Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
No. Register
Agama
Umur
Bangsa/suku
Jenis kelamin
Pekerjaan
Alamat
Tgl Pemeriksaan
Tempat pemeriksaan
Pemeriksa

: Nn. S.A
: 405800
: Kristen
: 17 tahun
: Indonesia/Makassar
: Perempuan
: Siswa
: Btn Sukma Gowa
: 16 September 2015
: RSUD Syekh Yusuf Gowa
: dr. Yusuf Bachmid, Sp.M

ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
: Mata merah sebelah kanan
B.
Anamnesis terpimpin
:
Dialami sejak 2 hari yang lalu setelah pasien merasa matanya terkena
debu. Mata merah disertai rasa panas, agak gatal, bengkak, berair dan nyeri.
Kotoran mata tidak ada, penglihatan jauh kabur tidak ada, kelopak mata
yang melengket saat bangun pagi tidak ada. Selain itu, pasien merasa seperti
ada yang mengganjal di mata nya saat melirik sehingga menimbulkan rasa
tidak nyaman di mata kanannya. Silau tidak ada, penglihatan ganda tidak
ada. Riwayat trauma tidak ada, riwayat demam disangkal.
Riwayat pemakaian kaca mata (-)
Riwayat keluarga menderita penyakit yang sama (-)
Riwayat mengunakan tetes mata + (insto) saat mata pertama kali merah
hingga sekarang.

III.

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
A. INSPEKSI
No
1
2
3
4
6

Pemeriksaan
Palpebra
Apparatus Lakrimasi
Silia
Kongjungtiva
Kornea
Bilik mata depan

OD
Edema (+)
Lakrimasi (+)
Sekret (-)
Hiperemis (+)
Jernih
Kesan normal

OS
Edema (-)
Lakrimasi (-)
Sekret (-)
Hiperemis (-)
Jernih
Kesan normal

Iris

Coklat, Kripte (+)

Coklat,

Kripte

8
9
10

Pupil
Lensa
Gerakan bola mata

Bulat, sentral
Jernih

(+)
Bulat, sentral
Jernih

B. PALPASI
No
1
2
3
4

Pemeriksaan
Tensi okuler
Nyeri tekan
Massa tumor
Glandula pre-aurikuler

C. TONOMETRI
D. VISUS

OD
Tn
Tidak ada
Tidak ada
Tidak

OS
Tn
Tidak ada
Tidak ada
ada Tidak

pembesaran

pembesaran

: Tidak dilakukan pemeriksaan


: VOD = 20/20
VOS = 20/20
E. CAMPUS VISUAL : Tidak dilakukan pemeriksaan
F. COLOR SENSE
: Tidak dilakukan pemeriksaan
G. LIGHT SENSE: Tidak dilakukan pemeriksaan
H. PENYINARAN OBLIK

ada

No
1
2

Pemeriksaan
Kongjungtiva
Kornea

OD
Hiperemis (-)
Jernih

OS
Hiperemis (+)
Tampak
bintikbintik

3
4
5
6

Bilik mata depan


Iris
Pupil

permukaan kornea
Kesan normal
Kesan normal
Coklat, kripte (+)
Coklat, Kripte (+)
Bulat, sentral, RC Bulat, sentral, RC

Lensa

(+)
Jernih

(+)
Jernih

I. DIAFANOSKOPI
: Tidak dilakukan pemeriksaan
J. OFTALMOSKOPI : Tidak dilakukan pemeriksaan
K. SLIT LAMP:
SLOD : Kongjungtiva
: Hiperemis (+)
Kornea
: Jernih
Test Flouresent: (-)
BMD
: Normal
Iris
: Coklat, kripte (+)
Lensa
: Jernih
SLOS : Kongjungtiva
Kornea
Test Flouresent
BMD
Iris
Lensa
L. LABORATORIUM
M. GONIOSKOPI
IV.

pada

: Hiperemis (-)
: Jernih
: (-)
: Normal
: Cokelat, kripte (+)
: Jernih
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Tidak dilakukan pemeriksaan

RESUME
Seorang perempuan, umur 17 tahun, datang ke poliklinik mata RSUD
Syekh Yusuf dengan keluhan utama hiperemis oculi dextra yang dialami
sejak 2 hari yag lalu. Disertai gatal (+),nyeri (+), bengkak (+), dan rasa
mengganjal (+), riwayat memakai obat tetes mata (+).
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan OD Palpepra edema,
konjungtiva hiperemis, lakrimasi, sekret, kornea jernih. Sedangkan pada OS
tidak tampak kelainan. Pada pemeriksaan refraksi didapatkan OD: 20/20,
OS: 20/20.

V.
VI.

DIAGNOSIS KERJA
OD Konjungtivitis Akut
DIAGNOSIS BANDING
-` Keratitis

VII.

Blefaritis

Selulitis Orbita

TERAPI
-

Ciprofloksasin 2 x 500 mg
Methyl prednisolon 3x4mg
Natrium diklofenak 2x1
Ranitidin 3 x 1
C.Polygram 6 x 1 gtt (OD)

TINJAUAN PUSTAKA
4

I. ANATOMI KONJUNGTIVA
Kulit kelopak mata menyatu ke dalam kulit periorbital sekitarnya, bervariasi dari
0,5 mm di margin kelopak mata hingga 1 mm di tepi orbital. Kecuali untuk rambut
vellus halus, hanya rambut dari kelopak mata yang memiliki bulu mata, atau silia, yang
dua kali lebih banyak sepanjang margin kelopak mata atas dibanding kelopak mata
bawah. Cilia akan terganti setiap 3-5 bulan; biasanya tumbuh kembali dalam 2 minggu
setelah dipotong dan akan tumbuh dalam waktu 2 bulan jika dicabut keluar. Silia
menangkap partikel kecil dan juga bekerja sebagai sensor untuk merangsang penutupan
reflex kelopak mata. Berkedip menambah pompa lakrimal untuk memproduksi air mata
di atas mata dan akan mendorong bahan asing dari mata.1
Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 3 bagian:
Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan

dari tarsus.
Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di

bawahnya.
Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal
dengan konjungtiva bulbi.2
Pada lapisan interior kelopak mata terdapat membran mukosa yang disebut

konjungtiva palpebral. Bagian ini terletak dekat dengan bola mata. Epitel konjungtiva
palpebral adalah epitel berlapis kolumnar rendah dengan sedikit sel goblet. Epitel
berlapis gepeng kulit tipis berlanjut hingg ke tepi kelopak mata dan kemudian menyatu
menjadi epitel berlapis silindris konjungtiva palpebral.3
Kantung konjungtiva terdiri atas konjungtiva bulbi, konjungtiva forniks yang
terbagi atas 3 bagian, lipatan semilunar dimedial, dan konjungtiva palpebral. Serat otot
polos dari m.levator superior mempertahankan forniks superior sedangkan jaringan
fibrous di pertahankan oleh m.rectus yang secara horizontal difiksasi di bagian temporal
konjungtiva. 1

Gambar 1: Potongan sagittal konjungtiva palpebra superior.1


Morfologi sel dari epitel konjungtiva bervariasi dari epitel berlapis cuboid di
daerah tarsus hingga epitel selapis columner pada forniks hingga ke lapisan skuamous
bola mata. Dari permukaan morfologi tersebut, terdapat sel goblet berjumlah sekitar
10% dari sel basal di epitel konjungtiva. Epitel tersebut yang paling banyak di
konjungtiva tarsal dan bulbar inferonasal konjungtiva.1
Substantia propria konjungtiva terdiri dari jaringan ikat longgar. Jaringan
konjungtiva limfoid yang terdiri dari limfosit dan leukosit lainnya terdapat banyak di
forniks. Limfosit berinteraksi dengan mukosa sel epitel melalui sinyal umpan balik
dimediasi oleh faktor-faktor pertumbuhan, sitokin, dan neuropeptida. Palpebra
konjungtiva mendapat suplai darah dari kelopak mata. Konjungtiva bulbar disuplai oleh
arteri siliaris anterior dari percabangan arteri ophthalmic. Kapiler ini bersifat
semipermeable dan fluorescein mudah bocor seperti halnya koriokapiler.1

Konjungtiva palpebral mendapatkan suplai darah dari kelopak mata.


Konjungtiva bulbar mendapatkan suplai darah dari arteri ciliaris anterior yang
merupakan percabangan dari arteri oftalmika. 1

IV. KONJUNGTIVITIS
A. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh 4
penyebab utama yaitu virus, bakteri, allergen, dan iritan. Dari keempat hal tersebut,
infeksi akut yang paling banyak terdapat pada pelayanan primer disebabkan oleh virus
dan bakteri. Sekitar 1% - 2% dari seluruh konsultasi kesehatan keluarga. Konjungtivitis
bacterial umumnya lebih sedikit didapatkan dibanding konjungtivitis viral terutama
pada orang dewasa.4
Konjungtivitis adalah proses inflamasi yang melibatkan permukaan mata dan
ditandai oleh adanya suatu dilatasi vascular, infiltrasi selular, dan eksudasi. Berdasarkan
waktu perjalanannya dibagi atas konjungtivitis akut dan konjungtivitis kronik.
Dikatakan konjungtivitis akut apabila onset terjadi secara tiba-tiba dan biasanya
unilateral dengan inflamasi pada mata kedua selama atau kurang dari 1 minggu dan
lama penyakitnya tidak lebih dari 4 minggu. Sedangkan pada konjungtivitis kronik
ditegakkan bila durasi penyakit lebih lama dari3 atau 4 minggu.5
B. Etiologi
Konjungtivitis dibagi atas 2 kategori besar:5
1. Infeksius
a) Bacterial
b) Viral
c) Parasit
d) Mikotik
2. Non-infeksius
a) Iritasi persisten
b) Alergi
c) Toksik (iritan, debu, asap)
d) Sebagai komplikasi dari berbagai kelainan (seperti sindrom steven
Johnson)

C. Gejala dan Tanda Klinis


Gejala khas yang ditunjukkan oleh semua pasien berupa mata merah dan
kelopak mata lengket di pagi hari karena meningkatnya sekresi. Setiap konjungtivitis
juga dapat menyebabkan pembengkakan di kelopak mata, yang berakibat munculnya
pseudoptosis. Foreign body sensation, sensasi tekanan, dan sensasi terbakar biasanya
dirasakan pasien, meskipun gejala-gejala ini dapat bervariasi antara pasien. Rasa gatal
menunjukkan adanya reaksi alergi. Fotofobia dan lakrimasi (epifora) juga dapat muncul
namun

bervariasi.

Adanya

blepharospasme

menunjukkan

keterlibatan

kornea

(keratoconjunctivitis).5
Gejala yang sangat prominen pada konjungtivitis akut adalah gatal ringan, rasa
mengganjal dimata, dan fotofobia ringan. Selain itu, hal yang sering muncul berupa
injeksi konjungtiva, perlengketan kelopak mata terutama di pagi hari setelah bangun
pagi, terdapat cairan purulent atau serous pada satu atau kedua mata namun tanpa
adanya tanda-tanda penurunan fungsi penglihatan.4
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, epifora, pseudoptosis, hipertrofi
papiler, kemosis, folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan
membran, granuloma, dan pre-aurikuler adenopati.6
D. Metode Pemeriksaan
1) Pemeriksaan slit lamp. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat sifat dan injeksi
vaskular, sekret, pembengkakan konjungtiva, dan lain-lain dapat dievaluasi
menggunakan slit lamp. 5
2) Eversi kelopak mata. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kelopak mata
atas dan bawah untuk melihat folikel, papila, membran, dan benda asing. Jika
diagnosis tidak pasti atau tidak terdapat respon terhadap antibiotik dan nodul
konjungtiva, pemeriksaan yang dilakukan yaitu pemeriksaan mikrobiologi untuk
mengidentifikasi jenis patogen. Penggunaan kapas penyeka dan tabung
pengiriman steril dapat digunakan untuk memeriksa kultur apabila dicurigai
klamidia. 5
3) Smear epitel. Ini digunakan untuk mendeteksi klamidia pada khususnya dan
untuk mengidentifikasi patogen pada umumnya. Epitel konjungtiva yang

memiliki sekret diusap dengan kapas lidi dan dioleskan pada slide dan dicelup
dalam larutan Giemsa dan stain Gram. Temuan sitology memberikan informasi
penting tentang etiologi konjungtivitis tersebut. 5
a) Konjungtivitis bakterial: sel granulosit dengan inti polimorf dan
ditemukan adanya bakteri
b) Konjungtivitis viral: limfosit dan monosit;
c) Konjungtivitis chlamydia: Ditemukan sel limfosit, sel plasma, dan
leukosit;
d) Konjungtivitis alergi: Temuan meliputi sel granulosit eosinophilic dan
limfosit;
e) Konjungtivitis mikotik (sangat jarang): pada pewarnaan giemsa dan
gram akan tampak adanya hifa;
4) Irigasi. Konjungtivitis dapat terjadi sebagai akibat munculnya dakriosistitis
asimtomatik atau canaliculitis karena terus menerus terpapar bakteri. Sistem
lakrimal sebaiknya sering di irigasi untuk mengurangi peradangan yang berulang
atau resisten terhadap pengobatan sehingga pemeriksa mampu memverifikasi
sumber peradangan.5
E. Klasifikasi
Konjungtivitis, terdiri dari:
1. Konjungtivitis bakterial
2. Konjungtivitis viral
3. Konjungtivitis alergi
4. Konjungtivitis Jamur
5. Konjungtivitis Parasit
6. Konjungtivitis iritasi atau kimia 6

1. Konjungtivitis bakterial

a. Definisi
Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh
bakteri. Konjungtivitis yang disebabkan bakteri dapat saja akibat infeksi genokok,
meningokok, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Hemophilus influenza
dan Eschericia coli. Memberikan gejala berupa sekret mukopurulen dan purulen,
kemosis konjungtiva, edema kelopak, kadang-kadang disertai keratitis dan blefaritis.
Terdapat papil pada konjungtiva dan mata merah. Konjungtivitis bakteri ini mudah
menular.2
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis bakteri umumnya memiliki manifestasi akut atau subakut dengan
kemerahan, sekret, pembengkakan, robekan, dan iritasi. Visus biasanya tidak terganggu.
Selain itu rasa nyeri jarang ditemukan dan mungkin dapat dijadikan diferensial
diagnosis yaitu episcleritis. Sekret dapat bersifat mukopurulen atau hanya bersifat
purulen dan terdiri dari sel-sel (leukosit, bakteri, sel-sel epitel) dan non-seluler (fibrin,
protein, lendir). Tidak ada hubungan yang spesifik antara jenis sekret dan etiologi
konjungtivitis; eksudat mukopurulen paling sering terlihat di konjungtivitis bakteri.7
Di Inggris, organisme yang paling umum menyebabkan konjungtivitis adalah
pneumococcus, Haemophilus spp. dan Staphylococcus aureus. Biasanya dikaitkan
dengan infeksi kronis, dan konjungtivitis purulen akut, dikenal lebih umum sebagai
"pink eye", biasanya disebabkan oleh pneumokokus. Kronis konjungtivitis juga dapat
disebabkan oleh Moraxella lacunata tapi organisme ini jarang diidentifikasi.
Konjungtivitis bakteri yang penting tapi jarang ditemukan konjungtivitis purulen yang
disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae; Penyakit ini masih menjadi penyebab yang
berat dari konjungtivitis lain terutama pada bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi.
Apabila tidak dilakukan terapi, kornea dapat menjadi infeksi dan menyebabkan
perforasi serta kecacatan permanen pada penglihatan. Sekret purulen, mata kemerahan
dan edema kelopak mata adalah kondisi yang umumnya dikenal sebagai oftalmia
neonatorum.8
c. Patofisiologi

10

Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti


Streptococci, Staphylococci dan Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme
pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal tersebut dapat menyebabkan
infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat terjadi karena adanya kontaminasi
eksternal (penggunaan kontak lens dan berenang) atau penyebaran dengan melalui
bagian tubuh yang terinfeksi (mengucek mata).7
Konjungtivitis bakteri dapat mengenai segala ras, walaupun terdapat perbedaan
variasi geografi dan prevalensi patogen dari tiap daerah. Perempuan dan laki-laki
memiliki resiko yang sama untuk terkena konjungtivitis bakteri. Perbedaan tingkat
infeksi mungkin disebabkan oleh lingkungan dan pola kebiasaan hidup.7
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang
meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalah sistem
imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin yang
terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan berkedip.
Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan
infeksi pada konjungtiva.7
d. Gejala Klinis
Gejalanya berupa gatal-gatal, kemerahan, kotoran mata dan kelopak mata
lengket pada waktu bangun tidur. Adapun tanda yang lain sebagai berikut:8
1.

Tajam penglihatan, kornea dan pupil; normal

2.

Hyperemia konjungtiva, paling nyata pada forniks dan kurang nyata di


limbus

3.

Sekret mata, dapat purulent atau mukopurulen

4.

Reaksi papiler pada konjungtiva

5.

Tidak ada limfadenopati periaurikuler. Berbeda dengan infeksi virus dan


chlamydia.

e. Diagnosis

11

Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena mungkin saja
penyakit berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua.
Pada pasien yang aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular seksual
dan riwayat penyakit pada pasangan seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea
dan Chlamydia serta transmisi ibu ke anak.7
Pemeriksaan kultur mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi bakteri
chlamydia atau jenis bakteri lain. Sama halnya dengan kultur viral dan fungal,
pemeriksaan ini dilakukan bila dicurigai adanya penyebab sekunder seperti ulkus kornea
akibat penggunaan softlens dan lain-lain. Adapun respon selular yang dapat muncul dari
pemeriksaan kultur ini adalah peningkatan neutrophil untuk infeksi akibat bakteri,
peningkatan limfosit untuk infeksi virus, dan peningkatan eosinophil untuk reaksi
alergi.7
f. Penatalaksanaan
Terapi utama untuk konjungtivitis bakterialis adalah antibiotic topikal, walaupun
antibiotik sistemik kadang diperlukan untuk infeksi gonorhhea dan chlamydia. Terapi
lini pertama (tetes mata) sering digunakan yaitu: trimethoprim kombinasi dengan
polimixin

B,

gentamicin,

tobramycin,

neomycin,

ciprofloxacin,

ofloxacin,

erythromycin.7
2. Konjungtivitis Viral
a. Definisi
Konjungtivitis viral atau pink eye adalah penyakit yang sering ditemui, bersifat
self limiting disease dan biasanya disebabkan oleh adenovirus. Virus lain juga dapat
meyebabkan infeksi konjungtiva termasuk virus herpes simplex, varicella zoster,
enterovirus, coxsackie, poxvirus dan HIV. 9
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi adenovirus
adalah virus yang paling banyak menyebabkan penyakit ini, dan Herpes simplex virus
yang paling membahayakan. Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh virus

12

Varicella zoster, picornavirus (enterovirus 70, Coxsackie A24), poxvirus, dan human
immunodeficiency virus 9.
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan penderita dan
dapat menular melalu di droplet pernafasan, kontak dengan benda-benda yang
menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang yang terkontaminasi..9
c. Patofisiologi
Konjungtivitis viral akut adalah konjungtivitis yang paling sering ditemui.
Beberapa jenis adenovirus menjadi penyebab konjungtivitis ini. Biasanya gejala pada
mata muncul sebagai akibat dari infeksi saluran napas bagian atas dan walaupun sering
bersifat bilateral, satu mata mungkin saja sudah terinfeksi sebelum mata lainnya. Mata
yang telah terinfeksi menjadi merah dan mengeluarkan sekret. Gejala lain yang dapat
muncul yaitu kelopak mata yang semakin menebal, dan akan tampak seperti kelopak
mata jatuh. Pada palpasi, dapat dirasakan adanya pembesaran kelenjar preaurikuler.pada
beberapa kasus, kornea dapat terlibat dan epitel kornea dapat memutih apabila
berlangsung beberapa bulan. Apabila kornea yang memutih tersebut tepat didepan jalur
refraksi, penglihatan akan sedikit terganggu. Tidak ada terapi khusus, tapi biasanya
dapat diterapi dengan antibiotik tetes untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.8
d. Gejala Klinis
Dua sindrom utama adalah keratokonjungtivitis epidemic dan demam
faringokonjungtiva. Keduanya disebabkan oleh adenovirus dan terjadi secara epidemic.
Gejala yang muncul berupa lakrimasi, mata merah, rasa tidak enak pada mata dan
fotofobia (biasanya unilateral). Tanda-tanda antara lain konjungtivitis folikularis yang
dicirikan oleh lesi-lesi disekret multipel yang agak meninggi mirip butir-butir beras, dan
limfadenopati preaurikuler. Sebagian penderita mengalami keratitis yang mula-mula
berupa lesi epitel pungtata difusa, kemudian terjadi kekeruhan fokal subepitelial, dan
akhirnya infiltrate stroma anterior. 8

e. Diagnosis

13

Virus adalah penyebab setengah dari seluruh kasus konjungtivitis. Gejala yang
timbul selalu disertai dengan sekret berair dan pembesaran kelenjar preaurikuler.
Biasanya hanya diobati dengan antibiotic karena cukup sulit membedakannya dengan
infeksi bakteri tanpa dilakukan pemeriksaan kultur. Kombinasi antibiotik dan steroid
seperti tobradex, mungkin saja dapat mengurangi gejala, namun dapat memudahkan
infeksi herpes simpleks atipikal.10
Onset biasanya unilateral, tanda-tanda yang lain yaitu lakrimasi berat dan rasa
gatal disertai dengan sekret berair mukoid. Kelopak mata yang terkena konjungtivitis
biasanya edema. Biasanya pasien memiliki riwayat flu sebelumnya.5
Karakteristik temuan lain yaitu mata merah dan edema pda plika semilunaris dan
karunkula lakrimalis serta ditemukan adanya keratitis nummular (Coin like infiltrates
yang tampak pada superfisial korneal bagian stroma).5
f. Penatalaksanaan
Konjungtivitis viral umumnya dapat sembuh sendiri. Terapi untuk konjungtivitis
yang disebabkan oleh adenovirus dapat diterapi dengan terapi suportif. Pasien
diinstruksikan untuk melakukan kompres dingin dan pemberian tetes mata steril.
Vasokonstriktor dan antihistamin topikal dapat digunakan untuk mengatasi rasa gatal
yang berlebihan. Untuk pasien yang dicurigai berpotensi terkena infeksi bakteri, dapat
diberikan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi bakteri.9
Pada pasien dengan konjungtivitis yang disebabkan oleh virus Herpes simpleks,
terapi antiviral topikal dapat diberikan seperti, idoxuridine, vidarabine dan trifluridine. 9
Untuk konjungtivitis akibat infeksi virus varicella zoster, pemberian acyclovir
oral dapat diberikan untuk menghambat replikasi virus. 9
Pencegahan transmisi konjungtivitis viral sangat penting dilakukan. Pasien dan
pemeriksa harus mencuci tangan untuk mencegah infeksi mata, tidak bertukar handuk,
linen dan alat kosmetik. Pasien diharapkan untuk istirahat dari pekerjaan untuk
menhindari penularan, dan tidak diperkenankan untuk menggunakan softlens hingga
tanda dan gejala sudah teratasi. 9

14

3. Konjungtivitis Alergi
a. Definisi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang paling sering dan
disebabkan oleh reaksi inflamasi pada konjungtiva yang diperantarai oleh sistem imun.
Reaksi hipersensitivitas yang paling sering terlibat pada alergi di konjungtiva adalah
reaksi hipersensitivitas yang dimediasi oleh IgE.10
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis alergi dibedakan atas lima subkategori, yaitu konjungtivitis alergi
musiman dan konjungtivitis alergi tumbuh-tumbuhan yang biasanya dikelompokkan
dalam satu grup, keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis atopik dan
konjungtivitis papilar raksasa. Etiologi dan faktor resiko pada konjungtivitis alergi
berbeda-beda sesuai dengan subkategorinya. Misalnya konjungtivitis alergi musiman
dan tumbuh tumbuhan biasanya muncul pada satu atau kedua mata. Kondisi ini
berlangsung tiba-tiba (akut) atau bergantung pada waktu paparan seperti disebabkan
oleh alergi tepung sari dan rumput pada musim tertentu ataupun paparan alergi dari
bahan-bahan rumahan. Vernal konjungtivitis biasanya muncul pada kedua mata, baik
palpebral, konjungtiva, bahkan kornea. Penyebab utama belum diketahui namun sering
dikaitkan dengan konjungtivitis musiman, dan pada kasus yang berat dapat
menyebabkan kebutaan. Konjungtivitis atopik terjadi pada pasien dengan riwayat
dermatitis atopic, sedangkan konjungtivitis papilar raksasa yaitu formasi dari papil
konjungtiva raksasa sebagai respon terhadap trauma dan gesekan biasanya pada
pengguna lensa kontak.10
c. Patofisiologi
Patogenesis alergi pada mata sangat kompleks dan multifactorial, dan didasari
oleh hasil interaksi lingkungan dengan kelompok gen yang menjadi factor predisposisi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan antara konjungtivitis alergi dan gen
predisposisi terhadap perkembangan penyakit tersebut. Sebuah hubungan telah
ditemukan antara konjungtivitis alergi dengan kromosom 5, 16 dan 17 dan juga
kromosom 6 memiliki kaitan spesifik terhadap alergen tertentu. Hal ini menunjukkan

15

adanya kemungkinan terdapat organ spesifik pada gen tertentu yang saling berhubungan
dengan penyakit alergi. Hal tersebut diungkapkan setelah adanya gen tertentu yang
teridentifikasi mengalami konjungtivitis dan sebelumnya pernah mengalami asthma
atopi, Dalam konteks tersebut, secara genetic IL-10 menjadi penentu peningkatan
tekanan pada sel mast dikonjungtiva dan akan berakhir dengan aktivasi oleh alergen.
Beberapa studi juga menunjukkan adanya pengaruh sel dendrit dikonjungtiva yang
menjadi patogenesis penyakit tersebut dan telah dilaporkan bahwa sistem imun dalam
sel mungkin berpengaruh terhadap terapi penyakit tersebut. Aktivasi sel mast dan
degranulasi sel mast juga telah dilakukan penelitian dalam beberapa tahun terakhir.
Studi tersebut mendeskripsikan pentingnya beta-chemokines dalam mengaktivasi
leukosit dan aktivasi sel mast primer. Dalam hal ini, eotaxin-1 menunjukkan adanya
peranan utama dalam stimulasi signal pada sel mast di konjungtiva. Pada sebuah studi
konjungtivitis alergi, eotaxin-1 reseptor antagonis mampu menghambat timbulnya
reaksi alergi sehingga dijadikan sebagai terapi yang sangat menarik dalam mengatasi
reaksi alergi. Pembuktian tersebut diatas menunjukkan bahwa ilmu alergi pada mata
dapat menjadi terapi baru dalam mengkontrol reaski alergi.10
d. Diagnosis
Diagnosis konjungtivitis alergi didasasarkan pada temuan klinis dan berdasarkan
riwayat penyakit sebelumnya. Bagaimanapun juga, tes hipersensitivitas menjadi
pemeriksaan yang sangat penting untuk mengkonfirmasi IgE spesifik apa yang ada
dalam serum pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan alergen penyebab dan
bagaimana cara menghindari alergen tersebut. Identifikasi alergen memungkinkan
dilakukan untuk mengklasifikasi penyebab konjungtivitis alergi, apakah berasal dari
alergen akibat perubahan musim (jamur, serbuk sari) atau allergen dari bahan rumahan
(debu, serangga atau jamur). 10
Gejala berupa rasa gatal yang hebat di mata, rasa panas, lakrimasi, fotofobia, dan
sekret seperti serabut.8

Tanda-tanda:

16

1.

Konjungtivitis papilaris berupa lesi-lesi hiperemis yang meninggi dengan bagian


tengah avaskuler terutama pada tarsus superior. Kemudian permukaan papillapapilla ini menjadi datar sehingg tampak seperi batu-batu bulat untuk membuat
jalanan (cobblestone appereance). Pada kasus lanjut, jika terjadi ruptur septa
jaringan ikat dapat terbentuk papilla-papilla raksasa.

2.

Sekret bersifat musinosa.

3.

Limbitis yang terdiri atas nodula-nodula mukoid dan bintik-bintik diskret berwarna
putih (Trantas dots) ditemukan pada beberapa kasus. 8
Gejala utama yang muncul pada konjungtivitis alergi adalah rasa gatal,

lakrimasi, mata merah, rasa mengganjal dimata, edema dan adanya riwayat alergi
seperti rhinitis atau asthma.11
f. Penatalaksanaan
Konjungtivitis alergi adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya gatal,
injeksi konjungtiva, pengeluaran sekret mukus, kemosis, dan edema kelopak mata.
Terapi dimulai dengan menghindari bahan iritan, mengentikan untuk sementara
penggunaan make-up dan melakukan kompres dingin. Penggunaan tetes mata
mengandung kombinasi antihistamin, zinc astringet, dan dekongestan. Penggunaan tetes
mata tersebut mengakibatkan dilatasi pupil namun dapat menyebabkan serangan
glaucoma sudut tertutup. Untuk itu, jika pemberian dekongestan direkomendasikan,
ingatkan pada pasien untuk segera control apabila terdapat gejala-gejala nyeri pada
mata, penurunan visus, atau mata semakin merah.12
Eksaserbasi akut dapat diobati dengan steroid topikal tetes mata natrium
kromoglikat 2% digunakan untuk pengobatan jangka lama dan sebagai profilaksis.13

17

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. 2015. External Disease and Cornea.


United States Of America: EB p.3-7
2. Ilyas, H. Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003 p.121-46
3. Eroschenko, Victor. 2008. Atlas Histologi DiFiore. Dengan korelasi Fungsional.
Jakarta: EGC.
4. Visscher, KL; Hutnik, CM; Thomas, M. 2009. "Evidence-based treatment of acute
infective conjunctivitis: Breaking the cycle of antibiotic prescribing.". Canadian
family physician Medecin de famille canadien
5. K. Lang, Gerhard. 2000. Ophthalmology A short Textbook. New York: Thiema
Stutgart. p. 74-104
6. Nurwasis. Komaratih, Evelyn. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag. SMF
Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: RSU. Dr. Soetomo. p. 74-5
7. Marlin, DS. 2009. Conjunctivitis, Bacterial. Diakses tanggal 27 Juni 2015
darihttp://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview
8. Konski. Ophthalmology. p.9-11
9. Scott IU, Kevin L. 2010. Conjunctivitis, Viral. California: Penn State College of
Medicine. Diakses pada tanggal 27 Juni 2015.
10. Cuvillo, et al. 2009. Allergic Conjunctivitis and H1 Antihistamine. J Investig
Allergol Clin Immunol 2009; Vol. 19. Esmon Publicidad
11. Galloway. 2006. Commons Eye Disease and their Management. London: Springer
p.45-51
12. Seal, David. 2010. Ocular Infection. New York: Informa p.139-50
13. Leitman, Mark. 2007. Manual for Eye Examination and Diagnosis. New
Brunswick: Blackwell p. 68-72

18