Anda di halaman 1dari 21

MANGROVE

Nama Kelompok
Mukrimah 120254241003
Nia Afriyanie A.M 120254241013
Oktaviani 120254241007
Arief Herriansyah 120254241002
Rivaldy Prathama 120254241008
Rahmat Doni Hasibuan 120254241071
Andiska Saputra 100254241022

Universitas Maritim Raja Ali Haji


Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan

Kalimantan, Jawa, Bali hingga


hingga
Papua.
Mangrove
MANGROVE
merupakan salah satu ekosistem
penting pesisir dan laut selain
terumbu karang dan padang
lamun. Mangrove (hutan bakau)
adalah tanaman dikotil yang hidup
di habitat air payau atau derah
pasang surut. Menurut Tomlinson
(1986) dan Wightman (1989)
didalam buku karya Noor dkk
(2006) mendefinisikan mangrove
sebagai tumbuhan yang terdapat di
daerah pasang surut maupun
sebagai komunitas.

Penyebaran huatan mangrove di dunia di perkirakan ada 83


spesies yang terdiri dari 31 genus dan 22 famili. Di indonesia
diperkirakan ada 38 spesies yang tumbuh tersebar pada
beberapa Daerah, Seperti Aceh, Riau, Jawa, Sulawesi,
Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Jaya (Suryono,
2013). Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat
pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian
menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang besar.
Sungai mengalirkan air tawar untuk mangrove dan pada saat
pasang, pohon mangrove dikelilingi oleh air payau

Indonesia memiliki jenis mangrove


sebanyak 89 jenis pohon mangrove,
atau paling tidak menurut FAO
terdapat
sebanyak
37
jenis,
diantaranya adalah jenis api-api
(Avicennia sp.) bakau (Rhizophora
sp) (dalam Asmuruf, 2013). Dari
banyak jenis mangrove sedikit sekali
mangrove endemik indonesia. Hal
tersebut kemungkinan disebabkan
karena buah mangrove mudah
terbawa oleh gelombang dan tumbuh
di tempat lain.
Contoh spesies
endemik
Amyema
anisomeres
(mangrove sejati).

Sebagai
salah
satu
ekosistem penting fungsi dan
manfaat mangrove bersifat
kompleks
dan
dinamis.
Kompleks karena ekosistem
ini sebagai habitat berbagai
satwa dan biota. Dinamis
artinya dapat berkembang
meluas atau mengecil seiring
berjalannya waktu. Fungsi
hutan
mangrove
dapat
dilihat dari segi fungsi fisik,
bilogis, dan ekonomis.

Ciri dan Karakteristik Ekosistem Mangrove ( dalam Waryono, 2008),


yaitu :
Hanya didapati di daerah tropik dan sub-tropik

Substrat berlumpur, berlempung atau berpasir


Lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun
hanya tergenang pada saat pasang purnama
Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat (sungai, mata air
atau air tanah) yang berfungsi untuk menurunkan salinitas, menambah
pasokan unsur hara dan lumpur
Suhu udara dengan fluktuasi musiman tidak lebih dari 5c dan suhu
rata-rata di bulan terdingin lebih dari 20c
Airnya payau dengan salinitas 2-22 ppt atau asin dengan salinitas
mencapai 38 ppt;
Arus laut tidak terlalu deras
Tempat-tempat yang terlindung dari angin kencang dan gempuran
ombak yang kuat
Topografi pantai yang datar/landai.

FAUNA MANGROVE DAN INTERAKSI DI


EKOSISTEMMANGROVE
Biota perairan didalam ekosistem
mangrove sangat beragam dan
kompleks. Mereka secara langsung
maupun tidak langsung hidupnya
bergantung pada hutan mangrove.
1) Mamalia,
contohnya
kera
putih(Cebus capucinus) memakan
cockles di mangrove. Juga spesies
Reptil dan Ampibia seperi ular
dan biawak, banyak juga jenis
burung yang ditemui Contohnya
adalah pecuk (Anhinga sp dan
Phalacocorax sp.), cangak dan
blekok (Ardea sp), bangau/kuntul
(Egretta sp dan Leotoptilos sp

3)

MOLUSCA
filum molusca kelas

crustacea yang
sering dijumpai adalah Kepiting dari
famili Portunidae juga merupakan
biota yang umum dijumpai. Kepitingkepiting
yang
dapat
dikonsumsi
(Scylla serrata = kepiting bakau),
termasuk produk mangrove yang
bernilai ekonomis dan menjadi sumber
mata pencaharian penduduk sekitar
hutan mangrove.
Kelas bivalvia yang paling penting
adalah
kerang
darah
(Anadara
granosa). Udang yang paling terkenal
termasuk udang raksasa air tawar
(Macrobrachium
rosenbergii)
dan
udang laut (Penaeus indicus , P.

Diagram ilustrasi penyebaran fauna di


habitat ekosistem mangrove

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekosistem


Mangrove (dalam Anonym, 2007)
Fisiografi pantai
Fisiografi pantai dapat mempengaruhi komposisi,
distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. Pada pantai
yang landai, komposisi ekosistem mangrove lebih
beragam jika dibandingkan dengan pantai yang terjal.
Pasang Surut
Pasang yang terjadi di kawasan mangrove sangat
menentukan zonasi tumbuhan dan komunitas hewan
yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. contoh
penggenagan sepanjang waktu maka jenis yang dominan
adalah Rhizophora mucronata dan jenis Bruguiera
serta Xylocarpus kadang-kadang ada.

Gelombang dan Arus


Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi
ekosistem mangrove. gelombang dan arus yang cukup
besar dapat menyebabkan abrasi mangrove sehingga
terjadi pengurangan luasan hutan. Gelombang dan arus
juga berpengaruh langsung terhadap distribusi spesies
misalnya buah atau semai terbawa gelombang dan
arus sampai menemukan substrat yang sesuai.
Salinitas

Salinitas optimum mangrove untuk tumbuh berkisar


antara 10-30 ppt. Salinitas secara langsung dapat
mempengaruhi laju pertumbuhan dan zonasi mangrove,
hal ini terkait dengan frekuensi penggenangan.

Oksigen terlarut
Oksigen
terlarut
berperan
penting
dalam
dekomposisi serasah oleh bakteri dan fungi. Oksigen
terlarut berperan dalam proses respirasi dan
fotosintesis.
Iklim
Iklim mempengaruhi perkembangan tumbuhan dan
perubahan faktor fisik. Pengaruh iklim terhadap
pertimbuhan mangrove melalui cahaya, curah hujan,
suhu, dan angin.
Substrat
karakteristik substrat merupakan faktor pembatas
terhadap pertumbuhan mangrove. Contoh rhizophora
mucronata dapat tumbuh baik pada substrat yang
dalam/tebal dan berlumpur. Avicennia marina dan
bruguiera hidup pada tanah lumpur berpasir.

Faktor-faktor pembatas diatas


sebagian juga berpengaruh terhadap
zonasi mangrove seperti salinitas,
substrat.

Kerusakan Mangrove dan Strategi Pengelolaan

Ada dua faktor penyebab rusaknya hutan


mangrove, yaitu :
Faktor manusia, yang merupakan faktor
dominan penyebab kerusakan hutan mangrove
dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan.
Faktor alam, seperti: banjir, kekeringan, hama
penyakit,
tsunami,
dan
kebakaran.
(Tirtakusumah, 1994 dalam Rahmawaty, 2006).

Mengingat besarnya manfaat mangrove dan


seiring meningkatnya kerusakan mangrove
perlu diterapkan prinsip dasar pengelolaan
mangrove, yaitu :
Save it, mengamankan ekosistem hutan
mangrove dengan melindungi genetik,
spesies dan ekosistemnya secara
keseluruhan
Study it, mempelajari ekosistem hutan
mangrove yang meliputi biologi, komposisi,
struktur, distribusi dan kegunaannya.
Use it, memanfaatkan ekosistem hutan
mangrove secara lestari dan seimbang

Masalah-masalah dalam Pengelolan Mangrove


(dalam Irwanto, 2006).
Terbatasnya data, informasi, ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk mendukung pemanfaatan yang
lestari, perlindungan dan rehabilitasi
Belum jelasnya tata ruang wilayah pesisir dan tata
guna mangrove yang mengakibatkan banyak terjadi
tumpang tindih kepentingan peruntukan lahan
dalam pemanfaatan hutan mangrove
Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mantap
dari perundang-undangan yang telah ada sebagai
dasar pengelolaan hutan mangrove secara lestari
Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan
mangrove.

Strategi Pengelolaan Ekositem


Mangrove
Perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan
hutan mangrove didasarkan pada tata ruang
kawasan pantai yang disusun berdasarkan
karakteristik, kesesuaian dan keperwakilan
keanekaragaman
genetik,
spesies
dan
ekosistemnya
Rehabilitasi hutan mangrove dilaksanakan
untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi
lindung, fungsi pelestarian dan fungsi produksi

Melakukan Penataan dalam kawasan yang terdiri dari ;


blok perlindungan, blok pemanfaatan (rekreasi) dan
blok pendukung (pemanfaatan tradisional) sehingga
masyrakat tidak melakukan eksplorasi secara
berlebihan.
Membuat kebijakan pengelolaan sumber daya wilayah
pesisir terpadu berbasis masyarakat (melibatakan
masyarakat sebagai pelaku dan pengawas kebijakan),
sehingga kebijakan pemerintah dapat terkontrol.
Meningkatkan informasi bagi masyarakat khususnya,
Karena rendahnya pengetahuan tentang ekosistem
menyebabkan kerusakan mangrove, seperti melalalui
sosialisasi