Anda di halaman 1dari 27

PENANGANAN KERUSAKAN JALAN

DI ATAS TANAH EKSPANSIF

Dibawakan oleh:
Hendarto

Dipresentasikan pada:
Kegiatan Penyegaran Konsultan Perencana
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI, Makassar
8 Mei 2013

Tanah ekspansif
Tanah atau batuan kelempungan yang memiliki potensi
kembang-susut akibat perubahan kadar air,

Karakteristik
Berasal dari batuan sedimen yang mengandung mineral
montmorrilonite kelompok smectite

IP tinggi
Berat isi kering tinggi

Tanah mengandung lempung (butiran > 30%) dengan mineral


MONTMORILLONITE (sedimen)

Potensi kembang susut besar (Mengembang musim hujan dan


menyusut musim kemarau) dicirikan adanya Adanya zona aktif

Tanah dengan plastisitas tinggi, PI >15% dan LL >40%

Adanya oksidasi mineral-mineral Misal : SULFIT SULPHANE

Ciri-ciri permasalahan terjadi pada jalan di tanaha ekspansif:

terjadi retakan memanjang pada perkerasan

penurunan lapisan perkerasan dan bergelombang

terlihat peninggian (cembung) di bagian tepi

sering terjadi longsoran badan jalan

Penyebaran tanah ekspansif


Tanah ekspansif di Pulau Jawa menempati dataran rendah sampai daerah perbukitan
bergelombang rendah yang dapat berupa endapan alluvium atau endapan vulkanik, meliputi
formasi aluvium (Qa), formasi Notopuro (Qpnv) dan endapan gunung api (Qav). Tanah
ekspansif ini didominasi oleh jenis tanah lempung lanauan atau lanau lempungan berwarna
abu-abu sampai hitam. Mineral lempung tanah ekspansif pada umumnya terdiri dari
montmorillonite, illite, kaolinite. Lokasi penyebaran tanah ekspansif di Pulau Jawa

Ruas jalan yang melewati tanah ekspansif antara lain adalah:


ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek, propinsi Jawa Barat;
ruas jalan Jatibarang-Karangampel, propinsi Jawa Barat;
ruas jalan Semarang-Kudus, Demak-Godong, propinsi Jawa Tengah;
ruas jalan Semarang Purwodadi, propinsi Jawa Tengah;
ruas jalan WirosariCepu, propinsi Jawa Tengah;
ruas jalan Yogyakarta-Wates, propinsi Yogyakarta;
ruas jalan Bojonegoro-Babat-Lamongan-Gresik-Surabaya, propinsi Jawa Timur;
ruas jalan Ngawi-Caruban, propinsi Jawa Timur.

Ciri-ciri Kerusakan Perkerasan


1) Retakan sampai kedalaman 10-50cm (akibat adanya
kembang-susut)
2) Pengangkatan (akibat pengembangan) permukaan
jalan jadi bergelombang)
3) Penurunan (pungurangan volume akibat
proses
penyusutan
4) Longsoran (infiltrasi pada lokasi retakan yg berakibat
pada pengurangan kuat geser sekitar lereng timbunan

Ciri-ciri kerusakan perkerasan

Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan

Ciri-ciri kerusakan perkerasan

Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan

Retakan memanjang

Longsoran jalan pada tanah ekspansif


Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan

Identifikasi Tanah Ekspansif


A. Langsung

1. Uji Pengembangan bebas Free swell


(Nilai kembang bebas dinyatakan sebagai perbandingan perubahan
volume terhadap volume awalnya, yang dinyatakan dalam persen.
Sodium montmorillonite (bentonite) dapat memiliki kembang bebas
sebesar 1200% sampai dengan 2000%.
Tanah yang memilki nilai kembang bebas minimal 100% akan
mengalami pengembangan yang cukup besar di lapangan saat berada
pada kondisi basah. Tanah pada kondisi ini perlu dipertimbangkan
dalam desain)

2. Perubahan volume potensial


(Perubahan volume potensial atau disebut juga potential volume change
(PVC) diukur dengan menggunakan PVC meter)
400

300

LE
MB

AP

250

DA

200

IN

150

KE
R

100
BA
SA
H

INDEKS PENGEMBANGAN (kPa)

350

50
10
0

4 5

TIDAK
KRITIS SEDANG KRITIS

9 10 11 12

SANGAT KRITIS

POTENSI PERUBAHAN VOLUME

3. Potensi pengembangan melalui indeks pengembangan


Prinsip pengujiannya serupa dengan uji perubahan volume potensial,
yang membedakannya hanyalah penggunaan beban tambahan
konstan.
Indeks pengembangan (EI)

0 20
21 50
51 90
91 130
> 130

Potensi pengembangan

Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi

B. Tidak langsung
.1 Batas Atterberg

.2 Batas Atterberg dan uji penetrasi standar


.3 Tingkat keaktifan (Activity)

4. Mineral lempung
Identifikasi tanah lempung (Van der Merwe, 1964)

Korelasi indeks plastisitas dengan potensi pengembangan (Chen,1988)

Indeks Plastisitas
0 15
10 35
20 55
> 55

Potensi
Pengembangan
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi
12

Korelasi data lapangan dan laboratorium dengan tingkat pengembangan (Chen, 1965)

Persentase
Lolos # 200

LL
(%)

N
(pukulan/kaki)

Kemungkinan
Pengembangan
(% Perubahan volume
total)

> 95

> 60

< 30

> 10

Sangat tinggi

60 95

40 60

20 30

3 10

Tinggi

30 60

30 40

10 20

15

Sedang

< 30

< 30

> 10

<1

Rendah

Data Lapangan dan Laboratorium

Tingkat
Pengembangan

Klasifikasi Potensi Kembang (Seed et al., 1962)

Mineral Lempung (Skempton, 1953)

Mineral
Kaolinite
Illite
Montmorilonite (Ca)
Montmorilonite (Na)

Keaktifan
0,33 0,46
0,90
1,5
7,2
13

Pertimbangan desain
1) Kembang susut
2) Stabilitas
3) Faktor keamanan
4) Parameter desain
Kuat geser: kohesi (c) dan sudut geser dalam ()
Indeks kompresibilitas (Cc) dan koefisien
konsolidasi (Cv)
5) Tekanan mengembang (swelling pressure)
6) Hisapan tanah
7) Pengangkatan tanah ke atas (heaving)
14

Mekanisme heaving dan


kembang susut tanah ekspansif

15

Desain konstruksi di atas tanah ekspansif


1) Zona aktif
Fungsi kadar air (w) dengan kedalaman (D)
Fungsi kadar air dibagi indeks plastisitas (w/PI) dengan
w / PI
kedalaman (D)
0

0,2

0,4

0,6

0,8

1,0

2) Kestabilan timbunan
1

3) Pemadatan tanah

Penentuan kuat geser tanah tak jenuh

Kedalaman (m)

4) Kuat geser tanah

ZONA
AKTIF

5) Retak tarik

Penentuan kedalaman retak tarik:

16

Teknik konstruksi di atas tanah ekspansif


1) Penggantian material
2) Manajemen air
3) Stabilisasi
4) Penggunaan membran
a) Geosintetik
b) Beton
c) Aspal

5) Penerapan geomembran
a) Membran horisontal
b) Membran vertikal

c) Membran pembungkus lapisan tanah

6) Pembebanan
17

No.
1.

Metode Konstruksi
Stabilisasi dengan semen -

2.

Pelat beton

3.

Aspal

4.

Membran horisontal

5.

Membran vertikal

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan


Tipe semen yang digunakan adalah semen Portland dengan persentase
4 6%, dengan tujuan mengurangi potensi perubahan volume.
Pelaksanaan stabilisasi dengan semen sama dengan yang dilakukan
pada stabilisasi dengan kapur.
Penggunaan stabilisasi dengan semen tidak seefektif stabilisasi dengan
kapur untuk tanah lempung berplastisitas tinggi.
Trotoar yang terbuat dari pelat beton sebaiknya diberikan tulangan.
Sambungan lentur harus dapat menghubungkan trotoar dengan
fondasinya.
Harus sering dilakukan pemeriksaan terhadap retak dan kebocoran
Membran menerus harus ditempatkan di sepanjang tanah dasar dan
saluran samping apabila aspal digunakan pada konstruksi jalan raya.
Membran horisontal harus diperpanjang hingga cukup jauh dari
perkerasan jalan atau fondasi untuk mencegah pergerakan air secara
horisontal ke dalam tanah fondasi.
Dibutuhkan kehati-hatian pada saat memasang membran di atas
fondasi, merekatkan sambungan, serta memiringkan membran hingga
berada di bawah dan jauh dari struktur.
Bahan membran harus tahan lama dan terbuat dar bahan yang tidak
mudah terdegradasi.
Sambungan yang menghubungkan membran dengan struktur harus kuat
dan tidak tembus air
Dibutuhkan kemiringan yang cukup untuk mengalirkan drainase
permukaan langsung dari ujung-ujung membran
Membran harus dipasang sedalam mungkin sesuai dengan peralatan
yang digunakan.
Kedalaman pemasangan minimum yang digunakan adalah setengah
dari kedalaman zona aktif
Tanah timbunan yang digunakan untuk mengisi parit harus kedap air.

5.

Membran vertikal

6.

Membran pembungkus
lapisan tanah

7.

Pembebanan

Bahan membran harus tahan lama dan terbuat dar bahan yang tidak
mudah terdegradasi.
Sambungan yang menghubungkan membran dengan struktur harus kuat
dan tidak tembus air
Dibutuhkan kemiringan yang cukup untuk mengalirkan drainase
permukaan langsung dari ujung-ujung membran
Membran harus dipasang sedalam mungkin sesuai dengan peralatan
yang digunakan.
Kedalaman pemasangan minimum yang digunakan adalah setengah
dari kedalaman zona aktif
Tanah timbunan yang digunakan untuk mengisi parit harus kedap air.
Setiap sambungan harus tertutup rapat.
Material yang digunakan harus tahan lama dan kuat terhadap urugan
pasir.
Penempatan lapisan pertama di atas membran bawah harus diawasi
untuk mencegah kerusakan
Apabila tekanan mengembang relatif rendah serta deformasinya masih
dapat ditolerir, maka penggunaan metode pembebanan ini cukup
efektif.
Diperlukan pengujian tanah untuk menentukan kedalaman zona aktif
dan besarnya tekanan mengembang maksimum yang akan dibebani.
Pengawasan drainase sangat diperlukan selama pembebanan
berlangsung untuk mencegah pengaliran air baik pada arah vertikal
maupun horisontal.

biaya

Tiang Pancang / Pile


Slab

Barier (Membran Vertikal)

Barier (Membran Horizontal)

Stabilisasi Tanah

Membungkus dengan
Membran

Manajemen Air
(sistim Drainase)

Penggantian
material

Konstruksi Jalan di Tanah Ekspansif


Kedalaman Zone Aktif

Tipe Konstruksi vs biaya vs jenis dan tebal tanah bermasalah

Membran horisontal pada konstruksi jalan

Membran vertikal pada konstruksi jalan

Membran pembungkus lapisan tanah pada konstruksi jalan

21

Pemasangan geomembran horisontal

Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan

22

Pemasangan geomembran horisontal

Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan

23

Pemasangan Vertical Barrier

Balai Geoteknik Jalan, Puslitbang Jalan dan Jembatan

24

Instrumentasi
Instrumentasi diperlukan untuk alasan :
memberikan data untuk pengukuran volume pekerjaan,
mengontrol prosedur atau jadwal pelaksanaan,
jika ketidakpastian desain besar dan faktor keamanan

kecil,
untuk pelaksanaan timbunan percobaan,
untuk mengevaluasi apakah metode solusi yang
diadopsi efektif,
untuk meningkatkan pengetahuan pada saat ini.

25

Instrumentasi

26

Kelas Instrumentasi

Tujuan

Tipe Instrumen

Kelas A

Kualitas tinggi dan


instrumentasi lengkap untuk
timbunan percobaan

Pelat penurunan
Penanda penurunan
Ekstensometer magnetis
Inklinometer
Pisometer
Patok geser
Pelat penurunan
Penanda penurunan
Ekstensometer batang
Pisometer
Inklinometer
Patok geser
Alat pembaca sederhana

Kelas B

Instrumentasi untuk timbunan


tinggi seperti timbunan oprit,
perbaikan tanah menggunakan
penyalir vertikal,
prabeban/penambahan beban
lebih, konstruksi bertahap atau
penimbunan terkontrol

Kelas C

Instrumentasi untuk pekerjaan


konstruksi normal

Pelat penurunan
Penanda penurunan permukaan
Pisometer
Patok geser

Kelas D

Instrumentasi untuk memantau


penurunan jangka
panjang/pekerjaan rehabilitasi

Penanda penurunan permukaan

27