Anda di halaman 1dari 64

BAB 7

ALKOHOL, ETER, DAN FENOL


A. Kompetensi Dasar
Memahami hubungan antara struktur dengan sifat fisika dan kimia alkohol, eter,
fenol, serta pembuatan dan pemanfaatannya

B. Indikator
1.

Menggambar struktur molekul alkohol, eter, dan fenol, serta memberikan nama
menurut aturan IUPAC.

2.

Menjelaskan hubungan sebab-akibat antara struktur molekul dengan sifat fisika


alkohol, eter dan fenol dengan struktur molekulnya

3.

Memprediksi mekanisme reaksi alkohol, eter dan fenol.

4.

Merancang tahap-tahap pembuatan alkohol, eter, dan fenol.

5.

Menjelaskan kegunaan senyawa-senyawa alkohol, eter, dan fenol berdasarkan


sifat fisika dan kimianya.

6.

Mengidentifikasi senyawa unknown golongan alkohol, fenol, atau eter


berdasarkan data eksperimen.

C. Pengantar Pembelajaran
Bahan kajian Alkohol, Eter, dan Fenol mengkaji tentang konsep-konsep nyata.
Atas dasar itu, Model Pembelajaran TripleChem yang cocok diterapkan untuk
mengajarkannya adalah tipe ORME.

Pembelajaran diawali dengan pengamatan

terhadap obyek atau fenomena kimia yang bersifat makroskopis (tahap observing).
Selanjutnya, mahasiswa diajak untuk memikirkan apa yang terjadi pada tingkat
molekuler dan dinamikanya (level submikroskopis pada tahap Reasoning). Untuk
membantu memvisualisasikan molekul-molekul yang ada pada level submikroskopis,
perlu dibantu dengan pemodelan menggunakan molymod dan menggambar struktur
molekulnya (level simbolik pada tahap Modelling).

Selain itu, untuk membantu

mahasiswa dalam memproses informasi baru berkaitan dengan struktur molekul yang
bersifat abstrak dalam memori kerjanya, dosen perlu memfasilitasi mereka
menggunakan analogi. Terakhir, mahasiswa perlu membangun interkoneksi di antara
ketiga level kimia dan membuktikan kebenaran pengetahuan yang telah diperolehnya
menggunakan sumber-sumber belajar (referensi) terpercaya (tahap Explanating).
D. Uraian Materi
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar nama jenis minuman
tradisonal seperti berem (wine), tuak, dan arak. Ketiga minuman tersebut tergolong
minuman keras. Dalam industri, alkohol juga digunakan sebagai bahan kosmetik dan
pelarut, termasuk pelarut obat-obatan.

Ditinjau dari struktur molekulnya, alkohol

merupakan senyawa organik yang mengandung atom oksigen berikatan tunggal. Ikatan
yang sama juga terjadi pada fenol dan eter. Walaupun memiliki kemiripan struktur,
alkohol, fenol, dan eter menunjukkan sifat berbeda.

Eter dapat berbentuk rantai terbuka maupun siklik.

Eter siklik merupakan

contoh senyawa heterosiklik. Jika cincin eter beranggota tiga atom, maka disebut
epoksida. Epoksida lebih reaktif dibandingkan eter lain karena ukuran cincinnya kecil.
Sistem cincin besar dengan satuan berulang -OCH2-CH2- disebut eter mahkota.
Berikut ini adalah rumus struktur beberapa eter siklik.

1. Struktur dan Tatanama


a. Tatanama alkohol
Nama IUPAC alkohol diambil dari nama alkana induknya dan diberi akhiran -ol.
Letak gugus OH tersebut harus serendah mungkin. Jika terdapat lebih dari satu gugus
hidroksil, maka dipergunakan sisipan di, tri, dan seterusnya sebelum akhiran -ol. Dalam
sistem trivial, alkohol memakai nama alkil alkohol.

Jika gugus hidroksil dijumpai dalam molekul yang mengandung gugus


fungsional lain, maka penomeran dan akhiran dalam senyawa tersebut ditentukan oleh
prioritas gugus fungsionalnya.

Jika prioritas gugus OH lebih rendah, maka diperlakukan sebagai substituen


dengan awalan hidroksi.

Masalah 7.1
Berikan nama IUPAC senyawa-senyawa berikut.

b. Tatanama eter
Tatanama eter rantai terbuka dalam sistem trivial adalah alkil eter. Dalam hal
ini, gugus alkil diurut secara alfabetis. Dalam sistem IUPAC, gugus OR (alkoksi)
diperlakukan sebagai cabang yang terikat pada rantai alkana.

Masalah 7.2
Berikan nama IUPAC senyawa-senyawa berikut

Eter siklik merupakan contoh senyawa heterosiklik, yang dalam cincinnya


mengandung atom selain karbon. Atom tersebut dinamakan heteroatom, dan diberikan
nomor 1 dalam penomorannya. Beberapa kelompok eter heterosiklik dapat dipaparkan
sebagai berikut.
1) Epoksida (oksirana). Eter siklik beranggotakan tiga atom dalam cincinnya
dimanakan epoksida. Nama umum epoksida dibentuk dengan penambahan oksida
terhadap nama alkena yang dioksidasi untuk menghasilkan senyawa tersebut.
Contoh:

Salah satu metode sistematik untuk menamai epoksida adalah dengan kata
epoksi sebagai substituen yang terikat pada dua atom karbon dari alkana.

Penamaan sistematik lainnya, nama epoksida dipandang sebagai turunan dari


etilen oksida, menggunakan oksirana sebagai nama sistematik.

Dalam sistem ini

penomeran dimulai dari heteroatom oksigen sebagai nomor 1 menuju ke jumlah


substituen lebih rendah.

2) Oksetana.

Eter siklik dengan empat atom dinamakan oksetana.

Karena

ketegangan struktur cincin empat, senyawa ini lebih reaktif dibandingkan eter siklik
yang lebih besar dan eter rantai terbuka, walaupun tidak sereaktif epoksida.

3) Furan (Oksolana). Eter siklik beranggotakan lima atom dinamakan furan, dan
sebagian di antaranya termasuk senyawa aromatik. Nama sistematik oksolana juga
digunakan untuk cincin beranggota lima yang mengandung sebuah atom karbon.
Penomeran dimulai dari atom oksigen.

Eter siklik anggota lima jenuh dinamakan tetrahidrofuran (THF). Merupakan eter yang
sangat polar dan pelarut organik nonhidroksilat yang sangat baik untuk reagen polar.
Karena itu, reaksi Grignard kadang-kadang sukses dalam THF jika gagal dilakukan
dalam dietil eter.
4) Piran (Oksana). Eter siklik beranggota enam umumnya dinamakan sebagai
turunan piran, sebuah eter tidak jenuh. Senyawa jenuh yang memiliki empat atoh
hidrogen lebih banyak dari piran dinamakan tetrahidropiran (THP). Nama sistematik
oksana juga digunakan untuk cincin anggota enam yang mengandung atom oksigen.

5) Dioksan. Eter heterosiklik dengan dua atom oksigen dalam cincin anggota
enam dinamakan dioksan. Bentuk paling umum dioksan salah satunya dengan dua atom
oksigen dalam hubungan-1,4. Senyawa 1,4-dioksan larut dalam air, dan digunakan
secara luas sebagai pelarut polar

Dioksin merupakan nama umum dari dibenzodioksan, 1,4-dioksan bergabung


dengan dua cincin benzena.

Nama dioksin sering digunakan secara salah untuk

memberikan nama 2,3,7,8-tetraklorodibenzodioksin (TCDD), kontaminan beracun


dalam herbisida sintetis 2,4,5-T atau Agent Orange. Sangat mengherankan, TCDD telah
ada di lingungan sejak beberapa juta tahun karena juga terbentuk dari kebakaran hutan.
Sebagian besar dioksin bersifat toksin dan karsinogenik karena berasosiasi dengan DNA
sehingga terjadi kesalahan baca kode genetik.

Masalah 7.3
1.

Senyawa 1,4-dioksan secara komersial dibuat dari hidrasi alkohol dalam suasana
asam.
a. Tentukan alkohol apa yang didehidasi untuk membuat 1,4-dioksan.
b. Perkirakan mekanisme reaksinya.

2.

Berikan nama eter heterosiklik berikut ini.

c. Tatanama fenol
Tatanama fenol tidak lazim mengikuti cara IUPAC, tetapi lebih banyak memakai
cara trivial. Rumus struktur fenol dan beberapa turunan dapat dilihat di bawah ini.

Masalah 7.4
Berikan nama senyawa-senyawa berikut

2.

Sifat Fisika

a. Sifat fisika alkohol


1) Titik didih
Titik didih alkohol lebih tinggi daripada eter yang massa molekul relatifnya
sama.

Hal ini disebabkan antar molekul-molekul alkohol terjadi ikatan hidrogen,

khususnya alkohol dengan jumlah atom C di bawah empat. Sedangkan, antar molekulmolekul eter hanya terjadi interaksi gaya van der Waals yang bersifat sangat lemah.
Tabel 7.1 berikut memuat titik leleh, titik didih, dan massa jenis beberapa alkohol.
Tabel 7.1 Sifat Fisika Alkohol

2) Kelarutan
Alkohol suku rendah mudah larut dalam air karena terjadi ikatan hidrogen antara
molekul-molekul alkohol dengan molekul-molekul air. Semakin panjang rantai alkil
pada alkohol, sifat hidrofobnya semakin kuat, sehingga kelarutannya dalam air semakin
berkurang. Kelarutan beberapa alkohol dalam air dapat dilihat pada Tabel 7.2.
Tabel 7.2. Kelarutan Alkohol dan Eter dalam 100 mL Air (t = 25oC)
Alkohol
metanol, CH3OH
etanol, CH3CH2OH
1-propanol,CH3(CH2) 2OH
2-propanol,CH3CHOHCH3
t-butil alkohol, (CH3)3COH
n-butanol, CH3(CH2)3OH
isobutil alkohol, (CH3)2CHCH2OH
n-pentanol, CH3(CH2)4OH
n-heksanol, CH3(CH2)6OH

Kelarutan

9,1 g
10,0 g
2,7 g
0,6 g

Eter
CH3-O-CH3
C2H5-O-C2H5
THF
Etilenoksida

Kelarutan

8g

b. Sifat fisika eter


1) Titik didih
Eter merupakan senyawa berbau menyengat, tidak berwarna, dan memiliki
massa jenis lebih kecil daripada air. Titik didih eter hampir sama dengan alkana yang
jumlah atom karbonnya sama. Rendahnya titik didih eter disebabkan oleh gaya tarik
menarik antar molekul-molekulnya (gaya van der Waals) sangat lemah. Sifat fisika
beberapa senyawa eter dapat dilihat pada Tabel 7.3.
Tabel 7.3. Sifat Fisika Eter
Nama
Dimetil eter
Etil metil eter
Dietil eter
Di-n-propil eter
Diisopropil eter

Struktur
CH3-O-CH3
C2H5-O-CH3
CH3CH2-O-CH2CH3
CH3CH2CH2-O-CH2CH2CH3
(CH3)2CH-O-CH(CH3)2

Tl (oC)
-140
-116
-122
-86

Td (oC)
-25
8
35
91
68

(g/mL)
0,66
0,72
0,71
0,74
0,74

2) Kelarutan
Eter secara umum tergolong senyawa non polar, sehingga tidak larut dalam air.
Walaupun demikian, dimetil eter larut dalam air karena dapat terjadi ikatan hidrogen
antara molekul-molekul dimetil eter dengan moleku-molekul air. Hal yang sama juga
terjadi, jika dimetil eter dilarutkan dalam etanol.

Eter yang bersifat non polar sering digunakan sebagai pelarut organik karena bersifat
inert (tidak bereaksi dengan asam atau basa encer, tidak bereaksi dengan oksidator, dan
berbagai pereaksi lainnya).

Dietil eter sering digunakan sebagai pelarut untuk

mengekstraksi senyawa-senyawa bahan alam karena titik didihnya rendah sehingga


mudah dipisahkan dari ekstraknya, selain karena bersifat inert. Namun, eter mudah
mudah menguap dan terbakar. Jika dibiarkan berhubungan dengan udara luar, dapat
membentuk hidroperoksida eter yang sangat mudah meledak. Senyawa tersebut dapat
dihilangkan dengan mengocok eter dengan ferosulfat.
Reaksi:

Masalah 7.5
Dengan adanya eter mahkota 18-crown-6, kalium permanganat larut dalam benzena
menghasilkan benzena ungu yang dapat digunakan sebagai reagen untuk oksidasi
alkena dalam lingkungan aprotik. Gambarlah bentuk kompleks untuk menunjukkan
mengapa KMnO4 larut dalam benzena dan mengapa reaktivitas ion permanganat
meningkat.
c. Sifat fisika fenol
1) Titik leleh dan titik didih
Fenol sederhana berwujud cair atau padatan dengan titik leleh rendah. Dalam
keadaan murni tidak berwarna, tetapi tampak merah jika ada produk oksidasinya. Fenol
dapat membentuk ikatan hidrogen antar molekul-molekulnya. Kemampuan membentuk
ikatan hidrogen dan momen dipol yang tinggi menyebabkan titik leleh dan titik
didihnya lebih tinggi dibandingkan aril hidrokarbon yang massa molekulnya sebanding.

Perbandingan

2) Kelarutan
Fenol dan turunannya umumnya larut dalam air karena dapat membentuk ikatan
hidrogen dengan molekul-molekul air.

Pada saat gugus aldehida atau nitro terikat pada posisi orto dari gugus OH
fenolik akan terbentuk ikatan hidrogen intramolekuler, sehingga gugus OH fenolik tidak
mampu membentuk ikatan hidrogen antar molekul-molekulnya.

Gejala tersebut

menyebabkan titik didih dan kelarutannya lebih rendah dibandingkan isomer-isomernya


pada posisi para dan metanya.

Fenol bersifat sangat beracun dan dapat membunuh semua tipe sel. Karena
perhitungan efek toksiknya terhadap mikroorganisme, fenol banyak digunakan sebagai
antiseptik.

Tabel 7.4. Sifat-sifat Fisika Fenol dan Turunannya


Tl
(oC)

Td
(oC)

Kelarutan (25oC)
g/100 mL air

Ka x 10-10

Fenol

41

182

9,3

1,1

o-kresol (metil fenol)

31

191

2,5

0,63

m-kresol

11

201

2,6

0,98

p-kresol

35

202

2,3

0,67

Katekol (benzena-1,2-diol)

104

246

45

Hidrokuinon (benzena-1,4-diol)

173

286

Resolsinol (benzena-1,3-diol)

110

281

123

Salisilaldehida

-7

196,5

o-klorofenol

173

2,8

77

m-klorofenol

33

214

2,6

16

p-klorofenol

43

220

2,7

6,3

o-nitrofenol

45

217

0,2

600

m-nitrofenol

96

1,4

50

p-nitrofenol

114

1,7

690

2,4,6-trinitrofenol

122

1,4

sangat besar

Nama

3.

Sifat Kimia
a. Sifat kimia alkohol
1) Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi terhadap alkohol dibedakan atas substitusi terhadap gugus OH

dan substitusi terhadap atom H pada gugus O-H.


a) Reaksi Substitusi terhadap Gugus OH
(1) Substitusi terhadap gugus OH dengan asam halida (HX)
Gugus OH pada alkohol merupakan gugus pergi yang jelek. Agar reaksi dapat
berlangsung, maka harus dilaksanakan dalam suasana asam.

OH2 merupakan gugus pergi yang baik, dan lepas sebagai molekul air (basa sangat

lemah). Suatu nukleofil lemah, misalnya ion halida (X-) dapat menggantikan molekul
air untuk membentuk alkil halida.

Masalah 7.6
Tentukan produk utama reaksi berikut menurut mekanisme substitusi nukleofilik
unimolekuler (SN1). Perkirakan juga mekanisme reaksinya.

(2) Substitusi gugus OH dengan Fosfortrihalida (PX3)


Reaksi substitusi alkohol dengan PX3 berlangsung lewat mekanisme SN2,
sehingga tidak dapat mengalami penataan ulang. Reaksi ini mudah berlangsung karena
melalui pembentukan senyawa-antara ester anorganik. Gugus ester (-OPX2) tersebut
merupakan gugus pergi yang baik, sehingga mudah diganti dengan ion halida.
ROH + PX3

[ROPX2 + HX]

RX + HOPX2

[ROPBr2 + HBr]

RBr + HOPBr2

Contoh:
ROH + PBr3
ROH + HOPBr2
ROH + (HO)2PBr

[ ROP(OH)Br + HBr]
[ ROP(OH)2 + HBr]

RBr + (HO)2PBr
RBr + H3PO3

Total reaksi :

Mekanisme reaksi
Tahap 1: PBr3 merupakan elektrolit kuat. Sebuah alkohol menggantikan ion bromida
dari PBr3 memberikan gugus pergi yang sangat baik.

Tahap 2: Bromida menggantikan gugus pergi menghasilkan alkil bromida.

Masalah 7.7
1) Tulis persamaan reaksi 2-propanol dengan fosfor tribromida dalam pelarut piridin.
Perkirakan mekanisme reaksinya.
2) Perkirakan mekanisme reaksi (R)-butanol dengan PBr3, lengkapi dengan
konfigurasinya (R/S).
(3) Substitusi gugus -OH dengan Tionilklorida
Reaksi alkohol dengan tionilklorida (SOCl2) membentuk hasil-antara ester
anorganik (-OSCl), yang bertindak sebagai gugus pergi yang baik dan dapat diganti
dengan ion halida. Reaksi alkohol dengan SOCl2 sering dilakukan dengan kehadiran
piridin atau amina tersier yang berfungsi untuk menangkap H + dari dalam campuran
reaksi.

Kehadiran atau ketidakhadiran amina tersier atau piridin menentukan


stereokimia produk yang dihasilkan jika semula menggunakan alkohol yang bersifat
kiral. Jika ditambahkan basa nitrogen tersebut, maka akan menghasilkan produk inversi
konfigurasi, menurut mekanisme sebagai berikut.
Tahap 1:

Tahap 2: dalam pelarut amina terjadi reaksi SN2

Jika tidak ditambahkan basa, konfigurasi tidak akan berubah (retensi konfigurasi)
karena reaksi berlangsung mengikuti mekanisme substitusi nukleofilik internal (SNi).

Keuntungan reaksi SNi:


1) Gugus OH diganti oleh Cl dari tionilklorida tanpa terjadi reaksi eliminasi.
2) Alkilhalida yang dihasilkana tidak bercampur dengan produk samping karena
HCl dan SO2 membentuk garam.
Masalah 7.8
1. Tulislah persamaan reaksi berikut.

2. Tentukan posisi (cis/trans) D dan klor pada produk reaksi berikut.

b) Reaksi substitusi terhadap H pada gugus OH


(1) Reaksi dengan logam
Reaksi alkohol dengan logam reaktif atau natrium hidrida menghasilkan garam
alkoksida dan gas hidrogen. Pada kasus tersebut, atom H pada gugus OH dari alkohol
disubstitusi dengan atom logam yang sangat reaktif atau natrium hidrida.
RO-H + M

RO- M+ + H2

Reaktivitas RO-H: CH3OH > 1o > 2o

M = Na, K, Mg, Al, dll.


>

3o

Contoh:
2 CH3CH2OH

+ Na

CH3CH2OH + NaH

2 CH3CH2O- Na+ + H2(g)


CH3CH2O- Na+ + H2(g)

(2) Ester karboksilat


Reaksi antara alkohol dan asam karboksilat menghasilkan ester. Reaksi ini
disebut juga reaksi esterifikasi, yang dijalankan menggunakan katalis asam.

Mekanisme reaksinya
Tahap 1:

Tahap 2:

Tahap 3:

Masalah 7.9
Perkirakan mekanisme reaksi sintesis metil asetat.
(3) Ester nitrat
Esterifikasi alkohol dengan asam nitrat menghasilkan ester anorganik dan
mengurangi tingkat keasaman larutan.
Reaksinya:

Mekanisme reaksinya:
Tahap 1: Ionisasi asam nitrat menghasilkan ion nitronium (NO2+)

Tahap 2: Pembentukan ester

Masalah 7.10
Perkirakan mekanisme reaksi sintesis isopropil nitrat
(4) Ester sulfat
Reaksi esterifikasi alkohol dengan asam sulfat pekat bisa menghasilkan ester
sulfat monoalkil atau dialkil. Mono esternya diberikan nama alkilhidrogen sulfat, asam
alkil sulfat, atau alkil bisulfat; sedangkan diesternya memakai nama dialkil sulfat.
Reaksinya:

Mekanisme reaksinya:
Tahap 1: Protonasi alkohol oleh asam sulfat

Tahap 2: Reaksi ion karbonium dengan asam sulfat

Tahap 3: Ion karbonium kedua bereaksi dengan alkilhidrogen sulfat

Masalah 7.11
Ramalkan produk utama reaksi-reaksi berikut.

(5) Ester sulfonat


Reaksi alkohol dengan alkil sulfonat (aril sulfonat) menghasilkan senyawa ester
sulfonat. Suatu contoh pereaksi yang umum dipakai adalah tosilklorida (TsCl). Untuk
memperangkap HCl yang dilepaskan, ditambahkan basa (amina atau piridin).

Stereokimianya:
Dalam pembentukan tosilat, ikatan karbon-oksigen pada alkohol tidak terputus.
Jika suatu tosilat dibuat dengan menggunakan enantiomer tunggal dari alkohol kiral,
maka tosilat tersebut memiliki konfigurasi yang sama dengan konfigurasi alkoholnya
(retensi konfigurasi).

Anion tosilat terstabilkan oleh sistem resonansi dan tergolong basa yang sangat lemah.

Gugus tosilat merupakan gugus pergi yang jauh lebih baik dibandingkan OH
dan dapat digantikan dengan oleh nukleofil lemah, misalnya X- dan ROH dalam suasana
SN2 (tidak perlu katalis asam).
Reaksinya:

Masalah 7.12
1. Tuliskan tahap-tahap reaksi sintesis
a. n-propil tosilat.
b. (R)-2-heksil tosilat
2. Tulis struktur resonansi ion metil tosilat.
3. Ramalkan produk reaksi SN2 dari reaksi (R)-2-oktil tosilat dan air.

2) Reaksi eliminsi
Alkohol dapat mengalami reaksi eliminasi menghasilkan alkena. Karena pada
reaksi tersebut dihasilkan air, maka sering juga disebut reaksi dehidrasi. Pada reaksi
tersebut diperlukan katalis asam kuat, misalnya H2SO4. Mekanisme reaksinya bisa E1
atau E2 tergantung pada struktur alkoholnya. Alkohol tersier dan sekunder mengalami
reaksi dehidrasi melalui mekanisme E1, sedangkan alkohol primer lewat E2. Laju
reaksinya dapat dilihat dengan membandingkan suhu reaksi berikut ini.

a) Reaksi eliminasi unimolekuler (E1)


Tahap-tahap reaksi eliminasi unimolekuler dapat digambarkan sebagai berikut.
Tahap 1: Protonasi alkohol dan pelepasan air.

Tahap 2: Pelepasan H+

Pada tahap kedua, ion karbonium melepaskan H yang diberikan kepada basa B:(anion sisa asam, air, dan alkohol). Pelepasan H+ menyebabkan terbentuknya orbital
penuh pada C. Tumpang tindih antara orbital isi penuh dengan orbital kosong pada ion
karbonium menyebabkan terbentuknya ikatan .

Jika dapat terbentuk lebih dari satu macam produk alkena, maka E1 yang menghasilkan
produk alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih dominan (aturan Saytseff).
Contoh:

Masalah 7.13
1. Dalam dehidrasi 2-pentanol, manakah yang merupakan produk yang lebih
melimpah cis- atau trans-2-pentena? Jelaskan.
2. Tentukan produk dehidrasi 1-fenil-2-butanol.
3. Tentukan mekanisme pengubahan 3,3-dimetil-2-butanol menjadi 2,3-dimetil-2butena.
4. Ramalkan produk utama dehidrasi: (a) 3-pentanol, (b) neopropil alkohol
5. Usulkan mekanisme reaksi:

b) Reaksi eliminasi bimolekuler (E2)


Eliminasi alkohol primer mengikuti mekanisme E2.
terdiri dari dua tahap.
Tahap 1: Protonasi alkohol

Mekanisme reaksinya

Tahap 2: Serangan basa membentuk alkena

Pada reaksi E2, pelepasan H2O dan pengikatan H oleh basa B:- (sehingga terbentuk
ikatan ) terjadi secara serempak.
3) Reaksi Oksidasi
Dalam reaksi senyawa-senyawa organik, reaksi redoks dikaitkan dengan transfer
oksigen dan hidrogen. Jika suatu senyawa mengikat oksigen atau melepaskan hidrogen,
maka disebut mengalami oksidasi; sebaliknya jika mengikat hidrogen atau melepaskan
oksigen, maka disebut mengalami reduksi. Penghitungan biloks atom karbon juga bisa
dilakukan dengan ketentuan biloks atom-atom yang terikat pada atom karbon tersebut
adalah: oksigen (-2), halogen (-1), atom karbon lain (0). Perhatikan contoh berikut:

Simbol [O] pada reaksi di atas adalah oksidator, sebaliknya reduktor disimbulkan
dengan [H].
Deretan senyawa dengan tingkat oksidasi atom karbon semakin meningkat:
CH3CH3

CH2=CH2
CH3CH2OH
CH3CH2Cl

CHCH
CH3CHO
CH3CHCl2

CH3COOH
CH3CCl3

CO2

Masalah 7.14
1) Urutkan asam karboksilat berikut menurut naiknya tingkat oksidasi:
(a). HOCH2COOH

(b). CH3COOH

(c). HOOC-COOH

2) Sarankan persamaan reaksi pembuatan sikloheksena dari sikloheksanol.

a) Reaksi pembakaran

Jika alkohol dibakar, maka akan menghasilkan uap air dan gas karbon dioksida.
Reaksi tersebut tergolong reaksi eksoterm, sehingga disertai pelepasan kalor, yang biasa
dikenal sebagai kalor pembakaran.
Reaksi: CnH2n+2O + 1 O2 n CO2(g) + (n+1) H2O(g); H = - x kkal/mol
Masalah 7.15
Pembakaran sempurna 10 liter uap alkohol menghasilkan 30 liter gas karbondioksida
dan 40 liter uap air. Jika pengukuran volume gas dilakukan pada suhu dan tekanan yang
sama, serta massa molekul realtif alkohol tersebut adalah 60, tentukan rumus molekul
dan rumus struktur alkohol tersebut.
b) Oksidasi biologis
Di dalam sistem biologis etanol dioksidasi di hati (lever) dengan bantuan enzim
alkohol dehidrogenase menghasilkan aldehida, yang secara enzimatis dioksidasi lebih
lanjut menghasilkan ion karboksilat.

Jika dihasilkan gugus asetat, maka akan

diesterifikasi oleh koenzim A tiol (HSCoA) menghasilkan asetil koenzim A. Gugus


asetil dalam senyawa tersebut dapat diubah menjadi CO 2, H2O, dan energi atau
persenyawaan lain.

c) Oksidasi alkohol di laboratorium


Oksidasi alkohol yang dilangsungkan di laboratorium dibedakan berdasarkan
jenis alkoholnya. Alkohol primer dioksidasi menghasilkan aldehida, selajutnya aldehida
dioksidasi menghasilkan asam karboksilat. Alkohol sekunder dioksidasi menghasilkan
keton, sedangkan keton tidak dapat dioksidasi. Alkohol tersier tidak dapat dioksidasi.
Dapat tidaknya alkohol dioksidasi tergantung pada keberadaan atom hidrogen yang
terikat langsung pada atom karbon yang mengikat gugus fungsional (OH).
Beberapa oksidator yang biasa digunakan di laboratorium adalah:
(i)

Kalium permanganat basa: KMnO4 + OH-

(ii)

HNO3 pekat

(iii)

CuO, panas (300oC).

(iv)Asam kromat: H2CrO4 (dibuat secara insitu dari CrO3 atau Cr2O72- dengan H2SO4
dalam air, reagen Jones)
(v) Kromium trioksida, CrO3, yang dikomplekskan dengan piridin atau pirimidin
dengan HCl.

Alkohol primer dioksidasi menghasilkan aldehida.

Aldehid lebih mudah

dioksidasi, sehingga oksidasi berlangsung terus menghasilkan asam karboksilat atau


anion karboksilat dalam larutan basa.

Jika menginginkan produk aldehida, maka digunakan oksidator kompleks krom


trioksida-piridin atau piridin klorokromat. Reagen ini tidak mengoksidasi aldehida
lebih lanjut menjadi asam karboksilat.
Alkohol sekunder mengalami oksidasi menghasilkan keton dengan hasil sangat
bagus oleh oksidator standar (biasanya dalam suasana asam, karena dalam suasana basa
keton dapat teroksidasi lebih lanjut).
Reaksinya:

Masalah 7.16
Ramalkan produk oksidasi senyawa berikut ini dengan H2CrO4
a. Siklopentanol.
d) Oksidasi Diol

b. Benzilalkohol.

(1) Penataan ulang pinakol.

Senyawa diol dapat mengalami reaksi dehidrasi

penataan ulang pinakol. Reaksi ini menggunakan katalis asam. Contoh reaksinya:

Mekanisme reaksinya:
Tahap 1: Protonasi gugus hidroksil

Tahap 2: Pelepasan air menghasilkan ion karbonium

Tahap 3: Pergeseran metil membentuk ion karbonium yang terstabilkan oleh resonansi

Tahap 4: Deprotonasi menghasilkan produk

Masalah 7.17
Perkirakan mekanisme reaksi berikut.

(2) Pemecahan Asam Periodat menghasilkan Glikol.

Senyawa Glikol (diol)

mengalami pemutusan ikatan oleh asam periodat (HIO 4) menghasilkan aldehida dan
keton.

Masalah 7.18
Perkirakan produk reaksi dengan asam periodat dengan senyawa berikut.

b. Sifat kimia eter dan epoksida


1) Reaksi Eter dengan Asam
Eter tergolong senyawa tidak reaktif. Ikatan eter cukup stabil terhadap basa,
oksidator, dan reduktor. Ikatan eter hanya dapat mengalami reaksi pemutusan dengan
asam panas. Pada reaksi tersebut dihasilkan campuran alkohol dan alkil halida. Jika
asam yang digunakan berlebih, maka dihasilkan campuran alkil halida. Pada reaksi
tersebut dihasilkan ion karbonium yang lebih stabil untuk selanjutnya berikatan dengan
anion X- membentuk alkil halida.
Reaksinya:

Urutan reaktivitas asam halida yang untuk memutuskan ikatan eter adalah HI > HBr >
HCl. Dengan demikian, dalam prakteknya yang paling sering digunakan adalah asam
iodida (HI).
Masalah 7.19
Etil fenil eter bereaksi dengan HI menghasilkan etil iodida dan fenol. Fenol tidak
bereaksi lebih jauh dengan HI karena karbon terhibridisasi sp2 pada fenol tidak
mengalami reaksi SN2 atau SN1 untuk membentuk klorobenzena.

Perkirakan

mekanisme reaksinya.
2) Reaksi dengan asam sulfat
Pemanasan larutan eter dalam asam sulfat pekat menghasilkan alkohol dan alkil
hidrogensulfat. Reaksinya adalah sebagai berikut.

3) Reaksi hidrolisis
Bila eter didihkan dalam air yang mengandung asam, maka akan terhidrolisis
menghasilkan alkohol.
Reaksinya:

4) Substitusi atom H alfa


Klor atau brom dapat mensubstitusi atom H alfa pada eter.
Reaksinya:

5) Autoksidasi
Jika eter disimpan dalam kehadiran oksigen atmosfer, secara perlahan akan
terjadi reaksi oksidasi menghasilka hidroperoksida dan dialkil peroksida, keduanya
bersifat eksposif.

Reaksi oksidasi eter yang terjadi secara spontan oleh oksigen

atmosfer dinamakan autoksidasi.


Reaksinya:

Contoh:

Masalah 7.20
Tentukan bagaimana caranya untuk mencegah terbentuknya peroksida yang bersifat
eksplosif pada dietil eter yang biasa digunakan sebagai pelarut di laboratorium kimia
organik!
Pemecahan ikatan epoksida. Epoksida mengalami pemecahan ikatan dengan
katalis asam dan juga dengan basa:
1) Pemecahan epoksida oleh katalis asam: anti-hidroksilasi
Seperti eter-eter yang lain, epoksida terprotonasi oleh asam.

Epoksida

terprotonasi selanjutnya mengalami serangan oleh reagen nukleofilik. Reaksi tersebut


kemudian diikuti dengan hidrolisis yang bersifat stereoselektif, menghasilkan 1,2-diol
yang berhubungan dengan anti-adisi terhadap ikatan rangkap karbon-karbon.

2) Pemecahan epoksida oleh katalis basa


Tidak seperti eter-eter yang lain, epoksida dapat dipecah dalam suasana alkali.
Dalam hal ini, epoksida tidak terprotonasi, tetapi mengalami serangan nukleofilik.

Struktur epoksida yang tidak terprotonasi dapat dikompensasi dengan menggunakan


basa yang lebih kuat, yaitu larutan basa: alkoksida, penoksida, amoniak, dll.
Masalah 7.21
Sarankan mekanisme reaksi epoksida dengan:
a. Fenol

b. ion fenoksida

3) Reaksi epoksida dengan reagen Grignard


Reagen Grignard mengandung karbanion yang bersifat sebagai nukleofil kuat.
Reaksi antara epoksida dengan reagen Grignad menghasilkan ikatan karbon-karbon.
Penggunaan epoksida yang lebih tinggi memungkinkan terjadinya penataan ulang,
sehingga memberikan produk campuran.

Masalah 7.22
Tentukan produk reaksi A dan B berikut.
CH 3
H 3C

CH 3

CH 3
MgBr

H 3C

C
H

H
C

C
O

eter

H2O/H

CH 3

c. Sifat kimia fenol


Fenol dan alkohol memiliki atom karbon yang mengikat gugus hidroksil (OH),
tetapi memiliki perbedaan yang sangat signifikan dalam reaksi-reaksi kimianya. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan struktur kedua golongan senyawa tersebut.

Pasangan

elektron bebas pada atom oksigen dalam gugus OH fenolik dapat berinteraksi dengan
sistem cincin benzena dan terdelokalisasi. Elektron-elektron terdelokalisasi tersebut
akhirnya meliputi keenam atom C dalam cincin dan juga atom oksigen pada gugus OH

fenolik. Delokalisasi elektron-elektron non bonding karena resonansi menyebabkan


ikatan C-O menampakkan karakter ikatan rangkap dan menjadi lebih kuat dibandingkan
ikatan sigma O-H. Peningkatan kerapatan elekton pada cincin benzena mendorong
terjadinya reaksi substitusi elektrofilik.

Reaksi-reaksi pada alkohol cenderung melibatkan penggantian gugus OH


dengan substituen lain, melibatkan pemutusan ikatan C-O; sedangkan pada fenol hal itu
tidak dapat terjadi secara normal. Dengan perkataan lain, fenol-fenol didissosiasi pada
ikatan O-H dan bersifat sebagai asam lemah, membentuk garam alkoksi dengan alkali.
Sebaliknya, alkohol tidak dapat membentuk garam dengan basa.
Secara umum, reaksi fenol dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: reaksi yang
melibatkan gugus OH fenolik, dan reaksi yang melibatkan cincin aromatik.
1) Reaksi-reaksi yang melibatkan gugus OH fenolik
a) Karakter asam: membentuk garam
Fenol merupakan asam yang jauh lebih kuat dibandingkan alkohol.
Perbandingan reaksi alkohol dan fenol dengan basa dapat digambarkan sebagai berikut.

Kekuatan keasaman fenol terletak antara asam asetat dan etanol


Senyawa
Ka pada 25oC

etanol
~ 10-18

fenol
1,3 x 10-10

asam asetat
1,8 x 10-5

Derajat ionisasi suatu asam lemah HA ditentukan oleh stabilitas relatif molekul
dan anion A-. Reaksinya: HA

H+ + A- Semakin stabil ion A- yang terbentuk,

semakin kuat sifat asam tersebut. Ion fenoksida distabilkan oleh sistem resonansi,
sehingga fenol tergolong asam lebih kuat dibandingkan alkohol. Hibrida resonansi

anion fenoksida lebih stabil dibandingkan hibrida resonansi fenolnya.

Sedangkan,

dalam ion alkoksida (RO-) muatan negatifnya tidak dapat didelokalisasi.

Ionisasi fenol dan alkohol mempersyaratkan energi.

Tetapi, ionisasi hibrida fenol

memerlukan energi lebih rendah (E2) dibandingkan energi ionisasi alkohol (E1)
sebagai anion alkoksida yang tidak distabilkan oleh sistem resonansi. Akibatnya, fenol
lebih asam dibandingkan alkohol.

Gambar 7.1 Energi Ionisai Fenol dan Alkohol


Masalah 7.23
Ka p-nitrofenol adalah 7.

Gunakan struktur-struktur resonansi untuk menjelaskan

mengapa senyawa tersebut lebih asam dari pada fenol.


b) Kompleks berwarna dengan FeCl3
Fenol membentuk kompleks besi berwarna jika direaksikan dengan larutan
feriklorida netral. Kompleks tersebut menunjukkan warna yang khas, sehingga sering
dipergunakan untuk tes fenol.

Fenol menunjukkan warna violet, resolsinol violet,

katekol hijau, pirogallol merah, floroglusinol ungu tua, dan lain-lain.

c) Penggantian gugus OH dengan H


Pada saat fenol didistilasi dengan debu seng, gugus OH diganti dengan atom
hidrogen menjadi benzena. Zn memindahkan oksigen pada gugus OH fenolik sebagai
oksida seng (ZnO).

d) Penggantian gugus OH dengan halogen


Tidak seperti alkohol, gugus OH fenolik tidak dapat diganti dengan halogen
melalui reaksi dengan hidrogen halida (HX), tetapi bereaksi dengan PX 5 menghasilkan
halobenzena, POX3 dan HX. Halobenzena yang dihasilkan sesungguhnya sangat sedikit
dibandingkan produk utama reaksi ini, yaitu: (C6H5)3PO4.

e) Penggantian gugus OH dengan NH2


Penggantian gugus OH fenolik dengan amino dapat dilakukan dengan
pemanasan (suhu 300oC) fenol dengan amoniak dengan kehadiran katalis ZnCl2,
sehingga dihasilkan anilin dan H2O.

f) Pembentukan eter
Fenol mudah membentuk eter berdasarkan reaksi natrium fenoksida dengan alkil
halida, R-X (sintesis Williamson).

Ion fenoksida bersifat nukleofilik dan akan

mengganti halogen dari alkil halida menghasilkan alkil aril eter (C6H5OR).

Masalah 7.24
Sarankan tahap reaksi sintesis anisol (metil-fenil eter) dan fenol.

g) Esterifikasi
Fenol bereaksi dengan asilhalida atau anhidrida asetat dengan kehadiran basa
(NaOH atau piridin).

2) Reaksi-reaksi yang melibatkan cincin bezena


a) Substitusi Elektrofilik langsung
Delokalisasi pasangan elektron non bonding dari gugus OH ke dalam cincin
benzena mengaktifkannya terhadap serangan elektrofil (E+). Lebih jauh, titik serangan
terjadi pada posisi orto dan para, karena muatan negatif pada sistem resonansinya
terdapat pada posisi tersebut.

Jenis reaksi yang terjadi sama dengan substitusi

elektrofilik kedua pada benzena.

(1) Halogenasi fenol


Gugus OH pada cincin benzena merupakan aktivator yang sangat kuat dan
menjadi penyebab khusus polisubstitusi pada cincin tersebut. Fenol dapat bereaksi
dengan larutan Br2 dalam air berlebih menghasilkan 2,4,6-tribromofenol.
Br2 + Br2

Br+ + Br3-

Reaksi brominasi dapat dibatasi hanya sampai terbentuknya monobromofenol dengan


hanya menggunakan 1 mol brom yang dilarutkan dalam pelarut kurang polar, misalnya
karbon disulfida (CS2) atau kloroform (CHCl3).

(2) Sulfonasi fenol


Sulfonasi fenol terjadi dengan pereaksi asam sulfat pekat. Dalam hal ini yang
bertindak sebagai elektrofil adalah ion +SO3H.
H2SO4 + H2SO4

HSO3H + HSO4- + H2O

Jika sulfonasi berlangsung pada suhu kamar, produk utamanya adalah isomer
orto, sementara pada suhu 100oC adalah isomer para. Pada pemanasan yang lebih lama
dengan asam sulfat pekat, gugus SO3H juga akan mensubstitusi pada posisi meta dari
gugus SO3H lainnya.

(3) Nitrasi fenol


Cincin benzena pada fenol memiliki aktivitas yang sangat tinggi.

Fenol

mengalami nitrasi dengan larutan asam nitrat. Dalam hal ini yang bertindak sebagai
elektrofil adalah ion nitronium (+NO2).
HNO3 + HNO3

NO2 + NO3- + H2O

(4) Nitrosasi fenol


Reaksi nitrosasi terjadi jika fenol direaksikan dengan larutan asam nitrit (HNO 2)
dalam asam sulfat.
HONO + H2SO4

NO + HSO4- + H2O

(5) Alkilasi fenol


Fenol mengalami alkilasi pada cincin benzenanya apabila direaksikan dengan
alkil halida dalam suasana basa atau asam.

Masalah 7.25
Perkirakan bagaimanakah mekanisme reaksi sintesis 2-metil fenol dari fenol.

(6) Asilasi fenol


Fenol bereaksi dengan asil klorida dengan kehadiran katalis FeCl3 menghasilkan
orto dan para asil fenol (Reaksi Fredel-Craft).

Masalah 7.26
Ramalkan mekanisme reaksi preparasi asam asetilsalisilat menurut reaksi berikut ini.

(7) Merkurasi fenol


Senyawa o-asetosimerkurifenol dapat dibuat dari refluks fenol bersama dengan
larutan merkuri asetat dalam air.

(8) Reaksi penggabungan


Fenol bereaksi dengan garam arildiazonium dalam suasana basa membantuk
senyawa azo.

Reaksi di atas dikenal sebagai reaksi penggabungan fenol (coupling reaction) dan secara
ekstensif dipergunakan dalam sintesis zat warna.

Mekanisme reaksinya:

(9) Reaksi Kolbe


Jika gas karbon dioksida dilewatkan di atas natrium fenoksida pada suhu 125oC,
maka gugus karboksil secara langsung akan dimasukkan ke dalam cincin benzena pada
posisi orto terhadap gugus hidroksi fenol. Dalam kasus tersebut, gas CO 2 bertindak
sebagai elektrofil lemah. Reaksi karbonasi terhadap fenol menghasilkan asam fenolik
dikenal dengan nama reaksi Kolbe.

Jika karbonasi dilangsungkan pada suhu 250 300 oC, maka akan diperoleh
produk p-karboksilasi.

Mekanisme reaksinya:

(10) Reaksi Gattermann: Formilasi


Pada saat fenol direaksikan dengan campuran hidrogen sianida, hidrogen
klorida, dan katalis zeng klorida, gugus aldehid (atau gugus formil) akan dimasukkan
pada posisi orto dari gugus OH. Hasil reaksinya adalah o-hidroksi benzaldehida.

Reaksi di atas dikenal sebagai reaksi Gattermann yang umum digunakan untuk
formilasi cincin aromatik yang mengandung gugus penarik elektron, misalnya OH,
OCH3, dan lain-lain.
Mekanisme reaksinya:

(11) Reaksi Reimer-Teimann


Perlakukan fenol dengan kloroform dan larutan NaOH pada suhu 60 oC, diikuti
dengan pengasaman, akan memasukkan gugus CHO ke dalam cincin aromatik,
utamanya pada posisi orto dari gugus OH.

Reaksi di atas dikenal sebagai reaksi Reimer-Tiemann, yang umumnya digunakan untuk
membuat aldehida aromatik.
Mekanisme reaksinya:
(i). Pembentukan elektrofil diklorometilen dari kloroform.

(ii). Substitusi elektrofilik terhadap cincin fenol

(iii). Hidrolisis dan pengasaman

Jika kloroform diganti dengan CCl4, maka akan dihasilkan asam salisilat sebagai produk
utama.

Masalah 7.27
Perkirakan mekanisme reaksi sintesis asam salisilat dari fenol dan karbon tetraklorida!
(12) Reaksi kondensasi dengan aldehida
Fenol mengalami kondensasi dengan aldehida melalui reaksi substitusi
elekytrofilik pada posisi orto dan para, dengan kehadiran asam atau basa sebagai katalis.

Jika digunakan formaldehida sebagai elektrofil, maka akan dihasilkan o- dan phidroksibenzil alkohol. Reksi tersebut dikenal sebagai reaksi Lederer-Manasse.

Jika campuran reaksi mengandung formaldehida berlebih, maka akan dihasilkan di- dan
trisubstitusi.

Kondensasi antar molekul dari hidroksimetilfenol akan menghasilkan produk


bermassa molekul tinggi dan polimer ikatan silang tinggi, yang dikenal sebagai resin
formaldehida atau bakelit.

(13) Reaksi dengan anhidrida ftalat


Beberapa fenol mengalami kondensasi dengan anhidrida ftalat menghasilkan
produk yang sangat berguna. Campuran dengan anhidrida ftalat jika dipanaskan dengan
asam sulfat akan menghasilkan fenolftalein (indikator asam basa).

(14) Reaksi oksidasi


Fenol mudah dioksidasi tanpa gangguan oleh kerangka karbonnya menghasilkan
p-benzokuinon.

Mirip dengan hidrokuinon, pada oksidasi fenol dengan garam perak dihasilkan pbenzokuinon. Reaksi ini banyak digunakan pada fotografi.

Jika digunakan oksidator sangat kuat, misalnya KMnO4 alkalis, maka cincin
benzenanya akan terputus menghasilkan asam tartarat, asam oksalat, dan karbon
dioksida.
Reaksinya:

(15) Reduksi
Gugus OH bersifat stabil, dan reduksi katalitik (memakai Ni) fenol pada suhu
150-175oC akan menghasilkan sikloheksanol.

4. Pembuatan alkohol, eter, dan fenol


a.

Pembuatan alkohol

1) Substitusi Nukleofilik Alkil Halida


Agar tidak menghasilkan campuran rasemat alkohol, reaksi dirancang melalui
mekanisme SN2 bersaing dengan reaksi eliminasi. Reaksinya adalah sebagai berikut.

Contoh

Masalah 7.28
Persamaan reaksi sintesis benzil alkohol dari aril halida yang sesuai, lengkapi dengan
kondisi reaksinya (pelarut dan suhu)
2) Hidrasi alkena dengan katalis asam
Alkohol dapat dibuat dari hidrasi alkena dengan katalis asam.
Reaksinya:
H+
C

+ H

alkena

-H

Orientasi
Markovnikov

OH

H 2O

Alkohol

Contoh:
C 2H 5

H
C

+ H

CH3

trans-2-pentuna

H+

C 2H 5
C
H

H2O

H
C
CH3

-H

C 2H 5
C
H OH

H
CH 3

3-pentanol

Orientasi
Markovnikov

3) Oksimerkurasi-demerkurasi
Alkohol dapat dibuat dari reaksi hidrasi alkena dengan adanya merkurasetat
menghasilkan senyawa merkurial, kemudian direduksi menghasilkan alkohol. Reaksi
ini dikenal sebagai reaksi Oksimerkurasi Demerkurasi.

Contoh:

4) Hidroborasi-oksidasi
Alkohol dibuat dari hidroborasi alkena dengan BH3 dalam bentuk dimernya
B2H6, dilanjutkan dengan oksidasi menggunakan H2O2 dalam suasana basa. Reaksi
terjadi dengan orientasi anti-Markovnikov.

Penyerangan ini terjadi serempak,

sehingga menyerang dari sisi yang sama (sin-adisi).

Contoh:

5) Hidroksilasi
Alkanadiol dapat dibuat dari reaksi alkena dengan larutan KMnO4 encer dalam
suasana basa. Reaksi hidroksilasi terjadi melalui mekanisme sin-adisi dan intermediet
siklis.

Contoh

6) Adisi reagen Grignard terhadap senyawa karbonil


Adisi senyawa karbonil dengan reagen Grignard dilanjutkan dengan hidrolisis
asam. Jika digunakan formalehida, maka akan menghasilkan alkohol primer; aldehida
lain menghasilkan alkohol sekunder; dan keton menghasilkan alkohol tersier.

Masalah 7.29
Tuliskan persamaan reaksi dan mekanisme pembentukan senyawa-senyawa berikut
dengan reagen Grignar dan senyawa karbonil.

7) Adisi Reagen Grignard terhadap Klorida Asam dan Ester


Klorida asam dan ester sebagai turunan asam karboksilat, juga dapat dipakai
sebagai bahan dasar untuk membentuk alkohol tersier jika direaksikan dengan dua
ekuivalen reagen Grignard dilanjutkan dengan hidrolisis dalam suasana asam.

Mekanisme reaksinya:
(1) Serangan reagen Grignard terhadap asam klorida:

(2) Serangan reagen Grignard terhadap intermediate keton:

Masalah 7.30
1. Tentukan produk reaksi berikut dan prediksi mekanisme reaksinya.

2. Tuliskan persamaan reaksi 3-metil-3-pentanol dari etil etanoat. Perkirakan juga


mekanisme reaksinya.

8) Adisi Reagen Grignard terhadap etilen oksida


Alkohol primer dapat dibuat dari reaksi etilen oksida dengan reagen Grignard
dilanjutkan dengan hidrolisis dalam suasaba asam. Reaknya:

Contoh: pembuatan 1-pentanol

9) Reduksi Senyawa Karbonil


Berbeda dengan reagen Grignard yang mengubah senyawa karbonil menjadi
alkohol dengan penambahan gugus alkil, reagen hidrida hanya menambahkan ion
hidrida (H-), mereduksi gugus karbonil menjadi ion alkoksida. Lebih lanjut, protonasi
ion tersebut akan menghasilkan alkohol.

Dua reagen hidrida yang paling banyak

digunakan adalah natrium borohidrida (NaBH4) dan litium aluminium hidrida (LiAlH4),
yang biasa dinamakan hidrida kompleks.

Struktur kedua reagen hidrida tersebut

adalah sebagai berikut.

Aluminium kurang elektronegatif dibandingkan boron, sehingga lebih banyak


muatan negatif dalam ion AlH4- diemban oleh atom hidrogen.

Karena itu, litium

aluminium hidrida (LAH) merupakan reduktor yang lebih kuat dibandingkan natrium
borohidrida. LiAlH4 bereaksi eksplosif dengan air dan alkohol, membebaskan gas
hidrogen, dan kadang-kadang menimbulkan api.

NaBH4 bereaksi lambat dengan

alkohol dan dengan air. Hidrida tersebut merupakan reduktor yang baik sekali dan
memiliki selektivitas tinggi.

NaBH4 mereduksi aldehida menjadi alkohol primer, dan keton menjadi alkohol
sekunder. Reaksi dapat terjadi dalam berbagai pelarut, seperti alkohol, eter, dan air,
dengan hasil sangat baik.

Sebagai reduktor selektif, NaBH4 tidak bereaksi dengan gugus karbonil yang
kurang reaktif dibandingkan keton dan aldehida, yaitu asam karboksilat dan ester.
Dengan demikian, NaBH4 dapat mereduksi keton dan aldehida walaupun ada gugus
karboksil dan esternya.

Jika digunakan LiAlH4, maka gugus karboksil, ester, dan gugus-gugus turunan
karboksilat lainnya juga ikut tereduksi.

Reduktor tersebut akan mereduksi keton

menjadi alkohol sekunder, serta aldehida, asam, dan ester menjadi alkohol primer.

Urutan kemudahan direduksi senyawa-senyawa karbonil adalah sebagai berikut:

Kesimpulan, NaBH4 dapat digunakan untuk mereduksi aldehida dan keton dengan
kehadiran asam atau ester, tetapi belum ada metode untuk mereduksi asam atau ester
tanpa mereduksi aldehida dan keton. Jika digunakan LiAlH4, maka seluruh gugus
tersebut akan tereduksi. Namun, baik NaBH4 maupun LiAlH4 tidak dapat mereduksi
ikatan rangkap karbon-karbon (C=C).

Masalah 7.31
Tentukan produk reaksi senyawa-senyawa berikut dengan: (a) NaBH4, (b) LiAlH4.

10) Hidrogenasi Katalitik Keton dan Aldehida


Reduksi keton dan aldehida secara efektif dapat dilakukan dengan hidrogenasi
menggunakan katalis Raney Ni, namun hidrogenasi juga terjadi pada ikatan C=C.

b.

Pembuatan eter
Preparasi eter dilakukan lewat reaksi-reaksi berikut.

1) Dehidrasi alkohol primer


Dietil eter, sebagai sebuah contoh, dapat dibuat dari dehidrasi etanol dengan
asam sulfat pekat pada suhu 140oC.

Pada suhu yang lebih tinggi (180oC) tidak

menghsilkan eter, tetapi etena. Reaksi ini digunakan untuk membuat eter simetris dan
umumnya bekerja dengan alkohol primer. Pembentukan eter tersebut mengikuti reaksi
SN2. Mekanisme reaksinya diawali dengan tahap aktivasi melalui protonasi etanol
diikuti substitusi gugus -OH dengan -OCH2CH3.

2) Adisi Alkena dengan alkohol


Eter tidak simetris dibuat dari adisi alkena dengan etanol.

Sebagai contoh

pembuatan t-butil metil eter, suatu senyawa yang digunakan untuk meningkatkan
bilangan oktana bensin sebagai pengganti (C2H5)4Pb.

Mekanisme reaksinya:

3) Sintesis Williamson
Pembuatan eter tidak simetris terpentimng di laboratorium adalah sintesis
Williamson. Sintesis ini terdiri dari dua tahap, yaitu reaksi pengubahan alkohol menjadi
alkoksida dengan cara mereaksikannya dengan logam Na atau K atau hidrida logam,
kemudian mereaksikan Na alkoksida dengan alkil halida berdasarkan reaksi S N2.
Misalnya, sintesis metil propil eter dapat dilakukan dengan reaksi berikut.
CH3OH + Na

CH3ONa + H2(g)

4) Oksidasi Alkena
Oksidasi alkena dilakukan untuk mebuat eter siklis (epoksida), misalnya sintesis
etilena oksida (oksirana) dari oksidasi etena dengan katalis Ag.

Preparasi eter siklik dilakukan lewat reaksi-reaksi berikut.


a. Epoksidasi peroksida
b. Siklisasi halohidrin dengan kaalis based
Masalah 7.32
Rancanglah skema tahap-tahap reaksi pembuatan etil isopropil eter dari gas metana.
c.

Pembuatan fenol
Di laboratorium fenol dibuat dari reaksi hidrolisis garam diazonium dan fusi

alkali sulfonat.
1) Hidrolisis garam diazonium
Garam diazonium bereaksi dengan air menghasilkan fenol. Reaksinya adalah
sebagai berikut.

2) Fusi Alkali sulfonat


Fenol dapat dibuat dari reaksi asam benzena sulfonat dengan basa, dilanjutkan
dengan hidrolisis dalam suasana asam.

Masalah 7.33
Rancanglah skema tahap-tahap reaksi sintesis fenol dari benzena!

5. Identifikasi Alkohol, Eter, dan Fenol


a. Identifikasi Alkohol
1) Reaksi dengan logam Na
Berbeda dengan eter, alkohol bereaksi dengan logam Na menghasilkan garam
natrium alkoksida dan gas hidrogen.

Gas yang terbentuk dapat diuji dengan

mendekatkannya pada nyala api, dan timbul suara letupan.


2 ROH

+ 2 Na

2 RO-Na+ + H2(g)

2) Tes Lucas
Alkohol dapat bereaksi dengan HCl (memakai katalis ZnCl2) menghasilkan alkil
klorida yang berbentuk kabut putih pada campurannya. Reaksi ini dapat dipergunakan
untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier berdasarkan laju reaksinya.
Alkohol tersier bereaksi sangat cepat pada suhu kamar, alkohol sekunder setelah
beberapa menit, sedangkan alkohol primer baru akan bereaksi apabila dipanaskan.
Mekanismenya mengikuti mekanisme reaksi SN1.

Mekanisme reaksinya: SN1 dengan reagen Lucas (cepat):

3) Tes Iodoform
Alkohol dengan rumus struktur CH3CH(OH)R bereaksi dengan I2 dan larutan
NaOH, menghasilkan endapan kuning iodoform (CHI3, titik leleh 119oC).
4) Analisis spektrum
Alkohol menunjukkan serapan kuat dan lebar pada spektra IR pada bilangan
gelombang 32003600 cm-1 (serapan OH ulur, berikatan hidrogen). Serapan lain
pada 10001200 cm-1 menunjukkan CO ulur (kuat, lebar).

b. Identifikasi Eter
Karena reaktivitas gugus eter sangat rendah, maka tes identifikasi eter sangat
terbatas.
1) Tes Iodium
Eter bereaksi dengan I2 dalam CH2Cl2 menghasilkan komplek berwarna ungu
kecoklat-coklatan.
2) Analisis spektrum
Spektum IR eter menunjukkan serapan kuat, lebar pada 10601300 cm -1 (CO
ulur).
c. Identifikasi Fenol
1) Tes kelarutan
Jika suatu senyawa lebih mudah larut dalam larutan NaOH dibandingkan dalam
air, tetapi tidak larut dalam natrium karbonat, maka kemungkinan besar senyawa
tersebut adalah fenol.
2) Tes feriklorida
Ke dalam larutan etanol atau air dari senyawa tersebut ditambahkan beberapa
tetes larutan FeCl3 netral. Munculnya warna merah, hijau atau hitam menunjukkan
senyawa tersebut adalah fenol.
3) Tes air brom
Air brom diteteskan ke dalam larutan sampel sampai warna kuning brom tetap
bertahan.

Timbulnya endapan (produk substitusi) menunjukkan senyawa tersebut

adalah fenol.
4) Tes Libermann
Panaskan senyawa sampel dengan sedikit asam sulfat pekat dan natrium nitrat.
Produk berwarna pekat akan dihasilkan jika ditambahkan larutan NaOH encer.
Munculnya warna biru atau hijau menunjukkan bahwa senyawa tersebut adalah fenol.
5) Analisis spektrum
Berbeda dengan alkohol yang tidak aktif terhadap sinar ultraviolet (uv), fenol
menunjukkan serapan kuat moderat yang menunjukkan cincin benzena pada 210 nm (
6.200). Daerah serapan inframerah (IR) untuk gugus hidroksi fenolik (O-H ulur) sama

dengan alkohol (3.600 cm-1). Absorpsi C-O ulur pada fenol terjadi dekat 1.200 cm -1,
sedangkan alkohol pada 1.100 50 cm-1.
Masalah 3.34
Pembakaran 3,7 gram cairan organik murni menghasilkan 8,8 gram gas karbondioksida
dan 4,5 gram uap air. Pada pembakaran tersebut tidak dihasilkan asap hitam. Analisis
gravimetri menunjukkan, bahwa massa molekul relatif senyawa tersebut adalah 74,
gugus fungsional senyawa tersebut menghasilkan data sebagai berikut.
i.

Dapat memutar bidang polarisasi cahaya.

ii.

Tidak bereaksi dengan larutan Br2 dalam CCl4.

iii.

Bereaksi dengan iodium dalam larutan NaOH menghasilkan endapan


kuning.

iv. Bereaksi dengan larutan asam klorida dan katalis zeng klorida dengan bantuan
pemanasan membentuk kabut putih.
v. Tidak bereaksi dengan larutan I2 dalam CH2Cl2.
vi. Bereaksi dengan logam natrium menghasilkan gas yang meletup jika disulut
dengan api.
Berdasarkan data tersebut:
a. Tentukan rumus molekul senyawa tersebut.
b. Tulis rumus struktur senyawa tersebut.
c. Gambar struktur tiga dimensi isomer-isomer ruang senyawa tersebut lengkap
dengan konfigusi absolutnya (R/S).
6. Penggunaan Alkohol, Eter, dan Fenol
a. Penggunaan Alkohol
Alkohol memiliki beberapa kegunaan, misalnya bahan minuman keras (etanol),
bahan bakar, bahan antibeku, antiseptik, dan pelarut.

Minuman keras biasanya

mengandung etanol 5% sampai 40% volume dan telah diproduksi dan dikonsumsi sejak
zaman pra-sejarah. Campuran 50% volume etilen glikol dalam air pada umumnya
digunakan untuk antibeku.

Kegunaan lainnya, etanol dapat digunakan sebagai

antiseptik atau desinfektan (etanol 70%) untuk membersihkan kulit sebelum disuntik,
terkadang bersama dengan iodin. Sabun berbasis etanol banyak digunakan di restoran

dan tidak membutuhkan pengering karena sangat mudah menguap.

Gel berbasis

alkohol juga umum digunakan sebagai hand sanitizer. Beberapa senyawa alkohol,
seperti etanol dan metanol, digunakan sebagai pelarut.

Dalam industri, alkohol

digunakan sebagai pelarut atau pereaksi (reagen). Etanol digunakan sebagai pelarut
pada obat-obatan, dan parfum karena sifatnya yang relatif tak beracun dan dapat larut
pada substansi non polar.
Etanol pada umumnya diproduksi dari material biologis yang diproses melalui
fermentasi. Bahan bakar yang diperoleh dari material-material biologis ini disebut
bioalkohol (misalnya bioetanol). Tidak ada perbedaan antara bahan bakar alkohol
yang diproduksi dari material biologis maupun dari bahan kimia.

Etanol yang

diproduksi dari minyak bumi tidak bisa dianggap aman untuk dikonsumsi karena masih
mengandung 5% metanol, yang dapat menyebabkan kebutaan dan kematian. Campuran
tersebut juga tidak bisa dipisahkan dengan destilasi biasa karena membentuk campuran
azeotropik.
Alkohol digunakan sebagai bahan bakar, misalnya metanol, yang merupakan
komponen utama spiritus. Mengingat metanol merupakan alkohol yang bersifat racun,
terutama menyerang saraf optik (mata), maka spiritus diberikan bahan pewarna
(denaturasi alkohol).

Walaupun demikian, metanol banyak disalahgunakan sebagai

bahan pembuatan arak oplosan. Arak sesungguhnya adalah minuman keras yang dibuat
dari destilasi tuakminuman keras yang dibuat dari nira aren, nira kelapa, atau nira
lontar atau bisa juga dibuat dari tape beras.

Untuk meningkatkan daya

memabukkan arak, maka ke dalamnya ditambahkan metanol. Keracunan arak metanol


tidak segera dirasakan, tetapi setelah 12 24 jam. Hal itu terjadi karena menunggu
pengubahan metanol menjadi asam formiat (asam metanoat) yang bersifat racun, yang
menyebabkan muntah-muntah, pusing, mata kabur, asidosis (pH darah turun). Jika
kadar metanol dalam darah mencapai 200 ppm yang setara dengan 60 100 mL
metanol murni, maka satu-satunya cara penyelamatan yang dapat dilakukan adalah cuci
darah. Jika tidak, pasien kemungkinan besar akan menemui ajal.
b. Penggunan Eter
Eter terutama digunakan sebagai pelarut, misalnya lemak dan untuk
memisahkan berbagai senyawa organik dari bahan alam. Dietil eter merupakan pelarut
laboratorium yang umum dan memiliki kelarutan terbatas di dalam air, sehingga sering

digunakan untuk ekstrasi cair-cair. Eter digunakan untuk pelarut reaksi Grignard, dan
untuk sebagian besar reaksi yang melibatkan berbagai reagen organologam. Dietil eter
sangat penting sebagai salah satu pelarut dalam produksi plastik selulosa sebagai
selulosa asetat. Dietil eter memiliki angka oktana yang tinggi, 85 sampai 96, digunakan
sebagai salah satu cairan awal untuk mesin diesel dan bensin karena keatsiriannya.
Eter juga dapat digunakan sebagai bahan anestetik dengan teknik anestesi hirup.
Eter juga dapat digunakan sebagai pengganti kloroform sebab eter memiliki indeks
terapeutik yang lebih tinggi. Eter masih menjadi anestesi yang disukai di sejumlah
negara berkembang karena indeks terapeutiknya yang tinggi (~1,5 2,2) dan harganya
yang murah. Saat ini, eter jarang digunakan. Eter yang mudah terbakar tidak lagi
dipakai semenjak sejumlah agen anestesi yang tidak mudah terbakar seperti halotana
mulai tersedia.

Lagipula eter memiliki efek-efek sampingan yang tak diinginkan,

seperti perasaan pening paska pembiusan dan muntah. Beberapa agen anestesi modern,
seperti metoksi propana (Neothyl) dan metoksifluran (Penthrane) mengurangi efek-efek
sampingan tersebut.
c. Penggunaan Fenol
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat padat kristal tak berwarna
yang memiliki bau khas. Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik, dan merupakan
komponen utama pada anstiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP
(trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestetik oral,
misalnya semprotan kloraseptik. Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian
dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya).

Selain itu, fenol juga

berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. Turunan
senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid, alkaloid dan
senyawa fenolat yang lain. Contoh dari senyawa fenol adalah eugenol yang merupakan
minyak pada cengkeh. Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran
kimiawi pada kulit yang terbuka.

Penyuntikan fenol juga pernah digunakan pada

eksekusi mati. Penyuntikan ini sering digunakan pada masa Nazi, Perang Dunia II.
Suntikan fenol diberikan pada ribuan orang di kamp-kamp konsentrasi, terutama di
Auschwitz-Birkenau. Penyuntikan tersebut dilakukan oleh dokter ke vena (intravena) di
lengan dan jantung. Penyuntikan ke jantung dapat mengakibatkan kematian langsung.
E. Ringkasan Materi

F. Menggambar struktur molekul alkohol, eter, dan fenol dan memberikan nama
menurut aturan IUPAC.
G. Menjelaskan hubungan sebab-akibat antara struktur molekul dengan sifat fisika
alkohol, eter dan fenol dengan struktur molekulnya
H. Memprediksi mekanisme reaksi alkohol, eter dan fenol.
I. Merancang tahap-tahap pembuatan alkohol, eter, dan fenol.
J. Menjelaskan kegunaan senyawa-senyawa alkohol, eter, dan fenol berdasarkan
sifat fisika dan kimianya.
K. Mengidentifikasi senyawa unknown golongan alkohol, fenol, atau eter
berdasarkan data eksperimen.

1. Alkohol dan eter merupakan sepasang isomer gugus fungsional. Kedua golongan
senyawa tersebut mengandung atom O sp3 dengan dua pasang elektron bebas (PEB).
Perbedaan sifat kedua golongan senyawa tersebut disebabkan oleh perbedaan gugus
atom yang terikat pada atom oksigen tersebut. Pada alkohol, atom O mengikat atom
H, sedangkan pada eter mengikat gugus alkil.

Akibatnya, antar molekul-molekul

alkohol terjadi ikatan hidrogen, yang menyebabkan titik didihnya lebih tinggi
dibandingkan titik didih eter yang sepadan. Walaupun sama-sama mengandung
gugus -OH, fenol menunjukkan sifat asam, sedangkan alkohol bersifat netral karena
tidak mengalami ionisasi. Fenol bersifat asam karena gugus fenolatnya distabilkan
oleh sistem resonansi.
2. Nama trivial alkohol adalah alkil alhohol, sedangkan nama IUPAC-nya adalah
alkanol.

Nama trivial eter adalah alkil-alkil eter, sedangkan nama IUPAC-nya

adalah alkoksi alkana.

Di sisi, nama fenol dan turunannya lebih umum

menggunakan nama trivial fenol.


3. Tatanama alcohol dalam sstem trivial Alkohol mengalami reaksi substitusi dan
eliminasi dengan HX. Subsitusi: ROH + HX RX + H2O; Eliminasi : R2CHCR2OH R2C = CR2 + H2O. Suatu alkoksida (RO-) dapat dibuat dari alkohol
dengan basa kuat atau logam alkali (R-Mg-X, Na, K). Suatu fenoksida (ArO -) dapat
dibentuk dari reaksi fenol dengan KOH atau NaH. Suatu alkohol dapat bereaki

dengan asam, atau turunan asam menghasilkan ester dari asam karboksilat
(RCOOR) atau ester anorganik, misalnya RONO 2 atau ROSO3H. Kebanyakan
gugus ester anorganik yang terbentuk tergolong gugus pergi yang baik. Oksidasi
alkohol primer menghasilkan aldehida, yang teroksidasi lebih lanjut menghasilkan
asam karboksilat. Oksidasi alkohol sekunder menghasilkan keton.
4. Eter dapat dibuat dari reaksi antara alkoksida atau fenoksida dengan metilhalida atau
alkilhalida primer. RO- + RX R-O-R + X- dan ArO- + RX Ar-O-R + X-.
Eter tidak mengalami reaksi eliminasi, tetapi dapat menjalani reaksi substitusi bila
dipanaskan dengan HBr atau HI. Epoksida lebih reaktif dibandingkan eter dan
mengalami pembukaan cincin dengan nukleofil (dalam suasana asam atau basa)
reagen Grignard.

Eter mahkota tergolong eter siklik yang digunakan untuk

menyepit ion logam.

Fenol lebih bersifat asam dibandingkan alkohol dan

mengandung cincin yang sangat teraktifkan terhadap substitusi aromatik elektrofilik.


Fenol dapat diesterifikasi dengan anhidrida asam.
L. Uji Kompetensi
1. Tentukan nama IUPAC senyawa-senyawa berikut, serta golongkan menjadi alkohol
primer, sekunder atau tersier.

2. Tunjukkan persamaan reaksi alkohol berikut dengan HI


(a) 2-propanol.

(b) 1-butanol

3. Lengkapi persamaan reaksi:


(a) Sikloheksanol + HCl / ZnCl2
(b) Vanilin + HCl / air
(c) Fenol + NaOH
4. Bagaimana struktur halida hasil penataan ulang yang diharapkan dari reaksi:
a. 3,3-dimetil-2-butanol + HCl (katalis ZnCl2).
b. 2,2-difenil-1-etanol + HI
5. Apa produk reaksi senyawa berikut dengan natrium etoksida.
a. 2-bromopropana.

b. air.
c. asam asetat.
d. fenol.
6. Tentukan produk utama reaksi 1-butanol dengan
a. metil magnesium iodida
b. fenil litium
c. natrium fenoksida.
d. natrium asetat.
e. HBr.
f. logam kalium.
g. NaH.
7. Vinilalkohol (CH2=CHOH) tidak stabil dan spontan berubah menjadi asetaldehida
(CH3CHO) jika ditambahkan asam. Sarankan persamaan reaksi tersebut.
8. Tentukan produk utama reaksi antara 2-heptanol dengan:
a. H2CrO4
b. HI
c. Logam Li.
d. H2SO4 pekat, panas.
e. CH3MgI
f. NaCl dalam air.
g. NaOH dalam air.
h. SOCl2 dalam piridin.
M. Daftar Acuan
Fessenden, R. J., & Fessenden, J. S., 1989. Kimia Organik. Terjemahan Aloysius
Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Morrison, R.T., & Boyd, R.N., 1989. Organik Chemistry. 5th. New Delhi: Prentice Hall
of India.
Wade, L.G., 2006. Organic Chemistry. 6th. Singapore: Pearson Education LTD.

LP 1: LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA (LKM)


ALKOHOL, ETER, DAN FENOL
Kompetensi Dasar:
Memahami hubungan struktur molekul, sifat fisika dan kimia alkohol, eter, dan fenol,
serta pembuatan dan pemanfaatannya.
Tujuan:
1. Membedakan jenis rantai karbon alkohol dan fenol dengan uji asap.
2. Membandingkan kelarutan alkohol, fenol, dan eter dalam air.
3. Membedakan sifat alkohol dan eter dengan logam natrium.
4. Membandingkan kekuatan asam alkohol dan fenol.
5. Mengidentifikasi fenol dengan pereaksi FeCl3.
Bahan:
1. Larutan fenol 10% (dalam etanol)
2. Larutan etanol 70%
3. Larutan FeCl3
4. Fenol
5. Natrium
6. Akuades
7. Tissue

50 mL
50 mL
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya

Alat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

1 bh.
2 bh.
3 bh.
1 batang
1 buah
1 buah

pH meter
Gelas kimia
Tabung reaksi
Spatula
Pembakar spiritus
Penjepit logam

100 mL

Keselamatan Kerja
Pergunakan masker pada saat menangani eter dan gunakan sarung tangan pada saat
mengambil fenol. Berhati-hati jangan sampai kulit Anda terkena fenol.
Rumusan Masalah, Hipotesis, dan Variabel Penyelidikan
Masalah 1:
Rumusan Masalah : ______________________________________________________
Hipotesis : _____________________________________________________________
Variabel Penyelidikan:
(a) yang dijaga konstan :
(b) yang dimanipulasi
:
(c) yang merespon
:
Masalah 2:
Rumusan Masalah : ______________________________________________________
Hipotesis : _____________________________________________________________
Variabel Penyelidikan:

(a)
(b)
(c)

yang dijaga konstan


yang dimanipulasi
yang merespon

:
:
:

Masalah 3:
Rumusan Masalah : ______________________________________________________
Hipotesis : _____________________________________________________________
Variabel Penyelidikan:
(a) yang dijaga konstan :
(b) yang dimanipulasi
:
(c) yang merespon
:
Masalah 4:
Rumusan Masalah : ______________________________________________________
Hipotesis : _____________________________________________________________
Variabel Penyelidikan:
(a) yang dijaga konstan :
(b) yang dimanipulasi
:
(c) yang merespon
:
Masalah 5:
Rumusan Masalah : ______________________________________________________
Hipotesis : _____________________________________________________________
Variabel Penyelidikan:
(a) yang dijaga konstan :
(b) yang dimanipulasi
:
(c) yang merespon
:
Perencanaan Penyelidikan:
Anda diminta melaksanakan pengamatan untuk menyelidiki pengaruh struktur molekul
alkohol, fenol, dan eter terhadap sifat fisika dan kimianya.
Langkah-langkah:
1. Lakukan pembakaran alkohol dan fenol dengan jalan membasahi kertas tissue
masing-masing dengan alkohol dan fenol kemudian bakar.
2. Sediakan tiga buah tabung reaksi masing-masing berisi 1 mL akuades. Ke dalam
tabung reaksi pertama tambahkan etanol tetes demi tetes sambil dikocok. Hentikan
penambahan etanol, jika telah mencapai 10 tetes. Lakukan hal yang sama, terhadap
tabung reaksi II dan III masing-masing menggunakan fenol dan eter.
3. Sediakan dua buah tabung reaksi, masing-masing isi dengan etanol dan eter.
Tambahkan sebutir kecil kristal Na ke dalam tabung yang berisi etanol, kemudian
kocok. Lakukan hal yang sama untuk tabung reaksi yang berisi eter.
4. Sediakan dua buah gelas kimia 100 mL masing-masing berisi 25 mL etanol dan
fenol 10% dalam air. Uji pH kedua larutan tersebut menggunakan pH meter.

Sediakan dua buah tabung reaksi: tabung I isi 1 mL etanol, tabung II isi 1 mL
larutan fenol dalam etanol. Ke dalam masing-masing tabung tambahkan larutan
FeCl3 tetes demi tetes sambil dikocok. Amati apa yang terjadi.

5.

Pengamatan:
No

Senyawa

1
2
3

Uji nyala

Kelarutan
dalam air

Reaksi dg
Na

pH

Reaksi dengan
FeCl3

Etanol
Eter
Fenol

Analisis:
Berdasarkan data dalam tabel pengamatan di atas
1. Apakah yang terjadi jika alkohol dan fenol dibakar?
a.
___________ mengalami pembakaran sempurna.
b.
____________ mengalami pembakaran tidak sempuna. Asap yang dihasilkan
berwarna _____________, yang berarti mengandung _____________
c.
Pembakaran tidak sempurna pada kasus ini disebabkan oleh proporsi karbon
terhadap hidrogen dalam kedua senyawa tersebut masing-masing: etanol = __ :
__, dan fenol = ___ : ___
d.
Proporsi karbon yang _________ pada senyawa _________ menyebabkan
masih ada residu __________ pada saat seluruh atom _________ habis
teroksidasi.
2. Bagaimanakah kelarutan alkohol, fenol, dan eter dalam air?
a. Urutan kelarutan ketiga zat tersebut dalam air, mulai dari yang paling mudah
larut adalah _____________________________________________________
b. ____________ mudah larut dalam air karena tergolong senyawa _________,
sebaliknya __________ sukar larut dalam air karena tergolong senyawa
________
c. Molekul-molekul __________ dapat membentuk ikatan ___________ dengan
molekul-molekul air. Secara skematis ikatan tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut __________________________
d. _______________ tergolong senyawa non polar. Semakin panjang gugus
_______ polaritasnya semakin ____________. Akibatnya, kelarutannya dalam
air semakin ___________ Di samping itu, molekul-molekulnya juga tidak
dapat membentuk ikatan ____________ dengan molekul-molekul air.
3. Apakah alkohol dan eter dapat dibedakan dengan menggunakan logam natrium?
a.
b.

_____________ tidak bereaksi dengan natrium.


______________ bereaksi dengan natrium menghasilkan _________________
Persamaan reaksinya adalah ______________________

4. Bagaimanakah kekuatan asam: etanol dibandingkan fenol?


a. Pada konsentrasi yang sama harga pH larutan etanol lebih _______
dibandingkan fenol.

b. Kekuatan asam etanol _________ dari pada fenol.


c. ___________ bersifat netral karena di dalam air _______________
d. ____________________ dalam air mengalami __________ parsial. Reaksi
ionisasinya
adalah
__________________________________.
Anion
___________ yang terbentuk distabilkan oleh sistem resonansi, sehingga
reaksinya cenderung bergeser ke _____________ Bentuk-bentuk resonan
anion tersebut adalah _________________.
5. Bagaimanakah cara mengidentifikasi fenol dalam sampel?
e. Etanol berwarna ________________ ditambahkan larutan besi (III) klorida
yang berwarna _______________ menyebabkan larutan yang terbentuk
menjadi berwarna _________________. Hal itu menunjukkan pada proses
tersebut _______ (terjadi/tidak terjadi) reaksi kimia.
f. Larutan fenol dalam etanol berwarna _____________ ditambahkan larutan besi
(III) klorida yang berwarna _____________ menyebabkan larutan yang
terbentuk menjadi berwarna _________________. Hal itu menunjukkan pada
proses tersebut _______ (terjadi/tidak terjadi) reaksi kimia.
g. Reaksi antara ______________ dan ion ________ melibatkan pembentukan
ion kompleks. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut _________________
Kesimpulan:
1. Apakah hipotesismu diterima?
a. _____________________________________________________________
b. _____________________________________________________________
c. _____________________________________________________________
d. _____________________________________________________________
e. _____________________________________________________________
2. Kesimpulan apa yang dapat dibuat?
a. _____________________________________________________________
b. _____________________________________________________________
c. _____________________________________________________________
d. _____________________________________________________________
e. _____________________________________________________________
Acuan:
Ault, A., 1993. Techniques and Experiments for Organic Chemistry. Fourth Edition.
Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Bahl, B. S. & Bahl, A., 1979. Advanced Organic Chemistry. New Delhi: S. Chand &
Co.Ltd.
Suja, I W., 2014. Buku Ajar Kimia Organik I. Singaraja: Undiksha.

LP 2: LEMBAR DISKUSI MAHASISWA (LKM)


ALKOHOL, ETER, DAN FENOL
Petunjuk:
1. Jawablah permasalahan berikut secara mandiri, setelah Anda mendiskusikan dalam
kelompok masing-masing.
2. Jika Anda dan kelompok menemui kesulitan berkaitan dengan permasalahan yang
diberikan, bacalah teorinya pada Bab Alkohol, Eter, dan Fenol dalam Buku Ajar
Kimia Organik I
Masalah 1
Gambarlah rumus struktur senyawa-senyawa berikut dan berikan nama menurut aturan
IUPAC.
(a) t-butil alkohol
(b). asam salisilat
(c) isopropil s-butil eter
Masalah 2
Senyawa etanol dan dimetil eter merupakan senyawa dengan rumus molekul sama,
yaitu C2H6O. Namun, kedua senyawa tersebut menunjukkan sifat yang jauh berbeda,
seperti ditampilkan dalam tabel berikut.
Senyawa
Titik beku (oC) Titik didih (oC) Kelarutan
Densitas (g/mL)
etanol
-114
78

0,79
dimetil eter
-140
-25

0,66
Berdasarkan data di atas
(a) Buatlah kesimpulan berkaitan dengan wujud masing-masing zat.
(b) Berikan penjelasan lengkap dengan rumus strukturnya mengapa kelarutan ke dua
senyawa tersebut sangat tinggi dalam air.
Masalah 3
Selesaikan persamaan reaksi berikut.

Masalah 4
Vinil alkohol (CH2=CHOH) tidak stabil dan segera berubah menjadi asetaldehida
(CH3CHO) jika ditambahkan asam. Sarankan mekanisme reaksi tersebut.

LP 3: LEMBAR TUGAS MANDIRI (LTM)


Masalah
Suatu senyawa organik memiliki rumus molekul C7H8O. Identifikasi senyawa tersebut
menunjukkan data sebagai berikut.
(i) Pada suhu kamar berwujud cair.
(ii) Jika dibakar menghasilkan asap hitam.
(iii) Bereaksi dengan logam natrium menghasilkan gelembung-gelembung gas.
(iv) Bereaksi dengan larutan KMnO4 dalam suasana basa menghasilkan kristal padat
berwarna putih dan bersifat asam.
Berdasarkan data di atas:
a. Simpulkan senyawa apakah itu dan gambar rumus strukturnya.
b. Tulis setiap reaksi yang terjadi pada proses identifikasinya.

Anda mungkin juga menyukai