Anda di halaman 1dari 6

Biofiltrasi adalah sebuah cara pemurnian limbah dengan bantuan bahan pengendali

biologis yang sangat efektif dan tidak membahayakan perairan maupun mencemari
perairan, bahkan dapat menyerap bahan logam berat seperti Mg dan lainnya.
Adapun pemanfaatan biofiltrasi ini seringkali digunakan untuk mengurangi kadar
organik dalam perairan seperti waduk. Apabila konsentrasi bahan organik terlalu
tinggi dalam perairan maka dampaknya akan menimbulkan pencemar bagi
tumbuhan dan hewan di perairan tersebut.
Walaupun bermanfaat bagi perairan, namun tumbuhan ini dapat menjadi gulma jika
perkembangbiakannya tidak dikontrol. Tumbuhan akan menutupi badan air yang
dapat merugikan tumbuhan lain yang hidup di dalamnya karena kurangnya
intensitas cahaya matahari yang masuk dari badan perairan. Pemanfaatan yang
sangat seimbang akan menimbulkan dampak yang sangat baik untuk menjaga
kandungan air dan juga memberikan kestabilan parameter air seperti pH, BOD dan
lain sebagainya
Salah satu penangulangan pencemaran limbah industri rumah tangga adalah
dengan menggunakan Biofiltrasi yang sangat aman dan menguntungkan bagi
komunitas perairan, dibandingkan menggunakan bahan kimia. Pemanfaatan bahan
kimia dapat berdampak pada perairan yang biasanya mengubah kadar pH, BOD, DO
dan lain sebagainya. Contohnya penggunaan tawas untuk penjernih air yang akan
megubah bau pada air dan semua bahan organik akan terendapkan sehingga tidak
ada bahan organik yang dibutuhkan untuk tumbuhan dan hewan air.
Tumbuhan yang digunakan sebagai Biofiltrasi memiliki kemampuan berbeda-beda
tergantung daya serap bahan organik. Terdapat beberapa contoh tanaman yang
dapat digunakan sebagai biofiltrasi seperti:
Enceng gondok (Eichhornia crassipes).
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah.
Tingginya sekitar 0,4 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan
berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun
menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk
bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk
bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau.
Akarnya merupakan akar serabut.
Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh enceng gondok antara lain :
Meningkatnya evapotranspirasi, penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun
tanaman), karena daun-daunnya lebar dan serta pertumbuhannya cepat.
Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan
menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens)
Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang
kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan
beberapa daerah lainnya
Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia

Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.


Pemanfaatan eceng gondok untuk memperbaiki kualitas air yang tercemar telah
biasa dilakukan, khususnya terhadap limbah domestik dan industri. Hal ini karena
eceng gondok memiliki kemampuan menyerap zat pencemar yang tinggi daripada
jenis tumbuhan lainnya.
Kecepatan penyerapan zat pencemar dari dalam air limbah oleh eceng gondok
dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya komposisi dan kadar zat yang
terkandung dalam air limbah, kerapatan eceng gondok, dan waktu tinggal eceng
gondok dalam air limbah. Moenandir (1990) menyebutkan, bahwa pada konsentrasi
kadar O2 yang terlarut dalam air 3,5 4,8 ppm perkembangbiakan eceng gondok
dapat berjalan dengan cepat.
Eceng gondok memiliki akar yang bercabang-cabang halus, permukaan akarnya
digunakan oleh mikroorganisme sebagai tempat pertumbuhan (Neis, 1993).
Muramoto dan Oki dalam Sudibyo (1989) menjelaskan, bahwa Eceng gondok dapat
digunakan untuk menghilangkan polutan, karena fungsinya sebagai sistem filtrasi
biologis, menghilangkan nutrien mineral, untuk menghilangkan logam berat seperti
cuprum, aurum, cobalt, strontium, merkuri, timah, kadmium dan nikel.
Little (1968), Lawrence dan Moenandir (1990), Haider (1991) serta Sukman dan
Yakup (1991), menyebutkan bahwa Eceng gondok banyak menimbulkan masalah
pencemaran sungai dan waduk, tetapi mempunyai manfaat antara lain:
Mempunyai sifat biologis sebagai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan
kimia buangan industri
Sebagai bahan penutup tanah (mulch) dan kompos dalam kegiatan pertanian dan
perkebunan
Sebagai sumber gas yang antara lain berupa gas ammonium sulfat, gas hidrogen,
nitrogen dan metan yang dapat diperoleh dengan cara fermentasi
Bahan baku pupuk tanaman yang mengandung unsur NPK yang merupakan tiga
unsur utama yang dibutuhkan tanaman
Sebagai bahan industri kertas dan papan buatan
Sebagai bahan baku karbon aktif
Sumber lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi produk yang lebih berguna,
seperti pakan ternak.
Kiambang (Salvinia natans)
Kiambang memiliki struktur tumbuh yang unik, beradaptasi dengan keadaan basah.
Hidup pada daerah yang selalu tergenang seperti sungai, selokan, waduk dan lain
sebagainya. Tumbuhan air ini memiliki keunikan dalam mengolah limbah organik.
Kemampuannya dalam mengolah limbah organik tidak diragukan lagi. Tumbuhan
berstolon ini menyerap makanan organiknya dengan cara penyerapan melalui akar
yang mirip rambut.

Kiambang biasanya mengapung di permukaan air dan selalu mengikut arah arus air.
Oleh karena itu, jika berada di daerah yang kadar airnya dapat turun hingga kering
tumbuhan ini akan mati. Sedangkan pada tumbuhan air yang lain seperti Eceng
Gondok, apabila daerah yang ditempati menjadi kering maka akar yang biasa
mengapung akan menembus tanah dan mencari cadangan air. Kiambang memiliki
struktur yang berbeda dengan Eceng Gondok. Tetapi memiliki perilaku
perkembangbiakan yang sama yaitu menggunakan stolon (tumbuh pada setiap sisi
daun).
Tumbuhan air yang biasa digunakan sebagai biofiltrasi adalah enceng gondok,
kayu apu, kangkung, kayambang, Azalla pinnata dan lain sebagainya. Penelitian
yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa Azolla pinnata mempunyal kemampuan
menurunkan COD rata-rata sebesar 82%, penurunan N-Total rata-rata sebesar 74%,
penurunan P-Total rata-rata sebesar 75%, dan mampu menaikkan pH dari 5,5
menjadi
8 dengan waktu detensi 6 hari pada air limbah pabrik tahu (Setyowati, 1999).
Herdiana (1989) mengemukakan bahwa kangkung di lingkungan industri soda, Warn
mampu menyerap Hg sebesar 292 ppb. Kartikasari (1998) menggunakan kangkung
untuk menurunkan konsentrasi Cr, setelah 32 hari temyata banyaknya Cr yang
terserap
oleh kangkung pada konsentrasi 2, 4, dan 6 ppm masing-masing sebesar 79, 159,
dan
239 mglkg tanaman. Muhayati (2002) menunjukkan bahwa kemampuan kayambang
untuk menurunkan konsentrasi Cd secara maksimum terjadi ketika waktu detensi 6
hari,
berat kayambang 150 gr, dan konsentrasi Cd 15 ppm.
Enceng gondok mampu menurunkan kadar fenol yang dipengaruhi adanya
logam Cu dan Zn yang mengalami penyerapan optimal pada konsentrasi di atas
300
ppm (Noor, 1994). Rahayu (1992) menggunakan enceng gondok untuk menurunkan
konsentrasi Cd, setelah 10 hari temyata banyaknya Cd yang terserap oleh enceng
gondok pada konsentrasi 4, 8, dan 12 ppm masing-masing sebesar 2,7; 4,1; dan 5,5
ppm. Enceng gondok juga mampu menurunkan bahan pencemar dalam air limbah
samak Cr berkisar antara 2,5 - 87% (Sunaryo, Mulati, dan Sutyasmi, 1992),
Srivastaw

(1994) juga telah menggunakan Salvinia dan Spirodella untuk mengurangi kadar Cr
dan
Ni dalam air limbah sebesar 56 - 96% untuk Salvinia dan 18 -72% untuk Spirodella.
Satyakala (1992) membandingkan penyerapan Cr dalam larutan dengan enceng
gondok
dan kayu apu pada konsentrasi 25 - 50 ppm dan diperoleh hasil yang sarna, dimana
dalam enceng gondok serapan terbesar terjadi mulai dari akar, stolon, daun,
sedangkan
pada kayu apu serapan terbesar terjadi mulai dari akar kemudian daun.
Kayu apu mampu menurunkan COD, N-Total, dan P-Total berturut-turut sebesar
64,7%; 72,3%; dan 69,3% pada limbah pabrik tahu dengan waktu detensi optimum
adalah 20 hari (Sari, 1999). Pengaruh logam berat Pb terhadap penyerapan logam
berat
Cd setelah 12 hari dihasilkan konsentrasi Cd yang tersisa dalam larutan (1+0); (1+
1)
dan (1+10) adalah 1,44%; 3,63% dan 5,32% (Ulfin, Prawita, dan Zainuddin, 2000).
Kemudian Ulfin (2001) memanfaatkan kayu apu untuk menurunkan kadar logam Cd
dan Pb dengan variasi pH dan jumlah kayu apu dimana hasil penyerapan optimum
pada
konsentrasi 10 ppm dan waktu penyerapan 6 hari pada pH 6 serta jumlah kayu apu
75
gram per liter larutan.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut diatas secara umum diketahui bahwa
besamya kemampuan penyerapan logam oleh tanaman air dipengaruhi oleh
konsentrasi
logam, pH larutan, jumlah tanaman yang digunakan, waktu penyerapan,
keberadaan
logam lain. Penggunaan kayu apu dalam proses biofiltrasi masih memiliki potensi
untuk
dikembangkan lebih jauh lagi terutama untuk penyerapan logam berat yang lain,
misalkan saja Zn. Ada banyak sekali industri yang menghasilkan Zn sebagai bahan
3 ..
,
..

pencemar utama misalnya industri pestisida, polimer, peleburanlpengolahan besi


dan
baja, operasi penyempurnaan baja, peleburan timah hitam, tekstil, manufaktur dan
perakitan kendaraan dan mesin, elektroplating dan galvanis, cat, baterai sel kering
dan
basah, komponen elektronik, zat wama dan pigmen, daur ulang minyak pelumas
bekas,
sabun-deterjen, disinfektan, kosmetik, pengolahan lemak hewanilnabati (Bapedal,
2000). Kaim dan Schwedeski (1994) menyatakan bahwa substitusi logam pusat oleh
logam lain pada fitokelatin dapat terjadi karena logam tersebut memiliki
karakteristik
kimia yang sarna misalnya jari-jari ion, sebagai contoh substitusi Ca (99 pm) atau
Zn
(74 pm) oleh Cd (97 pm), oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan pengujian
terhadap kemampuan kayu apu dalam menyerap Zn dalam larutan yang
dipengaruhi
oleh Cd serta penyerapan dalam air limbah yang mengandung Zn.

Biofiltrasi merupakan suatu teknologi berkembang yang menawarkan


beberapa keuntungan dibandingkan dengan metode-metode lainnya yang dapat
digunakan untuk mendegradasikan gas-gas pencemar. Prinsip dari biofiltrasi
secara relatif mudah; aliran udara yang terkontaminasi dilewatkan melalui
medium yang berpori dimana terimobilisasi mikroorganisme yang dapat
mendegradasi polutan. Ketika udara terkontaminasi melalui medium, kontaminan
dalam aliran udara terabsorpsi oleh biofilm dan kontaminan ini akan teroksidasi
untuk menghasilkan biomassa, CO2, H2O, NO3-, dan SO4-2 (Filayuri, 2009).
Berikut merupakan keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dengan
menggunakan proses biofiltrasi dibandingkan dengan teknologi-teknologi lainnya.
Satu-satunya produk samping yang dihasilkan oleh biofilter adalah limbah
biomassa, yang mana bentuk penanganannya dapat berupa tindakan
pembuangan secara langsung ke saluran pembuangan. Pada proses termal
dihasilkan nitrogen oxide yang dapat menyebabkan pengrusakkan ozon

dan pembentukan kabut, sedangkan pada proses oksidasi kimia yang


menggunakan hipoklorit akan menghasilkan klorin dan produk terklorinasi
(Govind, 1999).
Biofiltrasi merupakan suatu proses yang bekerja pada temperatur dan
tekanan ambien sehingga menghasilkan karbon dioksida yang minimum,
sedangkan proses termal memerlukan tambahan gas alam untuk mencapai
temperatur tinggi yang mana meningkatkan emisi karbon dioksida secara
signifikan (Govind, 1999).
Unit biofiltrasi dapat disesuaikan ukurannya untuk berbagai penyettingan
industri. Unit ini dapat didesain dengan berbagai bentuk, ukuran, maupun
bentuk terbuka dengan pipa-pipa dan sistem pengantaran bawah
permukaan tanah. Selain itu, biofilter dapat dibentuk bed bertumpuk guna
menghemat ruang dan juga beberapa unit dapat dipasang secara pararel
(Anit & Artuz).
Dapat digunakan untuk menghilangkan kontaminan dalam konsentrasi
yang rendah dan laju alir yang cukup tinggi (Govind, 1999).