Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia sebagai penyakit yang endemis
terutama bagi anak-anak. Di Indonesia DBD timbul sebagai wabah untuk pertama kalinya di Surabaya pada
tahun 1968. Sampai saat ini DBD dilaporkan dari 26 propinsi dan telah menyebar dari daerah perkotaan ke
daerah pedesaan dan selama tahun 1974 sampai 1982 dilaporkan sebanyak 3500-7800 kasus dengan Case
Fatality Rate 3.9%. Penyebab penyakit ini ialah virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegepty sebagai faktor utama, disamping nyamuk Aedes Albopictus.
Wabah penyakit demam berdarah yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia di beberapa
tahun yang lalu perlu mendapat perhatian. Begitu pula vektor Aedes Aegepty yang terdapat baik di daerah
pedesaan maupun perkotaan memberi resikotimbulnya wabah penyakit di masa akan dating. Untuk mengatasi
masalah penyakit demam berdarah di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan berbagai upaya pemberantasan
vektor, tetapi hasilnya belum optimal. Kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi secara teoritis ada empat
cara untuk memutuskan rantai penularan DBD ialah melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan
nyamk (vector) dan penggalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
cara kimia dan pengelolaan lingkungan, salah satunya dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Kesimpulan
Demam berdarah adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis yang
mirip dengan malaria. Demam berdarah oleh nyamuk Aedes Aegypti yang ditandai dengan
munculnya demam secara tiba-tiba disertai dengan sakit kepala berat, sakit pada sendi dan
otot (myalgia dan atfhralgia) dan ruam. Penyebab demam berdarah menunjukkan demam
yang lebih tinggi, satu perdarahan (trombositopenia) dan nemokonsentrasi sejumlah kasus
bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian tinggi.
Pengobatannya adalah terapi suportif dan alternatif lain seperti meminum jus jambu
biji bangkok, namun khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik. Dengan penderita
yang banyak, dinas kesehatan mengaku telah mengalokasikan dana sebesar Rp. 3,3 milyar
untuk keluarga miskin.

Pengertian
Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit
demam akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang
mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe
virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda
sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe
(hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh
nyamuk Aedes aegypti

1. Berwarna hitam dan belang- belang ( loreng) putih pada seluruh tubuh
2. Berkembangbiak di tempat penampungan air ( TPA) dan barang-barang yang
memungkinkan air tergenang seperti: bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, ban bekas,
dll.
3. Nyamuk aedes Aegypti tidak dapat berkembang biak di selokan /got atau kolam yang
airnya langsung berhubungan dengan tanah
4. Biasanya menggigit manusia pada pagi atau sore hari
5. Mampu terbang sampai 100 meter
ETIOLOGI

Penyakit ini ditunjukkan dengan adanya demam secara tiba-tiba 2-7 hari, disertai sakit
kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam merah terang, petechie
dan biasanya muncul dulu pada bagian bawah badan menyebar hingga menyelimuti hampir
seluruh tubuh. Radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual,
muntah-muntah atau diare (Soewandoyo E., 1998). Manifestasi klinik terwujud sebagai akibat
adanya kebocoran plasma dari pembuluh darah perifer ke jaringan sekitar. Infeksi virus Dengue
dapat bersifat asimtomatik atau simtomatik yang meliputi panas tidak jelas penyebabnya
(Dengue Fever, DF), Demam Berdarah Dengue (DBD), dan demam berdarah dengan renjatan
(DSS) dengan manifestasi klinik demam bifasik disertai gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri
otot, dan timbulnya ruam pada kulit ( Soegijanto S., 2004).
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk
Aedes albopictus. Di dalam tubuh manusia, virus berkembang biak dalam sistem
retikuloendotelial, dengan target utama virus Dengue adalah APC (Antigen Presenting Cells ) di
mana pada umumnya berupa monosit atau makrofag jaringan seperti sel Kupffer dari hepar dapat
juga terkena (Harikushartono et al., 2002). Segera terjadi viremia selama 2 hari sebelum timbul
gejala dan berakhir setelah lima hari gejala panas mulai. Makrofag akan segera bereaksi dengan
menangkap virus dan memprosesnya sehingga makrofag menjadi APC (Antigen Precenting
Cell). Antigen yang menempel di makrofag ini akan mengaktifasi sel T-Helper dan menarik

makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. T-helper akan mengaktifasi sel T-sitotoksik
yang akan melisis makrofag yang sudah memfagosit virus juga mengaktifkan sel B yang akan
melepas antibodi. Ada 3 jenis antibodi yang telah dikenali yaitu antibodi netralisasi, antibodi
hemaglutinasi, antibodi fiksasi komplemen (Gubler DJ., 1998).
Penyakit infeksi virus Dengue merupakan hasil interaksi multifaktorial yang pada saat ini mulai
diupayakan memahami keterlibatan faktor genetik pada penyakit infeksi virus, yaitu kerentanan
yang dapat diwariskan. Konsep ini merupakan salah satu teori kejadian infeksi berdasarkan
adanya perbedaan kerentanan genetik (genetic susceptibility) antar individu terhadap infeksi
yang mengakibatkan perbedaan interaksi antara faktor genetik dengan organisme penyebab serta
lingkungannya (Darwis D., 1999).
Patofisiologi primer DBD dan Dengue Shock Syndrom (DSS) adalah peningkatan akut
permeabilitas vaskuler yang diikuti kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga
menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah (Gambar 2.1). Volume plasma
menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, yang didukung penemuan post mortem meliputi
efusi serosa, efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi (Soedarmo, 2002). Patogenesis
DBD masih kontroversial dan masing-masing hanya dapat menjelaskan satu atau beberapa
manifestasi kliniknya dan belum dapat menjelaskan secara utuh keseluruhan fenomena.
Pencegahan dan pemberantasan infeksi Dengue diutamakan pada pemberantasan vektor
penyakit karena vaksin yang efektif masih belum tersedia. Pemberantasan vektor ini meliputi
pemberantasan sarang nyamuk dan pembasmian jentik. Pemberantasan sarang nyamuk meliputi
pembersihan tempat penampungan air bersih yang merupakan sarana utama perkembangbiakan
nyamuk, diikuti penimbunan sampah yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Tempat air bersih perlu dilindungi dengan ditutup yang baik. Pembasmian jentik dilakukan
melalui kegiatan larvaciding dengan abate dan penebaran ikan pemakan jentik di kolam-kolam
2. Gejala Penyakit
Gejala penyakit DBD adalah:
1. Mendadak panas tinggi selama 2 7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38C
sampai 40C atau lebih.
2. Tampak binti-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak
hilang.
3. Kadang-kadang perdarahan di hidung ( mimisan).
4. Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah
5. Tes Torniquet positif

6. Adanya perdarahan yang petekia, akimosis atau purpura


7. Kadang-kadang nyeri ulu hati, karena terjadi perdarahan di lumbung
8. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin Berkeringat Perdarahan
selaput lendir mukosa, alat cerna gastrointestinal, tempat suntikan atau ditempat lainnya
9. Hematemesis atau melena
10. Trombositopenia ( =100.000 per mm3)
11. Pembesaran plasma yang erathubungannya dengan kenaikan permeabilitas dinding
pembuluh darah, yang ditandai dengan munculnya satu atau lebih dari:
1. Kenaikan nilai 20% hematokrit atau lebih tergantung umur dan jenis kelamin
2. Menurunnya nilai hematokrit dari nilai dasar 20 % atau lebih sesudah pengobatan
3. Tanda-tanda pembesaran plasma yaitu efusi pleura, asites, hipo proteinaemia
Gejala Lain :

Hati membesar, nyeri spontan dan pada perabaan

Asites

Cairan dalam roga pleura (kanan)

Ensepalopati: kejang, gelisah, sopor, koma

Prinsip penatalaksanaan :

Memperbaiki keadaan umum

Mencegah keadaan yang lebih parah

Memperbaiki syok dan perdarahan (pen: rehidrasi sampai hari ke 7, namun


hati-hati pada hari ke 6 dapat terjadi arus balik cairan intersitiel ke pembuluh
darah)

Penatalaksanaan :
Penderita Rawat Jalan:

Minum susu / Oralit / LGG sampai air kencing cukup banyak

Pesankan pada penderita : bila lemah, gelisah, kaki tangan dingin -> segera
ke puskesmas

Kontrol tiap hari terutama hari ke 4 atau 5 -> anamnesis, pemeriksaan fisik,
Hematokrit

Penderita Rawat Inap:


Tanpa syok:

Minum susu/oralit/LGG sebanyak-banyaknya

Bila mutah / sakit perut ( infus RL dengan tetesan pemeliharaan

Antipiretik bila perlu (jangan beri aspirin/salisilat)

Antibiotika hanya diberikan jika ada infeksi sekunder

Dengan syok:

Infus RL 20 ml kg BB, evaluasi tiap 15 menit pada jam pertama

Oksigenasi bila perlu

Dexametason 2-5 mg/kg BB tiap 4-6 jam sampai keadaan stabil

Bila dalam 30 menit pertama nadi dantensi belum ada perbaikan -> rujuk
keRSUD disertai oksigenasi

Antipiretik dan antibiotik sama dengan yang tanpa syok

3. Cara Penularan
Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang
sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk
Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi
dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15
tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit
DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan
muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.

4. Kewaspadaan Masyarakat
Bila masyarakat menjumpai anggota keluarga atau tetangga dilingkungan dengan gejala
diatas segera dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan trombosit.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan darah tepi atau sering
diistilahkan pemeriksaan darah lengkap. Gambaran hasil laboratorium yang khas adalah terjadi
peningkatan kadar hemoglobin (hb) dan peningkatan hematokrit (hct) disertai penurunan
trombosis kurang dari 150.000. Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5
panas. Pemeriksaan darah pada panas hari ke 1 - 2 tidak bermanfaat dan malah menyesatkan
karena hasilnya masih dalam normal. Hasil normal tetapi bukan berarti bebas DBD atau belum
menyingkirkan diagnosis DBD. Dalam perjalanannya trombosit akan terus menurun pada hari
ke-3, ke-4, dan hari ke-5. Bila dicurigai DBD, pemeriksaan darah mungkin terus dilakukan pada
hari ke 4 dan ke 5,. Pada hari ke-6 dan selanjutnya akan meningkat terus kembali ke nilai normal.
Peningkatan jumlah trombosit secara drastis timbul setelah hari ke-6. Fenomena inilah yang
mungkin sering dianggap karena pengaruh pemberian jambu biji. Sampai pada saat ini belum ada
penelitian secara klinis yang membuktikan bahwa pemberian jambu biji pada penderita DBD
dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah.
Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan serologi dengue blot
(imunoglobulin G dan imunoglobulin M). Pemeriksaan ini selain tidak spesifik tetapi juga
harganya relatif mahal. Pada keadaan diagnosis klinis sudah jelas maka pemeriksaan ini
sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pada kasus yang tidak jelas mungkin pemeriksaan ini sering
membantu menunjang menegakkan diagnosis DBD. Hasil pemeriksaan dengue blot positif dapat
terjadi pada penyakit DBD dan DD.
Hal lain yang sering dijumpai penderita DBD di diagnosis sebagai sebagai penyakit tifus. Pada
penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah
identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah yang menimbulkan
kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada penyakit demam tiphoid pada minggu awal panas
biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil pemeriksaan widal
meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus.
Sebaiknya pemeriksaan Widal dilakukan saat panas pada akhir minggu pertama atau awal
minggu ke 2.
Secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD. Penyakit ini
adalah self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri. Prinsip pengobatan secara
umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Pemberian
minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman yang manis,
dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Paling penting adalah bukan
mengobati, tetapi pencegahan penyakit. Paling tidak melakukan deteksi dini penyakit berbahaya
ini secara cermat dan benar

Diagnosis demam berdarah biasa dilakukan secara klinis. Biasanya yang terjadi adalah demam
tanpa adanya sumber infeksi, ruam petekial dengan trombositopenia dan leukopenia relatif.
Serologi dan reaksi berantai polimerase tersedia untuk memastikan diagnosa demam berdarah
jika terindikasi secara klinis. Mendiagnosis demam berdarah secara dini dapat mengurangi risiko
kematian.
Gambaran Klinis
Demam yang akut, selama 2 hingga 7 hari, dengan 2 atau lebih gejala ? gejala berikut : nyeri
kepala, , nyeri otot, nyeri persendian, bintik-bintik pada kulit sebagai manifestasi perdarahan dan
leukopenia.
Kriteria Untuk Diagnosa Laboratorium
Satu atau lebih dari hal-hal berikut :
Isolasi virus dengue dari serum, plasma, leukosit ataupun otopsi.
Ditemukannya anti bodi IgG ataupun AgM yang meningkatkan tinggi titernya mencapai empat
kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam spesimen serta berpadangan.
Dibuktikan adanya virus dengue dari jaringan otopsi dengan cara immunokimiawi atau dengan
cara immuno-flouresens, ataupun didalam spesimen serum dengan uji ELISA
Dibuktikan dengan keberadaan gambaran genomic sekuen virus dari jaringan otopsi, sediaan
serum atau cairan serebro spinal (CSS), dengan uji Polymerase Chain Reaction ( PCR).
Klarifikasi Kasus
Dicurigai sebagai kasus : Yaitu kasus yang jelas dengan melihat gejala klinisnya.
Kemungkinan sebagai Kaus : ialah kasus yang menunjukkan gejala klinis dan didukung oleh satu
atau lebih dari ;
Uji serologi berupa munculnya titer anti bodi dengan hemaglutinasi ? inhibisi 1280 atau lebih
yang sebanding dengan titer positif IgG dengan uji ELISA, ataupun titer positif zat anti bodi IgM
pada fase akhir yang akut pada fase konvalesens.
Munculnya kasus DD lain dilokasi dan waktu yang sama
Kasus yang Pasti : ialah kasus yang secara klinis benar, serta didukung pula kebenarannya secara
laboratoris.
Kriteria Untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Syok Dengue (SSD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah kasus tersangka ataupun kasus yang pasti dari dengue
dengan kecenderungan perdarahan disertai adanya satu atau lebih dari hal ? hal berikut :
Tes Tourniquet yang positif.
Adanya perdarahan dalam bentuk petekiae, ekimosis atau purpura.
Perdarahan selaput lendir mukosa, alat cerna gastrrointestinal, tempat suntikan atau ditempat
lainnya.
Hematemesis atau melena
Dan trombositopenia ( < 100.000 per mm3)

Dan perembesan plasma yang erat hubungannya dengan kenaikan permiabilitas dinding
pembuluh darah, yang ditandai dengan munculya satu atau lebih dari :
Kenaikan nilai 20 % (hematokrit atau lebih tergantung umur dan jenis kelamin)
Menurunnya nilai hematokrit dari nilai dasar 20 % atau lebih sesudah pengobatan.
Tanda ? tanda perembesan plasma ( yaitu, efusi pleura, asites, hipoproteinaemia
2. Sindrom Syok Dengue (SSD)
Mencakup semua kriteria DBD diatas ditambah lagi dengan munculnya gangguan sirkulasi darah
dengan tanda-tanda denyut nadi menjadi lemah dan cepat, menyempitnya tekanan nadi (20
mmHg atau kurang) atau hipotesi berdasar umur, kedinginan, keringat dingin dan gelisah.

Pencegahan DBD
Umumnya kebanyakan orang terparadigma dengan pemberantasan DBD melalui fogging atau
penyemprotan. Padahal untuk melakukan fogging tersebut diperlukan beberapa ketentuan, mulai
dari PE dan kemudian pengajuan surat penyemprotan kepada Rumah Sakit terdekat. Hal ini
karena fogging tidak baik apabila diterapkan terlalu sering.
Disamping itu, untuk memberantas nyamuk dan juga jentik, terdapat beberapa cara sederhana
dan hanya diperlukan kepedulian, ketelitian dan keuletan setiap penghuni rumah akan keadaan
lingkungan.
Cara paling efektif untuk mencegah penularan DBD adalah dengan menghindari gigitan nyamuk
penular, mengurangi populasi nyamuk penular, dan mengenali cara hidup nyamuknya. Mengapa
tindakan menghindari vektor penular itu penting, karena seperti yang telah dijelaskan di atas,
bahwa apabila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut
terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan
tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya.
Kira-kira satu minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan
kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk
menusuk (menggigit), sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat
tusuknya (proboscis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus
dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.
Virus ini akan tetap berada di dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk
Aedes aegypti yang telah mengisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya.
Maka dari itu perlu bagi masyarakat mengetahui lebih dalam sifat, ataupun cara hidup dari
nyamuk pembawa virus dengue ini, sehingga dapat menghindari gigitannya.
Pertama-tama kita kenali dulu tamu di siang hari ini.

1. Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk domestik, yakni nyamuk yang berada di
bangunan-bangunan seperti contohnya rumah dan tersebar luas di daerah tropis
2. Kemampuan terbang + 40 m, maksimal 100 m
3. Senang dengan benda yang bergantungan dan di tempat yang lembab/gelap
4. Siklus hidup : telur jentik kepompong dalam air ( + 7 10 hari )
5. Sekali bertelur menghasilkan 100-200 telur
6. Tempat perkembangbiakan adalah di TPA (Tempat Penampungan Air)
Sehingga dari itu cara yang untuk menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti adalah melalui
cara yang telah dikenal oleh masyarakat yakni melalui 3 M, yakni :
1. Menutup TPA
2. Menguras TPA seminggu sekali dan terus menerus
3. Mengubur barang-barang bekas yang menjadi TPA
Akhir-akhir ini pencegahan dan pemberantasan DBD tidak hanya dapat ditempuh melalui 3M,
cara terefektif adalah melalui PSJN (Pemberantasan Sarang Jentik dan Nyamuk). Seperti yang
telah diungkapkan oleh dr. Ina di awal artikel bahwa PSJN merupakan cara paling mujarab
untuk menekan angka kasus DBD. Selain karena tempat jentiknya yang jelas, yakni di Tempat
Penampungan Air (TPA), juga karena jentik merupakan awal fase hidup nyamuk. Dan upaya
dalam menerapkan PSJN ini ditempuh dengan beberapa cara diantaranya adalah melalui :
1. Pemberdayaan masyarakat dengan pembinaan ratusan Kader Wamantik (Siswa Pemantau
Jentik) dan Bumantik (Ibu Pemantau Jentik), yang bertugas memantau 10 rumah di
sekitarnya menyangkut keberadaan jentik di rumah mereka. Tidak lupa juga memberikan
penyuluhan
2. Ikanisasi
3. Abatesasi (temephos)
4. Fogging, dengan syarat dan persetujuan dari Rumah Sakit sekitar
Kesadaran dan kepedulian masyarakat merupakan kunci awal dari menurunnya angka DBD di
suatu wilayah. Sehingga DBD dapat terjadi di wilayah mana pun, termasuk di wilayah elit.
Hindari gigitan nyamuk dengan turunkan populasi, pesan dr. Ina. Melalui kesadaran akan
pentingnya kebersihan lingkungan, maka secara otomatis akan menghambat perkembangan
jentik, dengan adanya kepedulian maka aplikasi dari upaya-upaya memberantas DBD pun akan
terealisasi, dengan begitu tidak akan memberi kesempatan bagi si nyamuk untuk berkembang.

Pengobatan terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk mengatasi perdarahan,


mencegah/mengatasi keadaan syok / presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak
minum, bila perlu dilakukan pemberian cairan melalui infus.
Demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin, atau pemberian antipiretika Jika anda
mengalami panas tinggi yang berkepanjangan (lebih dari 1 hari) dan tidak sembuh dengan
meminum obat, cobalah mendatangi rumah sakit terdekat dan cek darah anda. Apabila anda
menemukan trombosit anda sudah di batas bawah normal (batas normal: 150.000-500.000),
berhati-hatilah.
Ada cara yang bisa ditempuh tanpa harus diopname di rumah sakit, tapi butuh kemauan yang
kuat untuk melakukannya. Cara itu adalah sbb:
1. Minumlah air putih minimal 20 gelas berukuran sedang setiap hari (lebih banyak lebih
baik)
2. Cobalah menurunkan panas dengan minum obat penurun panas
3. Beberapa teman dan dokter menyarankan untuk minum minuman ion tambahan (tapi
banyak juga yang tidak menganjurkannya)
4. Minuman lain yang disarankan: Jus jambu merah untuk meningkatkan trombosit (ada
juga yang menyarankan: daun angkak, daun jambu, dsb)
5. Makanlah makanan yang bergizi dan usahakan makan dalam kuantitas yang banyak
(meskipun biasanya minat makan akan menurun drastis).
Sebenarnya, semua usaha di atas bertujuan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap serangan
demam berdarah, karena pada dasarnya demam berdarah tidak perlu obat tertentu (dan memang
tidak ada obat untuk itu). Ketahanan tubuh dapat dilihat dari jumlah leukosit dalam darah. Ketika
leukosit mulai meningkat (membaik), maka biasanya trombosit yang kemudian akan bertambah.
Bila anda mampu melakukan no.1 dari usaha di atas tanpa kurang sedikit pun, anda tak perlu ke
rumah sakit untuk opname (menghemat bukan?)
Jika kita dirawat di rumah sakit, perhatikanlah obat yang disuguhkan, karena tidak ada obat yang
bisa menyembuhkan demam berdarah itu (kecuali penurun panas). Infus sangat dibutuhkan, tapi
jangan pernah mau diberikan antibiotik (kecuali ada penyakit lain). Tablet yang diberikan
biasanya adalah vitamin.
Perhatikan juga hasil laboratorium setiap hari. Sebenarnya, jika trombosit sudah meningkat
melewati batas bawah normal (grafik trombosit tidak turun lagi), panas tubuh sudah normal
kembali (36C-37C), tekanan darah (tensi) normal, itu pertanda anda sudah mulai sembuh, dan
anda sudah bisa meminta kepada dokter untuk rawat jalan saja. Selama di rumah, usaha untuk
minum air putih sebanyak-banyaknya harus tetap dijalankan.

VI. PROGNOSIS
Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DF dan DHF tidak ada
yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak
teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh
sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kematian
terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf,
kardiovaskuler, pernapasan, darah, dan organ lain.
Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :
1. Keterlambatan diagnosis
2. Keterlambatan diagnosis shock
3. Keterlambatan penanganan shock
4. Shock yang tidak teratasi
5. Kelebihan cairan
6. Kebocoran yang hebat
7. Pendarahan masif
8. Kegagalan banyak organ
9. Ensefalopati
10. Sepsis
11. Kegawatan karena tindakan