Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PERPAJAKAN

STUDY KASUS PERPAJAKAN


Pajak Kendaraan Bermotor

OLEH:

Reza Muhammad Rizqi

MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS MATARAM


2015

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan
kepada Allah SWT, yang karena bimbingan-Nya maka penulis bisa menyelesaikan
sebuah karya tulis yang berjudul STUDI KASUS PERPAJAKAN Pajak Kendaraan
Bermotor .

Karya tullis ini dibuat dengan berbagai Materi-materi dan sumber-sumber


tertentu sehingga menghasilkan karya yang dapat dibaca oleh pembaca. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karna itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif
bagi kita semua.

Mataram, 29 Agustus 2015

Penulis

STUDY KASUS PERPAJAKAN


Pajak Kendaraan Bermotor
1. Latar Belakang
Salah satu yang menjadi tranding topic pembicaraan masyarakat saat ini adalah pajak.
Di samping karena memang kewajiban sabagai warga negara, pajak menjadi perbincangan
dikarenakan adanya kasus besar yang berhubungan dengan pajak. Lalu, apa sebenarnya
pengertian pajak sebenarnya? Apa saja isi undang-undangnya dan apa sebenarnya kegunaan
pajak bagi negeri ini?, hal ini masih menjadi pertanyaan-pertanyaan yang selalu berada dalam
benak kita sebagai warga negara, khususnya warga negara Indonesia. Seiring dengan era
reformasi yang semakin maju, perkembangan inromasi khususnya di dalam bidang ekonomi,
teknologi informasi, sosial dan politik. Disadari bahwa perlu dilakukan perubahan undangundang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Sebagaimana undang-undang
pajak di atur dalam Pasal 23 UUD 1945. Perubahan tersebut bertujuan untuk lebih
memberikan keadilan kepada semua yang berorientasi dalam perpajakan, meningkatkan
pelayanan kepada Wajib Pajak, meningkatkan kepastian dan penegakan hukum, serta
mengantisipasi kemajuan di bidang perpajakan.
Beberapa hal dalam perubahan yang dilakukan oleh pemerintah juga dimaksudkan
untuk meningkatkan profesionalisme aparatur perpajakan yang selama ini sering terdengar
persepsi negatif atau konflik mengenai aparatur negara yang liar, meningkatkan keterbukaan
administasi perpajakan dan meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak. Dengan kata lain,
anatara yang memberikan pemungutan pajak dengan wajib pajak harus saling bekerjasama
demi kemajuan Negara Indonesia.
Wajib kita ketahui bahwa pajak merupakan salah satu alat bagi pemerintah dalam
mencapai tujuan Negara untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung maupun
tidak langsung dari masyarakat, guna membiayai pengeluaran rutin serta pembangunan sosial
dan ekonomi masyarakat. Pertimbangan dalam pemungutan pajak pada prinsipnya harus
memperhatikan keadilan dan keabsahan dalam pelaksanaannya. Untuk memenuhi tuntutan
keadilan dan keabsahan tersebut, perlu diperhatikan asas-asas atau prinsip pemungutan pajak
yang baik dan benar, guna mengatasi isu-isu keadilan yang sering dipersepsikan tidak baik.
Meskipun asas atau prinsip menyatakan bahwa jumlah pajak yang dipungut hendaklah
memadai untuk keperluan menjalankan roda pemerintahan, tetapi hendaknya dalam
implementasinya tetap harus diperhatikan bahwa jumlah pajak yang di pungut jangan sampai
terlalu tinggi sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pajak merupakan salah satu alat yang digunakan pemerintah didalam mencapai tujuan
untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dari
masyarakat, untuk itu diperlukan adanya kesadaran dari masyarakat akan kewajiban pajaknya
karena pajak yang dikumpul digunakan untuk kepentingan dan membiayai pengeluaran rutin
serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Penghasilan negara berasal dari
rakyatnya melalui pungutan pajak, dan atau dari hasil kekayaan alam yang ada dalam negara
itu (natural resources). Dua sumber itu merupakan sumber terpenting yang memberikan
penghasilan kepada negara. Penghasilan itu untuk membiayai kepentingan umum yang
akhirnya juga mencakup kepentingan pribadi individu seperti kesehatan masyarakat,
pendidikan, kesejahteraan dan sebagainya. Jadi, dimana ada kepentingan masyarakat, disana
timbul pungutan pajak sehingga pajak adalah senyawa dengan kepentingan umum.
Pajak juga merupakan fenomena umum sebagai sumber penerimaan negara yang
berlaku diberbagai negara. Tiap negara membuat aturan dalam menggunakan dan memungut
pajak di negaranya. Bagi Indonesia, penerimaan pajak sangat besar perannya dalam
mengamankan anggaran negara dalam APBN setiap tahun. Kondisi itu tercapai ketika harga
minyak bumi berfluktuasi dipasar internasional dalam kurun waktu yang relatif panjang pada
awal dekade 1980-an. Fluktuasi harga tersebut telah membuat struktur penerimaan negara
yang saat itu sangat mengandalkan penerimaan dari minyak bumi dan gas (migas) tidak bisa
diandalkan lagi untuk kesinambungannya. Dari aspek biaya, bila penerimaan andalan dari
migas tetap di pertahankan, maka akan merusak tatanan atau struktur penerimaan negara di
APBN. Akibatnya, pembangunan nasional yang telah dilaksanakan dan diprogramkan
diberbagai bidang, dan membutuhkan biaya saat itu, bisa saja tidak dapat dilaksanakan sesuai
dengan rencana (program pembangunan).
Pajak mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan bernegara, khususnya
didalam pembangunan karena pajak merupakan sumber penghasilan negara untuk membiayai
semua pengeluaran, termasuk pengeluaran pembangunan. Sistem pemungutan pajak di
indonesia adalah Self Assessment System yang berarti wajib pajak diberikan kepercayaan
untuk memperhitungkan, menyetorkan, dan melaporkan sendiri atas pajak yang terhutang
terhadap negara. Disamping cara Self Assessment System terdapat cara lain yaitu sistem
pemotongan (withholding system). Withholding System merupakan cara yang paling mudah
yang dilakukan pemerintah untuk memungut pajak, yaitu dengan cara mewajibkan wajib
pajak untuk melakukan pungutan dan pemungutan pajaknya oleh pihak lain. Dengan cara ini
maka pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk memungut pajak.

Dalam pemungutan pajak subjek dan objek pajak harus jelas. Oleh karena itu harus
dikelola dengan baik dan benar sehingga data wajib pajak sesuai. Selain itu, tarif pajak harus
ditentukan berdasarkan ketentuan yang berlaku saat itu. Dengan demikian para wajib pajak
dapat rutin dan patuh membayar pajak. Subjek pajak adalah orang, badan atau kesatuan
lainnya yang telah memenuhi syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau
berkedudukan di Indonesia. Subjek pajak baru menjadi wajib pajak bila telah memenuhi
syarat-syarat obyektif. Objek pajak adalah apa yang dikenakan pajak. Mengingat penting dan
strategisnya objek pajak karena menyangkut apa yang dikenakan atau tidak dikenakannya
pajak atas objek dimaksud, sehingga dalam UU perpajakan kita selalu dengan tegas
dinyatakan apa yang menjadi objek setiap jenis pajak.
Sumber penerimaan negara dari sektor pajak ada banyak macamnya. Salah satu adalah
pajak kendaraan bermotor, yaitu pajak atas kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan
bermotor seperti yang tercantum dalam Pasal 4 UU No. 28 Tahun 2009 mengatur bahwa
subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau
menguasai kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan roda dua atau
lebih beserta gandengannya yang digunakan disemua jenis jalan darat dan digerakkan oleh
peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu
sumber daya energi

tertentu

menjadi

tenaga

gerak

kendaraan

bermotor

yang

bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang bergerak. Pengertian alat-alat berat dan besar
adalah alat yang dapat bergerak/ berpindah.
.Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, peranan penerimaan pajak
sangat penting dan mempunyai kedudukan yang strategis. Terutama pajak yang bersumber
dari daerah-daerah atau provinsi-provinsi di wilayah Indonesia yang jika tidak dikelola dan
diawasi dengan seksama, tidak menutup kemungkin pemerintah tidak akan dapat
mengerakkan roda pemerintahan dan pembangunan nasional dengan baik dan sesuai dengan
apa yang diharapkan karena tidak adanya dukungan dana,. Oleh sebab itu setiap tahun
penerimaan pajak senantiasa diupayakan untuk terus meningkat, seperti salah satunya dalam
pembayaran pajak kendaraan bermotor untuk retribusi pemerintah daerah seperti yang diatur
dalam pasal 1 angka 12 dan 13 UU No. 28 Tahun 2009 Adapun Pajak Kendaraan Bermotor
termasuk ke dalam jenis pajak provinsi yang merupakan bagian dari Pajak Daerah.

2. Pembahasan
A. Definisi Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kendaraan Bermotor sebagaimana yang didefinisikan dalam Pasal 1
angka 12 dan 13 UU No. 28 Tahun 2009 adalah pajak atas kepemilikan dan/atau
penguasaan kendaraan bermotor (kendaraan beroda dua atau lebih beserta
gandengannya yang digunakan disemua jenis jalan darat dan digerakkan oleh
peralatan

teknik berupa motor

atau peralatan

lainnya yang berfungsi untuk

mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan
bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang bergerak). Pajak
Kendaraan Bermotor termasuk ke dalam jenis pajak provinsi yang merupakan bagian
dari Pajak Daerah.
B. Informasi Pajak Kendaraan Bermotor
a. Subjek Pajak
Pasal 4 UU No. 28 Tahun 2009 mengatur bahwa subjek Pajak Kendaraan Bermotor
adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan
bermotor.
b. Wajib Pajak
Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki
kendaraan bermotor. Bagi Wajib Pajak yang berupa suatu badan maka kewajiban
perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa dari badan tersebut.
c. Objek Pajak
Berdasarkan Pasal 3 UU No. 28 Tahun 2009, Objek Pajak Kendaraan Bermotor
adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Termasuk dalam
pengertian kendaraan bermotor adalah kendaraan bermotor beroda beserta
gandengannya, yang dioperasikan di semua jenis jalan darat dan kendaraan bermotor
yang dioperasikan di air dengan ukuran isi kotor GT 5 (Lima Gross Tonnage) sampai
dengan GT 7 (Tujuh Gross Tonnage).
d. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor
Pasal 6 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2009 mengatur bahwa penetapan batas bawah dan
batas atas tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi. Dengan demikian, kepastian
penetapan tarif tersebut diatur berdasarkan peraturan daerah pada masing-masing
provinsi.

e. Sanksi dan Ketentuan Pidana Pajak kendaraan Bermotor


Keterlambatan melaksanakan pendaftaran melebihi waktu yang ditetapkan / tanggal
jatuh tempo, dikenakan denda berupa kenaikan sebesar 25% dari Pokok Pajak
ditambah Sanksi Administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan, dihitung dari pajak
yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung
saat terhutangnya pajak.
Wajib pajak PKB yang karena sengaja atau karena kealpaan tidak menyampaikan
SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan
keterangan yang tidak benar sehingga merugikan daerah dapat dipidana dengan
pidana penjara/kurungan atau denda sesuai ketentuan yang berlaku. Tindak pidana
di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 10
tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya
berakhirnya

bagian

tahun

pajak

masa

pajak

atau

atau berakhirnya tahun pajak yang

bersangkutan.
C. Kasus Mengenai Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak merupakan suatu kewajiban kenegaraan, pengabdian serta peran aktif
warga dan anggota masyarakat lainnya untuk membiayai berbagai keperluan
pembangunan nasional untuk keamanan dan kesejahteraan bangsa dan Negara, namun
bagaimana jika ada pihak-pihak atau oknum-oknum yang tanpa sengaja ataupun secara
sengaja untuk menghindari bahkan tidak membayar pajak, tentu hal ini akan sangat
merugikan pendapatan negara.
Bagi negara penerimaan pajak memberikan andil besar dalam membangun
suatu negara khusunya untuk negara Indonesia, pajak memberikan kontribusi sekitar
86% dalam pendapatan negara untuk digunakan dalam APBN, dimana angka tersebut
merupakan angka yang besar mengingat pendapatan merupakan faktor terpenting
dalam membangun dan mensejahterakan suatu negara dan seluruh infrastruktur yang
ada didalamnya.
Adapun contoh kasus mengenai pembayaran Pajak kendaraan bermotor adalah
wajib pajak yang tidak mau membayar pajak atas kepemilikan kendaraannya tersebut
seperti yang dilakukan oleh salah satu kepala keluarga yang bertempat tinggal di
Jempong Mataram tepatnya di BTN Grand Kodya, atas nama bapak Damhuji. Bapak
Damhuji membeli sebuah sepeda motor Honda Scoopy pada tahun 2011 dan masa
berlakunya jatuh pada tanggal 24-11-2012, namun tidak pernah membayar pajak sejak

tahun pembeliannya hingga saat ini (tahun 2015) sedangkan kendaraan bermotor yang
dibelinya tersebut masih aktif digunakan. Alasan yang dikemukakan oleh bapak
Damhuji yaitu:
1) Lupa akan membayar pajak yang disebabkan oleh kesibukannya,
2) Birokrasi pajak yang dirasakan rumit dan lama dalam pengurusannya dan
3) Jumlah denda pajak yang memberatkan.
Gambar STNK Bapak Damhuji

Dalam kendala-kendala yang dihadapi oleh bapak Damhuji, ia memberikan


konfirmasi bahwa ia akan melunasi pajak tersebut ditahun 2016, hal ini dikarenakan
bapak Damhuji belum mempunyai waktu luang untuk mengurusnya. Pelunasan pajak
yang terlalu lama akan semakin memberatkan wajib pajak melihat penambahan denda
pajak yang semakin bertambah, seiring dengan bertambahnya waktu atau masa hutang
pajak yang berlaku.
Masalah-masalah yang dialami bapak Damhuji dalam pembayaran pajak
kendaraan bermotor seperti:
1) Lupa akan membayar pajak yang disebabkan oleh kesibukannya, alasan seperti ini
seharusnya tidak bisa menjadi penghambat dalam membayar pajak mengingat
bapak Damhuji tetap menggunakan motor tersebut dalam bepergian. Jika ia tetap
menggunakan kendaraan tersebut, seharusnya ia mengingat juga akan membayar
pajak atas kepemilikan motor yang dikendarainya.
2) Birokrasi pajak yang dirasakan rumit dan lama dalam pengurusannya, alasan
seperti ini tidak dapat menjadi penghambat dalam pembayaran pajak kendaraan

bermotor bapak Damhuji karena saat ini wajib pajak dimudahkan urusannya dalam
membayar pajak kendaraan bermotor yang kita punya, mengingat adanya sistem
online yang dapat digunakan.
3) Jumlah denda pajak yang memberatkan, alasan seperti ini tidak dapat menjadi
penghambat dalam pembayaran pajak Bapak Damhuji karena penambahan denda
pajak dikarenakan keterlambatan dari wajib pajak sendiri dalam membayar pajak,
hendaknya bapak Damhuji disiplin dalam membayar pajak sehingga tidak terkena
denda yang dapat memberatkan bapak Damhuji.
Tanggung jawab atas kewajiban pembayaran pajak bapak Damhuji, sebagai
pencerminan kewajiban kenegaran dibidang perpajakan berada pada diri bapak
Damhuji sendiri untuk memenuhi kewajiban tersebut. Hal tersebut sesuai dengan
sistem self assessment yang dianut dalam Sistem Perpajakan Indonesia. Dengan
adanya system pemungutan pajak yang baik dan ringan, yakni self assessment maka
Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak berkewajiban melakukan
pembinaan/penyuluhan, pelayanan, dan pengawasan kepada masyarakat. Karena
keberhasilan atau kegagalan dari sebuah negara bergantung pada penduduk negara itu
sendiri. Jika penduduknya rajin, disiplin, dapat mengontrol perasaaan, dan selalu siap
menghadapi tantangan dan menguasai rintangan-rintangan maka negara tersebut akan
berhasil.

3. Penutup
A. Kesimpulan
Penghasilan negara terbesar terutama negara kita Indonesia adalah berasal dari pajak.
Pajak memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara
khususnya Indonesia. Pajak juga merupakan iuran rakyat kepada kas negara
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang telah disepakati bersama, yakni
penyelengara pemerintahan dan perwakilan rakyat yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pembayaran
pajak seperti pajak kendaraan bermotor merupakan perwujudan dari kewajiban
kenegaraan dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama
melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan
nasional. Sesuai falsafah undang-undang perpajakan, membayar pajak bukan hanya
merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara untuk ikut
berpartisipasi dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan negara dan pembangunan
nasional.
B. Saran
Dalam pengelolaan pajak seharusnya dikelola dengan baik dan benar agar manfaatnya
dapat dirasakan oleh rakyat. Selain itu para wajib pajak juga harus rutin dalam
membayar pajak demi tercapainya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai warga
Negara Indonesia harus memahami apa-apa saja yang menjadi
subjek pajak, objek pajak, serta tarif pajak yang berlaku di Negara
Indonesia. Selain itu juga Pemerintah seharusnya lebih

memperkuat lagi

kebijakan-kebijakan yang telah disusun berdasarkan prosedur, guna mendongkrak


penerimaan pajak Negara dan terciptanya keadilan bagi semua pihak yang
berkepentingan. Sehinggga ada keringanan tersendiri bagi masyarakat atau Wajib
Pajak untuk membayar. Disamping itu juga bagi para Wajib Pajak seharusnya ada
kepercayaan atau kesadaran terhadap kewajiban membayar pajak demi pembangunan
nasional Negara Indonesia.