Anda di halaman 1dari 12

Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma dan ikan

betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Bila dalam suatu
populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualiatsnya, maka populasi yang
demikian tersebut disebut populasi yang heteroseksual.
Macam-macam seksualitas pada ikan, mulai dari hermaprodit sinkroni, protandri,
protogini, sampai ke gonokorisme yang berdiferensiasi maupun yang tidak
berdiferensiasi.
Hermaproditisme
Satu individu ikan dikatakan hermaprodit apabila dalam tubuhnya terdapat
jaringan ovarium yang dikenal sebagai penentu individu betina dan juga terdapat
jaringan testes sebagai penentu individu jantan. Berdasarkan perkembangan
ovarium atau testes yang terdapat dalam satu individu itu, akan menentukan
macam hermaproditismenya. Yang telah diketahui ada tiga macam hermaprodit
yang terdapat pada ikan.
1. Hermaprodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel
sex betina dan sex sel jantan yang dapat masak bersama-sama. Ikan-ikan
dari famili Serranidae banyak yang termasuk ke dalam golongan ini. Ikan
hermaprodit ini dapat mengadakan pembuahan sendiri dan dapat pula
tidak. Ikan yang mengadakan pembuahan sendiri mengeluarkan telur
terlebih dahulu kemudian dibuahi oleh sperma dari individu yang sama.
Ikan yang mengadakan pembuahan sendiri, dalam satu kali pemijahan ia
dapat berlaku sebagai ikan jantan dan dapat pula sebagai ikan betina.
Dari 880 ikan kakap Lates calcarifer yang diteliti gonadnya secara
histologis didapatkan petunjuk bahwa ikan ini sebagai ikan
hermaprodit sinkroni dari pada sebagai jantan yang sedang transisi
yaitu dengan ditemukannya jaringan testes atau ovari yang
berkembang dengan baik.
Gonokhorisme
Gonokhorisme yaitu kondisi seksual berganda dimana pada ikan bertahap
juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan
betinanya. Gonad tersebut kemudian berkembang menjadi semacam ovarium.
Setelah keadaan ini, yaitu ikan yang mempunyai gonad semacam ovarium,
setengah dari ikan-ikan itu gonadnya menjadi ovarium dan setengahnya lagi
menjadi testes. Dengan kata lain, setengahnya menjadi betina dan setangahnya
lagi menjadi jantan. Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang
tidak terdiferensiasi, dimana keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi intersex
yang spontan. Misalnya Anguilla anguilla dan Salmo gairdneri irideus adalah
gonokhoris yang tidak terdiferensiasi.
Ikan gonokhoris yang berdiferensiasi sejak dari mudanya sudah ada
perubaha antara jantan dan betina dan dengan perbedaan itu tetap sejak dari
kecil sampai dewasa. Karena stabilnya pada ikan-ikan yang gonokhoris
berdiferensiasi tidak terdapat spesies yang intersex.

Sifat seksual primer dan sekunder


Sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara
langsunf berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan
pembuluhnya pada ikan betina, dan pada ikan jantan testis dengan
pembuluhnya.

Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk
membedakan jantan dan betina. Apabila satu spesies ikan mempunyai sifat
morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina, maka
spesies itu mempunyai sifat dimorfisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna,
maka ikan itu mempunyai sifat dikromatisme. Pada ikan jantan mempunyai
warna yang lebih cerah dan lebih menarik daripada ikan betina. Pada dasarnya
sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul pada
waktu musim pemijahan saja.
b. Sifat seksual sekunder yang bersifat permanen atau tetap, yaitu tanda ini
tetap ada sebelum, selama, dan sesudah musim pemijahan.

SEKSUALITAS IKAN
Tujuan Instruksional Khusus :
file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Iktiologi%20(buku%20ajar).htm (20 of 112)5/8/2007 2:55:10 PM
I

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang hermaproditisme


2. Mahasiswa mampu membedakan sifat seksual primer dan sekunder
Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan
dan betina. Begitu pula
seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai
organ penghasil sperma,
sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur.
Suatu populasi terdiri dari ikanikan
yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi
heteroseksual, bila populai
tersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual. Namun,
penentuan seksualitas ikan di
suatu perairan harus berhati-hati karena secara keseluruhan terdapat bermacammacam seksualitas ikan
mulai dari hermaprodit sinkroni, protandri, protogini, hingga gonokorisme yang
berdiferensiasi maupun
yang tidak.
3.1 Hermaproditisme
Ikan hermaprodit mempunyai baik jaringan ovarium maupun jaringan testis
yang sering dijumpai dalam

beberapa famili ikan. Kedua jaringan tersebut terdapat dalam satu organ dan
letaknya seperti letak gonad
yang terdapat pada individu normal. Pada umumnya, ikan hermaprodit hanya
satu sex saja yang berfungsi
pada suatu saat, meskipun ada beberapa spesies yang bersifat hemaprodit
sinkroni. Berdasarkan
perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat
menentukan jenis
hermaproditismenya.
a. Hermaprodit sinkron/simultaneous. Dalam gonad individu terdapat sel
kelamin betina dan sel
kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan.
Ikan hermaprodit jenis
ini ada yang dapat mengadakan pembuahan sendiri dengan mengeluarkan telur
terlebih dahulu
kemudian dibuahi oleh sperma dari individu yang sama, ada juga yang tidak
dapat mengadakan
pembuahan sendiri. Ikan ini dalam satu kali pemijahan dapat berlaku sebagai
jantan dengan
mengeluarkan sperma untuk membuahi telur dari ikan yang lain, dapat pula
berlaku sebagai betina
dengan mengeluarkan telur yang akan dibuahi sperma dari individu lain. Di
alam atau akuarium
file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Iktiologi%20(buku%20ajar).htm (21 of 112)5/8/2007 2:55:10 PM
I

yang berisi dua ekor atau lebih ikan ini, dapat menjadi pasangan untuk berpijah.
Ikan yang berfase
betina mempunyai tanda warna yang bergaris vertikal, sesudah berpijah hilang
warnanya dan
berubah menjadi ikan jantan. Contoh ikan hermaprodit sinkroni yaitu ikan-ikan
dari Famili
Serranidae.
b. Hermaprodit protandrous. Ikan ini mempunyai gonad yang mengadakan
proses diferensiasi dari
fase jantan ke fase betina. Ketika ikan masih muda gonadnya mempunyai
daerah ovarium dan
daerah testis, tetapi jaringan testis mengisi sebagian besar gonad pada bagian
lateroventral. Setelah
jaringan testisnya berfungsi dan dapat mengeluarkan sperma, terjadi masa
transisi yaitu ovariumnya
membesar dan testis mengkerut. Pada ikan yang sudah tua, testis sudah
tereduksi sekali sehingga
sebagian besar dari gonad diisi oleh jaringan ovarium yang berfungsi, sehingga
ikan berubah

menjadi fase betina. Contoh ikan-ikan yang termasuk dalam golongan ini antara
lain Sparus auratus,
Sargus annularis, Lates calcarifer (ikan kakap).
c. Hermaprodit protoginynous. Keadaan yang sebaliknya dengan hermaprodit
protandri. Proses
diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Pada beberapa
ikan yang termasuk
golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan, jaringan ovariumnya
mengkerut kemudian
jaringan testisnya berkembang. Salah satu spesies ikan di Indonesia yang sudah
dikenal termasuk ke
dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus
albus) dan ikan kerapu
Lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memulai siklus reproduksinya sebagai
ikan betina yang
berfungsi, kemudian berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi. Urutan daur
hidupnya yaitu : masa
juvenile yang hermaprodit, masa betina yang berfungsi, masa intersek dan masa
terakhir masa jantan
yang berfungsi. Pada ikan-ikan yang termasuk ke dalam Famili Labridae,
misalnya Halichieres sp.
terdapat dua macam jantan yang berbeda. Ikan jantan pertama terlihatnya
seperti betina tetapi tetap
jantan selama hidupnya, sedangkan jantan yang kedua ialah jantan yang berasal
dari perubahan ikan
betina. Pada ikan-ikan yang mempunyai dua fase dalam satu siklus hidupnya,
pada tiap-tiap fasenya
sering didapatkan ada perbedaan baik dalam morfologi maupun warnanya.
Keadaan demikian
menyebabkan terjadinya kesalahan dalam mendeterminasi ikan itu menjadi dua
nama, yang
sebenarnya spesies ikan itu sama. Misalnya pada ikan Larbus ossifagus ada dua
individu yang
file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Iktiologi%20(buku%20ajar).htm (22 of 112)5/8/2007 2:55:10 PM
I

berwarna merah dan ada yang berwarna biru. Ternyata ikan yang berwarna
merah adalah ikan
betina, sedangkan yang berwarna biru adalah ikan jantan.
Hermaprodit protandri dan hermaprodit protogini sering disebut hermaprodit
beriring. Pada waktu ikan itu
masih muda mempunyai gonad yang berorganisasi dua macam seks, yaitu
terdapat jaringan testis dan
ovarium yang belum berkembang dengan baik. Proses suksesi kelamin dari satu
populasi hermaprodit

protandri atau hermaprodit protogini terjadi pada individu yang berbeda baik
menurut ukuran atau umur,
tetapi merupakan suatu proses yang beriring.
Selain hermaproditisme, pada ikan terdapat juga Gonokhorisme, yaitu kondisi
seksual berganda yaitu
pada ikan bertahap juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas
status jantan atau betinanya.
Gonad tersebut kemudian berkembang menjadi semacam ovarium, setelah itu
setengah dari individu ikanikan
itu gonadnya menjadi ovarium (menjadi ikan betina) dan setengahnya lagi
menjadi testis (menjadi
ikan jantan). Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang tidak
berdiferensiasi:, yaitu
keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Misalnya
Anguilla anguilla dan Salmo
gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdiferensiasi. Ikan
gonokhorisme yang berdiferensiasi
sejak dari mudanya sudah ada perbedaan antara jantan dan betina yang sifatnya
tetap sejak dari kecil
sampai dewasa, sehingga tidak terdapat spesies yang interseks.
3.2 Sifat Seksual Primer dan Sekunder
Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara
langsung berhubungan dengan
proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis
dengan pembuluhnya pada
ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai
untuk membedakan ikan
jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang
dapat dipakai untuk
membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual
dimorfisme. Namun, apabila
satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna,
maka ikan itu bersifat
seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih
cerah dan lebih menarik
file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Iktiologi%20(buku%20ajar).htm (23 of 112)5/8/2007 2:55:10 PM
I

dari pada ikan betina.


Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a) Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul pada waktu
musim pemijahan
saja. Misalnya ovipositor, yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke
bivalvia, adanya

semacam jerawat di atas kepalanya pada waktu musim pemijahan. Banyaknya


jerawat dengan
susunan yang khas pada spesies tertentu bisa dipakai untuk tanda menentukan
spesies, contohnya
ikan Nocomis biguttatus dan Semotilus atromaculatus jantan.
b) Sifat seksual sekunder yang bersifat permanent atau tetap, yaitu tanda ini
tetap ada sebelum,
selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam pada ekor
ikan Amia calva
jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada golongan ikan
Elasmobranchia, warna
yang lebih menyala pada ikan Lebistes, Beta dan ikan-ikan karang, ikan
Photocornycus yang
berparasit pada ikan betinanya dan sebagainya.
Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja.
Apabila ikan jantan tadi
dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder
menghilang, tetapi pada
ikan betina tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sebaliknya tanda bulatan
hitan pada ikan Amia betina
akan muncul pada bagian ekornya seperti ikan Amia jantan, bila ovariumnya
dihilangkan. Hal ini
disebabkan adanya pengaruh dari hormon yang dikeluarkan oleh testis
mempunyai peranan pada tanda
seksual sekunder, sedangkan tanda hitam pada ikan Amia menunjukkan bahwa
hormon yang dikeluarkan
oleh ikan betina menjadi penghalang timbulnya tanda bulatan hitam.

Daftar Pustaka
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Fresh
Water Fishes of Western
Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited, Jakarta.
Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second
Edition. Prentice Hall,
New Jersey.
Reinthal, P & J. Stegen. 2005. Ichthyology.
http://eebweb.arizona.edu/courses/ecol482_582/Lecture120056.
pdf [18-11-2006]

http://ocw.usu.ac.id/course/download/8110000067-ikhtiologi-biologiikan/bio342_textbook_prakata.pdf

ANALISIS POPULASI

Royce (1972) mengemukakan bahwa dalam peraturan nomenclatur internasional dikenal


istilah subspesies sebagai kategori terkecil. Namun terhadap kategori ini sering digunakan
istilah populasi, subpopulasi, stok, varietas dan strain. Sering juga dari istilah-istilah tersebut
digunakan untuk ditunjukan kepada unit populasi dengan implikasi nonbiologis. Komplikasi
lain timbul karena kebanyakan spesies dan subspesies terdiri dari populasi lokal dimana
keduanya tidak mempunyai sifat genetik dan identik. Sebenarny populasi itu mngikuti sat
atau lebih sifat-sifat berikut:

1. Populasi-populasi yang terpisah secara geografi dengan lainnya mempunyai


kesempatan walaupun sedikit untuk saling tukar genetis.
2. Dari populasi yang berkelompok yang dinamakan clines terdapat satu seri perubahan
yang gradual.
3. Populasi yang berkelompok harus disertai dengan perbedaan yang tajam dengan
daerah hibridisasi diantaranya.
Krebs (1972) menggunakan istilah demes untuk populasi lokal sebagai kelompok organisme
yang dapat mengadakan interbreeding dan ini merupakan kolektif yang terkecil. Sehubungan
dengan hal tersebut di atas maka populasi itu merupakan kelompok organisme yang terdiri
dari spesies yang sama menghuni daerah tertentu. Dengan demikian populasi itu sebagai unit
biologi yang digunakan untuk keperluan analisis.
Menurut beberapa perjanjian internasional, stok iotu mempunyai batasan yang artinya
sebagai kelompok ikan yang dapat dengan bebas dieksploitasi dan dikelola. Menurut Royce
(1972) akan jelas bahwa batasan yang ideal untuk stok ialah populasi tunggal yang
interbreed, namun kondisi ini jarang sekali ditemukan karena tidak adanya data atau karena
populasi interbreed yang terisolir, oleh karena itu stok harus diberi batasan yang kurang lebih
secara bebas. Stok sebagai unit yang dapat digunakan dengan bebas dieksploitasi atau
dikelola berisi sebanyak-banyaknya interbreeding unit atau sekurang-kurangnya mungkin
unit yang reproduksinya terisolir. Hal ini mungkin meliputi beberapa spesies.
Populasi dalam Ekosistem
Dalam menganalisis populasi ikan di perairan tidak akan terlepas dari perairan itu sendiri sebagai
ekosistem dengan komponen-komponennya yang membentuk ekosistem itu yang terdiri dari unit
biologi dan unit benda mati di sekelilingnya. Di dalam suatu perairan tertentu baik yang tertutup
maupun yang terbuka akan didapatkan bermacam0macam populasi dari spesies yang berlainan.
Kumpulan populasi yang terdapat dalam peraira itu dinamakan komuniti. Komuniti sebagai unit
biologi bersama-sama dengan komponen benda mati di sekelilingnyamengadakan interaksi
dinamakan ekosistem. Secara ringkasnya dapat dibuat dengan bagan sebagai berikut:
UNIT BIOLOGI
-Individu (spesies)
-populasi
-komuniti

UNIT BENDA MATI


+

Perairan (dengan parameter


kimia, fisika, dan benda lain
di sekelilingnya)

EKOSISTEM

Ekosistem dapat digolongkan menjadi beberapa golongan. Penggolongan ekosistem ini berdasarkan
kepada elemen biologi atau elemen fisika yang dominan. Keadaan ekosistem terestrial elemen
biologinya lebih komplek daripada ekosistem akuatik. Sebagai contoh ekosistem terestrial yang
komplek ini antara lain tundra, hutan tropik dan hutan hujan (rain forest). Ekosistem akuatik yang
berbatasan dengan tanah antara lain coral reef, salt marshes dan bog lakes. Ekosistem akuatik yang
elemen fisiknya dominan diantaranya danau oligitropic, danau arctic, laut tropik atau suatu aliran.
Disamping itu ada penggolongan lain yaitu penggolongan berdasarkan minat ahli sumber daya,
misalnya oyster bed, tuna ground, anchovy ground, dan sebagainya.
Kalau kita lihat kedua penggolongan ekosistem tersebut di atas terutama kepada unit biologinya saja,
maka akan jelas terlihat bahwa pada penggolongannya yang pertama unit biologinya lebih besar ruang
lingkupnya yaitu komuniti. Sedangkan pada penggolongan yang kedua dasar unit biologinya ialah
populasi.
Dalam kominiti yang stabil dapat dikatakan bahwa komposisi spesiesnya tetap dan secara relatif
sedikit fluktuasi juamlahnya. Komuniti demikian dinamakan komuniti klimaks. Komuniti yang
lainnya ialah komuniti suksesi dimana secara relatif hidupnya pendek dalam lokasi tertentu. Dalam
komuniti demikian terkandung makna evolusi dari ekosistem tadi. Sebagai contoh ialah danau
oligotrophic dengan tambahan mendapat bahan bahann anorganik dan organik sehingga terjadi
perubaha komposisi spesies yang lama dapat ditinjau dari segi dominancy, diversity dan heterogenity
dari spesies.
Parameter populasi
Perbandingan antara bebetapa parameter individu dengan populasi sebagai
berikut:
-

Parameter Individu
Ukuran
Morfologi
Pertumbuhan dalam pj/brt

Natalitas
Mortalitas

Parameter Populasi
Density, abundance
Pola distribusi, struktur umur
Pertumbuhan dalam
jumlah/biomass
Kecepatan natalitas
Kecepatan mortalitas

Density (abundance)
Mugnkin istilah yang paling mendekati dengan maksud density atau abundance
sebagai parameter populasi ikan ialah kepadatan. Menurut Krebs (1972) density
atau abundance diberi batasan sebagai jumlah per unit area atau per unit
volume, misalnya 100 ekor ikan per hektar atau 240 kg per hektar dan
sebagainya. Ini dinamakan kepadatan mutlak. Yang lainnya ialah kepadatan nisbi
suatu populasi yaitu dengan membandingkan suatu habitat x misalnya ikan lebih
banyak daripada habitat Y. Kepadatan ini merupakan parameter populasi

yangberat hubungannya dengan parametrer lainnya yang berhubungan dengan


pengelolaan perairan itu. Kepadatan populasi suatu habitat tertentu dipengaruhi
oleh : imigrasi dan natalitas yang memberi penambahan jumlah kepada
populasi. Sedang emigrasi dan mortalitas yaitu pengurangan jumlah dari
populasi.

Populasi bertambah besar karena natalitas. Natalitas disini artinya lebih


luas dari kelahiran, karena natalitas mencakup lahir, menetas, dan
memperbanyak karena pembelahan. Sehubungan dengan hali ini harus
dibedakan antara fertilitas dan fekunditas, yabf nerupakan aspek dari reproduksi.
Notasi dasar dari fertilitas adalah pertunjukkan sesunggunya dari populasi
tersebutberapa besar jumlah yang ditambahkan. Sedangkan fekunditas ialah
potensi yang dapat dipertunjukkan oleh populasi itu, jadi merupakan kapasitas
fisik. Namun mengenai fertilitas pada ikan perlu diperhatikan lebih lanjut.
Walaupun telur itu telah dibuahinamun belum tentu dapat menetas semuanya.
Oleh karena itu pada ikan perlu diperhatikan daya tetasnya. Pengukuran
natalitas pada ikan ini bergantung kepada ikan yang dipelajarinya. Ada ikan
yang meijah dalam satu kali dalam satu tahun, ada pula yang beberapa kali.
Imigrasi yang dapat menambah jumlah populasi dan emigrasi yang dapat
mengurangi jumlah populasi kurang sering dihitung dalam studi populasi karena
kedua komponen itu sama sehingga dapat diabaikan.
Pola Distribusi Populasi
Setiap populasi memiliki struktur atau penyusunan individu yang dikenal dengan
pola distribusi. Pola distribusi ini sebagai hasil dari seluruh jawaban tingkah laku
individu-individu di dalam populasi tersebut terhadap faktor lingkungannya.
Macam-macam pola distribusi populasi tersebut ialah:
a. Pola Distribusi Vektorial
Distribusi individu dalam pola ini sebagai jawaban terhadap faktor-faktor
kimia dan fisika lingkungan seperti suhu, cahaya, tekanan, salinitas, arus,
macam dan bentuk dasar perairan, dll. Dengan sebagian besar dari faktorfaktor tersebut, terdapatnya jumlah individu sesuai pada tingkatan
faktornya. Misalnya distribusi vektorial sebagai jawaban terhadap
salinitas, dapat terloihat pada pola distribusi ikan di daerah estuaria. Ikan
yang senang terhadap salinitas akan didapatkan banyak di perairan yang
bersalinitas tinggi daripada perairan yang bersalinitas rendah. Demikian

b.

c.

d.

e.

f.

pula ikan euryhalin yang senang terhadap perairan yang bersalinitas


rendah, maka semakin berkurang jumlahnya di air yang bersalinitas tinggi.
Gambaran dari kedua ikan yang berbeda kesenangannya terhadap
salinitas, distribusinya adalah seperti gambar .
Pola Distribusi Reproduktif
Pola Distribusi ini ada hubungannya dengan reproduksi baik sebelum,
selama, dan sesudah pemijahan.
Pola Distribusi Acak
Pola distribusi acak besar sekali kemungkinannya didapatkan dalam
lingkungan yang uniform sebagai hasil dari kesempatan. Tetapi sering
sekali faktor-faktor sosial menghasilkan kelompok dari individu tersebut,
kemudian membentuk distribusi acak dengan sendirinya.
Pola Distribusi Contagious
Distribusi individu berkelompok. Distribusi ini dinamakn pula
underdispersion yang sinonim dengan superdispersion. Dalam suatu arela
didapatkan kelompok kelompok individu tersebut, sedangkan di daerah
tetangganya tidak didapatkan individu tersebut. Tapi ada lagi di tempat
lain yang juga berkelompok (tabel)
Contoh hasil tangkapan organisme yang mempunyai distribusi
overdispersed, random, dan contagious (tabel)
Pola Distribusi Overdispersion
Pada pola distribusi ini didapatkannya lebih jarang dari distribusi acak
tetapi mungkin merupaka kelompok kecil yang hampir uniform dalam
pembagian ruangnya.
Pola Distribusi Co-active
Pola distribusi ini sebagai hasil kompetisi dua spesies yang berdekatan
mengikuti exclusion principle atau Voltera Gause Principle yaitu: Baik
dalam alam atau dalam percobaan dua spesies yang menempati bersama
ruang hidup yang sama, mereka akan berbeda dalam beberapa aspek
misalnya dalam makanan, toleransi terhadap faktor lingkungan,
kebutuhan akan pemijahan dan lain-lain; serta ada tendensi yang satu
akan menggantikan yang lainnya. Jadi ketunggalan satu spesies dalam
satu niche inilah yang dimaksud dengan prinsip Voltera Gause.
Untuk mendapatkan gambaran dari pola distribusi Co-active ini dapat
dilihat dari gambar. Gambar tersebut merupakan perkembangan dari
gambar sebelumnyayang memperhatikan pola distribusi vektorial. Dalam
gambar tersebut hanya diperlihatkan distribusi satu spesies dalam
tingkatan salinitas. Tetapi di gambar ini disertakan pula gambar dua
spesies, selain spesies A saja tanpa ada spesies lainnya, juga gambar
spesies A yang senang terhadap salinitas rendah, ada kehadiran spesies B
yang menyenangi perairan dengan salinitas tinggi. Gambar disebelahnya
memperlihatkan distribusi spesies saja tanpa ada spesies lain serta
gambar distribusi kalau spesies B yang senang dengan salinitas tinggi
disertai adanya spesies A yang senang dengan perairan yang salinitasnya
rendah.

Struktur Umur

Natalitas dan mortalitas yang terjadi pada populasi menghasilkan satu set
kelompok umur dimana satu kelompok dengan kelompok lainnya jumlahnya
tidaklah sama. Yang lazim dipakai sebagai pengukur waktu untuk umur ikan
adalah tahun.
Pengetahuan mengenai set kelompok umur sebagai salah satu parameter
populasi merupakan hal yang penting untuk mengelola perikanan karena dia
akan mengetahui pola populasi tersebut serta akan dapat memperhitungkan
tindakan tepat yang akan diambil sehubungan dengan pengelolaan. Dalam
membahas kelompok umur ini kita akan mengenal apa yang dinamakan cohort
(kelompok umur yang sama). Jadi misalnya dalam satu perairan pada tahun
1970 terjadi pemijahan yang berhasil dari satu spesies ikan. Anak-anak ikan dari
spesies tadi dalam perairan itu berasal dari kelahiran tahun 1970 dinamakan
satu cohort. Struktur umur yang ada dalam perairan itu bergantung pada
mortalitas masing-masing cohort. Dalam populasi yang stabil proporsi tiap
kelompok umur pada suatu saat adalah sama denganproporsi masing-masing
yang menunjukkanumur selama kehidupan cohort. Sebagaimana kita ketahui
sepanjang hidupnya kita plot dengan banyaknya jumlah individu yang hidup
(survive) pada tiap waktu tertentu dengan mortalitas tetap misalnya 50% tiap
tahun, akan diperoleh gambar sebagai berikut:
Pertumbuhan populasi
Bila satu spesies ikan dimasukkan ke dalam satu lingkungan yang baru,
kecepatan pertambahan dalam jumlahdan juga dalam berat akan seperti bentuk
pertumbuhan sigmoid dari individu. Pada mulanya individu yang dimasukkan itu
akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru dan akan melengkapi
daur reproduksinya. Bila tidak ada penghambat dari lingkungan, natalitasny
berhasil dimana survival akan melampaui dengan cepat mortalitasnya,
menyebabkan jumlah iakn dalam populasi akan bertambah secara exponential
dalam waktu tertentu. Kemudian faktor-faktor penghambat seperti makanan,
ruang, penyakit, dan sebagainya akan menghambat kecepatan pertumbuhan
sehingga berjalan dengan lambat dan populasi akan mencapai ukuran dimana
natalitas dan mortalitas seimbangkeadaannya. Tetapi besarnya populasi tidak
terhenti melainkanberfluktuasi di sekitar asimptote seperti gambar
Gambar di atas adalah populasi ikan seribu (Lebistes reticulatus) dari 5 pasang
yang dipelihara dalam akuarium yang kondisinya konstan pula. pola yang sama
terdapat pula pada populasi dalam alam, dimana pertumbuhan populasi yang
secara exponential terjadinya semusim.