Anda di halaman 1dari 49

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah
ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Laporan Otomasi Industri .
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak masalah itu dapat teratasi.
Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya
mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis
harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca
umumnya dan pada penulis khususnya.

Bekasi, 2015.

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Laporan Kerja Pelatihan ini berdasarkan pada Pelatihan Berbasis Kompetensi
sebagai pendekatan untuk mendapatkan ketrampilan yang sesuai di tempat kerja.
Pelatihan kerja berbasis kompetensi berfokus pada ketrampilan seseorang yang harus
dimiliki di tempat kerja. Fokusnya adalah pada pencapaian ketrampilan dan bukan
berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengikuti pelatihan.Pada Pelatihan ini
disusun berdasarkan pada Standar Kompetensi Nasional . Standar Kompetensi adalah
pernyataan Pengetahuan, Ketrampilan dan Sikap yang diakui secara nasional. Laporan
pelatihan ini terdiri dari satu unit kompetensi yaitu Rangkaian Kontrol LIFT .Buku
Kerja pelatihan ini adalah sumber untuk pelatih dan peserta pelatihan. Informasi yang
dibutuhkan peserta pelatihan pada waktu melaksanakan praktek kerja Memasang
Rangkaian kontrol dan rangkaian utama.Buku Kerja Pelatihan ini digunakan sebagai
Kriteria atau langkah-langkah pelaksanaan pelatihan terhadap standar kompetensi
1.2 Latar Belakang Masalah
Dari masa ke masa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
kemajuan teknologi, manusia menghendaki kehidupan yang lebih nyaman. Oleh
sebab itu keberadaan ilmu strategi pengajaran dalam system pendidikan memerlukan
upaya serius untuk tercapainya perkembangan yang optimal dari setiap mahasiswa
teknik elektro. Dengan demikian kita dapat bersaing di kancah industri yang semakin
pesat perkembangannya. Dewasa ini ilmu strategi pengajaran sudah berkembang
seiring dengan berkembangnya teknologi dan

industri-industri yang ada. Maka

sebagai seorang mahasiswa teknik elektro kita harus dapat memenuhi permintaan
yang telah ditentukan oleh masing-masing industri tersebut. Maka dari itu latihan
merancang, tugas dan evaluasi

merupakan salah satu bahasan dan ilmu strategi

pelajaran.Keberhasilan pengajar atau dosen merancang materi pengajaran termasuk


merancang latihan,tugas dan evaluasi yang merupakan alat untuk menunjang
mahasiswanya untuk dapat menguasai Rangkaian Kontrol LIFT agar dapat bersaing di
dunia industri namun yang di titik beratkan bukan hanya menguasai tetapi memahami
keseluruhan dari Rangkaian Kontrol LIFT

1.3 Tujuan Penulisan


Penulisan laporan ini merupakan sebagai pernyataan bahwa mahasiswa
Politeknik Negri Jakarta telah melaksanakan mata kuliah Rangkaian Kontrol
LIFT.sesuai silabus semester empat.Penulisan laporan ini juga merupakan indikasi
mahasiswa di dalam melaksanakan tugas yang diberikan.Dengan demikian tugas yang
sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa sudah terbukti dengan adanya laporan ini
dan oleh karena itu tidak ada lagi kata yang menyatakan bahwa mahasiswa belum
menyelesaikan tugas yang terdapat pada silabus pendidikan.
1.4 Pembatasan Penulisan
Dalam setiap langkah sudah tentu ada batasannya begitu juga di setiap
penulisan terdapat batasan-batasan. Batasan ini merupakan keterbatasan suatu laporan
di dalam penulisannya. Untuk laporan ini di batasi dengan teori yang hanya
menerangkan spesifikasi keseluruhan dari Rangkaian Kontrol LIFT. Walaupun ada
pembahasan itu,merupakan sedikit dari kutipan.
1.5 Metodelogi Penulisan
Sistem penulisan laporan ini berdasarkan ilmu kepustakaan, yaitu dari
beberapa sumber baik buku, maupun internet dalam membantu penulisan isi laporan
ini.Disamping itu penulisan laporan ini tidak terlepas dari materi Rangkaian Kontrol
LIFT sebagaimana panduan yang telah diberikan oleh dosen pembimbing

BAB II
LANDASAN TEORI
3

2.1

SEJARAH PERKEMBANGAN LIFT ATAU ELEVATOR


Elevator atau yang lebih akrab dikenal oleh masyarakat luas dengan nama

lift. Lift adalah salah satu alat Bantu dalam kehidupan manusia yang berfungsi untuk
mempermudah aktifitas manusia yang rutinitasnya lebih sering berada didalam
gedung-gedung

bertingkat.

Elevator

merupakan

alat

transportasi

yang

pengendaliannya tidak dilakukan oleh manusia secara langsung, sehingga semua


pengguna elevator sepenuhnya tergantung pada kehandalan teknologi dari alat
transportasi vertikal ini.
Keberadaan dari elevator ini merupakan sebagai pengganti fungsi dari pada tangga
dalam mencapai tiap-tiap lantai berikutnya pada suatu gedung bertingkat, dengan
demikian keberadaan elevator tidak dikesampingkan ini dikarenakan dapat
mengefisienkan energi dan waktu sipengguna elevator tersebut. Sistem keberadaan
elevator dan segala kemajuan dan kehandalannya tidak serta merta mengalami
perkembangan-perkembangan secara bertahap, sejak keberadaannya pertama kali
dibangun.
Perkembangan elevator sangat lambat pada awal tahun 1970-an, namun sejak
diperkenalkannya transistor dan

alat pendukung elektronik lainnya pada sistem

kontrol elevator pada saat itulah perkembangan kontroller elevator begitu pesat.
Elevator dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.

Elevator penumpang

2.

Elevator barang atau dumb waiter

3.

Elevator service

4.

Elevator hidraulik

2.2

PERALATAN-PERALATAN DALAM CONTROL LIFT


(BENTUK, FUNGSI DAN SIMBOLNYA)

1. Button Switch

Switch button ini digunakan untuk pengendalian/pengaturan peralatan guna


memberikan tanda-tanda hubung putus dsb. dan sakelar terhubung/terputus dengan
cara menekan/menarik dengan tangan.
a. Macam-macam Button Switch dan Simbolnya
Ditinjau dari titik kontaknya, ada 3 jenis button switch yaitu Normally Open (NO)
button switch, Normally Close (NC) button switch, dan NO/NC button switch.
NO Button Switch.
NO Button Switch sesuai dengan namanya berada dalam posisi Open (terbuka)
pada keadaan normal (button switch tidak ditekan) dan baru akan tersambung apabila
ditekan (lihat gambar).

Gambar : Kerja dan simbol NO Button Switch

NC Button Switch.
NC Button Switch sesuai dengan namanya berada dalam posisi Closed
(tertutup/tersambung) pada keadaan normal (button switch tidak ditekan) dan akan
terputus/terbuka apabila ditekan (lihat gambar).

Gambar : Bermacam bentuk Button switch.

b. Penggunaan
Contoh penggunaan button switch sesuai dengan typenya (bentuk tombolnya).
Type

Button Penggunaanya

Switch
Type Flat

Type

konvensional

dan

banyak

digunakan untuk start, stop dsb.


Type Proyek

Dapat

digunakan

dengan

beban,

seperti diproyeksikan untuk start dan


stop
Type Mushroom

Mudah

ditempatkan

dijalankan,

dan

untuk

mudah

penghentian

mendadak (emergency stop)


Type Pull

Untuk tempat seperti pengoperasian


dengan

menghindarkan

pengerjaan

yang salah, seperti interlocking dsb.

Contoh penggunaan button switch sesuai dengan klasifikasi warna.


Warna

Fungsi

Pemakaian
Satu atau sebagian motor
stop, tanpa menggunakan

Merah

Stop

chuk

magnet,

penghenti,

untuk

penghenti

putaran
Emergenci Stop
Start kembali urutan
Kuning

normal

Semua stop
Kembali pada putaran
start

pada

keadaan

putaran belum sempurna

Start kembali dari Dapat merusak


Hitam/
Hijau

fungsi

henti mendadak

lain

Star

Star putaran pada urutan


tertentu, start sebuah atau
sebagian

dengan

peralatan tambahan pada


rangkaian,
menambah

unit

start,
chuk

magnetik
Putih

Keadaan lain selain


warna diatas

2. Select Switch
Switching kontak ini dilakukan melalui perputaran pada sudut batas tertentu dari
bagian push button (bagian yang bergerak).
a. Bentuk nyata dan simbolnya:
CS

COS

Bentuk dan simbol dari select switch.

b. Jumlah notch:
Ditinjau dari penggunaan/pembuatannya select switch ada yang mempunyai 2 atau
3 notchs seperti pada gambar dibawah.
Interlock

Of

On

Indenpendent

Automatic

Gambar : notchs pada select switch

c. Kegunaan
Select switch dapat digunakan sebagai switch control (CS), yaitu untuk ON dan
OFF sumber daya dsb. Selain itu dapat sebagai pemilihan tempat pengoperasian
(change over switch / COS), contoh pemilihan methode pengerjaan seperti manual,
otomatis, interlock atau independent.

3. Switch batas (micro switch)


Switch batas dan switch micro banyak digunakan sebagai pendeteksi posisi dari
objek yang diukur.
Bagian kontaknya terdiri dari kontak c dan sebelum bekerja keadaanya ON antara
C-NC dan akan OFF sesudah bekerja. Sedangkan antara C-NO, akan OFF sebelum
bekerja dan ON sesudah bekerja.

Gambar : Micro switch / switch batas.

Gambar : Struktur dan simbol micro switch / switch batas.

4. Rele Magnet

Gambar : Rele Magnet

Rele magnet merupakan switch yang bekerja secara otomatis karena efek medan
magnet. Ada dua type rele magnet yaitu rele type hinge, dimana titik kontaknya type
C (change over contact) dan rele type plunger, dimana titik kontaknya type A / B
(NO / NC).

5. Macam - macam Titik Kontak


Titik kontak merupakan sejenis sakelar untuk membuka menutup atau
menghubungkan memutuskan sebagian atau seluruh rangkaian listrik seperti terlihat
pada gambar di bawah
Titk kontak pada sebuah switch terdiri dari bagian yang bergerak dan bagianb yang
diam seperti pada gambar B

Gambar: Titik kontak a.

Adapun kerja dari titik kontak a dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar : Kerja titik kontak a.

Sedangkan simbol dari titik kontak a dapat dilihat pada gambar dibawah, dimana
kontak gerak (bagian yang bergerak) diperlihatkan terpisah disebelah kanan dari
lingkaran terminal (kontak diam).

10

Gambar : Simbol dari titik kontak a (NO).


Dikarenakan sifat titik kontak a yang pada kondisi normal berada dalam kondisi
terbuka, titik kontak a dinamakan juga titik kontak NO (Normally Opened).

Titik Kontak b
Titik kontak b merupakan titik kontak yang berada dalam kondisi terbuka apabila
diberi energi dari luar dan berada dalam posisi tertutup dalam keadaan normal atau
tidak mendapat energi dari luar. Dengan kata lain kontak b merupakan kontak
pemutus.

Gambar : Titik kontak b.

Kerja dari kontak b dapat dilihat pada gambar berikut.

11

Gambar : Kerja titik kontak b.

Adapun simbol untuk kontak b diperlihatkan pada gambar dibawah ini, dimana
bagian yang bergerak (kontak gerak) diperlihatkan bersentuhan dengan bagian kiri
dari titik terminal (kontak diam).

Gambar : Simbol titik kontak b (NC).

Dikarenakan sifat titik kontak b yang pada kondisi normal berada dalam kondisi
tertutup, titik kontak b dinamakan juga titik kontak NC (Normally Closed).

Titik Kontak c
Titik kontak c merupakan gabungan dari titik kontak a dan titik kontak b. Titik
kontak ini mempunyai 3 terminal yaitu: terminal C (Common), Terminal NC (kontak
b) dan terminal NO (kontak a). Pada keadaan normal C-NC terhubung dan C-NO
berada dalam kondisi terputus. Dan apabila titik kontak ini mendapat energi dari luar, CNO akan terhubung dan C-NC menjadi terputus. Oleh karena itu kontak c dinamakan juga
kontak ganti.

12

Gambar : Titik kontak c.

Kerja dari kontak c dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar : Kerja titik kontak c.


Sedangkan simbol gambar dari kontak c diperlihatkan seperti gambar dibawah,
dimana kontak gerak bersentuhan dengan terminal NC dan akan beralih ke terminal
NO apabila diberi energi.

Gambar : Simbol Titik kontak c.

13

6. Motor Satu Phasa dan Motor Servo


Motor Servo 100v

Motor servo adalah


sebuah
dilengkapi

motor

DC

rangkaian

yang
kendali

dengan sistem closed feedback


yang terintegrasi dalam motor
tersebut. Pada motor servo posisi putaran sumbu (axis) dari motor akan
diinformasikan kembali ke rangkaian kontrol yang ada di dalam motor servo. Contoh
Motor Servo Motor servo disusun dari sebuah motor DC, gearbox, variabel resistor
(VR) atau potensiometer dan rangkaian kontrol. Potensiometer berfungsi untuk
menentukan batas maksimum putaran sumbu (axis) motor servo. Sedangkan sudut
dari sumbu motor servo diatur berdasarkan lebar pulsa yang pada pin kontrol motor
servo.

Konstruksi Motor Servo Motor servo adalah motor yang mampu bekerja
dua arah (CW dan CCW) dimana arah dan sudut pergerakan rotornya dapat
dikendalikan dengan memberikan variasi lebar pulsa (duty cycle) sinyal PWM pada
bagian pin kontrolnya. Jenis Motor Servo Motor Servo Standar 180 Motor servo
jenis ini hanya mampu bergerak dua arah (CW dan CCW) dengan defleksi masing14

masing sudut mencapai 90 sehingga total defleksi sudut dari kanan tengah kiri
adalah 180. Motor Servo Continuous Motor servo jenis ini mampu bergerak dua arah
(CW dan CCW) tanpa batasan defleksi sudut putar (dapat berputar secara kontinyu).
Pulsa Kontrol Motor Servo Operasional motor servo dikendalikan oleh sebuah pulsa
selebar 20 ms, dimana lebar pulsa antara 0.5 ms dan 2 ms menyatakan akhir dari
range sudut maksimum. Apabila motor servo diberikan pulsa dengan besar 1.5 ms
mencapai gerakan 90, maka bila kita berikan pulsa kurang dari 1.5 ms maka posisi
mendekati 0 dan bila kita berikan pulsa lebih dari 1.5 ms maka posisi mendekati
180.

Pulsa Kendali Motor Servo Motor Servo akan bekerja secara baik jika

pada bagian pin kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekuensi 50 Hz. Dimana
pada saat sinyal dengan frekuensi 50 Hz tersebut dicapai pada kondisi Ton duty cycle
1.5 ms, maka rotor dari motor akan berhenti tepat di tengah-tengah (sudut 0/ netral).
Pada saat Ton duty cycle dari sinyal yang diberikan kurang dari 1.5 ms, maka rotor
akan berputar ke berlawanan arah jarum jam (Counter Clock wise, CCW) dengan
membentuk sudut yang besarnya linier terhadap besarnya Ton duty cycle, dan akan
bertahan diposisi tersebut, dan sebaliknya

Jenis - Jenis Motor Servo


Motor Servo Standar 180 Motor servo jenis ini hanya mampu bergerak dua
arah (CW dan CCW) dengan defleksi masing-masing sudut mencapai 90
sehingga total defleksi sudut dari kanan tengah kiri adalah 180.
Motor Servo Continuous Motor servo jenis ini mampu bergerak dua arah
(CW dan CCW) tanpa batasan defleksi sudut putar (dapat berputar secara
kontinyu).
Pulsa Kontrol Motor Servo Operasional motor servo dikendalikan oleh
sebuah pulsa selebar 20 ms, dimana lebar pulsa antara 0.5 ms dan 2 ms
menyatakan akhir dari range sudut maksimum. Apabila motor servo diberikan
pulsa dengan besar 1.5 ms mencapai gerakan 90, maka bila kita berikan

15

pulsa kurang dari 1.5 ms maka posisi mendekati 0 dan bila kita berikan pulsa
lebih dari 1.5 ms maka posisi mendekati 180.
Pulsa Kendali Motor Servo Motor Servo akan bekerja secara baik jika pada
bagian pin kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekuensi 50 Hz.
Dimana pada saat sinyal dengan frekuensi 50 Hz tersebut dicapai pada
kondisi Ton duty cycle 1.5 ms, maka rotor dari motor akan berhenti tepat di
tengah-tengah (sudut 0/ netral).
Pada saat Ton duty cycle dari sinyal yang diberikan kurang dari 1.5 ms,
maka rotor akan berputar ke berlawanan arah jarum jam (Counter Clock
wise, CCW) dengan membentuk sudut yang besarnya linier terhadap
besarnya Ton duty cycle, dan akan bertahan diposisi tersebut. Dan
sebaliknya, jika Ton duty cycle dari sinyal yang diberikan lebih dari 1.5 ms,
maka rotor akan berputar searah jarum jam (Clock Wise, CW) dengan
membentuk sudut yang linier pula terhadap besarnya Ton duty cycle, dan
bertahan

diposisi
Belitan Motor 1 Phasa

Gambar 2.4.1: Motor 1 phasa.

10
50

Cx

60

zR

Kum.

Kum.

pembantu utama

Kum. pembantu

Kum. utama

10

50

60

16
z

Gambar 2.4.2: Terminal motor.

Misalnya pada terminal diatas yang tertera pada gambar kita ukur antara common
dengan starting sebagai contoh didapat dengan nilai 50 Ohm. Kemudian kita ukur lagi
antara common dengan running diperoleh nilai 10 Ohm. Maka apabila kita ukur
antara kumparan starting dengan running adalah hasil penjumlahan antara kumparan
starting dan running atau 50 Ohm + 10 Ohm = 60 Ohm.
Apabila kita menemukan motor yang tidak ada nama-nama terminalnya kita bisa
menentukan nama terminal-terminal motor tsb. dengan cara melakukan pengukuran
hambatan dari masing-masing terminal.

Dari hasil pengukuran itu kita biasanya

memperoleh tiga jenis hasil pengukuran. Langkah pertama adalah menentukan


terminal common, yaitu berada didepan nilai hambatan yang paling besar. Sedangkan
kumparan starting adalah urutan terbesar kedua. Dan untuk hambatan kumparan
running adalah nilainya terkecil.

7. Relay Batas Waktu (Timer)

Gambar 39 Timer
Timer merupakan sakelar yang bekerja berdasar elektromagnetis dan memerlukan
waktu dalam menggerakkan titik kontaknya. Pada hakekatnya timer sama dengan
magnetic kontaktor, hanya pada timer terdapat titik kontak delay yang bekerjanya
memerlukan waktu sesuai dengan setting waktunya.

17

Prinsip kerja timer dapat dijelaskan sbb:


NO

NC

NO

NC

Coil

Titik kontak

Titik kontak
Instant

Delay
Gambar 40 Terminal-terminal
pada timer.

Pada kondisi netral atau coil tidak bertegangan maka kondisi titik kontak NO pada
posisi terbuka dan titik kontak NC pada posisi terhubung. Jika coil diberi tegangan
listrik maka titik kontak instant langsung bergerak (titik kontak NO akan menutup dan
NC akan membuka), sedang titik kontak delay akan bekerja/bergerak beberapa saat
kemudian sesuai dengan setting waktunya (titik kontak NO akan menutup dan NC
akan membuka).

2.3 LIFT DAN CARA KERJANYA


Lift

adalah

alat

pengangkat

yang

ditujukan

khusus

untuk

mengangkat/memindahkan barang atau orang secara vertical didalam sangkar yang


begerak pada rel penuntun tetap.
Adapun cara kerja dari lift ini adalah dengan gerakan naik turun (hoist) dimana
sangkar yang berisi barang atau orang dan beban engimbang digantungkan pada tali
yag ditarik naik atau turun dengan menggunakan pully, dimana pully ini berputara
sesuai dengan kebutuhan. Pully digerakkan oleh motor listrik dan gerakan pully
dihentikan oleh rem, sehingga barang atau orang tidak akan naik atau turun setelah
posisi angkat yang diingin tercapai.

Pemakaian Lift dapat dibagi atas beberapa klasifikasi, yaitu :

18

1.

Pemakaian umum atau perniagaan (General Purpose or Comercial) yaitu


tipe lift yang digunakan pada pemakaian yang bersifat umum. Contohnya :
Pada kantor kantor atau perusahaan.

2.

Pemakaian pada tempat tinggal (Residential) Yaitu tipe lift yang digunakan
pada rumah tempat tinggal Contohnya : pada rumah tempat tinggal

3.

Pemakaian pada supermarket (Store) Yaitu tipe lift yang dipergunakan pada
swalayan atau pusat perbelanjaan.

4.

Pemakaian pada lembaga-lembaga (Institutional) Yaitu tipe lift yang


dipakai pada bangunan untuk suatu bentuk kelembagaan Contohnya: Pada
lembaga Pendidikan

Pemasangan Lift
Ditinjau dari segi pemasangan, ada dua cara pemasangan lift, yaitu:
1. Pemasangan dengan satu sangkar (Single Car) Didalam suatu gedung hanya
terdapat satu sangkar saja atau dengan kata lain gedung tersebut hanya
dilayani oleh satu unit lift saja. Pemasangan ini biasanya terdapat pada
gedung yag tidak beitu tinggi dan tidak luas serta lalau lintas pemakaiannya
tidak ramai.
2. Pemasangan dengan lebih dari satu sangkar Pada bangunan tersebut
terdapat lebih dari satu sangkar. Jika ada panggilan akan terjadi respond an
interaksi antara beberapa sangkar tersebut. Sangkar yang paling dekat dan
tidak sedang bekerjalah yang akan melayani panggilan tersebut. System ini
dipakai pada gedung bertingkat banyak serta luas dan mempunyai lalu
lintas pemakaian yang ramai.
Ruang Peletakan Mesin
Bila ditinjau dari ruang tempat peletakan mesin utama dari lift, terdapat dua tipe
system peletakannya yaitu :
1. Penthous Machine Room Type Mesin lift ditempatkan pada bagian atas
sangkar lift.
2. Basement Machine Room Type Mesin lift ditempatkan pada bagian bawah
sangkar lift.

19

Sistem Penggerak Lift Bila ditinjau dari system penggerak lift, terdapat dua
system yang digunakan pada gedung gedung:
1. Penggerak Lift System Warp
2. Penggerak Lift system Hidrolik

o Penggerak Lift Sistem Warp


Pada system ini penggerak utama dari sangkar lift tersebut adalah
motor listrik, dari motor tesebut akan dikopelkan ke poros mesin lift
(driving Machine), yaitu suatu alat yang menggerakkan puli penggerak dan
selanjutnya pully penggerak akan menarik tali yang diikat pada sangkar lift
dan beban peimbang. Dengan demikian sangkar lift dan beban pengimbang
akan bergerak naik atau turun sesuai dengan putaran pully penggerak.
System pemasangan tali pada istem Wrap dapat dibedakan berdasarkan
peletakan ruang mesin. Penthouse Mechine Room Pemasangan tali pada
system warp pada Penthouse Mechine Room type dapat dilihat pada
gambar 1.1.
1. Single Wrap Roping
Tali dipasang satu kali jalan, tanpa lilitan diletakkan diatas puli dan
melalui katrol, kemudian tali diikatkan diatas sangkar lift dan beban
pengimbang (gambar a )
2. Double wrap Roping
Ada dua cara pemasangan tali pada jenis Doble Wrap Roping ii yaitu tali
dipasang satu kali lilit pada pully dan katrol, kemudian tali diikatkan
diatas. sangkar lift dan beban pengimbang (gambar c) atau tali dipasang
dua kali lilit tali diletakkan diatas puli diatas pully dan dililitkan ke katrol,
selanjutnya ke atas sebagai titik tumpuan beban (Point Support).

(Lihat gambar 2.1.berikut ini )

20

Gambar 2.1. Pemasangan tali pada system Wrap Penthouse Machine


Room Type
- Basement Machine Room
Pemasangan tali pada system wrap pada basement Machine Room
Type dapat dilihat pada gambar 1.2
- Roping Under Slung
Sangkar lift dan beban pengimbang ditahan oleh dua buah
katrol, selanjutnya pulli penggerak yang berada dibawah sangkar akan
memutar kedua katrol yang menggerakkna sangkar lift dan beban
pengimbang dalam arah yang saling berlawanan ( gambar a dan b )
(Lihat gambar 2.2. di bawah ini )

21

Gambar 2.2. Pemasangan Tali pada Sistem Wrap Basement Machine Room Type.
o

Penggerak Lift Sistem Hidrolik


Lift system hidrolik memerlukan daya lebih kecil dibandingkan dengan
system wrap. Nama hidrolik diberikan karena sangkar ini digerakkan oleh
sebuah pompa yang dilayani oleh sebuah motor penggerak, sehingga
dengan perubahan tekanan pada minyak (oil) akan menyebabkan aik atau
turunnya sangkar lift.
System hidrolik dan cara kerjanya persis sama dengan dongkrak mobil
hidrolik, minyak dari penampung dipompakan oleh plunyer untuk
mengangkat sangkar lift tersebut. Pompa dihentikan sampai titik
terbawah, selanjutnya sangkar lift tersebut diturunkan dengan gaya
gravitasi dan Bypass control yang juga mengotrol posisi dari sangkar lift
tersebut sampai pada titik tertinggi. System control yang digunakan pada
lift dengan system pengerak hidrolik biasanya sama dengan yang tedapat
pada system penggerak wrap. Namun pada system penggerak hidrolik ini
tidak diberikan beban pengimbang sehingga memerlukan motor dengan
daya yang lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan motor untuk
keperluan yang sama pada system Wrap.
Berdasarkan pertimbangan dari uraian diatas maka pada perencanaan
ini system pengerak lift yang akan dipergunakan adalah system Wrap
dengan peletkana motor pada bagian atas sangkar (Penthouse Machine
Room Type) dengan pemasangan tali satu kali jalan ( single Wrap
Roping).

22

Methode pengoperasian Lift


Methode pengoperasian Lift adalah cara kerja lift dalam memberikan respon
terhadap panggilan yang diberikan penumpang. Methode operasi lift secra
umum dibedakan atas dua cara, yaitu:
1. Pengoperasian Manual
Pengoperasian manual merupakan system pengoperasian sangkar lift
dengankecepatan renda dan dapat berhenti pada posisi sembarangn titik
yang dikehendaki,
misalnya nutk kondisi perawatan atau untuk keperluan khusus, Dalam
pengoperasiannya lift diatur oleh seorang operator. Dengan demikian
semua panggilan harus dikirim ke meja operator, kemudan operator
mengatur

gerakan

sangkar

lift

ke

posisi

level

lantai

yang

diinginkan/dipesan penumpang methode ini jarang digunakan mengingat


kurang praktisnya di dalam penggunaanya.
2. Pengoperasian Otomatis
Pengoperasian lift secara otomatis memberikan respon secara langsung
kepada penumpang yang memanggil sangkar lift. Berdasarkan prinsip
kerjanya, methode ini dibedakan atas:
a. Metode Single Automatic Push Bottom
Pada metode operasi ini, pada setiap lantai hanya terdapat satu
buah tombol untuk memanggil sangkar sedangkan didalam sangkar
lift terdapat tujuan level lantai yang diinginkan. Selama lift bekerja,
lift tidak melayani panggilan dari penumpang lain. Lift akan
memberikan tanggapannya setelah lift selesai melaksankan
tugasnya. Dengan kata lain lift baru dapat dipanggil apabila
sangkar lift dalam keadaan tidak bekerja.
Dari penjelasan diatas prinisp kerja diatas, dapat dikatakan bahwa
methode Single Automatic Push Bottom ini hanya dapat melayani
panggilan satu persatu, artinya sangkar baru dapat dipanggil
apabila lift dalam keadaan diam. Dengan demikian metode ini

23

hanya efektif digunakan untuk gedung dengan dua atau tiga lantai.
Dengan pemakaian lift yang tidak terlalu mendesak, misalnya
untuk lift pengangkat barang.
b. Metode Selective Collective
Pada metode ini terdapat dua buah tombol panggilan pada setiap
lantai yaitu tombol panggilan naik dan tombol panggilan turun.
Kecuali pada lantai terendah dan tertinggi yang masing masing
hanya terdapat satu tombol panggilan.
Didalam sangkar lift terdapat tombol tujuan level lantai yang
digunakan.
Metode operasi selective collective ini lebih praktis dan efisien
dalam

menangani

panggilan

dibandingkan

dengan

Single

Automatic Push Bottom.


Pada methode ini, secara otomatis sangkar lift akan melanyai
semua panggilan naik pada saat sangkar llift naik dan melaani
semua panggilan turun pada lantai yang dilaluinya.
Dengan demikian methode ini lebih efisien dalam menanggapi
panggilan dibanding dengan metode Single Automatic Push
Bottom karena sangkar lift dapat dipanggil walaupun lift dalam
keadaan sedang bekerja.
c. Metoded Duplex-Collective
Pada prinsipnya metode duplex collective ini hampir sama dengan
metode selective-Collective merupakan operasi gabungan dari dua
atau lebih lift yang bekerja secara Selective-Collective.
Pada metode ini, pada tiap lantai terdapat tombol bersama untuk
memanggil sangkar lift. Apabila tombol panggilan ditekan maka
sangkar dengan posisi paling dekat dan dengan arah yang sesuai
dengan panggilan, akan melayani panggilan tersebut. Hal ini
merupakan keistimewaan metode ini dibanding dengan metode
Selective-Collective. Tombol tujuan terdapat pada setiap sangkar
yang berfungsi untuk mengoperasikan sangkarnya masing-masing.

24

2.4 BAGIAN BAGIAN UTAMA LIFT (Phenthouse Mechine Rooms)


Sebagian besar peralatan lift type Phenthouse Mechine Rooms ditempatkan dibagian
atas sangkar lift. (dapat lihat gambar 2.4. di bawah ini)

25

Komponen-komponen utama peralatan lift type Phenthouse Mechine Room yang


ditempatkan dibagian atas sangkar lift adalah :
1. Electro motor
2. Mechine Lift
3. Rem Lift
4. Lemari Panel Relay
5. Governor

1. Electro Motor
Penggerak utama lift adalah sebuah electromotor yang digerakkan oleh listrik
PLN atau generator listrik yang dilengkapi dengan pengatur medan (Field Control)
yang dikontrol secara numeric (Numerical Control). Electro Motor dikopel ke
rangkai Gear Box yang berfungsi untuk mereduksi putaran electromotor dengan
mesin lift (Elevator Driving Mechine), Pulli dan rem Listrik.
2. Mesin Lift
Design lift disini digunakan mesin pengangkat jenis pulli dan roda pulli
penggerak. Pada design dengan drum, tali yang menahan sangkar diikatkan pada
drum dan dililitkan pada permukaannya sedangkan pada desingn pada roda pully
penggerak, penggerak tali melewati roda pulli yang digerakkan oleh gaya gesek.
Dalam perencanaan ini dipilih mesin pengangkat dengan pulli penggerak karena
memiliki beberapa kelebihan diataranya:
1) Dapat digunakan untuk mengangkat pada segala macam ketinggian
2) Ukurannya lebih kompak
3) Lebih efektif karena gaya teraksi pada roda pulli penggerak akan hilang bila
sangkar yang sedang turun terbentuk hambatan. Dalam hal ini, kelonggaran
pada bagian tali yang keluar dari pulli akan menyebabkan tergelincirnya oleh
pulli pada tali sehingga tali akan mengencang kembali
4) Penggunaan mesin pengangkat jenis roda pulli ini telah mengurangi kecelakaan
secara drastris akibat putusnya tali.
26

Mesin Lift penggerak roda pulli untuk elevator penumpang ditunjukkan pada
gambar 2.5. dibawah ini :

Gambar 2.5 Mesin Lift dan Electro Motor

3. Rem Lift
Prinsip Kerja Rem Lift sama dengan kontak NC dari suatu relay atau kontaktor,
dimana rem dalam keadaan menjepit poros mesin lift pada saat sangkar lift tidak
bekerja, sebaliknya rem akan melepaskan poros lift apabila coil rem listrik tersebut
terenergi. Dengan demikian apabila sumber arus dari panel utama putus pada saat
lift bergerak, penumpang akan aman dari bahaya benturan yang timbul apabila rem
tidak menjepit poros mesin tersebut. Di bawah ini gambar 2.6. akan diperlihatkan
konstruksi rem listrik untuk lift.

27

Gambar 2.6. Rem Lift


4. Lemari Panel
Lemari panel merupakan tempat sebagian besar peralatan listrik (komponen
komponen control) disambungkan seperti relay, transformator dan penyearah. Tiap
unit lift memiliki masing masing satu buah lemari panel.
5. Governor
Governor adalah merupakan pengaman kecepatan lebih (Over Speed). Prinsip
kerjanya adalah berdasarkan gaya sentrifugal. Tali (Rope) governor dihubungkan
kebagian atas dan bawah sangkar melalui dua buah pulli governor. Pulli governor
ditempatkan diruang machine atas dan yang lainnya ditempatkan pada bagian
bawah (basement) instalasi lift, sehingga pulli governor akan bergerak apabila
sangkar lift bergerak.

28

BAB III
HASIL PRAKTIKUM
3.1 JOB 1. LANTAI 1 2
A. Tujuan Praktek
Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan
Mahasiswa mampu membaca time chart
Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian
B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.
C. Langkah Kerja
Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar
Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D. Gambar Kerja :

29

+24V

LS2

BS_2

K2

K2

K2

UP

0V

2
3

E. Perintah Kerja

Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 2 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2.

3.2 JOB 2. LANTAI 1 - 3


A. Tujuan Praktek
Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan

30

Mahasiswa mampu membaca time chart


Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.
C. Langkah Kerja
Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar
Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D. Gambar Kerja :

31

+24V

LS3

BS_3

K3

K3

K3

UP

0V

2
3

E. Deskripsi Kerja :

Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 2 ditekan maka lift akan naik ke lantai 2.

3.3 JOB 3. LANTAI 3 - 2


A. Tujuan Praktek
Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan
Mahasiswa mampu membaca time chart
32

Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang


digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C. Langkah Kerja

Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar


Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D.Gambar Kerja :

33

+24V

LS2

BS_2

K2

K2

K2

DOWN

0V

2
3

E. Deskripsi Kerja

Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 2 ditekan maka lift akan turun ke lantai 2

3.4 JOB 4. LANTAI 3 - 1

34

A.Tujuan Praktek

Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan


Mahasiswa mampu membaca time chart
Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang
digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C. Langkah Kerja

Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar


Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D.Gambar Kerja :

35

+24V

LS1

BS_1

K1

K1

K1

DOWN

0V

2
3

E. Deskripsi Kerja

Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1

3.5 JOB 5. LANTAI 2 1 DAN 2 - 3


A.Tujuan Praktek

36

Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan


Mahasiswa mampu membaca time chart
Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C. Langkah Kerja

Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar


Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D.Gambar Kerja :

37

+24V

LS1

LS3

BS_1

K1

K1

K1

DOWN

BS_3

K3

K3

K3

UP

0V

2
3

5
6

E. Deskripsi Kerja

-) Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 1 ditekan maka lift akan turun ke lantai 1
-) Kemudian lift naik ke lantai 2 secara manual
-) Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke lantai 3

3.6 JOB 6. Naik Turun Bebas

38

A.Tujuan Praktek

Masiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan


Masiswa mampu membaca time chart
Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang
digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C.Langkah Kerja

Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar


Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D. Gambar Kerja :

39

+24V

LS_1

LS_2

LS3

11

LS_3

BS_1

K1

BS_2

K2

K4

K2

BS_3

K3

K1

K4

K2

K3

K4

K1

K2

K4

K3

DOWN

UP

0V

2
9

4
6
11

5
10

8
12

E. Deskripsi Kerja

Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 1 ditekan maka lift akan berada
di lantai 1
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 2 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 2
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3

40

Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 2 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 2
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 1 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 1
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3
Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 1 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 1

F. Masalah
Rangkaian tidak bisa bergerak sama sekali
G. Solusi Masalah
Salah penggabungan Netral. Sehingga menyebabkan rangkaian tidak
mendapatkan netral sama sekali.

3.7 JOB 7. Naik Turun Bebas Berhenti Sepuluh Detik Di Setiap Lantai
A.Tujuan Praktek

Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan


Mahasiswa mampu membaca time chart

41

Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang


digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C.Langkah Kerja

Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar


Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D. Gambar Kerja :

42

+24V

LS1

LS3

LS2
2

BS1

K1

K3

K4

15 16

LS2

K5

10

K1

BS2

K5

BS3

K6

11

K8

12

K9

LS3

17

18

K10

K6

K11

20

26

LS1

13

K5

19

K12

T1

K13
21

K8

22

23

24

K9
K3

K2

K4
K7

K5

K11

K7

K12

K2

K13

K10

K6

K9

K4

K10
K1

T1

K8
K3

K1

K2

K3

K4

K6

K5

K7

K8

K9

K4

K10

T1

K11

K12

UP

K13

K9

Y1

0V

11 2
6

4
24

11 3
13

13 4
26 28

5
8
13
20

3 10
14

12
22

3 11
5

5 12
28 26

5 19
13

16
20

15
21

17
23

18
25

E. Deskripsi Kerja

Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 1 ditekan maka lift akan berada
di lantai 1
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 2 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 2 dan berhenti sepuluh detik
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3 dan berhenti sepuluh detik
Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 2 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 2 dan berhenti sepuluh detik
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 1 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 1 dan berhenti sepuluh detik
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3 dan berhenti sepuluh detik

43

Y2

Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 1 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 1 dan berhenti sepuluh detik

F.MASALAH
Tidak bisa naik ke lantai 3
G.Solusi Masalah
K3 tidak mendapatkan arus, setelah melakukan pemeriksaan ternyata soket K3
rusak. Dilakukan penggantian rangkaian dapat berjalan normal

3.8 JOB 8. Naik Turun Bebas Pintu Terbuka Selama Sepuluh Detik
A.Tujuan Praktek

Mahasiswa mampu merangkai sesuai tugas yang diberikan


Mahasiswa mampu membaca time chart
Mahasiswa mampu mengetahui setiap fungsi komponen yang
digunakan
Mahasiswa mampu mengatasi masalah/trouble
Mahasiswa dapat menganalisa cara kerja rangkaian

44

B . Keselamatan Kerja
Memperhatikan dan mematuhi instruksi dari instruktur.
Menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan peralatan itu sendiri.
Berpakain sesuai yang telah ditentukan.
Bertindak dengan cepat dan benar ketika terjadi suatu kecelakaan.

C.Langkah Kerja

Pastikan alat berfungsi dengan baik dan benar


Rangkailah rangkaian lift naik turun bebas pada tempat kerja
Berikan tegangan sesuai pada rangkaian
Check dan analisa kerja rangkaian tersebut apabila menemukan kesalahan

pada rangkaian
Perbaikilah rangkaian jika cara kerja tidak benar

D. Gambar Kerja :
1

+24V

LS1

LS3

LS2
2

BS1

K1

K3

33

K4

15 16

LS2

K5

10

K1

BS2

K5

BS3

K6

11

K8

12

K9

LS3

17

18 19

K11

22

28

K12

K10

K9

K3

31

32

LS5

T1

K13
23

K8

30

LS4
K10

K6

21

LS1

13

K5

20

24

25

T1

26

T1

T1

K4

K2
K7
K6

K10

K5

K11

K7

K12

K2

K13

K9

K4

K14

K10
K1

T2

K8
K3

K1

K3

K2

K4

K6

K5

K7

K8

K9

K4

K10

K14

T1

K11

K12

UP

K13

K9

T2

0V

11 2
6

4
26

11 3
13

13 4
28 29

5
8
13
22

3 10
14

12
24

3 11
5

5 12
29 28

5 20
13 21

30

22 31
30 32

15
23

17
25

19
27

16

E. Deskripsi Kerja

45

Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 1 ditekan maka lift akan berada
di lantai 1
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 2 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 2 dan pintu terbuka selama sepuluh detik kemudian tertutup
kembali
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3 dan pintu terbuka selama sepuluh detik kemudian tertutup
kembali
Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 2 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 2 dan pintu terbuka selama sepuluh detik kemudian tertutup
kembali
Pada saat posisi lift di lantai 2 dan call 1 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 1 dan pintu terbuka selama sepuluh detik kemudian tertutup
kembali
Pada saat posisi lift di lantai 1 dan call 3 ditekan maka lift akan naik ke
lantai 3 dan pintu terbuka selama sepuluh detik kemudian tertutup
kembali
Pada saat posisi lift di lantai 3 dan call 1 ditekan maka lift akan turun
ke lantai 1 dan pintu terbuka selama sepuluh detik kemudian tertutup
kembali.

46

BAB IV
PENUTUP
4.1 PENUTUP
laporan ini menyimpulkan bahwa sebelum praktikum mahasiswa harus
memakai alat pelindung diri, Serta mengetahui dan memahami cara kerja dari
setiap komponen yang akan digunakan. Mahasiswa dapat memahami rangkaian
control dari setiap job rangkaian agar mudah untuk menganalisa apabila terjadi
kesalahan pada pengawatan rangkaian. Sebelum merancang pada panel harus
memeriksa alat terlebih dahulu dan teliti dalam melakukan pengawatan agar tidak
terjadi kesalahan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain maupun
peralatan disekeliling area kerja.
4.2 KESIMPULAN DAN SARAN

47

Dari praktek yang telah dilakukan penyusun, penyusun dapat menarik


beberapa kesimpulan diantaranya :
1. Rancangan lift ini menggunakan penggabungan rangkaian self holding dan
interlock
2. Didalam melakukan perencanaan penginstalasian dibutuhkan perencanaan
yang matang, baik dalam hal mempersiapkan alat dan bahan, rancangan
yang benar benar baik dan perhitungan biaya.
3. Gunakanlah semua peralatan dan bahan secara efisien dan baik dalam
melakukan penginstalasian.
4. Mampu membaca diagram lokasi maupun diagram kontrol. Karena dengan
mampu membaca diagram kontrol penginstalsian akan dapat dengan
mudah dikerjakan.
5. Hal yang terpenting dalam penginstalasian adalah pengawatan, karena jika
terdapat kesalahan dalam pengawatan,
maka penginstalasian tidak akan bekerja sesuai dengan yang diinginkan.
6. Jika terjadi trouble dalam melakukan penginstalasian, dan terjadi
kesalahan pengoperasian anda harus mampu mencari kesalahan dan
memperbaikinya, sehingga penginstalasian anda dapat dikatakan handal.
7. Usahakan dalam bekerja harus memperhatikan keselamatan sekitar dan
diri anda sendiri.

48

DAFTAR PUSTAKA
http://kahael.com/product.php?cid=220
http://overseas.sanwa-meter.co.jp/
http://www.google.com.2012.lift atau elevator.
http://www.ia.omron.com/
JICA, 1986. Pengaturan Urutan Kerja.
Pengaturan Urutan Kerja (Sequence Control): MAR.LS.002.06.01.2005. Versi:
November .

JICA, 1986. Pengaturan Urutan Kerja.


Pengaturan Urutan Kerja (Sequence Control): MAR.LS.002.06.01.2005. Versi:
Nopember .

49