Anda di halaman 1dari 4

PENGERTIAN TATA HUBUNGAN KERJA

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara


Nomor 25 Tahun 1990 tentang Pedoman Organisasi dan Tatalaksana,
yang dimaksud dengan TATA HUBUNGAN KERJA adalah pengaturan
hubungan kerja antara satu unit dengan unit lainnya
dalam bentuk koordinasi fungsional, administratif operasional dan atau
teknis operasional.
Tata Hubungan Kerja perlu dibuat untuk unit-unit kerja yang
memiliki tugas-tugas yang cenderung tumpang tindih dengan tugastugas unit lain atau sungguh-sungguh memerlukan kerjasama yang perlu
diatur.
Tata Hubungan Kerja diharapkan akan lebih memperjelas batas
tugas pekerjaan dan batas wewenang antar unit kerja. Tata Hubungan
Kerja disusun sesuai dengan urutan langkah-langkah kegiatan agar dapat
menggambarkan prosedur kerja yang jelas dari kegiatan tersebut.
Tata Hubungan Kerja mencakup Tata Hubungan Kerja Intern dan
Tata Hubungan Kerja Ekstern. Tata Hubungan Kerja Intern adalah
pengaturan hubungan kerja yang menyangkut hanya unit-unit kerja di
dalam suatu organisasi. Sedangkan Tata Hubungan Kerja Ekstern adalah
pengaturan hubungan kerja antara unit-unit kerja dalam suatu organisasi
dengan unit kerja di luar organisasi tersebut.

Dalam pedoman ini, tata hubungan kerja yang disajikan lebih


banyak berupa tata hubungan kerja intern.
A. TATA HUBUNGAN KERJA INTERN
Pengaturan hubungan kerja yang menyangkut unit-unit kerja di
dalam suatu organisasi merupakan tata hubungan kerja intern.
Berdasarkan pengertian tersebut tata hubungan kerja perlu dibuat untuk
unit-unit kerja yang cenderung tumpang tindih atau memang
memerlukan kerjasama yang harus diatur dengan tata hubungan kerja.
Tata hubungan kerja perlu dibuat terutama untuk tugas-tugas yang
bersifat strategis yang memerlukan kejelasan peran, wewenang dan
tanggung jawab dari masing-masing unit kerja.
Langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam penyusunan tata
hubungan kerja intern adalah :
1. Mengidentifikasi tugas-tugas yang cenderung tumpang tindih atau
benar-benar memerlukan pengaturan kerja sama.
2. Menetapkan unit kerja yang menjadi pelaku utama (focal point) dari
setiap tugas.
3. Menetapkan peran unit-unit terkait dalam pelaksanaan setiap tugas.
4. Menetapkan urutan kegiatan yang harus dilakukan untuk
melaksanakan/menyelesaikan setiap tugas, sesuai dengan peran
masing-masing unit.
B. TATA HUBUNGAN KERJA EKSTERN

Tata hubungan kerja ekstern adalah pengaturan hubungan kerja


antara unit-unit kerja dalam suatu organisasi dengan unit kerja di luar
organisasi tersebut. Hubungan kerja dengan unit organisasi lain tersebut
dapat berupa kerjasama lintas program ataupun lintas sektor.
Adapun bentuk hubungan dengan unit-unit kerja di luar organisasi dapat
berbentuk:
1. Hubungan teknis fungsional yaitu hubungan yang serasi, selaras
dan seimbang antara dua atau lebih unit organisasi yang secara
teknis mempunyai fungsi yang sama.
2. Hubungan koordinatif yaitu hubungan dalam rangka penyatuan
keputusan.
3. Koordinator ( Coordinating) yaitu peran unit kerja/pejabat sebagai
pengatur keselarasan, kesesuaian, ketepatan, dan efektivitas
kerjasama dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan.
4. Pemberi dukungan (Supporting), yaitu peran unit kerja sebagai
penyedia sumber daya dan jasa yang diperlukan unrtuk
pelaksanaan tugas yang bersangkutan.
5. Tempat Berkonsultasi (Consulting), yaitu peran unit kerja sebagai
pemberi verifikasi dan mitra untuk mematangkan pertimbangan
bilamana diperlukan.
6. Pemberi informasi (Informing), yaitu peran unit kerja sebagai
pemberi data/informasi.
7. Pengambilan Keputusan (Decision Making), yaitu peran unit
kerja /pejabat sebagai pembuat ketetapan akhir (final) terhadap

sesuatu atau sejumlah hal dalam upaya dan daya dengan unit kerja
lain untuk mencapai tujuan bersama.
C. PERAN DAN FUNGSI
Terdapat sejumlah peran dalam tata hubungan kerja yang
menggambarkan fungsi dari suatu unit kerja. Satu unit kerja dapat
melakukan satu atau lebih peran. Adapun peran-peran tersebut adalah :
1. Pelaku utama (Focal point), yaitu peran unit kerja sebagai
penggerak sebab tugas yang bersangkutan merupakan tugas unit
kerja tersebut.
2. Pemberi Rekomendasi (Recommending), yaitu peran unit kerja
sebagai pemberi usul, pertimbangan, atau saran-saran sebagai
bahan pengambilan rangka pelaksanaan tugas yang bersangkutan.