Anda di halaman 1dari 9

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan yang berjudul pemurniaan senyawa


organik yang bertujuan untuk memurnikan senyawa organik yang
telah bercampur dengan senyawa-senyawa lain, dan untuk
mempelajari prinsip-prinsip pemurnian senyawa organik senyawa
organic dapat dimurnikan dengan beberapa cara, diantaranya adalah
dengan destilasi, sublimasi, dan ekstraksi. Eter berfungsi sebagai
pelarut untuk pengotor-pengotor yang ada pada resersinol.
Konsenterasi larutan sesudah dititrasi lebih besar daripada sebelum
ditirasi. Reaksi sublimasi diartikan sebagai reaksi pergantian atom
dan gugus atom lainya. Uap-uap yang dihasilkan dari proses
sublimasi akan membentuk kristal.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Senyawa organik didefinisikan sebagai senyawa kimia
bahan alam yang biasanya mengandung atom-atom C, H, O, dan
N. Senyawa organik sangatlah bermanfaat bagi kehidupan
manusia,

karena

dari

senyawa-senyawa

organic

banyak

diciptakan benda-benda yang di butuhkan oleh manusia.


Senyawa organik dapat dimurnikan dengan berbagai cara
diantaranya dengan destilasi, sublimasi dan ektraksi. Destilasi
adalah

proses

perbedaan

pemisahan

campuran

didihnya

sublimasi

titik

cairan

berdasarkan

merupakan

proses

pemisahan campuran zat padat berdasarkan perbedaan tingginya


tekanan uap masing-masing zat di bawah temperatur titik
leburnya, atau disebut juga sebagai proses perubahan wujud zat
dari fasa padat ke fasa gas. Sedangkan ektraksi adalah proses
pengambilan suatu zat yang terlarut dalam dua pelarut yang
tidak

becampur

distribusinya.

1.2 Tujuan Percobaan

akan

terlarut

sesuai

dengan

berfisien

Memurnikan senyawa organik dan mempelajari prinsipprinsip pemurnian senyawa organik.

BAB II
DASAR TEORI

Cara

memperoleh

cairan

yang

diketahui

zat

terlarut

atau

bercampuran dengan cairan lain yang titik didihnya berbeda disebut


destilalasi. Cairan yang dikehendaki kita didihkan sampai menguap
lalu uap itu dilewatkan melalui alat pengembun (kondensor) supaya
cairan kembali. Cairan hasil destilasi disebut destilat. Air murni
yang kita pakai dilaboratorium diperoleh dengan cara destilasi yang
dikenal dimana aquades air disuling (Sukarjo, 1990).

Suhu dimana larutan mendidih selalu lebih tinggi dari titik didih
pelarut murni jika zat terlarut itu relative tak mudah menguap dalam
larutan encer. Kenaikan titik didih ini berbanding lurus dengan
banyaknya molekul zat terlarut (atau molnya) di dalam massa
tertentu pelarut (Jerome, L. Rosenberg,1984).

Sifat fisik senyawa organik pada umumnya adalah titik lembur


titik didih dan kelarutannya. Titik didih didefinisikan sebagai
kesetimbangan antara tekanan uapnya dengan tekanan atmosfer.
Kelarutan senyawa organik dalam air ditentukan oleh banyaknya
atom C dan gugus hidroksil yang dimilikinya. Aldehit dan keton
mendidih pada temperatur yang lebih tinggi dan pada senyawa non
polar yang bobot molekulnya. (Fessenden, 1980).

Penetapan entalpi bias dianggap sama dengan panas peleburan


laten dan panas laten penguapan. Meskipun zat cair tidak mungkin
terdapat pada tekanan dan temperature yang bersangkutan panas
laten sublimasi delta kelas paling baik didapatkan tekanan padat
(Luden,1953).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1.

Alat dan bahan


Alat-alat

Buret, corong pisah, ring besi, standar dan klem, gelas kimia,
erlenmeyer, kaca arloji, pembakar gas, batang pengaduk,
termometer.

Bahan-bahan

Larutan resersinol, larutan FeCl 3 , eter, as. Asetat glasial,


larutan NaOH, penophtalin, kapur barus, corcoal, aquadest.

3.2.

Cara Kerja

1. Ekstraksi.
a. Ekstraksi dengan perbandinagn warna.
Larutan resersinol sebanyak 10 mldimasukan kedalam
corong pisah, tambahkan beberapa tetes larutan FeCl 3 amati
warna larutan kemudian kedalamya dimasukan 5 ml eter,
kocok

sambil

membuka-buka

tutupnya.

Pisahkan

kedua

larutan zat yang saling tidak larut. Bandingkan warna larutan


tersebut dengan larutan sebelum diekstrak. Masukan larutan
tersebut kedalam corong pisah dan tambahkan 5 ml eter lagi.
Kocok seperti semula bandingkan lagi earna larutan setelah
diekstraksi dangan laruta ekstraksi yang pertama.
b. Ekstraksi dengan titrasi.
Larutan

asam

asetat

yang

belum

diketahui

konsentrasinya ditentukan kadarnya dengan mentitrasi dengan


larutan

standar

penophtalin.

NaOH,

Hitung

0,5

N,

konsentrasi

dan
asam

gunakan
asetat

indikator

itu

dengan

menggunakan rumus: V 1 .N 2 = V 2 .N 2 . Setelah kosenterasinya


diketahui catat hasilnya dan gunakan sbagai pembanding.
Sama dengan cara kerja diatas ambil lagi 25 ml asam asetat
yang

sama,

masukan

kedalam

corong

pisah,

kemudain

tambahkan 10 ml eter, kocok sambil membuka-buka tutupnya.

Kemudian pisahkan kedua larutan tersebut yang tidak


saling

larut.

Bagian

larutan

asetat

diambil

dan

diukur

sebanyak 10 ml dan dimasukan kedalam erlenmeyer. Diberi


tiga tetes pp sebagai indikator lalu dititrasi dangan larutan
NaOH 0,5 N. Hitung kadar asam asetat tersebut. Bandingkan
antara kadar asam asetat yang tidak di ekstraksi dengan asam
asetat yang telah dititrasi.

2. Sublimasi
Letakan 2 gram naftalen yang telah digerus kedalam
cawan penguap, kemudian dicampurkan dengan crocoal. Tutup
dengan kaca arloji yang diatasnya telah diletakan kapas basah.
Lukukan sublimasi dengan api kecil. Proses sublimasi dapat
dihentikan jika sudah tidak ada lagi zat yang menyublim.
Kumpulkan zat yang diperoleh, timbang beratnya dan tentukan
titik leburnya dengan prosedur kerja penentuan titik lebur.

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

2.1 Data Hasil Pengamatan


1. Ektrasi
a. Ektrasi yang diperbandingkan warna
Resorsinal + fe CL3

+ eter

diektrasi

diektrasi

resorsinal + eter

Resorsinal
b. Dengan cara titrasi
o

dititrasi
CH 3COOH 0.34 N
CH 3COOH + penolphotoun denganNaoH
0.5 N

CH 3COOH +

eter

PP

diektrasi
CH COOH
3

dititrasi

denganNaoH 0.5 N

CH 3COOH 0.29N

2. Sublimasi
disub lim asi
Naftalen + Crocal natalen murni.

2.2 Pembahasan
1. Ektraksi
a. Ektraksi dengan perbandingan warna
Resorsinol murni yang dicampur dengan fe CL3 yang
berfungsi untuk dapat membersihkan resorsinol dengan
menarik

larutan

fe CL3

dalam

campuran

sehingga

diperoleh resorsinol murni hasil ektraksi pada percobaan


ini ektraksi dilakukan dua kali, hal ini bertujan untuk

mendapatkan resorsinol yang lebih murni, dan dari hasil


percobaan dapat dibandingkan hasil ektraksi yang kedua
kali resorsinol berwarna agak ungu bersih sedang yang
satunya lagi berwarna agak gelap.
b. Ektraksi dengan cara titrasi
Konsentrasi CH 3COOH hasil titrasi diperoleh
dengan perhitungan :
VCH 3COOH

N CH 3COOH

10

N CH 3COOH

= 6,8 m. 0,5 N

VNaUH

N NaOH

Konsentrasi CH 3COOH hasil ektraksi kemurnian dititrasi


dan diperoleh :
VCH 3COOH

N CH 3COOH

10

N CH 3COOH

= 5,8 m. 0,5 N

N CH 3COOH

= 0,29 N

VNaGH

N NaOH

Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa asam asetat


yang sudah terlebih dahulu diektraksi berwarna ungu cerah
sedangkan asam asetat yang tidak di ektraksi berwarna ungu
agak gelap. Hal ini disebabkan karena asam asetat hasil
ekstraksi merupakan senyawa yang lebih murni ketimbang
asam asetat yang tidak diektraksi yang masih terkotor oleh
molekul-molekul lain.

2. Sublimasi

Naftalen

yang

ditambahkan

crocoral

berfungsi

sebagai

pengikat bahan lain dalam naftalen setelah disublimasi pada


api kecil diperoleh kristal-kristal naftalen murni pada bagian
bawah kaca arloji yang diatasnya diletakkan kapas basah
yang memiliki fungsi sebagai pendingin.

BAB V
KESIMPULAN

1. Senyawa organik dapat dimurnikan dengan ektraksi dengan


sublimasi.
2. Sublimasi adalah proses pemisahan suatu zat padat menjadi
uap. Beberapa zat pada pemanasan biasanya melebur pada
tekanan atmosfer berbentuk cair.
3. Senyawa organik hasil ektraksi memiliki warna lebih cerah
dibandingkan dengan senyawa organik yang tidak diektraksi.
4. Uap dapat menimbulkan tekanan tertentu yang dikatakan
sebagai

tekanan

penyubliman,

gambaran

tekanan

penyubliman adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk


mengubah sejumlah padatan menjadi uap.
5. Ektraksi berulang kali akan menghasilkan ektraksi yang
lebih murni.