Anda di halaman 1dari 196

LAMPIRAN

PERATURAN DAERAH KOTA PADANG


NOMOR
TAHUN 2014
TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH DAERAH TAHUN 2014-2019

PEMERINTAH KOTA PADANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH


DAERAH TAHUN 2014-2019

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA)


TAHUN 2014

WALIKOTA PADANG
PROPINSI SUMATERA BARAT
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA PADANG
NOMOR
TAHUN 2014
TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH
TAHUN 2014 - 2019
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA PADANG,
Menimbang :

a. bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun


2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, daerah diwajibkan menyusun
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah;
b. bahwa berdasarkan Pasal 264 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka
dokumen perencanaan pembangunan daerah sebagaimana
dimaksud pada huruf a ditetapkan dengan Peraturan
Daerah;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan
Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Tahun 2014 2019;

Mengingat :

1. Undang-UndangNomor 9 Tahun 1956 tentang Pembentukan


Daerah Otonom Kota Besar Dalam Lingkungan Daerah
Propinsi Sumatera Tengah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1956 Nomor 20);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4286);
3. Undang-Undang
Nomor
1
Tahun
2004
tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

4. Undang-Undang
Nomor
15
Tahun
2004
tentang
Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4410);
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
6. UndangUndang
Nomor
33
Tahun
2004
tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);
7. UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4725);
8. Undang-Undang
Nomor
12
Tahun
2011
tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5234);
9. Undang-Undang
Nomor
23
Tahun
2014
tentang
Pemerintahan
Daerah
(Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor
2 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5589);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1980 tentang
Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II
Padang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3164);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia
Tahun
2005
Nomor
140,
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata
Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4663);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang


Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang
Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4817);
16. Peraturan Bersama, Menteri Dalam Negeri, Menteri
Perencanaan Pembangunan nasional/ Kepala Badan
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
dan
Menteri
Keuangan, Nomor : 28 Tahun 2010, Nomor :
0199/MPPN//04/2010, Nomor : PMK 95/PMK 07/2010,
tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD), dengan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun
2008
tentang
Tahapan,
Tata
Cara
Penyusunan,
Pengendalian
dan
Evaluasi
pelaksanaan
Rencana
Pembangunan Daerah;
18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014
tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;
19. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun
2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2025;
20. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 5 Tahun
2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010-2015
(Lembaran Daerah Propinsi Sumatera Barat Tahun 2011
Nomor 5) sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 4 Tahun
2014 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Propinsi
Sumatera Barat Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Propinsi Sumatera
Barat (Lembaran Daerah Propinsi Sumatera Barat Tahun
2014 Nomor 54);

21. Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 17 Tahun 2008


tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja
Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Lembaga Teknis Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2008
Nomor 17) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Daerah Kota Padang Nomor 15 Tahun 2012 (Lembaran
Daerah Tahun 2012 Nomor 15);
22. Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 13
Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah
propinsi Sumatera Barat Tahun 2012-2032 (Lembaran
Daerah Propinsi Sumatera Barat Tahun 2012 Nomor 13);
23. Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 18 Tahun 2004
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Kota Padang Tahun 2004 2020 (Lembaran Daerah Tahun
2004 Nomor 18);
24. Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 4 Tahun 2012
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang Tahun
20102030 (Lembaran Daerah Tahun 2012 Nomor 4).

DENGAN PERSETUJUAN BERSAMA


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PADANG
dan
WALIKOTA PADANG
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

: PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN


JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2014-2019
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:


1. Daerah adalah Kota Padang.
2. Walikota adalah Walikota Padang.
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kota Padang.
4. Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.

5. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah yang selanjutnya disingkat


RPJPD adalah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Padang
Tahun 20042020.
6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya
disingkat RPJMD adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Kota Padang Tahun 20142019.
7. Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD adalah
Rencana Kerja Pemerintah yang disusun setiap tahun sekali.
8. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Propinsi Sumatera Barat
yang selanjutnya disebut RPJMD Propinsi Sumatera Barat adalah Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Propinsi Sumatera Barat Tahun
20102015.
9. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang selanjutnya
disingkat RPJMN adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
20102014.
10. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah
Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang.
11. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD
adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Padang.
BAB II
KEDUDUKAN
Pasal 2
(1) RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Walikota hasil
Pemilihan Umum Kepala Daerah tahun 2014.
(2) RPJMD berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
Kota Padang Tahun 2004-2020, dan memperhatikan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 serta Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Provinsi Sumatera Barat 2010-2015.
BAB III
MAKSUD, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP
Bagian Kesatu
Maksud
Pasal 3
Maksud RPJMD Tahun 2014-2019 adalah untuk memberikan arah dan pedoman
bagi pelaku pembangunan (pemerintah, swasta dan masyarakat) dalam
melakukan kegiatan pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat Kota Padang yang dijabarkan dari visi, misi dan program Walikota
dan Wakil Walikota hasil pemilihan umum kepala daerah yang telah
dilaksanakan secara langsung pada tahun 2014.

Bagian Kedua
Tujuan
Pasal 4
Tujuan RPJMD Tahun 2014-2019 adalah sebagai :
a. untuk menetapkan strategi dan kebijakan umum pembangunan daerah serta
merumuskan program pembangunan selama lima tahun kedepan agar
mekanisme perencanaan dan pembangunan daerah dapat berjalan lancar,
terpadu, sinkron dan bersinergi sesuai dengan kondisi dan karakteristik
daerah Kota Padang;
b. pedoman bagi pemerintah daerah dan DPRD dalam menentukan program
prioritas dan kegiatan pembangunan yang akan dibiayai oleh APBD setiap
tahunnya;
c. pedoman penyusunan rencana strategis SKPD dan RKPD
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
Pasal 5
(1) Ruang Lingkup RPJMD Tahun 2014-2019 meliputi penjabaran visi, misi,
tujuan dan sasaran dan arah kebijakan serta prioritas dan program strategis
Walikota disertai dengan rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang
bersifat indikatif
(2) RPJMD Tahun 2014-2019 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan
sebagai tolok ukur dalam melakukan evaluasi kinerja tahunan dan kinerja
lima tahunan Pemerintah Daerah.
BAB IV
SISTEMATIKA
Pasal 6
(1) RPJMD Tahun 2014-2019 disusun dengan sistematika sebagai berikut :
Bab I

: Pendahuluan;

Bab II

: Gambaran Umum Kondisi Daerah;

Bab III : Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah serta Kerangka


Pendanaan;
Bab IV : Analisis Isu-Isu Strategis;
Bab V

: Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran;

Bab VI : Strategi dan Arah Kebijakan;


Bab VII : Kebijakan umum dan program pembangunandaerah;

Bab VIII: Indikasi rencana program prioritas yang disertaikebutuhan


pendanaan;
Bab IX : Penetapan indikator kinerja daerah; dan
Bab X

: Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan.

(2) RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tercantum dalam lampiran


sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 7
(1) Pelaksanaan lebih lanjut terhadap RPJMD Tahun 20142019, dituangkan
dalam rencana tahunan pada RKPD yang menjadi pedoman dalam
penyusunan APBD.
(2) RPJMD wajib dilaksanakan oleh Walikota dalam rangka penyelenggaraan
pembangunan di Daerah.
BAB V
PENGENDALIAN DAN EVALUASI
Pasal 8
(1) Pengendalian dan Evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD Tahun 2014-2019
dilakukan oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Pengendalian dan Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
setiap tahun.
BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 9
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka RPJMD Kota Padang Tahun
2014-2019 menjadi pedoman penyusunan rencana pembangunan sampai dengan
Tahun 2019 dan dapat diberlakukan sebagai RPJMD transisi, sebagai pedoman
penyusunan RKPD Tahun 2019 sebelum ditetapkannya Peraturan Daerah Kota
Padang tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Padang
Tahun 2019-2024 yang memuat visi dan misi Walikota terpilih.
Pasal 10
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku maka Peraturan Daerah Kota
Padang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Padang Tahun 2009-2014 (Lembaran Daerah Tahun 2009 Nomor 9)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 10
Tahun 2011 (Lembaran Daerah Tahun 2011 Nomor 10) dinyatakan tidak
berlaku.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 11
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Padang.

Ditetapkan di Padang
pada tanggal

2014

WALIKOTA PADANG

MAHYELDI
Diundangkan di Padang
pada tanggal

2014

SEKRETARIS DAERAH KOTA PADANG

NASIR AHMAD
LEMBARAN DAERAH KOTA PADANG TAHUN 2014 NOMOR
NO REG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG PROPINSI SUMATERA BARAT:

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA PADANG
NOMOR
TAHUN 2014
TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH
TAHUN 2014-2019
I. UMUM
Penyusunan RPJMD Kota Padang periode 2014-2019 dimaksudkan
untuk dapat member arah dan pedoman bagi para pelaku pembangunan
(Pemerintah, Swasta dan Masyarakat) dalam melakukan kegiatan untuk
mendorong proses pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat Kota Padang. Disamping itu, penyusunan RPJMD Kota Padang
juga dimaksudkan untuk dapat melakukan koordinasi terhadap kegiatan
pembangunan yang dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
agar terwujud keterpaduan dan sinergi kegiatan pembangunanan antar sektor
dan antar wilayah dalam Kota Padang
Sesuai dengan ketentuan Pasal 264 ayat (1) UndangUndang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah
beberapa kali, terakhir dengan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008, ketentuan Pasal 15 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
tentang Tahapan Tata cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Nomor 8 Tahun 2008, maka Walikota bersama DPRD Kota menetapkan
Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
paling lambat 6 bulan setelah Walikota dilantik.
Berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
tentang Tahapan Tata cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Nomor 8 Tahun 2008, RPJM Daerah disusun dengan mekanisme pembahasan
dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda)
dengan melibatkan unsur masyarakat, SKPD, dan pihak legislatif. Oleh karena
itu, sebelum Rancangan Peraturan Daerah tentang RPJM Daerah tersebut
disampaikan kepada DPRD, terlebih dahulu telah dilakukan musyawarah dan
pembahasan secara substantif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Selanjutnya,
Rancangan
Peraturan
Daerah
tersebut
dikonsultasikan kepada Gubernur Sumatera Barat untuk mendapatkan
klarifikasi dan masukan.
Secara substantive RPJMD memuat :
a) Bab I
: Pendahuluan;
b) Bab II
: Gambaran Umum Kondisi Daerah;

c) Bab III
d)
e)
f)
g)
h)

Bab
Bab
Bab
Bab
Bab

IV
V
VI
VII
VIII

i)
j)

Bab IX
Bab X

: Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah serta Kerangka


Pendanaan;
: Analisis Isu-Isu Strategis;
: Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran;
: Strategi dan Arah Kebijakan;
: Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah;
: Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai
Kebutuhan Pendanaan;
: Penetapan Indikator Kinerja Daerah; dan
: Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal 1
Pasal 2
Pasal 3
Pasal 4
Pasal 5
Pasal 6
Pasal 7
Pasal 8
Pasal 9

Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas

Cukup jelas
Pasal 10
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR

DAFTAR ISI
Halaman
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang
1.2. MaksuddanTujuan
1.3. LandasanHukum
1.4. HubunganAntarDokumenPerencanaan
1.5. SistematikaPenulisan

1
1
2
3
5
6

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


2.1. AspekGeografidanDemografi
2.2. AspekKesejahteraanMasyarakat
2.3. AspekPelayananUmum
2.4. AspekDayaSaing Daerah

8
8
23
33
38

BAB III

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA


KERANGKA PENDANAAN
3.1. KinerjaKeuanganMasaLalu
3.2. Neraca Daerah
3.3. KebijakanPengelolaanKeuanganMasaLalu
3.4. Rencana Kebijakan Pengelolaan Keuangan

43

BAB IV

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


4.1. PermasalahanPokok Pembangunan
4.2. Isu-IsuStrategis

68
68
74

BAB V

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN


5.1. Arah RPJP Kota Padang
5.2. VisidanMisiJangkaMenengahProvinsi Sumatera Barat
5.3. VisiJangkaMenengah Kota Padang
5.4. MisiJangkaMenengah Kota Padang
5.5. TujuanUmum Pembangunan Kota Padang
5.6. Sasaran Umum Pembangunan Kota Padang

80
80
82
84
86
86
86

BAB VI

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


6.1. Misi 1: MewujudkanPendidikan yang
BerkualitasuntukMenghasilkanSumberDayaManusia yang
BerimandanBerdayaSaing
6.2. Misi 2: Menjadikan Kota Padang
sebagaiPusatPerdagangan Wilayah Barat Sumatera
6.3. Misi 3: Menjadikan Kota Padang sebagai Daerah
TujuanWisata yang NyamandanBerkesan

91
91

43
54
58
63

94
97

BAB VII

6.4. Misi 4:
MeningkatkanKesejahteraanMasyarakatdanPengembanga
nEkonomiKerakyatan
6.5. Misi 5: Menciptakan Kota Padang yang Aman, Bersih,
Tertib, BersahabatdanMenghargaiKearifanLokal
6.6. Misi 6: Mewujudkan Tata KelolaPemerintahan yang Baik,
BersihdanMelayani

100

KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN


DAERAH
7.1. KebijakanUmumdan Program Pembangunan Misi 1
7.2. KebijakanUmumdan Program Pembangunan Misi 2
7.3. KebijakanUmumdan Program Pembangunan Misi 3
7.4. KebijakanUmumdan Program Pembangunan Misi 4
7.5. KebijakanUmumdan Program Pembangunan Misi 5
7.6. KebijakanUmumdan Program Pembangunan Misi 6

116

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG


DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
8.1. UrusanPendidikan
8.2. UrusanKesehatan
8.3. UrusanPekerjaanUmum
8.4. UrusanPerumahan Rakyat
8.5. UrusanPenataanRuang
8.6. UrusanPerencanaan Pembangunan
8.7. UrusanPerhubungan
8.8. UrusanLingkunganHidup
8.9. UrusanPertanahan
8.10. UrusanKependudukandanCatatanSipil
8.11. UrusanPemberdayaanPerempuandanPerlindunganAnak
8.12. UrusanKeluargaBerencanadanKeluarga Sejahtera
8.13. UrusanSosial
8.14. UrusanKetenagakerjaan
8.15. UrusanKoperasidan Usaha Kecil danMenengah
8.16. UrusanPenanaman Modal
8.17. UrusanKebudayaan
8.18. UrusanPemudadanOlah Raga
8.19. UrusanKesatuanBangsadanPolitikDalamNegeri
8.20. UrusanOtonomi Daerah, PemerintahanUmum,
AdministrasiKeuangan Daerah, Perangkat Daerah,
Kepegawaian dan Persandian
8.21. UrusanKetahananPangan
8.22. UrusanPemberdayaanMasyarakatKelurahan
8.23. UrusanStatistik
8.24. UrusanKearsipan

105
109

116
123
127
132
146
152
161
162
169
176
184
190
193
197
202
208
211
215
217
220
224
228
232
235
237
240
243

252
254
257
259

8.25.
8.26.
8.27.
8.28.
8.29.
8.30.
8.31.
8.32.
8.33.

UrusanKomunikasidanInformatika
UrusanPerpustakaan
UrusanPertanian
UrusanKehutanan
UrusanEnergidanSumberDaya Mineral
UrusanPariwisata
UrusanKelautandanPerikanan
UrusanPerdagangan
UrusanIndustri

265
268
271
278
380
382
387
396
302

BAB IX

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN


DAERAH

305

BAB X

PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN


10.1. PedomanTransisi RKPD Tahun 2019
10.2. KaidahPelaksanaan
10.3. PengendaliandanEvaluasi

319
319
319
319

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1
Tabel 2.2
Tabel 2.3
Tabel 2.4
Tabel 2.5
Tabel 2.6
Tabel 2.7

Tabel 2.8
Tabel 2.9
Tabel 2.10
Tabel 2.11
Tabel 2.12

Tabel 2.13
Tabel 2.14
Tabel 2.15
Tabel 2.16
Tabel 2.17
Tabel 2.18

Tabel 2.19
Tabel 2.20
Tabel 2.21

Kecamatan di Kota Padang Menurut Luas Wilayah Darat,


Administrasi dan Ketinggian Daerah Tahun 2012
Luas Penggunaan Lahan Menurut Jenis Penggunaannya di
Kota Padang
Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Padang Tahun
2010-2013
Komposisi Penduduk Kota Padang Menurut Kelompok Umur
Tahun 2013
PDRB Kota Padang Atas Harga Konstan Tahun 2000 Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2009-2012
Distribusi PDRB Kota Padang Atas Harga Berlaku Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2009-2013
Perkembangan dan Perubahan Indeks Harga Konsumen,
Inflasi Bulanan dan Inflasi Tahunan di Kota Padang Tahun
2011-2013
Angka Melek Huruf Kota Padang dan Sumatera Barat Tahun
2006-2013
Rata-Rata Lama Sekolah Berbagai Kota di Sumatera Barat
Tahun 2009-2013
Indikator Kesejahteraan Bidang Kesehatan Kota Padang
Tahun 2008-2013
Potensi Seni Budaya Kota Padang
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni
(APM) per 1000 Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun
2009-2012
Jumlah Guru, Murid dan Rasio Menurut Jenjang Pendidikan
Tahun Ajaran 2007-2012
Sepuluh Penyakit Terbanyak di Kota Padang Tahun 2011
Fasilitas Prasarana Kesehatan di Kota Padang Tahun 20082012
Fasilitas dan Rasio Sarana Kesehatan di Kota Padang Tahun
2008-2012
Nilai Pembentukan Modal di Kota Padang Tahun 2008-2012
Persentase Pengeluaran Per Kapita Penduduk Per Bulan
Menurut Kelompok Pengeluaran Kota Padang Tahun 20112012
Panjang Jalan, Jumlah Kendaraan dan Rasio Panjang Jalan
Terhadap Kendaraan dan Jumlah Penduduk Tahun 2008-2012
Kebutuhan Investasi Kota Padang Tahun 2014-2019
Nilai IPM Wilayah Perkotaan di Propinsi Sumatera Barat
Tahun 2009-2012

9
14
21
22
24
25
26

28
29
30
31
33

34
35
36
37
38
39

40
41
42

Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 3.5
Tabel 3.6
Tabel 3.7
Tabel 3.8
Tabel 3.9
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

3.10
3.11
3.12
3.13
3.14

Tabel 3.15
Tabel 3.16
Tabel 3.17
Tabel 4.1
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

5.1
6.1
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
7.1

Tabel 7.2
Tabel 7.3

Dasar Hukum Pemungutan Pajak dan Retribusi Daerah di


Kota Padang
Perkembangan Realisasi Pendapatan Daerah dan Tingkat
Pertumbuhan Rata-Rata Per Tahun
Perkembangan Proporsi Pendapatan Daerah dan Tingkat
Pertumbuhan Rata-Rata Per Tahun
Perkembangan Realisasi Belanja Daerah dan Tingkat
Pertumbuhan Rata-Rata per Tahun
Perkembangan Realisasi Belanja Langsung dan Belanja Tidak
Langsung
Perkembangan Proporsi Belanja Pegawai, Belanja Barang dan
Jasa, serta Belanja Modal Tahun 2009-2013
Perkembangan Realisasi Pembiayaan dan Rata-Rata
Pertumbuhan Per Tahun
Perkembangan Pos-Pos Neraca dan Rata-Rata Pertumbuhan
per Tahun
Perkembangan Rasio Keuangan Pertumbuhan Rata-Rata Per
Tahun
Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur
Defisit Riil Anggaran
Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
Kemampuan Keuangan Derah
Pengeluaran Periodik, Wajib dan Mengikat serta Prioritas
Utama
Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai
Pembangunan Daerah
Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun 2014-2019
Proyeksi Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk
Mendanai Pembangunan Daerah
Hubungan Pembangunan Kota Padang Dengan Daerah
Tetangga
Hubungan Hirarkis antara Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
Hubungan antara Strategi dan Arah Kebijakan pada Misi 1
Hubungan antara Strategi dan Arah Kebijakan pada Misi 2
Hubungan antara Strategi dan Arah Kebijakan pada Misi 3
Hubungan antara Strategi dan Arah Kebijakan pada Misi 4
Hubungan antara Strategi dan Arah Kebijakan pada Misi 5
Hubungan antara Strategi dan Arah Kebijakan pada Misi 6
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk
Misi 1
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk
Misi 2
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk
Misi 3

44
46
48
50
52
53
54
56
58
58
59
60
61
62
62
64
67
74
88
93
96
99
102
108
114
119
125
130

Tabel 7.4
Tabel 7.5
Tabel 7.6
Tabel 8.1
Tabel 8.2.
Tabel 8.3
Tabel 8.4
Tabel 8.5
Tabel 8.6

Tabel 8.7
Tabel 8.8
Tabel 8.9
Tabel 8.10

Tabel 8.11

Tabel 8.12

Tabel 8.13
Tabel 8.14
Tabel 8.15
Tabel 8.16
Tabel 8.17

Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk


Misi 4
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk
Misi 5
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk
Misi 6
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pendidikan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kesehatan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pekerjaan Umum dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Perumahan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Penataan Ruang dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Perencanaan Pembangunan dan Pendanaan Tahun 20142019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Perhubungan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Lingkungan Hidup dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pertanahan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kependudukan & Catatan Sipil dan Pendanaan Tahun 20142019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dan
Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Keluarga Berencana & Keluarga Sejahtera dan Pendanaan
Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Sosial dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Ketenagakerjaan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Koperasi & UKM dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Penanaman Modal dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kebudayaan dan Pendanaan Tahun 2014-2019

135
150
155
166
170
179
186
191
195

198
203
209
212

216

218

221
225
229
233
236

Tabel 8.18
Tabel 8.19

Tabel 8.20

Tabel 8.21
Tabel 8.22

Tabel 8.23
Tabel 8.24
Tabel 8.25
Tabel 8.26
Tabel 8.27
Tabel 8.28
Tabel 8.29

Tabel 8.30
Tabel 8.31
Tabel 8.32
Tabel 8.33
Tabel 8.34
Tabel 9.1

Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan


Pemuda & Olah Raga dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kesatuan Bangsa & Politik Dalam Negeri dan Pendanaan
Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian &
Persandian dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Ketahanan Pangan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan dan Pendanaan Tahun
2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Statistik dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kearsipan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Komunikasi & Informatika dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Perpustakaan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pertanian dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kehutanan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Energi & Sumber Daya Mineral dan Pendanaan Tahun 20142019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Pariwisata dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Kelautan & Perikanan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Perdagangan dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Program Prioritas Pembangunan Daerah Menurut Urusan
Industri dan Pendanaan Tahun 2014-2019
Rekapitulasi Kerangka Pendanaan dan Program Prioritas
Pembangunan Daerah Menurut Urusan Tahun 2014-2019
Penetapan Indikator Kinerja Pembangunan Kota Padang
Tahun 2014-2019

238
241

244

253
255

258
260
266
269
273
279
281

285
290
298
303
304
306

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pemerintah memerlukan perencanaan pembangunan dalam menjalankan
tugas dan fungsinya, mulai dari perencanaan jangka panjang hingga perencanaan
jangka pendek yang substansinya saling berkaitan. Perencanaan yang baik akan
menjadi arah bagi cita-cita pembangunan dan hakekat dari pembangunan adalah
proses perubahan masyarakat dari kondisi saat ini menjadi kondisi yang dicitacitakan. Agar perubahan tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan diperlukan
suatu perencanaan pembangunan yang terpadu (integrated), terukur (measurable),
dapat dilaksanakan (applicable) dan berkelanjutan (sustainable).
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN) telah memberikan landasan bagi berbagai bentuk
perencanaan dari pusat hingga daerah. Terkait dengan Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (sebagaimana telah diubah beberapa
kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah)
dalam perencanaan, diamanatkan juga bahwa Pemerintah Daerah Provinsi,
Kabupaten/Kota dalam rangka menyelenggarakan pemerintahannya harus
menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk
periode 5 tahun sesuai dengan masa jabatan kepala daerah bersangkutan.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, ada perobahan pendekatan perencanaan
pembangunan menjadi lebih komprehensif yaitu dengan menggunakan pendekatan
politis, teknokratik, partisipatif, top-down dan bottom-up. Sebagaimana
diamanatkan pada Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) merupakan jabaran lebih konkrit dari visi,misi dan
program Kepala Daerah terpilih yang penyusunannya berpedoman pada Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan memperhatikan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), memuat arah kebijakan
keuangan daerah, isu-isu strategis, visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota
terpilih, strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah, kebijakan umum dan
program Satuan Kerja Perangkat Daerah disertai dengan kerangka pendanaan yang
bersifat indikatif, dan target indikator kinerja daerah.
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) ini
dilakukan dengan berpedoman pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka

Panjang (RPJP) Kota Padang periode 2004-2020 yang ditetapkan dengan Peraturan
Daerah Nomor 18 Tahun 2004 tanggal 3 Agustus 2004, Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Sumatera Barat untuk periode 2005-2025
yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2007,dan Rencana TataRuang Wilayah (RTRW) Kota Padang periode 2010-2030 yang telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2004 dan Permendagri Nomor 72 Tahun
2013. Selanjutnya, penyusunan RPJMD ini menampung aspirasi warga Kota Padang
baik yang berdomisili di Kota Padang maupun yang berada di perantauan secara
lebih rinci dan terfokus sebagaimana dihasilkan dalam Musyawarah Perencanaan
Pembangunan Daerah (Musrenbang) yang telah dilaksanakan khusus untuk tujuan
ini.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud disusunnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kota Padang periode 2014-2019 ini adalah untuk memberikan landasan,
arah dan pedoman bagi para penyelenggara pemerintahan dan pelaku
pembangunan (stakeholders) dalam menyusun rencana, program dan kegiatan
untuk mendorong pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat Kota Padang dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan.
Adapun tujuan disusunya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kota Padang tahun 2014-2019 ini adalah untuk:
1.

Menyediakan satu acuan resmi bagi seluruh jajaran Pemerintah Kota


Padang dan DPRD Kota Padang dalam menentukan prioritas program dan
kegiatan tahunan dan lima tahunan yang akan dibiayai dari Anggaran
Pendapatan dan belanja Daerah.

2.

Menetapkan strategi dan kebijakan umum pembangunan daerah serta


merumuskan program pembangunan selama lima tahun kedepan agar
mekanisme perencanaan dan pembangunan daerah dapat berjalan lancar,
terpadu, sinkron dan bersinergi sesuai dengan kondisi dan karakteristik
daerah Kota Padang.

3.

Menyediakan satu tolak ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi


kinerja tahunan dan lima tahunan bagi setiap SKPD dan Pemerintah Kota
Padang.

4.

Memudahkan seluruh jajaran aparatur Pemerintah Kota Padang dan DPRD


Kota Padang dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun Rencana
Strategis, arah kebijakan, program dan kegiatan secara terpadu, terarah
dan terukur.

5.

Mewujudkan visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota Padang terpilih yaitu
untuk meningkatkan kesejahteraan warga kota sehingga mampu
berkembang secara mandiri, memiliki keterampilan dan ilmu pengetahuan

untuk mampu bersaing dalam era teknologi informasi dan menghadapi


persaingan global.
6.

Merumuskan gambaran pengelolaan keuangan daerah sebagai dasar


penentuan kemampuan pendanaan 5 tahun ke depan, menterjemahkan visi
misi kota Padang ke dalam tujuan sasaran pembangunan daerah serta
menetapkan indikator kinerja satuan perangkat kerja daerah sebagai dasar
penilaian keberhasilan pembangunan.

1.3. LANDASAN HUKUM


Penyusunan RPJMD Kota Padang 2014-2019 dilakukan mengacu kepada
beberapa ketentuan perundangan berlaku sebagai landasan hukum, antara lain:
1.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

3.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

4.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

5.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4421);

6.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,


sebagaimana telah beberapakali diubah, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008;

7.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan


Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);

8.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan


Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 33);

9.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68. Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia 2008 Nomor 4725);

10. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara;


11. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1980 Tentang Perubahan Batas
Wilayah Kota Daerah Tingkat II Padang. (Lembaran Negara Tahun 1980
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3164);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 Tentang Tata Cara
Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4663);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 Tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan
Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4815);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
18. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan
Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi);
19. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014;
20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54, Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang
Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah;
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penyusunan atau
Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah;
22. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
dan
Menteri
Keuangan
Nomor:
28
Tahun
2010;
Nomor:
0199/MPPN/04/2010; Nomor: PMK 95//PMK 07/2010 tentang Penyelarasan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014;
23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2013, Tentang Pedoman
Pembangunan Wilayah Terpadu;

24. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2007 Tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sumatera Barat
2005-2025;
25. Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Kota Padang 2004-2020;
26. Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Perubahan
Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2009 Revisi Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Kota Padang Tahun 2009-2014;
27. Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Padang 2010-2030.

1.4. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN PERENCANAAN


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Padang
disusun berdasarkan visi dan misi kepala daerah terpilih dalam PILKADA. Dalam
RPJMD ini visi dan misi tersebut selanjutnya dijabarkan menjadi strategi, kebijakan
dan prioritas pembangunan untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan di atas.
Selanjutnya dari strategi dan kebijakan tersebut disusun program dan kegiatan yang
perlu dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan yang
ditetapkan dalam RPJMD Kota Padang. Namun demikian, penyusunan RPJMD ini
juga mempedomani arah dan pentahapan pembangunan yang ditetapkan dalam
RPJPD Kota Padang agar terdapat kesinambungan proses pembangunan kota dalam
jangka panjang. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, RPJMD ini
harus ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah Kota Padang.
Dokumen RPJMD Kota Padang yang sudah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah, selanjutnya dijadikan pedoman utama dalam penyusunan Rencana
Strategis Satuan Kerja Perangkan Daerah (Renstra SKPD) dilingkungan Kota
Padang. Konsistensi antara RPJMD dan Renstra SKPD ini perlu dijaga agar semua
kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang mendukung
terwujudnya visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota Padang terpilih. Dengan cara
demikian diharapkan dapat diciptakan proses pembangunan Kota Padang yang
terpadu dan saling mendukung lintas sektoral dan wilayah sehingga pencapaian
tujuan pembangunan kota menjadi lebih terarah.
Selanjutnya, dokumen RPJMD Kota Padang juga dijadikan acuan utama
dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang merupakan
rencana tahunan yang disusun oleh Bappeda Kota Padang. Dalam RKPD ini,
penyusunan rencana dilakukan secara lebih rinci sampai kepada rincian program
dan kegiatan serta pagu dana indikatif yang dibutuhkan. Disamping itu, program
dan kegiatan tersebut juga harus dilengkapi dengan indikator kinerja, baik masukan
(output) dan hasil (outcome) sehingga penyusunan rencana menjadi lebih terukur.
RKPD ini selanjutnya dijadikan sebagai dasar utama penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Padang pada setiap tahunnya.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN


Sistematika penulisan RPJMD Kota Padang 2014-2019 terdiri dari 9 bab yang
saling berkaitan satu sama lain dan secara umum berisikan hal-hal sebagai berikut:
Bab I

Pendahuluan
Memuat latar belakang penyusunan rencana, maksud dan tujuan,
landasan hukum, hubungan antar dokumen perencanaan pembangunan
dan sistematika penulisan rencana.

BAB II

Gambaran Umum Kondisi Daerah


Memuat gambaran umum yang mencakup tentang aspek geografis dan
demografis Kota Padang, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek
pelayanan umum dan aspek daya saing daerah.

BAB III

Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka


Pendanaan
Berisikan kinerja keuangan daerah masa lalu, kebijakan pengelolaan
keuangan masa lalu dan kerangka pendanaan pembangunan. Kinerja
keuangan masa lalu meliputi kinerja pelaksanaan APBD dan Neraca
Daerah. Kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu meliputi: proporsi
penggunaan anggaran dan analisa pembiayaan. Sedangkan kerangka
pembiayaan meliputi analisis pengeluaran dana dan kerangka
pendanaan masa datang.

BAB IV

Analisis Isu-Isu Strategis


Memuat permasalahan pokok pembangunan dan beberapa isu strategis
yang menentukan arah pembangunan Kota Padang 5 tahun mendatang.

BAB V

Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran


Berisikan uraian visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota terpilih serta
tujuan dan sasaran pembangunan Kota Padang kedepan.

Bab VI

Strategi Dan Arah Kebijakan


Memuat rumusan strategi dan arah kebijakan pembangunan Kota
Padang untuk periode lima tahun kedepan.

BAB VII

Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Kota


Memuat arah kebijakan umum daerah menurut urusan wajib dan pilihan
serta program dan kegiatan Pembangunan terkait yang disusun dengan
memperhatikan kondisi dan permasalahan Kota Padang serta sasaran
dan target pembangunan yang akan dicapai.

Bab VIII Indikasi Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan


Memuat program-program prioritas yang dirinci berdasarkan tahun
perencanaan dan pagu indikatif

BAB IX

Penetapan Indikator Kinerja Pembangunan Daerah


Berisikan penetapan indikator dan target kinerja pembangunan daerah
secara makro maupun menurut program pembangunan. Indikator dan
target kinerja mencakup keluaran (output) dan hasil (outcome).

BAB X

Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan


Memuat tentang pedoman transisi kepemimpinan kota dan kaidah
pelaksanaan RPJMD Kota Padang sesuai peraturan perundangan
berlaku.

BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI


2.1.1. Letak dan Kondisi Geografi
Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat memiliki luas wilayah
administratif sekitar 1.414,96 km, terletak di pesisir pantai Barat Pulau Sumatera
pada posisi astronomis antara 1000505 BT-1003409 BT dan 004400 LS010835 LS. Wilayah kota Padang terdiri dari 694,96 km daratan dan 720,00 km
perairan/laut yang merupakan hasil perluasan Kota Padang Tahun 1980, yaitu
penambahan 3 kecamatan dan 15 kelurahan menjadi 11 kecamatan dan 104
kelurahan. Dari seluruh Kecamatan tersebut sebanyak 6 kecamatan dan 22
Kelurahan berada di daerah pesisir. Kota Padang memiliki 19 pulau-pulau kecil yang
tersebar pada beberapa kecamatan, dan 21 sungai besar dan kecil dimana 5
diantaranya merupakan sungai besar, dengan sungai terpanjang adalah sungai
Batang Kandis yang panjangnya 20 Km.
Gambar 2.1 Peta Kota Padang

Sumber: RTRW Kota Padang 2010-2030

Pada tahun 1980 wilayah Kota Padang yang sebelumnya terdiri dari 3
Kecamatan dengan 15 Kampung dikembangkan menjadi 11 Kecamatan dan 193
Kelurahan, kemudian dengan ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2005
dilakukan penggabungan kelurahan menjadi 104 Kelurahan. Adapun batas-batas
wilayah administratif Kota Padang, adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Sebelah
Sebelah
Sebelah
Sebelah

Utara berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman.


Timur berbatasan dengan Kabupaten Solok.
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan.
Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.

Wilayah kecamatan yang terluas di kota Padang adalah Kecamatan Koto


Tangah yaitu 232,25 Km2 atau 33,42% sedangkan wilayah kecamatan yang terkecil
luasnya adalah Kecamatan Padang Barat yaitu 7 Km2 atau 1,01%. Luas dan
komposisi luas lahan serta ketinggian daerah menurut Kecamatan di kota Padang
dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini:
Tabel 2.1
Kecamatan di Kota Padang menurut Luas Wilayah Darat Administrasi
dan Ketinggian Daerah
No.

Kecamatan

1.

Bungus Teluk Kabung

2.

Luas (Km2)

Persentase (%)

Ketinggian
(m.dpl)

100,78

14,50

0 - 850

Lubuk Kilangan

85,99

12,37

25 - 1.853

3.

Lubuk Begalung

30,91

4,45

8 - 400

4.

Padang Selatan

10,03

1,44

0 - 322

5.

Padang Timur

8,15

1,17

4 - 10

6.

Padang Barat

7,00

1,01

0-8

7.

Padang Utara

8,08

1,16

0 - 25

8.

Nanggalo

8,07

1,16

3-8

9.

Kuranji

57,41

8,26

8 - 1.000

10.

Pauh

146,29

21,05

10 - 1.600

11.

Koto Tangah

232,25

33,42

9 - 1.600

Jumlah

694,96

100,00

Sumber: Padang Dalam Angka 2013

2.1.2. Topografi
Kota Padang memiliki garis pantai sepanjang 68,126 km, sebagai kota
pantai, Kota Padang terdiri atas dataran rendah yang terletak pada ketinggian 010
m di atas permukaan laut. Secara keseluruhan, Kota Padang terletak pada
ketinggian yang berkisar antara 0-1.853 m di atas permukaan laut. Daerah tertinggi
adalah Kecamatan Lubuk Kilangan, sedangkan daerah lainnya terletak pada dataran
tinggi, yaitu sebelah Selatan dan Timur. Secara topografi Kota Padang terbagi atas
empat kategori, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Dataran
Dataran
Dataran
Dataran

datar (lereng 0-2%) seluas 16.379,82 Ha (23,57%);


bergelombang (lereng 3-15%) seluas 5.510,93 Ha (7,93%);
curam (lereng 16-40%) seluas 13.219,48 Ha (19,02%);
sangat curam (lereng diatas 40%) seluas 34.385,77Ha (49,48%).

Berdasarkan penyebaran topografinya, lahan efektif Kota Padang berada


pada topografi yang berlereng 0-15% dengan luas 21.890,75 Ha atau 31,5% dari
luas wilayah. Daerah ini tersebar dari pinggiran pantai Barat hingga wilayah Timur
kota.

Selanjutnya, berdasarkan posisi wilayah, Kota Padang secara fisik


mempunyai ciri berbeda dengan kota-kota lainnya di Provinsi Sumatera Barat. Ada 3
(tiga) ciri yang menonjol:
1. Wilayah Pantai, yaitu seluruh wilayah pinggiran pantai berhadapan dengan
Samudera Hindia.
2. Wilayah Dataran Rendah, yaitu wilayah yang sebagian besar sudah
berkembang merupakan daerah pusat Kota Padang sebelum Pemekaran
Tahun 1980 dan sebagian wilayah kecamatan hasil Pemekaran.
3. Wilayah Dataran tinggi, yaitu wilayah yang berada pada lereng Bukit Barisan
yang melingkari Kota Padang.
Oleh karena itu, dilihat dari topografi daerah mempunyai karakteristik sangat
bervariasi, dimana dipengaruhi ketiga kondisi wilayah di atas. Secara umum
karakteristik Kota Padang perpaduan antara pantai, daratan dan perbukitan.
Ketinggian wilayah dari permukaan laut berada pada 0 meter sampai di atas 1.853
meter dari permukaan laut. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki
tingkat kelerangan lahan rata-rata 40%.
Kondisi Topografi Kota Padang dilihat dari aspek kemiringan lahan adalah
sebagai berikut:
1. Kawasan dengan kemiringan lahan antara 0-2% terdapat di Kecamatan
Padang Barat, Padang Timur, Padang Utara, Nanggalo, sebagian Kecamatan
Kuranji, Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Lubuk Begalung dan
Kecamatan Koto Tangah.
2. Kawasan dengan kemiringan lahan antara 3-15% tersebar di Kecamatan
Koto Tangah, Kecamatan Pauh dan Kecamatan Lubuk Kilangan yakni berada
pada bagian tengah Kota Padang.
3. Kawasan dengan kelerengan lahan 16-40% tersebar di Kecamatan Lubuk
Begalung, Lubuk Kilangan, Kuranji, Pauh dan Koto Tangah.
4. Kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40% tersebar di bagian Timur
Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh dan bagian Selatan Kecamatan
Lubuk Kilangan, Kecamatan Lubuk Begalung dan sebagian besar Kecamatan
Bungus Teluk Kabung. Kawasan ini merupakan kawasan yang telah
ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung.
2.1.3. Hidrologi dan Klimatologi
2.1.3.1. Hidrologi
Kondisi hidrologi Kota Padang terdiri dari: Daerah Aliran Sungai (DAS),
sungai, danau dan rawa dan debit air. Wilayah Kota Padang terbagi dalam 6 (enam)
Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu: DAS Air Dingin, DAS Air Timbalun, DAS Batang
Arau, DAS Batang Kandis, DAS Batang Kuranji dan DAS Sungai Pisang.

10

Pembagian DAS ini dikarenakan wilayah Kota Padang dilalui oleh banyak
sungai besar dan kecil. Terdapat 21 aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota
Padang dengan total panjang mencapai 133,9 Km (5 sungai besar dan 16 sungai
kecil). Umumnya sungai besar dan kecil yang ada di wilayah Kota Padang
ketingginnya tidak jauh berbeda dengan ketinggian permukaan laut. Kondisi ini
mengakibatkan cukup banyak wilayah Kota Padang yang rawan terhadap
banjir/genangan.
Selanjutnya, berdasarkan analisa geolistrik, jenis dan susunan batuan maka
kondisi hidrogeologi Kota Padang dapat digambarkan sebagai berikut:
1) Karakteristik air bawah tanah
Pada umumnya dataran di Kota Padang ditutupi oleh endapan aluvium dan
terletak di dalam Cekungan Air Tanah (CAT) Padang Pariaman dan Cekungan
Air Tanah (CAT) Painan. Air dalam tanah tersebut berasal dari air yang datang
dari arah timur (perbukitan) dan pada bagian Timur ini merupakan hutan yang
sekaligus sebagai daerah tangkapan air (catchments area). Siklus air hujan
yang turun di kawasan ini sebagian meresap ke dalam tanah dan kemudian
membentuk air tanah. Sebagian lain mengalir di permukaan tanah. Disamping
itu, ada yang menjadi uap air ke udara, dimana sangat tergantung pada suhu
udara dan vegetasi penutup permukaan tanah. Air yang meresap dan masuk ke
dalam tanah membentuk air bawah tanah mengalir ke permukaan sungai dan
terbentuklah sungai mulai dari sungai kecil sampai dengan sungai besar.
Semuanya bermuara ke laut pantai Barat. Secara umum hidrologi Kota Padang
mempunyai 21 aliran sungai yang mengaliri seluruh wilayah kota. Panjang
sungai yang ada di Kota Padang sepanjang 133,9 Km. Tingkat ketinggian
sungai-sungai tersebut pada umumnya tidak jauh berbeda dengan tinggi
permukaan laut.
2) Penyebaran air bawah tanah
Penyebaran air bawah tanah di Kota Padang dibedakan atas dua wilayah air
bawah tanah, yaitu:
a. Wilayah air tanah dataran pantai. Wilayah air tanah dataran pantai
tersimpan dalam batuan-batuan hasil endapan banjir sungai (alluvial
deposits), endapan rawa-rawa pantai (backswamp deposits) dan endapan
banjir pantai atau laut (marine or coastal floodplain deposits).
Semua endapan tersebut berbentuk pasir, lempung, lanau dan kerikil.
Batuan yang menjadi akuifer (pembawa air) berupa pasir halus dan kasar
serta kerikil. Sebaran air bawah tanah dataran pantai meliputi hampir
semua kawasan pantai Kota Padang. Wilayah dataran pantai ini
mempunyai keterusan air (permeability) dari sedang hingga tinggi.
Muka air tanah dangkal (water table) umumnya sangat dangkal yaitu
antara 1 s/d 2 meter dan pada musim penghujan bisa lebih tinggi lagi.
Debit sumur berkisar 2-5 liter/detik.

11

b. Wilayah Air Tanah Perbukitan, perbukitan menyangkut daerah imbuhan air


tanah dan cekungan air tanah yang tidak mengenal batas topografi dan
administrasi. Sebagian besar wilayah timur dan selatan merupakan daerah
perbukitan berasal dari endapan gunung api antara lain endapan lahar,
tufa andesit, tufa kristal dan lava, aggolomerat. Wilayah perbukitan ini
membawa air (akuifer) memiliki keterusan yang rendah dan debit sumur
dibawah 2 liter/detik. Beberapa mata air yang muncul di kawasan ini, pada
umumnya mempunyai debit kurang dari 2 liter/detik.
2.1.3.2. Klimatologi
Suhu udara Kota Padang sepanjang tahun 2013 berkisar antara 22,0C
sampai 31,7C dan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 80%-85% dengan
curah hujan rata-rata 347,5 mm/bulan dan rata-rata hari hujan 19 hari . Curah
hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember (615 mm) dan terendah pada bulan
Maret (81 mm). Angin didominasi oleh angin Barat, Barat Daya, Barat Laut dengan
kecepatan rata-rata 5-6 knot, dan kecepatan tertinggi mencapai 9-35 knot.
Dipengaruhi oleh angin musim maka arus permukaan di wilayah perairan Kota
Padang sepanjang tahun mengalir ke arah Tenggara hingga Barat Daya (musim
Barat) dengan kekuatan arus antara 1-45 cm/detik biasanya mencapai puncak pada
bulan Desember.
Arus musim Timur terjadi antara bulan April hingga Oktober, melemah
dengan kekuatan antara 1 cm/detik hingga 36 m/detik. Pada bulan Juli arus
mencapai kekuatan minimum antara 1 cm/detik hingga 5 cm/detik. Selain itu di
perairan Kota Padang juga terjadi arus pantai yang diakibatkan oleh gelombang.
Arus ini berpengaruh terhadap abrasi dan sedimentasi pantai. Tinggi gelombang
yang terjadi berkisar antara 0,5-2,0 meter.

2.1.4. Kondisi Geologi


Secara kondisi geologi Wilayah Kota Padang terbentuk oleh endapan
permukaan, batuan vulkanik dan intrusi serta batuan sedimen dan metamorf.
Secara garis besar jenis batuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Aliran yang tak teruraikan (Qtau) merupakan batuan hasil gunung api yang
tak teruraikan umumnya berupa lahar, konglomerat, breksi dan batu pasir
yang bercampur satu. Batuan ini tersebar pada daerah yang merupakan
daerah Bukit Barisan di wilayah Kota Padang dan sekitar Gunung Padang
dan Bukit Air Manis.
2. Alluvium (Qal) merupakan batuan yang umumnya terdiri dari lanau,
lempung, pasir, kerikil, pasir lempungan, lempung pasiran. Penyebaran dari
Utara ke Selatan di seluruh dataran rendah Kota Padang.

12

3. Kipas Alluvium (Qt) merupakan batuan terdiri dari rombakan batuan andesit
berupa bongkah-bongkah yang berasal dari gunung api strato, bewarna abuabu kehitaman, keras, komposisi mineral piroksen, homblende dan mineral
hitam lainnya. Batuan ini tersebar di bagian bawah lereng-lereng
pegunungan dan perbukitan sekitar Bukit Nago dan Limau Manis.
4. Tufa Kristal (QTt) merupakan tufa kristal yang mengeras yang terlihat pada
singkapan setempat-setempat di perbukitan di Bukit Air Manis, di Teluk
Nibung dan dan Lubuk Begalung hingga ke perbukitan di Kelurahan Labuhan
Tarok.
5. Andesit (Qta) dan Tufa (QTp) merupakan batuan gunung berapi yang masih
masif bewarna hitam keabu abuan hingga putih, andesit berselingan dengan
tufa, terlihat pada singkapan setempat-setempat di Pegambiran, Tarantang
dan perbukitan Air Dingin yang bersebelahan dengan batu gamping.
6. Batu Gamping (PTls) berwarna putih hingga ke abu-abuan, terlihat pada
singkapan di Indarung, sekitar Bukit Karang Putih.
7. Fillit, Batu Pasir, Batu Lanau Meta (PTps) fillit bewarna hitam hingga abu
kemerahan, batu pasir bewarna abu-abu kehijauan mengandung klorit keras
dan berbutir halus dan batu lanau bewarna hijau kehitaman. Batuan ini
terlihat pada singkapan Koto Lalang (jalan ke arah Solok). Umumnya
mendasari bukit-bukit dan pegunungan yang landai.
Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pertambangan
dan Energi, potensi pertambangan dan mineral Kota Padang terdiri dari:
1. Batu Kapur yang terletak di Bukit karang putih, Bukit Batu Gadang, Ngalau
Baba, Karang Cermin, Lereng Barat Bukittinggi Karang Bagayuik, Karang
Rabana dan Lubuk Kilangan.
2. Emas terletak di Bukik Bulek, Batu Busuk.
3. Granit terletak di Lubuk Kilangan seluas 1375 Ha sebanyak 2.800.000.000
Ton.
4. Silika terletak di Bukik Ngalau dan Bagian Timur Bukit Karang Putih
Kecamatan Lubuk Kilangan seluas 154 Ha diperkirakan 150.000.000 Ton.
5. Tanah Liat terletak di Sungai Bangek dan Air Dingin Kecamatan Koto
Tangah.

13

2.1.5. Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan di Kota Padang dapat dibedakan atas 2 kelompok utama,
yaitu (a) lahan sawah sekitar 7,22% tahun 2012 dan tahun 2013 adalah sekitar
6,41%, (b) bukan lahan sawah sekitar 92,79% tahun 2012 dan tahun 2013 adalah
sekitar 92,80%. Diantara 92,80% tersebut sebagian besar masih merupakan hutan
lebat, yaitu sekitar 51,01%, sedangkan lebih kurang 10,96% digunakan sebagai
areal tanah perumahan dan industri. Selebihnya lahan digunakan untuk kegiatan
perdagangan dan jasa, pemerintahan, dan sebagainya seperti pada tabel 2.2:
Tabel 2.2
Luas Penggunaan Lahan Menurut Jenis Penggunaannya
di Kota Padang
No.

Jenis penggunaan

A
1.
2.

Lahan Sawah
Sawah Irigasi Teknis
Sawah Irigasi Non Teknis

B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Bukan Lahan Sawah


Perumahan
Perusahaan
Industri
Jasa
Ladang
Perkebunan Rakyat
Kebun Campuran
Kebun Sayuran
Peternakan
Kolam Ikan
Danau Buatan
Tanah kosong
Tanah Kota
Semak
Rawa
Jalan Arteri dan Kolektor
Hutan Lebat
Sungai dll
Jumlah

2013

2012
2

Luas (Km )

Luas (Km2)

5.014,25
4.934,00
80,25

7,22
7,10
0,12

4.456,95
4.394,00
62,95

6,41
7,10
0,09

64.482,57
6.907,62
261,06
702,25
715,32
942,23
2.147,50
13.711,02
1.343,00
26,83
100,80
2,25
15.26
16,00
1.508,98
120,00
135,00
35.448,00
379,45

92,79
9,94
0,38
1,02
1,03
1,36
3,09
19,73
1,93
0,04
0,15
0,00
0,02
0,02
2,17
0,17
0,19
51,01
0,55

64.495.24
6.938,5
261.06
702.25
715.32
940,38
2147.50
13.709,45
1.343,00
26.83
100.80
2.25
10.62
16.00
1.498,83
120.00
135.00
35.448,00
379.45

92,80
9,98
0,38
1,02
1,03
1,35
3,091
19,73
1,93
0,04
0,15
0,00
0,02
0,02
2,17
0,17
0,19
51,01
0,55

69.496,00

100,00

69.496,00

100,00

Sumber: Badan Pertanahan Nasional Kota Padang, dalam PDA 2013.

2.1.6. Potensi Pengembangan Wilayah


Potensi pengembangan wilayah kota Padang dapat dilihat dari lima aktivitas
ekonomi di wilayah ini, yaitu:

14

1) Wilayah Potensi Perikanan


Wilayah Pelabuhan Bungus akan dikembangkan sebagai Pelabuhan Perikanan
Samudera (PPS) Bungus yang pengelolaannya dibawah pengawasan
Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pelabuhan Bungus akan dikembangkan
sebagai pelabuhan perikanan yang terintegrasi dengan rencana pengembangan
Kawasan Minapolitan Bungus. PPS Bungus akan dikembangkan sebagai
pelabuhan perikanan samudera dalam skala pelayanan regional dan bahkan
internasional, dengan jangkauan wilayah tangkapan ikan sampai zona batas
perairan internasional dan dengan jenis kapal ikan yang cukup besar serta
lengkap dengan sistem penyimpanan ikan dalam jangka waktu agak lama (ratarata 1 minggu).
Di kawasan PPS Bungus ini sudah ada dan dilengkapi dengan kegiatan
penunjang seperti: kantor administrasi pelabuhan, dermaga dan tempat parkir
kapal-kapal penangkap ikan, bengkel perbaikan kapal, depo BBM, kantor
administrasi pelabuhan, pabrik pengolahan ikan, pabrik pembuatan es,
pergudangan, cold storage, perumahan karyawan dan bangunan mess yang
disewakan bagi awak kapal yang sedang berlabuh. Armada kapal ikan dan
bongkar muat ikan di PPS Bungus ini, tidak hanya dari wilayah Kota Padang
saja tetapi juga berasal dari kota dan kabupaten lain yang berada di Sumatera
Barat bahkan juga berasal dari daerah-daerah lainnya.
Khusus untuk pelabuhan Muara Anai juga direncanakan untuk pengembangan
pelabuhan nelayan yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di sekitar
kawasan perairan setempat dengan bobot kapal dibawah 30 DWT yang
membawa hasil pemanfaatan sumber daya laut lainnya.
2) Wilayah Potensi Pertanian
Ruang untuk pengembangan budi daya pertanian kota diarahkan pada lokasilokasi yang memiliki saluran-saluran irigasi teknis yang berada pada Kecamatan
Pauh, Kuranji, Bungus Teluk kabung, Koto Tangah atau lainnya. Upaya untuk
mempertahankan kawasan pertanian kota tidak hanya dalam rangka ketahanan
pangan namun juga sebagai bagian daripada penataan lanskap kota dalam
upaya menjaga keseimbangan yang bertujuan untuk membatasi terjadinya
urbanisasi penduduk atau tidak terjadinya perpindahan mata pencaharian
penduduk dari pertanian ke lainnya, sehingga pertanian tetap terjaga antara
lahan terbangun dan lahan tidak terbangun. Pertanian perkotaan yang terletak
pada hampir semua wilayah kecamatan kecuali kecamatan-kecamatan di
kawasan pusat kota seoptimal mungkin tetap dipertahankan dan sebagian
dikembangkan untuk pengembangan polder pengendali banjir yang dipadukan
dengan pengembangan kegiatan rekreasi keluarga.
Keberadaan Hutan Lindung dan Hutan Suaka di Kota Padang yang harus dijaga
kelestariannya memerlukan penyangga sebagai pembatas antara kawasan
lindung dengan kawasan budi daya lainnya. Dalam sejarahnya, beberapa
kawasan Kota Padang memiliki potensi sebagai penghasil gambir, pala, karet,

15

cokelat dan tanaman perkebunan lainnya. Dalam rangka pemberdayaan


ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan yang berbatasan dengan
kawasan lindung dan suaka perlu untuk melibatkan partisipasi masyarakat
dalam menjaga kelestariannya, Kawasan penyangga yang menjadi pembatas
kawasan lindung dan suaka tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai
kawasan perkebunan.
3) Wilayah Potensi Pariwisata
Potensi wisata yang ada meliputi wisata alam, budaya, bahari, belanja, kuliner,
sejarah dan wisata konvensi. Pengembangan wisata kuliner, belanja dan
konvensi direncanakan terintegrasi dengan kawasan perdagangan dan jasa.
Sedangkan wisata alam budaya dan sejarah direncanakan terintegrasi pada
wisata kuliner. Rincian kawasan tersebut adalah sebagai berikut:
a) Pengembangan kawasan pariwisata alam diarahkan pada kawasan Pantai
Padang, Gunung Padang dan Pantai Air Manis, Sungai Pisang, Pantai Pasir
Jambak serta pulau-pulau kecil yang memiliki potensi wisata di wilayah
perairan Kota Padang;
b) Pengembangan kawasan pariwisata budaya diarahkan pada kawasan kota
lama yaitu kawasan pondok dan kawasan muaro serta kawasan ruang
terbuka hijau di lapangan Imam Bonjol. Selain itu dikembangkan kawasan
permukiman tradisional/adat yang masih menjalankan adat dalam
kehidupan sehari-hari. Rencana pengembangan nagari adat di Kecamatan
Bungus Teluk Kabung dan Kecamatan Koto Tangah serta Kecamatan Pauh;
c) Pengembangan kawasan Agrowisata diarahkan pada kawasan kecamatan
Koto Tangah, kawasan ini juga dikembangkan untuk wisata keluarga
d) Pengembangan taman wisata alam Taman Hutan Raya Bung Hatta yang
diarahkan menjadi kawasan wisata ilmiah dan keluarga.
4) Wilayah Potensi Industri
Kawasan industri di kota Padang dikembangkan untuk menampung kegiatan
ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi
dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk
penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan
industri. Untuk mendukung aktifitas ekonomi juga dikembangkan kawasan
pergudangan yang difungsikan untuk semua aktivitas yang berhubungan
dengan penyimpanan peralatan besar atau produk-produk atau bahan-bahan
dalam jumlah besar di ruang terbuka atau di ruang tertutup dalam jangka
pendek maupun dalam jangka panjang.
Dengan pengembangan ekonomi kota yang bertumpu pada pengembangan
industri, maka pengembangan kawasan industri diarahkan kepada:
a) Kegiatan produksinya dibangun berdasarkan optimasi pemanfaatan sumber
daya lokal di sekitar Kota Padang dan keahlian masyarakat setempat.
b) Melibatkan tenaga kerja dari penduduk setempat.
c) Menghasilkan nilai tambah agregat yang besar.

16

d) Dapat memicu pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor terkait.


e) Mempunyai prospek pasar potensial dan berkelanjutan pada berbagai
sektor terkait.
f) Komponen kegiatan industri mempunyai prospek kelayakan finansial yang
menjanjikan sehingga hasil kegiatannya akan dapat diwujudkan kegiatan
industri yang secara komersial dapat berjalan dan tumbuh secara mandiri.
Pengembangan kawasan industri selalu berkaitan dengan kebutuhan areal
untuk pergudangan. Pertimbangan-pertimbangan dalam penetapan kawasan
pergudangan antara lain:
a) Memiliki sirkulasi yang baik dan terintegrasi dengan sistem transportasi
regional
b) Memiliki akses yang baik terhadap outlet (pelabuhan barang) dan kegiatan
perdagangan niaga atau industri
c) Kawasan pergudangan diarahkan terintegrasi dengan kawasan utama yang
didukungnya yaitu kegiatan industri, perdagangan dan transportasi.
d) Meningkatkan peran Kota Padang sebagai simpul koleksi dan distribusi
dalam sistem perwilayahan regional Provinsi Sumatera Barat.
e) Operasionalisasi kawasan industri yang akan berdampak pada peningkatan
aliran barang, baik bahan baku maupun barang produksi. Peningkatan ini
akan berdampak pada semakin meningkatnya kebutuhan kawasan
pergudangan yang berfungsi sebagai pos transisi dalam proses distribusi
barang.
f) Kecenderungan perkembangan kegiatan perdagangan dan niaga dalam
skala regional akan memberikan konsekuensi terhadap peningkatan arus
barang dalam jumlah besar.
g) Kawasan pergudangan serta kegiatan utama yang didukungnya terpisah
dari kawasan perumahan menggunakan buffeer zone berupa jalur hijau
dan jaringan jalan dengan lebar 25-50 meter.
Dengan mempertimbangkan kriteria tersebut, maka pengembangan kawasan
industri dan pergudangan di Kota Padang diarahkan secara terpadu dengan
Kawasan Pelabuhan Teluk Bayur dan Kawasan Industri di Kecamatan Bungus
Teluk Kabung dengan luas sekitar 183 Ha. Selain itu, juga dikembangkan
kawasan industri semen di Indarung yang terintegrasi dengan lokasi
penambangannya. Selain itu, juga telah dikembangkan kawasan industri semen
di Indarung yang terintegrasi dengan lokasi penambangannya, serta Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK) di koridor Utara By Pass, Kawasan Industri Kecil di
Kecamatan Lubuk Kilangan dan Kecamatan Lubuk Begalung.
5) Wilayah Potensi Pertambangan
Kawasan pertambangan dikembangkan untuk menampung kegiatan
pertambangan bagi wilayah yang sudah maupun akan segera dilakukan
kegiatan pertambangan, baik yang terkait dengan pengembangan area
tambang untuk mendukung pengembangan pabrik Semen Padang maupun
pengembangan bahan tambang lainnya.

17

Tujuan pengembangan kawasan pertambangan adalah untuk:


1. Menyediakan ruang untuk kegiatan-kegiatan pertambangan dalam upaya
meningkatkan keseimbangan antara penggunaan lahan secara ekonomis,
lingkungan dan mendorong pertumbuhan lapangan kerja.
2. Menjamin kegiatan pertambangan yang berkualitas tinggi dan melindungi
penggunaan lahan untuk pertambangan serta membatasi penggunaan non
pertambangan.
Sedangkan untuk kegiatan penambangan rakyat (Galian non logam) dalam
skala kecil dilakukan pada lokasi-lokasi yang tergolong bukan daerah rawan
tambang sebagaimana yang telah ditetapkan oleh instansi terkait.
2.1.7. Wilayah Rawan Bencana
Kota Padang memiliki berbagai bentuk potensi bencana alam, seperti:
1) Gempa Bumi
Kota Padang terbentuk di sepanjang jalur gempa mengikuti zona subduksi
sepanjang 6.500 km di sebelah Barat Pulau Sumatera. Tumbukan Lempeng
Samudera Hindia dan Lempeng Australia yang menyusup di bawah Lempeng
Eurasia. Membentuk Zona Benioff, yang secara terus menerus aktif bergerak ke
arah Barat-Timur yang merupakan zona bergempa dengan seismisitas cukup
tinggi. Kondisi ini menyebabkan Kota Padang menjadi daerah tektonik giat dan
merupakan sumber gempa merusak.
Data kegempaan dari BKMG memperlihatkan lokasi pusat-pusat gempa di
perairan Kota Padang tersebar cukup merata. Pusat gempa terlihat lebih
banyak di perairan antara Pulau Enggano dan daratan Pulau Sumatera.
Frekuensi kejadian gempa dari tahun 1900 hingga 1963 relatif sedikit,
sedangkan dari tahun 1963 hingga 1995 terjadi peningkatan. Gempa terjadi 3
sampai 16 kali pertahun dalam kurun 1963-1975, frekuensi ini menurun hingga
2 kali kejadian dalam tahun 1984, dan kemudian meningkat lagi dengan 2 kali
kejadian pada tahun 1995. Kebanyakan sumber-sumber gempa tersebut berada
pada kedalaman 33 hingga 100 Km, dengan magnitudo lebih besar dari 5 Skala
Richter.
Zona tektonik aktif yang terbentuk dari penujaman lempeng di sebelah Barat
Pulau Sumatera juga dapat dilihat dari adanya gunung api aktif yang muncul di
sepanjang jalur patahan aktif di bagian sisi Barat Pulau Sumatera yang
bergerak geser kanan (dextral strike slip fault). Jalur patahan Sumatera yang
juga biasa disebut dengan Patahan Semangko sepanjang 1.650 Km,
menyebabkan blok sebelah Barat Sumatera bergerak ke Utara sedangkan yang
di sebelah Timur bergerak ke Selatan serta melahirkan kepulauan busur dalam
(inner island arc) seperti Pulau Nias, Mentawai dan Enggano. Gempa vulkanik
yang terjadi di Kota Padang disebabkan posisi kota berada di dekat 3 gunung
api aktif, yaitu Gunung Talang, Merapi dan Tandikek.

18

2) Gelombang Tsunami
Solusi mekanisme fokal dari beberapa pusat gempa, umumnya menunjukkan
tipe sesar naik. Sumber patahan seperti ini jika mempunyai magnitudo lebih
besar dari atau sama dengan 7 Skala Richter sangat berpotensi sebagai
pembangkit gelombang tsunami.
Letak Kota Padang yang berada di Pantai Barat Sumatera, yang berbatasan
langsung dengan laut terbuka (Samudera Hindia) dan zona tumbukan aktif dua
lempeng menjadikan Padang salah satu kota paling rawan bahaya gelombang
Tsunami. Gempa tektonik sepanjang daerah subduksi dan adanya seismik aktif,
dapat mengakibatkan gelombang yang luar biasa dahsyat. Dari catatan sejarah
bencana, gelombang tsunami pernah melanda Sumatera Barat pada tahun
1797, tahun 1833 dan terakhir pada tahun 2010 yang melanda kabupaten
Kepulauan Mentawai.
3) Longsoran Lahan
Hasil analisis tingkat bahaya longsoran lahan menunjukkan sebagian besar
daerah berada pada daerah yang memiliki tingkat bahaya longsoran lahan yang
tinggi. Tingkat bahaya longsoran lahan rendah umumnya terdapat pada daerah
dataran alluvial dan dataran alluvial pantai dengan lereng 0-8%, sedangkan
tingkat bahaya longsoran lahan sedang terdapat pada daerah lereng kaki
pegunungan dan kompleks perbukitan vulkanik.
Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya longsoran lahan di Kota Padang
adalah karakteristik lahannya berupa kemiringan lereng berkisar 23-99%.
Bentuk lereng umumnya tidak beraturan (irreguler), dengan panjang lereng
yang bervariasi, mulai dari 12 hingga 150 meter. Ketinggian daerah yang
sebagian besar berupa kompleks perbukitan vulkanik, dan kompleks
pegunungan vulkanik dengan ketinggian relief berkisar antara 500-1.000 meter
dari permukaan laut.
Tingkat bahaya longsoran lahan tinggi hampir terdapat pada setiap Kecamatan
di Kota Padang, kecuali Kecamatan Padang Utara dan Padang Timur. Hal ini
disebabkan daerah tersebut umumnya memiliki topografi daerah yang datar
dengan kemiringan berkisar 0-8%, Penggunaan lahan permukiman dan
prasarana publik pada daerah ini umumnya terkonsentrasi pada daerah yang
memiliki topografi datar. Tingkat risiko longsoran lahan tinggi yang memiliki
luasan terbesar terdapat pada Kecamatan Padang Selatan dengan luas 16 Ha,
sedangkan tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah umumnya terdapat
pada setiap kecamatan.
4) Erosi Pantai
Erosi pantai/abrasi merupakan peristiwa alam yang mengakibatkan terjadinya
pengikisan pada pantai sehingga luas daerah pantai menjadi berkurang. Erosi
pantai/abrasi terjadi akibat pengaruh yang berasal dari laut yaitu berupa
gelombang, arus laut dan longshore current atau arus sejajar pantai.

19

Pada umumnya proses interaksi antara perairan pantai dengan laut lepas lebih
banyak ditemui pada pantai di Kota Padang karena pantai-pantai tersebut
banyak berhubungan dengan lautan, terkecuali Pantai Bungus, karena pantai ini
terletak pada daerah teluk, maka kecepatan arus sepanjang pantainya
cenderung menjadi rendah.
Salah satu faktor penyebab tingginya laju abrasi pantai, khususnya di daerah
Pasir Parupuk disebabkan oleh konstruksi yang dibangun (creep) kurang
memadai (pemecah gelombang Oleh karena konstruksi ini berfungsi
menghadang aliran litoral (litoral drift), Kondisi semacam ini akan memicu
proses abrasi yang terjadi di wilayah tersebut.
Umumnya pantai Padang kebanyakan pantai pasir yang terdiri dari kuarsa dan
feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan lahan
atas (upland). Untuk daerah pasir di sekitar Kampus Universitas Bung Hatta,
merupakan sisa-sisa terumbu karang yang dominan. Pantai ini dibatasi hanya di
daerah tempat gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus
dan ringan.
5) Banjir
Bahaya banjir di Kota Padang dapat dibedakan menjadi bahaya banjir tinggi,
sedang dan ringan. Kota Padang mempunyai potensi banjir tinggi dan sedang
bahkan terdapat potensi banjir bandang. Bahaya banjir sedang jarang terjadi
dan kalau terjadi hanya dalam jangka waktu relatif panjang, sedangkan yang
sering terjadi banjir ringan dalam bentuk genangan sementara pada musim
hujan.
Banjir sedang terjadi pada wilayah perpaduan antara bentuk lahan perbukitan
vulkanik bagian Timur, bentuk lahan aluvial bagian Tengah dan bentuk lahan
miring bagian Barat. Daerah bagian Timur merupakan perbukitan vulkanik
Daerah ini merupakan lahan aluvial dan miring yang dilalui oleh beberapa
sungai besar seperti Batang Bungus, Batang Arau, Batang Kuranji dan Batang
Air Dingin serta masih ada lagi 18 sungai kecil lainnya yang mempunyai aliran
permanen sepanjang tahun. Oleh karena, Kota Padang merupakan daerah
tropis mempunyai curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata curah hujan
348 mm per bulan dan rata-rata hari hujan 19 hari per bulan, sehingga terjadi
luapan sungai dan banjir bandang.
Tingkat bahaya banjir ringan bersifat genangan terbesar terdapat pada
Kecamatan Koto Tangah dengan luas daerah 790 ha umumnya disebabkan oleh
curah hujan yang tinggi dan kejadian pasang surut air laut. Kejadian banjir di
Kota Padang sering bertepatan dengan kejadian pasang naik, sehingga air yang
akan mengalir ke laut terhambat karena bertemunya dua massa air, yaitu
massa air tawar dan massa air laut ini yang sering menyebabkan banjir ringan
yang bersifar genangan.

20

2.1.8. Kondisi Demografi


A. Jumlah Penduduk
Berdasarkan Sensus Penduduk (SP, 2010), jumlah penduduk Kota Padang
tercatat sebanyak 833.562 jiwa. Jumlah penduduk tersebut tersebar kedalam 11
wilayah kecamatan Kota Padang. Jumlah penduduk terbanyak terlihat pada
Kecamatan Koto Tangah, Kuranji dan Lubuk Begalung. Sedangkan kecamatan yang
terendah jumlah penduduknya adalah Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Lubuk
Kilangan dan Pauh.
Perkembangan penduduk Kota Padang dalam 5 tahun terakhir menunjukkan
kenaikan, tahun 2009 jumlah penduduk tercatat sebanyak 875.750 orang Kenaikan
tersebut disebabkan perkiraan dari tahun 2006 menggunakan pekiraan laju
pertumbuhan penduduk rata-rata 2,23% pertahun, yaitu perkiraan SP 1980 dan SP
1990 yang dikoreksi dengan SUPAS 1995, sehingga jumlah penduduk Kota Padang
terjadi penurunan yang tajam dengan hasil SP 2000, yaitu sebanyak 833.562 orang.
Apabila dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010, dengan SP. 2000, jumlah
penduduk sebanyak 713.242 orang, maka diperoleh laju pertumbuhan penduduk
sekitar 1,57% pertahun. Dari data pertumbuhan antar 2 sensus diatas dapat
diproyeksikan jumlah penduduk dalam beberapa tahun ke depan.
Berdasarkan hasil SP 2010, diperkirakan jumlah penduduk Kota Padang
diharapkan menggunakan laju pertumbuhan 1,57% pertahun, sehingga laju
pertumbuhan 2,23% tidak relevan lagi. Berdasarkan itu pula jumlah penduduk Kota
Padang pada tahun 2011 akan menjadi sebanyak 844.316 orang dan tahun 2012
sebanyak 854.336 orang, dan pada tahun 2013 diperkirakan naik menjadi 876.678
orang.
Tabel 2.3
Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Padang
Pada Tahun 2010-2013 (orang)
Kecamatan

2010

2011

2012

2013

Kepadatan
Penduduk
Tahun 2013

1. Bungus Teluk Kabung

22.896

23.142

23.360

23.858

237

2. Lubuk Kilangan

48.850

49.751

50.249

51.847

603

3. Lubuk Begalung

106.432

108.018

109.584

113.217

3.663

4. Padang Selatan

57.718

57.386

58.320

58.780

5.860

5. Padang Timur

77.868

77.932

77.989

78.789

9.667

6. Padang Barat

45.380

46.060

46.411

45.781

6.540

7. Padang Utara

69.119

69.275

69.729

70.051

8.670

8. Nanggalo

57.275

57.731

58.232

59.137

7.328

9. Kuranji

126.729

128.835

130.916

135.787

2.365

10. P a u h

59.216

60.553

61.755

64.864

443

21

11. Koto Tangah


Jumlah

162.079

165.633

167.791

174.567

752

833.562

844.316

854.336

876.678

1.261

Sumber: BPS, Padang Dalam Angka 2013

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Kecamatan yang paling kecil jumlah
penduduknya adalah kecamatan Teluk Kabung dengan tingkat kepadatan juga
paling rendah yakni 237 jiwa/km2 pada tahun 2013, sedangkan kecamatan yang
paling padat penduduknya adalah Kecamatan Padang Timur dengan tingkat
kepadatan 9.667 jiwa/km2, yang diikuti oleh kecamatan Padang Utara dan
Kecamatan Nanggalo dengan kepadatan penduduk masing-masingnya adalah 8.670
jiwa/km2 dan 7.328 jiwa/km2. Sedangkan untuk jumlah penduduk paling besar
berada di kecamatan Koto Tangah yang merupakan kecamatan terluas di kota
Padang. Data ini memperlihatkan bahwa penyebaran penduduk kota Padang tidak
merata dan masih cenderung terkonsentrasi di pusat kota, hal ini merupakan
fenomena kota pada umumnya.
B. Komposisi Penduduk Menurut Jenis dan Kelompok Umur
Pada tahun 2013 komposisi penduduk Kota Padang menunjukkan bahwa
jumlah penduduk laki-laki relatif lebih sedikit dari pada perempuan dengan sex ratio
99,46. Sementara itu komposisi penduduk menurut kelompok umur memperlihatkan
pola piramida tidak normal, dimana penduduk berusia muda relatif besar, yaitu
26,36% dari jumlah penduduk (15 tahun kebawah dan 15-24 tahun) sedangkan
secara piramida normal bergerak sesudah tingkat umur 24 tahun.
Sebagian besar komposisi penduduk penduduk produktif tahun 2013
tersebar pada kelompok umur usia muda, 15-34 tahun. Kondisi ini disebabkan
kenaikan jumlah penduduk alamiah dan non alamiah selama 10 tahun terakhir. Hal
ini disebabkan oleh faktor alamiah yaitu tingginya angka kelahiran yang terlihat
dengan masih besarnya porsi jumlah penduduk 0-4 tahun, sedangkan faktor nonalamiah adalah factor eksternal, yaitu tingginya angka migrasi dan urbanisasi ke
kota Padang. Penduduk yang bermigrasi dan urbanisasi pada umumnya pada
kelompok umur 19-29 dan 20-24 tahun, sedangkan titik threshold terjadi pada usia
kerja 25-29 tahun dan kemudian pada usia 25-29 tahun secara perlahan mulai
turun, mulai usia kerja usia 30 sampai 75 tahun ke atas.
Tabel 2.4
Komposisi Penduduk Kota Padang Menurut
Kelompok Umur Tahun 2013
Kelompok
Umur
(Tahun)

Jumlah Penduduk (Jiwa)


Perempuan

JUMLAH

Laki-Laki

Jumlah

Ratio

0-4

41.608

40.123

81731

9,32

103,70

5-9

38.818

37.031

75849

8,65

104,83

10-14

37.319

36.230

73549

8,39

103,01

22

Kelompok
Umur
(Tahun)

Jumlah Penduduk (Jiwa)


Perempuan

JUMLAH

Laki-Laki

Jumlah

Ratio

15-19

45.757

47.371

93128

10,62

96,59

20-24

58.033

57.564

115597

13,19

100,81

25-29

39.023

36.541

75564

8,62

106,79

30-34

31.362

32.086

63448

7,24

97,74

35-39

30.267

30.960

61227

6,98

97,76

40-44

28.009

29.080

57089

6,51

96,32

45-49

24.328

25.014

49342

5,63

97,26

50-54

21.379

21.580

42959

4,90

99,07

55-59

17.247

17.106

34353

3,92

100,82

60-64

10.209

10.378

20587

2,35

98,37

65-69

6.183

6.848

13031

1,49

90,29

70-74

3.984

5.089

9073

1,03

78,29

75+

3.636

6.515

10151

1,16

55,81

437.162

439.516

876.678

100

99,46

JUMLAH

Sumber: BPS, Padang Dalam Angka 2013

Gambaran data kependudukan di atas menunjukan bahwa, penduduk


produktif, (15-64 tahun) tahun 2013 tercatat 613.294 orang, yaitu sekitar 69,96%.
Sedangkan penduduk non produktif sebanyak 231.129 orang (0-14 tahun) dan 65
tahun keatas sebanyak 32.255 orang atau sekitar 30,04%. Sebagian besar
komposisi penduduk penduduk produktif tahun 2013 tersebar pada kelompok umur
usia muda, 15-34 tahun. Kondisi ini disebabkan kenaikan jumlah penduduk alamiah
dan non alamiah selama 10 tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh faktor alamiah
yaitu tingginya angka kelahiran yang terlihat dengan besarnya porsi jumlah
penduduk 0-4 tahun, sedangkan faktor non-alamiah adalah factor eksternal, yaitu
tingginya angka migrasi dan urbanisasi ke kota. Penduduk yang bermigrasi dan
urbanisasi pada umumnya pada kelompok umur 19-29 dan 2024 tahun, sedangkan
titik threshold terjadi pada usia kerja 25-29 tahun dan kemudian pada usia 25-29
tahun secara perlahan mulai turun, mulai usia kerja usia 30 sampai 75 tahun ke
atas.
2.2. ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
A. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang cukup penting
dalam menentukan tingkat keberhasilan pembangunan kota. Dalam tahun 2013 laju
pertumbuhan ekonomi Kota Padang mencapai sekitar 6,45%, angka ini masih
merupakan angka sementara (BPS,2013). Pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi

23

Kota Padang adalah 6,61%, angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi tahun
2011 yaitu sebesar 6,41%. Kenaikan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi ini
dicapai dalam tiga tahun terakhir, oleh karena pada tahun sebelumnya
pertumbuhan ekonomi Kota Padang sempat mengalami penurunan akibat gempa
yang terjadi pada tahun 2009, dimana pada tahun 2009 pertumbuhan mengalami
penurunan drastis, yaitu sekitar 5,08% dan tahun 2010 Kota Padang dapat
bertumbuh kembali sebesar 5,95%.
Kenaikan yang cukup berarti dalam tiga tahun terakhir di kota Padang
disebabkan perkembangan beberapa sektor lapangan usaha yang dominan
mengalami pertumbuhan cukup baik diatas 6%, antara lain, sektor pengangkutan
dan komunikasi naik sekitar 7,07% dan sektor jasa-jasa sekitar 6,56%. Sedangkan
sektor dominan lainnya seperti sektor perdagangan, hotel dan restoran yang naik
sekitar 6%. Ke-tiga sektor ini tercatat menjadi andalan dalam memberikan
konstribusi terhadap pembentukan PDRB Kota Padang, yaitu masing-masing sekitar
24,83%, 16,88% dan 21,60%. Data selengkapnya tentang PDRB kota Padang
selama periode tahun 2009-2013 menurut harga konstan diperlihatkan oleh tabel di
bawah ini.
Tabel 2.5
PDRB Kota Padang atas Harga Konstan Tahun 2000 Menurut Lapangan
Usaha Tahun 2009-2012 (dalam Rp. Milyar)
No Lapangan Usaha
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

2009

Pertanian peternakan
583,18
kehutanan Perikanan.
Pertambangan dan
173,46
penggalian
Industri pengolahan.
1.854,26
Listrik.gas.air bersih
203,48
Bangunan
481,03
Perdagangan hotel dan
2.432,01
restoran
Pengangkutan dan
2.805,27
komunikasi.
Keuangan persewaan
915,99
jasa perusahaan
Jasa-Jasa
1,896,97
PDRB Kota Padang 11.345,64

612,53

645,54

680,47

Pertumbuhan (%)
715,95
5,22

185,32

198,15

211,78

229,59

8,41

1.938,43
214,89
517,21
2.544,65

2.033,22
227,54
558,43
2.684,51

2.119,22
241,01
613,49
2.839,12

2.234,97
253,38
672,32
3.009,11

5,46
5,13
9,59
5,99

3.029,07

3.280,00

3.561,59

3.813,23

7,07

977,18

1.047,09

1.132,51

1.202,95

6,22

2.002,32
2.117,71
2.238,18
2.385,18
12.021,60 12.792,18 13.637,36 14.516,71

6,56
6,45

2010

2011

2012

2013*

Sumber: Padang Dalam Angka 2013


Catatan: * = angka sementara

B. Struktur Ekonomi Kota Padang


Struktur ekonomi dari suatu daerah dapat dilihat distribusi PDRB Atas Dasar
Harga Berlaku demikian juga halnya dengan Kota Padang. Dengan menggunakan
perhitungan PDRB atas dasar harga berlaku dapat diketahui bentuk struktur
perekonomian Kota Padang, sekaligus peranan masing-masing lapangan usaha
seperti sektor pertanian, sektor pengangkutan & komunikasi, perdagangan, hotel

24

dan restoran serta jasa-jasa dan industri pengolahan terhadap perekonomian


daerah.
Dalam perekonomian kota Padang, sektor pengangkutan dan komunikasi
memberikan kontribusi terbesar dimana selama lima tahun terakhir (tahun 20092013) sector ini memberikan kontribusi rata-rata 24,35% dari PDRB Atas Dasar
Harga Berlaku. Sektor terbesar kedua yang menyumbangkan kontribusi pada
perekonomian kota Padang adalah lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran
yaitu dengan nila rata-rata untuk lima tahun terakhir ini sebesar 21,41%. Besarnya
kontribusi pengangkutan dan komunikasi serta perdagangan besar dan eceran lebih
disebabkan peran Kota Padang sebagai Ibu-Kota Provinsi serta sentral perdagangan
besar dan eceran di Sumatera Barat. Sektor berikutnya yang berkontribusi cukup
besar adalah sektor jasa, yaitu rata-rata sebesar 16,81%, dan sector yang juga
berpotensi besar adalah sector industri pengolahan yakni dengan rata-rata
kontribusi 14,84%.
Mengingat peranan ke-empat sektor ini dominan dalam perekonomian kota
Padang, maka dalam pembangunan pada umumnya dan pembangunan ekonomi
khususnya ke empat sektor ini perlu mendapat perhatian untuk mendorong
perkembangannya dimasa mendatang. Untuk jelasnya kontribusi lapangan usaha
dalam perekonomian kota Padang dapat dilihat dalam Tabel 2.6 berikut ini.
Tabel 2.6
Distribusi PDRB Kota Padang Atas Dasar Harga Berlaku
Menurut Lapangan Usaha 2009-2013 (dalam %)
No.

Lapangan Usaha

2009

2010

2011

2012

2013

Rata2

1.

Pertanian peternakan
kehutanan Perikanan

5,73

5,82

5,87

5,78

5,70

5.67

2.

Pertambangan dan penggalian

1,74

1,69

1,66

1,68

1,66

1.66

3.

Industri pengolahan.

14,97

14,89

14,66

14,29

13,81

14.84

4.

Listrik.gas.air bersih

2,09

2,00

1,92

1,88

1,81

1.92

5.

Bangunan

4,45

4,88

5,10

5,23

5,25

5.02

6.

Perdagangan hotel dan


restoran

20,85

21,15

21,37

21,50

21,60

21.41

7.

Pengangkutan dan komunikasi

24,31

24,18

24,18

24,34

24,83

24.35

8.

Keuangan persewaan jasa


perusahaan

8,76

8,62

8,51

8,66

8,47

8.49

9.
Jasa-Jasa
16,99
16,77
16,74 16,63 16,88
Sumber: Bappeda Kota Padang Dalam Angka 2013 Catatan: * = angka sementara

16.81

C. Laju Inflasi Kota


Perkembangan inflasi di Kota Padang pada pertengahan tahun 2013
mempunyai kecenderungan peningkatan dibandingan tahun 2012. Peningkatan
terjadi karena didorong kenaikan beberapa komoditi penting pada bulan Mei 2013
diperkirakan tingkat inflasi Kota Padang mempunyai kecenderungan mengalami
peningkatan, karena didorong kenaikan beberapa komoditi kebutuhan pokok cabe,
bawang, daging dan minyak tanah.

25

Hal ini ditandai dengan gejala kenaikan biaya hidup (IHK). Pada bulan April
2013 tingkat biaya hidup telah terjadi peningkatan, IHK sebesar 144,22 dan Maret
2013 sekitar 143,42. Kenaikan biaya hidup dalam 2 bulan terakhir mengalami
kenaikan dan mendorong kenaikan harga bahan pokok sekitar 1,14%. Februari
2013, tingkat inflasi tahunan (yoy) diperkirakan akan mencapai 6,59% lebih tinggi
dari pada inflasi akhir tahun 2012, yaitu sekitar 4,18%. Inflasi tahunan (yoy)
Februari 2012 adalah sekitar 5,36%. Tingginya tingkat inflasi tahun 2013
disebabkan oleh kenaikan IHK (Indeks Harga Konsumen) rata-rata sekitar 135,39%
yang mendorong kenaikan inflasi bulanan (mtm) mencapai sekitar 0,63%, dimana
sebelumnya pada bulan Februari 2012 berada pada tingkat terendah, yaitu sekitar
0,91% dan pada bulan Maret 2013 mengalami kenaikan sekitar 0,43% dan inflasi
tahunan berkisar rata-rata 2,95% dengan Indek Harga Konsumen sekitar 134,67%.
Dibandingkan dengan gerakan inflasi tahun sebelumnya relatif
perkembangannya lebih stabil, dimana inflasi bulanan (mtm) tahun 2011 sedikit
jauh lebih tinggi, begitu juga dengan dibandingkan pergerakan inflasi tahun 2010,
Diperkirakan gerakan inflasi kedepan sampai Desember 2013 kondisinya tidak
banyak berbeda dengan tahun sebelumnya, walaupun dalam tahun 2013 terjadi
kenaikan beberapa komoditi kebutuhan pokok seperti cabe dan bawang, namun hal
ini terjadi insidentil karena masalah teknis distribusi saja. Perkembangan dan
perubahan tingkat inflasi tahunan (yoy) dan bulanan (mtm) di Kota Padang tahun
2011-2013 dapat dilihat pada Tabel 2.7 berikut ini.
Tabel 2.7
Perkembangan dan perubahan Indek Harga Konsumen, Inflasi Bulanan
dan Inflasi Tahunan di Kota Padang Tahun 2011 -2013
Inflasi Bulanan
(mtm)

IHK

Tahun/Bln

Inflasi Tahunan
(yoy)

2011

2012

2013

2011

2012

2013

2011

2012

2013

Januari

132,42

130,31

142,03

3,70

0,56

1,34

10,08

2,18

4,97

Februari

133,00

134,09

142,93

0,44

0,90

0,63

10,37

0,82

6,59

Maret

129,55

134,87

143,42

-2,59

0,43

0,34

8,30

3,95

6,50

April

128,16

138.29

144,22

-1,07

0,46

0,56

6,35

5,56

6,60

Mei

134,71

134,71

145,14

1,59

-0,43

0,64

6,36

5,03

7,74

Juni

136,36

136,36

147,17

0,11

1,22

1,40

4,82

6,19

7,94

Juli

129,39

136,53

151,22

0,77

0,13

2,75

0,37

5,62

10,76

Agustus

138,01

138,01

152,59

0,37

1,08

0,91

5,63

5,47

10,56

September

132,47

138,75

152,67

2,24

0,54

0,05

7,34

4,34

10,03

Oktober

133,3

139,73

153,71

0,63

O,71

0,68

7,95

4,82

10,01

Nopember

133,91

138,85

154,31

0,46

-0,63

0,39

6,97

3,89

11,13

Desember

134,55

140,15

155,39

0,48

0,94

0,70

5,37

4,18

10,87

Sumber: BPS

26

Dari tabel di atas dapat dilihat selama tiga tahun terakhir menunjukkan
bahwa laju inflasi PDRB kota Padang menunjukkan kecenderungan meningkat, hal
ini menunjukkan bahwa perlu perhatian dan penanganan yang lebih untuk
mengendalikan laju inflasi kota agar perkembangan ekonomi dapat mendorong
peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah ini.
D. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang
dan jasa, lokasi, kondisi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Permasalahan
kemiskinan yang cukup kompleks dan membutuhkan intervensi semua pihak secara
bersama dan terkoordinasi. Namun penanganannya selama ini cenderung parsial
dan tidak berkelanjutan. Peran dunia usaha dan masyarakat pada umumnya juga
belum optimal. Kemiskinan sebagai masalah multidimensi, tidak dipahami hanya
sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi kegagalan pemenuhan hak dasar dan
perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang.
Penanggulangan kemiskinan dilakukan melalui berbagai upaya untuk
menjamin kehormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat
miskin perwujudan keadilan dan kesetaraan gender, serta percepatan
pembangunan pedesaan, perkotaan, kawasan pesisir, serta kawasan tertinggal.
Di Kota Padang angka kemiskinan dari tahun ketahun mengalami fluktuasi
dimana pada tahun 2012 mencapai angka 5,30% (BPS, 2013), dan mengalami
penurunan pada tahun 2013 pada angka 5,02% (BPS, 2014 *angka sementara).
Dengan berbagai intervensi pemerintah baik pusat dan daerah angka kemiskinan
mengalami penurunan sebesar 0,28%.
2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial
A. Pendidikan
Untuk melihat kondisi pendidikan di kota Padang maka indikator pendidikan
yang digunakan dalam pembahasan ini adalah angka melek huruf dan angka ratarata lama sekolah.
a) Angka Melek Huruf
Angka Melek Huruf adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang
dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. Salah satu
indikator pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
menurut MDGs adalah angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun.
Kelompok penduduk ini adalah kelompok penduduk usia produktif, sebagai
sumber daya pembangunan yang seharusnya memiliki pendidikan yang
memadai dan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Oleh

27

karena itu, dianggap penting untuk melihat perkembangan kemajuan indikator


yang terjadi.
Berdasarkan data BPS, Angka Melek Huruf di Kota Padang selama periode
2006-2012 selalu di atas rata-rata Angka Melek Huruf Provinsi Sumatera Barat,
dimana peningkatannya sudah sangat kecil, rata-rata angka melek huruf kota
padang mencapai nilai 99,49% sedangkan untuk Sumatera Barat nilainya
adalah 96,83%, secara rinci hal ini dapat dilihat pada tabel 2.8 berikut ini:
Tabel 2.8
Angka Melek Huruf Kota Padang dan Sumatera Barat
Tahun 2006-2013 (Dalam%)
Tahun

Kota Padang

Sumatera Barat

2006

99,48

96,35

2007

99,48

96,49

2008

99,48

96,66

2009

99,49

96,81

2010

99,49

96,98

2011

99,50

96,85

2012

99,51

97,23

2013*

99,52

97,29

Rata-rata

99,49

96,83

Sumber: BPS , kota Padang 2013


Catatan: * angka perkiraan

b) Angka Rata-Rata Lama Sekolah


Angka rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan
oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan
formal yang pernah dijalani. Berdasarkan hasil perhitungan BPS yaitu kombinasi
antara partisipasi sekolah, jenjang pendidikan yang sedang dijalani, kelas yang
diduduki dan pendidikan yang ditamatkan maka diperolehlah angka rata-rata
lama sekolah. Angka rata-rata lama sekolah Kota Padang dalam lima tahun
terakhir ini cenderung tidak mengalami peningkatan yang cukup berarti. Hingga
tahun 2013, angka rata-rata lama sekolah di Kota Padang relatif tinggi, yaitu
10,94 dan angka rata-rata lama sekolah di kota Padang adalah yang tertinggi
diantara kota-kota di wilayah Sumatera Barat. Gambaran selengkapnya dapat
dilihat pada table 2.9 berikut ini:

28

Tabel 2.9
Rata-rata Lama Sekolah Berbagai Kota di Sumatera Barat
Tahun 2009-2013 (dalam Tahun)
Kota

2009

2010

2011

2012

2013*

Padang

10,89

10,91

10,92

10,94

10.94

Solok

9,80

9,80

9,80

10,48

11.16

Sawahlunto

8,77

8,77

8,79

9,22

9.38

Padang Panjang

10,20

10,20

10,20

10,73

11.26

Bukittinggi

10,43

10,43

10,44

10,58

10.63

Payakumbuh

9,07

9,07

9,08

9,73

9.95

Pariaman

9,33

9,33

9,33

8,92

9,01

Sumber: BPS, Provinsi Sumatera Barat Dalam Angka ,2013


Catatan: *= angka perkiraan.

B. Kesehatan
Indikator kesejahteraan sosial merupakan komponen utama dalam
menentukan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Berdasarkan kategori UNDP, IPM
dapat diklasifikasikan atas:
a) Katagori rendah adalah capaian IPM < 50.
b) Kategori menengah kebawah capaian 50 < IPM < 66.
c) Kategori menengah keatas capaian 66 < IPM < 80.
d) Kategori tinggi capaian IPM > 80.
Dalam 5 tahun terakhir capaian IPM Kota Padang cukup bagus dan hampir
merata antar kecamatan. Capaian tertinggi terlihat pada Kecamatan Padang Utara
sekitar 80,70 dan terendah pada Kecamatan Bungus Teluk Kabung sekitar 74,27.
Tahun 2008, angka IPM Kota Padang adalah 77,20 dan pada tahun 2013 naik
menjadi 78,85.IPM Kota Padang jika dibandingkan dengan 19 Kabupaten dan Kota
di Provinsi Sumatera Barat berada pada rangking ke dua setelah Kota Bukittinggi
(79,29).
Tiga komponen utama sebagai indikator kesejahteraan sosial adalah: (1)
Angka Harapan Hidup (expectation of life), (2) angka kelangsungan hidup bayi per
1.000 kelahiran. Biasanya angka ini diukur dengan jumlah kematian bayi setiap
1000 ibu melahirkan (infant mortality rate), dan (3) Balita Gizi Buruk. Ketiga
indikator ini sekaligus memberikan gambaran capaian derajat kesehatan
masyarakat. Sejak 2008-2012 ketiga indikator ini perkembangan cukup
menggembirakan. Dimana jarak angka tertinggi dan terendah semakin kecil.
Perkembangan indikator kesejahteraan sosial dapat dilihat Tabel 2.10 berikut ini:

29

Tabel 2.10
Indikator Kesejahteraan Bidang Kesehatan Kota Padang
Tahun 2008-2013
NO.

URAIAN

1.

Indeks
Pembangunan
Manusia (IPM)

2.

2008

2009

2010

2011

2012

2013*

77,20

77,43

77,81

78,15

78.55

78,85

Usia Harapan Hidup

70,3

70,3

70,89

71,14

71,39

71,45

3.

Kelangsungan Hidup
Bayi (per-1.000)

71,4

74,0

77,0

77,0

77,0

79,3

4.

Balita Gizi Buruk (%)

0,11

0,7

0,130

0,080

0,070

0,056

Sumber: BPS , Padang Dalam Angka Tahun 2013


Catatan: * = angka perkiraan

Hal menarik yang dapat dilihat dari 3 indikator utama di atas adalah Angka
Harapan Hidup (Expectation of Life) yang setiap tahun terus meningkat. Angka
Harapan Hidup memberikan gambaran membaiknya derajat kesehatan penduduk
Kota Padang dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya untuk mewujudkan manusia
berkualitas mutlak diperlukan peningkatan derajad kesehatan masyarakat. Dalam
periode 2008-2013, Angka Harapan Hidup warga Kota Padang sudah 71,45 tahun.
Angka ini sudah berada diatas rata-rata Negara Sedang Berkembang (NSB), yaitu
55 s/d 60 tahun.
Indikator kedua dalam menentukan derajat kesehatan adalah Kelangsungan
Hidup Bayi, dimana terlihat pada tahun 2012 data dalam 1000 ibu melahirkan hanya
terdapat 20,7% angka kematian bayi waktu lahir (Infant Mortality rate), sedangkan
pada tahun 2008 angkanya masih 71,4%. Dalam hal yang sama terhadap indikator
ketiga, yaitu jumlah Balita Bergizi Buruk, terlihat derajat kesehatan bayi juga
meningkat.
C. Seni dan Budaya
Pembinaan seni tradisional yang bernuansa Islami dan seiring dengan
kebudayaan Minangkabau sepertinya lebih mudah untuk dibuatkan konsepnya
daripada diwujudkan dalam pelaksanaannya. Ada beberapa contohnya seperti seni
bela diri pencak silat, seni irama dalam MTQ (Musabaqah Tilawatil Al Quran), seni
rebana dan qasidah, seni salawat dulang dan berzanzi, proses pembuatan lemang
(malamang) dan sebagainya. Seni dan budaya tersebut hidup dan berkembang
dalam masyarakat, dan tersebar merata hampir di setiap kecamatan-kecamatan
yang ada di Kota Padang ini.
Namun demikian dari kondisi yang ada sekarang nampaknya memang masih
perlu lebih diperhatikan pola pembinaan dan pengembangannya dengan
menjadikan sebagai potensi daerah dan identitas sebuah kota. Sehingga
perkembangan fisik sebuah kota dengan berbagai permasalahan yang

30

melingkupinya tidak akan menghilangkan identitas budaya Minangkabau yang


menjadi etalase dari perkembangan Sumatera Barat. Dengan demikian Kota Padang
sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat memperoleh identitas yang
membedakannya dengan kota-kota lain di Provinsi Sumatera Barat dan Indonesia.
Selain mengembangkan potensi seni budaya Minangkabau yang selaras
dengan nilai-nilai Islami yang telah berkembang dalam masyarakat, juga perlu
untuk menghidupkan seni budaya lain yang berkembang dalam masyarakat seperti
budaya dari etnisitas lain yang juga terdapat di Kota Padang ini. Seni Barongsai, dan
Cap Go Meh umpamanya, yang hidup dan berkembang dalam masyarakat etnis
Tionghoa dapat juga menjadi seni dan budaya yang menjadi salah satu hal yang
memperkaya khasanah seni dan budaya yang ada di Kota Padang. Begitu juga
dengan upacara tabur gula, yang berkembang pada masyarakat Kota Padang yang
berasal dari keturunan India/Pakistan dan tata cara pada pesta pernikahan dan
kematian pada setiap suku bangsa yang ada. Beberapa potensi seni dan budaya
yang dimiliki kota Padang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.11
Potensi Seni Budaya Kota Padang
NO.

URAIAN

Contoh Potensi

1.

Even seni budaya


tahunan

Pekan budaya, Festifal Siti Nurbaya, Festival Kuliner


Rendang Padang, Pemilihan Uni dan Uda Padang

2.

Even Olah Raga

Dragon Boat, Porda, Tour de Singkarak

3.

Bangunan Bersejarah

Museum Adityawarman, Mesjid Raya Gantiang, kota


Tua

4.

Even tradisi masyarakat

Balimau, Randai, Barongsai, silek Pauah, musik dan


tari tradisional lainnya

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber

Untuk menumbuh kembangkan potensi seni dan budaya yang ada tentunya
perlu dirancang adanya pertunjukan-pertunjukan secara berkala dengan
membuatkan jadwal dan lokasi yang tetap serta perlunya terkoordinasi secara baik
antar stakeholders. Pengembangan seni dan budaya tersebut juga dapat dijadikan
bahan ajar terutama dikenalkan kepada kelompok anak didik yang berasal dari
pendidikan dasar dan menengah. Sehingga prasangka-prasangka antar etnisitas
(prejudices) akan dapat dikurangi potensinya untuk berkembang. Walaupun dalam
sejarah perkembangan Kota Padang belum pernah ada konflik terbuka massal antar
etnisitas, namun fakta sejarah itu jangan sampai mengurangi kewaspadaan semua
pihak untuk mengantisipasinya secara lebih baik dan lebih awal.
Manfaat lain adalah dapat membendung budaya-budaya negatif dari luar
negeri yang tidak seluruhnya selalu selaras dengan budaya yang telah lama berakar
dalam masyarakat Kota Padang khususnya. Kecenderungan fenomenanya sekarang
adalah dominasi budaya luar yang dipraktikkan oleh sekelompok anak muda dan

31

seiring dengan itu mulai tercerabutnya budaya negeri sendiri, yang sebenarnya jauh
lebih harmonis dan sesuai dengan struktur sosial budaya masyarakat yang ada.
Menyangkut koordinasi dalam hal pelaksanaan (waktu, tempat dan
panitianya) jelas tidak dapat hanya diandalkan pada sumber keuangan pemerintah
Kota Padang saja. Fungsi pemerintah kota lebih sebagai fasilitator kegiatan,
sedangkan dalam hal pelaksanaannya tetap melibatkan banyak kelompok
masyarakat yang peduli dan berkemampuan untuk hal itu. Tidak masanya lagi
hanya membiarkan perkembangan dan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya
kepada inisiatif beberapa kelompok masyarakat yang peduli saja. Sudah tiba
masanya bagi semua pihak di Kota Padang ini untuk lebih memberikan perhatian
yang lebih terhadap perkembangan seni dan budaya, umumnya seni budaya yang
bernuansa Islam dan yang selaras dengan nilai-nilai Minangkabau. Lebih khusus lagi
adalah seni budaya yang juga hidup di tengah kelompok-kelompok etnisitas Kota
Padang yang telah berkembang lama dan telah menjadi identitas budaya.
Langkah awal untuk menumbuhkan semangat untuk menghidupkan seni
budaya yang bernuansa Islam dan yang selaras itu, dan juga budaya etnisitas
lainnya, maka pemerintah kota dapat melakukan koordinasi antar etnisitas untuk
mengusulkan jenis-jenis pertunjukkan seni budaya yang menjadi tradisinya selama
ini. Untuk itu, pembahasan seni dan budaya dapat diperluas pemahamannya. Seni
dan budaya selayaknya tidak hanya dipahami sebagai pertunjukan dan atraksi seni
tari, lukis, drama dan lainnya, tetapi juga dapat berarti menyangkut kesenian dan
kebudayaan dalam lingkup yang lebih luas. Budaya tertib lalu lintas, disiplin dalam
aturan yang aturan yang telah ditetapkan, budaya malu kepada setiap pelanggaran
yang telah dilakukan, budaya untuk bekerja keras, budaya untuk membuang
sampah pada tempatnya (budaya K3) adalah beberapa contoh betapa luasnya fokus
yang menjadi perhatian dalam seni dan budaya ini.
Secara sederhana, dengan mengambil contoh pada budaya tertib
berlalulintas, semakin terasa bahwa ada banyak kejadian bahwa budaya tertib
berlalulintas semakin hari semakin memperlihatkan penurunan kepatuhannya. Ada
pribahasa yang hampir semua pihak mengetahuinya yaitu budaya lalu lintas adalah
cermin budaya bangsa. Ini berarti bahwa ketertiban pelaku pengendara dan
pengambil manfaat lainnya pada saat berlalulintas secara langsung mencerminkan
budaya suatu bangsa. Suatu kota akan dikatakan tertib dan teratur bila mana
pengendaranya juga tertib. Jadi seberapapun besarnya suatu kota, tidak akan
memberi kesan baik jika budaya pengendaranya tidak tertib. Sebaliknya kota akan
mendapatkan apresiasi yang baik dari semua pihak jika pengendaranya telah tertib.
Proses untuk dapat mewujudkan budaya tertib dalam berlalulintas tidak
hanya proses satu hari dan membutuhkan partisipasi semua pihak dan jelas tidak
hanya menjadi beban tugas SKPD terkait saja. Untuk mewujudkannya, dapat
dibuatkan tahapan yang dirancang sedemikian rupa yang dapat dilihat tingkat
keberhasilan programnya. Sehingga dari hari ke hari dapat dilihat budaya tertib lalu
lintas yang semakin baik. Kota-kota masa depan yang akan dikunjungi tidak hanya

32

karena pertunjukkan dan atraksi seni dan budaya saja, tetapi juga kota yang makin
menyenangkan lalu lintasnya sehingga setiap penduduk dan pengunjung kota itu
akan semakin betah.
2.3. ASPEK PELAYANAN UMUM
2.3.1. Layanan Urusan Wajib
A. Pelayanan Pendidikan
a.

Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan ukuran daya serap sistem


pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka partisipasi sangat berguna
untuk mengetahui dan menjelaskan seberapa banyak jumlah penduduk usia sekolah
yang memanfaatkan pelayanan fasilitas pendidikan. Indikator partisipasi sekolah
yang sering digunakan dalam adalah Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka
Partisipasi Murni (APM).
Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama
usia sekolah berkaitan dengan jenjamh pendidikan tertentu. APK merupakan
indikator yang paling sederhana dalam mengukur daya serap penduduk usia
sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Sedangkan APM adalah ratio jumlah
pada satu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada kelompok umurnya.
Gambaran perkembangan indicator APK dan APM di Kota Padang tahun 2009 -2013
dapat dilihat pada Tabel 2.12 berikut ini.
Tabel 2.12
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM)
Per-1000 Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2009-2012
(dalam%)
NO
1.

2.

URAIAN
Angka Partisipasi Kasar
SD
SLP
SLA
Angka Partisipasi Murni
SD
SLP
SLA

2009

2010

2011

2012

2013

116,48
83,73
79,49

109,2
84,93
88,52

98,91
96,22
74,85

98.94
94.32
74.62

108.31
90.87
68.22

97,05
58,37
63,64

95,68
73,28
64,70

90,54
72,20
60,27

90.71
71.94
60.21

95.50
83.73
60.17

Sumber: BPS kota Padang 2014

Dari data Tabel di atas dapat dilihat bahwa APK SD menunjukan peningkatan
dimana pada tahun 2009 menunjukkan angka 116,48%, dan pada tahun 2013
tercatat sekitar 108,31% artinya semua penduduk usia 7-12 tahun dapat
memanfaatkan fasilitas jenjang pendidikan. Akan tetapi angka APM SD pada tahun
2013 mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2009, yakni 97,05%

33

sedangkan pada tahun 2013 menjadi 95,50%. Selanjutnya, APK SMP/MTs sampai
dengan tahun 2013 adalah 90,87%, sedangkan APM SLP adalah sekitar 83,73%.
Pada tingkat pendidikan SLTA sederajad, pada tahun 2013 APK SLTA adalah sekitar
68,22% dan APM SLTA adalah sekitar 60,17%. Angka ini menunjukkan bahwa wajar
9 tahun masih belum bisa terpenuhi sementara tantangan wajar 12 tahun sudah
tiba. Untuk itu tentunya perlu langkah strategis untuk mewujudkan wajar 12 tahun
di kota Padang.
Secara umum dapat pula dijelaskan bahwa perbedaan antara APK dan APM,
kondisinya lebih baik dibandingkan jenjang pendidikan dasar dibandingkan jenjang
pendidikan lebih tinggi. Hal ini disebabkan jenjang pendidikan SD merupakan
pendidikan dasar dan sangat diperlukan. Masyarakat dan orang tua khususnya
sudah menyadari bahwa memasukan anak ke SD merupakan kewajiban orang tua.
Kesadaran seperti ini harus terus ditumbuh kembangkan agar anak-anak usia
sekolah di kota Padang dapat menyelesaikan pendidikan minimal SLTA.
b. Rasio Jumlah Guru dan Murid
Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru menurut tingkat pendidikan
per 1.000 jumlah murid. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar.
Per 1000 orang murid di kota Padang. Berdasarkan data yang diperoleh dari dinas
pendidikan melalui hasil pengolahan data Profil Pendidikan Kota Padang, diperoleh
hasil perhitungan bahwa hingga tahun 2011/2012 rasio guru/murid untuk tingkat
pendidikan SD/MI sampai dengan tingkat SMA/SMK/MA mengalami fluktuasi dan
menunjukkan peningkatan pada tahun 2011/2012. Gambaran selengkapnya jumlah
guru dan murid menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada table 2.13 berikut ini:
Tabel 2.13
Jumlah Guru, Murid & Rasio Menurut Jenjang Pendidikan
Tahun 2008-2012
NO
1.

JENJANG
PENDIDIKAN
SD/MI
Jumlah Guru

2010

2011

2012

4.741

5.644

5.647

5.577

100.475

96.813

102.016

98.238

99.680

48

49

55

57

56

Jumlah Guru

3.386

2.724

3.405

3.339

3.763

Jumlah Murid

39.127

39.545

38.866

38.903

43.143

87

69

88

86

87

Jumlah Guru

4.089

2.724

2.408

2.479

4.252

Jumlah Murid

39.127

39.545

25.740

37.398

42.548

105

69

94

66

100

Rasio Guru/Murid
SMP/MTs

Rasio Guru/Murid
3.

2009

4.805

Jumlah Murid
2.

2008

SM/MA

Rasio Guru/Murid

34

B. Pelayanan Kesehatan
a) Angka Kesakitan
Pelayanan Kesehatan merupakan unsur penting dalam menentukan kualitas
sumberdaya manusia. Pembangunan sarana dan prasarana kesehatan merupakan
bagian penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia agar efektifitas
dan efisiensi kerja meningkat. Maksud dan tujuan pembangunan sarana dan
prasarana tersebut adalah agar terjadi peningkatan produktivitas kerja, sehingga
sasaran dan target pertumbuhan ekonomi tercapai.
Upaya pemerintah dalam peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat
terus dilakukan antara lain penyediaan fasilitas kesehatan, terutama pembangunan
dan pembenahan Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, serta Fasilitas Air Bersih sesuai
standar yang telah ditentukan. Tujuan utama adalah agar derajat kesehatan
masyarakat terus meningkat seperti Angka Kematian bayi dan Balita Buruk diatas.
Kebijakan yang ditempuh adalah melalui program peningkatan kuantitas dan
kualitas sarana/ prasarana kesehatan yang ada. Keberhasilan kebijakan sudah
seharusnya dibarengi dengan program peningkatan kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya hidup sehat, bersih dan teratur.
Berdasarkan hasil evaluasi derajat kesehatan ditentukan oleh pelayanan dan
sarana/prasarana kesehatan yang tersedia serta faktor internal dari masyarakat itu
sendiri. Angka kesakitan (morbiditas) penduduk Kota Padang dapat dilihat Tabel
2.14 berikut ini:
Tabel 2.14
Sepuluh Penyakit Terbanyak di Kota Padang tahun 2011
No.

Jenis Penyakit

1.

ISPA

2.

Jumlah

Persentase

115.361

46,52

Tukak Lambung

21.606

8,71

3.

Jaringan Bawah Kulit

21.340

8,61

4.

Pulpadan Jaringan periapikal

15.238

6,15

5.

Alergi Kulit

15.808

5,97

6.

Rematik

14.353

5,79

7.

Demam tidak diketahui sebabnya

13.430

5,42

8.

Diare

11.832

4,77

9.

Infeksi pada saluran nafas

10.282

4,15

10

Prodental

9.721

3,92

247.971

100,00

Padang

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Padang, dalam RKPD kota Padang Tahun 2014

Dari data yang dikemukakan pada Tabel 2.14 diatas pada tahun 2011
terdapat laporan jumlah angka kesakitan sebanyak 247.971 kasus. Jumlah angka
kesakitan terbanyak dilaporkan adalah ISPA sebanyak 46,52% dan kemudian diikuti

35

oleh jenis penyakit Tukak Lambung sebanyak 8,1% dan Jaringan bawah kulit
sebanyak 8,61% serta jenis penyakit lainnya.
Berdasarkan hasil Suseda, 2012, tercatat data sampel masyarakat tentang
keluhan kesehatan mengenai jenis penyakit yang dialami sebanyak 8,21%, dari
jumlah penduduk Kota Padang, sedangkan 91,79% dari penduduk yang tidak
melaporkan, karena merasa tidak ada keluhan.
b) Prasarana dan Sarana Kesehatan
Jumlah fasilitas prasarana pelayanan kesehatan di Kota Padang secara
kuantitas sudah cukup memadai. Pada tahun 2013 jumlah rumah sakit tercatat
sebanyak 28 buah yang terdiri dari 5 Rumah Sakit Pemerintah, 15 Rumah Sakit
Swasta dan 9 Rumah Sakit Khusus. Namun yang jadi masalah adalah dari segi
kualitas dan kapasitas, yaitu kemampuan dari pada rumah sakit tersebut untuk
melayani jumlah penduduk Kota Padang. Pada tahun 2013 jumlah penduduk Kota
Padang diperkirakan sebanyak 876.678 orang artinya setiap rumah sakit dalam satu
tahun melayani penduduk sebanyak 31.310 orang atau setiap bulan dapat melayani
penduduk sebanyak 2.609 orang.
Disamping itu, pelayananan kesehatan yang diberikan rumah sakit ini
mendapat dukungan dari unit-unit pelayanan kesehatan lainnya, seperti Puskesmas,
Puskesmas Keliling, Rumah Sakit Bersalin dan lain sebagainya. Berarti secara
kuantitas Kota Padang sudah mencukup, karena ratio umah sakit terhadap satuan
jumlah penduduk sudah ideal dengan Ratio Rumah Sakit terhadap penduduk
sebanyak 31.310 orang tersebut.
Jumlah fasilitas prasarana pelayanan kesehatan yang tersedia di Kota
Padang Tahun 2008-2012 dapat dilihat Tabel 2.15 berikut ini:
Tabel 2.15
Fasilitas Prasarana Kesehatan di Kota Padang Tahun 2008-2012
No.

Prasarana Kesehatan

2008

2009

2010

2011

2012

1.

Rumah Sakit

28

26

27

27

27

Rumah Sakit Pemerintah

Rumah Sakit Swasta

20

14

14

Rumah Sakit Khusus

15

15

2.

Puskesmas

20

20

20

20

20

Puskesmas Pembantu

58

61

62

62

62

Puskesmas Keliling

20

21

20

20

20

3.

Rumah Sakit Bersalin

11

10

11

11

4.

Rumah Bersalin

19

17

17

17

5.

Klinik/ Balai Pengobatan

10

18

18

18

18

6.

Laboratorium

12

12

12

10

10

Sumber: Padang Dalam Angka Tahun 2013

36

Disamping masalah yang dihadapi adalah kualitas dan aksesibilitas fasilitas


sarana yang tersedia. Ketersediaan tenaga kesehatan juga menjadi tantanga bagi
peningkatan cakupan layanan kesehatan, diantaranya yang terpenting adalah
terkait dengan jumlah dokter, jumlah perawat/bidan, dan jumlah tempat tidur
dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Padang.
Tabel 2.16
Fasilitas dan Rasio Sarana Kesehatan di Kota Padang Tahun 2008-2012
No.

Sarana Kesehatan

Jumlah penduduk

Jumlah Dokter Umum


Rasio terhadap Penduduk

Jumlah Dokter Gigi


Rasio terhadap penduduk

Bidan/Perawat
Rasio Terhadap penduduk

Jumlah Tempat Tidur RS


Rasio terhadap penduduk

2008

2009

2010

2011

2012

856.815

875.750

833.562

844.316

854.336

12.415

13.364

11.114

11.925

11.974

69

66

75

71

71

19.926

18.245

15.727

16.282

18.267

43

48

53

52

47

1.707

2.060

1.898

1.697

1.728

502

425

439

498

494

2.600

1.948

1.948

2.254

2.254

330

450

428

375

379

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Padang, dalam RKPD kota Padang Tahun 2014

2.3.2. Pelayanan Urusan Pilihan


A. Investasi PMDN/PMA
Investasi merupakan kegiatan pembentukan modal yang dilakukan dalam
suatu periode tertentu. Secara praktis nilai semua penggunaan barang modal baru
untuk menghasilkan hasil produksi yang umur lebih satu tahun, tetapi terhadap
barang modal yang habis dipakai atau umur kurang 1 tahun tidak dianggap
investasi. Cakupan dari barang modal yang disebut investasi adalah: berupa barang
modal baru dan barang modal bekas (stock).
Perkembangan nilai investasi merupakan salah satu indikator ekonomi yang
sangat menentukan arah pembangunan ekonomi suatu daerah/negara. Semakin
tinggi nilai investasi yang masuk dan dilaksanakan, jelas membawa pengaruh yang
signifikan terhadap perkembangan di bidang ekonomi. Kota Padang sebagai kota
besar yang terus membangun membutuhkan pembentukan modal yang besar guna
menggerakkan perekonomiannya dan untuk mencapai pertumbuhan yang
berkesinambungan.
Nilai pembentukan modal dapat diperkirakan dengan menggunakan jumlah
PDRB yang digunakan untuk pembentukan modal, yang dikenal dengan ICOR. ICOR
merupakan ratio pertambahan investasi dan pertambahan pendapatan. Dari
perkembangan PDRB Kota Padan dalam beberapa tahun berjalan dapat diperkirakan
kebutuhan Investasi Tabel 2.17 berikut ini:

37

Tabel 2.17
Nilai Pembentukan Modal di kota Padang Tahun 2008-2012
(dalam Rp. Juta)
Tahun

Nilai Investasi
Menurut Harga Berlaku

Nilai Investasi
Menurut Harga konstan

2006

3.510.400

2.088.690

2007

3.889.940

2.186.820

2008

4.656.760

2.295.200

2009

5.156.560

2.421.090

2010

5.999.880

2.630.680

2011

6.843.200

2.987.140

2012*

7.686.520

3.124.430

2013*

8.529.840

3.261.720

Pertumbuhan
rata-rata (%)

13,52

6,57

Sumber: Diolah dari data PDRB Kota Padang, BPS Tahun 2012
* Tahun 2012 dan 2013 angka perkiraan berdasar perkiraan ICOR Tahun 2011

Selama periode tahun 2006-2013 tampak pertumbuhan rata-rata investasi di


kota Padang adalah 13,52% menurut harga berlaku dan 6,57% menurut harga
konstan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kota Padang memiliki daya tarik investasi
yang cukup memadai, namun untuk terus mendorong peningkatan investasi guna
mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan penciptaan lapangan pekerjaan
maka penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif dan profitable perlu terus
dilakukan oleh pemerintah kota bersama pihak terkait lainnya.
2.4. ASPEK DAYA SAING DAERAH

Daya saing daerah menurut definisi yang dibuat Departemen Perdagangan


dan Industri Inggeris (UK-DTI) adalah kemampuan suatu daerah dalam
menghasilkan pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dengan tetap terbuka
terhadap persaingan domestik maupun internasional. Sementara itu Centre for
Urban and Regional Studies (CURDS) mendefinisikan daya saing daerah sebagai
kemampuan sektor bisnis atau perusahaan pada suatu daerah dalam menghasilkan
pendapatan yang tinggi serta tingkat kekayaan yang lebih merata untuk
penduduknya
A. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah
a) Angka Konsumsi Rumah Tangga per Kapita
Dari hasil data Suseda Kota Padang diperoleh besaran pengeluaran per
kapita penduduk Kota Padang cukup bervariasi. Kenyataan menunjukkan bahwa
tidak sedikit dari penduduk Kota Padang yang hanya dapat memenuhi kebutuhan
pokok yang paling dasar, sehingga rata-rata pengeluarannya relatif cukup rendah.

38

Namun, di lain pihak terdapat pula masyarakat yang mampu mengeluarkan dananya
untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder dengan nilai yang
cukup besar. Besaran rata-rata pengeluaran penduduk Kota Padang mengalami
pertumbuhan sebesar 22,07 persen pertahun.
Tabel 2.18
Persentase Pengeluaran per Kapita Penduduk per Bulan
Menurut Kelompok Pengeluaran Kota Padang Tahun 2012 (dalam%)
Golongan
Pengeluaran
(1)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

(2)

< 200.000
200.000 - 299.999
300.000 - 399.999
400.999 - 499.999
500.999 - 599.999
600.999 - 699.999
700.999 - 799.999
> 800.000
Padang

Jenis Pengeluaran
Makanan
Bukan Makanan
(3)

0,93
4,24
7,88
6,35
7,99
5,43
4,07
11,20
50,10

Total

(4)

(5)

3,61
6,13
5,32
4,81
3,77
3,13
2,28
20,90
49,90

4,54
10,38
13,20
13,71
11,71
8,57
6,35
32,09
100,00

Sumber: RKPD kota Padang 2014

b) Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Daerah

Salah satu fasilitas penting dalam aktivits ekonomi adalah ketersediaan


infrastruktur jalan. Kualitas jalan yang dirasakan sebagai kebutuhan mendasar bagi
masyarakat. Jalan yang baik akan mengurangi dampak biaya ekonomi tinggi. Jalan
yang baik selain meningkatkan laju pertumbuhan lintas barang, jasa dan orang juga
sebagai merupakan sebagai indikator keberhasilan pembangunan Pemerintah Kota
Padang dalam memajukan infrastruktur di daerahnya.
Berdasarkan data BPS, panjang jalan di Kota Padang mengalami
penambahan yang signifikan pada tahun 2011, dimana panjang jalan bertambah
sebesar 40,82%, terutama jalan lokal sekunder, sedangkan jalan primer, jalan
sekunder serta lokal primer dan sekunder tidak terjadi penambahan. Peningkatan
yang cukup dirasakan adalah meningkatnya panjang status jalan nasional dan jalan
kota. Seiring dengan kondisi tersebut, jumlah kendaraan juga mengalami
peningkatan dari semula di tahun 2010 jumlah kendaraan bermotor 314.460 buah h
meningkat menjadi 966.965 buah di tahun 2011. Peningkatan yang sangat tinggi
terutama terjadi pada kendaraan roda dua (sepeda motor) dan mini bus, hal ini
diantaranya dipicu oleh sangat mudahnya fasilitas pembiayaan kendaraan bermotor
pada tahun ini.
Pertumbuhan panjang jalan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan
jumlah kendaraan tentunya akan menjadi masalah dalam transportasi kota
khususnya dan mobilitas penduduk pada umumnya. Walaupun ada peningkatan dan

39

penambahan panjang jalan pada tahun 2011 namun sampai dengan tahun 2013
belum ada penambahan panjang jalan akibatnya dengan jumlah kendaraan yang
cenderung meningkat menyebabkan ternyadinya semakin banyaknya simpul
kemacetan kendaraan di kota Padang. Untuk itu diperlukan kebijakan pengendalian
laju jumlah kendaraan dan kesadaran berlalu lintas masyarakat kota Padang.
Adapun perkembangan panjang jalan dan jumlah kendaraan dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 2.19
Panjang Jalan, Jumlah Kendaraan dan Rasio Panjang Jalan Terhadap
Kendaraan dan Jumlah penduduk Tahun 2009-2013
No.
1.
2.

Uraian

2009

2010

2011

1.642,42

1.642,42

2.312,80

2.312,80

2.312,80

Pertumbuhan (%)

55,84

0,00

40,82

0,00

0,00

Jumlah Kendaraan

359.457

314.460

966.965

412.196

407.086

Pertumbuhan (%)

23,87

-12,52

207,50

-57,37

-1,24

219

192

418

178

176

0,41

0,38

1,15

0,48

0,46

Panjang Jalan (Km)

3.

Rasio kendaran terhadap


panjang jalan

4.

Rasio kendaraan
terhadap penduduk

2012

2013

Sumber: BPS, 2013, data diolah

c) Iklim Investasi
Investasi merupakan kegiatan pembentukan modal yang dilakukan dalam
suatu periode tertentu. Secara praktis nilai semua penggunaan barang modal baru
untuk menghasilkan hasil produksi yang umur lebih satu tahun, tetapi terhadap
barang modal yang habis dipakai atau umur kurang 1 tahun tidak dianggap
investasi. Cakupan dari barang modal yang disebut investasi adalah: berupa barang
modal baru dan barang modal bekas (stock).
Nilai investasi merupakan salah satu indikator ekonomi yang sangat
menentukan arah pembangunan ekonomi suatu daerah/negara. Semakin tinggi nilai
investasi yang masuk dan dilaksanakan, jelas membawa pengaruh yang signifikan
terhadap perkembangan di bidang ekonomi. Kota Padang sebagai kota besar yang
terus membangun membutuhkan pembentukan modal yang besar guna
menggerakkan perekonomiannya dan untuk mencapai pertumbuhan yang
berkesinambungan.
Nilai pembentukan modal dapat diperkirakan dengan menggunakan jumlah
PDRB yang digunakan untuk pembentukan modal, yang dikenal dengan ICOR. ICOR
merupakan ratio pertambahan investasi dan pertambahan pendapatan. Dari
perkembangan PDRB Kota Padang dalam beberapa tahun berjalan dapat
diperkirakan kebutuhan Investasi Tabel 2.20 berikut ini:

40

Tabel 2.20
Kebutuhan Investasi Kota Padang Tahun 2014-2019
(dalam Juta Rupiah)
Tahun

Nilai Investasi
Menurut Harga Berlaku

Nilai Investasi
Menurut Harga konstan

2014

9.373,160

3.399,010

2015

10.216,480

3.536,300

2016

11.059,800

3.673,590

2017

11.903,120

3.810,880

2018

12.746,440

3.948,170

2019

13.589,760

4.085,460

Catatan: angka perkiraan berdasar perkiraan ICOR Tahun 2011.

d)

Sumber Daya Manusia

Analisis kinerja atas sumber daya manusia biasanya terkait dengan indikator
kualitas tenaga kerja (persentase pendidikan yang ditamatkan) dan rasio
ketergantungan. Meskipun pada kenyataannya ijazah yang dimiliki tidak menjamin
kualitas seseorang dapat bekerja sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki akan
tetapi setidaknya mencerminkan pendidikan apa yang dimiliki rata-rata oleh
penduduk di Kota Padang. Data yang dapat disajikan adalah angka persentase
pendidikan yang ditamatkan berdasarkan hasil pengolahan data susenas yang
dilakukan oleh BPS. Kondisi ini disebabkan sensus penduduk hanya dapat dilakukan
satu kali dalam sepuluh tahun.
Berbagai program dan kegiatan yang mengarah pada perbaikan kualitas
sumber daya manusia, jumlah penduduk berusia produktif dapat semakin membaik
dengan kualitas pendidikan yang juga semakin membaik. Dengan demikian, sumber
daya manusia di Kota Padang dapat bersaing di pasar tenaga kerja dan menjadi
motor penggerak roda perekonomian. Selain itu, dengan berbagai program
keterampilan dan kemandirian pemuda terutama untuk berwirausaha dapat
meningkatkan produktivitas tenaga kerja di kota Padang dan Sumatera Barat
umumnya.
Salah satu indicator yang dapat digunkan untuk mengukur kualitas
sumberdaya manusia adalah IPM (Indeks Pembangunan Manusia), berikut ini dapat
dilihat nilai IPM kota Padag dibandingkan dengan kota-kota lainnya di wilayah
Sumatera Barat. Dari data ini tampak bahwa kota Padang mengalami peningkatan
nilai IPM dari tahun 2009-2012, dimana pada tahun 2012 kota Padang berada pada
urutan kedua untuk daerah perkotaan denga nilai 78,55 sedanhgkan posisi tertinggi
ditempati oleh kota Bukittinggi dengan nilai IPM 79,07.

41

Tabel 2.21
Nilai IPM Wilayah Perkotaan di Provinsi Sumatera Barat
Tahun 2009-2012
Kota
Padang
Solok
Sawahlunto
Padang Panjang
Bukittinggi
Payakumbuh
Pariaman

2009

2010

2011

2012

Pertum-buhan
rata-rata (%)

77,43
75,23
74,71
77,16
77,86
75,37
74,05

77,81
75,65
74,96
77,45
78,26
75,81
74,46

78,15
76,04
95,41
78,12
78,73
76,29
74,89

78,55
76,54
75,87
78,51
79,07
76,76
75,23

0,48
0,58
0,52
0,58
0,52
0,61
0,53

Sumber: BPS, Padang Dalam Angka ,2014

Jika dilihat dari tingkat pertumbuhan nilai IPM selama periode tahun 20092012 tampak bahwa kota Payakumbuh memiliki angka pertumbuhan tertinggi,
diikuti oleh kota Solok dan Padang Panjang, sedangkan kota Padang sebagai ibu
kota Provinsi Sumatera Barat menunjukkan pertumbuhan yang paling rendah.
Kondisi ini jelas merupakan tantangan besar bagi kota Padang untuk terus
meningkatkan pembangunan sumberdaya manusia dengan tiga aspek utama yang
terkait dengan IPM khususnya yakni, pendidikan, kesehatan dan perekonomian.
Untuk itu, tiga aspek ini harus tetap menjadi priorotas dalam pembangunan kotaa
Padang ke depan, agar kualitas sumberdaya manusia kota Padang dapat terus
ditingkatkan dan memiliki daya saing tidak hanya di wilayah Sumatera Barat, tetapi
juga secara nasional dan internasional.

42

BAB III
GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
SERTA KERANGKA PENDANAAN

Pengelolaan keuangan di Kota Padang mengacu kepada peraturan-peraturan


pengelolaan keuangan daerah terkait, meliputi Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2003 tetang Keuangan Negara; Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah; Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pusat dan Daerah; Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Negara; Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang direvisi dengan Permendagri
Nomor 59 Tahun 2007, dan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011.
3.1. KINERJA KEUANGAN MASA LALU
Untuk dapat mengetahui potensi sumber daya keuangan Kota Padang, maka
perlu dilakukan analisis terhadap kinerja keuangan Kota Padang selama lima tahun
terakhir beserta kebijakan umum yang menjadi acuannya. Analisis kinerja keuangan
Kota Padang dimulai dengan analisis kinerja pendapatan daerah, kinerja belanja
daerah, kinerja pembiayaan daerah, serta neraca daerah.
3.1.1. Kinerja Pelaksanaan APBD
A. Kinerja Pendapatan Daerah
Sesuai dengan Permendagri Nomor 13 tahun 2006, komponen pendapatan
daerah Kota Padang terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibagi
menurut jenisnya yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Pendapatan daerah yang berasal dari Dana Perimbangan dibagi menurut beberapa
jenis meliputi bagi hasil pajak dan bukan pajak, dana alokasi umum dan dana
alokasi khusus. Pendapatan daerah yang berasal dari Lain-lain Pendapatan Daerah
yang Sah terdiri dari pendapatan hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak dari
provinsi dan pemerintah daerah lainnya, dana penyesuaian dan otonomi khusus
serta bantuan keuangan dari pemerintah provinsi atau daerah lainnya.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan memberikan klasifikasi pendapatan daerah yang sedikit berbeda,
khususnya tentang pendapatan dana transfer. Karena, disamping dana
perimbangan yang ditransfer dari pusat, pemerintah daerah juga menerima transfer
dari provinsi. Berdasarkan PP Nomor 71 tahun 2010, pendapatan daerah
diklasifikasikan sebagai Pendapatan Dana Transfer yang meliputi Transfer dari Pusat

43

berupa Dana Perimbangan dan Dana Transfer dari Pusat Lainnya, serta Dana
Transfer dari Provinsi bagi Kota/Kabupaten. Oleh sebab itu, analisis kinerja
pengelolaan keuangan Kota Padang dilakukan dengan mempertimbangkan kedua
metode klasifikasi pendapatan daerah ini.
Karena dalam periode analisis, yaitu antara tahun 2009-tahun 2013 telah
terjadi perubahan peraturan yang terkait dengan Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, yaitu dari UU Nomor 34 Tahun 2000 menjadi UU Nomor 28 tahun 2009,
maka dalam analisis kinerja PAD, perlu mempertimbangkan dampak dari perubahan
peraturan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah tersebut. Pemberlakuan
Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah
ini juga telah ditindaklanjuti oleh Kota Padang dengan menyusun ulang dasar
pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. Pada tahun 2011 telah dihasilkan
11 Peraturan Daerah (Perda) terkait dengan pemungutan pajak daerah dan retribusi
daerah, yaitu:
Tabel 3.1
Dasar Hukum Pemungutan Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah di Kota Padang
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Jenis Pajak
Pajak Penerangan Jalan;
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Pajak Air Tanah;
Pajak Restoran;
Pajak Hiburan;
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
Pajak Hotel;
Pajak Reklame;
Pajak Parkir;
Pajak Sarang Burung Walet;
Retribusi Jasa Umum
Retribusi Jasa Usaha
Retribusi Jasa Perizinan Tertentu

Dasar Hukum
Perda No. 1 Tahun 2011
Perda No. 1 Tahun 2011
Perda No. 2 Tahun 2011
Perda No. 3 Tahun 2011
Perda No. 4 Tahun 2011
Perda No. 7 Tahun 2011
Perda No. 7 Tahun 2011
Perda No. 8 Tahun 2011
Perda No. 8 Tahun 2011
Perda No. 8 Tahun 2011
Perda No. 8 Tahun 2011
Perda No. 11 Tahun 2011
Perda No. 12 Tahun 2011
Perda No. 13 Tahun 2011

Sumber: DPPKAD Kota Padang

Analisis pertumbuhan pendapatan daerah Kota Padang selama 5 tahun


terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Pertumbuhan rata-rata
pertahun pendapatan daerah Kota Padang tahun 2009 hingga tahun 2013 mencapai
14,41%, atau meningkat dari Rp.951.799,04 juta pada tahun 2009 menjadi
Rp.1.630.882,53 juta pada tahun 2013. Walaupun pertumbuhan rata-rata pertahun
sebesar ini tidak dapat dikatakan sangat baik, namun pertumbuhan rata-rata
tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata pertahun
untuk sumber pendapatan perimbangan; terutama pendapatan dana alokasi umum,
yang mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun hanya sebesar 8,69%.

44

Apabila dilihat dari pertumbuhan rata-rata setiap tahun dari masing-masing


komponen pendapatan daerah Kota Padang, maka dapat terlihat bahwa PAD
memberikan kontribusi pertumbuhan rata-rata paling tinggi dibandingkan dengan
kelompok pendapatan daerah Kota Padang lainnya, kecuali sumber dana
penyesuaian. Selama kurun waktu tahun 2009-2013, PAD Kota Padang mengalami
pertumbuhan sebesar 20,51% pertahun, sedangkan dana perimbangan hanya
mengalami pertumbuhan sebesar 9,84% pertahun, dana transfer dari pemerintah
provinsi mengalami pertumbuhan sebesar 12,36% pertahun, dan lain-lain
pendapatan yang sah mengalami pertumbuhan minus rata-rata pertahun sebesar
40,40%, sehingga pendapatan daerah Kota Padang selama kurun waktu tersebut
mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14,41% pertahun.

45

Tabel 3.2
PERKEMBANGAN REALISASI PENDAPATAN DAERAH DAN TINGKAT PERTUMBUHAN RATA-RATA PER TAHUN
T a h u n (Rp'Juta)
PertumNo. Uraian
2009
2010
2011
2012
2013 buhan
I
PENDAPATAN
(%)
A PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
71.666,75
77.639,34
102.412,44
128.595,10
165.460,99
23,27
Pendapatan Retribusi Daerah
21.834,60
21.985,78
23.457,00
30.325,98
39.409,96
15,91
4.741,73
5.293,73
8.996,69
8.403,53
8.415,72
15,42
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg Dipisahkan
Lain-lain PAD yang Sah
15.011,62
11.772,43
15.008,67
22.126,22
25.585,22
14,26
Jumlah Pendapatan Asli Daerah
113.254,71
116.691,28
149.874,80
189.450,84
238.871,89
20,51
B

PENDAPATAN TRANSFER
1. TRANSFER PEMERINTAH PUSAT- DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Sub Jumlah

58.870,43
624.642,09
43.829,00
727.341,52

58.882,84
628.472,62
45.463,00
732.818,46

65.411,50
632.117,46
43.515,50
741.044,46

63.302,31
711.416,06
53.431,10
828.149,46

122.817,88
871.875,67
64.122,76
1.058.816,31

20,18
8,69
9,98
9,84

2. TRANSFER PEMERINTAH PUSAT- LAINNYA


Dana Penyesuaian
Sub Jumlah

21.493,52
21.493,52

79.093,69
79.093,69

165.688,05
165.688,05

174.082,66
174.082,66

264.220,98
264.220,98

87,25
87,25

3.TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI


Pendapatan Bagi Hasil Pajak
Pendapatan Bagi Hasil Lainnya
Sub Jumlah

39.288,46
0,00
39.288,46

46.004,50
0,00
46.004,50

63.056,20
0,00
63.056,20

52.740,12
0,00
52.740,12

62.612,51
0,00
62.612,51

12,36

788.123,49

857.916,64

969.788,71

1.054.972,24

1.385.649,80

10,21

14.550,44
33.471,11
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
2.399,28
50.420,84

7.761,15
2.225,25
22.368,69
0,00
22.190,12
1.740,60
900,00
0,00
57.185,81

3.500,00
0,00
15.159,20
10.644,51
0,00
0,00
0,00
0,00
29.303,71

498,19
0,00
400,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
898,19

802,52
0,00
5.558,32
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
6.360,84

951.799,04

1.031.793,73

1.148.967,22

1.245.321,28

1.630.882,53

Jumlah Pendapatan Transfer


C

LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH


Pendapatan Hibah
Pendapatan Dana Darurat
Bantuan Keuangan dari Provinsi
DPPID
DPDF dan PPD
DPPIP
DPIPD
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-Lain Pendapatan Yang Sah
JUMLAH PENDAPATAN

12,36

(51,54)
(100,00)
(37,13)

(100,00)
(40,40)
14,41

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

46

Analisis berdasarkan proporsi terhadap total pendapatan menunjukkan


bahwa perkembangan pendapatan Kota Padang sebagaimana yang terjadi selama 5
tahun terakhir merupakan capaian yang relatif baik. Hal ini dapat dilihat
berdasarkan pertumbuhan proporsi masing-masing sumber pendapatan daerah Kota
Padang. Proporsi semua jenis pendapatan daerah dari sumber PAD dalam 5 tahun
terakhir menunjukkan pertumbuhan positif kecuali lain-lain PAD yang sah. Secara
total proporsi PAD terhadap pendapatan daerah tumbuh sebesar 5,33% pertahun.
Sedangkan proporsi semua jenis pendapatan dari dana perimbangan mengalami
pertumbuhan negatif kecuali dana bagi hasil pajak dan bukan pajak, dengan tingkat
pertumbuhan rata-rata minus secara total sebesar 3,99% pertahun. Namun
penurunan proporsi dana perimbangan ini telah diimbangi dengan sumber
pendapatan lain dari pemerintah pusat lainnya yaitu melalui peningkatan dana
penyesuaian. Dalam 5 tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata pertahun proporsi
dana penyesuaian sangat tinggi yaitu sebesar 83,61% sehingga proporsinya pun
meningkat tajam.
Proporsi PAD terhadap APBD baik secara total maupun berdasarkan jenis
PAD mengalami peningkatan yang cukup baik. Proporsi pendapatan PAD meningkat
dari 11,90% pada tahun 2009 meningkat menjadi 14,65 pada tahun 2013.
Sebaliknya, pada kurun waktu yang sama proporsi dana perimbangan turun dari
76,42% pada tahun 2009 menjadi 64,92% pada tahun 2013. Penurunan proporsi
dana perimbangan ini terutama disebabkan turunnya proporsi DAU yaitu dari
65,63% menjadi 53,46%. Hal ini terjadi, sejalan dengan konsep fungsi dana
perimbangan sebagai penutup celah fiskal, dimana proporsi belanja bagi hasil pajak
dan bukan pajak mengalami kenaikan dari 6,19% menjadi 7,53% pada tahun 2013.
Akibat pertumbuhan dana penyesuaian yang lebih tinggi, maka jumlah proporsi
pendapatan DAU dengan proporsi Dana Penyesuaian dari tahun 2009 sampai tahun
2013 menjadi seimbang.
Walaupun dampaknya relatif kecil, namun naiknya proporsi PAD ini
merupakan hal yang positif, karena mengambarkan kemajuan kemandirian Kota
Padang dalam membiayai kebutuhan pembangunannya. Disisi lain, penurunan
proporsi dana perimbangan, telah diimbangi dengan peningkatan yang sangat
signifikan dari sumber dana penyesuaian. Proporsi dana penyesuaian meningkat
dari 2,26% pada tahun 2009 menjadi 16,20% pada tahun 2013. Berdasarkan
peraturan terkait bahwa dana penyesuaian adalah dana yang dialokasikan oleh
pusat untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan tertentu.
Sekalipun demikian, karena jumlah yang diperoleh Kota Padang sangat signifikan,
maka upaya peningkatan dana penyesuaian pada masa datang perlu menjadi
perhatian Pemda Kota Padang.
Tabel 3.3 berikut menunjukkan perkembangan proporsi setiap komponen
pendapatan terhadap total pendapatan daerah Kota Padang.

47

Tabel 3.3
PERKEMBANGAN PROPORSI PENDAPATAN DAERAH DAN TINGKAT PERTUMBUHAN RATA-RATA PER TAHUN
T a h u n (%)
PertumNo. Uraian
2009
2010
2011
2012
2013 buhan (%)
I
PENDAPATAN
A
PENDAPATAN ASLI DAERAH
Pendapatan Pajak Daerah
7,53
7,52
8,91
10,33
10,15
7,74
Pendapatan Retribusi Daerah
2,29
2,13
2,04
2,44
2,42
1,31
0,50
0,51
0,78
0,67
0,52
0,88
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg Dipisahkan
Lain-lain PAD yang Sah
1,58
1,14
1,31
1,78
1,57
(0,13)
Jumlah Pendapatan Asli Daerah
11,90
11,31
13,04
15,21
14,65
5,33
B

PENDAPATAN TRANSFER
1. TRANSFER PEMERINTAH PUSAT- DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Sub Jumlah

6,19
65,63
4,60
76,42

5,71
60,91
4,41
71,02

5,69
55,02
3,79
64,50

5,08
57,13
4,29
66,50

7,53
53,46
3,93
64,92

5,04
(5,00)
(3,87)
(3,99)

2. TRANSFER PEMERINTAH PUSAT- LAINNYA


Dana Penyesuaian
Sub Jumlah

2,26
2,26

7,67
7,67

14,42
14,42

13,98
13,98

16,20
16,20

63,66
63,66

3. TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI


Pendapatan Bagi Hasil Pajak
Pendapatan Bagi Hasil Lainnya
Sub Jumlah

4,13
0,00
4,13

4,46
0,00
4,46

5,49
0,00
5,49

4,24
0,00
4,24

3,84
0,00
3,84

82,80

83,15

84,41

84,71

84,96

1,53
3,52
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,25
5,30

0,75
0,22
2,17
0,00
2,15
0,17
0,09
0,00
5,54

0,30
0,00
1,32
0,93
0,00
0,00
0,00
0,00
2,55

0,04
0,00
0,03
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,07

0,05
0,00
0,34
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,39

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00

Jumlah Pendapatan Transfer


C

LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH


Pendapatan Hibah
Pendapatan Dana Darurat
Bantuan Keuangan dari Provinsi
DPPID
DPDF dan PPD
DPPIP
DPIPD
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-Lain Pendapatan Yang Sah
JUMLAH PENDAPATAN

(1,80)
(1,80)
0,65

(57,64)
(100,00)

(100,00)
(47,91)
-

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

48

B. Kinerja Belanja Daerah


Pengklasifikasian belanja daerah dapat dilakukan berdasarkan berbagai
metode, antara berdasarkan Permendagri 13 tahun 2006 atau berdasarkan PP
Nomor 71 tahun 2010. Berdasarkan Permendagri 13 tahun 2006, belanja daerah
dapat diklasifikasikan menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja
tidak langsung merupakan belanja yang tidak terkait langsung dengan pelaksanaan
program dan kegiatan. Sedangkan belanja langsung merupakan belanja yang terkait
langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Oleh sebab itu, pelaksanaan
belanja langsung bertujuan untuk meningkatkan kinerja. Komponen belanja tidak
langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja bunga, belanja hibah, belanja
bantuan sosial, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga. Sedangkan
belanja langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta
belanja modal.
Berdasarkan PP Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, belanja daerah diklasifikasikan atas belanja operasi, belanja modal,
belanja tak terduga, dan transfer bagi hasil ke desa. Dalam belanja operasi
mencakup belanja pegawai, belanja barang, belanja bunga, belanja hibah, belanja
bantuan sosial, dan belanja bantuan keuangan. Sedangkan belanja modal akan
diklasifikasikan sesuai dengan bidang aset, yaitu belanja modal tanah, peralatan,
gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, serta aset
lainnya. Pembahasan dalam bab ini akan dilakukan pengklasifikasian belanja daerah
berdasarkan Permendagri 13 tahun 2006 dan PP Nomor 71 tahun 2010.
Sesuai dengan kebutuhan pembangunan, belanja Kota Padang pada kurun
waktu tahun 2009 hingga tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup
signifikan. Belanja Kota Padang selama kurun waktu tersebut mengalami
pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 12,92%, yaitu dari Rp 996.418,37 juta
pada tahun 2009 menjadi Rp 1.620.303,74 juta pada tahun 2013.
Jika dirangking berdasarkan jumlahnya, tiga kelompok belanja daerah yang
terbesar adalah belanja pegawai, belanja modal, dan belanja barang dan jasa.
Belanja pegawai, baik langsung maupun tidak langsung, mengalami peningkatan
dari Rp.641.585,68 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.1.026.104,83 juta pada tahun
2013, atau mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 12,46% pertahun. Belanja
modal mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 30,34% pertahun, yaitu dari
Rp.100.352,19 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.289.610,36 juta pada tahun 2013.
Sedangkan belanja barang dan jasa mengalami peningkatan dari Rp.145.915,50
juta pada tahun 2009 menjadi Rp.248.203,71 juta pada tahun 2013, atau secara
rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 14,20% pertahun.

49

Tabel 3.4

No
A

PERKEMBANGAN REALISASI BELANJA DAERAH DAN TINGKAT PERTUMBUHAN RATA-RATA PER TAHUN
Tahun (Rp'juta)
PertumUraian
2009
2010
2011
2012
2013
buhan (%)
BELANJA OPERASI
Belanja Pegawai
641.585,68
753.001,46
806.590,21
942.725,51 1.026.104,83
12,46
Belanja Barang
145.915,50
130.670,69
176.954,16
190.533,08
248.203,71
14,20
Bunga
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Subsidi
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Hibah
32.740,45
24.862,17
38.953,53
40.067,89
40.346,93
5,36
Bantuan Sosial
13.343,26
13.168,40
15.769,25
5.197,88
13.147,97
(0,37)
Bantuan Keuangan
33.925,18
39.188,41
746,97
815,76
746,97
(61,48)
J uml a h
867.510,06
960.891,13 1.039.014,11 1.179.340,13 1.328.550,41
11,24
BELANJA MODAL
Belanja Tanah
16.432,66
23.581,51
12.403,77
6.514,05
17.643,48
1,79
Belanja Peralatan dan Mesin
23.425,58
14.349,14
32.716,80
36.010,75
53.044,97
22,67
Belanja Gedung dan Bangunan
25.983,16
46.950,78
52.640,25
128.973,34
128.051,19
49,00
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
33.710,61
49.021,95
42.657,99
47.897,45
89.851,44
27,77
Belanja Aset Tetap Lainnya
800,18
201,51
155,27
171,42
115,13
(38,41)
Belanja Aset Lainnya
0,00
131,04
0,00
423,51
904,16
J uml a h
100.352,19
134.235,93
140.574,07
219.990,52
289.610,36
30,34
BELANJA TAK TERDUGA
Belanja Tak Terduga
28.556,13
5.241,09
758,02
881,74
2.142,97
(47,66)
J uml a h
28.556,13
5.241,09
758,02
881,74
2.142,97
(47,66)
JUMLAH BELANJA
996.418,37 1.100.368,16 1.180.346,20 1.400.212,40 1.620.303,74
12,92
TRANSFER BAGI HASIL KE DESA
Bagi Hasil Pajak
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Bagi Hasil Retribusi
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Bagi Hasil Pendapatan Lainnya
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
JUMLAH BELANJA & TRANSFER
996.418,37 1.100.368,16 1.180.346,20 1.400.212,40 1.620.303,74
12,92

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

50

Analisis belanja daerah berdasarkan pengklasifikasian yang sesuai


Permendagri Nomor 13 tahun 2006, dan dengan menggunakan data tahun 20092013, menunjukkan bahwa perkembangan kinerja belanja Kota Padang cenderung
lebih baik. Hal ini dapat dilihat berdasarkan perbandingan tingkat pertumbuhan
rata-rata pertahun masing-masing kelompok belanja daerah. Belanja tidak langsung
mengalami peningkatan sebesar 9,57%, yaitu dari Rp.710.396,56 juta pada tahun
2009 menjadi Rp.1.023.849,92 juta pada tahun 2013. Sedangkan belanja tidak
langsung mengalami peningkatan yang lebih tinggi, yaitu 20,13% atau meningkat
dari Rp.286.372,76 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.596.453,82% juta pada tahun
2013.
Peningkatan belanja tidak langsung terutama disebabkan peningkatan
belanja pegawai, yaitu dari Rp.601.830,54 juta pada tahun 2009 menjadi
Rp.967.465,08 juta pada tahun 2013. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata
pertahun sebesar 12,60%. Belanja hibah juga mengalami peningkatan sedikit lebih
rendah, yaitu dari Rp.32.740,45 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.40.346,93 juta
pada tahun 2013, atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,36% pertahun.
Sedangkan belanja tidak langsung lainnya mengalami penurunan atau mengalami
pertumbuhan negatif.
Kinerja belanja yang lebih baik juga ditunjukkan berdasarkan analisis
pertumbuhan rata-rata pertahun untuk setiap elemen belanja langsung.
Pertumbuhan rata-rata pertahun dari belanja langsung pegawai lebih rendah
dibandingkan dengan belanja barang dan jasa serta dengan belanja modal. Belanja
langsung pegawai mengalami peningkatan dari Rp.39.755,14 juta pada tahun 2009,
menjadi Rp.58.639,75 juta pada tahun 2013, atau mengalami pertumbuhan ratarata pertahun sebesar 10,20%. Di lain pihak, belanja barang dan jasa mengalami
peningkatan dari Rp.145.915,50 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.248.203,71 juta
pada tahun 2013, atau mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 14,20%
pertahun. Sedangkan belanja modal mengalami peningkatan dari Rp.100.702,12
juta pada tahun 2009 menjadi Rp.289.610,36 juta pada tahun 2013, atau dengan
tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 30,22% pertahun. Secara tidak langsung,
hal ini menggambarkan kebijakan Kota Padang pasca gempa 29 September 2009,
yang mengharuskan pemerintah Kota Padang untuk lebih memperketat alokasi
belanja untuk pembangunan fisik dan atau untuk belanja modal lainnya.

51

Tabel 3.5

REALISASI BELANJA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG (Rp juta)


No Belanja
A Belanja Tidak Langsung
1 Belanja Pegawai
2 Belanja Bunga
3 Belanja Subsidi
4 Belanja Hibah
5 Belanja Bantuan Sosial
6 Belanja Bantuan Keuangan
7 Belanja Tidak Terduga
B Belanja Langsung
1 Belanja Pegawai
2 Belanja Barang dan Jasa
3 Belanja Modal
Jumlah

Thn 2009

Thn 2010

Thn 2011

Thn 2012

710.395,56
601.830,54
32.740,45
13.343,26
33.925,18
28.556,13
286.372,76
39.755,14
145.915,50
100.702,12
996.768,32

803.197,04
720.736,97
24.862,17
13.168,40
39.188,41
5.241,09
297.171,12
32.264,50
130.670,69
134.235,93
1.100.368,16

824.058,44
767.830,68
38.953,53
15.769,25
746,97
758,02
356.287,75
38.759,52
176.954,16
140.574,07
1.180.346,19

940.199,62
893.236,34
40.067,89
5.197,88
815,76
881,74
460.012,78
49.489,17
190.533,08
219.990,52
1.400.212,39

Pertumbuhan (%)
1.023.849,92
9,57
967.465,08
12,60
Thn 2013

40.346,93
13.147,97
746,97
2.142,97
596.453,82
58.639,75
248.203,71
289.610,36
1.620.303,74

5,36
(0,37)
(61,48)
(47,66)
20,13
10,20
14,20
30,22
12,91

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

Analisis lain yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi kinerja belanja Kota
Padang 5 tahun terakhir adalah berdasarkan proporsi setiap kelompok belanja
dengan total belanja dae
rah. Rata-rata proporsi jumlah belanja pegawai, baik belanja langsung
maupun belanja tidak langsung kurun waktu 2009-2013 adalah 66,36% dari total
belanja daerah. Tetapi dalam kurun waktu tersebut, terjadi penurunan proporsi
belanja pegawai, yaitu dari 64,39% pada tahun 2009 menjadi 63,33% pada tahun
2013. Sedangkan proporsi belanja modal dalam tahun 2009-2013 mengalami
peningkatan dari 10,07% pada tahun 2009 menjadi 17,87% pada tahun 2013.
Peningkatan pertumbuhan proporsi belanja modal yang lebih tinggi dibandingkan
proporsi belanja pegawai menunjukkan kebijakan belanja yang lebih baik dan perlu
dipertahankan; kalau bisa lebih ditingkatkan lagi pada masa datang.
Walaupun rata-rata proporsi belanja barang dan jasa pada tahun 2009-2013
lebih tinggi dibandingan belanja modal yaitu 14,09% berbanding 13,55%, namun
pada 2 tahun terakhir, proporsi belanja modal lebih besar dari pada belanja barang
dan jasa. Jika proporsi belanja barang dan jasa pada tahun 2012-2013 masingmasing adalah 13,61% dan 15,32%, maka proporsi belanja modal pada periode
yang sama adalah 15,71% dan 17,87%. Oleh sebab itu, baik berdasarkan tingkat
pertumbuhan rata-rata pertahun maupun capaian proporsi belanja modal pada
tahun 2012 dan tahun 2013 menunjukkan kinerja kebijakan belanja yang relatif
baik.
Tabel 3.6 berikut memperlihatkan perkembangan proporsi belanja pegawai,
belanja barang dan jasa, belanja modal, dan belanja lainnya.

52

Tabel 3.6
Perkembangan Proporsi Balanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, serta
Belanja Modal Tahun 2009-2013 (%)
Jenis Belanja
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal
Belanja Lainnya
Jumlah

Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Rata-Rata Pertumbuhan
66,36
64,39
68,43
68,34
67,33
63,33
(0,41)
14,09
14,64
11,88
14,99
13,61
15,32
1,13
13,55
10,07
12,20
11,91
15,71
17,87
15,42
6,00
10,90
7,49
4,76
3,35
3,48
(24,82)
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

C. Kinerja Pembiayaan
Secara umum, tidak banyak daerah yang telah membuat kebijakan
pembiayaan yang berpengaruh signifikan terhadap proses pembangunan, kecuali
memanfaatkan SiLPA yang tersedia. Pada kebanyakan daerah, kebijakan yang
dibuat dalam penganggaran adalah kebijakan anggaran berimbang. Hal ini berarti
semua SiLPA tahun sebelumnya direncanakan untuk digunakan untuk
menggerakkan pembangunan pada tahun berikutnya. Hal ini juga dilakukan oleh
pemerintah Kota Padang dalam periode Tahun 2009-2013.
Pada setiap tahun SiLPA tahun sebelumnya akan dijadikan sebagai
Pembiayaan Terima dan dianggarkan semua penerimaan daerah dapat dibelanjakan
pada tahun berikutnya. Akan tetapi karena adanya keterbatasan dalam pelaksanaan
anggaran, maka pada setiap tahun masih sering terjadi SiLPA. Namun demikian,
SiLPA Kota Padang setiap tahun menunjukkan penurunan dan secara otomasi
pembiayaan terima pada tahun berikutnya juga lebih rendah dari tahun-tahun
sebelumnya. Kebijakan pembiayaan seperti ini adalah baik, karena semua dana
yang tersedia diusahakan untuk menggerakkan pembangunan di daerah.
Akan tetapi data pada tahun 2012 menunjukkan kondisi yang kurang
mengembirakan, karena pada akhir tahun 2012 terdapat SiLPA yang lebih besar dari
tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi antara lain karena Kota Padang mengalami
kesulitan dalam mendapatkan bahan baku untuk pengaspalan jalan sehingga
terpaksa kegiatan-kegiatan pengaspalan jalan ditunda pada tahun berikutnya, dan
juga terjadi penundaan pelaksanaan pengembangan pembangunan jalur 2 jalan By
Pass sehingga jumlah SiLPA pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp.227,88 Milyar.

53

Tabel 3.7
Perkembangan Realisasi Pembiayaan dan Rata-Rata Pertumbuhan
Pertahun
No. Uraian

Tahun
2011

2012

2013

Pertumbuhan (%)

2009

2010

157.097,76
0,00
0,00
0,00
0,00
157.097,76

107.348,30
0,00
0,00
0,00
0,00
107.348,30

46.923,21
0,00
0,00
0,00
0,00
46.923,21

97.284,59
0,00
0,00
0,00
0,00
97.284,59

164.307,32
0,00
0,00
0,00
0,00
164.307,32

0,00
377,49
10.229,58
0,00
10.607,07

0,00
0,00
76,66
0,00
76,66

0,00
5.324,90
0,00
0,00
5.324,90

0,00
8.753,00
0,00
0,00
8.753,00

0,00
15.599,00
15.262,71

153,54
10,52

30.861,71

30,60

146.490,69

107.271,64

41.598,31

88.531,59

133.445,61

(2,30)

107.348,30

46.923,21

97.324,34

164.307,32

227.884,05

20,71

A
Penggunaan SiLPA
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang
Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi
Penerimaan Piutang Daerah
Jumlah Penerimaan

1,13

1,13

B
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal Pem. Daerah
Pembay. Pokok Pinj. DN Lainnya
Pembay. Pokok Pinj. DN Obligasi
Jumlah Pengeluaran
PEMBIAYAAN NETTO
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

3.2. NERACA DAERAH


Neraca mengambarkan tentang aset, kewajiban, dan ekuitas yang dimiliki
oleh suatu organisasi, termasuk organisasi pemerintah daerah. Secara umum,
transaksi yang akan mempengaruhi neraca daerah adalah transaksi yang berasal
dari belanja modal dan pembiayaan. Jika ada belanja modal maka akan terjadi
peningkatan aset tetap. Sedangkan jika ada pengeluaran pembiayaan maka akan
terjadi peningkatan investasi jangka panjang, pembentukan dana cadangan dan
atau penurunan kewajiban. Jika ada penerimaan pembiayaan maka akan terjadi
penurunan investasi jangka panjang, pencairan dana cadangan, sisa lebih
perhitungan anggaran dan atau kenaikan kewajiban.
Analisis kinerja Neraca Kota Padang tahun 2009-2013 terlihat bahwa ratarata proporsi aset tetap jauh lebih besar dibandingkan aset lancar dan investasi
jangka panjang, yaitu dengan perbandingan 91,87%, 4,64%, dan 1,11%,
sedangkan sisanya adalah aset lainnya. Perbandingan atau perkembangan proporsi
kelompok aset tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan antara tahun
2009 dibandingkan dengan tahun 2013.
Analisis berdasarkan pos-pos aset menunjukkan bahwa jumlah nilai aset
yang dimiliki Kota Padang mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari
Rp.2.885.510,91 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.4.896.118,73 juta pada tahun
2013, yang berarti dalam kurun tahun 2009-2013 terjadi pertumbuhan rata-rata
pertahun sebesar 14,13%. Peningkatan seperti ini dihasilkan antara lain melalui
peningkatan aset tetap, investasi jangka panjang, dan aset lancar. Dari 3 sumber
peningkatan aset Kota Padang tersebut, peningkatan jumlah aset tetap jauh lebih

54

tinggi dibandingkan 2 kelompok aset lainnya. Peningkatan jumlah aset tetap


meningkat dari Rp.2.650.814,80 juta pada tahun 2009 menjadi Rp.4.530.029,11
juta pada tahun 2013 atau mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar
14,34%. Sedangkan pertumbuhan investasi jangka panjang relatif kecil yaitu
sebesar 9,56%, dan pertumbuhan aset lancar sebesar 17,79%.
Sesuai dengan konsep keseimbangan, pertumbuhan aset tersebut juga akan
sama dengan jumlah pertumbuhan kewajiban dan ekuitas dana. Pertumbuhan
ekuitas dana pertahun adalah 14,13% dan pertumbuhan kewajiban adalah 13,21%.
Namun karena komposisi ekuitas dana jauh lebih besar (lebih kurang 99%)
dibandingkan kewajiban, maka pertumbuhan kewajiban tersebut tidak terlalu
berpengaruh signifikan terhadap komposisi kewajiban dan ekuitas dana. Tabel 3.8
berikut menyajikan perkembangan pos-pos neraca dan tingkat pertumbuhan ratarata pertahun.

55

Tabel 3.8
No Uraian

PERKEMBANGAN POS-POS NERACA DAN RATA-RATA PERTUMBUHAN PER TAHUN


Tahun (Rp'juta)
2009
2010
2011
2012

Pertumbuhan (%)

2013

ASET
ASET LANCAR
Kas di Kas Daerah
Kas di Kas Satlak
Kas di Bendahara Pengeluaran
Kas di Bendahara Penerimaan
Deposito
Piutang Pajak
Piutang Retribusi
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi
Piutang lainnya
Persediaan
Jumlah Aktiva Lancar

96.591,90
10.019,19
767,23
23,50
7.996,74
1.876,50
9.896,94
6.715,73
133.887,73

46.464,28
1,12
458,28
17,97
6.526,94
1.600,33
2.261,56
9.360,29
66.690,76

78.814,22
1,11
186,81
382,11
20.000,00
10.661,47
2.109,19
2.261,56
11.067,00
125.483,47

129.116,39
0,04
199,64
23,22
35.000,00
12.356,55
2.389,12
2.261,56
14.433,15
195.779,66

137.638,26
0,04
248,29
7,69
90.000,00
10.757,27
2.570,71
2.261,57
14.263,95
257.747,78

INVESTASI JANGKA PANJANG


Investasi Non Permanen
Investasi Permanen
Jumlah Investasi Jk. Panjang

3.503,65
28.431,45
31.935,10

3.514,15
20.542,45
24.056,60

3.514,15
22.367,35
25.881,50

3.514,15
31.120,35
34.634,50

3.514,15
42.497,33
46.011,48

0,07
10,57
9,56

859.778,04
193.152,93
485.965,50
1.075.611,85
34.710,46
1.596,01
2.650.814,80

782.190,69
212.259,13
566.885,11
1.158.586,50
42.835,24
56.349,24
2.819.105,91

799.307,98
250.698,16
644.544,01
1.207.705,99
31.027,61
15.737,67
2.949.021,42

1.109.240,43
281.821,31
830.987,87
1.255.721,90
33.794,11
68.999,59
3.580.565,22

1.451.637,50
391.900,77
1.263.692,93
1.345.152,91
49.044,87
28.600,13
4.530.029,11

13,99
19,35
26,99
5,75
9,03
105,75

68.873,28
68.873,28
2.885.510,91

55.726,79
55.726,79
2.965.580,06

438,16
865,23
24.884,55
55.408,90
81.596,83
3.181.983,23

477,91
1.892,47
1.416,90
55.408,90
59.196,18
3.870.175,56

432,20
2.755,08
4.334,05
54.809,03
62.330,36
4.896.118,73

30,02
3.239,12
1.070,71
4.339,86

0,47
3.136,30
1.718,51
4.855,28

1.677,80
3.136,30
2,77
4.816,87

8,75
3.136,30
138,65
3.283,70

2,56
597,90
600,46

4.339,86

4.855,28

4.816,87

3.283,70

6.527,76
6.527,76
7.128,22

ASET TETAP
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Irigasi dan Jaringan
Aset Tetap Lainnya
Konstruksi dalam Pengerjaan
Akumulasi Penyusutan
Jumlah Aset Tetap
DANA CADANGAN
Dana Cadangan
Jumlah Dana Cadangan
ASET LAINNYA
Tuntutan Ganti Rugi
Aset Tak Berwujud
Aset Lain-lain
Kemitraan Dengan Pihak Ketiga
Jumlah Aset Lainnya
TOTAL AKTIVA
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
Utang Perhitungan Fihak Ketiga
Utang Bunga
Bagian Lancar Ut. Jk Panjang
Utang Jangka Pendek Lainnya
Jmlh. Kewajiban Jk. Pendek
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Utang Dalam Negeri
Utang Jangka Panjang Lainnya
Jmlh. Kewajiban Jk. Panjang
JUMLAH KEWAJIBAN
EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR
Sisa Lebih Pembiayaan Angg.
Pendapatan yg Ditangguhkan
Cadangan Piutang
Cadangan
Dana
yg hrsPersediaan
disediakan utk Pembayaran
Utang Jk.Pendek
Jmlh. Ekuitas Dana Lancar
EKUITAS DANA INVESTASI
Diinvestasikan dalam Investasi JP
Diinvestasikan dalam Aset Tetap
Diinvestasikan
dalam Aset
Dana
yg hrs disediakan
utk Lainnya
Pembayaran
Utang Jk.Panjang
Jmlh. Ekuitas Dana Investasi
EKUITAS DANA CADANGAN
Diinvestasikan dalam Dana Cadangan
Jmlh. Ekuitas Dana Cadangan
JUMLAH EKUITAS DANA
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS DANA

107.348,30
23,50
19.770,18
6.715,73
(4.309,84)
129.547,87

46.923,21
17,97
10.388,82
9.360,29
(4.854,81)
61.835,48

97.324,34
382,11
15.032,22
11.067,00
(3.139,07)
120.666,60

164.307,32
23,22
17.007,23
14.433,15
(3.274,95)
192.495,97

9,26
(24,58)
(24,37)
7,70
8,19
(30,86)
20,72
17,79

14,34

(49,91)
(2,46)
14,13

(45,96)
(100,00)
(13,56)
(39,01)

13,21

227.884,04
7,69
15.589,53
14.263,95
(597,90)
257.147,31

20,71
(24,37)
(5,77)
20,72
(38,97)
18,70

46.011,48
4.530.029,11
62.330,35
(6.527,76)
4.631.843,18

9,56
14,34
(2,46)

31.935,10
2.650.814,80
68.873,28
2.751.623,18

24.056,60
2.819.105,91
55.726,79
2.898.889,30

25.881,50
2.949.021,42
81.596,83
3.056.499,76

34.634,50
3.580.565,22
59.196,18
3.674.395,90

2.881.171,06

2.960.724,78

3.177.166,36

3.866.891,86

4.888.990,49

14,13

2.885.510,91

2.965.580,06

3.181.983,23

3.870.175,56

4.896.118,71

14,13

13,90

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

56

Untuk memahami kemampuan keuangan Kota Padang dapat dilakukan


berdasarkan analisis rasio keuangan. Secara konsepsual ada 4 macam analisis rasio
keuangan yang dapat digunakan, meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio
leverage, dan rasio profitabilitas.
1. Rasio likuiditas, bertujuan untuk melihat kemampuan organisasi dalam
melunasi hutangnya pada saat jatuh tempo. Semakin tinggi rasio likuiditas
berarti semakin tinggi kemampuan organisasi dalam melunasi hutangnya.
Analisi rasio likuiditas dapat dilakukan berdasarkan rasio lancar, rasio quick,
dan rasio kas. Ketiga rasio sama-sama bertujuan untuk mengevaluasi
kemampuan pemerintah daerah dalam membayar hutang lancarnya pada saat
jatuh tempo, tatapi kas rasio lebih menunjukkan kemampuan riil berdasarkan
kas yang dimiliki.
2. Analisis solvabilitas, bertujuan untuk melihat kemampuan organisasi dalam
melunasi seluruh hutangnya, baik hutang jangka pendek maupun hutang
jangka panjang. Analisis solvabilitas ini secara tidak langsung juga dapat
dilakukan melalui rasio leverage, dimana rasio leverage ini bertujuan untuk
melihat sejauhmana organisasi menggunakan dana pinjaman (hutang jangka
pendek dan hutang jangka panjang) dalam menjalankan roda organisasinya.
Analisis rasio solvabilitas dapat dihitung berdasarkan perbandingan total
hutang dengan total aset, dan atau total hutang dengan modal. Kedua rasio
ini sama-sama bertujuan untuk menilai kemampuan permerintah daerah
dalam melunasi seluruh kewajibannya seandainya seluruh aset dan atau
modal digunakan.
3. Analisis rasio profitabilitas, bertujuan menilai kemampuan menghasilkan laba.
Karena organisasi pemerintah daerah tidak bertujuan laba maka rasio ini
menjadi tidak relevan dilakukan.
Karena rasio profitabilitas tidak relevan dilakukan pada organisasi
pemerintahan, maka dalam pembahasan berikutnya, analisis rasio keuangan yang
digunakan dalam menilai kemampuan keuangan Kota Padang hanya berdasarkan
rasio likuiditas dan rasio solvabilitas saja.
Baik rasio lancar maupun rasio kas menunjukkan kemampuan yang sangat
luar biasa. Rasio lancar mengalami peningkatan dari 3.085,07% pada tahun 2009
menjadi 42.925,05% pada tahun 2013. Sedangkan rasio quick meningkat dari
2.930,33% pada tahun 2009 menjadi 40.549,55% pada tahun 2013. Hal yang sama
ditunjukankan oleh rasio kas; meningkat dari 2.474,78% pada tahun 2009 menjadi
22.964,77% pada tahun 2013. Ketiga rasio ini menunjukkan bahwa Kota Padang
mempunyai kemampuan untuk melunasi hutang lancar puluhan kali lipat, dan atau
jumlah hutang yang sangat kecil sekali. Namun dari sisi lain, jumlah kas yang
sangat besar ini kurang baik dari fungsi pemerintah sebagai penggerak
pembangunan. Pada masa datang, saldo kas pada akhir tahun hanya sebatas
kebutuhan minimal bulanan pelaksanaan kegiatan administrasi rutin tahun berikut.

57

Kondisi jumlah hutang yang sangat kecil itu juga dapat dilihat berdasarkan
rasio total hutang terhadap ekuitas dana dan atau total aset, yaitu berkisar dibawah
1% saja. Artinya, hutang yang dimiliki Kota Padang hanya kurang dari 1% dari
jumlah aset atau ekuitas dananya. Dengan demikian keempat rasio keuangan ini
menunjukkan kemampuan Pemerintah Kota Padang yang sangat baik dalam
melunasi seluruh hutangnya. Tabel 3.9 berikut menyajikan rasio keuangan Kota
Padang.
Tabel 3.9

PERKEMBANGAN RASIO KEUANGAN PERTUMBUHAN RATA-RATA PER TAHUN


PertumTahun (%)
Uraian
2009
2010
2011
2012
2013 buhan (%)
3.085,07 1.373,57 2.605,08 5.962,17 42.925,05
93,14
Rasio lancar (current ratio)
2.930,33 1.180,79 2.375,33 5.522,63 40.549,55
92,87
Rasio quick (quick ratio)
2.474,78
966,82 1.648,05 3.938,83 22.964,77
74,53
Kas Rasio
0,15
0,16
0,15
0,08
0,15
(0,81)
Rasio total hutang terhadap total aset
0,15
0,16
0,15
0,08
0,15
(0,81)
Rasio hutang terhadap modal

No
1
2
3
4
5

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

3.3. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN MASA LALU


Kebijakan pengelolaan keuangan di masa lalu diarahkan pada upaya
meningkatkan PAD guna mengurangi ketergantungan Keuangan Daerah pada
bantuan Pemerintah Pusat. Hal ini dapat terlihat dari data yang ditampilkan pada
bagian kinerja keuangan masa lalu di atas, dimana dalam kurun waktu lima tahun
terakhir, terjadi peningkatan proporsi PAD terhadap Total Pendapatan Daerah Kota
Padang, sedangkan di sisi lain terjadi penurunan proporsi pendapatan yang berasal
dari dana perimbangan.
Dari sisi belanja aparatur, selama kurun waktu tahun 2009 hingga tahun
2013, telah terjadi penurunan proporsi belanja aparatur. Pada tahun 2009 belanja
aparatur memiliki proporsi sebesar 77,29% dari total pengeluaran pemerintah
daerah, sedangkan pada tahun 2013 proporsi belanja ini menurun menjadi 71,89%
dari total pengeluaran daerah. Walaupun dari sisi jumlah belanja aparatur terjadi
peningkatan, namun penurunan proporsi tersebut menunjukkan bahwa alokasi
pengeluaran pada kebutuhan non-aparatur di dalam APBD Kota Padang semakin
lama semakin naik.
Tabel 3.10
PROPORSI BELANJA PEMENUHAN KEBUTUHAN APARATUR
Total belanja untuk pemenuhan Total pengeluaran (Belanja
No Uraian
Prosentase
kebutuhan aparatur (Rp.juta) + Pembiayaan Pengeluaran)
1
2
3
4
5

Tahun 2009
Tahun 2010
Tahun 2011
Tahun 2012
Tahun 2013

778.374,52
885.282,79
897.311,02
1.059.177,30
1.187.085,37

1.007.025,44
1.100.444,82
1.185.671,10
1.408.965,40
1.651.165,45

77,29
80,45
75,68
75,17
71,89

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

58

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa kebijakan


Kota Padang dalam penyusunan anggaran menggunakan prinsip anggaran
berimbang. Berdasarkan prinsip ini, maka SiLPA yang terjadi pada tahun-tahun
sebelumnya diupayakan untuk dapat dibelanjakan pada tahun berikutnya guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pelayanan, dan
meningkatkan daya saing daerah.
Pada tahun terjadinya Gempa dan 1 tahun pasca Gempa 29 September
2009, Kota Padang membutuhkan perbaikan infrastuktur yang relatif besar sehingga
terjadi defisit riil pada tahun 2009 dan tahun 2010, masing-masing Rp.49.749,47
juta dan Rp.60.425,08 juta. Defisit riil yang terjadi ini bermakna bahwa Kota Padang
Harus mencari sumber pembiayaan yang lain untuk menutupi pengeluaran tersebut.
Akan tetapi, pada tahun-tahun berikutnya Kota Padang tidak mampu menggunakan
seluruh pendapatan yang dihasilkannya sehingga terjadi surplus riil anggaran. Pada
tahun 2011 jumlah surplus riil anggaran yang dihasilkan sebesar Rp.50.401,13 juta,
tahun 2012 menjadi Rp.67.022,72 juta, dan tahun 2013 menjadi Rp.63.576,73 juta.
Tabel 3.11
No Uraian
1
2
3

PENDAPATAN
BELANJA
PENGELUARAN PEMBIAYAAN
DEFISIT RIIL

DEFISIT RIIL ANGGARAN


PertumTahun (Rp'juta)
buhan (%)
2009
2010
2011
2012
2013
957.275,98 1.040.019,73 1.236.072,23 1.475.988,12 1.714.742,18
15,69
996.418,37 1.100.368,16 1.180.346,20 1.400.212,40 1.620.303,74
12,92
10.607,07
76,66
5.324,90
8.753,00
30.861,71
30,60
(49.749,47) (60.425,08)
50.401,13
67.022,72
63.576,73

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

Di samping disebabkan karena adanya pelampauan realisasi pendapatan


dibanding dengan anggaran yang ditetapkan, surplus riil yang terjadi pada tahun
2011-2013 juga disebabkan karena adanya penghematan belanja dan atau adanya
kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan karena alasan tertentu, seperti
kesulitan mendapatkan Aspal pada tahun 2012 sehingga banyak kegiatan
pembangunan/rehab jalan tidak dapat dilaksanakan.
Secara umum pelampauan pendapatan realisasi anggaran dihasilkan untuk
sumber pendapatan dana perimbangan. Sedangkan PAD dan Lain-lain Pendapatan
yang Sah, realisasinya lebih rendah dari yang dianggarkan kecuali pada 1 tahun
terakhir. Oleh sebab itu, pada masa datang dibutuhkan kebijakan yang lebih baik
agar pendapatan-pendapatan yang dianggarkan khususnya dari sumber PAD
melebihi dari anggaran yang telah ditetapkan, antara lain melalui analisis potensi
pajak daerah dan retribusi daerah. Tabel berikut memperlihatkan perkembangan
realiasi sisa lebih perhitungan anggaran tahun 2009-2013.

59

Tabel 3.12
REALISASI SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN
No. Uraian

Tahun (Rp.juta)
2009

2010

1 Jumlah SiLPA

2011

107.348,30

46.923,21

2 Pelampauan penerimaan PAD


3 Pelampauan penerimaan dana perimbangan

(19.909,86)

(4.234,98) (15.060,43)

25.594,53

24.888,09

2012

2013

97.324,34 164.307,32 227.884,05


10.192,69

1.823,03

(17,86)

27.263,50

(6.586,53)

4 Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah 48.085,25 (14.596,47) (39.292,28) (5.156,34) (24.386,48)
5 Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya
53.578,37 40.866,57 141.484,36 140.377,13 258.874,92
Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 73/PMK.02/2006 tentang Peta


Kapasitas Fiskal Dalam Rangka Penerusan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Kepada
Daerah Dalam Bentuk Hibah, serta dipertegas oleh Permendagri Nomor 21 Tahun
2007 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran dan
Pertanggung-jawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi
Intensif dan Dana Operasional, menjelaskan bahwa penentuan kemampuan
keuangan daerah dihitung dari selisih antara Pendapatan Umum Daerah dikurangi
belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). Pendapatan umum daerah terdiri atas
pendapatan asli daerah ditambah dana bagi hasil dan dana alokasi umum,
sedangkan belanja PNSD terdiri atas gaji dan tunjangan PNSD yang meliputi gaji
pokok, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, tunjangan beras, dan tunjangan
pajak penghasilan (PPh Pasal 21).
Dalam Permendagri Nomor 21 Tahun 2007 selanjutnya dijelaskan bahwa
pengelompokan kemampuan keuangan daerah untuk kabupaten/kota, diatur
sebagai berikut:
a. Di atas Rp. 400.000.000.000,00 (empat ratus milyar rupiah) dikelompokkan
pada kemampuan keuangan daerah tinggi;
b. Antara Rp. 200.000.000.000,00 (dua ratus milyar) sampai dengan Rp.
400.000.000.000,00 (empat ratus milyar rupiah) dikelompokkan pada
kemampuan keuangan daerah sedang; dan
c. Di bawah Rp. 200.000.000.000,00 (dua ratus milyar) dikelompokkan pada
kemampuan keuangan daerah rendah
Jika dihitung berdasarkan data realisasi, maka hasil perhitungan kemampuan
keuangan daerah Kota Padang menunjukkan peningkatan dari kategori sedang
menjadi tinggi. Jika pada tahun 2009 jumlah kemampuan keuangan daerah Kota
Padang baru berjumlah Rp.279.961,54juta, maka pada tahun 2013 meningkat
menjadi Rp.536.827,15 juta.

60

Tabel 3.13
KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH (Rp.Juta)
Thn 2009
Thn 2010
Thn 2011
Thn 2012

Uraian
PENDAPATAN
Pendapatan Asli Daerah
113.254,71
DAU
628.472,62
Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 58.882,84

116.691,28
632.117,46
65.411,50

149.874,80
711.416,06
63.302,31

189.450,84
238.871,89
871.875,67 1.003.116,09
122.817,88
57.718,07

BELANJA
Belanja Gaji dan Tunjangan

520.648,63

572.430,66

637.909,65

680.678,94

762.878,90

279.961,54

241.789,57

286.683,51

503.465,45

536.827,15

Selisih

Thn 2013

Gempa yang terjadi pada tanggal 29 September 2009 telah merusak dan
atau bahkan sampai meruntuhkan beberapa bangunan milik Kota Padang.
Akibatnya sejak tahun 2010 sampai 2012 beberapa SKPD Kota Padang terpaksa
menyewa bangunan agar pelayanan kepada masayarakat tetap dapat diberikan.
Kontrak sewa menyewa baik untuk bangunan maupun untuk beberapa jenis
peralatan lain yang dibutuhkan dilakukan dengan perjanjian tahunan bukan
perjanjian sewa menyewa jangka panjang.
Sesuai dengan kebijakan pemerintah yang memindahkan pusat
pemerintahan Kota Padang ke Air Pacah, maka sejak tahun 2013 roda
pemerintahan Kota Padang digerakkan melalui Gedung Baru di Air Pacah. Beberapa
SKPD masih menggunakan bangunan lama yang masih dalam kondisi layak huni,
dan beberapa SKPD lainnya memberikan pelayanan dengan mamanfaatkan gedung
baru. Oleh sebab itu, Kota Padang saat ini tidak memiliki kontrak sewa menyewa
jangka pajang baik untuk bangunan maupun peralatan lainnya.
Dalam rangka pengembangan kapasitas sumber daya manusia, Kota Padang
selalu memberikan Beasiswa kepada PNS di lingkungan Pemerintah Kota Padang.
Namun pada tahun 2012 jumlah beasiswa yang diberikan berkurang dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Hal ini antara lain disebabkan kebijakan pengembangan
kapasitas SDM daerah lebih banyak memanfaatkan Beasiswa dari sumber-sumber
lain yang saat ini memang banyak ditawarkan. Pada saat ini tidak ada lagi
kewajiban beasiswa yang harus dibayarkan Kota Padang. Demikian juga terhadap
pembayaran bunga, bagi hasil pajak dan bukan pajak, serta belum merencanakan
pembentukan dana cadangan atau penerimaan pembiayaan lainnya. Oleh sebab itu,
pengeluaran periodik, wajib, dan mengikat serta perioritas utama Kota Padang
hanya terbatas untuk belanja Gaji dan Tunjangan, Belanja Penerimaan Anggota dan
Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH, Belanja honorarium PNS khusus
untuk guru dan tenaga medis, dan Belanja Jasa Kantor.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, jumlah belanja dan pengeluaran
pembiayaan wajib dan mengikat serta perioritas utama mengalami peningkatan dari
Rp.581.374,94 juta pada tahun 2009 dan meningkat menjadi Rp.1.101.395,88 juta
pada tahun 2013.

61

Tabel 3.14

No.
A
1
2
3
4
B
1
2
3
4
5
C
1
2

PENGELUARAN PERIODIK, WAJIB DAN MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA


PertumTahun (Rp'juta)
Uraian
buhan (%)
2009
2010
2011
2012
2013*/
Belanja Tidak Langsung
Belanja Gaji dan Tunjangan
520.648,63 572.430,66 637.909,65 680.678,94
742.253,11
9,05
Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD
5.118,81
5.262,07
5.307,71
5.552,48
5.703,64
2,72
serta Operasional KDH/WKDH
Belanja Bunga
0
0
0
0
0
0
Belanja bagi hasil
0
0
0
0
0
0
Belanja Langsung
Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan
42.307,58
79.415,92
97.380,45 170.972,07
250.861,48
46,73
tenaga medis.
Belanja Beasiswa Pendidikan PNS
9.403,00
5.738,83
10.695,09
750,03
271,15
(63,85)
Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor
3.895,93
18.023,23
38.672,49
57.351,33
102.305,51
78,38
seperti listrik, air, telepon dan sejenisnya)
Belanja sewa gedung kantor (yang telah ada kontrak
0
0
0
0
0
0
jangka panjangnya)
Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor
0
0
0
0
0
0
(yang telah ada kontrak jangka panjangnya)
0
PembiayaanPengeluaran
Pembentukan Dana Cadangan
0
0
0
0
0
0
Pembayaranpokokutang
0
0
0
0
0
0
15,94
TOTAL
581.373,94 680.870,72 789.965,39 915.304,85 1.101.394,88

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)

Berdasarkan hasil perhitungan ini dapat pula dihitung kapasitas riil


kamampuan keuangan daerah, yaitu dari selisih total penerimaan dengan belanja
dan pengeluaran pembiayaan wajib dan mengikat serta perioritas utama. Hasil
perhitungan menujukkan bahwa pada tahun 2009 jumlah kapasitas riil kamampuan
keuangan daerah Kota Padang berjumlah Rp.483.250,33 juta dan meningkat
menjadi Rp.841.231,35 juta pada tahun 2013. Tabel 3.15 berikut menunjukkan hasil
perhitungan kapasitas riil keuangan daerah Kota Padang tahun 2009-tahun 2013.
Tabel 3.15

No. Uraian

KAPASITAS RIIL KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH


UNTUK MENDANAI PEMBANGUNAN DAERAH
Tahun (Rp.juta)

1. Pendapatan

2009

2.010

2.011

2.012

2.013

957.275,98 1.040.019,73 1.236.072,23 1.475.988,12 1.714.742,18

2. Pencairan dana cadangan (sesuai Perda)


3. Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran
Total penerimaan
Dikurangi:
Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang
4.
Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama
Kapasitas riil kemampuan keuangan daerah

107.348,30

46.923,21

97.324,34

164.307,32

227.884,05

1.064.624,27 1.086.942,95 1.333.396,57 1.640.295,44 1.942.626,23

581.373,94

680.870,72

789.965,39

915.304,85 1.101.394,88

483.250,33

406.072,23

543.431,18

724.990,59

841.231,35

Sumber: DPPKAD, Laporan Keuangan Kota Padang, beberapa tahun (diolah)


Catatan */ hasil proyeksikan tahun sebelumnya

62

3.4. RENCANA KEBIJAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN


A. Pendapatan
Dalam memproyeksikan pendapatan Kota Padang tahun 2015 sampai tahun
2019 digunakan beberapa asumsi. Asumsi pertama adalah penetapan anggaran
pendapatan Kota Padang tahun 2014 telah melalui analisis oleh eksekutif dan
legislatif. Oleh sebab itu, anggaran pendapatan tahun 2014 dapat dijadikan tolak
ukur atau standar dalam menentukan metode statistik yang sebaiknya dipakai dan
atau tahun dasar yang digunakan dalam menghitung proyeksi pendapatan.
Secara umum, berbagai metode statistik dapat digunakan dalam
memproyeksikan pendapatan. Metode mana yang lebih tepat dan akan dipilih,
tergantung kepada trend dan atau konjungtur data-data keuangan masa lalu yang
akan digunakan sebagai dasar proyeksi. Setelah dilakukan proses trial and error
maka alternatif yang paling baik adalah berdasarkan tingkat pertumbuhan rata-rata.
Akan tetapi, karena pada tanggal 30 September 2009 telah terjadi Gempa Besar di
Kota Padang dan berdampak terhadap penerimaan pendapatan Kota Padang, maka
tahun dasar yang digunakan akan ditentukan kedekatan hasil proyeksi pada tahun
2014 dengan anggaran pendapatan yang sudah disepakati oleh DPRD untuk APBD
2014.
Pertimbangan lain yang digunakan dalam memproyeksikan pendapatan
tersebut adalah perubahan peraturan yang berlaku dalam pemungutan pajak dan
retribusi daerah. Khususnya, untuk Pajak Bumi dan Bangunan yang tadinya
dikelompokkan sebagai penerimaan Bagi Hasil Pajak maka pada tahun 2015 dan
seterusnya akan menjadi bagian dari Pajak Daerah. Di samping itu, adanya
perubahan kebijakan pemerintah pusat dalam penentuan dasar alokasi Dana Alokasi
Khusus dan kebijakan pusat lainnya pada tahun 2014, maka perlu dilakukan
penyesuaian dasar proyeksi Pendapatan Dana Transfer. Secara keseluruhan tahun
dasar yang digunakan adalah tahun 2009-tahun 2013. Akan tetapi karena adanya
perubahan peraturan dan kebijakan maka untuk beberapa jenis penerimaan
pendapatan Kota Padang akan digunakan tahun dasar yang berbeda sesuai kondisi
dan prediksi untuk tahun 2014.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan tingkat
pertumbuhan rata-rata sebagaimana dijelaskan di atas dapat dilihat sebagai berikut:

63

Tabel 3.16
No. Uraian

PROYEKSI PENDAPATAN DAERAH TAHUN 2014 - 2019


Tahun (Rp.juta)
2014
2015
2016
2017

A PENDAPATAN ASLI DAERAH


Pendapatan Pajak Daerah
Pendapatan Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
yg Dipisahkan
Lain-lain PAD yang Sah
Jumlah Pendapatan Asli Daerah
B PENDAPATAN TRANSFER
1. TRANSFER PEMERINTAH PUSAT
Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Sub Jumlah
2. TRANSFER PEMERINTAH PUSAT3. TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI
Jumlah Pendapatan Transfer
C LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
Pendapatan Hibah
Bantuan Keuangan
Pendapatan Lainnya
Jumlah Lain-Lain Pendapatan Yang Sah
JUMLAH PENDAPATAN

2018

2019

179.947,71
62.538,99

226.293,90
60.037,43

257.421,45
72.930,66

292.830,71
88.592,75

333.110,65
107.618,32

378.931,24
130.729,69

9.713,59
55.807,68
308.007,97

11.211,62
98.517,96
396.060,90

12.940,67
127.611,47
470.904,25

14.936,38
165.296,63
561.656,47

17.239,87
214.110,67
672.079,50

19.898,60
277.340,06
806.899,59

65.634,91
1.060.234,17
76.839,71
1.202.708,79

71.335,22
1.072.894,05
42.132,90
1.186.362,16

73.963,84
1.166.172,14
48.803,46
1.288.939,44

76.689,31
1.267.559,90
56.530,11
1.400.779,32

79.515,21
1.377.762,38
65.480,07
1.522.757,66

82.445,25
1.497.545,92
75.847,00
1.655.838,17

325.734,30
77.236,74

358.245,88

452.396,52

571.290,91

721.431,94

911.031,56

77.236,74

86.780,66

97.503,90

109.552,18

123.089,23

1.605.679,82

1.621.844,78

1.828.116,62

2.069.574,13

2.353.741,78

2.689.958,96

8.827,90
13.339,97

32.045,27

32.045,27
9.604,78

32.045,27
11.525,73

32.045,27
13.830,88

32.045,27
16.597,05

22.167,87

32.045,27

41.650,04

43.571,00

45.876,15

48.642,32

1.935.855,66

2.049.950,95

2.340.670,91

2.674.801,60

3.071.697,43

3.545.500,87

64

Karena dalam memproyeksikan pendapatan daerah tersebut di atas


digunakan data-data masa lalu, berarti asumsi yang digunakan bahwa peningkatan
pendapatan tersebut dihasilkan sesuai dengan kebijakan rutin masa lalu. Dengan
kata lain, proyeksi pendapatan Kota Padang tahun 2014-2019 pada tabel 3.16
belum mempertimbangkan penambahan pendapatan sebagai hasil kebijakan Kepala
Daerah baru yang diperkirakan sudah dapat diperoleh mulai dari tahun 2015, antara
lain berasal dari:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pembenahan sistem perpakiran Pasar Raya dan Jalan Permindo


Operasionalisasi pasar raya dan pasar lainnya
Peningkatan NJOP dan Potensi Riil Pajak dan Retribusi Daerah
Pembangunan Cabel Car
Pengembangan PT Semen Padang dan pendirian usaha baru lainnya
Lapau Panjang Purus

Untuk mencapai proyeksi diatas, beberapa strategi dan kebijakan yang akan
mendorong peningkatan pendapatan asli daerah, antara lain adalah:
1. Kebijakan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak daerah,
terutama pada sumber BPHTB dan PBB.
2. Analisis Potensi Riil Penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
3. Peningkatan hasil pengelolaan kekayaan daerah melalui pengelolaan sumber
daya daerah secara lebih profesional dan marketable.
4. Intensifikasi pendapatan melalui penyesuaian tarif pajak dan retribusi
5. Penyempurnaan sistem pemungutan pajak dan retribusi daerah.
Di samping itu, pada masa datang juga perlu diupayakan untuk
mendapatkan dana bantuan keuangan dari pemerintah provinsi dan pusat.
Demikian juga dengan sumber-sumber pendanaan dari masyarakat. Kedua
kebijakan terakhir ini sangat ditentukan oleh kreativitas dalam masing-masing
kepala SKPD untuk mengupayakan secara maksimal.
Proyeksi pengeluaran pembiayaan wajib dan mengikat serta perioritas utama
dilakukan berdasarkan tingkat pertumbuhan data realisasi 4 tahun terakhir, yaitu
tahun 2010-2013. Namun karena pertumbuhan pendapatan perimbangan lebih
rendah dibandingkan dengan belanja wajib dan mengikat dan untuk
mempertahankan proporsi belanja langsung, maka Kota Padang telah berkomitmen
untuk mengurangi laju pertumbuhan belanja wajib dan mengikat ini, antara lain
dengan membuat kebijakan meminimalkan penambahan pegawai baik melalui
pegawai baru maupun pegawai pindahan.
Berdasarkan kebijakan tersebut, maka tingkat pertumbuhan belanja
pengeluaran wajib dan mengikat serta perioritas utama dari tahun 2014 sampai
tahun 2019 dihitung 1,5% lebih rendah daripada tingkat pertumbuhan tahun-tahun
sebelumnya. Di samping kebijakan minimalisasi pertambahan pegawai sebagaimana
dijelaskan diatas, maka kebijakan belanja yang akan dilakukan dimasa akan datang
antara lain adalah:

65

1. Kebijakan Belanja sesuai dengan prioritas; mulai dari belanja wajib dan
mengikat, belanja administrasi rutin, belanja program unggulan, dan perioritas
lainnnya.
2. Melakukan efesiensi anggaran terhadap jenis belanja/pengeluaran yang
terkesan boros, seperti belanja honor, perjalanan dinas, dan belanja barang
dan jasa, serta dianggarkan secara selektif.
3. Belanja langsung diprioritaskan untuk membiayai belanja modal yang dapat
memberikan multiflier effect dalam pertumbuhan ekonomi khususnya yang
berkaitan dengan pelayanan dasar.
4. Peningkatan peran Bappeda dalam sinkronisasi belanja antar SKPD untuk
meningkatkan efektivitas sesuai dengan target kinerja.
Prinsip pengelolaan keuangan daerah adalah mencapai keseimbangan antara
pendapatan dan belanja sehingga kemungkinan defisit anggaran ditiadakan. Namun
jika pembiayaan diperlukan untuk menutup defisit anggaran berjalan, arah
pengelolaan pembiayaan harus berdasarkan prinsip kemampuan dan
kesinambungan fiskal daerah. Sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit
anggaran dapat diperoleh dari SILPA ataupun pinjaman daerah dan dengan sebisa
mungkin menghindari penjualan aset daerah yang dipisahkan. Apabila terjadi
pinjaman daerah, maka besaran pinjaman daerah haruslah pada kemampuan
pengembalian pinjaman oleh daerah. Dalam pengelolaan pembiayaan dan
perumusan proyeksi pembiayaan daerah selama kurun waktu lima tahun ke depan,
asumsi dan metode proyeksi yang digunakan adalah linear dengan asumsi dan
metode yang digunakan pada pendapatan dan belanja daerah.
Dalam pengelolaan pembiayaan, tidak dimungkinkan untuk melakukan
penerimaan pembiayaan melalui SILPA dikarenakan proyeksi penerimaan dan
belanja daerah menunjukkan kebutuhan pada belanja selalu lebih besar dari
penerimaan, sehingga pendapatan pembiayaan diutamakan diperoleh dari laba
investasi jangka pendek dan jangka panjang, hasil investasi aset, pembayaran
piutang daerah, maupun penerimaan-penerimaan lainnya yang dimungkinkan untuk
diperoleh. Sedangkan pengeluaran pembiayaan dialokasikan untuk melakukan
pembiayaan pada investasi jangka pendek dan jangka panjang, investasi pada aset
tetap, alokasi dana cadangan daerah, serta pembayaran utang dan defisit daerah.
Berdasarkan perhitungan SiLPA tahun 2013 dan hasil proyeksi pendapatan
daerah dari tahun 2014 sampai tahun 2019 serta proyeksi pengeluaran pembiayaan
wajib dan mengikat serta perioritas utama dapat diketahui proyeksi kapasitas riil
keuangan daerah tahun 2014-tahun 2019. Tabel 3.17 berikut memperlihatkan hasil
perhitungan proyeksi kapasitas riil keuangan daerah tahun 2014-tahun 2019.

66

Tabel 3.17
PROYEKSI KAPASITAS RIIL KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH
UNTUK MENDANAI PEMBANGUNAN DAERAH
No. Uraian
1. Pendapatan

Tahun (Rp, Juta)

2014

2015

2016

2017

2018

2019

1.935.855,66

2.049.950,95

2.340.670,91

2.674.801,60

3.071.697,43

3.545.500,87

227.884,05
2.163.739,71

2.049.950,95

2.340.670,91

2.674.801,60

3.071.697,43

3.545.500,87

1.261.436,94

1.442.660,64

1.649.919,74

1.886.954,61

2.158.042,98

788.514,01

898.010,27

1.024.881,86

1.184.742,81

1.387.457,89

2. Pencairan dana cadangan (sesuai Perda)


3. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
Total penerimaan

Dikurangi:
Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang
4.
Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama 1.197.190,34
Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan
966.549,37
Daerah

67

BAB IV
ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dalam


dokumen RPJMD karena menjadi dasar kebijakan pembangunan jangka menengah.
Isu-isu strategis pada dasarnya menyangkut dengan kondisi dan aspek yang sangat
penting dan strategis serta menentukan arah pembangunan Kota Padang 5 (lima)
tahun kedepan. Karena isu-isu tersebut merupakan kondisi yang mendasar dan
menentukan pencapaian tujuan pembangunan, oleh karena itu penyajian analisis ini
menjelaskan butir-butir masalah pokok pembangunan dan isu-isu strategis.

4.1. PERMASALAHAN POKOK PEMBANGUNAN


Sebelum mengungkapkan masalah isu strategis perlu ditentukan masalah
pokok yang akan menjadi dasar penetapan isu strategis. Kriteria yang digunakan
untuk menentukan permasalahan pokok Kota Padang berdasarkan kepada (1)
Cakupan masalah yang luas, (2) Permasalahan cenderung meningkat atau
membesar di masa yang datang dan berdampak negatif, (3) Memerlukan upaya
penanganan yang konsisten dari waktu ke waktu serta sinergitas berbagai pihak.
Untuk itu dikelompokkan kedalam beberapa masalah yaitu;
4.1.1. Masalah Sosial-Budaya
Masalah mendasar yang memerlukan penanganan segera dikelompok sosial
budaya antara lain; telah menurunnya nilai-nilai karakter pada anak didik pada
akhir-akhir ini seperti munculnya tawuran, tidak peduli terhadap semua persoalan
sosial, kurang menghargai orang lain. Anak Minang kehilangan budaya untuk
memahami jalan nan ampek (jalan mandaki, jalan manurun, jalan mandata dan
jalan malereng) bagi anak-anak muda sekarang. Sehingga kurang peduli terhadap
sikap, etika dan sopan santun. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh keterbukaan
informasi publik, kemajuan teknologi dan lingkungan yang kurang mendidik.
Kebanyakan para siswa memanfaatkan waktu kosong dengan hura-hura dan
bersendagurau, sehingga diduga mengarah semakin maraknya terjadi kekerasan
seks pada anak dibawah umur. Masih rendahnya pemahaman nilai-nilai agama,
untuk menyelamatkan anak bangsa sudah waktunya dijadikan isu strategis untuk
diberikan pendidikan seks pada anak didik sebagai perlindungan generasi
mendatang.
Belum memadai permasalahan pemberdayaan perempuan, perlindungan dan
pemenuhan hak dasar perempuan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan
politik. Permasalahan olah raga yaitu sarana olah raga dilingkungan tempat tinggal
warga kurang mendapat dukungan dari pemerintah. Kurang perhatian kepada para

68

atlit yang berpotensi dibidang olah raga terhadap jaminan karir, keamanan, dan
jaminan pekerjaan serta masa depannya. Kurang terkelola sarana seni dan budaya
dengan manajemen yang baik, seharusnya mendatangkan pendapatan kota. Belum
optimalnya pelestarian nilai-nilai luhur budaya, adat dan tradisi Minangkabau,
kehidupan seni, bahasa dan sastra, yang masih lekat dan tumbuh dalam kehidupan
masyarakat dalam menghadapi arus globalisasi serta kearifan budaya lokal sebagai
basis ketahanan budaya untuk menjaga keberlanjutan dinamika dan berkembangan
zaman sekaligus untuk menyaring masuknya budaya-budaya asing yang kurang
sesuai dengan tatanan, tuntunan dan tontonan budaya lokal. Kurang berkembang
event seni tradisional yang bernuansa islami yang berbudaya Minang dan masih
rendahnya implementasi ABS-SBK.
4.1.2. Masalah Pendidikan
Masalah mendasar yang memerlukan penanganan segera tentang
pendidikan antara lain; Masih ada penduduk miskin Kota Padang yang belum
mampu membiayai pendidikan anaknya untuk menempuh pendidikan lanjutan ke
pendidikan menengah maupun perguruan tinggi. Hal ini disebabkan karena yang
diberikan beasiswa maupun bantuan pendidikan baru pada anak-anak yang
berprestasi, sementara yang belum berprestasi tidak mendapatkan bantuan. Dari
hasil observasi pengakuan masyarakat pinggiran, mereka tidak tahu dan tidak
mengerti bahwa sebenarnya anak-anak mereka bisa sekolah dengan dana
pemerintah. Tentunya RT dan RW serta perangkat kelurahan harus mempunyai
data tentang hal tersebut; Kurang terukur sekolah-sekolah dalam menjalankan
kegiatan keagamaan, pesentren, seni dan budaya untuk meningkatkan kualitas
lulusan. Seperti pesantren Ramadhan telah berjalan selama ini, tentu perlu
pembenahan kurikulum untuk mencapai tujuan dan sasaran serta target dicapai
kinerja.
Isu strategis tentang MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang akan
dilaksanakan tahun 2015 menjadi tantangan bagi masyarakat dan warga kota untuk
meningkatkan pengetahuan terutama bahasa asing. Isu strategis untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terampil dan kreatif serta inovatif
yang berdaya saing globalisasi.
Masalah pendidikan lainnya adalah prasarana dan sarana pendidikan yang
masih kurang memadai, sumber daya manusia yang berkaitan dengan input
pendidikan yang rendah dari penduduknya, dan tenaga pendidik yang belum
mampu berdaya saing. Angka capaian APS (Angka Partisipasi Sekolah) baik pada
level pendidikan dasar maupun menengah yang baru mulai meningkat. Peningkatan
tersebut dapat dilihat capain APK (Angka Pertisipasi Kasar) dan APM (Angka
Partisipasi Murni) yang perllu ditingkatkan. Bagaimana memperkecil Angka Putus
Sekolah dan meningkatkan Angka Melanjutkan antar Jenjang Pendidikan (SD, SLTP,
SLTA dan PT). Sasaran strategis wajib belajar 12 tahun, Perimbangan Sekolah
Negeri-Swasta, dimana sekolah negeri harus lebih banyak dari sekolah swasta untuk

69

menegaskan peran dan tanggung jawab pemerintah. Orientasi kepada mutu


(mengacu kepada standar yang dijaga dan ditingkatkan agar tidak berkurang
karena adanya penambahan kapasitas). Perimbangan SMASMK, pemerataan
distribusi, penentuan tahapan pencapaian target APK di tingkat nasional maupun
provinsi dan Kota Padang.
Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk menghasilkan SDM
yang beriman, kreatif dan berdaya saing global. Rasio guru dengan murid
berdasarkan data tahun 2012 sudah mencapat standar, akan tetapi penyebaran per
bidang studi yang diajarkan tidak merata. Melaksanakan Wajib belajar 12 tahun
dengan baik. Kompetensi tenaga pendidik mengoperasionalkan pemanfaatan IT
oleh guru masih rendah. Perbedaan pelayanan melalui pembentukan cluster
sekolah-sekolah menengah, sehingga membentuk persepsi orang tua mengenai
mutu pendidikan. Apalagi pergerakan anak bersekolah yang lintas wilayah, sehingga
beban pelayanan pendidikan tidak seimbang. Sekolah pinggiran kurang memadai
fasilitas sarana penunjang pendidikan seperti perpustakaan dan laboratorium.
4.1.3. Masalah Kesehatan
Permasalahan mendasar tentang kesehatan yang memerlukan penanganan
segera mencakup antara lain; kurang memadai fasilitas sarana dan prasarana
kesehatan dasar, tenaga kesehatan dan jaminan pembiayaan kesehatan. Pelayanan
di bidang kesehatan masih rendah, belum ada pelayanan yang benar-benar gratis
diberikan pada masyarakat baik di puskesmas maupun di RSUD bagi warga
penduduk miskin Kota Padang. Selanjutnya kesadaran masyarakat untuk persalinan
oleh tenaga medis kesehatan belum optimal yang menyebabkan target penurunan
jumlah Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan
belum tercapai. Tingginya pengguna narkoba, HVS/Aids dan sekarang Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) sudah berjalan walaupun belum maksimal. Belum ada
pelayanan yang benar-benar gratis diberikan puskesmas dan RSUD bagi warga Kota
Padang yang miskin, karena masih ditemui pelayanan kesehatan pada puskesmas
dan RSUD yang dibebankan kepada masyarakat. Belum optimalnya sinergitas
pelayanan kesehatan antara pemerintah dengan swasta dalam penyediaan sarana
dan prasarana kesehatan. Isu strategis bidang kesehatan berkaitan dengan derajat
kesehatan masyarakat, jangkauan dan biaya pelayanan kesehatan akan menjadi
harapan bagi masyarakat mencapai Padang Sehat.
4.1.4. Masalah Ekonomi
Masalah di kelompok ekonomi yang mendasar memerlukan penanganan
segera mencakup antara lain; Permasalahan tenaga kerja yaitu tingkat
pengangguran terbuka cukup tinggi akibat lapangan kerja yang sangat terbatas dan
keterbatasan keterampilan dan kecakapan serta lemahnya daya saing tenaga kerja.
Arah pembinaan masyarakat untuk pengembangan ekonomi kreatif, Koperasi dan
UKM kurang memadai bagi petani dan nelayan, masyarakat PKL boleh dikatakan

70

kurang mendapat pembinaan yang serius sampai mereka menjadi wirausahawan.


Dukungan infrastruktur, pemberian insentif dan kemudahan investasi belum efektif
untuk menarik investor, serta belum optimalnya kualitas kelembagaan yang
membidangi. Sektor informal pedagang kaki lima di Kota Padang kurang terkendali
sehingga membuat kota yang semrawut. Permasalahan pasar tradisional, PKL
terdesak oleh keberadaan pasar modern, karena semakin banyaknya ijin yang
diberikan kepada swasta untuk membangun hypermarket, supermarket dan toserba
yang mengakibatkan menurunnya daya saing pasar tradisional. Belum optimalnya
pengembangan sistem pembiayaan dengan kemitraan pemerintah dan swasta.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan arah pengembangan ekonomi
kreatif, UMKM, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat petani dan masyarakat
nelayan.
Masyarakat Padang terkenal mempunyai jiwa dan semangat wirausaha
(entrepreneurship) dan ulet. Kondisi tersebut ditandai dengan banyaknya anggota
masyarakat yang bergerak dan sukses dalam bidang perdagangan, industri dan jasa
walaupun umumnya masih dalam skala kecil dan menengah (UKM). Isu strategis
bisa dilakukan membina dan mencetak wirausahawan baru yang handal yang dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Semangat kewirausahaan ini merupakan
modal dasar yang sangat penting dan perlu terus dikembangkan untuk mendorong
kegiatan ekonomi Kota Padang sesuai dengan potensi yang dimiliki, disamping
untuk menekan tingkat pengangguran serta mencarikan solusi lapangan kerja baru
bagi warga kota.
4.1.5. Masalah Infrastruktur dan Tata Ruang
Masalah di kelompok infrastruktur dan tata ruang yang mendasar
memerlukan penanganan segera mencakup antara lain; kondisi drainase dan riol
kurang berfungsi, telah menimbulkan dampak negatif menyebabkan mudahnya
menjadi banjir Kota Padang. Apabila hujan turun, di beberapa titik wilayah telah
terjadi banjir. Hal ini disebabkan karena saluran air ditutupi sampah. Sampah masih
belum dapat tertangani secara optimal. Trotoar telah beralih fungsi untuk lokasi
berjualan bagi PKL. Masih ada ditemui wilayah kumuh (slum area), rumah tidak
layak huni serta lingkungan yang kurang sehat. Masih ada wilayah yang belum
diaspal dan jalan lingkungan yang masih jalan tanah.
Kota Padang belum punya terminal angkutan kota dan terminal bus yang
representatif untuk pelayanan publik serta penataan sistem transportasi kota masih
kurang baik. Tingkat kemacetan di beberapa titik, akibat pertumbuhan sepeda
motor dan mobil tidak sebanding dengan pertambahan jalan. Prasarana jalan yang
kurang mendukung pergerakan penduduk, karena kapasitas (jalan sempit) yang
semakin terbatas dan kondisi jalan yang kurang mendukung. Moda transportasi
massal Trans Padang telah berjalan, akan tetapi tidak mencukupi banyak dikeluhkan
warga kota. Sehingga perlu penambahan moda transportasi massal.

71

Pasca gempa, kawasan pasar raya belum terbangun optimal, maka perlu
segera dilakukan pembangunan Pasar Inpres, Fase, dan pembenahan PKL. PKL
yang berada di pasar raya sudah menjadi masalah besar, maka perlu segera ditata
dan dicarikan penempatan lokasinya yang tepat. Ruang terbuka hijau belum
memenuhi standarisasi; Rasio bangunan ber-IMB masih belum maksimal. Investor
kurang berminat melakukan investasi di Sumatera Barat terkait isu tanah ulayat.
Banyak lahan yang belum bersertifikat dan potensi menimbulkan permasalahan di
kemudian hari. Perencanaan pembangunan yang dilakukan telah mengacu kepada
RTRW, namun perlu pengawasan dan pengendalian
4.1.6. Masalah Rawan Bencana
Permasalahan dan sekaligus ancaman serius yang dialami oleh Kota Padang
adalah sangat rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah
longsor, dan banjir. Jalan evakuasi tsunami masih sempit dan belum tuntas.
Bencana alam ini sudah sering terjadi dan isu gempa mega trust yang diprediksi
para ahli membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Kota Padang.
Strategi kebijakan mengurangi resiko bencana, peningkatan efektivitas penanganan
darurat bencana, optimalisasi pemulihan dampak bencana terus dilakukan. Sasaran
dari strategi ini pada upaya-upaya khusus untuk bencana yang telah dipetakan demi
pengurangan dampak bencana secara terstruktur, terukur dan menyeluruh dalam
kewenangan pemerintah Kota Padang.
4.1.7. Masalah Perdagangan
Permasalahan dan tantangan yang dialami Kota Padang sebagai ibukota
Provinsi Sumatera Barat dalam bidang perdagangan adalah: a. Sarana dan
prasarana yang tidak memadai; b. Kualitas dan kuantitas persaingan pasar modern
dan retail, dan sebaginya. Jika dilihat sejarah Kota Padang tempo dulu sebagai
gerbang pintu masuk perdagangan Sumatera Bagian Tengah, hal itu disebabkan
berfungsinya pelabuhan Teluk Bayur dan Bandara Tabing serta hidupnya alat
transportasi kereta api. Saat ini faktor-faktor pendukung aktifitas perdagangan
tersebut tidak lagi berfungsi optimal. Akan tetapi peluang yang cukup tinggi untuk
mengembangkan kota Padang sebagai kota perdagangan telah diapungkan dalam
visi misi walikota terpilih. Hal ini dimungkinkan Kota Padang sebagai kota
perdagangan karena sudah banyak yang mendukung terutama infrastruktur dan
komoditi sebagai barometernya.
Masalah lain yang harus diwaspadai adalah pergeseran perdagangan sudah
bergerak ke Kota Bukittinggi, akan tetapi hal itu belum didukung dengan
infrastruktur yang memadai sehingga mengakibatkan kemacetan. Untuk mendukung
Padang sebagai kota perdagangan dengan melengkapi segala fasilitas yang
berkaitan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

72

4.1.8. Masalah Pariwisata


Sektor pariwisata yang ada di wilayah Kota Padang memiliki potensi yang
cukup baik berupa wisata alam, bahari, kuliner, wisata sejarah dan budaya. Masalah
kepariwisataan yang ada disebabkan oleh banyak faktor. belum dikelola secara
maksimal, baik wisata alam, wisata sejarah dan budaya maupun wisata bahari.
Bagaimana membuat sektor parawisata kota Padang menjadi objek yang
menyenangkan dan berkesan bagi pengunjung. Masalah sekarang pada objek-objek
wisata yang ada belum lengkap sarana dan prasana pendukungnya dan belum
terkelola dengan baik. Sarana dan parasarana tersebut menyangkut fasilitas
mushalla, kamar mandi, WC, tempat parkir dan fasilitas pendukung lainnya. Seperti
objek wisata pantai Muaro Padang belum terkelola dengan baik padahal merupakan
even yang bisa dijual kepada publik. Sektor Pariwisata tentang pengembangan
destinasi pariwisata dan peningkatan kuantitas kunjungan wisatawan, maka kualitas
dan kuantitas sarana prasarana pariwisata perlu dilengkapi.
4.1.9. Masalah Pemerintahan
Di bidang pemerintahan ada beberapa permasalahan mendasar yang
memerlukan penanganan segera mencakup antara lain; belum merata akses
layanan dan perlindungan hukum bagi semua masyarakat serta penegakan
supremasi hukum masih lemah. Kapasitas aparatur pemerintah belum optimal
berdasarkan tingkat kompetensi, kemampuan teknis dan mekanisme birokrasi dalam
manajemen pembangunan dan pengelolaan keuangan pemerintah Kota Padang.
Belum optimal kerjasama, kemitraan dan jejaring kerja antara masyarakat sipil,
DPRD, partai politik dan pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan daerah
serta dalam kapasitas penguatan kelembagaan, pengembangan, dan peningkatan
kualitas pelayanan. Disamping itu juga belum optimal kualitas dan kuantitas
jaringan kerjasama dengan daerah lain, swasta baik di dalam negeri maupun di luar
negeri.
Kelurahan dan kecamatan belum berperan optimal dalam pelayanan dan
pelaksanaan pembangunan skala lingkungan atau di tingkat masyarakat. Masih
rendahnya dana operasional kecamatan dan kelurahan, serta RW dan RT untuk
menjalankan aktivitasnya. Seharusnya ada jaminan dari pemerintah kota untuk
memberikan tunjangan daerah bagi pegawai dan karyawannya selama
kepemimpinan Walikota terpilih.
Urusan Pemerintahan Umum tentang pelayanan publik, optimalisasi PAD dan
Aset Daerah, rasio kemandirian daerah, penyehatan BUMD merupakan isu strategis
yang dapat meningkatkan penerimaan daeah.
Permasalahan ketenagakerjaan disebabkan karena pertambahan jumlah
angkatan kerja baru tidak diiringi dengan penciptaan lapangan pekerjaan. Akibatnya
lapangan pekerjaan yang terbatas (PNS) harus diperebutkan oleh warga Kota
Padang dengan warga daerah lain, dan rendahnya minat generasi muda untuk
menjadi entreperneurship.

73

4.2. ISU-ISU STRATEGIS


Isu strategis dari dinamika internasional, nasional dan regional yang
mempengaruhi Kota Padang. Untuk menghadapi MEA sebagai pasar tunggal dan
basis produksi internasional dengan elemen aliran arus bebas barang, arus bebas
jasa, arus bebas investasi, arus bebas tenaga kerja terdidik dan arus bebas aliran
modal. Maka masyarakat Kota Padang harus memperhitungkan dampak negatif arus
modal yang lebih bebas, meningkatkan daya saing SDM, karena daya saing SDM
Kota Padang masih rendah, jumlah tenaga kerja terampil relatif sedikit, sebagian
besar SDM berpendidikan rendah dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan formal.
Dalam rangka penyelarasan pelaksanaan pembangunan antar daerah dalam
Provinsi Sumatera Barat, maka perencanaan pembangunan Kota Padang meninjau
kebijakan pembangunan daerah sekitarnya melalui dokumen RPJMD masing-masing
Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Padang Pariaman dan kota
Pariaman.
Tabel 4.1
Hubungan Pembangunan Kota Padang dengan Daerah Tetangga
Kabupaten
Pessel
Pembangunan
Kawasan Mande
di Pessel akan
membawa
dampak pada
wilayah
sekitarnya.
Rest area batas
Pesisir SelatanPadang tempat
istirahat bagi
orang yang
berkendaraan
Berkembangnya
Kota Pariaman
membawa
pengaruh pada
Kota Padang

Belum
optimalnya
layanan
infrastruktur
kota
dan sinergitas
antar
wilayah

KETERKAITAN

Kabupaten Solok

KETERKAITAN

Kota Padang akan


menerima manfaat
dari pembangunan
objek wisata
kawasan Mande,
terutama dibidang
jasa hotel dan
sebagainya.

Lancarnya jalan Solok Kota Padang sebagai


Padang akan
tujuan bagi
membawa pengaruh wisatawan
pada Kota Padang
untuk tinggal di Kota
Padang.

Semakin maju Kota


Pariaman akan
mendukung
perkembangan Kota
Padang.

Kabupaten Padang
Pariaman akan
berkembang bagian
Bandara
Internasional
Minangkabau

Rendahnya layanan
infrastruktur
wilayah
sekitar akan
memberi
tekanan terhadap
layanan infrasruktur
di Kota Padang

Belum meratanya
ketersediaan dan
kualitas
sarana prasarana
transportasi, jaringan
irigasi, pendidikan,
energi,
dan kesehatan;

Bertambah
pertumbuhan
penerbangan ke BIM
akan membawa
pengaruh pada
pelayanan Kota
Padang.
Ketergantungan
antar
wilayah terhadap
sumberdaya yang
ada
menyebakan adanya
keharusan melakukan
kerjasama dalam
pengelolaan
sumberdaya tersebut.

74

Isu strategis dapat berasal dari permasalahan pembangunan maupun yang


berasal dari dunia international, kebijakan nasional maupun regional. Sesuai isu-isu
strategis yang telah dihasilkan dalam tahap perumusan dituangkan dalam
penyajian. Dalam penyajian isu strategis hal terpenting yang diperhatikan adalah isu
tersebut dapat memberikan manfaat dan berpengaruh dimasa datang terhadap
daerah Kota Padang.
Untuk menentukan isu-isu strategis yang patut diangkat dalam RPJMD 20142019 ditetapkan berdasarkan kriteria-kriteria berikut ini; (1) Memiliki pengaruh yang
besar dan signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional, propvinsi
dan daerah Kota Padang; (2) Merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah
Daerah; (3) Luasnya dampak yang ditimbulkannya terhadap daerah dan
masyarakat; (4) Memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap Pembangunan
daerah; (5) Kemungkinan atau kemudahannya untuk dikelola; (6) Prioritas janji
politik yang perlu diwujudkan oleh Walikota terpilih.
Isu-isu yang bersifat strategis yang dimiliki oleh Kota Padang dikelompokkan
antara lain:
4.2.1. Isu Strategis Sosial dan Budaya
Isu strategis tentang sosial budaya Kota Padang antara lain; isu yang
mencuat belakangan ini adalah kemiskinan, pengangguran, kekerasan seksual
terhadap anak, seks bebas semakin marak yang memerlukan upaya untuk
mengurangi tingkat kemiskinan, angka pengangguran, perlindungan anak,
meningkatkan pemahaman agama dan budaya dalam masyarakat sehingga dapat
memberikan arah dan bimbingan terhadap pelaksanaan proses pembangunan.
Aspek ini perlu diberikan tekanan dan perhatian yang lebih, guna dijadikan dasar
untuk menyusun strategi dan kebijakan pembangunan Kota Padang menuju Kota
Pendidikan yang baik dalam rangka mewujudkan masyarakat yang Religius dan
berbudaya.
Selain itu, perlu dibangun kelompok masyarakat peduli dalam memacu
pembangunan berdasarkan konsep partisipasi dan pemberdayaan sosial termasuk
mengatasi bahaya dan bencana seperti bencana alam dan bahaya sosial seperti
peredaran narkoba, perbuatan asusila, perjudian, mabuk, konflik sosial, aksi teror,
anak jalanan, pengemis serta orang gila berkeliaran dijalan, jambret atau sejenisnya
yang membuat masyarakat menjadi tidak aman.
4.2.2. Isu Strategis Pendidikan dan Kesehatan
Isu strategis tentang pendidikan dan kesehatan antara lain; menurunnya
karakter bangsa. Untuk pembangunan karakter (capacity building) bagi peserta
didik dimulai dari rumah tangga sampai ke jenjang pendidikan sekolah serta pada
masyarakat. Aspek ini perlu diberikan tekanan dan perhatian utama guna dijadikan
dasar untuk menyusun strategi dan kebijakan pembangunan daerah yang baik
dalam rangka mewujudkan Padang sebagai Kota Pendidikan. Kota Pendidikan yang

75

aman, tenang dan menyenangkan didukung dengan sarana dan prasarana yang
lengkap dan memadai tentang gedung, ruang kelas, labor, guru dan tenaga
kependidikan serta fasilitas lain seperti sekolah berasrama. Sekolah berasrama salah
satu jalan untuk proses membentuk peserta didik yang religius.
Jangkauan akses pelayanan dan mutu pendidikan, biaya penyelenggaraan
pendidikan, relevansi dan daya saing pendidikan menengah umum dan khusus serta
pendidikan karakter berbasis moral dan budi pekerti bagi peserta didik merupakan
isu strategis bidang pendidikan Kota Padang. Memberikan biaya pendidikan yang
gratis untuk pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK sederajat serta pemberian beasiswa
bagi semua pelajar/mahasiswa berprestasi dari keluarga miskin Kota Padang.
Kondisi ini tercermin dari perkembangan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) yang sudah membaik. Kualitas SDM yang baik akan dapat dijadikan sebagai
modal dasar untuk proses pembangunan yang berlandaskan pada IPTEK.
Peningkatan IPM dipicu oleh kualitas kesehatan semakin baik. Pemberian pelayanan
kesehatan didukung oleh fasilitas sarana dan prasarana kesehatan dasar, tenaga
kesehatan dan jaminan pembiayaan kesehatan. Pemberian fasilitas kesehatan gratis
di puskesmas maupun di RSUD bagi warga penduduk miskin Kota Padang perlu
diberikan. Selanjutnya kesadaran masyarakat untuk persalinan oleh tenaga medis
belum optimal, pada hal ini yang menyebabkan target penurunan jumlah Angka
Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan bisa tercapai. Isu
strategis tentang kesehatan berkaitan dengan derajat kesehatan masyarakat,
jangkauan dan biaya pelayanan kesehatan akan menjadi harapan bagi masyarakat
mencapai Padang sehat.
4.2.3. Isu strategis Perdagangan dan Jasa
Isu strategis masalah dalam perdagangan antara lain untuk menghadapi
MEA 2015 masyarakat kota Padang harus memperkuat pengetahun komunikasi
berbahasa asing minimal bahasa Inggris. Disamping itu untuk menghadapi MEA
tersebut memperkokoh meghadapi tantangan negatif yang akan mempengaruhi
budaya Minang. Selanjutnya persoalan pasar raya merupakan isu yang segera
diselesaikan, karena ini menjadi sentral aktivitas kegiatan ekonomi dan
Perdagangan Kota Padang. Pembangunan pasar raya dilakukan dalam waktu dua
tahun dan revitalisasi pasar-pasar pembantu di wilayah Kota Padang. Lahan parkir
di Pasar Raya semakin sempit diakibatkan sebagian besar lahan tersebut di
digunakan sebagai tempat Pedagang Kaki Lima.
Isu menciptakan wirausaha baru yang profesional berlatar belakang dari jiwa
dan semangat wirausaha (entrepreneurship) yang cukup tinggi dan ulet yang
dimiliki oleh masyarakat Minangkabau. Kondisi tersebut ditandai dengan banyaknya
anggota masyarakat yang bergerak dan sukses dalam bidang perdagangan, industri
dan jasa walaupun umumnya masih dalam skala kecil dan menengah (UKM).
Semangat kewirausahaan ini merupakan modal dasar yang sangat penting dan
perlu terus dikembangkan untuk mendorong kegiatan ekonomi daerah ke depan

76

pada berbagai sektor ekonomi sesuai dengan potensi yang dimiliki Kota Padang. Isu
strategis Kota Padang akan menciptakan wirausahawan baru yang siap dibina dan
dilatih.
Isu Strategis pengembangan sektor kepariwisataan, objek wisata Pantai Kota
Padang dengan Pantai Air Manih serta objek wisata lainnya menjadi wisata keluarga
dan konvensi yang layak dan ramah. Untuk itu harus didukung keramahan
(hospitality) ditandai dengan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Sehingga
perlu dikembangkan prasarana dan sarana pendukung. Merevitalisasi objek wisata
dan mengorganisasikan komunitas lokal secara melembaga agar tercapai dukungan
yang maksimal terhadap kunjungan wisatawan. Membuat peta jalan untuk
pengembangan kepariwisataan dan sektor pendukungnya termasuk partisipasi
kelembagaan lokal dalam mengelola objek dalam bentuk Badan Usaha Kampung
atau Nagari.
4.2.4. Isu Strategis Rawan Bencana
Isu strategis Padang rawan bencana agar menyediakan informasi wilayah
rawan bencana, meningkatkan sarana dan prasarana penanggulangan bencana,
meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Upaya lain
yang penting dilakukan adalah penyelenggaraan pemulihan sosial, ekonomi, budaya
dan lingkungan serta normalisasi kehidupan korban bencana. Isu tsunami tersebar
di sepanjang wilayah pantai terutama jalur sesar aktif patahan semangka. Isu
strategis dalam hal ini adalah menyediakan informasi wilayah rawan bencana,
meningkatkan sarana dan prasarana penanggulangan bencana, meningkatkan
kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana banjir, longsor, gempa
dan tsunami.
4.2.5. Isu Strategis Infrastruktur dan Prasarana Daerah
Semenjak gempa tahun 2009 terjadi pergeseran lokasi tempat tinggal
penduduk dari bibir pantai ke arah ketinggian, dalam rangka mengantisipasi isu
mega trust yang akan menyebabkan tsunami. Kota Padang masih banyak penduduk
miskin dan rumah tidak layak huni merupakan isu strategis untuk peningkatan
kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu peningkatan kualitas
rumah layak huni dengan merehab 1.000 unit rumah tidak layak huni pertahun
merupakan isu strategis dalam proses pembangunan daerah dalam penanggulangan
kemiskinan Kota Padang. Isu strategis peningkatan pembangunan prasarana dan
sarana untuk mendukung fungsi kota. Pembangunan dranaise, riol, pembangunan
kota taman (Padang Green City) yang menjadikan kota semakin ramah lingkungan.
Ruang terbuka hijau akan memuat kota semakin indah. Pembangunan terminal di
bagian utara di Anak Air Kecamatan Koto Tangah dan dibantu dengan 2 (dua)
terminal pembantu di lokasi arah Timur di Kecamatan Lubuk Kilangan dan arah
Teluk Bayur di Kota Padang. Isu kebijakan ini harus dianalisis dengan kajian yang
tepat tujuan dan sasaran agar tidak berulang peristiwa terminal lama.

77

Pengembangan prasarana dan sarana perhubungan, Perluasan pelabuhan Teluk


Bayur, pembangunan sekolah berasrama (boarding school), merupakan isu strategis
yang cukup penting bagi peningkatan peranan Kota Padang sebagi Kota Pendidikan,
Perdagangan dan Parawisata.
Untuk mengantisipasi peningkatan volume lalu lintas yang sangat tinggi
dengan semakin berkembangnya pembangunan di Provinsi Riau dan telah
berfungsinya pembangunan Fly Over Kelok Sembilan, maka pemerintah Kota
Padang harus menyambut rencana Provinsi Sumatera Barat untuk membangun
jalan dua jalur dari Padang sampai ke Kota Payakumbuh. Rencana perbaikan dan
pelebaran jalan tersebut merupakan isu strategis yang cukup penting dan dapat
menjadikan hubungan ekonomi dan sosial antara Kota Padang menuju Riau dan
sebaliknya akan semakin lancar dan hal ini akan membawa pengaruh besar
terhadap pembangunan daerah Kota Padang. Selanjutnya pembangunan kabupaten
dan kota tentangga seperti Kawasan Mande di Kabupaten Pesisir Selatan, akan
membawa arus pertambahan penduduk Kota Padang serta berpeluang untuk
membangun sektor jasa dan perdagangan serta pariwisata kota Padang.
4.2.6. Isu Strategis Reformasi Birokrasi
Isu strategis pada reformasi birokrasi yaitu memantapkan tata kelola
pemerintahan yang baik melalui reformasi birokrasi termasuk menatalaksanakan
fungsi pelayanan kecamatan dan kelurahan serta pengembangan pelayanan umum
berbasis jaringan internet. Karena itu, upaya perbaikan tata pemerintahan (Good
Governance) merupakan isu strategis yang sangat penting untuk mendorong proses
pembangunan daerah di Kota Padang. Disamping itu masyarakat Kota Padang yang
menganut budaya Minangkabau memiliki tanah ulayat cukup luas yang dimiliki oleh
kaum. Bagaimana solusi untuk menghadapi tanah ulayat yang dimiliki tidak
mempunyai kepastian hukum, karena tidak mempunyai bukti kepemilikan serta
batas-batas tanah yang jelas. Agar kondisi ini dapat melibatkan pemanfaatan tanah
ulayat untuk kegiatan berusaha dan agar bisa menarik investor.
Memfasilitasi penanaman modal oleh pemerintah dan swasta dalam berbagai
sektor yang mendorong peningkatan peluang usaha perdagangan dan kesempatan
kerja termasuk mewujudkan Padang sebagai pusat pariwisata, pendidikan,
kesehatan dan konvensi tingkat regional dan nasional. Pengembangan sektor
pendidikan termasuk pendidikan bercirikan keagamaan khususnya pendidikan tinggi
dan riset untuk menegaskan kekuatan daerah Sumatera Barat sebagai industri otak
(brain industri). Pemerintah daerah perlu menyusun konsep pendidikan yang
memperkuat tiga pilar pendidikan yaitu kesadaran dan kecerdasan serta kepedulian
dalam melaksanakan kurikulum pendidikan nasional.
Isu-isu tersebut di atas yang dijadikan konsep membangun semangat
kebersamaan yang melibatkan para pemangku kepentingan. Isu strategis tersebut
dapat dikembangkan konsep pembangunan kota Padang yang bertumpu kepada
tiga pilar yaitu Sejahtera, Religius dan Berbudaya. Sejahtera merupakan tujuan

78

yang akan dicapai baik secara pribadi dan kelompok maupun keseluruhan sehingga
dirasakan kemanfaatan dari kebersamaan. Religius sebagai sesuatu yang niscaya
sesuai dengan nilai dasar ketuhanan dalam Pancasila dimana setiap warga negara
harus melaksanakan ajaran agama secara konsisten dan konsekuen. Berbudaya
adalah cerminan dari pola interaksi dan tatanan sosial kehidupan masyarakat adat
terutama Minang yang berdasarkan Adat Basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah
(ABS-SBK).

79

BAB V
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

5.1. ARAH RPJP KOTA PADANG


Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional, dalam rangka memberikan arah yang jelas
tentang pembangunan jangka panjang daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) Kota Padang sudah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Kota Padang Tahun 2004-2020 yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah
Kota Padang Nomor 18 Tahun 2004. RPJP Daerah Kota Padang tersebut berisikan
penjabaran secara lebih rinci dari tujuan dan cita-cita dibentuknya Kota Padang
sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1956.
RPJP Daerah Kota Padang Tahun 2004-2020 bertujuan untuk memberikan
arah dan pentahapan pembangunan jangka panjang daerah beberapa tahun ke
depan. Dengan demikian diharapkan seluruh upaya yang dilakukan oleh masingmasing pelaku pembangunan, akan bersifat sinergis, koordinatif dan saling
melengkapi satu sama lainnya di dalam mendorong proses pembangunan daerah
Sumatera Barat secara keseluruhan.
5.1.1. Visi Pembangunan Jangka Panjang
Visi pada dasarnya adalah kondisi masa depan yang diharapkan dapat
dicapai dalam kurun waktu tertentu. Memperhatikan kondisi umum dan
permasalahan yang dihadapi Kota Padang, prediksi 20 tahun mendatang dan hasil
penjaringan aspirasi masyarakat yang dilakukan sebelumnya, dapat ditetapkan visi
pembangunan jangka panjang Kota Padang pada Tahun 2020 mendatang adalah:
Terwujudnya masyarakat madani yang berbasis industri,
perdagangan dan jasa yang unggul dan berdaya saing tinggi
dalam kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur
Penjelasan lebih rinci dari masing-masing unsur penting dalam visi tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Masyarakat madani (civil society) pada dasarnya adalah masyarakat yang
beradab, demokratis, tertib dan teratur sejahtera dan berkeadilan
sebagaimana yang terdapat di Madinah pada masa Nabi Muhammad. Dalam
hal ini masyarakat madani mempunyai 3 unsur utama yaitu patuh terhadap
ajaran agama, patuh terhadap aturan hukum dan sejahtera baik dari segi
pendapatan, derajat kesehatan dan tingkat pendidikan masyarakat;
b. Berbasis industri, perdagangan dan jasa merupakan tekanan utama karena
Padang adalah kota dimana kegiatan pertanian semakin lama akan semakin

80

berkurang karena terjadinya alih fungsi lahan. Karena itu kegiatan ekonomi
yang akan berkembang terus di Kota Padang dimasa mendatang tentunya
adalah sektor-sektor industri perdagangan dan jasa (termasuk kegiatan
pariwisata) yang selanjutnya dijadikan sebagai arah pengembangan kegiatan
ekonomi kota;
c. Unggul dan berdaya saing tinggi merupakan keharusan dalam pengembangan
kegiatan ekonomi mengingat dewasa ini Indonesia sudah berada dalam era
globalisasi dengan diberlakukannya kegiatan perdagangan bebas dalam
kerangka Asean Free Trade Area (AFTA) yang dimulai tahun 2010 dan akan
dilanjutkan pada tahun 2015 menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Dalam situasi tersebut tingkat persaingan akan semakin tajam sehingga
kegiatan ekonomi yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik adalah
kegiatan ekonomi yang unggul dan berdaya saing tinggi;
d. Kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur sangat di dambakan dalam
kehidupan daerah perkotaan mengingat tingkat kepadatan penduduk cukup
tinggi. Termasuk dalam hal ini adalah kualitas lingkungan hidup yang baik
yang meliputi aspek tata-ruang, kebersihan, pencemaran udara dan air yang
minim, hutan lindung yang terjaga dan kondisi lingkungan yang aman
terhadap kemungkinan bencana alam.
5.1.2. Misi Pembangunan Jangka Panjang
Misi pada dasarnya merupakan upaya umum yang ditetapkan oleh
masyarakat untuk dapat mewujudkan visi pembangunan daerah sebagaimana
dijelaskan terdahulu. Berdasarkan pengertian ini, maka misi pembangunan daerah
dalam RPJP Kota Padang sampai dengan Tahun 2020 ditetapkan sebagai berikut:
1. Meningkatkan pemahaman terhadap adat dan agama dan pengamalan nilainilainya dalam kehidupan bermasyarakat kearah komunitas kota yang peduli;
2. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pembangunan sektor
pemukiman, pendidikan dan kesehatan kearah pemberdayaan masyarakat;
3. Meningkatkan produktivitas sektor-sektor perekonomian melalui formalisasi
usaha dan profesionalisme kearah pengelolaan usaha yang berdaya saing;
4. Membangun jejaring usaha melalui pengembangan sistem informasi dan
komunikasi untuk peningkatan akses dan interaksi kearah persaingan global;
5. Menata ruang dan meningkatkan prasarana dan sarana melalui pendekatan
pembangunan berbasis kawasan kearah keseimbangan pembangunan;
6. Membangun kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur melalui penegakan
supremasi hukum kearah aplikasi teknologi dengan sistem kontrol lingkungan;
7. Meningkatkan kapasitas aparatur dan kewibawaan pemerintah melalui
pembinaan pendidikan dan pelatihan kearah keandalan dalam pelayanan;
8. Meningkatkan kapasitas wakil-wakil rakyat melalui berbagai forum sebagai
pembentuk wacana pembangunan kearah penguatan peranserta publik;

81

9. Meningkatkan pengendalian pemanfaatan sumber daya alam kearah aplikasi


konsep pembangunan terpadu, berkeseimbangan dan berkelanjutan.

5.2. VISI DAN MISI JANGKA MENENGAH PROVINSI SUMATERA BARAT


Visi jangka menengah daerah pada dasarnya merupakan kondisi objektif
yang diinginkan dapat dicapai oleh masyarakat Provinsi Sumatera Barat pada 5
(lima) tahun mendatang. Kondisi yang diinginkan tersebut ditetapkan dengan
mengacu pada visi, misi jangka panjang daerah sebagaimana tercantum dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Sumatera Barat 2005-2025 yang
telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 yang lalu.
Disamping itu, visi tersebut juga ditetapkan dengan memperhatikan keadaan umum
daerah dewasa ini, prediksi untuk 5 tahun mendatang dan keinginan, aspirasi serta
cita-cita yang berkembang dalam masyarakat secara keseluruhan. Dengan
demikian, visi ini sebenarnya adalah merupakan kondisi realistis yang diharapkan
akan dapat dicapai Sumatera Barat.
Visi jangka menengah daerah dari kepala daerah terpilih sesuai dengan hasil
pemungutan suara dalam Pemilukada Provinsi Sumatera Barat yang dilaksanan
pada 30 Juni tahun 2010 adalah sebagai berikut:
Terwujudnya Masyarakat Sumatera Barat Madani yang Adil,
Sejahtera dan Bermartabat
Masyarakat Madani yang dimaksudkan disini adalah suatu masyarakat
berperadaban tinggi dan maju yang berbasis pada nilai-nilai, norma hukum, moral
yang ditopang oleh keimanan. Masyarakat madani menghormati pluralistis, bersikap
terbuka dan demokratis serta selalu bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Dengan demikian, masyarakat madani tersebut pada dasarnya adalah masyarakat
yang agamais yang ditandai oleh adanya keseimbangan antara kehidupan dunia dan
akhirat, jasmani dan rohani, lahir dan batin serta material dan sipiritual
Adil yang dimaksudkan disini adalah suatu kondisi masyarakat yang dapat
menjaga kebutuhan, kepentingan dan hak seluruh anggota masyarakat sesuai
dengan azas kepatutan dan kewajaran. Karena itu dalam suatu masyarakat yang
adil akan terdapat tingkat kesejahteraan yang relatif merata, mempunyai
kesempatan berusaha yang sama antara golongan pengusaha, mempunyai fasilitas
pelayanan sosial yang cukup merata dan berkualitas baik, pemerintahan sudah
berjalan secara demokratis, taat dan sadar hukum, terdapatnya kesamaan peranan
pria dan wanita (kesetaraan gender), serta adanya jaminan sosial yang cukup untuk
orang cacat dan penduduk usia lanjut.
Sejahtera dalam hal ini dimaksudkan adalah suatu kondisi masyarakat yang
sudah cukup makmur yang ditandai oleh pendapatan masyarakat yang sudah dapat
memenuhi kebutuhan yang diperlukan, tingkat pengangguran dan kemiskinan
sudah sangat rendah, pendidikan yang sudah cukup tinggi dan berbadan sehat dan
kuat. Disamping itu, pada masyarakat ini prasarana dan sarana pembangunan

82

sudah mencukupi, lingkungan pemukiman telah tertata dengan baik serta


terdapatnya kualitas lingkungan hidup yang baik, hijau, lestari dengan pengelolaan
sumber daya alam berkelanjutan.
Bermartabat dalam hal ini dimaksudkan sebagai suatu kondisi masyarakat
dimana hak azasi manusia sudah terjamin dengan baik, bebas dari tekanan dan rasa
takut dan mendapat perlindungan hukum yang cukup dari negara. Dengan demikian
masyarakat yang bermartabat adalah suatu masyarakat yang taat azas, dihormati,
mempunyai harga diri dan kedudukan yang sama dalam pergaulan masyarakat baik
nasional maupun internasional.
Misi pada dasarnya merupakan upaya umum untuk dapat mewujudkan visi
pembangunan sebagaimana dijelaskan terdahulu. Berdasarkan pengertian ini, maka
misi pembangunan jangka menengah daerah ini ditetapkan sejalan dengan RPJP
Provinsi Sumatera Barat sebagai berikut:
1. Mewujudkan tata kehidupan yang harmonis, agamais, beradat, dan berbudaya
berdasarkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah;
2. Mewujudkan tata-pemerintahan yang baik, bersih dan profesional;
3. Mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman, dan
berkualitas tinggi;
4. Mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif, berbasis
kerakyatan, berdayasaing regional dan global;
5. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Misi untuk mewujudkan tata kehidupan yang harmonis, agamais, beradat,
dan berbudaya berdasarkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi
Kitabullah adalah landasan utama kehidupan masyarakat Minangkabau, yang
dijadikan sebagai persyaratan utama untuk dapat mewujudkan masyarakat yang
agamais dan berbudaya. Landasan filosofis ini sudah dimiliki sejak lama, sehingga
kedepan perlu terus dipelihara dan diterapkan dalam tata kehidupan masyarakat.
Ciri-ciri tata kehidupan yang demikian antara lain adalah: taat beragama, berakhlak
mulia, jujur, peduli sesama manusia, menerapkan tata kehidupan beragama dan
berbudaya yang baik, rukun dengan agama lain, serta peduli terhadap masa depan
dan keselamatan masyarakat dan bumi ciptaan Tuhan.
Misi untuk mewujudkan tata-pemerintahan yang baik, bersih dan profesional
merupakan persyaratan yang tidak kalah pentingnya untuk dapat mendorong proses
pembangunan daerah secara cepat dan merata. Hal ini sesuai dengan harapan
seluruh masyarakat. Dalam kondisi demikian, tata pemerintahan berjalan secara
demokratis, taat hukum, transparan, menerapkan sistem perencanaan,
penganggaran dan pengawasan secara terpadu yang berlandaskan pada partisipasi
masyarakat serta bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Dengan cara
demikian diharapkan akan dapat diwujudkan pola pemerintahan daerah yang
efektif, efisien, bersih dan berwibawa serta didukung oleh partisipasi aktif
masyarakat secara keseluruhan.

83

Misi untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman


dan berkualitas tinggi merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mewujudkan
masyarakat yang maju dan sejahtera. Sumberdaya manusia yang berkualitas
tersebut akan dapat diwujudkan melalui tiga pilar utama yaitu: pendidikan yang
bermutu tinggi disemua strata, pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Seni (IPTEKS) yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan derajat kesehatan
yang tinggi dan merata keseluruh pelosok daerah dan lapisan masyarakat.
Termasuk dalam kualitas sumberdaya manusia ini adalah adanya disiplin dan etos
kerja yang baik sehingga tingkat efisiensi dan produktivitas tenaga kerja menjadi
cukup tinggi serta terdapatnya kesetaraan gender.
Misi untuk mewujudkan ekonomi masyarakat yang tangguh, produktif,
berbasis kerakyatan, berdayasaing regional dan global merupakan unsur penting
untuk dapat mendorong kemajuan ekonomi dan kemakmuran masyarakat, terutama
dalam era globalisasi dewasa ini. Kondisi tersebut diwujudkan melalui
pengembangan ekonomi agribisnis dan agroindustri serta industri jasa. Usaha
ekonomi yang demikian akan dapat diwujudkan dengan penciptaan persaingan yang
sehat dalam dunia usaha, mencegah timbulnya monopoli dan monopsoni serta
ketidakadilan dalam berusaha, mengembangkan kewirausahaan daerah,
menyediakan prasarana dan sarana pembangunan yang berkualitas secara merata
keseluruh pelosok daerah dan mewujudkan kepastian hukum dan iklim investasi
yang kondusif bagi para investor.
Misi untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan juga tidak kalah pentingnya untuk dapat mewujudkan masyarakat yang
sejahtera dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Kualitas lingkungan hidup yang
baik dan menyenangkan akan dapat diwujudkan melalui pencegahan polusi udara,
pengotoran air, mengupayakan lingkungan yang bersih dan segar, serta
menerapkan rencana tata-ruang secara konsekuen. Termasuk dalam hal ini adalah
pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan yang dapat diupayakan dengan
memelihara kawasan hutan lindung, mencegah eksploitasi sumberdaya alam secara
berlebihan, memelihara cadangan air, memelihara biota laut dan meningkatkan
konservasi alam serta reboisasi hutan secara teratur dan terus menerus.

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG


Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, visi dan
misi pembangunan jangka menengah adalah visi dan misi kepala daerah yang
terpilih dalam Pemilhan Umum Kepala Daerah (Pilkada). Visi dan misi ini dijadikan
dasar utama penyusunan kebijakan umum pembangunan daerah dalam RPJMD ini
karena telah disetujui oleh mayoritas masyarakat Kota Padang yang dibuktikan oleh
hasil pemungutan suara dalam pemilukada tahun 2014 yang lalu. Hal ini dilakukan
sesuai dengan prinsip pembangunan dalam era demokratisasi dan otonomi yaitu
seluruh kebijakan pembangunan daerah harus sesuai dengan keinginan dan aspirasi
masyarakat daerah secara keseluruhan.

84

Visi Walikota dan Wakil Walikota Padang terpilih dan telah dilantik pada
tanggal 13 Mei 2014 adalah sebagai berikut:
Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan,
Perdagangan dan Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan
Berbudaya
Dari visi tersebut terlihat bahwa terdapat 6 hal pokok yang menjadi
landasan, fokus dan sasaran utama pembangunan yang diharapkan dapat dicapai
dalam periode 5 tahun mendatang yaitu:
1. Pendidikan, baik untuk tingkat dasar, menengah maupun tinggi merupakan
landasan utama untuk mendorong proses pembangunan kota. Alasannya
sangat jelas karena melalui pendidikan akan dapat diwujudkan kualitas
sumberdaya manusia yang baik sebagai modal dasar untuk mendorong proses
pembangunan kota. Disamping itu, melalui pendidikan akan dapat pula
ditingkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat memahami dan
memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat penting
artinya untuk dapat memanfaatkan dan memelihara potensi sumberdaya alam
yang tersedia sehingga kegiatan produksi dan kualitas lingkungan hidup dapat
ditingkatkan;
2. Perdagangan, baik untuk produksi pertanian dan usaha kecil dan menengah
(UKM) yang diproduksi dalam provinsi Sumatera Barat dan daerah tetangga
yang berdekatan menjadi kegiatan ekonomi Kota yang dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga kota. Jiwa wirausaha
masyarakat kota Padang yang relatif lebih baik merupakan faktor pendorong
utama untuk mendorong kegiatan perdagangan tersebut;
3. Pariwisata, khususnya wisata bahari dengan memanfaatkan Pantai Padang
yang indah dan bersih serta pulau-pulau yang berdekatan, merupakan potensi
kota Padang sangat penting disamping perdagangan. Karakteristik kegiatan
pariwisata yang mempunyai keterkaitan erat dengan sektor lain, baik
pertanian, industri, perdagangan dan jasa akan memungkinkan
pengembangan sektor pariwisata secara terpadu dengan sektor-sektor lainnya
sehingga proses pertumbuhan ekonomi kota menjadi semakin cepat dan
efisien;
4. Aspek agama (religius), baik Islam dan agama lainnya yang dianut warga Kota
Padang sangat penting artinya untuk dapat mengarahkan dan membimbing
tingkah laku masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat yang patuh
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral tinggi dan sangat
peduli terhadap kepentingan umum masyarakat;
5. Tata kehidupan masyarakatnya di dasarkan pada budaya lokal, khususnya
Budaya Minangkabau dalam rangka mewujudkan masyarakat yang rukun dan
damai serta saling menghormati satu sama lainnya sesuai dengan warisan
budaya tradisional masyarakat setempat;

85

5.4. MISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG


Misi pada dasarnya adalah merupakan upaya umum yang akan dilakukan
untuk dapat mewujudlan visi yang telah ditetapkan. Misi ini selanjutnya akan
dijadikan sebagai dasar perumusan strategi, kebijakan dan program pembangunan
daerah yang akan dilakukan selama periode perencanaan,
Untuk mewujudkan visi Kota Padang pada sub 5.3, maka misi atau upaya
umum yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk menghasilkan sumberdaya
manusia yang beriman, kreatif dan berdaya saing;
2. Menjadikan Kota Padang sebagai pusat perdagangan wilayah Barat Sumatera;
3. Menjadikan Kota Padang sebagai daerah tujuan wisata yang nyaman dan
berkesan;
4. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi
kerakyatan;
5. Menciptakan Kota Padang yang aman, bersih, tertib, bersahabat dan
menghargai kearifan lokal;
6. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan melayani.

5.5. TUJUAN UMUM PEMBANGUNAN KOTA PADANG


Berdasarkan visi dan misi jangka menengah sebagaimana dijabarkan di atas,
maka tujuan pembangunan Kota Padang dalam periode 2014-2019 adalah sebagai
berikut:
1. Terwujudnya Kota Padang sebagai sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan
Pariwisata untuk Provinsi Sumatera Barat khususnya dan Wilayah Sumatera
Bagian Tengah umumnya;
2. Tercapainya tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, profesional dan
melayani melalui penerapan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good
governance)
3. Terwujudnya masyarakat kota yang sejahtera, religius dan berbudaya;
4. Terjaganya kualitas lingkungan hidup melalui penanggulangan resiko bencana
dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik.

5.6. SASARAN UMUM PEMBANGUNAN KOTA PADANG


Memperhatikan visi dan misi sebagaimana dijelaskan diatas, dan mengingat
fungsi Kota Padang dalam RTRW Provinsi Sumatera Barat adalah sebagai Pusat
Kegiatan Nasional (PKN), maka sasaran umum pembangunan Kota Padang secara
lebih kongkrit mencakup 4 hal pokok yang masing-masingnya saling berkaitan yaitu
sebagai berikut:
1. Terwujudnya Kota Padang yang berfungsi sebagai Pusat Pelayanan Publik
(Service Center) dengan kegiatan utama meliputi pendidikan dan kesehatan

86

untuk wilayah Sumatera Bagian Tengah serta pusat pemerintahan untuk


Provinsi Sumatera Barat.
2. Terciptanya Kota Padang yang juga berfungsi sebagai Pusat Pertumbuhan
(Growth Pole) dengan kegiatan utama ditekankan pada bidang perdagangan,
jasa dan pariwisata untuk wilayah Sumatera Bagian Tengah.
3. Terlaksananya Kota Padang sebagai Kota layak huni yang mempunyai
prasarana dan sarana yang cukup dan berkualitas baik serta lingkungan hidup
yang menyenangkan dan bebas dari kemungkinan bencana alam.
4. Terciptanya masyarakat yang sejahtera, religius dan berbudaya berdasarkan
pada falsafah Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Adapun Agenda pembangunan Kota Padang pada Tahun 2014 -2019, adalah:
1. Peningkatan pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang
beriman, kreatif dan berdaya saing
2. Pengembangan Kota Padang sebagai pusat Perdagangan
3. Pengembangan Kota Padang sebagai Kota Wisata dan berdaya saing
5. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan
6. Peningkatan keamanan dan kebersihan kota
7. Peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan Kota Padang
Pembangunan Kota Padang pada Tahun 2014-2019 juga diarahkan pada 10
Program Prioritas Pembangunan Kota Padang, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Percepatan pembangunan sarana perdagangan kota dan sentra ekonomi


Peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan
Peningkatan infrastruktur perkotaan dan transportasi kota
Pengembangan industri pariwisata dan kelautan serta pemberdayaan
masyarakat pesisir dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang
berdaya saing
5. Penataan dan Peningkatan pembangunan kawasan perumahan pemukiman
perkotaan
6. Peningkatan dan pemerataan akses dan kualitas pelayanan kesehatan
masyarakat
7. Pembangunan Ekonomi berbasis masyarakat dan mendorong tumbuhnya
investasi daerah dalam rangka Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
penurunan tingkat kemiskinan
8. Penataan Lingkungan Perkotaan yang hijau, berkelanjutan dan berbasis
mitigasi bencana
9. Peningkatan Penataan birokrasi dan tata kelola penyelenggaraan
Pemerintahan yang baik dan bersih untuk peningkatan pelayanan publik.
10. Pengamalan Agama dalam kehidupan masyarakat yang berbudaya

87

Tabel 5.1
Hubungan Hirarkis antara Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
Visi: Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan
Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan Berbudaya
Misi
Misi 1:
Mewujudkan
Pendidikan Yang
Berkualitas Untuk
Menghasilkan
Sumberdaya
Manusia Yang
Beriman, Kreatif
Dan Berdaya
Saing;

MISI 2:
Menjadikan Kota
Padang Sebagai
Pusat Perdagangan
Wilayah Barat
Sumatera

Tujuan
1. Mewujudkan kualitas

sumberdaya manusia
yang beriman, kreatif dan
berdaya saing tinggi

1. Mewujudkan Kota Padang

sebagai pusat kegiatan


perdagangan untuk
wilayah Pantai Barat
Sumatera

2. Mewujudkan Kota Padang

sebagai Pusat
Pertumbuhan ekonomi

MISI 3:
Menjadikan Kota
Padang sebagai
daerah tujuan
wisata yang
nyaman dan
berkesan

MISI 4:
Meningkatkan
Kesejahteraan
Masyarakat Dan
Pengembangan
Ekonomi
Kerakyatan

Sasaran
1. Terwujudnya peningkatan kualitas

pendidikan

2. Tercapainya peningkatan

pemerataan pendidikan dan


mendorong tumbuhnya sekolah
kejuruan (vokasional
3. Terjaganya kualitas moral dan
akhlak pendidik dan peserta didik
dari pengaruh lingkungan yang
negatif;
4. Terciptanya peningkatan kesiapan
SDM dalam menghadapi MEA
1. Terciptanya peningkatan volume

transaksi perdagangan barang dan


jasa
2. Terciptanya peningkatan kontribusi
sektor perdagangan dalam
perekonomian Kota Padang.
1. Terciptanya peningkatan kegiatan
industri berbasis sumberdaya lokal
2. Terciptanya peningkatan
penerapan Iptek dan Inovasi

1. Mewujudkan Kota Padang

1. Tercapainya peningkatan rata-rata

2. Mewujudkan kota
Padang sebagai kota
tujuan wisata budaya
yang religius

1. Terpelihara dan lestarinya nilai


budaya, religius dan tradisi lokal
yang berada di kota Padang

1. Meningkatnya
kesejahteraan
masyarakat

1. Tercapainya peningkatan kualitas


ekonomi masyarakat
2. Berkurangnya tingkat kemiskinan

Sebagai daerah Tujuan


Wisata Yang Nyaman dan
Berkesan

lama tinggal wisata di Kota


Padang;
2. Tercapainya peningkatan jumlah
kunjungan wisata nusantara dan
mancanegara
3. Tercapainya kondisi wisata
nyaman dan berkesan

3. Tercapainya peningkatan kualitas


kesehatan masyarakat
2. Mewujudkan ekonomi

kerakyatan yang tangguh

1. Tercapainya peningkatan
penyediaan lapangan kerja dan
usaha

88

Visi: Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan


Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan Berbudaya
Misi

Tujuan

Sasaran
2. Tercapainya peningkatan
kekuatan ekonomi kerakyatan

Misi 5:
Menciptakan Kota
Padang yang
Aman, Bersih,
Tertib, Bersahabat
dan Menghargai
Kearifan Lokal

1. Mewujudkan Kota Padang

yang aman dan tanggap


bencana

1. Tersedianya Informasi Tentang

Daerah Rawan Bencana

2. Tercapainya peningkatan sarana

prasana penanggulangan bencana

3. Tercapainya peningkatan

kesiapsiagaan warga kota


mengantisipasi penanggulangan
bencana

2. Mewujudkan lingkungan
hidup kota yang
berkualitas

1. Tercapainya peningkatan kualitas

lingkungan hidup

2. Tercapainya peningkatan

konservasi, rehabilitasi, dan


pemulihan ekosistem

3. Tercapainya penurunan tingkat


pencemaran udara dan air
3. Mewujudkan Infrastruktur

yang ramah dan aman

1 Terwujudnya Tatakelola Sumber


Daya Air dan Drainase Perkotaan
yang berkualitas
2. Tersedianya infrastruktur jalan
raya yang aman
3. Tersedianya sarana dan prasarana

pemukiman yang berkualitas

4. Mewujudnya Kota Padang

yang bersih dan indah

1. Terciptanya peningkatan system


pengelolaan persampahan
2. Terciptanya peningkatan kualitas
dan kuantitas Ruang Terbuka
Hijau, Hutan Kota, Taman Kota
dan TPU.

5. Mewujudkan transportasi

perkotaan yang lancar,


aman, nyaman dan
murah.

1. Tersedianya pelayanan jasa


angkutan kota yang cukup dan
lancar ke seluruh wilayah kota.
2. Terciptanya peningkatan
keamanan dan keselamatan lalu
lintas.

6. Mewujudkan penataan
ruang, bangunan dan
perumahan yang serasi,
selaras dan seimbang

1. Terlaksananya penataan
bangunan dan perumahan sesuai
dengan Rencana Tata Ruang Kota

7. Mewujudkan penyediaan
lahan untuk kebutuhan
pembangunan kota yang
berkeadilan

1. Tersedianya lahan untuk


kebutuhan pembangunan Kota
yang sesuai peruntukannya.

89

Visi: Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan


Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan Berbudaya
Misi
Misi 6:
Mewujudkan Tata
Kelola
Pemerintahan Yang
Baik, Bersih Dan
Melayani

Tujuan
1. Mewujudkan Tata Kelola
Pemerintahan yang baik

Sasaran
1. Tercapainya peningkatan
Perencanaan Pembangunan
daerah dan Pengelolaan Data
2. Tercapainya peningkatan
Akuntabilitas Kinerja Birokrasi

2. Mewujudkan Tata Kelola


Pemerintahan yang
bersih

1. Tercapainya pengurangan tindak


Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
(KKN) dilingkungan birokrasi

3. Mewujudkan Tata Kelola


pemerintahan yang
melayani

1. Terwujudnya pelayanan publik


yang berkualitas (prima)

90

BAB VI
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Strategi pembangunan pada dasarnya adalah merupakan rincian cara atau


upaya yang diperlukan untuk dapat mewujudkan visi dan misi pembangunan kota
sebagaimana telah diungkapkan pada Bab V terdahulu. Untuk menjaga
operasionalisasi dari strategi pembangunan ini, maka perumusannya juga di
dasarkan pada kondisi umum daerah sebagaimana telah diuraikan pada Bab II serta
kemampuan keuangan daerah sebagaimana dijelaskan pada Bab III terdahulu.
Untuk menjaga konsistensi, maka perumusan strategi dikaitkan langsung dengan
misi pembangunan jangka menengah daerah sebagaimana telah ditetapkan pada
bab terdahulu.
Mengacu pada Permendagri Nomor 54 Tahun 2010, strategi biasanya
dikaitkan dengan arah kebijakan pembangunan daerah bersangkutan. Hal ini
dilakukan karena arah kebijakan pada dasarnya adalah merupakan keputusan dan
intervensi pemerintah untuk dapat melaksanakan strategi pembangunan yang telah
ditetapkan. Dengan mengaitkan antara strategi dan arah kebijakan maka
pencapaian sasaran pembangunan akan menjadi lebih terjamin. Selanjutnya, agar
pembahasan menjadi lebih terarah, maka penyusunan strategi dan arah kebijakan
ini dikaitkan langsung dengan misi pembangunan daerah sebagaimana ditetapkan
terdahulu dalam Bab VI RPJMD ini.
6.1. Misi 1: Mewujudkan Pendidikan yang Berkualitas untuk
Menghasilkan Sumber Daya Manusia Yang Beriman dan Berdaya
Saing;
Penduduk merupakan unsur penting dalam menggerakkan proses
pembangunan Kota Padang karena pendidikan dapat menghasilkan sumber daya
manusia yang berkualitas dan beradab. Sedangkan sumber daya manusia tersebut
adalah salah satu faktor produksi utama yang dapat meningkatkan kegiatan
produksi, baik barang maupun jasa, yang merupakan sumber utama pendapatan
masyarakat. Pengembangan pendidikan agama mendapat perhatian khusus dalam
rangka mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan yang bermuara pada
peningkatan kesejahteraan penduduk sebagaimana yang diharapkan oleh warga
kota dan masyarakat secara keseluruhan.
Pendidikan yang berkualitas selanjutnya akan dapat pula mendorong
penerapan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Penerapan dan pengembangan IPTEK ini merupakan unsur penting untuk dapat
meningkatkan kegiatan produksi, baik pertanian, industri, perdagangan dan jasa,
secara biaya produksi rata-rata lebih rendah (efisiensi) dan berkualitas baik. Biaya
produksi yang relatif rendah dan kulitas produk yang tinggi selanjutnya akan dapat
meningkatkan daya saing produk yang sangat diperlukan untuk bertahan dan

91

berkembang dalam era globalisasi sekarang ini. Tidak dapat disangkal bahwa
kegiatan ekonomi yang bisa bertahan dan berkembang dalam era globalisasi
hanyalah yang mempunyai daya saing tinggi.
6.1.1. Strategi Pembangunan Misi 1
Untuk mencapai sasaran pada Misi 1, diperlukan strategi pembangunan Kota
Padang terutama diarah pada peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan,
baik pendidikan dasardan menengah mupun pendidikan tinggi baik pada Perguruan
Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Peningkatan kualitas
pendidikan agama dalam hal ini mendapat perhatian khusus dalam rangka
mewujudkan sumberdaya manusia yang beriman. Peningkatan kualitas pendidikan
ini sangat penting artinya untuk dapat mewujudkan Kota Padang sebagai Pusat
Pelayanan jasa pendidikan untuk Sumatera Bagian Tengah yang merupakan salah
satu sasaran utama pembangunan Kota Padang dalam RPJMD 2014-1019.
Peningkatan kualitas pendidikan akan dilakukan melalui peningkatan kualitas
guru dan dosen, peningkatan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan dan
menjaga tingkat persaingan dalam memperoleh pendidikan. Peningkatan kualtas
guru dan dosen dapat dilaksanakan melalui pelaksanaan pelatihan teknik keilmuan
serta pendidikan lanjut kejenjang Magister (S2) dan Doktor (S3) dalam berbagai
cabang ilmu. Termasuk dalam hal ini adalah pengembangan pendidikan kejuruan
dan Politeknik guna memenuhi kebutuhan terhadap tenaga terampil dan siap pakai.
Peningkatan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan terutama diarahkan pada
penambahan kapasistas gedung sekolah dan kampus, pengembangan fasilitas
perpustakaan dan laboratorium serta asrama siswa dan mahasiswa. Sedangkan
upaya untuk menjaga tingkat persaingan dalam memperoleh fasilitas pendidikan
akan dilakukan melalui peningkatan kualitas seleksi ujian masuk siswa untuk
pendidikan dasar dan menengah serta ujian masuk perguruan tinggi.
6.1.2. Arah Kebijakan untuk Misi 1
Dalam mengimplementasikan strategi yang telah disebutkan diatas,
diperlukan arah kebijakan yang bermuara kepada program dan kegiatan yang tepat
untuk dilaksanakan oleh lembaga yang menjalankan urusan tersebut. Arah
kebijakan untuk melaksanakan strategi pada Misi 1 antara lain adalah:
mengembangkan kurikulum pendidikan dasar dan menengah, pendidikan kejuruan
serta pendidikan tinggi pada berbagai cabang ilmu pengetahuan, mengembangkan
fasilitas kepustakaan, meningkatkan kapasitas guru dan dosen, meningkatkan
kualitas pengelola sekolah dan perguruan tinggi, menambah jam pelajaran untuk
praktek agama, mengembangkan kurikulum pendidikan umum dan kejuruan,
meningkatkan kualitas guru, dan seni dan budaya daerah, serta mengembangkan
lembaga seni dan budaya daerah.

92

Tabel 6.1.
Hubungan Antara Strategi dan Arah Kebijakan Pada Misi 1
MISI 1: Mewujudkan Pendidikan Yang Berkualitas Untuk Menghasilkan Sumberdaya
Manusia Yang Beriman, Kreatif Dan Berdaya Saing;
Tujuan
Sasaran
Strategi
Arah kebijakan
1. Mewujudkan
1. Terwujudnya
1. Meningkatkan
1. Peningkatan mutu
kualitas
peningkatan
kualitas dan
lulusan pendidikan
sumberdaya
kualitas
kompetensi
manusia yang
pendidikan
peserta didik
beriman,
2. Meningkatkan
1. Peningkatan pendidikan
kreatif dan
kualitas dan
tenaga pendidik dan
berdaya saing
kompetensi
kependidikan
tinggi.
tenaga pendidik
2. Memperbaiki akreditasi
dan tenaga
institusi dan program
kependidikan
studi
serta kualitas
3. Meningkatkan tata kelola
intitusi
pendidikan yang
berkualitas
3. Meningkatkan
1. Meningkatkan kualitas
kualitas sarana
gedung, laboratorium,
dan prasarana
perpustakaan dan
pendidikan
sarana ibadah sekolah
serta lingkungan sekolah
2. Mengembangkan
jaringan kerjasama
dengan stakeholders
3. Mengembangkan dan
mengupdate kurikulum
sekolah
4. Memantapkan
1. Pengembangan Sekolah
pelaksanaan
Gratis untuk Wajar 12
Wajib Belajar 12
Tahun
Tahun untuk
2. Meningkatkan budaya
warga Kota
baca tulis masyarakat
Padang
3. Meningkatkan pelayanan
pendidikan mengacu
kepada standar
pendidikan nasional
2.Meningkatnya
1. Memperluas
1. Perluasan jangkauan
pemerataan
jangkauan
pemerataan sarana
pendidikan dan
pemerataan
pendidikan
mendorong
pendidikan dan
2. Pemerataan distribusi
tumbuhnya
dan mendorong
guru
sekolah kejuruan
pengembangan
3. Pengembangan sekolah
(vokasional)
sekolah
vokasional berbasis
vokasional
sumber daya lokal
4. Mendorong penciptaan
wirausahawan muda
5. Mendorong peningkatan
pemahaman dan
penerapan IPTEK tepat
guna

93

3. Terjaganya
kualitas moral
dan akhlak
pendidik dan
peserta didik
dari pengaruh
lingkungan yang
negatif;

4. Meningkatnya
kesiapan SDM
dalam
menghadapi
MEA

2. Menghindarkan
siswa putus
sekolah
1. Mendekatkan
akses informasi
nilai-nilai agama
dan budaya dan
meningkatkan
pendidikan
karakter serta
sekolah
berasrama
(Boarding
School)

1. Meningkatkan
kemampuan
peserta didik
dalam
menggunakan
Bahasa Inggris
dan
meningkatkan
ketahanan
budaya lokal

1. Memberikan bantuan
biaya pendidikan
1. Menyediakan media
informasi yang bernilai
agama dan budaya
Minangkabau pada areal
publik
2. Penyamaan kesempatan
bagi anak berpendidikan
khusus (disable) untuk
menempuh pendidikan
normal
3. Meningkatkan
pendidikan karakter
melalui sekolah
berasrama peserta didik
1. Meningkatkan
penggunaan Bahasa
Inggris di sekolah
2. Menambah koleksi
perpustakaan yang
berbahasa Inggris
3. Meningkatkan
pendidikan
kewarganegaraan untuk
membangun
nasionalisme

Karena program Wajib Belajar 9 Tahun sudah selesai, maka mulai pada
periode RPJMD ini akan dimulai secara resmi pelaksanaan wajib belajar 12 tahun
yaitu mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).
Untuk keperluan ini maka peningkatan pembangunan gedung sekolah lanjutan
tingkat atas, baik SMA dan sekolah kejuruan akan diutamakan. Demikian pula
halnya dengan penyediaan fasilitas perpustakaan dan laboratorium untuk siswa
sekolah menengah atas akan mendapat perhatian lebih besar. Tentunya upaya
untuk meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan jangka pendek dan pendidikan
lanjut ke S2 akan semakin ditingkatkan. Hubungan keterkaitan antara strategi dan
arah kebijakan untuk Misi 1 dapat dilihat pada Tabel 6.1 diatas.
6.2. Misi 2: Menjadikan Kota Padang Sebagai Pusat Perdagangan
Wilayah Barat Sumatera
Dari analisis kondisi umum daerah kota Padang menunjukkan bahwa
struktur perekonomian kota Padang lebih banyak didominasi oleh kegiatan
perdagangan dan jasa. Sedangkan kegiatan industri kelihatannya masih belum
begitu berkembang dengan baik sebagaimana terlihat dari kontribusi sektor industri
dalam perekonomian kota. Berdasarkan fakta ini, maka strategi dan arah kebijakan
pembangunan kota Padang adalah pada pengembangan sektor perdagangan dan
jasa. Hal ini sesuai pula dengan misi walikota dan wakil walikota terpilih yaitu

94

Menjadikan Kota Padang Sebagai Pusat Perdagangan Wilayah Barat


Sumatera. Untuk itu sasaran utama dari kebijakan pembangunan adalah
meningkatkan volume perdagangan barang dan jasa dengan meningkatkan kualitas
sarana dan prasarana perdagangan.
Sejalan dengan fungsi dan peranan kota Padang yang tercantum dalam
RTRW Provinsi Sumtera Barat yang menyatakan bahwa kota Padang adalah salah
satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN), maka kota Padang juga diharapkan mampu
menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat khususnya dan wilayah
Barat Sumatera pada umumnya.
Dalam rangka mewujudkan sasaran utama
pembangunan untuk mewujudkan misi ini adalah:

tersebut,

maka

tujuan

1. Terwujudnya Kota Padang sebagai pusat kegiatan perdagangan untuk wilayah


Pantai Barat Sumatera. Pengembangan kegiatan perdagangan ini terutama
diarahkan untuk perdagangan hasil-hasil pertanian dan perkebunan serta
produk-produk usaha kecil dan menengah lainnya. Dengan cara demikian
diharapkan Kota Padang akan berkembang sebagai pusat pertumbuhan
ekonomi untuk wilayah pantai Barat Sumatera.
2. Terwujudnya Kota Padang sebagai Pusat Pertumbuhan ekonomi di wilayah
Sumatera Barat, dengan mengembangkan industri berbasis sumber daya lokal
dan didukung oleh kegiatan perdagangan yang terpusat di kota Padang maka
akan mendorong partumbuhan ekonomi tidak hanya bagi kota Padang tetapi
juga untuk kota dan kabupaten sekitarnya di wilayah Sumatera Barat.
Untuk dapat mewujudkan Kota Padang sebagai pusat perdagangan wilayah
Sumatera Bagian Barat, maka strategi utama yang diperlukan adalah meningkatkan
penyediaan prasarana dan sarana yang dapat mendukung kegiatan perdagangan
tersebut. Prasarana dan sarana tersebut antara lain adalah fasilitas transportasi
menuju kawasan perdagangan, fasilitas pasar dan telekomunikasi. Bila prasarana
dan sarana tersebut dapat disediakan dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang
baik, maka kegiatan perdagangan akan dapat ditingkatkan secara optimal.
Selanjutnya, mengingat dewasa ini perekonomian kita sudah berada dalam
era perdagangan bebas (AFTA) dan globalisasi, maka tingkat persaingan antara
sesama pelaku usaha menjadi sangat tajam, maka strategi pembangunan yang
mengarah pada peningkatan kualitas SDM pelaku usaha dan efisiensi serta daya
saing pengusaha tentunya sangat penting dalam peningkatan kegiatan
perdagangan. Dalam rangka ini maka pemerintah kota perlu menjaga tingkat
persaingan yang sehat antara sesama pengusaha dan mencegah terjadinya
kecurangan dan monopoli untuk usaha-usaha tertentu. Disamping keamanan dan
ketertiban pada setiap lokasi pasar perlu pula dijaga agar kenyaman para
pengusaha dan konsumen dalam kegiatan perdagangan akan dapat dijaga dengan
baik.

95

Aktivitas perdagangan dan industri merupakan aktivitas ekonomi yang saling


terkait erat, oleh sebab itu untuk mewujudkan kota Padang sebagai pusat
pertumbuhan maka perlu ditumbuhkembangkan kegiatan produksi yang berbasis
sumberdaya local. Untuk itu kebijakan diarahkan untuk merevitalisasi kawasan
industri Padang Industrial Park (PIP) dan Lingkungan Industri Kecil (LIK) Ulu Gadut
dan dalam rangka mendukung proses industrialisasi Kota Padang, akan difasilitasi
pengembangan Padang Techno Park guna mengembangan inovasi dalam bidang
industri kecil dan menengah.
Tabel 6.2.
Hubungan Antara Strategi dan Arah Kebijakan Pada Misi 2
MISI 2: Menjadikan Kota Padang Sebagai Pusat Perdagangan Wilayah Barat Sumatera
Tujuan
Terwujudnya
Kota Padang
sebagai pusat
kegiatan
perda-gangan
untuk wilayah
Pantai Barat
Sumatera

Sasaran
1. Meningkatnya
volume
transaksi
perdagangan
barang dan
jasa

Strategi
1. Meningkatkan
kualitas sarana dan
prasarana
perdagangan

2. Meningkatkan
Kualitas SDM
Pelaku Usaha
Perdagangan

3. Meningkatkan
efisiensi dan daya
saing kegiatan
perdagangan
barang dan jasa

2. Meningkatnya 1. Mendorong
kontribusi
peningkatan
sektor
aktivitas
perdagangan
perdagangan
dalam
perekonomian
Kota Padang.

Arah kebijakan
1. Peningkatan kualitas
Kualitas sarana dan
prasarana perdagangan
2. Peningkatan Kualitas SDM
dan lembaga Pengelola
Perdagangan
3. Penyediaan dan
Peningkatan fasilitas
pergudangan
1. Pendataan dan penataan
pelaku usaha perdagangan
berdasarkan karakteristik
usaha.
2. Peningkatan Pembinaan dan
pelatihan usaha bagi pelaku
usaha perdagangan
1. Menjaga iklim persaingan
yang kondusif
2. Penguatan regulasi
penjaminan mutu barang
3. Peningkatan keamanan dan
kenyamanan di kawasan
perdagangan
1. Peningkatan skala usaha
perdagangan
2. Penganekaragaman
komoditi perdagangan
3. Peningkatan kuantitas dan
kualitas komoditi
perdagangan
4. Memperluas networking
(jejaring) perdagangan
5. Peningkatan fasilitas
pelayanan usaha (service
bussines)

96

6.3. Misi 3: Menjadikan Kota Padang sebagai Daerah Tujuan Wisata yang
Nyaman dan Berkesan
Disamping
kegiatan
perdagangan
sebagai
dijelaskan
terdahulu,
pengembangan pariwisata merupakan kegiatan utama untuk mendorong Kota
Padang sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi untuk wilayah Provinsi Sumatera
Barat. Kegiatan pariwisata ini dapat dijadikan sebagai pendorong pertumbuhan
ekonomi karena kegiatan ini dapat bersinergi dengan beberapa kegiatan terkait
seperti perhotelan, perdagangan, perhubungan dan industri kerajinan rakyat
(industri kreatif). Melalui keterkaitan ini, maka pengembangan pariwisata akan
dapat mewujudkan pengembangan kegiatan ekonomi secara terpadu dan saling
mendukung. Disamping itu, pengembangan pariwisata dapat pula menjadi kualitas
lingkungan hidup karena tidak melibatkan exploitasi sumberdaya alam.
Memperhatikan kondisi geografis dan sosial budaya daerah maka jenis
pariwisata yang akan dikembangkan adalah pariwisata bahari karena Kota Padang
berada dipinggir laut dengan kondisi pasar yang baik dan indah. Disamping itu,
pengembangan wisata alam dan kuliner juga sangat potensial dikembankan dengan
memanfaatkan kondisi alam yang indah serta jenis makanan spesifik yang beragam.
Namun demikian, tentunya pengembangan wisata tersebut perlu dijaga agar tidak
bertentangan dengan agama dan budaya serta kebiasaan masyarakat setempat.
Tujuan utama yang ingin dicapai disini adalah terwujudnya Kota Padang
sebagai daerah tujuan wisata yang nyaman dan berkesan. Dengan cara demikian
diharapkan jumlah kunjungan dan rata-rata lama tinggal wisata di Kota Padang
akan dapat ditingkatkan. Tujuan akhir adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
warga kota melalui peningkatan penyediaan lapangan kerja dan pendapatan di
bidang pariwisata.

6.3.1. Strategi untuk Misi 3


Untuk mencapai sasaran yang hendak diwujudkan pada Misi 3, diperlukan
strataegi pembangunan sebagai berikut:
1. Melakukan renovasi dan pengembangan objek-objek wisata Kota Padang yang
sudah ada seperti: pantai Padang, Pantai Pasir Jambak, jembatan Siti
Nurbaya, pantai Bungus dan Pondok Carolina, permandian Lubuk Minturun
dan Taman Hutan Raya Bung Hatta, serta objek wisata lainnya;
2. Meningkatkan kualitas prasarana dan sarana perhubungan menuju objek
wisata Kota Padang yang sudah ada;
3. Meningkatkan jumlah dan kualitas pemandu wisata untuk meningkatkan
pelayanan kepariwisataan;
4. Membangun dan mengembangkan Pusat Informasi Pariwisata (Touristm
Information Center) Kota Padang yang dilengkapi dengan sistem informasi
yang cukup mamadai;

97

5. Melakukan penyuluhan secara berkala kepada masyarakat tentang manfaat


pariwisata untuk pengembangan Kota Padang dan peningkatan kesejahteraan
warga kota.
6.3.2. Arah Kebijakan Misi 3
Untuk dapat mewujudkan strategi pembangunan sebagaimana ditetapkan di
atas, diperlukan beberapa kebijakan pembangunan kota. Kebijakan pembangunan
Kota Padang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan even-even wisata berskala nasional dan internasional, seperti
Tour de Singkarak, pertandingan olah raga, seminar dan lain-lainnya guna
meningkatkan kunjungan wisata ke Kota Padang;
2. Meningkatkan jumlah dan kualitas infrastruktur kota yang dapat menunjang
kegiatan pariwisata, seperti fasilitas hotel, transportasi, pemandu wisata dan
hal lainnya yang terkait;
3. Membangun sebuah Pusat Informasi Wisata yang dilengkapi dengan fasilitas
teknologi informasi sehingga Kota Padang dikenal luas di dunia internasional;
4. Melakukan penyuluhan sadar wisata secara berkala kepada masyarakat
tentang manfaat dan pentingnya pariwisata bagi pembangunan Kota Padang;
5. Mencegah terjadinya berbagai dampak negatif dari kegiatan pariwisata
terhadap agama dan budaya masyarakat.
Tabel 6.3
Hubungan Antara Strategi dan Arah Kebijakan Pada Misi 3
Misi 3: Menjadikan Kota Padang sebagai daerah tujuan wisata yang nyaman dan berkesan
Tujuan

Sasaran

1. Mewujudkan
Kota Padang
Sebagai
daerah Tujuan
Wisata Yang
Nyaman dan
Berkesan.

1. Tercapainya
peningkatan
rata-rata lama
tinggal wisata
di Kota Padang;

2.Tercapainya
peningkatan
jumlah
kunjungan
wisata nusantara
dan
mancanegara

Strategi

Arah Kebijakan

1. Meningkatkan
1. Memberikan kemudahan
kualitas akomodan insentif kepada
dasi penginapan
pengusaha perhotelan
2. Menciptakan
paket-paket
wisata yang
menarik,
kreatif, layak
dan ramah

1. Menciptakan kondisi
wisata keluarga yang
nyaman dan aman

1. Membangun
kelembagaan
pariwisata Kota
Padang yang
kuat dan
berkualitas

1. Penetapan peraturan
daerah untuk
pengelolaan pariwisata
2. Pembenahan Pusat Informasi Wisata (Tourist
Information Center) yang
dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi
terkini

2. Mendorong kesadaran
masyarakat dalam
menciptakan objek
wisata yang religius yang
layak dan ramah

98

2. Mengembangkan 1. Peningkatkan even-even


even-even wisata
wisata yang berskala
yang dapat
nasional dan
meningkatkan
internasional yang dapat
kunjungan
meningkatkan kunjungan
wiisatawan;
wisata ke Kota Padang;
2. Menjalin kemitraan
dengan pelaku
pariwisata
3. Meningkatkan
1. Peningkatkan kualitas
jumlah dan
infrastruktur kota yang
mengembangkan
dapat menunjang
kualitas objek
kegiatan pariwisata
wisata yang
2. Mendorong
menarik bagi
pengembangan wisata
wisatawan
konvensi (MICE) yang
layak dan ramah
3. Peningkatan
kemampuan pemandu
pariwisata
3. Tercapainya
kondisi wisata
nyaman dan
berkesan

2. Terwujudnya
kota Padang
sebagai kota
tujuan wisata
budaya yang
religious

1. Terpelihara
dan lestarinya
nilai budaya
berbasis
religius dan
tradisi lokal
yang berada di
kota Padang

1. Peningkatan
Keamanan,
kebersihan dan
ketertiban (K3)
objek wisata
2. Peningkatan
sarana dan
prasarana
kepariwisataan
1. Peningkatan
pariwisata
berbasis
kearifan lokal
dan tradisi seni
budaya

2. Pengembangan
wisata religius
dan Kota Tua

Pemberdayaan masyarakat
untuk sadar wisata

Meningkatkan kualitas
Sarana Prasarana
1. Pengembangan seni
tradisi budaya yang
dikemas dengan
sentuhan modern
2. Reorganisasi sanggar
seni tradisional yang
dikelola secara
profesional dan
berkelanjutan
3. Peningkatan Kota
Padang sebagai tempat
festival seni budaya di
tingkat nasional dan
internasional
1. Pembinaan seni
tradisional bernuasa
religius dan budaya
minangkabau
2. Pelestarian dan
pengembangan wisata
Kota Tua

99

6.4. Misi 4: Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Pengembangan


Ekonomi Kerakyatan
Mewujudkan misi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara
menyeluruh dan pembangunan ekonomi kerakyatan merupakan unsur penting
untuk mendorong peningkatan kemakmuran warga Kota Padang. Kondisi tersebut
dapat diwujudkan melalui pengembangan kegiatan industri, perdagangan dan jasa
serta pariwisata. Agar pengembangan kegiatan tersebut dapat meningkatkan
penyediaan lapangan kerja dan sekaligus menanggulangi kemiskinan, maka
pengembangan kegiatan ekonomi tersebut terutama diarahkan pada kegiatan padat
karya dan usaha kecil dan menengah yang tidak memerlukan modal besar. Sejalan
dengan hal ini, peningkatan kemampuan wirausaha masyarakat perlu pula terus
dipupuk dan dikembangkan guna mendorong pengembangan kegiatan usaha
masyarakat, khususnya pengusaha pribumi.
Tujuan yang hendak dicapai dalam misi ini adalah:
1. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kualitas dan
aktivitas ekonomi masyarakat serta peningkatan pelayanan dasar secara
inklusif;
2. Terwujudnya ekonomi kerakyatan yang tangguh melalui pengembangan
kegiatan ekonomi kerakyatan dibidang industri perdagangan dan jasa.
Sasaran umum yang akan dicapai berdasarkan misi ini adalah:
1. Meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dengan dorongani produksi
komoditi unggulan di bidang perikanan, peternakan, industri, perdagangan
dan jasa;
2. Mendorong tumbuhnya wirausahawan baru, usaha mikro, kecil dan menengah
guna meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan peningkatan
penyediaan lapangan kerja;
3. Mengurangi secara bertahap
kemiskinan warga kota;

persentase

tingkat

pengangguran

dan

4. Meningkatkan kualitas pelayanan dasar khususnya kesehatan bagi masyarakat


guna meningkatkan kualitas SDM dan produktivitas masyarakat dalam rangka
mewujudkan Kota Padang sebagai pusat pelayanan publik (service centre).
Adapun strategi pembangunan yang akan ditempuh untuk mewujudkan
ekonomi kerakyatan yang tangguh adalah dengan jalan memberikan prioritas
pengembangan kegiatan ekonomi kota pada kegiatan pertanian perkotaan,
perikanan, peternakan, industri kecil dan menengah, perdagangan dan pariwisata.
Strategi pembangunan ini sengaja dipilih sesuai dengan struktur, permasalahan dan
potensi ekonomi Kota Padang. Disamping itu, pengembangan kegiatan ekonomi
tersebut diupayakan untuk tidak akan membawa konskuensi negatif terhadap
kualitas lingkungan hidup, sehingga keberlanjutan pembangunan di masa
mendatang akan tetap terjaga dengan baik.

100

Tabel 6.4
Hubungan Antara Strategi dan Arah Kebijakan Pada Misi 4
MISI 4: Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan;
TUJUAN

SASARAN

1. Meningkatnya 1. Meningkatnya
kesejahteraan
kualitas
masyarakat
ekonomi
masyarakat

STRATEGI

ARAH KEBIJAKAN

1. Meningkatkan
ekonomi masyarakat
berbasis sumberdaya
lokal

1. Pemberdayaan dan
peningkatan penggunaan
sumberdaya lokal
2. Pemberdayaan dan
peningkatan peran
kelompok usaha bersama
3. Meningkatkan peran
koperasi dan lembaga
keuangan mikro

2. Meningkatkan
kualitas SDM Pelaku
usaha

1. Meningkatkan
pengetahuan dan
keterampilan SDM Pelaku
Usaha
2. Memfasilitasi akses
informasi usaha, promosi,
kerjasama usaha dan
pemasaran
3. Mendorong terciptanya
wirausaha muda yang
kreatif dan kompetitif

2. Berkurangnya
tingkat
kemiskinan

1. Meningkatkan
pendapatan
masyarakat miskin

1. Peningkatan Program
Bantuan Usaha bagi
masyarakat Miskin
2. Pemberdayaan Kelompok
usaha Masyarakat Miskin
3. Peningkatan akses
terhadap permodalan,
pemasaran dan informasi
usaha
4. Menumbuhkembangkan
usaha produktif
masyarakat miskin

2. Meningkatkan
kualitas kehidupan
masyarakat miskin

1. Peningkatan Akses
Terhadap Pelayanan
Dasar masyarakat miskin
2. Peningkatan keterampilan
produktif masyarakat
miskin

3. Meningkatnya
kualitas
kesehatan
masyarakat

1. Meningkatkan
kualitas pelayanan
kesehatan
masyarakat secara
inklusif

1. Meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan
primer secara gratis
2. Meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan
masyarakat melalui
peningkatan status RSUD

101

dari tipe C menjadi Tipe B


dan Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD)
3. Meningkatkan partisipasi
aktif masyarakat dalam
peningkatan kualitas
kesehatan dan lingkungan
2. Meningkatkan
kualitas dan
pemerataan SDM
kesehatan

1. Pemerataan,
pengembangan dan
pemberdayaan SDM
pelaksana pelayanan
kesehatan
2. Penguatan jaringan
kerjasama dalam
pembangunan kesehatan

2. Terwujudnya
ekonomi
kerakyatan
yang tangguh

4. Meningkatnya
kualitas dan
kuantitas
jaminan sosial
masyarakat
1. Meningkatnya
penyediaan
lapangan kerja
dan usaha

1. Meningkatkan
kualitas dan
kuantitas program
jaminan sosial
masyarakat
1. Meningkatkan
kemampuan
kewirausahaan

Peningkatan sistem
penjaminan sosial
masyarakat
1. Meningkatkan peran
lembaga pelatihan
keterampilan dalam
pengembangan
kewirausahaan
2. Mendorong penumbuhan
lapangan usaha berbasis
inovasi dan ekonomi
kreatif

2. Meningkatnya
kekuatan
ekonomi
kerakyatan

2. Mendorong
peningkatan
investasi

Memfasilitasi peningkatan
investasi baik dari dalam
maupun luar negeri dengan
memberikan kemudahan dan
insentif

1. Pemberdayaan
ekonomi
masyarakat
kawasan pertanian;

1. Meningkatkan
pemberdayaan ekonomi
rakyat dalam rangka
peningkatan ketahanan
pangan dan kesejahteraan
2. Mengembangkan sistem
dan kelembagaan pasar
produk pertanian
3. Mengembangkan sentra
produksi komoditi
pertanian unggulan
dengan menggunakan
pendekatan wilayah dan
kawasan;
4. Penerapan dan
Pengembangan teknologi
pertanian

102

2. Pemberdayaan
ekonomi
masyarakat
kawasan pesisir;

1. Mengembangkan gerakan
pemberdayaan ekonomi
masyarakat pesisir
2. Mengembangkan blue
economy (ekonomi biru)
3. Mengembangkan kawasan
minapolitan

3. Mengembangkan
usaha kecil dan
menengah serta
usaha padat karya

1. Meningkatkan daya saing


UMKM
2. Meningkatkan penerapan
teknologi dalam berbagai
aneka usaha
3. Pembangunan dan
pengembangan sentra
ekonomi usaha mikro,
kecil dan menengah
4. Mengembangkan jaringan
kerjasama usaha dalam
dan luar wilayah

3.Meningkatnya
volume
perdagangan
produksi
kelautan dan
perikanan

1. Meningkatkan
efisiensi dan daya
saing produk KP
dengan mendorong
terjadinya temu
bisnis

1. Peningkatan mutu produk


dan skala usaha KP
2. Penguatan regulasi
penjaminan mutu produk
KP

2. Memperluas networking antar


pelaku usaha dan
perdaga-ngan
produk KP
4.Meningkatnya
industri usaha
kelautan dan
perikanan

Meningkatkan efisiensi
usaha industri KP dan
kapasitas SDM

Peningkatan kapasitas sarana


dan prasarana produksi
bernilai ekonomis

5.Meningkatnya
pelaku usaha
industri KP yang
baru

Mengembangkan
usaha penangkapan di
daerah oceanic (laut
lepas) memanfaatkan
lahan marjinal (rawa)

Pengembangan kawasan
minapolitan, industrialisasi
dan blue economy berbasis
kelautan dan perikanan

6.Tercapainya
tingkat
konsumsi ikan
perkapita/
tahun

1. Meningkatkan
produksi KP
dengan
optimalisasi
potensi oceanic
dan lahan marjinal

1. Penambahan armada
untuk eksploitasi hasil KP

2. Meningkatkan
produksi pasca
panen agar terjadi
penambahan nilai
(value added)

2. Memperluas pemanfaatan
lahan marjinal
3. Mendorong industri pasca
panen produk KP

103

7.Terpeliharanya
sumber daya
alam KP dan
biota langka

1. Memperbaiki
sumber daya alam
yang rusak
2. Introduksi hewan
langka
3. Meningkatkan
kualitas
pengawasan
sumber daya KP

1. Peningkatan intensitas
pengelolaan kawasan
konservasi dan sumber
daya ikan
2. Penguatan kelembagaan
pengawasan pada
masyarakat

8.Zero Complaint
untuk
pelayanan pada
masyarakat

Pemantapan SOP
tentang pelayanan di
sektor KP

Peningkatan pelayanan prima

9.Tercapainya
penurunan
harga pakan
ikan

Melanjutkan
pengadaan pakan
buatan yang bermutu
dan pabrik skala kecil
dan menengah

Melakukan kerjasama
dengan perguruan tinggi,
pengusaha, kelompok
masyarakat dalam
menghasilkan pakan ikan
yang bermutu

10. Meningkatnya
kemampuan
dan
pengetahuan
petani dalam
berusaha tani

Meningkatkan SDM
petani

11. Meningkatnya
produksi
perta-nian,
perkebu-nan
dan peternakan dalam
mendukung
ketahanan
pangan

1. Meningkatkan produksi padi,


palawija,
perkebunan, dan
hortikultura

1. Penerapan teknologi
spesifik lokasi
2. Peningkatan SDM petani
dan penyuluh lapangan
3. Optimasi lahan sawah
4. Pengendalian organisme
pengganggu tanaman
5. Demplot teknologi padi
salibu
6. Optimalisasi peran serta
Komisi Pengawasan
Pupuk dan Pestisida
(KP3)

12. Meningkatnya
sarana
prasarana
pendukung
dalam
berusaha tani/
ternak

2. Meningkatkan
produksi
peternakan

1. Penerapan teknologi
tepat guna

Penyediaan sarana dan


prasarana pertanian,
perkebunan dan
peternakan

1. Pengadaan alat mesin


pertanian

2. Pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak

2. Penambahan Balai
Penyuluhan Pertanian
3. Rehabilitasi saluran irigasi
tersier (JITUT/ JIDES)

104

13. Meningkatnya
pasca panen,
pengolahan
dan
pemasaran
hasil
pertanian,
perkebunan
dan
peternakan

1. Meningkatkan SDM
kelompok
pengolahan hasil
pertanian

1. Demonstrasi pengolahan
hasil pertanian
2. Membangun jaringan
pemasaran dengan
supermarket dan hotel
3. Mengikuti promosi
produk pertanian
4. Penyediaan alat
pengolahan hasil
pertanian

2. Meningkatkan SDM
kelompok
pengolahan hasil
peternakan

1. Pelatihan pengolahan
hasil peternakan
2. Mengikuti event promosi

3. Penyediaan sarana
dan prasarana
pasar ternak
14. Terkendalinya
penyakit
menular
hewan

Meningkatkan
pelayanan kesehatan
hewan

1. Pemberian vaksinasi dan


pengobatan hewan ternak

15. Terpelihara
dan terjaganya kawasan
hutan dari
kerusakan dan
kebakaran
hutan

1. Peningkatan daya
dukung hutan
sebagai kawasan
penyangga air

1. Menggalakkan Hutan
Kemasyarakatan

2. Membangun hutan
kota Delta Malvinas
sebagai daerah
resapan air di
perkotaan

3. Meningkatkan SDM
masyarakat di sekitar
kawasan hutan

3. Membangun Taman
Hutan Raya Bung
Hatta sebagai
daerah rekreasi
wisata alam

2. Pemusnahan anjing liar

2. Mengoptimalkan
konservasi hutan

4. Pengamanan hutan
5. Pengawasan peredaran
hasil hutan

6.5. Misi 5: Menciptakan Kota Padang Yang Aman, Bersih, Tertib,


Bersahabat dan Menghargai Kearifan Lokal
Pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan merupakan
isu yang tidak kalah pentingnya dalam upaya mewujudkan masyarakat kota yang
sejahtera dalam jangka panjang. Kualitas lingkungan hidup yang baik dan
menyenangkan akan dapat diwujudkan melalui pencegahan polusi udara,
pengotoran air, mengupayakan lingkungan yang bersih dan segar, serta
menerapkan rencana tata-ruang secara konseken. Termasuk dalam hal ini adalah
pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan yang dapat diupayakan dengan
memelihara kawasan hutan lindung, mencegah eksploitasi sumberdaya alam secara
berlebihan, memelihara cadangan air, memelihara biota laut dan meningkatkan
konservasi alam serta reboisasi hutan secara teratur dan terus menerus.

105

Tujuan yang hendak dicapai dalam misi ini adalah terwujudnya perbaikan
kualitas lingkungan hidup Kota Padang melalui penanggulangan resiko bencana,
baik gempa, tsunami, banjir dan longsor dan pengelolaan lingkungan hidup yang
baik. Disamping itu, perlu pula peningkatan penyediaan prasarana dan sarana yang
diperlukan untuk menantisipasi dampak negatif dari terjadinya bencana alam.
Sejalan dengan hal tersebut, akan ditingkatkan pula kesiapsiagaan seluruh warga
kota dalam menghadapi dan menanggulangi bencana alam melalui kegiatan
penyuluhan dan pelatihan secara berkala.
6.5.1. Strategi untuk Misi 5
Untuk mencapai sasaran dalam mewuiudkan Misi 5, ditempuh beberapa
strategi pokok sebagai berikut:
1. Menyediakan informasi yang rinci dan jelastentang wilayah rawan bencana,
meningkatan sarana prasarana penanggulangan bencana, peningkatan
kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana, meningkatkan
kesadaran warga kota dalam pelestarian lingkungan hidup, meningkatkan
konservasi, rehabilitasi, dan pemulihan ekosistem, dan menurunkan tingkat
polusi udara dan air dalam kota;
2. Meningkatkan penyediaan prasarana dan saran untuk penanggulangan
kemungkinan bencana alam;
3. Meningkatnya kesiapsiagaan fisik dan mental masyarakat
penanggulangan bencana dan pelestarian lingkungan hidup;

dalam

4. Meningkatnya konservasi, rehabilitasi, dan pemulihan ekosistem serta


penanggulangan polusi udara dan air.
6.5.2. Arah Kebijakan untuk Misi 5
Untuk melaksanakan strategi pembangunan tersebut di atas, maka arah
kebijakan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan beberbagai bentuk peta dan informasi kongkrit tentang wilayah
rawan bencana dalam kawasan Kota Padang;
2. Meningkatkan penyediaan sarana prasarana evakuasi dan penyelamatan
bencana pada lokasi-lokasi rawan bencana;
3. Melaksanakan penyuluhan dan sosialisasi kepada segenap warga kota tentang
kesiagaan dan tata-cara dalam menghadapi bencana;
4. Melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi akibat terjadi bencana yang terjadi
sebelumnya;
5. Melaksanakan penyuluhan dan sosialisasi pelestarian lingkungan hidup,
mengembangkan konservasi sumberdaya alam;
6. Mengendalikan pencemaran udara dan air serta dan perusakan lingkungan
hidup wilayah Kota Padang;
7. Mengamankan hutan dari illegal logging, mengamankan laut dari ilegal fishing,
serta mengelola dan merehabilitasi ekosistem pesisir dan laut.

106

Matriks hubungan antara strategi dan arah kebijakan pembangunan Kota


Padang untuk Misi 5 dapat dilihat pada Tabel 6.5.
Tabel 6.5.
Hubungan Antara Strategi dan Arah Kebijakan Pada Misi 5
Misi 5: Menciptakan Kota Padang yang Aman, Bersih, Tertib, Bersahabat dan Menghargai
Kearifan Lokal
Tujuan
1. Mewujudkan
Kota Padang
yang aman dan
tanggap
bencana

Sasaran
1.Meningkatnya
sarana dan
prasarana
penangulangan
bencana

2. Meningkatnya

2. Mewujudkan
lingkungan
hidup kota yang
berkualitas

kesiapsiagaan
warga kota
mengantisipasi
penanggulangan
bencana
1. Tercapainya
peningkatan
kualitas lingkungan
hidup

3. Mewujudkan
1. Terwujudnya
Infrastruktur
Tatakelola Sumber
yang ramah dan
Daya Air dan
aman
Drainase Perkotaan
2. Tersedianya
infrastruktur jalan
raya yang aman

Strategi

Arah Kebijakan

1. Peningkatan
kerjasama dengan
lembaga penelitian
dan SKPD terkait

1. Menyediakan peta
dan informasi wilayah
resiko bencana
2. Peningkatan
Profesionalitas
Aparatur Lembaga/
SKPD terkait

2. Meningkatkan
kerjasama dalam
penyediaan sarana
prasarana
penanggulangan
bencana
Peningkatkan
pemahaman dan
kesadaran masyarakat
tentang antisipasi
bencana

1. Meningkatkan kualitas
kuantitas sarana dan
prasarana
penggulangan
bencana

1. Meningkatkan
kesadaran masyarakat
dalam menjaga
kualitas lingkungan
hidup
2. Meningkatkan
pengawasan dan
penegakan peraturan
lingkungan hidup
dalam konservasi
ekosistem
3. Intensifikasi
pengawasan dan
pentaatan peraturan
lingkungan hidup
dalam pengelolaan
pencemaran udara
dan air
Meningkatnya kualitas
sungai dan SDA

Melaksanakan
penyuluhan dan
sosialisasi
kesiapsiagaan
bencana
Meningkatkan jumlah
dan kualitas informasi
lingkungan hidup

Peningkatan dan
penyediaan sarana
jalan

Peningkatan
penyediaan shelter
untuk kesiap siagaan
bencana

Peningkatan sarana
prasarana
pengawasan dan
pengendalian
pencemaran
lingkungan
Normalisasi sungai,
jaringan irigasi dan
drainase
Pembangunan jalan
baru dan perbaikan
jalan dan jembatan

107

3. Tersedianya sarana
dan prasarana
pemukiman

Peningkatan sarana dan


prasarana lingkungan
pemukiman

Meningkatkan pelayanan
air bersih, listrik, sanitasi
dan drainase

4. Mewujudkan
1. Meningkatnya
Kota Padang
sistem pengelolaan
yang bersih dan
persampahan,
indah
Ruang Terbuka
Hijau dan Taman
Kota

1. Meningkatkan
1. Peningkatan peran
pelayanan
Lembaga Pengelola
persampahan bekerja
Sampah (LPS) di
sama dengan Lembaga
masyarakat
Pengelola Sampah
2. Meningkatkan sarana
(LPS) dalam
dan prasarana
masyarakat
pengelolaan sampah
2. Meningkatkan sarana
dan limbah
dan prasarana
pengelolaan sampah
dan TPA
3. Meningkatkan jumlah
Taman Kota dan Ruang
Terbuka Hijau (RTH)
5. Mewujudkan
1. Tersedianya jasa
1. Meningkatkan peran 1. Menyediakan
transportasi
pelayanan angkutan
swasta dalam penyeangkutan umum
perkotaan
kota yang cukup,
diaan armada angkutan
masal
yang lancar,
nyaman, lancar dan
umum massal
2. Menyediakan terminal,
aman, nyaman
murah ke seluruh
2. Meningkatkan
sarana dan prasarana
dan murah
wilayah kota
prasarana, sarana dan
angkutan umum
fasilitas lalu lintas

6. Mewujudkan
penataan
ruang,
bangunan dan
perumahan
yang serasi,
selaras dan
seimbang

2. Meningkatnya
keamanan dan
keselamatan lalu
lintas
1. Terlaksananya
penataan
bangunan dan
perumahan sesuai
dengan Rencana
Tata Ruang Kota

Memberlakukan regulasi
yang tegas terhadap
pelanggaran lalu lintas

Menyediakan regulasi
yang tegas dalam
pengelolaan angkutan
umum masal
1. Meningkatkan
1. Melakukan penataan
pengawasan dan
bangunan gedung
pengendalian
2. Melakukan penataan
bangunan dan
Perumahan dan lingkuperumahan
ngan pemukiman beserta sarana dan prasarana pendukungnya
3. Meningkatan pelayanan
dalam pengurusan IMB
2. Meningkatkan
Menjaga bentuk arsitektur
pengendalian bangunan bangunan cagar budaya
cagar budaya dan
dan bersejarah
bersejarah
3. Melakukan
Melakukan rehabilitasi
rehabilitasi dan bedah 1000 unit rumah tidak
rumah milik
layak huni pertahun
masyarakat tidak
mampu
4. Melakukian
Penyediaan lahan untuk
pembebasan dan
pembangunan kota yang
penyediaan tanah
mengacu kepada aturan
sesuai peraturan yang yang berlaku
tidak merugikan
pemilik lahan

108

6.6. Misi 6: Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, Bersih dan
Melayani
Tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan melayani tidak terlepas dari
peran pemerintah mewujudkan good governance, yang menuntut agar aparatur
pemerintah melayani masyarakat. Bila sebelumnya ada pandangan bahwa aparatur
pemerintah diidentikkan dengan pemilikan kekuasaan, maka pandangan itu telah
berubah menjadi kewenangan aparatur pemerintah untuk melakukan pelayanan dan
pemberdayaan masyarakat. Perubahan pandangan ini sudah disadari aparatur
karena pada akhirnya kompentensi aparatur yang tercermin dalam sikap dan
prilakunya yang akan menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan
dalam pembangunan. Ciri good governance (kepemerintahan yang baik) dilakukan
melalui demokratisasi, desentralisasi, keterbukaan, transparansi, akuntabilitas,
profesionalitas, pelayanan prima, efisiensi dan efektifitas dan supremasi hukum
dalam penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu good governance juga
mempersyaratkan adanya hubungan yang sinergis dan konstruktif antara
pemerintah, swasta dan masyarakat dengan menganut prinsip-prinsip partisipasi,
supremasi hukum, dan cepat tanggap. Pemerintahan sendiri dapat diterjemahkan
menjadi badan memerintah, menguasai, mengurusi, mengarahkan, membina,
menyelenggarakan dan mengelola.
Misi ke enam yang telah ditetapkan oleh Walikota dan Wakil Walikota terpilih
tahun 2014-2019 ini, telah memenuhi kriteria good governance. Misi ke enam yaitu
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan melayani bila diuraikan
satu persatu, maka akan didapatkan kata kunci yaitu baik, bersih dan melayani.
Kata kunci baik selaras prinsip good governance yaitu sesuai keinginan rakyat
yang tercermin dari jumlah suara hasil pemilihan (legitimasi) dan pemerintahan
yang efektif yang akan dapat menyelenggarakan tugas-tugas kepemerintahan, atau
dengan kata lain diberlakukannya prinsip-prinsip demokratisasi, desentralisasi,
keterbukaan, akuntabilitas, profesionalitas, efisiensi dan efektifitas dan supremasi
hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu dapat juga ditambahkan
bahwa good governance berarti juga mengkoordinasikan sektor-sektor
pembangunan secara baik atas dasar profesionalitas dan etos kerja. Sedangkan
kata kunci bersih juga selaras dengan prinsip untuk menghindarkan tindakan KKN
(Korupsi Kolusi dan Nepotisme) baik secara keputusan politik maupun administrasi,
disiplin menjalankan anggaran dan terciptanya legal and political framework bagi
tumbuhnya wiraswasta dan menghindarkan salah alokasi anggaran. Ciri good
governance (kepemerintahan yang baik) terkait dengan kata kunci bersih yang
dilakukan melalui keterbukaan, transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan efektifitas
dan supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan landasan
moral yang tinggi. Terakhir, kata kunci melayani tercermin dalam prinsip good
governance (kepemerintahan yang baik) dilakukan melalui desentralisasi,
keterbukaan, profesionalitas, pelayanan prima, efisiensi dan efektifitas dan
supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dengan demikian misi ke
enam ini telah mampu mengoperasionalkan semua prinsip-prinsip good governance.

109

Untuk mewujudkan misi enam ini, langkah selanjutnya adalah menurunkan


misi ke enam tersebut menjadi tujuan-tujuan yang semakin terperinci sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Atas dasar itu, maka tujuan yang ingin dicapai
dirumuskan sebanyak 3 yaitu:
1.

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik


Untuk dapat mencapai tujuan ini maka dirumuskan dua sasaran pembangunan
yaitu meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan, pengelolaan data dan
implementasinya. Sasaran yang pertama ini dilatarbelakangi oleh adanya aturan
tentang pengaturan pegawai sipil daerah yaitu Undang-Undang nomor 5 tahun
2014tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pada intinya menyatakan bahwa
Aparatur Sipil Negara terdiri dari (a). PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah warga
negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai
ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan dan (b). PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja)
adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat
berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintahan. Dengan pemberlakuan aturan ini membawa
konsekwensi terhadap perbedaan ASN yang meliputi tugas, hak dan kewajiban,
peran, jabatannya. Jabatan ASN yang ada meliputi adminsitrasi, fungsional dan
pimpinan tinggi. Jabatan administrasi meliputi jabatan adminsitrator, jabatan
pengawas, dan jabatan pelaksana. Jabatan Fungsional dalam ASN terdiri atas
jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan. Jabatan
Administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan
dengan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan.
Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas
berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan
keterampilan tertentu. Jabatan Pimpinan Tinggi terdiri atas: (a). jabatan
pimpinan tinggi utama; (b). jabatan pimpinan tinggi madya; dan (c). jabatan
pimpinan tinggi pratama. Jabatan Pimpinan Tinggi adalah sekelompok jabatan
tinggi pada instansi pemerintah.
Pemberlakuan Undang-Undang nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN) ini menuntut peningkatan kompetensi aparatur, maka untuk
mengantisipasinya pada misi enam pada tujuan satu dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang tahun 2014-2019 ini
ditetapkan dua sasaran yaitu: (a). meningkatnya kualitas perencanaan
pembangunan daerah, pengolah data, dan implementasinya. Untuk
mewujudkan sasaran tersebut, maka strategi yang disusun adalah
meningkatkan jumlah dan mutu aparatur perencana yang berkualitas dan
akuntabel. Sasaran itu dapat dicapai apabila kebijakan diarahkan kepada:
(1). Meningkatkan jabatan fungsional perencana, (2) meningkatkan
pemanfaatan teknologi dan informasi dalam perencanaan, dan pelaksanaan
pembangunan daerah, (3). Mengembangkan data dan statistik pembangunan

110

daerah, (4). Membuka layanan jaringan media partisipasi dan pengaduan publik
dalam perencanaan pembangunan daerah.
Sasaran kedua yaitu meningkatnya akuntabilitas kinerja birokrasi.
Memantapkan sasaran kedua ini, maka direncanakan dua strategi yaitu (a)
meningkatkan kinerja pelaksanaan pembangunan, keuangan daerah dan
pengelolaan aset, dan (b) meningkatkan kinerja pengawasan penyelenggaraan
pemerintah.
Strategi pertama ini akan dapat dicapai apabila kebijakan diarahkan pada:
(1) penataan struktur organisasi yang proporsional yaitu beban kerja yang
sesuai dengan TUPOKSI, (2) memaksimalkan pelaksanaan analisis jabatan dan
evaluasinya, (3) penerapan SOP di lingkup SKPD, (4). Meningkatkan kualitas
pelayanan administrasi kepegawaian yang transparan, cepat dan tepat, (5)
menyediakan anggaran untuk tunjangan daerah bagi PNSD. Arah kebijakan ini
selaras dengan program unggulan yang ke sepuluh yang ditawarkan oleh
walikota dan wakil walikota terpilih Kota padang priode 2014-2019, (6)
peningkatan pengetahuan dan keterampilan aparatur berbasis kompetensi, (7).
Meningkatkan pelayanan, pengelolaan, pelaporan keuangan daerah dan aset,
(8) mempertahankan opini BPK: WTP, (9) meningkatkan LAKIP (Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) sesuai dengan kebijakan
Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, dan (10). Meningkatkan EKPPD
(Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah) sesuai kebijakan
Kementerian Dalam Negeri.
Strategi kedua yaitu meningkatnya kinerja pengawasan penyelenggara
pemerintah daerah dapat ditempuh bila kebijakan diarahkan dengan
meningkatkan pengelolaan, pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah.
2.

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih


Untuk dapat mencapai tujuan ini, maka penting diketahui bahwa pemerintahan
yang bersih (clean government) terutama bersih dari korupsi, kolusi dan
nepotisme serta permasalahan lain yang terkait dengan pemerintahan. Ada
anggapan yang kuat bahwa mendahulukan clean government adalah lebih baik
dari pada good government dengan argumentasi bahwa untuk menciptakan
pemerintahan yang baik (good government) dalam diri birokrat itu terlebih
dahulu harus ada komitmen bersih (clean). Apabila hal yang demikian tidak
dilakukan, maka pemerintahan yang baik akan bernilai rendah atau malah tidak
akan berhasil. Atas dasar itulah maka untuk dapat menjadikan pemerintahan
yang baik haruslah terlebih dahulu clean government.
Tujuan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dapat dicapai
dengan menetapkan sasaran yaitu berkurangnya praktik KKN. Sasaran itu
kemudian diturunkan lagi menjadi dua strategi yaitu meningkatnya angka
indeks persepsi anti korupsi dan menerapkan sistem pengawasan internal.
Untuk dapat mencapai strategi satu ini maka kebijakan diarahkan pada dua hal
yaitu: penerapan Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB)

111

dan implementasi Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RADPK).


Sedangkan untuk mencapai strategi dua menerapkan sistem pengawasan
internal, maka kebijakan diarahkan pafa penerapan SPIP (Sistem Pengawasan
Internal Pemerintah) di seluruh SKPD.
3.

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang melayani


Untuk dapat mewujudkan tujuan ketiga ini perlu dipahami bahwa ada tuntutan
yang kuat agar peranan pemerintah semakin dikurangi sedangkan peran
masyarakat termasuk lembaga dunia usaha dan LSM semakin ditingkatkan dan
terbuka aksesnya. Tuntutan itu semakin kuat seiring dengan terjadi reformasi di
Indonesia yang dimulai tahun 1998 yang lalu. Pelayanan lebih baik dan
memuaskan publik menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh aparatur
pemerintahan. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah baik berupa sasaran,
strategi maupun arah kebijakan yang semakin terarah dengan melakukan
beberapa perubahan dan perbaikan kelembagaan dan tata kelola; kualitas
sumber daya manusia dan penerapan e government. Dengan demikian akan
tercapai pemerintahan yang dapat menjamin kepentingan pelayanan publik
secara seimbang dengan melibatkan kerjasama antar semua pemangku
kepentingan (pemerintah, masyarakat dan pihak swasta). Semua pemangku
kepentingan itu harus menjadi bagian sejajar yang saling mengetahui siapa
mengerjakan apa dan membuka ruang bagi dialog untuk saling memahami
perbedaan yang ada. Hal ini akan dapat menimbulkan sinergisitas dalam
pelaksanaan program tata kelola pemerintahan yang melayani. Masing-masing
pemangku kepentingan itu memiliki karakteristik tersendiri sehingga ketiganya
tidak akan mampu berdiri dan berkembang sendiri-sendiri.
Sekaitan dengan itu, maka untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang
melayani, maka perlu peningkatan pelayanan publik melalui reformasi birokrasi,
yaitu membangun transparansi atas semua informasi yang bebas, dimana
seluruh proses pemerintahan dan informasinya dapat diakses oleh semua pihak.
Diperlukan media komunikasi yang menjamin kelancaran informasi antar semua
pihak yang seiring dengan tuntutan terhadap aparatur pemerintahan dalam
berbentuk peningkatan kinerja sehingga akan dapat terwujud pelayanan prima
kepada masyarakat. Beberapa perubahan ke arah yang lebih baik perlu
dilakukan diantaranya mempercepat proses kerja, modernisasi administrasi
birokrasi melalui e government dengan memanfaatkan teknologi informasi,
yang dipercepat dengan keberadaan internet, sehingga terjadi peningkatan
pelayanan pemerintah kepada masyarakat, dan mempererat interaksi kalangan
bisnis.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dirangkumlah dalam suatu tabel yang


menggambarkan perwujudan misi ke enam menjadi tujuan, sasaran, strategi dan
arah kebijakan.

112

Tabel 6.6
Hubungan Antara Strategi dan Arah Kebijakan Pada Misi 6
Misi 6: Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik, Bersih Dan Melayani
Tujuan
1. Mewujudkan
Tata Kelola
Pemerintahan
yang baik

Sasaran
1. Meningkatnya
kualitas
perencanaan
pembangunan

2.Meningkatnya
akuntabilitas
kinerja birokrasi

Strategi

Arah Kebijakan

Mewujudkan
1. Meningkatkan pemanfaperencanaan berkualitas
atan teknologi dan indan akuntabel
formasi dalam perencanaan, dan pelaksana-an
pembangunan daerah
2. Mengembangkan data
statistik pembangunan
3. Membuka layanan
jaringan media
partisipasi dan
pengaduan publik dalam
perencanaan
4. Meningkatkan jabatan
fungsional perencana
1. Meningkatkan
1. Penataan Struktur orgakinerja pelaksanaan
nisasi yang proporsional
pembangunan,
(beban kerja sesuai
keuangan daerah
dengan tupoksi)
dan pengelolaan
2. Mengoptimalkan pelakaset
sanaan analisis jabatan
dan evaluasi jabatan
3. Penerapan SOP di
lingkup SKPD
4. Meningkatkan kualitas
pelayanan administrasi
kepegawaian yang
transparan, cepat dan
tepat
5. Menyediakan anggaran
khusus untuk tunjangan
daerah bagi PNS
6. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan
aparatur berbasis kompetensi
7. Meningkatkan pelayanan, pengelolaan &
pelaporan keuangan
daerah serta aset
8. Mempertahankan Opini
BPK: WTP
9. Meningkatkan kualitas
LAKIP
10. Meningkatkan EKPPD
2.Meningkatkan kinerja
Peningkatan pengelolaan
pengawasan penyepengawasan penyelenglenggaraan pemerintah garaan pemerintah daerah

113

3.

2.Mewujudkan
Tata Kelola
Pemerintahan
yang bersih

Menekan tindak
Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN) di
lingkungan
birokrasi

3.Mewujudkan
Tata Kelola
pemerintahan
yang melayani

Terwujudnya
pelayanan publik
yang berkualitas
(prima)

1.Meningkatkan angka
indeks persepsi anti
korupsi

1. Penilaian Mandiri
Pelaksanaan Reformasi
Birokrasi (PMPRB)
2. Implementasi Rencana
Aksi Daerah
Pemberantasan Korupsi
(RADPPK)
2.Menerapkan sistem
Penerapan SPIP (Sistem
pengawasan internal
Pengawasan Internal
Pemerintah) di SKPD
1.Meningkatnya kualitas 1.Mengoptimalkan pelayapelayanan publik melanan terpadu satu pintu
lui reformasi birokrasi
(PTSP) menggunakan
dan penerapan
sistem online
e-governance
2.Desentralisasi urusan
pemerintahan daerah

3.Peningkatan
pelayanan informasi
dan komunikasi

4.Peningkatan
pelayanan
pengendalian dan
penanggulangan
bencana

5.Peningkatan kualitas
dan kuantitas sarana
dan prasarana
pelayanan kesehatan

1.Pelaksanaan pelimpahan
kewenangan SKPD ke
Kecamatan/ Kelurahan
2.Meningkatkan dana
operasional kecamatan,
kelurahan
1.Peningkatan peran Tim
PPID (Pejabat Pengelola
Informasi Daerah)
2.Meningkatkan keterbukaan informasi dalam
penyelenggaraan
pemerintahan
3.Mengembangkan
teknologi informasi dan
aplikasinya
1.Meningkatkan cakupan
pelayanan pengendalian
dan penanggulangan
bencana
2.Meningkatkan peran
serta masyarakat dalam
kesiapsiagaan pengendalian dan penanggulangan bencana
1.Memberikan pelayanan
kesehatan gratis di
puskesmas/ RSUD
2.Memberikan pelayanan
ambulan gratis bagi
warga miskin
3.Melakukan penataan,
pembangunan sarana
dan prasarana kesehatan sebagai pelayanan
publik prima

114

6.Peningkatan kualitas
dan kuantitas sarana
prasarana
pengumpulan pajak
dan retribusi
7.Peningkatan kualitas
dan kuantitas sarana
dan prasarana
pelayanan

8.Penyerahan uang
santunan kematian
bagi keluarga yang
meninggal

Melakukan penataan,
pembangunan sarana dan
prasarana pengumpulan
pajak dan retribusi
sebagai pelayanan publik
prima
1. Peningkatan operasional
RW, RT menjadi 200%
2. Peningkatan
kesejahteraaan Garin
mesjid/ mushalla
menjadi 200%
3. Penciptaan layanan
keluhan peserta didik
dan pemangku
kepentingan lainnya
terhadap pendidikan
sebagai pelayanan
publik prima
Memberikan santunan
kematian sebanyak 1 juta
rupiah untuk warga Kota
Padang

115

BAB VII
KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Kebijakan umum pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD Kota


Padang periode 2014-2019 didasarkan pada analisis tentang tujuan, sasaran dan
strategi sebagaimana sudah diuraikan terdahulu pada Bab VI terdahulu.
Pembahasan juga dilakukan sesuai dengan masing-masing misi pembangunan yang
ditetapkan oleh kepala daerah. Sedangkan program pembangunan daerah yang
akan dilakukan ditetapkan untuk melaksanakan masing-masing kebijakan
pembangunan daerah yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini program pembangunan
daerah yang ditetapkan diupayakan secara lebih kongkrit sehingga memudahkan
penyusunan anggaran dan pelaksanaan dilapangan nantinya.
Untuk dapat menentukan seberapa jauh program pembangunan daerah
tersebut dapat mewujudkan kebijakan umum yang telah ditetapkan, perlu
ditetapkan indikator serta target kinerja yang dapat dihasil dari pelaksanaan
masing-masing program pembangunan yang sudah ditetapkan baik pada awal
maupun akhir dari periode perencanaan. Indikator dan target kinerja yang dijadikan
sebagai tolok ukur keberhasilan secara kongkrit dari pelaksanaan program
pembangunan daerah tersebut pada dasarnya adalah hasil (outcome) yang dapat
diberikan untuk masyarakat secara umum. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin
kesesuaian antara hasil dari pelaksanaan program dengan sasaran pembangunan
daerah yang diharapkan.

7.1. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Misi 1


Kebijakan umum dalam hal mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk
menghasilkan SDM yang beriman, kreatif dan berdaya saing, maka sasarannya
meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan yang mendorong tumbuhnya
sekolah kejuruan (vokasional), terjaganya kualitas moral dan ahklak pendidik,
peserta didik dari pengaruh lingkungan yang negatif dan meningkatnya kesiapan
SDM dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekononomi Asean) bagi masyarakat Kota
Padang. Disamping itu tenaga pendidik yang selalu memberikan dan
mensosialisasikan pada peserta didik yang ramah lingkungan, baik berperilaku
menjaga ramah lingkungan berupa pembuangan sampah pada tempatnya, selalu
menjaga hemat enegi, air dan sebagainya.
Agar tercapai hal tersebut, maka menerapkan kaidah good governance pada
penyelenggaraan urusan pendidikan, dasar, menengah dan perguruan tinggi.
Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana dan prasarana pendidikan yang belum
memadai. Meningkatkan kapasitas penyelenggara urusan pendidikan dan
menerapkan kebijakan pendidikan yang menyeluruh, terpadu dan merupakan solusi
terhadap masalah kota. Mengintegrasikan fungsi regulasi pendidikan dasar dan

116

menengah dan meningkatkan mutu lulusan pendidikan dasar dan menengah.


Memberikan perhatian khusus untuk pembiayaan penyelenggaraan operasional SMK
rujukan dan SMA rujukan dan agar lulusan semakin berkualitas dan mampu
menciptakan lulusan yang berjiwa kewirausahaan serta mampu berbahasa inggris.
Meminimalkan angka drop-out pendidikan dasar dan menengah, menjamin akses
keluarga miskin terhadap layanan pendidikan dasar dan menengah. Mengurangi
kesenjangan pelayanan pendidikan dengan daerah pinggiran kota, dan memfasilitasi
penataan infrastruktur di kawasan pendidikan dalam rangka meningkatkan daya
saing kota serta memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) urusan wajib
pendidikan.

117

Tabel 7.1.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk Misi 1
Mewujudkan Pendidikan yang Berkualitas untuk Menghasilkan SDM yang Beriman, Kreatif dan Berdaya Saing
No
(1)
1.

Sasaran
(2)
Terwujudnya
peningkatan kualitas
pendidikan

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
1. Meningkatkan kualitas
dan kompetensi peserta
didik dengan arah
kebijakan; Peningkatan
mutu lulusan pendidikan

2. Meningkatkan kualitas
dan kompetensi tenaga
pendidik dan tenaga
kependidikan serta kualitas
intitusi dengan arah
kebijakan:
a. Peningkatan pendidikan
tenaga pendidik dan
kependidikan
b. Memperbaiki akreditasi
institusi dan program
studi
c. Meningkatkan tata kelola
pendidikan yang
berkualitas

Indikator Kinerja
(output / outcome)
(4)
Jumlah penduduk usia
sekolah yang bersekolah

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(5)
136.090

(6)

Program
Pembangunan
(7)

197.000 Program Wajib Belajar


Pendidikan 12 Tahun

Persentase tamatan SMA


diterima di perguruan tinggi

60%

85%

Persentase tamatan SMK


diterima pada DU/DI

30%

55%

Persentase tenaga pendidik


dan kependidikan yang
memenuhi standar
kualifikasi dan kompetensi

20%

75%

Persentase pendidikan non


formal terakreditasi

75%

93%

Bidang
Urusan

SKPD
Penanggung
Jawab

(8)

(9)

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program Peningkatan
Mutu Pendidik Dan
Tenaga Kependidikan

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program Pendidikan
Non Formal

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program Manajemen
Pelayanan Pendidikan

Pendidikan Dinas Pendidikan

118

No

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan

Indikator Kinerja
(output / outcome)

(3)

(4)

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
Awal
Akhir

Program
Pembangunan

SKPD
Penanggung
Jawab

(8)

(9)

(5)

(6)

3. Meningkatkan kualitas
Persentase sekolah yang
sarana dan prasarana
memiliki sarana prasarana
pendidikan dengan arah
yang memadai
kebijakan:
a. Meningkatkan kualitas
gedung, laboratorium,
perpustakaan dan
sarana ibadah sekolah
serta lingkungan sekolah
b. Mengembangkan
jaringan kerjasama
dengan stakeholders
c. Mengembangkan dan
mengupdate kurikulum
sekolah

100%

100%

4. Memantapkan
pelaksanaan Wajib Belajar
12 Tahun untuk warga
Kota Padang dengan arah
kebijakan:
a. Pengembangan Sekolah
Gratis untuk Wajar 12
Tahun
b. Meningkatkan budaya
baca tulis masyarakat
c. Meningkatkan pelayanan
pendidikan mengacu
kepada standar
pendidikan nasional

109,2
93,18
86,45

102,01
112,15
98,03

Program Wajib Belajar


Pendidikan Dasar 12
Tahun

Pendidikan Dinas Pendidikan

46

60

Program Manajemen
Pelayanan Pendidikan

Pendidikan Dinas Pendidikan

0
0
1
0

2
1
2
1

Program Pelayanan
Administrasi
Perkantoran

Pendidikan Dinas Pendidikan

56

75

APK-SD
APK-SLTP
APK-SLTA
Jumlah sekolah kejuruan
negeri dan swasta
Jumlah SMK:
Teknik,
Boga,
Bisnis,
Seni
Jumlah SMA/ SMK/ MA
bersertifikat ISO

(7)

Bidang
Urusan

Program Peningkatan
Sarana dan Prasarana
Aparatur

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program
Pendidikan Dinas Pendidikan
Pengembangan Budaya
Baca dan Pembinaan
Perpustakaan

Program Peningkatan
Disiplin Aparatur

Pendidikan Dinas Pendidikan

119

No

Sasaran

Strategi dan
Arah Kebijakan

(1)

(2)

(3)

Indikator Kinerja
(output / outcome)
(4)

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(5)

(6)

Program
Pembangunan

Bidang
Urusan

SKPD
Penanggung
Jawab

(7)

(8)

(9)

Program Peningkatan
Pendidikan Dinas Pendidikan
Kapasitas Sumber Daya
Aparatur

2.

Meningkatnya
pemerataan pendidikan
dan mendorong
tumbuhnya sekolah
kejuruan (vokasional)

1. Memperluas jangkauan
pemerataan pendidikan
dan mendorong pengembangan sekolah vokasional
dengan arah kebijakan;
a. Perluasan jangkauan
pemerataan sarana
pendidikan
b. Pemerataan distribusi
guru
c. Pengembangan sekolah
vokasional berbasis
sumber daya lokal
d. Mendorong penciptaan
wirausahawan muda
e. Mendorong peningkatan
pemahaman dan
penerapan IPTEK tepat
guna

Rasio guru murid per kelas:


SD,
SLTP
SLTA
Rasio ketersediaan sekolah/
penduduk usia sekolah

1:16
1:13
1:26

1:15
1:20
1:25

Program Peningkatan
Pengembangan Sistem
Pelaporan Capaian
Kinerja dan Keuangan

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program
Pengembangan Data
dan Informasi

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD)

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program Pendidikan
Non Formal

Pendidikan Dinas Pendidikan

120

No

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)

Indikator Kinerja
(output / outcome)
(4)

2. Menghindarkan siswa
Persentase anak
putus sekolah dengan arah berkebutuhan khusus yang
kebijakan; Memberikan
memperoleh pendidikan
bantuan biaya pendidikan
3.

Terjaganya kualitas
moral dan akhlak peserta
didik dari pengaruh
lingkungan yang negatif;

Mendekatkan akses infor- Jumlah kasus kenakalan


masi nilai-nilai agama dan pelajar
budaya dan meningkatkan
pendidikan karakter serta
sekolah berasrama
(Boarding School), dengan
arah kebijakan;
a. Menyediakan media
informasi yang bernilai
agama dan budaya
Minangkabau pada areal
publik
b. Penyamaan kesempatan
bagi anak berpendidikan
khusus (disable) untuk
menempuh pendidikan
normal
c. Meningkatkan
pendidikan karakter
melalui sekolah
berasrama peserta didik

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(5)

(6)

60%

90%

Program
Pembangunan
(7)

Bidang
Urusan

SKPD
Penanggung
Jawab

(8)

(9)

Program Pemberian
Beasiswa

Pendidikan Dinas Pendidikan

Program Pendirian
Boarding Schools

Pendidikan Dinas Pendidikan

121

No
(1)
4.

Sasaran
(2)
Meningkatnya kesiapan
peserta didik dalam
menghadapi MEA

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)

Indikator Kinerja
(output / outcome)
(4)

Meningkatkan kemampuan Persentase sekolah yang


peserta didik dalam
menerapkan berbahasa
menggunakan Bahasa
Inggris di sekolah
Inggris dan meningkatkan
ketahanan budaya lokal
dengan arah kebijakan;
a. Meningkatkan
penggunaan Bahasa
Inggris di sekolah
b. Menambah koleksi
perpustakaan yang
berbahasa Inggris
c. Meningkatkan
pendidikan
kewarganegaraan
untuk membangun
nasionalisme

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(5)

(6)

Program
Pembangunan
(7)
Program Pendidikan
Non Formal

Bidang
Urusan

SKPD
Penanggung
Jawab

(8)

(9)

Pendidikan Dinas Pendidikan

122

7.2. Kebijakan dan Program Pembangunan Misi 2


Untuk dapat mewujudkan Kota Padang sebagai pusat perdagangan wilayah
Sumatera Bagian Barat, maka kebijakan pembangunan daerah diarahkan pada:
1. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perdagangan
2. Peningkatan Kualitas SDM Pelaku usaha, pengelola dan lembaga Pengelola
Perdagangan
3. Menjaga iklim persaingan yang kondusif
4. Penguatan regulasi penjaminan mutu barang dan peningkatan keamanan
serta kenyamanan di kawasan perdagangan
5. Peningkatan kuantitas dan kualitas serta keanekaragaman komoditi
perdagangan
6. Memperluas networking (jejaring) perdagangan
7. Peningkatan fasilitas pelayanan usaha (service bussines)
8. Perbaikan iklim investasi sector perdagangan
9. Pengembangan SIDA (Sistem Inovasi Daerah)
10. Pengembangan Teknopark dan pusat alih tekhnologi
Peningkatan fasilitas pasar baik untuk pengembangan pasar moderen dan
tradisional sangat penting artinya untuk mendorong terwujudnya Kota Padang
sebagai pusat kegiatan perdagangan untuk wilayah pantai Barat Sumatera. Untuk
keperluan ini, maka program pembangunan untuk peningkatan fasilitas pasar dalam
Kota Padang perlu terus dilakukan. Upaya perbaikan dan pengembangan pasar
Raya Padang harus menjadi prioritas utama, demikian juga halnya Pasar Kampung
Jawa, bersamaan dengan hal ini peningkatan fasilitas pasar pembantu (satelit)
lainnya juga perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan pelayanan terhadap
konsumen untuk seluruh wilayah pemukiman yang telah ada. Serta penataan
terhadap pasar-pasar pagi yang jumlahnya semakin banyak pasca gempa tahun
2009.
Program kegiatan yang menjadi prioritas dalam mencapai visi 2 adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Pengembangan sarana dan prasarana Perdagangan


Pengembangan dan Perluasan Pangsa Pasar
Penetapan dan penataan kawasan pergudangan
Pembinaan Pelaku usaha dan perluasan jaringan usaha
Pendataan, pembinaan dan penataan PKL
Peningkatan efisiensi dan daya saing produk perdagangan
Peningkatan dan promosi investasi perdagangan
Peningkatan system penjaminan mutu barang
Pengembangan PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu)
Pengembangan SIDA, Padang Tekhnopark dan Pemanfaatan TTG

123

Tabel 7.2.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk Misi 2
Menjadikan Kota Padang Sebagai Pusat Perdagangan Wilayah Barat Sumatera
No.

Sasaran

Strategi dan
Arah Kebijakan

(1)
(2)
(3)
1. Meningkatnya volume 1. Meningkatkan kualitas
transaksi perdagangan sarana dan prasarana
barang dan jasa;
perdagangan
Melalui arah kebijakan
a. Peningkatan kualitas
prasarana dan sarana
perdagangan
b. Peningkatan kualitas SDM
dan lembaga pengelola
perdagangan
c. Penyediaan dan
Peningkatan fasilitas
pergudangan

Indikator Kinerja
(output / outcome)
(4)
Persentase peningkatan
nilai ekspor
Volume perdagangan dalam
negeri (Rupiah)

Target Kinerja
SKPD
Bidang
Penanggung
Kondisi Kondisi Program Pembangunan
Urusan
Jawab
Awal
Akhir
(5)
(6)
(7)
(8)
(1)
20,36%
25% Pengembangan sarana dan Perdagangan Dinas Pasar
prasarana Perdagangan
Pengembangan sarana dan Perdagangan Dinas Pasar
prasarana pasar
Program kelengkapan
Perdagangan Dinas Pasar
pengembangan sarana dan
prasarana pasar
Program peningkatan
kualitas pelaku usaha
perdagangan

Perdagangan Dinas Perindagtamben

Program Sarana dan


Perdagangan Dinas Pasar
Prasarana Kebersihan pasar

124

2. Meningkatkan Kualitas
SDM Pelaku Usaha
Perdagangan
Melalui arah kebijakan:
a. Pendataan dan penataan
pelaku usaha
perdagangan
berdasarkan karakteristik
usaha.
b. Peningkatan Pembinaan
dan pelatihan usaha bagi
pelaku usaha
perdagangan
3. Meningkatkan effisiensi
dan daya saing kegiatan
perdagangan barang dan
jasa.
Melalui arah kebijakan:
a. Menjaga iklim persaingan
yang kondusif
b. Penguatan regulasi
penjaminan mutu barang
c. Peningkatan keamanan
dan kenyamanan di
kawasan perdagangan

20,36

25

Program Pembinaan PKL


dan Asongan

Perdagangan Dinas Perindagtamben

Program Peningkatan
Efisiensi Perdagangan
Domestik

Perdagangan Dinas Perindagtamben

Program Perlindungan
Perdagangan Dinas Pasar
Konsumen dan
Pengamanan Perdagangan

125

2.

Meningkatnya
kontribusi sektor
perdagangan dalam
perekonomian Kota
Padang

Mendorong peningkatan
aktivitas perdagangan,
melalui arah kebijakan:
a. Peningkatan skala usaha
perdagangan
b. Penganekaragaman
komoditi perdagangan
c. Peningkatan kuantitas
dan kualitas komoditi
perdagangan
d. Memperluas networking
(jejaring)
e. Peningkatan fasilitas
pelayanan usaha (service
bussines)

Persentase kontribusi sektor


perdagangan terhadap
PDRB
Persentase pertumbuhan
sektor perdagangan

45%

5,95%

75%

Peningkatan fasilitasi
pengembangan usaha
perdagangan

Perdagangan Dinas Perindagtamben

7,27% Pengembangan PLUT


(Pusat Layanan Usaha
Terpadu)

Dinas Pasar dan


Perindagtamben

Program Pelayanan
Administrasi Perkantoran

Dinas Pasar dan


Perindagtamben

Program Peningkatan
Sarana dan Prasarana
Aparatur

Dinas Pasar dan


Perindagtamben

Program Peningkatan
Disiplin Aparatur

Dinas Pasar dan


Perindagtamben

Program Peningkatan
Kapasitas Sumber Daya
Aparatur

Dinas Pasar dan


Perindagtamben

Program Peningkatan
Pengembangan Sistem
Pelaporan Capaian Kinerja
dan Keuangan

Dinas Pasar dan


Perindagtamben

126

7.3. Kebijakan dan Program Pembangunan Misi 3


Sebagai salah satu daerah tujuan wisata potensial di Sumatera Barat, Kota
Padang mencanangkan pembangunan sektor kepariwisataan dan pelestarian
kebudayaan alam Minangkabau sebagai salah satu sektor unggulan pembangunan
Pantai Barat Pulau Sumatera, mempunyai potensi yang cukup besar terutama di
bidang kepariwisataan.
Potensi pariwisata Kota Padang cukup menjanjikan, namun belum terkelola
secara optimal sampai saat ini. Objek wisata yang ada selain belum dilengkapi
dengan sarana dan prasarana yang memadai juga masih terfragmentasi
pengembangannya. Objek-objek wisata belum dikemas sebagai satu kesatuan
produk wisata yang bisa dinikmati wisatawan dalam satu rangkaian perjalanan yang
menyenangkan. Hal ini menyebabkan tingkat kunjungan wisata di Kota Padang
masih rendah. Di sisi lain, dilihat dari sarana dan jasa pendukung wisata di Kota
Padang cukup memadai. Pemerintah Kota Padang secara bertahap telah mulai
membenahi dan membangun sarana dan prasarana penunjang parawisata yang
tersebar pada beberapa lokasi di Kota Padang, seperti kawasan sepanjang Pantai
Padang, Kawasan Pantai Aie Manih, Kawasan Pelabuhan Muara dengan Jembatan
Siti Nurbaya.
Sesuai dengan misi ke tiga Walikota Padang menjadikan Kota Padang
Sebagai Daerah Tujuan Wisata yang nyaman dan berkesan dengan program
unggulan pada poin ke tiga merevitalisasi objek wisata Kota Padang menjadi wisata
keluarga dan konvensi yang layak dan ramah, untuk itu pembangunan dunia
kepariwisataan di Kota Padang dengan membuat rencana program seoptimal
mungkin dengan tiga pendekatan pokok.
1.

Pendekatan Kebijakan Multi Sektoral


Pendekatan kebijakan multi sektor yang dimaksud adalah Dinas Pariwisata,
Dinas Perhubungan, Dinas Pemukiman dan Prasarana wilayah, Dinas Pekerjaan
Umum, dinas-dinas/badan/lembaga sektoral lainya serta swasta, akan
memberikan kontribusi program pengembangan wisata sesuai dengan bidang
masing-masing. Hal ini disebabkan pengembangan pariwisata bersifat multi
disiplin dan multi sektor, keterlibatan sektor-sektor terkait merupakan suatu
keharusan. Kebijakan-kebijakan sektoral yang dikeluarkan tetap akan mengacu
pada karakteristik dari masing-masing wilayah/ kawasan/ objek pengembangan
menurut kriteria pengembangan pariwisata, baik dalam jangka waktu
pengembangan jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

2.

Pendekatan Kemasyarakatan
Pendekatan kemasyarakatan memandang wilayah sebagai satu kesatuan sosial
sebagai suatu perwujudan dan lingkungan masyarakat. Dalam penataan
pemanfaatan ruang dan pengimplementasian ragam budaya dan tata nilai
harus ditempat sebagai variabel yang penting dalam mendukung
pengembangan
wilayah.
Masyarakat
lokal,
institusi-institusi
lokal/

127

kemasyarakatan serta lembag-lembaga non pemerintah, merupakan faktor


yang berperan menentukan pengembangan wilayah masing-masing sesuai
dengan karakteristik pengembangannya
3.

Pendekatan Keruangan
Peran pemerintah kota, kecamatan dan kelurahan sebagai fasilitator dan
katalisator dalam pengembangan pariwisata di Kota Padang secara keruangan.
Koordinasi dalam lingkup keruangan sekaligus merupakan penentu terciptanya
keseimbangan pemanfaatan ruang antara usaha-usaha pembangunan dan
kelestarian. Demikian juga dengan pemerintah provinsi dan pusat, turut
memberi andil sehingga keselarasan unsur pembentuk wilayah yang meliputi
sumberdaya alam, sumber daya buatan dan sumberdaya manusia besrta
kegiatan yang mencakup kegiatan ekonomi, politik, sosial budaya dan
pertahanan yang seluruhnya berintegrasi membentuk wujud tata ruang
wilayah, baik yang direncanakan maupun tidak.

Pembangunan pariwisata dituntut untuk mengarah pada terwujudnya


tahapan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, untuk itu disusunlah
strategi, arah kebijakan, dan program pembangunan seperti terlihat pada Tabel 7.3.

128

Tabel 7.3.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk Misi 3
Menjadikan Kota Padang sebagai daerah tujuan wisata yang nyaman dan berkesan
Strategi dan
Arah Kebijakan

No.

Sasaran

(1)
1.

(2)
Tercapainya
peningkatan
rata-rata lama
tinggal wisata di
Kota Padang;

(3)
1. Meningkatkan kualitas akomodasi
penginapan dengan arah kebijakan
memberi kemudahan dan insentif
kepada pengusaha perhotelan.

Tercapainya
peningkatan
jumlah
kunjungan
wisata
nusantara dan
mancanegara

1. Membangun kelembagaan
pariwisata Kota Padang yang kuat
dan berkualitas dengan arah
kebijakan penetapan Peraturan
Daerah untuk pengelolaan
pariwisata; dan Pembenahan Pusat
Informasi Wisata (Tourist
Information Center) yang dilengkapi
dengan fasilitas teknologi informasi
terkini.

2.

Indikator Kinerja
(output/ outcome)
(4)
Rata-rata lama
tinggal (hari):
Wisman
Wisnus

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)
2,0
3,5

6,0
4,0

2. Menciptakan paket-paket wisata


yang menarik, kreatif, layak dan
ramah dengan arah kebijakan
menciptakan kondisi wisata keluarga
yang nyaman dan aman; dan
mendorong kesadaran masyarakat
dalam menciptakan objek wisata
yang religius yang layak dan ramah
Jumlah kunjungan
(orang):
Wisman
Wisnus

54.125
3.435.190

59.802
4.500.201

Program
Pembangunan Daerah
(7)
Program kemudahan
investasi

Bidang
Urusan
(8)
pariwisata

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Program pengembangan pariwisata


kemitraan

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Program Pengembangan Pariwisata


Produk Kepariwisataan
Daerah

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Program Pengembangan pariwisata


Pemasaran pariwisata

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

129

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
1. Mengembangkan even-even
wisata yang dapat meningkatkan
kunjungan wisatawan dengan arah
kebijakan melalui peningkatkan
even-even wisata yang berskala
nasional dan internasional yang
dapat meningkatkan kunjungan
wisata ke Kota Padang serta
menjalin kemitraan dengan pelaku
pariwisata

Indikator Kinerja
(output/ outcome)
(4)

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

2. Peningkatan jumlah dan


mengembangkan kualitas objek
wisata yang menarik bagi wisatawan
dengan arah kebijakan melalui
peningkatkan kualitas infrastruktur
kota yang dapat menunjang
kegiatan pariwisata; mendorong
pengembangan wisata konvensi
(Mice) yang layak dan ramah; serta
peningkatan kemampuan pemandu
wisata.
3.

Tercapainya
kondisi wisata
nyaman dan
berkesan

Peningkatan Keamanan, Kebersihan


dan Ketertiban (K3) objek wisata
dan peningkatan sarana dan
prasarana kepariwisataan dengan
arah kebijakan pemberdayaan
masyarakat untuk sadar wisata; dan
peningkatkan kualitas sarana
prasarana

(7)
(8)
Program Pengembangan Pariwisata
Pemasaran pariwisata

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Program pengembangan pariwisata


kemitraan

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Program Pengembangan pariwisata


Destinasi Pariwisata

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata,
dan
Dinas Pekerjaan
Umum

Program
Pembangunan Daerah

Bidang
Urusan

Program Pengembangan pariwisata


Kemitraan

Persentase kawasan
wisata yang
memenuhi standar

14

Program Pengembangan pariwisata


Kerjasama Pengelolaan
Kebudayaan

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata,
dan
Dinas Pekerjaan
Umum

Program Pembangunan
Jalan dan Jembatan

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata,
dan
Dinas Pekerjaan
Umum

pariwisata

Program Pengembangan pariwisata


Kemitraan

130

No.

Sasaran

(1)
4.

(2)
Terpelihara dan
lestarinya nilai
budaya berbasis
religius dan
tradisi lokal
yang berada di
kota Padang

Strategi dan
Arah Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(3)
1. Peningkatan pariwisata berbasis
kearifan lokal dan tradisi seni budaya
dengan arah kebijakan melalui
pengembangan seni tradisi budaya
yang dikemas dengan sentuhan
modern; Reorganisasi sanggar seni
tradisional yang dikelola secara
profesional dan berkelanjutan; dan
Peningkatan Kota Padang sebagai
tempat festival seni budaya di
tingkat nasional dan internasional

(4)
Jumlah bangunan
bersejarah dan
bangunan religi yang
berkondisi baik

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)
3
8

Program
Pembangunan Daerah

Bidang
Urusan

(7)
(8)
Program Pengembangan pariwisata
Kerjasama Pengelolaan
Kekayaan Budaya

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Jumlah sanggar
budaya yang aktif

91

101

Program Pembinaan Seni pariwisata


dan Budaya Daerah

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Jumlah even budaya


internasional yang
diikuti

Program Pengembangan pariwisata


Pemasaran Pariwisata

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Program Pengembangan pariwisata


Seni dan Budaya

Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata

Jumlah even budaya


skala nasional yang
diselenggarakan
2. Pengembangan wisata religius
dan Kota Tua dengan arah kebijakan
melalui pembinaan seni tradisional
bernuansa religius dan budaya
minangkabau; serta Pelestarian dan
pengembangan Wisata Kota Tua

131

7.4. Kebijakan dan Program Pembangunan Misi 4


Dalam upaya mewujudkan misi Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan maka dirumuskan kebijakan umum dan
program pembangunan yang akan diimplementasinya secara operasional oleh
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menjadi penanggung jawab dari setiap
program tersebut. Untuk itu ditetapkan sasaran, strategi dan arah kebijakan serta
program untuk mencapai misi yang menjadi tugas SKPD dalam melaksanakan
rencana pembangunan yang telah disusun dalam rangka mewujudkan misi ini
khususnya dan visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota Padang periode 2014-2019
pada umumnya.
Dalam rangka mewujudkan misi Meningkatkan kesejahteraan Masyarakat
dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, maka kebijakan pembangunan kota
Padang diarahkan pada:
1.

Pemberdayaan dan peningkatan penggunaan sumberdaya lokal seperti:


pengolahan bingkuang menjadi berbagai produk.
2. Pemberdayaan dan peningkatan peran kelompok usaha bersama.
3. Meningkatkan peran koperasi dan lembaga keuangan mikro
4. Meningkat pengetahuan dan keterampilan SDM Pelaku Usaha dan SKPD
Pengelola.
5. Memfasilitasi akses informasi usaha, promosi, kerjasama usaha dan
pemasaran.
6. Mendorong terciptanya wirausaha muda yang kreatif dan kompetitif.
7. Peningkatan bantuan usaha dan pemberdayaan masyarakat miskin.
8. Peningkatan akses masyarakat pada layanan dasar.
9. Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan sistem penjaminan social
masyarakat.
10. Peningkatan kemampuan pemanfataan dan penerapan tekhnologi tepat
guna.
Dalam rangka mendorong aktivitas ekonomi produktif dan peningkatan
suberdaya local, maka kota Padang yang merupakan wilayah dengan kawasan
pesisir pantai cukup panjang, harus mengembangkan dan memanfaatkan potensi
kelautan dengan hati-hati agar tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan bagi
pelaku usaha dan masyarakat tetapi juga tetap terjaga kelestarian dan kualitas
lingkungannya. Untuk itu program blue economy (ekonomi biru) harus mendapat
perhatian serius segenap pemangku kepentingan dan dapat diterapkan dengan
melibatkan partisipasi dan dukungan masyarakat, untuk itu program sosialisasi dan
peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas lingkungan di
kawasan pesisir akan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi
daerah.
Disamping kawasan pesisir, kota Padang juga memiliki kawasan pertanian
dengan aneka tanaman pertanian. Sebagai kawasan perkotaan tentunya perlu

132

diarahkan pengelolaan pertanian agar mampu menghasilkan produk untuk


mendukung ketahanan pangan dan peningkatan pendapatan pelaku usaha.
Sedangkan untuk dapat memperkuat ekonomi kerakyatan maka perlu
ditumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan bagi penduduk muda khususnya, agar
mampu menjadi pelaku usaha mandiri dengan memanfaatkan sumberdaya local dan
kearifan local. Hal penting lainnya dalam penguatan ekonomi kerakyatan adalah
mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif di kalangan masyarakat, untuk itu perlu
dilakukan berbagai program pemberdayaan dan pelatihan serta pembinaan.
Program pembangunan prioritas dalam mewujudkan misi 4 diantaranya
adalah:
1. Pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan dan pemanfaatan
sumberdaya lokal.
2. Pemberdayaan dan peningkatan kualitas kelembagaan Koperasi dan
Lembaga Keuangan Mikro.
3. Pembinaan dan pengembangan kewirausahaan bagi generasi muda dan
pemuda putus sekolah.
4. Perlindungan dan pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan.
5. Peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan secara inklusif.
6. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan lingkungan sehat.
7. Pengawasan kualitas obat dan makanan.
8. Standarisasi pelayanan kesehatan.
9. Pengembangan IKM kreatif berbasis sumber daya lokal.
10. Pembinaaan usaha dan peningkatan daya saing UMKM.
11. Pengembangan sentra usaha dan industri.
12. Pengembangan dan penerapan TTG bagi IKM dan UMKM.
Matriks lengkap tentang kebijakan umum dan program prioritas dalam
mewujudkan misi meningkatkan kesejahteraan dan pengembangan ekonomi
kerakyatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

133

Tabel 7.4.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk Misi 4
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi kerakyatan
No.
(1)
1.

Sasaran
(2)
Meningkatnya
kualitas ekonomi
masyarakat

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

Target Kinerja
Program Pembangunan
Bidang Urusan
Kondisi
Kondisi
Daerah
Awal
Akhir
(5)
(6)
(7)
(8)
20
30
Program Pengembangan
Industri
Umkm Berbasis Sumberdaya
Lokal
NA
NA
Program Pembinaan Kube
Koperasi dan UKM
dan Peningkatan Pendapatan

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Perindagtamben

Program Pengembangan
Sistem Pendukung Usaha
Bagi UMKM

Koperasi dan UKM

Dinas Koperasi &


UMKM

Program Peningkatan Kualitas Koperasi dan UKM


Kelembagaan Koperasi dan
Lembaga Keuangan Mikro
(LKM/KJKS)

Dinas Koperasi &


UMKM

Program Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja


dan Produktivitas Tenaga
Kerja

Dinas Sosnaker

Program Perlindungan dan


Pengembangan Lembaga
Ketenagakerjaan

Dinas Sosnaker

(3)
1. Meningkatkan
ekonomi masyarakat
berbasis sumberdaya
lokal, melalui arah
kebijakan:
a. Pemberdayaan dan
peningkatan
penggunaan
sumberdaya lokal.
b. Pemberdayaan dan
peningkatan peran
kelompok usaha
bersama.
c. Meningkatkan peran
koperasi dan lembaga
keuangan mikro.

(4)
Jumlah UMKM yang
aktif

2. Meningkatkan kualitas
SDM Pelaku Usaha,
melalui arah kebijakan:
a. Meningkatkan
pengetahuan dan
keterampilan SDM
Pelaku Usaha.

Jumlah wirausahawan muda baru

10.000

Jumlah unit usaha


Industri kecil (IKM)
yang aktif

852

900

Persentase Koperasi
yang aktif (lolos
Audit)

Tenaga Kerja

Dinas Koperasi &


UMKM

134

No.

Sasaran

(1)

(2)

2.

Berkurangnya
angka kemiskinan

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(3)
(4)
b. Memfasilitasi akses
Jumlah unit usaha
informasi usaha,
perdagangan Besar
promosi, kerjasama
usaha dan pemasaran.
c. Mendorong terciptanya
wirausaha muda yang
kreatif dan kompetitif.
1. Meningkatkan
Pendapatan masyarakat
miskin, melalui arah
kebijakan:
a.Peningkatan Program
Bantuan Usaha bagi
masyarakat Miskin.
b. Pemberdayaan
Kelompok usaha
Masyarakat Miskin.
c. Peningkatan akses
terhadap permodalan,
pemasaran dan
informasi usaha.
d. Menumbuhkembangkan usaha produktif
masyarakat miskin.

Persentase penduduk
miskin

Target Kinerja
Program Pembangunan
Bidang Urusan
Kondisi
Kondisi
Daerah
Awal
Akhir
(5)
(6)
(7)
(8)
142
175
Program Pengembangan
Koperasi dan UKM
Sistem Pendukung Usaha
bagi UMKM

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Koperasi &
UMKM

Program Pengembangan
Koperasi dan UKM
Kewirausahaan dan
Keunggulan Kompetitif UMKM

Dinas Koperasi &


UMKM

Pemberdayaan masyarakat
miskin, KAT dan PMKS
lainnya

Sosial

Sosial dan TKPKD

Koperasi dan UKM

TKPKD

5,30%

4,78%

Pengembangan sistem
pendukung usaha bagi
masyarakat miskin
Peningkatan keterampilan
usaha dan permodalan
masyarakat miskin

2. Meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat
miskin melalui arah
kebijakan:

1. Pembentukan dan
Pemberdayaan kelompok
usaha bersama (KUBE)
masyarakat miskin

a. Peningkatan Akses
Terhadap Pelayanan

2. Pengembangan sistem
pendukung usaha bagi

135

No.

Sasaran

(1)

(2)

3.

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(3)
Dasar masyarakat
miskin.
b. Peningkatan
keterampilan produktif
masyarakat miskin.

(4)

Meningkatnya
1. Meningkatkan kualitas Angka kematian bayi
kualitas kesehatan pelayanan kesehatan
masyarakat
masyarakat secara
Angka harapan hidup
inclusive, melalui arah
kebijakan:
% Balita gizi buruk
a. Meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan
primer secara gratis.
b.Meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan
masyarakat melalui
peningkatan status
RSUD dari Tipe C
menjadi Tipe B dan
BLUD.
c. Meningkatkan partisipasi
aktif masyarakat dalam
peningkatan kualitas
kesehatan dan
lingkungan.

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

2,2

2,0

71,2

72

0,06%

0,02%

Program Pembangunan
Daerah
(7)
masyarakat miskin Bintek
3. Peningkatan keterampilan
usaha dan permodalan
masyarakat miskin

Bidang Urusan
(8)

1. Peningkatan upaya
kesehatan
kesahatan masyarakat
2. Peningkatan pelayanan
kesehatan bagi semua
penduduk (inclusive)
3. Peningkatan perbaikan gizi
masyarakat
4. Peningkatan kesadaran
masyarakat menjaga
lingkungan sehat
5. Peningkatan pengawasan
obat dan makanan
6. Pelatihan Usaha Kesehatan
bagi Masyarakat
7. Pencegahan dan
penanggulangan penyakit
menular
8. Peningkatan Jaminan
Pelayanan kesehatan
JKN/BPJS

SKPD
Penanggung
jawab
(9)

Dinas Kesehatan

136

No.

Sasaran

(1)

(2)

4.

Strategi dan Arah


Kebijakan
(3)
2. Meningkatkan kualitas
dan pemerataan SDM
kesehatan, melalui arah
kebijakan:
a. Pemerataan,
pengembangan dan
pemberdayaan SDM
pelaksana pelayanan
kesehatan.
b.Penguatan jaringan
kerjasama dalam
pembangunan
kesehatan.

Meningkatnya
1. Meningkatkan kemampenyediaan
puan kewirausahaan,
lapangan kerja dan melalui arah kebijakan:
usaha
a. Meningkatkan peran
lembaga pelatihan
keterampilan dalam
pengembangan
kewirausahaan.
b. Mendorong
penumbuhan lapangan
usaha berbasis inovasi
dan ekonomi kreatif.

Indikator Kinerja
(output/ outcome)
(4)
Rasio paramedis/
puskesmas

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

Program Pembangunan
Daerah
(7)
1.Standarisasi Pelayanan
Kesehatan

Bidang Urusan
(8)

SKPD
Penanggung
jawab
(9)

2.Pelatihan dan pendidikan


SDM kesehatan sesuai
bidang keahlian
3. Pengembangan Kemitraan
peningkatan pelayanan
kesehatan masyarakat

Persentase
pengangguran
terbuka

13,99%

10%

1. Pengembangan Kewirausa- Koperasi dan UKM


haan dan keunggulan
kompetitif UMKM
2. Pendidikan kewirausahaan
bagi penduduk usia
produktif dan pemuda
putus sekolah
3. Pendampingan dan
pembinaan usaha bagi
penduduk usia produktif
dan putus sekolah
4. Pelatihan pengembangan
ekonomi kreatif bagi
penduduk usia produktif
dan putus sekolah
5. Klinik Konsultasi usaha bagi
pelaku usaha baru

Dinas Sosial Tenaga


Kerja

137

No.

Sasaran

(1)

(2)

5.

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(3)
2. Mendorong peningkatan investasi, melalui arah
kebijakan: Memfasilitasi
peningkatan investasi baik
dari dalam maupun luar
negeri dengan memberikan kemudahan dan
insentif

(4)

Meningkatnya
1. Pemberdayaan ekonokekuatan ekonomi mi masyarakat kawasan
kerakyatan
pertanian, melalui arah
kebijakan:
a. Meningkatkan pemberdayaan ekonomi rakyat
dalam rangka peningka
tan ketahanan pangan
& kesejahteraan
b. Mengembangkan sistem dan kelembagaan
pasar produk pertanian
c. Mengembangkan sentra produksi komoditi
pertanian unggulan
dengan menggunakan
pendekatan wilayah
dan kawasan.
d. Penerapan dan
Pengembangan
teknologi pertanian

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

Program Pembangunan
Daerah
(7)
1.Peningkatan Promosi dan
kerjasama investasi

Bidang Urusan
(8)

SKPD
Penanggung
jawab
(9)

2.Peningkatan Iklilm investasi


dan realisasi investasi
3.Pemberian insentif bagi
investasi penyerap tenaga
kerja dan sumberdaya lokal
Meningkatnya
pendapatan rata-rata
pelaku usaha
pertanian

NA

NA

Kontribusi sektor
pertanian dalam
PDRB

4,93%

5%

Pertumbuhan sektor
pertanian

5,22%

5,5%

1.Peningkatan Kesejahteraan Pertanian


Petani
2.Peningkatan Ketahanan
pangan masyarakat
3.Peningkatan kualitas dan
pemasaran hasil produksi

Dinas Pernakbunhut
Dinas Kelautan &
Perikanan
Dinas
Perindagtamben

138

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(3)
(4)
2. Pemberdayaan
Rata-rata pendapatan
ekonomi masyarakat
pelaku usaha
kawasan pesisir, melalui perikanan
arah kebijakan:
a. Mengembangkan
kontribusi sektor
gerakan pemberdayaan perikanan ADHB
ekonomi masyarakat
pesisir
b. Mengembangkan blue
economy (ekonomi biru)
c. Mengembangkan
kawasan minapolitan
3. Mengembangkan usaha
kecil dan menengah serta
usaha padat karya,
melalui arah kebijakan:
a. Meningkatkan daya
saing UMKM
b.Meningkatkan
penerapan teknologi
dalam berbagai aneka
usaha
c. Pembangunan dan
pengembangan sentra
ekonomi usaha mikro,
kecil dan menengah
d.Mengembangkan
jaringan kerjasama
usaha dalam dan luar
wilayah

Target Kinerja
Program Pembangunan
Bidang Urusan
Kondisi
Kondisi
Daerah
Awal
Akhir
(5)
(6)
(7)
(8)
NA
NA
1.Peningkatan Kesejahteraan Kelautan dan
Nelayan dan peternak ikan perikanan
3,42%

5%

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Kelautan &
Perikanan

2.Peningkatan kualitas dan


pemsaran hasil produksi
perikanan
3.Pemberdayaan masyarakat
pesisir untuk
pengembangan ekonomi
biru

1.Pengembangan
Kewirausahaan dan
keunggulan kompetitif
UMKM
2.Pengembangan
Kewirausahaan dan
keunggulan kompetitif
UMKM
3.Pendidikan kewirausahaan
bagi penduduk usia
produktif dan pemuda
putus sekolah
4.Pendampingan dan
pembinaan usaha bagi
penduduk usia produktif
dan putus sekolah
5.Pengembangan kawasan
dan sentra serta klaster
industri

UMKM

Diskop & UMKM

Industri

139

No.

Sasaran

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(1)

(2)

(3)

(4)

6.

7.

8.

Meningkatnya
volume
perdagangan
produksi kelautan
dan perikanan

Meningkatnya
industri usaha
kelautan dan
perikanan

Meningkatnya
pelaku usaha
industri KP yang
baru

Meningkatkan efisiensi
dan daya saing produk KP
dengan mendorong terjadinya temu bisnis dan
memperluas networking
antar pelaku usaha dan
perdagangan produk KP
dengan pembeli dari luar,
melalui arah kebijakan:
Peningkatan mutu produk
dan skala usaha KP dan
skala penguatan regulasi
penjaminan mutu produk
KP
Meningkatkan efisiensi
usaha industri KP dan
kapasitas SDM dengan
arah kebijakan melalui
peningkatan kapasitas
sarana dan prasarana
produksi bernilai
ekonomis

Nilai devisa dari


sektor KP
(Milyar/tahun)

Mengembangkan usaha
penangkapan di daerah
oceanic (laut lepas) dan
memanfaatkan lahan

Jumlah usahawan KP
yang baru (orang)

Jumlah eksportir
usaha KP (Orang)

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

92,5

114,44

10

15

Program Pembangunan
Daerah
(7)
6.Pengembangan jaringan
kerjasama lokal, nasional
dan internasional

Bidang Urusan
(8)

Program Peningkatan Daya


Kelautan dan
Saing Produk Hasil Perikanan perikanan
Program Pengembanagan
dan Pengelolaan Perikanan
Tangkap

SKPD
Penanggung
jawab
(9)

Dinas Kelautan dan


Perikanan, karantina
ikan, perhubungan,
perdagangan

Program pengembangan dan


Pengelolaan Perikanan
Budidaya

Jumlah industri hulu


usaha KP (Unit)

Program Peningkatan Daya


Kelautan dan
Saing Produk Hasil Perikanan perikanan

Jumlah industri hilir


usaha KP (UKM)

10

25

Program Pengembangan dan


Pengelolaan Perikanan
Tangkap

400

Program Pengembangan dan


Pengelolaan Perikanan
Budidaya
Program Optimalisasi
Kelautan dan
Pengelolaan dan Pemasaran perikanan
Produksi Perikanan

Dinas Kelautan dan


Perikanan

Dinas Kelautan dan


Perikanan,
perindustrian dan
perdagangan, PPS

140

No.

Sasaran

(1)

(2)

9.

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(3)
marjinal (rawa) dengan
arah kebijakan melalui
pengembangan kawasan
minapolitan, industrialisasi
dan blue economy
berbasis kelautan dan
perikanan

(4)

Memperbaiki sumberdaya
alam yang rusak dan
introduksi hewan langka
serta meningkatkan kualitas pengawasan sumber
daya kelautan dan perikanan dengan arah kebijakan melalui peningkatan
intensitas pengelolaan

Program Pembangunan
Daerah
(7)
Program Pengembanagan
dan Pengelolaan Perikanan
Tangkap

Bidang Urusan
(8)

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Bungus

Program Pengembangan dan


Pengelolaan Perikanan
Budidaya

Tercapainya tingkat Meningkatkan produksi KP Tingkat konsumsi


konsumsi ikan
dengan optimalisasi
ikan (Kg/kapita/thn)
perkapita/ tahun
potensi oceanic dan lahan
marjinal serta meningkatkan produksi pasca panen
agar terjadi penambahan
nilai (value added)
dengan arah kebijakan
mengutamakan penambahan armada untuk
eksploitasi dan memperluas pemanfaatan lahan
marjinal serta mendorong
industri pasca panen

10. Terpeliharanya
sumberdaya alam
KP dan biota
langka

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

Kawasan Konservasi
Laut Dalam yang
terpelihara dengan
baik (Ha)

31,05

35

Program Optimalisasi
Pengelolaan dan Pemasaran
Produksi Perikanan

Kelautan dan
perikanan

Dinas Kelautan dan


Perikanan, Dinas
Kesehatan, PKK/
DWP

Kelautan dan
perikanan

Dinas Kelautan dan


Perikanan, BPSPL,
KSDA, PU

Program Pengembangan dan


Pengelolaan Perikanan
Tangkap
Program Pengembangan dan
Pengelolaan Perikanan
Budidaya

1.861.81

1.861.81 Program Pengembangan


Potensi SDA Hayati, Pesisir,
Laut dan Pulau-Pulau Kecil
Program Pemberdayaan
Masyarakat dalam
Pengawasan SDKP

141

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan Arah


Kebijakan
(3)
kawasan konservasi dan
sumberdaya ikan serta
penguatan kelembagaan
pengawasan pada
masyarakat

Indikator Kinerja
(output/ outcome)
(4)

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

Program Pembangunan
Daerah
(7)
Program Pengembangan dan
Pengelolaan SDKP

Bidang Urusan
(8)

SKPD
Penanggung
jawab
(9)

11. Zero Complaint


Pemantapan SOP tentang
untuk pelayanan
pelayanan di sektor KP
kepada masyarakat dengan arah kebijakan
melalui peningkatan
pelayanan prima

Tingkat kepuasan
pelayanan dinas
(kasus) SIUP, SIPI,
SLO, SIKPI,SKA

Program Pengembangan dan Kelautan dan


Pengelolaan Perikanan
perikanan
Tangkap

Dinas Kelautan dan


Perikanan

12. Tercapainya
penurunan harga
pakan ikan

Persentase
penurunan harga
pakan

Program Pengembangan dan Kelautan dan


Pengelolaan Budidaya
perikanan

Dinas Kelautan dan


Perikanan, PT,
Pengusahan, dan
kelompok
masyarakat

Program Peningkatan
Kesejahteraan Petani

Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

13. Meningkatnya
kemampuan dan
pengetahuan
petani dalam
berusaha tani

Melanjutkan pengadaan
pakan buatan yang bermutu dan pabrik skala kecil dan menengah dengan
arah kebijakan melakukan
kerjasama dengan Perguruan Tinggi, pengusaha,
kelompok masyarakat
dalam menghasilkan
pakan ikan yang bermutu
Meningkatkan SDM petani

Persentase
peningkatan
pendapatan petani

Pertanian
Peternakan
Perkebunan

142

No.

Sasaran

(1)
(2)
14. Meningkatnya
produksi pertanian,
perkebunan dan
peternakan dalam
mendukung
ketahanan pangan

15. Meningkatnya
sarana prasarana
pendukung dalam
berusaha tani/
ternak

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

Target Kinerja
Program Pembangunan
Kondisi
Kondisi
Daerah
Awal
Akhir
(5)
(6)
(7)
55,26
55,55
Program Peningkatan/
Penerapan Teknologi
Pertanian/ Perkebunan
160
200
Program Peningkatan
Produksi Pertanian/
Perkebunan
240
800
Program Pemberdayaan
Penyuluhan Pertanian/
Perkebunan

(3)
1. Meningkatkan produksi
padi, palawija,
perkebunan, hortikultura,
melalui penerapan
teknologi spesifik lokasi,
peningkatan SDM petani
dan penyuluh lapangan,
optimasi lahan sawah,
pengendalian organisme
pengganggu tanaman,
demplot teknologi padi
salibu, optimalisasi peran
serta Komisi Pengawasan
Pupuk dan Pestisida (KP3)

(4)
Produktivitas padi
sawah (kwintal/Ha)

2. Meningkatkan produksi
peternakan melalui
penerapan teknologi tepat
guna, pencegahan dan
penanggulangan penyakit
ternak

Jumlah produksi (kg):


daging
6.482.270
telur
3.787.443
susu
37.296

Penyediaan sarana dan


prasarana pertanian, perkebunan dan peternakan
melalui pengadaan alat
mesin pertanian, penambahan Balai Penyuluhan
Pertanian, rehabilitasi
saluran irigasi tersier
(JITUT/JIDES)

Persentase
kecukupan sarana
dan prasarana
pendukung

Jumlah produksi
tanaman perkebunan
karet dan kakao (ton)
Jumlah produksi
tanaman perkebunan
kakao (ton)

Jumlah hand tractor


pada kelompok tani
(unit)

361

Program Peningkatan
8.202.797 Produksi Hasil Peternakan
4.792.323
47.191 Program Peningkatan
Penerapan Teknologi
Peternakan

Bidang Urusan
(8)
Pertanian
Perkebunan

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

Peternakan

Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

Program Peningkatan Sarana Pertanian


Prasarana Pertanian/
Peternakan
Peternakan/ Perkebunan
Perkebunan

Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

439

143

No.

Sasaran

(1)
(2)
16. Meningkatnya
pasca panen,
pengolahan dan
pemasaran hasil
pertanian,
perkebunan dan
peternakan

Strategi dan Arah


Kebijakan
(3)
1. Meningkatkan SDM
kelompok pengolahan
hasil pertanian melalui
demostrasi pengolahan
hasil pertanian, membangun jaringan pemasaran
dengan supermarket dan
hotel dan mengikuti promosi produk pertanian,
penyediaan alat pengolahan hasil pertanian

Indikator Kinerja
(output/ outcome)
(4)
Persentase hasil
pertanian,
perkebunan dan
peternakan yang
terolah

Target Kinerja
Kondisi
Kondisi
Awal
Akhir
(5)
(6)

3. Penyediaan sarana dan


prasarana Pasar Ternak
Meningkatkan pelayanan
kesehatan hewan melalui
vaksinasi, pengobatan,
dan pemusnahan anjing
liar

Bidang Urusan

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

(7)
Program Peningkatan
Pamasaran Hasil Produksi
Pertanian/ Perkebunan

(8)
Pertanian
Perkebunan

Program Peningkatan
Pemasaran Hasil Produksi
Peternakan

Peternakan

Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

Program Pencegahan dan


Penanggulangan Penyakit
Ternak

Peternakan

Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

Persentase hasil
olahan yang
dipasarkan melalui
supermarket

2. Meningkatkan SDM
kelompok pengolahan
hasil peternakan melalui
pelatihan pengolahan
hasil peternakan dan
mengikuti event promosi

17. Terkendalinya
penyakit menular
hewan

Program Pembangunan
Daerah

Persentase jumlah
penurunan kematian
hewan ternak

25%

65%

Persentase jumlah
penurunan kasus
gigitan anjing liar

30%

90%

144

No.

Sasaran

Strategi dan Arah


Kebijakan

Indikator Kinerja
(output/ outcome)

(1)
(2)
18. Terwujudnya
Rumah Potong
Hewan Kota
Padang yang
bersertifikat NKV

(3)
(4)
Penertiban pelaksanaan Jumlah RPH yang
kegiatan Rumah Potong bersertifikat NKV
Hewan melalui pembinaan
dan pengelolaan agar
menegakkan hygiene
sanitasi RPH sesuai SOP

19. Terpelihara dan


terjaganya
kawasan hutan dari
kerusakan dan
kebakaran hutan

1. Peningkatan daya
Persentase
dukung hutan sebagai
berkurangnya
kawasan penyangga
kerusakan hutan
(daerah resapan air)
dengan menggalakan
Persentase hutan dan
Hutan Kemasyarakatan, lahan kritis yang telah
mengoptimalkan
direhabilitasi (Ha)
konservasi hutan,
meningkatkan SDM
masyarakat disekitar
kawasan hutan, pengamanan hutan dan pengawasan peredaran hasil hutan.

Target Kinerja
Program Pembangunan
Kondisi
Kondisi
Daerah
Awal
Akhir
(5)
(6)
(7)
0
1
Program Pencegahan dan
Penanggulangan Penyakit
Ternak

Program Pemanfaatan
Potensi Sumber Daya Hutan
Program Rehabilitasi Hutan
dan Lahan

Bidang Urusan
(8)
Peternakan

Kehutanan

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

Dinas Pertanian
Peternakan
Perkebunan dan
Kehutanan

Program Perlindungan dan


Konservasi Sumberdaya
Hutan

2. Membangun hutan kota


Delta Malvinas sebagai
daerah resapan air di
perkotaan
3. Membangun Taman
Hutan Raya Bung Hatta
sebagai daerah rekreasi
wisata alam

145

7.5. Kebijakan dan Program Pembangunan Misi 5


Untuk mencapai sasaran pembangunan Misi 5 yang telah ditetapkan seperti
dikemukakan sebelumnya, maka strategi dan arah kebijakan yang akan dijalankan
adalah:
1.

Peningkatan kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan SKPD terkait, dalam
Penyediaan Peta dan informasi wilayah Resiko Bencana serta profesionalitas
aparatur Lembaga/SKPD terkait

2.

Meningkatkan kerjasama dalam penyediaan sarana prasana penanggulangan


bencana dan Meningkatkan Kualitas kuantitas sarana dan prasarana
penanggulangan bencana

3.

Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang antisipasi


bencana.

4.

Meningkatkan sarana dan prasarana evakuasi bencana.

5.

Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan


hidup.

6.

Meningkat pengawasan dan penegakan peraturan lingkungan hidup dalam


konservasi ekosistem.

7.

Intensifikasi pengawasan dan pentaatan peraturan lingkungan hidup dalam


pengelolaan pencemaran udara dan air

8.

Meningkatkan Kualitas sungai dan SDA melalui normalisasi sungai, jaringan


irigasi dan drainase.

9.

Peningkatan dan Penyediaan Sarana jalan melalui pembangunan baru dan


perbaikan jalan dan jembatan.

10. Meningkatkan sarana dan prasarana lingkungan pemukimanuntuk


meningkatkan pelayanan air bersih, sanitasi, dan drainase.
11. Meningkatkan pelayanan persampahan bekerja sama dengan Lembaga
Pengelola Sampah (LPS) dalam masyarakat
12. Meningkatkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah dan TPA
13. Meningkatkan jumlah Taman Kota dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
14. Meningkatkan peran swasta dalam penyedia an armada angkutan umum
masal.
15. Meningkatkan prasarana, sarana, dan fasilitas lalu lintas.
16. Memberlakukan regulasi yang tegas terhadap pelanggaran lalu lintas.
17. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian bangunan dan perumahan
melalui prosedur pengurusan IMB.
18. Meningkatkan pengendalian bangunan cagar budaya dan bersejarah dengan
menjaga bentuk arsitektur bangunan.
19. Melakukan rehabilitasi dan bedah rumah milik masyarakat tidak mampu.

146

20. Melakukan pembebasan dan penyediaan tanah sesuai peraturan yang tidak
merugikan pemilik lahan.
Untuk melihat saling keterkaitan antara kebijakan dan program
pembangunan dengan sasaran dan tujuan dari misi 5 seperti telah dijelaskan dalam
Bab VI akan dapat dilihat dalam Tabel 7.5 berikut ini. Di dalam tabel ini akan
digambarkan pula kondisi awal dan kondisi akhir yang dicapai dalam setiap program
yang ditetapkan.

147

Tabel 7.5.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk Misi 5
Menciptakan Kota Padang yang aman, bersih, tertib, bersahabat dan menghargai kearifan lokal
No.

Sasaran

(1)
(2)
1. 1. Meningkatnya sarana
dan prasarana
penanggulangan
bencana.

Strategi dan Arah Kebijakan


(3)
1. Peningkatan kerjasama dengan
Lembaga Penelitian dan SKPD
terkait, melalui Penyediaan Peta
dan informasi wilayah Resiko
Bencana serta profesionalitas
aparatur Lembaga/ SKPD terkait.

Target Kinerja
Indikator Kinerja
(output/ outcome) Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(4)
(5)
(6)
Persentase
100
kecukupan sarana
prasarana
penanggulangan
bencana

2. Meningkatkan kerjasama dalam


penyediaan sarana prasa-rana
penanggulangan bencana dan
Meningkatkan Kualitas kuantitas
sarana dan prasarana
penanggulangan bencana.
2. Meningkatnya kesiapsiagaan warga kota
dalam mengantisipasi
penanggulangan
bencana

3. Meningkatkan pemahaman dan


kesadaran masyarakat tentang
antisipasi bencana

Program Pembangunan
Daerah

Bidang
Urusan

SKPD
Penanggung
jawab

(7)
Program Peningkatan
Sarana dan Prasarana
Penanggulangan Bencana

(8)
Kebencanaan

(9)
BPBD & Damkar

Program Pencegahan Dini


Penanggulangan Bencana
Program Peningkatan
kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran
Program Sosialisasi
Kawasan Rawan Bencana

Jumlah kelompok
siaga bencana yang
terbentuk

4. Meningkatkan sarana dan


prasarana evakuasi bencana

148

No.

Sasaran

(1)
(2)
2. Meningkatnya kualitas
lingkungan hidup

Target Kinerja
Indikator Kinerja
(output/ outcome) Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(3)
(4)
(5)
(6)
1. Meningkatkan kesadaran
Menurunnya jumlah
22
15
masyarakat dalam menjaga kualitas pelanggaran aturan
lingkungan hidup.
lingkungan (kasus)
Strategi dan Arah Kebijakan

2. Meningkat pengawasan dan


penegakan peraturan lingkungan
hidup dalam konservasi ekosistem.
3. Intensifikasi pengawasan dan
pentaatan peraturan lingkungan
hidup dalam pengelolaan
pencemaran udara dan air
3.

1.Terkelolanya Sumber 1. Meningkatkan kualitas sungai


Daya Air dan
dan SDA melalui normalisasi
Drainase Perkotaan
sungai, jaringan irigasi dan
drainase.
2.Tersedianya
infrastruktur jalan
2. Peningkatan dan Penyediaan
raya yang aman
Sarana jalan melalui pembangunan
baru dan perbaikan jalan dan
3.Tersedianya sarana
jembatan.
dan prasarana
pemukiman
3. Meningkatkan sarana dan
prasarana lingkungan pemukiman
untuk meningkatkan pelayanan air
bersih, listrik, sanitasi, dan
drainase.

Indeks mutu:
air
udara
tanah

Program Pembangunan
Daerah

Bidang
Urusan

(7)
(8)
Program Pengendalian
Lingkungan
Pencemaran danKerusakan hidup
Lingkungan Hidup

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
Bapedalda

Program Penegakan
Hukum Lingkungan
Program Peningkatan
Pengendalian Polusi
Program Pengendalian dan
Pencemaran Kerusakan
Lingkungan

Persentase
penurunan titik
genangan air
Persentase jumlah
Jalan dan jembatan
dalam kondisi baik
Persentase
pemukiman dengan
sarana prasarana
yang memadai

Program Pengembangan
dan Pengelolaan Jaringan
Irigasi, Rawa dan
Pengairan lainnya

Pekerjaan
Umum

DPU

Program Pengembangan
Sistem Irigasi Partisipatif
Program Pembangunan
Jalan dan Jembatan
Program Rehabilitasi/
Pemeliharaan Jalan dan
Jembatan
Program Lingkungan Sehat
Perumahan

149

No.

Sasaran

(1)
(2)
4. 1.Meningkatnya sistem
pengelolaan persampahan, Ruang
Terbuka Hijau dan
Taman Kota

Strategi dan Arah Kebijakan


(3)
1. Meningkatkan pelayanan persampahan bekerja sama dengan
Lembaga Pengelola Sampah (LPS)
dalam masyarakat

Target Kinerja
Indikator Kinerja
(output/ outcome) Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(4)
(5)
(6)
Persentase tingkat
28,1
35,1
Pelayanan Sampah
(%)

Program Pembangunan
Daerah
(7)
Program Pengembangan
Kinerja Pengelolaan
Persampahan

Bidang
Urusan

SKPD
Penanggung
jawab

(8)
Pekerjaan
Umum.

(9)
DKP

Perhubungan

DISHUB
KOMINFO

Program Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau (RTH)

2. Meningkatkan sarana dan prasarana pengelolaan sampah dan TPA


3. Meningkatkan jumlah Taman
Kota dan Ruang Terbuka Hijau
(RTH)

Persentase luas RTH


terhadap luas daerah

2.Tersedianya jasa
pelayanan angkutan
kota yang cukup,
nyaman, lancar dan
murah ke seluruh
wilayah kota.

1. Meningkatkan peran swasta


dalam penyediaan armada angkutan umum masal

Persentase tingkat
kecukupan angkutan
kota yang memadai

3.Meningkatnya
keamanan dan
keselamatan lalu
lintas.

Memberlakukan regulasi yang tegas Persentase


terhadap pelanggaran lalu lintas.
penurunan
kecelakaan lalu lintas

2. Meningkatkan prasarana, sarana,


dan fasilitas lalu lintas.

NA

30,0

Program Pembinaan
Kegiatan Kebersihan dan
Sarana Pertamanan
Program Peningkatan
Sarana dan Prasarana Lalu
Lintas
Program Pembangunan
Prasarana dan Fasilitas
Perhubungan
Program Rehalibitasi Dan
Pemeliharaan Prasarana
Dan Fasilitas LLAJ
Program Peningkatan
Pelayanan Angkutan
Program Pengendalian dan
Pengamanan Lalu Lintas.

150

No.

Sasaran

(1)
(2)
5. Terlaksananya
penataan bangunan
dan perumahan sesuai
dengan rencana tata
ruang kota.

Strategi dan Arah Kebijakan


(3)
1. Meningkatkan pengawasan dan
pengendalian bangunan dan perumahan melalui prosedur pengurusan IMB.
2. Meningkatkan pengendalian
bangunan cagar budaya dan bersejarah dengan menjaga bentuk
arsitektur bangunan.
3. Melakukan rehabilitasi dan
bedah rumah milik masyarakat
tidak mampu.

4. Melakukan pembebasan dan


penyediaan tanah sesuai peraturan
yang tidak merugikan pemilik
lahan.

Target Kinerja
Indikator Kinerja
(output/ outcome) Kondisi Kondisi
Awal
Akhir
(4)
(5)
(6)
Persentase bangunan
yang ber-IMB
Persentase
kesesuaian bangunan
dengan RTRW

Program Pembangunan
Daerah
(7)
Program Pengendalian
Pemanfaatan Ruang

Bidang
Urusan
(8)
Urusan
Perumahan

SKPD
Penanggung
jawab
(9)
DTRTB & P

Program Pengembangan
Perumahan
Program Pemberdayaan
komunitas Perumahanya
0

5.000

Dinas Sosnaker

Program Penataan
Penguasaan, Pemilikan,
Penggunaan dan
Pemanfaatan Tanah

Pertanahan

Bagian
Pertanahan
SekKo

Program Penyelesaian
Konflik Pertanahan
Program Peningkatan
Kemampuan Administrasi
Pertanahan
Program Penyediaan
Tanah Untuk
Pembangunan

151

7.6. Kebijakan dan Program Pembangunan Misi 6


Sebagai kelanjutan penjelasan dalam Bab VI sebelumnya, maka pada bab 7
ini akan lebih terperinci menjelaskan bagian yang tidak dijelaskan pada Bab VI,
capaian kinerja yang mencantumkan kondisi awal dan target kondisi pada tahun
akhir perencanaan. Dilanjutkan dengan kolom tentang program pembangunan
daerah yang diperjelas lagi dengan bidang urusan serta SKPD pelaksananya. Pada
Bab VII ini dapat dikatakan bahwa ada kontiniunitas antara Bab VI sebelumnya
sehingga menjadi satu kesatuan antar dokumen perencanaan dalam RPJMD Kota
Padang tahun 2014-2019.

152

Tabel 7.6.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah untuk Misi 6
Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan melayani
No.
(1)
1.

Sasaran
(2)
Meningkatnya kualitas
perencanaan
pembangunan

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
Mewujudkan perencanaan
berkualitas dan akuntabel
dengan:
a. Meningkatkan pemanfaatan teknologi dan
informasi dalam
perencanaan dan
pelaksanaan
pembangunan daerah.
b. Mengembangkan data
statistik pembangunan.
c. Membuka layanan
jaringan media partisipasi
& pengaduan publik
dalam perencanaan.
d. Meningkatkan jabatan
fungsional perencana

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)
Persentase SKPD yang
Renstranya sinkron
dengan RPJMD
Persentase kesesuaian
Renja SKPD dengan
Renstranya
Persentase kesesuaian
RKPD dengan RPJMD
Persentase aspirasi
masyarakat yang
terakomodir dalam APBD
Persentase SKPD yang
memiliki fungsional
perencana

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
awal
akhir
(5)
(6)

Program
Pembangunan Daerah

Bidang Urusan

SKPD
Pelaksana

(7)
Peningkatan kapasitas egovernment

(8)
Semua urusan

(9)
Semua SKPD

Pembaharuan data &


statistik pembangunan

Statistik dan
perencanaan
pembangunan

Bappeda dan
statistik

Pengembangan karir
aparatur fungsional &
perencana

Otonomi daerah,
pemerintahan umum,
administrasi keuangan
daerah, perangkat
daerah, kepegawaian
dan persandian

Seluruh SKPD

Pelatihan teknis aparatur

Perencanaan
pembangunan

Seluruh SKPD

Perencanaan
pembangunan

Bappeda

Proses upload dokumen


perencanaan dalam
website

153

No.
(1)
2.

Sasaran
(2)
Meningkatnya
akuntabilitas kinerja
birokrasi

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(3)
(4)
1. Meningkatkan kinerja
Nilai akuntabilitas kinerja
pelaksanaan pembangunan, pemerintah kota
keuangan daerah dan
pengelolaan aset yang
Persentase SKPD yang
dilakukan melalui arah
mendapat Nilai
kebijakan:
akuntabilitas kinerja baik
a. Penataan struktur
organisasi yang
Persentase SKPD yang
proporsional (beban kerja menerapkan SOP
sesuai dengan TUPOKSI).
b. Mengoptimalkan
Jumlah sistem informasi
pelaksanaan analisis dan yang telah terintegrasi
evaluasi jabatan.
c. Penerapan SOP di lingkup
SKPD.
d. Meningkatkan kualitas
pelayanan administrasi
kepegawaian yang
transparan, cepat dan
tepat.
e. Menyediakan anggaran
khusus untuk tunjangan
daerah bagi PNS
(program 10).
f. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan
aparatur berbasis
kompetensi.
Strategi dan
Arah Kebijakan

Target Kinerja
Program
Kondisi Kondisi
Pembangunan Daerah
awal
akhir
(5)
(6)
(7)
CC
B
Penyempurnaan
Penyusunan database
aparatur
100

Penilaian kinerja secara


berkala dan teratur

Bidang Urusan

SKPD
Pelaksana

(8)
(9)
Otonomi daerah,
Bagian
pemerintahan umum, Organisasi
administrasi keuangan
daerah, perangkat
daerah, kepegawaian
dan persandian
Setiap SKPD

Setiap SKPD

Penilaian kinerja secara


berkala dan teratur

Otonomi daerah,
Bagian
pemerintahan umum, Organisasi
administrasi keuangan
Peningkatan pelaksanaan daerah, perangkat
BKD
analisis & evaluasi jabatan daerah, kepegawaian
dan persandian
Penerapan SOP di lingkup Setiap SKPD
SKPD

Seluruh SKPD

Pemanfaatan teknologi
Otonomi daerah,
BKD
informasi dalam
pemerintahan umum,
administrasi kepegawaian administrasi keuangan
daerah, perangkat
daerah, kepegawaian
dan persandian

154

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
g. Meningkatkan pelayanan,
pengelolaan dan
pelaporan keuangan
daerah serta aset.
h. Mempertahankan Opini
BPK: WTP
i. Meningkatkan kualitas
LAKIP.
j. Meningkatkan EKPPD
2. Meningkatkan kinerja
pengawasan penyelenggaraan pemerintah yang
diarahkan kebijakannya
pada: peningkatan pengelolaan pengawasan penyelenggaraan pemerintah
daerah

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
awal
akhir
(5)
(6)

Program
Pembangunan Daerah
(7)
Pelatihan pembentukan
integritas aparatur
sebagai public service

Bidang Urusan
(8)
Setiap SKPD

SKPD
Pelaksana
(9)
Setiap SKPD

Penetapan kepastian/
Otonomi daerah,
BKD
lama proses pengurusan
pemerintahan umum,
administrasi kepegawaian administrasi keuangan
daerah, perangkat
Penetapan anggaran
daerah, kepegawaian BKD
tunjangan daerah
dan persandian
Pelatihan teknis aparatur
pemerintahan

Setiap SKPD

Peningkatan pelayanan,
pengelolaan & pelaporan
keuangan daerah serta
aset

Otonomi daerah,
Seluruh SKPD
pemerintahan umum,
administrasi keuangan
daerah, perangkat
daerah, kepegawaian
dan persandian
Bagian Umum

Pendataan aset daerah


Penyelesaian tindak lanjut
temuan hasil audit
Peningkatan penerapan
LAKIP & EKPPD
Peningkatan kinerja
pengawasan
penyelenggaraan
pemerintah daerah

Setiap SKPD

Inspektorat
Otonomi daerah,
Sekretariat
pemerintahan umum, Daerah
administrasi keuangan
daerah, perangkat
Inspektorat
daerah, kepegawaian
dan persandian

155

No.
(1)
3.

Sasaran
(2)
Menekan tindak
Korupsi, Kolusi &
Nepotisme (KKN) di
lingkungan birokrasi

Strategi dan
Arah Kebijakan

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)
Opini BPK

(3)
1. Meningkatkan angka
indeks persepsi anti korupsi
yang diarahkan kebijakannya: Persentase penyelesaian
a. Penilaian Mandiri
tindak lanjut temuan
Pelaksanaan Reformasi
hasil audit
Birokrasi (PMPRB).
b. Implementasi Rencana
Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RADPPK).

Target Kinerja
Program
Kondisi Kondisi
Pembangunan Daerah
awal
akhir
(5)
(6)
(7)
WDP
WTP
Peningkatan penerapan
PMPRB
90%
95%
Peningkatan penerapan
RADPPK

Bidang Urusan
(8)

SKPD
Pelaksana
(9)
Inspektorat

Peningkatan penerapan
SPIP

2. Menerapkan sistem pengawasan internal dengan


arah kebijakan penerapan
SPIP (Sistem Pengawasan
Internal Pemerintah)
4.

Terwujudnya
pelayanan publik yang
berkualitas prima

1. Meningkatnya kualitas
pelayanan publik melalui
reformasi dan penerapan egovernment yang diarahkan
kebijakannya dengan mengoptimalkan pelayanan terpadu satu pintu (BPMP2T)
menggunakan sistem online

Persentase pelayanan
yang sudah satu pintu
Indeks Kepuasan
Masyarakat
Persentase pelayanan
yang telah menggunakan sistem informasi

Peningkatan pelayanan
satu pintu BPMP2T
80

88

Peningkatan penerapan
SPM dan SPP

Peningkatan pelayanan
barang dan jasa secara
elektronik

Otonomi daerah,
pemerintahan umum,
adminis trasi
keuangan daerah,
perang kat daerah,
kepegawaian dan
persandian
Semua urusan

BPMP2T
Semua SKPD

LPSE

156

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
2. Desentralisasi urusan
pemerintah daerah dengan
kebijakan:
a. Pelaksanaan pelimpahan
kewenangan SKPD ke
Kecamatan/kelurahan.
b. Meningkatkan dana
operasional kecamatan/
kelurahan (program 8).
3. Peningkatan pelayanan
informasi dan komunikasi
arah kebijakan:
a. Peningkatan peran tim
PPID.
b. Meningkatkan keterbukaan informasi dalam
penyelenggaraan
pemerintahan.
c. Mengembangkan
teknologi informasi dan
aplikasinya.

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
awal
akhir
(5)
(6)

Program
Pembangunan Daerah
(7)
Peningkatan dana
operasional kecamatan/
kelurahan

Bidang Urusan

SKPD
Pelaksana

(8)
Pemberdayaan
masyarakat dan
kelurahan

(9)
Bagian
pemerintahan

Pemberdayaan
masyarakat dan
kelurahan

Bagian
pemerintahan,
kecamatan,
kelurahan

Komunikasi dan
informasi

Dishubkominfo

Peningkatan keterbukaan Komunikasi dan


informasi dalam penyeinformasi
lenggaraan pemerintahan

Dishubkominfo

Pengembangan teknologi
informasi dan aplikasinya

Dishubkominfo

Peningkatan peran tim


PPID

Komunikasi dan
informasi

157

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
4. Peningkatan pelayanan
pengendalian dan penanggulangan bencana, dengan
arah kebijakan:
a. Meningkatkan cakupan
pelayanan pengendalian
& penanggulangan
bencana.
b. Meningkatkan peran
serta masyara kat dalam
kesiapsiagaan pengendalian dan penanggulangan
bencana.
5. Peningkatan kualitas dan
kuantitas sarana prasarana
pelayanan kesehatan dengan
kebijakan diarahkan:
a. Memberikan pelayanan
kesehatan gratis di
puskesmas/ RSUD
(program 4).
b. Memberikan pelayanan
ambulan gratis bagi warga
miskin (program 4).
c. Melakukan penataan,
pembangunan sarana
prasarana kesehatan
sebagai pelayanan publik
prima.

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)

Target Kinerja
Kondisi Kondisi
awal
akhir
(5)
(6)

NA

Program
Pembangunan Daerah
(7)
Peningkatan cakupan
pelayanan pengendalian
dan penanggulangan
bencana

Bidang Urusan
(8)

SKPD
Pelaksana

BPBD

(9)
BPBD

Peningkatan peran serta


masyarakat

BPBD

BPBD

Peningkatan pelayanan
kesehatan gratis di
Puskesmas/RSUD

RSUD/ PUSKESMAS

RSUD

Pemberian pelayanan
ambulance gratis bagi
warga miskin

RSUD/ PUSKESMAS

RSUD

Pembangunan sarana dan RSUD/PUSKESMAS


prasarana kesehatan

RSUD/
PUSKESMAS

158

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
6. Peningkatan kualitas dan
kuantitas sarana prasarana
pengumpulan pajak dan
retribusi, yang diarahkan
kebijakan dengan melakukan penataan, pembangunan sarana prasarana
pengumpulan pajak dan
retribusi sebagai pelayanan
publik prima
7. Peningkatan kualitas dan
kuantitas sarana prasarana
pelayanan dengan
kebijakan:
a. Peningkatan operasional
RW, RT 200% (program
6).
b. Peningkatan kesejahteraan Garin Masjid/
Mushalla 200%
(program 6).
c. Penciptaan layanan keluhan peserta didik dan
pemangku kepentingan
lainnya terhadap pendidikan sebagai pelayanan
publik prima.

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)

Target Kinerja
Program
Kondisi Kondisi
Pembangunan Daerah
awal
akhir
(5)
(6)
(7)
NA
Pembangunan unit sarana
prasarana pengumpulan
pajak dan retribusi

Bidang Urusan

SKPD
Pelaksana

(8)
DPKA

(9)
DPKA

NA

Program peningkatan
kesejahteraan dana
operasional RW dan RT

Bagian pemerintahan

Bagian
pemerintahan

NA

Program peningkatan
Bagian Kesra
kesejahteraan dana Garin
masjid dan mushalla

Bagian Kesra

NA

Penciptaan layanan
Dinas Pendidikan
keluhan peserta didik dan
pemangku kepentingan
lainnya terhadap
pendidikan sebagai
pelayanan prima

Dinas
Pendidikan

159

No.

Sasaran

(1)

(2)

Strategi dan
Arah Kebijakan
(3)
8. Penyerahan uang santunan kematian bagi keluarga
yang meninggal dengan
arah kebijakan memberikan
uang santunan kematian
Rp 1 juta untuk warga Kota
Padang (program 7)

Indikator
Kinerja (output /
outcome)
(4)

Target Kinerja
Program
Kondisi Kondisi
Pembangunan Daerah
awal
akhir
(5)
(6)
(7)
NA
Pemberian uang santunan
kematian bagi keluarga

Bidang Urusan

SKPD
Pelaksana

(8)
Bagian Kesra

(9)
Bagian Kesra

Keterangan tabel
*) sumber data adalah LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Padang tahun 2013)
NA adalah Non Available dapat saja berarti bahwa datanya belum diserahkan oleh SKPD terkait, atau datanya belum tersedia karena program yang
baru dilakukan, atau data tersebut belum dihitung

160

BAB VIII
INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN
PENDANAAN

Perencanaan pembangunan yang baik harus mempunyai program prioritas


yang jelas sehingga kegiatan pembangunan daerah dapat difokuskan pada sasaran
yang sangat strategis. Hal ini diperlukan agar dampaknya terhadap pembangunan
Kota Padang secara keseluruhan akan menjadi lebih optimal, walaupun dana yang
tersedia sangat terbatas. Kriteria program prioritas dalam hal ini mencakup 10
program unggulan serta semua program pembangunan daerah yang terkait
langsung dengan dengan visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota terpilih
sebagaimana sudah dibahas pada Bab V, strategi dan arah kebijakan untuk masingmasing misi pada Bab VI, serta kebijakan umum dan program pembangunan pada
bab VII terdahulu.
Untuk menjamin tingkat operasionalitas Bab ini, pembahasan tentang
program prioritas disertai dengan kebutuhan pendanaan (anggaran) yang
diperlukan untuk masing-masing program pembangunan daerah serta indikator
kinerja hasil (outcome) yang diharapkan akan dapat dicapai dari pelaksanaan
program tersebut pada setiap tahun selama periode perencanaan. Perkiraan
kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kapasitas keuangan daerah setelah
dikurangi dengan belanja wajib untuk membiayai gaji pegawai dan kegiatan rutin
pemerintahan. Namun demikian, untuk program-program tertentu kebutuhan
pendanaan dari sumber pemerintah lainnya seperti APBD Provinsi dan APBN juga
ikut dimanfaatkan untuk mendorong proses pembangunan Kota Padang secara
maksimal. Hal ini penting artinya untuk mewujudkan keterpaduan dan sinergi antara
proses pembangunan Kota Padang dengan pembangunan Provinsi Sumatera Barat
serta pembangunan nasional Indonesia secara keseluruhan.
Sasaran pembangunan dan bagaimana strategi pencapaian suatu urusan
pemerintahan daerah dapat menjadi strategis di satu tahun/periode dan sebaliknya,
menjadi operasional di periode berikutnya. Dalam hal suatu urusan atau
program/kegiatan di dalamnya menjadi strategis maka perencanaan, pengendalian,
dan evaluasi yang dilakukan lebih tinggi intensitasnya dibanding yang operasional.
Begitu pula dalam penganggarannya harus diprioritaskan terlebih dahulu, karena
suatu urusan yang bersifat strategis ditetapkan temanya karena berpengaruh
sangat luas dan urgen untuk diselenggarakan.
Suatu program prioritas baik strategis maupun operasional, kinerjanya
merupakan tanggung jawab Kepala SKPD. Namun bagi program prioritas yang
dikategorikan strategik, menjadi tanggung jawab bersama kepala SKPD dengan
kepala daerah pada tingkat kebijakan. Berbeda dengan penyelenggaraan aspek
strategik, program prioritas bagi penyelenggaraan urusan pemerintahan dilakukan

161

agar setiap urusan (wajib) dapat diselenggarakan setiap tahun, tidak langsung
dipengaruhi oleh visi dan misi kepala daerah terpilih. Artinya, suatu prioritas pada
beberapa urusan untuk mendukung visi dan misi serta program kepala daerah
terpilih, tidak berarti bahwa urusan lain ditinggalkan atau diterlantarkan atau tidak
dijalankan. Perumusan program prioritas bagi penyelenggaraan urusan dilakukan
sejak tahap awal evaluasi kinerja pembangunan daerah secara sistematis dilakukan
pada identifikasi permasalahan pembangunan di seluruh urusan (wajib dan pilihan).

TABEL 8.31 s/d 8.34 (EXCELL)

162

BAB IX
PENETAPAN INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH
Penetapan indikator dan target kinerja sangat penting untuk dapat
memperkirakan hasil pembangunan, dan diharapkan dapat diwujudkan melalui
pelaksanaan pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
seluruh warga Kota Padang. Indikator kinerja ini mencakup dua aspek yaitu
indikator kinerja program yang bersifat mikro dan indikator kinerja pembangunan
daerah yang bersifat makro. Indikator kinerja program dan target kinerja untuk
masing-masing tahun sudah dibahas pada Bab VIII terdahulu, sedangkan indikator
dan target kinerja pembangunan daerah dibahas pada Bab IX ini.
Indikator kinerja pembangunan daerah dapat dirumuskan berdasarkan
hasil analisis pengaruh dari satu atau lebih indikator capaian kinerja daerah secara
makro (outcome). Indikator kinerja daerah ini meliputi 3 aspek utama
pembangunan daerah yaitu Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Umum dan Daya
Saing. Aspek Kesejahteraan Masyarakat meliputi: Kesejahteraan dan Pemerataan
Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Aspek Pelayanan Umum meliputi: Pelayanan Urusan
Wajib dan Pelayanan Urusan Pilihan, sedangkan aspek daya saing meliputi: Nilai
Tukar Petani, Produktivitas Total Daerah dan Rasio Ekspor terhadap PDRB.
Penetapan indikator kinerja daerah dilakukan berdasarkan kondisi tahun 2013,
tendensi perkembangan di masa lalu dan kemampuan keuangan daerah.
Penetapan indikator kinerja pembangunan daerah ini didasarkan pada
ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2008. Guna
dapat mewujudkan kinerja pembangunan daerah yang terukur, maka target kinerja
yang ditetapkan diupayakan semaksimal mungkin dalam bentuk kuantitatif, kecuali
untuk aspek-aspek yang ternyata sangat sulit dikuantifikasikan seperti agama dan
budaya. Sedangkan indikator kinerja yang digunakan dalam RPJMD ini disesuaikan
dengan program dan kegiatan yang dijabarkan dari visi dan misi kepala daerah
terpilih dan kondisi sosial ekonomi dan pembangunan Kota Padang. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, Tabel 9.1 memberikan rincian penetapan semua indikator
dan target kinerja pembangunan Kota Padang untuk periode 2015-2019.
Seperti terlihat pada Tabel 9.1, untuk aspek kesejahteraan dan pemerataan
ekonomi ditetapkan 10 indikator kinerja hasil (outcome) yang ditargetkan akan
dapat dicapai melalui peningkatan kegiatan pembangunan Kota Padang dalam
periode 2014-2019. Indikator pertama adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM)
yang pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 78.71 dan meningkat menjadi 80,13
pada tahun 2019. Peningkatan IPM ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan
masyarakat Kota Padang secara keseluruhan yang disebabkan oleh peningkatan
dalam 3 unsur utama kehidupan masyarakat yaitu daya beli (pendapatan)
masyarakat, tingkat pendidikan dan derajat kesehatan.

305

Tabel 9.1
Penetapan Indikator Kinerja Pembangunan Kota Padang Tahun 2014-2019
ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN
A.

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT


A.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
1.

Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi


Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian
1. Indek Pembangunan Manusia (IPM)

Indek

78,61

78,91

79,21

79,51

79,81

80,11

80,41

2. Pertumbuhan PDRB ADHK

6,48

6,50

6,65

6,80

6,98

7.17

7.36

3. Tingkat Inflasi

10,870

4,97

5,93

6,22

6,59

7,00

7,46

(Rp. Juta)

35,930

39,42

41,93

44,60

47,43

50,44

53,65

5. Indeks Gini

Indek

0,336

0,333

0,328

0,322

0,319

0,317

0,315

6. PDRB ADHK

Triliun

14,517

15,44

16,42

17,46

18,57

19,75

21,01

7. PDRB ADHB

4. PDRB per kapita (ADHB)

Triliun

35,861

40,60

45,96

52,02

58,89

66,67

75,47

8. Tingkat Kemiskinan

5,30

5,02

4,96

4,90

4,83

4,78

4,63

9. Angka kriminalitas yang tertangani

91,176

92,63

94,12

95,62

97,15

98,70

98,99

orang

861.167

870.571

880.078

889.689

899.404

909.226

919.155

99,54

99,56

99,57

99,58

99,60

99,61

99,62

Tahun

11,02

11,04

11,07

11,09

11,12

11,14

11,17

1. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/Paket A

109,20

107,79

106,57

105,37

104,18

103,01

101,85

2. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/Paket B

93,18

96,09

99,10

102,20

105,40

108,69

112,09

3. Angka Partisipasi Kasar (APK)

86,45

88,28

90,15

92,06

94,01

96,00

98,03

10. Jumlah Penduduk


A.2 Fokus Kesejahteraan Masyarakat
1.

Pendidikan
1. Angka melek huruf
2. Angka rata-rata lama sekolah
3. Angka partisipasi kasar

306

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

1. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A

96,41

96,74

97,07

97,40

97,73

98,06

98,39

2. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B

87,24

96,46

106,65

117,93

130,39

144,17

159,41

3. Angka Partisipasi Murni (APM)


SMA/SMK/MA/Paket C

64,48

64,69

64,90

65,11

65,32

65,53

65,75

(dari 1000
Kelahiran)

2,171

2,03

1,90

1,78

1,66

1,55

1,45

Tahun

71,205

71,22

71,24

71,25

71,27

71,28

71,30

0,056

0,04

0,04

0,03

0,02

0,02

0,01

Orang

361.071

363.056

365.052

367.060

369.078

371.107

373.147

SMA/SMK/MA/Paket C
4. Angka Partisipasi Murni

2.

Kesehatan
1. Angka Kematian Bayi/ Infant Mortality Rate
2. Angka usia harapan hidup
3. Persentase balita gizi buruk

4.

Ketenagakerjaan
1. Angkatan Kerja
2. Penduduk Yang Bekerja

Orang

310.566

314.000

317.471

320.981

324.530

328.118

331.745

Indeks (0-1)

0,86

0,86

0,87

0,87

0,88

0,88

0,89

Jumlah klub

32

32

35

38

41

43

45

2. Program peningkatan kualitas sarana dan prasarana


keolahragaan

Jumlah
Lapangan
olahraga

442

442

472

513

556

596

660

3. Program meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana


dan prasarana olah raga.

Gelanggang/
balai remaja
(selain milik
swasta)

5.000

5.000

5.007

5.010

5.015

5.020

5.025

4. Program memberikan jaminan kepada para atlit yang


berpotensi dibidang olah raga terhadap karir,

Jumlah orang
kegiatan

980

1.000

1.100

1.150

1.200

1.240

1.250

3. Rasio penduduk yang bekerja


A.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga
2.

Pemuda dan Olahraga


1. Jumlah klub olahraga

307

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN


keamanan, dan pekerjaan serta masa depannya.
B.

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

olahraga

ASPEK PELAYANAN UMUM


B.1 Fokus Layanan Urusan Wajib
1.

Pendidikan
1.

Pendidikan dasar:
1. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia
sekolah
SD/MI

(per 1000
siswa)

37

37

38

38

39

39

40

SMP/MT (per 1000 siswa)

(per 1000
siswa)

10

10

SMA/MA (per 1000 siswa)

(per 1000
siswa)

SMK (per 1000 siswa)

(per 1000
siswa)

SD/MI

(per siswa)

1:16

1:16

1:16

1:20

1:16

1:20

1:20

SLTP

(per siswa)

1:13

1:13

1:13

1:13

1:13

1:13

1:13

SLTA

(per siswa)

1:26

1:26

1:26

1:26

1:26

1:26

1:26

1. Angka Kelulusan (AL) SD/MI

98

98

98

98

99

99

100

2. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs

99

99

99

100

100

100

100

3. Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA

99

99

99

99

99

99

99

4. Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

65,31

75

80

85

90

95

100

%
Ketersediaan

100

100

100

100

100

100

100

2. Rasio guru/murid per kelas rata-rata

2.

2.

AngkaKelulusan:

Kesehatan
1. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan

308

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

3.

4.

5.

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2. Program Upaya Kesehatan Masyarakat

Jml Kegiatan

10

20

25

30

35

40

45

3. Program Pengawasan Obat dan Makanan

Jml Kegiatan

12

15

4. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan


Masyarakat

Jml Kegiatan

15

15

20

25

30

35

40

5. Program peningkatan sarana dan prasarana kesehatan


penambahan kapasitas tempat tidur di RSUD

% Jumlah
tempat tidur

75

100

100

100

100

100

100

6. Program pengembangan puskesmas

Jml puskesmas

10

10

11

12

13

14

15

7. Program peningkatan pembinaan kelurahan siaga aktif

Jml Kelurahan

20

20

22

25

27

30

35

8. Program pengendalian penyakit dan penyehatan


lingkungan penerapan sanitasi total berbasis
masyarakat di kelurahan.

Jml program

20

20

25

30

35

40

45

9. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi semua


penduduk

% Angka
kematian bayi

0,13

0,13

0,12

0,11

0,10

0,9

0,5

1. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik

30,75

31,13

31,51

31,90

32,30

32,70

33,10

2. Panjang jalan dilalui Roda 4

Km

2.412,80

2.656,31

2.924,39

3.219,53

3.544,45

3.902,17

4.295,99

3. Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik (> 40


Km/Jam)

Km

2.312,80

2.376,17

2.441,28

2.508,18

2.576,91

2.647,52

2.720,06

4. Luas irigasi Kabupaten dalam kondisi baik

Ha

7.385,78

7.398,16

7.410,55

7.422,97

7.435,41

7.447,87

7.460,35

Pekerjaan Umum

Perumahan
1. Rumah tangga pengguna air bersih

Kk

74.307

76.341

78.430

80.577

82.782

85.047

87.375

2. Rumah tangga pengguna listrik

Kk

413.364

431.779

451.014

471.107

492.094

514.016

536.915

3. Jalan Lingkungan

Km

1.689

1.790

1.891

1.891

1.992

2.093

2.292

4. Lingkungan pemukiman kumuh

Ha

574,7

574,7

559,7

554,7

529,7

514,7

499,7

5. Rumah tidak layak huni

19,6

18,8

17,9

17,1

16,3

15,5

14,8

Penataan Ruang

309

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

1. Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan


6.

7.

2015

2016

2017

2018

2019

810

743

681

625

573

526

482

1. Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah


ditetapkan dgn PERDA (termasuk Revisi)

Dok

2. Tersedianya Dokumen Perencanaan: RPJMD yg telah


ditetapkan dgn PERDA/PERKADA

Dok

3. Tersedianya Dokumen Perencanaan: RKPD yg telah


ditetapkan dgn PERKADA

Dok

Ribu orang

198.450

199.710

200.610

201.600

207.000

211.500

216.000

2. Halte

unit

132

145

153

174

192

211

232

3. Rambu-rambu

Unit

3.920

4.041

4.166

4.294

4.427

4.563

4.704

4. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis

Unit

5. Angkutan kota (Bus kota)

Unit

10

15

15

30

30

40

40

40,0

42,8

45,8

49,0

52,4

56,1

60,0

Orang

640.897

651.324

68.084

710.324

739.824

769.324

798.824

3. Persentase sampah masuk ke TPA

59,0

60,5

62,0

63,6

65,3

66,9

68

4. Persentase Layanan angkutan sampah

28,1

29,2

30,3

31,4

32,6

33,8

36,1

1. Penyelesaian kasus sengketa tanah

Kasus

20

18

16

15

14

14

2. Penyuluhan hokum

Jumlah

18

75

75

75

75

75

75

% Cakupan
penerbitan
KTP ber NIK

90

90

95

100

100

100

100

Perhubungan

Lingkungan Hidup
1. Persentase penanganan sampah
2. Jumlah Penduduk berakses air minum

9.

2014

Perencanaan Pembangunan

1. Jumlah arus penumpang angkutan umum

8.

2013

Pertanahan

10. Kependudukan dan Catatan Sipil


1. Penataan administrasi Kependdukan

310

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2. Program pemberian penyuluhan dan pembinaan


pemahaman aparat dalam proses pendataan
penduduk dan pencatatan sipil akan prosedur dan
peraturan perundangan yang mendasari

Jumlah
Kegiatan

3. Program mensinkronisasikan dan koordinasi antar


instansi terkait tentang data kependudukan

Kegiatan

4. Program untuk pengadaan sarana dan prasarana


informasi kependudukan dan catatan sipil yang secara
langsung bisa diakses 0leh masyarakat luas

WEB

5. Program pengadaan sarana prasarana untuk UP 3 SK

Unit

Rasio
penduduk
bekerja

0,75

0,87

0,90

0,92

0,93

0,95

0,99

Rata-rata
jumlah anak
per keluarga

2,7

2,7

2,6

2,5

2,4

2,3

2,1

Rasio akseptor
KB

122.650

122.650

122.650

122.650

122.650

122.650

122.650

Cakupan
peserta KB
aktif

93.760

93.760

93.760

93.760

93.760

93.760

93.760

1. Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan


panti rehabilitasi

22

22

22

22

23

23

23

2. PMKS yg memperoleh bantuan sosial

325

364

407

456

510

571

639

3. Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial

30

34

39

44

50

57

65

6. Program peningkatan penyerapan tenaga kerja


pemahaman masyarakat akan pentingnya dokumen
resmi kependudukan
11. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
1. Program peningningkatan partisipasi masyarakat
dalam penciptaan keluarga sejahtera dan kesadaran
akan arti penting penguatan keluarga sebagai basis
ketahanan sosial masyarakat.
2. Program mengoptimalkan fungsi kapasitas
kelembagaan KB-KS.
3. Program mengoptimalkan tugas penyelenggaraan
BKB-Posyandu-PAUD
13. Sosial

311

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

55,811

55,93

56,05

56,17

56,30

56,42

56,54

Orang

199

421

443

468

493

520

548

1. Jumlah Koperasi aktif

Unit

570

584

625

670

717

768

822

2. Jumlah UKM non BPR/LKM UKM

Unit

58.000

60.000

62.000

64.000

66.000

68.000

69.000

3. Jumlah BPR/LKM

Unit

10

10

11

11

13

13

14

4. Usaha Mikro dan Kecil

Unit

11.578

11.795

12.016

12.241

12.470

12.704

12.942

1. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA)

Triliun

3,9

4,1

4,2

4,3

4,4

4,5

4,6

2. Jumlah sanggar Budaya

(unit)

77

79

80

85

90

95

100

Kali

57,000

58

58

59

60

60

61

4. Sarana penyelenggaraan seni dan budaya

108

116

125

135

146

157

169

5. Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang


dilestarikan

62

62

62

62

62

62

62

57,000

58

58

59

60

60

61

2. Sarana penyelenggaraan seni dan budaya

108

116

125

135

146

157

169

3. Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang


dilestarikan

62

62

62

62

62

62

62

442

442

472

513

556

596

660

14. Ketenagakerjaan
1. Tingkat partisipasi angkatan kerja
2. Pencari kerja yang ditempatkan
15. Koperasi Usaha Kecil dan Menengah

16. Penanaman Modal

3. Penyelenggaraan festival seni dan budaya

17. Kebudayaan
1. Penyelenggaraan festival seni dan budaya

Kali

18. Kepemudaan dan Olahraga


1. Jumlah Lapangan olahraga
2. Jumlah organisasi olahraga

Unit

32

32

35

38

41

43

45

3. Jumlah organisasi pemuda

Kegiatan

153

167

172

189

198

227

227

4. Jumlah kegiatan olahraga

Kegiatan

980

1.000

1.100

1.200

1.300

1.400

1.500

312

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Jumlah

5.000

5.000

5.007

5.010

5.015

5.020

5.025

1. Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk

2. Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk

0,5

0,75

1,25

1,5

1,75

3. Rasio Pos Siskamling & Balai Pemuda per jumlah desa/


kelurahan

10

11

5. Gelanggang /balai remaja (selain milik swasta)


19. Kesatuan Bangsadan Politik Dalam Negeri
20. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian

4. Pertumbuhan ekonomi

6,48

6,50

6,65

6,80

6,98

7.17

7.36

5. Kemiskinan

5,30

5,02

4,96

4,90

4,83

4,78

4,63

Jumlah Perda
yang
ditegakkan

10

11

12

13

14

kecamatan

11

11

11

11

11

11

11

kasus

35

75

105

115

120

125

130

40

60

80

100

120

140

6. Penegakan PERDA

7. Cakupan patroli petugas Satpol PP


8. Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban,
ketentraman, keindahan) di Kabupaten
9. Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kota
21. Ketahanan Pangan
1. Regulasi ketahanan pangan

Jumlah
Perwako

2. Ketersediaan pangan utama

Kg/Kap/Thn

217,15

228,00

239,40

251,37

255,79

260,29

264,87

Unit

116

116

116

116

116

116

116

1. Buku Padang dalam angka

2. Buku PDRB Kota Padang Berdasarkan ADHB ADHK

22. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa


1. PKK aktif
23. Statistik

313

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

24. Kearsipan
25. Komunikasi dan Informatika
1. Jumlah jaringan komunikasi
2. Rasio wartel/ warnet terhadap penduduk

0,002

0,003

0,003

0,004

0,005

0,006

0,007

3. Jumlah surat kabar nasional/ lokal

15

16

16

17

17

18

19

4. Jumlah penyiaran radio/ TV lokal

18

20

20

20

21

21

22

1. Jumlah pengunjung perpustakaan pertahun

1.106

1.267

1.452

1.664

1.906

2.184

2.503

2. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah

16.357

18.050

19.668

21.432

23.353

25.447

27.728

55,26

55,45

55,63

55,82

56,01

56,20

56,38

26. Perpustakaan

B.2

Fokus Layanan Urusan Pilihan


1.

Pertanian
1. Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal
lainnya per hektar
Padi

Kwintal/ ha

Jagung

Kwintal/ ha

0,00

0,28

0,28

0,29

0,29

0,29

0,30

Ubi Kayu

Kwintal/ ha

437,66

143,31

145,00

145,20

145,40

145,60

146,00

Ubi Jalar

Kwintal/ ha

196,54

143,31

149,97

156,94

164,24

171,87

179,86

Kacang Tanah

Kwintal/ ha

17,50

18,14

18,80

19,49

20,20

20,94

21,71

Kedelai

Kwintal/ ha

10,00

10,38

10,78

11,20

11,63

12,07

12,54

Kacang Hijau

Kwintal/ ha

10,00

10,32

10,66

11,01

11,36

11,73

12,11

2. Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB

2,29

2,29

2,30

2,30

2,30

2,31

2,31

3. Kontribusi sektor pertanian (palawija) terhadap PDRB

61,59

61,66

61,73

61,80

61,87

61,95

62,02

4. Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras)


terhadap PDRB

2,18

2,17

2,16

2,15

2,14

2,13

2,12

5. Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB

1,02

1,11

1,20

1,30

1,41

1,52

1,65

314

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN

SATUAN

6. Cakupan bina kelompok petani


2.

2015

2016

2017

2018

2019

23,00

23,12

23,23

23,35

23,47

23,59

23,71

300

264

232

205

180

158

139

2. Kerusakan Kawasan Hutan

Ha

5.380

5.350

5.321

5.292

5.263

5.234

5.205

3. Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB

0,020

0,02

0,02

0,01

0,01

0,01

0,01

perusahaan

20

20

20

20

20

20

20

Energi dan Sumber Daya Mineral


1. Pertambangan yang memiliki izin

4.

2014

Kehutanan
1. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis

3.

2013

Pariwisata
1. Kunjungan wisata
- Mancanegara

pengunjung

53.057

54.126

55.216

56.329

57.464

58.621

- Domestik

pengunjung

3.001.306

3.210.928

3.435.190

3.675.116

3.931.800

4.206.410

2. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB


5.

2,3

2,5

2,7

3,0

3,2

3,5

3,8

Ton

22.749

23.782

24.646

25.561

26.017

26.575

27.002

Kg/kapita/thn

30.70

31.05

32.04

33.03

34.02

35.01

36.00

Kelautan dan Perikanan


1. Produksi perikanan
2. Konsumsi ikan
3. Cakupan bina kelompok nelayan
4. Produksi perikanan kelompok nelayan

6.

Perdagangan

7.

Perindustrian

Klp nelayan

193

214

236

260

285

311

336

Ton

15.725

16.131

16.942

17.659

18.445

19.313

20.197

Km/unit
kendaraan

0,005

0,005

0,005

0,006

0,006

0,006

0,007

ASPEK DAYA SAING DAERAH


C.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah
C.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur
1. Perhubungan
Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan

315

ASPEK KINERJA PEMBANGUNAN


Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum
Jumlah orang/ barang melalui dermaga/ bandara/ terminal
pertahun

SATUAN

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Orang (000)

198.450

199.710

200.810

201.600

207.000

211.500

216.000

702,25

702,25

702,25

702,25

702,25

702,25

702,25

0,700

0,72

0,74

0,77

0,79

0,81

0,84

Jumlah kasus

6.518

6.518

6.353

6.186

6.019

5.852

5.685

hari

21

20

19

18

17

15

14

Orang

2. Penataan Ruang
Luas wilayah industri

Ha

3. Komunikas dan Informatika


Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon
C.3 Fokus Iklim Berinvestasi
1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian
1. Angka kriminalitas
2. Lama proses perijinan
Sumber: BPS, SKPD terkait dan Data diolah

316

Seperti terlihat pada Tabel 9.1, untuk aspek kesejahteraan dan pemerataan
ekonomi ditetapkan 10 indikator kenerja hasil (outcome) yang ditargetkan akan
dapat dicapai melalui peningkatan kegiatan pembangunan Kota Padang dalam
periode 2014-2019. Indikator pertama adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
yang pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 78,71 dan meningkat menjadi 80,13
pada tahun 2019. Peningkatan IPM ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan
masyarakat Kota Padang secara keseluruhan yang disebabkan oleh peningkatan
dalam tiga unsur utama kehidupan masyarakat yaitu daya beli (pendapatan)
masyarakat, tingkat pendidikan dan derajat kesehatan.
Untuk pertumbuhan ekonomi kota, target kinerja yang ditetapkan dalam
RPJMD Kota Padang ini adalah 6,50% untuk tahun 2014 dan meningkat menjadi
7,36% pada tahun 2019 mendatang. Peningkatan pertumbuhan ekonomi ini
didorong melalui peningkatan investasi yang ditargetkan pada tahun 2014 sebesar
Rp. 3,9 trilyun dan meningkat menjadi Rp. 4,6 trilyun pada tahun 2019. Investasi ini
adalah dalam bentuk total, termasuk investasi pemerintah (APBN dan APBD),
investasi swasta, baik PMDN dan PMA, serta investasi masyarakat. Peningkatan
investasi tersebut diperkirakan akan dapat menambah lapangan kerja baru sehingga
tingkat pengangguran Kota Padang diperkirakan akan menurun.
Melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut diharapkan akan dapat
meningkatkan kemakmuran ekonomi masyarakat yang diukur dengan nilai
pendapatan perkapita dengan harga berlaku. Seperti terlihat pada Tabel 9.1 target
pendapatan perkapita masyarakat Kota Padang pada tahun 2014 adalah sebesar
Rp.41,52 juta dan meningkat menjadi Rp.75,81 juta pada tahu 2019. Sejalan
dengan hal tersebut, tingkat pengangguran diperkirakan akan menurun dari 11,05%
pada tahun 2014 menjadi 10,03% pada tahun 2019. Sedangkan tingkat kemiskinan
yang diukur dengan persentase penduduk miskin diperkirakan secara bertahap akan
dapat diturunkan dari 5,18% pada tahun 2014 menjadi 4,78% pada tahun 2019.
Menyangkut dengan kesejahteraan sosial, sasaran utama adalah pningkatan
kualitas sumber daya manusia yang diukur dengan indikator kinerja Indek
Pembangunan Manusia (IPM). Dalam hal ini target kinerja IPM yang direncanakan
adalah meningkat dari 78,71 pada tahun 2014 menjadi 80,13 pada tahun 2019. IPM
ini mencakup 3 unsur utama yaitu pendapatan (daya beli), tingkat pendidikan dan
derajat kesehatan masyarakat. Indikator kinerja tingkat pendidikan digunakan
angka melek huruf yang diperkirakan akan meningkat dari 99,56% pada tahun 2014
menjadi 99,62% pada tahun 2019. Sedangkan untuk derajat kesehatan masyarakat
yang diukur dengan Usia Harapan Hidup diperkirakan akan meningkat dari 71,22
pada tahun 2014 menjadi 71,30 pada tahun 2019.

Di bidang pelayanan umum, penetapan indiktor kinerja dilakukan


berdasarkan urusan pemerintahan daerah yang terbagi atas urusan wajib dan
urusan pilihan. Indiktor kinerja ini disusun berdasarkan program-program yang

317

diturunkan dari visi dan misi kepala daerah. Sedangkan pencapaian target kinerja
yang ditetapkan tidak hanya didasarkan pada sumber dana APBD saja, tetapi juga
dana APBN dan APBD Provinsi yang kegiatannya dilakukan di Kota Padang selama
periode 2014-2019.

318

BAB X
PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Padang Tahun 2014-2019


merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen Rencana Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP) Kota Padang Tahun 2004-2020, Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Tahun 2009-2029, dan memperhatikan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010-2015.
Keterkaitan ini perlu dijaga dalam rangka mewujudkan proses pembangunan Kota
Padang yang terpadu dan berkelanjutan baik antar daerah maupun antar waktu
sehingga dapat diharapkan hasil yang lebih terarah dalam jangka panjang.
1.1.

PEDOMAN TRANSISI RKPD TAHUN 2019

RPJM Kota Padang Tahun 2014-2019 disusun untuk digunakan sebagai


acuan penyusunan RKPD pada setiap tahunnya. Disamping itu, RPJMD ini juga
dapat digunakan sebagai pedoman penyusunan rencana transisi Tahun 2019. Hal ini
dimaksudkan untuk dapat mengisi kekosongan perencanaan pembangunan daerah
tahun 2019 nanti ketika masa berlakunya RPJMD 2014-2019 sudah berakhir. Hal ini
dilakukan untuk dapat menjaga keterpaduan dan kesinambungan pelaksanaan
pembangunan Kota Padang pada masa transisi yang timbul karena peralihan dari
satu RPJMD kepada RPJMD berikutnya.
1.2.

KAIDAH PELAKSANAAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Padang Tahun 2014-2019


merupakan pedoman bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun
Rencana Strategis (Renstra) SKPD bersangkutan. Disamping itu, RPJMD ini juga
berfungsi sebagai pedoman bagi BAPPEDA untuk menyusun Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD)
di lingkungan Pemerintah Kota Padang.
Untuk menjaga kualitas lingkungan hidup sebagai akibat dari pelaksanaan
RPJMD ini, Pemerintah Kota Padang dalam waktu yang bersamaan sudah
menyiapkan pula Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk periode
perencanaan yang sama. KLHS ini selanjutnya dapat pula dijadikan sebagai
pedoman perumusan kebijakan kota Padang untuk mengendalikan pencemaran dan
pengrusakan lingkungan akibat kegiatan pembangunan kota.
1.3.

PENGENDALIAN DAN EVALUASI

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Pembangunan


Jangka Menengah Kota Padang Tahun 2014-2019, BAPPEDA Kota Padang
berkewajiban untuk melakukan pengendalian (pemantauan) dalam pelaksanaan

319

program dan kegiatan bersama-sama dengan SKPD terkait guna menjaga


kesesuaian antara rencana yang telah ditetapkan dengan pelaksanaan nantinya di
lapangan. Pada saat pelaksanaan program dan kegiatan telah selesai, BAPPEDA
juga mempunyai kewajiban untuk melakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa
jauh output (keluaran) dan hasil (outcome) dari pelaksanaan program dan kegiatan
tersebut sudah sesuai dengan harapan yang tertera dalam RPJMD Kota Padang
2014-2019. Dengan cara demikian diharapkan pelaksanaan RPJMD ini benar-benar
sesuai dengan visi dan misi Kapala Daerah sebagaimana sudah dijanjikan kepada
seluruh warga Kota Padang pada waktu pelaksanaan PILKADA sebelumnya.

Padang, November 2014

320