Anda di halaman 1dari 10

A.

B.
1.
2.
3.
4.
C.

D.
a.

b.

http://arsyaddel-real.blogspot.co.id/2013/03/hukum-bayi-tabung-dan-kloning.html
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Anak adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri, tak lengkap rasanya jikalau didalam
keluarga tidak mempunyai anak atau keturunan, dan seorang ibu pun belum sempurna menjadi
seorang ibu jikalau belum meminang seorang bayi. Takdir memanglah ditangan sang pencipta
akan tetapi jikalau kita tidak berusaha menjadi yang terbaik maka kita akan selamanya menjadi
tidak baik, maka syariat islam menganjurkan kita untuk Ikhtiar (berusaha) jikalau hasilnya kita
Tawakkal (berserah diri kepada Allah).
Di zaman modern ini dimana teknologi semakin canggih dari sesuatu yang tidak masuk akal
bisa dikerjakan dengan teknologi yang canggih bisa dilakukan berkat ilmu pengetahuan yang
semakin berkembang, didalam ilmu kedokteran pun jikalau sepasang suami istri tidak bisa
menghasilkan keturunan dengan bantuan teknologi maka hal itu bisa dibantu. Akan tetapi
didalam pelaksanaannya ternyata terdapat beberapa pendapat yang membolehkan dan juga
melarangnya dengan syarat-syarat tertentu. Maka dari itu penulis mencoba memaparkan
permasalahan tersebut menjadi sebuah Karya Tulis yang patut diperbincangkan.
Rumusan Masalah
Adapun pokok permasalahan dalam pembahasan ini sebagai berikut :
Apa itu Bayi Tabung dan Kloning ?
Bagaimana prosesnya?
Bagaimana Islam memandang itu semua?
Apa manfaat dan dampak yang akan terjadi?
Ruang Lingkup
Dalam makalah ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas pada materi kuliah
Masail Fiqiyyah. Pembahasan lebih dikhususkan pada masalah Proses Pelaksanaan dan
pandangan Islam tentang Bayi Tabung dan Kloning
Metode Penulisan Makalah
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan tugas ini, penulis menggunakan
metode sebagai berikut :
Metode Studi Pustaka
Metode yang dilakukan dengan membaca buku-buku serta referensi-referensi yang berkaitan
dengan masalah yang dibahas dalam tugas ini. Penulis membaca beberapa buku yang berkaitan
dengan bahasan penulis.
Metode Browsing Internet, yaitu metode yang dilakukan dengan mencari referensi-referensi
yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam tugas ini di internet.
BAB II
PEMBAHASAN
BAYI TABUNG DAN KLONING

A. Pengertian Bayi Tabung


Bayi tabung atau pembuahan in vitro adalah sebuah teknik pembuahan yang sel telur (ovum)
dibuahi di luar tubuh wanita. Ini merupakan salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan
ketika metode lainnya tidak berhasil.
B. Proses Bayi Tabung

Proses bayi tabung adalah proses dimana sel telur wanita dan sel sperma pria diambil untuk
menjalani proses pembuahan. Proses pembuahan sperma dengan ovum dipertemukan di luar
kandungan pada satu tabung yang dirancang secara khusus. Setelah terjadi pembuahan lalu menjadi
zygot kemudian dimasukkan ke dalam rahim sampai dilahirkan.[1]
C. Hukum bayi tabung menurut pandangan islam
Masalah tentang bayi tabung ini memunculkan banyak pendapat, boleh atau tidak? Misalnya
Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan
sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514 tanggal 1 September
1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam sidangnya di Amman tahun
1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor atau ovum, dan membolehkan pembuahan
buatan dengan sel sperma suami dan ovum dari isteri sendiri.[2]
a)

Pengambilan sel telur


Pengambilan sel telur dilakukan dengan dua cara, cara pertama : indung telur di pegang
dengan penjepit dan dilakukan pengisapan. Cairan folikel yang berisi sel telur di periksa di
mikroskop untuk ditemukan sel telur. Sedangkan cara kedua ( USG) folikel yang tampak di layar
ditusuk dengan jarum melalui vagina kemudian dilakukan pengisapan folikel yang berisi sel telur
seperti pengisapan laparoskopi.
pendapat ulama
Yusuf Qardawi mengatakan dalam keadaan darurat atau hajat melihat atau memegang aurat
diperbolehkan dengan syarat keamanan dan nafsu dapat dijaga. Hal ini sejalan dengan kaidah ushul
fiqih:

" [3 ]"

Kebutuhan yang sangat penting itu diperlakukan seperti keadaan terpaksa


( darurat). Dan keadaan darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang.
Menurut penulis, keadaan seperti ini disebut keadaan darurat dimana seseorang boleh melihat dan
memegang aurat wanita. Karena belum ditemukan cara yang lain. Ini semata-mata hanya untuk
kepantingan medis yang tidak menimbulkan rangsangan.
b)

Pengambilan sel sperma


Untuk mendapatkan sperma laki- laki dapat ditempuh dengan cara :
Istimna ( onani)
Azl ( senggama terputus)
Dihisap dari pelir ( testis)
Jima dengan memakai kondom
Sperma yang ditumpahkan kedalam vaginayang disedot tepat dengan spuit
Sperma mimpi malam[4]

Diantara kelima cara diatas, cara yang dipandang baik adalah dengan cara onani
( mastrubasi) yang dilakukan di rumah sakit.
Pendapat para ulama :
Ulama Malikiyah, Syafiiyah, Zaidiyah, mengharamkan secara multak berdasarkan Al-Quran surat
Al- Muminun ayat 5-7, dimana Allah telah memerintahkan manusia untuk menjaga kehormatan
kelamin dalam setiap keadaan, kecuali terhadap istri dan budak.
Ulama Hanabilah mengharamkan onani, kecuali khawatir berbuat zina atau terganggu kesehatannya,
sedang ia tidak punya istri atau tidak mampu kawin. Yusuf Qardawi juga sependapat dengan ulama
Hanabilah.
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa istimna pada prinsipnya diharamkan, namun istimna
diperbolehkan dalam keadaan tertentu bahkan wajib, jika dikhawatirkan jatuh kepada perbuatan
zina. Hal ini didasari oleh kaidah ushul adalah:

Menghindari madarat (bahaya) harus didahulukan atas mencari/menarik


maslahah/kebaikan[5]

Ada 2 hal yang menyebutkan bahwa bayi tabung itu halal, yaitu:
Sperma tersebut diambil dari si suami dan indung telurnya diambil dari istrinya kemudian
disemaikan dan dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.
Sperma si suami diambil kemudian di suntikkan ke dalam saluran rahim istrinya atau langsung ke
dalam rahim istrinya untuk disemaikan.
Hal tersebut dibolehkan asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi
buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan.
Sebaliknya, Ada 5 hal yang membuat bayi tabung menjadi haram yaitu:
Sperma yang diambil dari pihak laki-laki disemaikan kepada indung telur pihak wanita yang bukan
istrinya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.
Indung telur yang diambil dari pihak wanita disemaikan kepada sperma yang diambil dari pihak
lelaki yang bukan suaminya kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si wanita.
Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari sepasang suami istri, kemudian
dicangkokkan ke dalam rahim wanita lain yang bersedia mengandung persemaian benih mereka
tersebut.
Sperma dan indung telur yang disemaikan berasal dari lelaki dan wanita lain kemudian dicangkokkan
ke dalam rahim si istri.
Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari seorang suami dan istrinya,
kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istrinya yang lain.[6]

Jumhur ulama menghukuminya haram. Karena sama hukumnya dengan zina yang akan
mencampur adukkan nashab dan sebagai akibat, hukumnya anak tersebut tidak sah dan nasabnya
hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Sesuai firman Allah dalam surat (At-Tiin: 4)
adalah:

s)s9 $uZ)n=y{ z`|SM}$# `|mr& 5Oq)s?


Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya
Al-Quran Surat Al-Isra ayat 70 :

s)s9ur $oYBx. _t/ tPy#u NgoY=uHxqur *


hy99$#
st79$#ur
NgoY%yuur
iB
Mt7h9$# OguZ=sur 4n?t 9V2 `JiB
$oY)n=yz Wxs?
Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Dan hadist Rasululloh Saw:

( )

Tidak boleh orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyirami air spermanya kepada
tanaman orang lain ( vagina perempuan bukan istrinya). HR. Abu Daud At- Tarmidzi yang
dipandang shahih oleh Ibnu Hibban.[7]

BAYI KLONING
A. Pengertian Kloning
Kloning berasal dari bahasa Yunani, yaitu klon atau twig yang didefinisikan sebagai
proses menciptakan suatu kopi makhluk hidup yang identik secara genetik dengan
tetuanya/aslinya/orisinalnya.[8]
Pada saat ini dikenal dua macam kloning melalui DNA sel dewasa, yaitu:
a. Teknik Roslin yang diperkenalkan oleh Ian Wilmut dari Institut Roslin di Skotlandia untuk
mengkonstruksi domba dolly.
b. Teknik Honolulu yang dikembangkan oleh kelompok peneliti kloning mencit di Universitas
Hawai.
Pada konstruksi domba dolly, satu sel kambing diambil dari domba yang berumur 6 tahun
(domba A), lalu sel ini difusikan (digabungkan) dengan sel telur domba lain (domba B) yang inti
selnya telah dibuang. Proses penggabungan ini dibantu oleh sengatan listrik, hingga terbentuk

fusi antara sel telur tanpa nukleus dengan sel kambing, lalu diproses dengan membelah
(menggandakan), lalu ditanam dalam uterus domba lain. Maka secara teoritis hal yang sama, bisa
dipraktekkan pada manusia, untuk melakukan kloning; yaitu hasil reproduksi manusia tanpa
hubungan seks antara laki-laki dengan perempuan (reproduksi aseksual), dengan jumlah
kelahiran yang dikehendaki.
Teori ilmiah mengatakan, bahwa proses kelahiran (reproduksi) manusia berdasarkan
persenyawaan gen laki-laki dengan gen perempuan. Bila yang dominan adalah gen laki-laki,
yang akan lahir adalah jenis laki-laki, dan begitu juga sebaliknya. Lalu setiap jenis kelamin,
selalu ada padanya gen laki-laki maupun perempuan. [9]
Kloning (klonasi) adalah tekhnik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama
dengan induknya pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun manusia.
Kloning manusia adalah tekhnik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama
dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel
tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan
selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita-yang telah dihilangkan inti selnya- dengan
suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inseminasi buatan. Dengan metode
semacam itu, kloning manusia dilaksankan dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang,
lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang di ambil dari seorang perempuan. Lalu dengan bantuan
cairan kimiawi khusus dan kejutan arus listrik, inti sel digabungkan dengan sel telur. Setelah
proses penggabungan ini terjadi, sel telur yang telah bercampur dengan inti sel tersebut di
transfer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbanyak diri, berkembang,
berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu keturunan yang dihasilkan
dapat dilahirkan secara alami. Keturunan ini akan berkode genetik sama dengan induknya, yakni
orang yang menjadi sumber inti sel tubuh yang telah ditanamkan pada sel telur perempuan. [10]
Pembuahan dan inseminasi buatan dalam proses kloning manusia terjadi pada sel-sel
tubuh manusia (sel somatik), bukan sel-sel kelaminnya. Seperti diketahui, dalam tubuh manusia
terdapat milyaran bahkan trilyunan sel. Dalam setiap sel terdapat 46 kromosom (materi genetik
yang mengandung seluruh sifat yang diturunkan pada manusia), kecuali sel-sel kelamin yang
terdapat dalam buah zakar (testis) laki-laki dan dalam indung telur (ovary) perempuan. Sel-sel
kelamin ini mengandung 23 kromosom, yaitu setengah dari jumlah kromosom pada sel-sel
tubuh.
Pada pembuahan alami, sel sperma laki-laki yang mengandung 23 kromosom bertemu
dengan sel telur perempuan yang juga mengandung 23 kromosom. Pada saat terjadi pembuahan
antara sel sperma dengan sel telur, jumlah kromosom akan menjadi 46 buah, yakni setengahnya
berasal dari laki-laki dan setengahnya lagi berasal dari perempuan. Jadi anak yang dilahirkan
akan mempunyai ciri-ciri yang berasal dari kedua induknya baik yang laki-laki maupun yang
perempuan.
Adapun dalam proses kloning manusia, sel yang diambil dari tubuh seseorang telah
mengandung 46 buah kromosom, atau telah mengandung seluruh sifat-sifat yang akan
diwariskan yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, anak yang dihasilkan dari proses kloning
ini akan mempunyai ciri-ciri hanya dari orang yang menjadi sumber pengambilan inti sel tubuh.
Anak tersebut merupakan keturunan yang berkode genetik sama persis dengan induknya, yang
dapat diumpamakan dengan hasil fotocopy selembar kertas pada mesin fotocopy kilat yang
berwarna; yakni berupa selembar gambar yang sama persis dengan gambar aslinya tanpa ada
perubahan sedikitpun.

Proses pembuahan yang alamiah tidak akan dapat berlangsung kecuali dengan adanya
laki-laki dan perempuan, dan dengan adanya sel-sel kelamin.
Sedangkan proses kloning manusia dapat berlangsung dengan adanya laki-laki atau tanpa
adanya laki-laki, dan terjadi pada sel-sel tubuh, bukan sel-sel kelamin. Proses ini dapat terlaksana
dengan cara mengambil sel tubuh seorang perempuan-dalam kondisi tanpa adanya laki-lakikemudian diambil inti selnya yang mengandung 46 kromosom, atau dengan kata lain diambil inti
sel yang mengandung seluruh sifat yang akan diwariskan. Inti sel ini kemudian ditanamkan
dalam sel telur perempuan yang telah dibuang inti selnya. Selanjutnya, sel telur ini dipindahkan
ke dalam rahim seorang perempuan setelah terjadi proses penggabungan antara inti sel tubuh
dengan sel telur yang telah dibuang inti selnya tadi.
Dengan penanaman sel telur ke dalam rahim perempuan ini, sel telur tadi akan mulai
memperbanyak diri, berkembang, berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin. Janin ini akan
menjadi sempurna dan akhirnya dilahirkan ke dunia. Anak yang dilahirkan merupakan keturunan
dengan kode genetik yang persis sama dengan perempuan yang menjadi sumber asal
pengambilan sel tubuh, dengan demikian, proses kloning dalam kondisi seperti ini dapat
berlangsung sempurna pada seluruh tahapnya tanpa perlu adanya seorang laki-laki.
Proses pewarisan sifat pada pembuahan alami akan terjadi dari pihak ayah dan ibu. Oleh
karena itu, anak-anak mereka tidak akan mempunyai corak yang sama. Dan kemiripan di antara
anak-anak, ayah dan saudara-saudara laki-lakinya, ibu dan saudara-saudara perempuannya,
begitu pula kemiripan di antara sesama saudara kandung, akan tetap menunjukkan nuansa
perbedaan dalam penampilan fisiknya, misalnya dari segi warna kulit, tinggi, dan lebar badan.
Begitu pula mereka akan berbeda-beda dari segi potensi-potensi akal dan kejiwaan yang sifatnya
asli (bukan hasil usaha).[11]
Prestasi ilmu pengetahuan yang sampai pada penemuan proses kloning, sesungguhnya
telah menyingkapkan sebuah hukum alam yang ditetapkan Allah Swt pada sel-sel tubuh manusia
dan hewan, karena proses kloning telah menyingkap fakta bahwa pada sel tubuh manusia dan
hewan terdapat potensi menghasilkan keturunan, jika inti sel tubuh tersebut ditanamkan pada sel
telur perempuan yang telah dihilangkan inti selnya. Jadi, sifat inti sel tubuh itu tak ubahnya
seperti sel sperma laki-laki yang dapat membuahi sel telur perempuan. [12]
B. Manfaat Kloning
Teknologi kloning diharapkan dapat memberi manfaat kepada manusia, khususnya di
bidang medis. Beberapa di antara keuntungan terapeutik dari teknologi kloning dapat diringkas
sebagai berikut:
1. Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan tidak subur untuk mendapatkan anak.
2. Organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dimanfaatkan sebagai organ pengganti bagi
pemilik sel organ itu sendiri, sehingga dapat meminimalisir risiko penolakan.
3. Sel-sel dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringan-jaringan tubuh yang
rusak, misalnya urat syaraf dan jaringan otot. Kemungkinan bahwa kelak manusia dapat
mengganti jaringan tubuhnya yang terkena penyakit dengan jaringan tubuh embrio hasil kloning,
atau mengganti organ tubuhnya yang rusak dengan organ tubuh manusia hasil kloning. Di
kemudian hari akan ada kemungkinan tumbuh pasar jual-beli embrio dan sel-sel hasil kloning.
4. Teknologi kloning memungkinkan para ilmuan medis untuk menghidupkan dan mematikan selsel. Dengan demikian, teknologi ini dapat digunakan untuk mengatasi kanker. Di samping itu,
ada sebuah optimisme bahwa kelak kita dapat menghambat proses penuaan berkat apa yang kita
pelajari dari kloning.

5. Teknologi kloning memungkinkan dilakukan pengujian dan penyembuhan penyakit-penyakit


keturunan. Dengan teknologi kloning, kelak dapat membantu manusia dalam menemukan obat
kanker, menghentikan serangan jantung, dan membuat tulang, lemak, jaringan penyambung, atau
tulang rawan yang cocok dengan tubuh pasien untuk tujuan bedah penyembuhan dan bedah
kecantikan.
C. Dampak Kloning
Perdebatan tentang kloning dikalangan ilmuwan barat terus terjadi, bahkan dalam hal kloning
binatang sekalipun, apalagi dalam hal kloning manusia. Kelompok kontra kloning diwakili oleh
George Annos (seorang pengacara kesehatan di universitas Boston) dan pdt. Russel E. Saltzman
(pendeta gereja lutheran). menurut George Annos, kloning akan memiliki dampak buruk bagi
kehidupan, antara lain :
Merusak peradaban manusia.
Memperlakukan manusia sebagai objek.
Jika kloning dilakukan manusia seolah seperti barang mekanis yang bisa dicetak semaunya oleh
pemilik modal. Hal ini akan mereduksi nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia hasil
kloning.
Kloning akan menimbulkan perasaan dominasi dari suatu kelompok tertentu terhadap kelompok
lain. Kloning biasanya dilakukan pada manusia unggulan yang memiliki keistimewaan dibidang
tertentu. Tidak mungkin kloning dilakukan pada manusia awam yang tidak memiliki
keistimewaan. Misalnya kloning Einstein, kloning Beethoven maupun tokoh-tokoh yang lain.
Hal ini akan menimbulkan perasaan dominasi oleh manusia hasil kloning tersebut sehingga
bukan suatu kemustahilan ketika manusia hasil kloning malah menguasai manusia sebenarnya
karena keunggulan mereka dalam berbagai bidang. [13]
D. Hukum Kloning dalam perspektif hukum Islam
Kloning terhadap tumbuh-tumbuhan atau hewan asalkan memiliki daya guna
(bermanfaat) bagi kehidupan manusia maka hukumnya mubah/halal. Hal ini didasarkan pada
prinsip bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan untuk kesejahteraan manusia,
kloning terhadap hewan atau tumbuhan jika memiliki daya guna bagi kehidupan manusia maka
hukumnya mubah/boleh dalilnya : Q.S. Al-Baqoroh:29.
uqd %!$# Yn=y{ N3s9 $B F{$# $YJy_ NO
#uqtG$# n<) !$yJ9$# `g1q|s y7y ;NuqyJy 4 uqdur
e@3/ >x L=t
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu.
Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan beberapa ulama dapat di ketahui
mafsadat dari kloning lebih banyak daripada maslahatnya. oleh karna itu, praktek kloning
manusia bertentangan dengan hukum Islam dengan demikian kloning manusia dalam islam
hukumnya haram. Dalil-dalil keharaman.: Q.S. An-Najm:45-46.

mRr&ur

t,n=y{
y_r9$#
tx.%!$#
4s\RW{$#ur `B >pxR #s) 4o_J?

45. Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.
46. Dari air mani, apabila dipancarkan.

Disini menyatakan bahwa logika syariat Islam dengan nash-nashnya yang mutlak,
kaidah-kaidahnya yang menyeluruh, dan berbagai tujuan umumnya, melarang praktik kloning
pada manusia. Karena jika kloning ini dilakukan pada manusia, maka akan mengakibatkan
berbagai kerusakan sebagai berikut.
1. Hilangnya hukum variasi di alam raya.
2. Kerancuan hubungan antara orang yang di kloning dengan orang hasil kloningannya.
3. Kemungkinan kerusakan lainnya seperti terjangkit penyakit.
4. Kloning bertentangan dengan sunnah untuk berpasang-pasangan.
Untuk menyikapi berbagai macam masalah mengenai kloning manusia, bisa memakai
pertimbangan, sebagai berikut:
Pertimbangan Teologi
Dalam hal ini al-Quran megisyaratkan adanya intervensi manusia didalam proses
produksi manusia.Sebagaimana termaktub dalam firmanNya Q.S.al-Mukminun ayat 13-14 :
13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim).
14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Ayat ini mengisyaratkan unsur manusia ada tiga yaitu; unsur jasad (jasadiyah), unsur
nyawa (nafs), dan Unsur ruh (ruh). Bahwa asal penciptaan Manusia (Adam) dari Tanah. Pada
manusia biasa melalui proses reproduksi yaitu memerlukan laki-laki dan perempuan, namun jika
dilihat kembali proses kloning yang tidak lagi membutuhkan laki-laki dan perempuan untuk
menciptakan suatu generasi baru, maka hal ini sangat bertentangan dengan ayat tersbut diatas.

Pertimbangan Etika
Dari sudut pertimbangan moral bahwa berbagai macam riset atau penelitian hendaknya
selalu dikaitkan dengan Tuhan, karena riset dengan tujuan apapun tanpa dikaitkan dengan Tuhan
tentu akan menimbulkan resiko, meskipun manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah,
namun dalam mengekpresikan dan mengaktualisasikan kebesaran kreatifitasnya tersebut
seyogyanya tetap mengacu pada pertimbangan moral dalam agama.

Pertimbangan Hukum
Dari beragam pertimbangan mungkin pertimbangan hokum inilah yang secara tegas
memberikan putusan, khususnya dari para ulama fiqh yang akan menolak mengenai praktek
kloning manusia selain memakai dua landasan pertimbangan di atas. Larangan ini muncul karena
alasan adanya kekhawatiran tingginya frekuensi mutasi pada gen produk kloning sehingga akan
menimbulkan efek buruk pada kemudian hari dari segi pembiayaan yang sangat mahal dan juga
dari sudut pandang ushul fiqh bahwa jika sesuatu itu lebih banyak madharat-nya dari pada
manfaatnya maka sesuatu itu perlu ditolak. Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama
tentang kloning manusia diantaranya; Muhammad Quraish Shihab mengatakan, tidak pernah
memisahkan ketetapan-ketetapan hukumnya dari moral sehingga dalam kasus kloning walaupun
dalam segi aqidah tidak melanggar wilayah qodrat Illahi, namun karena dari moral teknologi
kloning dapat mengantar kepada perpecahan manusia karena larangan lahir dari aspek ini.
Munawar Ahmad Anas mengatakan bahwa paradigma al-Quran menolak kloning seluruh siklus

kehidupan mulai dari kehidupan hingga kematian, adalah tindakan Illahiyah. Manusia adalah
agen yang diberi amanah oleh Tuhan, karena itu penggandaan manusia semata-mata tak
diperlukan (suatu tindakan yang mubadzir). [14]

BAB III
SIMPULAN
A.

Kesimpulan
Menurut penulis, bayi tabung dibolehkan jika sel telur dan sperma
berasal dari pasangan suami dan isteri yang sah serta setelah pembuahan
diluar rahim tersebut berhasil, maka sel hasil pembuahan tersebut
dimasukan kembali kedalam rahim isteri yang sah. apabila salah satu sel
(telur atau sperma) bukan berasal dari pasangan suami isteri yang sah maka
itu diharamkan.
Sedangkan didalam kloning itu tidak diperbolehkan karena hilangnya
hukum variasi di alam raya, Kerancuan hubungan antara orang yang di kloning dengan orang
hasil kloningannya, Kemungkinan kerusakan lainnya seperti terjangkit penyakit dan Kloning
bertentangan dengan sunnah untuk berpasang-pasangan.

B.

Kritik dan Saran


Demikian pemaparan materi dari kami, Semoga Allah SWT berkenan
menerima usaha mulia ini sebagai pedoman yang dapat mengantarkan para
generasi muda Islam kepada jalan hidup yang lurus. Namun tak lupa kami
mengharapkan subangsi kritik dan saran kepada pembaca apabila didalam
kajian ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Semoga segala aktivitas kita
mendapatkan ridho dari Allah SWT. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Karim
http://blog.uin-malang.ac.id/rizkialfajri/2010/08/27/kloning-dalam-perspektif-islam/
http://dolite.blogspot.com/2009/11/hukum-kloning-dalam-perspektif-agama.html
http://keperawatanreligionirinegemasari.wordpress.com/
Kutubut Tisah
Mahjudin. 2010. Masailul Fiqhiyah, Surabaya: Kalam Mulia
Maslani, Hasbiyallah. 2012, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah. Bandung: Sega Arsy
Zuhdi, Masjfuk.,1997. Masail Fiqhiyah, Jakarta: PT. Toko Gunung Agung

[1] http://keperawatanreligionirinegemasari.wordpress.com/24/02/2013
[2] Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyyah, (Jakarta: PT.Toko Gunung Agung:1997) hlm.20
[3] Abdul Hamid Hakim, Mabadiul Awwaliyah, (Jakarta: Saadiyah Fitra: 1996) hlm 33
[4] http://keperawatanreligionirinegemasari.wordpress.com/24/02/2013
[5] Masjfuk Zuhdi, Op.cit. halm 25
[6] Ibid, hlm 25
[7] CD. Kutubuttisah, HR. Abu Daud
[8] H. Hasbiyallah, H. Maslani, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah (Bandung, Sega Arsy, 2012)

Cetakan ke-III. hlm. 171


[9] H. Mahjudin, Masailul Fiqhiyah (Jakarta, Kalam Mulia, 2010) Cetakan ke-VIII. hlm. 9
[10] H. Hasbiyallah, H. Maslani.,op.cit, hlm. 172
[11] Ibid., hlm. 174
[12] Ibid.,
[13] http://blog.uin-malang.ac.id/rizkialfajri/2010/08/27/kloning-dalam-perspektif-islam/
[14] http://dolite.blogspot.com/2009/11/hukum-kloning-dalam-perspektif-agama.html