Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tantangan konservasi hutan di Indonesia semakin kompleks, tidak saja
oleh permasalahan manajemen teknis, melainkan juga adanya berbagai tuntutan
pengembangan perekonomian daerah serta makin tingginya kesenjangan sosial
ekonomi masyarakat sekitar hutan. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan
tuntutan pertumbuhan ekonomi nasional, tekanan terhadap sumber daya hutan
makin meningkat, ditandai dengan masih tingginya tingkat deforestasi, yaitu
diperkirakan Indonesia kehilangan hutan seluas 15,8 juta hektar antara tahun
2000-2012, disebabkan sebagian besar oleh kebakaran hutan, alih fungsi hutan,
dan ilegal logging (Hansen et.al, 2013). Salah satu upaya pemerintah untuk
mencegah semakin tingginya deforestasi adalah dengan menetapkan kawasankawasan konservasi yang diharapkan menjadi benteng pertahanan bagi kelestarian
ekosistem sumber daya hutan (Marsono, 2008).
Data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen
PHKA) tahun 2007 menyebutkan bahwa Pemerintah Indonesia telah menetapkan
535 lokasi kawasan konservasi dengan luas 28.260.150,56 hektar, terdiri dari
Kawasan Suaka Alam (KSA) meliputi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, dan
Kawasan Pelestarian Alam (KPA) meliputi Taman Nasional, Taman Wisata
Alam, Taman Hutan Raya dan Taman Buru. Saat ini, taman nasional merupakan
jenis kawasan konservasi yang mempunyai persentase luas paling besar yaitu
mencapai 57,9 % (16.375.251,31 Ha) dengan jumlah 50 taman nasional.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), taman


nasional merupakan Protected Area dengan kategori II yang pengelolaannya
ditujukan untuk melindungi fungsi ekosistem secara keseluruhan, dikelola dengan
sistem zonasi yang memungkinkannya terdapat pemanfaatan sumber daya alam
dan untuk tujuan rekreasi alam terbatas. Aturan pengelolaan taman nasional tidak
setegas Strict Nature Reserve (Kategori Ia IUCN) ataupun Wilderness Area
(Kategori Ib IUCN) karena pada taman nasional masih diperbolehkan ada campur
tangan manusia terutama pada pembangunan infrastruktur dan kunjungan wisata
alam pada zona pemanfaatan (Dudley(ed), 2008). Sementara itu Peraturan
Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2011 menyebutkan bahwa
taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli,
dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Pada Pasal 35 PP No: 28 tahun 2011 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa taman
nasional dapat dimanfaatkan untuk: penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan;

pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam;

penyimpanan dan/atau penyerapan karbon; pemanfaatan air serta energi air, panas,
dan angin serta wisata alam; pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar; pemanfaatan
sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya; dan pemanfaatan tradisional
oleh masyarakat setempat. Pemanfaatan tradisional dapat berupa kegiatan
pemungutan hasil hutan bukan kayu, budidaya tradisional, serta perburuan
tradisional terbatas untuk jenis yang tidak dilindungi.
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas 15.500 Ha
merupakan salah satu dari 16 taman nasional yang ditetapkan pada tahun 2004

melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor 424/Menhut-II/2004


tanggal 19 Oktober 2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung
Gunung Ciremai menjadi Taman Nasional. Pertimbangan penetapannya seperti
tertuang dalam SK tersebut adalah bahwa:
a.

Kawasan hutan lindung tersebut merupakan ekosistem yang relatif masih


utuh dengan tipe hutan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, dan hutan
pegunungan yang diantaranya memiliki vegetasi hutan alam primer.

b.

Kawasan hutan lindung tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi


berupa flora langka dan endemik, jenis satwa langka dan berbagai jenis
burung yang dilindungi.

c.

Kawasan hutan tersebut selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi,


merupakan daerah resapan air bagi kawasan di bawahnya dan beberapa
sungai penting di Kabupaten Kuningan, Majalengka dan Cirebon serta
sumber mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, pertanian,
perikanan, suplai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan industri,
memiliki potensi ekowisata, potensi untuk penelitian dan pendidikan, situs
budaya, dan bangunan bersejarah, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan.
Pertimbangan yang digunakan sebagai dasar penetapan kawasan Gunung

Ciremai sebagai taman nasional tersebut secara konseptual sudah memenuhi


kriteria dinilai dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial, akan

tetapi sejak

penetapannya, masih terdapat pertentangan dengan masyarakat dan beberapa


pemangku kepentingan karena ada kekhawatiran akan tertutupnya akses terhadap
kawasan Gunung Ciremai. Hingga tahun 2010 masih terdapat pemanfaatan lahan
dalam kawasan dengan pola pemanfaatan budidaya tanaman pertanian yang dapat

menimbulkan kerusakan daerah tangkapan air dan makin luasnya lahan kritis
akibat perambahan lahan pertanian dan perkebunan serta bekas kebakaran (seluas
3500 hektar atau 23 % dari luas TNGC pada tahun 2009). Praktek-praktek ilegal
juga masih ditemukan di kawasan TNGC, seperti pembalakan liar, penambangan
galian C, dan perburuan satwa liar (BTNGC, 2010).
Ketika kawasan masih menjadi hutan produksi yang dikelola Perum
Perhutani, pada tahun 2001 dikembangkan sistem Pengelolaan Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) yaitu sistem kolaborasi tanggung jawab dan tugas di antara
berbagai pihak. Pada masa itu terdapat ruang partisipasi masyarakat yang cukup
besar dalam kegiatan pengelolaan hutan. Masyarakat setempat dapat melakukan
usaha budidaya perkebunan, buah-buahan dan sayuran di bawah tegakan, dengan
pembagian keuntungan: 60 % penggarap, 20 % Perum Perhutani, 10 % Desa, dan
10 % pemerintah daerah (Mufrizal, 2009). Dengan perubahan fungsi menjadi
taman nasional maka aturan-aturan baru yang berlandaskan kaidah konservasi
ditetapkan, sehingga tidak diperbolehkan lagi adanya kegiatan penggarapan lahan
untuk pertanian di dalam kawasan, pemungutan hasil hutan baik kayu ataupun
bukan kayu, serta perburuan. Pemanfaatan taman nasional hanya dibatasi pada
pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata terbatas pada zona pemanfaatan.
Berdasarkan data penyerahan berkas PHBM dari Perum Perhutani kepada
Balai TNGC tahun 2005 tercatat 2.949 Kepala Keluarga (KK) dari 24.475 KK
(12,04%) di Kabupaten Kuningan yang memanfaatkan lahan TNGC untuk
kegiatan pertanian/perkebunan. Sementara itu berdasarkan laporan pelaksanaan
kegiatan monitoring pemanfaatan lahan PHBM di 2 Resort TNGC tahun 2008
tercatat 1.017 KK dari 4.015 KK (25,33 %) yang berada di Resort Argalingga

Kabupaten Majalengka merupakan penggarap lahan PHBM, sedangkan di Resort


Darma Kabupaten Kuningan tercatat 1024 KK dari 3595 KK (28,49%)
merupakan penggarap lahan PHBM dengan penghasilan berkisar dari Rp150.000,hingga Rp1.000.000,- per musim panen. Angka-angka tersebut menunjukkan
bahwa tingkat ketergantungan masyarakat desa sekitar terhadap kawasan taman
nasional masih cukup tinggi.
Dalam upaya menangani konflik dengan petani yang menjadi anggota
PHBM, pada awal pengelolaan oleh Balai TNGC, lahan tersebut dialihnamakan
menjadi lahan Pengelolaan Kawasan Konservasi Bersama Masyarakat (PKKBM)
sebagai tindak lanjut Surat Dirjen PHKA No. S.56/KK-I/2006 tanggal 26 Januari
2006, dengan menyediakan lahan seluas 2.000 hektar di dalam kawasan untuk
digarap oleh 2.500 bekas anggota PHBM. Pola pemanfaatan yang dilaksanakan
hampir sama yaitu sistem tumpangsari dari beberapa jenis palawija dan sayuran
seperti Bawang, Kol, Kentang, Wortel serta tanaman Multi Purposes Tree Species
(MPTS) seperti Kesemek, Kemiri, dan Picung.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar TNGC yang memiliki
ketergantungan terhadap lahan pertanian dengan luas kepemilikan lahan garapan
tergolong rendah yaitu rata-rata kurang dari 0,3 ha memungkinkan mereka untuk
melakukan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam TNGC yang tidak sesuai
dengan kaidah-kaidah konservasi alam, seperti perambahan hutan, pencurian kayu
dan bukan kayu, serta perburuan satwa, yang berakibat makin meningkatnya
jumlah lahan kritis dalam kawasan TNGC. Program-program pengembangan
untuk desa-desa sekitar TNGC yang selama ini dilakukan oleh berbagai pihak
dinilai belum optimal dan belum mampu untuk membentuk masyarakat menjadi

berdaya dan mandiri dengan pengetahuan, keterampilan dan bantuan-bantuan


yang telah diperolehnya. Masyarakat sekitar taman nasional harus dilibatkan
secara optimal dalam upaya mengelola taman nasional, agar mereka mempunyai
rasa memiliki untuk ikut melindungi kawasan taman nasional dengan memperoleh
manfaat yang dapat menopang kehidupan mereka, karena sebagaimana dinyatakan
beberapa antropolog seperti Geertz (Subaktini, 2006) bahwa perilaku manusia
dalam memperlakukan alam lingkungannya banyak dipengaruhi oleh aspek sosial
ekonomi dan budaya. Munasinghe (1993) menyebutkan bahwa keseimbangan
ekosistem,

ekonomi

dan sosial

menjadi

elemen-elemen penting untuk

mewujudkan kelestarian lingkungan, ketika salah satu elemen tersebut tidak ada,
maka akan terjadi ketidakseimbangan lingkungan.
Beragamnya potensi yang dimiliki TNGC seperti obyek-obyek daya tarik
wisata alam berupa air terjun, keanekaragaman flora dan fauna, jalur-jalur
pendakian, dan kondisi bentang alamnya serta sumber-sumber mata air dan
kondisi

tanah

yang

subur

memungkinkan

untuk

dapat

dikembangkan

pemanfaatannya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mendukung


upaya pelestarian kawasan taman nasional. Berdasarkan hal tersebut, maka masih
diperlukan upaya pengembangan pemanfaatan sumber daya alam TNGC yang
tepat dan sesuai dengan potensi yang dimiliki melalui kegiatan-kegiatan yang
dapat mengikutsertakan seluruh stakeholders untuk dapat meningkatkan kondisi
sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan dan memelihara kelestarian TNGC.

B. Perumusan Masalah
Perubahan fungsi kawasan Gunung Ciremai dari fungsi lindung menjadi
taman nasional adalah berdasarkan kekhawatiran akan makin rusaknya sumber

daya alam yang berada dalam kawasan Gunung Ciremai, terutama potensi sumber
mata air yang selama ini memberikan kontribusi besar kepada pendapatan asli
daerah. Konsekuensi dari perubahan fungsi ini menghasilkan beragam perubahan
di dalam pengelolaannya. Dampak perubahan pengelolaan kawasan menjadi
taman nasional terhadap kehidupan masyarakat sekitar TNGC sangat besar
terutama karena pada kawasan tersebut sudah lama berjalan program-program
pemberdayaan masyarakat seperti halnya PHBM yang dibentuk oleh Perum
Perhutani.

Pengelolaan taman nasional yang bertujuan melindungi sistem

penyangga kehidupan, mengawetkan

keanekaragaman tumbuhan dan satwa

beserta ekosistemnya, serta memanfaatkan secara lestari sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya, secara tegas melarang pemanfaatan lahan dalam kawasan
apalagi bila dilihat dari hukum peraturan perundangan yang memayunginya
seperti UU Nomor 5 tahun 1990 pasal 33 ayat (1), (2), dan (3). Sejak
pembentukannya, terjadi dilema bagi pengelola TNGC, di satu sisi ingin
memberhentikan kegiatan perambahan lahan untuk menjaga kelestarian TNGC,
tetapi di sisi lain juga tidak bisa serta merta menghilangkan kegiatan masyarakat
dalam kawasan yang sudah sejak lama dilakukan, karena akan menimbulkan
konflik sosial yang sangat besar.
Keberadaan

suatu kawasan konservasi

tentunya harus mendapat

penerimaan masyarakat untuk mendukung pengelolaannya.

Apa yang sudah

terjadi pada kawasan tersebut sejak sebelum dijadikan kawasan konservasi


tentunya harus secara perlahan ditangani sehingga masyarakat lambat laun
menyadari betapa pentingnya keberadaan kawasan konservasi. Upaya dari pihak
pengelola untuk penanganan konflik dengan masyarakat bekas anggota PHBM

sampai dengan saat ini masih menemui banyak hambatan, walaupun sudah ada
kesediaan sebagian masyarakat untuk meninggalkan lahan garapan dalam
kawasan, akan tetapi masih ada tuntutan-tuntutan yang masih harus dipenuhi,
diantaranya adalah disediakannya alternatif kegiatan mata pencaharian lainnya
dan ijin pengambilan buah-buahan dari dalam kawasan.
Meningkatnya konflik di antara stakeholders mengharuskan pengelola
TNGC untuk mempersiapkan sistem kolaborasi pengelolaan taman nasional.
Sesuai aturan yang tertuang pada Permenhut Nomor:P.19/Menhut-II/2004, bahwa
untuk melakukan kolaborasi diperlukan langkah-langkah persiapan diantaranya
melakukan inventarisasi dan identifikasi jenis kegiatan pengelolaan yang akan
dikolaborasikan, dengan berpedoman pada ketentuan bahwa kolaborasi ini tidak
merubah status kawasan dan dilakukan sesuai peraturan yang berlaku. Kolaborasi
ini diselenggarakan semata-mata untuk menunjang efektivitas pengelolaan taman
nasional. Kolaborasi pengelolaan taman nasional merupakan salah satu cara
mensinergikan semua unsur pemangku kepentingan, dengan tetap menjunjung
tinggi nilai substansial konservasi sumber daya alam.
Sebagai suatu ekosistem, kawasan taman nasional memiliki banyak
potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan untuk mendukung
efektivitas pengelolaan taman nasional.

Marsono (2004) menyatakan bahwa

pelaksanaan konservasi sumber daya alam berjalan baik apabila sumber daya alam
tersebut dikenali dan difahami secara memadai. Selain mengenali potensi sumber
daya alam, dalam pengelolaan taman nasional diperlukan pemahaman akan
interaksi masyarakat lokal dengan sumber daya alam, karena seiring dengan
waktu, pengelolaan taman nasional tidak bisa terlepas dari adanya konflik-konflik

sosial yang berakar dari adanya interaksi antara manusia dan sumber daya alam
taman nasional tersebut. Dengan demikian maka peran masyarakat lokal terhadap
pengelolaan sumber daya alam yang berada dalam taman nasional sangat perlu
dipertimbangkan, terutama di dalam rangka mencapai tujuan pemanfaatan taman
nasional yang harus mampu melindungi ekosistem taman nasional dan mampu
memberikan manfaat sosial ekonomi kepada masyarakat lokal.
Pemanfaatan sumber daya alam oleh berbagai pihak yang berkepentingan
di TNGC selama ini belum dipayungi oleh peraturan dan rambu-rambu yang
memadai, sehingga pemanfaatannya bisa tidak terbatas, yang pada akhirnya dapat
mengancam kelestarian TNGC.

Pada pengelolaan taman nasional, zonasi

merupakan langkah penting dalam menerapkan rambu-rambu pemanfaatan


sumber daya alam taman nasional. Pemanfaatan yang telah terjadi sejak sebelum
kawasan ditetapkan sebagai taman nasional sebaiknya dievaluasi dan makna
pemanfaatan dalam pengelolaan taman nasional saat sekarang adalah bukan untuk
menambah jumlah pemanfaatan karena dorongan sosial ekonomi yang tinggi,
akan tetapi bagaimana mengoptimalkan pemanfaatan yang memungkinkan
dilakukan dalam kawasan taman nasional, sehingga dapat memadukan aspek
perlindungan ekologis dan kepentingan sosial ekonomi.
Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini diajukan pertanyaan sebagai
berikut:
1.

Bagaimana potensi sumber daya alam TNGC dimanfaatkan, dan sejauhmana


dampak pemanfaatannya bagi berbagai pihak yang berkepentingan?

2.

Apa keinginan masyarakat dan stakeholders lainnya untuk pengembangan


pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC?

3.

Sistem pengelolaan seperti apa yang dapat dilakukan untuk kegiatan


pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya alam di TNGC?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian

bertujuan

merumuskan

model

sistem

pengembangan

pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC yang mampu memadukan


kepentingan pengelola dan masyarakat, serta kepentingan pelestarian sumber daya
alam dan ekosistem. Secara rinci, penelitian ini bertujuan untuk:
1.

Mengidentifikasi pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC dan sejauh


mana dampak pemanfaatannya bagi berbagai pihak yang berkepentingan.

2.

Mengidentifikasi keinginan masyarakat dan stakeholders lainnya untuk


pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC.

3.

Merumuskan model sistem pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya


alam TNGC.

D. Keaslian Penelitian
Penelitian-penelitian tentang pemanfaatan sumber daya alam taman
nasional oleh masyarakat sudah banyak dilakukan, akan tetapi berdasarkan hasil
telaahan beberapa jurnal dari penelitian-penelitian terdahulu, belum banyak
ditemukan model pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya alam di dalam
kawasan taman nasional dengan pendekatan analisis sistem dinamik. Hal ini juga
berkaitan dengan aturan pengelolaan taman nasional dimana pemanfaatannya
terbatas pada kegiatan wisata alam, pengelolaan jasa lingkungan, dan kepentingan
penelitian dan pendidikan. Beberapa penelitian di zona pemanfaatan taman
nasional terfokus kepada aktivitas ekowisata dan sebagian besar penelitian

10

dilakukan di kawasan penyangga yang memungkinkan lebih banyak alternatif


variasi pengembangannya, seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa penelitian di taman nasional


Tahun
2002

Peneliti
Endang
Nugraheni/ Tesis
MSi IPB

2007

Wiwik Sri
Wahyuni/
Tesis MSc UGM

2007

Jess Jogersen/
Thesis MSc
Forestry at The
Royal Veterinary
& Agricultural
Univ.Copenhagen
Sudhiani Pratiwi/
Disertasi IPB

2008

2008

Abdullah Mohd/
Thesis MSc
Forestry at
University of
Putra Malaysia

2009

L. Sukardi/
Disertasi IPB

2010

Moh. Haryono/
Disertasi IPB

Judul
Sistem
Pengelolaan
Ekowisata
Berbasis
Masyarakat di
Taman Nasional:
Studi kasus di TN
Gn Halimun
Kajian
Pengembangan
Ekowisata
Berbasis
Masyarakat di TN
Wasur
Community Based
Natural Resources
Management in
Malawi: A Case
study of Thuma
Forest Reserve
Analisis
Ekowisata di TN
Gunung Halimun

The Management
of Bhawal
National Park
Bangladesh By
The Local
Community For
Resource
Protection and
Ecotourism
Desain Model
Pemberdayaan
Masyarakat Lokal
Dalam
Pengelolaan
Hutan
Berkelanjutan:
Kasus Masy
sekitar Kawasan
TN Gn Rinjani
Pulau Lombok
Model
Pengembangan
pengelolaan TN
scr terintegrasi:
Studi Kasus
Pengelolaan
Berbasis
Ekowisata di TN
Bukit 30 Prop.
Riau dan Jambi

Metode
Pendekatan
deskriptif

Hasil Penelitian
Pengelolaan ekowisata berbasis potensi
masyarakat setempat dapat dijadikan sebagai
pola sistem pengelolaan ekowisata yang
lestari.

Pendekatan
deskriptif,
analisis SWOT

Lebih dari 90 % persepsi masyarakat


mendukung
pengembangan
ekowisata,
bentuknya: kesamaan persepsi, perencanaan
strategi, peningkatan SDM, pembenahan
kelembagaan, promosi dan pemasaran,
jaminan hukum yang intensif dan terpadu.
Tekanan yang lebih tinggi terhadap
pemanfaatan sumber daya alam terlihat pada
wilayah yang memiliki kepadatan penduduk
lebih tinggi. Inisiatif untuk melibatkan
masyarakat harus konsisten dengan rencana
pengelolaan kawasan secara menyeluruh.
Pengelolaan ekowisata belum memenuhi 5
kriteria kecukupan ekowisata, dimana
pemahaman dan partisipasi masyarakat masih
rendah, belum optimalnya pemenuhan kriteria
ekonomi, kebijakan masih didominasi
pemerintah
pusat
padahal
ekowisata
menekankan partisipasi aktif aktor lokal.
Persepsi masyarakat terhadap peranan Taman
Nasional meningkat secara signifikan jika
mata pencaharian mereka secara langsung
bergantung pada baik/tidaknya kondisi TN.
Pengelola perlu menemukan ide untuk
memotivasi masyarakat lokal untuk lebih
proaktif dan inovatif dalam menjalankan
aktivitas dan perlindungan SDA.

Descriptive
analysis

Pendekatan
Kualitatif, uji
validitas Face
V, teknik
triangulasi,
feedback & rich
data
Exploratory
Descriptive
analysis,
Descriptive
statistic

Pendekatan
kualitatif
kuantitatif,
deskriptif,
Skoring Skala
Likert, AHP.

Analisis Spasial
Analisis Supply
&Demand
Analisis SWOT
+AHP
Analisis Sistem
Dinamik
dengan
STELLA 9.02

Model yang dibangun adalah yang dapat


menjamin
keharmonisan
masy-TNGR.
Bentuknya a.l.: arboretum terpadu, pendakian,
hutan kompensasi, hutan keluarga, ternak
sapi, usaha kecil HHBK. Terdapat
kecenderungan partisipasi masyarakat dalam
pelestarian meningkat ketika pendapatan
meningkat.Tahapan pemberdayaan dimulai
dengan penyadaran kemudian peningkatan
kapasitas dan praktek pemberdayaan dengan
input biofisik TNGR, lahan milik dan
infrastruktur.
Pengelolaan TN Bukit 30 belum terintegrasi
dengan pengembangan daerah penyangga dan
pembangunan wilayah. Perlu dilakukan
pengembangan ekowisata terintegrasi dengan
skenario optimistis sehingga pendapatan masy
dari 149 jt menjadi 10 M per tahun, dan
pendapatan pemerintah dari 3 jt menjadi 211
jt per tahun

11

E. Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat menghasilkan masukan ilmiah terhadap
pengelolaan taman nasional, yaitu berupa:
1. Deskripsi pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC dan dampak
pemanfaatannya bagi berbagai pihak yang berkepentingan, sehingga menjadi
input bagi kegiatan pengelolaan TNGC.
2. Analisis keinginan masyarakat dan stakeholders lainnya untuk pengembangan
pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC, penting untuk dipertimbangkan
bagi arah kebijakan pengelolaan TNGC, dan mendukung visi TNGC yang
memegang prinsip kelestarian dan kolaborasi berbasis pemberdayaan
masyarakat.
3. Model pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC, yang
memadukan aspek ekologi, ekonomi dan sosial, serta mampu memadukan
kepentingan pemerintah dan masyarakat. Model tersebut diharapkan dapat
menjadi sumbangan ilmu pengetahuan bagi pengelolaan taman nasional.

12