Anda di halaman 1dari 14

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

CATU DAYA PADA SISTEM TELEKOMUNIKASI

Disusun oleh :

Nama : AGUS PURWANTO

NIM : 06224005

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2010
CATU DAYA PADA SISTEM TELEKOMUNIKASI

1. PSTN (Public Switched Telephone Network)

Bagian-bagian dari sistem telekomunikasi adalah:


• Terminal
• Switching
• Transmisi
• Catu Daya
Hubungan antara masing-masing subsistem tersebut dapat digambarkan
melalui blok diagram berikut ini:

Gambar Blok Diagram Kaitan Sub Sistem dalam Telekomunikasi


Dalam blok diagram tersebut yang dimaksud dengan terminal adalah
segala peralatan telekomunikasi yang digunakan oleh user untuk
berkomunikasi dan dapat dihubungkan dengan sentral telepon
(switching). Contoh dari peralatan terminal tersebut adalah:
1. Telepon
2. Telegraph
3. Faximile
4. Komputer
5. Dll
TEKNIK TELEFONI
Merupakan suatu bahasan yang akan membahas sistem dan cara kerja
pesawat telepon pelanggan. Telepon pelanggan yang akan dibahas dipilih
pesawat telepon yang prinsip kerjanya digunakan secara universal pada
pesawat telepon yang lain.

2
Untuk dapat membedakan jenis pesawat telepon pelanggan maka perlu
kategori pesawat telepon yang dilihat dari:
1. Jenis catuan yang digunakan
a. Local Batery
Merupakan jenis pesawat telepon yang dicatu menggunakan catu daya
yang diletakan pada pesawat pelanggan. Pesawat telepon jenis ini
merupakan pesawat telepon yang pertama kali dikembangkan dengan
menggunakan catuan berupa generator putar (engkol). Pelanggan yang
akan menggunakan pesawat telepon harus memutar generator putar
terlebih dahulu sehingga generator menghasilkan tegangan listrik yang
cukup untuk mencatu pesawat telepon tersebut.
b. Central Battery
Merupakan jenis pesawat telepon hasil pengembangan dari Pesawat
telepon LB ( lokal Batery) di mana catuan pesawat telepon berasal dari
sentral telepon. Jenis pesawat ini sampai sekarang dipakai di hamper
seluruh pelanggan menggunakan jaringan kabel di Indonesia.
2. Sistem Dialling
a. Rotary Dialling
Merupakan pesawat telepon yang menggunakan sistem dialling rotary
(cakram putar) di mana nomor telepon yang akan dituju ditentukan
dengan memutar cakram putar pada posisi nomor yang dituju. Sistem
dialing seperti ini merupakan sistem dialling yang paling sederhana dan
memakan waktu paling lama dalam proses penyambungan pembicaraan.
b. Push Button Dialling
Merupakan pesawat telepon hasil pengembangan rotary dialling yang
menggunakan penekanan tombol tertentu sesuai nomor pelanggan yang
akan dituju. Pesawat telepon push button dialling ini menggunakan prinsip
kerja IC DTMF (Dual Tone Multi Frequency) yang akan mengirimkan
frekuensi tertentu ke arah sentral telepon bila ditekan.
Bagian-bagian Pesawat Telepon
• Saklar Standar (hookswitch / cradleswitch) : memutus hubungkan
arus DC
• Bel Pendering : mengeluarkan dering bel
• Dialer : Memasukan nomor yg dipanggil
• Hibrid : memilah arus mikrofon dan speaker
• Mikrofon : konversi akustis ke elektris

3
• Speaker : konversi elektris ke akustis
Gambar bagian-bagian pesawat telepon

Cara Kerja:
Saat Istirahat (On Hook) :
Gagang / handset berada di tempatnya dan saklar standar akan terhubung
ke posisi 1. Pada posisi ini maka tegangan searah (DC) sebesar – 48 Volt
dari batere sentral telepon tidak akan mengalir karena diblok oleh
capacitor. Arus bel yang berbentuk AC dari sentral telepon dapat masuk
ke bel ( pendering)
Saat Sibuk (Off Hook) :
Gagang / handset akan terangkat dari sandaran dan saklar standar akan
terhubung ke posisi 2 sehingga aliran arusnya akan menjadi seperti
gambar di bawah ini:

Gambar aliran arus listrik pada pesawat telepon saat off hook
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa:

4
• Sentral telepon mengetahui bahwa suatu pesawat telepon sedang
istirahat ( on hook ) atau sedang sibuk ( off hook) adalah dengan
mendeteksi arus searah yang ditarik ke pesawat tersebut. Jika
batere sentral ditarik arus oleh suatu pesawat maka berarti pesawat
tersebut sedang sibuk.
• Arus percakapan sendiri dari mikrofon sebagian kecil perlu dialirkan
ke speaker sendiri sehingga penutur ikut mendengarkan suaranya
sendiri agar dapat mengendalikan intensitas bicaranya. Suara
sendiri yang didengar melalui speaker pesawat telepon dinamakan
nada samping (side tone).
SISTEM DIALING
Dialer adalah bagian yang menterjemahkan angka-angka nomor telepon
tujuan ke dalam bentuk elektris agar dimengerti oleh peralatan di sentral
telepon. Bentuk fisik dari dialer adalah seperti cakram putar (gambar di
bawah) dan push button. Dalam keadaan gagang pesawat terangkat maka
arus listrik akan mengalir dari sentral ke pesawat telepon dan tegangan
saluran di pesawat telepon menjadi V1 – V2 seperti pada gambar berikut
ini:

Gambar jenis dialler pesawat telepon


Ada dua jenis dialler yang berkembang sekarang ini yaitu menggunakan
model pemutusan arus (sistem pulsa) dan dual tone multi frequency
(DTMF). Dialer cakram putar selalu menggunakan sistem pulsa dan dialer

5
sistem push button umumnya beroperasi dengan sistem DTMF, meskipun
banyak juga yang disiapkan untuk dapat dioperasikan dalam sistem pulsa.
1. Dialing Pulsa (Pulse Dialing)
Dalam keadaan gagang telepon terangkat maka arus DC akan mengalir
masuk ke telepon. Jika dialer diputar (ditekan) angka N, arus DC akan
mengalir dengan terputus-putus sebanyak N kali dengan aturan angka 0
akan diputus sebanyak 10 kali. Satu pulsa arus ( sekali mengalir – putus )
kira-kira adalah 100 milidetik. Jarak antar angka satu dan yang lain yang
akan ditekan tidak boleh kurang dari 400 milidetik.

Gambar sistem dialling dengan pemutus arus (pulsa)


2. Dual Tone Multi Frequency (DTMF)
Jika suatu gagang telepon terangkat dan tombol push button ditekan
maka pesawat telepon tersebut membangkitkan sepasang nada
( frekuensi ) yang mewakili koordinat dari tombol tersebut. Sebagai contoh
jika tombol 5 ditekan maka yang dibangkitkan adalah pasangan nada 770
Hz dan 1336 Hz.

6
Gambar sistem dialing dengan dual tone multi frequency
ISYARAT DI SALURAN PELANGGAN
Isyarat yang ada di saluran telepon pelanggan dibangkitkan dari batere
sentral dan berupa isyarat nada pilih, nada sibuk, nada sambung, dialing,
percakapan dan nada bel / dering dengan gambar isyarat seperti di bawah
ini. Dari gambar di atas yang dapat dijelaskan adalah:

1. Tegangan battere dari sentral umumnya adalah bernilai –48 Volt.


Dalam keadaan istirahat ( on hook ) maka tidak ada arus DC yang

7
mengalir dan bila diukur dari terminal pesawat pelanggan maka
tegangan yang terukur adalah – 48 Volt.
2. Jika gagan telepon diangkat ( off hook ) maka arus DC akan
mengalir kira-kira 20 mA dan tegangan saluran turun sekitar 6 – 8
Volt. Arus ini tidak boleh terlalu kecil dan untuk pelanggan yang
jaraknya jauh harus diperhitungkan besarnya redaman yang terjadi.
3. Tegangan / arus isyarat percakapan tidak perlu besar karena
speaker cukup ditempelkan di telinga. Isyarat tegangan percakapan
yang datang dari lawan bicara hanya sekitar 0,5 – 1 Vrms, dan yang
dibangkitkan dari mikrofon adalah sekitar 1- 2 V.
4. Tegangan / arus bel untuk membunyikan bel ( nada dering ) harus
besar, sekitar 90 Vrms karena harus mampu menderingkan bel
dengan suara yang cukup keras. Bentuk teganganya merupakan
tegangan AC 20 Hz dengan irama 2 detik ON dan 3 detik OFF.

2. ISDN ( Integrated Services Digital Network)


Dalam jaringan ISDN catu daya dapat diberikan oleh PLN atau Generator
set dengan sistem Automatic Transfer Switch Mail Fail ( ATSMF ) dimana
saat delay pergantian sumber diback up oleh baterai sekitar 2-4 jam
tergantung desain. Menurut ketetapan Departemen Komunikasi dan
Informasi catu daya pada BTS antara lain :
1. Baterai
2. Penyearah catu daya ( rectifier )
3. Generator set
4. Adaptor
5. UPS
6. Inverter Power Supply
7. Solar cell

PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR


Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus searah DC (direct
current) yang stabil agar dapat bekerja dengan baik. Baterai atau accu
adalah sumber catu daya DC yang paling baik. Namun untuk aplikasi yang
membutuhkan catu daya lebih besar, sumber dari baterai tidak cukup.
Sumber catu daya yang besar adalah sumber bolak-balik AC (alternating
current) dari pembangkit tenaga listrik. Untuk itu diperlukan suatu

8
perangkat catu daya yang dapat mengubah arus AC menjadi DC. Didalam
BTS catu daya diberikan sebesar -48 volt
PENYEARAH (RECTIFIER)
Prinsip penyearah (rectifier) yang paling sederhana ditunjukkan pada
gambar-1 berikut ini. Transformator (T1) diperlukan untuk menurunkan
tegangan AC dari jala-jala listrik pada kumparan primernya menjadi
tegangan AC yang lebih kecil pada kumparan sekundernya.

gambar 1 : rangkaian penyearah sederhana


Pada rangkaian ini, dioda (D1) berperan hanya untuk merubah dari arus
AC menjadi DC dan meneruskan tegangan positif ke beban R1. Ini yang
disebut dengan penyearah setengah gelombang (half wave).Untuk
mendapatkan penyearah gelombang penuh (full wave) diperlukan
transformator dengan center tap (CT) seperti pada gambar-2.

gambar 2 : rangkaian penyearah gelombang penuh


Tegangan positif phasa yang pertama diteruskan oleh D1 sedangkan
phasa yang berikutnya dilewatkan melalui D2 ke beban R1 dengan CT
transformator sebagai common ground.. Dengan demikian beban R1
mendapat suplai tegangan gelombang penuh seperti gambar di atas.
Untuk beberapa aplikasi seperti misalnya untuk men-catu motor dc yang
kecil atau lampu pijar dc, bentuk tegangan seperti ini sudah cukup
memadai. Walaupun terlihat di sini tegangan ripple dari kedua rangkaian
di atas masih sangat besar.

9
gambar 3 : rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter C
Gambar 3 adalah rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter
kapasitor C yang paralel terhadap beban R. Ternyata dengan filter ini
bentuk gelombang tegangan keluarnya bisa menjadi rata. Gambar-4
menunjukkan bentuk keluaran tegangan DC dari rangkaian penyearah
setengah gelombang dengan filter kapasitor. Garis b-c kira-kira adalah
garis lurus dengan kemiringan tertentu, dimana pada keadaan ini arus
untuk beban R1 dicatu oleh tegangan kapasitor. Sebenarnya garis b-c
bukanlah garis lurus tetapi eksponensial sesuai dengan sifat pengosongan
kapasitor.

gambar 4 : bentuk gelombang dengan filter kapasitor


Kemiringan kurva b-c tergantung dari besar arus (I) yang mengalir ke
beban R. Jika arus I = 0 (tidak ada beban) maka kurva b-c akan
membentuk garis horizontal. Namun jika beban arus semakin besar,
kemiringan kurva b-c akan semakin tajam. Tegangan yang keluar akan
berbentuk gigi gergaji dengan tegangan ripple yang besarnya adalah :
Vr = VM -VL …....... (1)
dan tegangan dc ke beban adalah Vdc = VM + Vr/2 ..... (2)
Rangkaian penyearah yang baik adalah rangkaian yang memiliki tegangan
ripple (Vr) paling kecil. VL adalah tegangan discharge atau pengosongan
kapasitor C, sehingga dapat ditulis :
VL = VM e -T/RC .......... (3)
Jika persamaan (3) disubsitusi ke rumus (1), maka diperoleh :
Vr = VM (1 - e -T/RC) ...... (4)
Jika T << RC, dapat ditulis : e -T/RC _ 1 - T/RC ..... (5)
sehingga jika ini disubsitusi ke rumus (4) dapat diperoleh persamaan yang
lebih sederhana :
Vr = VM(T/RC) .... (6)

10
VM/R tidak lain adalah beban I, sehingga dengan ini terlihat hubungan
antara beban arus I dan nilai kapasitor C terhadap tegangan ripple Vr.
Perhitungan ini efektif untuk mendapatkan nilai tegangan ripple yang
diinginkan.
Vr = I T/C ... (7)
Rumus ini mengatakan, jika arus beban I semakin besar, maka tegangan
ripple akan semakin besar. Sebaliknya jika kapasitansi C semakin besar,
tegangan ripple akan semakin kecil. Untuk penyederhanaan biasanya
dianggap T=Tp, yaitu periode satu gelombang sinus dari jala-jala listrik
yang frekuensinya 50Hz atau 60Hz. Jika frekuensi jala-jala listrik 50Hz,
maka T = Tp = 1/f = 1/50 = 0.02 det. Ini berlaku untuk penyearah
setengah gelombang. Untuk penyearah gelombang penuh, tentu saja
frekuensi gelombangnya dua kali lipat, sehingga T = 1/2 Tp = 0.01 det.
Penyearah gelombang penuh dengan filter C dapat dibuat dengan
menambahkan kapasitor pada rangkaian gambar 2. Bisa juga dengan
menggunakan transformator yang tanpa CT, tetapi dengan merangkai 4
dioda seperti pada gambar-5 berikut ini.

gambar 5 : rangkaian penyearah gelombang penuh dengan filter C


Sebagai contoh, anda mendisain rangkaian penyearah gelombang penuh
dari catu jala-jala listrik 220V/50Hz untuk mensuplai beban sebesar 0.5 A.
Berapa nilai kapasitor yang diperlukan sehingga rangkaian ini memiliki
tegangan ripple yang tidak lebih dari 0.75 Vpp. Jika rumus (7) dibolak-balik
maka diperoleh.
C = I.T/Vr = (0.5) (0.01)/0.75 = 6600 uF.
Untuk kapasitor yang sebesar ini banyak tersedia tipe elco yang memiliki
polaritas dan tegangan kerja maksimum tertentu. Tegangan kerja
kapasitor yang digunakan harus lebih besar dari tegangan keluaran catu
daya. Anda barangkali sekarang paham mengapa rangkaian audio yang
anda buat mendengung, coba periksa kembali rangkaian penyearah catu
daya yang anda buat, apakah tegangan ripple ini cukup mengganggu. Jika
dipasaran tidak tersedia kapasitor yang demikian besar, tentu bisa dengan
memparalel dua atau tiga buah kapasitor.
VOLTAGE REGULATOR
Rangkaian penyearah sudah cukup bagus jika tegangan ripple-nya kecil,
namun ada masalah stabilitas. Jika tegangan PLN naik/turun, maka
tegangan outputnya juga akan naik/turun. Seperti rangkaian penyearah di
atas, jika arus semakin besar ternyata tegangan dc keluarnya juga ikut
turun. Untuk beberapa aplikasi perubahan tegangan ini cukup
mengganggu, sehingga diperlukan komponen aktif yang dapat meregulasi
tegangan keluaran ini menjadi stabil.
Regulator Voltage berfungsi sebagai filter tegangan agar sesuai dengan
keinginan. Oleh karena itu biasanya dalam rangkaian power supply maka
IC Regulator tegangan ini selalu dipakai untuk stabilnya outputan
tegangan. Berikut susunan kaki IC regulator tersebut.

11
78xx untuk regulator positif 79xx untuk regulator negative
Misalnya 7805 adalah regulator untuk mendapat tegangan +5 volt, 7812
regulator tegangan +12 volt dan seterusnya. Sedangkan seri 79XX
misalnya adalah 7905 dan 7912 yang berturut-turut adalah regulator
tegangan -5 dan -12 volt.
Selain dari regulator tegangan tetap ada juga IC regulator yang
tegangannya dapat diatur. Prinsipnya sama dengan regulator OP-amp
yang dikemas dalam satu IC misalnya LM317 untuk regulator variable
positif dan LM337 untuk regulator variable negatif. Bedanya resistor R1
dan R2 ada di luar IC, sehingga tegangan keluaran dapat diatur melalui
resistor eksternal tersebut.
Rangkaian regulator yang paling sederhana ditunjukkan pada gambar 6.
Pada rangkaian ini, zener bekerja pada daerah breakdown, sehingga
menghasilkan tegangan output yang sama dengan tegangan zener atau
Vout = Vz. Namun rangkaian ini hanya bermanfaat jika arus beban tidak
lebih dari 50mA.

gambar 6 : regulator zener


Prinsip rangkaian catu daya yang seperti ini disebut shunt regulator, salah
satu ciri khasnya adalah komponen regulator yang paralel dengan beban.
Ciri lain dari shuntregulator adalah, rentan terhadap short-circuit.
Perhatikan jika Vout terhubung singkat (short-circuit) maka arusnya tetap I
= Vin/R1. Disamping regulator shunt, ada juga yang disebut dengan
regulator seri. Prinsip utama regulator seri seperti rangkaian pada gambar
7 berikut ini. Pada rangkaian ini tegangan keluarannya adalah:

12
Vout = VZ + VBE ........... (8)
VBE adalah tegangan base-emitor dari transistor Q1 yang besarnya antara
0.2 - 0.7 volt tergantung dari jenis transistor yang digunakan. Dengan
mengabaikan arus IB yang mengalir pada base transistor, dapat dihitung
besar tahanan R2 yang diperlukan adalah :
R2 = (Vin - Vz)/Iz .........(9)
Iz adalah arus minimum yang diperlukan oleh dioda zener untuk mencapai
tegangan breakdown zener tersebut. Besar arus ini dapat diketahui dari
datasheet yang besarnya lebih kurang 20 mA.

gambar 7 : regulator zener follower Jika diperlukan catu arus yang lebih
besar, tentu perhitungan arus base IB pada rangkaian di atas tidak bisa
diabaikan lagi. Dimana seperti yang diketahui, besar arus IC akan
berbanding lurus terhadap arus IB atau dirumuskan dengan I C = _IB. Untuk
keperluan itu, transistor Q1 yang dipakai bisa diganti dengan transistor
Darlington yang biasanya memiliki nilai _ yang cukup besar. Dengan
transistor Darlington, arus base yang kecil bisa menghasilkan arus IC yang
lebih besar.
Teknik regulasi yang lebih baik lagi adalah dengan menggunakan Op-Amp
untuk men-drive transistor Q, seperti pada rangkaian gambar 8. Dioda
zener disini tidak langsung memberi umpan ke transistor Q, melainkan
sebagai tegangan referensibagi Op-Amp IC1. Umpan balik pada pin negatif
Op-amp adalah cuplikan dari tegangan keluar regulator, yaitu :
Vin(-) = (R2/(R1+R2)) Vout ....... (10)
Jika tegangan keluar Vout menaik, maka tegangan Vin(-) juga akan menaik
sampai tegangan ini sama dengan tegangan referensi Vz. Demikian
sebaliknya jika tegangan keluar Vout menurun, misalnya karena suplai arus
ke beban meningkat, Op-amp akan menjaga kestabilan di titik referensi Vz
dengan memberi arus IB ke transistor Q1. Sehingga pada setiap saat Op-
amp menjaga kestabilan :
Vin(-) = Vz ......... (11)

13
gambar 8 : regulator dengan Op-amp
Dengan mengabaikan tegangan VBE transistor Q1 dan mensubsitusi rumus
(11) ke dalam rumus (10) maka diperoleh hubungan matematis :
Vout = ( (R1+R2)/R2) Vz........... (12)
Pada rangkaian ini tegangan output dapat diatur dengan mengatur besar
R1 dan R2. Sekarang mestinya tidak perlu susah payah lagi mencari op-
amp, transistor dan komponen lainnya untuk merealisasikan rangkaian
regulator seperti di atas. Karena rangkaian semacam ini sudah dikemas
menjadi satu IC regulator tegangan tetap. Saat ini sudah banyak dikenal
komponen seri 78XX sebagai regulator tegangan tetap positif dan seri
79XX yang merupakan regulator untuk tegangan tetap negatif. Bahkan
komponen ini biasanya sudah dilengkapi dengan pembatas arus (current
limiter) dan juga pembatas suhu (thermal shutdown). Komponen ini hanya
tiga pin dan dengan menambah beberapa komponen saja sudah dapat
menjadi rangkaian catu daya yang ter-regulasi dengan baik.

gambar 9 : regulator dengan IC 78XX / 79XX


Hanya saja perlu diketahui supaya rangkaian regulator dengan IC tersebut
bisa bekerja, tegangan input harus lebih besar dari tegangan output
regulatornya. Biasanya perbedaan tegangan Vin terhadap Vout yang
direkomendasikan ada di dalam datasheet komponen tersebut. Pemakaian
heatshink (aluminium pendingin) dianjurkan jika komponen ini dipakai
untuk men-catu arus yang besar. Di dalam datasheet, komponen seperti
ini maksimum bisa dilewati arus mencapai 1 A.

14