Anda di halaman 1dari 8

ABSTARK

Tujuan percobaan Mendeskripsikan tingkatan dari tiap karakteristik sampel dengan


skala kuat, sedang dan lemah, yang selanjutnya dikonversi ke dalam skala angka, dihitung
nilai rata-rata dari seluruh panelis dan ditransformasi menjadi grafik jaringan labalaba.Sampel teh Sosro warna paling tnggi (keruh), warna paling jernih futami, sampel
paling manis teh pucuk,sampel paling pahit teh sosro, aroma teh paling kuta teh kotak,
aroma melati paling kuat adlaha sampel futami, viskositas paling tinggi sosro, dan
aftertaste paling kuat sosoro, .Hasil QDA diinterprestasikan dalam bentuk grafik
jaring laba laba (spider web)
Kata kunci :

PENDAHULUAN

QDA atau Analisis sensori deskriptif merupakan metode analisis sensori dimana atribut
sensori suatu

produk dilakukan

diidentifikasi, dideskripsikan dan dikuantifikasi

menggunakan panelis yang terlatih. Banyak hal yang bisa di ukur dengan QDA
baikparameter sensoris seperti kenampakan, rasa, aroma, tekstur, dan flavour. Dengan
banyaknya fungsi yang bisa di ambil dari QDA banyak perusahaan yang telah menggunakan
uji deskripsi ini untuk produknya, seperti melakukan proses quality control. Uji deskriptif
dapat

digunakan

untuk

pengembangan

produk,

quality

control,

dan

monitor

competition(Setyaningsih et al 2010).uji deskripsi digunakan untuk mengidentifikasi


karakteristik sensori yang penting pada suatu produk dan memberikan informasi mengenai
derajat atau intensitas karakteristik tersebut. Dalam pengujuian QDA digunakan panelis
terlatih dimasudkan supaya hasil yang didapatkan akurat. Dalam uji QDA penilaian dilakukan
dengan skala tidak terstruktur sepanjang kurang lebih 15 cm. Setelah itu hasil
diinterprestasikan dalam bentuk grafik laba laba. Hasil QDA umumnya dilaporkan dalam
bentuk grafik jaring laba laba (spider web) dengan nilai nol pada titik pusat untuk setiap
atribut.Selain ditampilkan dalam spider web, dapat juga menggunakan Principal Component
Analysis (PCA) yang termasuk dalam multivariate analysis(Rahayu, WP. 1998).
Tujuan Percobaan
Mendeskripsikan tingkatan dari tiap karakteristik sampel dengan skala kuat, sedang
dan lemah, yang selanjutnya dikonversi ke dalam skala angka, dihitung nilai rata-rata dari
seluruh panelis dan ditransformasi menjadi grafik jaringan laba-laba.

PEMBAHASAN

Warna, kejernihan, manis, pahit, teh, melati, viskositas, aftertaste, teh

Setelah dilakukan praktikum di dpatakan hasil seperti di atas. Garafik


spider menunjukan atribut yang dilakukan penilai antara lain kenampakan,
rasa, aroma, tekstur. Keempat atribut yang diuji didapatkan nilai kenampakan
(warna dan kenampakan) sampel teh sosro menunjukan nilai warna paling
tinggi sebesar 11,7 cm , sampel teh joytea 9, 1 cm, teh pucuk 9, teh kotak 5,4
cm, dan teh futami 2 cm. Untuk kejernihanyang paling tinggi pada sampel futami
12 cm, teh kotak 8,6 cm, teh pucuk 5,7 cm, teh jaytea 5,15 cm dan teh sosro 1,7
cm. Atribut rasa (manis, pahit) didapatkan hasil rasa paling manis pada sampel
pucukdengan nilai 7,4 cm, joytea 7,4 cm, teh futami6,7 cm, teh sosro 6,7 cm ,
dan teh kotak 6,5. Atribut aroma (teh , melati) didapatkan hasil aroma teh paling
besar ke kecil sampel kotak, sosoro, joytea, futami, pucuk. Aroms melati kuat ke

rendah sosro, pucuk , futami, kotak, dan joytea. Atribut tekstur (after taste, teh)
didapatkan hasil aftertaste paling kuat ke rendah sosro, joytea, pucuk, futami,
dan teh kotak. Untuk teh paling kuat ke rendah sosro, pucuk, kotak, joytea, dan
futami. Untuk atribut kenampakan (warna dan kejernihan ) dipengaruhi oleh
suhu, semakin tinggi suhu yang digunakan dalam penyeduhan teh akan
mengkaibatkan warna semakin keruh begitu pun sebaliknya. Hal ini sesuai
pendapat faidah dan teti (2009) bahwa semakin tinggi suhu dalam proses
penyeduhan teh serbuk menyebabkan warna yang didapatkan semakin keruh.
Disamping dipengaruhi oleh suhu dalam penyeduhan, warna juga dipengaruhi
oleh senyawa yang terdapat pada teh yaitu senyawa teaflavin dan tearubigin.
Hal ini sesai pendapat abbas et al., (1998) bahawa warna teh dipengaruhi oleh
adanya senyawa teaflavin dan tearubigin yang merupakan hasil oksidasi dari
senyawa polifenol pada daun teh. Atribut rasa ( manis dan pahit) dipengaruhi
oleh kandungan gula dalam produk teh. Semakin banyak kandungan gula pada
teh mengakibatkan tingkat kemanisan pada teh semakin manis, begitupun
sebaliknya. Urutan kandungan gula yang dapat dilihat di tabel nutrisi masing
masing produk sampel, teh kotak 17 gr/200 ml (8,5%), futami 18 gr/240 (7,5),
teh sosro 19 gr/ 225 (8,44), joy tea 18/250 ml (7,2 5), teh pucuk 18 gr/ 240 ml
(7,5). Hal ini sesuai dengan hasil praktikum, sampel teh kotak memiliki tingkat
rasa paling tinggi. Hal ini sesai pendapat Raini dan ani (2011) bahwa tingkat
kemanisan suatu produk dipengaruhi oleh jumlah gula yang berada pada suatu
produk minuman.Atribut aroma, dipengaruhi oleh suhu pada prses penyeduhan
karena semakin tinggi suhu yang digunakan aroma pada teh akan semakin
tercium, senyawa pada teh akan terombak mengakibatkan aroma keluar. Hal ini
sesuai pendapat yuwono dan susanto (1998) bahwa suhu mempengaruhi
aroman pada minuman seduh. Atribut tekstur (aftertaste) dipngaruhi oleh
kandungan senyawa pada teh. Senyawa EGCG merupakan senywa yang
menyebabkan rasa pahit pada teh. Hal ini sesuai pendapat mawarti dan retty
(2012) bahwa di dalam teh hijau terdapat senyawa EGCG, senywa EGCG
menyebabkan rasa pahit pada teh hijau. Kesalahan yang mungkin terjadi saat
uji QDA adalah penggunaan panelis yang tidak terlatih. Saat dilakukan uji QDA
menggunakan panelis campuran sehingga apabila data yang didapatkan tidak
valid itu wajar. Bisa dilihat pada hasil di grafik spider, ada uji yang memiliki

Faktor faktor yang


mempengaruhi hasil dalam uji QDA antara lainfactor fisik
dan faktor psikologis. . 1. Faktor Fisik sendiri berhubungan
dengan Kondisi sehari-hari. Dalam melakukan pengujian
panelis harus memperhatikan kondisinya dalam keadaan lapar
atau kenyang. Sebaiknya uji sensoris, tidak dilakukan setelah
habis makan. Karena dikuatirkan rasa makanan, masih terasa
di lidah. Sehingga sensr atau saraf di lidah tidak bekerja
secara maksimal.
Kebiasaan seperti merokok, minumtinggkat

penilaian

yang

kurang

sesuai.

minuman keras bisa mempengaruhi hasil penguian panelis.


Kesehatan panelis yang akan melakukan pengujian harus
benar-benar diperhatikan. Kesehatan panelis tidak boleh
terganggu dan panelis dibawah pengaruh obat tidak boleh
melakukan pengujian. Faktor kedua yaitu Psikologis seorang
panelis tidak boleh dalam keadaan frustasi, stress, gembiraan
yang berlebihan, terburu-buru. Karena akan berefek pada
penilaian panelis. Hal ini sesuai pendapat sumarman (2010)
dalam melakukan uji sampel, sebaiknya menggunakan panelis
yang tidak dalam kegembiraaan yang berlebihan karena akan
mengakibatkan hasil yang kurang akurat.

KESIMPULAN

Sampel teh yang memiliki warna paling disukai adalah Sosro warna paling tnggi
(keruh), warna paling jernih futami, sampel paling manis teh pucuk,sampel paling
pahit teh sosro, aroma teh paling kuta teh kotak, aroma melati paling kuat adlaha
sampel futami, viskositas paling tinggi sosro, dan aftertaste paling kuat sosoro, .

DAFTAR PUSTAKA

Setyaningsih, Dwi., Anton Apriyantono., Maya Puspita Sari. 2010. Analisis Sensori
Untuk Industri Pangan dan Agro. IPB Press. Bogor.
Rahayu, WP. 1998. Penuntun Praktikum Penilaian Organoleptik.Jurusan
Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

Faidah, N.N. dan Teti. 2009. Aplikasi bubuk pewarna berantioksidan dari limbah teh
untuk biskuit hipoglikemik substitusitepung suweg (amorphophallus campanulatus).
Jurnal tenologi pertanian, 10 (3) : 181 191.

Yuwono, S.S. dan T. Susanto. 1998. Pengujian fisik pangan. Jurusan teknologi hasil
pertanian. Universitas brawijaya, malang.

Mawarti, H dan R. Ratnawati. 2011. Penghambat peningkatan kadar kolesterol pada


diet tinggi lemak oleh epigallocatechin gallate (egcg) teh hijau klon gmb4. Jurnal
pertanian, 2(5) :112-119.

Sumarman. 2010. Proses Penyiapan mahasiswa sebagai


panelis terlatih dalam pengembangan lexicon
( bahasa sensoris) susu skim UHT dan susu kaya
lemak UHT. Jurnal pangan dan agroindustri, 4 (1) :
190 200 (111111111111111)

Raina, M dan A isnawati. 2011. Kajian khasiat dan keamanan stevia sebagai pemanis
pengganti gula. Media litbang kesehatan 21 (4) : 123-130.