Anda di halaman 1dari 20

1

A. JUDUL PROGRAM
Kegiatan penelitian yang akan dilakukan mempunyai maksud yang sekiranya dapat
diwakilkan dalam penggambaran umum dari judul yang direncanakan. Adapun judul dari
program kegiatan penelitian ini adalah Optimasi Pembuatan Bioetanol dari Buah Talok
(Muntinga Calabura) sebagai Sumber Alternatif Bahan Bakar yang Terbarukan..
Diharapkan dari judul tersebut dapat memberikan gambaran bagi para pembaca sekalian
mengenai arah dan pola berpikir dalam kegiatan penelitian yang akan dilakukan.
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Ketersediaan energi merupakan

syarat

mutlak

khususnya

dalam

pelaksanaan

pembangunan nasional baik pada saat ini maupun pada masa yang akan datang, guna
menjamin pemenuhan pasokan energi yang merupakan tantangan utama bagi bangsa
Indonesia. Kebutuhan energi saat ini pada umumnya didominasi oleh energi fosil yaitu
minyak bumi, gas bumi dan batubara. Dilain pihak, adanya cadangan energi fosil yang
terbatas, seharusnya dilakukan antisipasi dengan berbagai upaya untuk mengurangi
ketergantungan terhadap energi fosil tersebut.
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki sumber energi non fosil relatif
besar. Namun pemanfaatannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan potensi
yang ada. Sebagai ilustrasi, sampai dengan tahun 2004 pemanfaatan energi
non fosil untuk pembangkitan listrik seperti tenaga air, panas bumi, surya,
angin dan biomassa, hanya sebesar 5511,5 MW atau 14% dari total
pembangkit listrik nasional (39.588 MW). Terlihat dengan jelas bahwa pangsa
energi non fosil untuk pembangkit listrik relatif masih rendah. Pemanfaatan
energi non fosil yang masih rendah ini disebabkan antara lain tingginya
investasi yang dibutuhkan yang menyebabkan biaya produksi energi yang
berasal dari energi non fosil relatif mahal, sehingga kurang kompetitif bila
dibandingkan dengan harga energi yang berasal dari energi konvensional
atau energi fosil. Namun demikian pemakaiannya saat ini harus segera
digantikan dengan energi alternatif yang bersifat terbarukan dan ramah
lingkungan, mengingat cadangan sumber energi fosil tersebut semakin
menipis.

C.

RUMUSAN MASALAH

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah buah talok dapat dimanfaatkan menjadi energy yang dapat diperbaharui?
Apakah kandungan yang ada pada buah talok?
Apakah bioetanol memiliki kadar yang lebih baik daripada bensin?
Bagaimana cara mengolah buah talok menjadi bioetanol?
Bagaimana proses kimia yang terjadi dalam pembuatan bioetanol?
Kapan waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan bioetanol?

D. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui lebih lanjut proses pemanfaatan bioetanol menjadi energy yang dapat
diperbaharui.
2. Untuk mengetahui kandungan yang ada pada buah talok.
3. Untuk menambah nilai ekonomis buah talok melalui pembuatan bioetanol.
4. Untuk mengetahui kadar oktan yang terdapat pada buah talok yang diolah menjadi
5.
6.
7.
8.

bioetanol.
Untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat akan pengolahan bioetanol.
Untuk menjelaskan bagaimana pengolahan buah talok.
Untuk mengetahui proses kimia yang terjadi dalam pembuatan bioetanol.
Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pembuatan bioetanol.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN


1. Paten, jika hasil penelitian yang telah dilakukan merupakan ide orisinil (murni) yang
belum pernah dibuat sebelumnya dan sudah dipatenkan.
2. Artikel, peneliti berharap hasil penelitian ini dapat dipublikasikan baik melalui media

cetak, media elektronik, maupun jurnal ilmiah, dan seminar nasional.


F. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun manfaat yang dapat diperoleh setelah program ini terlaksana adalah :
a. Bisa membuat sebuah produk dari buah talok menjadi bioetanol yang murni dan dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat dalam hal mengatasi keterbatasan minyak bumi.
b. Untuk menambah pengetahuan akan pengolahan buah-buahan menjadi bioetanol untuk
mahasiswa.
c. Dapat digunakan sebagai acuan untuk lebih mengoptimalkan penelitian selanjutnya
mengenai pembuatan bioetanol dari buah talok.
G. TINJAUAN PUSTAKA
1. Kersen atau Buah Talok

Kersen atau talok adalah nama sejenis pohon dan buahnya yang kecil dan manis. Di
beberapa daerah, seperti di Jakarta, buah ini juga dinamai ceri (untuk buah bernama ceri
yang lain, lihat pada: ceri). Di Lumajang, anak-anak menyebutnya baleci.
Nama-nama lainnya di beberapa negara adalah: datiles, aratiles, manzanitas
(Filipina), mt sm (Vietnam); khoom smz, takhb (Laos); takhop farang (Thailand);
krkhb barang (Kamboja); dan kerukup siam (Malaysia).
Juga dikenal sebagai capulin blanco, cacaniqua, nigua, niguito (bahasa Spanyol);
Jamaican cherry, Panama berry, Singapore cherry (Inggris) dan nama yang tidak tepat,
Japanse kers (Belanda), yang lalu dari sini diambil menjadi kersen dalam bahasa
Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Muntingia calabura L.

Perdu atau pohon kecil, tinggi sampai 12 m, meski umumnya hanya sekitar 3-6 m
saja. Selalu hijau dan terus menerus berbunga dan berbuah sepanjang tahun.
Cabang-cabang mendatar, menggantung di ujungnya; membentuk naungan yang
rindang. Ranting-ranting berambut halus bercampur dengan rambut kelenjar; demikian
pula daunnya.
Daun-daun terletak mendatar, berseling; helaian daun tidak simetris, bundar telur
lanset, tepinya bergerigi dan berujung runcing, 1-4 4-14 cm, sisi bawah berambut

kelabu rapat; bertangkai pendek. Daun penumpu yang sebelah meruncing bentuk benang,
lk. 0,5 cm, agak lama lalu mengering dan rontok, sementara sebelah lagi rudimenter.

Bunga kersen, muncul di antara dedaunan


Bunga dalam berkas, berisi 1-3(-5) kuntum, terletak di ketiak agak di sebelah atas
tumbuhnya daun; bertangkai panjang; berkelamin dua dan berbilangan 5; kelopak berbagi
dalam, taju meruncing bentuk benang, berambut halus; mahkota bertepi rata, bundar telur
terbalik, putih tipis, gundul, lk. 1 cm. Benang sari berjumlah banyak, 10 sampai lebih dari
100 helai. Bunga yang mekar menonjol keluar, ke atas helai-helai daun; namun setelah
menjadi buah menggantung ke bawah, tersembunyi di bawah helai daun. Umumnya
hanya satu-dua bunga yang menjadi buah dalam tiap berkasnya.
Buah buni bertangkai panjang, bulat hampir sempurna, diameter 1-1,5 cm, hijau
kuning dan akhirnya merah apabila masak, bermahkota sisa tangkai putik yang tidak
rontok serupa bintang hitam bersudut lima. Berisi beberapa ribu biji yang kecil-kecil,
halus, putih kekuningan; terbenam dalam daging dan sari buah yang manis sekali.
. Kandungan buah kersen setiap 100 gram kersen terkandung : air (77,8
gram),protein (0,384 gram), Lemak (1,56 Gram), karbohidrat (17,9 gram), serat (4,6
gram), abu (1,14 gram), kalsium (124,6 mg), fosfor (84mg), Besi (1,18 mg), karoten
(0,019g), tianin (0,065g), ribofalin (0,037g), niacin (0,554 g) dan kandungan vitamin C
(80,5 mg) nilai energi yang dihasilkan adalah 380KJ/100 gram.
Selain itu, buah kersen juga dapat digunakan untuk obat penyakit asam urat,
diabetes, dan masih banyak lagi.

Kayu kersen lunak dan mudah kering, sangat berguna sebagai kayu bakar. Kulit
kayunya yang mudah dikupas digunakan sebagai bahan tali dan kain pembalut. Daunnya
dapat dijadikan semacam teh.
Burung-burung pemakan buah, seperti kelompok merbah dan burung cabe, sering
mengunjungi pohon ini di waktu siang untuk memakan buah atau sari buahnya yang
manis. Di waktu hari gelap, berganti aneka jenis kelelawar pemakan buah yang datang
dengan tujuan yang sama. Biji kersen tidak tercerna oleh burung dan codot, karena itu
kedua kelompok hewan ini sekaligus berfungsi sebagai pemencar bijinya.
Pohon kersen khususnya berguna sebagai pohon peneduh di pinggir jalan. Pohon
kecil ini awalnya sering tumbuh sebagai semai liar di tepi jalan, selokan, atau muncul di
tengah retakan tembok lantai atau pagar, dan akhirnya tumbuh dengan cepat biasanya
dibiarkan saja membesar sebagai pohon naungan. Sebab itulah pohon kersen acapkali
ditemukan di wilayah perkotaan yang ramai dan padat, di tepi trotoar dan lahan parkir, di
tepi sungai yang tidak terurus atau di tempat-tempat yang biasa kering berkepanjangan.

2. Bioetanol
Bioetanol merupakan etanol hasil fermentasi biomassa. Bioetanol digunakan sebagai
bahan bakar terbarukan khususnya premium mengingat kuantitas minyak bumi saat ini
terus menipis. Alasan bioetanol digunakan sebagai bahan bakar selain karena sifatnya
yang dapat menggantikan premium adalah bioetanol memiliki kelebihan. Kelebihan
bioetanol dibandingkan dengan premium yang selama ini kita gunakan adalah ramah
lingkungan dan dapat diperbaharui. Hal ini sangat menguntungkan bagi lingkungan hidup
dan kelangsungan hidup manusia mengingat premium tergolong bahan bakar yang sangat
dibutuhkan.

Produksi bioetanol harus terus dikembangkan. Pentingnya hal tersebut dilakukan


karena terjadi eksploitasi minyak bumi terus menerus sehingga menyebabkan cadangan
minyak bumi menipis. Penipisan minyak bumi dapat kita rasakan akibatnya saat ini yaitu,
seringnya terjadi kelangkaan bahan bakar minyak baik premium maupun bahan bakar
lainnya. Penggunaan bioetanol sebagai bahan aditif pada premium dapat menghemat
penggunaan premium itu sendiri. Selain itu, bioetanol dapat menurunkan kadar emisi gas
rumah kaca hingga 80% dari hasil pembakarannya sehingga dapat mengurai efek rumah
kaca.
Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dari tumbuhan. Brazil, dengan 320 pabrik
bioetanol, adalah negara terkemuka dalam penggunaan serta ekspor bioetanol saat ini.
Brazil memilih tebu untuk disuling menjadi materi turunan alkohol. Hasilnya, industri alkohol
pun bermunculan. Lapangan kerja baru tumbuh di daerah perkebunan tebu. Lahan pohon
manis ini kemudian menjadi yang terluas di dunia. Pada tahun 2000, luasnya mencapai 4,5
juta hektar. Separuh produksinya yang mencapai 344 juta metrik ton disulap menjadi
etanol(3).
Pada tahun 1990-an, bioetanol di Brazil telah menggantikan 50% kebutuhan
bensin untuk keperluan transportasi, ini merupakan sebuah angka yang sangat
signifikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Bioetanol
tidak saja menjadi alternatif yang sangat menarik untuk substitusi bensin, namun
juga mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%. Dalam hal prestasi mesin,
bioetanol (E-100) dan campurannya dengan bensin (E-XX) tidak kalah dengan
bensin (E-0); bahkan dalam beberapa hal, lebih baik dari bensin. Pada dasarnya
pembakaran bioetanol tidak menciptakan CO 2 netto ke lingkungan karena zat yang
sama akan diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sebagai bahan baku bioetanol.
Bioetanol dapat dihasilkan dari tanaman seperti tebu, jagung, singkong, ubi, dan
sagu; ini merupakan jenis tanaman yang umum dikenal para petani di

tanah

air.

H. METODE PENELITIAN
1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian sains tentang inovasi baru dalam proses pembuatan
bioetanol baerbahan dasar buah talok serta penelitian yang bergerak untuk menguji
kadar bioetanol yang dibuat.
2. Variabel Penelitian
- Perbandingan rasio jumlah kulit pisang dengan kacang hijau
- Lama Pemanasan/Pemasakan
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Eksperimen yaitu memberikan perlakuan terhadap obyek yang diteliti. Dimana,
penelitian ini disusun dalam rancangan dengan satu faktor dan dua kali ulangan.
Faktornya adalah formulasi antara kulit pisang dengan kacang hijau sebanyak lima
taraf yaitu 3:1 (F1), 2:1 (F2), 1:1 (F3), 1:2 (F4) dan 1:3 (F5) dan lama pemasakan
dengan waktu tertentu. Data dianalisis dilihat dari pertimbangan hasil parameter
kadar lemak, kadar protein, serta asam amino yang paling stabil.
b. Studi pustaka, yaitu penggunaan literatur ( buku, internet, narasumber, dll )

Metode pendekatan program dibagi menjadi beberapa tahap yaitu :


I. Tahap Persiapan bahan
Adapun bahan serta alat yang perlu dipersiapkan untuk proses pengolahan adalah :
a) Bahan-bahan :
b) Alat-alat :
1. Kulit pisang
1.Kompor Gas
6. Pisau
2. Kacang Hijau
2.Blender
7. Talenan
3. Gula pasir
3.Baskom
8. Kain saring
4. Air Matang
4.Pengaduk
9. Timbangan
5. Flavor
5.Panci
10. Botol Kaca

10

II. Tahap pengolahan


Tahap ini adalah tahap dimana produk dihasilkan. Proses pengolahan susu yang
dilaksanakan meliputi :
1. Preparasi Bahan
Dimana, bahan yang perlu disiapkan terlebih dahulu adalah kacang hijau. Karena
kacang hijau mengandung zat antitripsin pada kulitnya maka kacang hijau di
bersihkan terlebih dahulu dari kulitnya kemudian bijinya yang telah bersih
direndam selama 4 jam pada air dingin. Hal ini dimaksudkan mengurangi
kandungan zat antitripsin yang berlaku sebagai zat anti gizi.
2. Pembuatan Susu
Pada proses ini, proses awal yang dilakukan adalah menghancurkan x gram
kacang hijau terlebih dahulu. Untuk menghilangkan bau langu pada kacang hijau,
kacang hijau dihancurkan dengan menggunakan blender yang ditambahkan
dengan air matang yang bersuhu 800C. Lalu bubur kacang hijau yang terbentuk
ditiriskan terlebih dahulu. Proses selanjutnya adalah proses penghancuran y gram
kulit pisang yang telah dibersihkan. Adapun proses penghancuran ini dilakukan
sekitar 6 menit dengan air matang yang hangat dengan volume tertentu. Setelah
proses penghancuran kedua bahan secara terpisah itu, kemudian bahan bahan
tersebut baik kacang maupun kulit pisang dicampur terlebih dahulu lalu
dihancurkan kembali secara bersama-sama pada suhu 80 0C dengan total
penambahan air dengan volume tertentu sesuai variable yang. Setelah cukup
halus, yang terbentuk disaring menggunakan kain saring 2 lapis. Adapun yang
diambil adalah filtratnya, filtrat tersebut dipanaskan dalam panci sampai suhu
800C serta ditambahkan gula pasir 5-7% (b/v).
3. Sterilisasi
Merupakan bagian akhir proses pengolahan, agar susu tahan lama dan bebas dari
bakteri dilakukan sterilisasi dengan cara diletakkan pada botol kaca lalu
dimasukkan dalam waterbath pada suhu air 70 0C selama 15 menit, ini
dimaksudkan membunuh bakteri-bakteri yang menyebabkan susu tidak tahan
lama.
Catatan:

11

1)Pada saat pembuatan susu, bahan yang digunakan diberikan perbandingan untuk
diperoleh hasil yang optimum sesuai dengan beberapa parameter.
Dimana,
x = jumlah gram banyaknya kacang hijau
y = jumlah gram banyaknya kulit pisang
Pembuatan dilakukan dalam beberapa formulasi yaitu 3:1 (F1), 2:1 (F2), 1:1
(F3), 1:2 (F4) dan 1:3 (F5) untuk perbandingan x : y.
2)Dalam hal ini dilakukan sterilisasi, dimaksudkan untuk lebih mengawetkan
produk susu kulit pisang kacang hijau sehingga proses analisa dapat dilakukan
meskipun dalam jangka waktu cukup lama dari proses pembuatan.
III.

Tahap Pengujian Produk


Tahap ini adalah tahap dimana produk dihasilkan kemudian dilakukan analisa mutu
dengan berbagai parameter. Proses analisa yang akan dilaksanakan meliputi :
1. Uji kadar etanol (metode uji sub 11.1 SNI 7390:2008)

Kadar etanol diukur untuk memastikan kualitas bioetanol yang


dihasilkan. Makin tinggi konsentrasi etanol makin baik nilai angka oktan dan
calorific value. Makin tinggi konsentrasi etanol, maka semakin kecil zat
pengotor (impurities) dalam bioetanol tersebut.

b. Penentuan Kadar Metanol


Pada proses fermentasi bioetanol dimungkinkan pembentukan metanol, oleh karena itu
dalam SNI bioetanol perlu dianalisis kadarnya.
c. Penentuan Kadar Air
Air dapat menyebabkan korosi pada tangki dan peralatan. Bila ada deterjen, air juga dapat
membentuk emulsi. Selain itu, keberadaan air dapat mempercepat pertumbuhan
mikroorganisme pada sistem pembakaran. Kadar air dalam bioetanol dalam jumlah yang
tinggi akan mengurangi angka oktan dan calorofic value.
d. Penentuan Denaturan
Denaturan merupakan bahan kimia yang sengaja dicampurkan ke dalam bioetanol agar
tidak layak minum. Bioetanol terdenaturasi seharusnya tidak dapat diproses kembali
menjadi alkohol layak minum. Denaturan untuk berbagai keperluan ditetapkan oleh
Pemerintah. Denaturan khusus bioetanol harus produk dari fraksi minyak bumi, biasanya
berupa komponen campuran (blending component) bensin dan dicampurkan dalam

12

bioetanol dengan konsentrasi antara 2-5% volume. Hidrokarbon denaturan tidak boleh
berttitik didih akhir melebihi 225C.
e. Pengujian kadar tembaga
Tembaga (Cuprum = Cu) adalah katalis yang sangat aktif untuk oksidasi hidrokarbon pada
temperatur rendah. Pada konsentrasi Cu > 0,012 mg/kg di dalam bensin dapat
menyebabkan meningkatnya laju pembentukan getah (gum) secara signifikan.
f. Pengujian keasaman
Keasaman dapat bernilai rendah sampai tinggi, namun pada konsentrasi yang tinggi dapat
menimbulkan masalah, sehingga perlu dilakukan analisis keasaman sebelum bioetanol
digunakan. Keasaman dapat terjadi sebagai hasil kontaminasi, dekomposisi etanol selama
penyimpanan atau distribusi ataupun pada saat pembuatan. Keasaman dalam bentuk
CH3COOH (asam asetat) yaitu parameter jumlah total keasaman yang terdapat dalam
bioetanol pada konsentrasi rendah (< 0,05%). Larutan encer asam organik berberat
molekul rendah, seperti asam asetat, sangat korosif terhadap sebagian besar logam
sehingga konsentrasinya harus ditekan serendah mungkin.
g. Pengujian kadar ion klorida
Kontaminasi bioetanol dengan klorida dalam bentuk anion anorganik dapat membentuk
senyawa garam yang dapat menyumbat filter dan nozzle injektor bahan bakar. Garam ini
juga dapat menyebabkan karat pada peralatan mobil yang terpapar olehnya.
h. Pengujian kandungan belerang
Kontaminasi bioetanol dengan belerang dalam bentuk sulfat dapat membentuk senyawa
garam yang dapat menyumbat filter dan nozzle injektor bahan bakar. Garam ini juga dapat
menyebabkan karat pada peralatan mobil yang terpapar olehnya.
i. Penentuan Kadar Getah (Gum)
Pengukuran getah (gum) dicuci, bertujuan untuk mendeteksi dan mengukur pengotor yang
tak-larut pada heptan atau produk-produk oksidasi yang terbentuk pada bahan bakar
sebelum atau selama tes berlangsung. Getah (gum) merupakan residu dari proses
evaporasi bahan bakar bensin (gum tidak dicuci, unwashed gum content) yang kemudian
dicuci dengan pelarut heptan. Berat residu sebelum dan sesudah pencucian ditimbang dan
dilaporkan sebagai mg/100 mL bahan bakar. Gum yang dicuci mengandung gum yang larut
dalam bahan bakar dan gum yang tak larut. Kedua-duanya dapat mengendap pada
permukaan sistem induksi bahan bakar dan lengket pada katup masukan (intake valves).
Gum yang tak larut (fuel-insoluble gum) dapat pula menyumbat saringan bahan bakar.
j. Pengujian

Susu kulit pisang kacang hijau dengan formulasi masing masing


sebanyak 10 gram dimasukkan dalam labu Kjeldhal yang berkapasitas 250 mL.
Lalu ditambahkan 1 mL H2SO4. Ditambahkan pula 0,8 gram K2SO4 dan 1 mL
larutan CuSO4 4% sebagai katalisator reaksi.
a. Kemudian labu Kjeldahl beserta isinya dipanaskan, mula mula dengan api
yang kecil kemudian lama lama api sedikit demi sedikit dibesarkan.
Pemanasan dilakukan kurang lebih selama 30 menit.

13

b. Pemanasan dihentikan apabila warna cairan berubah menjadi berwarna hijau


jernih. Labu Kjeldahl beserta cairannya didinginkan dan ditambahkan
aquades hingga tanda batas pada labu dan kepingan Zn serta 3 tetes Hidrogen
Peroksida. Kemudian dilakukan pemanasan kembali selama 10 15 menit.
Destilasi
a. Diambil cairan yang telah didestruksi dari labu. Kemudian dimasukkan
dalam alat penyulingan.
b. Lalu pada labu destilasi ditambahkan NaOH 30 % sebanyak 7 mL.
Pemanasan destilasi dilakukan sementara itu dalam penampung destilasi
ditambahkan 7 mL HCl 0,01 N atau dapat dikatakan penambahan HCl
diberikan berlebih tertentu sehingga ada kelebihan asam pada penampung
destilat ini.
Titrasi
a. Pada tahapan ini diawali dengan mengambil sampel hasil destruksi serta
destilasi sebanyak 10 mL dengan pipet gondok. Lalu langsung dimasukkan
dalam Erlenmeyer 250 mL.
b. Kemudian dititrasi dengan NaOH 0,01 N yang sebelum dititrasi dilakukan
penambahan indikator mengsel.
c. Dilakukan titrasi selama duplo dan dilakukan perhitungan. Dilakukan pula
titrasi blanko tanpa sampel hanya berisi HCl yang digunakan untuk
penampung destilat.
Rumus :
Kadar N %

(mL titrasi blanko mL titrasi) x N NaOH x 14,008


mg sampel

x 100

%
Kadar Protein = Kadar N % x 6,38
2. Uji kadar lemak ( minimal 2,7 % sesuai SNI 01-3830-1995)
Lemak dalam susu minimal diharuskan adanya 3 %. Dimana, dalam hal ini
analis protein dilakukan dengan metoda Babcock sebagai metoda standar
dalam penentuan kadar lemak dalam suatu bahan terutama untuk lemak susu.
a. Ditimbang susu kulit pisang sesuai variable perbandingan komposisi bahan
dan komposisi dengan aquades 18 gram dalam botol Babcock.

14

b. Dilakukan pemanasan sampai mencapai suhu antara 20 - 30 0 C . Lalu


ditambahkan asam sulfat teknis 95% sebanyak 17,5 mL dicampur sampai
dihasilkan gumpalan gumpalan dalam susu.
c. Kemudian disentrifuge selama 5 menit, lalu ditambahkan pula aquades
hangat untuk memudahkan pemisahan lemak. Sentrifuge diulangi sampai 2
menit. Dan dilakukan penambahan kembali aquades hangat lalu Sentrifuge
diulangi selama 1 menit
d. Kemudian botol Babcock beserta isinya dipanaskan dalam air pada suhu
57 600C selama 3 menit. Maka, skala yang tertera dapat dibaca sebagai
kadar lemak susu.
3. Analisis Asam Amino dengan HPLC (sesuai SNI 01-3830-1995)
a. Ditimbang susu litsang-ijo sebanyak 5 gram dan masukkan dalam
Erlenmeyer bertutup asah. Ditambahkan 50 mL petroleum eter dan diaduk
dengan magnetic stirer selama 5 menit.
b. Kemudian disaring dengan kertas saring ashless dan residunya dicuci
dengan 10 mL petroleum eter. Residu diekstrak dengan 25 mL garam encer
(NaCl 5%) selama 10 menit.
c. Kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm sehingga terpisah
padatannya. Adapun residu diekstraksi 3 x dengan garam encer di atas.
d. Beningnya dikumpulkan, diambil 10 mL beningan dan ditambahkan 60 mL
larutan TCA 10% dalam Erlenmeyer diaduk dengan pengaduk magnet
hingga protein terbentuk. Disentrifugasi kembali dalam 3000 rpm selama
15 menit agar endapan protein terpisahkan yang kemudian dikeringkan.
e. Sekitar 50 mg cuplikan protein dimasukkan dalam tabung reaksi tutup ulir
dan ditambahkan 4 mL HCl 6 N.
f. Panaskan campuran di atas dala oven selama 24 jam pada temperature
1100C. Setelah dingin, buka tutup tabung reaksi, dituangkan dalam botol
alas bulat 50 mL.
g. Semua campuran tersebut diuapkan dalam rotary evapotaror sampai kering
sekitar 400C lalu tambahkan 2 mL NaOH 0,01 N. Dan dibiarkan dalam
keadaan terbuka pada temperature kamar selama 4 jam dan ditambahkan 6
mL HCl 0,02 N dan larutan ini diencerkan dengan eluen HPLC yang berpH paling rendah sampai 25 mL.
Diagram alir 1.

Pembuatan susu kulit pisang-kacang hijau

15

Setelah produk susu kulit pisang kacang hijau jadi, selanjutnya dilakukan dilakukan studi
komparatif khususnya kandungan protein dan lemak yang optimal antar faktor faktor yang dibuat
dan tes organoleptik. Dalam studi komparatif kandungan kadar protein dan kadar lemak yang
dibandingkan adalah kandungan gizinya yang dilanjutkan dengan analisa asam amino penyusun

susu kulit pisang kacang hijau. Sedangkan dalam tes organoleptik, penulis meminta orang
lain sebagai responden untuk mencicipi susu kulit pisang kacang hijau dan mencatat pendapat
mereka kemudian menyimpulkannya.
I. JADWAL PELAKSANAAN
KEGIATAN
MINGGU KE
Mempersiapkan Alat
Mempersiapkan Bahan
Pembuatan Produk
Pengujian Produk
Penyusunan Laporan

BULAN
BULAN
BULAN
BULAN
KE 1
KE 2
KE 3
KE 4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

16

J. Perkiraan Biaya Penelitian


1.

Uraian biaya yang dibutuhkan untuk program kegiatan ini adalah:


Bahan dan Peralatan Penelitian
a.
Bahan habis pakai
Buah Talok
Rp. 150.000, Kacang Hijau 6 kg
Rp. 120.000,6 x @ Rp. 20.000,-/kg
Gula Pasir 10 kg
Rp. 180.000,10 x @ Rp. 18.000,-/kg
Kertas HVS A4 80 gram 3 rim
Rp. 120.000,` 3 x @ Rp. 40.000, Tinta Canon Pixma IP 1880 hitam 2 kotak

Rp.

100.000,-

2 x @ Rp. 50.000, Tinta Canon Pixma IP 1880 berwarna 1 kotak Rp.


Gelas Plastik
Rp

75.000,15.000,-

Flavor 3 rasa
x @ Rp. 5.500,-

Rp.

16.500,-

Analisa bahan dan hasil

Rp. 3.000.000,b.

Alat
Flash memory 2 GB 2 buah

Kompor gas 1 buah + tabung


Blender 2 buah
2 x @ Rp. 350.000, Baskom 4 buah
4 x @ Rp. 30.000, Pengaduk 1 buah
Panci Besar 2 buah
2 x @ Rp. 100.000, Kain Saring 2 m
Botol Kaca 10 buah

2.
a.
b.
3.

Rp.

200.000,-

Rp.
Rp.

500.000,700.000,-

Rp.

120.000,-

Rp.
Rp.

15.000,200.000,-

Rp.
10.000,Rp.
30.000,-

Akses Internet 40 jam/3bulan @ Rp. 3000,-/jam


Rp. 120.000,Buku Kacang Hijau Budidaya dan Pascapanen Rp. 40.000, Buku Struktur, Komposisi, dan Nutrisi Pisang
Rp. 50.000, Buku Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya Rp. 85.000,Biaya Perjalanan untuk penyediaan bahan dan alat
Transportasi
Rp. 400.000,Dokumentasi
Rp. 300.000,Laporan Penelitian
a. Pengetikan draft laporan dan laporan lengkap
Rp. 120.000,b. Penggandaan laporan (5 exp)
Rp.
250.000,-

17

c. Pengiriman Laporan
Biaya total

Rp.
150.000,Rp. 6.966.500,-

K. DAFTAR PUSTAKA
Hadiwiyoto, S.1994. Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Yogyakarta : Liberty
Rukmana, R. 1996. Kacang Hijau Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.
Rukmana, R. 2001. Aneka Olahan Limbah Tanaman Pisang, Jambu Mete, Rosella. Yogyakarta: Kanisius.
Setyani, S. 2008. Efek Formulasi yang Tepat Jagung Manis Dan Kacang Hijau Terhadap Nilai Gizi.
Lampung: Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Soekirman. 2002. Gizi Buruk, Kemiskinan, dan KKN. Kompas.http://www.kompas.co.id/kompascetak/0506/09/opini/1799285.htm. Diakses pada tanggal 03 April 2010 pukul 12:55.
Sudarmadji, dkk. 1984. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.
Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
http://www.lokankubo.multiply.com : manfaat kulit pisang. Diakses tanggal 5 April 2009 pukul 19:20.
L. LAMPIRAN
1. BIODATA KETUA PELAKSANA
Nama
: Wulan Aryani
Jenis Kelamin
: Perempuan
Tempat & tanggal lahir
:
Alamat
:
Agama
:
No. telp
:
PENDIDIKAN
a). SD ( 1999-2005)
b). SMP (2005-2008)
c). SMA(2008-2011)
d). IST. AKPRIND Yogyakarta Jurusan Teknik Kimia Program S-1 (2011- sekarang)
Yang Menyatakan,
( Wulan Aryani )
2. BIODATA ANGGOTA PELAKSANA
Nama
: Nira Latifah Mukti
Jenis Kelamin
: Perempuan
Tempat & tanggal lahir
: Bantul, 19 Mei 1993
Alamat
: Jalan Wonosari km.6 no.668, Banguntapan Bantul
Agama
: Islam
No. telp
: 083840410333
PENDIDIKAN
a). SD N Gedongkuning ( 1999-2005)
b). SMP N 9 Yogyakarta (2005-2008)
c). SMTI Yogyakarta (2008-2011)
d). IST. AKPRIND Yogyakarta Jurusan Teknik Kimia Program S-1 (2011- sekarang)
Yang Menyatakan,

18

( Nira Latifah Mukti )


3. BIODATA ANGGOTA PELAKSANA
Nama
: Sulistiyo Nugroho
Jenis Kelamin
: Laki - laki
Tempat & tanggal lahir
: Sukoharjo, 12 Juli 1993
Alamat
: Jl. Pamukti 612 Rt.29 Rw.10 Giwangan Yogyakarta
Agama
: Islam
No. telp
: 089671426004
PENDIDIKAN
a)
b)
c)
d)

SD Islamiyah Warungboto ( 1999 - 2005)


SMP N 10 Yogyakarta (2005 2008 )
SMK N 2 Yogyakarta (2008 -2011)
IST AKPRIND Yogyakarta Jurusan Teknik Mesin, Program S-1 (2011 sekarang)
Yang Menyatakan,
(Sulistiyo Nugroho)

4. BIODATA ANGGOTA PELAKSANA


Nama
:
Jenis Kelamin
:
Tempat & tanggal lahir
:
Alamat
:
Agama
: Islam
No. telp
:
PENDIDIKAN
a)
b)
c)
d)

( Merita Ika Wijayati )

SD BENER ( 1997-2003)
SMP N 6 Yogyakarta (2003-2006)
SMTI Yogyakarta (2006 2009 )
IST AKPRIND Yogyakarta Jurusan Teknik Industri Program S-1 (2010 sekarang)
Yang Menyatakan,

BIODATA DOSEN PENDAMPING

()

Nama Lengkap

: Bambang Kusmartono, ST., MT.

NIK

: 84.0360.234 E

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Tempat & tanggal lahir

: Yogyakarta, 03 Maret 1960

Alamat Rumah

: Jl. RE. Martadinata 29 B, RT.07, Yogyakarta

Alamat Kantor

: Jalan Kalisahak No. 28, Yogyakarta

No. telp

: 08155154873

Merita

Ika

19

PENDIDIKAN
a). S1 IST AKPRIND Yogyakarta Jurusan Teknik Kimia ( Lulus Tahun 1995)
b). S2 ITS Surabaya Jurusan Teknik Kimia ( Lulus Tahun 2004 )

Yang Menyatakan,

( Bambang Kusmartono, ST., MT.)

20

Beri Nilai