Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA
( HUKUM ARCHIMEDES )

Di SUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.

Ananda Aqilla M. S.
Ananda Farah S.
Anargya Widyadhana
Andhini Aurelia Putri

(05)
(06)
(07)
(08)

KELAS : X MIPA 8
SMA NEGERI 3 SIDOARJO
TAHUN AJARAN 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat
karunia dan petunjuknya kami dapat menyelesaikan Laporan Fisika ini. Kami juga
menyampaikan terima kasih kepada Guru bidang studi yang telah banyak
memberikan ilmu pengetahuan kepada kami serta pihak-pihak yang telah banyak
membantu.
Makalah ini disusun untuk membantu proses belajar khususnya dalam bidang
fisika, selain itu juga untuk melengkapi tugas-tugas yang harus diselesaikan agar
dapat mendapatkan kriteria nilai yang memuaskan.
Kami berharap makalah ini dapat memberi sumbangan yang berarti dalam
proses pemahaman tentang Hukum Archimedes, kami menyadari makalah ini tidak
luput dari kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari
pembaca sangat di harapkan demi penyempurnaan makalah ini.

November, 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR I
DAFTAR ISI .. II
BAB I : PENDAHULUAN
a. LATAR BELAKANG ....................................................................................... 1
b. TUJUAN ......................................................................................................... 1
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
c. HUKUM ARCHIMEDES ................................................................................. 2
d. PENEMUANNYA ........................................................................................... 4
BAB III : METODE KERJA
a. ALAT DAN BAHAN ........................................................................................ 6
b. LANGKAH KERJA ......................................................................................... 6
BAB IV : PENUTUP
a. HASIL PENGAMATAN .................................................................................. 7
b. PEMBAHASAN .............................................................................................. 7
BAB IV : PENUTUP
a. KESIMPULAN ................................................................................................ 9
b. SARAN ........................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 10

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disekitar kita, kadang pernah mengamati bahwa sebuah benda yang
diletakan di dalam air terasa lebih ringan dibandingkan dengan beratnya ketika di
udara kadang ada yang terapung, kadang juga ada benda yang melayang didalam
air, kadang juga ada benda yang tenggelam di dalam air. Jika benda dicelupkan
dalam zat cair, sesungguhnya berat benda itu tidak berkurang. Gaya tarik bumi
kepada benda itu besarnya tetap. Akan tetapi zat cair mengadakan yang arahnya ke
atas kepada setiap benda yang tercelup di dalamnya. Ini menyebabkan berat benda
seakan-akan berkurang. Menghitung gaya ke atas dalam zat cair sesungguhnya
dapat kita lakukan dengan menggunakan pengetahuan kita tentang tekanan di
dalam zat cair. Pada kesempatan ini kita akan membahas Hukum Archimedes
secara mendetail, karena dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak jenis gerak
yang menyerupai sistem ini.
Aplikasi Hukum Archimedes dapat kita jumpai dalam berbagai peralatan
misalnya hidrometer, kapal laut, kapal selam, dan balon udara.
B. Tujuan
- Membuktikan peristiwa tenggelam, terapung, dan melayang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hukum Archimedes
Archimedes adalah seorang ilmuwan terbesar pada zamannya. Ia lahir di kota
Syracuse, Sisilia pada tahun 287 SM dan meninggal pada tahun 212 SM.
Archimedes dikenal sebagai ahli fisika, marematika, optika dan astronomi. Ia dijuluki
sebagai Bapak Eksperimen, karena mendasarkan penemuannya pada percobaan.
Ia menemukan hukum pada sebuah peristiwa yang disebut dengan Hukum
Archimedes yang berbunyi jika benda dimasukkan ke dalam cairan, baik
sebagian atau seluruhnya, akan mendapatkan gaya ke atas sebesar berat
cairan yang dipindahkan benda itu. Misalnya air mempunyai volume tertentu, jika
sebuah benda dimasukkan ke dalam air tersebut, maka permukaan air akan
terdesak atau naik. Dengan kata lain, berat benda seolah-olah menjadi lebih ringan.
Hal ini karena adanya gaya ke atas yang sering disebut gaya Archimedes.
Prinsip Archimedes
Ketika dirimu menimbang batu di dalam air, berat batu yang terukur pada
timbangan pegas menjadi lebih kecil dibandingkan dengan ketika dirimu menimbang
batu di udara (tidak di dalam air). Massa batu yang terukur pada timbangan lebih
kecil karena ada gaya apung yang menekan batu ke atas. Efek yang sama akan
dirasakan ketika kita mengangkat benda apapun dalam air. Batu atau benda apapun
akan terasa lebih ringan jika diangkat dalam air. Hal ini bukan berarti bahwa
sebagian batu atau benda yang diangkat hilang sehingga berat batu menjadi lebih
kecil, tetapi karena adanya gaya apung. Arah gaya apung ke atas, alias searah

dengan gaya angkat yang kita berikan pada batu tersebut sehingga batu atau benda
apapun yang diangkat di dalam air terasa lebih ringan.

FA = V g
Rumus Prinsip Hukum Archimedes
Keterangan :
FA = Tekanan Archimedes = N/m2
V = Volume Benda Tercelup = m3
= Massa Jenis Zat Cair = kg/m3
g = Gravitasi = m/s2
Menurut Archimedes, benda menjadi lebih ringan bila diukur dalam air
daripada di udara karena dalam air, benda mendapat gaya ke atas. Sementara
ketika di udara, benda memiliki berat yang sesungguhnya.
Dalam Persamaan :
Wb = mb.g
Ketika dalam air, dikatakan memiliki berat semu, dinyatakan dengan:
Wdf = Wb FA
Keterangan :
Wdf : berat dalam fluida, dikatakan juga berat semu (N)
Wb : berat benda sesungguhnnya, atau berat di udara (N)
FA : gaya angkat ke atas (N)
Gaya angkat ke atas ini yang disebut juga gaya apung.
Hukum ini juga bukan suatu hukum fundamental karena dapat diturunkan dari
hukum newton juga. Bila gaya archimedes sama dengan gaya berat W maka
resultan gaya =0 dan benda melayang .
- Bila FA>W maka benda akan terdorong keatas akan melayang
- Jika rapat massa fluida lebih kecil daripada rapat massa telur maka agar telur
berada dalam keadaan seimbang,volume zat cair yang dipindahkan harus lebih kecil
dari pada volume telur.Artinya tidak seluruhnya berada terendam dalam cairan
dengan perkataan lain benda mengapung. Agar benda melayang maka volume zat
cair yang dipindahkan harus sama dengan volume telur dan rapat massa cairan
sama dengan rapat rapat massa benda. Jika rapat massa benda lebih besar
daripada rapat massa fluida, maka benda akan mengalami gaya total ke bawah
yang tidak sama dengan nol. Artinya benda akan jatuh tenggelam. Berdasarkan
Hukum Archimedes, sebuah benda yang tercelup ke dalam zat cair akan mengalami
dua gaya, yaitu gaya gravitasi atau gaya berat (W) dan gaya ke atas (FA) dari zat
cair itu.
Dalam hal ini ada tiga peristiwa yang berkaitan dengan besarnya kedua gaya
tersebut yaitu seperti berikut

Tenggelam
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan tenggelam jika berat benda
(W)
lebih besar dari gaya ke atas (FA).
W > FA
pb Vb g > pf Vf g
pb > pf
Volume bagian benda yang tenggelam bergantung dari rapat massa zat cair (p)
Melayang
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan melayang jika berat benda
(W) sama dengan gaya ke atas (FA) atu benda tersebut tersebut dalam
keadaansetimbang
W = FA
pb Vb g = pf Vf g
pb = pf
Pada 2 benda atau lebih yang melayang dalam zat cair akan berlaku :
EA = Eb
Terapung
Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan terapung jika berat benda
(W) lebih kecil dari gaya ke atas (FA).
W > FA
pb Vb g > pf Vf g
pb > pf
B. Penemuannya
Pada suatu hari Archimedes dimintai Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah
mahkota emasnya dicampuri perak atau tidak. Archimedes memikirkan masalah ini
dengan sungguh-sungguh. Hingga ia merasa sangat letih dan menceburkan dirinya
dalam bak mandi umum penuh dengan air.
Lalu, ia memperhatikan ada air yang tumpah ke lantai dan seketika itu pula ia
menemukan jawabannya. Ia bangkit berdiri, dan berlari sepanjang jalan ke rumah
dengan telanjang bulat. Setiba di rumah ia berteriak pada istrinya, "Eureka! Eureka!"
yang artinya "sudah kutemukan! sudah kutemukan!" Lalu ia membuat hukum
Archimedes.

Dengan itu ia membuktikan bahwa mahkota raja dicampuri dengan perak.


Tukang yang membuatnya dihukum mati. Penemuan yang lain adalah tentang
prinsip matematis tuas, sistem katrol yang didemonstrasikannya dengan menarik
sebuah kapal sendirian saja. Ulir penak, yaitu rancangan model planetarium yang
dapat
menunjukkan
gerak matahari,
bulan,
planet-planet,
dan
kemungkinan konstelasi di langit.
Di bidang matematika, penemuannya terhadap nilai pi lebih mendekati dari
ilmuan sebelumnya, yaitu 223/71 dan 220/70.
Archimedes adalah orang yang mendasarkan penemuannya dengan
eksperimen sehingga ia dijuluki Bapak IPA Eksperimental.
BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
1. Botol plastik kosong
2. Baterai
3. Selang kecil
4. Plastisin
5. Selotip
6. Air
7. Wadah besar
8. Cutter
9. Paku
B.
-

Langkah Pembuatan
Siapkan bahan
Belah botol menjadi 2 bagian di posisi horizontal dengan cutter
Buatlah 2 lubang pada tutup botol dengan paku
Masukkan selang kecil ke tutup pertama dan rekatkan ujungnya yang di dalam
botol menggunakan selotip, biarkan ujung yang lain terbuka
Masukkan selang lagi pada lubang lain dan rekatkan lagi pada permukaan dalam
botol, tapi kali ini ujung yang lain rekatkan pada permukaan luar botol
Satukan kedua belahan botol menggunakan selotip
Rekatkan lubang di tutup botol menggunakan lem/selotip agar tidak ada air yang
masuk melalui celah lain
Berilah plastisin di sisi botol sebagai pemberat
Beri baterai di sisi luar botol sebagai pemberat dan penyeimbang
Kapal selam sederhana telah jadi

C. Cara Kerja
1. Letakkan kapal selam pada permukaan air, dengan posisi selang yang
direkatkan di luar botol di bawah agar air dapat masuk
2. Sedot selang yang terbuka, lalu air akan masuk dan botol perlahan akan
tenggelam
3. Jika ingin membuat botol mengapung, tiuplah selang itu, maka air akan keluar
dari botol dan botol akan mengapung

BAB IV
Pembahasan
A. Pembahasan
Kapal selam bekerja berdasarkan prinsip yang cukup sederhana, yakni
kenyataan bahwa udara lebih ringan daripada air. Jika kita mengambil cangkir teh
kita dan membaliknya lalu kita mendorong cangkir tersebut di dalam ember yang
penuh berisi air, kita harus menerapkan banyak tekanan untuk melakukannya. Tapi
begitu kita melepaskan tekanan tersebut, cangkir dengan segera akan mengapung
kembali ke atas. Cangkir dapat mengapung kembali karena udara yang terjebak di
dalamnya membuat cangkir lebih ringan dari air.
Demikian pula pada kapal selam, kapal selam memiliki bagian-bagian yaitu :
1. Tangki Ballast berfungsi untuk menyimpan udara dan air.
2. Katup udara, berfungsi untuk memasukkan udara ke dalam ballast (tangki).
3. Katup air, berfungsi untuk memasukkan air ke dalam ballast (tangki).
4. Tangki Kompresor udara, yang berfungsi memompa air keluar dari ballast dan
diganti dengan udara.
Dalam kegiatan ini kapal selam sederhana juga memiliki bagian-bagian, yaitu:
1. Botol plastik kosong digunakan sebagai pengganti tangki ballas yang berfungsi
sebagai penyimpan udara dan air.
2. Sedotan panjang diatas botol plastik digunakan sebagai pengganti katup udara
yang berfungsi sebagai tempat memasukkan udara kedalam dan mengeluarkan
udara dari botol plastik.
3. Sedotan pendek dibawah botol plastik digunakan sebagai pengganti katup air
yang berfungsi sebagai tempat
untuk memasukkan air kedalam dan
mengeluarkan air dari botol plastik.
4. Mulut digunakan sebagai pengganti tangki kompresor udara yang berfungsi
sebagai pemompa air keluar dari botol plastik dan diganti dengan udara.
Kapal selam sederhana dapat menyelam dan mengapung berkat pengaturan
udara yang berada di dalamnya. Ketika kapal selam sederhana harus menyelam,
botol plastik diisi dengan air. Hal ini membuat massa jenis air yang dimasukan
kedalam botol plastik lebih besar dari pada massa jenis udara didalam botol plastik ,
sehingga kapal selam sederhana menjadi berat dan tenggelam. Ketika kapal selam
sederhana ingin naik ke permukaan, air didalam botol plastik ditiup sehingga keluar
dari botol plastik dan diisi dengan udara. Hal ini menyebabkan massa jenis air
didalam botol plastik lebih kecil dari massa jenis udara, sehingga kapal selam
menjadi ringan lagi dan mulai mengapung.
Begitu juga dengan kapal selam sebenarnya. Cara kerja kapal selam merupakan
penerapan dari hukum Archimedes. Jika gaya ke atas (Fa) lebih besar daripada
berat total kapal selam, maka kapal selam terapung.
Untuk dapat membuat kapal selam terbenam kedalam air laut, beratnya harus
ditambah sehingga lebih besar daripada gaya keatas (w>Fa). Hal ini dilakukan
dengan membuka katup- katup yang memungkinkan air laut masuk kedalam tangki
pemberat. Sewaktu air laut masuk melalui katup-katup yang terletak di bagian
bawah tangki pemberat, air laut tersebut mendorong udara dalam tangki keluar
melalui katup-katup yang terletak di bagian atas. Air laut jauh lebih berat daripada

udara, sehingga berat total kapal selam menjadi lebih besar dan membuat kapal
selam terbenam. Jika kapal selam dikehendaki menyelam pada kedalaman tertentu,
maka awak kapal harus mengatur volum air laut dalam tangki pemberat sedemikian
sehingga berat total sama dengan gaya keatas. Pada saat tersebut kapal selam
melayang pada kedalaman tertentu dibawah permukaan laut.
Untuk membuat kapal selam mengapung kembali, udara dipompakan ke dalam
tangki pemberat. Udara ini menekan air laut sehingga air laut keluar melalui katupkatup bagian bawah. Udara jauh lebih ringan daripada air laut sehingga berat total
kapal selam menjadi lebih ringan dan kapal selam mengapung kembali.

BAB V
Penutup
A. Kesimpulan
1. Hukum archimedes menyatakan bahwa sebuah benda yang tercelup sebagian
atau seluruhnya ke dalam zat caair akam mengalami gaya ke atas yang besarnya
sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya.
2. Ketika kapal selam sederhana harus menyelam, botol plastik diisi dengan air.
Hal ini membuat massa jenis air yang dimasukan kedalam botol plastik lebih besar
dari pada massa jenis udara didalam botol plastik, sehingga kapal selam sederhana
menjadi berat dan tenggelam.
3. Ketika kapal selam sederhana ingin naik ke permukaan, air didalam botol plastik
ditiup sehingga keluar dari botol plastik dan diisi dengan udara. Hal ini menyebabkan
massa jenis air didalam botol plastik lebih kecil dari massa jenis udara, sehingga
kapal selam menjadi ringan lagi dan mulai mengapung.