Anda di halaman 1dari 75

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH

DELIMA PUTIH (Punica granatum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN


BAKTERI Staphylococcus aureus

KARYA TULIS LMIAH


Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
Memperoleh gelar Ahli Madya Diploma Farmasi (Amd. Farm.)

Diajukan oleh :
Dini Apriliyanti
NPM. 0540015112

DIPLOMA III FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
PEKALONGAN
2015

ii

iii

MOTTO
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan hanya kepada Tuhanmulah
engkau berharap.
(Dini Apriliyanti)
Pendidikan adalah mata uang yang berlaku diseluruh penjuru dunia.
(Narji)
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari
betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
(Thomas Alva Edison)

iv

PERSEMBAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini kupersembahkan untuk bapak dan ibu atas segala kasih dan
sayangmu serta didikanmu yang tidak akan lekang oleh waktu, kakak serta adikku
atas kebersamaan dalam menjalani kebersamaan. Teman-teman seperjuangan
untuk kebersamaan dalam menjalani pendidikan di Universitas Pekalongan, serta
untuk kekasih yang selalu ada di hati, dengan semangat inilah saya bisa
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah atas segala karunia-Nya yang tak terhingga bagi
penulis dan kita semuanya sehingga atas ijin-Nya penulis dapat menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah berjudul Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah
delima putih (Punica granatum L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus dengan lancar.
Karya Tulis Ilmiah ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai derajat Ahli Madya Farmasi program studi D-III Farmasi Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Pekalongan.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan
berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terimakasih yang setulusnya kepada:
1.

Bapak Suryani S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Pekalongan.

2.

Bapak Drs. Imam Purnomo, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Pekalongan.

3.

Bapak Drs. Jamaludin Al.J.Eff, Apt, selaku Ketua Program Studi Diploma
III Farmasi Universitas Pekalongan.

4.

Ibu Nila Oktaviani, M.Si, selaku dosen pembimbing atas segala upaya dan
bantuan beliau dalam mengarahkan, membimbing dan memberi petunjuk
kepada penulis sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan dengan
baik.

vi

5.

Bapak dan Ibu Dosen Program Studi D-III Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Pekalongan yang telah banyak membantu penulis baik secara
langsung maupun tidak langsung.

6.

Bapak Drs. Jamaludin Al.J.Eff, Apt dan Bapak Slamet, S.Si., Apt, selaku
dosen penguji proposal yang telah memberikan arahan dan masukan untuk
kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah.

7.

Ibu Siska Rusmalina M.Sc.,Apt dan Bapak Slamet, S.Si., Apt, selaku dosen
penguji sidang tertutup KTI yang telah memberikan masukan dan penilaian
terhadap Karya Tulis Ilmiah.

8.

Ibu Dra. Hayati Soeprapto, M.Si., selaku Kepala Unit Pelaksanaan Teknis
Laboratorium Universitas Pekalongan.

9.

Seluruh

staff

Unit

Pelaksanaan

Teknis

Laboratorium

Universitas

Pekalongan.
10.

Kepala Laboratorium Akademi Analisis Kesehatan Pekalongan.

11.

Seluruh staff Laboratorium Akademi Analisis Kesehatan Pekalongan, yang


telah membantu pelaksanaan penelitian.

12.

Ayahandaku, H. Sukarto dan Ibundaku, Hj. Darokah serta ketiga saudaraku


yang sangat kusayangi. Rasa terima kasih dan penghargaan yang terdalam
dari lubuk hati, penulis berikan kepada mereka semua yang senantiasa telah
memberikan doa, dukungan, bantuan, didikan, nasihat, perhatian, semangat,
motivasi, dan cinta kasih yang tak ada habis-habisnya. Tak ada kata atau
kalimat yang mampu mengekspresikan besarnya rasa terima kasihku.

vii

13.

Keluarga dan sahabat-sahabatku yang selalu memberikan dukungan dan


semangat.

14.

Anwar Hidayat yang selalu memberikan motivasi dan bantuan selama


penulis menjalani perkuliahan dan menyelesaikan KTI ini.

15.

Rekan-rekan mahasiswa program studi DIII-Farmasi Fakultas Ilmu


Kesehatan Universitas Pekalongan.

16.

Serta semua pihak yang telah membantu hingga tersusunya KTI ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna,

namun dengan segala kerendahan hati atas kekurangan itu, penulis menerima
kritik dan saran dalam rangka perbaikan Karya Tulis Ilmiah. Semoga Karya Tulis
Ilmiah ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu kefarmasian khususnya dan ilmu
pengetahuan pada umumnya.

Pekalongan, Juni 2015

Penyusun

viii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................

ii

HALAMAN PERNYATAAN ...................................................................

iii

HALAMAN MOTTO .................................................................................

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................

KATA PENGANTAR ................................................................................

vi

DAFTAR ISI ...............................................................................................

ix

DAFTAR TABEL .......................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

xiv

DAFTAR SINGKATAN ............................................................................

xv

INTISARI ...................................................................................................

xvi

ABSTRACT ................................................................................................

xvii

BAB I.

PENDAHULUAN ......................................................................

A. Latar Belakang Masalah ........................................................

B. Rumusan Masalah ..................................................................

C. Tujuan Penelitian ...................................................................

D. Keaslian Penelitian ................................................................

E. Manfaat Penelitian .................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................

A. Tinjauan Pustaka ....................................................................

1. Tanaman Delima Putih......................................................

ix

a. Gambar Tanaman .........................................................

b. Sistematika Tanaman ...................................................

c. Morfologi Tumbuhan ...................................................

d. Daerah Penyebaran dan Habitat ...................................

e. Kandungan dan Manfaat ..............................................

2. Bakteri Staphylococcus aureus .........................................

a. Definisi Bakteri Staphylococcus aureus.......................

b. Sistematika Bakteri Staphylococcus aureus .................

c. Morfologi......................................................................

d. Patogenesis ...................................................................

10

e. Toksin ...........................................................................

10

3. Metode Pengujian Aktivitas Antibakteri ...........................

11

4. Mekanisme Kerja Antibakteri ...........................................

13

5. Ekstraksi ............................................................................

15

6. Uraian Tentang Kandungan Kimia ...................................

16

7. Fenol ..................................................................................

19

B. Landasan Teori ......................................................................

20

C. Hipotesis ................................................................................

20

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .................................................

21

A. Metode Penelitian ..................................................................

21

B. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................

21

C. Bahan dan Alat.......................................................................

21

D. Cara Kerja Penelitian .............................................................

22

1. Penyiapan Bahan Baku .....................................................

22

2. Pembuatan Simplisia .........................................................

22

3. Sterilisai Alat dan Bahan ...................................................

23

4. Ekstraksi Simplisia Dengan Metode Maserasi ..................

24

5. Uji Fitokimia .....................................................................

25

6. Pembuatan Suspensi Bakteri Saphylococcus aureus ........

26

7. Penyiapan Ekstrak .............................................................

27

8. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Delima


Putih (Punica granatum L.) Terhadap Staphylococcus
aureus ................................................................................

28

E. Pengukuran Zona Bening Bakteri ..........................................

29

F. Pengumpulan dan Analisis Statistik Data ..............................

29

G. Skema Kerja ...........................................................................

29

1. Alur Penelitian ..................................................................

29

2. Skema Alur Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Delima


Putih (Staphylococcus aureus) Dengan Cara Maserasi ....

30

3. Skema Alur Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit


Buah Delima Putih Terhadap Staphylococcus aureus ......

31

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................

32

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................

39

A. Kesimpulan ............................................................................

39

B. Saran ......................................................................................

39

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

41

LAMPIRAN

xi

DAFTAR TABEL
Tabel I

Data Hasil Uji Fitokimia ............................................................

34

Tabel II Hasil Pengukuran Zona Hamabat Aktivitas Antibakteri


Ekstrak Kulit Buah Delima Putih(Punica granatum L.)
Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus .........................

37

xii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1

Tanaman Delima Putih (Punica granatum L.).......................

Gambar 2

Kulit buah delima kering dan Serbuk kulit buah delima


putih .......................................................................................

23

Gambar 3

Serbuk kulit buah delima putih yang direndam etanol 96% ..

24

Gambar 4

Ekstrak cair kulit buah delima putih dan Ekstrak kental


kulit buah delima putih ..........................................................

25

Gambar 5

Biakan murni Staphylococcus aureus dan Media BHI ..........

26

Gambar 6

Suspensi bakteri Staphylococcus aureus ...............................

27

Gambar 7

Ekstrak kulit buah delima putih konsentrasi 100, 75, 50 dan


25% ........................................................................................

27

Gambar G.1 .Skema Alur Penelitian ...........................................................

29

Gambar G.2 Skema Alur Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Delima


Putih (Staphylococcus aureus) Dengan Cara Maserasi .........

30

Gambar G.3 Skema Alur Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah
Delima Putih Terhadap Staphylococcus aureus ....................

31

xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Identifikasi Senyawa Kulit Buah Delima Putih .....................

43

Lampiran 2 Hasil Uji aktivitas antibakteri pada MHA (Mueller Hinton


Agar) ......................................................................................

44

Lampiran 3 Alat-alat Yang Digunakan .....................................................

47

Lampiran 4 Perhitungan Pengenceran Konsentrasi Ekstrak .....................

50

Lampiran 5 Perhitungan dan Pembuatan Media MHA .............................

52

Lampiran 6 Surat Keterangan Pemesanan Biakan Murni Staphylococcus


aureus Dan Media MHA .......................................................

54

Lampiran 7 Surat Keterangan Ijin Penelitian di Laboratorium


Universitas Pekalongan..........................................................

55

Lampiran 8 Surat Keterangan Pembelian Biakan Murni Staphylococcus


aureus Dan Media MHA .......................................................

56

Lampiran 9 Surat Keterangan Penelitian di Laboratorium Universitas


Pekalongan .............................................................................

57

Lampiran 10 Surat Keterangan Penelitian di Laboratorium Akademi


Analisis Kesehatan Pekalongan .............................................

58

xiv

DAFTAR SINGKATAN
m

: meter

m dpl

: meter dibawah permukaan laut

: Derajat Celcius

: persen

KHM

: Kadar Hambat Minimum

KBM

: Kadar Bunuh Minimum

BHI

: Brain Heart Infusion

MHA

: Mueller Hinton Agar

mL

: miliLiter

mm

: milimeter

Psi

: Per square inch

: mikroLiter

mg

: miligram

: gram

FeCl3

: Ferry Klorida

CHCl3 : Kloroform
MgSO4 : Magnesium Sulfat
HClp

: Asam Klorida Pekat

xv

INTISARI
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat
dan terus berkembang dari waktu ke waktu dalam dunia kesehatan.
Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen pada tubuh manusia yang
dapat menginfeksi luka dan meracuni makanan. Kulit buah delima putih (Punica
granatum L.) yang diperkirakan mempunyai aktivitas sebagai antibakteri.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah
delima putih (Punica granatum L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Ekstrak kulit buah
delima putih (Punica granatum L.) diperoleh dengan cara maserasi menggunakan
penyari etanol 96%, diencerkan untuk mendapatkan seri konsentrasi 100, 75, 50
dan 25% dengan aquadest. Fenol digunakan sebagai kontrol positif, dan sumuran
tanpa perlakuan sebagai kontrol negatif. Pengujian aktivitas antibakteri
menggunakan metode difusi agar dengan mengukur zona hambat disekitar
pertumbuhan Staphylococcus aureus pada media MHA (Mueller Hinton Agar).
Hasil penelitian uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa aktif tanin,
alkaloid dan flavonoid pada ekstrak. Uji aktivitas antibakteri hasilnya dilihat dari
zona bening yang terbentuk setelah inkubasi 24 jam dan 48 jam. Hasil penelitian
diperoleh ekstrak kulit buah delima putih (Punica granatum L.) mampu
menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, bahkan bersifat bakteriostatik.
Kata kunci : Antibakteri, Kulit buah Delima Putih (Punica granatum L.),
Staphylococcus aureus

xvi

ABSTRACT
Infectious disease is a disease that affects a lot of people and continues to
evolve over time in the medical world. Staphylococcus aureus is a pathogenic
bacterium that can infect the human body and poison the food. The white
pomegranate rind (Punica granatumL.) is estimated to have an antibacterial
activity. This research aim to investigate the antibacterial activity of white
pomegranate extract rind (Punica granatumL.) towards Staphylococcus aureus.
This research is an experimental study. White pomegranate extract rind
(Punica granatumL.) obtained by maceration using 96% of ethanol, diluted to
obtain a series of concentration in 100, 75, 50 and 25% with aquadest. Phenol is
used as a positive control, and sinks without treatment as a control of negative.
This test of antibacterial activity used diffusion method to measure the inhibition
zone around the growth of Staphylococcus aureus on MHA medium (Mueller
HintonAgar).
The results phytochemical test showed there were active compound tannins,
alkaloids and flavonoids in the extract. The results of an antibacterial activity test
be seen from the transparant zone formed after 24 hours and 48 hours incubation.
The results that obtained white pomegranate extrac rind (Punica granatumL.) is
able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus, even bacteriostatic.
Keywords : Antibacterial, White Pomegranate rind (Punica granatumL.),
Staphylococcus aureus.

xvii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengobatan secara tradisional telah digunakan secara turun-temurun sejak
dari zaman dulu berdasarkan kepercayaan atau kebiasaan setempat. Obat-obat
tradisional

memang

bermanfaat

bagi

kesehatan,

dan

kini

digencarkan

penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga maupun


ketersediaannya. Sampai sejauh ini kandungan kimia, khasiat/kegunaan maupun
efek sampingnya belum banyak diteliti secara ilmiah.
Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah
tanaman delima putih. Tanaman delima putih ini cukup unik. Semua bagian
tumbuhan ini mempunyai komposisi kimia yang berguna bagi kesehatan termasuk
sebagai bahan antibakteri. Sebagai antibakteri beberapa senyawa fitokimia dapat
menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Salah satunya adalah
kandungan tanin dari tanaman Delima (Punica granatum L.), yang terutama
terdapat pada bagian kulit buahnya. Selain tanin, kulit buah delima juga
mengandung triterpenoid, dan alkaloid pelletierene (Oci & Kurnia, 2014).
Kulit buah delima putih telah banyak diakui bermanfaat, misalnya untuk
mencegah keputihan pada wanita dan tidak menutup kemungkinan dapat juga
digunakan sebagai bahan antibakteri terhadap infeksi kulit.
Salah satu penyebab terjadinya peradangan pada kulit adalah karena infeksi
bakteri. Infeksi merupakan keadaan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh,

kemudian berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Bakteri dapat


menyebabkan infeksi secara lokal maupun sistemik. Secara umum penyakit
infeksi dapat disembuhkan dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan
antibiotik untuk infeksi lokal telah dikurangi karena kecenderungan menimbulkan
hipersensitivitas secara lokal pada kulit atau membran mukosa (Ganiswarna,
1995).
Infeksi

bakteri

jenis

Gram

positif

pada

manusia

salah

satunya

Staphylococcus aureus. Setiap jaringan ataupun alat tubuh dapat terinfeksi dan
menyebabkan timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas, yaitu
peradangan, nekrosis dan pembentukan abses. Infeksinya dapat berupa furunkel
pada kulit (Staf Pengajar FKUI, 1994). Bakteri Staphylococcus biasanya terdapat
pada saluran hidung dan kulit (Irianto, 2006).
Berdasarkan uraian dan keterangan diatas maka perlu dilakukan untuk
menguji kebenaran khasiat kulit buah delima putih (Punica granatum L.) secara
ilmiah sebagai antibakteri sehingga penulis memilih judul Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Delima Putih (Punica granatum L.)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus.

B. Rumusan masalah
Apakah ekstrak kulit buah delima putih mempunyai daya antibakteri
terhadap bakteri Staphylococcus aureus?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui daya antibakteri dari ekstrak
kulit buah delima putih terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

D. Keaslian Penelitian
Sejauh peneliti ketahui bahwa penelitian dengan judul UJI AKTIVITAS
ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH DELIMA PUTIH (Punica
granatum L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus
belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya. Adapun beberapa penelitian
adalah sebagai berikut:
Fatimah Azzaharah, (2011) meneliti tentang daya antibakteri ekstrak kulit
buah delima

(Punica granatum L.) terhadap Escherechia coli dengan hasil

penelitian bahwa ekstrak kulit buah delima (Punica granatum L.) terbukti dapat
menghambat pertumbuhan Escherechia coli.
Muhammad Syahid, (2012) meneliti tentang formulasi dan uji aktivitas
antibakteri sediaan obat kumur dari ekstrak kulit kering buah delima (Punica
granatum L.) terhadap Streptococcus mutans dengan hasil penelitian bahwa
sediaan obat kumur ekstrak kulit kering buah delima (Punica granatum L.)
mampu membunuh bakteri uji.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1.

Bagi ilmu pengetahuan


Memberikan pengetahuan tentang manfaat bahan alam yang dapat
digunakan sebagai obat tradisional khususnya mengenai efek antibakteri
kulit buah delima putih (Punica granatum L.).

2.

Bagi mayarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa ekstrak kulit buah delima
dapat digunakan sebagai obat tradisional yang alamiah dan aman.

3.

Bagi peneliti lain


Sebagai referensi dan tumpuan dalam melakukan penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka
1.

Tanaman Delima Putih (Punica granatum L.)


a.

Gambar Tanaman

Gambar 1. Tanaman Delima Putih (Punica granatum L.)


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Delima

b.

Sistematika Tanaman
Klasifikasi buah delima (Punica granatum L.) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantea

Divison

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Lythraceae

Genus

: Punica

Spesies

: Punica granatum L.

(ITIS, 2014)
Di indonesia, buah delima dikelompokan sesuai dengan
warnanya, yaitu delima putih, merah dan ungu (Oci & Kurnia, 2014).
c.

Morfologi Tumbuhan
Tanaman delima merupakan tanaman tahunan yang mempunyai
akar tunggang dan sistem perakaran yang cukup dalam. Batang
tanaman berkayu keras, tegak lurus, dan dapat tumbuh setinggi 24 m
atau lebih. Tanaman memiliki banyak percabangan dan kadangkadang ditumbuhi duri-duri yang agak besar. Daun-daun tanaman
berukuran kecil, berbentuk memanjang, dan warna hijau muda sampai
hijau tua. Tanaman delima dapat berbunga dan berbuah sepanjang
tahun (Rukmana, 2003).
Bunga delima berwarna putih, merah, atau ungu, tergantung
jenisnya. Buah delima berbentuk bulat sampai bundar dan
bergelantungan dalam tandan. Buah muda berwarna hijau kekuningkuningan atau hijau kemerah-merahan hampir kecokelatan, tergantung
jenisnya. Daging buah merupakan kulit biji yang menebal dan
tersusun secara padat. Daging buah ini dikonsumsi bersama bijibijinya (Rukmana, 2003).
Buah delima putih memiliki bunga yang berwarna keputihputihan, buahnya berwarna hijau kekuning-kuningan. Rasanya lebih
sepat dan kesat, kurang manis. Daging

bijinya sebening air,

sedangkan butiran-butiran bijinya mengkilap seperti mutiara berwarna


kemerah-merahan (Oci & Kurnia, 2014).
d.

Daerah Penyebaran dan Habitat


Tanaman delima mempunyai daya penyesuaian (adaptasi) yang
luas terhadap lingkungan tumbuh di daerah tropis. Di Indonesia,
tanaman delima dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah
yang memiliki ketinggian antara 30 m - 1.200 m dpl (Rukmana,
2003). Delima dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai pada
ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Untuk pertumbuhannya
diperlukan tanah yang agak subur, dalam berbagai keadaan iklim, baik
lembab

maupun

kering.

Penanamannya

dilakukan

dengan

menggunakan stek batang atau biji yang langsung ditanam di dalam


tanah (Sugeng, 2006).
Pada umumnya, daerah yang sesuai untuk budidaya tanaman
delima adalah daerah yang memiliki iklim cukup kering, cukup
mendapat sinar matahari (tempat terbuka), suhu udara antara 24-28C,
dan kelembapan udara antara 60-90%. Namun, di lereng gunung
Merbabu, yaitu di desa Girirejo, Kecamatan Ngablak (Magelang, Jawa
Tengah) yang memiliki ketinggian 900 m dpl, ditemukan tanaman
delima yang ternyata dapat tumbuh dengan subur (Rukmana, 2003).
e.

Kandungan dan Manfaat


Bagian tanaman yang digunakan yaitu kulit buah delima putih,
memiliki kandungan bahan kimia seperti tanin ( 25% ), betulic acid,

isoquerticin, granatin, ursolic acid, resin, triterpenoid, pati, kalsium


oksalad, dan alkaloid pelletierene (Oci & Kurnia, 2014).
Secara tradisional buah delima digunakan untuk mengurangi
peradangan pada kulit, juga membersihkan kulit. Ekstrak delima yang
terbuat dari buah dan kulitnya dapat memperlambat reproduksi sel
kanker, atau bahkan bisa membuat sel kanker mati, dikarenakan
kandungan antioksidan yang cukup besar. Tidak hanya itu, kandungan
yang terdapat pada kulit buah delima putih memberikan efek antifungi
dan antibakteri, yang bermanfaat untuk menghambat aktivitas jamur
Candida Albicans yang menjadi penyebab terjadinya penyakit
keputihan pada wanita dan juga sariawan pada mulut (Oci & Kurnia,
2014).
2.

Bakteri Staphylococcus aureus


a.

Definisi Bakteri Staphylococcus aureus


Spesies Staphylococcus biasanya terdapat pada permukaan kulit
dan S. aureus merupakan bakteri patogen pada tubuh manusia yang
dapat menginfeksi luka-luka dan juga dapat meracuni makanan
(Tarigan, 1988). S. aureus adalah bakteri gram positif. Setiap jaringan
ataupun alat tubuh dapat diinfeksi olehnya dan menyebabkan
timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas, yaitu peradangan,
nekrosis dan pembentukan abses. Infeksinya dapat berupa furunkel
pada kulit (Staf Pengajar FKUI, 1994).

Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah


karena adanya perubahan hormon, adanya penyakit, luka, atau
perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang mempengaruhi
imunitas sehingga terjadi pelemahan inang. Sebagian besar penyakit
yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena itu
bakteri ini disebut piogenik (Irianto, 2006).
b.

Sistematika Bakteri Staphylococcus aureus


Kingdom

: Bacteria

Filum

: Firmicutes

Kelas

: Cocci

Ordo

: Bacilates

Famili

: Staphylococcaceae

Genus

: Staphylococcus

Spesies

: Staphylococcus aureus

(Staf Pengajar FKUI, 1994).


c.

Morfologi
Kuman ini berbentuk bulat, tidak berspora dan gram positif.
Bila menggerombol dalam susunan yang tidak teratur mungkin sisinya
agak rata karena tertekan. Diameter kuman antara 0,8-1,0 mikron.
Staphylococcus aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37C.
Pada sediaan langsung yang berasal dari nanah dapat terlihat sendiri,
berpasangan, menggerombol dan bahkan dapat tersusun seperti rantai
pendek (Staf Pengajar FKUI, 1994).

10

Staphylococcus aureus mengandung antigen polisakarida dan


protein seperti zat lain yang penting dalam struktur dinding sel.
Peptidoglikan

merupakan

suatu

mengandung

subunit-subunit

polimer

yang

polisakarida

bergabung

yang

memberikan

eksoskelekon yang kuat dari dinding sel. Peptidoglikan dirusak oleh


asam kuat. Beberapa galur Staphylococcus aureus mempunyai kapsul
yang menghambat fagositosis oleh sel polimorfonuklear kecuali jika
terdapat antibodi spesifik (Jawetz, dkk., 2005).
d.

Patogenesis
Staphylococcus

aureus

memproduksi

koagulase

yang

mengkatalisis perubahan fibrinogen menjadi fibrin dan dapat


membantu organisme ini untuk membentuk barisan perlindungan.
Bakteri ini juga memiliki reseptor terhadap permukaan sel inang dan
protein matriks (misalnya fibronektin dan kolagen) yang membantu
organisme ini untuk melekat. Bakteri ini memproduksi enzim litik
ekstraselular (misalnya lipase), yang memecah jaringan inang dan
membantu invasi. Beberapa strain memproduksi eksotoksin poten,
yang menyebabkan sindrom syok toksik. Enterotoksin juga dapat
diproduksi, yang menyebabkan diare (Gillespie & Bamford, 2007).
e.

Toksin
Bakteri Staphylococcus aureus

mengeluarkan toksin pada

makanan berprotein tinggi (daging, telur, susu, ikan). Toksin yang


dikeluarkan oleh bakteri ini relatif tahan panas dan tidak mudah

11

dimusnahkan dengan pemanasan normal pada prosedur pemasakan


makanan. Bakteri S. aureus dapat dimatikan namun toksinnya masih
ada. Keracunan oleh bakteri ini justru sebagian besar terjadi pada
makanan yang telah dimasak. Hal ini disebabkan karena pada
makanan yang telah dimasak, bakteri lain yang dapat menghambat
pertumbuhannya sudah sangat berkurang karena mati oleh proses
pemasakan. Sementara itu, bakteri S. aureus ada di mana-mana
(udara, debu, air, dan lain-lain) dan sangat erat hubungannya dengan
manusia, karena merupakan flora normal pada berbagai bagian tubuh
manusia terutama pada kulit, hidung, dan mulut. Dengan demikian,
makanan yang sudah dimasak sangat mudah tercemar oleh bakteri ini
(Pratiwi, 2008).
3.

Metode Pengujian Aktivitas Antibakteri


Penentuan aktivitas antibakteri dapat dikelompokkan dalam dua
metode, yaitu (Pratiwi, 2008) :
1.

Metode dilusi
Metode ini mengukur KHM (kadar hambat minimum) dan KBM
(kadar bunuh minimum). Cara yang dilakukan adalah dengan
membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium cair yang
ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji agen antimikroba pada
kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba
uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM
tersebut selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan

12

mikroba uji ataupun agen antimikroba,dan diinkubasi selama 18-24


jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan
sebagai KBM.
2.

Metode difusi
Pada cara difusi agar digunakan media agar padat dan reservoir
yang dapat berupa cakram kertas, silinder atau cekungan yang
dibuat

pada

media

padat. Larutan

uji

akan

berdifusi

dari

pencadang ke permukaan media agar padat yang telah diinokulasi


bakteri.

Bakteri

akan

terhambat

pertumbuhannya dengan

pengamatan berupa lingkaran atau zona disekeliling pencadang.


Faktor-faktor yang mempengaruhi metode difusi agar, yaitu (Irianto,
2006) :
a. Pradifusi,

perbedaan

waktu

pradifusi

mempengaruhi

jarak

difusi dari zat uji yaitu difusi antar pencadang.


b. Ketebalan medium agar adalah penting untuk memperoleh
sensitivitas yang optimal. Perbedaan ketebalan media agar
mempengaruhi difusi dari zat uji ke dalam agar, sehingga akan
mempengaruhi diameter hambat. Makin tebal

media

yang

digunakan akan makin kecil diameter hambat yang terjadi.


c. Kerapatan

inokulum,

ukuran

inokulum

merupakan

faktor

terpenting yang mempengaruhi lebar daerah hambat, jumlah


inokulum yang lebih sedikit menyebabkan obat dapat berdifusi
lebih jauh,

sehingga

daerah

yang dihasilkan lebih

besar,

13

sedangkan

jika

jumlah

inokulum

lebih

besar

maka akan

dihasilkan daerah hambat yang kecil.


d. Komposisi media agar, perubahan komposisi media dapat
merubah sifat media sehingga jarak difusi berubah. Media agar
berpengaruh

terhadap ukuran daerah hambat dalam hal

mempengaruhi
kecepatan

aktivitas

difusi

beberapa

antibakteri

dan

bakteri,

mempengaruhi

mempengaruhi

kecepatan

pertumbuhan antibakteri.
e. Suhu inkubasi, kebanyakan bakteri tumbuh baik pada suhu 37C.
f. Waktu

inkubasi

disesuaikan

dengan

pertumbuhan

bakteri,

karena luas daerah hambat ditentukan beberapa jam pertama,


setelah diinokulasikan pada media agar, maka daerah hambat dapat
diamati segera setelah adanya pertumbuhan bakteri.
g. Pengaruh pH, adanya perbedaan pH media yang digunakan
dapat menyebabkan perbedaan jumlah zat uji yang berdifusi,
pH juga menentukan jumlah molekul zat uji yang mengion.
Selain itu pH berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri.
4.

Mekanisme Kerja Antibakteri


Antimikroba (antibakteri) ialah zat pembasmi mikroba, khususnya
mikroba yang merugikan manusia. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada
antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal
sebagai bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal
sebagai aktivitas bakterisid. Aktivitasnya antimikroba dapat meningkat dari

14

bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan


melebihi KHM (Gunawan dkk., 2007).
Pemusnahan mikroba dengan antimikroba yang bersifat bakteriostatik
masih tergantung dari kesanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes. Peranan
lamanya kontak antara mikroba dengan antimikroba dalam kadar efektif
juga sangat menentukan untuk mendapatkan efek, khususnya pada
tuberkulostatik (Gunawan dkk., 2007).
Berdasarkan makanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima
kelompok (Gunawan dkk., 2007) :
1.)

Mengganggu metabolisme sel mikroba

2.)

Menghambat sintesis dinding sel mikroba

3.)

Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba

4.)

Menghambat sintesis protein sel mikroba

5.)

Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba


Tujuan

utama

mematikan,

menyingkirkan

atau

menghambat

pertumbuhan mikroorganisme adalah sebagai berikut (Irianto, 2006) :


1.)

Untuk mencegah infeksi pada manusia, hewan piaraan, dan tumbuhan.

2.)

Untuk mencegah makanan dan lain-lain komoditi menjadi rusak.

3.)

Untuk mencegah gangguan kontaminasi terhadap mikroorganisme


yang digunakan dalam industri, hasilnya tergantung pada kemurnian
penggunaan biakan murni.

4.)

Untuk mencegah kontaminasi bahan-bahan yang dipakai dalam


pengerjaan biakan murni di laboratorium (diagnosis, penelitian,

15

industri), sehingga pengamatan tentang pertumbuhan satu organisme


pada medium pembiakan khusus atau pada hewan percobaan
membingungkan karena adanya organisme lain yang tumbuh.
5.

Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Cara
ekstraksi yang tepat tergantung pada bahan tumbuhan yang diekstraksi dan
jenis senyawa yang diisolasi. Sebelum ekstraksi dilakukan biasanya bahanbahan dikeringkan lebih dahulu kemudian dihaluskan pada derajat
kehalusan tertentu (DepKes RI, 1986).
Metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi. Tujuan ekstraksi ini
untuk menarik kandungan senyawa antibakteri yang ada di kulit buah
delima putih. Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan
dengan cara merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa
hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan
menembus diding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat
aktif, zat aktif akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan
zat aktif didalam sel dan diluar sel, maka larutan yang terpekat didesak
keluar sel. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan
konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel, sehingga zat aktif
akan tersari lebih maksimal (DepKes RI, 1986).

16

6.

Uraian Tentang Kandungan Kimia


Fitokimia merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan aspek
kimia suatu

tanaman.

mencangkup

aneka

Kajian

fitokimia meliputi

ragam senyawa

disimpan oleh organisme,

yaitu

organik

yang

struktur kimianya,

uraian

yang

dibentuk

dan

biosintesisnya,

perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara alamiah dan


fungsi biologisnya, isolasi dan perbandingan komposisi

senyawa kimia

dari bermacam-macam jenis tanaman (Harborne, 1987).


Analisis fitokimia dilakukan untuk menentukan ciri komponen
bioaktif suatu ekstrak kasar yang mempunyai efek racun atau efek
farmakologis lain yang bermanfaat bila diujikan dengan sistem biologi atau
bioassay (Harborne, 1987).
1.

Senyawa alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa bersifat basa yang mengandung satu
atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian
dari sistem siklik. Alkaloid biasanya tanwarna, sering kali optis aktif,
kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan
pada temperatur kamar (Harborne, 1987). Beberapa alkaloid adalah
senyawa penolak serangga dan senyawa antibakteri (Robinson, 1995).

2.

Senyawa flavonoid
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6C3-C6 artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin
benzena tersubtitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga-karbon.

17

Flavonoid mencangkup banyak pigmen yang paling umum dan


terdapat diseluruh dunia tumbuhan. Beberapa kemungkinan fungsi
flavonoid untuk tumbuhan yang mengandungnya ialah pengaturan
tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus dan
kerja terhadap serangga. Beberapa flavonoid, seperti jenis fitoaleksin
lain, merupakan komponen abnormal yang hanya dibentuk sebagai
tanggapan terhadap infeksi atau luka dan kemudian menghambat
bakteri menyerangnya (Robinson, 1995). Flavonoid pada umumnya
berkhasiat sebagai antioksidan, aktivitas antipoliferatif, mencegah
oksidasi lipid dalam darah, dan antimikroba. Salah satu contoh
flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan dan antimikroba adalah
kuersetin. Efek antimikroba kuersetin telah diuji melalui pengujian
terhadap bakteri gram positif, gram negatif, dan jamur (Saraswati,
2010).
3.

Senyawa tanin
Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yang termasuk ke dalam
golongan polifenol. Senyawa tanin ini banyak dijumpai pada
tumbuhan. Tanin memiliki aktivitas antibakteri, secara garis besar
mekanisme yang diperkirakan adalah toksisitas tanin dapat merusak
membran sel bakteri, senyawa astringent tanin dapat menginduksi
pembentukan kompleks ikatan tanin terhadap ion logam yang dapat
menambah daya toksisitas tanin itu sendiri. Mekanisme kerja tanin
dapat mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga

18

mengganggu permeabilitas sel itu sendiri. Akibat terganggunya


permeabilitas, sel tidak dapat melakukan aktivitas hidup sehingga
pertumbuhannya terhambat dan mati (Robinson, 1995).
4.

Senyawa saponin
Pembentukan busa yang mantab sewaktu mengekstraksi tumbuhan
atau memekatkan ekstrak tumbuhan merupakan terpercaya akan
adanya saponin (Harborne, 1987). Saponin adalah senyawa aktif
permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air
dan pada konsentrasi yang rendah dapat menghemolisis sel darah
merah. Beberapa saponin bekerja sebagai antimikroba (Robinson,
1995).

5.

Senyawa fenol
Fenol sederhana berupa zat tanwarna, tetapi biasanya teroksidasi dan
berwarna gelap jika kena udara. Kelarutan dalam air bertambah jika
gugus hidroksil makin banyak, tetapi kelarutan dalam pelarut organik
yang polar umumnya tinggi (Robinson, 1995). Fenol merupakan salah
satu antiseptikum tertua dengan khasiat bakterisid dan fungisid (Tjay
dan Rahardja, 2007).

6.

Senyawa keton
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus
karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus aril, atau sebuah alkil
dan sebuah aril. Keton tidak mengandung atom hidrogen yang terikat
pada gugus karbonil (Fessenden, 2010). Keton rangtai panjang

19

mungkin berperan sebagai pelindung karena daya racunnya terhadap


mikroba dan -diketon bertindak sebagai antioksidan (Robinson,
1995).
7.

Fenol
Fenol merupakan golongan desinfektan. Desinfektan adalah bahan
yang digunakan untuk melaksanakan disinfeksi, desinfeksi berarti
mematikan atau menyingkirkan organisme yang dapat menyebabkan infeksi
(Irianto, 2006). Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan
Lister di dalam ruang bedah sebagai germicide untuk mencegah timbulnya
infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi rendah, daya bunuhnya disebabkan
karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga
merusak membran sel dengan menurunkan tegangan permukaannya. Fenol
merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu
disinfektan (Staf Pengajar FKUI, 1994).
Fenol berbau khas dan bersifat korosif terhadap jaringan. Walaupun
demikian fenol tahan terhadap pemanasan dan pengeringan serta tidak
terpengaruh oleh bahan-bahan organik, tetapi sayangnya fenol kurang
efektif terhadap spora. Penambahan hologen seperti
meningkatkan aktifitas fenol (Staf Pengajar FKUI, 1994).

klorin

akan

20

B. Landasan Teori
Infeksi disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang masuk kedalam
tubuh. Jika hal ini dibiarkan, maka akan berkembang biak dan menimbulkan
penyakit. Infeksi juga dapat bersifat patogen diantaranya menyebabkan bisul,
jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Salah satu bakteri yang berperan penting
dalam infeksi tersebut adalah Staphylococcus aureus.
Staphylococcus

aureus

merupakan

flora

normal

dikulit

manusia.

Pertumbuhan Staphylococcus aureus harus dihambat dengan pemberian bahan


antibakteri agar tidak menjadi patogen. Salah satu tanaman yang berkhasiat
antibakteri adalah kulit buah delima putih. Kulit buah delima mengandung tanin,
triterpenoid, dan alkaloid pelletierene yang dapat digunakan sebagai antibakteri.
Atas dasar inilah maka penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk
membuktikan bahwa kulit buah delima putih dapat mempengaruhi

aktivitas

pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

C. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka yang ada dapat
disusun hipotesis dalam penelitian ini yaitu:
Ho : Ekstrak

kulit

buah

delima

putih

mempunyai

daya

antibakteri

terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.


H1 : Ekstrak kulit buah delima putih tidak mempunyai daya antibakteri
terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
.

21

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian desain eksperimental study. Experimental
design adalah kumpulan percobaan yang dirancang untuk mendapatkan data
kongkrit guna membuktikan suatu hipotesa. Karena penelitian ini dilakukan
dengan prosedur laboratorium.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan di laboratorium Farmasi Universitas Pekalongan dan
laboratorium Akademi Analisis Kesehatan Pekalongan. Waktu penelitian
dilakukan pada tanggal 13 sampai 23 Februari 2015.

C. Bahan dan Alat


1.

Bahan
a.

Bahan ekstraksi yang digunakan: kulit buah delima putih (Punica


granatum L.), etanol 96%.

b.

Bahan uji antibakteri yang digunakan: biakan bakteri Staphylococcus


aureus, media MHA (Mueller Hinton Agar), media BHI (Brain Heart
Infusion).

21

22

2.

Alat
a.

Alat ekstraksi yang digunakan: timbangan digital, beaker glass, gelas


ukur, cawan porselen, waterbath, batang pengaduk, tabung reaksi,
kain flanel, plastik hitam.

b.

Alat uji antibakteri yang digunakan: cawan petri, ose bulat, lampu
spiritus, tabung reaksi, kapas lidi, autoklaf, inkubator, mikropipet,
yellow tip, blue tip, jangka sorong.

D. Cara Kerja Penelitian


1.

Penyiapan bahan baku


Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh
dengan cara menggunakan tangan atau pemetikan langsung terhadap
buah

delima

putih

yang

terdapat

disekitar

rumah

pada

bulan

Desember 2014.
2.

Pembuatan Simplisia
a.

Buah delima disortasi basah yaitu dipisahkan dari kotoran atau


zat asing yang menempel.

b.

Proses pencucian dengan menggunakan air bersih yang tidak


tercemar.

c.

Sayat kulitnya dan agak dalam tapi tidak sampai mengenai


buah.

d.

Letakkan dalam wadah lebar dan ditutup kain hitam untuk


dikeringkan.

23

e.

Proses

pengeringan

dilakukan

secara

alami

dengan

memanfaatkan sinar matahari langsung.


f.

Kulit buah delima disortasi kering yaitu memisahkan bendabenda asing yang masih tertinggal dalam simplisia.

g.

Simplisia yang sudah kering selanjutnya dibuat serbuk dengan


cara di blender.

h.

Selanjutnya serbuk kulit buah belima di ayak

dihancurkan

untuk mendapatkan serbuk yang halus dan seragam.

Gambar 2. Kulit buah delima kering (kiri) dan Serbuk kulit buah delima putih
(kanan)
Sumber: Data Primer

3.

Sterilisasi Alat dan Bahan


a.

Peralatan

yang

digunakan

dicuci

bersih

dan

dilap

sampai

kering.
b.

Kemudian dibungkus dengan kertas dan diikat, lalu disterilkan


di dalam otoklaf.

24

c.

Otoklaf dipanaskan dengan tekanan 15 Psi pada temperatur


121C selama 15 menit, terhitung setelah jarum pada otoklaf
menunjukkan angka 15 dan dijaga tekanannya supaya konstan.

d.
4.

Setelah disterilkan disimpan dalam almari.

Ekstraksi Simplisia Dengan Metode Maserasi

Gambar 3. Serbuk kulit buah delima putih yang direndam etanol 96%
Sumber: Data Primer

a.

Ditimbang 75g serbuk kulit buah delima putih, dimasukkan ke


dalam beaker glass kemudian ditambah etanol 96% sebanyak
200 mL (sampai semua kulit buah delima terendam).

b.

Dimaserasi selama 3 hari dengan ditutup plastik hitam dan


diletakkan pada tempat yang terlindung dari cahaya sambil
dilakukan pengadukan sesering mungkin.

c.

Setiap 24 jam maserat disaring dengan kain kola dan ampas


ditambah cairan penyari lagi dengan jumlah yang sama.

d.

Setelah
homogen

hari,

maserat

kemudian

diperoleh ekstrak kental.

yang

diuapkan

diperoleh
diatas

dicampur
waterbath

sampai
sampai

25

Gambar 4. Ekstrak cair kulit buah delima putih (kiri) dan Ekstrak kental kulit buah
delima putih (kanan)
Sumber: Data Primer

5.

Uji Fitokimia
a.

Uji tanin
Ditimbang 100 mg ekstrak kulit buah delima dimasukkan ke
dalam tabung reaksi ditambah 10 mL air, dipanaskan selama 14
menit,

didinginkan

kemudian

disaring. Filtrat

ditetesi

FeCl3

1%.
b.

Uji alkaloid
Ditimbang 2 g ekstrak kulit buah delima dimasukkan ke dalam
lumpang,

ditambahkan

mL

amonia,

digerus

kemudian

ditambahkan 20 mL CHCl3, disaring. Filtrat dibagi 2 dalam


tabung reaksi. Filtrat A ditambah pereaksi dragendrof. Filtrat B
ditambah pereaksi meyyer.
c.

Uji flavonoid
Ditimbang 100 mg ekstrak kulit buah delima dimasukkan ke
dalam tabung reaksi ditambah air panas, dipanaskan selama 5

26

menit,

disaring.

Filtrat

diuapkan

sampai

mL

kemudian

ditambah 1 mL etanol, 0,1 g serbuk MgSO4, 10 tetes HClp.


6.

Pembuatan Suspensi Bakteri Staphylococcus aureus

Gambar 5. Biakan murni Staphylococcus aureus (kiri) dan Media BHI (kanan)
Sumber: Data Primer

a.

Diambil satu ose biakan murni bakteri Staphylococcus aureus


secara aseptis, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
media BHI 2 ml dan kocok hingga homogen.

b.

Diinkubasikan
dalam inkubator.

pada

temperatur

37C

selama

1x24

jam

di

27

Gambar 6. Suspensi bakteri Staphylococcus aureus


Sumber: Data Primer

7.

Penyiapan Ekstrak
Ekstrak
pengenceran

kental

yang

diperoleh

kemudian

dilakukan

dengan aquadest steril sehingga diperoleh ekstrak kulit

buah delima dengan berbagai konsentrasi yaitu 100, 75, 50 dan 25%.

Gambar 7. Ekstrak kulit buah delima putih konsentrasi 100, 75, 50 dan 25%
Sumber: Data Primer

28

8.

Uji

Aktivitas

Antibakteri

Ekstrak

Kulit

Buah

Delima

Putih

(Punica granatum L.) Terhadap Staphylococcus aureus


a.

Menyiapkan alat yang akan digunakan.

b.

Menyiapkan ekstrak kulit buah delima putih (Punica granatum


L.) dengan beberapa konsentrasi (100, 75, 50 dan 25%).

c.

Menyiapkan larutan pembanding yaitu fenol.

d.

Media agar Mueller Hinton dilubangi dengan alat pembuat


sumuran

secara

aseptis

dan

jarak

diatur

sedemikian

rupa

sehingga satu sumuran dengan sumuran lain berjauhan.


e.

Tanamkan

suspensi

bakteri

Staphylococcus

aureus

dengan

kapas lidi steril, diatas media MHA hingga merata.


f.

Pipet ekstrak kulit buah delima dengan berbagai konsentrasi


(100, 75, 50 dan 25%) serta fenol sebagai pembanding (kontrol
positif) sebanyak 100 L secara aseptis.

g.

Dimasukkan

kedalam

masing-masing

sumuran

yang

telah

dibuat pada media MHA (Mueller Hinton Agar) secara aseptis.


h.

Kemudian semua cawan petri dimasukkan ke dalam inkubator


untuk diinkubasi pada temperatur 37C selama 24-48 jam.

i.

Diamati pertumbuhan yang terjadi serta diukur diameter zona


hambat pada masing-masing waktu inkubasi dan bandingkan
antara hasil satu dan lainnya, di ukur dengan jangka sorong.

29

E. Pengukuran Zona Bening Bakteri


Cawan petri dikeluarkan dari inkubator setelah 24-48 jam. Diamati
pertumbuhan bakteri yang terjadi dan diukur diameter zona bening dengan
menggunakan jangka sorong. Zona bening diukur dari tepi ke tepi melewati
sumuran.

F. Pengumpulan dan Analisis Statistik Data


Analisis secara deskriptif dilakukan dengan mengamati dan mengukur
besarnya zona hambatan yang mengelilingi sumuran pada media MHA (Mueller
Hinton Agar).

G. Skema Kerja
1.

Alur Penelitian
Kulit Buah Delima Putih

Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Delima Putih

dengan Maserasi

Uji Aktivitas Antibakteri terhadap


Staphylococcus aureus

Diameter Zona Hambat

30

2.

Skema

Alur

Pembuatan

Ekstrak

Kulit

Buah

Delima

Putih

(Staphylococcus aureus) Dengan Cara Maserasi

Serbuk Kulit
Delima Putih

Direndam (Etanol 96%)

diserkai

Maserat 1

Ampas

Direndam (Etanol 96%)

diserkai

Dilakukan sampai
diperoleh 3

Maserat 2

Ampas

maserat, ampas di
buang

Maserat dikumpulkan jadi satu

Diuapkan

Ekstrak kental

Diuji daya antibakteri

31

3.

Skema Alur Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Delima Putih
Terhadap Staphylococcus aureus

Media BHI

1 ose bakteri S. aureus

Suspensi bakteri
Staphylococcus aureus

Media MHA

Sumuran ditetesi dengan ekstrak kulit buah


delima putih konsentrasi 100, 75, 50, dan 25%
serta fenol (100L)

Diukur daya hambat


dengan jangka sorong

32

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri kulit buah delima putih
(Punca granatum L.). Kulit buah delima (Punca granatum L.) diuji terhadap
bakteri Staphylococcus aureus. Buah delima yang dipakai dalam penelitian ini
adalah jenis buah delima yang isinya berwarna putih dan yang digunakan dalam
pembuatan ekstrak dalam penelitian ini adalah hanya kulit buahnya.
Buah delima putih (Punica granatum L.) selanjutnya dicuci, sayat kulitnya
dan agak dalam tapi tidak sampai mengenai buah. Letakkan pada wadah,
pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari langsung dengan ditutup kain
hitam untuk mencegah pengaruh sinar UV secara langsung yang dapat
menyebabkan peruraian atau perubahan kandungan aktif pada tanaman sehingga
berpengaruh terhadap hasil uji yang dilakukan. Tujuan dari pengeringan adalah
untuk mengurangi kadar air dan menjaga kualitas tetap baik. Kulit buah delima
yang telah kering diserbuk dengan menggunakan blender. Serbuk kulit buah
delima kemudian di ayak. Tujuan dibuat serbuk adalah untuk memperoleh ukuran
partikel yang lebih kecil, sehingga luas permukaan partikel yang kontak dengan
pelarut semakin besar dengan demikian kandungan senyawa aktif dalam kulit
buah delima akan tersari dengan baik, sehingga lebih mudah memaksimalkan
proses ekstraksi.
Proses awal untuk uji aktivitas antibakteri dilakukan sterilisasi alat dan
bahan. Metode sterilisasi yang digunakan pada penelitian ini adalah metode

32

33

pemanasan basah dengan autoklaf, dipilih metode ini kerena sterilisasi dengan
autoklaf menggunakan uap panas temperatur 121C pada tekanan 15 Psi, dalam
temperatur tersebut semua mikroorganisme akan mati dalam waktu yang tidak
lama yaitu sekitar 15-20 menit. Otoklaf dengan temperatur yang tinggi akan
menghasilkan uap air yang mengembun dan menyebabkan keadaan lembab yang
cukup untuk membunuh kuman (Gupte, 1990). Pada ose diterapkan menggunakan
sterilisasi kering yang dilakukan dengan cara pemijaran (Irianto, 2006).
Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi. Dipilih metode ini
karena maserasi merupakan ekstraksi dingin dengan pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana yaitu dengan cara merendam simplisia pada cairan
penyari yang selalu baru selama 3 hari (DepKes RI, 1986). Proses maserasi yaitu
cairan penyari akan menembus diding sel dan masuk kedalam rongga sel yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan zat aktif didalam sel dan diluar sel, maka larutan yang terpekat
didesak keluar sel (DepKes RI, 1986). Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel, sehingga zat
aktif akan tersari lebih maksimal. Pada penyarian dengan cara maserasi dilakukan
pengadukan, tujuannya untuk meratakan konsentrasi larutan dari luar butir serbuk
simplisia sehingga dengan pengadukan tersebut tetap terjaga adanya perbedaan
konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di
luar sel (DepKes RI, 1986). Cairan penyari yang digunakan dalam metode ini
adalah etanol 96%. Dipilih etanol 96% karena sifatnya yang universal sehingga

34

mampu melarutkan senyawa aktif dalam simplisia terutama senyawa aktif yang
berfungsi sebagai zat antibakteri.
Proses maserasi yang dilakukan pada penimbangan bahan dilakukan 75g
serbuk kulit buah delima ditambahkan cairan penyari 200 mL direndam selama
3x24 jam. Cairan penyari yang digunakan hanya sampai simplisia tersebut
terendam semua. Proses ini dilakukan karena pada prinsipnya ekstraksi dengan
cara maserasi hanya merendam serbuk simplisia pada cairan penyari. Kemudian
disaring sehingga diperoleh filtrat 1. Residu yang diperoleh direndam dengan
cairan penyari lagi dalam jumlah yang sama selama 1x24 jam, dan disaring
sehingga diperoleh filtrat 2. Residunya direndam kembali dengan cairan penyari
lagi dalam jumlah yang sama selama 1x24 jam, lalu disaring sehingga diperoleh
filtrat 3. Filtrat 1, 2, dan 3 yang diperoleh digabung dan didapat 325 g, kemudian
diuapkan dengan pemanas waterbath. Proses ini untuk menguapkan etanol
sehingga diperoleh ekstrak kental dengan jumlah 50,15 g.
Proses penyarian selesai dilakukan uji fitokimia, yang bertujuan untuk
mengetahui senyawa kimia dari suatu simplisia. Uji fitokimia yang dilakukan
yaitu identifikasi tanin, alkaloid dan flavonoid. Hasil uji fitokimia dapat dilihat
pada tabel I di bawah ini.

35

No.

Identifikasi

Tanin

Alkaloid

Tabel I. Data Hasil Uji Fitokimia


Pereaksi
Filtrat + FeCl3 1%

Filtrat
a. + dragendroft
b. + meyyer

Flavonoid

Filtrat + etanol + MgSO4 + HClp

Hasil
Lar. Hitam Kehijauan (+)

Jingga (+)
Putih (+)
Lar. Merah rose (+)

Sumber: Data Primer

Tanin ditunjukkan dengan warna hitam kehijauan. Alkaloid ditunjukkan


dengan adanya kekeruhan atau endapan jingga kecoklatan untuk pereaksi
dragendroft dan endapan putih kekuningan untuk pereaksi meyyer. Adanya
flavonoid ditunjukkan dengan terjadinya warna merah atau jingga. Dari data hasil
uji fitokimia kemudian dibandingkan dengan pustaka maka, dapat dilihat bahwa
kulit buah delima putih (Punica granatum L.) mengandung senyawa tanin,
alkaloid, dan flavonoid.
Ekstrak yang dihasilkan diencerkan untuk mendapatkan seri konsentrasi
yaitu 100, 75, 50 dan 25% dengan menggunakan pelarut aquadest steril. Tujuan
pengenceran ekstrak kulit buah delima (Punica granatum L.) yang dibuat dalam
berbagai konsentrasi adalah untuk melihat perbandingan zona hambatan antara
konsentrasi terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Media yang digunakan adalah media MHA dan BHI, media MHA (Mueller
Hinton Agar) adalah media yang digunakan dalam menumbuhkan bakteri
sedangakan media BHI (Brain Heart Infusion) berupa cairan yang digunakan
dalam pembuatan suspensi bakteri.

36

Metode yang digunakan dalam peneitian ini adalah metode difusi agar
dengan sumur. Pada media MHA (Mueller Hinton Agar) dibuat sumuran
berdiameter 5 mm. Lalu suspensi bakteri Staphylococcus aureus ditanamkan pada
media tersebut sampai homogen sehingga pertumbuhan bakteri pada media uji
dapat tersebar secara merata. Kemudian sumuran yang telah dibuat, diberi
perlakuan dengan pemberian fenol (kontrol positif) dan ekstrak kulit buah delima
(Punica granatum L.) konsentrasi 25, 50, 75, dan 100% masing-masing sebanyak
100 L dan satu sumuran tanpa diberi perlakuan (kontrol negatif) dari masingmasing perlakuan dilakukan pangulangan. Kemudian diinkubasi dengan
temperatur 37C selama 1x24 jam lalu diukur diameter zona hambatan yang
terbentuk. Inkubasi dilanjutkan lagi selama 1x24 jam untuk melihat sifat dari
senyawa bioaktif yang dikandung oleh sampel kulit buah delima tersebut.
Pengukuran zona hambat diamati pertumbuhan bakteri yang terjadi dan
diukur diameter zona bening dengan menggunakan jangka sorong. Zona bening
diukur dari tepi ke tepi melewati sumuran.

Zona hambatan

37

Hasil pengukuran zona hambat dari masing-masing perlakuan dapat dilihat


pada tabel II dibawah ini:
Tabel II. Hasil Pengukuran Zona Hambat Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Delima
Putih (Punica granatum L.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus
Diameter Zona
Hambatan (mm)
Jenis Perlakuan
24 jam

48 jam

Konsentrasi 25%

18

13

Konsentrasi 50%

22

18

Konsentrasi 75%

25

20

Konsentrasi 100%

28

25

Kontrol positif (Fenol)

31

32

Kontrol negatif (tanpa


perlakuan)

Sumber: Data Primer

Efek antibakteri ekstrak kulit buah delima (Punica granatum L.) dalam
menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus disebabkan oleh adanya zat
aktif dalam ekstrak tersebut, yaitu berupa tanin, alkaloid, dan flavonoid. Senyawa
tanin, flavonoid merupakan derivat fenol sehingga dapat menyebakan rusaknya
susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri.
Rusaknya dinding sel bakteri ini akan menyebabkan membran sel bakteri
terganggu dan akhirnya pertumbuhan bakteri akan terhambat atau mati. Senyawa
alkaloid merupakan basa yang dapat menghidrolisis dan menggumpalkan protein,
sehingga pertumbuhan bakteri terhambat (Gunawan dkk., 2007).
Digunakan fenol sebagai kontrol positif karena fenol termasuk desinfeksi,
berarti mematikan atau menyingkirkan organisme yang dapat menyebabkan
infeksi (Irianto, 2006). Fenol memiliki kemampuan untuk mempresipitasikan

38

protein secara aktif, dan merusak membran sel (Staf Pengajar FKUI, 1994).
Kontrol negatif digunakan untuk melihat pertumbuhan bakteri pada media MHA.
Berdasarkan data tabel II, hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa
kulit buah delima putih pada konsentrasi 100, 75, 50 dan 25% mempunyai
aktivitas sebagai antibakteri. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit buah
delima, maka semakin besar zona hambat yang terbentuk terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus. Kontrol positif yaitu fenol memiliki aktivitas antibakteri
terhadap Staphylococcus aureus dan zona hambat yang terbentuk stabil tidak
mengalami penurunan zona hambat setelah waktu inkubasi 48 jam. Sedangkan
pada kontrol negatif sama sekali tidak terdapat zona hambatan dan terlihat
pertumbuhan bakteri bertambah setelah waktu inkubasi 48 jam. Diameter zona
hambat ekstrak kulit buah delima putih (Punica granatum L.) yang terbentuk pada
masa inkubasi 24 jam mengalami penurunan setelah masa inkubasi 48 jam. Hal
ini menunjukkan dahwa kulit buah delima putih (Punica granatum L.) bersifat
bakteriostatik untuk bakteri uji Staphylococcus aureus karena setelah diinkubasi
selama 48 jam, diameter zona hambatannya berkurang. Suatu antibiotik dikatakan
bersifat bakteriostatik jika antimikroba tersebut berkhasiat untuk menghambat
pertumbuhan bakteri uji dan tidak mematikan bakteri sehingga dalam waktu 48
jam daerah hambatan kembali ditumbuhi bakteri (Irianto, 2006). Dengan
demikian terjadi penurunan diameter hambatan terhadap bakteri tersebut.

39

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
Ekstrak kulit buah delima putih (Punica granatum L.) pada konsentrasi 100,
75, 50 dan 25% diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit buah delima,
maka semakin besar zona hambat yang terbentuk terhadap pertumbuhan
Staphylococcus aureus.

B. Saran
Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah:
1.

Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode dilusi untuk


mengetahui KHM yang dimiliki oleh ekstrak kulit buah delima putih
(Punica granatum L.).

2.

Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode ekstraksi cara


panas, misal soxhletasi agar diperoleh senyawa kimia dengan lebih baik dan
dalam jumlah banyak.

3.

Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan identifikasi Kromatografi


Lapis Tipis (KLT) terhadap senyawa yang terkandung dalam ekstrak kulit
buah delima putih (Punica granatum L.).

39

40

4.

Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan kuman patogen lain yang


belum digunakan dalam penelitian ini dan penelitian sebelumnya untuk
melihat ada tidaknya efek antibakteri dari ekstrak kulit buah delima putih
(Punica granatum L.).

41

Daftar Pustaka
DepKes RI, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta, Hal: 4 dan 10.
Fessenden, R.J. & Fessenden, J.S., 2010, Dasar-dasar Kimia Organik, terjemahan
oleh Maun, S., Anas, K., Sally, S.T., Binarupa Aksara Publisher,
Tangerang, Hal: 395.
Ganiswarna, G.S., 1995. Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta, Hal: 517-518, 571-573, 651-656, 682-685.
Gillespie, S., & Bamford, K., 2007, At a Glance Mikrobiologi Medis dan Infeksi.
Edisi III, Penerbit Erlangga, Jakarta, Hal: 32-33.
Gunawan, S.G., Setiabudy, R., Nafrialdi, Elysabeth, 2007, Farmakologi dan
Terapi, Edisi V, Departemen Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas
Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, Hal: 585-587
Gupte, S., 1990, Mikrobiologi Dasar, Cetakan Pertama, Penerbit Binarupa
Aksara, Jakarta, Hal: 50-54 dan 73.
Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, terbitan Kedua, Penerbit ITB, Bandung,
Hal: 6-7, 155, 234-235.
Irianto, K., 2006, Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme, Jilid 1, Yrama
Widya, Bandung, Hal: 75-76, 86, 93 dan 111.
Integrated Taxsonomic Information System, 2014, ITIS Standard Report of
Punica granatum L.
http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&searc
h_value=27278, 12 Desember 2014.
Jawetz, E., Melnick, J.l., dan Adelberg, E.A., 2005, Mikrobiologi Kedokteran,
Penerbit Salemba Medika, Jakarta, Hal: 317.
Oci, Y.M & Dewi, K.K., 2014, Khasiat Ajaib Delima, Cetakan I, Penerbit Padi,
Jakarta Timur, Hal: 3-15.
Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Penerbit Erlangga, Jakarta, Hal: 175177, 188-190 dan 204.
Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Edisi Bahasa
Indonesia, terjemahan oleh Padmawinata, K., Penerbit ITB, Bandung, Hal:
57, 116, 132, 156, 157, 161 dan 191.
Rukmana, R., 2003, Delima, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, Hal: 11-12.

41

42

Saraswati, K., 2010, Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Daun Benalu Cengkeh
(Dendrophthoe Pentandra (1.) Miq.) Terhadap Candida albicans dan
trichophyton
rubrum,
Skripsi,
Fakultas
Farmasi
Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Surakarta. [Internet] Available from: URL :
http://etd.eprints.ums.ac.id/9870/3/K100060032.pdf, 24 Februari 2015.
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994, Buku Ajar
Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi, Penerbit Binarupa Aksara,
Jakarta, Hal: 42 dan 103.
Sugeng HR, 2006, Tanaman Apotik Hidup, Cetakan VI, CV. Aneka Ilmu,
Semarang, Hal: 34-35.
Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi, Departemen pendidikan dan
kebudayaan, Jakarta, Hal: 177-178.
Tjay, H.T., & Rahardja, K., 2007, Obat-obat Penting, Edisi VI, Elekmedia
Komputindo, Jakarta, Hal: 100-101 dan 247.
Wikipedia, 2015, Delima, http://id.wikipedia.org/wiki/Delima, 10 Januari 2015.

43

Lampiran 1. Identifikasi Senyawa Kulit Buah Delima Putih

Gambar. Uji tannin

Gambar. Uji flavonoid

Gambar. Uji alkaloid


Sumber: Data Primer

44

Lampiran 2. Hasil Uji aktivitas antibakteri pada MHA (Mueller Hinton


Agar)

Zona Hambatan Syaphylococcus aureus Inkubasi 24 jam


Keterangan:
A : Konsentrasi ekstrak 75%
B : Konsentrasi ekstrak 50%
C : Konsentrasi ekstrak 25%
D : Konsentrasi ekstrak 100%
E : Kontrol positif (fenol)
F : Kontrol negatif (tanpa perlakuan)

45

Zona Hambatan Syaphylococcus aureus Inkubasi 48 jam


Keterangan:
A : Konsentrasi ekstrak 75%
B : Konsentrasi ekstrak 50%
C : Konsentrasi ekstrak 25%
D : Konsentrasi ekstrak 100%
E : Kontrol positif (fenol)
F : Kontrol negatif (tanpa perlakuan)

46

Diameter Zona Hambatan (mm)


Jenis Perlakuan
24 jam

48 jam

Konsentrasi 25%

18

13

Konsentrasi 50%

22

18

Konsentrasi 75%

25

20

Konsentrasi 100%

28

25

Kontrol positif (Fenol)

31

32

Kontrol negatif (tanpa perlakuan)

Sumber: Data Primer

47

Lampiran 3. Alat-alat Yang Digunakan

Waterbath

Timbangan Digital

Blender

Ayakan

48

Autoklaf

Mikropipet

Inkubator

Lampu Spiritus

49

Kapas lidi

Jarum ose

50

Lampiran 4. Perhitungan Pengenceran Konsentrasi Ekstrak


Perhitungan :
Rumus pengenceran : V1 x N1 = V2 x N2
Diketahui :
V1= volume larutan standar yang diencerkan
V2= volume larutan pengenceran
N1= konsentrasi larutan yang diencerkan
N2= konsentrasi larutan pengenceran
Masing-masing konsentrasi dibuat 2 ml.
Konsentrasi 75% =

V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 100% = 2ml x 75%
V1 = 1,5 ml

Konsentrasi 50% =

V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 00% = 2ml x 50%
V1 = 1 ml

51

Konsentrasi 25% =

V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 100% = 2ml x 25%
V1 = 0,5 ml

52

Lampiran 5. Perhitungan dan Pembuatan Media MHA


Perhitungan:
Komposisi media MHA (Mueller Hinton Agar):
Infusion from neat

: 2,0 g

Casein hydrolisate

: 17,5 g

Starch

: 1,5 g

Agar

: 13,0 g

Aquadest ad 1000 ml
Tiap cawan petri berisi 20 ml media MHA, jadi 1000 ml : 20 ml = 50, maka bahan
yang digunakan untuk 20 ml MHA yaitu:
Infusion from neat

: 2,0 g / 50 = 0,04 g = 40 mg

Casein hydrolisate

: 17,5 g / 50 = 0,35 g = 350 mg

Starch

: 1,5 g / 50 = 0,03 g = 30 mg

Agar

: 13,0 g / 50 = 0,26 g = 260 mg

Aquadest ad 20 ml

53

Cara Pembuatan:
Ditimbang media MHA sejumlah diatas, dimasukkan ke dalam beaker glass
ditambah aquadest sampai 20 ml. Biarkan dingin 50C kemudian disterikan di
dalam autoklaf dengan suhu 121, 15 Psi selama 15 menit.

54

Lampiran 6. Surat Keterangan Pemesanan Biakan Murni Staphylococcus


aureus Dan Media MHA

55

Lampiran 7. Surat Keterangan Ijin Penelitian di Laboratorium Universitas


Pekalongan

56

Lampiran 8. Surat Keterangan Pembelian Biakan Murni Staphylococcus


aureus Dan Media MHA

57

Lampiran 9. Surat Keterangan Penelitian di Laboratorium Universitas


Pekalongan

58

Lampiran 10. Surat Keterangan Penelitian di Laboratorium Akademi


Analisis Kesehatan Pekalongan