Anda di halaman 1dari 6

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK FKUP/RSHS

Sari Kepustakaan
Oleh
Sub bagian
Pembimbing

:
//2005
: Dani Kurnia
: Pediatrik Gawat Darurat
: dr. Enny Harliani Alwi, SpA
dr. Dadang Hudaya, SpA(K).M Kes
dr. Dzulfikar DLH, SpA. M Kes
KEGAWATAN NAPAS PADA ANAK
AKIBAT INFEKSI SALURAN NAPAS BAWAH

Pendahuluan
Penyakit saluran napas merupakan panyakit yang sering terjadi pada anak dan merupakan
alasan tersering anak dibawa berobat. Kebanyakan anak yang mengalami kesulitan
bernapas mempunyai penyakit saluran napas atas dan bawah. Keduanya merupakan
penyebab yang paling sering dari distress pernapasan ringan pada anak, tetapi sangat
mungkin terjadi penyebab pemyakit yang mengancam jiwa terutama pada bayi.
Infeksi saluran napas bawah seperti pneumonia dan bronkiolitis merupakan salah
satu penyebab kegawatan napas pada anak. Kedua penyakit ini perlu didiagnosis dan
diterapi secara adekuat sehingga tidak sampai menimbulkan gagal napas. Gagal nafas
akut masih menjadi penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi pada anak maupun
dewasa. Insidensi gagal nafas akut di Amerika Serikat mencapai 150.000 kasus per tahun
dengan angka kematian antara 50-70%. Gagal nafas akut juga menjadi penyebab
terbanyak terjadinya henti jantung pada anak yaitu 65% dan hanya 10-15% anak yang
mengalami henti jantung tersebut yang dapat diselamatkan.
Pada sari kepustakaan ini akan dibahas infeksi saluran napas bawah yaitu
pneumonia dan bronkiolitis sebagai salah satu penyebab gagal napas pada anak.
Pneumonia
Pneumonia merupakan proses peradangan pada parenkim paru dimana asinus terisi cairan
radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi sel radang ke dalam dinding alveoli dan
rongga interstisium.. Sedangkan WHO mendefinisikan pneumonia secara klinis yaitu
demam disertai takipneu tanpa penyebab yang jelas. Pneumonia merupakan salah satu

penyebab angka kesakitan dan kematian pada anak khususnya di negara berkembang.
Diperkirakan setiap tahunnya 4 juta anak di dunia meninggal atau sekitar 28% karena
penyakit ini.
Etiologi
Penyebab pneumonia bermacam-macam dimana bakteri dan virus merupakan penyebab
terbanyak community acquired pneumonia pada anak (44-85%). Penyebab tersering
pneumonia pada anak adalah kombinasi streptococcus pneumoniae (pneumococcus)
dengan respiratory syncytial virus (RSV) atau Mycoplasma pneumoniae. Beberapa faktor
risiko yang dapat menyebabkan pneumonia seperti adanya penyakit paru sebelumnya
(misalkan asma), kelainan anatomis (seperti fistula tracheoesophageal), aspirasi, penyakit
neurologis maupun penyakit dengan kelainan system imun.
Epidemiologi
Faktor epidemiologis memegang peranan penting dalam menentukan etiologi pneumonia.
Usia, musim, status imunitas kunci dalam menentukan penyebab. Etiologi pneumonia
tidak dapat diidentifikasi dengan pasti (40-60%). Virus merupakan penyebab terbanyak
infeksi salursan napas pada anak usia kurang dari 5 tahun. Tidak seperti bronkiolitis
dengan puncak serangannya pada satu tahun kehidupan, pneumonia karena virus terjadi
pada usia 2 sampai 3 tahun kemudian insidensinya menurun. RSV sebagai penyebab
utama khususnya anak usia kurang dari 3 tahun. Virus penyebab pneumonia lainnya
antara lain virus parainfluenzae, virus influenzae dan adenovirus. Sedangkan penyebab
pneumonia bukan virus pada anak di atas 5 tahun adalah S. pneumonia, M. pneumonia
dan chlamydia pneumoniae. Kejadian pneumonia karena Haemophilus influenzae type b
saat ini kejadian menurun sejak penggunaan vaksin.
Status imunisasi berkaitan dengan penyebab pneumonia. Anak yang telah
divaksin sebagian besar sudah mempunyai kekebalan terhadap infeksi H. influenzae type
B dan S. pneumoniae. Anak dengan imunosupresi berisiko terkena bakteri yang lebih
berat dan spesifik, seperti Pseudomonas pada pasien kistik fibrosis.

Tabel 1. Bakteri Penyebab Pneumonia

Neonatus

Usia

Bakteri patogen
Streptokokus grup B, Escherichia coli,

1 3 bulan
Pra sekolah

Klebsiella, Enterobacteriaceae
Chlamydia trachomatis
Streptokokus pneumonia, Haemophilus influenzae type B
Staphylokokus aureus
Jarang: Streptokokus grup A, Moraxella catarrhalis

Sekolah

Pseudomonas aeruginosa
Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae

Patogenesis
Normalnya saluran napas bawah bersifat steril oleh adanya mekanisme pertahanan tubuh
seperti system mukosiliar, sekretory IgA dan reflek batuk. Basil yang masuk bersama
secret bronkus ke dalam alveoli menyebabkan reaksi inflamasi beupa edema dari seluruh
alveoli diikuti infiltrasi sel-sel PMN dan diapedesis dari eritrosit sehingga terjadi
permulaan fagositosis. Kemudian terjadilah 4 zona berupa zona luar, zona permulaan
konsolidasi, zona konsolidasi yang meluas dan zona resolusi.
Manifestasi Klinis
Pneumonia karena virus dan bakteri sebagai besar dicetuskan oleh infeksi saluran napas
atas beberapa hari sebelumnya seperti rinitis dan batuk. Demam ditemukan pada
pneumonia karena virus akan tetapi tidak begitu tinggi dibandingkan karena bakteri.
Takipneu merupakan manifestasi klinis yang sering ditemukan. Peningkatan kerja napas
berupa retraksi suprasternal,intercostals dan epigastrium dan pernapasan cuping hidup
juga dapat ditemukan. Bila berat dapat terlihat sianosis dan kelalahan pernapasan
khusunya pada neonatus. Pada auskultasi dapat ditumukan bunyi crackles dan wheezing.
Akan tetapi sangat sulit membedakan secara klinis pneumonia karena virus dengan
myplasma pneumonia.
Pneumonia karena bakteri pada anak remaja onsetnya berlangsung perlahanlahan, diikuti adanya demam tinggi, batuk dan nyeri dada. Pada pemeriksaan fisik

kelainan paru tergantung derajat penyakitnya. Pada awal penyakit, ditemukan crackles.
Apabila berlanjut terjadi komplikasi berupa efusi, empiema atau piopneumotoraks,
dullness pada perkusi dan menghilangnya suara pernapasan. Distensi abdomen,
hepatomegali dan juga ditemukan. Pada neonatus manifestasi pneumonia berupa
grunting, retraksi epigastrium, interkostal dan suprasternal serta sianosis. Beberapa bayi
dengan pneumonia bakteri banyak berhubungan dengan gangguan pencernaan berupa
muntah, anoreksia, diare dan distensi abdomen. Gejala klinis yang cepat memburuk
merupakan tanda khas pneumonia karena bakteri.
Takipneu merupakan petanda klinis yang terbaik dalam mendiagnosis pneumonia
pada anak, dibandingkan retraksi dan pemeriksaan auskultasi. Penghitungan respirasi
harus akurat dihitung dalam waktu 60 detik.
Diagnosis
Pemeriksaan radiologis dapat mengkonfirmasi adanya pneumonia dan komplikasinya
berupa efusi pleura atau empiema. Secara umum, pneumonia karena virus ditandai
adanya hiperinflasi dengan infiltrat bilateral intertitial. Akan tetapi pemeriksaan
radiologis tidak bias dipakai patokan tunggal, karena harus dikonfirmasi dengan
gambaran klinis.
Jumlah lekosit dapat mengkonfimasi penyebab pneumonia. Pada pneumonia
karena virus jumlah lekosit biasanya normal atau meningkat (<20.000/mm3) dengan
didominasi limfosit. Sedangkan pada pneumonia karena bakteri peningkatan lekosit
antara 15.000-40.000/mm3 dengan didominasi oleh granulosit.
Kultur darah merupakan gold standard dalam menentukan etiologi pneumonia.
Akan tetapi sensitifitasnya sangat rendah. Hasil positif hanya ditemukan pada 10-30%
pasien. Dari 44% pasien dengan gambaran radiologis yang mendukung pneumonia hanya
2,7% ditemukan bakteri penyebab pneumonia. Kultur darah harus dilakukan pada
pneumonia berat atau ketika tidak ada respon klinis setelah pengobatan dengan antibiotik
pilihan pertama. Mycoplasma pneumonia, Chlamydia, Legionella dan mozzarella
catarrhalis merupakan mikroorganisme yang sulit dikultur
Pengelolaan Pasien
1. Penilaian Oksigenasi

Pulse oximetri merupakan alat yang objektif dalam menilai keadaan hipoksia
terutama dalam menilai derajat beratnya pneumonia.
2. Kriteria pasien yang dirawat
Community acquired pneumonia dapat diobati dirumah apabila sifatnya ringan.
Kriteria pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit yaitu:

Anak usia < 3 bulan dengan pneumonia berat

Demam > 38,5 C, disertai muntah dan tidak mau makan

Takipneu dengan atau tanpa sianosis

Manifestasi sistemik

Gagal dengan terapi inisial

Pneumonia rekuren

Adanya kelainan lainnya yang berat (imunodefisiensi, penyakit paru


kronik)

3. Terapi antibiotika
Pengobatan pneumonia harus berdasarkan pemilihan bakteri penyebab untuk
mencegah terjadinya resistensi antibiotika.
Tabel 2. Bakteri penyebab pneumonia dan Antibiotik
Bakteri
Streptokokus pneumonia
Haemophilus Influenzae type b

Antibiotika
Penisilin, Cephalosporins
Ampisilin,Chloramphenicol

Staphylokokus aureus
Streptokokus grup A
Mycoplasma pneumoniae, Chlamidia pneumoniae

Cephalosporin
Kloksasilin
Penisilin, Cephalosporin
Eritromisin atau Azitromisin

Bordetella pertusis

4. Terapi Suportif

Terapi cairan

Pemberian secara oral dihentikan pada pneumonia berat (untuk mencegah


terjadinya aspsrasi

Terapi Oksigen
SpO2 dipertahankan > 95%

Antitusif
Tidak direkomendasikan

Fisioterapi dada
Tidak rutin dilakukan pada pasien pneumonia.

Pasien pneumonia dipulangkan bila pneumonia ringan dan bila perlu antibiotika oral
diberikan.
BRONKIOLITIS
Bronkiolitis sebagian besar disebabkan respiratory syncytial virus (RSV) khususnya bayi
usia 1 6 bulan. Gejala klinis yang ditemukan dapat berupa batuk, panas yang tidak
tinggi dan batuk. Takipneu, wheezing dan distress pernapasan dapat ditemukan. Dada
dapat hiperinflasi dan pada auskultasi kadang ditemukan ronki.