Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS RESEP

1. Resep Asli

2. Uraian Resep
R/ Metronidazole No. III
S. Pro Inj
Ketorolac amp No. III
S. Pro Inj
OMZ 40 No. II
S. Pro Inj
Simvastatin 40mg No. III
S.0-0-1
Dorner 20 mg No. VI
S.2 dd 1
Pro : Ny S (64 Tahun)

3. Skrining Resep
a. Assesment

Diagnosa: pasien baru menjalani operasi


Hiperlipidemia
b. Administrative (Kelengkapan Resep)
Uraian

Pada Resep
Ada

Inscription
Identitas dokter
Nama dokter
1.
SIP dokter
2.
Alamat dokter

No

3.
4.
5.

Tidak

Nomor telepon
Tempat
dan

tanggal

penulisan resep
Invocatio
6.
Tanda
resep

diawal

penulisan resep (R/)


Prescriptio/Ordonatio
7.
Nama Obat
8.
Kekuatan Obat
9.
Jumlah Obat
Signatura
10.
Nama Pasien
11.
Jenis kelamin
12.
Umur Pasien
13.
Berat Badan Pasien
14.
Alamat Pasien
15.
Aturan pakai obat
16.
Iter/tanda lain
Subscriptio
17.
Tanda tangan/ paraf dokter

Kesimpulan: resep tersebut tidak lengkap


Resep tidak lengkap karena tidak mencantumkan informasi mengenai
alamat pasien, dan berat badan pasien.
Cara pengatasan Alamat dan berat badan pasien dapat ditanyakan langsung
kepada pasien/keluarga pasien.
c. Kesesuaian Farmasetis

No
1
2
3
4
5

Kriteria
Bentuk sediaan
Stabilitas obat
Inkompatibiltas
Cara pemberian
Jumlah dan aturan pakai

Permasalahan
-

Pengatasan
Sesuai
Sesuai
Sesuai
Sesuai
Sesuai

d. Dosis
No Nama Obat
1.
2.

Dosis

Dosis

Kesimpulan Rekomendasi

Resep
Literatur
Metronidazol
injeksi
sesuai
Simvastatin 40 1 x 1 pada Maks. 40 sesuai
mg

malam

mg/hari

hari

pada

malam hari
(MIMS.
3.

Dorner 20

2x 1

2012)
60 mcg/hr sesuai

(MIMS.
4.
5.

Omeprazol
Ketorolac

injeksi
injeksi

2012: 63)
sesuai
30-60 mg sesuai

q6h
e. Pertimbangan Klinis
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kriteria
indikasi
kontraindikasi
interaksi
Duplikasi/polifarmasi
alergi
Efek samping
Reaksi Obat Yang merugikan

4. Analisis DRPS
a. Obat Diperlukan
1) Metronidazol

permasalahan
-

pengatasan
-

Indikasi : Digunakan dalam pengobatan infeksi yang disebabkan oleh


organisme yang rentan, terutama bakteri anaerob dan protozoa.
Metronidazole efektif untuk pengobatan trikomoniasis seperti vaginitis
dan urethritis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, amebiasis
seperti amebiasis intestinal, dan amebiasis hepatic yang disebabkan
oleh E. Histolytica dan sebagai obat pilihan untuk giardiasis (Wibowo.
2009 :14).
2) Ketorolac
Indikasi : Merupakan agen antiinflamasi injeksi pertama. Seperti
NSAID yang lain, obat ini menghambat sintesis prostaglandin, tetapi ia
mempunyai khasiat analgesic yang lebih kuat dibandingkan dengan
agen-agen antiinflamasi lainnya. Ketorolac dianjurkan pemakaiannya
pada penanganan nyeri jangka pendek. Untuk nyeri pascabedah telah
terbukti khasiat analgesiknya sama atau lebih dibandingkan dengan
analgesic opioid. Obat ini diberikan intramuscular dalam dosis 30-60
mg q6h untuk dewasa (Joyce. 1996: 315)
3) Omeprazole (OMZ 40 mg Amp)
Indikasi : terapi jangka pendek ulkus duodenal dan lambung, refluks
wsofalgis, sindroma Zolinger- Ellison (MIMS. 2012: 8).
4) Simvastatin 40 Mg
Indikasi: Menurunkan jumlah kolesterol total dan LDL pada
Hiperkolesterolemia primer dan sekunder serta meningkatkan HDL
(MIMS. 2012: 62)
5) Dorner 20
Komposisi : Beraprost Na
Indikasi: memperbaiki tukak, nyeri, dan rasa dingin yang berhubungan
dengan oklusi arterial kronik, hipertensi pulmonal primer (MIMS.
2012: 75).
b. Ketepatan Dosis
1) Metronidazole
Dosis:
a) Metronidazol tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan botol
infusan. Metronidazol tablet tersedia dalam ukuran 250 mg dan 500
mg. Untuk kapsul, metronidazol tersedia dalam ukuran 375 mg.
Sedangkan dalam kemasan botol infusan, metronidazol tersedia

dalam ukuran 500 mg/100ml. Metronidazol dapat ditemukan


sebagai obat paten maupun generik.
b) Dosis metronidazol sebagai terapi infeksi anaerob (misal pada luka
diabetes atau infeksi orga dalam tubuh) ialah 7,5 mg/kg berat badan
sebanyak 3-4 kali sehari selama 7-10 hari. Secara praktis,
metronidazol biasa diresepkan berupa tablet 500mg, diminum tiga
kali sehari selama 7 hari. Pada pasien yang dirawat di rumah sakit,
metronidazol diberikan lewat infusan dengan dosis 15 mg/kg berat
badan. Dosis maksimal ialah 4 gram per hari. Untuk infeksi kelamin
dan diare akibat trichomonas, metronidazol diberikan 500 mg, dua
kali sehari selama 7 hari. Sedangkan untuk diare akibat amoeba,
metronidazol diberikan sebanyak 750 mg, 2-3 kali sehari selama 510 hari.
c) Untuk anak-anak, dosis Metronidazol tergantung berat badan.
Dosisnya ialah 15 mg/kg berat badan/hari tiga kali sehari. Untuk
bayi umur kurang dari 7 hari, dosisnya ialah 7,5 mg/kg berat
badan/hari.
(MIMS. 2012: 242)
2) Ketorolac
Dosis : Obat ini diberikan intramuscular dalam dosis 30-60 mg q6h
untuk dewasa (Joyce. 1996: 315).
3) Simvastastin
Dosis : awal 10 mg/hari dosis tunggal pada malam hari. Dosis dapat
disesuaikan dengan interval tidak < 4 minggu. Maks 40 mg/ hari dosis
tunggal (malam hari) (MIMS. 2012: 63).
4) Dorner 20
Dosis : Memperbaiki tukak, nyeri, dan rasa dingin yang berhubungan
dengan oklusi, arterial kronik dewasa: 120 mcg/hari dan 3 dosis terbagi.
Hipertensi Pulmonal primer 60 mcg/ hari dalam 3 dosis terbagi. Bila
perlu, tingkatkan dosis s/d maks 180 mcg/hari dalam 3-4 dosis terbagi
(MIMS. 2012-75-76).
5) Omeprazole
Dosis: 20 mg 1 x/ hari selama 2-4 minggu. Pasien yang sukar
disembuhkan dengan terapi lain 40 mg 1x hari selama 4-8 minggu.
Amp 40 mg x 1 (MIMS. 2012: 8).

c. Reaksi Obat Yang tidak diinginkan


1) Metronidazole
Efek samping : mual, munta, rasa tidak enak pada abdomen, rasa
logam

pada

lidah,

diare,

neuropati

perifer,

leukopenia,

dan

trombositopenia sementara. Aplasia sum-sum tulang. Urin berwarna


gelap. Ruam eriternatosus, peruritus, fotosensitivitas, hipertensi, infark
miokard, RA dan tromboflebitis
2) Ketorolac
Efek samping : tukak, pendarahan, disfungsi ginjal berat atau punya
resiko gagal ginjal, gangguan hemostatic, diathesis hemoragik.
3) Omeprazole
Efek samping : jarang, gangguan GI, sakit kepala, ruam kulit
4) Dorner 20
Efek samping : sakit kepala, rasa hangat dan kemerahan pada wajah,
gangguan pada GI, Kecenderungan pendarahan, pusing, peningkatan
kadar enzim hati, trigliserida, dan bilirubin (MIMS. 2012: 76)
5) Simvastatin 40 mg
Efek samping : nyeri abdomen, konstipasi, dan kembung (MIMS.
2012: 63)
d. Interaksi Obat
1) Metronidazole
Interaksi Obat :

kumarin, alcohol, disulfiram, phenobarb, litium,

terfenadin, astemizol, fluorourasil, azatioprin (MIMS. 2012: 242).


a) Metronidazole menghambat metabolisme warfarin dan dosis
antikoagulan kumarin lainnya harus dikurangi. Metronidazole
meningkatkan risiko efek samping antikoagulan kumarin.
b) Pemberian alkohol selama terapi dengan metronidazole dapat
menimbulkan gejala seperti pada disulfiram yaitu mual, muntah,
sakit perut dan sakit kepala.
c) Dengan obat-obat yang menekan aktivitas enzim mikrosomal hati
seperti simetidin, akan memperpanjang waktu paruh metronidazole
2) Simvastatin
Interaksi Obat : meningkatkan efek antikoagulan dari kumarin,
penggunaan bersama HMG CoA reduktase dengan asam nikotinat
meningkatkan Miopati (MIMS. 2012: 63).
3) Ketorolac
Interaksi Obat:

1) Pemberian Ketorolac bersama dengan Methotrexate harus hati hati


karena beberapa obat yang menghambat sintesis prostaglandin
dilaporkan

mengurangi

bersihan

Methotrexate,

sehingga

memungkinkan peningkatan toksisitas Methotrexate.


2) Penggunaan bersama NSAID dengan Warfarin dihubungkan
dengan perdarahan berat yang kadang-kadang fatal. Mekanisme
interaksi pastinya belum diketahui, namun mungkin meliputi
peningkatan

perdarahan

dari

ulserasi

gastrointestinal

yang

diinduksi NSAID, atau efek tambahan antikoagulan oleh Warfarin


dan penghambatan fungsi trombosit oleh NSAID. Ketorolac harus
digunakan secara kombinasi hanya jika benar-benar perlu dan
pasien tersebut harus dimonitor secara ketat.
3) ACE inhibitor karena Ketorolac dapat meningkatkan risiko
gangguan ginjal yang dihubungkan dengan penggunaan ACE
inhibitor, terutama pada pasien yang telah mengalami deplesi
volume.
4) Ketorolac mengurangi respon diuretik terhadap Furosemide kirakira 20% pada orang sehat normovolemik.
5) Penggunaan obat dengan aktivitas nefrotoksik harus dihindari bila
sedang memakai Ketorolac misalnya antibiotik aminoglikosida.
6) Pernah dilaporkan adanya kasus kejang sporadik selama
penggunaan Ketorolac bersama dengan obat-obat anti-epilepsi.
7) Pernah dilaporkan adanya halusinasi bila Ketorolac diberikan pada
pasien yang sedang menggunakan obat psikoaktif.
4) Omeprazole
Interaksi Obat:
a) Omeprazole dapat memperpanjang eliminasi obat-obat yang
dimetabolisme melalui sitokrom P-450 dalam hati yaitu diazepam,
warfarin, fenitoin.
b) Omeprazole mengganggu penyerapan obat-obat yang absorbsinya
dipengaruhi pH lambung seperti ketokonazole, ampicillin dan zat
besi.
5) Dorner 20
Interaksi Obat : warfarin, aspirin, tiklopidin, urokinase. Preparat
prostaglandin I2.

e. Tepat Obat
1) Metronidazole
Farmakologi : Metronidazole adalah antibakteri dan antiprotozoa
sintetik derivat nitroimidazoi yang mempunyai aktifitas bakterisid,
amebisid

dan

trikomonosid.

Dalam

sel

atau

mikroorganisme

metronidazole mengalami reduksi menjadi produk polar. Hasil reduksi


ini mempunyai aksi antibakteri dengan jalan menghambat sintesa asam
nukleat
2) Ketorolac
Farmakologi : Ketorolac merupakan suatu analgesik non-narkotik.
Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan
aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac
menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai
analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap
reseptor opiat.
3) Simvastatin
Farmakologi : Simvastatin adalah senyawa antilipermic derivat asam
mevinat yang mempunyai mekanisme kerja menghambat 3-hidroksi-3metil-glutaril-koenzim A (HMG-CoA) reduktase yang mempunyai
fungsi sebagai katalis dalam pembentukan kolesterol. HMG-CoA
reduktase bertanggung jawab terhadap perubahan HMG-CoA menjadi
asam mevalonat. Penghambatan terhadap HMG-CoA reduktase
menyebabkan penurunan sintesa kolesterol dan meningkatkan jumlah
reseptor Low Density Lipoprotein (LDL) yang terdapat dalam membran
sel hati dan jaringan ekstrahepatik, sehingga menyebabkan banyak LDL
yang hilang dalam plasma. Simvastatin cenderung mengurangi jumlah
trigliserida dan meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL)
kolesterol.
4) Omeprazole
Farmakologi:

Omeprazole

merupakan

antisekresi,

turunan

benzimidazole, yang bekerja menekan sekresi asam lambung dengan


menghambat H+/K+-ATPase (pompa proton) pada permukaan kelenjar
sel parietal gastrik pada pH < 4. Omeprazole yang berikatan dengan

proton (H+) secara cepat akan diubah menjadi sulfonamida, suatu


penghambat pompa proton yang aktif. Penggunaan omeprazole secara
oral menghambat sekresi asam lambung basal dan stimulasi
pentagastrik.
5) Dorner 20
Farmakologi : Beraprost adalah analog sintetik dari prostacyclin.
Beraprost memperbesar pembuluh darah, mencegah agregasi platelet
dan mencegah pengembangbiakan (proliferasi) sel otot halus di sekitar
pembuluh darah
5. MONITORING
Hal-hal yang perlu monitoring:
a.

Kondisi pasien, gejala yang dirasakan pasien, semakin membaik atau

b.
c.

tidak.
Memeriksa kemungkinan terjadinya alergi dan efek samping.
Kepatuhan pasien minum obat.

6. EVALUASI
a. Keberhasilan terapi: pasien sembuh atau tidak, gejala atau keluhan
hilang/tidak, pasien dapat beraktivitas seperti biasa.
b. Ada/tidaknya gejala/keluhan dan penyakit lain yang timbul setelah/selama
pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA
Joyce, Kee. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC.
Wibowo, Agus. 2009. Cerdas Memilih Obat dan Mengenali Penyakit. Jakarta: PT
Lingkar Pen Kreativa.
http://medicastore.com/obat/10729/DORNER_TABLET.html (Diakses pada hari
senin pukul 17.00 WITA)