Anda di halaman 1dari 42

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU


DEMAM TIFOID

Oleh
Aldy Valentino Maehca Rendak
H1A001007

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/PUSKESMAS KEDIRI
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit infeksi tifus abdominalis atau demam tifoid ditularkan melalui makanan dan
minuman yang tercemar kuman S.typhi.1 Waktu inkubasi berkisar tiga hari sampai satu bulan.
Gejala awal meliputi onset progresif demam, rasa tidak nyaman pada perut, hilangnya nafsu
makan, sembelit yang diikuti diare, batuk kering, malaise, dan ruam bersama dengan relatif
bradikardi. Tanpa pengobatan, demam tifoid merupakan penyakit yang mungkin berkembang
menjadi delirium, perdarahan usus, perforasi usus dan kematian dalam waktu satu bulan onset.
Penderita mungkin mendapatkan komplikasi neuropsikiatrik jangka panjang atau permanen.1,2,3
Demam tifoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita,
baik diperkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan higiene pribadi
dan sanitasi lingkungan seperti hygiene perorangan yang rendah, lingkungan yang kumuh,
kebersihan tempat-tempat umum (rumah makan, restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat
yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Seiring dengan terjadinya krisis ekonomi yang
berkepanjangan akan menimbulkan peningkatan kasus-kasus penyakit menular, termasuk tifoid
ini.4
Penelitian terdahulu yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kejadian Demam Tifoid
berkaitan dengan faktor sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan. Pada penelitian
Naelannajah Alladany (2010) mendapatkan hasil bahwa sanitasi lingkungan dan perilaku
kesehatan yang merupakan faktor risiko kejadian demam Tifoid adalah kualitas sumber air
bersih, kualitas jamban keluarga, pengelolaan sampah rumah tangga, praktek kebersihan diri,
pengelolaan makanan dan minuman rumah tangga.5
Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting di berbagai negara
sedang berkembang. Data World Health Organization tahun 2003, memperkirakan angka
insidensi di seluruh dunia terdapat sekitar 17 juta per tahun dengan 600.000 orang meninggal
karena penyakit ini.6 WHO memperkirakan 70% kematian terjadi di Asia.7 Diperkirakan angka
kejadian dari 150/100.000 per tahun di Amerika Selatan dan 900/100.000 per tahun di Asia.7
Di Indonesia angka kejadian kasus Demam Tifoid diperkirakan rata-rata 900.000 kasus
pertahun dengan lebih dari 20.000 kematian.6 Penyakit ini tersebar di seluruh wilayah dengan
insidensi yang tidak berbeda jauh antar daerah. Serangan penyakit lebih bersifat sporadis bukan
2

epidemik. Dalam suatu daerah terjadi kasus yang berpencar-pencar dan tidak mengelompok.
Sangat jarang ditemukan kasus pada satu keluarga pada saat bersamaan. Dari telaah kasus
demam tifoid di Rumah Sakit besar Indonesia, menunjukkan angka kesakitan cenderung
meningkat setiap tahun dengan rata-rata 500 per 100.000 penduduk. Angka kematian
diperkirakan sekitar 6-5% sebagai akibat dari keterlambatan mendapat pengobatan serta kurang
sempurnanya proses pengobatan. Secara umum insiden demam tifoid dilaporkan 75% didapatkan
pada umur kurang dari 30 tahun. Pada anak-anak biasanya diatas 1 tahun dan terbanyak di atas 5
tahun.4
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 jumlah kejadian demam tifoid dan
paratifoid di Rumah Sakit adalah 80.850 kasus pada penderita rawat inap dan 1.013 diantaranya
meninggal dunia. Sedangkan pada tahun 2010 penderita demam tifoid dan paratifoid sejumlah
41.081 kasus pada penderita rawat inap dan jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 276 jiwa.8
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2007, tifoid klinis dapat dideteksi di
Provinsi NTB dengan prevalensi 1,9%, dan tersebar di seluruh kabupaten/kota. Prevalensi tifoid
tertinggi didapatkan di Kota Bima (3,5%).9
Berdasarkan profil kesehatan puskesmas Kediri, profil kesehatan puskesmas Kediri pada
tahun 2011, 2012 dan 2013 penyakit tifoid termasuk dalam 10 penyakit terbanyak rawat inap di
Puskesmas Kediri. Pada tahun 2011 typhoid menduduki peringkat ke-4 yaitu 102 kasus, pada
tahun 2012 kasus typhoid meningkat menduduki peringkat ke dua yaitu 189 kasus. Tahun 2013
typhoid menduduki peringkat kedua rawat inap di puskesmas Kediri yaitu 165 kasus.10
Berdasarkan data yang ada ini maka penulis menganggap perlu membuat suatu laporan
kasus mengenai demam Tifioid pada salah satu pasien di wilayah kerja puskesmas Kediri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. GAMBARAN PENYAKIT DEMAM TYPHOID DI PUSKESMAS KEDIRI


Berdasarkan profil kesehatan puskesmas Kediri, profil kesehatan puskesmas Kediri pada
tahun 2011, 2012 dan 2013 penyakit tifoid termasuk dalam 10 kasus rawat inap terbanyak di
Puskesmas Kediri. Pada tahun 2011 penyakit tifoid menduduki peringkat ke-4 yaitu 102 kasus,
pada tahun 2012 kasus typhoid meningkat menduduki peringkat ke dua yaitu 189 kasus. Tahun
2013 tifoid menduduki peringkat kedua rawat inap di puskesmas Kediri yaitu 165 kasus, dan
pada bulan januari-februari tahun 2014 menduduki peringkat kedua yaitu 14 kasus. Angka kasus
tifoid pertahun ini menunjukkan bahwa kejadian tifoid masih tinggi dan dapat dilihat bahwa
angka kasus tifoid di puskesmas Kediri pada 2012 dan 2013 lebih tinggi dibandingkan tahun
2011. Data 10 penyakit terbanyak dapat dilihat pada tabel berikut.10

Tabel 1. Data 10 kasus rawat inap terbanyak puskesmas Kediri tahun 2011
No

Kasus

Jumlah Kasus.

Diare

354

Dispepsia

168

Pneumonia

119

Tifoid

102

Observasi Febris

73

Asma

50

ISPA

47

Hipertensi

47

Kejang Demam Sederhana

30

10

Disentri

30

Jumlah

1.052

Tabel 2. Data 10 kasus rawat inap terbanyak puskesmas Kediri tahun 2012
No

Kasus

Jumlah Kasus.

Diare

298

Tifoid

189

Pneumonia

119

Dispepsia

125

DBD

93

ISPA

54

ISK

45

Hipertensi

39

Asma

33

10

Observasi Febris

25

11

Lain-lain

149

Jumlah

1.169

Tabel 3. Data 10 kasus rawat inap terbanyak puskesmas Kediri tahun 2013
No

Kasus

Jumlah Kasus.

Diare

207

Tifoid

165

Dispepsia

111

Pneumonia

103

ISPA

93

DBD

83

Asma

48

Hipertensi

43

Observasi Febris

35

10

Disentri

31

Lain-lain

198

Jumlah

984

Berikut perbandingan jumlah rawat inap pasien dengan tifoid sejak bulan januari 2011-Desember
2013.

Grafik 1. Jumlah penderita tifoid di PKM Kediri tahun 2011-2013

2.2. KONSEP PENYAKIT DEMAM TYPHOID


2.2.1 Defenisi Demam Tifoid
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan, ditopang dengan
bakteremia tanpa keterlibatan struktur endothelial atau endokardial dan invasi bakteri
sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuclear dari hati, limpa, kelenjar limfe
usus dan Payerr patch.11,12
2.2.2 Infectious Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi dari
Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip, tidak membentuk spora,
motil, berkapsul dan mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini
dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan
debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600C) selama 15 20 menit,
pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi. 11, 12

Gambar 1. Salmonella typhi. A schematic diagram of a single Salmonella typhi cell showing the
locations of the H (flagellar), 0 (somatic), and Vi (K envelope) antigens.11

Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu:11, 12


1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga
endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan
terhadap formaldehid.
2. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat
melindungi kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan
pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.
2.2.3 Epidemiologi Demam Tifoid
A. Distribusi dan Frekuensi
1) Orang
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada perbedaan yang
nyata antara insiden pada laki-laki dan perempuan. Insiden pasien demam tifoid
dengan usia 12 30 tahun 70 80 %, usia 31 40 tahun 10 20 %, usia > 40
tahun 5 10 %. Menurut penelitian Simanjuntak, C.H, dkk (1989) di Paseh, Jawa
Barat terdapat 77 % penderita demam tifoid pada umur 3 19 tahun dan tertinggi

pada umur 10 -15 tahun dengan insiden rate 687,9 per 100.000 penduduk. Insiden
rate pada umur 0 3 tahun sebesar 263 per 100.000 penduduk.13, 14
2) Tempat dan Waktu
Demam tifoid tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000, insiden rate demam
tifoid di Amerika Latin 53 per 100.000 penduduk dan di Asia Tenggara 110 per
100.000 penduduk.6 Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang
tahun, di Jakarta Utara pada tahun 2001, insiden rate demam tifoid 680 per
100.000 penduduk dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 1.426 per 100.000
penduduk. 13, 14
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Determinan)
1) Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi. Terjadinya
penularan Salmonella thypi sebagian besar melalui makanan/minuman yang
tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau carrier yang biasanya keluar
bersama dengan tinja atau urine. Dapat juga terjadi trasmisi transplasental dari
seorang ibu hamil yang berada dalam bakterimia kepada bayinya. Penelitian yang
dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan desain case control , mengatakan
bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid
pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak jajan diluar
(OR=3,65) dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum
makan beresiko terkena penyakit demam tifoid 2,7 lebih besar dibandingkan
dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan (OR=2,7).12, 15
2) Faktor Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah kuman yang
dapat menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 109 kuman yang tertelan
melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Semakin besar jumlah
Salmonella thypi yang tertelan, maka semakin pendek masa inkubasi penyakit
demam tifoid. 12, 15
3) Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah
tropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan
8

standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat
terjadinya penyebaran demam tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk,
sumber air minum dan standart hygiene industri pengolahan makanan yang masih
rendah. 12, 15
Berdasarkan hasil penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000) dengan
desain case control, mengatakan bahwa higiene perorangan yang kurang,
mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar
dibandingkan dengan yang higiene perorangan yang baik (OR=20,8) dan kualitas
air minum yang tercemar berat coliform beresiko 6,4 kali lebih besar terkena
penyakit demam tifoid dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya tidak
tercemar berat coliform (OR=6,4). 12, 15
2.2.3 Sumber Penularan (Reservoir)
Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke manusia melalui
makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses atau urin dari penderita tifoid. 12,15

Gambar 2. Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke manusia12

Ada dua sumber penularan Salmonella typhi, yaitu : 12, 15


1) Penderita Demam Tifoid
Yang menjadi sumber utama infeksi adalah manusia yang selalu mengeluarkan
mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang menderita sakit maupun
yang sedang dalam penyembuhan. Pada masa penyembuhan penderita pada umumnya
masih mengandung bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.
2) Karier Demam Tifoid.
Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau urin)
mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid, tanpa disertai
gejala klinis. Pada penderita demam tifoid yang telah sembuh setelah 2 3 bulan
masih dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di feces atau urin. Penderita ini
disebut karier pasca penyembuhan. Pada demam tifoid sumber infeksi dari karier
kronis adalah kandung empedu dan ginjal (infeksi kronis, batu atau kelainan
anatomi). Oleh karena itu apabila terapi medika-mentosa dengan obat anti tifoid
gagal, harus dilakukan operasi untuk menghilangkan batu atau memperbaiki kelainan
anatominya. Karier dapat dibagi dalam beberapa jenis.
3) Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah
menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung
unsur penyebab yang dapat menular pada orang lain, seperti pada penyakit
poliomyelitis, hepatitis B dan meningococcus.
4) Incubatory carrier (masa tunas) adalah mereka yang masih dalam masa tunas, tetapi
telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit/ sebagai sumber penularan,
seperti pada penyakit cacar air, campak dan pada virus hepatitis.3
5) Convalescent carrier (baru sembuh klinis) adalah mereka yang baru sembuh dari
penyakit menulat tertentu, tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit
tersebut untuk masa tertentu, yang masa penularannya kemungkinan hanya sampai
tiga bulan umpamanya kelompok salmonella, hepatitis B dan pada dipteri.
6) Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup lama seperti
pada penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B.

10

2.2.4 Patogenesis
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia melalui
makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas
humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel
terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang
biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum
distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus
torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah
(mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ
retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman
meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang
sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan
bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi
sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut.6

Gambar 3. Patofisiologi Demam Tifoid6

11

2.2.5. Gejala Klinis


Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan
penderita dewasa. Pada anak periode inkubasi demam tifoid antara 5-40 hari dengan ratarata antara 10-14 hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis
ringan dan tidak memerlukan perawatan khusus sampai dengan berat sehingga harus
dirawat. Variasi gejala ini disebabkan faktor galur Salmonela, status nutrisi, dan
imunologik pejamu serta lama sakit dirumahnya. 11, 12, 15
Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak
badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul gejala
klinis yang biasa ditemukan, yaitu : 11, 12, 15
1) Demam
Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit. Pada era
pemakaian antibiotik belum seperti pada saat ini,penampilan demam pada kasus
demam tifoid emiliki istilah khusus yaitu step-ladder temperature chart yang ditandai
dengan demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan
mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan
tinggi pada minggu ke-4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi
fokus infeksi seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan menetap.
Banyak orang tua pasien demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih tinggi pada
saat sore dan malam hari dibandingkan dengan pagi harinya.11, 12, 15
2) Ganguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya
kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut
kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan.
Anak di Indonesia lebih banyak dijumpai hepatomegali dibandingkan spenomegali.
Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat
terjadi diare.11, 12, 15

12

3) Gangguan kesadaran
Pada saat demam sudah tinggi, pada kasus demam tifoid dapat disertai gejala system
saraf pusat. Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam,
yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. 11, 12, 15
Rose spot, suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1-5 mm,
seringkali dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas, dan punggung pada
orang dengan kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia.
Ruam ini muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari. Bronchitis banyak
dijumpai pada demam tifoid sehingga buku ajar lama bahkan menganggap sebagai
bagian dari penyakit demam tifoid. Bradikardi relative jarang dijumpai pada anak. .11,
12, 15

2.2.6. Gambaran darah tepi


Anemia normokromik normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi
pada sumsum tulang. Jumlah leukosit rendah, namun jarang dibawah 3.000/l3. Apabila
terjadi abses piogenik maka jumlah leukosit dapat meningkat mencapai 20.000-25.000/
l3. Trombositopenia sering dijumpai,kadang-kadang berlangsung beberapa minggu.11, 12,
15

2.2.7. Diagnosis
1) Diagnosis klinik
Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat, karena gejala klinis yang khas pada
demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan pada
penyakit lain. Diagnosis klinis demam tifoid sering kali terlewatkan karena pada
penyakit dengan demam beberapa hari tidak diperkirakan kemungkinan diagnosis
demam tifoid. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa demam,
gangguan gastrointestinal, dan mungkin disertai perubahan atau gangguan kesadaran,
dengan kriteria ini maka seorang klinisi dapat membuat diagnosis tersangka demam
tifoid..16
2) Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman
Diagnosis pasti ditegakkan melalui isolasi S.typhi dari darah. Metode diagnosis
mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90% penderita yang
tidak diobati, kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Hasil ini menurun
13

drastis setelah pemakaian obat antibiotika, dimana hasil positip menjadi 40%.
Meskipun demikian kultur sum-sum tulang tetap memperlihatkan hasil yang tinggi
yaitu 90% positip. Pada minggu-minggu selanjutnya hasil kultur darah menurun,
tetapi kultur urin meningkat yaitu 85% dan 25% berturut-turut positip pada minggu
ke-3 dan ke-4. Pada Biakan yang dilakukan pada urin dan feses kemungkinan
keberhasilan lebih kecil. Organisme dalam tinja masih dapat ditemukan selama 3
bulan dari 90% penderita dan kira-kira 3% penderita tetap mengeluarkan kuman
Salmonella typhi dalam tinjanya untuk jangka waktu yang lama.16
3) Diagnosis serologik.
Uji Widal
Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam serum penderita
demam tifoid, pada orang yang pernah tertular Salmonella typhi dan pada orang yang
pernah mendapatkan vaksin demam tifoid. Antigen yang digunakan pada uij Widal
adalah suspensi Salmonella typhi yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Tujuan dari uji Widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum
penderita yang diduga menderita demam tifoid. Dari ketiga aglutinin (aglutinin O, H,
dan Vi), hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Semakin
tinggi titer aglutininnya, semakin besar pula kemungkinan didiagnosis sebagai
penderita demam tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer aglutinin akan meningkat pada
pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling sedikit 5 hari. Peningkatan
titer aglutinin empat kali lipat selama 2 sampai 3 minggu memastikan diagnosis
demam tifoid. Interpretasi hasil uji Widal adalah sebagai berikut: 16

Titer O yang tinggi ( > 160) menunjukkan adanya infeksi akut

Titer H yang tinggi ( > 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah
menderita infeksi

Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier.

Beberapa faktor yang mempengaruhi uji Widal antara lain : 16


1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Penderita

Keadaan umum gizi penderita: Gizi buruk dapat menghambat pembentukan


antibodi.
14

Waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit : Aglutinin baru dijumpai


dalam darah setelah penderita mengalami sakit selama satu minggu dan
mencapai puncaknya pada minggu kelima atau keenam sakit.

Pengobatan dini dengan antibiotic: Pemberian antibiotik dengan obat


antimikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.

Penyakit-penyakit tertentu : Pada beberapa penyakit yang menyertai demam


tifoid tidak terjadi pembentukan antibodi, misalnya pada penderita leukemia
dan karsinoma lanjut.

Pemakaian obat imunosupresif atau kortikosteroid dapat menghambat


pembentukan antibodi.

Vaksinasi : Pada orang yang divaksinasi demam tifoid, titer aglutinin O dan H
meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun,
sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun.
Oleh karena itu titer aglutinin H pada seseorang yang pernah divaksinasi
kurang mempunyai nilai diagnostik.

Infeksi klinis atau subklinis oleh Salmonella sebelumnya: Keadaan ini dapat
menyebabkan uji Widal positif, walaupun titer aglutininnya rendah. Di daerah
endemik demam tifoid dapat dijumpai aglutinin pada orang-orang yang sehat.

2. Faktor-faktor teknis
a. Aglutinasi silang
Karena beberapa spesies Salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang
sama, maka reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat juga menimbulkan reaksi
aglutinasi pada spesies lain. Oleh karena itu spesies Salmonella penyebab
infeksi tidak dapat ditentukan dengan uji widal.
b. Konsentrasi suspensi antigen
Konsentrasi suspensi antigen yang digunakan pada uji widal akan
mempengaruhi hasilnya.
c. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen. Daya aglutinasi
suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik daripada suspensi
antigen dari strain lain.

15

Uji Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)


a. Uji ELISA untuk melacak antibodi terhadap antigen Salmonella typhi

belakangan ini mulai dipakai. Prinsip dasar uji ELISA yang dipakai umumnya
uji ELISA tidak langsung. Antibodi yang dilacak dengan uji ELISA ini
tergantung dari jenis antigen yang dipakai. 16
b. Uji ELISA untuk melacak Salmonella typhi

Deteksi antigen spesifik dari Salmonella typhi dalam spesimen klinik (darah
atau urine) secara teoritis dapat menegakkan diagnosis demam tifoid secara
dini dan cepat. Uji ELISA yang sering dipakai untuk melacak adanya antigen
Salmonella typhi dalam spesimen klinis, yaitu double antibody sandwich
ELISA. 16
2.2.8. Diagnosis banding
Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis dapat
menjadi diagnosis bandingnya yaitu influenza, gastroenteritis, bronchitis, dan
bronkopneumonia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular
seperti tuberculosis, infeksi jamur sistemik, bruselosis, shigelosis dan malaria juga perlu
dipikirkan. Pada demam tifoid yang berat, sepsis, leukemia, limfoma, dan penyakit
Hodgkin dapat sebagai diagnosis banding.11, 12
2.2.9. Komplikasi
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu : 6
1) Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang
tidak membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga
penderita mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah
ditegakkan bila terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.6
b. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada
minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam
tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah

16

kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar keseluruh perut. Tanda perforasi
lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun, bahkan sampai syok. 6
2) Komplikasi Ekstraintestinal
a.

Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), miokarditis,


trombosis dan tromboflebitis.

b.

Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler


diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.

c.

Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis

d.

Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis

e.

Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis

f.

Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis

g.

Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer,


psikosis, dan sindrom katatonia.

2.2.10. Tatalaksana
Non Medika Mentosa
a)

Tirah baring
Seperti kebanyakan penyakit sistemik, istirahat sangat membantu. Pasien harus
diedukasi untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja sampai pemulihan.2,3,8,11

b)

Nutrisi
Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) rendah serat adalah
yang paling membantu dalam memenuhi nutrisi penderita namun tidak
memperburuk kondisi usus. Sebaiknya rendah selulosa (rendah serat) untuk
mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita demam tifoid, basanya
diklasifikasikan atas diet cair, bubur lunak, tim, dan nasi biasa.

c)

Cairan
Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun parenteral.
Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada komplikasi,
penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus mengandung elektrolit
dan kalori yang optimal. Kebutuhan kalori anak pada infus setara dengan kebutuhan
cairan rumatannya.

d)

Kompres air hangat


17

Mekanisme tubuh terhadap kompres hangat dalam upaya menurunkan suhu tubuh
yaitu dengan pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan
sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka
terhadap panas di hipotalamus dirangsang, sistem efektor mengeluarkan sinyal yang
memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah
diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah
pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya
vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/ kehilangan energi/ panas melalui kulit
meningkat (berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga
mencapai keadaan normal kembali. Hal ini sependapat dengan teori yang
dikemukakan oleh Aden (2010) bahwa tubuh memiliki pusat pengaturan suhu
(thermoregulator) di hipotalamus. Jika suhu tubuh meningkat, maka pusat
pengaturan suhu berusaha menurunkannya begitu juga sebaliknya. 11, 12, 15
Medika Mentosa
a)

Simptomatik
Panas yang merupakan gejala utama pada tifoid dapat diberi antipiretik. Bila
mungkin peroral sebaiknya diberikan yang paling aman dalam hal ini adalah
Paracetamol dengan dosis 10 mg/kg/kali minum, sedapat mungkin untuk
menghindari aspirin dan turunannya karena mempunyai efek mengiritasi saluran
cerna dengan keadaan saluran cerna yang masih rentan kemungkinan untuk
diperberat keadaannya sangatlah mungkin. Bila tidak mampu intake peroral dapat
diberikan via parenteral, obat yang masih dianjurkan adalah yang mengandung
Methamizole Na yaitu antrain atau Novalgin. 11, 12, 15

b)

Antibiotik
Antibiotik yang sering diberikan adalah : 11, 12, 15

Chloramphenicol, merupakan antibiotik pilihan pertama untuk infeksi tifoid


fever terutama di Indonesia. Dosis yang diberikan untuk anak- anak 50-100
mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis untuk pemberian intravena biasanya cukup
50 mg/kg/hari. Diberikan selama 10-14 hari atau sampai 7 hari setelah demam
turun. Pemberian Intra Muskuler tidak dianjurkan oleh karena hidrolisis ester
ini tidak dapat diramalkan dan tempat suntikan terasa nyeri.

Pada kasus
18

malnutrisi atau didapatkan infeksi sekunder pengobatan diperpanjang sampai


21 hari. Kelemahan dari antibiotik jenis ini adalah mudahnya terjadi relaps atau
kambuh, dan carier.

Cotrimoxazole, merupakan gabungan dari 2 jenis antibiotika trimetoprim dan


sulfametoxazole dengan perbandingan 1:5. Dosis Trimetoprim 10 mg/kg/hari
dan Sulfametoxzazole 50 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis. Untuk pemberian
secara syrup dosis yang diberikan untuk anak 4-5 mg/kg/kali minum sehari
diberi 2 kali selama 2 minggu. Efek samping dari pemberian antibiotika
golongan ini adalah terjadinya gangguan sistem hematologi seperti Anemia
megaloblastik, Leukopenia, dan granulositopenia. Dan pada beberapa Negara
antibiotika golongan ini sudah dilaporkan resisten.

Ampicillin dan Amoxicillin, memiliki kemampuan yang lebih rendah


dibandingkan dengan chloramphenicol dan cotrimoxazole. Namun untuk anakanak golongan obat ini cenderung lebih aman dan cukup efektif. Dosis yang
diberikan untuk anak 100-200 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis selama 2
minggu. Penurunan demam biasanya lebih lama dibandingkan dengan terapi
chloramphenicol.

Sefalosporin generasi ketiga (Ceftriaxone, Cefotaxim, Cefixime), merupakan


pilihan

ketiga

namun

efektifitasnya

setara

atau

bahkan

lebih

dari

Chloramphenicol dan Cotrimoxazole serta lebih sensitive terhadap Salmonella


typhi. Ceftriaxone merupakan prototipnya dengan dosis 50-100 mg/kg/hari
IVdibagi dalam 1-2 dosis (maksimal 4 gram/hari) selama 5-7 hari. Atau dapat
diberikan cefotaxim 150-200 mg/kg/hari dibagi dalam 3-4 dosis. Bila mampu
untuk sediaan Per oral dapat diberikan Cefixime 10-15 mg/kg/hari selama 10
hari.
Pada demam tifoid berat kasus berat seperti delirium, stupor, koma sampai
syok dapat diberikan kortikosteroid IV (dexametasone) 3 mg/kg dalam 30 menit
untuk dosis awal, dilanjutkan 1 mg/kg tiap 6 jam sampai 48 jam. 11, 12, 15.
Untuk demam tifoid dengan penyulit perdarahan usus kadang- kadang diperlukan
tranfusi darah. Sedangkan yang sudah terjadi perforasi harus segera dilakukan
laparotomi disertai penambahan antibiotika metronidazol.11, 12, 15
19

2.2.11. Pencegahan Demam Tifoid


Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap
sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer dapat dilakukan
dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang
dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu : 6
a.

Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum
selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindikasi
pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik . Lama
proteksi 5 tahun.

b.

Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K
vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol preserved).
Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 12 tahun 0,25 ml dan anak 1 5 tahun 0,1 ml
yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek samping adalah demam,
nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Kontraindikasi
demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.

c. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara


intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil,
menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun.
Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang yang terpapar
dengan penderita karier tifoid dan petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
Mengkonsumsi makanan sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan
pendidikan kesehatan untuk menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat dengan cara
budaya cuci tangan yang benar dengan memakai sabun, peningkatan higiene makanan
dan minuman berupa menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan
dan penyajian makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk
dimakan, dan perbaikan sanitasi lingkungan.
Pencegahan sekunder dapat berupa : 6
a. Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha surveilans

demam tifoid.

20

b. Perawatan umum dan nutrisi

Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinis jelas sebaiknya dirawat di rumah
sakit atau sarana kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan.Penderita yang dirawat
harus tirah baring dengan sempurna untuk mencegah komplikasi, terutama perdarahan
dan perforasi. Bila klinis berat, penderita harus istirahat total. Bila penyakit membaik,
maka dilakukan mobilisasi secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan
penderita. Nutrisi pada penderita demam tifoid dengan pemberian cairan dan diet.
Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun parenteral.
Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada komplikasi penurunan
kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang
optimal. Sedangkan diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya
rendah serat untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita tifoid
biasanya diklasifikasikan atas : diet cair, bubur lunak, tim dan nasi biasa.
c. Pemberian anti mikroba (antibiotik)

Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat. Kloramfenikol
masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga. Kekurangannya adalah
jangka waktu pemberiannya yang lama, serta cukup sering menimbulkan karier dan
relaps. Kloramfenikol tidak boleh diberikan pada wanita hamil, terutama pada
trimester III karena dapat menyebabkan partus prematur, serta janin mati dalam
kandungan. Oleh karena itu obat yang paling aman diberikan pada wanita hamil adalah
ampisilin atau amoksilin.
2.2.12. Prognosis
Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan
sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi. Di negara maju, dengan terapi antibiotik yang
adekuat, angka mortalitas <1%. Di negara berkembang, angka mortalitasnya >10%,
biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan, dan pengobatan. Munculnya
komplikasi, seperti perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningitis,
endokarditis, dan pneumonia, mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. 12, 15
Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu yang mengeluarkan S.ser. Typhi 3
bulan setelah infeksi umumnya menjadi karier kronis. Resiko menjadi karier pada anak

21

anak rendah dan meningkat sesuai usia. Karier kronik terjadi pada 1-5% dari seluruh
pasien demam tifoid.12, 15.

22

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS
Nama

: Tn. M

Umur

: 40 tahun

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Suku

: Sasak

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMK

Status

: Menikah

Alamat

: Karang Baru, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Lombok


Tengah

Tanggal Pemeriksaan

: 14 Juli 2014

3.2 Anamnesa
Keluhan utama : Demam
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Balai Pengobatan Dewasa Puskesmas Kediri dengan keluhan demam yang
dirasakan sejak sekitar 6 hari sebelumnya (tanggal 9 Juli 20140. Demam dirasakan sepanjang
hari, demam memberat mulai sore hari dan semakin tinggi pada malam hari, kemudian
demam turun pada pagi hari. Sejak 3 hari terkahir pasien sering menggigil pada malam hari.
Selain itu pasien mengeluhkan kepala pusing seperti berputar, dirasakan sepanjang hari,
muncul bersamaan dengan demam pasien. Pasien juga mengeluhkan seluruh tubuh terasa
lemah, pegal-pegal dan terkadang nyeri pada bagian uluh hati. Pasien tidak mengeluhkan
mual dan muntah. Nafsu makan pasien sedikit menurun. Keluhan batuk pilek maupun sesak
napas disangkal. BAK tidak ada keluhan, frekuensi sekitar 5-6 kali per hari, warna kuning
jernih, tidak terasa nyeri. Pasien mengeluhkan BAB-nya cair sejak 3 hari sebelum pasien
berobat, BAB cair 5-6x sehari, warna kekuningan, tidak disertai darah dan lendir.

23

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien pernah didiagnosa dengan demam Tifoid sekitar 20 tahun yang lalu. Pasien pernah
mendapatkan pengobatan TB selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh sekitar 20 tahun yang
lalu. Pasien tidak memiliki riwayat sesak, tekanan darah tinggi ataupun kencing manis.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan demam 6 hari seperti yang dikeluhkan
pasien. Tidak ada keluarga pasien yang memiliki riwayat sesak, tekanan darah tinggi ataupun
kencing manis.
Riwayat Pengobatan :
Pasien telah berobat ke IGD puskesmas Kediri pada tanggal 10 Juli 2014, diberikan obat
penurun panas dan obat untuk mengurangi keluhan pusing. Pasien diminta kontrol kembali
keesokan harinya untuk pemeriksaan laboratorium, namun pasien baru datang kembali pada
tanggal 14 Juli 2014 dengan membawa hasil laboratorium.
Riwayat Pribadi
-

Riwayat Nutrisi : Makanan pasien sehari-hari adalah masakan isteri pasien, dan pasien
sangat jarang membeli makanan di luar. Pasien mengaku bahwa
dirinya sering terlambat makan karena jadwal perkerjaan yang cukup
padat. Pasien dan keluarganya jarang menyimpan atau menyisakan
makanan, biasanya makanan yang ada dihabiskan untuk satu kali
waktu makan. Sebelum disantap biasanya makanan diletakkan di meja
makan dan ditutup dengan tudung saji atau disimpan pada lemari kaca
yang berada di ruang makan.
- Riwayat social, ekonomi, dan lingkungan

Pasien memiliki 1 orang isteri yang berusia 37 tahun dan memiliki 3 orang anak:
1. Laki-laki, usia 14 tahun, Pelajar.
2. Laki-laki, usia 9 tahun, pelajar.
3. Perempuan, usia 1 tahun 7 bulan.

Pasien tinggal dirumah bersama isterinya dan ketiga orang anak pasien di rumah
permanen.
24

Pasien bukan seorang perokok.

Pasien merupakan keluarga ekonomi menengah. Pasien adalah seorang juru masak di
Hotel dengan penghasilan rata-rata Rp. 5.000.000,- per bulan. Sedangkan isteri
pasien berjualan makanan ringan di kios kecil yang ada di rumah pasien, dengan ratarata penghasilan Rp. 2.000.000,- per bulan.

Untuk keperluan manci cuci kakus, serta keperluan untuk memasak, pasien
menggunakan air sumur timba yang telah dimodifikasi ditambahkan mesin penarik
air. Sumur terletak di belakang rumah, jarak sumur dari tempat pembuangan tinja
adalah 8 meter. Sumur tersebut memiliki mulut sumur dengan tinggi 70 cm dari
lantai dan diameter sumur 60 cm, kedalaman sumur dari permukaan sumur 5 meter.

Pasien mengaku selalu memasak air hingga mendidih untuk keperluan konsumsi
rumah tangga.

Pasien memiliki fasilitas kamar mandi yang berada di dalam rumah pasien. Di dalam
kamar mandi terdapat jamban jongkok.

Untuk memasak, keluarga pasien menggunakan kompor gas.

Pasien memiliki tempat pembuangan sampah di halaman samping rumah pasien,


sampah tersebut dibakar setiap 2-3 hari sekali.

25

Gambar 4. Denah Rumah Pasien


Keterangan
A

Kios

Ruang Tamu

Kamar I

Kamar II

WC

Dapur

Gudang II

Ruang Cuci

Ruang Keluarga

Kamar III

Teras Belakang

Sumur

Septitank

Berugak

26

3.3

Pemeriksaan Fisik
Kesan umum : Sedang
Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4V5M6

Vital Sign
TD

: 100/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit, isi dan tegangan kuat, irama teratur

Pernapasan

: 22 x/menit, teratur tipe torakoabdominal

Temperatur

: 38,9 oC

Status General :
Kepala dan Leher :
1.

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

2.

THT

: struktur normal, tidak nampak tanda radang

3.

Mulut

: Bibir sianosis (-), mulut normal, gigi geligi dalam batas normal.

4.

Leher

: Pembesaran KGB (-), kelenjar tiroid tidak membesar, leher simetris.

Thorax :

Inspeksi : Retraksi intercpasiental (-), pergerakan dinding dada simetris

Palpasi : Gerakan dinding dada simetris, fremitus vokal sama antara kiri dan kanan

Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru. Batas jantung tidak dievaluasi.

Auskultasi
Pulmo : Vesikuler (+/+) , Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Cor

: S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :

Inspeksi

: Massa (-), distensi (-), massa (-), skar (-)

Auskultasi

: BU (+) N

Perkusi

: Timpani

27

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (+) pada regio epigastrik, massa (-), hepar dan
lien tidak teraba

Anggota Gerak:

Akral hangat
Edema
Pucat
Pembengkakan Sendi
Tremor halus
Kekuatan motoric
Sensorik

Tungkai Atas
Kanan
Kiri
+
+
5
5
N
N

Tungkai Bawah
Kanan
Kiri
+
+
5
5
N
N

Kulit : tidak didapatkan kelainan


Urogenital : tidak didapatkan kelaian.
Vertebrae : tidak didapatkan kelainan

3.4

Diagnosa Banding
Demam Tifoid
Demam Dengue
Malaria

3.5

Pemeriksaan Penunjang
Leukosit
Hemoglobin
Trombosit
Malaria
Widal Slide

14 Juli 2014
5.000 /cmm
13,0 gr%
158.000
negatif
O = 1/320
H = 1/320
AH = (-)
BH = (-)

15 Juli 2014
4.500 /cmm
12,1 gr%
147.000
Negative
tidak dievaluasi

28

3.5

Diagnosis Kerja

Demam Tifoid

3.6

3.6

Rencana Terapi

Tirah baring

Diit lunak

IVFD Ringer Lactat 16 tpm

Cotrimoxazole Tab 480 mg, 2 x 2 Tablet

Paracetamol Tab 500 mg, 3 x 1 Tablet

Injeksi Ranitidin (IV), 1 Ampul per 12 jam

Prognosis
Bonam

3.7

KIE

Mengkonsumsi makanan yang dianjurkan pada pasien ini adalah makanan yang cukup
mengandung cairan, tinggi kalori dan tinggi protein serta rendah serat.

Menjaga kebersihan makanan, mengurangi kebiasaan makan dan minum di luar rumah
yang kebersihannya diragukan dan membiasakan mencuci tangan dengan sabun
sebelum makan dan menjaga kebersihan kuku

Edukasi kepada keluarga atau orang yang kontak dengan pasien diberikan penjelasan
mengenai rute tranmisi, gejala-gejala, dan cuci tangan yang efektif, terutama sekali
setelah BAB dan BAK, dan sebelum menyiapkan makanan atau makan.

29

BAB IV
PEMBAHASAN

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-faktor utama
yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup sehat yang
diperkenalkan oleh H. L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor genetik (keturunan), perilaku
(gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, fisik, politik) dan
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya). Berikut akan dijelaskan kondisi
penyakit yang dialami pasien berdasarkan paradigma hidup sehat Blum.
Faktor Biologis
. Keadaan malnutrisi, gizi kurang, atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi dan
lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga sehingga rentan terhadap penyakit
termasuk Demam tifoid. Daya tahan tubuh pasien dalam kondisi yang tidak baik karena pasien
kelelahan akibat waktu untuk bekerja yang mencapai lebih dari 12 jam dalam sehari. Kondisi ini
juga ditambah dengan pasien yang jarang mendapatkan istirahat saat berada di kantor. Asupan
nutrisi pasien juga kurang karena pasien sering lupa untuk mengkonsumsi makanan akibat
aktivitas yang sangat padat.
Faktor Perilaku
1. Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Sabun setelah Buang Air Besar dan sebelum
Makan
Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri atau virus patogen dari
tubuh, feses atau sumber lain ke makanan. Oleh karenanya kebersihan tangan dengan
mencuci tangan perlu mendapat prioritas tinggi, walaupun hal tersebut sering disepelekan.
Cuci tangan yang baik adalah dengan membilas tangan pada air yang mengalir dan
menggunakan sabun atau cairan antiseptik. Pada pasien dan keluarganya, kebiasaan mencuci
tangan ini sudah diterapkan, terutama cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar,
namun biasanya sebelum makan keluarga pasien hanya mencuci tangan dengan air yang
mengalir tanpa menggunakan sabun. Hal ini menjadi salah satu faktor resiko terjadinya
penularan infeksi Salmonella thypi, karena kurangnya higienitas tangan pasien.

30

2. Kebiasaan Makan di Luar Rumah


Secara umum, untuk memperkecil kemungkinan tercemar Salmonella thyphi, maka setiap
individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi.
Penularan tifus dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, biasanya terjadi melalui konsumsi
makanan di luar rumah atau di tempat-tempat umum, apabila makanan atau minuman yang
dikonsumsi kurang bersih. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh
seorang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak.
Pasien jarang makan di luar rumah, sekalipun saat pasien berada di tempat kerja. Pasien
biasanya mengkonsumsi makanan yang dimasak oleh isteri pasien. Sehingga menurut
penulis, sangat kecil kemungkinannya kebiasaan makan pasien ini menjadi salah satu faktor
resiko terjadinya demam Tifoid pada pasien.
3. Kebiasaan Mencuci Bahan Makanan Mentah yang Akan Dimakan Langsung
Penularan tifoid dapat terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari air
yang tercemar, buah-buahan, sayuran mentah yang dipupuk dengan kotoran. Bahan mentah
yang hendak dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu misalnya sayuran untuk lalapan,
hendaknya dicuci bersih dibawah air mengalir untuk mencegah resiko kontaminasi bahan
makanan oleh Salmonella typhi.
Pasien dan keluarganya sering mengkosumsi lalapan sayur, hampir setiap minggu keluarga
pasien mengkonsumsi lalapan sayur dengan sambal mentah. Menurut pasien sayuran dan
bahan untuk membuat sambal, terlebih dahulu pasien cuci pada air yang mengalir. Jadi
konsumsi makanan mentah ini masih memiliki kemungkinan kecil untuk menjadi faktor
resiko kontaminasi makanan oleh Salmonella typhi, mengingat sumber air bersih pasien
belum dapat dikatakan aman dari resiko pencemaran.
4. Kebiasaan Membersihkan Peralatan Makan dan Minum pada Rumah Tangga
Permukaan alat yang digunakan untuk menyimpan makanan harus dijaga agar selalu bersih
untuk menghindari kontaminasi makanan dari Salmonella typhi, sehingga peralatan makan
dan minum harus dicuci dengan sabun agar menjadi bersih.
Pasien selama ini selalu mencuci peralatan makannya dengan sabun, namun terkadang
peralatan makan pasien sering dibiarkan bertumpuk dalam keadaan kotor hingga lebih dari
sehari. Hal ini menjadi salah satu faktor resiko penyebab kontaminasi Salmonella typhi.

31

Gambar 5. Tumpukan peralatan makan dan minum kotor di rumah pasien


5. Kebiasaan Menyimpan Makanan
Makanan yang telah siap saji namun tidak langsung dimakan seharusnya disimpan pada
tempat penyimpanan makanan terolah yang bersih dan dalam keadaan tertutup untuk
melindung makanan dari serangga (lalat). Pada rumah pasien, makanan siap saji hanya
diletakkan dimeja atau lantai tanpa ditutup menggunakan tudung saji ataupun penutup
lainnya. Hal ini memperbesar kemungkinan hinggapnya lalat pada makanan dan
menyebabkan kontaminasi Salmonella typhi.

32

Gambar 6. Pasien meletakkan makanan di lantai tanpa penutup

6. Kebiasaan Memasak Air yang Akan Diminum


Salmonella typhi dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan beku, peka terhadap
proses klorinasi dan pasteurisasi pada suhu 63C. Organisme ini juga mampu bertahan
beberapa minggu di dalam air, es, debu, sampah kering dan pakaian, mampu bertahan di
sampah mentah selama satu minggu dan dapat bertahan dan berkembang biak dalam susu,
daging, telur atau produknya tanpa merubah warna atau bentuknya. Oleh sebab itu memasak
air yang akan diminum merupakan salah satu upaya penting untuk mencegah kolonisasi
Salmonella typhi pada air yang akan diminum.
Pasien menjelaskan bahwa air yang dikonsumsi pasien berasal dari sumur gali di rumah
pasien dan terlebih dahulu dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi sebagai air minum.

33

Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dianggap cukup berperan dalam proses penyebaran infeksi salmonella
typhi, terutama hal yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan.
1. Sarana air bersih
Sarana air bersih merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian
demam tifoid. Prinsip penularan demam tifoid adalah melalui fekal-oral. Kuman berasal dari
tinja atau urin penderita atau bahkan carrier (pembawa penyakit yang tidak sakit) yang
masuk ke dalam tubuh melalui air dan makanan. Pemakaian air minum yang tercemar kuman
secara massal sering bertanggung jawab terhadap terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB). Di
daerah endemik, air yang tercemar merupakan penyebab utama penularan penyakit demam
tifoid.17
Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber air bersih bagi penghuni
rumah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga perlu diperhatikan
dalam pendirian sarana air bersih. Apabila sarana air bersih dibuat memenuhi syarat teknis
kesehatan diharapkan tidak ada lagi pencemaran terhadap air bersih, maka kualitas air yang
diperoleh menjadi baik. Keluarga pasien menggunakan sarana air bersih berupa sumur gali.
Persyaratan kesehatan sarana air bersih untuk sumur gali adalah jarak sumur gali dari sumber
pencemar minimal 11 meter, lantai harus kedap air, tidak retak atau bocor, mudah
dibersihkan, tidak tergenang air, tinggi bibir sumur minimal 80 cm dari lantai, dibuat dari
bahan yang kuat dan kedap air, dibuat tutup yang mudah dibuat.18 Sumur gali yang terdapat
di rumah pasien merupakan sumur gali yang belum memenuhi persyaratan kesehatan sarana
air bersih, karena sumur gali yang terdapat pada rumah pasien memiliki tinggi bibir sumur
kurang dari 80 cm (tinggi bibir sumur gali 70 cm), jarak sumur gali dari sumber pencemar
kurang dari 11 meter (jarak ke sumber pencemar 7 meter), dan sumur gali pasien tidak
memiliki penutup. Sementara untuk konstruksi sumur gali, keluarga pasien memiliki sumur
dengan kontruksi yang baik, kedap air, lantai tidak tergenang air dan tidak ada dinding sumur
yang retak atau rusak.
Pada daerah di sekitar sumber air bersih pasien tidak ada sumber pencemar lain seperti
tempat pembuangan sampah dan limbah yang memungkinkan pencemaran air sumur di
rumah pasien.

34

Gambar 7. Sumber air bersih di rumah pasien (sumur gali)

2. Jamban
Jamban sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:18
a. Tidak mencemari sumber air bersih (jarak antara sumber air bersih dengan lubang
penampungan minimal 10 meter).
b. Tidak berbau.
c. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
d. Tidak mencemari tanah disekitarnya.
e. Mudah dibersihkan dan aman digunakan.
f. Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
g. Penerangan dan ventilasi yang cukup.
h. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
i. Tersedia air, sabun dan alat pembersih.
Pada rumah pasien terdapat jamban model leher angsa yang terdapat di dalam rumah serta
tertutup atap. Jamban di rumah pasien telah memenuhi persyaratan diatas, kecuali dalam hal
35

mencemari sumber air bersih, karena tempat penampungan jamban pasien berjarak 7 meter
dari sumur gali yang ada di rumah pasien. Kemungkinan proses penyebaran fekal-oral
penyakit tifoid di rumah pasien yang diperantarai oleh lalat sangat kecil, karena jamban
pasien selalu bersih dan rutin dibersihkan setiap seminggu sekali.

Gambar 8. Kamar mandi pasien

3. Hewan penyebar infeksi (Vektor infeksi)


Berbagai hama dan hewan peliharaan dapat menjadi vektor pembawa penyakit tifoid, Lalat,
semut, kecoa, dan hama serangga lain dapat memindahkan organisme dari sumber yang
tercemar organisme patogen ke dalam makanan. Penularan penyakit tifoid adalah melalui
tinja penderita. Tinja penderita yang dihinggapi kecoak, lalat atau semut, siap disebarkan ke
mana saja kecoak, lalat atau semut itu pergi. Kalau merayap di piring, pada makanan, kue,
sayuran dan lain-lain, bisa menular kepada orang lain, yang menggunakan piring atau
memakan makanan-makanan tersebut.
Pada kediaman pasien tidak ditemukan adanya inokulasi serangga seperti kecoak dan lalat.
Kondisi jamban pasien juga bersih tidak didapati serangga yang dapat menjadi vektor
36

penularan tifoid. Sehingga dianggap bahwa masalah vektor infeksi tifoid ini tidak berperan
penting dalam permasalah kesehatan pasien.

Faktor Pelayanan Kesehatan


Sepengetahuan penulis tidak ada program promotif dan preventif untuk kasus tifoid,
walaupun penyakit ini merupakan salah satu penyakit dari 10 penyakit yang angka kejadian
rawat inapnya cukup tinggi. Sehingga proses penyampaian informasi mengenai demam Tifoid
jarang diterima oleh masyarakat umum. Hal ini merupakan salah satu permasalahan yang
menyebabkan kurangnya pengetahuan pasien mengenai demam Tifoid dan mempengaruhi
keputusan pasien dalam mencari upaya kesehatan bagi diri pasien
Mutu pelayanan kesehatan Puskesmas Kediri memiliki obat-obatan yang cukup
memadai untuk penatalaksanaan demam Tifoid, mulai dari obat untuk terapi simptomatis dan
terapi antibiotika. Antibiotika seperti Amoksisilin, Kloramfenikol, Cotrimoxazole dan
Thiamfenikol telah tersedia di Puskesmas Kediri, dimana antibiotika ini merupakan obat yang
dipergunakan dalam penatalaksanaan demam Tifoid sesuai dengan buku Panduan Klinis di
Fasilitas Kesehatan Primer yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan. Sehingga untuk mutu
pelayanan ditinjau dari ketersediaan obat maka pelayanan kesehatan Puskesmas Kediri sudah
cukup baik. Acuan standar pelayanan demam Tifoid yang dipergunakan di Puskesmas Kediri
untuk kasus balita adalah MTBS tahun 2008, sedangkan untuk anak dan dewasa, penulis tidak
menemukan buku acuan yang dipergunakan. Namun penulis menemukan bahwa tatalaksana
yang diberikan pada pasien dengan demam Tifoid bergantung pada dokter Puskesmas yang
memberikan terapi. Seharusnya ada acuan jelas untuk penatalaksanaan demam Tifoid di
Puskesmas Kediri. Untuk penatalaksanaan demam Tifoid pada balita, acuan yang dipergunakan
merupakan acuan yang usianya cukup lama dan telah ada pembaharuan MTBS, sehingga
seharusnya Puskesmas Kediri menggunakan MTBS yang lebih baru untuk menjadi acuan
penatalaksanaan demam Tifoid balita.
Biaya pelayanan kesehatan di Puskesmas Kediri terjangkau untuk berbagai kalangan,
baik itu pasien umum dan terutama pasien Jamkesmas. Pasien umum hanya dikenai biaya 5.000
rupiah untuk rawat jalan. Pasien umum rawat inap di Puskesmas Kediri dikenai tarif 50.000
rupiah perhari nya, sedangkan untuk pasien Jamkesmas tidak di kenai biaya apapun. Pasien di

37

kasus ini memiliki kartu ASKES yang sudah dapat langsung digunakan sesuai sistem baru BPJS,
sehingga sebenarnya pasien tidak perlu repot untuk memikirkan biaya pengobatannnya.
Ketersediaan SDM di Puskesmas Kediri sudah cukup memadai, dengan tenaga
kesehatan baik di Poliklinik rawat jalan ataupun IGD sudah mengerti tentang didiagnosis dan
terapi awal untuk penyakit demam Tifoid.
Akses pasien ke Puskesmas kediri mudah, rumah pasien berjarak kurang lebih 3 km dari
puskesmas, pasien menggunakan motor pribadinya sebagai kendaraan.
.

38

39

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Tidak terdapat program terkait promotif dan preventif demam Tifoid di Puskesmas Kediri.
2. Permasalahan yang ada pada pasien adalah pada faktor biologis: imunitas; faktor perilaku:
kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan (pasien
mencuci tangan tanpa menggunakan sabun), kebiasaan membersihkan peralatan makan dan
minum pada rumah tangga (pasien sering menumpuk peralatan makan yang kotor hingga
lebih dari sehari), kebiasaan menyimpan makanan (pasien menyimpan makanan siap saji
tanpa menggunakan penutup makanan); dan pada faktor lingkungan: sarana air bersih
(sarana air bersih terkontaminasi pencemar).

Saran
Perlu dibuat program khusus untuk demam Tifoid di Puskesmas Kediri, yang terutama fokus
pada aspek promotif (misalnya: penyuluhan) dan preventif (misalnya: program perbaikan sanitasi
atau upaya imunisasi Tifoid).

40

KEPUSTAKAAN

1. World Health Organization [internet]. [unknown place]: World Health Organization;


2008,

[updated

2008

Jan

5th,

cited

2014

July

15th].

Available

from

www.who.int/immunization/topics/typhoid/en/index.html
2. American Public Health Association. Typhoid fever in: Control of Communicable
Diseases, An officialreport of the American public health association, 17th edition.
Washington DC: American Public Health Association; 2000.
3. Ashkenazy S, Cleary TG. Infeksi Salmonella dalam Buku Ilmu Kesehatan Anak Nelson.
Vol. II. 15th ed. Jakarta: EGC; 2000.
4. Depkes RI. Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Jakarta: Direktorat Jendral PP & PL;
2006.
5. Alladany N. Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Kesehatan terhadap kejadian
Demam Tifoid di kota Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro; 2010.
6. World Health Organitation. Background Document : The Diagnosis, Treatment And
Prevention Of Typhoid Fever, WHO/V&B/03.07. Geneva : World Health Organization;
2003.
7. Sumarmo, dkk. Infeksi & Penyakit Tropis. Jakarta: FKUI; 2002.
8. Tim Penyusun. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia; 2010.
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia;
2008.
10. Puskesmas Kediri. Profil Puskesmas Kediri 2013: 10 penyakit terbanyak rawat inap
puskesmas Kediri 2011 2013. Kediri-Lombok Barat: Puskesmas Kediri; 2013.
11. Tumbelaka AR. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics Update,
Edisi 1. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2003.
12. Soedarmo SS et al. Demam tifoid dalam Buku ajar infeksi & pediatri tropis, Ed. 2.
Jakarta : Badan Penerbit IDAI; 2008.
13. Vollaard AM et al. Risk factors for typhoid and paratyphoid fever in Jakarta, Indonesia.
JAMA. 2004; 291: 2607-15.
41

14. Zulkarnain I. Diagnosis demam tifoid dalam Buku panduan dan diskusi demam tifoid.
Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000.
15. Richard ES, Behrman RM, Ann MA. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, ed.15. Jakarta: EGC;
2000.
16. Michael E. Salmonella: A model for bacterial pathogenesis. Annu. Rev. Med. 2001; 52:
259-274.
17. Widoyono. Penyakit Tropis. Jakarta: Erlangga; 2011.
18. Nurvina WA. Hubungan antara sanitasi lingkungan, higiene perorangan, dan
karakteristik individu dengan kejadian demam tifoid di wilayah kerja Puskesmas
Kedungmundu Kota Semarang tahun 2012. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri
Semarang; 2013.

42