Anda di halaman 1dari 10

Nama : Binti Amanah

NPM : 1314111013
Ujian : Menejemen dan Teknologi Pembenihan Ikan
SOAL :
1. Jelaskan strategi reproduksi pada ikan!
2. Jelaskan hormon-hormon yang terlibat dalam reproduksi ikan dan udang beserta fungsi dan
perannya!
3. Jelaskan proses vitellogenesis pada ikan dan udang!
4. Jelaskan proses pembenihan ikan secara alami dan buatan beserta keuntungan dan
kerugiannya!
5. Mengapa perlu dilakukan manipulasi hormon pada pemijahan ikan?

JAWABAN :
1. Strategi Reproduksi :
memijah hanya bilamana energi (lipid) cukup tersedia
memijah dalam proporsi ketersediaan energi
memijah dengan mengorbankan semua fungsi yang lain, jika sesudah itu individu
tersebut akan mati.
Berdasarkan strategi tersebut maka dikenal tipe reproduksi sexual dengan fertilisasi internal
dan reproduksi sexual dengan fertilisasi eksternal. Reproduksi sexual dengan fertilisasi
internal, dilakukan dengan menempatkan sperma ke dalam tubuh betina sehingga
mengurangi kemungkinan kekeringan atau mengatasi kurang dekatannya sperma dan telur
sehingga fertilisasi dapat berlangsung, sedangkan fertilisasi eksternal, merupakan
penggabungan dua gamet (sperma dan telur) di luar tubuh masing-masing induk secara
terkoordinasi.
2. Hormon-hormon yang terlibat dalam reproduksi ikan dan udang :
Hormon Reproduksi Pada Ikan

hormone reproduksi dihasilkan oleh tiga bagian utama yakni Hipotalamus, Hipofisa, dan
Gonadotropin. Ketiga bagian ini berperan penting dalam mensintesis ataupun
mensekresikan hormon reproduksi.
Hipotalamus menghasilkan hormon Gn-RH (Gonadotropin Releasing Hormone) yang
berfungsi untuk merangsang atau menstimulasi hipofisa anterior untuk mensintesis hormon
gonadotropin yakni FSH dan LH, ICSH pada jantan.
Hormon gonadotropin (FSH, LH, dan ICSH) berperan dalam merangsang perkembangan
pada organ reproduksi jantan maupun organ reproduksi betina. FSH akan menstimulasi
pertumbuhan folikel di dalam ovarium dalam menghasilkan hormon estrogen tepatnya pada
folikel yang terdapat di dalamnya, sedangkan LH akan menstimulasi ovarium dalam
menghasilkan hormon progesteron tepatnya pada corpus luteum.
Pada jantan, FSH akan menstimulasi testis dalam menghasilkan dan mengatur
perkembangan sperma serta proses spermatogenesis tepatnya di dalam tubulus seminiferus.
Sedangkan LH akan menstimulasi testis dalam mensintesis hormon testosteron yang
tepatnya berlangsung di dalam sel leydig atau sel interstitial.
Hormon reproduksi pada udang
Reproduksi pada udang dikendalikan oleh berbagai hormon yang dihasilkan oleh tangkai
mata, otak, ganglion toraks, ovari dan diduga juga dipengaruhi oleh ekdisteroid
(Charmantier et al. 1997). Aktifitas kerja hormon tersebut akan berpengaruh baik langsung
maupun tidak langsung terhadap kecepatan perkembangan dan pematangan ovari. Hormonhormon yang berperan dalam perkembangan ovari udang adalah :

Gonad Inhibiting Hormone (GIH)/ Vitellogenin Inhibiting Hormone (VIH)

Gonad inhibiting hormone (GIH) atau disebut juga vitellogenin-inhibiting hormone (VIH)
merupakan hormon yang hanya ada pada krustase. GIH ditemukan pada individu jantan dan
betina. Pada Homarus americanus, jumlah sel neurosekretori organ-x pada kedua jenis
kelamin relatif sama, hal ini menunjukkan bahwa GIH mempunyai peranan dalam
pematangan gonad baik jantan maupun betina. . Sekresi GIH dikendalikan oleh methionin
enkephalin (Met-Enk) and dopamin (DA).

Mandibular Organ Inhibiting Hormone (MOIH)

Mandibular organ inhibiting hormone (MOIH) merupakan hormon yang disintesis dan
disekresi oleh komplek kelenjar sinus-organ-X pada tangkai mata. MOIH berfungsi untuk
menghambat proses sintesis methyl farnesoate oleh organ mandibular.

Gonad Stimulating Hormone (GSH)

Gonad stimulating hormone (GSH) ditemukan pada otak dan thoracic ganglion. Implantasi
thoracic ganglion pada Procambarus clarkii dapat menstimulasi perkembangan gonad

Methyl Farnesoate (MF)

Struktur MF mirip dengan juvenile hormone III (JH III) pada serangga yang disintesis oleh
mandibular organ (MO). MF berperan dalam reproduksi krustase seperti gonadotropin dan
juga berperan dalam morfogenesis. Berdasarkan analisis in vitro pada P. vannamei
menunjukkan bahwa MF menyebabkan peningkatan ukuran oosit secara signifikan. MF
berpengaruh terhadap peningkatan fekunditas P. vannamei, selain itu MF juga berperan
merangsang organ-Y untuk mensintesis ecdysteroid.

Dopamin (DA)

Dopamin (DA) merupakan neurotransmiter yang berperan dalam menghambat pematangan


gonad udang dengan menstimulasi sekresi hormon pengambat perkembangan gonad (GIH)
dan dengan cara menghambat kerja 5-HT dalam stimulasi sekresi GSH. DA terdapat pada
otak dan torasik ganglia. Saat vitelogenesis, reseptor DA akan diblok oleh anti dopamin
sehingga terjadi proses pematangan gonad

Hormon Steroid (vertebrate-type steroid hormone)

Sintesis hormon steroid pada krustase belum banyak diketahui, pada ovari terdapat
vitellogenesis stimulating ovarian hormone (VSOH) yang diduga mempunyai peranan sama
dengan estradiol-17 pada vertebrata. ovari Marsupenaeus japonicus mampu mensintesis
estradiol-17 dari progesteron, hal ini ditunjukkan dengan adanya aktivitas enzim 17hidroksilase, C17-C20 liase, 17-hidroksisteroid dehidrogenase (17-HSD) dan aromatase.
Aktivitas enzim tersebut juga terdapat pada hepatopankreas kecuali C17-C20 liase.
Berdasarkan hal tersebut diduga kuat bahwa VSOH merupakan senyawa yang identik
dengan estradiol-17. Biosintesis estradiol-17 juga terdapat pada ovari Macrobrachium
rosenbergii dan Penaeus monodon, keberadaan progesteron dan estradiol-17 pada berbagai
jaringan dan hemolim Pandalus kessleri. Walaupun mekanisme biosintesis progesteron dan
estradiol-17 pada udang belum diketahui dengan jelas, tetapi keberadaanya dalam tubuh

udang dan krustase lainnya diduga mempunyai peranan yang cukup penting dalam siklus
reproduksi.
Uji pengaruh hormon steroid terhadap proses reproduksi telah dilakukan pada beberapa
spesies krustase. Pemberian 17-Hidroksiprogesteron pada Penaeus japonicus mampu
meningkatkan konsentrasi vitelogenin dalam hemolim. Pemberian progesteron juga mampu
merangsang perkembangan gonad Chasmagnathus granulata, pemberian progesteron
mampu meningkatkan kandungan hormon estradiol-17 pada ovari Marsupenaeus
japonicus dan mempercepat perkembangannya. Selain progesteron, percobaan penggunaan
estradiol-17 untuk merangsang perkembangan gonad krustase khususnya udang dan
kepiting juga telah dilakukan. Pemberian estradiol-17 pada udang windu (Penaeus
monodon) mampu merangsang dan mempercepat perkembangan gonad.

Reproduksi udang sangat berkaitan dengan siklus hormonal. Pada saat gonad belum
matang, organ-X yang terdapat pada tangkai mata akan bekerja menghasilkan GIH dan
MOIH. Pengaruh GIH/VIH dan MOIH dominan sehingga terjadi pertumbuhan somatik.
Proses ini akan berjalan terus sampai suatu saat ukuran kulit udang tidak sesuai dengan
ukuran tubuh sehingga terjadi desakan. Kondisi ini akan merangsang syaraf pusat dan organ
mandibular menjadi aktif. Syaraf pusat akan merangsang sekesi GSH dan organ mandibular
akan mensintesis dan mensekresi MF. Hormon ini akan bekerja sinergi merangsang sintesis

vitelogenin sehingga sehingga terjadi kematangan gonad (Chang 1997). Sintesis vitelogenin
terjadi di dalam hepatopankreas dan ovari. Secara alami, aktivitas hormon perangsang
perkembangan gonad juga dipicu oleh adanya sinyal-sinyal lingkungan tertentu.
Perkembangan tingkat kematangan gonad udang merupakan proses yang berkesinambungan
antara proses pravitelogenesis dan vitelogenesis. Kedua proses ini dirangsang oleh hormon
VSH/GSH dan MF. Selain itu, proses pematangan gonad pada udang diduga juga
dipengaruhi oleh aktivitas VSOH dan hormon steroid yang dihasilkan ovari (Okumura
2004). Yano (1998) menyatakan bahwa VSOH juga merupakan hormon steroid. Disamping
ketersediaan hormon, kedua proses tersebut juga memerlukan ketersediaan materi pakan
yang baik sebagai bahan pembentuk vitelogenin serta kualitas air media yang layak. Jika
materi dalam tubuh telah memadai dan ketersediaan hormon perangsang perkembangan
gonad cukup maka pematangan gonad akan cepat dan kualitas sel telur yang dihasilkan baik
3. Proses vitelogenesis

Vitelogenesis, di cirikan oleh bertambah banyaknya volume sitoplasma yang berasal dari
semua sel, yakni kuning telur atau di sebut juga vitelogenin. Vitelogenin di sintesis oleh hati
dalam bentuk lipophosphoprotein-calsium komplek dan hasil mobilisasi lipid dari lemak

visceral. Selanjutnya kuning telur di bawa oleh darah dan di transfer ke dalam sel telur
secara endositosis.
Vitelogenesis merupakan aspek penting dalam pertumbuhan oosit yang meliputi rangkaian
proses :
(1) adanya sirkulasi estrogen (estradiol-17) dalam darah menggertak hati untuk mensintesis
dan mensekresikan vitelogenin yang merupakan prekursor protein kuning telur;
(2) vitelogenin diedarkan menuju lapisan permukaan oosit yang sedang tumbuh;
(3) secara selektif, vitelogenin akan ditangkap oleh reseptor dalam endositosis, dan
(4) terjadi translokasi sitoplasma membentuk badan kuning telur bersamaan dengan
pembelahan proteolitik dari vitelogenin menjadi subunit lipoprotein kuning telur, lipovitelin,
dan fosvitin.
Adanya vitelogenin menunjukkan terjadinya akumulasi lipoprotein kuning telur di dalam
oosit. Pada beberapa jenis ikan selama pertumbuhan oosit terjadi peningkatan Indeks
Somatik Gonad (IGS) 1 sampai 20% atau lebih. Pada ikan betina, ovari berespons terhadap
peningkatan konsentrasi gonadotropin dengan meningkatkan secara tidak langsung produksi
estrogen, yakni estradiol-17 (E2). Estradiol-17 beredar menuju hati, memasuki jaringan
dengan cara difusi dan secara spesifik merangsang sintesis vitelogenin. Aktivitas
vitelogenesis ini menyebabkan nilai indeks hepatosomatik (IHS) dan indeks gonadosomatik
(IGS) ikan meningkat. Pembesaran oosit disebabkan terutama oleh penimbunan kuning telur.
Seperti pada kebanyakan ikan, kuning telur merupakan komponen penting oosit ikan
Teleostei.
Ada tiga tipe material kuning telur pada ikan Teleostei :

butiran kecil minyak,


gelembung kuning telur (yolk vesicle)
butiran kuning telur (yolk globule).

Secara umum, butiran kecil minyak yang kita kenal dengan lipid yang berantai panjang
(asam lemak tidak jenuh) pertama kali muncul di daerah perinuklear dan kemudian
berpindah ke periferi (tepi sel) pada tahap selanjutnya. Urutan kemunculan material kuning
telur bervariasi antar spesies.
Fenomena penimbunan material kuning telur oleh oosit ikan dibagi menjadi dua fase, yakni :

sintesis kuning telur di dalam oosit atau vitelogenesis endogen

penimbunan prekursor (bahan pembentuk) kuning telur yang disintesis di luar oosit
atau vitelogenesis eksogen.

Ketika vitelogenesis berlangsung, sebagian besar sitoplasma telur matang ditempati oleh
banyak gelembung kuning telur yang padat dengan asam lemak dan dikelilingi oleh selapis
membran pembatas. Selama tahap akhir vitelogenesis, globula kuning telur beberapa ikan
Teleostei bergabung satu sama lain membentuk masa tunggal kuning telur.
Kuning telur pada ikan terdiri atas fosfoprotein dan lipoprotein yang dihasilkan oleh hati
kemudian disalurkan ke dalam peredaran darah
4. Proses Pembenihan :
Secara Alami

Persiapan wadah : kolam beton, kolam terpal, bak viber


Pemilihan induk : induk yang dipilih harus memenuhi kriteria yang sesuai dengan jenis

masing-masing spesies yang akan dijadikan indukan


Pemijahan : pemijahan dilakukan dengan menyiapkan kakaban untuk tempak
menempelkan telur, pada pemijahan alami ini dilakukan meeting antara indukan jantan
dan betina, kemudian betina mengeluarkan telurnya dan selanjutnya jantan mengeluarkan

telurnya sehingga telur akan dibuahi oleh sperma.


Penetasan telur : Penetasan telur dapat dilakukan dikolam pemijahan atau dipindahkan
kekolam penetasan yang telah disiapkan. telur yang tidak terbuahi berwarna putih susu
sedangkan telur yang terbuahi berwarna kuning transparan. Telur akan menetas selama

24 jam. Selama proses penetasan aerasi harus selalu terpasang.


Pemeliharaan larva : Setelah 3 hari sesudah penetasan angkat kakaban secara perlahan
lahan keluar dari kolam dan pastikan semua larva keluar dari kakaban apabila
mengunakan ijuk. Larva yang lemah ini belum diberi makan karna masih memiliki
cadangan makan berupa kantung telur yang akan diserap sebagai sumber makan bagi
larva. Setelah larva berumur 5 hari berikan pakan alami berupa cacing sutra, cacing
darah, atau kutu air. Frekuensi pemberian pakan 3 4 kali sehari

Kelebihan :
Indukan dapat digunakan lebih dari satu kali
Biaya yang dikeluarkan lebih murah dibadingkan dengan pemijahan buatan
Kekurangan :

Tidak semua telur dapat dibuahi


Secara Buatan :

Persiapan wadah : kolam beton, kolam terpal, bak viber


Siapkan Alat dan Bahan yang diperlukan terlebih dahulu

Lakukan pemilihan induk sesuai dengan kriteria

Setelah induk terpilih lakukan penimbangan ( tujuannya agar mudah menentukan dosis
Hormone yang akan digunakan.

Setelah ditimbang lakukan perhitungan dosis hormon yang akan disuntikan, (saya biasa
pakai dosis. Ovaprim 0.3ml/Kg. dan Aquades 1ml/kg. aquades fungsinya mengencerkan
ovaprim.
setelah dosis didapat lakukan penyuntikan induk jantan dan betina disuntik sesuai dengan
dosis. letak posisi penyuntikan di bagian punggung dengan kemiringan 45derajat.
usahakan larutan ovaprim yang ada di spuid tidak ada gelembungnnya. penyuntikan
dilakukan bisa malam hari atau pagi hari jam 05.00. sebaiknya lakukan penyuntikan pada
pagi hari tujuannya pada waktu streeping bisa dilakukan pada siang hari.

Setelah disuntik masukkan induk tersebut ke ember secara terpisah antara induk jantan
dan betina dan biarkan selama kurang lebih 810 jam. sekitar 8 jam induk di cek tingkat
ovulasinya. apabila di dasar ember terlihat ada telur berarti induk siap di streeping (di
urut) untuk mengeluarkan telur. apabila 8 jam masih belum terlihat adanya telur di dasar
ember bisa dilakukan pengurutan ke arah anus kalau keluarnya lancar berarti sudah siap.
setelah betina siap

Lakukan pembedahan induk jantan untuk di ambil spermanya, selanjutnya sperma dicuci
dari darah menggunakan NaCL. lalu di lap menggunakan tissue. Dilakukan
pengguntingan atau dicacah lalu tampung di mangkok sambil di encerkan menggunakan
NaCL 100ml. (catatan Tangan basuh terlebih dahulu dengan larutan NaCL supaya steril
dari air. mangkok juga harus kering jangan ada air)

Ambil induk betina Lakukan Proses Streeping Untuk dikeluarkan telurnya tampung pada
mangkok atau baskom. untuk memegang induk agar diam pakai handuk setengah kering.
lakukan pengurutan sampai telur habis. (catatan apabila pengurutan tidak lancar jangan
dipaksakan itu bisa mengakibatkan keluar darah)

Setelah telur siap dibuahi sperma. masukan Sperma yang ada pada mangkok tadi kepada
mangkok atau baskom yang sudah berisi telur. aduk hingga rata menggunakan bulu ayam
secara perlahan, setelah merata telur di tebar di bak/ aquarium yang sudah berisi kakaban
atau jenis lainnya yang bisa dipakai untuk menempel telur. untuk penebaran telur jangan
sampai menumpuk kalau menumpuk dapat menghambat proses penetasan.

Telur akan menetas selam 24 jam30 jam tergantung pada suhu air.

Kelebihan :
Semua telur dapat terbuahi
Kekurangan :
Indukan janta mati
Biaya mahal
5. Manipulasi hormon
Manipulasi hormone pada ikan dilakukan pada umumnya untuk merangsang ikan untuk
memijah.
Manipulasi hormon untuk kegaiatan pemihajan dapat dilakukan dengan dua pendekatan,
yaitu pendekatan hipofisa dan pendekatan hipotalamus. Pendekatan hipofisa berperan untuk
memacu ovulasi dan pemijahan. Pada kegiatan pemijahan, pendekatan induk ikan sudah
matang gonad. Induk matang gonad tersebut disuntik dengan hormon kelenjar hipofisa atau
hormon perangsang lainnya, seperti ovaprim, choluron, dan sebagainya. Sedangkan
pendekatan hipotalamus berperan memacu vitelogenesis pada awal perkembangan gonad
sampai fase dorman dan merangsang pemijahan. Pada pendekatan ini, induk ikan dewasa
diimplantasi hormon. Implantasi hormon kedalam tubuh induk ikan bertujuan untuk
menyediakan hormon dalam pembentukan dan perkembangan gonad., proses perkembangan
gonad membutuhkan ketersediaan gonadotropin secara terus menerus. Dengan implantasi

hormon LHRH-a (estradiol) dan 17-methhyl testoteron, gonad ikan banding dapat
berkembang biak dan memijah didalam tangki serat gelas volume 30 m3.