Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRESENTASI KASUS KOASS INTERNA

(Periode 12 Agustus 19 Desember 2015)

TUBERKULOSIS DROP OUT

Disusun
oleh :
Abia Nebula
1102011002
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam RSUD Pasar Rebo
Pembimbing :
Dr. Syafrizal Sp.P

SMF ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD PASAR REBO JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2015
STATUS PASIEN
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
RSUD PASAR REBO
IDENTITAS
Nama
Usia
Pekerjaan

: Tn.A
: 29 tahun
: Terapis Bekam

Pendidikan Terakhir
Agama
Alamat
No RM
Tanggal Masuk
Tanggal Pemeriksaan

: SMA
: Islam
: Jl.Masjid, Kel. Ciracas, Jakarta Timur
: 2014-589511
: 02 Desember 2015
: 07 Desember 2015

ANAMNESIS
Autoanamnesis dan aloanamnesis
1.

Keluhan Utama: Batuk berdahak kadang disertai dahak sejak 1 minggu SMRS

2.

Keluhan Tambahan: Sesak nafas, mual dan muntah

3.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan batuk darah sejak
tadi pagi. Darah yang keluar gelas. Pasien juga merasa sesak nafas, kalau berbicara
pelan dan kesulitan mengambil nafas. Sebelumnya, pasien sudah batuk kering
semenjak 1 bulan terakhir. Batuk tidak disertai dahak dan lendir, namun kadang
disertai percikan darah. Pasien juga mengeluh demam mengigigil, perut terasa mual
dan kram. Hari ini pasien sudah muntah 2x, muntah berisi makanan bewarna
kekuningan. Pasien juga merasa pusing sempoyongan dan badan terasa lemas.

4. Riwayat Penyakit Dahulu:


1 tahun yang lalu, pasien pernah mengalami keluhan batuk darah, berat badan menurun
dan demam lama. Pasien berobat ke klinik, lalu menjalani pemeriksaan rontgen, darah
dan sputum. Pasien lalu didiagnosis TBC. Pasien diberi OAT lini pertama (diberikan
dalam bentuk FDC). Pasien meminum obat selama 2 bulan, lalu stop. Pasien tidak
meminum obat kembali karena mengeluh BAK&BAB nya berwarna kemerahan, perut
terasa sakit dan mual.
Setelah itu, 4 bulan kemudian pasien merasakan keluhan yang sama. Lalu pasien
datang ke dokter dan berobat kembali. Namun pasien tidak mengatakan kepada dokter

bahwa ia pernah putus berobat. Pasien diberikan OAT lini pertama kembali (dalam
bentuk FDC), kemudian pasien hanya meminum 2 bulan dan tidak meminum lagi.

Riwayat Asma
Riwayat Alergi Obat
Riwayat DM
Riwayat gangguan fungsi hati
Riwayat konsumsi OAT

5.

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: 1 tahun yang lalu
: 1 tahun yang lalu (lini pertama, FDC)

Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat TB
Riwayat Penyakit Jantung
Riwayat DM
Riwayat Asma
Riwayat Alergi Obat

6.

: Ayah pasien
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan Sekitar


Pasien mengatakan bahwa ayahnya pernah mengalami sakit TB. Sudah diberi obat oleh
dokter namun tidak meminum obat. Pasien tidak merokok dan tidak mengonsumsi
alkohol. Pasien mengatakan tidak ada yang mengeluhkan hal yang sama di lingkungan
sekitar

PEMERIKSAAN FISIK (tanggal 07-12-2015)


A

Pemeriksaan Umum:
1. Kesan Umum

: Tampak Sakit Sedang

2. Kesadaran

: Compos mentis

3. Tanda Utama

Frekuensi nadi

: 96 x/menit, reguler, isi cukup.

Frekuensi napas

: 30x/ menit

Suhu axilla

: 38,20 Celsius

Tekanan darah

: 110/70mmHg

Pemeriksaan Khusus
1. Kepala
Bentuk
Posisi

: Normochepal
: Simetris

2. Mata
Exophthalmus
Enopthalmus
Edema kelopak
Konjungtiva anemis
Sklera ikterik

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: +/+
: -/-

3. Hidung
Bentuk normal, nafas cuping hidung (+), sekret (-), septum deviasi (-)
4. Mulut
Bibir kering pecah-pecah : (-)
Sianosis
: (-)
5. Tenggorokaan
Faring
Lidah
Uvula
Tonsil

: Dalam batas normal


: Lidah tidak kotor berwarna putih, tidak deviasi
: Letak ditengah, tidak deviasi
: T1-T1, tenang

6. Telinga
Pendengaran
Darah & cairan

: Baik
:Tidak ditemukan

7. Leher
Trakea
Kelenjar tiroid
Kelenjar limfe

: Tidak deviasi
: Tidak ada pembesaran
: Tidak ada pembesaran

8. Paru-paru
Kanan
Depan :

Kiri

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Belakang :
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Terdapat retraksi
Fremitus normal
Sonor
Vesikular, ronki (-),

Terdapat retraksi
Fremitus normal
Sonor
Vesikular, ronki (-),

mengi (+)

mengi (+)

Kanan

Kiri

Pergerakan simetris
Fremitus normal
Sonor
Vesikular, ronki basah

Pergerakan simetris
Fremitus normal
Sonor
Vesikular, ronki basah

halus (-), mengi (+)

halus (-), mengi (+)

9. Jantung
Inspeksi
Palpas
Perkusi

: Iktus cordis tidak terlihat


: Iktus cordis teraba
: Batas jantung kanan di ICS 4 linea sternalis dextra
Batas jantung kiri di ICS 4 linea midclavikula sinistra
Batas pinggang jantung di ICS 2 linea parasternalis sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I-II normal, regular, gallop (-) murmur (-)

10.Abdomen
Inspeksi

: Bentuk abdomen datar, gerakan peristaltik usus tidak

terlihat, tidak tampak adanya sikatriks maupun venektasi


Auskultasi
: Bising usus (+) Normal
Perkusi
: Timpani pada seluruh kuadran abdomen
Palpasi
: Nyeri tekan (+) daerah umbilikus, hepar dan lien tidak teraba
membesar

11.Ekstremitas
Akral hangat pada ekstremitas atas dan bawah kanan kiri
Tidak terdapat edema pada ekstremitas atas dan bawah kanan dan kiri
Gerakan dan kekuatan otot pada ekstremitas atas dan bawah kanan-kiri normal

IV. DATA LABORATORIUM


01/12/2015
Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit

HASIL
8.9
28
24.15
3.8
504

02/12/205
Pemeriksaan
Hematologi
Laju Endap Darah
Kimia Klinik
Biliriubin total
Bilirubin direk
Biliribuin indirek
Asam urat

120
0.46
0.17
0.29
4.2

04/12/2015
Pemeriksaan Bakteriologi
Pemeriksaan BTA (Sputum 1)
Spesimen
Prosedur
Hasil
Pemeriksaan BTA (Sputum 2)
Spesimen
Prosedur
Hasil
Pemeriksaan BTA (Sputum 3)
Spesimen
Prosedur
Hasil

Hasil
Sputum 1
Pewarnaan Ziehl Neelsen
(3+) : >10 BTA/lp dalam 20 lp
Sputum 2
Pewarnaan Ziehl Neelsen
(3+) : >10 BTA/lp dalam 20 lp
Sputum 3
Pewarnaan Ziehl Neelsen
(3+) : >10 BTA/lp dalam 20 lp

04/12/2015
Serologi
Anti HIV (Elisa)

Hasil
Non reaktif

V. RINGKASAN DATA DASAR

Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan batuk darah sejak
tadi pagi. Darah yang keluar gelas. Pasien juga merasa sesak nafas, kalau berbicara
pelan dan kesulitan mengambil nafas. Sebelumnya, pasien sudah batuk kering
semenjak 1 bulan terakhir. Batuk tidak disertai dahak dan lendir, namun kadang
disertai percikan darah. Pasien juga mengeluh demam mengigigil, perut terasa mual
dan kram. Hari ini pasien sudah muntah 2x, muntah berisi makanan bewarna
kekuningan. Pasien juga merasa pusing sempoyongan dan badan terasa lemas.
Sebelummnya pasien pernah didiagnosis TB 1 tahun yang lalu. Pasien sempat minum
obat tapi kemudian putus obat karena pasien tidak tahan dengan efek samping OAT.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu axilla meningkat (38.2) dan nyeri
tekan (+) pada daerag umbilikus. Pada pameriksaan fisik juga terdapat retraksi pada
dinding dada dan terdapat wheezing saat auskulttasi.
Pada pemeriksaan penunjang terdapat peningkatan LED (120) leukosit (24.15)
dan trombosit (504) serta penurunan HB (8.9), Ht (28) dan eritrosit (3,8). Pada
pemeriksaan sputum Sewaktu-Pagi-Sewaktu didapatkan hasil BTA +3

DIAGNOSIS KERJA
Tuberkulosis Drop Out

VIII. RENCANA PENGELOLAAN


A Rencana Pemeriksaan
Darah Perifer Lengkap
Foto Rontgen

B Tatalaksana
1. Non medikamentosa
Bed rest
Makan makanan yang lunak dan tidak mengiritasi saluran cerna
2. Medikamentosa
Banadoz 2x1
Ampisilin 3x1
Kalnex 2x1
Omeprazole
Inj Transamin (extra) bila batuk darah
Inj Vit. K
Inj Vit C
Inj ranitidin 3x1
Inj cefopra2ole 3x1
A. Rencana Pemantauan
Cek DPL/24 jam
B. Rencana Edukasi
1. Menjelaskan kepada keluarga pasien untuk mengawasi pasien dalam
pengobatan TB. Karena pada kasus ini tingkat kepatuhan pasien sangat rendah
2. Menjelaskan kepada pasien supaya tidak beraktivitas terlalu berat
3. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga untuk selalu memakai masker .

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam

: dubia ad malam
: dubia ad malam

Quo ad sanationam : dubia ad malam

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tuberkulosis
2.1.1 Definisi

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium


tuberculosis ( M. Tb), yaitu bakteri yang hidup di paru dan organ tubuh lain. M. Tb
mempunyai kandungan lemak pada membran sel sehingga tahan terhadap asam dan
pertumbuhan-nya berlangsung dengan lambat.

(Rab.2010)

Mycobacterium tuberculosis bersifat aerob sehingga menyukai jaringan tinggi


kandungan oksigen. Tekanan oksigen di apikal paru-paru lebih tinggi dari bagian lain,
sehingga bagian apikal merupakan tempat predilesi penyakit TB. (Amin. 2010)
Sebagian besar dinding bakteri terdiri atas asam lemak (lipid), kemudian peptodglikan
dan arabinomanan. Lipid membuat bakteri lebih tahan terhadap asam (asam alkohol)
sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA). Bakteri dapat bertahan hidup baik pada keadaan
udara kering maupun dingin karena memiliki sifat dormant, sehingga dapat datang kembali
dan TB kembali aktif. (Rab.2010)

2.1.2 Epidemiologi tuberkulosis


Tuberkulosis tersebar luas di seluruh dunia. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia
terinfeksi M. Tb. Sembilan puluh lima persen kasus TB di dunia terjadi di negara
berkembang. (Depkes RI.2006).
World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global Tuberkulosis
Control 2010 menyatakan terdapat 22 negara yang dikategorikan sebagai high burden
countries terhadap TB paru. Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China.
Estimasi insidence rate pemeriksaan dahak dengan BTA positif adalah 115 per 100.000.
(Depkes RI.2006).

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, TB paru menduduki


ranking ketiga penyebab kematian (9,4% dari total kematian) setelah kardiovaskular dan
penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor satu dari golongan infeksi.
(Lembar fakta tuberkulosis.2008)
Data WHO (2008) terdapat 285.243 kasus TB di Indonesia. Ini meningkat
dibandingkan tahun 2007 yang berjumlah 275.193 kasus. (Depkes RI.2007). Menurut Sub
Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan WHO , 300 orang meninggal karena TB setiap
hari. TB banyak didapatkan pada penduduk dengan kondisi sosial ekonomi lemah dan
menyerang golongan usia produktif (15-54 tahun).
Faktor risiko TB disebabkan antara lain adanya kemiskinan, perubahan demografik,
dampak pandemi infeksi HIV, tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan,
infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara yang mengalami krisis ekomomi, serta
ketidak tahuan penderita untuk berobat. (Depkes RI.2007).
2.1.3 Cara penularan
Terjadinya infeksi M. Tb umumnya melalui inhalasi, sehingga TB paru merupakan
manifestasi klinis yang paling sering dibanding organ lainnya. Penularan penyakit sebagian
besar melalui inhalasi basil yang terkandung dalam percikan dahak dari pasien TB paru
dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung BTA. (Amin.2010)
Umumnya penularan terjadi pada tempat dimana percikan dahak tahan pada waktu
lama, terutama dalam keadaan gelap dan lembap. Ventilasi dapat mengurangi jumlah
percikan, karena sinar matahari langsung membunuh kuman. (Retno.2006)
Kemampuan penularan pasien ditentukan oleh jumlah kuman yang dikeluarkan
parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahaknya, makin menular pasien
tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh
konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. (Retno. 2006)

Pada TB kulit atau jaringan lunak, penularan bisa melalui inkolusi langsung. Infeksi
yang disebabkan oleh M.bovis dapat disebabkan oleh susu yang kurang steril atau
terkontaminasi. (Amin.2010)

2.1.4 Klasifikasi Tuberkulosis


Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengklasifikasikan TB paru berdasarkan
2 hal yaitu berdasarkan hasil pemeriksaan dahak atau basil tahan asam (BTA) dan
berdasarkan golongan pasien. Klasifikasinya yaitu :
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) TB paru
a. Tuberkulosis paru BTA positif
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA

positif.

- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan juga
positif.
b. Tuberkulosis paru BTA negatif
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis dan
kelainan radiologi menunjukkan TB aktif.
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif
2. Berdasarkan golongan pasien
a. Kasus baru
Pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)

Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan dan telah dinyatakan sembuh
atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA (+) atau biakan positif.
c. Kasus defaulted atau drop out (lalai)
Pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan
berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
Pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan
ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
e. Kasus kronik
Pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang
dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik. (Rab.2010)

2.1.5 Petogenesis tuberkulosis


Penularan TB paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar melalui
percikan dahak dalam udara di sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara
bebas selama 1-2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi dan
kelembapan. Dalam suasana lembap dan gelap, kuman dapat tahan berhari hari sampai
berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada
saluran nafas atau jaringan paru. (Amin.2010)
Masuknya M. Tb segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag
alveolus akan memfagosit M. Tb dan menghancurkan sebagian besar bakteri. Akan tetapi
pada sebagian kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan bakteri yang terus berkembang
biak. (Rab.2010).

2.1.5.1 Tuberkulosis Primer


Mycobacterium tuberculosis yang menetap di jaringan paru akan berkembang dalam
sitoplasma makrofag, kemudian terbawa ke organ tubuh lainnya, seperti paru, otak, ginjal
atau tulang. Bakteri yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk afek primer atau yang
sering disebut fokus primer Ghon.
Dari fokus primer M. Tb menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe
regional. Penyebaran ini menyebabkan inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar
limfe (limfadenitis). Kompleks primer merupakan gabungan antara fokus primer, kelenjar
limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya M. Tb hingga terbentuknya kompleks primer secara
lengkap disebut sebagai masa inkubasi. Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam waktu
4-8 minggu. (Amin.2010).
Kompleks primer ini dapat sembuh total tanpa meninggalkan cacat atau sembuh
dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis fibrotik atau kalsifikasi di hilus. Keadaan ini
menyebabkan 10% pasien mengalami reaktivasi lagi karena kuman yang bersifat dormant.
Kompleks primer juga bisa berkembang menjadi komplikasi dan menyebar secara
bronkogen, hematogen, dan limfogen ke organ tubuh lainnya. Semua kejadian di atas
tergolong dalam tuberkulosis primer (Zulkifli.2010)
2.1.5.2 Tuberkulosis Paska Primer (Tuberkulosis sekunder)
Kuman dormant TB primer akan muncul bertahun-tahun, kemudian dapat
berkembang menjadi TB paska primer atau TB sekunder. TB sekunder terjadi karena
imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol, penyakit keganasan, diabetes, AIDS, dan gagal
ginjal. TB sekunder ini dimulai dari fokus Ghon yang berlokasi di regio atas paru (bagian

apikal-posterior lobus posterior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru
. (Sudoyo.2007)
Fase M. Tb yang tidur ini disebut fase laten. M. Tb tidur bisa terdapat di tulang
panjang, vertebra, tuba fallopii, otak, kelenjar limfe hilus dan leher, serta ginjal. Bakteri ini
bisa tetap tidur selama bertahun tahun, bahkan seumur hidup (infeksi laten), tetapi bisa
mengalami

reaktivasi

bila

terjadi

perubahan

keseimbangan

daya

tahan

tubuh.

(Karnadihardja.2004).
Tuberkulosis fase selanjutnya dapat terjadi di paru atau di luar paru. Dalam perjalanan
selanjutnya, proses ini dapat sembuh tanpa cacat, sembuh dengan meninggalkan fibrosis dan
kalsifikasi, membentuk kavitas bahkan dapat menyebabkan bronkiektasis melalui erosi
bronkus (Karnadihardja.2004).
Frekuensi penyebaran ke ginjal amat sering. M. Tb berhenti dan bersarang pada
korteks ginjal, yaitu bagian dengan tekanan oksigennya relatif tinggi. Bakteri ini dapat
langsung menyebabkan penyakit atau tidur selama bertahun-tahun. Patologi di ginjal sama
dengan patologi di tempat lain, yaitu inflamasi, pembentukan jaringan granulasi, dan nekrosis
pengkejuan. Kemudian bakteri turun dan menyebabkan infeksi di ureter, kandung kemih,
prostat, vesikula seminalis, vas deferens, dan epididimis (Karnadihardja.2004).
Penyebaran ke kelenjar limfe paling sering di kelenjar limfe hilus, baik sebagai
penyebaran langsung dari kompleks primer, maupun TB paska primer. TB kelenjar limfe lain
(servikal, inguinal, aksial) biasanya merupakan TB paska primer (Karnadihardja, 2004).
Penyebaran ke genitalia wanita melalui penyebaran hematogen dimulai dengan berhenti dan
berkembang biaknya kuman di tuba fallopii yang sangat vaskuler. Dari sini basil bisa
menyebar ke uterus (endometritis), atau ke peritoneum (peritonitis) (Karnadihardja.2004).
Penyebaran ke tulang adalah daerah metafisis tulang panjang dan tulang spongiosa yang
menyebabkan TB tulang.

Penyebaran lain dapat juga ke sinovium dan menjalar ke tulang subkondral.


Penyebaran ini menyebabkan TB sendi. Penyebaran ke otak dan meningen juga melalui
penyebaran hematogen setelah kompleks primer. Berbeda dengan penyebaran di atas,
penyebaran ke perikardium terjadi melalui saluran limfe atau kontak langsung dari pleura
yang tembus ke perikardium (Karnadihardja.2004).

2.1.6 Manifestasi klinis


Keluhan yang dirasakan pasien TB dapat bermacam-macam atau malah banyak pasien
TB paru tanpa keluhan sama sekali saat pemeriksaan kesehatan. Gejala respiratorik berupa
batuk kering ataupun batuk produktif merupakan gejala yang paling sering terjadi dan
merupakan indikator sensitif untuk penyakit ini. Bila bronkus belum terlibat dalam proses
penyakit, maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena
iritasi bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif), kemudian setelah
timbul peradangan menjadi produktif dan menghasilkan sputum. Keadaan lanjut berupa batuk
darah, karena terdapat pembuluh darah yang pecah. (Amin.2010)
Gejala sesak napas timbul jika ada pembesaran nodus limfa pada hilus yang menekan
bronkus, atau terjadi efusi pleura, ekstensi radang parenkim atau miliar. Nyeri dada bersifat
nyeri pleuritik karena terlibatnya pleura dalam proses penyakit. Demam dapat menetap dan
naik turun sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam ini. Keadaan
ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman TB
yang masuk.
Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, tidak nafsu makan, badan makin
kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam dan lain-lain.
Gejala malaise ini makin lama makin berat dan hilang timbul secara tidak teratur
(Sudoyo.2007).

Tuberkulosis sekunder terdapat gejala penurunan berat badan, keringat dingin pada
malam hari, temperatur subfebris, batuk berdahak lebih dari 2 minggu, sesak nafas,
hemoptosis akibat terlukanya pembuluh darah pada sputum, sampai ke batuk darah yang
masif. TB sekunder dapat menyebar ke berbagai organ sehingga menimbulkan gejala seperti
meningitis, ginjal, sendi dan TB pada kelenjar limfe atau adrenal. (Rab. 2010)

2.1.7 Diagnosis tuberkulosis


2.1.7.1 Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Penegakan diagnosis diawali dengan anamnesis gejala-gejala yang ada kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien
mungkin ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemis, suhu demam
(subfebris), badan kurus atau berat badan menurun. (Amin.2010)
Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan kelainan, terutama pada pasien dengan kasus
dini. Secara anamnesis dan pemeriksaan fisik, TB paru sulit dibedakan dengan pneumonia
biasa. (Amin.2010)
Tempat kelainan lesi TB paru paling sering ada di bagian apeks paru. Bila terdapat
infiltrat, didapatkan perkusi redup dan auskultasi suara nafas bronkial. Didapatkan juga suara
nafas tambahan berupa ronki basah, kasar dan nyaring. Tapi bila infiltrat ini diikuti oleh
penebalan pleura, suara nafas menjadi vesikuler lemah. Bila terdapat kavitas yang cukup
besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani sedangkan auskultasi memberikan
suara amforik. (Amin.2010)
Tuberkulosis paru lanjut dengan fibrosis luas sering ditemukan atrofi dan retraksi
otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut. Paru yang sehat menjadi lebih
hiperinflasi. Bila jaringan fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paruparu, akan terjadi pengecilan alirah darah ke paru dan selanjutnya meningatkan tekanan arteri

pulmonalis (hipertensi pulmonal). Diikuti terjadinya kor pulmonal dan gagal jantung kanan.
(Amin.2010)
Bila TB mengenai pleura, sering terbentuk efusi pleura. Paru yang sakit terlihat
tertinggal dalam pernafasan. Perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi memberikan suara
lemah sampai tidak terdengar sama sekali. TB paru sering terlihat asimptomatik dan baru
dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji
tuberkulin yang positif. (Amin.2010)
2.1.7.2 Pemeriksaan laboraturium
1. Darah
Pemeriksaan ini jarang dilakukan, karena hasilnya tidak sensitif dan tidak spesifik. TB
baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit sedikit meninggi dengan jumlah limfosit
masih dibawah normal dan laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh,
jumlah leukosit kembali normal, jumlah limfosit masih tinggi dan laju endap darah mulai
turun ke arah normal lagi.
Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan anemia ringan dengan gambaran normokrom
dan normositer, gama globlin meningkat dan kadar natrium darah menurun. Pemeriksaan
tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik. (Amin.2010)
Belakangan ini terdapat pemeriksaan serologis yang banyak juga dipakai yaitu
peroksidase anti peroksida (PAP-TB) yang oleh beberapa peneliti didapatkan nilai sensitivitas
dan spesifitas cukup tinggi (88-95%), tetapi beberapa peneliti lain meragukannya karena
mendapatkan angka-angka lebih rendah. PAP-TB ini masih dapat dipakai, tapi kurang
bermanfaat bila digunakan sebagai sarana untuk diagnosis TB. (Robbtitzek.2001)
2. Sputum
Untuk mendapatkan hasil akurat, diperlukan rangkaian kegiatan yang baik. Mulai dari
cara batuk untuk mengumpulkan dahak, pemilihan bahan dahak yang akan diperiksa, teknik

pewarnaan dan pengolahan serta kemampuan membaca sediaan di bawah mikroskop. Untuk
mendapatkan BTA (+) di bawah mikroskop diperlukan jumlah kuman tertentu, yaitu sekitar
5.000 kuman/ml dahak (Aditama.2006)
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk menegakkan
diagnosis dengan mengumpulkan 3 bahan dahak yang dikumpulkan dalam dua hari
kunjungan, dikenal dengan Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
a. Sewaktu : dahak yang dikumpulkan pada pasien diduga TB datang berkunjung pertama
kali. Saat pulang, suspek membawa pot penampung dahak
b. Pagi

: dahak dikumpulkan setelah bangun tidur.

c. Sewaktu : dahak dikumpulkan pada pagi hari kedua, saat pasien menyerahkan dahak pagi
hari
Pemeriksaan dahak BTA dilakukan 3x berturut-turut untuk menghindari faktor
kebetulan. Bila hasil pemeriksaan dahak minimal 2x positif, maka pasien sudah dapat
dipastikan sakit TB paru (Hudoyono.2008). Batuk lebih dari 2 minggu setelah dicurigai
berkontak dengan pasien tuberkulosis dapat diduga TB. Pemeriksaan dilanjutkan pada
pemeriksaan foto toraks, tes kulit, dan pemeriksaan BTA yang terdapat di sputum atau bilasan
lambung pada anak-anak.
Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang langsing, lurus atau berbentuk filamen.
Bakteri ini bersifat aerobik, tidak membentuk spora, non motil, tahan asam, dan merupakan
bakteri gram positif. Namun, ketika M. Tb diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna
tersebut tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut
sebagai Basil Tahan Asam atau BTA.

Bakteri tahan asam dapat diamati dengan teknik pewarnaan Ziehl Neelson, Kinyoun
Gabber, dan Fluorochrom. Menurut Entjang (2003), pada pewarnaan bakteri dengan metode
Ziehl-Neelsen dapat menggolongkan bakteri menjadi dua, yaitu :
a. Bakteri tahan asam

: berwarna merah dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen

b. Bakteri tidak tahan asam

: berwarna biru dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen

Metode Ziehl-Neelsen digunakan karena cukup sederhana dan mempunyai sensitivitas


serta spesifitas cukup tinggi. Spesifitas dan sensitivitas tinggi sebenarnya dimiliki oleh
metode fluorokrom. Bakteri yang terwarnai menunjukkan warna yang kontras dengan
lingkungannya dan tidak membutuhkan perbesaran sampai 1000x sehingga bisa mempercepat
waktu. Akan tetapi, alat yang digunakan tidak ada yaitu mikroskop fluorescens.
(Kurniawati.2005)
Untuk interpretasi pemeriksaan mikroskopis dahak pasien dapat dibaca dengan skala
IUATLD (rekomendasi WHO). Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis
and Lung Disease) yaitu :
a. Negatif

: Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang

b. + (+1)

: Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang

c. ++ (2+)

: Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang

d. +++ (3+) : Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang

2.1.7.3 Pemeriksaan radiologi


Lokasi lesi TB umumunya mengenai daerah apeks paru (segmen apikal lobus atas
atau segmen apikal lobus bawah) tetapi juga dapat mengenai lobus bawah (bagian inferior),
atau di daerah hilus.

Gambaran radiologis pada awal penyakit berupa bercak-bercak seperti awan dan
dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah meliputi jaringan ikat maka bayangan
terlihat berupa bulatan dengan batas tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkeloma.
Gambaran radiologis lain yang sering menyertai TB paru adalah penebalan pleura
(pleuritis) , massa cairan hitam di bawah paru (effusi pleura), dan bayangan hitam radioulsen
di pinggir paru/pleura. Gambaran radiologis TB lanjut didapatkan bermacam-macam
bayangan sekaligus. Seperti infiltrat, garis-garis fibrotik, kalsifikasi, kavitas maupun
atelektasis dan emfisema.
Bronkografi diperlukan untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang disebabkan
oleh TB. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan bila pasien akan menjalani pembedahan paru.
Computed Tomography Scanning (CT Scan) digunakan untuk pemeriksan lebih
superior dibanding radiologis biasa. Perbedaan densitas jaringan terlihat lebih jelas dan
sayatan dapat dibuat transversal. Magnetic Resonance Imaging (MRI) kadang dilakukan
walaupun pemeriksaan MRI ini tidak sebaik dengan CT Scan, karena dapat mengevaluasi
proses-proses dekat apeks paru, tulang belakang dan perbatasan dada-perut. (Amin.2010)

2.1.7.4 Tes Tuberkulin


Pemeriksaan ini dipakai untuk menegakkan diagnosis TB terutama pada anak-anak
(balita). Biasanya dipakai tes mantoux yakni dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin P.P.D
(Purified Protein Deriviative) intrakutan berkekuatan 5 T.U (intermediate strength). Bila
ditakutkan reaksi hebat dengan pemberian 5 T.U dapat diberikan dulu 1-2 T.U (first strength).
Tes tuberkulin hanya menyatakan bahwa seseorang individu sedang atau pernah
mengalami infeksi M. Tb, vaksinasi BCG dan mycobacteria lainnya. Pada penularan dengan
kuman patogen baik yang virulen atau tidak (vaksinasi BCG atau M. Tb) tubuh manusia akan
mengadakan reaksi imunologi dengan dibentuknya antibodi selular pada permukaan dan

kemudian diikuti oleh pembentukan antibodi humoral yang dalam perannya akan menekan
antibodi seluler.
Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul indurasi kemerahan terdiri dari
infiltrat limfosit yakni reaksi persenyawaan antara antibodi selular dan antigen tuberkulin.
Berdasarkan hal-hal di atas, hasil montoux ini dibagi dalam
1.
2.
3.
4.

Indurasi 0-5 mm
: Mantoux negatif
Indurasi 6-9 mm : Hasil meragukan/low grade sensitivity
Indurasi 10-15 mm
: Mantoux positif/normal sensitivity
Indurasi >15mm
: Mantoux positif kuat /hypersensitivity
Hampir seluruh pasien TB memberikan reaksi mantoux positif (99,8%). Kelemahan
tes ini juga terdapat positif palsu yakni pada pemberian BCG atau terinfeksi dengan
Mybocaterium lainnya. (Amin.2010)

2.1.8 Penatalaksanaan TB
Tuberkulosis (TB) dapat menyerang beberapa organ tubuh, diantaranya paru-paru,
ginjal, tulang dan usus. Tujuan pengobatan TB adalah memusnahkan M. Tb dengan cepat dan
mencegah kekambuhan. Selain itu juga bertujuan mengurangi transmisi TB kepada orang lain
dan mencegah atau memperlambat timbulnya resistensi TB terhadap obat. Idealnya,
pengobatan ini harus bisa menghasilkan pemeriksaan sputum negatif pada uji hapusan dahak
maupun biakan kuman, dan hasil ini harus tetap negatif untuk selamanya. (Yati Istiantoro dan
Rianto Setiabudy.2007)
Ada 2 prinsip pengobatan TB, yaitu paling sedikit menggunakan dua obat dan
pengobatan harus berlangsung setidaknya 3-6 bulan setelah sputum negatif untuk tujuan
sterilisasi lesi dan mencegahnya kambuh. (Yati Istiantoro dan Rianto Setiabudy.2007)
Obat yang digunakan untuk TB di golongkan atas dua kelompok, yaitu kelompok obat
lini pertama (Isoniazid, Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid) dan kelompok

obat lini kedua (florokuinolon, siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin, sikloserin). (Yati


Istiantoro dan Rianto Setiabudy.2007)

2.18.1 Isoniazid
Isoniazid bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid. Efek bakterisidnya hanya terlihat
pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Uji hewan didapatkan bahwa aktivitas Isoniazid lebih
kuat dibandingkan dengan streptomisin. Isoniazid dapat menembus ke dalam sel dengan
mudah.
Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid)
yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid menghilangkan sifat
tahan asam dan menurunkan jumlah lemak dari M. Tb yang terekstrasi oleh methanol.
Isoniazid mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parentral. Kadar puncak
dicapai dalam waktu 1- 2 jam setelah pemberian oral. Isoniazid mudah berdifusi ke dalam sel
dari semua cairan tubuh. Obat terdapat dengan kadar cukup dalam cairan pleura dan cairan
asites. Kadar obat ini pada mulanya tinggi dalam plasma dan otot daripada dalam jaringan
yang terinfeksi, tetapi kemudian obat tertingal lama di jaringan yang terinfeksi dalam jumlah
yang lebih dari cukup sebagai bakteriostatik.
Efek samping yang dapat terjadi adalah reaksi hipersensivitas yang mengakibatkan
demam dan berbagai kelainan kulit. Reaksi hematologik dapat juga berupa agranulasitosis,
eusinofilia, trombositopenia, dan anemia. Neuritis perifer paling banyak terjadi pada
pemberian dosis isoniazid 5mg/kgBB/hari. Pemberian pirodoksin bermanfaat

untuk

mencegah perubahan tersebut. Profilaksis dengan pemberian piridoksin mencegah terjadinya


neuritis perifer dan berbagai gangguan sistem saraf yang mungkin terjadi, termasuk akibat
pengobatan yang berjangka sampai 2 tahun.

Perubahan neuropatologik yang berhubungan dengan efek samping antara lain


menghilangnya vesikel sinaps, membengkaknya mitokondria dan pecahnya akson terminal.
Pemberian piridoksin sangat bermanfaat untuk mencegah perubahan tersebut.
Isoniazid masih tetap merupakan obat yang penting untuk mengobati semua tipe TB.
Efek samping dapat dicegah dengan pemberian pirofoksin dan pengawasan yang cermat pada
pasien. Untuk tujuan terapi, obat ini harus disediaan bersamaan dengan obat lain. (Yati
Istiantoro dan Rianto Setiabudy.2007)
2.1.8.2. Rifampisin
Rifampisin adalah derivat semi sintetik rifampisin B yaitu salah satu anggota
kelompok antibiotik makroskilkik yang disebut rimafisin. Kelompok zat ini dihasilkan oleh
Streptomyces mediterranel.
Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram positif dan gram negatif.
Rifampisin aktif terhadap sel sedang tumbuh, kerjanya menghambat DNA-Dependent RNA
polymerase dari mikobakteria.
Rifampisin jarang menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Dengan dosis biasa,
kurang dari 4% pasien TB mengalami efek toksik seperti ruam kulit, demam, mual dan
muntah. Yang menjadi masalah adalah ikterus. Hepatitis jarang terjadi pada pasien dengan
fungsi hepar normal. Pada pasien dengan penyakit hati kronik, alkoholisme dan usia lanjut
insidens, ikterus terus bertambah. Pemberian rifampisin dihubungkan dengan timbulnya
sindrom hepatorenal. SGOT dan aktivitas fosfatase alkali yang meningkat akan menurun
kembali bila pengobatan dihentikan.
Trombositopenia, leukopenian sementara, dan anemia dapat terjadi selama terapi
berlangsung. Efek teratogenik pada rifampisin patut diwaspadai, karena obat ini dapat
menembus sawar uri sehingga lebih baik menghindari penggunaan obat ini selama masa
kehamilan.

2.1.8.3.Etambutol
Hampir semua golongan M. Tb daan M. Kansaasii sensitif terhadap Etambutol.
Etambutol tidak aktif untuk kuman lain. Obat ini menekan pertumbuhan M. Tb yang telah
resisten terhadap isoniazid dan rifampisin. Kerjanya menghambat sintesis metabolik sel
sehingga metabolisme sel terhambat dan mati. Karena itu obat ini hanya aktif terhadap sel
yang tumbuh. Efektifitas pada hewan sama dengan isoniazid. Pada etambutol, resistensi nya
hampir tidak dapat terjadi, kecuali bila etambutol digunakan sebagai obat tunggal.
Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian.
Etambutol tidak dapat menembus sawar darah otak, tetapi pada meningitis tuberkulosa dapat
ditemukan kadar terapi dalam cairan otak.
Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Dosis harian sebesar 15 mg/kgBB
menimbulkan efek toksik yang minimal. Pada dosis ini kurang dari 2% pasien akan
mengalami efek samping yaitu penurunan ketajaman pengelihatan, ruam kulit dan demam.
Efek samping lain ialah pruritus, nyeri sendi, ganguan saluran pencernaan, malaise, sakit
kepala, pening, bingung, disorientasi bahkan mungkin halusinasi.
Efek samping yang paling penting adalah gangguan pengelihatan, biasanya bilateral.
Hal ini merupakan gangguan pada neuro retrobulbar yaitu berupa turunnya tajam
pengelihatan, hilangnya kemampuan membedakan warna, mengecilnya lapang pandang, dan
skotoma sentral maupun lateral. Insidens efek samping ini makin tinggi sesuai dengan
peningkatan dosis, tetapi bersifat sementara dan dapat pulih kembali. Dengan dosis 15
mg/kgBB tidak diperlukan pemeriksaan oftamologi berkala, tetapi pasien harus diingatkan
untuk melaporkan setiap perubahan pengelihatan selama penggunaan etambutol. Bila ada
keluhan pengelihatan kabur, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lengkap. Bila pasien sudah
menderita kelainan mata sebelum menggunakan etambutol, perlu dilakukan pemeriksaan
sebelum terapi dimulai.

2.1.8.4.Pirazinamid
Pirazinamid mudah diserap di usus dan tersebar luas ke seluruh tubuh. Ekkresinya
terutama melalui filtrasi glomerulus. Asam pirazinoat aktif kemudian mengalami hidroksilasi
menjadi asam hidropirazinoat yang merupakan metabolit utama. Masa paruh eliminasi obat
ini adalah 10-16 jam.
Efek samping paling umum dan serius adalah kelainan hati. Bila pirazinamid
diberikan dengan dosis 3g perhari, gejala pertama adalah peningkatan SGOT dan SGPT.
Perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati sebelum pengobatan dengan pirazinamid dimulai,
dan pemantauan terhadap transaminase serum dilakukan secara berkala selama pengobatan
berlangsung. Pirazinamid tidak boleh diberikan kepada pasien dengan kelainan fungsi hati.
Karena obat ini dapat menghambat eksresi asam urat dan dapat meyebabkan kambuhnya
penyakit. Efek samping lain adalah artalgia, anoreksia, mual dan muntah. (Yati Istiantoro dan
Rianto Setiabudy.2007)
2.1.8.5 Streptomisin
Streptomisin adalah OAT pertama yang dinilai efektif, namun sebagai obat tunggal,
bukan obat ideal. Streptomisin bersifat bakteriostatik dan bakterisid terhadap M. Tb. Makin
lama terapi dengan streptomisin berlangsung, maka makin meningkat resistensinya. Pada
beberapa pasien, resistensi ini terjadi dalam 1 bulan. Setelah 4 bulan, 80% M. Tb tidak
sensitif lagi. Penggunaan streptomisin bersamaan dengan OAT lain menghambat terjadinya
resistensi.
Setelah diserap dari tempat suntikan, hampir semua streptomisin masuk ke dalam
eritrosit. Streptomisin kemudian menyebar ke seluruh cairan ekstrasel. Streptomisin
diseksresi melalui filtrasi glomerulus. Masa paruh obat ini pada orang dewasa normal antara
2-3 jam, dan dapat memanjang pada gagal ginjal. Otoksitas lebih sering terjadi pada pasien
yang fungsi ginjalnya terganggu.

Umumnya streptomisin dapat diterima dengan baik. Kadang terjadi sakit kepala
sebentar atau malaise. Parastesi di muka atau di mulut serta rasa kesemutan di tangan kadang
terjadi pada sebagian orang. Streptomisin bersifat neurotoksin pada saraf kranial ke VII, bila
diberikan pada dosis besar dan jangka lama. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan
audiometrik basal dan berkala pada mereka yang mendapatkan streptomisin.
Ototoksisitas dan nefrotoksisitas sangat tinggi kejadiannya pada kelompok usia di atas
65 tahun. Oleh karena itu, obat ini tidak boleh diberikan pada kelompok usia tersebut.
Pemberian obat pada trimester pertama kehamilan tidak dianjurkan. Selain itu, dosis total
tidak boleh melebihi 20 gram dalam 5 bulan terakhir kehamilan untuk mencegah ketulian
pada bayi. (Yati Istiantoro dan Rianto Setiabudy.2007)
Menurut panduan WHO, regimen pengobatan TB terdiri atas 2 fase, yaitu fase awal
(initial phase) dan fase lanjutan (continoum phase). Regimen ini ditulis dengan kode baku.
Angka di depan satu fase menunjukkan jangka waktu pengobatan fase tersebut dalam bulan.
Huruf menunjukkan nama obat, dan angka di samping bawah huruf menunjukkan frekuensi
pemberian obat per minggu. Kalau tidak ada angka di belakang/di samping bawah huruf,
menunjukkan pemberian obat setiap hari/minggu. Contohnya panduan 2HRZ/2H3R3 berarti
selama dua bulan diberikan setiap hari Isoniazid 300 mg, rifampisin 450 mg, dan pirazinamid
1500 mg, disusul kemudian isoniazid 600 dan rifampisin 450 diberikan 3 kali seminggu
selama dua bulan. (Yati Istiantoro dan Rianto Setiabudy.2007)

2.1.8.6 Panduan pemberian Obat Anti Tuberkulosis


Panduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kategori 1 dan kategori 2 disediakan dalam
bentuk paket berupa obat Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak
sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari

kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan
pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
1. Panduan OAT untuk pasien yang termasuk kategori I
a. Pasien baru TB paru BTA positif.
b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
c. Pasien TB ekstra paru
Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 1 adalah: 2(HRZE)/4(HR)3
(tabel 1).
Tabel 1. Dosis paduan OAT Kategori I

Berat badan

Tahap Intensif tiap hari


selama 56 hari RHZE
(150/75/400/275)

Tahap lanjutan 3kali


seminggu selama 16
minggu RH(150/50)

30 37 kg
2 tablet 4KDT
38 54 kg
3 tablet 4KDT
55 70 kg
4 tablet 4KDT
71 kg
5 tablet 4KDT
Sumber: KEMENKES RI.2009

2 tablet 2KDT
3 tablet 2KDT
4 tablet 2KDT
5 tablet 2KDT

2. Panduan OAT untuk pasien yang termasuk kategori 2


Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
a. Pasien kambuh
b. Pasien gagal
c. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 2: 2(HRZE)S/(HRZE)/
5(HR)3E3 (tabel 2)
Tabel 2. Dosis paduan OAT Kategori 2

Sumber:
Tahap Intensif
tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S

Berat
Badan

Selama 56 hari
30-37 kg
38-54 kg
55-70 kg
71 kg

2 tab 4KDT
+ 500mg Streptomisin
Inj.
3 tab 4KDT
+ 750mg Streptomisin
Inj.
4 tab 4KDT
+ 1000mg Streptomisin
Inj.
5 tab 4KDT
+ 1000mg Streptomisin
Inj.

Selama 28
hari
2 tab 4KDT
3 tab 4KDT
4 tab 4KDT
5 tab 4KDT

Tahap
Lanjutan
3
kali seminggu
RH (150/150)
+ E (400)
selama 20
minggu
2 tab 4KDT
+ 2 tab
Etambutol
3 tab 4KDT
+ 3 tab
Etambutol
4 tab 4KDT
+ 4tab
Etambutol
5 tab 4KDT
+ 5 tab
Etambutol

KEMENKES RI.2009
3. OAT Sisipan (HRZE)
Panduan OAT ini diberikan kepada pasien BTA positif yang pada akhir pengobatan
intensif BTA nya masih tetap positif. Paket sisipan KDT sama seperti paduan paket untuk
tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari) (tabel 3).
Tabel 3. Dosis KDT Sisipan : (HRZE)
Berat
Badan

Tahap Intensif tiap hari selama 28


hari RHZE

30-37 kg
38-54kg
55-70kg
>71kg

2 tablet 4KDT
3 tablet 4KDT
4 tablet 4KDT
5 tablet 4KDT

Sumber: KEMENKES RI.2009

2.1.9 Pencegahan TB

Dari beberapa peneliti diketahui bahwa vaksinasi BCG yang telah dilakukan pada
anak-anak selama ini hanya memberikan daya proteksi sebagian saja, yakni 20-80%. Tetapi
sampai sekarang vaksinasi BCG masih tetap dipakai karena dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya TB berat (meningitis, TB millier, dll) dan TB ekstra paru lainnya. (Amin.2010)
2.1.10 Komplikasi TB
Komplikasi dini yang terjadi adalah pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis.
Sedangan komplikasi lanjut biasanya terjadi pada TB berat yang sudah menyebar ke organ
tubuh, seperti obstruksi pada jalan nafas, kerusakan parenkim berat, fibrosis paru dan
sindrom gagal nafas dewasa. (Amin.2010)

DAFTAR PUSTAKA
Istiantoro, Y.H & Setiabudy, R., 2011. Bab Antimikroba: Tuberkulosis dan Leprostatik.
Jakarta, edisi 5, p.613-637. Jakarta: Departmen Farmakologi dan Terapuetik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Lam, K.Y & Yung, C.L. 2001. A critical examination of adrenal tuberculosis and a 28 year
autopsy experience of active tuberculosis. Clincia endrocinology 54:633-639
Rab, H.T. 2012. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Trans Info Media
Sherwood, L. 2007. Human Physiology: From Cells to Systems. Cengange Learning Asia Pte
Ltd. Singapore. Terjemahan Brahm U.P (2011). Fisiologi Manusia: Dari Sel ke
Sistem. Edisi 6. Cetakan 2012. Jakarta:EGC
Zulkifli, A. 2009. Bab Pulmonologi: Tuberkulosis Paru, edisi 3, p.2230-2237, dalam Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing