Anda di halaman 1dari 52

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /

082.12.034

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi serta
pembangunan di suatu daerah selain mempunyai dampak positif juga
menimbulkan dampak negatif. Indonesia yang merupakan negara nomor empat
terpadat di dunia dengan prakiraan penduduk tahun 2007 mencapai 234 juta jiwa,
menghadapi banyak permasalahan terkait sanitasi lingkungan terutama masalah
pengelolaan sampah. Berdasarkan target MDGs (Millennium Development Goals)
pada tahun 2015 tingkat pelayanan persampahan ditargetkan mencapai 80%.
Tetapi di Indonesia berdasarkan pembuangan sampah (TPA), dibakar sebesar
35,59%, dibuang ke sungai 14,01%, dikubur sebesar 7,97% dan hanyan 1,15%
yang diolah sebagai kompos. Berdasarkan kondisi ini jika tidak dilakukan upaya
pengelolaan sampah dengan baik maka tingkat pelayanan berdasarkan target
nasional akan sulit tercapai.
Telah diketahui bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengganggu estetika lingkungan, menimbulkan bau, serta mengakibatkan
berkembangnya penyakit. Gangguan lingkungan oleh sampah dapat timbul mulai
dari sumber sampah, di mana penghasil sampah tidak melakukan penanganan
dengan baik. Hal ini dapat terjadi pada penghasil sampah yang tidak mau
menyediakan tempat sampah di rumahnya, dan lebih suka membuang sampah
dengan seenaknya ke saluran air atau membakarnya sehingga menyebabkan
sampah tercecer dan menjadi tempat berkembangnya lalat serta menimbulkan bau.
Selain itu pada penanganan sampah secara umum masih belum sebagaimana yang
dipersyaratkan, sehingga timbul masalah pencemaran.
Pemerintah

menyadari

bahwa

permasalahan

sampah

telah

menjadi

permasalahan nasional. Perlu adanya sistem pengelolaan yang dilakukan secara


komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir. Selain itu bahwa dalam pengelolaan
sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan
Pemerintah, pemerintah daerah, serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga
1

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
perlu adanya Undang-Undang yang mengatur tentang pengelolaan sampah. Pada
tahun 2008 disahkan UU no 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang
bertujuan antara lain :
a) Agar pengelolaan ini dapat memberikan manfaat secara ekonomi
(sampah sebagai sumber daya), sehat bagi masyarakat, dan aman bagi
lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat;
b) Agar mengurangi dampak negative yang ditimbulkan oleh sampah
terhadap kesehatan dan lingkungan;
c) Agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif,
dan efisien
Kondisi pengelolaan persampahan di berbagai kota di Indonesia ditenggarai
cenderung menurun, dilihat dari menurunnya tingkat pelayanan yang hanya 40%
pada tahun 2000 (sebelumnya pernah mencapai 50%), walau secara perlahan
meningkat kembali menjadi 54% pada 2006 (data BPS, 2006). Dalam kurun
waktu tersebut juga terjadi berbagai kasus pencemaran lingkungan yang
disebabkan karena pengelolaan sampah yang tidak sesuai dengan standar teknis.
Pengangkutan sampah dari sumber sampah (kawasan perumahan, perkantoran,
komersial, industry, dan lain-lain) ke TPA merupakan cara konvensional yang
sampai saat ini masih mendominasi pola penanganan sampah di Indonesia.
Namun sesuai dengan Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah dan Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Persampahan,
paradigma pola pengelolaan sampah tidak lagi mengandalkan pola kumpulangkut-buang, namun beralih ke pola pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak
dari sumbernya, sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA sudah sangat
berkurang.
Prasarana pengangkutan sampah dapat berupa gerobak/sepeda/motor sampah
atau truk terbuka. Adanya perubahan paradigm penanganan sampah tersebut,
maka diperlukan perubahan pola pengangkutan sampah baik untuk sampah
tercampur maupun untuk sampah terpisah.
Kondisi operasional TPA yang sebagian besar dilakukan secara open dumping
pada umumnya karena keterbatasan sumber daya manusia dan dana. Undangundang No.18 Tahun 2008 mengamanatkan bahwa mulai tahun 2013 tidak
2

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
diperkenankan lagi operasi TPA secara open dumping. Untuk itu proses
perencanaan

memegang

peranan

penting

dalam

pelaksaan

pengelolaan

persampahan. Keterlibatan dalam pengelolaan persampahan tidak hanya oleh


pemangku kepentingan tetapi termasuk masyarakat dalam proses pengambilan
keputusan. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi sampah baik timbulan (berat dan
volume) serta komposisinya.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari pembuatan laporan ini adalah agar mahasiswa/i
Teknik Lingkungan dapat merencanakan suatu pengelolaan sistem persampahan
secara baik, optimal dan efektif dengan cara:

Menghitung proyeksi jumlah penduduk pada akhir tahun perencanaan.

Menghitung volume timbulan sampah domestik, non domestik dan 3R.

Menghitung jumlah wadah yang dibutuhkan untuk tiap kapasitas


wadah yang berbeda.

Menghitung volume timbulan sampah yang dikumpulkan dan diangkut


ke TPS maupun TPA.

Membuat diagram alir.

Menghitung julah peralatan pendukung yang diperlukan pekerja dalam


pengelolaan sampah.

Mampu menghitung luas lahan TPA yang diperlukan untuk


menampung volume timbulan sampah pada akhir tahun perencanaan.

Salah satu syarat untuk memenuhi mata kuliah Perencanaan


Pengelolaan Persampahan.

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Pengelolaan Sampah
Sejumlah literature mendefinisikan sampah sebagai semua jenis limbah
berbentuk padat yang berasal dari kegiatan manusia dan hewan, dan dibuang
karena tidak bermanfaat atau tidak diinginkan lagi kehadirannya (Tchobanoglous,
Theisen & Vigil, 1993). Sedangkan dalam PP No. 18/1999 jo PP No. 85/1999
tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun, secara umum limbah
didefinisikan sebagai bahan sisa suatu kegiatan dan/atau proses produksi.
Definisi sampah mengalami pergeseran pada tahun-tahun terakhir ini karena
aspek pembuangan tidak disebutkan secara jelas, dimana pada masa sekarang ada
kecenderungan untuk tidak membuang sampah begitu saja, melainkan sedapat
mungkin melakukan daur ulang. Hal ini tertuang pula dalam UU no 18 Tahun
2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan definisi sampah adalah sisa
kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Sedangkan, pengelolaan sampah didefinisikanadalah semua kegiatan yang
bersangkut paut dengan pengendalian timbulnya sampah, pengumpulan, transfer
dan transportasi, pengolahan dan pemrosesan akhir/pembuangan sampah, dengan
mempertimbangkan faktor kesehatan lingkungan, ekonomi, teknologi, konservasi,
estetika dan factor-faktor lingkungan lainnya yang erat kaitannya dengan respons
masyarakat.
Menurut UU no. 18 Tahun 2008 pengelolaan sampah didefinisikan sebagai
kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi
pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan meliputi:
a) Pembatasan timbulan sampah;
b) Pendaur ulang sampah; dan/atau
c) Pemanfaatan kembali sampah.
Sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi:
a) Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah
sesuai dengan jenis, jumlah dan/atau sifat sampah;

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
b) Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah
dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau
tempat pengolahan sampah 3R skala kawasan (TPS 3R), atau tempat
pengolahan sampah terpadu;
c) Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau
dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat
pengolahan sampah 3R terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir
(TPA) atau tempat pengolahan sampah terpadu (TPST);
d) Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan
atau jumlah sampah; dan/atau
e) Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah
dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan
secara aman.
Prinsip pengelolaan sampah meliputi:
a) Paradigma lama penanganan sampah secara konvensional yang
bertumpu pada proses pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan
akhir perlu diubah dengan mengedepankan terlebih dahulu proses
pengurangan dan pemanfaatan sampah.
b) Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat
mengurangi kebutuhan pengelolaan sehingga sebaiknya dilakukan di
semua tahap yang memungkinkan baik sejak di sumber, TPS, Instalasi
Pengolahan,

dan

TPA.

Dengan

demikian

diharapkan

target

pengurangan sampah sebesar 20% dapat terpenuhi.


c) Pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak disumbernya akan
memberikan dampak positif, dalam hal ini peran masyarakat sangatlah
penting.
d) Komposisi sampah dengan kandungan organik tinggi (60-80%)
merupakan potensi sumber bahan baku kompos yang dapat melibatkan
peran serta masyarakat.
e) Daur ulang oleh sektor informal perlu diupayakan menjadi bagian dari
sistem pengelolaan sampah perkotaan.
f) Tempat Pemrosesan Akhir merupakan tahap terakhir penanganan
sampah. Pemanfaatan TPA sebaiknya untuk jangka panjang (minimal
10 tahun)
5

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
g) Insenerator merupakan pilihan teknologi terakhir untuk pengolahan
sampah kota, mengingat karakteristik sampah di Indonesia yang masih
mengandung organik yang cukup tinggi, biaya investasi serta
pemeliharaan yang mahal.
2.2 Aspek Teknis Operasional Pengelolaan Sampah
Aspek Teknis Operasional dapat dibagi lagi atas 6 elemen fungsi (aspek)
yaitu, penimbulan (waste generation), penanganan yang terdiri dari pemisahan,
penyimpanan dan prosesing di tempat (waste handling, separation, storage and
processing

at

the

source),

pengumpulan

(collection),

pemidahan

dan

pengangkutan (transfer and transport), pemisahan, prosesing dan transformasi


(separation and processing and transformation), dan pemrosesan akhir (disposal).
Pada Gambar 1 dapat dilihat hubungan antara aspek-aspek dalam penanganan
sampah.

Gambar 1. Faktor-faktor dalam pengelolaan sampah


(Sumber : Tchobanoglous et al., 1993)

Penanggung jawab pengelolaan persampahan dilaksanakan oleh dinas-dinas


terkait seperti Dinas Kebersihan. Pengelolaan oleh dinas-dinas terkait ini dimulai
dari pengangkutan sampah sampai pemrosesan akhir sampah. Untuk sumber

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
sampah dan pengumpulan di sumber sampah adalah menjadi tanggung jawab
pengelola yaitu:
1. Swasta/developer dan atau
2. Organisasi kemasyarakatan
3. Sampah B3-rumah tangga ditangani khusus oleh lembaga tertentu
Pola operasional dalam pengelolaan sampah ini secara konvensional dapat
dilihat pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Pola Penanganan Sampah

Pola operasional pengelolaan sampah ini kemudian berkembang karena


adanya konsep 3R (reduce, reuse dan recycle) yang diharapkan mulai dari sumber
sampah. Adanya program 3R diharapka dapat mengurangi jumlah sampah yang
ditangani di TPST atau TPA, sehingga menurunkan beban pengolahan sampah
pada skala kota maupun skala regional.
Dalam menentukan strategi pengelolaan sampah diperlukan informasi
mengenai komposisi, karakteristik dan laju timbulan sampah.

2.2.1 Pewadahan
Pewadahan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sebelum
dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Tujuan utama dari pewadahan adalah :
7

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

Untuk menghindari terjadinya sampah yang berserakan sehingga

mengganggu lingkungan dari kesehatan, kebersihan dan estetika.


Memudahkan proses pengumpulan sampah dan tidak membahayakan
petugas pengumpulan sampah, baik petugas kota maupun dari
lingkungan setempat.

Dalam operasi pengumpulan sampah, masalah pewadahan memegang peranan


yang amat penting. Oleh sebab itu tempat sampah adalah menjadi tanggung jawab
individu yang menghasilkan sampah (sumber sampah), sehingga tiap sumber
sampah seyogyanya

mempunyai wadah/tempat sampah sendiri. Tempat

penyimpanan sampah pada sumber diperlukan untuk menampung sampah yang


dihasilkannya agar tidak tercecer atau berserakan.
Volumenya tergantung kepada jumlah sampah perhari yang dihasilkan oleh
tiap sumber sampah dan frekuensi serta pola pengumpulan yang dilakukan. Untuk
sampah komunal perlu diketahui/diperkirakan juga jumlah sumber sampah yang
akan memanfaatkan wadah komunal secara bersama serta jumlah hari kerja
instansi pengelola kebersihan perminggunya. Bila hari kerja 6 (enam) hari dalam
seminggu, kapasitas penampungan komunal tersebut harus mampu menampung
sampah yang dihasilkan pada hari minggu. Perhitungan kapasitasnya adalah
jumlah sampah perminggu (7 hari) dibagi 6 (jumlah hari kerja perminggu).
Berdasarkan letak dan kebutuhan dalam sistem penanganan sampah, maka
pewadahan sampah dapat dibagi menjadi beberapa tingkat (level), yaitu:
a. Level-1 : wadah sampah yang menampung sampah langsung dari
sumbernya. Pada umumnya wadah sampah pertama ini diletakkan di
tempat-tempat yang terlihat dan mudah dicapai oleh pemakai, misalnya
diletakkan di dapur, di ruang kerja, dsb. Biasanya wadah samp ah jenis ini
adalah tidak statis, tetapi mudah diangkat dan dibawa ke wadah
sampah level-2.
b. Level-2: bersifat sebagai pengumpul sementara, merupakan wadah yang
menampung

sampah

dari

wadah level -1

maupun

langsung

dari

sumbernya. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di luar kantor, sekolah,


rumah, atau tepi jalan atau dalam ruang yang disediakan, seperti dalam

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
apartemen bertingkat . Melihat perannya yang berfungsi sebagai titik temu
antara sumber sampah dan sistem pengumpul, maka guna kemudahan
dalam pemindahannya, wadah sampah ini seharusnya tidak bersifat
permanen, seperti yang diarahkan dalam SNI tentang pengelolaan sampah
di Indonesia. Namun pada kenyataannya di permukiman permanent, akan
dijumpai wadah sampah dalam bentuk bak sampah permanen di depan
rumah, yang menambah waktu operasi untuk pengosongannya.
c. Level-3: merupakan wadah sentral, biasanya bervolume besar yang akan
menampung

sampah

dari

wadah level-2,

bila

sistem

memang

membutuhkan. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi


khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya.
Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut,
maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan
sebagai berikut : kuat dan tahan terhadap korosi, kedap air, tidak
mengeluarkan bau, tidak dapat dimasuki serangga dan binatang, serta
kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung.
Wadah sampah hendaknya mendorong terjadinya upaya daur-ulang, yaitu
disesuaikan dengan jenis sampah yang telah terpilah. Di negara maju adalah hal
yang umum dijumpai wadah sampah yang terdiri dari dari beragam jenis sesuai
jenis sampahnya. Namun di Indonesia, yang sampai saat ini masih belum berhasil
menerapkan konsep pemilahan, maka paling tidak hendaknya wadah tersebut
menampung secara terpisah, misalnya:
a. Sampah organik, seperti daun sisa, sayuran, kulit buah lunak, sisa
makanan, dengan wadah warna gelap seperti hijau
b. Sampah anorganik seperti gelas, plastik, logam, dan lain-lainnya, dengan
wadah warna terang seperti kuning
c. Sampah bahan berbahaya beracun dari rumah tangga dengan warna merah,
dan dianjurkan diberi lambang (label) khusus
Di Indonesia dikenal pola pewadahan sampah individual dan komunal. Wadah
individual adalah wadah yang hanya menerima sampah dari sebuah rumah, atau

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
sebuah bangunan, sedang wadah komunal memungkinkan sampah yang
ditampung berasal dari beberapa rumah atau dari beberapa bangunan. Pewadahan
dimulai dengan pemilahan baik untuk pewadahan individual maupun komunal,
dan sebaiknya disesuaikan dengan jenis sampah. Beberapa hal penting yang perlu
diperhatikan:

Pada umumnya wadah sampah individual level-2 ditempatkan di tepi jalan


atau di muka fasilitas umum, dan wadah sampah komunal terletak di suatu
tempat yang tebuka, sehingga memudahkan para petugas untuk

mengambilnya dengan cepat, teratur, dan higienis.


Wadah sampah dari rumah sebaiknya diletakkan di halaman muka,
dianjurkan tidak di luar pagar, sedang wadah sampah hotel dan sejenisnya

ditempatkan di halaman belakang


Tidak mengambil lahan trotoar, kecuali bagi wadah sampah untuk pejalan

kaki
Didesain secara indah, dan dijamin kebersihannya, khususnya bila terletak

di jalan protocol
Tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya.
Mudah untuk pengoperasiannya, yaitu mudah dan cepat untuk

dikosongkan.
Jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m.
Mudah dijangkau oleh petugas sehingga waktu pengambilan dapat lebih

cepat dan singkat.


Aman dari gangguan binatang ataupun dari pemungut barang bekas,

sehingga sampah tidak dalam keadaan berserakan.


Tidak mudah rusak dan kedap air.

Penentuan ukuran volume biasanya berdasarkan jumlah penghuni tiap


rumah/sumber, timbulan sampah per pemakai, tingkat hidup masyarakat,
frekuensi pengambilan atau pengumpulan sampah dan cara pemindahan sampah,
manual atau mekanik.
Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,
maka:

10

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Pola

pewadahan

individual:

diperuntukkan

bagi

daerah

pemukiman

berpenghasilan tinggi dan daerah komersial. Bentuk yang dipakai tergantung


selera dan kemampuan pengadaannya dari pemiliknya, dengan kriteria:

Bentuk: kotak, silinder, kantung, kontainer.


Sifat: dapat diangkat, tertutup.
Bahan: logam, plastik. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air,

panas matahari, tahan diperlakukan kasar, mudah dibersihkan.


Ukuran: 10-50 liter untuk pemukiman, toko kecil, 100-500 liter untuk

kantor, toko besar, hotel, rumah makan.


Pengadaan: pribadi, swadaya masyarakat, instansi pengelola.
Pola pewadahan komunal: diperuntukkan bagi daerah pemukiman
sedang/kumuh, taman kota, jalan, pasar. Bentuk ditentukan oleh pihak
instansi pengelola karena sifat penggunaannya adalah umum, dengan

kriteria:
Bentuk: kotak, silinder, kontainer.
Sifat: tidak bersatu dengan tanah, dapat diangkat, tertutup.
Bahan: logam, plastik. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air,

panas matahari, tahan diperlakukan kasar, mudah dibersihkan.


Ukuran: 100-500 liter untuk pinggir jalan, taman kota, 1-10 m3 untuk

pemukiman dan pasar.


Pengadaan: pemilik, badan swasta (sekaligus sebagai usaha promosi hasil
produksi), instansi pengelola.

Jenis peralatan/wadah yang digunakan untuk menampung timbulan sampah


perlu disesuaikan dengan sumber sampah. Pada Tabel 1 dapat dilihat hubungan
antara sumber sampah dan jenis peralatannya.
No
1

Sumber Sampah
Derah perumahan yang sudah

Jenis Peralatan
Kantong
plastik/kertas

sesuai yang ada


Bin plastik/tong volume 40-60 lt

dengan tutup
Bin/tong sampah, volume 50-60 lt

teratur/belum teratur

Pasar

volume

yang dipasang secara permanen

11

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

Pertokoan

Perkantoran/Hotel

Tempat

umum,

jalan

dan

Bin/plastik, volume 120-240 lt ada

tutupnya dan memakai roda


Gerobak sampah, volume 1 m3
Container dari arm roll kapasitas 6-

10 m3
Bak sampah isi variabel
Kantong plastik, volume bervariasi
Bin plastik/tong, volume 50-60
Bin plastik, volume 120-240 lt

dengan roda
Container volume 1 m3 beroda
Container besar volume 6-10 m3
Bin plastik/tong volume 50-60 lt,

yang dipasang secara permanen


Bin plastik, volume 120-240 dengan

taman

roda
Tabel 1. Jenis Peralatan dan Sumber Sampah

2.2.2 Pengumpulan dan Pengangkutan


2.2.2.1 Pengumpulan
Yang dimaksud dengan sistem pengumpulan sampah adalah cara
atau

proses

pengambilan

sampah

mulai

dari

tempat

pewadahan/penampungan sampah dari sumber timbulan sampah sampai


ketempat pengumpulan semantara/stasiun pamindahan atau sakaligus ke
tempat pembuangan akhir (TPA).
Pengumpulan umumnya dilaksanakan oleh petugas kebersihan kota
atau swadaya masyarakat (sumber sampah, badan swasta atau RT/RW).
Pengikut sertaan masyarakat dalam pengelolaan sampah banyak
ditentukan oleh tingkat kemampuan pihak kota dalam memikul beban
masalah persampahan kotanya.
Dalam teknis operasional pengelolaan sampah biaya untuk
kegiatan pengumpulan sampah dapat mencapai 40 % dari total biaya
operasional. Karenanya perlu diupayakan suatu teknik pengumpulan
12

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
yang efektif dan efisien, termasuk pertimbangan terhadap tempat
penyimpanan sampah, agar biaya operasi dapat ditekan serendah
mungkin.
Pada hampir seluruh kota-kota besar dan sedang di Indonesia,
dijumpai sisa sisa sampah tidak terangkut yang disebabkan oleh belum
efisiensinya cara cara pengumpulan sampah yang diterapkan. Hali ini
lebih jauh akan membawa dampak negative terhadap kesehatan
masyarakat.
Pengumpulan sampah merupakan kegiatan yang padat karya dan
proses yang paling mahal dibandingkan dengan proses-proses lain di
dalam

pengelolaan

sampah.

Pada

kenyataannya

biaya

untuk

pengumpulan terus meningkat dari waktu ke waktu dengan munculnya


daerah-daerah kumuh yang harus dilayani sebagai akibat dari proses
urbanisasi.
Secara

lebih

mendetail

permasalahan-permasalahan

yang

umumnya dijumpai pada sistem pengumpulan ini adalah :


a. Penggunaan waktu kerja yang tidak efisien karena keterlambatan
mulai bekerja, lamanya waktu memuat dan membongkar,
hilangnya waktu dan lain-lain.
b. Penggunaan kapasitas muat yang tidak tepat, misalnya terlalu
penuh pada rit 1 dan kosong pada rit berikutnya. Muatan yang
terlalu penuh membuat kendaraan cepat rusak.
c. Jenis pewadahan yang tidak tepat, tidak seragam dan standar
sehingga memperlambat proses pengumpulan sampah oleh
petugas pengumpul.
d. Rute pelayanan yang belum optimum, sehingga tidak diperoleh
penghematan waktu untuk operasi pengumpulan.
e. Tingkah laku petugas dan kerja sama masyarakat yang kurang
baik, seperti kerjasama antara petugas dan masyarakat serta
efisiensi kerja petugas kurang baik.
f. Aksebilitas yang kurang baik, seperti misalnya jalan-jalan yang
terlalu sempit, kondisi jalan yang rusak, kemacetan dan lain-lain.

13

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Pada dasarnya pengumpulan sampah dapat dikelompokkan dalam 2 pola
pengumpulan :
a. Pola individual langsung
Pengumpulan dilakukan oleh petugas kebersihan yang mendatangi tiaptiap
bangunan/sumber sampah (door to door) dan langsung diangkut untuk
dibuang di Tempat Pembuangan Akhir. Pola pengumpulan ini menggunakan
kendaraan truck sampah biasa, dump truck atau compactor truck.

Sumber sampah

Pengumpulan/
pengangkutan

Pembuangan akhir

b. Pola individual tidak langsung


Sumber
sampah

Pengumpulan
dan
pengangkutan

Pengangkutan

Sumber
sampah

Daerah yang dilayani kedua cara tersebut diatas umumnya adalah


lingkungan pemukiman yang sudah teratur, daerah pertokoan, tempat-tempat
umum, jalan dan taman. Transfer Depo tipe I, tipe II atau tipe III, tergantung
luas daerah yang dilayani dan tersedianya tanah lokasi,
c. Pola komunal langsung
Pengumpulan sampah dilakukan sendiri oleh masing-masing
penghasil sampah (rumah tangga, dll) ke tempat-tempat penampungan
sampah komunal yang telah disediakan atau langsung ke truck sampah yang
mendatangi titik pengumpulan (semacam jali-jali di Jakarta)

14

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

Sumber
sampah

Wadah
komunal

Pengangkutan

Pembuangan
akhir

d. Pola komunal tidak langsung


Pengumpulan sampah dilakukan sendiri oleh masing-masing
penghasil sampah (rumah tangga dll) ke tempat-tempat yang telah
disediakan/ditentukan (bin/tong sampah komunal) atau langsung ke
gerobak/becak sampah yang mangkal pada titik - titik pengumpulan komunal.
Petugas kebersihan dengan gerobaknya kemudian mengambil sampah dari
tempat - tempat pengumpulan komunal tersebut dan dibawa ke tempat
penampungan sementara atau transfer depo sebelum diangkut ketempat
pembuangan akhir dengan truck sampah. Bila tempat pengumpulan sampah
tersebut berupa gerobak yang mangkal, petugas tinggal membawanya ke
tempat penampungan sementara atau transfer depountuk dipindahkan
sampahnya ke atas truck.
Sumber
sampah

Wadah
komunal

Pengumpulan
, pemindahan

Pengangkutan

Pembuangan
akhir

2.2.2.2 Pengangkutan
Pengangkutan, dimaksudkan sebagai kegiatan operasi yang dimulai
dari titik pengumpulan terakhir dari suatu siklus pengumpulan sampai ke
TPA pada pengumpulan dengan pola individual langsung, atau dari tempat
pemindahan (Trasfer Depo, Trasfer Station), penampungan sementara (TPS,
TPSS, LPS) atau tempat penampungan komunal sampai ke tempat
pengolahan/pembuangan akhir. Sehubungan dengan hal tersebut, metoda
pengangkutan serta peralatan yang akan dipakai tergantung dari pola
pengumpulan yang dipergunakan.

15

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
A. Pengangkutan Berdasarkan Pola Pengumpulan Sampah
1. Pengangkutan pada Pengumpulan dengan Pola Individual
Langsung.
Pengangkutan sampah untuk pengumpulan yang digunakan
pola Individual Langsung, kendaraan yang digunakan untuk
pengumpulan juga langsung digunakan untuk pengangkutan ke
TPA. Dari pool, kendaraan langsung menuju ke titik - titik
pengumpulan (sumber sampah ) dan setelah penuh dari titik
pengumpulan terakhir (dalam suatu rit atau trip). Setelah
menurunkan sampah di TPA, kemudian kembali ke titik
pengumpulan pertama untuk rit atau trip berikutnya, setelah penuh
dari titik pengumpulan terakhir pada rit tersebut langsung menuju
ke TPA demikian seterusnya dan akhirnya dari TPA langsung
kembali ke pool.
2. Pengangkutan pada pengumpulan dengan "Pola Individual
Langsung"
Pengangkutan dari Transfer Depo tipe I dan tipe II, untuk
pengumpulan sampah dengan pola individuai tidak langsung
(menggunakan gerobak/becak sampah dan transfer depo tipe I atau
II), angkutan sampahnya sebagai berikut:
Kendaraan angkutan keluar dari pool langsung
menujulokasi TD dan sampah - sampah tersebut

diangkut ketempat pembuangan akhir.


Dari TPA, kendaraan tersebut kembali ke TD untuk
pengambilan / pengangkutan pada rit atau trip
berikutnya. Path rit terakhir sesuai dengan yang
ditentukan ,(jumlah sampah yang harus diangkut

habis) kendaraan tersebut langsung kembali ke pool.


Dapat terjadi setelah sampah di salah satu TD habis
mengambil sampah dari TD lain atau dari
TPS/TPSS /LPS.

16

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

Selain itu dapat diatur pula pengangkutannya


bergantian dengan TD lain sehingga tidak ada waktu

idle dari Dump Truck.


Hal ini dimungkinkan bila jarak TPA dekat ke TD sehingga
waktu tempuh truck cukup singkat, sehingga bila langsung dari
TPA menuju TD yang sama, kemungkinan akan menganggur
menunggu gerobak yang sedang melakukan pengumpulan sampah
dari rumah ke rumah (door to door).
Dengan memperhitungkan waktu secara cukup cermat (waktu
tempuh gerobak 1 trip dan waktu tempuh truk 1 trip). dapat disusun
jadwal pengangkutan pada tiap TD.
3. Pengangkutan pada pengumpulan dengan "Pola Individual
Langsung"
Transfer Depo merupakan landasan container besar yang
merupakan perlengkapan Armroll Truck. Disini gerobak tidak
tergantung kepada datangnya truk untuk memindahkan sampah
yang dikumpulkannya, karena container mangkal dilandasan
tersebut.
1. Cara ke-1 (Sistem Container yang diganti)
Dari Pool, Armroll truck membawa container kosong (CO)
menuju landasan container pertama (C1), menurunkan container
kosong dan mengambil container penuh (C1) secara hidrolis,
selanjutnya menuju TPA untuk menurunkan sampah. Dari TPA
membawa container kosong (C1) menuju landasan landasan
container ke - dua, menurunkan container (C1) kemudian
mengambil container penuh (C2) untuk dibawa ke TPA,
selanjutnya menuju kelandasan container berikutnya demikian
seterusnya. Setelah rit yang terakhir ( 4 s/d 6 rit/hari ), dari TPA
bersama container terakhir (Cn) yang telah kosong kembali ke
Pool. Pada cara ini pada TD/landasan container setiap saat selalu
tersedia container ; sehingga gerobak tidak terikat pada waktu
pemindahan karena menunggu container kembali dari TPA.
2. Cara ke2 (Sistem Container yang dipindah)

17

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Armroll truck tanpa container keluar dari pool langsung menuju
lokasi container pertama (C1), untuk mengambil/mengangkut
container pertama (C1) ke TPA. Dari TPA, kendaraan tersebut
dengan container kosong (C1) kembali menuju lokasi container
berikutnya (C2), menurunkan container yang kosong (C1) dan
mengambil container yang berisi sampah (C2) untuk diangkut ke
TPA demikian seterusnya. Pada rit terakhir setelah container
kosong ( Cn ) diletakkan pada okasi container pertama, kendaraan
tersebut kembali ke pool. Pada lokasi kontainer pertama ,
kendaraan tersebut kembali ke pool. Pada cara ini terdapat
kekosongan container pada landasan container pertama sampai
Armroll truck membawa container kosong yang terakhir ( Cn ) dari
TPA ke landasan pertama. Pada landasan ke dua dan landasan
terkhir tidak terjadi kekosongan container. Tentunya yang rawan
adalah pada landasan pertama karena kemungkinan ada gerobak
yang menurunkan sampah atau individu yang membuang sampah
di landasan yang tidak ada containemya.
3. Cara ke-3 (Sistem Container yang diangkat)
Pada cara ke-3 relatif sama dengan cara ke-2, hanya setelah
container pertama (C1) dibawa ke TPA untuk dikosongkan
kembalinya dari TPA tidak menuju ke lokasi landasan pertama,
demikian pula container kedua (C2) dari TPA kembali ke landasan
kedua demikian selanjutnya. Secara merata setiap landasan (TDIII)

akan

terjadi

kekosongan

container

selama

kegiatan

pengangkutan dari landasan ke TPA darn kembali ke landasan yang


sama.
4. Cara ke-4 (Sistem Container Tetap)
Sistem ini biasanya untuk container kecil serta alat angkut
berupa truck compactor. Kendaraan keluar dari pool langsung
menuju lokasi container pertama (C1) dan mengambil sampahnya
untuk dituangkan ke dalam truck compactor dari meletakkan
kembali container yang kosong itu ditempatnya semula, kemudian
kendaraan

langsung menuju lokasi

container kedua

(C2)
18

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
mengambil sampahnya dan meninggalkan container dalam keadaan
kosong dan seterusnya.
2.2.3 Pengolahan Sampah
Pengolahan sampah merupakan bagian dari penanganan sampah dan
menurut UU no. 18 Tahun 2008 didefinisikan sebagai proses perubahan bentuk
sampah dengan mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah.
Pengolahan sampah merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk mengurangi
jumlah sampah, disamping memanfaatkan nilai yang masih terkandung dalam
sampah itu sendiri (bahan daur ulang, produk lain dan energy). Pengolahan
sampah dapat dilakukan berupa: pengomposan, recycling/daur ulang, pembakaran
(insinerasi), dan lain-lain.
Pengolahan secara umum merupakan proses transformasi sampah baik
secara fisik, kimia maupun biologi. Masing-masing definisi dari proses
transformasi tersebut adalah :

Transformasi fisik
Perubahan sampah secara fisik melalui beberapa metode atau cara yaitu:
a) Pemisahan komponen sampah : dilakukan secara manual atau
mekanis. Sampah yang bersifat heterogen dipisahkan menjadi
komponen-komponennya,

sehingga

bersifat

lebih

homogen.

Langkah ini dilakukan untuk kepentingan daur ulang. Demikian


pula sampah yang bersifat berbahaya dan beracun (misalnya
sampah laboratorium berupa sisa-sisa zat kimia) sedapat mungkin
dipisahkan dari jenis sampah lainnya, untuk kemudian diangkut ke
tempat pembuangan khusus.
b) Mengurangi volume sampah dengan pemadatan atau kompaksi :
dilakukan dengan tekanan/kompaksi. Tujuan dari kegiatan ini
adalah untuk menekan kebutuhan ruang sehingga mempermudah
penyimpanan, pengangkutan dan pembuangan. Reduksi volume
juga bermanfaat untuk mengurangi biaya pengangkutan dan
pembuangan. Jenis sampah yang membutuhkan reduksi volume
antara lain: kertas, karton, plastik dan kaleng.
19

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
c) Mereduksi ukuran dari sampah dengan proses pencacahan. Tujuan
hamper sama dengan proses kompaksi dan juga bertujuan untuk
memperluas permukaan kontak dari komponen sampah.

Transformasi kimia
Perubahan bentuk sampah secara kimiawi dengan menggunakan prinsip
proses pembakaran atau insinerasi. Proses pembakaran sampah dapat
didefinisikan sebagai pengubahan bentuk sampah padat menjadi fasa gas,
cair, dan produk padat yang terkonversi, dengan pelepasan energi panas.

Transformasi biologi
Perubahan
bentuk

sampah

dengan

memanfaatkan

aktivitas

mikroorganisme untuk mendekomposisi sampah menjadi bahan stabil


yaitu kompos. Teknik biotransformasi yang umum dikenal adalah :
a) Komposting secara aerobik (produk berupa kompos)
b) Penguraian secara anaerobik (produk berupa gas metana, CO2, dan
gas-gas lain, humus atau lumpur). Humus/lumpur/kompos yang
dihasilkan sebaiknya distabilisasi dahulu secara aerobik sebelum
digunakan sebagai kondisioner tanah.
Berdasarkan metoda pengolahan dan tanggung jawab pengelolaan maka skala
pengolahan dapat dibedakan atas beberapa skala yaitu :
a) Skala individu : yaitu pengolahan yang dilakukan oleh penghasil
sampah secara langsung di sumbernya (rumah tangga/kantor).
Contoh pengolahan pada skala individu ini adalah pemilahan
sampah atau composting skala individu.
b) Skala kawasan : yaitu pengolahan yang dilakukan untuk melayani
suatu lingkungan/kawasan (perumahan, perkantoran, pasar, dll).
Lokasi pengolahan skala kawasan dilakukan di TPST (Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu). Proses yang dilakukan pada TPST
umumnya berupa : pemilahan, pencacahan sampah organik,
pengomposan, penyaringan kompos, pengepakan kompos, dan
pencacahan plastic untuk daur ulang.
c) Skala kota : yaitu pengolahan yang dilakukan untuk melayani
sebagian atau seluruh wilayah kota dan dikelola oleh pengelola

20

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
kebersihan kota. Lokasi pengolahan dilakukan di Instalasi
Pengolahan

Sampah

Terpadu

(TPST)

yang

umumnya

menggunakan bantuan peralatan mekanis.


2.2.4 Pemrosesan Akhir
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai
tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan,
pemindahan/pemgangkutan, pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan
tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan
terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan
perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik.
Berdasarkan data SLHI tahun 2007 tentang kondisi TPA di Indonesia,
sebagian besar merupakan tempat penimbunan sampah terbuka (open dumping)
sehingga menimbulkan masalah pencemaran pada lingkungan. Data menyatakan
bahwa 90% TPA dioperasikan dengan open dumping dan hanya 9% yang
dioperasikan dengan controlled landfill san sanitary landfill. Perbaikan kondisi
TPA sangat diperlukan dalam pengelolaan sampah pada skala kota. Beberapa
permasalahan yang sudah timbul terkait dengan operasional TPA yaitu
(Damanhuri, 1995) :
a) Pertumbuhan vector penyakit
Sampah merupakan sarang yang sesuai bagi berbagai vektor penyakit.
Berbagai jenis rodentisida dan insektisida seperti, tikus, lalat, kecoa,
nyamuk, sering dijumpai di lokasi ini.
b) Pencemaran udara
Gas metana (CH4) yang dihasilkan dari tumpukan sampah ini, jika
konsentrasinya

mencapai

5-15%

di

udara,

maka

metana

dapat

mengakibatkan ledakan.
c) Pandangan tak sedap dan bau tak sedap
Meningkatnya jumlah timbulan sampah, selain sangat mengganggu
estetika, tumpukan sampah ini menimbulkan bau tak sedap.
d) Asap pembakaran
Apabila dilakukan pembakaran, akan sangat mengganggu terutama dalam
transportasi dan gangguan kesehatan.

21

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
e) Pencemaran leachate
Leachate merupakan air hasil dekomposisi sampah, yang dapat meresap
dan mencemari air tanah.
Kemudian

pembuangan

sampah

mengenal

beberapa

metoda

dalam

pelaksanaannya yaitu:
a. Open Dumping
Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan
sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi; dibiarkan
terbuka tanpa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Masih
ada Pemda yang menerapkan cara ini karena alasan keterbatasan sumber daya
(manusia, dana, dll). Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya
potensi pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti:

Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, dll


Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan
Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul
Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor

b. Control Landfill
Metoda ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik
sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk mengurangi
potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Dalam operasionalnya juga
dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi
pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. Di Indonesia, metode control
landfill dianjurkan untuk diterapkan di kota sedang dan kecil. Untuk dapat
melaksanakan metoda ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas diantaranya:

Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan


Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan
Pos pengendalian operasional
Fasilitas pengendalian gas metan
Alat berat

c. Sanitary Landfill

22

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional
dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan yang
timbul dapat diminimalkan. Namun demikian diperlukan penyediaan prasarana
dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini sehingga sampai saat ini
baru dianjurkan untuk kota besar dan metropolitan.
Dewasa ini masalah sampah merupakan fenomena sosial yang perlu
mendapat perhatian dari semua fihak, karena setiap manusia pasti memproduksi
sampah, disisi lain masyarakat tidak ingin berdekatan dengan sampah. Seperti kita
ketahui bersama bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat
menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Gangguan yang
ditimbulkan meliputi bau, penyebaran penyakit hingga terganggunya estetika
lingkungan. Beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan
sampah sistem yang terjadi selama ini adalah :
Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari
sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum
dipilah-pilah sehingga kalaupun akan diterapkan teknologi lanjutan berupa
komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut
jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan hal ini akan memerlukan

dana maupun menyita waktu.


Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya :
a. Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir sehingga hanya
cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak
terpakai. bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya,
maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan
jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA.
b. Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri
serta bibit penyakit lain juga dapat menimbulkan bau tidak sedap yang
dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter yang pada akhirnya
akan mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan.

BAB III
PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

23

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

3.1 Data Penduduk


Kota Trisakti Damai Sejahtera berencana mendirikan sebuah Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) dengan data jumlah penduduk dari tahun 2010-2014
sebagai berikut :
Tabel 3.1a Data Jumlah Penduduk
Tahun

Jumlah

2010

Penduduk (Jiwa)
206777

2011

213699

2012

220618

2013

227660

2014

234780

Dengan menggunakan empat metode yaitu : aritmatika, geometrik,


geometrik bunga berbunga dan increamental increase dapat diperoleh jumlah
proyeksi penduduk pada tahun perencanaan. Dengan ke empat metode tersebut,
dipilih standar deviasi yang paling kecil untuk menentukan metode yang
digunakan. Setelah membandingkan keempat metode tersebut, diperoleh bahwa
metode geometrik bunga berbunga memiliki standar deviasi terkecil. Pada table
berikut ini terdapat jumlah penduduk serta jumlah kepala keluarga (KK) pada
tahun perencanaan.
Tabel 3.1b Tabel Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga
Tahun
2015
2016
2017
2018
2019
2020

Jumlah
Penduduk
213448
220334
227443
234780
242355
250174

Jumla
h KK
53362
55084
56861
58695
60589
62543

24

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

Tahun
2021
2022
2023
2024
2025

Jumlah
Penduduk
258245
266576
275176
284054
293218

Jumla
h KK
64561
66644
68794
71013
73304

Diketahui bahwa terdapat 4 jiwa per keluarga, dengan asumsi laju


timbulan sampah sebesar 2 liter/orang/hari. Dengan jumlah permukiman dan non
permukiman sebagai berikut :
a. Permukiman
: 75%
b. Non permukiman : 25%
3.2 Perencanaan Pengelolaan Sampah
Tahun perencanaan pengelolaan sampah yaitu selama 10 tahun dan tahun
2025 sebagai tahun akhir perencanaan. Pada perencanaan ini diketahui bahwa
tingkat pelayanan sampah eksisting yaitu 40%, sedangkan tingkat pelayanan
pengangkutan dan pengambilan masing-masing sebesar 98% dan 95%. Lalu rasio
3R disumber dan di TPS yaitu 3% dan 5%. Secara ringkas dapat dilihat pada table
dibawah ini :
Tabel 3.2 Asumsi Perencanaan Pengelolaan Sampah
Tingkat pelayanan eksisting
Tingkat pelayanan pengumpulan
Tingkat pelayanan pengangkutan
3R di sumber
3R di TPS

40%
98%
95%
3%
5%

3.3 Kriteria Pewadahan Sampah


Seperti yang diketahui bahwa pewadahan memegang peranan yang sangat
penting dalam pengelolaan sampah. Pada perencanaan ini diketahui bahwa asumsi
kriteria pewadahan untuk sampah yang berasal dari permukiman (domestic) dan
non permukiman (non domestic) berbeda. Pada tabel dibawah ini dapat dilihat
kriteria pewadahan sampah pada permukiman dan non permukiman :
Tabel 3.3 Kriteria Pewadahan Sampah

25

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Permukiman (Domestik)
Kapasitas wadah 40 Liter (50%)
Kapasitas wadah 100 Liter (25%)
Kapasitas wadah 250 Liter (25%)

Non Permukiman (Non Domestik)


Kapasitas wadah 100 Liter (60%)
Kapasitas wadah 250 Liter (30%)
Kapasitas wadah 500 Liter (10%)

3.4 Diagram Alir


Berikut ini adalah diagram alir dari sistem perencanaan pengelolaan
sampah di Kota Trisakti Damai Sejahtera :

Gambar 3.4 Diagram Alir


3.5 Densitas Sampah
Densitas sampah adalah berat sampah yang diukur dalam satuan kilogram
atau ton dibandingkan dengan volume sampah yang diukur tersebut (kg/m 3).
Densitas sampah sangat penting dalam menentukan jumlah timbulan sampah.
Penentuan densitas sampah ini dilakukan dengan cara menimbang sampah yang
disampling dari sumber sampah (E. Pandebesie, 2005). Pada tabel dibawah ini
terdapat nilai densitas pada wadah sampah, gerobak dan truk pengangkut sampah :
Tabel 3.5 Densitas Sampah
Wadah Sampah
Gerobak Sampah
Truk Sampah

Densitas Sampah
0.15 Ton/m3
0.25 Ton/m3
0.30 Ton/m3

3.6 Detail Peralatan Pengelolaan Sampah


Peralatan pendukung merupakan hal yang penting pada sistem pengelolaan
sampah. Peralatan yang digunakan pada suatu sistem pengelolaan sampah umunya
terdiri dari peralatan pewadahan dan pengangkutan. Peralatan pengangkutan pada
26

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
perencanaan ini yaitu gerobak motor dan dump truck. Pada tabel dibawah ini
terdapat detail peralatan serta volume dan jumlah ritasi pada perencanaan sistem
pengelolaan sampah di Kota Trisakti Damai Sejahtera.
Tabel 3.6 Detail Peralatan
Komponen

Volume (m3)
Non
Domestik
Domestik
40 Liter
100 Liter
100 Liter
250 Liter
250 Liter
500 Liter

Pewadahan

Jumlah
Ritasi/hari
-

Pengangkutan
Gerobak Motor

Dump Truck

3.7 Detail Pekerja Pengelolaan Sampah


Pada sistem pengelolaan sampah ini, pekerja yang dibutuhkan adalah
sebagai berikut :
a. Gerobak Motor
b. Dump Truck

: 2 Orang
: 4 Orang

3.8 Detail Peralatan Penunjang


Seluruh peralatan penunjang harus dimiliki oleh pekerja. Peralatan yang
dibutuhkan pada perencanaan pengelolaan sampah diantaranya adalah : garu, sapu
lidi dan sekop. Sedangkan, peralatan yang diperlukan pekerja adalah : pakaian
kerja, kaos tangan, sepatu dan masker. Dibawah ini adalah detail peralatan
penunjang beserta jumlah dan umur pakainya.
Tabel 3.8 Detail Peralatan Penunjang
Peralatan
Garu
Sapu lidi
Sekop
Pakaian kerja
Kaos tangan

Jumlah
1 buah/gerobak motor
2 buah/dump truck
1 buah/gerobak motor
2 buah/dump truck
1 buah/gerobak motor
2 buah/dump truck
2 buah/pekerja
2 pasang/pekerja

Umur Pakai
2 Tahun
6 Bulan
2 Tahun
3 Tahun
2 Bulan
27

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Peralatan
Sepatu kerja
Masker

Jumlah
1 pasang/pekerja
3 buah/pekerja

Umur Pakai
3 Tahun
2 Bulan

3.9 Pola Pengumpulan Sampah


Pola pengumpulan sampah dibagi menjadi 4 jenis yaitu individual
langsung, individual tidak langsung, komunal langsung dan komunal tidak
langsung. Kota Trisakti Damai Sejahtera menerapkan keempat pola pengumpulan
dengan asumsi yang berbeda-beda. Pada tabel dibawah ini terdapat persantase
asumsi dari keempat pola, diantaranya adalah :
Tabel 3.9 Asumsi Pola Pengumpulan Sampah
Pola Pengumpulan

Persentase Asumsi

Individual Langsung
Individual Tidak Langsung
Komunal Langsung
Komunal Tidak Langsung

35%
40%
10%
15%

Kota Trisakti Damai Sejahtera menggunakan Dump Truck yang


berkapasitas 3 m3 sebagai peralatan pengangkutan sampah dengan ritasi 2
rit/hari untuk pola pengumpulan individual langsung dan komunal langsung.
Pada pola pengumpulan individual langsung, dump truck secara langsung
mengangkut sampah langsung dari sumbernya (door to door). Sedangkan pada
pola pengumpulan komunal langsung, dump truck berada pada suatu lapangan
yang cukup luas dan masyarakat yang hendak membuang sampah akan
mendatangi tempat tersebut. Selanjutnya sampah langsung dibawa ke TPA baik
untuk pola pengumpulan individual langsung maupun pola pengumpulan komunal
langsung. Kemudian untuk pola pengumpulan sampah individual tidak langsung
dan komunal tidak langsung menggunakann gerobak motor dengan kapasitas 1
m3 dan ritasi sebanyak 6rit/hari. Pola ini diterapkan karena tidak adanya akses
jalan yang memungkinkan untuk dump truck masuk ke daerah tersebut. Gerobak
motor yang telah mengangkut sampah dari sumber masuk ke TPS dan kemudian

28

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
timbulan sampah dari gerobak motor diangkut oleh dump truck untuk dibawa ke
TPA.

BAB IV
HASIL PERHITUNGAN
4.1 Proyeksi Jumlah Penduduk
4.1.1 Metode Aritmatika
Proyeksi penduduk dengan metode aritmatik mengasumsikan bahwa
jumlah penduduk pada masa depan akan bertambah dengan jumlah yang
sama setiap tahun. Formula yang digunakan pada metode proyeksi aritmatik
adalah :
Pf = Pi + Ka (tf-ti)
Dimana :

Pf

= Jumlah penduduk pada tahun perencanaan

Pi

= Jumlah penduduk pada saat ini

tf

= Tahun perencanaan

ti

= Tahun saat ini

Ka

= Konstanta aritmatika
Tabel 4.1.1 Hasil Perhitungan Dengan Metode Aritmatika

Tahun
2010

Jumlah
Penduduk
206777

Ka

Pf

(Pf-Pi)

(Pf-Pi)^2

20677
7

0
29

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
19977
6
19277
6
18577
5
17877
4

2011

213699

6922

2012

220618

6919

2013

227660

7042

2014

234780

7120

Jumlah Ka

28003
7000.7
5

Ka Rata-rata

-13923

193842967.6

-27842.5

775204806.3

-41885

1754374168

-56006

3136672036

Jumlah

5860093977

Sd

38275.625

4.1.2 Metode Geometrik


Proyeksi penduduk dengan metode geometrik menggunakan asumsi
bahwa jumlah penduduk akan bertambah secara geometrik menggunakan
dasar perhitungan bunga majemuk (Adioetomo dan Samosir, 2010). Laju
pertumbuhan penduduk (rate of growth) dianggap sama untuk setiap tahun.
Berikut formula yang digunakan pada metode geometrik :
ln Pf = ln Pi + (tf ti)
Dimana :

Pf = Jumlah penduduk pada tahun perencanaan

Pi = Jumlah penduduk pada saat ini

tf = Tahun perencanaan

ti =Tahun saat ini

Kg

= Konstanta geometrik
Tabel 4.1.2 Hasil Perhitungan Dengan Metode Geometrik

Tahun

Pi

2010

206777

2011

213699

2012

220618

lnPi
12.239
4
12.272
32
12.304
19

Kg
0.0329
3
0.0318
6

lnPf
12.2393
96
12.2711
48

Pf

(Pf-Pi)

(Pf-Pi)^2

206777

213448

-251

63036

12.3029

220334

-284

80614

30

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

2013

227660

2014

234780

12.335
61
12.366
4
Jumlah
Kg
Kg ratarata

0.0314
2
0.0308
0.1270
1
0.0317
5

12.3346
52
12.3664
04

227442

-218

47361

234780

Jumlah

191011

Sd

219

4.1.3 Metode Geometrik (Bunga-berbunga)


Metode geometrik ini digunakan

apabila pertumbuhan penduduk

bertambah secara eksponensial. Pertumbuhan geometrik ini dapat dihitung


dengan menggunakan rumus yang lebih dikenal sebagai bunga-berbunga,
yaitu :
Pf = Pi (1 + r) n
Dimana :

Pf
Pi
r
n

= proyeksi jumlah penduduk pada tahun perencanaan


= jumlah penduduk pada tahun data
= angka pertumbuhan
= perbedaan waktu ( tf- ti )
Tabel 4.1.3 Hasil Perhitungan Dengan Metode Bunga-berbunga

Tahun

Pi

2010

206777

2011

213699

3.35%

2012

220618

3.24%

2013

227660

3.19%

2014

234780

3.13%
3.23%

r rata rata

Pf
20677
7
21344
8
22033
4
22744
3
23478
0

(Pf-Pi)

(Pf-Pi)^2

-251

63004

-284

80538

-217

47271

0
Jumlah
Sd

0
190813
218.411

4.1.4 Metode Incremental Increase

31

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Agar perhitungan proyeksi penduduk lebih akurat maka perlu mengikut
sertakan metode incremental increase . Pada tabel dibawah ini terdapat
contoh perhitungan metode incremental increase, yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.1.4 Hasil Perhitungan Dengan Metode Incremental Increase
Tahun

2010

2011

2012

2013

2014

TOTAL
RATARATA

Pi(x)
20677
7
21369
9
22061
8
22766
0
23478
0
11035
34
22070
6.8

6922

Pf(X)

(Pf-Pi)

(Pf-Pi)^2

206777

213843.75

144.75

0
20952.56
25
128522.2
5
265482.5
625

6919

-3

220976.5

358.5

7042

123

228175.25

515.25

7120

78

235440

660

28003
7000.
75

198
66
Sd

435600
850557.3
75
212639.3
438
230.5641
688

4.1.5 Metode Terpilih


Untuk menentukan metode yang akan digunakan pada perhitungan
proyeksi jumlah penduduk, maka dapat dipilih dari metode yang memiliki
standar deviasi terkecil. Perbandingan standar deviasi dari keempat metode
diantaranya adalah :

Metode Aritmatika
Metode Geometrik
Metode Bunga-berbunga
Metode Incremental Increase

= 38275, 625
= 219
= 218,411
= 230,56

Maka dari perbandingan standar deviasi diatas dapat dilihat, bahwa


standar deviasi metoda bunga-berbunga paling kecil jika dibandingkan
dengan standar deviasi pada ketiga metoda lainnya. Yang berarti
penyimpangan perhitungan proyeksi jumlah penduduk dengan data jumlah
penduduk yang ada akan lebih kecil jika kita memproyeksikan jumlah
penduduk dengan menggunakan metoda bunga-berbunga.

32

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Kemudian dapat dilihat pada grafik pertumbuhan penduduk
dibawah ini, bahwa proyeksi pertumbuhan penduduk dengan menggunakan
metoda bunga-berbunga lebih mendekati jumlah pertumbuhan penduduk
pada data jumlah penduduk yang ada, dibandingkan proyeksi pertumbuhan
penduduk dengan menggunakan metoda aritmatika, metoda geometrik dan
metode Incremental Increase.
Grafik 4.1.5 Pertumbuhan Penduduk
250000
200000
Aritmatika
Geometrik

150000

Bunga-berbunga
100000

Incremental
Increase

50000
0
2005

Jumlah Penduduk

2010

2015

Jadi berdasarkan grafik dan perhitungan standar deviasi, metoda


yang akan digunakan untuk memperkirakan jumlah penduduk tahun
perencanaan adalah metoda bunga-berbunga.
4.1.6 Prediksi Jumlah Penduduk
Berikut ini adalah tabel prediksi pertumbuhan penduduk sampai
dengan tahun 2025, dengan menggunakan metoda bunga-berbunga :
Tabel 4.1.6 Prediksi Jumlah Penduduk Tahun 2015-2025
Tahu
n
2015
2016
2017
2018

Pendu
duk
213448
220334
227443
234780
33

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Tahu
n
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025

Pendu
duk
242355
250174
258245
266576
275176
284054
293218

4.2 Perhitungan Volume Sampah


Timbulan (kuantitas) sampah merupakan volume sampah atau berat sampah
yang dihasilkan dari jenis sumber sampah di wilayah tertentu per satuan waktu
(DPU, 2005). Data ini diperlukan dalam menentukan dan mendesain jenis atau
tipe peralatan yang digunakan dalam transportasi sampah, desain sistem
pengolahan persampahan, dan desain TPA. Untuk mengetahui volume timbulan
sampah, sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu laju timbulan sampah pada
kawasan tersebut. Laju timbulan sampah dapat dilihat pada SNI 19-3964-2002.
Kota Trisakti Damai Sejahtera mengasumsikan laju timbulan sampah 2
liter/orang/hari karena berdasarkan SNI 19-3964-2002, laju timbulan
sampah

34

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


pada kota besar adalah 2-2,5 liter/orang/hari. Maka untuk menghitung volume timbulan sampah dapat digunakan rumus
berikut :
Qt = Qd X Qnd
Qd = qd X Pi
Qnd = 25% X Total Timbulan Sampah
100
Dimana :

Qt
= Volume total timbulan sampah (liter/hari atau m3/hari)
Qd
= Volume timbulan sampah domestik (liter/hari atau m3/hari)
Qnd = Volume timbulan sampah non domestik (liter/hari atau m3/hari)
Qd
= Laju timbulan sampah (liter/orang/hari)
Pada Tabel 4.2 dibawah ini terdapat perhitungan volume timbulan sampah di Kota Trisakti Damai Sejahtera :

Tahun

Pi
Laju
Timbulan
Sampah
(L/orang/
hari)
Volume
Timbulan

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

213,44
7.99

220,33
4.21

227,44
2.58

234,78
0.28

242,35
4.71

250,17
3.51

258,24
4.55

266,57
5.98

275,17
6.20

284,05
3.87

293,21
7.96

2.00
426,89
5.99

2.00
440,66
8.41

2.00
454,88
5.16

2.00
469,56
0.57

2.00
484,70
9.43

2.00
500,34
7.02

2.00
516,48
9.10

2.00
533,15
1.96

2.00
550,35
2.40

2.00
568,10
7.74

2.00
586,43
5.91

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun
Sampah
Domestik
(L/hari)
Volume
Timbulan
Sampah
Domestik
(m3/hari)
Volume
Timbulan
Sampah
Nondom
(L/hari)
Volume
Timbulan
Sampah
Nondom
(m3/hari)
Total
Timbulan
Sampah
(L/hari)
Total
Timbulan
Sampah
(m3/hari)
Jumlah
Sampah
3R di

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

426.90

440.67

454.89

469.56

484.71

500.35

516.49

533.15

550.35

568.11

586.44

142,29
8.66

146,88
9.47

151,62
8.39

156,52
0.19

161,56
9.81

166,78
2.34

172,16
3.03

177,71
7.32

183,45
0.80

189,36
9.25

195,47
8.64

142.30

146.89

151.63

156.52

161.57

166.78

172.16

177.72

183.45

189.37

195.48

569,19
4.65

587,55
7.89

606,51
3.55

626,08
0.76

646,27
9.24

667,12
9.36

688,65
2.14

710,86
9.28

733,80
3.19

757,47
6.99

781,91
4.55

569.19
1%
5.69

587.56
1%
5.88

606.51
1%
6.07

626.08
1.25%
7.83

646.28
1.25%
8.08

667.13
1.25%
8.34

688.65
1.50%
10.33

710.87
1.50%
10.66

733.80
2%
14.68

757.48
2%
15.15

781.91
3%
23.46

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun
Sumber
Jumlah
Sampah
Bukan
3R di
Sumber
(m3/hari)
Jumlah
KK
Sampah
per KK
Selama 2
Hari
(Liter)
Kapasitas
Wadah
(Liter)
Cek
Timbulan
Sampah

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

99%

99%

99%

98.75%

98.75%

98.75%

98.50%

98.50%

98%

98%

97%

3,239.8
3

3,452.2
4

3,678.5
9

4,899.7
1

5,220.9
6

5,563.2
7

7,113.6
3

7,580.0
3

10,769.
34

11,475.
43

18,341.
71

53,362

55,084

56,861

58,695

60,589

62,543

64,561

66,644

68,794

71,013

73,304

16

16

16

16

16

16

16

16

16

16

16

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

16.00

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
4.3 Perhitungan Jumlah Wadah
Menghitung jumlah wadah sampah dapat dilakukan apabila telah mengetahui
kapasitas volume wadah sampah. Perhitungan jumlah wadah diperlukan agar
dapat menghindari timbulan sampah yang berserakan karena jumlah wadah yang
tidak sesuai dengan banyaknya timbulan sampah. Rumus perhitungan jumlah
wadah adalah sebagai berikut :
A = Qt X Kpw
% Jumlah Wadah
Dimana :

A
Qt
Kpw

= Jumlah wadah (buah)


= Volume timbulan sampah (liter/hari)
= Kapasitas wadah

Pada Tabel 4.3 dibawah ini terdapat Perhitungan jumlah wadah di Kota
Trisakti Damai Sejahtera baik untuk sampah domestik maupun non domestik :

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034

Tahun
Kapasitas
Wadah 40 Liter
(50%)

2015
5,336

Penambahan

2016

2017

DOMESTIK
2018
2019

Penggantian

2023

2024

2025

5,686

5,870

6,059

6,254

6,456

6,664

6,879

7,101

7,330

172

178

183

189

195

202

208

215

222

229

5,336

172

178

183

189

5,532

172

178

183

189

5,532

374

386

398

411

5,761

1,067

1,102

1,137

1,174

1,212

1,251

1,291

1,333

1,376

1,420

1,466

34

36

37

38

39

40

42

43

44

46

1,067

34

36

37

38

1,106

Penggantian

Penambahan

2022

5,336

Penambahan

Pengadaan
Kapasitas
Wadah 250 Liter
(25%)

2021

5,508

Penggantian
Pengadaan
Kapasitas
Wadah 100 Liter
(25%)

2020

1,067

34

36

37

38

1,106

75

77

80

82

1,152

427

441

455

470

485

500

516

533

550

568

586

14

14

15

15

16

16

17

17

18

18

427

14

14

15

15

443

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun
Pengadaan

Tahun
Kapasitas Wadah
100 Liter (60%)

2015
427

2015
854

Penambahan

2016
14

DOMESTIK
2018
2019

2017
14

2016

2017

15

15

2021

31

2022

2023
32

2024
33

2023

2024

2025
461

2025

881

910

939

969

1,001

1,033

1,066

1,101

1,136

1,173

28

28

29

30

31

32

33

34

36

37

854

28

28

29

30

885

28

28

29

30

885

60

62

64

66

922

171

176

182

188

194

200

207

213

220

227

235

171

177

Penggantian

Penambahan
Penggantian

30

2022

854

Penambahan

Pengadaan
Kapasitas Wadah
500 Liter (10%)

443

2021

NON DOMESTIK
2018
2019
2020

Penggantian
Pengadaan
Kapasitas Wadah
250 Liter (30%)

2020

171

177

12

12

13

13

184

28

29

30

31

32

33

34

36

37

38

39

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun

Pengadaan

2015

28

2016

2017

NON DOMESTIK
2018
2019
2020
28
1

30

2021

2022
1

2023
1

2024

2025
30

31

4.4 Tingkat Pelayanan dan Pengangkutan


Kota Trisakti Damai Sejahtera menggunakan gerobak motor dan dump truck untuk pengangkutan sampah dari sumber. Kota ini
selama 3 tahun pertama yaitu pada tahun 2015-2018 tidak menggunakan pola pengangkutan komunal langsung dan individual
langsung karena kota ini belum memiliki dump truck.Oleh karena itu persentase sampah yang diangkut ke TPS pada 3 tahun pertama
sebesar 100% dan persentase sampah yang langsung diangkut ke TPA yaitu 0%. Seiring dengan perkembangan jaman maka alat
pengangkutan ditambah setiap tahunnya, sehingga pada tahun keempat pola pengangkutan berkembang menjadi 4 pola yaitu
individual langsung, individual tidak langsung, komunal langsung dan komunal tidak langsung. Timbulan sampah 3R pun bertambah
setiap tahunnya. TPS di kota ini telah menerapkan sistem pengolahan 3R sebagai upaya pengurangan sampah yang akan ditampung
di TPA.

Tahun
Timbulan
sampah
dikumpul :
% 3R di sumber

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

1%

1%

1%

3%

3%

3%

3%

3%

3%

3%

3%

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun
2015 2016 2017 2018 2019
Timbulan
sampah 3R
sumber
5.69
5.88
6.07
7.83
8.08
Timbulan
3,239. 3,452. 3,678. 4,899. 5,220.
sampah non 3R
83
24
59
71
96
Tingkat
pelayanan
pengumpulan
40%
45%
47%
50%
52%
Sampah
1,295. 1,553. 1,728. 2,449. 2,714.
dikumpulkan
93
51
94
86
90
% sampah ke TPS 100% 100% 100%
97%
95%
Timbulan
Sampah dari
1,295. 1,553. 1,728. 2,376. 2,579.
Sumber ke TPS
93
51
94
36
15
Pengolahan 3R
Non 3R TPS
% pengangkutan
Sampah diangkut
TPS ke TPA
% sampah
sumber langsung
ke TPA
Pengumpulan ke

2020

2021

2022

2023

2024

2025

8.34
5,563.
27

10.33
7,113.
63

10.66
7,580.
03

14.68
10,769
.34

15.15
11,475
.43

23.46
18,341
.71

57%
3,171.
06

60%
4,268.
18

72%
5,457.
62

80%
8,615.
47

92%
10,557
.39

98%
17,974
.88

90%

88%

83%

75%

70%

70%

4,529.
82
3%
147.2
2
4,382.
60

6,461.
61
4%

7,390.
18
5%

12,582
.41
5%

258.46
6,203.
14

339.95
7,050.
23

629.12
11,953
.29

1%

1%

1%

3%

3%

2,853.
96
3%

12.96
1,282.
97

15.54
1,537.
97

17.29
1,711.
65

59.41
2,316.
95

64.48
2,514.
68

78.48
2,775.
47

3,755.
99
3%
112.6
8
3,643.
31

40%
513.1
9

47%
722.8
5

50%
855.8
2

53%
1,227.
98

57%
1,433.
37

60%
1,665.
28

62%
2,258.
86

70%
3,067.
82

82%
5,086.
58

90%
6,345.
20

95%
11,355
.63

0%
0.00

0%
0.00

0%
0.00

3%
36.84

5%
71.67

10%
166.5

12%
271.0

17%
521.5

25%
1,271.

30%
1,903.

30%
3,406.

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun
TPA
Total sampah
diangkut ke TPA
Kebutuhan gerobak
motor
Penambahan
Penggantian
Pengadaan
Kebutuhan dumtruck
dari TPS ke TPA
Kebutuhan dumtruck
dari sumber ke TPA
Total kebutuhan
dumtruck
Total penambahan
Total penggantian
Total pengadaan

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

3
1,831.
81

6
2,529.
92

3
3,589.
35

64
6,358.
22

56
8,248.
77

69
14,762
.32

751
180
52
232

906
155
35
190

1292
386
129
516

1478
186
41
226

2516
1038
314
1353

513.1
9

722.8
5

855.8
2

1,264.
82

1,505.
03

259

311
52

346
35

475
129

516
41

259

52

35

129

41

571
55
259
314

14

20

24

34

40

46

63

85

141

176

315

11

22

53

79

142

14

20
6

24
4

36
12

43
7

53
10

74
21

107
33

194
87

256
61

457
202
14

14

12

10

21

33

87

61

216

4.5 Pengadaan Alat Pendukung


Perhitungan penambahan, penggantian dan pengadaan alat pendukung pada sistem pengelolaan sampah perlu dilakukan
agar dalam pelaksanaannya jumlah alat pendukung dapat dihitung secara detail serta anggaran untuk pengadaan alat pendukung

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


tidak akan mengalami kekurangan. Pada Tabel 4.5 dibawah ini terdapat perhitungan jumlah alat pendukung serta jumlah
pekerja yang diperlukan baik untuk gerobak motor maupun dump truck :

GEROBAK MOTOR
Tahun
Garu (unit)

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

259

311

346

475

516

571

751

906

1292

1478

2516

52

35

129

41

55

180

155

386

186

1038

259

52

35

129

41

55

180

155

386

Penambahan
Penggantian
Pengadaan
Sekop (unit)

259

52

294

181

76

184

221

210

567

340

1425

259

311

346

475

516

571

751

906

1,292

1,478

2,516

52

35

129

41

55

180

155

386

186

1,038

259

52

35

129

41

55

180

155

386

Penambahan
Penggantian
Pengadaan

259

52

294

181

76

184

221

210

567

340

1,425

Sapu Lidi
(unit)

518

621

692

951

1,032

1,142

1,502

1,812

2,585

2,956

5,033

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034

GEROBAK MOTOR
Tahun

2015

Penambahan

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

103

70

259

81

110

361

310

773

371

2,077

Pengadaan

518

103

70

259

81

110

361

310

773

371

2,077

Pekerja
(orang)

518

621

692

951

1032

1142

1502

1812

2585

2956

5033

6220

7457

8299

1140
7

1238
0

1369
9

1802
9

2174
3

3101
6

3547
3

6039
6

Kaos Tangan
(pasang)

Pengadaan

6220

1236

842

3108

973

1319

4330

3714

9273

4457

2492
3
2492
3

Sepatu Kerja
(pasang)

518

621

692

951

1032

1142

1502

1812

2585

2956

5033

103

70

259

81

110

361

310

773

371

2077

518

103

70

259

81

110

361

310

777
1711
0

184
1857
0

180
2054
8

620
2704
3

391
3261
5

883
4652
4

732
5320
9

2386
9059
3

Penambahan

Penambahan

1236

842

3108

973

1319

4330

3714

9273

4457

Penggantian
Pengadaan

518

103

70

Masker

9331

11185

12448

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034

GEROBAK MOTOR
Tahun

2015

Penambahan

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

1855

1263

4661

1460

1979

6495

5572

2023
1390
9

2024
6686

2025
3738
4

Pengadaan

9331

1855

1263

4661

1460

1979

6495

5572

1390
9

6686

3738
4

Pakaian Kerja

1037

1243

1383

1901

2063

2283

3005

3624

5169

5912

1006
6

206

140

518

162

220

722

619

1545

743

4154

1037

206

140

518

162

220

722

619

1555

368

360

1240

781

1765

1464

4773

Penambahan
Penggantian
Pengadaan

1037

206

140

DUMP TRUCK
Tahun
Garu (unit)

2015
29

Penambahan

2016
40
12

Penggantian

2017
48
7

2018
71
24

2019
86
14

2020
106
21

2021
148
42

2022
214
66

2023
389
175

2024
511
123

2025
915
404

29

12

24

14

21

42

66

175

Pengadaan

29

12

36

35

22

45

56

87

216

188

578

Sekop (unit)
Penambahan

29

40

48

71

86

106

148

214

389

511

915

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


DUMP TRUCK
Tahun

2015

2016
12

Penggantian
Pengadaan
Sapu Lidi
(unit)

2019
14

2020
21

2021
42

2022
66

2023
175

2024
123

2025
404

29

12

24

14

21

42

66

175

12

36

35

22

45

56

87

216

188

578

57

80

95

143

171

213

296

428

777

1,022

1,830

23

15

47

29

42

83

132

349

245

807

57

23

15

47

29

42

83

132

349

245

807

57

80

95

143

171

213

296

428

777

1022

1830
2195
4

964

1141

1711

2054

2553

3554

5133

9325

1226
7

280

177

570

343

499

1000

1580

4192

2942

9687

684

280

177

570

343

499

1000

1580

4192

2942

9687

57

80

95

143

171

213

296

428

777

1022

1830

23

15

47

29

42

83

132

349

245

807

57

23

15

47

29

42

83

132

391
1398
8

329
1840
1

939
3293
1

684

Penambahan
Pengadaan
Sepatu Kerja
(pasang)

2018
24

29

Penambahan
Pengadaan
Pekerja
(orang)
Kaos Tangan
(pasang)

2017
7

Penambahan
Penggantian
Pengadaan

57

23

15

105

52

56

131

160

Masker

1026

1446

1712

2566

3082

3830

5331

7700

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


DUMP TRUCK
Tahun

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

419

266

855

515

748

1501

2369

6288

4413

1026

419

266

855

515

748

1501

2369

6288

4413

2025
1453
0
1453
0

114

161

190

285

342

426

592

856

1554

2045

3659

47

30

95

57

83

167

263

699

490

1614

114

47

30

95

57

83

167

263

209

104

113

262

321

782

657

1878

Penambahan
Pengadaan
Pakaian
Kerja
Penambahan
Penggantian
Pengadaan

114

47

30

4.6 Perhitungan Luas Lahan TPA


Luas lahan TPA perlu dihitung secara akurat dengan terlebih dahulu menghitung volume timbulan sampah pada akhir tahun
perencanaan, yaitu tahun 2025. Diketahui bahwa pada tahun 2025, volume timbulan sampah di Kota Trisakti Damai Sejahtera sebesar
781,91 m3/hari. Jadi luas lahan TPA harus lebih besar dibandingkan dengan volume timbulan sampah pada akhir tahun perencanaan.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menghitung luas lahan TPA, diantaranya adalah :
Faktor Koreksi
Persen pemadatan di
TPA
Tinggi

0,7
600 kg/m3
15 m

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Kebutuhan tanah
penutup

20% dari sampah


setelah di kompaksi

Pada Tabel 4.6 di bawah ini terdapat Perhitungan luas lahan TPA di Kota Trisakti Damai Sejahtera :
Tahun
Timbuna
n
sampah
setelah
kompaks
i
Timbuna
n Tanah
Total
Timbuna
n per
hari
Total
Timbuna
n per
tahun
Luas
Lahan
Landfill
(Ha)
Luas
Lahan
TPA (Ha)
Luas TPA
(kumulat

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

256.594

361.424

427.912

632.412

752.517

915.906

1264.959

1794.677

3179.110

4124.383

7381.158

51.32

72.28

85.58

126.48

150.50

183.18

252.99

358.94

635.82

824.88

1,476.23

307.91

433.71

513.49

758.89

903.02

1,099.09

1,517.95

2,153.61

3,814.93

4,949.26

8,857.39

112,388.
25

158,303.
68

187,425.
29

276,996.
50

329,602.
32

401,166.
95

554,052.
02

786,068.
40

1,392,450.
15

1,806,479.
79

3,232,947.
39

0.5245

0.7388

0.8747

1.2927

1.5381

1.8721

2.5856

3.6683

6.4981

8.4302

15.0871

0.6294
0.6294

0.8865
1.5159

1.0496
1.9361

1.5512
2.6008

1.8458
3.3970

2.2465
4.0923

3.1027
5.3492

4.4020
7.5047

7.7977
12.1997

10.1163
17.9140

18.1045
28.2208

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda / 082.12.034


Tahun
if) (Ha)

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034

BAB V
KESIMPULAN
Dari keseluruhan data perhitungan sistem pengelolaan sampah di Kota
Trisakti Damai Sejahtera, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Metode yang digunakan untuk menentukan prediksi pertumbuhan
penduduk pada tahun perencanaan 2015-2025 adalah metode geometrik
bunga-berbunga.
2. Laju timbulan sampah di Kota Trisakti Damai Sejahtera adalah 2
liter/orang/hari yang mengacu dari SNI 19-3964-2002.
3. Pada pelaksanaan sistem pengelolaan sampah, Kota Trisakti Damai
Sejahtera menerapkan empat metode pola pengumpulan sampah, yaitu
pola individual langsung, individual tidak langsung, komunal langsung
dan komunal tidak langsung.
4. Pada tiga tahun awal perencanaan, tidak ada sampah yang dibuang
langsung ke TPA karena Kota Trisakti Damai Sejahtera belum memiliki
dump truck sehingga sampah diangkut ke TPS dengan gerobak motor.
5. Kebutuhan dump truck sebagai alat angkut sampah meningkat setiap
tahunnya karena volume timbulan sampah yang juga semakin meningkat.
6. Kota Trisakti Damai Sejahtera telah menerapkan sistem pemilahan sampah
3R sebagai upaya pengurangan timbulan sampah dari sumbernya serta
adanya pengolahan sampah 3R di TPS bertujuan agar sampah di TPA
hanya dalam bentuk residu.
7. Untuk menampung timbulan sampah dengan volume 781,79 m 3/hari pada
tahun akhir perencanaan, maka perlu dibangun sebuah TPA dengan luas
lahan 28,2208 Ha.

DAFTAR PUSTAKA
Standar Nasional Indonesia Nomor 19-3964-2002

Sistem Pengelolaan Persampahan/ Jehan Noor Auda /


082.12.034
Sudradjat. 2008. Mengelola Sampah Kota. Penebar Swadaya : Jakarta
Ilearn.unand.ac.id diakses pada Tanggal 1 Januari 2015
Diktat Pengelolaan Sampah TL-3104 (2008) Enri Damanhuri Tri Padmi:
Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB