Anda di halaman 1dari 22

BELLS PALSY

Disusun oleh :
JULIA
1102010137
Kepaniteraan Klinik Neurologi

Pembimbing :
Dr. Donny H Hamid Sp.S

SMF NEUROLOGI
RSUD PASAR REBO JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
Januari 2015

PENDAHULUAN
Bells palsy merupakan salah satu gangguan neurologik yang paling sering
mempengaruhi nervus cranialis. Gangguan ini berupa paresis atau paralisis fasial perifer
yang terjadi tiba-tiba, bersifat unilateral tanpa penyebab yang jelas. Sindroma paralisis
fasial idiopatik ini pertama kali dijelaskan lebih dari satu abad yang lalu oleh Sir Charles
Bell, meskipun masih banyak kontroversi mengenai etiologi dan penatalaksanaannya,
Bells palsy merupakan penyebab paralisis fasial yang paling sering di dunia.1
Insidensi Bells palsy di Amerika Serikat adalah sekitar 23 kasus per 100.000
orang. Insiden Bells palsy tampak cukup tinggi pada orang-orang keturunan Jepang, dan
tidak ada perbedaan distribusi jenis kelamin pada pasien-pasien dengan Bells palsy. Usia
mempengaruhi probabilitas kontraksi Bells palsy. Insiden paling tinggi pada orang
dengan usia antara 15-45 tahun. Bells palsy lebih jarang pada orang-orang yang berusia
di bawah 15 tahun dan yang berusia di atas 60 tahun.1
Pada sebagian besar penderita Bells Palsy kelumpuhannya dapat menyembuh,
namun pada beberapa diantara mereka kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan
gejala sisa. Gejala sisa ini berupa kontraktur, dan spasme spontan. Permasalahan yang
ditimbulkan Bells palsy cukup kompleks, diantaranya masalah fungsional, kosmetika dan
psikologis sehingga dapat merugikan tugas profesi penderita, permasalahan kapasitas
fisik (impairment) antara lain berupa asimetris wajah, rasa kaku dan tebal pada wajah sisi
lesi, penurunan kekuatan otot wajah pada sisi lesi, potensial terjadi kontraktur dan
perlengketan jaringan, potensial terjadi iritasi pada mata sisi lesi. 1,2

Bells Palsy
Definisi
Kelumpuhan wajah adalah suatu bentuk kecacatan yang memberikan dampak yang kuat
pada seseorang. Kelumpuhan nervus facialis dapat disebabkan oleh bawaan lahir (kongenital),
neoplasma, trauma, infeksi, paparan toksik ataupun penyebab iatrogenik. Yang paling sering
menyebabkan kelumpuhan unilateral pada wajah adalah Bells palsy. Bells palsy ditemukan oleh
dokter dari inggris yang bernama Charles Bell. Bells palsy didefinisikan sebagai suatu keadaan
paresis atau kelumpuhan yang akut dan idiopatik akibat disfungsi nervus facialis perifer.1

Struktur anatomi
Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :1,3,4
a Serabut somato motorik, yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. levator palpebrae
(N.III), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga
b

tengah
Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior.
Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung, sinus

paranasal, dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.


Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga bagian

depan lidah.
Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus.
Nervus VII terutama terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot
mimik wajah. Komponen sensorisnya kecil, yaitu nervus intermedius Wrisberg yang
mengantarkan rasa pengecapan dari 2/3 bagian anteriort lidah dan sensasi kulit dari
dinding anterior kanalis auditorius eksterna. Serabut-serabut rasa pengecapan pertama-

tama melintasi nervus lingual, yaitu cabang dari nervus mandibularis lalu masuk ke korda
timpani dimana membawa sensasi pengecapan melalui nervus fasialis ke nukleus traktus
solitarius. Serabut-serabut sekretomotor menginervasi kelenjar lakrimal melalui nervus
petrosus superfisial major dan kelenjar sublingual serta kelenjar submaksilar melalui
korda tympani.3,4
Inti motorik nervus VII terletak di ventrolateral nukleus abdusens, dan serabut
nervus fasialis dalam pons sebagian melingkari dan melewati bagian ventrolateral
nukleus abdusens sebelum keluar dari pons di bagian lateral traktus kortikospinal. Karena
posisinya yang berdekatan (jukstaposisi) pada dasar ventrikel IV, maka nervus VI dan VII
dapat terkena bersama-sama oleh lesi vaskuler atau lesi infiltratif. Nervus fasialis masuk
ke meatus akustikus internus bersama dengan nervus akustikus lalu membelok tajam ke
depan dan ke bawah di dekat batas anterior vestibulum telinga dalam. Pada sudut ini
(genu) terletak ganglion sensoris yang disebut genikulatum karena sangat dekat dengan
genu.3,4
Nervus fasialis berjalan melalui kanalis fasialis tepat di bawah ganglion
genikulatum untuk memberikan percabangan ke ganglion pterygopalatina, yaitu nervus
petrosus superfisial major, dan di sebelah yang lebih distal memberi persarafan ke m.
stapedius yang dihubungkan oleh korda timpani. Lalu nervus fasialis keluar dari kranium
melalui foramen stylomastoideus kemudian melintasi kelenjar parotis dan terbagi
menjadi lima cabang yang melayani otot-otot wajah, m. stilomastoideus, platisma dan m.
digastrikus venter posterior.3,4

Gambar 1. Nervus VII 6


Epidemiologi
Bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralisis fasial akut. Di
dunia, insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden terendah
ditemukan di Swedia tahun 1997. Di Amerika Serikat, insiden Bells palsy setiap tahun sekitar
23 kasus per 100.000 orang, 63% mengenai wajah sisi kanan. Insiden Bells palsy rata-rata 1530 kasus per 100.000 populasi. Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi,
dibanding non-diabetes. Bells palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang
sama. Akan tetapi, wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada lakilaki pada kelompok umur yang sama. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun lebih
sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Pada kehamilan trisemester ketiga dan 2 minggu pasca
persalinan kemungkinan timbulnya Bells palsy lebih tinggi daripada wanita tidak hamil,
bahkan bisa mencapai 10 kali lipat.2,3

Etiologi
Diperkirakan, penyebab Bells palsy adalah edema dan iskemia akibat penekanan
(kompresi) pada nervus fasialis. Penyebab edema dan iskemia ini sampai saat ini masih
diperdebatkan. Dulu, paparan suasana atau suhu dingin (misalnya hawa dingin, AC, atau
menyetir mobil dengan jendela yang terbuka) dianggap sebagai satu-satunya pemicu Bells palsy.
Akan tetapi, sekarang mulai diyakini HSV sebagai salh satu penyebab Bells palsy, karena telah
diidentifikasi HSV pada ganglion geniculata pada beberapa penelitian pasien yang dilakukan
otopsi. Murakami et all juga melakukan tes PCR (Polymerase-Chain Reaction) pada cairan
endoneural N.VII penderita Bells palsy berat yang menjalani pembedahan dan menemukan HSV
dalam cairan endoneural. Virus ini diperkirakan dapat berpindah secara axonal dari saraf sensori
dan menempati sel ganglion, pada saat adanya stress, akan terjadi reaktivasi virus yang akan
menyebabkan kerusakan local pada myelin.4,5
Patofisiologi
Para ahli menyebutkan bahwa pada Bells palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus
fasialis di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Bells palsy hampir selalu
terjadi secara unilateral. Patofisiologinya belum jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan
terjadinya proses inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus
fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal.
Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai
bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. Dengan
bentukan kanalis yang unik tersebut, adanya inflamasi, demielinisasi atau iskemik dapat
menyebabkan gangguan dari konduksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis
mendapat gangguan di lintasan supranuklear, nuklear dan infranuklear. Lesi supranuklear bisa

terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan
asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer.4,5
Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi dengan kaca jendela
yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bells palsy. Karena itu nervus
fasialis bisa sembab, terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan
fasialis LMN. Pada lesi LMN bias terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os. petrosum atau
kavum timpani, di foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Lesi di
pons yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis.
Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis
atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN akan timbul
bersamaan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian
depan lidah). Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bells palsy adalah
reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis.
Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit. Pada radang
herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan
kelumpuhan fasialis LMN.4,5,7

Gambar 2. Lesi LMN dan UMN pada N.VII


Kelumpuhan pada Bells palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot wajah
seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak dapat ditutup dan pada
usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut mulut tidak bisa
diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak bisa digerakkan. Karena lagoftalmos,
maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun. Gejala-gejala pengiring
seperti ageusia dan hiperakusis tidak ada karena bagian nervus fasialis yang terjepit di foramen
stilomastoideum sudah tidak mengandung lagi serabut korda timpani dan serabut yang
mensyarafi muskulus stapedius.4,5,8
Gejala Klinis

Kelumpuhan perifer N.VII memberikan ciri yang khas hingga dapat didiagnosa dengan
inspeksi. Otot muka pada sisi yang sakit tak dapat bergerak. Lipatan-lipatan di dahi akan
menghilang dan Nampak seluruh muka sisi yang sakit akan mencong tertarik ke arah sisi yang
sehat. 5

Gambar 3.

Gambaran

Klinis

Bells Palsy

Gejala
pada

kelumpuhan
Bells

Palsy

tergantung

dari

perifer
lokalisasi

kerusakan.4,5.7.8
1. Kerusakan setinggi foramen stilomastoideus. Gejala yang ditemukan :
a. Kelumpuhan otot-otot wajah pada sebelah lesi.
b. Sudut mulut sisi lesi jatuh dan tidak dapat diangkat
c. Makanan berkumpul diantara pipi dan gusi pada sebelah lesi
d. Tidak dapat menutup mata dan mengerutkan kening pada sisi lesi
Kelumpuhan ini adalah berupa tipe flaksid, LMN. Pengecapan dan sekresi air liur masih
baik.
2. Lesi setinggi diantara khorda tympani dengan n.stapedeus (didalam kanalis fasialis).

Gejala: seperti (1) ditambah dengan gangguan pengecapan 2/3 depan lidah dan gangguan
salivasi.
3. Lesi setinggi diantara n.stapedeus dengan ganglion genikulatum.
Gejala: seperti (2) ditambah dengan gangguan pendengaran yaitu hiperakusis.
4. Lesi setinggi ganglion genikulatum.
Gejala: seperti (3) ditambah dengan gangguan sekresi kelenjar hidung dan gangguan
kelenjar air mata (lakrimasi).
5. Lesi di porus akustikus internus.
Gangguan: seperti (d) ditambah dengan gangguan pada N.VIII.
Yang paling sering ditemui ialah kerusakan pada tempat setinggi foramen stilomastoideus dan
pada setinggi ganglion genikulatum. Adapun penyebab yang sering pada kerusakan setinggi
genikulatum adalah : Herpes Zoster, otitis media perforata dan mastoiditis.

Gambar 4. Gambaran klinis Bells Palsy

Gambar 5. Lokasi kerusakan N.VII


Diagnosis
Diagnosis Bells palsy dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisis. Pada pemeriksaan nervus kranialis akan didapatkan adanya parese dari nervus fasialis yang
menyebabkan bibir mencong, tidak dapat memejamkan mata dan adanya rasa nyeri pada telinga.
Hiperakusis dan augesia juga dapat ditemukan. Harus dibedakan antara lesi UMN dan LMN.
Pada Bells palsy lesinya bersifat LMN.
1. Anamnesis.
Hampir semua pasien yang dibawa ke ruang gawat darurat merasa bahwa mereka
menderita stroke atau tumor intrakranial. Hampir semua keluhan yang disampaikan
adalah kelemahan pada salah satu sisi wajah.5,7,8

a. Nyeri postauricular: Hampir 50% pasien menderita nyeri di regio mastoid. Nyeri sering
muncul secara simultan disertai dengan paresis, tetapi paresis muncul dalam 2-3 hari
pada sekitar 25% pasien.
b. Aliran air mata: Dua pertiga pasien mengeluh mengenai aliran air mata mereka. Ini
disebabkan akibat penurunan fungsi orbicularis oculi dalam mengalirkan air mata.
Hanya sedikit air mata yang dapat mengalir hingga saccus lacrimalis dan terjadi
kelebihan cairan. Produksi air mata tidak dipercepat.
c. Perubahan rasa: Hanya sepertiga pasien mengeluh tentang gangguan rasa, empat per
lima pasien menunjukkan penurunan rasa. Hal ini terjadi akibat hanya setengah bagian
lidah yang terlibat.
d. Mata kering.
e. Hyperacusis: kerusakan toleransi pada tingkatan tertentu pada hidung akibat
peningkatan iritabilitas mekanisme neuron sensoris.
2. Pemeriksaan fisik
Gambaran paralisis wajah mudah dikenali pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
yang lengkap dan tepat dapat menyingkirkan kemungkinan penyebab lain paralisis wajah.
Pikirkan etiologi lain jika semua cabang nervus facialis tidak mengalami gangguan.5,7,8
Definisi klasik Bell palsy menjelaskan tentang keterlibatan mononeuron dari nervus
facialis, meskipun nervus cranialis lain juga dapat terlibat. Nervus facialis merupakan
satu-satunya nervus cranialis yang menunjukkan gambaran gangguan pada pemeriksaan
fisik karena perjalanan anatomisnya dari otak ke wajah bagian lateral.5
Kelamahan dan/atau paralisis akibat gangguan pada nervus facialis tampak
sebagai kelemahan seluruh wajah (bagian atas dan bawah) pada sisi yang diserang.
Perhatikan gerakan volunter bagian atas wajah pada sisi yang diserang.5,7
Pada lesi supranuklear seperti stroke kortikal (neuron motorik atas; di atas
nucleus facialis di pons), dimana sepertiga atas wajah mengalami kelemahan dan dua per
tiga bagian bawahnya mengalami paralisis. Musculus orbicularis, frontalis dan

corrugator diinervasi secara bilateral, sehingga dapat dimengerti mengenai pola paralisis
wajah.5,7
Lakukan pemeriksaan nervus cranialis lain: hasil pemeriksaan biasanya normal.
Membran timpani tidak boleh mengalami inflamasi; infeksi yang tampak meningkatkan
kemungkinan adanya otitis media yang mengalami komplikasi.5,7,8
3. Pemeriksaan laboratorium.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis
Bells palsy. Namun pemeriksaan kadar gula darah atau HbA1c dapat dipertimbangkan
untuk mengetahui apakah pasien tersebut menderita diabetes atau tidak. Pemeriksaan
kadar serum HSV juga bisa dilakukan namun ini biasanya tidak dapat menentukan dari
mana virus tersebut berasal.5,7,8
4. Pemeriksaan radiologi.
Bila dari anamneses dan pemeriksaan fisik telah mengarahkan ke diagnose Bells
palsy maka pemeriksaan radiologi tidak diperlukan lagi, karena pasien-pasien dengan
Bells palsy umumnya akan mengalami perbaikan dalam 8-10 minggu. Bila tidak ada
perbaikan ataupun mengalami perburukan, pencitraan mungkin akan membantu. MRI
mungkin dapat menunjukkan adanya tumor (misalnya Schwannoma, hemangioma,
meningioma). Bila pasien memiliki riwayat trauma maka pemeriksaan CT-Scan harus
dilakukan.5,7,8

Diagnosa Banding
Diagnosis banding paralisis fasialis dapat dibagi menurut lokasi lesi sentral dan perifer .
Kelainan sentral dapat merupakan stroke bila disertai kelemahan anggota gerak sisi yang sama
dan ditemukan proses patologis di hemisfer serebri kontralateral; kelainan tumor apabila onset
gradual dan disertai perubahan mental status atau riwayat kanker di bagian tubuh lainnya.

Sklerosis multipel bila disertai kelainan neurologis lain seperti hemiparesis atau neuritis optika
dan trauma bila terdapat fraktur os temporalis pars petrosus, basis kranii, atau terdapat riwayat
trauma sebelumnya.5,7,8
Kelainan perifer yang ditemukan dapat merupakan suatu otitis media supuratif dan
mastoiditis apabila terjadi reaksi radang dalam kavum timpani dan foto mastoid menunjukkan
suatu gambaran infeksi; herpes zoster otikus bila ditemukan adanya tuli perseptif, tampak vesikel
yang terasa amat nyeri di pinna dan/atau pemeriksaan darah menunjukkan kenaikan titer antibodi
virus varicella-zoster, sindroma Guillain-Barre saat ditemukan adanya paresis bilateral dan akut.
Kelainan miastenia gravis jika terdapat tanda patognomonik berupa gangguan gerak mata
kompleks dan kelemahan otot orbikularis okuli bilateral, tumor serebello-pontin (tersering)
apabila disertai kelainan nervus kranialis V dan VIII, tumor kelenjar parotis bila ditemukan
massa di wajah (angulus mandibula) dan sarcoidosis saat ditemukan tanda-tanda febris,
perembesan kelenjar limfe hilus, uveitis, parotitis, eritema nodosa, dan kadang hiperkalsemia.5,7,8

Gambar 6.
Diagnosis
Banding
Penyebab
Kelumpuhan
Wajah
5

Peran

dokter

pelayanan

Penatalaksanaan
umum sebagai lini terdepan
primer berupa

identifikasi

dini

dan merujuk

ke

spesialis saraf
(jika
tersedia) apabila terdapat kelainan lain pada pemeriksaan neurologis yang mengarah pada
penyakit yang menjadi diagnosis banding Bells palsy. Jika tidak tersedia, dokter umum dapat
menentukan terapi selanjutnya setelah menyingkirkan diagnosis banding lain. Terapi yang
diberikan dokter umum dapat berupa kombinasi non-farmakologis dan farmakologis seperti
dijelaskan di bawah ini.5,7,8
Terapi Non-farmakologis
Kornea mata memiliki risiko mengering dan terpapar benda asing. Proteksinya dapat
dilakukan dengan penggunaan air mata buatan (artificial tears), pelumas (saat tidur), kaca mata,
plester mata, penjahitan kelopak mata atas, atau tarsorafi lateral (penjahitan bagian lateral

kelopak mata atas dan bawah). Masase dari otot yang lemah dapat dikerjakan secara halus
dengan mengangkat wajah ke atas dan membuat gerakan melingkar. Tidak terdapat bukti adanya
efektivitas dekompresi melalui pembedahan saraf fasialis, namun tindakan ini kadang dilakukan
pada kasus yang berat dalam 14 hari onset.5,7,8
Rehabilitasi fasial secara komprehensif yang dilakukan dalam empat bulan setelah onset
terbukti memperbaiki fungsi pasien dengan paralisis fasialis.12,13 Namun, diketahui pula bahwa
95% pasien sembuh dengan pengobatan prednisone dan valasiklovir tanpa terapi fisik.
Rehabilitasi fasial meliputi edukasi, pelatihan neuro-muskular, masase, meditasirelaksasi, dan
program pelatihan di rumah. Terdapat empat kategori terapi yang dirancang sesuai dengan
keparahan penyakit, yaitu kategori inisiasi, fasilitasi, kontrol gerakan, dan relaksasi. Kategori
inisiasi ditujukan pada pasien dengan asimetri wajah sedang-berat saat istirahat dan tidak dapat
memulai gerakan pada sisi yang lumpuh. Strategi yang digunakan berupa masase superfisial
disertai latihan gerak yang dibantu secara aktif sebanyak 10 kali yang dilakukan 1-2 set per hari
dan menghindari gerakan wajah berlebih. Sementara itu, kategori fasilitasi ditujukan pada pasien
dengan asimetri wajah ringan-sedang saat istirahat, mampu menginisiasi sedikit gerakan dan
tidak terdapat sinkinesis. Strategi yang digunakan berupa mobilisasi jaringan lunak otot wajah
yang lebih agresif dan reedukasi neuromuscular di depan kaca (feedback visual) dengan
melakukan gerakan ekspresi wajah yang lambat, terkontrol, dan bertahap untuk membentuk
gerakan wajah yang simetris. Latihan ini dilakukan sebanyak minimal 20-40 kali dengan 2-4 set
per hari.5,7,8
Berikutnya adalah kategori kontrol gerakan yang ditujukan pada pasien dengan simetri
wajah ringan-sedang saat istirahat, masih mampu menginisiasi sedikit gerakan, dan terdapat
sinkinesis. Strategi yang digunakan berupa mobilisasi jaringan lunak dalam otot wajah dengan
agresif, reedukasi neuromuskular di depan kaca seperti kategori fasilitasi, namun secara simultan

mengontrol gerakan sinkinesis pada bagian wajah lainnya, dan disertai inisiasi strategi meditasirelaksasi.5,7,8
Kategori terakhir adalah relaksasi yang ditujukan pada pasien dengan kekencangan
seluruh wajah yang parah karena sinkinesis dan hipertonisitas. Strategi yang digunakan berupa
mobilisasi jaringan lunak dalam otot wajah dengan agresif, reedukasi neuromuskular di depan
kaca, dan fokus pada strategi meditasi-relaksasi yaitu meditasi dengan gambar visual atau audio
difokuskan untuk melepaskan ketegangan pada otot yang sinkinesis. Latihan ini cukup dilakukan
1-2 kali per hari. Bila setelah menjalani 16 minggu latihan otot tidak mengalami perbaikan,
pasien dengan asimetri dan sinkinesis perlu dipertimbangkan untuk menjalani kemodenervasi
untuk memperbaiki kualitas hidupnya, baik gerakan, fungsi sosial, dan ekspresi emosi wajah.
Pada keadaan demikian perlu dikonsultasikan ke bagian kulit atau bedah plastik. Konsultasi ke
bagian lain, seperti Telinga Hidung Tenggorok dan kardiologi perlu dipertimbangkan apabila
terdapat kelainan pemeriksaan aufoskop atau pembengkakan glandula parotis dan hipertensi
secara berurutan pada pasien. 7.8
Terapi Farmakologis5,7,8
Inflamasi dan edema saraf fasialis merupakan penyebab paling mungkin dalam
patogenesis Bells palsy. Penggunaan steroid dapat mengurangi kemungkinan paralisis permanen
dari pembengkakan pada saraf di kanalis fasialis yang sempit. Steroid, terutama prednisolon
yang dimulai dalam 72 jam dari onset, harus dipertimbangkan untuk optimalisasi hasil
pengobatan. Dosis pemberian prednison (maksimal 40-60 mg/hari) dan prednisolon (maksimal
70 mg) adalah 1 mg per kg per hari peroral selama enam hari diikuti empat hari tappering off.
Efek toksik dan hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan steroid jangka panjang (lebih dari
2 minggu) berupa retensi cairan, hipertensi, diabetes, ulkus peptikum, osteoporosis, supresi
kekebalan tubuh (rentan terhadap infeksi), dan Cushing syndrome. Ditemukannya genom virus di

sekitar saraf ketujuh menyebabkan preparat antivirus digunakan dalam penanganan Bells palsy.
Namun, beberapa percobaan kecil menunjukkan bahwa penggunaan asiklovir tunggal tidak lebih
efektif dibandingkan kortikosteroid. Penelitian retrospektif Hato et al mengindikasikan bahwa
hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang diterapi dengan asiklovir/ valasiklovir dan
prednisolon dibandingkan yang hanya diterapi dengan prednisolon.5,7,8
Axelsson et al juga menemukan bahwa terapi dengan valasiklovir dan prednison
memiliki hasil yang lebih baik. De Almeida et al menemukan bahwa kombinasi antivirus dan
kortikosteroid berhubungan dengan penurunan risiko batas signifikan yang lebih besar
dibandingkan kortikosteroid saja. Data-data ini mendukung kombinasi terapi antiviral dan steroid
pada 48-72 jam pertama setelah onset. Namun, hasil analisis Cochrane 2009 pada 1987 pasien
dan Quant et al22 dengan 1145 pasien menunjukkan tidak adanya keuntungan signifikan
penggunaan antiviral dibandingkan plasebo dalam hal angka penyembuhan inkomplit dan tidak
adanya keuntungan yang lebih baik dengan penggunaan kortikosteroid ditambah antivirus
dibandingkan kortikosteroid saja. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keuntungan
penggunaan terapi kombinasi.
Dosis pemberian asiklovir untuk usia >2 tahun adalah 80 mg per kg per hari melalui oral
dibagi dalam empat kali pemberian selama 10 hari. Sementara untuk dewasa diberikan dengan
dosis oral 2 000-4 000 mg per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 7-10 hari.
Sedangkan dosis pemberian valasiklovir (kadar dalam darah 3-5 kali lebih tinggi) untuk dewasa
adalah 1 000-3 000 mg per hari secara oral dibagi 2-3 kali selama lima hari.
Efek samping jarang ditemukan pada penggunaan preparat antivirus, namun kadang
dapat ditemukan keluhan berupa adalah mual, diare, dan sakit kepala.

Gambar 7.

Alograitma Penatalaksanaan Bells Palsy 5

Komplikasi
Sekitar 5% pasien setelah menderita Bells palsy mengalami sekuele berat yang tidak dapat
diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat Bells palsy, adalah5,7
1. Regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal yang menyebabkan paresis seluruh
atau beberapa muskulus fasialis
2. Regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia (gangguan pengecapan),
ageusia (hilang pengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama
dengan stimuli normal)
3. Reinervasi yang salah dari saraf fasialis.
Reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat menyebabkan sinkinesis yaitu gerakan involunter
yang mengikuti gerakan volunter, contohnya timbul gerakan elevasi involunter dari sudut mata,
kontraksi platysma, atau pengerutan dahi saat memejamkan mata,crocodile tear phenomenon,
yang timbul beberapa bulan setelah paresis akibat regenerasi yang salah dari serabut otonom,
contohnya
air mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan, dan clonic facial spasm (hemifacial
spasm), yaitu timbul kedutan secara tiba-tiba (shock-like) pada wajah yang dapat terjadi pada
satu sisi wajah saja pada stadium awal, kemudian mengenai sisi lainnya (lesi bilateral tidak
terjadi bersamaan).
Prognosis
Penderita Bells palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa. Faktor resiko
yang memperburuk prognosis Bells palsy adalah:,5,7
a
Usia di atas 60 tahun.
b
Paralisis komplit.
c
Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh.
d
Nyeri pada bagian belakang telinga.

Berkurangnya air mata.


Pada umumnya prognosis Bells palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam

waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita yang berumur 60 tahun
atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala
sisa. Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang, hanya memiliki perbedaan peluang 10-15
persen antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa. Jika tidak sembuh dalam waktu
4 bulan, maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile
tears dan kadang spasme hemifasial.
Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita
nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Hanya 23%
kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bells palsy kambuh pada 10-15 %
penderita. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII atau tumor
kelenjar parotis.

Daftar Pustaka
1. Bell's Palsy. Bell's Palsy Fact Sheet," NINDS. NIH Publication No. 03-5114. Publication
date April 2003Available at : http://www.ninds.nih.gov/disorders/bells/detail_bells.htm
(Diakses tanggal 22 Januari 2015)
2. Baugh RF1, Basura GJ, Ishii LE, Schwartz SR, Drumheller CM, Burkholder R, Deckard
NA, Dawson C, Driscoll C, Gillespie MB, Gurgel RK, Halperin J, Khalid AN, Kumar
KA, Micco A, Munsell D, Rosenbaum S, Vaughan W. Clinical practice guideline: Bell's
palsy. Available at : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24189771
(Diakses tanggal 22 Januari 2015)
3. Uddin, Jurnalis. (2009) Anatomi Susunan Saraf Manusia. Ed.3. Jakarta : Universitas
Yarsi
4. Duus, Peter, Diagnosis Topik Neurologi: Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala, cetakan
pertama, EGC, 2008, Jakarta.
5. Reginald F. Baugh, MD, Gregory J. Basura, MD, PhD, Lisa E. Ishii, MD, MHS, Seth R.
Schwartz, MD, MPH, Caitlin Murray Drumheller, Rebecca Burkholder, JD, Nathan A.
Deckard, MD, Cindy Dawson, MSN, RN, Colin Driscoll, MD, M. Boyd Gillespie, MD,
MSc, Richard K. Gurgel, MD, John Halperin, MD, Ayesha N. Khalid, MD, Kaparaboyna
Ashok Kumar, MD, FRCS, Alan Micco, MD, Debra Munsell, DHSc, PA-C, Steven
Rosenbaum, MD, and William Vaughan. Clinical Practice Guideline: Bells Palsy,
OtolaryngologyHead and Neck Surgery 149(3S) S1S27. 2013. American Academy of
OtolaryngologyHead and Neck Surgery Foundatio. Available at :
http://oto.sagepub.com/content/149/3_suppl/S1.long (Diakses tanggal 22 Januari 2015)
6. Gambar 1. Available at : http://www.aafp.org/afp/2007/1001/afp20071001p997-f1.gif
(diakses tanggal 22 Januari 2015)
7. Gary S. Gronseth, MD,FAAN Remia Paduga, MD. Evidence-based guideline update:
Steroids and antivirals for Bell palsy Report of the Guideline Development
Subcommittee of the American Academy of Neurology. 2014. Available at :
http://www.neurology.org/content/early/2012/11/07/WNL.0b013e318275978c.full.pdf
(Diakses tanggal 22 Januari 2015)
8. Piercy J. Bells palsy. BMJ. 2005;330:1374.