Anda di halaman 1dari 24

Program Studi Farmasi

Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila

SPEKTROFOTOMETRI
INFRA MERAH

Oleh :
TIM DOSEN ANALISIS
INSTRUMENTAL

SPEKTROFOTOMETRI INFRAMERAH
1.
2.
3.
4.

PENDAHULUAN
TEORI DASAR
INSTRUMENTASI
APLIKASI
- Analisis kualitatif
- Analisis kuantitatif
- Interpretasi Spektra
(karakterisasi
dan elusidasi struktur).

1. PENDAHULUAN

Spektrofotometri inframerah adalah spektrofotometri serapan molekul yang


didasarkan atas pengukuran serapan radiasi inframerah oleh suatu zat.

Daerah spektrum radiasi inframerah yang umumnya digunakan dalam


praktek (quality control atau elusidasi struktur) adalah daerah mid IR yang
mencakup bilangan gelombang antara 4000 650 cm-1 atau 4000 400
cm-1. Daerah radiasi IR dapat dibagi menjadi sebagai berikut:

No. Daerah IR

V , cm1

1. Near IR

13000 4000

2. Mid IR

4000 650
4000 400

3. Far IR

700 200

Spektrum inframerah adalah grafik hubungan antara transmitan


atau absorban suatu zat dengan frekuensi (bilangan gelombang)
radiasi inframerah pada rentang frekuensi tertentu. Spektrum ini
spesifik bagi suatu zat sehingga dapat digunakan untuk identifikasi
zat tersebut.

PENDAHULUAN (lanjutan)
Spektrum inframerah tersebut menggambarkan gugus-gugus
fungsional yang terdapat pada zat tersebut dan secara keseluruhan
merupakan spektrum yang spesifik bagi zat itu (sidik jari). Identitas
zat tersebut dapat ditetapkan dengan membandingkan spektrum
inframerah dari zat tersebut dengan baku pembandingnya. Kadar
zat tersebut dapat juga ditetapkan berdasarkan intensitas serapan
pada bilangan gelombang tertentu, namun jarang digunakan
karena kurang sensitif
Spektrofotometri IR banyak digunakan dalam analisis kualitatif
(identifikasi) untuk quality control bahan baku di industri farmasi.
Disamping itu dalam penelitian, spektrofotometer IR merupakan
salah satu instrumen dalam karakterisasi atau elusidasi struktur
suatu senyawa. Karakter puncak dari spektrum inframerah
dicirikan oleh posisi (bilangan gelombang), bentuk dan intensitas
relatifnya.

2. TEORI DASAR
Interaksi suatu zat dengan radiasi inframerah pada frekuensi tertentu menyebabkan
terjadinya transisi energi vibrasi dan rotasi dari molekul suatu zat. Oleh karena itu
spektrum inframerah disebut spektrum vibrasi.
Spektrum Transmisi Inframerah
Pada umumnya spektrum vibrasi inframerah suatu zat digambarkan sebagai
hubungan antara %T dengan bilangan gelombang sehingga dinamakan Spektrum
Transmisi Inframerah. Gambar dibawah ini adalah Spektrum Transmisi Inframerah
dari plastik polistiren baku yang digunakan untuk verifikasi skala bilangan
gelombang spektrofotometer IR (maksimum 3027,1 0,3 cm-1, lihat FI IV, hal.1064).

%T

4000

Spektrum Transmisi IR dari Polistiren

Functional Groups
Region

1300

Finger Print
Region

909 Aromatic 650 cm-1


Region

TEORI DASAR (lanjutan)


Frekuensi Vibrasi dan Ikatan Kimia: Posisi pita serapan atau bilangan gelombang dimana
terjadinya transisi energi vibrasi gugus fungsional digambarkan dengan Hukum Hook sbb:

v = 1/(2c) f/{MXMY/(MX+MY)}
v
c
f

= frekuensi vibrasi atau bilangan gelombang, cm-1


= kecepatan cahaya, 3x1010 cm/dt
= kekuatan ikatan kimia, dyne/cm (5x105 dyne/cm untuk ikatan tunggal, dua
kalinya untuk ikatan rangkap dua dan tiga kalinya untuk ikatan rangkap tiga)
MX = masa atom x, g (BAx / 6,023 x 1023)
MY = masa atom y, g (BAy / 6,023 x 1023)
CONTOH: Dengan rumus diatas frekuensi vibrasi (bilangan gelombang) dari ikatan gugus
fungsional CH dapat dihitung sebagai berikut:
v = 1 / (2x3,14x3x1010) 5x105 / {(12/(6,023 x 1023)x(1,08/6,023 x 1023)} / {(12/(6,023 x 1023)+(1,08/6,023 x 1023)}
= 3040 cm-1

Frekuensi vibrasi dari ikatan C-H untuk gugusan metil dan metilen umumnya terlihat pada daerah
2960 dan 2850 cm-1. Perhitungan diatas kurang akurat karena terjadinya efek yang disebabkan
lingkungan atau geometri dari gugus C-H tersebut dalam molekul diabaikan. Frekuensi serapan IR
biasanya digunakan untuk menghitung tetapan dari kekuatan ikatan kimia. Makin tinggi frekuensi
vibrasi suatu ikatan kimia (makin besar bilangan gelombang), makin kuat ikatan kimianya.

TEORI DASAR (lanjutan)


Rumus berikut menggambarkan hubungan terbalik dar frekuensi atau
bilangan gelombang radiasi dengan panjang gelombang.

v = 10 /
4

V = frekuensi atau bilangan gelombang, cm-1


= panjang gelombang, m
104= kesetaraan 1 cm dengn m

Perhitungan dengan menggunakan rumus di atas, menghasilkan daerah absorpsi dari


beberapa jenis ikatan gugus fungsi sebagai berikut:
Jenis Ikatan

Daerah Absorpsi,
cm-1

C-C, C-O, C-N

1300 800

C=C, C=O, C=N, N=O

1900 1500

CC, CN

2300 2000

C-H, O-H, N-H

3800 2700

Dari tabel di atas terlihat bahwa makin banyak ikatan, makin besar frekuensi vibrasi
(daerah absorpsi), kecuali ikatan dengan atom H merupakan ikatan terkuat.

TEORI DASAR (lanjutan)

Fenomena yang menambah jumlah pita serapan


Jumlah vibrasi fundamental (frekuensi absorpsi) secara teoritis jarang
teramati karena adanya overtones (kelipatan frekuensi tertentu) dan
combination tones (jumlah dua vibrasi yang berlainan). Semua
fenomena tersebut akan menambah jumlah pita serapan

Fenomena yang mengurangi jumlah pita serapan


1. Pita serapan (vibrasi fundamental) diluar daerah mid IR
(diluar 4000 400 cm-1)
2. Pita serapan terlalu lemah untuk diamati.
3. Beberapa pita serapan posisinya terlalu dekat sehingga
bergabung menjadi satu.
4. Pada molekul yang sangat simetris akan terjadi degenerasi
beberapa
serapan pada frekuensi yang sama.
5. Perubahan moleculer dipole tidak terjadi.

TEORI DASAR (lanjutan)


Intensitas Serapan: Konsentrasi dan Polaritas
Intensitas serapan ditentukan oleh konsentrasi sehingga pada gambar
spektrum inframerah harus dicantumkan konsentrasi sampel dalam medium
yang digunakan (misalnya: 1% zat dalam cakram KBr ).
Intensitas serapan tersebut secara kuantitatif dinyatakan dengan besarnya
nilai transmitan (%T) atau serapan (A), atau secara semi kuantitatif dengan
pernyataan kuat, sedang atau lemah.
Disamping itu intensitas serapan juga ditentukan oleh dipole atau polaritas
dari gugus fungsional. Gugus fungsional yang mempunyai dipole yang kuat
akan menunjukkan serapan yang kuat pula.
Kekuatan dipole atau dipole moment = hasil kali muatan dan jarak ikatan dua atom.
Makin polar suatu molekul, dipole moment-nya makin besar sehingga frekuensi
vibrasinya juga makin besar. Molekul dengan ikatan non-polar tidak mempunyai dipole
moment.

TEORI DASAR (lanjutan)

Fenomena yang menambah jumlah pita serapan


Jumlah vibrasi fundamental (frekuensi absorpsi) secara teoritis jarang
teramati karena adanya overtones (kelipatan frekuensi tertentu) dan
combination tones (jumlah dua vibrasi yang berlainan). Semua
fenomena tersebut akan menambah jumlah pita serapan

Fenomena yang mengurangi jumlah pita serapan


1. Pita serapan (vibrasi fundamental) diluar daerah mid IR
(diluar 4000 400 cm-1)
2. Pita serapan terlalu lemah untuk diamati.
3. Beberapa pita serapan posisinya terlalu dekat sehingga
bergabung menjadi satu.
4. Pada molekul yang sangat simetris akan terjadi degenerasi
beberapa
serapan pada frekuensi yang sama.
5. Perubahan moleculer dipole tidak terjadi.

3. INSTRUMENTASI
R

M1

M3

4
1

SM

S
M2

1. Sumber cahaya
2. Sampel
3. Monokromator

M4
4. Detektor
5. Amplifier
6. Rekorder

M5
M1-M5 = Cermin
SM = Selector mirror

R = Reference
S = Sample

Komponen penting spektrofotometer


inframerah :

Sumber Cahaya:

a. Kawat Ni-Cr, 11000C


b. Globar (SiC), 12000C
c. Nernst Glower (ZrC), 15000C

Sel: NaCl, KBr, AgCl

Monokromator:

a. Prisma, 4000 2500 cm-1, resolusi rendah


b. Kisi (grating), gelas dilapis Al bergaris, 240 garis per mm
(4000 1500 cm-1) dan 120 garis per mm (1500 -650 cm-1).

Detektor

a. Fotodetektor: NIR (2500 - 800 nm)


b. Thermal Detector: Mid IR ( thermocouples,
Bolometer, Golay detector)

Fungsi Sistem Optik Spektrofotometer IR Berkas


B
Sinar Ganda (Double Beam)
- Adanya pembanding (reference) untuk mengkompensasikan
kesalahan
karena adanya tambahan serapan berkas radiasi inframerah oleh
CO2
dan H2O dari udara pada serapan sampel.
- Meminimalkan radiasi percikan ( scattered radiation) oleh partikelpartikel
debu pengotor yang mungkin ada di dalam spektrofotometer IR.
- Mencegah pengaruh tidak stabilnya intensitas radiasi IR karena
variasi
kondisi tegangan listrik atau intensitas sumber cahaya, yang
juga berdampak pada detektor.
- Memungkinkan pembacaan dan perekaman langsung.

SPEKTROFOTOMETER FT
IR
(Fourier Transform Infrared)
1
3

Keterangan

2
B
A

4
6
7
8

9
11
10

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Penggerak Cermin
Piston
Cermin B (bergerak)
Cermin A (diam)
Sumber Cahaya IR
Pemisah Cahaya
Sampel
Detektor
Pengubah analog ke
digital
10. Komputer
11. Rekorder
Keungggulan: Tanpa monokromator, scanning
cepat
(seluruh frekuensi serentak mengenai sampel),
sensitif,
resolusi tinggi, manipulasi data dimungkinkan
oleh konversi analog ke digital, kombinasi GC-FT

Prinsip Kerja Spektrofotometer FT IR

Radiasi IR dipisah oleh pemisah cahaya menuju Cemin A yang


posisinya tetap dan Cermin B posisinya berubah-ubah.
Oleh Cermin A cahaya dipantulkan dengan tertentu dan oleh
Cermin B dengan yang bervariasi.
Perbedaan panjang gelombang dari Cermin A dan B tersebut
menghasilkan constructive dan destructive interference, yang
kemudian membentuk interferogram.
Transformasi Fourier mengubah interferogram dari domain waktu
menjadi satu titik spektral atau domain frekuensi (bilangan
gelombang).
Variasi kontinyu dari panjang piston cermin B menentukan posisi
cermin tersebut sehingga mengakibatkan variasi panjang berkas
cahaya B.
Transformasi Fourier pada titik-titik berurutan sepanjang variasi
tersebut menghasilkan spektrum IR lengkap dengan rentang
bilangan gelombang tertentu.
Bila radiasi dengan rentang bilangan gelombang tersebut
mengenai sampel maka akan dihasilkan spektrum IR lengkap dari
zat tersebut.

4. APLIKASI

Penyiapan Sampel (Sampel: padat, setengah padat, cair dan gas ) gas
1. Sampel Padat
a. Mull: 5-10 mg zat, 1-2 tetes Nujol (parafin cair), digerus dan dicampur dalam
lumpang agate. hingga massa seperti pasta. Kompresikan sebagi lapisan film
diantara dua sel NaCl transparan. Sampel siap diukur.
Tehnik ini mudah, cepat dan murah, tetapi ada gangguan spektrum Nujol dan
tidak cocok untuk analisis kuantitatif.
b. Cakram KBr (KBr Disk): 1 2 mg zat gerus hingga partikel < 2 m, campur
homogen dengan 300 400 mg serbuk kering KBr murni. Kompresikan dengan
10-Ton Press (sambil divakum (7,5x10-3 mmHg). Cakram transparan siap diukur.
Pembuatan cakram diulangi bila cakram tidak homogen, tidak transparan dan
transmitan pada lebih-kurang 2000 cm-1 lebih kecil dari 75%.
Tehnik ini menghasilkan spektrum tanpa gangguan dan cocok untuk analisis
kuantitatif dengan menggunakan rasio bobot sampel dengan standar internal.
Kelemahannya yaitu pembuatan cakram agak lama dan memerlukan investasi
untuk alat pres dan pompa vakum yang relatif lebih mahal.

PENYIAPAN SAMPEL (Lanjutan)


c. Film: plastik / resin, zat padat tertentu.
- Lembaran plastik transparan langsung diukur.
- Larutan zat padat dalam pelarut mudah menguap (kloroform),
diteteskan pada sel. Lapisan film yang terbentuk, siap diukur.
d. Larutan (Solution Spectra): Larutkan zat ( 1-10%) dalam CCl4 (>1333 cm-1)
atau CS2 (<1333 cm-1). Ukur dengan sel untuk cairan dengan ketebalan
(spacer) tertentu (misalnya 0,5 0,1 mm).
ini,

f. Tehnik Refleksi Ganda atau Attenuated Total Reflectant (ATR): Dengan tehnik

sampel diletakkan di atas permukaan lempeng kristal berbentuk prisma


(AgCl atau
talium bromo-iodida). Radiasi inframerah melalui kristal kontak dengan
kedalaman
beberapa m pada sampel dan terjadi absorpsi, lalu sisanya direfleksikan
berulangulang ke dalam prisma dan sampel, lalu kemudian keluar menuju detektor.
Tehnik ini digunakan untuk zat padat tanpa memperhatikan ketebalannya,
Sampel padat atau cair
misalnya untuk bulk materials
, lapisan film dan untuk studi permukaan.t
Refleksi Internal Ganda

APLIKASI (Lanjutan)
2. Zat Setengah Padat atau Cairan Kental
Zat semisolid seperti vaselin atau adeps lanae, cairan kental
seperti gliserin atau PEG dapat langsung diukur dengan
dikompresikan diantara dua sel NaCl transparan seperti
mull.
3. Zat Cair
Zat cair diukur langsung atau dalam bentuk larutan seperti
yang telah diuraikan dimuka untuk larutan zat padat
(4.1.d.).
4. Gas
Gas diukur menggunakan sel yang transparan terhadap
radiasi inframerah (NaCl windows) dengan tebal optik lebihkurang 100 mm. Sel dilengkapi keran dan divakumkan
sebelum diisi sampel gas. Setelah sel diisi sampel gas, bila
perlu tekanan diatur dengan gas yang transparan terhadap
radiasi inframerah yaitu gas nitrogen atau argon murni
pereaksi.
NaCl Window
NaCl Window
Sel

Analisis kualitatif
Identifikasi suatu zat dapat dilakukan dengan menggunakan baku
pembanding kimia atau spektrum pembanding.
a. Baku Pembanding Kimia
Buat spektrum zat uji dan spektrum baku pembanding dengan cara yang sama
( tehnik cakram Kbr atau mull). Metode cakram KBr menghasilkan spektrum zat
tanpa gangguan. Spektrum yang dibuat dengan tehnik mull diganggu serapan Nujol
(parafin cair) pada 2923,9; 1461,8; 1377,2 dan 721,5 cm -1), tetapi tehnik ini lebih
cepat dan murah.
Superimposisikan sprekrum zat uji dengan spektrum pembanding. Posisi dan
intensitas relatif maksimum zat uji harus sama dengan pembanding. Bila maksimum
spektrum zat padat berbeda dengan pembanding, lakukan perlakuan yang sama
( kristalisasi dengan pelarut yang sama) agar dihasilkan hablur atau bentuk yang
sama. Ulangi pembuatan spektrum.
b. Spektrum Pembanding
Buat spektrum zat uji dengan tehnik cakram KBr. Bandingkan spektrum zat uji
dengan Spektrum Pembanding seperti tersebut di atas.
Catatan: Bila terdapat perbedaan maksimum puncak karena perbedaan daya resolusi
instrumen yang digunakan, lakukan koreksi berdasarkan perbedaan maksimum spektrum
pembanding dan spektrum zat uji dengan maksimum spektrum polistiren pembanding pada
4000 2000 cm-1.

INTERPRETASI SPEKTRA
1. Spektrum yang akan di interpretasikan harus
memenuhi
persyaratan berikut :
a. Resolusi dan intensitas spektrum harus memadai.
b. Spektrum harus berasal dari zat murni.
c. Spektrofotometer harus di kalibrasi, misalnya
dengan
film polistiren baku.
d. Teknik penyiapan sampel harus dijelaskan. Bila
menggunakan larutan, cantumkan nama pelarut,
konsentrasi, dan tebal sel.

INTERPRETASI SPEKTRA (Lanjutan)


2. Karakteristik Frekuensi Gugus Fungsional
Karakteristik gugus fungsional spektrum inframerah suatu zat
diidentifikasi
berdasarkan: posisi atau frekuensi (cm-1), bentuk (broad) dan
intensitas relatif serapan (strong, medium, weak).
Beberapa Contoh Frekuensi Gugus Fungsional
Gugus Fungsional

Frekuensi, cm-1

Keterangan

OH Alkohol

3580 - 3650

OH bebas, serapan kuat, tajam

H-bonded
Asam
NH Amin
CH Alkan
Alken
Alkun
Aromatik
CC Alkun
CC Alken
Aromatic
CO Aldehid
Keton
Asam
Ester
CN Nitril
NO2 Nitro

3210 3550
2500 - 3300
3300 3700
2840 3000
3010 3095
3300
3030
2140 2260
1620 1680
1600
1720 1740
1675 1725
1700 1725
1720 1750
2000 2300
1500 1650

H-bonded, serapan kuat, lebar


Serapan kuat, lebar
Serapan lemah
Serapan kuat, tajam
Serapan lemah, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan sedang, tajam
Serapan sedang, tajam
Srapan sedang, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan kuat, tajam
Serapan kuat, tajam

Analisis kuantitatif
- Kadar dihitung berdasarkan Hukum Beer
- Dengan metode standar internal pada tehnik cakram KBR, tentukan
serapan relatif.
- Absorban (A) ditetapkan dengan : Baseline methode
- kadar dapat ditetapkan dengan memplot absorban ke dalam kurva
kalibrasi.

%T

T = P/P0

P0

v, cm-1
Contoh: Bila P=25% dan P0=75% , maka T=P/P0 atau A=-log(P0/P)
A=log75/25 = log3 = 0,4343.

Contoh Metode Penetapan Kadar

( Beckett AH and Stenlake JB, Practical Pharmaceutical Chemistry, 3 rd Ed, Priart II, The Athlone Press: London,
1976, p. 352)

Buat satu seri larutan fenobarbital dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 mg
fenobarbital masing-masing dalam 10 ml kloroform.
Ukur masing-masing larutan dalam sel 0,1 mm, lalu buat spektrum serapan pada
derah 4,4 6,5 m.
Hitung serapan tehnik base-line pada lebih-kurang 1730 cm-1, lalu buat kurva
kalibrasi.
Timbang dan serbukkan 20 Tablet Fenobarbital 100 mg, lalu timbang saksama
serbuk tablet yang mengandung fenobarbital lebih kurang 80 mg.
Sarilah serbuk tablet dengan kloroform, hingga tersari sempurna.
Uapkan sari hingga kering, lalu larutakan dengan 10 ml kloroform.
Ukur serapan seperti tersebut di atas, tentukan mg fenobarbital menggunakan
kurva kalibrasi.
Hitung mg fenobarbital per tablet.

Pertanyaan: 1. Gambarkan kurva kalibrasi bila data serapan berturut-turut:


0.202, 0.403, 0,605, 0,806 dan 1,08.
2. Hitung mg fenobarbital per tablet bila diketahui: bobot 20 tablet 3,0250 g,
bobot serbuk
yang disari 0, 1250 g, data serapan 0,801.
3. Hitung rentang bilangan gelombang spektrum inframerah yang dibuat.
4. Gugus fungsional mana yang digunakan sebagai dasar pengukuran serapan zat
uji?
5. Hitung serapan zat uji bila tebal sel yang digunakan 0,2 mm.