalah yang mempengaruhi prilaku merupakan prioritas ke 3
2. Tujuan asuhan keperawatan, memenuhi syarat SMART, kriteria
(

NOC-Nursing

Outcame

Criteria)

disesuaikan

standar

pencapaian :
a. Tujuan dirumuskan secara singkat
b. Disusun berdasarkan diagnosis keperawatan
c. Spesifik pada diagnosis keperawatan
d. Dapat diukur
e. Dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
f. Adanya target waktu pencapaian

17

3. Rencana tindakan didasarkan pada NIC (Nursing Intervention


Classification) yang telah ditetapkan oleh instansi pelayanan
setempat. Jenis rencana tindakan keperawatan mengandung 3
komponen, meliputi DET tindakan keperawatan :
a. Diagnosis / Observasi
b. Edukasi (HE)
c. Tindakan independen, dependen, dan interpenden.
Kriteria :
1) Berdasarkan tujuan asuhan keperawatan
2) Merupakan alternative tindakan secara tepat
3) Melibatkan pasien / keluarga
4) Memepertimbangkan latar belakang sosial budaya pasien /
keluarga
5) Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang
berlaku
6) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien
7) Disusun dengan mempertimbangkan lingkungan, sumber
daya dan fasilitas yang ada.
8) Harus berupa kalimat instruksi, ringkas, tegas dan
penulisan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
9) Menggunakan formulir yang baku
d.

Intervensi / Implementasi
Intervensi keperawatan adalah pelaksanaan tindakan yang telah
ditentukan, dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal.
Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah implementasi perawat terhadap
klien secara urut sesuai prioritas masalah klien yang sudah dibuat dalam
rencana tindakan asuhan keperawatan, termasuk di dalamnya penulisan
nomor urut dan waktu ditegakkannya suatu pelaksanaan asuhan
keperawatan. Tindakan keperawatan harus berprinsip pada tindakan yang
aman, sejalan dengan komponen pengobatan dan mempunyai alasan yang

18

jelas yang bersifat realistik. Tindakan keperawatan harus memprioritaskan


peningkatan status kesehatan pasien dan pasien menjadi sumber utama
pemberian tindakan keperawatan (Carpenito, 2005).
Intervensi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang
ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal
yang mencakup aspek peningkatan, pemeliharaan dan pemulihan
kesehatan dengan mengikut sertakan pasien dan keluarga (Nursalam,
2013)
Intervensi keperawatan berorientasi pada 15 komponen dasar
keperawatan yang dikembangkan dengan prosedur teknis keperawatan.
Kriteria :
1. Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan
2. Mengamati keadaan biopsikososiospiritual pasien
3. Menjelaskan setiap tindakan keperawatan kepada pasien / keluarga
4. Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
5. Menggunakan sumber daya yang ada
6. Menunjukkan sikap sabar dan ramah dalam berinteraksi dengan
pasien / keluarga
7. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan
keperawatan
8. Menerapkan prinsip prinsip apsepsis dan antisepsis
9. Menerapkan etika keperawatan
10. Menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonomis , privasi dan
mengutamakan keselamatan pasien.
11. Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respon pasien
12. Merujuk dengan segera terhadap masalah yang mengancam
keselamatan pasien.
13. Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan
14. Merapihkan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan
15. Melaksanakan tindakan keperawatan pada prosedur teknis yang
telah ditentukan.
e. Evaluasi

19

Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta


pengkajian ulang rencana keperawatan , ditulis pada tiga kolom yaitu
evaluasi formatif / sumatif, rencana tindak lanjut dan tanggal teratasi.
Evaluasi menilai respon pasien yang meliputi subjek, objek, pengkajian
kembali (assessment) dan rencana tindakan (planning) (Carpenito, 2005).
Dilakukan secara periodic, sistematis dan berencana untuk menilai
perkembangan pasien setelah tindakan keperawatan kriteria :
1. Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi
2. Evaluasi hasil menggunakan indicator perubaan fisiologis dan
tingkah laku pasien
3. Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan untuk
diambil tindakan selanjutnya.
4. Evaluasi melibatkan klien dan tim kesehatan lainnya
5. Evaluasi dilakukan dengan standar ( Tujuan yang ingin dicapai
dan standar praktik keperawatan)
Komponen evaluasi, mencakup aspek : KAPP ( Kognitif, afektif ,
Psikomotor, Perubahan biologis)
1. Kognitif ( Pengetahuan klien tentang penyakit dan tindakan)
2. Afektif ( Sikap) klien terhadap tindakan yang dilakukan
3. Psikomotor (Tindakan/ prilaku) klien dalam upaya
penyembuhan
4. Perubahan biologis (Tanda vital, system, dan imunologis).
Keputusan dalam evaluasi :
1. Masalah teratasi
2. Masalah tidak teratasi, harus dilakukan pengkajian dan
perencanaan tindakan ulang
3. Masalah teratasi sebagian, perlu modifikasi dari rencana
tindakan
4. Timbul masalah baru.

20

2.2.5

Standar Pedokumentasian Keperawatan


Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dan
kuantitas dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuat dalam suatu
situasi tertentu, sehingga memberikan informasi bahwa adanya suatu
ukuran terhadap kualitas dokumentasi keperawatan. Dokumentasi harus
mengikuti standar yang ditetapkan untuk mempertahankan akreditasi,
untuk

mengurangi

pertanggungjawaban,

dan

untuk

menyesuaikan

kebutuhan pelayanan keperawatan (Potter & Perry, 2010).


Nursalam (2013) menyebutkan Instrumen studi dokumentasi
penerapan standar asuhan keperawatan di RS menggunakan Instrumen A
dari Depkes (1995) meliputi :
Standar I : Pengkajian keperawatan
Standar II : Diagnosa keperawatan
Standar III : Perencanaan keperawatan
Standar IV : Implementasi keperawatan
Standar V : Evaluasi keperawatan
Standar VI : Catatan asuhan keperawatan
Penjabaran masing-masing standar meliputi :
a. Standar I : Pengkajian keperawatan
1. Mencatat data yang dikaji sesuai dengan pedoman pengkajian.
2. Data dikelompokkan (bio-psiko-sosial-spiritual).
3. Data dikaji sejak pasien datang sampai pulang.
4. Masalah dirumuskan berdasarkan kesenjangan antara status
kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan.

21

b. Standar II : Diagnosa keperawatan


1. Diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan.
2. Diagnosa keperawatan mencerminkan PE/PES.
3. Merumuskan diagnosa keperawatan aktual/potensial.
c. Standar III : Perencanaan keperawatan
1. Berdasarkan diagnosa keperawatan.
2. Rumusan tujuan mengandung komponen pasien/subjek, perubahan
perilaku, kondisi pasien dan kriteria waktu.
3. Rencana tindakan mengacu pada tujuan dengan kalimat
4. perintah, terinci dan jelas.
5. Rencana tindakan menggambarkan keterlibatan pasien/keluarga.
d. Standar IV : Implementasi/Tindakan keperawatan
1. Tindakan dilaksanakan mengacu pada rencana keperawatan.
2. Perawat mengobservasi respon pasien terhadap tindakan
keperawatan.
3. Revisi tindakan berdasar evaluasi.
4. Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat dengan ringkas dan
jelas.
e. Standar V : Evaluasi keperawatan
1. Evaluasi mengacu pada tujuan
2. Hasil evaluasi dicatat.
f. Standar VI : Dokumentasi asuhan keperawatan
1. Menulis pada format yang baku.
2. Pencatatan dilakukan sesuai tindakan yang dilaksanakan.
3. Perencanaan ditulis dengan jelas, ringkas, istilah yang bakudan
benar.
4. Setiap melaksanakan tindakan, perawat mencantumkan paraf/nama
jelas, tanggal dilaksanakan tindakan.
5. Dokumentasi keperawatan tersimpan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
2.2.6 Cara Ukur Pendokumentasian Keperawatan

22

Pada penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner


yang

menggunakan

skala

likert

yaitu

suatu

skala

psikosomatik yang umumnya digunakan kuesioner dan


merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam
riset berupa survey dimana pernyataan ini 4 kode pilihan,
yaitu:
1= Tidak dilakukan sama sekali (TD)
2= Jarang dilakukan (JD)
3= Sering Dilakukan (SD)
4= Selalu Dilakukan
Selanjutnya kinerja perawat pelaksana dikategorikan
menjadi
1. Kurang baik, jika skore < mean/median
2. Baik, jika skore mean/median (Hidayat A.A, 2009)
2.4 Peran Ketua Tim
2.4.1 Pengertian Peran
Peran pada dasarnya adalah seperangkat tingkah laku yang
diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang, sesuai kedudukannya
dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam
maupun dari luar yang besifat stabil (Kozier dan Barbara, 2005).
2.4.2 Model Asuhan Keperawatan Profesional ( MAKP)
Sistem

Model

Asuhan

Keperawatan

Profesional

(MAKP)

merupakan suatu kerangka kerja yang mendefenisikan empat unsure, yakni

23

standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan dan sitem MAKP.


Defenisi tersebut berdasarkan prinsip-prinsip nilai yang diyakini dan akan
menentukan kualitas produksi/ jasa layananan perawatan.
Menurut Grant & Massey (1997) dan Marquis & Huston (1998)
dalam Nursalam (2013), ada 4 metode pemberian asuhan keperawatan
profesional yang sudah ada dan akan terus dikembangkan di masa depan
dalam menghadapi tren pelayanan keperawatan, yaitu:
a. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Fungsional
Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada
saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka
setiap perawat hanya melakukan 1 2 jenis intervensi keperawatan
kepada semua pasien di bangsal. Model ini berdasarkan orientasi tugas
dari filosofi keperawatan, perawat melaksanakan tugas ( tindakan)
tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada (Nursalam, 2013).
b. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Kasus
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien
saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk
setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh
orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa
diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakan
untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi,
intensive care.Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi

24

keperawatan. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan


observasi pada pasien tertentu (Nursalam, 2013).
c. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primer
Menurut Gillies (1986) perawat yang menggunakan

metode

keperawatan primer dalam pemberian asuhan keperawatan disebut


perawat primer (primary nurse). Pada metode keperawatan primer
terdapat kontinutas keperawatan dan bersifat komprehensif serta dapat
dipertanggung jawabkan, setiap perawat primer biasanya mempunyai 4
6 klien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama klien dirawat
dirumah sakit. Perawat primer bertanggung jawab untuk mengadakan
komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan
dan juga akan membuat rencana pulang klien jika diperlukan. Jika
perawat primer sedang tidak bertugas , kelanjutan asuhan akan
didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse)
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab
penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari
pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik
kemandirian perawat, ada kejelasan antara si pembuat rencana asuhan
dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan
kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan
untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi keperawatan selama
pasien dirawat (Nursalam, 2013).
d. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

25

Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok


mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan
keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab
perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan
meningkat (Nursalam, 2013).
2.4.3 Metode TIM
a. Pengertian
Menurut Douglas (1984) dalam Nursalam (2013), metode tim
merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan dimana
seorang

perawat

profesional

memimpin

sekelompok

tenaga

keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok klien


melalui upaya kooperatif dan kolaboratif.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbedabeda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok
pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 3 tim/ group yang terdiri
dari tenaga professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil
yang saling membantu.

b. Kelebihan dan Kekurangan Metode TIM


Kelebihan metode tim :
1.
2.
3.
4.

Saling memberi pengalaman antar sesama tim.


Pasien dilayani secara komfrehesif
Terciptanya kaderisasi kepemimpinan
Tercipta kerja sama yang baik .

26

5. Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal


6. Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda
dengan aman dan efektif.
Kekurangan metode tim:
1. Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan
menjadi tanggung jawabnya.
2. Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim
ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan
kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga
kelanncaran tugas terhambat.
3. Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu
tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau
ketua tim.
4. Akuntabilitas dalam tim kabur (Nursalam, 2013).
c. Tanggung Jawab Perawat dalam Metode Tim
Tanggung Jawab Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan
Profesional MAKP) Tim (Nursalam, 2013):
1. Tanggung jawab anggota tim:
a) Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah
tanggung jawabnyaa
b) Bekerjasama dengan anggota tim dan antar tim.
c) Memberikan laporan..
2. Tanggung jawab ketua tim:
a) Membuat perencanaan.
b) Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi.
c) Mengenal/ mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai
tingkat kebutuhan pasien.
d) Mengembangkan kemampuan anggota.
e) Menyelenggarakan konferensi.
3. Tanggung jawab kepala ruangan:

27

a) Perencanaan
(1) Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan
masing- masing.
(2) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
(3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat,
transisi dan persiapan pulang bersama ketua tim.
(4) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan
berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua
tim, mengatur penugasan/ penjadwalan.
(5) Merencanakan strategi pelaksanaan
(6) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi,
patofisiologis, tindakan medis yang dilakukan, program
pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang
tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
(7) Mengatur dan mengendalikan asuhan keparawatan:
(8) Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.
(9) Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai
asuhan keperawatan.
(10)
Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.
(11)
Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga
yang baru masuk RS.
(12)
Membantu mengembangkan niat pendidikan dan
latihan diri.
(13)
Membantu membimbing terhadap peserta didik
keperawatan.
(14)
Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di
rumah sakit.
b) Pengorganisasian
(1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan.
(2) Merumuskan tujuan metode penugasan.
(3) Membuat rincian tugas tim dan anggota tim secara jelas.
(4) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2
ketua tim dan ketua tim membawahi 2 3 perawat.

28

(5) Mengatur

dan

mengendalikan

tenaga

keperawatan:

membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap


hari dan lain- lain.
(6) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
(7) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik.
(8) Mendelegasikan tugas kepala ruang tidak berada di tempat,
kepada ketua tim.
(9) Memberi wewenang kepad
(10)
Identifikasi masalah dan cara penanganannya.
c) Pengarahan
(1) Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua
tim.
(2) Memberikan

pujian

kepada

anggota

tim

yang

melaksanakan tugas dengan baik.


(3) Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap.
(4) Menginformasikan hal hal yang dianggap penting dan
berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.
(5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.
(6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya.
(7) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
d) Pengawasan
(1) Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi
langsung dengan ketua tim dalam pelaksanaan mengenai
asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
(2) Melalui supervisi:
o Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati
sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan
memperbaiki/ mengawasi kelemahannya yang ada saat
itu juga.

29

o Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar


hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana
keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah

proses

keperawatan

dilaksanakan

(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim


tentang pelaksanaan tugas.
o Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan
dengan rencana keperawatan yang telah disusun
bersama ketua tim.
2.4.4 Peran

Katim

yang

Berhubungan

dengan

Pendokumentasian Keperawatan
Dalam metode tim, terdapat ketua tim yang bertugas
antara memonitor tindakan yang akan dilakukan dan
memberi bimbingan pada anggota tim. Anggota tim selama
melakukan

asuhan

keperawatan

harus

mendokumentasikan seluruh tindakan yang dilakukan pada


format-format yang terdapat pada papan dokumentasi.
Kemudian ketua tim akan memonitor dan mengevaluasi
dokumentasi yang dibuat oleh anggota tim. Setiap hari
ketua tim mengevaluasi perkembangan pasien dengan
mendokumentasikan pada catatan perkembangan dengan
metoda SOAP, catatan perkembangan pasien ini bagi

30

anggota tim juga menjadi panutan dalam memberikan


asuhan keperawatan pada pasien (Nursalam, 2011).
2.5 Penelitian Terkait
Penelitian yang dilakukan Hasanah pada tahun 2011 tentang pengaruh
pengetahuan dan motivasi perawat terhadap kelengkapan pengisian
dokumentasi asuhan keperawatan pada rekam medis di ruang rawat inap
Rumah Sakit Haji Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara
statistik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik (tanggung jawab, prestasi,
penghargaan, gaji, kondisi kerja) perawat berpengaruh signifikan terhadap
kelengkapan pengisian dokumentasi asuhan keperawatan pada rekam medis
(p<0,05), sedangkan variabel hubungan antar pribadi tidak berpengaruh
(p>0,05). Kelengkapan pengisian dokumentasi asuhan keperawatan pada
rekam medis (30,4%) kategori cukup lengkap.
Penelitian yang dilakukan Reza pada tahun 2012 tentang hubungan
motivasi dengan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan pada
perawat pelaksana di RSUD Kabupaten Sragen Jawa Tengah didapatkan data
bahwa berdasarkan uji korelasi dengan analisis chi square menunjukkan hasil
pada: komponen kebutuhan fisiologi terhadap motivasi kerja pV=1,00,
keamanan terhadap motivasi kerja pV=0,728, sosialisasi terhadap motivasi
kerja pV=0,304, penghargaan terhadap motivasi kerja pV=0,532, aktualisasi
diri terhadap motivasi kerja p V=0,048.
2.6 Kerangka Teori

31

Kerangka teori adalah ringkasan dari tinjauan pustaka yang digunakan untuk
mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti (diamati) yang berkaitan
dengan konteks ilmu pengetahuan yang digunakan untuk mengembangkan
kerangka konsep penelitian (Notoatmodjo, 2012). Kerangka teori pada penelitian
ini adalah:

Gambar 2.1
Kerangka Teori
1. Faktor individu
- Kemampuan dan
ketrampilan
- Latar belakang pribadi
- Demografis
2. Faktor psikologis
- Persepsi
- Sikap
- Kepribadian
- Belajar
- Motivasi
3. Faktor organisasi
- Sumber daya
- Kepemimpinan (Ketua Tim)
- Imbalan (reward system)
- Struktur dan desain pekerjaan

Kinerja

Pendokumentasian
Keperawatan:
1. Pengkajian
2. Diagnosa
3. Perencanaan
4. Pelaksanaan
5. Evaluasi

(Sumber : Modifikasi Gibson (1987), Nursalam (2013)


2.7 Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah merupakan abstraksi yang terbentuk oleh
generalisasi dari hal-hal khusus (Notoatmodjo, 2012). Kerangka konsep dalam
penelitian ini adalah :
Gambar 2.2
32

Kerangka konsep
Variabel Independen
Peran Ketua Tim

Variabel dependen
Kinerja Perawat Pelaksana
dalam Pendokumentasian
Keperawatan

2.8 Hipotesis
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara peneliti, petokan duga,
atau dalil sementara, yang kebenaranya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut.
Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitian maka hipotesis ini dapat benar
dan salah, dapat diterima atau ditolak (Notoatmodjo, 2012). Hipotesis dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ha :

Ada hubungan peran ketua tim dengan kinerja perawat pelaksana dalam
pendokumentasian keperawatan di Ruang Alamanda RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Tahun 2015

33