Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

INSTRUMENTASI AKUSTIK DAN VIBRASI P1

VIBRASI DAN JENIS KERUSAKAN POMPA AIR


Di Susun Oleh :
Rizky Kurniasari Kusuma Pratiwi
NRP. 2413 031 058

Asisten :
Rio Asruleovito
NRP. 2414 105 050

PROGRAM STUDI D3 METROLOGI DAN INSTRUMENTASI


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015
1

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM


INSTRUMENTASI AKUSTIK DAN VIBRASI P1

VIBRASI DAN JENIS KERUSAKAN POMPA AIR


Di Susun Oleh :
Rizky Kurniasari Kusuma Pratiwi
NRP. 2413 031 058

Asisten :
Rio Asruleovito
NRP. 2414 105 050

PROGRAM STUDI D3 METROLOGI DAN INSTRUMENTASI


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015
i

PRAKTIKUM 1
VIBRASI DAN JENIS KERUSAKAN POMPA AIR

Nama
NRP
Program Studi
Jurusan
Asisten

:
:
:
:
:

Rizky Kurniasari Kusuma Pratiwi


2413 031 058
D3 Metrologi dan Instrumentasi
Teknik Fisika, FTI-ITS
Rio Asruleovito
ABSTRAK

Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau


media dengan arah bolak-balik dari kedudukan seimbang.
Aplikasi ilmu getaran telah banyak diterapkan. Diantaranya
adalah untuk mengetahui jenis kerusakan pada pompa air
dengan menganalisa frekuensi kerusakan pompa. Hal ini
dilakukakan dengan menempatkan sensor accelerometer
pada posisi axial dan radial (vertikal dan horizontal)
terhadap sumbu pusat putaran pompa. Untuk mendapatkan
frekuensi putaran pompa menggunakan stroboscop, yakni
alat untuk memperlambat gerakan benda yang bergerak.
Kerusakan pompa pada umumnya antara lain yaitu
unbalance, misalignment, kerusakan pada bearing, dan
loseness. Data tersebut menghasilkan bahwa pompa 1, 2 (baik
axial maupun horizontal) dan pompa 3 merupakan jenis
kerusakan pompa unbalance. Pompa 1 pada posisi vertikal

merupakan jenis kerusakan pompa paralell misalignment.


Dan pompa 2 pada posisi vertikal merupakan jenis
kerusakan pompa angular misalignment.
Kata Kunci : Getaran, Kerusakan, Pompa, Accelerometer,
Stroboscope, Unbalance, Misalignment
iii

PRACTICUM 1
VIBRATION DAMAGE AND TYPE OF WATER PUMP
Name
NRP
Program Study
Department
Assistant

:
:
:
:
:

Rizky Kurniasari Kusuma Pratiwi


2413 031 058
D3 Metrologi dan Instrumentasi
Teknik Fisika, FTI-ITS
Rio Asruleovito
ABSTRACT

The vibrtation is a regular from the media to the direction of


a balanced commuting between. Application of vibration have
been applied. Including to knowledge of the damage to the pumps
by analyzing the pump damage .Thie conducted by placing
censorship accelerometer on the axial and radial (vertical and
horizontal ) against the central axis of the pump. To get round use
the pump stroboscope , namely a tool to slow motion moving
body. Damage the pump in a general among others are
unbalance , misalignment , damage to bearing , and loseness. The
data produce that pump 1 , 2 ( axial and horizontally ) and pumps
3 is the type of damage unbalance pump. Pump 1 on a vertical
position is the type of damage paralell misalignment . And pump
2 on a vertical position is the type of damage angular
misalignment.
Keywords : Vibration, Damage, Pumps, Accelerometer,
Stroboscope, Unbalance, Misalignment

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena
atas limpahan rahmat serta hidayah-Nya sehingga praktikan
mampu menyelasaikan Laporan Resmi Praktikum mata kuliah
Instrumentasi Akustik dan Vibrasi yang diselenggarakan oleh
Laboratorium Vibrastic Jurusan Teknik Fisika ITS dengan tepat
waktu.
Dalam laporan ini membahas semua apa yang telah
praktikan peroleh dalam praktikum mata kuliah Instrumentasi
Akustik dan Vibrasi.
Dalam kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Dr. Ir. Totok Soehartanto, DEA selaku Ketua Jurusan
Teknik Fisika ITS.
2. Dr. Ir. Purwadi Agus Darwito, MSc selaku Ketua
Program Studi D3 Metrologi dan Instrumentasi ITS.
3. Ir. Tutug Dhanardono, MT selaku dosen pengajar Mata
Kuliah Instrumentasi Akustik dan Vibrasi.
4. Dr. Dhany Arifianto ST, M.Eng selaku Ketua
Laboratorium Vibrastic ITS.
5. Asisten Laboratorium Vibrastic ITS.
6. Semua pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam
pembuatan laporan ini baik dari segi materi maupun penyajian.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini
bermanfaat bagi penyusun sendiri khususnya dan pembaca pada
umumnya.
Surabaya, 23 Oktober 2015

Penulis

vii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................. i
ABSTRAK............................................................................ iii
ABSTARCT .......................................................................... v
KATA PENGANTAR ........................................................ vii
DAFTAR ISI ........................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................... xiii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................... 1
1.2 Permasalahan............................................................ 1
1.3 Tujuan ...................................................................... 1
1.4 Sistematika Laporan ................................................. 2
BAB II : DASAR TEORI
2.1 Pengertian Vibrasi .................................................... 3
2.2 Karakteristik Getaran ............................................... 4
2.3 Jenis Kerusakan Pada Pompa ................................... 5
2.4 Analisa Vibrasi dengan FFT..................................... 10
2.5 Pengambilan Data Menggunakan Accelerometer .... 11
2.6 Stroboscope .............................................................. 12
BAB III : METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Peralatan ................................................................... 13
3.2 Prosedur Percobaan .................................................. 13
BAB IV : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data ............................................................ 15
4.2 Pembahasan .............................................................. 20
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan............................................................... 23
5.2 Saran ......................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA

ix

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Karakteristik dari Getaran ................................ 5
Gambar 2.2 Spektrum Vibrasi Unbalance .......................... 6
Gambar 2.3 Angular Misalignment ..................................... 7
Gambar 2.4 Parallel Misalignment ..................................... 8
Gambar 2.5 Bearing Misalignment ...................................... 8
Gambar 2.6 Spektrum Kerusakan Bearing .......................... 9
Gambar 2.7 Spektrum Vibrasi Looseness ............................ 9
Gambar 2.8 Hasil FFT dari Data Vibrasi ............................. 11
Gambar 4.1 Pompa 1 Posisi Axial ....................................... 15
Gambar 4.2 Pompa 1 Posisi Horizontal ............................... 16
Gambar 4.3 Pompa 1 Posisi Vertikal ................................... 16
Gambar 4.4 Pompa 2 Posisi Axial ....................................... 17
Gambar 4.5 Pompa 2 Posisi Horizontal ............................... 17
Gambar 4.6 Pompa 2 Posisi Vertikal ................................... 18
Gambar 4.7 Pompa 3 Posisi Axial ....................................... 19
Gambar 4.8 Pompa 2 Posisi Horizontal ............................... 19
Gambar 4.9 Pompa 3 Posisi Vertikal ................................... 20

xi

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jenis Kerusakan Spektrum Frekuensi ................... 10

xiii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan teknologi saat ini, ilmu getaran sangat
berperan penting didalamnya. Mulai dari bidang kedokteran,

bidang pendidikan, bahkan bidang industri. Dalam sebuah


bidang industri misalnya, memerlukan adanya ilmu getaran
agar dapat diketahui tingkat kerusakan pada suatu alat
instrument. Apabila getaran yang dihasilkan melebihi batas
yang diperbolehkan, maka dapat mengganggu lingkungan
sekitar dan membahayakan proses yang sedang berlangsung.
Dengan adanya ilmu getaran yang mempelajari mengenai
kerusakan suatu peralatan, maka dari itu dapat diminimalisir
atau bahkan diatasi. Langkah yang dilakukan untuk mengatasi
masalah kebisingan pada suatu peralatan, memerlukan adanya
sebuah analisa yang dapat mendeteksi getaran tersebut. Tingkat
kerusakan suatu peralatan dapat dilihat pada getaran yang terjadi
pada alat tersebut.

Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum mengenai


getaran dan jenis kerusakan, misal jenis kerusakan yang
disebabkan oleh pompa air agar mahasiswa mempunyai dan
mengerti mengenai keterampilan khusus untuk menganalisa
jenis kerusakan yang terjadi pada pompa air.
1.2 Permasalahan
Dari latar belakang di atas, adapun permasalahan dari
praktikum pemotongan logam ini, antara lain :
a. Bagaimana cara mengetahui frekuensi dari pompa?
b. Bagaimana cara mengetahui jenis kerusakan pompa
dengan menganalisa frekuensi pompa air?
1.3 Tujuan
Adapun beberapa tujuan dari praktikum pemotongan logam
ini, antara lain :
1

2
a. Mengetahui frekuensi pompa.
b. Mengetahui jenis kerusakan pompa dengan menganalisa
frekuensi pompa air.
1.4 Sistematika Laporan

Dalam sistematika laporan terdiri dari beberapa bab dan


sub bab yang berisi bab I pendahuluan tentang latar
belakang, rumusan masalah, tujuan, dan sistematika laporan.
Bab II berisi dasar teori yang dapat menunjang beberapa
percobaan. Bab III metodologi percobaan berisi peralatan
percobaan dan prosedur percobaan. Bab IV analisis data dan
pembahasan. Bab V berisi penutup terdiri dari kesimpulan
dan saran.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Vibrasi
Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media
dengan arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangan (KEP51/MEN/1999).
Vibrasi atau getaran mempunyai tiga parameter yang dapat
dijadikan sebgai tolak ukur yaitu :
a. Amplitudo adalah ukuran atau besarnya sinyal vibrasi
yang dihasilkan. Amplitudo dari sinyal vibrasi
mengidentifikasikan besarnya gangguan yang terjadi.
Makin tinggi amplitudo yang ditunjukkan menandakan
makin besar gangguan yang terjadi, besarnya amplitudo
bergantung pada tipe mesin yang ada. Pada mesin yang
masih bagus dan baru, tingkat vibrasinya biasanya
bersifat relatif.
b. Frekuensi adalah banyaknya periode getaran yang terjadi
dalam satu putaran waktu. Besarnya frekuensi yang
timbul pada saat terjadinya vibrasi dapat diidentifikasikan
jenis-jenis gangguan yang terjadi. Gangguan yang terjadi
pada mesin sering menghasilkan frekuensi yang jelas atau
menghasilkan contoh frekuensi yang dapat dijadikan
sebagai bahan pengamatan. Dengan frekuensi pada saat
mesin mengalami vibrasi, maka penelitian atau
pengamatan secara akurat dapat dilakukan untuk
mengetahui penyebab dari permasalahan. Frekuensi
biasanya ditunjukkan dalam bentuk Cycle per menit
(CPM), yang biasanya disebut dengan istilah Hertz
(dimana Hz = CPM). Biasanya singkatan yang digunakan
untuk Hertz adalah Hz.
c. Phase Vibrasi (Vibration Phase) adalah penggambaran
akhir dari pada karakteristik suatu getaran. Phase adalah
perubahan posisi pada bagian-bagian yang bergetar secara
relatif untuk menentukan titik referensi atau titik awal
pada bagian yang lain yang bergetar.
3

4
2.2 Karakteristik Getaran
Kondisi suatu mesin dan masalah-masalah mekanik yang
terjadi dapat diketahui dengan mengukur karakteristik getaran
pada mesin tersebut. Karakteristik-karakteristik getaran yang
penting antara lain adalah :
a. Frekuensi getaran
Gerakan periodic atau getaran selalau berhubungan
dengan frekuensi yang menyatakan banyaknya gerakan
bolak-balik ( satu siklus penuh ) tiap satuan waktu.
Hubungan antara frekuensi dan periode suatu getaran
dapat dinyatakan dengan rumus sederhana :
Frekuensi = 1 / periode
Frekuensi dari getaran tersebut biasanya dinyatakan
sebagai jumlah siklus getaran yang terjadi tiap menit (
CPM = Cycles per Minute). Sebagai contoh sebuah mesin
bergetar 60 kali ( siklus dalam 1 menit maka frekuensi
getaran mesin tersebut adalah 60 CPM ).
b. Perpindahan getaran (vibration displacement)
Jarak yang ditempuh dari suatu puncak ke puncak yang
lainnya disebut dengan perpindahan dari puncak ke
puncak atau yang disebut dengan peak to peak
displacement. Perpindahan tersebut pada umunya
dnyatakan dalam satuan micron ( m ) atau mils.
1 m = 0,001 mm
I mils = 0,001 inch
c. Kecepatan getaran (vibration velocity)
Kerena getaran merupakan suatu gerakan, maka getaran
tersebut pasti mempunyai kecepatan. Kecepatan getaran
ini biasanya dalam satuan mm/det (peak). Karena
kecepatan ini selalu berubah secara sinusoida, maka
seringkali digunakan pula satuan mm/sec (rms). Nilai
peak = 1,414 x nilai rms. Kadang-kadang digunakan juga
satuan inch/sec (peak) atau inc/sec ( rms ) 1 inch = 25,4
mm
d. Percepatan getaran (vibration acceleration)
e. Phase getaran

5
Dengan mengacu pada gerakan pegas, dapat mempelajari
karakteristik suatu getaran dengan memetakan gerakan dari pegas
tersebut terhadap fungsi waktu.

Gambar 2.1 Karakteristik dari Getaran [1]


2.3 Jenis Kerusakan Pada Pompa
Pompa adalah alat yang digunakan untuk memindahkan
suatu fluida dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara
menaikkan tekanan cairan tersebut. Standart pompa sesuai
dengan API 610, ISO 5199, DIN 24256 (www.truflo.com).
Masing-masing komponen pompa mempunyai frekuensi
komponen yang akan memepengaruhi hasil getaran
yang
diakibatkannya, yang perlu diperhatikan pada pompa sentirifugal
NS-50 adalah 1 x rpm pompa yaitu rpm pompa dibagi 60
yang disebut frekuensi pompa, 1 x rpm motor yaitu rpm
motor diagi 60 yang disebut frekuensi motor listrik dan
frekuensi sudut yang diperoleh dari mengalikan jumlah sudut
impeler dengan rpm pompa yang selanjutnya dibagi 60. [2]
Frekuensi pompa (Hz) =
Frekuensi sudut (Hz) =
Jenis kerusakan pada pompa pada umumnya yaitu :
a. Unbalance
Unbalance adalah kondisi di mana pusat massa tidak
sesumbu dengan sumbu rotsi sehingga rotor mengalami gaya

6
vibrasi terhadap bearing yang menghasilkan gaya
sentrifugal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya unbalance yakni kesalahan saat proses pemesinan
dan assembly, eksentrisitas komponen, adanya kotoran saat
pengecoran, korosi dan keausan, distorsi geometri karena
beban termal dan beban mekanik, serta penumpukan
material. Karakteristik dari unbalance ini dapat diketehui
dengan adanya amplitudo yang tinggi pada 1xRPM, tetapi
adanya amplitudo pada 1xRPM tidak selalu unbalance, tanda
lainnya adalah rasio amplitudo antara pengukuran arah
horizontal dan vertikal kecil (H/V<3). Ketika pada kondisi
dominan unbalance, maka getaran radial (Horizontal dan
Vertikal) akan secara normal jauh lebih tinggi dibandingkan
axial. Pada pompa normal, getaran horizontal lebih tinggi
dari vertikal. Amplitudo di 1x RPM secara normal 80% dari
amplitudo keseluruhan ketika masalah dipastikan unbalance.

Gambar 2.2 Spektrum Vibrasi Unbalance [3]


b. Misalingment
Ketidaklurusan (misalignment) terjadi ketika frekuensi
shaft yang berputar satu kali putaran atau dapat juga terjadi
dua dan tiga kali putaran. Normalnya disebabkan adanya
getaran yang tinggi pada axial dan radial, tetapi tidak selalu
tinggi pada axial saja, khususnya saat kondisi parallel offset
lebih mendominasi dibandingkan angular misalignment.
Menghasilkan getaran lebih besar dari keadaan normal di
2xRPM di mana dapat terjadi bukan hanya di arah axial tapi
juga di radial. Jika misalignment menjadi semakin buruk hal
ini dapat disebabkan besarnya nilai harmonik di mana akan

7
menghasilkan spektrum nampak seperti masalah looseness.
Untuk misalignment parah, pengukuran radial (horizontal dan
vertikal) perbedaan fase terdapat pada 0 atau 180 (30)
antara sisi dalam dan sisi luar bearing. Kebanyakan dari
waktu, perbedaan fase horizontal mendekati 180 pergeseran
fase dibandingkan dengan perbedaan fase vertikal.
Misalignment yang terjadi pada mesin berputar yaitu:
Angular Misaligment
Getaran axial tinggi, terutama pada 1x, 2x, dan 3x RPM,
satu dari puncak ini (peak) kadang-kadang lebih dominan
daripada yang lain. Umumnya amplitudo antara 2x atau
3x RPM mencapai kir-kira 30 50% dari 1xRPM di arah
axial. Indikasi terbaik adalah perbedaan fase 180
bersebrangan kopling di arah axial. Dari kerusakan ini
kemungkinan juga mengindikasikan adanya masalah
kopling. Angular misalignment kemungkinan terdapat
pada 1x RPM harmonik, seperti juga mechanical
looseness (kelonggaran mekanik) gerakan harmonik
ganda ini tidak selalu mengeluarkan suara gaduh pada
spektra.

Gambar 2.3 Angular Misalignment [3]

Parallel Misalignment
Shaft pada paralel misalignment terlihat offset.
Misalignment ini mempunyai kesamaan gejala pada
getaran angular, tetapi menunjukan tingginya getaran
radial di mana mencapai fase 180 berseberangan dengan
kopling, amplitudo di 2xRPM lebih besar daripada di 1x.
Amplitudo tidak selalu berada pada 1x, 2x, atau 3x yang

8
lebih dominan, tetapi ketinggian relative di 1x di mana
selalu diindikasi pada tipe kopling dan konstruksi. Ketika
kedua arah angular dan arah radial menjadi semakin
tinggi, keduanya dapat menciptakan tingginya peak
amplitudo jauh lebih tinggi dari harmoninya (4x-8x) atau
ketika rangkaian frekuensi harmonik tinggi serupa dengan
mechanical looseness. Tipe kopling dan material akan
membawa pengaruh yang besar pada spektrum ketika
gejala misalignment ada, hal ini tidak ada pengaruh pada
peningkatan suara gaduh.

Gambar 2.4 Parallel Misalignment [3]


Bearing Misalignment
Untuk kerusakan ini getaran axial terjadi pada 1x dan 2x
RPM, fase axial terjadi di empat bagian dengan sudut 90
satu sama lain juga akan terjadi pergeseran sudut 90 dari
point ke point selanjutnya. Untuk meluruskan kopling
atau membalance rotor tidak akan memecahkan masalah,
cara yang paling efektif adalah bearing harus diganti dan
pasang bearing yang tepat (diameter inner bearing harus
simetris). Titik 1, 2, 3, dan 4 merupakan pengukuran
axial , titik tersebut harus 90 terpisah satu sama lain.

Gambar 2.5 Bearing Misalignment [3]

9
c. Kerusakan bearing
Kerusakan bearing (defective antifriction bearing)
mempunyai ciri yaitu mempunyai puncak (peak) tinggi
beberapa kali RPM, 1x, 2x, 3x, 4x, . . . . ., 10x. Vibrasi
akan timbul jika bearing sudah parah. Pada spektrum akan
tampak impact (tubrukan) beberapa frekuensi dengan
amplitudo tinggi.

Gambar 2.6 Spektrum Kerusakan Bearing [3]


d. Loseness
Tidak rapat (mechanical looseness) terjadi pada frekuensi
dua kali putaran, penyebabnya terjadi karena perubahan
keseimbangan dan alignment. Biasanya terjadi pada arah
axial dan kejadiannya sering bersamaan dengan unbalance
dan misalignment. Karakteristik loosness dapat diketahui
pada spektrum dengan adanya beberapa amplitudo tinggi
khususnya pada 1x RPM, 1,5x RPM, dan harmonik.
Looseness biasanya disebabkan oleh structural looseness
dari tumpuan mesin, pondasi, baut yang kendor, dan
deteriorated grouting. [2]

Gambar 2.7 Spektrum Vibrasi Looseness [3]

10
Tabel 2.1 Jenis Kerusakan Sistem Berdasarkan Spektrum
Frekuensi [4]

2.4 Analisa Vibrasi dengan FFT


Analisa fourier terbagi atas dua yakni deret fourier untuk
sinyal periodik dan trasformasi fourier untuk sinyal aperiodik.
Setiap sinyal periodik dapat dinyatakan oleh jumlahan atas
komponen-komponen sinyal sinusoidal dengan frekuensi berbeda
(distinct). Jika ada sebuah fungsi f(t) yang kontinyu periodik
dengan periode T, bernilai tunggal terbatas dalam suatu interval
terbatas, memiliki diskontinyuitas yang terbatas jumlahnya dalam
interval tersebut dan dapat diintegralkan secara mutlak, maka f(t)
dapat dinyatakan dengan deret fourier. Dengan menggunakan
software komputer, komputasi FFT menjadi lebih mudah dan
cepat. Contoh sederhana FFT pada matlab sebuah fungsi f(t) dari
time domain menjadi frequency domain
FFT merupakan elemen pemrosesan sinyal pada pengukuran
vibrasi. Pada pengukuran vibrasi ada empat tahapan untuk
merubah sinyal vibrasi menjadi spektrumnya. Algoritma FFT
untuk analisa vibrasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan data vibrasi dari tranduser yang
dihubungkan dengan sistem akuisisi.
2. Sistem
akuisisi
menghasilkan
spektrum
yang
menunjukkan perbandingan waktu dengan percepatan.
3. Hasil spektrum diolah menggunakan software lain
dengan menggunakan Fast Fourrier Transform.

11
4.

Hasil pengolahan menggunakan FFT akan berupa grafik


perbandingan frekuensi dengan amplitudo yang
menunjukkan jenis kerusakan dan tingkat kerusakan
mesin.

Gambar 2.8 Hasil FFT dari Data Vibrasi[3]


Ada beberapa parameter pemrosesan sinyal pada FFT yang
perlu diketahui untuk menjamin kesuksesan analisa vibrasi.
Dengan mengetahui parameter-parameter tersebut pengambilan
data bisa lebih cepat dan akurat. Parameter-parameter FFT
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Fmax: Frekuensi maksimum atau frequency range
menunjukkan bandwith frekuensi yangakan ditampilkan
pada spektrum.
b. Number & Tipe of Averages: Karena vibrasi tidak bisa
lepas dari gangguan/random noise, maka diperlukan
beberapa kali pengambilan data dan kemudian merataratakannya. Number of averages menyatakan berapa kali
data diambil.
c. Number of Lines: Parameter ini mendefinisikan jumlah
resolusi garis untuk perhitungan FFT. Resolusi frekuensi
menentukan seberapa dekat dua puncak frekuensi
dibedakan sebagai puncak yang terpisah. Ketika frekuensi
maksimum semakin tinggi, jumlah resolusi garis juga
harus bertambah supaya menjaga resolusi tetap sama.
2.5 Pengambilan Data Menggunakan Accelerometer
Tranduser getaran dipasang pada bagian-bagian mesin yang
cukup kaku untuk menghindari efek resonansi lokal bagian

12
tersebut. Pengambilan data-data dengan alat tranduser tersebut
harus terlebih dahulu mengetahui bagianmana dari mesin tersebut
yang paling tepat untuk pengukuran vibrasi. Tempat yang paling
tepat tersebut adalah pada tempat yang dekat dengan sumber
vibrasi, misalnya pada kerusakan bearing maka penempatan
tranduser diletakkan pada bearing caps (rumah bearing).
Pengambilan data vibrasi dilakukan dengan dua posisi yaitu
dengan posisi axial dan posisi radial. Pengambilan data secara
axial adalah menempatkan alat tranduser pada arah axial atau
searah dengan poros. Cara radial sendiri terbagi menjadi 2 cara,
yaitu:
1. Horizontal: pengukuran secara horizontal dengan cara
meletakkan alat tranduser secara horizontal misalnya
pada bagian atas pompa. Dari pengukuran ini dapat
diketahui amplitudo yang paling tinggi.
2. Vertikal: pengambilan data secara vertikal adalah dengan
menempatkan alat tranduser pada posisi vertikal atau
berbanding 90 dengan arah horizontal pada pompa.
Pengambilan data pada tiga sumbu berfungsi untuk melihat
kondisi vibrasi pada masing-masing sumbu, karena di setiap
sumbu mempunyai vibrasi yang berbeda. Pada setiap kondisi
mesin dapat ditentukan karakteristik kerusakan dengan melihat
sinyal vibrasi dari masing-masing sumbu pengukuran. [3]
2.6 Stroboscope
Stroboscope merupakan salah satu alat yang lebih canggih
dan aman untuk mengukur kecepatan dengan cara tanpa kontak.
Stroboscope menggunakan sumber sinar cahaya yang dapat
disinkronisasi dengan setiap kecepatan dan pengulangan gerakan
sehingga benda yang berpindah sangat cepat terlihat tidak
bergerak atau berpindah perlahan.[5]

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Peralatan
Adapun peralatan yang digunakan dalam praktikum, antara
lain :
a. 3 buah pompa air.
b. Laptop dengan Software Sound and Vibration Assistant
dan MatLab.
c. DAQ National Instrument.
d. Stroboscope.
e. Accelerometer.
3.2 Prosedur Percobaan
Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada percobaan,
antara lain :
a. Accelerometer disambungkan ke DAQ.
b. Accelerometer ditempelkan pada mesin pompa 1 yang
akan diukur. Dengan 2 tipe posisi, yaitu axial dan radial
(horizontal dan vertikal).
c. Data diambil dari DAQ.
d. Langkah 1s/d 3 diulangi dengan mengganti pompa air 2
dan 3.
e. Buat grafik perbandingan hasil monitoring vibrasi dari
tiap pompa dengan menggunakan FFT pada program
MatLab.

13

14

(Halaman Ini Memang Dikosongkan)

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data
Berikut adalah data dari hasil percobaan pada Pompa 1,2,
dan 3 dengan masing-masing posisi axial dan radial (vertikal dan
horizontal), yaitu :
a. Pompa 1
Adapun hasil dari analisis pompa 1, yaitu :
Pompa 1 = 2969 RPM, maka dirubah dalam bentuk
frekuensi (Hz) adalah

Gambar 4.1 Pompa 1 Posisi Axial


- Gambar 4.1, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena frekuensi acuan sebesar 49,5 Hz,
maka grafik tersebut menunjukkan tinggi amplitudo
terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya disebabkan oleh
tidak seimbang pada titik pusat putarannya.
15

16

Gambar 4.2 Pompa 1 Posisi Horizontal


- Gambar 4.2, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena frekuensi acuan sebesar 49,5 Hz,
maka grafik tersebut menunjukkan tinggi amplitudo
terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya disebabkan oleh
tidak seimbang pada titik pusat putarannya.

Gambar 4.3 Pompa 1 Posisi Vertikal


- Gambar 4.3, menyatakan jenis kerusakan pompa
paralell misalignment, karena frekuensi acuan
sebesar 49,5 Hz, maka grafik tersebut menunjukkan
besar 1xRPM, 2x RPM (besar amplitudo tinggi
daripada 1xRPM). Mekaniknya disebabkan oleh
kebengkokan pada mesin yang berputar.

17
b. Pompa 2
Adapun hasil dari analisis dari pompa 2, yaitu :
Pompa 2 = 1498 RPM, maka dirubah dalam bentuk
frekuensi (Hz) adalah

Gambar 4.4 Pompa 2 Posisi Axial


- Gambar 4.4, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena frekuensi acuan sebesar 25 Hz,
maka grafik tersebut menunjukkan tinggi amplitudo
terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya disebabkan oleh
tidak seimbangnya pada titik pusat putarannya.

18

Gambar 4.5 Pompa 2 Posisi Horizontal


- Gambar 4.5, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena frekuensi acuan sebesar 25 Hz,
maka grafik tersebut menunjukkan tinggi amplitudo
terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya disebabkan oleh
tidak seimbang pada titik pusat putarannya.

Gambar 4.6 Pompa 2 Posisi Vertikal


- Gambar 4.6, menyatakan jenis kerusakan pompa
angular misalignment, karena frekuensi acuan
sebesar 25 Hz, maka grafik tersebut menunjukkan
besar 2xRPM dan 3x RPM memiliki besar amplitudo
tinggi daripada 1xRPM. Mekaniknya disebabkan
oleh ketidaklurusan pada mesin yang berputar.

19
c. Pompa 3
Adapun analisis dari pompa 3, yaitu :
Pompa 3 = 1507 RPM, maka dirubah dalam bentuk
frekuensi (Hz) adalah

Gambar 4.7 Pompa 3 Posisi Axial


- Gambar 4.7, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena pada grafik tersebut menunjukkan
tinggi amplitudo terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya
disebabkan oleh tidak seimbang pada titik pusat
putarannya.

20

Gambar 4.8 Pompa 2 Posisi Horizontal


- Gambar 4.8, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena pada grafik tersebut menunjukkan
tinggi amplitudo terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya
disebabkan oleh tidak seimbang pada titik pusat
putarannya.

Gambar 4.9 Pompa 3 Posisi Vertikal


- Gambar 4.9, menyatakan jenis kerusakan pompa
unbalance, karena pada grafik tersebut menunjukkan
tinggi amplitudo terbesar pada 1xRPM. Mekaniknya
disebabkan oleh tidak seimbang pada titik pusat
putarannya.

21
4.2 Pembahasan
Dalam pratikum P1 tentang vibrasi dan jenis kerusakan pada
pompa mendapatkan hasil data yang dianalisis pada ketiga pompa
tersebut (hasil pada stroboscope) menggunakan rumus kecepatan
sudut yaitu :
Sehingga didapatkan frekuensi dari ketiga pompa dengan
menggunakan rumus :
Dari hasil perhitungan frekuensi diatas didapatkan hasil pada
pompa 1 sebesar 50 Hz, pompa 2 sebesar 25, dan pompa 3
sebesar 25,1 Hz , hasil frekuensi tersebut dijadikan sebagai acuan
untuk dibandingkan dengan grafik domain frekuensi (pada
matlab). Dari analisis data pada domain frekuensi (pada matlab)
menghasilkan bahwa pompa 1, 2 (baik axial maupun horizontal)
dan pompa 3 merupakan jenis kerusakan pompa unbalance
karena grafik tersebut menunjukkan bahwa tinggi amplitudo

terbesar pada 1xRPM yang kerusakan mekaniknya


disebabkan oleh tidak seimbangnya pada titik pusat putaran.
Pompa 1 pada posisi vertikal, jenis kerusakan pompanya
paralell misalignment, karena frekuensi acuan sebesar 49,5
50 Hz, maka grafik tersebut menunjukkan besar 1xRPM,
2x RPM (besar amplitudo tinggi daripada 1xRPM) serta
kerusakan mekaniknya disebabkan oleh kebengkokan pada
mesin putarnya. Dan pompa 2 pada posisi vertikal
merupakan jenis kerusakan pompa angular misalignment,
maka grafik tersebut menunjukkan besar 2xRPM dan 3x
RPM memiliki besar amplitudo tinggi daripada 1xRPM dan
kerusakan mekaniknya disebabkan oleh ketidaklurusan pada
mesin putarnya.

22

(Halaman Ini Memang Dikosongkan)

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil, yaitu :
1. Kerusakan pada pompa dapat dianalisis dengan
accelerometer dengan peletakan sensor secara axial dan
radial (horizontal dan vertikal). Stoboscope merupakan
alat penghitung putaran pompa, dimana putaran pompa
seolah berhenti berputar. Untuk nmengetahui frekuensi
dari pompa dilihat dari hasil putaran pada nilai
stroboscope yang kemudian akan dijadikan sebagai
frekuensi acuan (bandingkan dengan frekuensi yang
terdapat pada matlab).
2. Data pada domain frekuensi menghasilkan bahwa pompa
1, 2 (baik axial maupun horizontal) dan pompa 3
merupakan jenis kerusakan pompa unbalance karena

grafik tersebut menunjukkan bahwa tinggi


amplitudo terbesar pada 1xRPM yang kerusakan
mekaniknya disebabkan oleh tidak seimbangnya
pada titik pusat putaran. Pompa 1 pada posisi
vertikal, jenis kerusakan pompanya paralell
misalignment, karena frekuensi acuan sebesar 49,5
50 Hz, maka grafik tersebut menunjukkan besar
1xRPM, 2x RPM (besar amplitudo tinggi daripada
1xRPM) serta kerusakan mekaniknya disebabkan
oleh kebengkokan pada mesin putarnya. Dan pompa
2 pada posisi vertikal merupakan jenis kerusakan
pompa angular misalignment, maka grafik tersebut
menunjukkan besar 2xRPM dan 3x RPM memiliki
besar amplitudo tinggi daripada 1xRPM dan
kerusakan mekanik disebabkan oleh ketidaklurusan
pada mesin putarnya.
23

24
5.2 Saran
Adapun saran yang diberikan selama praktikum, yaitu :
1. Praktikan sebaiknya lebih bersungguh-sungguh dalam
menjalankan praktikum dengan membaca modul maupun
prosedur praktikum agar proses praktikum berjalan
lancar.
2. Asisten sebaiknya tepat waktu saat akan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Hanifa, Nadya. 2012. Makalah Vibrasi. Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah
[2] Any, Aritya. 2013. Deteksi Kerusakan Impeler Pompa
Sentrifugal Dengan Analisa Sinyal Getaran. Solo :
Universitas Sebelas Maret
[3] Anonim. 2015. Modul P1 Vibrasi. Surabaya : Laboratorium
Vibrastic- Jurusan Teknik Fisika- ITS Surabaya
[4] Viewer Software Review Diagnostic Results, Fluke 810
Vibration Tester, 2010
[5] Susanto, Agus. 2008. Sensor Kecepatan. Bengkulu :
Universitas Bengkulu