Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Harga diri adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri,hilangnya percaya
diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1998). Menurut
klasifikasi Diagnostic and Statisyical Manual of Mental Disorder Text Revision
(DSM IV, TR 2000), harga diri rendah merupakan salah satu jenis gangguan jiwa
kategori gangguan kepribadian (Videbeck, 2008).
World Health Organitation tahun 2001 menyatakan paling tidak 1 dari 4
orang atau sekitar 450 juta orang terganggu jiwanya. Sedangkan menurut
Dharmono (2007), penelitian yang dilakukan World Health Organitation di
berbagai negara menunjukkan bahwa sebesar 20 30 % pasien yang datang ke
pelayanan kesehatan menunjukkan gejala gangguan jiwa. Departement of Human
Service (1999), memperkirakan 51 juta penduduk Amerika didiagnosis mengalami
gangguan jiwa (Videbeck, 2008).
Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2000
mencapai 2,5 juta orang. Berdasarkan data medical record di Rumah Sakit Jiwa
Provsi Medan yang diperoleh melalui survei pendahuluan tercatat bahwa jumlah
pasien gangguan jiwa kategori skizofrenia paranoid sebanyak 1.814 pasien rawat
inap yang keluar masuk dan 23.522 pasien rawat jalan. Sedangkan tahun 2009
tercatat sebanyak 1.929 pasien rawat inap yang keluar masuk dan 12.377 pasien
rawat jalan. Sementara jumlah pasien yang menderita skizofrenia paranoid
sebanyak 1.581 pasien rawat inap dan 9.532 pasien rawat jalan.
Strategi pelaksanaan komunikasi adalah pelaksanaan standar asuhan
keperawatan terjadwal yang diterapkan pada pasien yang bertujuan untuk
mengurangi masalah keperawatan jiwa yang ditangani (Fitria, 2009). Strategi
pelaksaan komunikasi pada pasien harga diri rendah mencakup kegiatan yang
dimulai dari mengidentifikasi hingga melatih kemampuan yang masih dimiliki
pasien sehingga semua kemampuan dapt dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki
akan meningkatkan harga diri pasien (Keliat, 2009). Pada studi pendahuluan,
peneliti memperoleh data bahwa jumlah pasien harga diri rendah sebanyak 26
orang dari total 44 orang atau sekitar 59,2% yang dirawat di ruang Kamboja
Rumah Sakit Jiwa Provsu Medan. Pelaksanaan strategi pertemuan komunikasi
1

terapeutik hanya dilakukan oleh mahasiswa keperawatan dan belum ada evaluasi
tentang keefektifan dari tindakan tersebut. Sejauh ini, belum ada literatur tentang
pengaruh strategi pelaksanaan komunikasi terhadap kemampuan pasien harga diri
rendah dalam meningkatkan harga diri. Namun dari hasil penelitian yang
dilakukan oleh Carolina terhadap pasien halusinasi menunjukkan bahwa dengan
penerapan asuhan keperawatan halusinasi yang sesuai standar dapat membantu
meningkatkan kemampuan pasien mengontrol halusinasi (Carolina, 2008).
Berdasarkan latar belakang, maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang
pengaruh penerapan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik pada pasien harga
diri rendah dalam meningkatkan harga diri di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu
Medan.
Rata rata harga diri rendah dialami oleh pasien usia 25-60 tahun dengan
permasalahan umumnya adalah masalah perekonomian keluarga dan masalah
rumah tangga dengan prosentase 90%. Perawat akan mengetahui jika perilaku
seperti ini tidak segera ditanggulangi sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa
yang lebih berat.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui pengkajian Harga Diri Rendah
2. Untuk mengetahui diagnosa Harga Diri Rendah
3. Untuk mengetahui Intervensi Harga Diri Rendah
4. Untuk mengetahui Implementasi Harga Diri Rendah
5. Untuk mengetahui Evaluasi Harga Diri Rendah
6. Untuk mengetahui Discharge Planning Harga Diri Rendah
1.2.2 Tujuan Umum
Untuk mengetahui proses Keperawatan pada pasien Harga Diri Rendah.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengkajian
Langkah pertama dari proses keperawatan yaitu pengkajian, dimulai perawat
menerapkan pengetahuan dan pengalaman untuk mengumpulkan data tentang
klien. Pengkajian dan pendokumentasian yang lengkap tentang kebutuhan pasien
dapat meningkatkan efektivitas asuhan keperawatan yang diberikan, melalui halhal berikut:
1. Menggambarkan kebutuhan pasien untuk membuat diagnosis keperawatan dan
menetapkan prioritas yang akurat sehingga perawat juga dapat menggunakan
waktunya dengan lebih efektif.
2. Memfasilitasi perencanaan intervensi.
3. Menggambarkan kebutuhan keluarga dan menunjukkan dengan tepat faktorfaktor yang akan meningkatkan pemulihan pasien dan memperbaiki
perencanaan pulang.
4. Memenuhi obligasi profesional dengan mendokumentasikan informasi
pengkajian yang bersifat penting.

PENGKAJIAN
KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKes HANGTUAH PEKANBARU
Ruang Rawat

: Kampar

Tanggal Dirawat

I.

IDENTITAS KLIEN
Inisial
No MR
Tanggal Pengkajian
Tempat Tanggal Lahir
Status Perkawinan
Pendidikan Terakhir
Pekerjaan
Suku Bangsa
Sumber Informasi

: Tn. M
: 061552
: 11 Mei 2015
: Padang Panjang, 11-12-1978
: Belum Kawin
: SMP
:: Minang
: Klien/Status/Perawat ruangan

II. ALASAN MASUK


Klien masuk dari IGD 12 tahun yang lalu. Pasien di antar dengan alas an
mengancam orang, bicara-bicara sendiri, keluyuran, cara makan tidak
sebenarnya.pasien di pasung selama 1 tahun yang lalu.
Keluhan utama saat pengkajian:
Klien mengatakan tidak ada mengalami keluhan.klien menceritakan tidak tahu
alas an masuk ke Rumah Sakit Jiwa ini. Klien terlihat pasif dan jarang
berbicara. Pada pengkajian minggu ke 3 klien mengatakan mengeluhkan berisik
di dalam sel dan mengganggu tidurnya.

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Klien pernah mengalami gangguan jiwa masa lalu:
Klien baru pertama kali menderita gangguan jiwa.
2. Trauma yang pernah di alami (usia, pelaku, korban, saksi):
a. Aniaya fisik: klien mengatakan tidak ada aniaya fisik.
b. Aniaya seksual: klien mengatakan tidak ada aniaya seksual.
c. Penolakan: klien mengatakan tidak pernah di tolak apapun.
d. Kekerasan dalam keluarga: klien mengatakan bapaknya suka marah dan
memukulinya.
4

e. Tindakan Kriminal: klien mengatakan tidak ada memukul orang dan


masuk penjara.
3. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa:
Anggota keluarga klien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan:
a. Kegagalan: klien mengatakan tidak pernah alami kegagalan.
b. Kehilangan: klien mengatakan tidak ada kehilangan.
c. Perpisahan/kematian: klien mengatakan keluarga tidak ada yang
meninggal.
d. Trauma selama tumbuh kembang: klien mengatakan tidak ada trauma
saat masa kecil.
5. Latar belakang budaya dan sosial:
a. Factor-faktor lingkungan (pengaturan tempat tinggal keluarga, tipe
keluarga, kondisi kerja khusus):
Klien tinggal bersama bapak dan ibunya dan adik-adiknya di dalam
rumah. Tipe keluarga adalah keluarga inti.
b. Keyakinan dan praktik kesehatan (tanggung jawab pribadi untuk
kesehatan):
Klien merasa sehat-sehat saja, klien mengatakan akan rutin minum
obat secara teratur sesuai anjuran perawat.
c. Praktek dan keyakinan religius:
Klien yakin dengan agama yang di anutnya yaitu agama Islam, tetapi
selama klien di rawat di Rumah sakit klien tidak pernah melakukan
sholat. Klien mengatakan akan mengikuti sholat 5 waktu sesuai
anjuran perawat.
6. Pola koping sebelumnya terhadap stres:
Klien mengatakan jika sedang stres tidak ada berbuat apa-apa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda vital:
TD: 110/80 mmHg, Nadi: 78 x/menit, P: 22 x/menit, Suhu: 36,70C.
2. Antropometri:
TB: 163 cm, BB: 58,6 kg.
3. Keluhan fisik:
Klien mengatakan kakinya terasa gatal dan rambutnya gatal. Klien
tampak menggaruk kepala dan kaki. Kepala tampak berketombe dan
kulit kaki yang gatal sedikit kering. Kuku tampak panjang.
V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
5

KLI
EN

a. Masalah yang terkait dengan komunikasi


Klien mengatakan komunikasi dengan orang baik. Klien mengatakan
ayanhnya suka marah
b. Pengambilan keputusan
Klien dapat memutuskan mandi dulu gan makan
c. Pola asuh
Klien dalam keluarga sebagai anak tertua, klien tinggal bersama ayah, dan ibu
dan adik-adiknya

2. Konsep diri
a. Citra tubuh, persepsi klien terhadap tubuhnya sangat klien sukai dan tidak
ada yang klien sukai
b. Identitas
c. Ideal diri, klien harap cepat keluar dari rumah sakit dan berkumpul
bersama keluarga
d. Peran klien bekerja sebagai tukang kebun, sering mencangkul
e. Harga diri klien jarang berhubungan atau berbicara dengan orang lain klien
tidak mau memulai pembicara dulu
3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti: belum terkaji
b. Peran serta dalam kelompok/masnyarakat:
klien mengatakan tidak ada mengikuti kegiatan masyarakat
c. Habatan dalam hubungan dengan orang lain:
Kilen tampak dalam, tetapi klien mau berbicara jika diajak bicara jika
diajak bicara duluan
d. Spiritual
Klien yakin dengan agama yang diamatnya yaitu islam, tetapi selama
dirawat klien tidak pernah melaksanakan sholat
VI. STATUS MENTAL
6

1. Penampilan umum
a. Penampilan
Penampilan klien cukup rapi, rambut botak, berpakaian serangan rumah
sakit.
b. Perilaku umum
Klien tampak diam ditempat. Kadang klien tidur dan menatap keluar
dengan tatapan kosong
2. Pembicaraan
Klien bicara lambat dan peran sakit gerinteraksi, cukup tangkap dalam
pembicraan, dan menjawab pertanyaan dengan singkat. Dalam berbicara
klien tidak mau memulai pembicaraan.
3. Aktivitas motorik
Klien tampak kurang bersemangat dalam beraktivitas. Klien mengatakan
suka duduk saja.
4. Alam perasaan
Klien merasa bosan didalam ruangan dan sedih karena tidak tahu alasan
dibawa kerumah sakit jiwa
5. Afek
Afek klien menunjukkan reaksi yang datar saat ada stimuli
6. Interaksi selama wawancara
Saat gerinteraksi kontak mata (+), klien tampak kooperatif selama diskusi
dan menatap kawan bicara
7. Persepsi
+ klien tidak mengalami halusnasi
8. Proses fikir
Saat gerinteraksi klien bercerita dengan singkat tetapi sesuai tujuan.
9. Isi fikir
Klien mengalami depersonalisasi, yaitu perasaan orang yang terhadap diri
sendiri orang atau lingkungan
10. Tingkat kesadaran
Klien tampak bingung
11. Disorentasi
Klien menunjukkan disorientasi waktu dan tempat, saat di tanya klien tidak
tahu jam berapa dan tanggal berapa sekarang, klien juga lupa dalam
mengingta nama orang
12. Memori/daya ingat
a. Gangguan daya ingat jangka panjang: b. Gangguan daya ingat jangka pendek: c. Gangguan daya ingat saat ini: saat ini klien tidak ingat siapa nama
temannya
13. Tingkat konsentrasi dan berhitung
a. Mudah beralih: saat interaksi pasien tidak mudah beralih dan fokus
b. Tidak mampu berkonsentrasi:7

c. Tidak mampu berhitung sederhana: klien dapat berhitung dan


mengurangu
14. Kemampuan penilaian
a. Gangguan ringan: klien dapat mengambil keputusan yaitu mandi dulu
baru makan
b. Gangguan bermakna: tidak terkaji
15. Daya tilik diri
a. Mengingkari penyakit yang diderita
Klien tidak menyadari penyakit yang diderita dan tidak tahu alasan
dibawa kesini
b. Menyalahkan hal-hal diluar dirinya:
Klien mengatakan tidak ada

VII. MEKANISME KOPING


1. Adaptif
a. Bicara dengan orang lain: klien tampak jarang berbicara dengan orang lain
b. Mampu menyelesaikan masalah: tidak
c. Teknik relaksasi
d. Aktivitas konstruktif
e. Olahraga: klien jarang olahraga
f. Lainnya
2. Mal adaptif
a. Minum alkohol: tidak
b. Reaksi lambat atau berlebihan: reaksi lambat
VIII. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
1. Masalah dengan lingkungan kelompok: tidak ada
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan: klien mengatakan teman
3.
4.
5.
6.
7.
8.

seruangannya berisik
Masalah dengan pendidikan: klien mengatakan tidak tamat sma
Masalah dengan pekerjaan: tidak ada
Masalah dengan perumahan: tidak ada
Masalah dengan ekonomi: tidak ada
Masalah dengan pelayanan kesehatan: tidak ada
Masalah lainnya:

X. KURANG PENGETAHUAN TENTANG


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penyakit jiwa
Faktor prediposisi
Koping
Sistem pendukung
Penyakit fisik
Obat-obattan
Lainnya
8

Analisa Data
Data
Subjektif
- Klien

Masalah
Harga diri rendah

mengatakan

jika

sedang

stress tidak ada berbuat apa-apa


Klien mengatakan tidak tahu alasan

masuk kerumah sakit


Klien mengatakan tidak mengikuti
kegiatan masyarakat

Objektif
-

Klien terlihat pasif dan jarang

berbicara
Klien mau berbicara jika diajak

bicara duluan
Klien tampak kurang bersemangat

dalam beraktitivitas
Klien tampak bicara lambat dan
pelan

saat

menjawab
-

berinteraksi
pertanyaan

dan
dengan

singkat
Ajakan klien tampak datar

XI. ASPEK MEDIK


Diagnosa medik: harga diri rendah
Terapi medik:
Haloperidol 5 mg
Hegymer
2 mg
CPZ
100 MG
Risperidon
2 mg
Omeprazole 20 mg

2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subjektif dan objektif
yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakkan diagnosis
keperawatan. Diagnosis keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang

data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan
kesehatan yang lain.
Data

Masalah

DS: Halusinasi
DO: hasil dokumentasi:
- pasien diantar karena berbicara
sendiri
keluyuran

POHON MASALAH

2.3 Intervensi
Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang
berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi
keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut.
ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI RENDAH
Nama Klien

: Tn. M

RM

Dx Medis
Ruangan

Diagnosa
keperawatan
Gangguan

Tujuan
Tum : dapat

Perencanaan
Kriteria evaluasi
1. Setelah

konsep diri : mengatasi gangguan

interaksi,

harga

menunjukkan

rendah

diri harga diri rendah

Intervensi

kali 1. Bina hubungan saling percaya


klien

klien.

ekspresi

Tuk :

wajahbersahabat,
10

dengan menggunakan prinsip


komunikasi teraupetik.
a. Sapa klien dengan ramah
baik verbal maupun non

1. Klien

dapat

menunjukkan rasa

membina

senang,

ada

hubungan saling

kontak mata, mau

percaya dengan

berjabat

perawatan

mau

verbal.
b. Perkenalkan diri dengan
sopan
c. Tanyakan nama lengkap

tangan,
menyebut

nama,

mau

menjawab salam,
klien mau duduk
berdampingan
dengan

dan nama panggilan yang


disukai klien.
d. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Jujur dan menetapi janji
f. Tunjukan sikap empati dan
menerima klien apaadanya.
g. Beri
perhatian
dan

perawat,

perkataan kebutuhan dasar

mau

klien.

mengutarakan
masalah
2. Klien

yang

dihadapi.
dapat 2. Setelah kali

mengidentifikasi

interaksi klien

aspek positif dan

menyebutkan :
a. Aspek positif

kemampuan

dan

yang dimiliki.

kemampuan
yang dimiliki
klien.
b. Aspek positif
keluarga
c. Aspek positif
lingkungan
klien.

2.1 Diskusikan dengan klien


tentang :
a. Aspek positif yang dimiliki
klien, keluarga dan
lingkungan.
b. Kemampuan yang dimiliki
klien
2.2 Bersama klien buat daftar
tentang :
a. Aspek positif klien,
keluarga, lingkungan.
b. Kemampuan yang
dimiliki klien.
2.3 Beri pujian yang realistis,
hindarkan memberi penilaian

3. Klien dapat

3. Setelah kali

menilai

interaksi klien

kemampuan

menyebutkan

yang dimiliki

kemampuan yang

untuk

dapat

dilaksanakan.

dilaksanakan.
11

negatif
3.1 Diskusikan

dengan

klien

yang

dapat

kemampuan

dilaksanakan
3.2 Diskusikan kemampuan yang
ada
pelaksanaannya.

dilanjutkan

4. Klien dapat

4. Setelah kali

4.1 Rencanakan

bersama

klien

merencanakan

interaksi klien

aktivitas yang dapat dilakukan

kegiatan sesuai

membuat rencana

setiap hari sesuai kemampuan

dengan

kegiatan harian.

kemampuan yang
dimiliki.

klien.
a. Kegiatan mandiri
b. Kegiatan dengan bantuan.
4.2 Tingkatkan kegiatan sesuai
kondisi klien
4.3 Beri contoh cara pelaksanaan
kegiatan

5. Klien dapat

5. Setelah kali

melakukan

interaksi klien

kegiatan sesuai

melakukan

rencana yang

kegiatan sesuai

dibuat

jadwal yang
dibuat.

yang

dapat

klien

lakukan.
5.1 Anjurkan klien untuk
melaksanakan kegiatan yang
telah direncanakan.
5.2 Pantau kegiatan yang
dilaksanakan klien.
5.3 Beri pujian atas usaha yang
dilakukan klien.
5.4 Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan kegiatan setelah

6. Klien dapat

6. Setelah kali

pulang.
6.1 Beri pendidikan kesehatan

memanfaatkan

interaksi klien

pada keluarga tentang cara

sistem

memanfaatkan

merawat klien dengan harga

pendukung yang

sistem

ada.

pendukung yang
ada dikeluarga.

diri rendah
6.2 Bantu keluarga memberikan
dukungan selama klien
dirumah
6.3 Bantu keluarga menyiapkan
lingkungan dirumah.

12

ANALISA PROSES INTERAKSI


Inisial klien

: Tn. M

Status interaksi

: Pertemuan ke-1

Lingkungan
1. Tempat interaksi
: Diteras depan ruang kamar
2. Posisi perawat klien : Berhadapan
Deskripsi klien

: Cukup tenang, kontak mata (+), ekspresi wajah datar

Tanggal dan waktu

: Senin/ 11-05-2015/ jam 10.00

Tujuan interaksi

: Membina hubungan saling percaya pada klien

Komunikasi verbal

Komunikasi non

Analisa berpusat

Analisa

rasional

verbal

pada perawat

berpusat pada
klien

P : Selamat pagi Bapak, P : Tersenyum Berharap

klien

Kejujuran, ketersedian

perkenalkan nama saya sambil

dapat mengenal

penerimaan

Ayun

perawat dan mau

meningkatkan

cukup panggil saya Ayu. tangan.

menerima

kepercayaan hubungan

Saya mahasiswa perawat

kehadiran

perawat dank lien.

yang berdinas diruangan

perawat.

Septiana,

bapaj mengulurkan

ini, nama bapak siapa?


K : M....

Menjabat

tangan
ekspresi
datar,

Klien

perawat,

mau

berkenalan

wajah

dengan perawat

kontak

dan

mata (+).

menerima

kehadiran
perawat.
13

P : Oh nama bapak P : tersenyum.

Berharap

Muslimin.

mengatakan

dapat

keadaannya hari ini?

keadaanya

keadaan pasien dan

Sudah mandi tadi pagi?

kepada perawat.

dapat

Bagaimana

klien

Menyatakan perasaan
mengetahui
membina

hubungan

saling

percaya.
K : Baik, sudah tadi K
pagi.

perawat,

Menatap

Klien

kontak

mata

menceritakan

(+),

ekspresi

mau

keadaan

wajah

dan

kebersihan diri

datar.

yaitu mandi.

P : Wah, bagus ya pak. P : tersenyum.

Berharap

Bagaimana kalau kita

mau berbincang-

penjelasan

mengobrol?

bincang dengan

mengetahui

perawat.

keadaan yang dialami

Kenapa

bapak berada disini?

klien

Meningkatkan
dapat
tingkat

pasien.
K : tidak tahu, dirumah K
saya diborgol.

Ekspresi

wajah

tampak

datar

Klien

mau

berbincang

dan

dengan perawat.

menundukan
kepala.

P : Oh, begitu ya pak. P : Empati pada Berharap


Baiklah

bapak

sudah klien.

mau bercerita?

klien

Mengetahui

mengatakan

perasaan klien pada

perasaanya

perawat.

kepada perawat.

K : senang.

mata(+)

tingkat

Kontak

Klien

sedikit

mengatakan
14

tersenyum.

senang

pada

perawat.
P : Senang ya pak. P : tersenyum.

Berharap

Bagaimana kalau besok

dapat

tingkat/atau

kita

menjelaskan

yang dilakukan oleh

diskusikan

apa

klien

kegiatan bapak yang bisa

kegiatan

dapat dilakukan? Mau

dilakukan klien.

Mengetahui

yang

kegiatan

klien.

pak?
K : Mau

Klien

mau

Menganggukan

menjelaskan

kepala.

kegiatan

yang

dilakukan klien.
P : Baiklah, besok ya P : tersenyum.

Berharap

disini lagi pak?

mau melakukan

waktu kepada pasien

kegiatan

untuk

berikutnya.

selanjutnya

K : Iya.

klien

Melakukan

K:

Klien

mau

menganggukan

melakukan

kepala.

kontrak

waktu

selanjutnya.
P : Baik, makasih kita P : Tersenyum Mengucapkan
masuk kedalam lagi ya dan
pak.

tangan.

berjabat tanda

terima

kasih.

K : ya.

Klien

mau

berkabat tangan
dan

menuruti

perintah
15

kontrak
tindakan

perawat.

ANALISA PROSES INTERAKSI


Inisial klien

: Tn. M

Status Interaksi

: Pertemuan ke 3

Lingkungan

: Ditempat mandi pasien

1. Tempat interaksi

2. Posisi perawat klien : Berhadapan dengan perawat dan melihat kearahpiring


dan gelas.
Deskripsi klien

: Klien tampak berjalan lambat, kontak mata (+)

Tanggal dan waktu

: Rabu/ 13-5-2015

Tujuan interaksi

: Mengatasi gangguan HDR/melatih cuci piring.

Komunikasi
Verbal
P: Selamat pagi
pak,

Komunikasi Non

Analisa Berpusat

Verbal
pada Perawat
P:Tersenyum dan Berharap klien mau
berjabat tangan

berjabat

Analisa Berpusat

Rasional

pada Klien
Melatih

tangan

kemapuan pasien

Bagaimana

dengan perawat dan

mempraktekan

keadaan bapak

mau mempraktekan

merapikan tempat t

pagi

ini?

cara

Sudah

bisa

tempat tidur.

merapikan

merapikan
tempat tidur?
Coba

saya

lihat

cara

bapak
merapikan
tempat tidur.
K: Baik. (klien K:

Klien

Klien
16

mau Melatih

kemam

mencontohkan

mempraktekan

merapikan

cara

cara

tidur dan berjabat kemampuan mengin

merapikan

tempat tidur.

merapikan

tempat tidur).

Berharap

klien tangan

mengingat

P: Bapak masih P: Tersenyum.

tempat pasien

dengan

perawat.

kegiatan.

ingat kegiatan
kita hari ini?
K: Cuci piring.

K: Kontak mata

Klien

(+)

mengingat
Berharap
dapat

dapat

klien kegiatan.

melakukan

P: Ya benar. Kita P: Tersenyum dan mencuci piring.


akan

latihan mengarahkan

cici

piring. pasien.

Bapak

bisa

mencuci
piring?

K: Bisa.

P:

Bagus.

K: Mengangguk -

Klien

anggukan kepala.

mencuci piring.

Mari P:

Menunjuk Berhaap klien dapat

dapat

Mendemonstrasikan

kita

latihan kearah piring.

mendemonstrasikan

cara mencuci piring

cuci

piring.

cuci piring

melihat

Alat-alatnya

pasien.

sudah tersedia
ya. Ayo coba
saya lihat cara
bapak
mencuci
piring.

17

kemam

K: -

Mempraktekan

Klien

cara

mendemonstrasikan

mencuci

piring.
P: Wah bagus ya P:
pak

dapat

cara cuci piring.


Tersenyum, Berharap

klien

Memasukkan ked

begitu. tepuk tangan dan mengungkapkan

Bersih-bersih
bilasnya

menepuk pundak perasaan

ya klien.

jadwal

setelah

harian

meliat perasaan pa

mencuci piring dan

dan

menghargai

pak.

memasukan jadwal

kemampuan pasien.

Bagaimana

kegiatan harian.

pak, bisa kan


mencuci
piringnya.
Kita masukan
jadwal
kegiatan
harian ya pak
.
K: Ya.

K: Kontak mata

Klien

dapat

(+) , efek datar.

mengikuti perintah
perawat.

P: Mau berapa kali P: Tersenyum


pak?

Besok

kita

Berharap klien mau

Melakukan

mengepel lantai.

melatih

akan

mengepel.
jam

berapa? Sama
dengan
sekarang?
K:

Tidak.

kemam

pasien yang lain.

latihan
Mau

Iya, K: Efek datar dan

Klien

besok seperti menundukan

dapat/mau

mengepel lantai.
18

ini.

kepala.

P: Baiklah, sampai P: Tersenyum.

Berharap

klien

Mengucapkan

jumpa,

dapat mengucapkan

dapat menunjukkan

Assalamualai

salam.

kesopanan.

kum.
K: Ya, walaikum Menganggukan
salam.

Klien

kepala.

dapat

mengucapkan
salam.

ANALISA PROSES INTERAKSI


Inisial klien : Tn. M
Status interaksi : pertemuan ke 6
Lingkungan
1. Tempat interaksi : diluar teras
2. Posisi perawat klien : mengarah kelantai pada posisi tangan
Deskripsi klien : klien tempat rapi, ekspresi wajah datar, kontak
Tanggal dan waktu : selasa/ 19-05-2015
Tujuan interaksi : melatih kemampuan pasien dalam mengepel.
Komunikasi
verbal
P: Selamat pagi

Komunikasi non

Analisa berpusat pada

verbal
perawat
P: tersenyum dan Berharap klien dapat

pak,

berjabat

menceritakan

bagaimana

tangan

keadaannya.

Analisa berpusat

rasional

pada klien
Mengetahu lebih jauh
perasaan klien.

keadaan pagi
ini?
K: Baik.

K: tersenyum

Klien

dan berjabat

menceritakan

tangan

keadaannya
19

P: baiklah pak,

P: tersenyum.

Berharap klien dapat

Melakukan pengkajian

sesuai janji

melakukan kegiatan

ulang dalam

kemaren kita

mengepel lantai

kemampuan pasien.

akan melatih
kemampuan
bapak
berikutnya
yaitu latihan
mengepel
lantai ya pak?
K: iya.

K: tersenyum

Klien mau

dan

melakukan

menganggukan

kegiatan mengepel

kepala.

lantai

P: baik, kita mau P: tersenyum

Berharap klien dapat

berapa lama

mengatakan waktu

pak? Baik

yang diinginkan

mari kita
coba ya pak.
K: ya terserah
saja.

P:baik, mari kita

K: kontak

Klien tidak bias

mata(+)

menjawab berapa

memandang

lama waktu yang

perawat.

diinginkan.

P: tersenyum dan Berharap klien

Mengetahui tingkat

praktekkn

mengambil alat

mengerti apa yang

kemampuan pasien

pak, sebelum

pel.

disampaikan dan

dalam melakukan

kita menepel

mempraktekan cara

kegiatan

lantai terlebih

mengepel lantai.
20

dahulu kita
menyapu
lantai, bila
sudah bersih,
kita pel
lantai, alat
yang
digunakan
adalah alat
pel, air,
ember sabun
pel, nah,
semua
alatnya
tersedia, coba
bapak
praktekan.
Jangan lupa
diperas ya
pak setelah
pelnya
dimasukan ke
ember.
K: iya.

Kontak mata (+)

Klien mengatakan

memandang

mengerti

perawat.
P: wah, iya

P: tersenyum dan Berharap klien dapat

Memberikan

benar begitu

memandang

termotivasi setelah

penghargaan atas

pak. Bapak

klien.

diberi penghargaan.

pujian dapat

melakukanny

memotivasi pasien.

a dengan baik
sudah bersih
21

pak? Sudah
selesai?
K: sudah.

P: baik, jangan

K: kontak mata

Klien mengatakan

(+)

sudah.

P: tersenyum dan Berharap klien dapat

Menunjukan

luoa untuk

memandang

mau meakukan

kemampuan klien lain

mencuci

klien.

kegiatan berikutnya.

yang bisa dilakukan.

tangan ya
pak. Besok
kita latihan
menyiram
tanaman ya
pak, mau jam
berapa?
Disini lagi
ya?
K: ya, seperti ini
saja

K: kontak

Klien mau

mata(+)

melakukan
kegiatan
berikutnya.

P: baik, sampai

P: tersemyum

jumpa.

22

ANALISA PROSES INTERAKSI


Inisial klien

: Tn.M

Status interaksi

: pertemuan ke 8

Lingkungan

1. Tempat interaksi
: diluar ruang kampar
2. Posisi perawat klien : berhadapan
Deskripsi klien

: klien tampak rapi, kontak mata(+)

Tanggal dan waktu

Tujuan interaksi

: melatih kegiatan menyiram bunga

Komunikasi

Komunikasi Non

Analisa Berpusat

Verbal
Verbal
Pada Perawat
P: selamat pagi P: tersenyum dan Berharap
klien
pak,

bagaimana berjabat tangan

keadaan

bapak

Analisa Berpusat

Rasional

Pada Klien
Mengetahui lebih jauh

dapat menceritakan

perasaan klien.

keadaannya.

hari ini?
K: baik

K:

tersenyum

dan

Klien menceritakan

berjabat

tangan,

keadaannya .

kontak

mata (+)
P: baiklah pak P:
sesuai

tersenyum, Berharap

janji memandang

dapat

klien

Melakukan pengkajian

melakukan

kemarin kita akan pasien.

kegiatan menyiram

melatih

bunga.

ulang

kemampuan pasien.

kemampuan
bapak

yaitu

latihan menyiram
bunga
K: ya

K: tersenyum dan

Klien

menganggukan

melakukan kegiatan
23

dalam

mau

kepala.
P:

Baik,

menyiram bunga.

mau P: tersenyum

Berharap klien mau

Mengetahui keinginan

berapa lama kita

mengatakan waktu

pasien dalam waktu

pak? Baik, mari

yang diinginkan.

yang diberikan untuk

kita coba ya pak


K: iya, 5 menit

klien.
K:

kontak

Klien

mengatakan

mata(+)

waktu

yang

memandang

diberikan.

perawat.
P: baik, mari kita P: tersenyum dan Berharap

klien

Mengetahui

tingkat

praktekkan ya pak menunjuk alat.

mengikuti apa yang

kemampuan

pasien

sebelum

disampaikan

dalam

kita

menyiram bunga,

perawat

kita siapkan dulu

mempraktekkan

alat-alatnya yaitu

cara

ember,

bunga.

air

gayung,

dan

dan
menyiram

kalau

tidak ada gayung


bisa

diganti

dengan
gelas/centong saja
ya pak, mari saya
contohkan,
pertama

setelah

tersedia

semua

alatnya,

kita

ambil air didalam


ember lalu siram
bunganya secara
perlahan.

Nah,

seperti itu ya pak


jangan

terlalu
24

kegiatan.

melakukan

banyak.
K: -

K:

mengambil

Klien

dapat

ember, gelas dan

mengikuti perintah

air.

perawat.

P: wah, bapak P: tersenyum

Berharap

klien

Memberikan

bisa

dappat termotivasi

penghargaan

baik,

setelah

memotivasi pasien.

sudah bisa kan

pujian.

melakukan

dengan

diberi

dapat

pak?
K: bisa

K: tersenyum

Klien

mengikuti

perintah

dengan

baik
P: baik kalau P: tersenyum dan Berharap

klien

sudah selesai kita memandang klien

dapat

mau

letakkan kembali

melakukan kegiatan

alat-alatnya.

selanjutnya.

Bagaimana

pak

setelah menyiram
tanaman?
Senang?
K: senang

K:

tersenyum,

Klien

kontak mata(+)

melakukan kegiatan kemampuan


selanjutnya.

P:baiklah

kita P: tersenyum dan

masukkan

berjabat tangan

kejadwal

harian

ya pak.

Mau

mau Menunjukkan

25

klien

yang bisa dilakukan.

berapakah
kita

pak
lakukan

menyiram
tanaman? Baiklah
sampai jumpa.
K:1

kali

ya. K: tersenyum dan

Sampai jumpa

memandang
perawat.

2.4 Implementasi
Implementasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan adalah
kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang
dilakukan dan diselesaikan.
2.5 Evaluasi
Langkah evaluasi dari proses keperawatan mengukur respons klien terhadap
tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan.

Discharge Planning
Discharge Planning (Perencanaan Pulang) merupakan komponen sistem
perawatan berkelanjutan, pelayanan yang diperlukan klien secara berkelanjutan
26

dan bantuan untuk perawatan berlanjut pada klien dan membantu keluarga
menemukan jalan pemecahan masalah dengan baik, pada saat tepat dan sumber
yang tepat dengan harga yang terjangkau.
Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Orientasi:
Assalamualaikum Pak/Bu
Karena hari ini T sudah boleh pulang, maka kita akan membicarakan jadwal
Tselama di rumah
Berapa lama Bpk/Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di kantor
Kerja:
Pak/Bu ini jadwal kegiatan T selama di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah
semua dapat dilaksanakan di rumah?Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama T
dirawat dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan maupun
jadwal minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh T selama di rumah. Misalnya kalau T terus menerus menyalahkan diri sendiri
dan berpikiran negatif terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera
hubungi perawat K di puskemas Indara Puri, Puskesmas terdekat dari rumah
Bapak/Ibu, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 554xxx
Selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau perkembangan T selama di
rumah
Terminasi:
Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S untuk
dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K di PKM Inderapuri. Jangan lupa
kontrol ke PKM sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan
selesaikan administrasinya!

BAB III
PENUTUP

27

3.1 Kesimpulan
Langkah pertama dari proses keperawatan yaitu pengkajian, dimulai perawat
menerapkan pengetahuan dan pengalaman untuk mengumpulkan data tentang
klien.
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subjektif dan
objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakkan diagnosis
keperawatan. Diagnosis keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang
data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan
kesehatan yang lain.
Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang
berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi
keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut.
Implementasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan adalah
kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang
dilakukan dan diselesaikan.
Langkah evaluasi dari proses keperawatan mengukur respons klien terhadap
tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan.
3.2 Saran
Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap Asuhan
Keperawatan Jiwa Harga Diri Rendah sehingga dapat dikembangkan dalam
tatanan layanan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

28

Carpenito, L.J. (2008). Diagnosis Keperawatan: Aplikasi pada praktik klinis.


Jakarta: EGC.
Keliat, B. A. (1999). Proses kesehatan jiwa. Edisi I. Jakarta: EGC.
NANDA international. (2010). NANDA Nursing Diagnosis: Definitions and
Classification. Philadelphia: NANDA International.
Suliswati, dkk. (2005). Konsep dasar keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: EGC.
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

29