Anda di halaman 1dari 16

PERCOBAAN 4

SEDIMENTASI
4.1
4.1.1

PENDAHULUAN
Tujuan
Mempelajari cara pemisahan padatan dari suatu suspensi dengan cara

pengukuran laju pengendapan.


4.1.2

Latar Belakang
Sedimentasi merupakan salah satu cara yang ekonomis untuk memisahkan

padatan dari suatu suspensi, bubur atau slurry. Proses pemisahan ini merupakan
salah satu jenis operasi yang banyak dibutuhkan dalam industri kimia.
Sedimentasi

bertujuan

untuk

memisahkan

padatan

dari

cairan

dengan

menggunakan gaya gravitasi untuk mengendapkan partikel suspensi.


Pada kehidupan sehari-hari sedimentasi dipakai untuk menjernihkan air
untuk mendapatkan air yang bersih. Selain untuk kehidupan sehari-hari, operasi
sedimentasi ini juga digunakan pada skala industri untuk mengurangi polusi dari
limbah industri. Sedimentasi dapat berlangsung secara batch atau kontinu, yang
mana pada sedimentasi batch biasanya digunakan pada laboratorium, disebabkan
pada laboratorium yang sering dilakukan percobaan yang dilakukan bertahap tidak
berkelanjutan seperti pada industri pabrik. Pada industri yang sedimentasinya
dalam proses kontinu sering disebut thickener.
Dari percobaan yang dilakukan kali ini diharapkan dapat memahami
tahapan bagaimana saja yang terjadi pada saat sedimentasi dan hal-hal apa saja
yang mempengaruhi sedimentasi itu terjadi.

4.2

DASAR TEORI

Sedimentasi adalah suatu pemisahan suatu suspensi (campuran padat air)


menjadi jernih (cairan bening) dan suspensi yang lebih padat (sludge).
Sedimentasi merupakan salah satu cara yang paling ekonomis utnuk memisahkan
padatan dari suspensi, bubur atau slurry. (Brown, 1978 : 110)
Dalam filtrasi partikel zat padat dipisahkan dari slurry dengan kekuatan
fluida yang berada pada medium filter yang akan menghalangi laju lintas partikel
zat padat. Dalam proses pengendapan dan proses sedimentasi partikel dipisahkan
dari fluida oleh gaya aksi gravitasi partikel. Pada beberapa proses, pemisahan
serta sedimentasi partikel dan pengendapan bertujuan untuk memisahkan partikel
dari fluida sehingga fluida bebas dari konsentrasi partikel (Geankoplis, 1983 :
758).
Sedimentasi merupakan salah satu cara yang paling ekonomis untuk
memisahkan padatan dari suspensi, bubur atau slurry.

Rancangan peralatan

sedimentasi selalu didasarkan pada percobaan sedimentasi pada skala yang lebih
kecil. Sedimentasi merupakan peristiwa turunnya partikel padat yang semula
tersebar merata dalam cairan karena adanya gaya berat, setelah terjadi
pengendapan cairan jernih dapat dipisahkan dari zat padat yang menumpuk di
dasar (endapan). Selama proses berlangsung terdapat tiga buah gaya, yaitu :
1.

Gaya gravitasi
Gaya ini terjadi apabila berat jenis larutan lebih kecil dari berat jenis partikel,

sehingga partikel lain lebih cepat mengendap. Gaya ini biasa dilihat pada saat
terjadi endapan atau mulai turunnya partikel padatan menuju ke dasar tabung
untuk membentuk endapan. Pada kondisi ini, sangat dipengaruhi oleh hukum 2
Newton, yaitu :
Fg

= m.g
=

2.

s x m x g

(4.1)

Gaya apung atau melayang


Gaya ini terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari pada massa jenis

fluida yang sehingga padatan berapa pada permukaan cairan.


Fa

mx pxg
p

(4.2)

3.

Gaya Dorong
Gaya dorong terjadi pada saat larutan dipompakan kedalam tabung klarifier.

Gaya dorong dapat juga dilihat pada saat mulai turunnya partikel padatan karena
adanya gaya gravitasi, maka fluida akan memberikan gaya yang besarnya sama
dengan berat padatan itu sendiri.
Fd

V x D 2 ( g g )
18

(4.3)

Dari ketiga gaya gravitasi di atas diturunkan suatu laju pengendapan


menurun yaitu :
Fd

V x D 2 P ( g g )
18

(4.4)

Sedimentasi bisa berlangsung secara batch dan kontinu (thickener), sebagai


penjelasan dibawah ini :
1.

Sedimentasi batch
Sedimentasi ini merupakan salah satu cara yang paling ekonomis untuk

memisahkan padatan dari sutau suspensi, bubur atau slurry. Operasi ini banyak
digunakan pada proses-proses untuk mengurangi polusi dari limbah industri.
Suatu suspensi yang mempunyai ukuran partikelnya hampir seragam dimasukkan
dalam tabung gelas yang berdiri tegak.
2.

Sedimentasi kontinu
Pada industri operasi sedimentasi sering dijalankan dalam proses kontinu

yang disebut thinckener. Thinckener kontinu memiliki diameter besar, tangki


dangkal dalam dengan putaran hambatan untuk mengeluarkan sludge, slurry
diumpankan ke tengah tangki, sekitar tepi puncak tangki adalah suatu clear liquid
overflow. Untuk garukan sludge ke arah pusat bottom untuk mengalirkan keluar.
Gerakan menggaruk yang stirs hanya lapisan sludge. Bantuan pengadukan
dalam pembersihan air dan sludge (Brown, 1978 : 110).
Kegunaan dari penggunaan thinckener memiliki keuntungan yaitu :
1.

Ekonomis dan kesederhanaan desain operasinya.

2.

Kapasitas volume sangat besar.

3.

Kegunaan yang bervariasi.


Pada thinckener terdapat empat zona dari proses pengendapan yaitu :

1.

Zona 1 : Daerah dimana terdapat dear liquid

2.

Zona 2 : Daerah pemekatan suatu suspensi yang sangat tipis dan kadangkadang tidak jelas terlihat.

3.

Zona 3 : Daerah (zona) kompresi

4.

Zona 4 : Daerah pemadatan (compaction)


Ada empat kelas pengendapan partikel secara umum yang didasarkan pada

konsentrasi dan partikel yang saling berhubungan, empat jenis pengendapan


tersebut adalah :
1.

Discrette Settling
Adalah pengedapan yang memerlukan konsentrasi suspensi solid yang

paling rendah, sehingga analisisnya menjadi yang paling sederhana.

Partikel

mengendap dengan bebas dengan kata lain tidak mempengaruhi pengendapan


partikel lain.
2.

Flocculant Settling
Pada jenis ini konsentrasi partikel cukup tinggi, dan terjadi pada sat

penggumpalan meningkat. Peningkatan massa menyebabkan partikel jatuh lebih


cepat.
3.

Hindered Settling
Konsentrasi partikel pada jenis ini tidak terlalu tinggi, partikel akan

bercampur dengan partikel lainnya dan akan jatuh bersama-sama.


4.

Compression Settling
Berada pada konsentrasi yang paling tinggi pada suspensi solid dan terjadi

pada jangkauan yang paling rendah dari darifiers. (Anonim1, 2008).


Proses pengendapan meliputi pembentukan endapan yaitu suspensi partikelpartikel padat dalam cairan produk yang tidak larut yang dihasilkan dari reaksi
kimia, akan ditolak dari larutan dan menjadi endapan padat.

Metode lain

pembentukan cairan endapan ialah dengan penambahan jumlah larutan jenuh zat
padat dalam sejumlah besar cairan murni dimana zat padat tersebut tidak dapat

larut. Proses ini banyak digunakan untuk mengisolasi produk-produk kimia atau
bahan-bahan buangan proses (Cheremissinoff, N.D, 2002 : 283).
Dalam proses industri, sedimentasi dilaksanakan dalam skala besar dengan
menggunakan alat yang disebut kolom pengendap. Untuk partikel-partikel yang
mengendap dengan cepat, tangki pengendap tampak atau kerucut, pengendap
kontinu biasanya cukup memadai.

Akan tetapi, untuk berbagai tugas lain

diperlukan alat penebal atau kolom pengendap yang diaduk secara mekanik.
Dasar alat ini bisa datar dan bisa pula berbentuk kerucut dangkal. Bubur
umpan yang encer mengalir melalui suatu palung miring atau meja cuci masuk di
tengah-tengah alat kolom pengendap itu. Cairan ini mengalir secara radial dengan
kecepatan yang semakin berkurang, sehingga memungkinkan zat padat itu
mengendap di dasar tangki (Mc Cabe, 1985 : 429).
Sedimentasi merupakan pengendapan partikel padat melalui cairan untuk
menghasilkan lumpur pekat dari suspensi encer atau untuk menjernihkan cairan
yang mengandung partikel padat. Biasanya proses ini bergantung pada gravitasi,
tetapi jika partikel terlalu kecil atau jika selisih rapatan atau fase padat dan fase
cair terlalu kecil maka dapat digunakan centrifuge.

Dalam kasus yang paling

sederhana, laju sedimentasi ditentukan oleh hukum shoke, tetapi dalam


prakteknya laju teoritis jarang tercapai. Pengukuran laju sedimentasi dalam ultra
centrifuge dapat digunakan untuk meramalkan ukuran makro molekul (Asdak,
1995 : 33).

4.3

METODOLOGI PERCOBAAN

4.3.1

Alat
Alat yang digunakan adalah :

Kolom destilasi

Erlenmeyer 50 ml

Gelas ukur 10 ml

Corong

Gelas ukur 25 ml

Stopwatch

Pengaduk

Labu takar 500 ml

Gelas arloji

Oven

Desikator

Neraca analitik

4.3.2

Diskripsi Alat

Keterangan:
1. Valve sampel
2. Tangki sedimentasi
3. Valve sludge
4. Pompa
5. Tangki umpan
6. Pengaduk

Gambar 4.1 Rangkaian Kolom Sedimentasi


4.3.3

Bahan
Bahan yang digunakan adalah :

4.3.4

Aquadest

CaCO3

NaOH

Al2(SO3)2

Kertas saring

Prosedur Percobaan

1.

Menimbang sebanyak 1000 gram.

2.

Menambahkan air sebanyak 60 liter.

3.

Memasukkan kedalam bak penampung.

4.

Mengaduk sampai suspensi homogen.

5.

Memompakan kedalam tabung kaca vertikal berskala tinggi.

6.

Melakukan pemompaan sampai suspensi dalam tangki penampung habis


(dalam keadaan teraduk).

7.

Mematikan pompa.

8.

Menutup valve umpan.

9.

Membaca ketinggian suspensi dalam tangki pada saat t = 0.

10.

Mengambil sampel sebanyak 25 ml.

11.

Mengamati (menyaring) dan mengeringkan dalam oven pada suhu 100C


dalam waktu 35 menit.

12.

Melakukan proses ini beberapa kali dengan variasi waktu 0, 10, 20, dan 30
menit.

13.

Melakukan langkah 1 13 dengan penambahan koagulan berupa tawas dan


NaOH.

4.4

HASIL PENGAMATAN

4.4.1

Data Pengamatan
Tabel 4.1
No
Kran

Data Pengamatan CaCO3 + H2O

Waktu
(menit)

5
7

9
5
7

10

9
5
7

20

9
5
7

30

Tabel 4.2
No
Kran
5
0

9
5
7

10

9
5
7

20

9
5
7

30

Tabel 4.3
No
Kran
5

Berat
Sampel (gr)
0,2129
0,4272
0,9795
0,7036
0,2810
0,1852
0,5012
0,1744
0,4328
0,0048
0,0389
0,3263

Data Pengamatan CaCO3 + Tawas

Waktu
(menit)

Tinggi
Gelas Arloji +
Gelas Arloji +
Cairan (cm) Kertas Saring (gr) Kertas Saring +
Cake (gr)
39,8622
40,0751
190,4
39,0148
40,3456
187,4
39,9015
40,8810
39,0188
40,6224
187,4
39,8835
40,1645
185
39,9421
40,1273
39,8783
39,8795
185
39,9314
40,1058
184
39,8729
40,3057
39,8779
39,8825
184
39,8644
39,9033
183
39,8106
40,1365

Tinggi
Gelas Arloji +
Gelas Arloji +
Cairan (cm) Kertas Saring (gr) Kertas Saring +
Cake (gr)
39,9259
40,2210
196
39,8868
40,3113
195,5
39,9621
40,4066
39,9031
39,9904
195,5
40,0086
40,4331
194,7
39,8231
40,3583
39,7553
39,7683
194,7
40,0242
40,1404
194
39,8235
40,3828
194
193,2

Berat
Sampel (gr)
0,2951
0,4245
0,4450
0,0873
0,4245
0,5325
0,0085
0,1162
0,5590

39,7652

39,7700

0,0048

39,8858

39,9029

0,0171

39,7471

39,8776

0,1305

Data Pengamatan CaCO3 + NaOH

Waktu
(menit)

Tinggi
Gelas Arloji +
Gelas Arloji +
Cairan (cm) Kertas Saring (gr) Kertas Saring +
Cake (gr)
197,8
39,8848
40,0659

Berat
Sampel (gr)
0,1811

9
5
7

10

9
5
7

20

9
5
7

30

197
197
196,5
196,5
196,1
196,1
195,5

39,9140

40,2948

0,3808

39,9948
39,9830

40,3181
40,0888

0,3733
0,1058

39,9004

40,0325

0,1321

39,8792
39,8917

40,1428
39,8975

0,2636
0,0058

39,8563

39,8585

0,0022

39,8316
39,8920

39,8866
39,9029

0,0550
0,0049

39,8579

39,9045

0,0466

39,8870

39,8966

0,0096

4.4.2

Pembahasan

A.

Hubungan Antara Campuran CaCO3 + H2O

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Endapan dengan Waktu


Dari gambar 4.2 terlihat bahwa terjadi perbedaan antara konsentrasi dan
waktu, dimana semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pengendapan, maka
semakin kecil konsentrasi dari endapan yang didapatkan dari sampel yang diambil
pada kran yang telah ditentukan yaitu pada kran 5 saja dan dengan waktu
pengendapan selama 10,20

dan 30 menit.

Dari grafik juga terlihat jelas

konsentrasi tertinggi pada saat t0 yaitu 0 menit pada kran 9, karena pemasukkan
campuran dimulai dari dasar kolom sedimentasi, dan sehingga adanya terjadi gaya
gravitasi, dan pada kran 7 konsentrasi endapan lebih besar divbandingkan kran 5
karena saat pemasukan campuran terjadi gaya dorong dan kemudian terjadi gaya
gravitasi yang membuat konsentrasi endapan turun pada kran 7 kemudian kran 9.
Adanya gaya gravitasi yang pada awalnya campuran dipompakan ke kolom
sedimentasi terjadi gaya dorong kemudian mengapung dan gaya gravitasi pun
terjadi, gaya gravitasi ini terjadi karena campuran berupa CaCO 3 dan H2O di mana
CaCO3 akan turun karena gaya gravitasi yang mana diawali oleh gaya apung pada
saat t0, sebab saat baru saja dipompakan partikel akan bergerak mengapung karena
masih dalam keadaan transisi dimana kemudian dia akan turun karena gaya
gravitasi. Jadi pada saat t0 dapat dikatakan gaya dorong terjadi antara kran 9 dan 7
ke kran 5, gaya apung terjadi antara kran 5 dan 7 dan gaya gravitasi akan sangat

terlihat dari akibat gaya apung terlebih dulu di kran 5 dan 7 kemudian turun ke
kran 9 karena berat CaCO3 lebih berat dibanding air.
Telah dijelaskan di awal seiring waktu yang semakin lama maka pada kran 5
akan didapatkan konsentrasi yang terus menurun, namun tidak pada kran 9 yang
semakin lama waktu pengendapan yaitu pada t 30 menit, maka konsentrasi
endapannya semakin besar karena pada kran 9 sangat dekat dengan dasar. Kolom
sedimentasi yang mana pada dasar kolom terjadi dan ditemui banyak endapan,
dimana

semakin

banyak

endapan

CaCO3

maka

semakin

besar

pula

konsentrasinya. Sehingga pada kran 5 lah konsentrasi terkecil pada t 30 menit dan
kran 7 konsentrasinya lebih besar dari kran 5 dan lebih kecil dari kran 9, dan
konsentrasi terbesar pada kran 9.
Bila dibuat pembagian zona sesuai dengan waktu pengendapan, yakni pada t
30 menit maka zona dear pada kran 5, pada kran 7 terjadi zona tak terpekatkan
atau kompresi dan pada kran 9 terjadi zona pemekatan.
Dari kesemua penjelasan dapat disimpulkan bahwa konsentrasi berbanding
terbalik dengan waktu.
B.

Hubungan Antara Campuran CaCO3, H2O dan Tawas

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Endapan dengan


Waktu
Pada gambar 4.3 menunjukkan bahwa dengan semakin lamanya waktu yaitu
10 menit, 20 menit dan 30 menit, untuk proses pengendapan maka konsentrasi

endapan akan semakin menurun. Pada kran 7 dan 9 terjadi pengendapan pada
waktu 30 menit yang mana pada waktu ini endapan terbanyak dihasilkan di kran
9, dan pada kran 7 dan 5 sangat sedikit endapan yang didapatkan. Pada kran 9
konsentrasi endapan cenderung menurun yang diiringi dengan bertambahnya
waktu, yang mana hal ini terjadi karena disebabkan adanya gaya gravitasi yang
menyebabkan partikel jatuh seiring waktu pada menit 10, 20 dan 30, akibat berat
jenis partikel CaCO3 yang lebih besar dari air. Pada kran 5 dan 7 serta 9 terus saja
menurun, ini disebabkan sifat dari bahan CaCO dan jatuhnya partikel yang
awalnya maksimum lama kelamaan akan menurun dan tetap sehingga endapan
yang tertampung semakin besar.
Penambahan tawas pada campuran CaCO3 dan H2O akan memperbesar
konsentrasi endapan disebabkan tawas mempunyai kemampuan untuk mengikat
partikel CaCO3 untuk membentuk butiran-butiran untuk menjadi besar sehingga
berat partikel akan bertambah besar dan mudah mengendap ke dasar kolom akibat
zona pengendapan yang terbentuk besar diringi dengan zona bening yang terjadi
pada permukaan campuran.
Dari gambar 4.3 hubungan natara konsentrasi endapan dengan waktu dapat
disimpulkan bahwa konsentrasi endapan berbanding terbalik dengan waktu. Hal
ini dikarenakan semakin lama waktu yang dibutuhkan dalam pengendapan maka
partikel-partikel yang akan terendapkan yang memiliki konsentrasi dengan
seiringnya waktu yang berjalan akan turun ke dasar kolom, sehingga pada kolom
di bagian atasnya memiliki konsentrasi yang kecil.

C.

Hubungan CaCO3, H2O dan NaOH

Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Endapan dengan Waktu


Dari gambar 4.4 terlihat bahwa terjadi penurunan konsentrasi seiring dengan
bertambahnya waktu untuk pengendapan. Pada menit 0 sampai menit ke 20
konsentrasi terus bergerak menurun, dan pada menit ke 30

pada kran 7

mengalami sedikit kenaikan konsentrasi. Pada dasarnya dengan bertambahnya


waktu maka konsentrasi akan mengalami penurunan, namun keadaan ini tidak
terjadi pada kran 7 di menit ke 30. hal ini dikarenakan terjadinya kekeliruan, yang
mana pada saat penyaringan dilakukan kuranng sempurna (endapan tertinggal di
gelas sebelum dilewatkan ke kerts saring saat dituang) dan pada saat pengovenan
yang belum cukukp waktu, sehingga bahan yang di oven untuk menjadi kering
masih belum kering, sehingga menambah berat endapan tersebut, dimana
diketahui bahwa semakin kecil massa maka konsentrasinya pun akan semakin
kecil juga.
Pada percobaan ini CaCO3 dan H2O ditambahkan NaOH. NaOH disini
apabila dicampurkan dengan CaCO3 dapat mempercepat pengendapan, karena
NaOH merupakan basa kuat dan CO3 merupakan asam lemah yang mana artinya
NaOH merupakan basa dan CaCO3 juga merupakan basa, sehingga kedua-duanya
sama-sama basa, dimana apa bila basa dengan basa ditemukan atau dicampurkan
akan terjadi kontak dan terjadi tumpukan antar partikel yang mengakibatkan
terjadinya pengendapan yang lebih cepat.

Pada percobaan ini di waktu 0, 10, 20, dan 30 menit seluruh padatan dari
partikel CaCO3 dalam campuran akan jatuh dengan kecepatan maksimum, dimana
keadaan ini dipengaruhi oleh gaya gravitasi yang terjadi dalam campuran.
Sehingga partikel akan jatuh dan semakin lama waktu akan terbentuk zona bening
yang ditemui pada kran 5 dimenit 30 dan zona pemekatan yang terjadi pada kran
9.

4.5
4.5.1

PENUTUP
Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :


1.

Penambahan NaOH pada campuran CaCO3 mempercepat pengendapan.

2.

Pada proses sedimentasi terjadi 3 gaya pada partikel, yakni : gaya


gravitasi, gaya dorong dan gaya mengapung.

3.

Kecepatan pengendapan dipengaruhi oleh densitas, fluida, densitas partikel


dan viskositas.

4.

Kecepatan pengendapan (Vt) yang didapatkan dari percobaan adalah


0,165212581 cm/s.

4.5.2

Saran
Hendaknya parktikan jangan mengabaikan waktu dari pengopenan, karena

bila terlalu lama dioven akan terjadi gosong pada endapan, sehingga berat
sesungguhnya dari endapan di dapat akan berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Sedimentasi Http://www,wikipedia.org//wiki//sedimentasi


Diakses tanggal : 20 November 2008
Asdak, 1995, Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, UGM-Press,
Yogyakarta
Brown, G.G, 1978, Unit Operations Charles E. Tutle.Co, Tokyo
Cheremisinoff, N.P., Handbook Of Water And Wastewater Treatment
Technologies, Butterworth-heinemann, Boston
Geancoplis, J.C, 1983, Transport Proses and Unit Operation 2nd ed, Allyn and
Bacon Inc, Massachussett
Mc Cabe, W.L, 1985, Operasi Teknik Kimia Jilid 2, Erlangga, Jakarta