Anda di halaman 1dari 67

I.

PENDAHULUAN
Geometri barasal dari bahasa latin, yaitu geometria. Geo
berarti tanah dan metria berarti pengukuran. Euclides adalah salah
seorang tokoh geometri dari Alexanderia yang hidup sekitar 300
tahun sebelum Masehi.
Geometri didefinisikan juga sebagai cabang matematika yang
mempelajari tentang titik, garis, bidang dan benda-benda ruang
serta sifat-sifatnya, ukuran-ukurannya serta hubungan yang satu
sama lainnya. Jadi dapat dipandang sebagai studi tentang ruang
physik. Dalam bahasa Indonesia geometri diterjemahkan menjadi
ilmu ukur.
Kita telah pelajari bangun-bangun seperti segitiga, jajar
genjang, kubus, bola, kerucut dan sebagainya. Bangun-bangun
(benda-benda)

tersebut

mendefinisikan

sesuatu

perlu

didefinisikan,

diperlukan

dan

untuk

pengertian-pengertian

sebelumnya termasuk pengertian pangkal yang tidak didefinisikan.


Sedangkan untuk mendefinisikan sesuatu unsur perlu dihindari
terjadinya lingkaran definisi.
Agar definisi suatu unsur tidak tak terbatas, maka perlu
adanya pengertian-pengertian pangkal atau unsur-unsur yang tidak
lagi didefinisikan.

Hubungan tersebut dapat dilihat pada bagan berikut:

UNSUR
PANGKAL

DEFINISI

AKSIOMA

TEOREMA
(DALIL)

Geometri yang kita pelajari selama ini, utamanya di


sekolah- sekolah (sekolah menengah dan sekolah dasar) adalah
geometri Euclides.

II. SEGITIGA
a. Definisi:
Segitiga adalah gabungan tiga ruas garis yang dibentuk oleh
tiga titik yang tidak segaris yang sepasang-sepasang saling
dihubungkan. Segitiga merupakan bentuk dasar bangun-bangun

geometri. Jika ketiga titik tersebut adalah A, B, dan C, maka segitiga


yang terbentuk disebut segitiga ABC dan ditulis ABC, dan sisi
dihadapan titik sudut diberi nama huruf kecil yang sesuai dengan
nama sudutnya.
A
b

B
Pada ABC, AB , BC , dan

CA

C
disebut sisi-sisi ABC, dan

BAC, ABC, ACB (A, B, dan C) disebut sudut-sudut


ABC dengan titik-titik sudutnya adalah titik A, B, dan C.
Jika dilitinjau berdasarkan sisi-sisi segitiga, maka suatu
segitiga dapat dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:
1. Segitiga sama sisi.
2. Segitiga sama kaki, dan
3. Segitiga sebarang.
Sedang jika dipandang berdasarkan besar sudut-sudutnya,
maka segitiga dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Segitiga lancip.
2. Segitiga tumpul, dan
3. Segitiga siku-siku.
(Masing-masing jenis segitiga tersebut perlu di definisikan).

Ada beberapa cara membentuk suatu segitiga, yaitu:


1. Diketahui ketiga sisi (s s s)
Diketahui AB = c, AC = b, dan BC = a
C
b

2. Diketahui dua sisi dan satu sudut yang diapit (S. Sd. S.).
Diketahui AB = c, AC = b dan A =
C
b

3. Diketahui satu sisi dan dua sudut yang mengapit (Sd. S. Sd.).
Diketahui A = , AB = c, dan B =

4. Diketahui dua sisi dan satu sudut (s s sd).


Jika sisi AC = b, BC = a, dan A = , maka ada dua segitiga
yang terbentuk atau tidak ada segitiga yang terbentuk,
tergantung dari panjang a, b dan besar .
C
b

Jika ketiga ruas garis AB = c, AC = b, dan BC = a diketahui,


dengan c = a + b, maka titik A, B dan C akan terletak pada satu
garis, sehingga tidak terbentuk suatu segitiga.

Segitiga akan

terbentuk kalau
a+b

c.

Jumlah dua sisi dari suatu segitiga lebih panjang dari sisi
yang lain.
Jumlah sudut-sudut suatu segitiga sama dengan 180o.
Untuk membuktikan sifat diatas, apat digunakan salah satu
dari sudut-sudut yang besarnya selalu sama, yaitu aksioma sudut
dalam berseberangan, sudut luar berseberangan, sudut sehadap,
dan sudut bertolak belakang berikut ini:

A
1 2
4 3

B
1 2
4 3

Sudut-sudut yang besarnya selalu sama:


A3 = B1 (sudut dalam berseberangan)
A2 = B4 (sudut luar bersebesarangan)
A2 = B2 (sudut sehadap)
A2 = A4 (sudut bertolak belakang)
Untuk membuktikan bahwa jumlah sudut-sudut suatu segitiga
sama dengan 180o, perhatikan gambar berikut:
Buat garis melalui titik C dan sejajar garis AB. Berdasarkan aksioma
sudut dalam berseberangan, maka: B = C1 dan A = C3 .
C
1

B
Karena C1 , C2 , dan C3 membentuk garis lurus,
maka jumlahnya sudut-sudutnya sama dengan 180o ( C1 + C2
+ C3 = 180o. Jadi A + B + C = 180o.
Besar sudut luar segitiga sama dengan jumlah dua sudut

dalam lainnya.
Dalam suatu segitiga, sisi yang terpendek berhadapan dengan
sudut yang lebih kecil.
Kongruen
Definisi: Dua segitiga disebut kongruen (sama dan sebangun) jika
dua segitiga tersebut mempunyai tiga pasang sisi yang
sama panjang dan pasangan sudut yang bersesuaian
sama besar.
Jadi ABC dan ABC saling kongruen ( ABC ABC)
apabila AB = AB, AC = AC, BC = BC, BAC = BAC, ABC =
ABC, dan ACB = ACB.
Aksioma: Jika pada ABC dan ABC, AB = AB, AC = AC, dan
A = A maka B = B.
Teorema (1): Jika pada ABC dan ABC, AB = AB, AC = AC,
dan A = A, maka ABC ABC (s. sd. s.).
Bukti: Diketahui ABC dan ABC, dengan AB=AB, AC=AC, dan
A=A.
Akan dibuktikan bahwa ABC ABC.
Menurut aksioma, jika AB=AB, AC=AC, dan A=A maka
B=B, dan akibatnya maka C = C.
Harus dibuktikan bahwa BC = BC.

C
C

A
B

Andaikan terdapat titik C pada

garis BC sedemikian

sehingga BC = BC, maka harus ditunjukkan bahwa titik C


dan C berimpit. Perhatikan ABC dan ABC, bahwa AB
= AB, BC = BC, dan ABC = ABC, sehingga menurut
aksioma diperoleh bahwa BAC = BAC. Padahal BAC
= BAC.
Berarti

A' C '

berimpit dengan

A'C" , dan ini berarti bahwa C

dan C berimpit (C = C). Jadi BC = BC.


Kesimpulan : ABC ABC.
Teorema (2): Jika pada ABC dan ABC, AB=AB,
ABC=ABC, dan BAC=BAC, maka ABC
ABC (sd. s. sd.).
Bukti:
Diketahui ABC dan ABC, dengan AB = AB, ABC = ABC,
dan BAC = BAC.

Akan dibuktikan ABC ABC.

C
C

A
B

Andaikan AC AC, maka akan terdapat titik C pada

A' C '

Dengan demikian BAC =

sedemikian sehinga AC = AC.


BAC.

Menurut teorema (1), maka ABC ABC (s. sd. s.).


Menurut definisi, ABC = ABC.
Padahal ABC = ABC. Ini berarti bahwa haruslah ABC =

ABC (sifat transitif), sehingga

yang berarti C terletak pada

B' C ' ,

Padahal titik C juga terletak pada


Sedangkan menurut teorema

B' C '

sama dengan

maka

B' C '

B'C" ,
B'C" .

B' C ' .

A' C '

dan

B' C '

akan berpotongan

paling banyak di satu titik saja, jadi C dan C adalah dua titik yang
sama.

Sehingga menurut teorema (1), didapat ABC ABC.


Karena ABC ABC dan ABC ABC, maka dapat
disimpulkan bahwa ABC ABC (sifat transitif).
Berdasarkan uraian seperti diatas, bahwa dalil-dalil dua
segitiga kongruen adalah sebagai berikut :
1. s. sd. s.
2. sd. s. sd.
3. s. s. s.
4. s. sd. sd.
5. s. s. sd.

b. Kesebangunan
Definisi: Dua segitiga dikatakan sebangun jika sudut-sudut yang
bersesuaian saling kongruen (sama besar) dan dan sisisisi yang bersesuian sebanding.
Jadi ABC sebangun dengan ABC ( ABC
ABC) jika dan hanya jika (A = A, B = B, C =
C), dan

AB
BC
AC

k
A' B '
B' C '
A' C '

Teorema: Jika dua segitiga kongruen, maka kedua segitiga itu


sebangun. (Buktikan)

10

Teorema: Jika sisi-sisi yang bersesuaian pada dua segitiga


sebanding, maka kedua segitiga itu sebangun.
Diketahui: dua segitiga yaitu ABC dan DEF dengan
AB AC BC

k
DE DF EF

Buktikan: ABC DEF

Bukti:

C
F
A

C
E A

B
Andaikan ABC ABC, dengan

AB
BC
AC

k,
A' B '
B' C '
A' C '

maka AB = DE, AC = DF dan BC = EF.


Menurut definisi berarti ABC DEF (s. s. s.)
Karena ABC ABC dan ABC DEF, maka dapat
disimpulkan bahwa ABC DEF.
Dua segitiga akan sebangun jika memenuhi syarat kesebangunan
berikut ini:
1. Tiga sisi diketahui.

11

Dua segitiga sebangun jika tiga pasangan sisi (dari masingmasing segitiga) sebanding (s s s).
2. Dua sisi dan sudut apit diketahui.
Dua segitiga sebangun jika diketahui dua pasang sisi (dari
masing-masing sisi segitiga) sebanding dan masing-masing satu
sudut yang diapitnya sama besar (s sd s).
3. Tiga sudut diketahui.
Dua segitiga sebangun jika diketahui tiga pasang sudut sama
besar (sd sd sd). Dalam hal ini bila dua sudut masing-masing
sama besar, maka sudut yang ketiga juga akan sama.
(Contoh-contoh soal diberikan dalam kelas).

III. DALIL PROYEKSI PADA SEGITIGA


a. Proyeksi
- Proyeksi suatu titik pada garis adalah titik alas garis tegak
lurus yang dapat diturunkan dari titik itu ke garis tersebut.
A
A = titik yang diproyeksikan
A1
g

A1 = proyeksi titik A ke garis g


AA1 = garis yang memproyeksikan

12

- Proyeksi segmen garis pada suatu garis ialah sepotong garis


yang terletak diantara proyeksi kedua ujung-ujungnya.
Q
B

A
R
A

R
- Teorema:
Pada sebuah ABC siku-siku, C = 90o, AB = c, BC = a, CA = b,
jika CD AB, BD = p, AD = q, dan CD = t, maka:
1. a2 = pc
2. b2 = qc
3. a2 + b2 = c2 (dalil pythagoras)
4. t2 = pq, dan
5. ab = tc
B
x

p
c
a

D
q
0

t
x

13

A
b

Bukti:
Perhatikan ABC dan BCD, B = B, D1 = C = 90o,
berarti ABC BCD (sd. sd.)
Maka p : a = a : c atau

a2 = pc

. . . . . . . (1)

Selanjutnya perhatikan ABC dan ACD, D = C = 90o,


A = A, berarti ABC ACD (sd. sd.)
Sehingga q : b = b : c atau

b2 = qc . . . . . . (2)

Dari (1) dan (2) diperoleh:


a2 = pc
b2 = qc +
a2 + b2 = pc + qc = c(p+q) = c.c
a2 + b2 = c2 . . . . . . (3)
Perhatikan ACD dan CDB, A = C, D = D, maka ACD
CDB (sd. sd.).
Akibatnya q : t = t : p atau t2 = pq . . . . . . (4)
Dengan cara yang sama diperoleh juga bahwa ACD ABC.
Akibatnya b : c = t : a atau ab = ct . . . . . . (5)
b. Dalil proyeksi
- Untuk segitiga lancip

14

Jika pada ABC, diketahui C lancip, dan p = proyeksi b


pada c, maka berlaku bahwa :
a2 = b2 + c2 - 2cp.
C
b

a
t

c-p

B
c

Diketahui: ABC, AB = c, BC = a, AC = b, CD AB, CD = t,


AD = p, p adalah proyeksi b pada c.
Buktikan: a2 = b2 + c2 - 2cp.
Bukti:
Karena D = 90o, maka t2 = b2 p2 dan t2 = a2 (c-p)2.
Dari kedua persamaan tersebut diperoleh b2 p2 = a2 (c-p)2
atau a2 = b2 + c2 - 2cp.
Contoh:
1. Pada ABC, panjang AB = 25 cm, dan panjang AC = 17 cm.
Jika panjang proyeksi AC pada sisi BC sama dengan 8 cm,
hitunglah:
a. Panjang proyeksi BC pada AB.

15

b. Panjang sisi BC.


c. Luas segitiga ABC.
Penyelesaian:
C
D

a. AD2 = AC2 CD2


= 289 -64
= 225, AD = 15 cm
Proyeksi AB pada sisi BC adalah BD.
Pada ABD berlaku bahwa:
BD2 = AB2 AD2
= 625 -225 = 400, BD = 20 cm
b. Panjang sisi-sisi BC = BD + DC = 20 + 8 = 28 cm.
c. Luas ABC = BC x AD
= 28 x 15 = 210 cm2
2. Pada ABC diketahui panjang AB = 14 cm, BC = 13 cm, dan
AC = 15 cm. Jika BD adalah proyeksi BC pada AB, hitunglah
panjang BD.
Penyelesaian:
C

16

b=15

a=13

c=14

b2 = a2 + c2 -2DB.c
152 = 132 + 142 2.DB.14
28 DB = 169 + 196 225
= 140
Jadi DB = 5 cm
- Untuk segitiga tumpul
Jika pada ABC, diketahui A tumpul, dan p = proyeksi b
pada c, maka berlaku bahwa : a2 = b2 + c2 + 2cp.
C
t
D

a
p

B
A

Diketahui: ABC dengan A tumpul, p = proyeksi b pada c.


Buktikan: a2 = b2 + c2 + 2cp.
Bukti:

17

CD AB, sehingga t2 = b2 p2 dan t2 = a2 (p+c)2


Sehingga b2 p2 = a2 (p+c)2 atau
a2 = b2 + c2 + 2cp
Contoh:
Pada ABC diketahui bahwa AB = 7 cm, BC = 20 cm, dan
AC = 15 cm.
a. Hitung panjang proyeksi AC pada sisi AB.
b. Hitung panjang CD, kemudian hitung pula luas ABC.

c. Tanpa menghitung AD terlebih dahulu, hitung panjang BD.

Penyelesaian:
C

b=15
a=20

c=7

a. AD adalah proyeksi AC pada AB.


a2 = b2 + c2 + 2c.AD
202 = 152 + 72 + 2.7.AD
400 = 225 + 49 + 14 AD
14 AD = 126

18

AD = 9 cm
b. Pada ABD, CD2 = AC2 - AD2
CD2 = 152 92
= 225 -81 = 144
CD = 12 cm.
c. BD adalah proyeksi BC pada BA atau AB (B lancip)
b2 = a2 + c2 2 BD.c
152 = 202 + 72 2 BD.7
14 BD = 400 + 49 -225 = 224
BD = 16 cm.

c. Dalil Steward
Pada ABC, jika AE = c1, CE = l, EB = c2, dan l c = E,
l2 c = a2 c1 + b2 c2 c1c2c.

maka:
Bukti:

Pada ACE lancip, b2 = l2 + c12 2c1p


Pada BCE tumpul, a2 = l2 + c22 + 2c2p
C
b

a
t

l
1

c1
c2
Dari sistem persamaan diatas, eliminir p,

19

diperoleh:
b2 c2 = l2 c2+ c12 c2 2c1c2 p
a2 c1 = l2 c1+ c1 c22 + 2c1c2p
a2 c1 + b2 c2 = l2 c1+ l2 c2+ c12 c2+ c1 c22
= l2 (c1+c2) + c1 c2 (c1+c2)
= l2 c + c1c2c.
Jadi l2 c = a2 c1 + b2 c2 c1c2c.
Contoh:
Pada ABC diketahui panjan AB = 16 cm, BC = 12 cm, dan
AC = 20 cm. Jika titik D terletak pada AB sedemikian
sehingga AD = 7 cm.
a. Buatlah sketsa gambarnya.
b. Hitung panjang CD.
Penyelesaian:
a.
C

b=20

a=12

b. Misal CD = l, maka:

20

l2 c = a2 c1 + b2 c2 c1c2c
l2.16 = 122 . 7 + 202.9 7.9.16
16 l2 = 144.7 + 400.9 - 1008
= 1008 + 3600 - 1008 = 3600
l2 = 225
l = 15
Jadi CD = 15 cm.
IV. DALIL GARIS TINGGI, GARIS BAGI & GARIS BERAT
A. Garis Tinggi
a. Sumbu

adalah tempat kedudukan titik-titik yang

AB

jaraknya dari

titik A dan B sama.

C
l = sumbu

AB

ACD BCD (s. sd. s.)


A

B maka AC = BC

l
b. Sumbu sisi-sisi suatu ABC melalui satu titik dan titik
tersebut adalah titik pusat lingkaran luar ABC.
C

n = sumbu

AB

AM = BM

l = sumbu

BC

BM = CM

Karena AM = BM dan BM = CM,


M

maka AM = CM. Dengan demikian

21

B m adalah sumbu

AC

dan melalui

M
c. Garis-garis tinggi suatu segitiga melalui sebuah titik.
Diketahui ABC, AD, BE, & CF adalah garis-garis tinggi
pada ABC.
Buktikan bahwa: AD BE CF = H
B1

A1
D

E
A

H
F

C1

Bukti:
Buat

A1B1C1

sedemikian

sehingga

A1CB1//AB,

B1CA1//BC, dan A1BC1//BC. Dari jajar genjang dapat


ditunjukkan bahwa A1C = CB1, A1B = BC1, dan B1A = AC1.

22

Berarti AD, BE, CF merupakan sumbu-sumbu sisi-sisi


A1B1C1. Dengan demikian AD, BE, dan DF melalui
sebuah titik.
d. Dalil Garis Tinggi
Diketahui ABC, keliling = a + b +c, s = 1/2(a + b + c),
tc adalah garis tinggi dari titik c, maka:
1. tc = 2/c

s ( s a )( s b)( s c )

2. Luas ABC =

s ( s a )( s b)( s c)

Bukti:
C
b

tc

(c-p)

c
Bukti:
Berdasarkan dalil proyeksi diperoleh:
a2 = b2 + c2 - 2cp p =

b2 c2 a2
2c

Substitusi nilai p pada tc2 = b2 p2


Diperoleh tc =

2
c

s ( s a )( s b)( s c)

Luas ABC = 1/2 c. tc

23

= 1/2 c.

2
c

s ( s a )( s b)( s c)

s ( s a )( s b)( s c )

Jadi luas ABC =

s ( s a )( s b)( s c )

Contoh:
Pada ABC diketahui bahwa AB = 25 cm, BC = 17 cm, dan
AC = 26 cm. Bila CD adalah garis tinggi dari titik C, hitung t a
dan Luas ABC tersebut.
Penyelesaian:
Diketahui a = 17, b = 26, dan c = 25.
s = (a+b+c) = .(17+26+25) = 34
a

s ( s a )( s b)( s c )

17

34(34 17)(34 26)(34 25)

ta =

34.17.8.9

17

17

. 46.618

17

.204 =24.

Jadi ta = 24 cm.
Luas ABC = axta = .17.24 = 204 cm2.
Atau luas ABC =
=

s ( s a )( s b)( s c )

34.17.8.9

41.616

= 204 cm2.
B. Garis Bagi

24

a. Garis bagi adalah garis yang membagi sebuah sudut menjadi


dua bagian yang sama besar.
C
S

D
P

Garis BD membagi ABC menjadi dua bahagian yang


sama besar , ABD = CBD.
Garis bagi adalah tempat kedudukan titik-titik yang
jaraknya sama terhadap kaki-kaki sudut itu.
Karena PBS PBR (s. sd. sd.), maka PS = PR.
b. Ketiga garis bagi sudut-sudut sebuah segitiga berpotongan pada
sebuah titik, dan titik tersebut merupakan pusat lingkaran dalam
segitiga tersebut.
Diketahui ABC, AD, BE, dan CF garis- garis bagi ABC
Buktikan:

AD BE CF

=I

C
1 2

H
E

G
D
I

25

K F

Bukti: Buat I =
Buat pula

AD BE

IK AB , IH AC ,

dan

IG BC

Karena AKI AHI (s. sd. sd.), maka IK = IH.


Karena BKI BGI (s. sd. sd.), maka IK = IG.
Berarti IH = IG. Dengan demikian maka CGI CHI (s. sd.
sd.)
Akibatnya C1 = C2, dan karena C1 = C2 maka

CF

merupakan garis bagi C yang melalui titik I.


Jadi

AD BE CF

= I.

c. Garis bagi sudut sebuah segitiga membagi sisi depannya


berbanding sebagai sisi-sisi yang berdekatan.
Diketahui ABC, dan

= garis bagi C (lihat gambar).

CD

Buktikan: c1 : c2 = b : a
Bukti: Buat garis AE // CD
Karena AC = CE maka ACE samakaki.
E
o

b
C
o

a
dc

26

c1

c2

c
Dengan menggunakan bentuk kesebangunan segitiga ,
maka:
c1 : c2 = b : a.
Untuk

c1 : (c1+c2) = b : (b+a) atau c1 : c = b : (b+a),

diperoleh
c1 =

bc
ab

Demikian pula untuk (c1+c2) : c2 = (a+b) : a atau c : c 2 =


(a+b) : a , maka diperoleh c2 =

ac
ab

Perhatikan gambar, dengan menggunakan dalil Steward


akan diperoleh

dc2c = a2c1 + b2c2 - c1c2c.

Kemudian

substitusikan nilai c1 dan c2 , aakan diperoleh


dc2 = ab - c1c2 atau
dc2 = ab -

abc 2
( a b) 2

Contoh:
Pada ABC diketahui bahwa AB = 28 cm, BC = 18 cm, dan
AC = 24 cm. Jika CD merupakan garis bagi sudut C, maka
hitunglah panjang AD, DB dan CD.
Penyelesaian:
C
o o

27

24

18

28

Perbandingan a : b = 18 : 24 = 3 : 4
Jumlah perbandingan = 7
Jadi panjang AD =

. 28 = 16 cm,

dan panjang BD =

.28 = 9 cm.

AD2 = dc2 = ab - c1c2


= 18.24 16.9
= 432 144 = 288
Jadi AD = 288 = 122 cm.
C. Garis Berat
a. Garis berat suatu segitiga adalah garis yang melalui titik

sudut segitiga dan membagi sisi depannya menjadi dua


bagian yang sama panjang.
C

F
Z

28

AD

= garis berat dari titik A,

BE

= garis berat dari titik B

b. Garis-garis berat suatu segitiga saling berpotongan


menjadi dua bahagian dengan perbandingan 1 : 2.

Diketahui ABC,

AD

berat dari titik B, Z =

garis berat dari titik A dan

BE

garis

AD BE .

Buktikan: EZ : ZB = DZ : ZA = 1 : 2
Bukti:
Hubungkan titik E dan D.
Karena

Z1 = Z2 ,

E2 = B2,

dan

D2 = A1,

maka EZD AZB (sd. sd.).


Akibatnya: EZ : ZB = DZ : ZA = ED : AB = 1 : 2.
Jadi EZ : ZB = DZ : ZA = 1 : 2
c. Garis-garis berat suatu segitiga berpotongan di satu titik.
Diketahui ABC
berat. Buktikan

AD , BE ,

AD BE CF

dan

CF

adalah garis-garis

=Z

29

D
z2
z1 z3

B
F

Diketahui ABC
berat.

AD ,

Buktikan

Bukti: Andaikan

AD

BE ,

dan

AD BE CF

dan

BE

CF

adalah garis-garis

=Z

berpotongan di titik Z1

Andaikan pula bahwa Z2 adalah titik potong


CF

AD

dan

Diperoleh DZ2 : Z2A = 2 : 1.


Sedangkan DZ1 : Z1A = 2 : 1, maka haruslah Z1 = Z2
(berimpit).
Dengan demikian Z1 = Z2 = Z3 = Z.
Jadi garis-garis berat segitiga berpotongan di satu titik.
d. Rumus garis berat
Jika pada ABC dibuat garis berat CD, maka berlaku:
CD2 = AC2 + BC2 AB2
Bukti:
C

30

B
E

Perhatikan DBC dan ADC:


Pada DBC, BC2 = CD2 + DB2 + 2 ED. DB
Pada ADC, AC2 = CD2 + AD2 2 ED. AD

BC2 + AC2 = 2CD2 + 2AD2


2CD2 = BC2 + AC2 -2AD2
= BC2 + AC2 2( AB)2
= BC2 + AC2 AB2
CD2 = BC2 + AC 2 - AB 2
Contoh:
Pada ABC diketahui bahwa panjang AB = 5 cm, BC = 3 cm,
dan AC = 4 cm. Hitung panjang Garis berat CD.
Penyelesaian:
CD2 = BC2 + AC2 - AB2
= .32 + .42 - .52
=4+8-
= 6
CD = 2 cm.

31

Soal-soal
1.

Pada ABC , C = 90o, CDAB, jika BC = a, AC = b, BD = p,


AD = q, dan CD = t. Hitunglah bahagian bahagian lainnya
pada ABC tersebut jika diketahui :
a. a = 8, b = 6
b. a = 5, c = 7
c. a = 7, p = 5
d. c = 15, p = 12
e. p = 20, q = 25
f. q = 13, t = 15
g. a = 25, t = 18
h. c = 19, t = 7

2.

Pada ABC, diketahui AB = 15, AC = 10, A = 60o. Hitunglah


panjang garis tinggi CD, dan sisi BC.

3.

Pada ABC, diketahui C = 90o, CDAB, CD = 15 dan AB =


35. Hitunglah panjang AC, BC, dan luas ABC.

4.

Pada ABC, C = 90o. Buktikan

1
tc

1
1
2
2
a b

(tc = garis

tinggi dari titik C)


5.

Pada ABC, AB = 26, BC = 30, dan AC = 35. Hitunglah


panjang proyeksi BC ke AB, juga proyeksi BC ke AC.

6.

Pada ABC, AB = 10, BC = 13, dan AC = 17, pada


perpanjangan AB terletak titik P sehingga AP : PB = 7 : 5.
Hitunglah CP.

7.

Pada ABC sama kaki dengan puncak C, titik D pada


(sebarang). Buktikan bahwa CD2 = AC2- AD x DB.

AB

32

8.

Pada ABC, A B. Titik M dan N terletak pada AB


sedemikian sehingga AM = MN = NB. Buktikan bahwa CN2
CM2 = 1/3 (BC2 - AC2).

9.

ABC siku-siku di C. D AB sedemikian sehingga AD : DB


= 1 : 2. Buktikan bahwa 9CD2 = a2 + 2b2.

10. Pada ABC, AB = 15, CB = 18, dan CA = 12. Buat garis bagi
CD, selanjutnya ambil titik E BC sedemikian sehingga EB
= EC. Hitung DE.
11.

Pada ABC, AB = 17, BC = 25, dan AC = 28. Buat garis bagi


BE. Hitung luas AEB dan EBC.

12. Pada ABC dibuat garis-garis tinggi AD dan BE dan garis


bagi CE. Garis AD CF = P, BE CF = Q, dan AD BE =T.
Buktikan bahwa TPQ samakaki.
13. Pada ABC, AB = 12, BC = 6, dan CA = 9. Hitunglah ta, za,
dan da.
14. Pada ABC diketahui a + b = 2c. Buktikan bahwa dc2 = 3/4 ab.
15. Pada ABC BD dan AE masing-masing garis berat dari titik
B
dan A. Buktikan bahwa DE // AB .
16. Pada ABC, BD dan AE masing-masing garis berat dari titik
B dan A, dan kedua garis berat tersebut berpotongan di tiik Z.
Buktikan :
a. DE = 1/2 AB
b. AZ : ZE = 2 : 1 dan BZ : ZD = 2 : 1.
17. Pada ABC, AB = c dan garis tinggi CD = tc. Ada bujur
sangkar PQRS yang titik sudut P dan Q terletak pada AB, R

33

pada BC dan S pada AC. Jika x panjang sisi bujur sangkar


itu, nyatakanlah x dengan c dan tc.
18. Pada ABC, garis bagi AD dan garis bagi BE berpotongan di
X. Nyatakanlah perbandingan AX : XD dengan panjang sisisisi a, b, dan c dari ABC.

V. LINGKARAN
5.1.Definisi
Lingkaran adalah himpunan titik-titik pada bidang datar
yang berjarak sama terhadap suatu titik tertentu.
C
F
E

D
B

A
MM

34

Titik tertentu ini disebut pusat lingkaran dan jarak tertentu disebut
radius atau jari-jari lingkaran ( r).
Jadi sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada
lingkaran dengan titik pusat disebut jari-jari.
Garis penghubung dua buah titik pada lingkaran disebut
talibusur, sedangkan talibusur yang melalui titik pusat lingkaran
dinamakan garis tengah atau diameter. Panjang garis tengah
sama dengan dua kali panjang jari-jarinya.
Garis yang menghubungkan titik pusat suatu lingkaran dan
tegak lurus pada sebuah talibusur dinamakan apotema talibusur
itu. Jadi apotema adalah jarak antara titik pusat dengan talibusur.
Perpanjangan apotema yang terletak antara talibusur dengan
busur dinamakan anak panah.
Sedangkan bahagian dari lingkaran yang terletak diantara ujung
talibusur dinamakan busur ( ).
Juring atau sektor dari lingkaran adalah daerah lingkaran yang
dibatasi oleh dua jari-jari dan sebuah busur.
Tembereng lingkaran adalah daerah yang dibatasi oleh tali busur
dan busur.
Dalil-dalil:
a. Setiap talibusur yang tidak melelui titik pusat
panjangnya lebih kecil dari garis tengah. (Buktikan)

35

b. Setiap apotema membagi talibusur tegak lurus


dipertengahan. (Buktikan)
c. Talibusur-talibusur yang sama panjang pada sebuah
lingkaran mempunyai apotema-apotema yang sama
panjang. (Buktikan)
d. Jika dua buah tali busur dalam sebuah lingkaran
mempunyai apotema-apotema yang sama panjang,
maka talibusur-talibusur itu sama panjang pula.
(Buktikan)
5.2. Sudut dan Busur
Definisi:
a. Sudut pusat adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah jarijari lingkaran.
b. Sudut keliling adalah sudut yang dibentuk oleh dua buah tali
busur yang berpotongan pada keliling lingkaran.
A

B
C
c. Sudut pusat sama dengan busurnya. (Buktikan)
d. Sudut keliling sama dengan setengah busurnya. (Buktikan)

36

e. Sudut yang dibentuk oleh sebuah garis singgung dan sebuah

talibusur yang melalui titik persinggungan sama dengan


setengah busur yang terletak di antara garis singgung dan
talibusur tersebut. (Buktikan)
f. Busur-busur lingkaran yang terletak di antara dua buah

talibusur yang sejajar sama panjang. (Buktikan)


g. Jika dua buah talibusur berpotongan didalam lingkaran, maka

sudut yang dibentuknya sama dengan setengah jumlah


busur-busur yang terletak diantara kaki-kaki sudut itu.
(Buktikan)
h. Jika dua buah talibusur berpotongan di luar lingkaran, maka

sudut yang dibentuknya sama dengan setengah selisih


busur-busur yang terletak diantara kaki-kaki sudut itu.
(Buktikan)
5.3. Perbandingan Garis-garis dalam Lingkaran
a. Garis tegaklurus dari sebuah titik pada lingkaran ke garis
tengahnya merupakan pembanding tengah antara bahagianbahagian garis tengah itu.
C

37

ACD BCD (sd. sd.), maka:


AD : CD = CD : BD atau CD2 = AD x BD
b. Jika dari sebuah titik pada lingkaran ditarik sebuah talibusur
dan sebuah garis tengah, maka talibusur merupakan
pembanding tengah antara garis tengah dan proyeksinya.

B
M

ABC ACD (sd. sd.), maka:


AB : AC = AC : AD atau AC2 = AD x AB
c. Jika dua buah talibusur berpotongan di dalam lingkaran,
maka perkalian kedua bagian pada talibusur yang pertama
sama dengan perkalian bagian-bagian pada bagian talibusur
yang kedua.
B

38

Karena S1 = S2, A = D, dan C = B


Maka

ABC ACD

(sd. sd.sd), sehingga ASxSB =

CSxSD
d. Jika dari sebuah titik di luar lingkaran ditarik dua garis potong
terhadap lingkaran maka perkalian bagian-bagian pada garis
potong yang pertama sama dengan perkalian bagian-bagian
pada garis potong yang kedua.
B

A
P
C
M

Karena ABC ACD (sd. sd.), maka: PA x PB = PC x PD


e. Jika dari sebuah titik di luar sebuah lingkaran ditarik sebuah
garis singgung dan garis potong terhadap lingkaran, maka
garis singgung tresebut merupakan pembanding tengah
antara bagian-bagian garis potong.
C

39

B
P

Karena PAC PBA (sd. sd.), maka: PA2 = PB x PC

5.4. Segiempat dan Lingkaran


a. Segiempat Talibusur
Segiempat talibusur ialah sebuah segiempat yang ke empat
titik sudutnya terletak pada lingkaran.
D
C
B
A

b. Pada segiempat talibusur dua buah sudut yang berhadapan


jumlahnya 180o.
Bukti:
A = 1/2 BCD
C = 1/2 DAB +
A + C = 1/2 Keliling lingkaran = 180o
c. Dalil Ptolemeus

40

Pada segiempat talibusur perkalian diagonal-diagonalnya


sama dengan jumlah perkalian sisi-sisi yang berhadapan.
Bukti: Diketahui ABCD segiempat talibusur.
Buktikan: AC x BD = AB x CD + BC x AD
D

A
E

Bukti: Buat CDE = ADB


Diperoleh CDE DAB (sd. sd.)
Maka EC : AB = DC : DB atau EC x DB = AB x CD . . . . . .(1)
Selanjutnya ADE BDC (sd. sd.)
Maka AE : BC = AD : BD atau AE x BD = BC x AD . . . . . .(2)
Dari (1) dan (2) diperoleh: AC x BD = AB x CD + BC x AD
Soal-soal
1. Gambar dua buah lingkaran yang sepusat. Tarik
sebuah garis yang memotong lingkaran besar di titik A
dan D, dan memotong lingkaran kecil di titik B dan C.
Buktikan bahwa AB = CD.

41

2. Gambar sebuah lingkaran dengan pusat M dan


talibusur AB. Dengan pusat M jangkakan pada garis
AB dua potong garis AC dan BD yang sama panjang.
Buktikan bahwa MC = MD.
3. Gambar lingkaran dengan pusat M dan talibusur AB.
Perpanjang AB dengan BC, BA dengan AD sedemikian
sehingga BC = AD. Buktikan bahwa MC = MD.
4. Dua buah talibusur berpotongan dalam lingkaran
sedemikian sehingga bagian-bagian pada talibusur
yang pertama 12 cm dan 15 cm, sedangkan satu
bagian pada talibusur yang kedua 10 cm. Hitung
panjang bagian talibusur yang lainnya.
5. Pada garis tengah AB sebuah lingkaran, dibuat garis
tinggi di titik C yang memotong lingkaran di titik D. CD =
5cm dan AC = 12 cm. Hitunglah panjang garis tengah
AB.
6. Dari titik P diluar lingkaran M ditarik sebuah garis
singgung PA = 6 cm. Garis melalui P memotong
lingkaran tersebut di titik B dan C sedemikian sehingga
talibusur BC = 16 cm. Hitung panjang PB.
7. Dari titik P diluar lingkaran M ditarik dua buah garis
potng PAB dan PCD. PA = 3cm, AB = 29 cm. PC : CD
= 1 : 5. Hitunglah panjang PC dan PD.
8. Sisi-sisi sebuah segiempat talibusur ialah 52, 25, 39
dan 60.
Hitunglah panjang diagonal-diagonal
segiempat talibusur tersebut.
9. Periksa apakah segiempat berikut yang merupakan
segiempat talibusur atau bukan
a. Jajar genjang.

42

b.
c.
d.
e.

Belah ketupat.
Persegi panjang.
Trapisium.
Persegi.

10. Segitiga ABC besar sudut puncaknya sama dengan


60o. Garis-garis bagi sudut alas berpotongan di titik I
dan memotong sisi-sisi tegak di titik D dan E. Buktikan
bahwa CDIE sebuah segiempat talibusur.
11. Talibusur AB dan CD dalam sebuah lingkaran yang
sama berpotongan di titik P. Jika PA = a cm, PB =
b cm dan PC = c cm. Hitung panjang PD.
12. Dalam sebuah lingkaran dibuat dua buah tali busur
yang tidak sama panjang. Buktikan bahwa talibusur
yang terkecil mempunyai apotema yang lebih besar.
13. Pada sebuah lingkaran buat tali busur AB. Hubungkan
titik A dengan C yaitu pertengahan busur kecil AB.
Kemudian buat sembarang talibusur CD yang
memotong AB di titik E. Buktikan bahwa AC CExCD .
14. Buktikan bahwa garis-garis bagi sudut-sudut
sembarang
segiempat
membentuk
sebuah
segiempat talibusur.
15. Dari titik P di luar lingkaran M ditarik sebuah garis
singgung PC dan sebuah garis PAB yang melalui
titik M. Jika panjang PA (jarak antara titik P dan
lingkaran) sama dengan jari-jari lingkaran (r),
Buktikan bahwa PCB dan PAC sama kaki.
16. Pada ABC, digambar lingkaran luarnya. Di titiktitik A, B dan C dibuat garis-garis singgung pada
lingkaran tersebut yang membentuk PQR. Jika

43

A = 50 o dan B = 60 o. Hitunglah besar sudutsudut PQR.


17. Dalam lingkaran M, dua buah talibusur AB dan CD
yang sama panjang berpotongan dititik S. Buktikan
bahwa AC = BD, AS = DS dan CS = BS.
18. Dalam sebuah lingkaran M dibuat segitiga ABC dan
B dibagi dua sama besar. Garis ini memotong
lingkaran di D. Dari D ditarik garis tengah DE.
Buktikan bahwa AD = DC dan BE membagi dua
sudut luar B sama besar.
19. Dari titik P diluar lingkaran M ditarisk sebuah garis
singgung PA dan sebuah garis potong PBC.
Buktikan bahwa P = ABC - ACB.
20. P pertengahan AB dalam lingkaran M,
dihubungkan dengan Q pertengahan BC. PQ
memotong AB di E dan BC di F. Buktikan bahwa BE
= BF.

44

Tugas I
Nama
: ......................................
No.Urut/Stb:.......................................
1. Diketahui ABC . Pada sisi AB, BC dan CD masing-masing
dibuat segitiga sama sisi ABD, BCE, dan CDF. Buktikan
bahwa CD = AE = BF.
Jawab:

2. Diketahui Persegi ABCD. Titik X terletak pada AB dan Y terletak


di BC sedemikian sehingga panjang DX=AY. Buktikan Bahwa
AX DY.

45

Jawab:
3. Diketahui ABC, dengan AB = 8 cm, BC = 7 cm dan CA = 6 cm.
Titik D terletak pada perpanjangan AC sehingga CD = 12 cm.
Hitung panjang BD.
Jawab:

4. Diketahui ABC, dengan a = 17 cm, b = 39 cm dan panjang


garis berat dari titik C adalah zc = 22 cm. Hitunglah luas ABC.
Jawab:

46

VI. MELUKIS GARIS-GARIS


a. Membagi suatu garis atas beberapa bahagian yang sama.
Diketahui: garis a dengan panjang
a
Lukislah : garis a dibagi menjadi 3 bahagian yang sama.
Lukisan:
A

C
D
l
E
Langkah-langkah:
1. Buat ruas AB = a.
2. Tarik garis l melalui titik A.
3. Buat titik-titik C, D, E l sedemikian sehingga AC= CD=
DE.
4. Hubungkan titik B dan E, kemudian buat garis-garis
DF//CG//BE.
5. Maka AG = GF = FB =

1
3

a.

b. Jika ditentukan garis-garis a, b, dan c, lukis garis x =

bc
a

47

Diketahui:

a
b
c

Lukisan:

b
B
a
A
c

E
x

D
h

x=

bc
a

xa = bc atau
a:b=c:x

Langkah-langkah lukisan:
1. Buat garis g dan h sedemikian sehingga gh = A.
2. Pada garis g buat AB = a, BC = b, dan pada garis h buat
AE sedemikian sehingga AE = c.
3. Hubungkan titik B dan E, kemudian buat garis DC // BE,
maka ED = x (garis yang diminta)
4. Keterangan: karena BE // DC maka AB : BC = AE : ED
atau a : b = c : x atau x =

bc
a

c. Diketahui garis-garis a dan b. Lukis garis x =

a2 b2

Diketahui garis-garis:

48

a
b

Lukis garis x =
Lukisan : x =

a2 b2

x2 = a2 + b2 (dalil Pythagoras)

a2 b2

C
a

A
b

Pada segitiga siku-siku ABC, ambil BA = b dan BC = a


sebagai sisi siku-siku (ab). Maka AC = x =

a2 b2

adalah

garis yang diminta.


d. Ditentukan garis a dan sudut . Lukis garis x, jika panjang
garis x = a sin .
Diketahui:

Lukisan:

49

1. Buat sudut .
2. Buat AB = a pada satu kaki .
3. Buat BC pada kaki sudut yang lain.
4. Maka BC = x = a sin .
5. Keterangan: karena sin = x a
B
a

A
C
e. Lukislah garis x =ab, jika garis-garis a dan b diketahui.
Diketahui:
a
b
Lukisan I:
C

x
a
A

b
M D

50

Langkah-langkah lukisan:
1. Pada garis AB, ambil AD = a dan DB = b.
2. Buat lingkaran (M, 1 2 (a+b)) yang melalui titik A dan B.
3. Buat garis DC AB.
4. DC adalah garis x yang diminta.
5. Keterangan: karena M pusat lingkaran, maka ACB = 90o,
sehingga berdasarkan dalil pythagoras x2 = ab atau x =
ab.
Lukisan II:
C
x
b

D
Langkah-langkah lukisan:
1. Ambil AB =a dan AD = b.
2. Buat lingkaran (M,

a), dengan M pertengahan AB.

3. Ambil AD = b.
4. Buat CD AB di D.
5. Hubungkan AC, AC = x adalah garis yang diminta.

51

6. Keterangan: ACB = 90o, maka berdasarkan dalil


pythagoras x2 = ab atau x = ab.
Soal-soal
1. Jika ditentukan garis a dan sudut , lukislah garis x yang
panjangnya:
a. x = a cos
b. x = a tan
c. x = a cot
d. x = a sec
e. x = a cosec
2. Lukislan sudut jika diketahui garis a dan b serta:
a. a = b cos
b. = arc tan a b
c. = arc cot a b
d. = arc sec a b
e. = arc cosec a b
3. Jika ditenyukan garis a dan b dengan ba , lukis garis x =
b 2 a 2 (dengan 2 cara).
4. Diketahui garis-garis a, b, dan c, lukislah garis x jika:
a. x = bc
b. x =
c. x =

ab
3a
3bc
a

5. Diketahui (tentukan) panjang ruas garis a dan garis b.


Ruas garis c panjangnya

2
3

kali panjang ruas garis a.

Lukislah:

52

a. Panjang garis x, dimana x =

ab
3c

b. Segitiga ABC yang sisi-sisinya adalah a, b, dan x, x


hasil dari jawaban pertanyaan (a).

VII. SEGIBANYAK BERATURAN


Segi banyak beraturan adalah segi banyak yang sisisisinya sama panjang dan sudut-sudutnya sama besar.
a. Jumlah sudut-sudut dalam sebuah segi banyak adalah
q = ( n 2 ) 180o.
b. Sedangkan besar tiap sudut
beraturan adalah p =

sebuah segi banyak

n2
) x180 0 .
n

c. Jika keliling sebuah lingkaran dibagi atas busur-busur


yang sama dan pada tiap-tiap titik bagi yang berdekatan
dihubungkan, maka terjadilah segi banyak beraturan.

53

d. Jika keliling sebuah lingkaran dibagi atas busur-busur


yang sama, dan pada tiap-tiap titik bagi tersebut dibuat
garis-garis singgung lingkaran, maka terjadilah segibanyak
beraturan.
e. Di luar dan di dalam sebuah segibanyak beraturan dapat
dilukiskan lingkaran, dan lingkaran-lingkaran tersebut
sepusat.
f. Jika an = sisi segi n beraturan, dan a 2n = sisi segi 2n
beraturan maka: a2n2 = 2R2 R 4 R 2 a n 2 .

C
a2n
A

/2an

D
D

Diketahui lingkaran C(M,R), AB = an ; C = pertengahan


busur AB atau AC = a2n.

54

Buktikan : a2n2 = 2R2 R

4 R 2 a n2

Bukti : Tarik garis tengah CE, maka CEAB dan CEAB


= D.

AC =

1
2

AB.

Jika keliling lingkaran sama dengan n kali AB, maka


keliling lingkaran tersebut sama dengan 2n kali AC.
Tali busur AC = a2n.
AC2 = CD x CE atau a2n2 = CD x 2R; CD = R MD.
Jadi a2n2 = 2R(R MD); MD =
atau MD =

1
2

R 2 AD 2

R 2 14 a n

4 R 2 a n2

Sehingga a2n2 = 2R(R 12


Jadi a2n2 = 2R2 R

4 R 2 a n2

4 R 2 a n2

Dari rumus diatas diperoleh an =

a2n
R

4 R 2 a n2

g. Jika an dan bn masing-masing adalah sisi-sisi segi n dalam

dan segi n luar beraturan, maka: bn =

2a n R
4R 2 an

Diketahui : AB = BC = an ,PQ = bn

55

Buktikan: bn =

2a n R
4R 2 an

P
A

B
C

Q
C

Bukti:
Buat garis-garis singgung dari titik-titik A, B dan C.
Garis-garis tersebut merupakan sisi-sisi segi n luar
beraturan.Sedangkan AB dan BC adalah sisi-sisi segi n
dalam beraturan.
PM = sumbu garis AB, dan PB = BQ.
PMB = 900 , D = 900 , maka PBD BMD.
Akibatnya BP : MB = BD : MD atau
1
2

bn : R =

1
2

an : R 2 14 a n 2 atau bn : R = an :

1
2

4 R 2 a n2

56

Diperoleh bn =

2a n R
4R 2 an

Segitiga, Segienam dan Segiduabelas Beraturan


C

AMB = 600, AMB sama

sisi.
S

Talibusur AB = R, jadi a6 = R.
D

AC = a3, AC tegaklurus BM dipertengahan, shg. AS =

1
2

R 3

,
SC = 12 R 3 .

E
F

Jadi AC = a3 = R3
Untuk

menghitung

a12

kita

menggunakan

rumus

menduakalikan
a2n2 = 2R2 R 4 R 2 a n 2 .
a12 2 = 2R2 R 4 R 2 a6 2
a12 2 = 2R2 R

4R 2 R 2

a12 2 = 2R2 R23


a12 =

2R 2 R 2

57

a12 = R

Luas segienam beraturan ABCDEF ialah tiga kali luas


segiempat ABCM.
Luas ABCM =

ACxES
R2 3

2
2

Luas segienam ABCDEF = 32 R 2 3


Luas segitiga ACE =

ACxES 1 12 RxR 3 3 2

4R 3
2
2

Dengan menggunakan rumus untuk sisi segibanyak luar


beraturan, b3, b6, dan b12 dapat dihitung.
Segiempat dan Segidelapan Beraturan
B
E

Segiempat beratuturan

adalah

persegi (bujursangkar); AB =

900; AM = R, BM = R, shg.
AB = R2 atau a4 = R2.

G
D

58

Selanjutnya a8 dapat diperoleh dengan menggunakan


rumus menduakalikan, yaitu a2n2 = 2R2 R 4 R 2 a n 2 .
a8 = 2R2 R
a8 = R

4R 2 2R

Luas ABCD = (AB)2 = (R2)2 = 2R2


Luas AEBFCGDH = empat kali luas BMCF.
Diagonal-diagonal segiempat BMCF saling tegaklurus.
Luas BMCF =

RxR 2

1
2

R2 2

Luas segidelapan beraturan AEBFCGDH = 4 x 12 R 2 2 =


2R22.
Segiempat luar beraturan adalah persegi yang sisinya
sama dengan garis tengah lingkaran, b4 = 2R.
Dapat juga dicari dengan menggunakan rumus bn =

2a n R
4R 2 an

Demikian juga untuk b8 dapat kita cari dari a8, yaitu:


b8 =

2a n R
4R 2 a4

59

b8 =

2R 2 2

4R 2R R 2 2
2

b8 = 2R(-1+2)
Segi lima dan segi sepuluh beraturan
Jika dalam lingkaran M digambar sebuah sudut pusat
(BMA) yang besarnya 360, maka AB adalah sisi segi sepuluh
beraturan.
B
72

72

36

36

ABM samakaki
Besar sudut-sudut alasnya

180 o 36 o
72 o .
2

Jika A dibagi menjadi dua bahagian sama besar,

maka

MAC = CAB = 36o, B = 72o , BAC = 36o.


Jadi AB = AC = a10.

60

MCA juga samakaki, karena M = MAC = 36o, jadi MC =


AC = AB = a10.
AC garis bagi, sehingga MC : CB = MA : AB atau MC : CB =
MB : MC, atau MC2= BC x MB.
a102 = (R-a10) x R
a10 =

R (1 5)

Dengan rumus menduakalikan, kita dapat menghitung a5


sebagai berikut:
a102 = 2 R 2 R 4 R 2 a5 2

1
2

( 1 5)

a5 =

2
2 R 2 R 4 R 2 a5

R 10 2 5

Soal-soal
5. Dalam sebuah lingkaran yang jari-jarinya 6 cm dibuat sebuah
talibusur yang panjangnya 9 cm. Busur dihadapan talibusur
tersebut dibagi dua sama besar. Hitunglah panjang talibusur
yang menahan setengah busur itu.
6.

Diketahui an = 4 dan bn = 43. Hitunglah R.

61

7. Nyatakanlah luas segiduabelas beraturan dengan jari-jari R


lingkaran luarnya.
8. Hitunglah perbandingan antara luas segitiga sama sisi, segienam beraturan, dan segiduabelas beraturan yang dibuat
dalam satu lingkaran.
9. Diluar sebuah lingkaran dibuat sebuah segitiga sama sisi dan
sebuah

segienam

beraturan.

Hitunglah

perbandingan

luasnya.
10.

Hitunglah a16 dan b16. (Nyatakan dengan R)

11.Lukislah dalam sebuah lingkaran sebuah segilima beraturan


dan segisepuluh beraturan.

TUGAS I
Nama / Kelas : . . . . . . . . . . . . . . . .
No. Urut/Stb:. . . . . . . . . . . . . . . . . .
1. Pada ABC, AD BC , BE AC , D BC , dan E AC . Buktikan:
c.
CE x CA = CD x CB.
d.
Jika H titik potong ruas-ruas AD dan BE , buktikan BH x BE = BD
x BC, AH x AD = AE x AC.
e.
Apakah AHE BHD? Jelaskan.

62

f.
g.

Apakah EHD ABH? Jelaskan.


Apakah ACD CAB? Jelaskan.
Jawab:

2. Diketahui persegi ABCD. Titik X terletak pada AB dan Y terletak di BC


sehingga DX = AY. Tunjukkan bahwa AYDX.
Jawab:

63

3. Pada ABC, C = 90o. Buktikan

1
tc

1
1
2 ( tc = garis tinggi dari titik C)
2
a b

Jawab:

d.

Diketahui ABC. Pada sisi-sisi AB, BC, dan CD masing-masing


dibuat segitiga sama sisi: ABD, BCE, dan CAF. Buktikan bahwa
panjang CD = AE = BF.
Jawab:

64

5. Diketahui ABC dengan panjang sisi a, b dan c. za , zb dan zc masingmasing menyatakan panjang garis berat ke sisi a, b dan c.
Buktikan bahwa 3(a + b+ c) 4(za + zb + zc).
Jawab:

65

GEOMETRI I
(BAGIAN I)

SUHARTONO

66

JURUSAN MATEMATIKA FMIPA


UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2007

67