Anda di halaman 1dari 20

ANATOMI DAN FISIOLOGI PENCERNAAN

Disusun Oleh:
ARVIN AVELIANUS WINARDI

200110140004

LUTPI ANDRIANI

200110140015

NOVITA ENDAYANI

200110140120

HADI SETIADI

200110140167

AKHMAD ZAINAL MUBARAK

200110140207

Kelompok: 3
Kelas: A
Tanggal Praktikum: 20 November 2015

LABORATORIUM BIOKIMIA DAN FISIOLOGI TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2015

I
ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

1.1 Alat
1. Alat-alat operasi
2. Nampan operasi
1.2 Bahan
1. Kloroform
2. Kapas
3. Aluran pencernaan poligastrik (domba), monogastrik (ayam), monogastrik
herbivore (kelinci)
1.3 Prosedur Kerja
1.3.1 Pencernaan Ayam
1.

Ayam dibius dengan kapas berkloroform, hati-hati karena berbahaya

2.

Setelah pingsan, terlentangkan, cabuti bulu daerah perut hingga dada dan
tulang punggung

3.

Pisahkan kulit daerah perut dari otot bawahnya

4.

Bukalah selaput perut didekat tulang costae (tulang rusuk) terakhir


mengikuti arah tulang tersebut hingga tulang punggung

5.

Potonglah bagian dada dari persendian scapulanya, sehingga bagian


tersebut terpisah dari tubuh ayam

6.

Preparasi secara utuh mulai dari kepala sampai ke anus. Perlu diperhatikan
bahwa organ pankreas dan hati harus tetap menempel pada alat pencernaan
tersebut.

7.

Perhatikan dan pelajari alat-alat pencernaan tersebut.

8.

Gambarlah alat pencernaan tersebut secara utuh mulai dari kepala hingga
anus.

9.

Buatlah sayatan mulai dari ruang mulut hingga anus

10.

Perhatikan bagian-bagian isi saluran pencernaan tersebut yang merupakan


gambaran proses fisiologik yang terjadi

11.

Gambarkanlah bagian-bagian dalam tersebut

12.

Di dalam laporan, tertulis secara kronologis mulai dari ransom yang


dimakan ayam, hingga sisa bahan makanan yang keluar anus

13.

Tulislah fungsi dari setiap bagian yang saudara pelajari

1.3.2

Pencernaan Domba

1. Perhatikan dalam keadaan utuh, saluran pencernaan ruminansia yang tersedia


mulai dari mulut sampai anus beserta organ-organ pelengkapnya
2. Gambarlah saluran pencernaan tersebut secara lengkap dan utuh
3. Buatlah sayatan mulai dari mulut sampai anus
4. Perhatikanlah bahan-bahan makanan yang ada di dalam bagian-bagian
saluran pencernaan tersebut
5. Perhatikan anatomi permukaan bagian dalam dan luar dari saluran pencernaan
6. Buatlah laporan mengenai pengamatan saudara serta penjelasan dan
pembahasannya. Bandingkanlah dengan alat pencernaan ungags
7. Gambarlah bagian-bagian dalam hewan tersebut
8. Di dalam laporan, tulislah secara kranologis mulai dari ransom yang di makan
hingga sisa bahan makanan yang keluar dari anus
9. Tulislah fungsi dari setiap bagian yang saudara pelajari
1.3.3

Pencernaan Kelinci

1. Kelinci dibius dengan kapas berkloroform, hati-hati karena berbahaya

2. Setelah pingsan, terlentangkan, cabuti bulu daerah perut hingga dada dan
tulang punggung
3. Pisahkan kulit daerah perut dari otot bawahnya
4. Bukalah selaput perut didekat tulang costae (tulang rusuk) berakhir mengikuti
arah tulang tersebut hingga tulang punggung
5. Preparasi secara utuh mulai dari kepala sampai ke anus. Perlu diperhatikan
bahwa organ pankreas dan hati harus tetap menempel pada alat pencernaan
tersebut.
6. Perhatikan dan pelajari alat-alat pencernaan tersebut.
7. Gambarlah alat pencernaan terseut secara utuh mulai dari kepala hingga anus.
8. Buatlah sayatan mulai dari ruang mulut hingga anus
9. Perhatikan bagian-bagian isi saluran pencernaan tersebut yang merupakan
gambaran proses fisiologik yang terjadi
10. Gambarkanlah bagian-bagian dalam tersebut
11. Di dalam laporan, tertulis secara kronologis mulai dari ransum yang dimakan
kelinci, hingga sisa bahan makanan yang keluar anus
12. Tulislah fungsi dari setiap bagian yang saudara pelajari

II
HASIL PENGAMATAN

2.1 Hasil Pengamatan Pencernaan Monogastrik (Ayam)


Gambar

Keterangan

2.2 Hasil Pengamatan Pencernaan Monogastrik Herbivore (Kelinci)


Gambar

Keterangan

2.3 Hasil Pengamatan Pencernaan Poligastrik (Domba)


Gambar

Keterangan

III

PEMBAHASAN

3.1 Sistem Pencernaan Pada Monogastrik (Ayam)


Sistem pencernaan pada ayam berbeda dengan sistem pencernaan pada
manusia. Sistem pencernaan ayam terdiri dari mulut, kerongkongan, tembolok
(crop), lambung kelenjar (proventriculus), gizzard (empedal), usus dua belas jari
( duodenum), usus halus (small intestine), usus buntu (ceca), usus besar (rektum),
kloaka, anus. Selain itu juga terdapat pankreas dan hati yang membantu proses
perncernaan makanan pada ayam.
Pencernaan adalah penguraian pakan ke dalam zat-zat makanan dalamsaluran
pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh
(Anggorodi, 2001).Ayam merupakan ternak non-ruminansia yang artinya ternak
yang mempunyai lambung sederhana atau monogastrik. Pada umumnya bagianbagian penting dari alat pencernaan adalah mulut, farinks, esofagus, lambung,
usus halus dan usus besar. Makanan yang bergerak dari mulut sepanjang saluran
pencernaan oleh gelombang peristaltik yang disebabkan karena adanya
kontraksiotot di sekeliling saluran. (Tillman et al., 2000). Di dalam empedal
bahan-bahan makanan mendapat proses pencernaansecara mekanis. Partikelpartikel yang besar secara mekanik akan diperkecildengan tujuan memudahkan
proses pencernaan enzimatis di dalam mulut ataupun di dalam saluran pencernaan
berikutnya. Untuk memudahkan proses pencernaan mekanis maupun enzimatis
dalam mempersiapkan ransum ternak banyakdilakukan dengan menggiling bahanbahan ransum tersebut (Parakkasi, 2001).

Pencernaan ayam yang memiliki panjang 245 255 cm, tergantung pada
umur dan jenis unggas memiliki prinsip pencernaan yang terdiri dari tiga macam
yaitu pencernaan secara mekanik (fisik), pencernaan secara kimiawi (enzimatik)
dan Pencernaan secara mikrobiologik yang terjadi di sekum dan kolon.
Pencernaan secara mekanik (fisik); Pencernaan ini dilakukan oleh kontraksi
otot polos, terutama terjadi di empedal (gizzard) yang dibantu oleh bebatuan
(grit). Pencernaan ini banyak terjadi pada ayam yang dipelihara secara umbaran
sehingga mendapatkan grit lebih banyak daripada ayam yang dipelihara secara
terkurung.
Pencernaan secara kimiawi (enzimatik); Pencernaan secara kimia dilakukan
oleh enzim pencernaan yang dihasilkan: (1) kelenjar saliva di mulut; (2) enzim
yang dihasilkan oleh proventrikulus; (3) enzim dari pankreas; (4) enzim empedu
dari hati; dan (5) enzim dari usus halus. Peranan enzim-enzim tersebut sebagai
pemecah ikatan protein, lemak, dan karbohidrat.
Pencernaan secara mikrobiologik (jumlahnya sedikit sekali) dan terjadi di
sekum dan kolon. Secara umum pencernaan pada unggas meliputi aspek:digesti
yang terjadi pada paruh, tembolok, proventrikulus, ventrikulus (empedal/gizzard),
usus halus, usus besar, dan ceca;absorpsi yang terjadi pada usus halus (small
intestinum) melalui vili-vili (jonjot usus); metabolisme yang terjadi pada sel tubuh
yang kemudian disintesis menjadi protein, glukosa, dan hasil lain untuk
pertumbuhan badan, produksi telur atau daging, pertumbuhan bulu, penimbunan
lemak, dan menjaga/memelihara tubuh pada proses kehidupannya.
Alat pencernaan terdiri atas saluran yang memanjang mulai dari mulut
melanjut ke usus dan berakhir di lubang pelepasan atau anus (Yaman, 2010).

Saluran pencernaan merupakan organ yang menghubungkan dunia luar dengan


dunia dalam tubuh hewan, yaitu proses metabolik dalam tubuh. Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, esophagus, crop, proventikulus, gizzard, duodenum,
usu halus, seka, rectum, kloaka dan vent (Suprijatna et al., 2008).
Mulut ayam tidak memliki bibir dan gigi. Peranan gigi dan bibir pada ayam
digantikan oleh rahang yang menanduk dan membentuk paruh. Fungsi paruh pada
unggas darat dan air berbeda. Pada unggas darat paruh terdapat lidah yang runcing
yang digunakan untuk mendorong pakan menuju esophagus. Sedangkan pada
unggas air paruh berfungsi untuk menyaring makanan yang terapung pada air
(Rasyaf, 2008). Makanan yang telah masuk oleh pergerakan lidah itik didorong
masuk ke dalam faring yang kemudiian ditelan. Makanan yang terapung apung
di air ditelan dengan bantuan alat penyaringan yang berupa lamella paralel
(Suprijatna et al., 2005).
Esophagus atau kerongkongan berupa pipa tempat pakan melalui saluran ini
dari bagian belakang mulut ke proventrikulus (Suprijatana et al,. 2008).
Esophagus merupakan saluran lunak dan elastis yang mudah mengalami
pemekaran apabila ada bolus yang masuk. Esophagus memanjang dari faring
hingga proventrikulus melewati tembolok (Yuwanta, 2004).
Tembolok adalah organ yang bebentuk kantung dan merupakan daerah
pelebaran dari esophagus. Proses pencernaan di dalam tembolok sangat kecil
terjadi. Fungsi utama dari tembolok adalah sebagai organ penyimpan pakan.
Sedangkan pada itik memliki crop yang sedikit berbeda dibandingkan dengan
ayam (Yaman, 2010). Pada itik dan unggas air pada umumnya, crop tidak
berkembang secara sempurna, tidak seperti pada ayam atau burung burung

pemakan rumput. Crop semata mata berfungsi sebagai penampung sementara


bagi makanan (Yuwanta, 2008).
Proventrikulus disebut juga perut kelenjar atau glandular stomach yang
mensekresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan lemak. Sekresi
pepsinogen dan HCl tergantung pada stimulasi saraf vagus, sekresi glandula perut
ini 5 20 ml/jam dan mampu mencapai 40 ml ketika ada pakan (Yuwanta, 2004).
suatu enzim untuk membantu pencernaan protein, dan hidrokloric acid disekresi
oleh glandular cell (Suprijatna et al., 2008).
Fungsi utama empedal adalah menggiling dan meremas pakan yang keras.
Proses mencerna makanan secara normal dapat dibantu oleh adanya kerikil yang
biasa diambil dan ditelan melalui mulut (Hardjosworo, 2006). Gizzard memiliki
dua pasang otot yang sangat kuat sehingga ayam mampu menggunakan tenaga
yang kuat (Suprijatna et al., 2005).
Usus terdiri atas saluran makanan yang dimulai dari duodenum yaitu usus
halus bagian depan dan hingga berakhir di rectum atau usus besar di bagian
belakang. Pencernaan pakan utama terjadi di usus halus (Sudarmono, 2003).
Panjang duodenum unggas dewasa 22 38 cm, jejunum 105 cm, dan ileum 15 cm
(Fadilah dan Polana, 2004).
Sekum terdiri atas dua seka atau saluran buntu yang berukuran panjang 20
cm. Bagian seka juga terjadi digesti serat kasar yang dilakukan oleh bakteri serat
kasar. Kemampuan mencerna serat kasar pada bangsa itik lebih besar daripada
ayam sehingga sekum litik lebih berkembang daripada ayam (Yuwanta, 2004).
diantara usus halus dan usus besar, terdapat dua kantung yang disebut sebagai
ceca (Suprijatna et al., 2008).

Usus besar (rectum) dinamakan juga intestinum crasum yang panjangnya 7


cm, hal ini dikarenakan bahwa unggas yang kita gunakan dalam pratikum masih
muda (Yuwanta, 2004). Usus besar merupakan rectum. Pada ayam dewasa,
panjangnya hanya sekitar 10 cm dengan diameter sekitar dua kali usus halus.
Bentuknya melebar dan terdapat pada bagian akhir usus halus ke kloaka
(Suprijatna et al., 2008).
Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta karena urodeum dan
koprodeum terletak berhimpitan (Yuwanta, 2004). Kloaka merupakan suatu
tabung yang berhubungan dengan saluran pencernaan, saluran kencing dan
reproduksi yang membuka keluar menuju anus (Sudarmono, 2003). Organorgan tertentu berkaitan erat dengan pencernaan sebagai saluran sekresi kedalam
saluran pencernaan itik. Fungsinya membantu dalam pemprosesan pakan. Organ
tersebut yaitu pankreas, hati, dan kantung empedu. Organ tambahan, namun
fungsi organ ini sangat penting karena mengsekresikan enzim pencernaan
(Suprijtna et al., 2008).
3.2 Sistem Pencernaan Pada Monogastrik Herbivore (Kelinci)
Kelinci termasuk pseudoruminant yaitu herbivora yang tidak dapat mencerna
serat kasar dengan baik. Kelinci memfermentasikan pakan di coecum yang kurang
lebih 50% dari seluruh kapasitas saluran pencernaannya (Sarwono, 2001).
Menurut Arington (1986), kelinci termasuk pseudoruminant tetapi sistem
digestinya tidak berfungsi seperti ruminant dan alat pencerna makanannya
mempunyai karakteristik hewan monogastrik. Perut kelinci terdiri dari 3 bagian
yaitu bagian cardiac di dekat oesophagus, fundus di sebelah kiri bagian cardiac
dan pylorus di dekat usus halus. Volume perut adalah 36% dari total volume

saluran pencernaan, pH di dalam perut adalah 1,9. Coecum adalah segmen paling
besar dari saluran pencernaan besarnya 42% dari total volume.
Pada umumnya kelinci sebagai hewan monogastik mempunyai alat
pencernaan dan fungsi yang sama seperti hewan monogastrik lainnya. Tetapi pada
unggas terdapat perbedaan saluran pencernaan dengan ternak monogastrik
lainnya, yaitu pada ayam terdapat tembolok dan empedal, tetapi pada ternak
monogastri lainnya termasuk kelinsi tidak ditemukannya saluran tersebut. Alat
pencernaan pada kelinci dimulai dari mulut, faring, esophagus, lambung
(ventikulus), usus halus (intestinal tunue), usus besar (intestinum crassum), dan
rektum. Dan organ pelengkapnya terdiri dari gigi (dentes), lidah, hati, dan
pankreas (Soeharsono, 2010).
Menurt Tillman, 1998 Prose pencernaan makana pada hewan non-ruminansia
dimulai dari :
a. Pencernaan dalam mulut
Pengertian pencernaan dimulai dengan penempatan makanan di dalam mulut
di mana terdapat pemamahan atau penelanan dengan pengunyahan. Prose ini juga
mencampur makanan dengan air ludah, yang berfungsi sebagai pelicin untuk
membantu penlanan. Pencernaan dimulai dari amilase air liur dan berlangsung
terus sementara makanan melalui faring dan esophagus masuk ke dalam lambung
yang mana suasana asam menghentikan aktivitas amilase ludah. Faring dan
esophagus tidak mengsekresi enzim sehingga tidak mempunyai fungsi pencernaan
mekanik.
b. Pencernaan dalam lambung

Lambung adalah ruangan sederhana yang berfungsi sebagai tempat


pencernaan dan penyimpanan makanan. Cairan lambung terdiri dari air, garamgaram organik, dan pepsinogen dapat merangsang produksi pepsin konsentrasi
asam dalam cairan lambung menurun pH isi lambung sampai 2,0. Hasil dari
pencernaan protein dalam lambung adalah polipeptida yang bervariasi besar
dalam ukurannya ditambah beberapa asam amini bebas. Di dalam lambung tidak
terjadi pencernaan karbohidrat yang penting. Dalam lambung lipase memulai
mencerna lemak.
c. Pencernaan dalam usus halus
Tempat absorbsi utama zat-zat makanan tercerna dalam saluran pencernaan
adalah usus halus. Ini disebabkan karena permukaan absorbsi yang luas
dimungkinkan dengan adanya bentuk-bentuk proyeksi seperti jari, yaitu villi usus
halus. Absorbsi zat-zat makanan berjalannya sebagai berikut :
1) Karbohidrat, dicerna dalam saluran pencernaan menjadi gula sederhana, yang
diangkur secara aktif melalui sel-sel usus halus ke dalam vena portal ke hati.
2) Lemak, dicerna menjadi asam-asam lemak mono- dan di-gliseride yang
kesemuanya dalam bentuk miselles di absorbsi dengan cara diffusi, melalui
villi.
3) Protein, dicerna menjadi asam-asam amino, yang diangkut ke hati melalui
vana protal.
4) Mineral-mineral, umumnya diabsorbsi dari lumen usus halus. Namun
absorbsi mineral dipengaruhi oleh banyak faktor tergantung tiap macam
mineral.

5) Vitamin-vitamin, juga diabsorbsi dari lumen usus halus, seperti halnya


mineral-mineral, absorbsinya dipengaruhi oleh banyak faktor.
d. Pencernaan dalam usus besar
Karena absorbsi hasil pencernaan makanan terjadi sebagian besar dalam usus
halus, maka sebagian bahan-bahan yang dicerna yang masuk usus besar zat-zat
makanannya telah mengalami absorbsi, menyisakan bahan-bahan yang tahan
pencernaan yaitu selulosa dan hemiselulosa yang dihidrolisis oleh enzime apapun
yang dihasilkan hewan. Usus besar tidak menghasilkan enzime karena kelenjarkelenjar yang ada adalah kelenjar mukose,. Karenanya, tiap pencernaan yang
terjadi di dalamnya adalah sisa-sisa kegiatan pencernaan oleh enzime dari usus
kecil.
Jasad renik dalam usus besar mensintesis banyak vitamin-vitamin B dan
sebagian ada yang di absorbsi ke dalam tubuh. Namun kebanyakan diekskresikan
melalui feses, jadi sintesisnya dalam usus besar tidak penting bagi hewan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun, banyak hewan ternak nonruminansia yang mencukupi kebutuhan vitamin B dalam makanan dengan
memakan fesesnya yang kaya akan sumber vitamin K dan berbagai/semua vitamin
B kompleks.
Feses adalah hasil sisa pencernaan dan dikeluarkan dari traktus digestivus
melali anus. Feses mengandung air, sisa makanan tak tidak tercerna, dan sekresisekresi pencernaan.
3.3 Sistem Pencernaan Pada Poligastrik (Domba)

Hewan memamah biak (ruminansia) adalah sekumpulan hewan pemakan


tumbuhan yang mencerna makanannya dalam dua langkah, pertama dengan
menelan bahan mentah, kemudian mengeluarkan makanannya yang sudah
setengah dicerna dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan-hewan ini tidak hanya
memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi lebih dari satu ruang (poligastrik), atau
secara umum bisa dikatakan berperut banyak.
Pada praktikum yang kelompok kami lakukan, kami mengamati hewan
ruminansia yaitu domba. Kami akan membahas proses atau sistem pencernaan
pada hewan ruminansia.
Alur proses pencernaan pada hewan ruminansia (domba) sebagai berikut:
1. Mulut
Rongga mulut dibagi menjadi dua bagian yaitu gigi dan processus alveolaris.
Di dalam rongga mulut terdapat lidah (lingua), gigi, dan kelenjar saliva
(mengandung amilasi). Di dalam mulut juga terjadi proses mastikasi
(penghancuran) pakan secara mekanis. Di mulut juga akan terjadi proses
pengunyahan kembali digesta yang dikeluarkan dari rumen karena serat digesta
tersebut masih kasar untuk di haluskan kembali, proses ini disebut juga
remastikasi. Setelah digesta tersebut halus maka akan di telan kembali, dan proses
tersebut dinamakan redeglutasi dan akan langsung masuk ke dalam retikulum.
2. Esophagus
Esophagus atau kerongkongan berupa pipa tempat pakan melalui saluran ini
merupakan saluran yang menghubungkan makanan dari mulut ke dalam rumen.
3. Rumen

Rumen berfungsi sebagai gudang bagi makanan yang tertelan. Di rumen


terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim
selulase yang dihasilkan oleh bakteri, fungi dan jenis protozoa tertentu. Hasil dari
fermentasi dalam rumen adalah asam lemak terbang (VFA). Asam lemak terbang
(VFA) terdiri dari asetat, butirat, dan propionat. Asam lemak terbang tersebut akan
diserap dalam omasum dan abomasum. Apabila serat makanan (digesta) yang
sudah masuk rumen masih dalam kondisi kasar maka makanan tersebut akan
dikeluarkan kembali ke mulut untuk dihaluskan kembali, proses ini disebut
regurgitasi.
Rumen pada domba dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi
yang tinggi dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Berat rumen berkisar
80% pada domba dewasa. Rumen terletak di rongga abdominal bagian kiri.
Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada
permukaan rumen terdapat papilla dan papillae. Sedangkan substrat pakan yang
dimakan akan mengendap dibagian ventral. Pada retikulum dan rumen terjadi
pencernaan secara fermentatif, karena pada bagian tersebut terdapat bermilyaran
mikroba. Fungsi mikroba tersebut antara lain mencerna serat kasar menjadi VFA
(Volatile Fatty Acids), sumber protein dan sumber vitamin K dan B kompleks.
4. Retikulum
Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach.
Retikulum mempunyai bentuk menyerupai sarang tawon atau lebah. Berat
retikulum berkisar 5% pada domba dewasa. Fungsi retikulum adalah sebagai
penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan
langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding

penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan,
sehingga partikel pakan menjadi tercampur. Setelah pakan masuk kedalam
retikulum terjadi proses regurgitasi (pengunyahan kembali), lalu pakan yang
sudah terregurgitasi akan langsung masuk ke omasum.

5. Omasum
Didalam omasum terjadi proses penyerapan air, amonia, asam lemak terbang
sekitar kurang lebih 10%, dan elektrolit. Dalam omasum menghasilkan amoniak
dan juga asam lemak terbang. Omasum sering juga disebut dengan perut buku,
karena permukaannya berbuku-buku. Berat omasum berkisar 7% - 8% pada
domba dewasa. Ph omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan
abomasum terdapat lubang yang disebut omaso abomasal orifice. Omasum
merupakan lambung ke tiga yang ditaburi lamina pada permukaannya sehingga
menambah luas permukaan tersebut.
6. Abomasum
Abomasum disebut juga lambung sebenarnya. Makanan yang belum di cerna
oleh rumen akan dicerna kembali oleh abomasum, dalam abomasum terjadi
pencernaan secara kimiawi. Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati ,
berat omasum berkisar 7% - 8% pada domba dewasa. Fungsi omaso abomasal
orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke
omasum. Ph pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum
terletak dibagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam,

maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri. Permukaan abomasum dilapisi


oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel tercerna oleh
enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan pepsinogen
dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk
pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.

7. Small intestine
Usus halus merupakan organ utama tempat berlangsungnya pencernaan dan
absorpsi produk pencernaan. Pada usus kecil atau halus perjalanan sisa makanan
di perlambat di usus besar. Caecum dan colon bertindak sebagai tempat
fermentasi. Isi dalam usus halus dengan cepat menjadi hiopotonis terhadap plasma
(disebabkan penurunan cepat konsi Na, C1, CO2, VFA, dan amonia). Absorpsi
dilakukan di usus besar. Terdapat tiga bagian dalam usus halus yaitu duodenum,
jejenum dan ileum.
8. Rektum
Organ terakhir dari usus besar pada beberapa jenis mamalia yang berakhir di
anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.
Mengembangnya dinding rectum karena penumpukan material di dalam rectum
akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke
usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak
terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
9. Anus

Anus merupakan saluran akhir pembuangan feses. Disinilah saluran akhir


sistem pencernaan karena semua sisa dari hasil pencernaan akan dikeluarkan dari
tubuh organisme (hewan). Tidak menutup kemungkinan bakteri yang berada
dalam sekum akan keluar dari tubuh organisme bersama feses, sehingga didalam
feses hewan yang mengandung bahan organik akan diuraikan dan dapat
melepaskan gas CH4 (gas bio).

IV
KESIMPULAN

Sistem pencernaan ayam terdiri dari mulut, kerongkongan, tembolok (crop),


lambung kelenjar (proventriculus), gizzard (empedal), usus dua belas jari
( duodenum), usus halus (small intestine), usus buntu (ceca), usus besar (rektum),
kloaka, anus. Selain itu juga terdapat pankreas dan hati yang membantu proses
perncernaan makanan pada ayam.Sistem pencernaan pada kelinci dimulai dari
mulut, faring, esophagus, lambung (ventikulus), usus halus (intestinal tunue), usus
besar (intestinum crassum), dan rektum. Dan organ pelengkapnya terdiri dari
empedu, ductus, hati (hepar), dan pankreas. Saluran pencernaan pada domba
mulai dari mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, duodenum,
jejenum, ileum, caecum, colon, rectum, dan anus. Sementara organ asesori pada
domba juga terdapat pankreas, hati, dan glandula saliva.

DAFTAR PUSTAKA
Arora, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.
Arrington, L. R. and Kelley K. C. 1986. Domestic Rabbit Biology and Production.
The University Presses of Florida: Tallahassee, Florida.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.
Hardjosworo, Peni S. 2006. Meningkatkan Produksi Daging Unggas. Penebar
Swadya, Jakarta.
Rasyaf, M. 1998. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sarwono. 2001. Beternak Kelinci Unggul. Kanisius, Yogyakarta.
Soeharsono, dkk. 2010. Fisisologi Ternak. Widya Padjadjaran, Bandung.
Sudarmono. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius,
Yogyakarta.
Suprijatna, E., Atmomarsono, Umiyati., dan Kartasudjana, Ruhyat. 2005. Ilmu
Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tillman. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Yaman, M. Aman. 2010. Ayam Kampung Unggul 6 Minggu Panen. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta.