Anda di halaman 1dari 11

FLUORESENSI DAN FOSFORESENSI

FOSFORESENSI
Fosfor ialah zat yang dapat berpendar karena mengalami fosforesens (pendaran yang
terjadi walaupun sumber pengeksitasinya telah disingkirkan). Fosfor berupa berbagai jenis
senyawa logam transisi atau senyawa tanah langka seperti zink sulfida (ZnS) yang ditambah
tembaga atau perak, dan zink silikat (Zn2SiO4)yang dicampur dengan mangan. Kegunaan fosfor
yang paling umum ialah pada ragaan tabung sinar katoda (CRT) dan lampu pendar, sementara
fosfor dapat ditemukan pula pada berbagai jenis mainan yang dapat berpendar dalam gelap (glow
in the dark). Fosfor pada tabung sinar katoda mulai dibakukan pada sekitar Perang Dunia II dan
diberi lambang huruf "P" yang diikuti dengan sebuah angka.
Sebenarnya zat fosfor / fluoresens itu berpendar sepanjang terkena terhadap gelombang
cahaya (misalnya: cahaya matahari). Namun, cahaya yang dihasikan dari hasil eksitasi elektron
dari zat fosfor kalah terang dari cahaya (matahari), sehingga zat tersebut tidak terlihat sedang
berpendar/memancarkan cahaya. Hal inilah yang menyebabkan fosfor terlihat berpendar pada
ruang gelap atau pada malam hari.
Phosphorescent pigments - comparison ZnS vs. aluminate

left: Zinc sulfide, right: SrAl2O4

pigments in the dark

pigments in the dark after 4 min


Penyerapan energi oleh molekul memungkinkan terjadinya eksitasi, fluoresensi, dan
Fosforesensi. Banyak senyawa kimia memiliki sifat fotoluminensi yaitu dapat dieksitasikan oleh
cahaya dan memancarkan kembali sinar dengan panjang gelombang sma atau berbeda dengan
semula. Ada dua peristiwa fotoluminensi yaitu Fluorosensi dan Fosforesensi.
Pada luminescen, sebagian molekul dalam keadaan ground state berada dalam keadaan
singlet. Pada molekul singlet, spin electron berpasangan sedangkan dalam keadaan triplet spin
electron tidak berpasangan. Oleh karena itu energy pada keadaan triplet sedikit lebih rendah
disbanding energy pada keadaan singlet.

Fosforesensi adalah jenis spesifik dari fotoluminesen yang terkait dengan fluoresensi .
Tidak seperti fluoresensi, bahan pendar tidak segera memancarkan kembali radiasi yang telah
diserap. Skala waktu lebih lambat dari emisi-ulang berkaitan dengan transisi energi bagian yang
dilarang dalam mekanika kuantum.
Fosforesensi, pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar
dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4 detik). Jika penyinaran kemudian dihentikan,
pemancaran kembali masih dapat berlangsung. Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkattingkat energi elektronik triplet ke singlet dalam suatu molekul.
Fosforesens dapat menyimpan energi lebih lama, sehingga akan memancarkan cahaya
(berpendar) lebih lama dari pada fluorosens. Pada fluorosens, setelah energi yang digunakan
untuk mengeksitasi elektron dihilangkan (biasanya berupa sinar UV) maka zat fluorosens tidak
akan dapat menyala dalam gelap. Dengan kata lain zat berfluororesensi hanya dapat terlihat
menyala apabila dikenai dengan sinar ultraviolet di dalam gelap, dan tidak dapat berpendar
ketika sinar ultravioletnya dimatikan. Hal ini berkaitan dengan cepat dan lambatnya elektron
kembali ke orbital energi tingkat dasar, semakin cepat elektron kembali ke orbital maka semakin
cepat pula hilang berpendarnya.

Ditinjau dari ilmu kimia, suatu zat bisa menyala dalam gelap diawali dari akibat adanya
eksitasi elektron yang terjadi di dalam zat tersebut karena menerima energi dari luar (seperti
terkena gelombang cahaya), kemudian saat elektronnya kembali ke orbital dasarnya, terjadi
pelepasan energinya kembali (emisi) dalam bentuk gelombang yang tampak berupa
cahaya/pendar.
Proses yang terjadi pada zat yang dapat menyala dalam gelap dimulai eksitasi elektron
yang melibatkan dua orbital dengan tingkat energi berbeda. Pada saat elektron tereksitasi,
elektron berpindah dari orbital berenergi lebih rendah ke orbital yang berenergi lebih tinggi, yang
merupakan reaksi yang non-spontan (dibutuhkan sejumlah energi aktivasi untuk menyebabkan
sebuah elektron tereksitasi, misalnya terkenanya gelombang cahaya/elektromagnetik dengan
energi sejumlah x kJ). Tereksitasinya elektron ini menyebabkan keadaan tidak stabil, sehingga
menyebabkan elektron cenderung kembali ke keadaan orbital dasar elektron tersebut. Pada saat
elektron yang tereksitasi kembali ke orbital asalnya (yang memiliki energi lebih rendah), energi
sejumlah x kJ dilepaskan kembali. Energi yang dilepaskan ini berada dalam bentuk gelombang,
yang panjang gelombangnya berada di range visible/tampak (10 nm 103 nm), sehingga terlihat
menyala di dalam gelap.
Fosforesensi (P) adalah proses suatu molekul melangsungkan suatu transisi (emisi) dari
tingkat triplet ke tingkat dasar.

Pada peristiwa fosforesensi, pancaran cahayanya berakhir beberapa saat setelah proses
eksitasi pada bahan berakhir. Bahan yang mampu memperlihatkan gejala ini disebut fosfor. Ada
kalanya proses fosforesensi baru terjadi jika suatu bahan mendapatkan pemanasan dari luar.
Peristiwa luminesensi dengan bantuan panas dari luar ini disebuttermoluminesensi. Pancaran
cahaya termoluminesensi (TL) didefinisikan sebagai pancaran cahaya dari benda padat dengan
struktur kristal sebagai akibat proses eksitasi yang disebabkan oleh radiasi pengion. Fenomena
TL dapat terjadi karena adanya kerusakan kisi-kisi pada kristal. Zat padat dengan struktur kristal
memiliki berbagai macam kerusakan kisi-kisi di dalamnya. Beberapa kerusakan kisi-kisi itu
disebabkan antara lain oleh hilangnya atom-atom atau ion-ion dari bahan, struktur bidang kristal
yang terputus atau adanya bahan-bahan asing (pengotor) yang terdapat dalam kristal [5]. Pada
pita di sekitar terjadinya kerusakan kisi-kisi tersebut sering kali terbentuk pusat-pusat muatan
listrik yang dapat menarik muatan listrik tak sejenis lainnya. Oleh sebab itu, jika elektron
bergerak memasuki daerah kerusakan dimana terdapat pusat muatan positif, maka elektron akan

tertarik oleh pusat muatan tersebut. Sebaliknya, ion positif dapat tertarik memasuki daerah
kerusakan kisi-kisi dimana terdapat pusat muatan negatif. Jika pusat-pusat muatan yang
terbentuk cukup kuat, maka pusat muatan itu mampu mengikat ion yang tertarik padanya [5].
Pusat-pusat muatan yang cukup kuat ini disebut sebagai perangkap, sedang kemampuan
perangkap dalam mengikat ion disebut kedalaman perangkap. Tingkat kedalaman perangkap
tersebut bergantung pada jenis kerusakan kisi-kisi yang terjadi. Setiap jenis zat padat dapat
memiliki berbagai macam perangkap, masing-masing dengan kedalaman yang berbeda. Jika
suatu kristal dicangkoki (doping) dengan bahan pengotor yang sesuai, maka dapat diperoleh
kristal dengan satu jenis perangkap.
Fenomena termoluminesensi saat ini banyak diterapkan dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan, antara lain untuk mendapatkan informasi mengenai dosis radiasi yang sebelumnya
diterima oleh bahan. Dalam hal ini bahan itu berperan sebagai dosimeter radiasi. Prinsip dasar
dalam pemanfaatan fenomena TL untuk dosimeter radiasi ini adalah bahwa akumulasi dosis
radiasi yang diterima bahan akan sebanding dengan intensitas pancaran TL dari bahan tersebut.
Bahan yang mampu memperlihatkan fenomena TL mencapai lebih dari 2000 jenis
mineral alam, mulai dari bahan Kristal dan gelas anorganik, barang tembikar dan batu api yang
digunakan untuk penanggalan arkheologi, sampai dengan bahan-bahan organik yang berpendar
pada temperatur rendah. Namun hanya ada delapan senyawa organik yang umumnya
dimanfaatkan fenomena TL -nya karena memiliki karakteristik sesuai dengan yang dibutuhkan
dalam dosimetri radiasi.
Selain digunakan sebagai dosimeter radiasi, fenomena fosforesensi digunakan pada
lampu pendar. Lampu pendar adalah salah satu jenis lampu lucutan gas yang menggunakan daya
listrik untuk mengeksitasi uap raksa. Uap raksa yang tereksitasi itu menghasilkan gelombang
cahaya ultraungu yang pada gilirannya menyebabkan lapisan fosfor berpendar dan menghasilkan
cahaya kasatmata. Lampu pendar mampu menghasilkan cahaya secara lebih efisien daripada
lampu pijar.
Lampu pendar dikenal dalam dua bentuk utama. Yang pertama berbentuk tabung panjang
atau yang umum dikenal dengan lampu TL (tubular lamp) atau lampu neon dan yang kedua
berukuran lebih kecil dengan tabung ditekuk menyerupai spiral, umum disebut dengan sebutan
lampu hemat energi (LHE).
Metode fluoresensi dan fosforesensi melibatkan penyerapan radiasi dan pengemisian
radiasi yang umumnya lebih panjang gelombangnya atau lebih rendah energinya. Energi radiasi
yang tidak teremisikan dalam bentuk radiasi kemudian diubah menjadi energi termal.
Fluorosensi maupun fosforesensi berkaitan dengan perubahan energi vibrasi. Perbedaan antara
kedua fenomena tersebut ialah dalam selang waktu antara penyerapan dan emisi. Pada
fosforesensi, emisi terjadi pada waktu sekitar 10-3 detik setelah penyerapan sementara fluorosensi
lebih cepat terjadi yaitu dalam waktu 10-6 10-9 detik setelah penyerapan.
FLUORESENSI
Fluor adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang F dan nomor
atom 9. Namanya berasal dari bahasa Latin fluere, berarti "mengalir". Dia merupakan gas
halogen univalen beracun berwarna kuning-hijau yang paling reaktif secara kimia dan
elektronegatif dari seluruh unsur. Dalam bentuk murninya, dia sangat berbahaya, dapat
menyebabkan pembakaran kimia parah begitu berhubungan dengan kulit.

Fluoresensi adalah pendaran sinar pada saat suatu zat dikenai cahaya. Hal ini karena sifat
butir Kristal suatu zat jika mendapat rangsangan berupa cahaya akan langsung memancarkan
cahayanya sendiri dan berhenti memancar jika rangsangan itu dihilangkan. Contoh rambu-rambu
lalu lintas, beberapa jenis cat, dan stiker yang bersifat fluoresensi. Fluorensensi berarti juga
kelihatan bersinar bila kena sinar. Definisi fluoresensi adalah pendaran sinar pada saat suatu zat
dikenai cahaya. Hal ini karena sifat butir Kristal suatu zat jika mendapat rangsangan berupa
cahaya akan langsung memancarkan cahayanya sendiri dan berhenti memancar jika rangsangan
itu dihilangkan. Contoh rambu-rambu lalu lintas, beberapa jenis cat, dan stiker yang bersifat
fluoresensi. Fluorensensi berarti juga kelihatan bersinar bila kena sinar.
Fluoresensi dapat juga dikatakan sebagai emisi cahaya oleh suatuzat yang telah menyerap
cahaya atau radiasi elektromagnetik denganperbedaan panjang gelombang.
Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya oleh suatu materi setelah tereksitasi
oleh berkas cahaya berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi karena proses absorbsi cahaya oleh
atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi. Keadaan atom yang tereksitasi akan kembali
keadaan semula dengan melepaskan energi yang berupa cahaya (de-eksitasi). Fluoresensi
merupakan proses perpindahan tingkat energi dari keadaan atom tereksitasi (S1 atau S2) menuju
ke keadaan stabil (ground states). Proses fluoresensi berlangsung kurang lebih 1 nano detik
sedangkan proses fosforesensi berlangung lebih lama, sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik.
Fluoresensi dapat juga dikatakan sebagai emisi cahaya oleh suatu zat yang telah
menyerap cahaya atau radiasielektromagnetik lain dari panjang gelombang yang berbeda. Dalam
beberapa kasus, emisicahaya memiliki panjang gelombang yang lebih panjang, oleh karena itu
energinya lebihrendah, dibandingkan dengan radiasi yang diserap. Namun, ketika radiasi
elektromagnetik yang diserap sangat ketat, sangat mungkin bagi satu electron untuk menyerap
dua foton, penyerapan dua foton ini dapat mengakibatkan emisi radiasi memiliki panjang
gelombangyang lebih pendek daripada serapan radiasi. Contoh yang paling mengesankan
darifluoresensi muncul ketika radiasi diserap di wilayah spektrum ultraviolet, dan ini
tidak tampak, dan emisi cahaya ada di wilayah tampak (visibel). Fluoresensi memiliki aplikasi
praktis, termasuk dalam mineralogi, gemologi, sensor kimia(Fluoresensi spektroskopi), pelabelan
neon, pewarna, detektor biologis, dan yang paling umum lampu neon.

Prinsip Fluoresensi
1. Proses Absorpsi
Proses absorbs yang mengarah ke fluoresensi biasanya mencakup suatu transisi elektronik * dalam suatu molekul organik. Proses tersebut ditunjukkan dalam diagram tingkat enenrgi.
Tingkat tingkat rotasi ditiadakan dari dalam diagram ini; dalam fase-fase mampat seperti larutan
yang biasa kita gunakan, tingkat-tingkat ini teroles-habis oleh molekul-molekul di sekitarnya
dan bagaimanapun mereka tidak akan dipisah-pisahkan oleh kebanyakan instrument dalam kasus
tertentu. Radiasi yang diserap oleh molekul ditandai dengan hvex; dalam proses ini, yang agaknya
berlangsung tak lebih lama dari 10-15 detik, sebuah elektronik dinaikkan dari keadaan elektronik
dasar ke suatu keadaan tereksitasi. Pada temperatur kamar, molekul yang tak-terperturbasi (takterganggu) akan berada dalam keadaan elektronik dasar semua, dandi sini tingkat vibrasi

terendah sejauh itu akan paling banyak dihuni. Meskipun demikian, transisi dapat terjadi ke
berbagai tingkat vibrasi dari keadaan elektronik tereksitasi, tergantung pada energi yang eksak
dari foton-foton yang diserap.
Eksitasi juga dapat menaruh molekul dalam keadaan elektronik yang lebih tinggi lagi.
Kadang-kadang tingkat vibrasi terendah dari keadaan elektronik tereksitasi tertinggi dan tingkat
vibrasi tertinggi dari keadaan elektronik tereksitasi-pertamaenerginya sepadan. Molekul-molekul
dalam keadaan elektronik yang lebih tinggi, setelah pengenduran ke tingkat vibrasi terendah,
kemudian dapat pindah ketingkat vibrasi berenergi sama dari keadaan elktronik tereksitasipertama, suatu proses yang disebut konversi dalam, kemudian mengendur ketingkat vibrasi
terendah dari keadaan elektronik tereksitasi pertama sebelum pancaran berpendar.
2. Waktu Relaksasi: Perbedaan antara Fluoresensi dan Fosforesensi
Biasanya pancaran perpendaran terjadi sangat cepat, dari sekitar 10 -9-10-7 detik setelah
absorbsi dari foton pengeksitasinya. Dengan instrument biasa, pengamatan fluoresensi berhenti
ketika eksitasinya dipadamkan. Namun, ada pengecualian. Dalam keadaan dasar kebanyakan
molekul organik (radikal bebas merupakan pengecualian) memiliki electron dalam jumlah genap
dan spinnya saling berpasangan. Namun, sebuah elektron memiliki spin jika molekul tersebut
tereksitasi. Waktu keadaan tereksitasi jauh lebih panjang daripada dalam fluoresensi biasa, yaitu
dari 10-4 detik ke 10 detik atau bahkan lebih panjang, dan pancaran dapat bertahan selama waktu
yang cukup panjang setelah eksitasi diputus. Gejala ini disebut fosforesensi. Karena penundaan
waktu ini, makin besar peluang dieksitasi tak radiatif oleh tabrakan molekul, dan jarang diamati
fosforesensi yang cukup berarti dalam larutan-larutan yang mendekati temperature kamar.
Biasanya, fosforesensi dikaji dengan melarutkan molekul organic dalam pelarut yang memadat
menjadi kaca yang tahan pada temperature mendekati -200 oC. Namun, ada beberapa
fosforesensi yang dapat diamati pada temperatur kamar, yaitu molekul-molekul yang tergabung
dalam agregat berstruktur yang disebut misel (micelles) yang dibentuk oleh surfaktan dalam
larutan air. Di mana hubungan antara konsentrasi (c) dalam molekul berpendar dalam larutan
dan daya sinar yang dipancarkan (Pem) akan linier:
Pem = kc
Tetapan k mewakili suatu campuran yang rumit dari beberapa faktor. Karena hanya radiasi
terserap yang mungkin dapat menginduksi fluoresensi, daya sinar masuk merupakan faktor
penting, dan nilai dan panjang garis sinar, dan suatu faktor yang memberikan berapa besar
fraksi molekul tereksitasi yang berdeeksitasi oleh pemancaran foton, bukan dengan proses tak
radiatif. Dalam instrument, respon yang bergantung pada panjang gelombang detektor terhadap
daya sinar maupun fraksi pancaran berpendar yang benar-benar mencapai detektor akan terbaca.
3. Pengaruh Saringan-Dalam
Konsentrasi berbanding terbalik dengan fluoresensi. Pada konsentrasi tinggi, distribusi
radiasi pengeksitasi tidak terserap secara merata. Pada lapisan pertama larutan dapat menyerap
cukup banyak sehingga lapisan-lapisan yang lebih dalam tak dapat dieksitasi secara penuh,
artinya daya sinar pengeksitasi P0, akan berkurang cukup banyak melintasi lebar sel tersebut. Hal
ini disebabkan oleh efek saringan dalam yang kemungkinan hanya menyerap sinar radiasi lebih
dari 5 atau 10%.

4. Pemadaman
Ada sejumlah molekul yang merupakan pemadam yang sangat efektif yang dapat
mempengaruhi analisis fluorometri. Secara singkat dapat ditulis sebagai berikut:
Molekul analit + pemadam
tereksitasi

Molekul analit + pemadam

+ kalor

berkeadaan dasar

artinya, pemadam menginduksi deeksitasi tak radiatif dari molekul analit yang tereksitasi,
sehingga tidak ada foton yang dipancarkan. Misalnya, oksigen merupakan pemadam yang baik
untuk beberapa hidrokarbon yang aromatik berpendar, dan untuk menghilangkan oksigen dari
larutan-larutan tersebut. Dalam mengembangkan suatu metode analitik yang didasarkan pada
fluoresensi, harus memperkirakan keaktifan pemadaman dengan komponen-komponen sampel
yang terdapat dalam analit.
5. Kepekaan
Suatu sifat yang menonjol dari analisis fluoresensi adalah tingginya kepekaan dibandingkan
dengan teknik lazim lainnya misalnya pada spektrofotometri. Misalnya, sebuah spektrofotometri
dapat mendeteksi suatu sampel dengan nilai absorbansinya adalah 0,0001, maka untuk senyawa
dengan nilai sebesar 10-5 dalam sel 1 cm. Tentukan batas deteksinya!

Namun, sinar yang dihasilkan kurang baik karena batas deteksi dari spektrofotometri adalah
10 M. Sedangkan batas deteksi fluoresensi biasanya berorde 10-9 M, dengan teknik deteksi pada
tingkat tinggi yang hamper mendekati 10-12 M. Sehingga dapat dikatakan bahwa fluoresensi
seribu kali lebih peka daripada spektrofotometri, tergantung dari senyawa apa yang digunakan
dan instrument mana yang digunakan.
-6

Factor-faktor yang mempengaruhi fluoresensi adalah :


1. Temperatur (Suhu)
EF berkurang pada suhu yang dinaikkan
Kenaikan suhu menyebabkan tabrakan antar mol atau dengan mol pelarut
Energi akan dipancarkan sebagai sinar fluoresensi diubah menjadi bentuk lain misal : EC
2. Pelarut
Dalam pelarut polar intensitas fluoresensi bertambah,
Jika pelarut yang digunakan mengandung atom-atom yang berat (CBr 4, C2H5I) maka intensitas
fluoresensi berkurang, sebab ada interaksi gerakan spin dengan gerakan orbital elektron
ikatan mempercepat LAS maka intensitas menjadi berkurang
3. pH mempengaruhi keseimbangan bentuk molekul dan ionic
4. Adanya oksigen terlarut dalam larutan cuplikan menyebabkan intensitas fluoresensi berkurang
sebab oksigen terlarut oleh pengaruh cahaya dapat mengoksidasi senyawa yang diperiksa dan
oksigen mempermudah LAS

5. Kekakuan struktur (structural rigidity) Struktur yang rigid (kaku) mempunyai intensitas yang
tinggi.
Atom akan mengalami konversi internal atau relaksasi pada kondisi S 1 dalam waktu yang
sangat singkat sekitar 10-1ns, kemudian atom tersebut akan melepaskan sejumlah energi sebesar
hf yang berupa cahaya. Karenanya energy atom semakin lama semakin berkurang dan akan
kembali menuju ke tingkat energi dasar S0 untuk mencapai keadaan suhu yang setimbang
(thermally equilibrium). Emisi fluoresensi dalam bentuk spektrum yang lebar terjadi
akibat perpindahan tingkat energi S1 menuju ke sub-tingkat energi S0 yang berbeda-beda yang
menunjukan tingkat keadaan energi dasar vibrasi atom 0, 1, dan 2 berdasarkan prinsip FrankCondon. Apabila intersystem crossing terjadi sebelum transisi dari S1 ke S0 yaitu saat di S1
terjadi konversi spin ke triplet state yang pertama (T1), maka transisi dari T1 ke S0 akan
mengakibatkan fosforesensi dengan energi emisi cahaya sebesar hP dalam selang waktu kurang
lebih 1s sampai dengan 1s. Proses ini menghasilkan energi emisi cahaya yang relatif lebih
rendah dengan panjang gelombang yang lebih panjang dibandingkan dengan fluoresensi
(Gambar 2.2.ab).

Beberapa kondisi fisis yang mempengaruhi fluoresensi pada molekul antara lain
polaritas, ion-ion, potensial listrik, suhu, tekanan, derajat keasaman (pH), jenis ikatan hidrogen,
viskositas dan quencher (penghambat de-eksitasi). Kondisi-kondisi fisis tersebut mempengaruhi
proses absorbsi energi cahaya eksitasi. Hal ini berpengaruh pada proses de-eksitasi molekul
sehingga menghasilkan karakteristik intensitas dan spektrum emisi fluoresensi yang berbedabeda.
Intensitas fluoresensi adalah jumlah foton yang diemisikan per unit waktu (s) per unit
volume larutan (l) dalam mol atau ekivalensinya dalam Einstein, dimana 1 Einstein = 1 foton
mol. Intensitas fluoresensi dalam unit volume larutan (medium) yang tereksitasi terjadi dalam
selang waktu transisi (lifetime). Intensitas fluoresensi tersebut merupakan hasil emisi de-eksitasi
sehingga lifetime pada S1 akan berpengaruh terhadap besarnya intensitas fluoresensi. Pada
gambar 2.3, kSr adalah konstanta kecepatan radiasi S1 S0(transisi dari S1 ke S0) , kTnr adalah
konstanta kecepatan non radiasi T1 S0 (transisi dari T1 ke S0) yang terjadi setelah

proses internal crossing system S1 T1, kSic adalah konstanta kecepatan proses internal
conversion (bersifat non radiatif) dari S1 S0 yang terjadi setelah transisi S 2 S1,
dan kTr adalah konstanta kecepatan radiatif transisi T1 S0 yang terjadi setelah proses internal
crossing system S1 T1.

Eksitasi hingga ke tingkat energi S1 terjadi apabila sejumlah molekul A menyerap energi
cahaya, dan ketika kembali ke tingkat energi S0 molekul tersebut akan mengemisikan radisi atau
melepaskan energi non radiasi (foton atau energi panas) dengan laju eksitasi sebagai berikut:

Proses fluoresensi dapat terjadi pada partikel dalam suatu medium. Hal tersebut terjadi
akibat respon terhadap cahaya eksitasi dari elemen-elemen penyusunnya (kumpulan-kumpulan
molekul atau atom yang relatif homogen) dengan mengasumsikan bahwa dimensi partikel sangat
tipis sehingga proses absorbsi terhadap cahaya eksitasi tidak mengalami hambatan atau
gangguan [14- 16]. Pada saat cahaya eksitasi I0 datang menuju medium (dimensi lxl) yang berisi
partikel-partikel, cahaya tersebut akan diabsorbsi oleh partikel-partikel sebesar IA dan sebagian
diteruskan (tanpa absorbsi) sebesar IT (persamaan 2.13). Cahaya yang diabsorbsi selanjutnya
dikonversi menjadi emisi cahaya fluoresensi (IF) oleh faktor efisiensi kuantum F (persamaan
2.12).

Hubungan antara intensitas fluoresensi dan absorbansi suatu partikel akibat eksitasi dari
suatu sumber cahaya dinyatakan dengan menggunakan hukum Beer-Lambert. Intensitas cahaya
eksitasi yang ditransmisikan oleh sejumlah konsentrasi partikel Nsebesar IT(E) pada luasan
medium a dan sepanjang arah rambat cahaya eksitasi ldituliskan sebagai berikut:

Hubungan Struktur Molekul dengan Fluoresensi


Struktur molekul yang mempunyai ikatan rangkap mempunyai sifat fluoresensi karena
strukturnya kaku dan planar
EDG (OH-, -NH2, OCH3) yang terikat pada sistem dapat menaikkan intensitasfluoresensi
EWG (NO2, Br, I, CN, COOH) dapat menurunkan bahkan menghilangkan sifat fluoresensi
Penambahan ikatan rangkap (aromatik polisiklik) dapat menaikkan fluoresensi
Fenomena fluorosensi dapat dimanfaatkan sebagai dasar analisis fluorometer.Keuntungan dari
analisis fluoresensi adalah kepekaan yang baik karena :
Intensitas dapat diperbesar dengan menggunakan sumber eksitasi yang tepat
Detektor yang digunakan seperti tabung pergandaan foto sangat peka
Pengukuran energi emisi lebih tepat daripada energi terabsorbsi
Dapat mengukur sampai kadar 10-4 10-9 M
Pemakaian Fluorometer
Tehnik ini mempunyai berbagai aplikasi dalam ilmu kesehatan, cabang forensik dan ilme
lingkungan, selain pada analisis anorganik dan organik. Obat-obat seperti quinin, misalnya dapat
dianalisis sampai sejumlah nanogram. LSD yaitu asam lysergik dietil amida dapat dianalisis dari
sampel darah atau urin secara fluorometer. Panjang gelombang eksitasinya dan pendar fluornya
masing-masing 335 dan 435 nm. Metabolit tidak menggangu pengukuran. Demikian juga polusi
udara dari bahan-bahan karsinogen berupa berupa hidrocarbon aromatik bercincin aromatik
ganda seperti 3-4 benzopirena yang berasal dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar
minyak, kendaraan serta pada peristiwa merokok dapat dianalisis secara fluorometer. Analisis
dilakukan pada panjang gelombang 545-548 nm dalam medium asam sulfat dengan panjang
gelombang eksitasi 520 nm dan panjang gelombang pendar-fluor pada 545 nm. Hasil yang
reprodusibel diperoleh pada -190OC. Satu batang rokok mengandung 10 mg benzopirena dan
dapat ditentukan dengan akurasi sampai konsentrasi sekitar nanogram.
Demikian juga analisis anorganik logam seperti Al, Be, Ca, Cd, Cu, Ga, Ge, Hg, Mg, Nb, Sb,
Se, Sn, Ta, Th, W, Zn dan Zr, dapat dilakukan secara fluorometer. Reagen-reagen seperti 8hidroksi kuinolin; 2,2-dihidroksi azobenzen, dibenzoil metana, flavonol, bezoin, dan alizarin
dapat digunakan sebaai ligan pengompleks.
Penentuan sejumlah besar zat-zat spesifik seperti riboflavin, thiamin hidroclorida dan
vitamin-vitamin yang tepat dan cepat adalah pengukuran intensitas pendar-fluor. Berbagai materi

anorganik juga menimbulkan pendar-fluor dalam larutan air atau dengan reagen organik,
misalkan urananium terkompleks dengan NaF menimbulkan pendar-fluor, sehingga dapat
ditentukan secara fluorometer. Demikian juga Zn, U, W, Mo menimbulkan pendar-fluor pada
kompleksi. Al, Ga, Zn, Mg juga menunjukkan fenomena ini jika dikomplekskan dengan 8hidroksikuinolin pada tingkat runut. Kompleks Al, Be dengan morin menunjukkan pendar-fluor
juga. Kompleks kuinalizarin dengan logam-logam seperti Th ternyata menimbulkan pendar-fluor.
Intensitas pendar-fluornya dapat dengan mudah diukur dengan unsur tersebut dapat ditentukan
secara kuantitatif.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama analisis dengan cara ini. Materi-materi dari
tumbuhan dan hewan karena juga menunjukkan pendar-fluor, hars disingkirkan sebelum
pengukuran. Untuk mengoreksi pendar-fluor tersebut, biasanya intensitas total pendar-fluor
didestruksi, setelah itu pendar-fluor larutan sekali lagi diukur dan perbedaan antara kedua
pembacaan merupakan pendar-fluor akibat kompleks bahan ligan. Pendar-fluor juga dipengaruhi
oleh pH, dan ini dimanfaatkan untuk indikator pH, seperti erythrosin B (pH 2,5 - 4,0), fluoresen
(pH 4,6), asam kromatropik (pH 3 4,5), asam o-komarik (pH 7,2 - 9,0), napthol AS (pH 8,2
10,3). Temperatur berpengaruh juga terhadap pendar-fluor.

http://fatmasaputrihinata.blogspot.co.id/2013_01_01_archive.html