Anda di halaman 1dari 31

TUGAS BIOTEKNOLOGI - P2K

PEMBUATAN SEFALOSPORIN

DISUSUN OLEH:
Anggun Nia Mulyani (13334056)
Fitri Ningsih (13334043)
Titih Ayunda (13334045)
Bunga Claudya (13334054)
Zahirah Nisa Syahidah (13334048)
Rahmah Intan Aprilia (13334049)
Fauzal Fazri (13334013)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Penyusun mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT sehingga Penyusun dapat
menyelesaikan makalah pembuatan sefalosporin tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan hasil
dari materi yang sedang dipelajari di mata kuliah Biofarmasi.
Tak ada gading yang tak retak, demikian isi sebuah peribahasa Indonesia. Penyusun menyadari
bahwa masih terdapat kekurangan pada makalah ini, baik dalam penulisan maupun penyajiannya.
Penyusun masih membuka pintu kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk memperbaiki
makalah di masa yang akan datang.
Penyusun amat berharap kepada pembaca makalah ini agar makalah ini bermanfaat bagi
Penyusun khususnya dan Pembaca pada umumnya.

Jakarta, November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB I...................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN....................................................................................................... 3
1.

Sejarah Perkembangan Sefalosporin............................................................3

2.

Struktur Kimia dan Sifat-sifat Sefalosporin...................................................4

3.

Sifat-sifat Fisik.............................................................................................. 8

4.

Kegunaan Sefalosporin................................................................................. 9

5.

Mekanisme kerja........................................................................................ 10

6.

Mekanisme Resistensi................................................................................ 11

7.

Farmakologi................................................................................................ 12

8.

Efek Samping dan Toksisitas......................................................................13

9.

Penggunaan Klinik...................................................................................... 14

10.

Farmakokinetik........................................................................................ 17

BAB II................................................................................................................... 19
PEMBAHASAN...................................................................................................... 19
1.

Mikroorganisme untuk Produksi Sefalosporin.............................................19

2.

Bahan Baku Produksi Sefalosporin.............................................................21

3.

Biosintesis dalam Proses Produksi Sefalosporin.........................................22

4.

Pengembangan Inokulum untuk Produksi Sefalosporin..............................26

5.

Proses Produksi Sefalosporin......................................................................27

6.

Perolehan Produk........................................................................................ 28

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 31

BAB I
PENDAHULUAN

Sefalosporin merupakan salah satu antibiotik yang memiliki cincin -laktam dalam strukturnya
sehingga tergolong antibiotik -laktam bersama-sama dengan penisilin, monobaktam, dan
karbapenem. Sefalosporin tergabung dalam cephem, subgrup antibiotik -laktam bersama dengan
sefasimin. Seperti halnya semua senyawa metabolit sekunder, antibiotik sefalosporin dihasilkan
dalam industri bioproses yang melibatkan mikroorganisme.
Sefalosporin C merupakan contoh sefalosporin yang paling awal ditemukan. Fungsinya sebagai
antibiotik yang cukup potensial menjadikannya produk antibiotik yang banyak dihasilkan setelah
penisilin. Dengan mengubah-ubah gugus sampingnya, diperoleh berbagai senyawa turunan
sefalosporin atau disebut sefalosporin semisintetik dengan sifat-sifat yang berbeda.
1.

Sejarah Perkembangan Sefalosporin


Penemuan antibiotik -laktam merupakan terobosan yang luar biasa dalam pembuatan obat.

Penisilin yang ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 terbukti efektif dalam melawan
bakteri gram positif. Berbagai penelitian lebih lanjut terhadap penisilin menjadi populer pada masa
itu. Meksipun demikian, penisilin umumnya memiliki keterbatasan dalam melawan bakteri gram
negatif. Dan seiring dengan penggunaannya, beberapa bakteri gram positif menjadi resistan
terhadap penisilin dengan menghasilkan enzim penisilinase yang menghidrolisis cincin -laktam
pada penisilin.
Pada tahun 1945, Giuseppe Brotzu, seorang profesor Hygiene dari University of Cagliari,
Italia, berhasil mengisolasi strain Cephalosporium acremonium, sejenis mold, dari air laut dekat
saluran pembuangan limbah di Cagliari, Sardinia. Percobaan yang dilakukannya membuktikan
bahwa fungi ini menghasilkan senyawa yang efektif dalam melawan Salmonella tylhi (sejenis
bakteri gram negatif). Pada tahun 1948, Brotzu mempublikasikan penemuannya, akan tetapi
kurang menarik perhatian. Atas usul British Medical Research Council, Brotzu kemudian
mengirimkan kultur C. acremonium, yang kemudian diklasifikasi ulang sebagai Acremonium
chrysogenium pada tahun 1971 oleh Gams, kepada Howard Florey di Oxford.
Guy Newton dan Edward Abraham di Sir William Dunn School of Pathology, University of
Oxford pada tahun 1951 berhasil menemukan senyawa antibiotik yang dihasilkan oleh kultur

Acremonium yang kemudian diberi nama sefalosporin C. Pada tahun 1955, antibiotik sefalosporin
C menunjukkan spektrum aktivitasnya yang lebar, termasuk banyak strain Staphylococcus aureus
yang sensitif dan resistan terhadap penisilin.
Riset dan pengembangan industri produksi sefalosporin semakin marak mengingat potensi
yang besar dari sefalosporin. Proses produksi yang pertama melibatkan Glaxo, dari Inggris, dan
Ely Lilly, dari Amerika Serikat, sebagai yang pertama bernegosiasi dengan NRDC (National
Research Development Corporation).
Pada tahun 1985, gen biosintetik -laktam pertama, pcbC (encoding cyclase) berhasil
dikloning dari A. chrysogenum. Perkembangan ini cukup berarti bagi industri sefalosporin
mengingat pembuatan enzim yang diperlukan bagi industri ini menjadi lebih mudah.
2.

Struktur Kimia dan Sifat-sifat Sefalosporin


Senyawa sefalosporin memiliki gugus inti 7-aminocephalosporanic acid (7-ACA), yang

mengandung gugus -laktam (sebuah cincin dengan 2 atom C, 1 gugus karbonil, dan 1 atom N)
dan cincin dihidrothiazin. Secara keseluruhan nama ilmiah sefalosporin adalah asam 3asetoksimetil-7-asilamino-3-cephem-4-karboksilat.

Berbagai senyawa lainnya dapat diperoleh dengan mengganti R1 dan R2 pada struktur gugus
inti sefalosporin tersebut, sehingga dapat menghasilkan sifat-sifat senyawa yang berbeda-beda.
Berikut beberapa struktur yang berkaitan dengan sefalosporin yang terjadi secara alami, bukan
hasil sintesis.

Sifat-sifat senyawa turunan sefalosporin tergantung gugus yang terikat pada gugus inti.
Gugus R1 akan mempengaruhi sifat farmakologinya (proses yang dilalui obat dalam tubuh),
sedangkan gugus R2 mempengaruhi karakteristik antibakterialnya.
Secara umum, sefalosporin dikelompokkan dalam 5 generasi, berdasarkan sifat antibakterial,
spektrum antibiotik, stabilitas terhadap laktamase, dan aktivitas intrinsik.
a.

Generasi 1, bersifat lebih efektif dalam menghadapi infeksi staphylococcal dan streptococcal
(bakteri gram positif), stabil terhadap asam, sedikit aktif dalam melawan bakteri gram negatif.
Beberapa obat yang tergolong dalam sefalosporin generasi pertama yaitu cefadroxil,

b.

cefazolin, cephalexin, cephaloridine, cephalothin, cephapirin, dan cephradine.


Generasi 2, memiliki spektrum bakteri gram negatif yang lebih luas, akan tetapi lebih lemah
dalam melawan bakteri gram positif dibanding generasi pertama. Kelompok ini juga lebih
resistan terhadap -laktamase. Sefalosporin yang termasuk generasi kedua adalah cefaclor,

c.

cefoxitin, cefprozil, dan cefuroxime.


Generasi 3, memiliki aktivitas terhadap bakteri gram negatif yang jauh lebih besar, yang
disertai dengan berkurangnya aktivitas terhadap bakteri gram negatif. Kelompok ini meliputi

d.

cefdinir, cefixime, cefotamine, ceftriaxone, ceftazidime, dan cefoperazone.


Generasi 4, memiliki spektrum yang lebih seimbang, sehingga aktif dalam melawan bakteri
gram positif dan gram negatif. Generasi 4 sefalosporin merupakan antibiotik yang paling
potensial di antara obat-obat dalam mengobati beberapa infeksi serius pada manusia.
Cefepime, cefluprenam, cefozopran, cefpirome, dan cefquinome merupakan obat-obat yang
tergolong dalam generasi 4 ini.

e.

Generasi 5, merupakan kelompok terbaru yang diidentifikasi meliputi ceftobiprole dan


ceftaroline, meskipun pengelompokannya masih belum diterima secara universal. Ceftaroline
memiliki aktivitas yang sangat baik dalam melawan bakteri gram positif.

Struktur kimia dari beberapa contoh sefalosporin generasi pertama dan kedua

Struktur kimia dari beberapa contoh sefalosporin generasi ketiga dan keempat

Ada juga pembagian sefalosporin menjadi 3 kelompok berdasarkan sifat farmakokinetik dan
farmakodinamik yaitu:
a. Sefalosporin untuk pemakaian parenteral yang stabilitasnya terhadap -laktamase tidak
dipertinggi
Senyawa dari kelompok pertama ini (identik dengan kelompok I) spektrum kerjanya hampir
sama dengan ampisilin akan tetapi senyawa inijuga masih efektif terhadap stafilokokus yang
membentuk penisilinase. Sebaliknya oleh mikroba gram negatif pembentuk -laktamase akan
diinaktivasi.
b. Sefalosporin untuk pemakaian parenteral yang stabilitasnya terhadap -laktamase dipertinggi
Termasuk obat dari kelompok III-VII. Obat kelompok III terhadap E. coli, H. Influenzae,
Klebsiella, Neisseria dan Proteus mirabilis lebih berkhasiat daripada sefalosporin kelompok
Iakan tetapi sama seperti kelompok I senyawa ini juga diinaktivasi oleh beberapa laktamase. Obat kelompok IV hampir terhadap semua basil gram negatif lebih aktif daripada

sefalosporin kelompok I. Yang resisten adalah Ps. Aeruginosa dan banyak galur dari
Citrobacter, Enterobacter, Proteus vulgaris, dan Serratia. Obat kelompok V bila dibandingkan
dengan senyawa kelompok IV mempunyai spektrum lebih luas. Obat kelompok VI
mempunyai spektrum kerja yang sangat luas dan aktivitas antibakteri yang lebih kuat
terhadap mikroba gram negatif dibandingkan dengan sefalosporin lain.
c.

Sefalosporin oral
Spektum kerjanya sangat mirip dengan sefalosporin kelompok I selain itu juga menghambat
H. influenzae. Walaupun demikian kerja antibakterinya lebih kecil daripada kerja senyawa
yang digunakan secara parenteral. Karena itu pada infeksi yang membahayakan jiwa
sefalosporin oral tidak digunakan.

3. Sifat-sifat Fisik
Kebanyakan sefalosporin berupa padatan yang berwarna putih, coklat, atau kuning muda,
yang biasanya tidak berbentuk (amorf), tetapi kadang-kadang bisa berbentuk kristal. Sefalosporin
umumnya tidak memiliki titik leleh yang tinggi. Sifat asamnya umumnya berasal dari gugus
karboksilatnya yang terikat pada cincin dihidrothiazin. Nilai keasamannya, pKa, tergantung
kondisi lingkungannya.
Salah satu sifat fisik yang mencolok dari sefalosporin adalah frekuensi dalam spektrum
inframerah. Absorpsi terjadi pada frekuensi tinggi (1770-1815 cm-1) yang berasal dari karbonil laktamnya. Dibandingkan dengan frekuensi gugus karbonil pada senyawa lain, misal karbonil
ester (1720-1780 cm-1) dan amida (1504-1695 cm-1), bisa dibilang cukup tinggi. Beberapa sifat
fisik sefalosporin ditampilkan dalam tabel di bawah ini.

3. Sifat-sifat Kimia
Adanya gugus -laktam sangat mempengaruhi sifat kimia dari sefalosporin. Bentuk
geometri cincin dengan ikatan rangkap di dalamnya, menjadikan sefalosporin sebagai molekul
yang cukup stabil karena memungkinkan terjadinya resonansi. Pembuatan senyawa turunan
sefalosporin biasanya dengan melakukan penyerangan menggunakan nukleofil seperti alkolsida
atau hidroksilamin.

Reaktivitas sefalosporin, Nu merupakan nukleofil dan X sebagai leaving group. Dari


gambar dapat diketahui bahwa terdapat 2 kemungkinan pembentukan produk dengan
serangan nukleofil
4. Kegunaan Sefalosporin
Seperti halnya antibiotik -laktam lainnya, sefalosporin dapat digunakan dalam melawan
infeksi oleh bakteri dengan mengikat dan menjadi inhibitor enzim pembentuk dinding
peptidoglikan bakteri. Dibandingkan dengan penisilin yang juga merupakan antibiotik -laktam,
sefalosporin memiliki sifat resistan terhadap enzim -laktamase yang dihasilkan oleh bakteri
untuk memutus ikatan pada cincin -laktam.
Sefalosporin digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi oleh bakteri, seperti infeksi
saluran pernapasan (pneumonia, bronkitis, tonsillitis), infeksi kulit, dan infeksi saluran urin.
Pemberian sefalosporin kadang-kadang bersamaan dengan antibiotik lain. Sefalosporin juga
umum digunakan dalam pembedahan atau surgery, untuk mencegah infeksi selama
pembedahan.
Berbagai jenis sefalosporin yang dihasilkan juga memberikan berbagai fungsi berbeda dari
masing-masing sefalosporin. Sefalosporin generasi pertama seperti sefalotin dan sefalexin

merupakan yang paling aktif dalam melawan staphylococci dan nonenterococcal streptococci,
dan merupakan antibiotik alternatif dari penisilin untuk pasien dengan endocarditis, osteomyelitis,
septic arthritis, dan cellulitis. Dikatakan sebagai antibiotik alternatif karena adanya pasien yang
kemungkinan alergi terhadap penisilin ataupun karena adanya infeksi campuran oleh bakteri
gram positif dan gram negatif. Meskipun obat-obat ini sudah terbukti dapat mengatasi infeksi
seperti bacteriemias, infeksi saluran kencing, dan pneumonia, yang disebabkan bakteri gram
negatif, penggunaan sefalosporin ini sebagai agen tunggal tidak disarankan, karena aktivitas
melawan bakteri gram negatif masih lemah dan tidak dapat diprediksi. Sefalosporin generasi
pertama telah digunakan secara luas dalam pencegahan cardiovascular, orthopedic, biliary,
pelvis, dan intra-abdominal surgery. Sefazolin, yang memiliki waktu paruh lebih lama dibanding
sefalosporin generais pertama lainnya, merupakan pilihan utama untuk pencegahan dakam
pembedahan.
Sefuroxime efektif dalam melawan Haemophilus influenzae penyebab penyakit sejenis
pneumonia yang kebal terhadap ampisilin. Sefoxitin digunakan untuk mengobati infeksi
campuran aerobik-anaerobik termasuk infeksi pelvis, intra-abdominal, dan nosocomial aspiration
pneumonia. Sefonicid, karena waktu paruhnya yang panjang juga banyak digunakan dalam
berbagai jenis infeksi seperti saluran kencinga dan jaringan kulit.
Sementara itu, sefalosporin generasi ketiga dapat digunakan untuk melawan bakteri gram
positif. Biasanya pengobatan infeksi tidak menggunakan sefalosporin generasi ketiga, melainkan
obat lainnya. Pengecualian berlaku bagi pengobatan meningitis. Sefotaxime, seftriaxone, dan
seftazidime terbukti efektif dalam mengobati meningitis, terutama bagi anak-anak di mana
Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, dan Neisseria meningitidis merupakan
penyebab utamanya. Seftriaxone sekarang merupakan agen pilihan untuk mengobati berbagai
infeksi yang disebabkan strain kebal penisilin.
5. Mekanisme kerja
Mekanisme antibakterial golongan Cephalosporins sama seperti obat antibiotika golongan
lactam lainnya. Pertumbuhan bakteri dihambat dengan mempengaruhi proses pada sinteis
dinding sel. Target utamanya adalah struktur ikatan Peptidoglycan. Peptidoglycan merupakan
rantai polisakarida yang terdiri dari N-acetylglucosamine (NAG) dan N-acetylmuramic (NAM).
Rantai polisakarida tersusun bersilangan pada sisi pentapepetida dari NAM dan membentuk

10

struktur menyerupai sarang. Struktur ini menyusup ke dalam membran sitoplasma dengan
bantuan kerja berbagai enzim, termasuk transpeptidase, carboxypeptidase, dan endopeptidase.
Cincin lactam yang ada pada penicillin dan cephalosporin suatu konformasi yang mirip dengan
terminal d-alanine-d-alanine pentapeptide. Antibiotik membentuk ikatan kovalen dengan enzimenzim tersebut, terutama transpeptidase sehingga terjadi penurunan aktifitas enzim. Enzimenzim tersebut itulah yang dikenal dengan istilah PBP (Penicillin Binding Protein).
Letak dari PBP antara kuman Gram positif dan kuman Gram negatif berbeda. Pada kuman
gram positif, PBP terletak pada permukaan luar dari sel. Sedangkan pada kuman Gram negatif,
adanya lapisan lipopolisakarida menyebabkan cephalosporins harus melakukan penetrasi
ataupun berdifusi untuk dapat mencapai PBP. PBP yang menjadi sasaran bervariasi menurut
type dan jumlahnya. Cocci gram positif dan gram negatif biasanya memiliki 3 5 PBP
sedangkan bacilli gram negatif umumnya memiliki 7 10 PBP. Obat Cephalosporins memiliki
afinitas berbeda terhadap berbagai PBP tersebut. Dalam konsentrasi rendah, cephalosporins
cenderung terikat pada PBP 3 pada kuman bacilli gram negatif. Apa yang sesungguhnya terjadi
setelah pembentukan ikatan kovalen antar cephalosporins dan PBP sehingga menyebabkan
terjadinya lisis dan kematian sel belum sepenuhnya dipahami. Secara keseluruhan,
Cephalosporins dianggap sebagai obat bakterisidal.

6. Mekanisme Resistensi
Ada empat mekanisme utama terjadinya resistensi terhadap antibiotik golongan Cephhalosporin
yaitu:
-

Destruksi antibiotik oleh enzim lactamase


Pengurangan penetrasi antibiotik melalui lapisan lipopolisakarida
Peningkatan efflux obat dari ruang periplasmic
Perubahan pada PBP sehingga terjadi penurunan afinitas.

Biasanya mekanisme resistensi hanya terjadi melalui salah satu dari mekanisme tesebut, namun
persentase mikroorganisme yang memiliki mekanisme resistensi multipel semakin meningkat.
Produksi enzim lactamase yang dapat menghidrolisa lactam merupakan mekanisme
resistensi yang paling dominan bagi kebanyakan kuman gram negatif.
7. Farmakologi
Cephalosporins adalah senyawa polar yang larut dalam air. Untuk generasi I, II, dan III
tersedia dalam bentuk sediaan oral dan parenteral. Sedangkan untuk generasi IV dan MRSA

11

active cephalosporin hanya tersedia untuk penggunaan parenteral. Untuk lebih mudahnya dapat
dilihat pada tabel-tabel berikut.

*Dari: Mandell, Douglas and Bennet, Principles and Practice of Infectious Diseases 7th Ed
Semua formulasi parenteral tersedia untuk pemberian secara intramuscular maupun secara intra
vena. Semua formulasi parenteral kecuali cephradine, stabil pada larutan yang disimpan dalam
suhu ruangan selama 24 jam atau lebih. Sedangkan sediaan oral tersedia dalam bentuk tablet,

12

kapsul maupun suspensi. Sebagian besar Cephalosporin dieliminasi melalui ginjal, dengan
waktu paruh 1 hingga 2 jam. Mekanisme utama untuk ekskresi melalui ginjal iti terutama melalui
sekresi tubulus. Pemberian Probenecid dapat memperpanjang waktu paruh beberapa obat
Cephalosporins
.
8. Efek Samping dan Toksisitas
Sama halnya dengan obat-obat antibiotik golongan lactam lainnya, efek samping
Cephalosporins yang paling sering dijumpai adalah reaksi hipersensitifitas. Namun angka
kejadian reaksi hipersensitifitas akibat Cephalosporins tidaklah sebesar pada Penicillin. Reaksi
hipersensitifitas yang berat dapat menyebabkan anaphylaxis, serum sickness ataupun
angioedema. Reaksi silang antara obat-obat cephalosporin sedang dalam tahap penelitian.
Penggunaan skin test untuk memprediksi kemungkinan terjadinya reaksi hipersensitifitas tidaklah
cukup meyakinkan. Pada saluran cerna dapat muncul berbagai keluhan, diantaranya diare. Efek
pada susunan saraf sangat jarang dan sama seperti pada beta lactam lainnya.

*Dari: Mandell, Douglas and Bennet, Principles and Practice of Infectious Diseases 7th Ed
9. Penggunaan Klinik
Sebagian besar dari sefalosporin perlu diberikan parenteral dan terutama digunakan di rumah
sakit.

13

a. Generasi I :
Digunakan per oral pada infeksi saluran kemih ringan dan sebagai obat pilihan kedua pada
infeksi saluran napas dan kulit yang tidak begitu parah dan bila terdapat alergi untuk
penisilin. Jangkauan terapi generasi ini meliputi bakteri yang memproduksi penisilin,
streptokokus dan stafilokokus.Generasi ini memiliki kemampuan melawan kuman
Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae dan Proteus mirabilis, namun tidak dapat bekerja
melawan

Bacteroides

fragilis,

enterococci,

methicillin-resistant

staphylococci,

Pseudomonas, Acinetobacter, Enterobacter, indole-positif Proteus, atau Serratia. Generasi


ini umumnya digunakan untuk terapi infeksi kulit, jaringan lunak, dan saluran kemih. Mampu
untuk terapi infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae
pencillin-sensitif namun tidak untuk Hemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis Contoh
: cefadroxil, cefalexin
b. Generasi II atau III :
Digunakan parenteral pada infeksi serius yang resisten terhadap amoksisilin dan
sefalosporin generasi I, juga terkombinasi dengan aminoglikosida (gentamisin, tobramisin)
untuk memperluas dan memperkuat aktivitasnya. Begitu pula profilaksis pada antara lain
bedah jantung, usus dan ginekologi. Sefoksitin dan sefuroksim (generasi ke II) digunakan
pada gonore (kencing nanah) akibat gonokok yang membentuk laktamase. Terbagi atas 2
grup yaitu 'true' generasi kedua sefalosporin (cefuroxime) dan sefamisin (cefocetan). "True"
sefalosporin lebih baik dibandingkan generasi pertama untuk terapi kuman Hemophilus
influenzae, Moraxella catarrhalis, Neisseria meningitidis, dan beberapa Enterobacteriaceae.
Generasi kedua dapat digunakan untuk terapi infeksi saluran pernapasan yang disebabkan
oleh kuman Hemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, Streptococcus pneumoniae; dan
infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh kuman Escherichia coli.
Sefamisin dapat digunakan untuk terapi infeksi aerob/anaerob kulit, jaringan lunak,
intrabdomen, dan infeksi kebidanan Contoh : cefuroxim, cefaclor.
c.

Generasi III :
Seftriaxon dan sefotaksim kini sering dianggap sebagai obat pilihan pertama untuk gonore,
terutama bila telah timbul resistensi terhadap senyawa fluorkuinon (siprofloksasin).
Sefoksitin digunakan pada infeksi bacteroides fragilis. Beberapa jenis antibiotik generasi ini
memiliki kemampuan kurang untuk penanganan kuman gram positif. Generasi ini mampu
mengatasi infeksi nosokomial (diperoleh di RS), mampu menembus sistim saraf pusat

14

sehingga dapat menangani meningitis (infeksi selaput otak) akibat kuman pneumokokus,
meningokokus, H.Influenza, E.coli,Klebsiella, dan penicillin-resistant N. gonorrhoeae. Dapat
digunakan untuk menangani infeksi yang disebabkan oleh kuman gram negatif terutama
infeksi nosokomial, infeksi saluran pernapasan, infeksi darah, intraabdomen, kulit, jaringan
lunak, saluran kemih. Dapat digunakan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
Contoh: ceftriakson, cefoperazone, ceftazidim, cefotaxim, ceftizoxim
d. Generasi IV:
Generasi keempat ini memiliki spektrum luas dengan kemampuan melawan bakteri gram
positif sama seperti generasi pertama, mampu melawan kuman gram negatif, dapat
melewati barier otak, dan efektif dalam menangani meningitis.
Contoh : cefepime, cefpirome
e. Sefalosporin generasi V:
Antibiotik golongan -blactam yang mempunyai kemampuan untuk melawan MRSA saat ini
sedang

dalam

pengembangan.

Ceftaroline

dan

Ceftobiprole,

keduanya

memiliki

peningkatan kemampuan untuk terikat dengan PBP 2a yang biasanya berperan dalam
mekanisme resistensi methicillin pada staphylococci.

15

*Dari: Mandell, Douglas and Bennet, Principles and Practice of Infectious Diseases 7th Ed

4.

16

10.

Farmakokinetik
Dari sifat farmakokinetiknya, sefalosporin dibedakan dalam dua golongan. Sefaleksin,

sefradin, sefaklor dan sefadroksil yang dapat diberikan per oral karena diabsorpsi melalui
saluran cerna. Sefalosporin lainnya hanya dapat diberikan secara parenteral. Sefalotin dan
sefa pirin umumnya diberian secara i.v karena menyebabkan iritasi lokal dan nyeri pada
pemberian i.m.
Beberapa sefalosporin generasi ketiga misalnya sefuroksim, moksalaktam, sefotaksim dan
seftizoksim mencapai kadar yang tinggi di cairan serebrospinal (CSS) sehingga dapat
bermanfaat untuk pengobatan meningitis purulenta. Selain itu, sefalosporinjuga melewati sawar
darah uri, mencapai kadar tinggi di cairan sinovial dan cairan perikardium. Pada pemberian
sistemik, kadar sefalosporin generasi ketiga di cairan mata relatif tinggi tetapi tidak mencapai
vitreus. Kadar sefalosporin dalam empedu umumnya tinggi, terutama sefoperazon.
Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal, dengan proses
sekresi tubuli, kecuali sefoperazon yang sebagian besar diekskresi melalui empedu. Karena itu
dosisnya harus dikurangi pada penderita insufisiensi ginjal. Probenesid mengurangi ekskresi
sefalosporin, kecuali moksalaktam dan beberapa lainnya. Sefalotin, sefapirin dan sefotaksim
mengalami deasetilasi; metabolit yang aktivitas antimikrobanya lebih rendah juga diekskresi
melalui ginjal.
Suatu langkah metabolisme yang penting adalah deasetilasi. Turunan deasetilnya
mempunyai aktivitas setengah sampai sepersepuluh aktivitas senyawa asalnya. Sefalosporin
yang tidak mempunyai gugus asetil, sebagian besar akan diekskresi dalam bentuk tidak
berubah. Ekskresi terjadi melalui ginjal dan sebagian melalui empedu. Pada insufisiensi ginjal
ekskresi sefalosporin umumnya diperlambat, karena itu pengaturan dosis harus disesuaikan
dengan tingkat insufisiensi ginjalnya.

17

Tabel 1. Data Farmakokinetik Penisilin dan Sefalosporin

18

BAB II
PEMBAHASAN

Mikroorganisme untuk Produksi Sefalosporin


Sefalosporin C dapat dihasilkan dari mikroorganisme Acremonium chrysogenum sebagai
produk

metabolit

sekunder.

Mikroorganisme

lain

seperti

Cephalosporium

polualeurum,

Emerricellopsis glabra, Emericellopsis microspora, juga dapat menghasilkan sefalosporin C, tetapi


dengan jumlah yang sedikit sehingga tidak menguntungkan bagi industri yang menggunakan
mikroorganisme tersebut. Ketika tidak ada stres nutrien dalam kultur, organisme ini tumbuh biasa
dengan miselia yang bercabang-cabang, dan hanya sedikit bahkan tidak ada sefalosporin C yang
dihasilkan. Ketika kandungan glukosa terbatas, barulah akan dibentuk arthrospora yang
menghasilkan sefalosporin C.
Taksonomi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Kingdom
Subkingdom
Phylum
Subphylum
Class
Subclass
Order
Family
Genus
Spesies

: Fungi
: Dikarya
: Ascomycota
: Pezizomycotina
: Sordariomycetes
: Hypocreomycetidae
: Hypocreales
: Hypocreaceae
: Acremonium
: Acremonium chrysogenum
Pengembangan

dalam memperoleh

yield sefalosporin

telah

dengan

dicapai

meningkatkan

produktivitas

chrysogenum

melalui

mutasi dan seleksi

strain.

A.

teknik

Perkembangan signifikan pertama dicapai ketika mutan 8650 berhasil diisolasi pada tahun 1959.
Strain ini memungkinkan 100 gram sefalosporin C didapatkan untuk determinasi struktur dan
merupakan induk dari semua strain dalam industri produksi sefalosporin C.
Mutagenesis merupakan cara tradisional dalam mengembangkan strain. Konidia diambil
dari kultur miselial untuk meningkatkan kemungkinan mengisolasi mutan dari nukleus tunggal.

19

Mutagen kimia, seperti N-metil-N-nitro-N-nitrosoguanidin dan etil-metan-sulfonat, atau sinar UV


digunakan untuk menginduksi mutasi kromosom. Pertumbuhan mutan pada agen yang selektif
dapat digunakan untuk meningkatkan kemungkinan mengisolasi kloning yang sudah diimprovisasi.

Bagan Produksi Mutan untuk Pengembangan Strain A. chrysogenum yang Pertama


Cara lain untuk mengembangkan strain yaitu dengan fusi protoplast. Fusi protoplas
merupakan penggabungan karakter-karakter yang menguntungkan dari kultur-kultur berbeda
(misal, tumbuh cepat, ketahanan terhadap stres tinggi). Miselia diberikan perlakuan dengan
dithiothreitol (DTT), diikuti dengan Novozym 234 (sejenis multienzim dari fungi Trichoderma
harzianum yang tersedia di Novo Biolabs) dan zat penstabilisasi osmotik, biasanya 0,7 M NaCl.
Polietilen glikol kemudian digunakan untuk menginduksi fusi membran antar protoplast; fusant
(strain yang akan difusikan) diidentifikasi dengan regenerasi dalam media selektif.
Pengembangan strain juga dapat dilakukan melalui genetic engineering. Target dari genetic
engineering dalam pengembangan strain adalah enzim yang teridentifikasi sebagai pembatas laju
(rate-limitting) biosintesis maupun prekursornya. Strain A. chrysogenum untuk industri berhasil
ditransformasi dengan rekombinan plasmid yang mengandung gen resistansi terhadap higromisin
dan gen cefEF penghasil enzim bifungsional ekspandase-hidroksilase.

11. Bahan Baku Produksi Sefalosporin


Medium untuk fermentasi harus mengandung karbon dan nitrogen untuk pertumbuhan,
tetapi juga harus merangsang diferensiasi kultur yang diperlukan untuk produksi antibiotik. Sumber

20

karbon harus disuplai secara terpisah dalam bentuk karbohidrat sederhana dan kompleks, untuk
kontrol pertumbuhan dan kadar glukosa yang lebih mudah. Monosakarida, terutama glukosa,
sangat menunjang pertumbuhan kultur, tetapi menurunkan sintesis antibiotik. Gula sederhana ini
bisa ditambahkan secara batch pada medium ataupun fed dengan laju tinggi pada awal
fermentasi. Penggunaan galaktosa dan sukrosa menunjang pertumbuhan yang lebih lambat
dibanding glukosa, tetapi produktivitas spesifik yang lebih tinggi.
Selama fermentasi berlangsung, feed gula dikurangi, dan karbon dengan jumlah besar
disuplai dalam bentuk kacang kedelai ataupun minyak kacang. Ini untuk membatasi kadar glukosa
dan mendukung pembentukan arthrospora untuk produksi sefalosporin C. Minyak ini juga dapat
bertindak sebagai surfaktan untuk mengurangi foaming.
Sumber nitrogen dapat dibedakan atas nitrogen organik dan nitrogen anorganik. Nitrogen
organik dapat disuplai dari berbagai kombinasi hasil samping pertanian, seperti kacang kedelai
dan ampas biji kapas. Nitrogen anorganik bersifat sebagai suplemen saja, dan bisa bersumber
dari amonium sulfat, gas amonia, maupun amonium hidroksida. Penambahan nitrogen anorganik
juga berfungsi sebagai pengatur pH. Corn steep liquor (hasil samping dari pengolahan jagung)
umumnya digunakan sebagai medium karena murah dan kaya asam amino, vitamin, dan zat sisa
lainnya.
DL-Metionin

digunakan

untuk merangsang

pembentukan

arthrospora

pada

masa

kekurangan glukosa, sehingga dapat dihasilkan sefalosporin C. Metionin diketahui sebagai


inhibitor kompetitif bagi enzim invertase yang digunakan untuk metabolisme sukrosa.
Pada umumnya, medium untuk fermentasi skala besar sefalosporin C mengandung kacang
kedelai atau kacang-kacangan lain, corn steep liquor, molase daging, minyak lemak hewan atau
metil oleat, glukosa, dan metionin. Dalam medium sefalosporin, lipid merupakan sumber karbon
dan energi yang lebih utama dibandingkan glukosa. Sulfur untuk sefalosporin C diperoleh dari
metionin dibanding sulfat.

12. Biosintesis dalam Proses Produksi Sefalosporin


Lintasan biosintesis sefalosporin telah dikenal dengan baik. Biosintesis sefalosporin C,
dimulai dari kondensasi tiga asam amino, asam L--aminodipic, L-sistein, dan L-valin, untuk
membentuk tripeptida -(L--amoniadipyl)-L-sisteinil-D-valin (LLD-ACV) dengan menggunakan
enzim ACV sintetase. Tripeptida LLD-ACV kemudian dibuat siklik untuk membentuk inti penam
(penam nucleus), isopenisilin N, dengan enzim isopenisilin N sintetase atau siklase.

21

Isopenisilin N kemudian diubah menjadi penisilin N dengan mengubah gugus samping L-aminoadipyl menjadi D--aminoadipyl menggunakan enzim isopenisilin N epimerase (IPNE).
Penisilin N kemudian diubah menjadi deasetoksisefalosporin C yang memiliki cincin dihidrothiazin
dengan menggunakan enzim deasetoksisefalosporin C sintetase. Enzim deasetilsefalosporin
sintetase kemudian mengkatalisasi reaksi hidroksilasi deasetoksisefalosporin C pada gugus metil
C-3 untuk menghasilkan deasetilsefalosporin C. Dalam A. chrysogenum, baik ekspansi cincin
maupun aktivitas hidroksilasi bertempat pada protein yang sama, yang dikodekan oleh satu gen.
Berbeda dengan fungi, S. clavuligerus dan N. lactamdurans menghasilkan dua enzim berbeda,
ekspandase dan hidroksilase, untuk mengkatalisasi kedua reaksi, yang dihasilkan oleh dua gen
terpisah.
Pada A. chrysogenum, langkah terakhir dalam biosintesis sefalosporin C, dikatalisasi oleh
enzim sefalosporin C sintetase (asetiltransferase), yang melibatkan transfer satu gugus asetil dari
koenzim asetil A ke gugus hidroksimetil atom C-3 pada deasetilsefalosporin C.
Kebanyakan gen yang berperan dalam biosintesis sefalosporin pada A. chrysogenum telah
teridentifikasi dan dikarakterisasi secara biokimia. Kode gen untuk enzim yang terlibat dalam
biosintesis senyawa intermediat LLD-ACV dan isopenisilin N yang umum disebut pcb
(penisilin/cephalosporin biosintesis). Kode gen untuk enzim lainnya yang terlibat dalam biosintesis
sefalosporin disebut cef. Pembentukan tripeptida oleh enzim ACV sintetase dikodekan oleh gen
pcbAB. Pembentukan siklik tripeptida dengan bantuan enzim isopenisilin N sintetase yang
dikodekan oleh gen pcbC. Gen cefD1 dan cefD2 berperan dalam membentuk protein untuk
konversi isopenisilin N menjadi penisilin N. Sedangkan gen cefE dan

cefF masing-masing

menghasilkan protein yang berperan dalam membentuk deasetoksisefalosporin C dan


deasetisefalosporin C; yang bisa juga dengan gen cefEF. Langkah terakhir dalam biosintesis untuk
menghasilkan sefalosporin C diatur oleh gen cefG.

22

Lintasan Biosintetik Sefalosporin C

23

Jalur biosintesis sefalosporin dan penisilin memiliki banyak kesamaan, mulai dari kondensasi
tiga asam amino, hingga terbentuknya isopenisilin N. Tahap yang membedakan kedua proses
tersebut dimulai dari proses konversi isopenisilin N, di mana dalam biosintesis sefalosporin C,
terjadi pengubahan isopenisilin N menjadi penisilin N, sedangkan pada biosintesis penisilin G
(contohnya) tidak mengalaminya. Tentu saja pembeda utama dari kedua proses tersebut adalah
mikroorganisme yang digunakan; Acremonium chrysogenum untuk sefalosporin dan Penicillium
chrysogenum (Penicillium sp.) untuk penisilin.

Perbedaan Jalur Biosintesis Penisilin dan Sefalosporin


Penggunaan mikroorganisme lain selain A. chrysogenum dapat menghasilkan senyawa
metabolit yang lain. Salah satu proses yang terkenal yaitu produksi sefamisin C dengan
menggunakan Streptomuces clavuligerus dan Nocardia lactamdurans. Jalur biosintesis sefamisin
C berbeda dari sefalosporin C pada tahap sesudah terbentuk deasetilsefalosporin C. Untuk jalur
biosintetik sefamisin C masih terjadi konversi lebih dari 1 tahap, yaitu menjadi

O-

Carbamoyldeacetylcephalosporin C kemudian baru diubah dengan enzim sefamisin hidrolase atau


sefamisin metiltransferase menjadi sefamisin C.

24

Perbedaan Jalur Biosintesis Sefalosporin C dan Sefamisin C

13. Pengembangan Inokulum untuk Produksi Sefalosporin


Germinasi dilakukan dan inokulum dipersiapkan sebelum proses fermentasi. Menurut
Kanzaki, et al (1976), proses produksi sefalosporin C (CPC) untuk fermenter berkapasitas 2000
volume bagian diisi dengan 500 volum bagian medium inokulum yang terdiri dari 3% sukrosa,
1,5% ekstrak daging, 0,5% corn steep liquor, dan 0,15% CaCo3, yang sesudah disterilisasi,
diinokulasikan dengan Cephalosporium acremonium (sekarang Acremonium chrysogenum).
Fermenter yang telah diinokulasi diinkubasikan pada 28 oC selama 3 hari. Sementara tangki
stainless-steel dengan kapasitas 50000 volume bagian diisi dengan 30000 volume bagian medium
dengan 6% sukrosa, 5% glukosa, 3% minyak kacang, 3% tepung kedelai, 1% DL-methionin dan
0,15% CaCO3. Medium disterilisasi dan didinginkan. Medium fermentasi secara aseptik
diinokulasikan dengan kultur inokulum yang dipersiapkan di atas dan diinkubasikan pada 28 oC
dengan sparging dan agitation (aerasi 30000 volume bagian tiap menit dan agitasi pada 250 rpm).
Sesudah waktu kultivasi 190 jam, hasil fermentasi diambil dan disaring untuk menghilangkan
padatannya.

25

14. Proses Produksi Sefalosporin


Sefalosporin C dihasilkan secara industri dengan fermentasi menggunakan A. chrysogenum.
pH diatur antara 6 hingga 7 dalam rentang temperatur 24 sampai 28 oC. Fermentasi dilakukan
dalam tangki bioreaktor yang diaerasi dan berpengaduk dengan kultur submerged.
Fermentasi skala produksi dilakukan secara fed-batch dengan suplai karbon dimasukkan baik
sebagai karbohidrat sederhana maupun kompleks pada awal proses, yaitu ketika fasa
pertumbuhan dalam fermentasi. Selama fermentasi berlangsung, suplai gula dikurangi dan
digantikan dengan sumber karbon dan energi lain seperti lipid. Pengubahan energi dari lipid,
contohnya minyak kacang tergolong rendah efisiensi sehingga pertumbuhan menjadi lambat, dan
miselium vegetatif banyak yang berubah menjadi arthtospora multiselular. Tahap arthrospora akan
mengakibatkan ketersediaan oksigen yang tinggi bagi mikroorganisme dan berakhir pada produksi
sefalosporin yang cepat.
Penambahan DL-Metionin dilakukan ketika awal fasa pertumbuhan dalam fermentasi, untuk
membantu meningkatkan perubahan miselium menjadi arthrospora. Pembentukan arthrospora
juga berkorelasi dengan oksigen terlarut. Semakin besar jumlah oksigen terlarut, maka
pembentukannya semakin cepat. Akan tetapi jumlah maksimalnya tetap terbatas karena
pengaruhnya terhadap kerja enzim tertentu.
Salah satu yang menjadi permasalahan dalam fermentasi sefalosporin adalah ketidakstabilan
molekul sefalosporin C selama proses. Ini menjadi penyebab utama perolehan produk
sefalosporin dalam siklus industri panjang yang semakin berkurang dibanding produksi penisilin
dalam siklus panjang.
Sefalosporin dapat terdegradasi menjadi senyawa X (asam 2-(D-4-amino-4-karboksibutil)thiazole-4-karboksilat), yang bisa berakibat pada kehilangan hingga 40% produk sefalosporin yang
dihasilkan. Pada pH lebih kecil dari 2, sefalosporin C dapat terdegrasi menjadi sefalosporin C
laktone.

26

Pembentukan Senyawa X dan Sefalosporin C Laktone Akibat Perubahan pH

15. Perolehan Produk


Setelah fermentasi selesai, miselia dan komponen medium yang tidak larut biasanya
dibuang secara filtrasi atau sentrifugasi. Dalam hasil fermentasi, selain sefalosporin C juga
terdapat sejumlah kecil penisilin N, deasetoksisefalosporin C, dan deasetilsefalosporin C.
Pengambilan sefalosporin C dapat dilakukan dengan cara ekstraksi.
Pada kondisi netral dan sedikit asam, dapat terjadi konversi sefalosporin C menjadi
senyawa X. Pada pH lebih kecil dari 2, akan terbentuk sefalosporin C laktone. Untuk meminimalisir
terjadinya degradasi ini, pengambilan sefalosporin C harus dilakukan secepat mungkin, dan
menghindari kondisi pH ekstrim dan suhu tinggi.
Proses pemisahan produk sefalosporin C lebih kompleks dibanding penisilin karena sifatnya
yang amfoter menjadi hambatan dalam ekstraksi dengan pelarut organik. Antibiotik ini dapat
dipisahkan dengan kombinasi penukar ion dan presipitasi. Penggunaan resin makrosporous
seperti XAD-2 dan XAD-4 akan menghasilkan isolasi yang lebih murni dan menghilangkan
pengotor lebih banyak.
Proses pemurnian dan recovery produk sefalosporin C dimulai dengan pendinginan
temperatur menjadi 3-5oC diikuti dengan penghilangan padatan miselial secara filtrasi ataupun
sentrifugasi. Hasil proses tersebut adalah sefalosporin C dengan beberapa macam prekursor
dalam jumlah kecil, seperti penisilin N, DAOC, deasetilsefalosporin C, dan hingga senyawa X.
Ada dua strategi utama untuk memurnikan sefalosporin C. Pertama, menggunakan karbon
aktif atau resin non-ionik. Karena selektivitas yang tinggi dari resin, sefalosporin C lebih disukai

27

untuk teradsorpsi dibanding senyawa lainnya. Kebanyakan penisilin N hilang pada langkah
asidifikasi hingga pH 2,0. Kemudian dilanjutkan dengan tambahan penukar anion dan kation untuk
mendapatkan sefalosporin dengan kualitas tinggi. Sejumlah besr fraksi sefalosporin C kemudian
diubah menjadi 7-ACA untuk kemudian diubah lagi menjadi sefalosporin semisintetik atau turunan.
Strategi pemurnian kedua yaitu dengan substitusi gugus amin pada C-7 rantai samping
alpha-aminoadipyl. Dua senyawa turunan hasil subtitusi, N-2,4-diklorobenzoil sefalosporin C dan
tetrabromokarboksibenzoyl sefalosporin C, dapat dikristalkan dari larutan asam. Garam kemudian
terbentuk antara

turunan

N-subtitusi

dan

basa

organik

seperti disikloheksilamin

atau

dimetilbenzilamin, menghasilkan garam sefalosporin yang dapat diekstraksi. Sefalosporin yang


sudah terekstrak kemudian diubah menjadi 7-ACA untuk proses lainnya.
Proses pengubahan sefalosporin C menjadi 7-ACA menggunakan enzim efisien agar biaya
dapat dikurangi. Tahap inisiasi adalah reaksi gugus alpha-aminoadipyl dengan asam D-amino
oksidase untuk menghasilkan glutaryl-7-ACA. Reaksi ini berlangsung dengan melalui intermediat
keto-7-ACA yang mengalami dekarboksilasi oksidatif dengan kehadiran hidrogen peroksida.
Glutaryl asilase kemudian digunakan untuk menghilangkan gugus samping glutaryl untuk
menghasilkan 7-ACA.

Struktur glutaryl-7-ACA dan glutarat


Sekitar sepertiga dari sefalosporin komersial adalah turunan dari 7-ADCA. Karena
biaya yang lebih rendah, 7-ADCA umumnya diperoleh dari penisilin G dengan cara ekspansi cincin
sebuah ester sulfoksida penisilin untuk menghasilkan ester sefalosporin. Gugus ester kemudian

28

dihilangkan diikuti penghilangan gugus fenilasetil untuk menghasilkan 7-ADCA. Sementara dua
pertiga dari sefalosporin komersial merupakan turunan 7-ACA yang dihasilkan dari sefalosporin C
baik secara kimiawi maupun enzimatik.

29

DAFTAR PUSTAKA

Andes, D. and Craig, W.A. (2006). Pharmacodynamics of a New Cephalosporin, PPI-0903 (TAK559), Active Against Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus in Murine Thigh and
Lung Infection Models: Identification of an In Vivo Pharmacokinetic-Pharmacodynamic
Target. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Vol 40 No: 4, April 2006, 1376-1383.
Demain, A.L., et al (1962). Effect of Methionine, Norleucine, and Lysine Derivatives on
Cephalosporin C Formation in Chemically Defined Media. 27 Agustus 1962, 339-344.
Duan, Haixia (2009). Study on the Treatment Process of Wastewater from Cephalosporin
Production. Journal of Sustainable Development. Vol 2 No: 2, Juli 2009. 133-136
Elander, R.P. (2003). Industrial Production of -lactam Antobiotics. Journal of Application
Microbiology Biotechnology, 61, 3 April 2003, 385-392.
Flickinger, M.C. and Stephen W. Drew (1999). Encyclopedia of Bioprocess Technology:
Fermentation, Biocatalysis, and Bioseparation. John Wiley & Sons, Inc. New York, United
States of America, 560-569.
Kanzaki, et al (1976). Production of Cephalosporin C. US Patent. 6 April 1976.
Kim, Youngsoo and Hol, Wim G.J. (2001). Structure of Cephalosporin Acylase in Complex with
Glutaryl-7-aminocephalosporanic acid and Glutarate: Insight into the Basis of Its Substrate
Specificity. Chemistry & Biology. Vol 8 No: 12, November 2001, 1253-1264.
Nigam, Vinod Kumar, et al (2007). Influence of Medium Constituents on the Biosynthesis of
Cephalosporin-C. Journal of Biotechnology. Vol 10 No: 2, 15 Aptil 2007.
Othmer, Kirk. Encyclopedia of Chemical Technology. John Wiley & Sons, Inc. United States of
America. 1-40
Pichichero, Michael E. (2006). Cephalosporins Can Be Prescribed Safely For Penicllin-Allergic
Patients. Applied Evidence.Vol 55 No: 2, 23 Januari 2006, 106-112.
Saravanne, R. and Lavanya, M . (2006). Anaerobic Stabilization and Recalcitrant Antibiotic
Transformation Under Acclimed Inoculum-Substrate Matrix. Water Environment. 17391746.
Srivastava, Pradeep, et al (2006). Process Strategies for Cephalosporin C Fermentation. Journal of
Scientific & Industrial Research. Vol 65, July 2006, 599-602.

30