Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Bronkiolitis adalah penyakit saluran pernapasan bayi yang lazim, akibat
dari obstruksi radang saluran pernapasan kecil. Penyakit ini terjadi selama umur 2
tahun pertama, dengan insiden puncak pada sekitar umur 6 bulan, dan pada
banyak tempat penyakit ini paling sering menyebabkan rawat inap bayi di rumah
sakit. Insidensi tertinggi selama musim dingin dan awal musim semi. Penyakit ini
terjadi secara sporadik dan endemik.(1)
Bronkiolitis yang terjadi di bawah umur satu tahun kira-kira 12% dari
seluruh kasus, sedangkan pada tahun kedua lebih jarang lagi, yaitu sekitar
setengahnya. Penyakit ini menimbulkan morbiditas infeksi saluran napas bawah
terbanyak pada anak. Penyebab yang paling banyak adalah virus Respiratory
syncytial, kira-kira 45-55% dari total kasus. Sedangkan virus lain seperti
Parainfluenza, Rhinovirus, Adenovirus, dan Enterovirus sekitar 20%. Bakteri dan
mikoplasma sangat jarang menyebabkan bronkiolitis pada bayi. Sekitar 70%
kasus bronkiolitis pada bayi terjadi gejala yang berat sehingga harus dirawat di
rumah sakit, sedangkan sisanya biasanya dapat dirawat di poliklinik. Sebagian
besar infeksi saluran napas ditularkan lewat droplet infeksi. Infeksi primer oleh
virus RSV biasanya tidak menimbulkan gejala klinik, tetapi infeksi sekunder pada
anak tahun-tahun pertama kehidupan akan bermanifestasi berat. Virus RSV lebih
virulen daripada virus lain dan menghasilkan imunitas yang tidak bertahan lama.
Infeksi ini pada orang dewasa tidak menimbulkan gejala klinis. RSV adalah
golongan paramiksovirus dengan bungkus lipid serupa dengan virus
parainfluenza, tetapi hanya mempunyai satu antigen permukaan berupa
glikoprotein dan nukleokapsid RNA helik linear. Tidak adanya genom yang
bersegmen dan hanya mempunyai satu antigen bungkus berarti bahwa komposisi
antigen RSV relatif stabil dar tahun ke tahun.(2)
Infeksi virus sering berulang pada bayi. Hal ini disebabkan oleh:

1
1. Kegagalan sistem imun host untuk mengenal serotipe protektif dari virus.
2. Kerusakan sistem memori respons imun untuk memproduksi interleukin I
inhibitor dengan akibat tidak bekerjanya sistem antigen presenting.
3. Penekanan pada sistem respons imun sekunder oleh infeksi virus dan
kemampuan virus untuk menginfeksi makrofag serta limfosit. Akibatnya,
terjadi gangguan fungsi seperti kegagalan produksi interferon, interleukin I
inhibitor, hambatan terhadap antiobodi neutralizing, dan kegagalan
interaksi dari sel ke sel.(2)
Bronkiolitis yang disebabkan oleh virus jarang terjadi pada masa neonatus.
Hal ini karena antibodi neutralizing dari ibu masih tinggi pada 4-6 minggu
kehidupan, kemudian akan menurun. Antibodi tersebut mempunyai daya proteksi
terhadap infeksi saluran napas bawah, terutama terhadap virus.(2)

I.2. Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami bronkiolitis dari definisi, etiologi,
patogenesis, diagnosis, penatalaksanaan dan prognosisnya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Definisi
Bronkiolitis adalah penyakit inflamasi akut dari saluran atas dan bawah
menyebabkan obstruksi dari saluran napas kecil.(3)

II.2. Etiologi
Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah agen yang paling sering yang
ditemukan dalam isolasi sebanyak 75% pada anak-anak kurang dari 2 th yang
menderita bronkiolitis dan dirawat di rumah sakit. Penyebab lain yang
menyebabkan bronkiolitis termasuk didalamnya adalah virus para influenza tipe 1
dan 3, influenza B, para influenza tipe 2, adenovirus tipe 1,2,5 dan mycoplasma
yang paling sering pada anak-anak usia sekolah. Terdapat pembuktian bahwa
kompleks imunologis yang memainkan peranan penting dari patogenesis dari
bronkiolitis dengan RSV. Reaksi alergi tipe 1 dimediasi oleh antibodi Ig E hal ini
dapat dihitung untuk signifikansi dari bronkiolitis. Bayi yang meminum ASI
dengan colustrum tinggi yang didalamnya terdapat Ig A tampaknya lebih relaktif
terproteksi dari bronkiolitis.(4)
Adenovirus dapat dihubungkan dengan komplikasi jangka lama, termasuk
bronkiolitis obliterans dan sindrom paru hiperlusen unilateral (sindrom Swyer-
James).
• Virus sinsisial respiratorik
VSR adalah virus RNA terikat membran berukuran medium yang
berkembang dalam sitoplasma sel yang terinfeksi dan matang dengan pertunasan
dari membran plasma. Berbagai strain VSR menunjukan beberapa heterogenitas
antigenik. Variasi ini terutama ditemukan pada hanya satu dari dua glikoprotein
permukaan dari virus menunjukan reaksi pada hospes manusia seperti satu serotip.
VSR menghasilkan sitopatologis sinsitial khas dalam biakan jaringan spesimen
dikirim dengan cepat dalam es basah karena labil. (4)

3
• Adeno virus
Adenovirus adalah virus DBA ukuran sedang, yang diklasifikasikan menjadi
subgena A sampai G. Tipe 1-39 ada dalam subgena A sampai E, tipe 40 adalah
subgenus F, dan tipe 41 adalah subgenus G, virion mempunyai pembungkus
ikosahedral yang tersusun dari berbagai protein, yang paling berlebihan darinya
adalah “hexon”, antigen biasa yang bereaksi silang dengan semua adenovirus
mammalia. “penton” memberi spesifisitas tipe, dan antibodi terhadapnya adalah
protektif. Penton ini juga sitotoksik pada biakan jaringan, dan sifat sofatoksik
telah dianggap berasal darinya juga in vivo. Adenovirus dapat juga
diklasifikasikan dengan mencetakkan “sidik jari” DNAnya pada jelli sesudah
terdigesti dengan pembatasan endonuklease, dan klasifikasi ini biasanya sesuai
dengan tipe-tipe antigeniknya. (4)
Semua tipe adenovirus kecuali tipe 40 dan 41 tumbuh dalam sel ginjal
embrional manusia primer, dan kebanyakan tumbuh pada sel Hep-2 atau HeLa,
menghasilkan pengaruh sitopatik, destruktif khas. Tipe 40 dan 41 (dan serotip lain
juga), tumbuh pada 293 sel, deretan sel ginjal embrional manusia yang kepadanya
telah dimasukkan gena adenovirus “awal” tertentu.
Banyak tipe adenovirus, tetapi terutama tipe anak biasa (1,2 dan 5), dilepas
selama masa yang panjang dari saluran pernafasan maupun saluran cerna. Tipe ini
juga menyebabkan infeksi tonsil ringan dan kronik. (4)

• Virus para influenza


Ada empat virus dalam famili parainfluenza yang menyebabkan sakit pada
manusia, ditandai tipe 1-4. Virus mempunyai genom RNA helai tunggal, tidak
bersegmen dengan pembungkus mengandung lipid yang berasal dari pertunasan
melalui membran sel. Bagian antigenik utama adalah tonjolan-tonjolan protein
pembungkus yang menunjukan sifat-sifat hemaglutinasi (protein HN) dan fusi sel
(protein F). (4)

II.3 Klasifikasi
Bronkiolitis dapat diklasifikasikan menjadi :

4
• Bronkiolitis akut
• Bronkiolitis obliteran.
Bronkiolitis akut dengan bronkiolitis obliteran dibedakan pada
bronkhiolus dan saluran pernafasan yang lebih kecil terjejas, karena upaya
perbaikan menyebabkan sejumlah besar jaringan granulasi yang menyebabkan
obstruksi jalan nafas, lumen jalan nafas terobliterasi oleh masa noduler granulasi
dan fibrosis. Bronkiolitis obliterans merupakan komplikasi yang lazim pada
transplantasi paru.(1)

II.4. Epidemiologi
Epidemi dari RSV berkembang pada iklim dengan musim hujan dan
menjelang kemarau, dan biasanya juga muncul pada musim yang bersamaan
dengan menjangkitnya para-influenza. Terdapat bukti bahwa RSV endemik di
daerah sub tropis dari Asia Tenggara sepanjang tahun , dan memuncak antara
bulan Oktober sampai Februari dan berkurang pada bulan Maret sampai Juli. 2
dari sub tipe RSV telah di ketahui, yaitu tipe A dan tipe B, dengan tipe yang
paling sering menyebabkan infeksi yang berat. Tipe B biasanya mendominasi
apabila tipe A tidak dalam musim endemi. Penyakit ini sangat menular, penularan
disebarkan melalui sekresi hidung yang keluar dan sangat menular pada hari ke 6
sampai hari ke 21 setelah gejala muncul. Waktu inkubasi antara 2 - 5 hari. Infeksi
terjadi pada anggota keluarga sebanyak 46 %, 98 % pada anak yang dititipkan
pada perawatan harian, 42 % pada staff rumah sakit dan sebanyak 45 % pada bayi
yang dirawat di RS tetapi tidak terinfeksi. Infeksi menyebar melalui muntahan dan
penggunaan sarung tangan, sedangkan baju khusus dapat mengurangi penyebaran
infeksi nosokomial. 25 % anak umur dibawah 1 tahun dan 13 % anak umur antara
1 sampai 2 tahun akan mendapatkan infeksi saluran nafas. Separuh dari angka
tersebut didapatkan gejala bersin yang diasosiasikan dengan infeksi saluran nafas.
RSV dapat ditemukan pada kultur pasien yang dirawat di RS yang menderita
infeksi tersebut dan 80 % nya berumur kurang dari 6 bulan. Diantaranya bayi
yang sehat 80 % dirawat di RS pada tahun pertama kehidupannya dan sekitar 50
% perawatan di rumah sakit adalah bayi antara umur 1-3 bulan. Kurang dari 5 %

5
perawatan di RS pada neonatus, kemungkinan dengan adanya antibodi yang
masih terdapat dari transplasental-maternal. Faktor resiko untuk onset yang dini
dari penyakit ini dan kemungkinan perawatan intensif dihubungkan dengan berat
badan lahir rendah, prematuritas, sosio-ekonomi rendah, hidup didaerah padat,
orang tua perokok, tidak diberikannya ASI ekslusif, dan perawatan harian.(4)
Pada satu laporan, pemeriksaan fungsi paru yang canggih dilakukan
terhadap populasi besar bayi-bayi normal. Analisis tindak lanjut menunjukan
bahwa penyakit paru mengi secara bermakna lebih lazim dijumpai pada bayi yang
hantaran pernafasan total awalnya ada pada sepertiga terendah dari mereka yang
diuji. Penurunan fungsi paru dapat memainkan peran penting dalam menentukan
bayi mana yang dengan infeksi virus yang akan berkembang bronkiolitis.(1)

II.5. Patogenesis
Bronkiolitis akut ditandai dengan obstruksi bronkiolus yang disebabkan
oleh edema dan kumpulan mukus dan oleh invasi bagian-bagian bronkus yang
lebih kecil oleh virus. Karena tahanan/ resistensi terhadap aliran udara didalam
saluran besarnya berbanding terbalik dengan radius/ jari-jari pangkat empat, maka
penebalan yang sedikit sekali pun pada dinding bronkiolus bayi dapat sangat
mempengaruhi aliran udara. Tahanan pada saluran udara kecil bertambah selama
fase inspirasi dan ekspirasi, namun karena selama ekspirasi jalan nafas menjadi
lebih kecil, maka hasilnya adalah obstruksi pernafasan katup yang menimbulkan
udara terperangkap dan overinflasi. Atelektasis dapat terjadi ketika obstruksi
menjadi total dan udara yang terperangkap diabsorbsi.(1)
Proses patologis menggangu pertukaran gas normal di dalam paru. Perfusi
ventilasi yang tidak seimbang mengakibatkan hipoksemia, yang terjadi pada awal
perjalanannya. Retensi karbondioksida (hiperkapnia) biasanya tidak terjadi
kecuali pada pasien yang terkena berat. Makin tinggi frekuensi pernapasan
melebihi 60/menit; selanjutnya hiperkapnia berkembang menjadi takipnea.(1)
Beberapa fakta memberi kesan cidera imunologis sebagai faktor faktor
pada patogenesis bronkiolitis yang disebabkan VSR : (1) bayi yang sekarat karena
bronkitis telah menunjukkan imunoglobulin maupun virus dalam jaringan

6
bronkiolus yang terjejas; (2) anak yang mendapat vaksin RSV yang diberikan
secara parenteral sangat antigenik, inaktif pada pemajanan RSV berikutnya,
penyakitnya menjadi lebih berat dan lebih sering kambuh dibandingkan anak-anak
lainnya ; (3) bronkiolitis yang bergabung kedalam asma pada bayi yang lebih tua,
dan RSV seringkali merupakan serangan asma akut yang dikenali pada anak usia
1-5 tahun; dan (4) antibodi imunoglobulin E (IgE) yang mengarah langsung ke
RSV ditemukan pada sekresi konvalesen pada bayi dengan bronkiolitis.(1)
Disamping pengruh destruktif virus dan respons hospes yang menyertai,
belum jelas peran apa yang dimainkan oleh bakteri yang menumpanginya. Pada
kebanyakan bayi dengan bronkiolitis, dengan atau tanpa pneumonia interstitial,
pengalaman klinis memberi kesan bahwa bakteri memainkan peran yang tidak
berarti.(1)
Penyakit ini juga berkembang pada bayi-bayi yang biasanya terdapat titer
antibodi maternal (IgG) menetralkan RSV tetapi tidak terdapat antibodi sekretorik
(IgA) pada saluran nafas, sehingga terdapat pada sekret hidung yang memproteksi
terhadap infeksi RSV. Fakta tersebut telah mengarah ke spekulasi bahwa fakta
tersebut penyebab alamiah terjadinya bronkiolitis.(5)
Berbeda antara bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentoleransi
udem saluran napas dengan lebih baik. Oleh karena itu, pada anak besar dan orang
dewasa jarang terjadi bronkiolitis bila terkena infeksi oleh virus.(2)
Ada pendapat bahwa bronkiolitis merupakan hasil dari reaksi kompleks
imun antara antibodi non-neutralizing dengan virus. Pendapat tersebut
berdasarkan pengamatan di mana terjadinya infeksi oleh virus ketika umur masih
muda, terutama kurang dari 6 bulan. Saat itu, antibodi yang secara pasif
didapatkan dari ibu masih cukup tinggi.(2)

7
Gambar 1. Pembengkakan Bronkiolus akibat Infeksi RSV.(6)

II.6. Manifestasi Klinis

• Bronkiolitis Akut
Mula-mula bayi mendapatkan infeksi saluran napas ringan berupa pilek
encer, batuk, bersin-bersin, dan kadang-kadang demam. Gejala ini berlangsung
beberapa hari, kemudian timbul distres respirasi yang ditandai oleh batuk
paroksimal, mengi, dispneu, dan iritabel. Timbulnya kesulitan minum terjadi
karena napas cepat sehingga menghalangi proses menelan dan menghisap. Pada
kasus ringan, gejala menghilang 1-3 hari. Pada kasus berat, gejalanya dapat timbul
beberapa hari dan perjalananya sangat cepat. Kadang-kadang, bayi tidak demam
sama sekali, bahkan hipotermi. Terjadi distres pernapasan dengan frekuensi napas
60 x/menit, terdapat napas cuping hidung, penggunaan otot pernapasan tambahan,
retraksi, dan kadang-kadang sianosis. Retraksi biasanya tidak dalam karena
adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Hepar dan lien bisa
teraba karena terdorong diafragma akibat hiperinflasi paru. Mungkin terdengar
ronki pada akhir inspirasi dan awal ekpirasi. Ekpirasi memanjang dan mengi
kadang-kadang terdengar dengan jelas.(2)

8
Gambaran radiologik biasanya normal atau hiperinflasi paru, diameter
anteroposterior meningkat pada foto lateral. Kadang-kadang ditemukan bercak-
bercak pemadatan akibat atelektasis sekunder terhadap obtruksi atau anflamasi
alveolus. Leukosit dan hitung jenis biasanya dalam batas normal. Limfopenia
yang sering ditemukan pada infeksi virus lain jarang ditemukan pada brokiolitis.
Pada keadaan yang berat, gambaran analisis gas darah akan menunjukkan
hiperkapnia, karena karbondioksida tidak dapat dikeluarkan, akibat edem dan
hipersekresi bronkiolus.(2)

• Bronkiolitis Obliterans

Bronkiolitis obliterans adalah suatu peradangan kronik pada bronkiolitis


dimana sudah terjadi obliterasi pada bronkiolus.Pada mulanya dapat terjadi batuk,
kegawatan pernafasan dan sianosis dan disertai dengan periode perbaikan nyata
yang singkat. Penyakit yang progresif terlihat dengan bertambahnya dispnea,
batuk, produksi sputum, dan mengi. Polanya dapat menyerupai bronkitis,
bronkiolitis atau pneumonia.(7)

Temuan rontgenografi dada berkisar dari normal sampai pola yang


memberi kesan tuberkulosis milier. Sindrom Swyer James dapat berkembang
dengan dijumpainya hiperlusensi unilateral dan pengurangan corak pembuluh
darah paru pada sekitar 10% kasus. Bronkografi menunjukan obstruksi
bronkiolus, dengan sedikit atau tidak ada bahan kontras yang mencapai perifer
paru. Tomografi terkomputasi (CT) dapat menunjukan bronkiektasia yang terjadi
pada banyak penderita. Temuan-temuan uji fungsi paru bervarisasi, yang paling
sering adalah obstruksi berat, namun demikian retreksi atau kombinasi obstruksi
dan retraksi dapat ditemukan. Diagnosis dapat dikonfirmasikan melalui biopsi
paru.(7)

II. 7. Faktor resiko


Salah satu faktor resiko yang terbesar untuk menjadi bronkiolitis pada
umur kurang dari 6 bulan, sebab paru-paru dan sistem kekebalan tidak secara

9
penuh berkembang dengan baik. Anak laki-laki cenderung untuk mendapatkan
bronkiolitis lebih sering dibanding anak-anak perempuan. faktor lain yang telah
dihubungkan dengan peningkatan resiko bronkiolitis pada anak-anak meliputi:
a. Tidak pernah diberi air susu ibu sehingga tidak menerima perlindungan
kekebalan dari ibu
b. Kelahiran prematur
c. Pajanan ke asap rokok
d. Sering dititipkan pada tempat banyak bayi-bayi contoh tempat penitipan
anak, panti asuhan
e. Saudara kandung lebih tua dengan kontak infeksi dari sekolah/ tempat
bermain.(8)
Bayi dengan ibu perokok pasif mempunyai peningkatan resiko infeksi
RSV dengan suatu perbandingan rintangan dilaporkan 3.87 untuk itu telah banyak
studi atas efek dari perokok pasif pada penyakit yang berhubungan dengan
pernapasan di bayi dan anak-anak. Di dalam suatu tinjauan ulang yang sistematis
dari perokok pasif dan infeksi saluran nafas bawah pada bayi dan anak-anak,
Strachan Dan Cook menunjukkan suatu perbandingan digabungkan dari 1.57 jika
kedua orang tua perokok dan suatu perbandingan dari 1.72 jika ibu yang merokok.
Stock Dan Dezateux meninjau 20 kasus studi dari fungsi berkenaan dengan paru-
paru di bayi. Studi ini menunjukkan suatu penurunan fungsi paru-paru di bayi
para ibu yang merokok selama kehamilan. Aliran Expirasi berkurang kira-kira
20%. ukuran lain-lain fungsi berkenaan dengan paru-paru demikian juga
abnormal. Bapak yang merokok juga mempunyai suatu efek, prevalensi penyakit
bidang berhubung pernapasan bagian atas meningkat dari 81.6% ke 95.2% di bayi
di bawah 1 tahun usia jika hanya bapak yang merokok.(9)
Air susu ibu (ASI) telah menunjukkan mempunyai faktor kebal terhadap
RSV yang mencakup immunoglobulin G dan Suatu antibodies160 dan interferon-
161. ASI telah pula ditunjukkan untuk mempunyai menetralkan aktivitas melawan
terhadap RSV. Di satu studi merujukan ke rumah sakit yang relatif dengan RSV
adalah anak-anak yang tidak diberi ASI .Di dalam studi lain, 8 ( 7%) dari 115

10
anak-anak di opname dengan infeksi RSV adalah disusui, dan 46 ( 27%) dari 167
pasien sebagai kendali disusui.(9)
Suatu meta-analysis hubungan menyusui dengan opname untuk infeksi
saluran nafas bawah di (dalam) awal kelahiran menguji 33 studi, semua dari yang
menunjukkan suatu asosiasi bersifat melindungi antara menyusui dan resiko
opname untuk infeksi saluran nafas bawah. Sembilan studi dijumpai pada semua
ukuran-ukuran pemasukan analisa. Kesimpulan adalah bahwa bayi yang tidak
disusui ASI hampir meningkatakan resiko yang lebih besar lipat tiga diopname
untuk infeksi saluran nafas bawah dibanding yang disusui ASI eklusif untuk 4
bulan ( perbandingan resiko: 0.28).(9)

II.8. Diagnosis
Bronkiolitis adalah diagnosa klinis. Keterlibatan VSR pada setiap penyakit
anak tertentu dapat dicurigai pada berbagai tingkat kepastian dari musim tahunan
dan adanya wabah khas pada saat tersebut. Tanda lain yang mungkin membantu
adalah umur anak ( selain VSR, satu-satunya virus respiratori yang sering
menyerang bayi umur beberapa bulan pertama adalah virus parainfluenza tipe-3 )
dan epidemiologi keluarga.(10)
Masalah terbesar dalam diagnostik bronkiolitis adalah adanya
kemungkinan keterlibatan infeksi bersama dengan bakteri atau klamidia. Bila
bronkiolitis ringan atau infiltrat tidak tampak pada roentgenogram, ada
kemungkinan infeksi komponen dengan bakteri. Pada bayi usia 1-4 bulan,
pneumonitis interstisial dapat disebabkan oleh chlamydia trakhomatis. Pada
keadaan ini mungkin riwayat konjungtivitis, dan penyakit cenderung subakut.
Terdapat keluhan batuk sering tetapi tidak ada mengi dan tanpa demam.(10)
Konsolidasi tanpa tanda-tanda lain atau dengan efusi pleura dianggap
berasal dari bakteri sampai terbukti lain. Tanda-tanda lain yang mengarah pada
pneumonia bakteri adalah kenaikan angka neutrofil, depresi jumlah sel darah
putih bila ada penyakit berat, ileus atau tanda-tanda perut lain, demam tinggi, dan
kolaps sirkulasi.(10)

11
Diagnosis pasti infeksi VSR didasarkan pada deteksi virus atau antigen
virus dalam sekresi pernafasan. Spesimen harus diletakkan diatas es, dan langsung
dibawa ke laboratorium untuk diproses dengan deteksi antigen atau ditanamkan
pada suatu sel yang rentan. Aspirat mukus dari lubang hidung posterior ( nasal
washing ) merupakan spesimen yang optimal. Pulasan nasofaring atau tenggorok
juga dapat diterima. Aspirat trakhea tidak perlu.(10)

II.9. Diagnosis Banding


Keadaan yang paling lazim terancu dengan bronkiolitis akut adalah asma,
satu atau lebih dari yang berikut ini mendukung diagnosis asma, riwayat keluarga
asma, episode berulang kali pada bayi yang sama, mulainya mendadak tanpa
infeksi yang mendahului, ekspirasi sangat memanjang, eosinofilia, dan respons
pembaikan segera pada pemberian satu dosis albuterol aerosol. Serangan berulang
menggambarkan titik pembeda yang penting kurang dari 5% serangan berulang
bronkiolitis klinis mempunyai penyebab infeksi virus. Wujud lain yang dapat
terancukan dengan bronkiolitis akut adalah gagal jantung kongesif, benda asing di
dalam trakhea, pertusis, keracunan organofosfat, kistik fibrosia, dan
bronkopneumonia bakteri yang disertai dengan overinflasi paru obstruktif
menyeluruh.(1)

II.10. Pemeriksaan penunjang


• Darah lengkap
Dengan hitungan jumlah sel darah lengkap jarang bermanfaat karena sel
darah putih pada umumnya di dalam batas normal atau naik dan hitung
jenis mungkin normal atau bergeser kekanan atau kekiri
• Urin
Berat jenis urin dapat menyediakan informasi bermanfaat mengenai
balance cairan dan kemungkinan dehidrasi.
• Serum darah

12
Kimia serum darah tidaklah terpengaruh secara langsung oleh
infeksi/peradangan tetapi dapat membantu menerka beratnya derajat
dehidrasi.
• Analisa gas darah
Analisa gas darah mungkin diperlukan pada pasien yang sakitnya berat,
terutama yang menuntut ventilasi mekanik atau buatan.
• Radiologi
Foto sinar x dada cukup diperlukan meliputi foto anterior-posterior dan
lateral. dapat terlihat gambaran (tergantung berat ringannya penyakit)
o Hiperinflasi dan infiltrat yang tertutup, gambaran ini adalah
nonspesifik dan mungkin juga dapat pada gambaran pasien dengan
sakit asma, pneumonia yang tidak lazim atau karena virus, dan aspirasi
cairan.
o Ateletaksis fokal
o Gambaran udara yang terperangkap
o Gambaran sekat diafragma yang rata
o Peningkatan gambaran Garis tengah Antero posterior
o Peribronchial Cuffing
o Foto sinar x dapat juga mengungkapkan bukti alternatif
untuk diagnosa banding, seperti pneumonia lobaris , gagal jantung
kongestif, atau aspirasi benda asing.

• Pemeriksaan lainnya:
o Antigen Test pada nasal wash, dapat mengungkap dengan
cepat ( pada umumnya di dalam 30 min) dan akurat ( kepekaan 87-
91%, ketegasan 96-100%) dalam pendeteksian RSV.
o Kultur positif dengan direct fluorescent antibody, test hasil
percobaan dapat mengkonfirmasikan infeksi karena RSV .

13
o Nasal washing test harus diperoleh dari anak-anak yang
diperlukan opname dan anak-anak yang berhadapan dengan resiko
berat.
o Kultur RSV lebih sedikit sensitip ( 60%) tetapi spesifitas
mencapai 100%.
o Panel karena virus yang berhubungan dengan pernapasan,
kultur untuk RSV atau lain virus, atau pendeteksian dengan direct
fluorescent antibody atau dengan polymerase chain reaction mungkin
bermanfaat untuk pertimbangan yang berikut:
 Sebagai pemeriksaan konfirmasi lainnya
 Untuk mencari agen lain infeksius yang lain
 Karena tujuan epidemiologik. (11)

II.11. Penatalaksanaan dan Pengobatan


II.11.a Penatalaksanaan
Bayi umur kurang dari 6 bulan dengan bronkiolitis akut dan distress
pernafasan sebaiknya dirawat di rumah sakit bila ditemukan kadar SpO2 kurang
dari 92 %, tidak dapat mempertahankan hidrasi oral, dan meningkatkan angka
respirasi, atau mempunyai riwayat penyakit kardio-respiratori yang kronik.
Desaturasi di 40 %O2 (3-4 l/mnt) biasanya muncul sianosis, gejala extra
pulmonal, apnea dan asidosis merupakan tanda bayi di rawat di ruang rawat
intensif. Hipoksemia merupakan tanda kelainan laboratorium yang tampak untuk
itu diperlukan tambahan oksigen bagi pasien. Arah utama untuk pengobatan
pasien dengan bronkiolitis adalah dengan penggantian cairan dan suplemen
cairan. Pada pasien tersebut biasanya mengalami dehidrasi ringan dikarenakan
berkurangnya asupan cairan dan banyak kehilangan cairan melalui demam dan
takipnea. Pengguanan cairan tambahan agar diawasi agar tidak terbentuknya
formasi edema paru. Terapi supportive adalah mendeteksi cepat bila ada apnea
dan memberikan perhatian khusus terhadap demam pada neonatus .(4)

II.11.b.Pengobatan

14
• Bronkodilator
Penggunaan bronkodilator merupakan kontroversi pada neonatus dan bayi.
Pada tahun 1993 editorial dari Lancet masih tidak memperkenankan penggunaan
bronkodilator pada pasien-apsien bronkiolitis yang jelas tidak efektif. Kellner
dkk., mereka menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan ringan dari perbaikan
sementara pada pasien dengan bronkiolitis sedang sampai berat. (4)
• Kortikosteroid
Disamping aturan utama inflamasi sebagai patoghenesis terjadinya
sumbatan saluran nafas, kortikosteroid sebagai anti inflamsi tidak terbukti
menguntungkan untuk meningkatkan status klinis pada studi klinis multi-
instusional. Dibuktikan dalam penelitan yang ada maka penggunaan
dexamethasone atau glukokortikosteroid lain pada anak-anak tidak dapat
didukung. Nebulasi ephinefrin (0,1 mg/Kg BB) ditemukan lebih efektif daripada
B-agonis salbutamol pada bayi dengan bronkiolitis akut. Pada studi yang
dilakukan henderson dkk, tidak ditemukannya peningkatan signifikan fungsi
respirasi pada penggunaan inhalasi adrenalin. Kesimpulan yang didapat bahwa
adrenalin inhalasi tidak mengurangi obstruksi saluran nafas. Berdasarkan
percobaan random terkontrol untuk membandingkan subcutaneus ephinefrin dan
nebulalisasi ephinefrin dengan plasebo ditemukan peningkatan yang signifikan
pada pasien yang diterapi dengan ephinefrin dalam hal peningktan perbaikan
oksigenasi dan tanda klinis. (4)
• Antikolinergik
Ipratropium bromide adalah zat antikolinergik dalam bentuk aerosol, tidak
dapat menunjukkan bukti dapat membantu dalam manajemen dari bayi yang sakit.
Hal ini menunjukkan tidak ada keuntungan klinis dibandingkan dengan
pengobatan albuterol tersendiri pada kasus bronkiolitis sedang sampai berat. (4)
• Antibiotik
Virus adalah etiologi utama pada bronkiolitis untuk itu penggunaan rutin
dari antibiotik sebaiknya dihindari untuk penyakit ini. Apabila bayi mengarah ke
arah lebih buruk dan menunjukkan kenaikan dari hitung sel darah putih
kedepannya menunjukkan tanda-tanda sepsis, selanjutnya kultur bakteri dari

15
darah, urine, dan cairan LCS sebaiknya diambil dan di follow up segera dengan
pemberian antibiotik spektrum luas. Penelitian yang dilakukan oleh Kupperman
dkk. dari 156 bayi dibawah umur 24 bulan yang sebelumnya sehat dengan sedikit
demam dan menderita bronkiolitis, menunjukkan bahwa bayi-bayi ini mau tidak
mau menderita bakteremia dan menderita infeksi saluran kemih.penggunaan rutin
dari antibiotik tidak menunjukkan perbaikan dari bronkiolitis. (4)
• Heliox
Heliox (campuran antara helium dengan oxygen) telah digunakan pada
pasien asma akut. telah ada laporan kasus yang menyatakan dan menjelaskan
tentang penggunaan heliox pada bayi laki-laki umur 4 bulan dengan bronkiolitis
positif RSV. Heliox mungkin bermanfaat sebagai tambahan untuk terapi
konvensional pada pasien bronkiolitis dalam keadaan kritis. Bagaimanapun studi
klinis dari terapi ini sangat diperlukan untuk mengetahui keefektifan terapi ini.
Hal ini dimungkinkan bahwa heliox dengan terapi nebulalisasi dapat sangat
berguna pada bayi dengan bronkiolitis berat atau pasien terpasang intubasi dan
tidak merespon dengan terapi konvensional. (4)
• Ventilasi mekanik
Bayi dengan bronkiolitis kadang-kadang memerlukan ventilasi mekanik
khususnya pada kasus apneu berulang atau peningkatan usaha nafas pada gagal
nafas. Terapi pada pasien seperti ini adalah terapi suportif , dengan pemberian
oksigen yang adekuat baik continous positive airway pressure (CPAP) dan
intermitent mandattory ventilation (IMV) dengan possitive end-distending
pressure (PEEP) telah digunakan dan sukses sebagai terapi pada bayi tersebut.
Penyapihan awal pada hari ke-2 sampai ke-3 biasanya tidak sukses setelah
kesakitan berkurang, untuk itu penyapihan dilakukan segera. Bayi dengan
hypoxemia progresiv tidak merespon ventilasi konvensional biasanya merespon
penggunaan ventilasi frekuensi tinggi atau extracorporeal oksigenasi membran.
experimen terapi terkini untuk bayi dengan insuffisiensi pulmonal dari
bronkiolitis meliputi surfaktan dan nitrit oksida. (4)
• Antivirus ( Ribavirin )
Ribavirin ( 1 beta-D-ribafuranosyl-1,2,4-triazole-3-carbox-amide) adalah

16
analog nukleosida sintetik yang menggabungkan guanosin dan inosin tampaknya
di buat untuk mempengaruhi RNA massenger dan menghambat sintesis protein
virus. Ribavirin mempunyai spektrum luas aktivitas antiviral invitro. Terapi
ribavirin untuk infeksi RSV masih kontroversial dikarenakan masih ada
penggunaan aerosol, harga yang relatif mahal, toxisitas dan efek samping. (4)
Saat ini rekomendasi dari AAP terapi dengan ribavirin aerosol sedang
dipertimbangkan untuk bayi-bayi dengan resiko tinggi penderita penyakit karena
RSV :
a. Diantara mereka dengan komplikasi penyakit jantung kongenital termasuk
didalamnya hipertensi portal dan juga mereka yang menderita displasie
bronkopulmonar, kistik fibrosis dan penyakit paru kronik lainnya.
b. Mereka yang menderita penyakit yang didasari oleh penyakit imun.
c. Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan umur kurang dari 6 minggu
dengan penyakit penyerta seperti anomali kongenital multipel atau penyakit
neurologi metabolik.
Kesimpulannya ribavirin merupakan terapi yang aman tapi mahal,
efisiensi dan keefektifannya tidak tampak jelas menunjukan dalam penelitian.
Penggunaan ribavirin secara rutin pada saat ini kurang direkomendasikan. (4)

II.12. Pencegahan
Penyebaran dari RSV kemungkinan terjadi karena kontak langsung dengan
sekret pasien yang terinfeksi. Pencegahan penting pada staf rumah sakit seperti
perhatian khusus terhadap kebersihan sekret pasien dan kebersihan badan petugas
rumah sakit tampaknya dapat mengurangi penyebaran RSV di rumah sakit. Saat
ini menggunaan RSV imunoglobulin intra vena pada dosis tinggi (500-750 mg/Kg
BB) tampaknya dapat mencegah RSV pada pasien resiko tinggi, sebagai
tambahan RSV imunoglobulin intra venus dalam bentuk aerosol dapat
memberikan keuntungan pada pasien dengan bronkiolitis karena RSV. Dalam
penelitian baru oleh Rimensberger, dkk., menyimpulkan bahwa dosis tunggal
RSV imunodlobulin intra vena (0,1 gr/Kg BB) tidak menunjukan keuntungan
untuk bronkiolitis akut karena RSV.Saat ini tampaknya ada kerugian yang

17
ditimbulkan oleh penggunaan human polyclonal RSV- Imunoglobulin antibodi
spesifik pada bayi. Hal ini meliputi penggunaan bulanan secara intra vena antara
2-4 jam. (4)
Insidensi tertinggi di rumah sakit pada kasus bronkiolitis karena RSV
terjadi pada bayi umur 2-5 bulan untuk itu vaksinasi dapat menstimulasi
keefektifan setelah bayi berumur 2 bulan.

II.13. Prognosis

• Bronkiolitis Akut
Fase penyakit yang paling kritis terjadi selama 48-72 jam pertama sesudah
batuk dan dispnea mulai. Selama masa ini, bayi tampak sangat sakit, serangan
apneu terjadi pada bayi yang sangat muda dan asidosis respiratorik mungkin ada.
Sesudah periode klinis, perbaikan terjadi dengan cepat dan seringkali secara
drastis. Penyembuhan selesai dalam beberapa hari. Angka fatalitas kasus di bawah
1%, kematian dapat merupakan akibat dari serangan apnea yang lama, asidosis
respiratorik berat yang tidak terkompensasi, atau dehidrasi berat akibat kehilangan
penguapan air dan takipnea serta ketidak mampuan minum cairan. Bayi yang
memiliki keadaan-keadaan, misalnya penyakit jantung kongenital, displasia
bronkopulmonal, penyakit imunodefisiensi, atau kistik fibrosis mempunyai angka
morbiditas yang lebih besar dan mempunyai sedikit kenaikan angka mortalitas.
Angka mortalitasnya tidak sebesar pada bayi yang “beresiko tinggi” seperti di
masa yang silam. Perkiraan mortalitas pada bayi beresiko tinggi yang menderita
bronkiolitis. VSR ini telah menurun dari 37% pada tahun 1982 menjadi 3,5% pada
tahun 1988. Komplikasi bakteri seperti bronkopneumonia atau otitis media, tidak
lazim terjadi. Kegagalan jantung selama bronkiolitis jarang, kecuali pada anak
yang memiliki dasar penyakit jantung. Ada proporsi yang bermakna bahwa bayi-
bayi yang menderita bronkiolitis mengalami hiperreaktivitas saluran pernafasan
selama akhir masa anak-anak, tetapi hubungan antara kedua hal ini, jika ada
belum dimengerti. Kesan bahwa satu episode bronkiolitis dapat mengakibatkan
kelainan saluran pernafasan kecil yang jangkanya sangat lama memerlukan
pengamatan lebih lanjut. Kelainan ini sebagian dapat dijelaskan melalui

18
penemuan bahwa bayi yang memiliki hantaran pernafasan total rendah lebih
mungkin mengalami bronkiolitis dalam responnya terhadap infeksi virus
pernafasan. Bayi dengan bronkiolitis yang padanya berkembang saluran
pernafasan reaktif kemungkinan besar mempunyai riwayat keluarga asma dan
alergi, episode bronkiolitis akut lama, dan terpajan asap rokok.(1)

• Bronkiolitis Obliterans
Beberapa minggu setelah mulainya gejala-gejala awal, penderita keadaan
umumnya menjelek sampai meninggal, tetapi kebanyakan bertahan hidup,
beberapa anak menderita kecacatan kronis.(7)

19
BAB III
KESIMPULAN

1. Bronkiolitis adalah penyakit inflamasi akut dari saluran atas dan bawah
menyebabkan obstruksi dari saluran napas kecil.
2. Bronkiolitis dapat diklasifikasikan menjadi :
a.Bronkiolitis akut
b. Bronkiolitis obliteran.

Manifestasi Klinis
a. Bronkiolitis Akut
Bayi mendapatkan infeksi saluran napas ringan berupa pilek encer, batuk,
bersin-bersin, dan kadang-kadang demam. Gejala ini berlangsung
beberapa hari, kemudian timbul distres respirasi yang ditandai oleh batuk
paroksimal, mengi, dispneu, dan iritabel.
b. Bronkiolitis Obliterans
Pada mulanya dapat terjadi batuk, kegawatan pernafasan dan sianosis dan
disertai dengan periode perbaikan nyata yang singkat. Penyakit yang
progresif terlihat dengan bertambahnya dispnea, batuk, produksi sputum,
dan mengi.
3. Pemeriksaan penunjang
- Darah lengkap
- Urin
- Serum darah
- Analisa gas darah
- Radiologi
4. Pengobatan
a. Bronkodilator
b. Kortikosteroid
c. Antikolinergik
d. Antibiotik

20
e. Heliox
f. Ventilasi mekanik
g. Antivirus

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Orenstein DM, Bronchiolitic. In Nelson WE, Editor Nelson, Textbook of


Pediatric, 15th edition, Philadelphia, 1996, hal : 1484-1485.
2. Hartoyo E. Naning R. Mengi Berulang Setelah Bronkiolitis Akut Akibat
Infeksi Virus [serial Online] Jan 2002 [ akses 2006 Okt 10 ]; [ 7 Halaman]. Di
akses dari: URL : http://www.tempo.co.id/medika/arsip/012002/pus-1.htm
3. Hasan R, Alatas H, Bronkiolitis Akut, dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak, Volume 3, Jakarta : Info Medika FK UI ; 1996. hal. 1233.
4. DeNicola LK, Gayle M O, Bronchiolitis, [serial online ] Sept 1998 [ akses
2006 Okt 10 ]; [12 Halaman ]. Di akses dari : URL:
http://www.dcmsonline.org/jax-
medicine/1998journals/september98/bronchiolitis.htm
5. Howard EW, Acute Viral Bronchiolitis, Respiratory Illness in Children.
Oxford : Blackwell Scientific Publication; 1998. p. 41-48.
6. Anonim, Bronchiolitis , [serial online] 2004 [ akses 2006 Okt 10 ];
[ Gambar 1]. Di akses dari URL : www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id=&iddtl=943&idktg=19&idobat=&UID=20060926150740222.124.htm
7. Orenstein DM, Obliterans Bronchiolitic. In Nelson WE, Editor Nelson,
Textbook of Pediatric, 15th edition, Philadelphia, 1996, hal : 1486.
8. Mayo Foundation staff , Bronchiolitis, [serial online] Okt 2006 [akses
2006 Okt 10 ]; [15 Halaman]. Di akses dari : URL :
http://www.mayoclinic.com/health/bronchiolitis/DS00481/DSECTION=9.htm
9. Pianosi P, Diagnosis and Management of Bronchiolitis, [serial online] Okt
2006 [akses 2006 Okt 10]; [66 halaman]. Di akses dari URL :
http//:www.aap.org.us/Diagnosis_and_Management_of_Bronchiolitis_--
_subcommittee_on_Diagnosis_and_Management_of_Bronchiolitis_118_(4)_1
774 _Pediatrics.htm

22
10. McIntosh K, Respiratory Syncytial Virus. In : Vaughan VC, et al (eds).
Nelson Textbook. of Pediatrics. 13 th ed. Toronto : WB Saunders Company;
1987.p . 1112 - 1114.
11. Louden M, Bronchiolitis, [serial online] Feb 2006 [akses 2006 Okt 10]; [8
halaman]. Di akses di URL : http//:www.emedicine.com/bronchiolitis.htm

23