Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

KATA PENGANTAR
Puji syukur Kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas anugerah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang Pancasila Sebagai Ideologi Negara.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan Makalah ini selain untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
Dosen pengajar, juga untuk lebih memperluas pengetahuan para mahasiswa khususnya bagi penulis.
Penulis telah berusaha untuk dapat menyusun Makalah ini dengan baik, namun penulis pun menyadari bahwa
kami memiliki akan adanya keterbatasan kami sebagai manusia biasa. Oleh karena itu jika didapati adanya
kesalahan-kesalahan baik dari segi teknik penulisan, maupun dari isi, maka kami memohon maaf dan kritik
serta saran dari dosen pengajar bahkan semua pembaca sangat diharapkan oleh kami untuk dapat
menyempurnakan makalah ini terlebih juga dalam pengetahuan kita bersama. Harapan ini dapat bermanfaat
bagi kita sekalian

Tomohon, Oktober 2013


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....1
DAFTAR ISI .2
BAB 1 PENDAHULUAN.3
1.1 Latar Belakang3
1.2 Rumusan Masalah.4
1.3 Tujuan..............................................................................................5
BAB 2 PEMBAHASAN...6
2.1 Hakikat Pancasila Sebagai Dasar Negara.......................................6
2.2 Pancasila Sebagai Dasar Negara....................................................7
2.3 Pancasila Sebagai Ideologi Negara...............................................10
2.4 Pancasila Sebagai Ideologi Tertutup dan Terbuka........................11
BAB 3 PENUTUP13
3.1 Kesimpulan.....................................................................................13
3.2 Saran..............................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA ...14

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebelum tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia belum merdeka. Bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa lain.
Banyak bangsa-bangsa lain yang menjajah atau berkuasa di Indonesia, misalnya bangsa Belanda, Portugis,
Inggris, dan Jepang. Paling lama menjajah adalah bangsa Belanda. Penjajahan Belanda berakhir pada tahun
1942, tepatnya tanggal 8 Maret. Sejak saat itu Indonesia diduduki oleh bala tentara Jepang.
Namun Jepang tidak terlalu lama menduduki Indonesia. Mulai tahun 1944, tentara Jepang mulai kalah dalam
melawan tentara Sekutu. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu Jepang dalam
melawan tentara Sekutu, Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan
oleh Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada
tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia, yaitu janji
kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari
Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura).

Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan
mengadakan sidang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 - 1 Juni 1945. Pada sidang pertama itu, banyak anggota
yang berbicara, dua di antaranya adalah Muhammad Yamin dan Bung Karno, yang masing-masing mengusulkan
calon dasar negara untuk Indonesia merdeka. Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota
BPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang
masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan
mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Panitia Kecil yang
beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon
Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta. Dalam sidang
BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah merumuskan rancangan Hukum Dasar.
Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada
tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari
kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu
dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi
kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan
preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden.
Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan Preambul, Bung Hatta
terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi
Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya. Intinya, rakyat Indonesia bagian
Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata ketuhanan yang berbunyi dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia
bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh.
Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain
kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta berusaha meyakinkan
tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi
persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan
dicoretnya dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya di belakang kata
Ketuhanan dan diganti dengan Yang Maha Esa.
B.
1.
2.
3.
4.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah hakikat pancasila sebagai dasar negara ?
Bagaimanakah pancasila sebagai dasar negara ?
Bagaimanakah pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara ?
Bagaimanakah pancasila sebagai ideologi terbuka dan ideologi tertutup ?

C. TUJUAN
Kelompok kami menyusun makalah ini bertujuan agar para pembaca bisa mengetahui tentang Pancasila sebagai
ideologi negara dan pancasila sebagai ideologi bangsa indonesia yang sesungguhnya, dan dengan adanya
makalah ini juga di harapkan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.
BAB II
PEMBAHASAN
A.

HAKIKAT PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut pancasila sebagai dasar negara mempunyai sifat imperatif atau memaksa serta
memiliki nilai nilai luhur yang terkandung dalam pancasila yang bersifat obyektif subyektif. Bagi bangsa
indonesia hakikat yang sesungguhnya dari pancasila adalah sebagai pandangan hidup bangsa dan sebagai dasar
negara. Kedua pengertian tersebut sudah selayaknya kita pahami akan hakikatnya. Selain dari pengertian
tersebut, pancasila memiliki beberapa sebutan yang berbeda.
Menurut pendapat Harol H.Titus defenisi dari ideologi adalah suatu istilah yang digunakan untuk sekelompok
cita-cita mengenai berbagai macam masalah politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu
rencana yang sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh sekelompok atau lapisan masyarakat
Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai suatu sistem pemikiran terbuka yang dimana memiliki ciri-ciri
ideologi dan fungsi ideologi sesuai bidangnya. Pancasila sebagai ideologi memiliki dua ciri yaitu ideologi
terbuka dan ideologi tertutup.
B. SARAN
Makalah yang kami susun semoga bisa membantu kita lebih memahami tentang pancasila sebagai ideologi
negara yang lebih mendalam. Mohon permakluman dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat
banyak kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman. Karena tiadalah sesuatu yang sempurna yang bisa manusia
ciptakan.
DAFTAR PUSTAKA
Al Marsudi Subandi H. 2003. Pancasila dan UUD45 dalam Paradigma Reformasi. Jakarta : Rajawali Pers.
Setiady Elly M, Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wahana, Paulus. 1993. Filsafat Pancasila. Kanisius. Yogyakarta. hal 20
Suwarno, P.J., 1993,Pancasila Budaya Bangsa Indonesia, Yogyakarta: Kanisiu

A.

Hakikat Proklamasi
Sebelum kita membahas apa itu Proklamasi, ada baiknya kita mengkaji terlebih dahulu proses terjadinya
Proklamasi Kemeredekaan. Pembahasan ini penting agar kalian lebih mengerti dan menjiwai arti Proklamasi
yang sebenarnya sehingga kalian tidak salah dalam bertindak dan memiliki sikap kemandirian untuk
mengantisipasi segala upaya yang merongrong kewibawaan dan keutuhan negara Kesatuan RI.
Adapun latar belakang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diawali :

1.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 dikota Hiroshima di Jepang di bom oleh Sekutu dipimpin oleh tentara Amerika
Serikat.

2.

Pada tanggal 9 Agustus 1945 dikota Nagasaki di jepang juga di bom oleh tentara Sekutu.

3.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 jepang menyerah tanpa syarat.

4.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 terjadi kekosongan kekuasaan (Vacum of Power)


Namun dalam pelaksanaan terdapat perbedaan pendapat antara pejuang golongan muda yang antara lain
terdiri dari Sukarni, Adam Malik, Kusnani, Syahrir, Soedarsono, Soepono, Chaerul Saleh menghendaki
kemerdekaan secepat mungkin dan pejuang golongan tua yang antara lain Soekarno dan Hatta tidak ingin
terburu-buru karena mereka tidak menginginkan terjadi pertumpahan darah pada saat proklamasi.
Kemudian selanjutnya diadakan pertemuan dalam bentuk rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia) atau disebut Dokuritsu Zyunbi Linkai dalam bahasa Jepang. Para Pejuang golongan muda tidak
menyetujui rapat tersebut dan menganggap PPKI adalah adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang.
Selanjutnya para pejuang golongan muda menculik Soekarno dan Hatta serta membawanya ke Rengasdengklok
tujuan penculikan ini adalah agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Sementara itu di Jakarta

diadakan perundingan antara golongan muda yang diwakili Wikana dan golongan tua yang diwakili Mr. Ahmad
Soebardjo menyetujui untuk proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta.
Selanjutnya Perumusan Teks Proklamasi, dilaksanakan di kediaman Laksamana Maeda. Dalam rapat
tersebut dihasilkan konsep naskah Proklamasi dan telah disepakati konsep Soekarno lah yang diterima,
kemudian disalin dan diketik oleh Sayuti Melik dan pada tanggal 17 Agustus 1945 hari Jumat jam 10.00 pagi di
Pegangsaan Timur 56 Jakarta dibacalah Teks Proklamasi.
Kemudian apa yang dimaksud dengan proklamasi menurut bahasa Yunani asal kata Proklamasi dari kata
Proclamatio artinya pengumuman kepada seluruh rakyat, sedang Proklamasi Kemerdekaan merupakan
pengumuman kepada seluruh rakyat akan aanya kemerdekaan.
Dengan demikian Proklamasi mempunyai arti :
1.

Telah diserukan kepada warga dunia akan adanya sebuah negara baru yang bebas dari penjajahan negara lain.

2.

Menjadi tonggak sejarah perjuangan bangsa.

3.

Telah lahir negara baru yang memiliki kedudukan sama dengan negara lain.

4.

Dapat meningkatkan taraf hidup rakyat

5.

Merupakan suatu cita-cita bangsa.

B.

Makna Proklamasi Kemerdekaan


Adapun makna Proklamasi Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yaitu:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyatakan kepada dunia luar, bangsa Indonesia telah merdeka


Indonesia telah merdeka dan berdaulat
Mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan bangsa lain yang sudah merdeka.
Memberi dorongan dan rangsangan untuk mencapai cita-cita nasional bangsa Indonesia.
Mengambil sikap untuk menentukan nasib sendiri dalam berbagai aspek kehidupan.
Menjadi dasar berlakunya segala macam norma aturan.

3.

RANGKUMAN
Hakekat Proklamasi Kemerdekaan adalah Pengumuman kepada seluruh rakyat akan adanya
kemerdekaan sedangkan Proklamasi Kemerdekaan merupakan norma pertama atau norma dasar atau aturan
dasar dari tata hukum Indonesia, sehingga Proklamasi Kemerdekaan menjadi dasar bagi berlakunya segala
macam norma atau aturan atau ketentuan hukum yang lain-lain.
Kemudian makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah bahwa Bangsa Indonesia menyatakan
kepada dunia luar maupun kepada bangsa Indonesia sendiri bahwa sejak saat itu bangsa Indonesia telah
merdeka.

PASCA PROKLAMASI KEMERDEKAAN


Setelah berabad-abad bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dan dilandasi oleh semangat
kebangsaan, serta telah mengorbankan nyawa maupun harta yang tidak terhitung junlahnya, maka peristiwa
proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik puncak perjuangan tersebut. Proklamasi
Kemerdekaan merupakan peristiwa yang sangat penting dan memiliki makna yang sangat mendalam bagi
bangsa Indonesia. Makna dan arti pentingnya Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia antara lain:

Dari sudut Hukum, prokamasi merupakan pernyataan yang berisi keputusan bangsa Indonesia untuk
menetapkan tatanan hukum nasional (Indonesia) dan menghapuskan tatanan hukum kolonial

Dari sudut politik-idiologis, proklamasi merupakan pernyataan bangsa Indonesia yang


lepas dari
penjajahan dan membentuk Negara Proklamasi Republik Indonesia yang bebas, merdeka dan berdaulat
penuh

Sebagai puncak perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan

Sebagai alat hukum internasional untuk menyatakan kepada rakyat dan seluruh dunia,
bahwa
bangsa Indonesia mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri untuk menggenggam seluruh hak
kemerdekaan

Merupakan mercusuar yang menunjukkan jalannya sejarah, pemberi inspirasi dan


dalam perjalanan bangsa Indonesia di semua lapangan di setiap keadaan

motivasi

Demikianlah beberapa makna dan arti penting proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dengan proklamasi
kemerdekaan tersebut, maka bangsa Indonesia telah lahir sebagai bangsa dan negara yang merdeka, baik secara
de fakto maupun secara de yure.
Kemerdekaan yang dicapai oleh bangsa Indonesia, bukanlah akhir dari perjuangan. Setelah
Kemerdekaan dicapai tidak berarti perjuangan telah selesai. Kemerdekaan merupakan Jembatan Emas bagi
bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, yaitu masyarakat yang adil dan makmur.
Wilayah Indonesia sangatlah luas. Komunikasi dan transportasi sekitar tahun 1945, saat Proklamasi
Kemerdekaan dikumandangkan, masih sangat terbatas. Di samping itu, hambatan dan larangan untuk
menyebarkan berita Proklamasi oleh Pasukan Jepang di Indonesia, merupakan sejumlah faktor yang
menyebabkan berita proklamasi mengalami keterlambatan di sejumlah daerah, terutama di luar Jawa. Namun
dengan penuh tekad dan semangat berjuang pada akhirnya peristiwa Proklamasi diketahui oleh segenap rakyat
Indonesia. Lebih jelasnya ikuti pembahasan di bawah ini.
Untuk daerah Jakarta khususnya, berita proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 segera
menyebar secara luas. Pada hari itu juga , teks Proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari
Kantor Domei, Waidan B. Palenewen. Ia menerima teks Proklamasi dari seorang wartawan Domei yang
bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F. Wuz seorang markonis, supaya disiarkan tiga kali
berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil
marah-marah, sebab mengetahui berita Proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara. Meskipun orang Jepang
tersebut memerintahkan penghentian siaran berita Proklamasi, tetapi Waidan Penelewen tetap meminta F. Wuz
untuk terus menyiarkan. Berita Proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam sampai pukul 16.00 saat
siaran berhenti. Akibat dari penyiaran tersebut, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat
berita dan menyatakan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar tersebut disegel oleh Jepang
dan para pegawainya dilarang masuk.
Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda ternyata membuat pemancar
baru, dengan bantuan teknisi radio, diantaranya Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka
mendirikan pemancar baru di Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya berita
Proklamasi Kemerdekaan disiarkan. Usaha dan perjuangan para pemuda dalam penyebarluasan berita
proklamasi juga dilakukan melalui media pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam
penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita Proklamasi Kemerdekaan dan Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran pertama yang memuat berita
Proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan
Sumanang.
Proklamasi Kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia melalui pemasangan plakat,
poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api, misalnya dengan slogan Respect our
Constitution, August 17! Hormatilah Konstitusi kami tanggal 17 Agustus. Melalui berbagai cara dan media
tersebut, akhirnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah Indonesia dan di
luar negeri.
1.
a.
b.
c.

Untuk membentuk dan mendirikan suatu negara, persyaratan yang diperlukan antara lain:
Syarat Konstitutif, meliputi:
wilayah
rakyat
pemerintahan yang sah

2.

Syarat Deklaratif:
- ada pengakuan dari negara lain
Bangsa Indonesia setelah mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 yang
diwakili oleh Soekarno-Hatta, pada kenyataannya belum sempurna sebagai suatu negara. Oleh karena itu
langkah yang diambil oleh para pemimpin melalui PPKI mengadakan rapat pada tanggal 18 Agustus 1945.
Sebelum rapat dimulai, muncul permasalahan yang disampaikan oleh wakil dari luar Jawa, diantaranya Mr.
Latuharhary (Maluku), Dr. Sam Ratulangi (Sulawesi), Mr. Tadjudin Noor dan Ir. Pangeran Noor (Kalimantan)
dan Mr. I Ktut Pudja (Nusa Tenggara) yang menyampaikan keresahan penduduk non-Islam mengenai kalimat
dalam Piagam Jakarta yang nantinya akan dijadikan rancangan pembukaan dan Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia. Kalimat yang dimaksud adalah Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariah Islam
bagi pemeluk-pemeluknya, serta syarat seorang kepala negara haruslah seorang muslim. Untuk mengatasi
masalah tersebut Drs. Mohammad Hatta beserta Ki Bagus Hadikusumo, Wachid Hasyim, Mr. Kasman
Singadimedjo, dan Mr. Teuku Mohammad Hassan membicarakan secara khusus. Akhirnya dengan
mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas dan menegakkan Negara Republik Indonesia yang baru saja
didirikan, rumusan kalimat yang dirasakan memberatkan oleh kelompok non-Islam dihapus sehingga menjadi
berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan syarat Seorang kepala negara adalah orang Indonesia asli.
Rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945, merupakan rapat pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan, dibuka
oleh Ketua PPKI Ir. Soekarno. Dalam pidato pembukaannya, secara singkat Soekarno mengemukakan:
Sidang yang terhormat. Pada hari ini kita berada pada satu saat yang mengandung sejarah. Pada hari ini
kita menyusun Undang Undang Dasar Negara Indonesia yang kemerdekaannya kemarin menurut kehendak
rakyat telah dipermaklumkan dengan proklamasi yang diumumkan pula kepada rakyat kira-kira jam setengah
12 Nippon.
Tuan-tuan sekalian tentu mengetahui dan mengakui bahwa kita duduk dalam suatu jaman yang beralih sebagai
kilat cepatnya. Maka berhubung dengan itu saya minta kepada tuan-tuan sekalian supaya kitapun bertindak di
dalam sidang sekarang ini dengan kecepatan kilat. Janganlah kita tertarik oleh kehendak yang kecil-kecil, tetapi
marilah kita menurut garis- besar saja yang mengandung sejarah

Beberapa keputusan penting dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 diantaranya:
Mengesahkan dan menetapkan Undang Undang Dasar Republik Indonesia yang telah dipersiapkan oleh
Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI), yang kemudian dikenal dengan Undang Undang Dasar 1945. Pembukaan
Undang Undang Dasar 1945 terkandung dasar negara yang dikenal dengan Pancasila. Dengan demikian
Pancasila Dasar Negara rumusannya yang otentik adalah yang terdapat di dalam Pembukaan Undang Undang
Dasar 1945.
2.
Memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden. Pemilihan presiden
dan wakil presiden dilakukan secara aklamasi atas usul dari Otto Iskandardinata.
3.
Membentuk sebuah Komite Nasional untuk membantu Presiden selama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum tersusun.
Pada hari berikutnya, tanggal 19 Agustus 1945 PPKI melanjutkan sidangnya dan berhasil memutuskan:
v Pembagian wilayah, terdiri atas 8 propinsi yaitu:
1.
Jawa Barat, Gubernurnya Sutarjo Kartohadikusumo
2.
Jawa Tengah, Gubernurnya R. Panji Suroso
3.
Jawa Timur, Gubernurnya R.A. Suryo
4.
Borneo (Kalimantan), Gubernurnya Ir. Pangeran Muhammad Noor
5.
Sulawesi, Gubernurnya Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangie
6.
Maluku, Gubernurnya Mr. J. Latuharhary
7.
Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Gubernurnya Mr. I. Gusti Ktut Puja
8.
Sumatra, Gubernurnya Mr. Tengku Mohammad Hassan
v Membentuk Komite Nasional (Daerah)
v Menetapkan 12 departemen dengan menterinya yang mengepalai departemen dan 4 menteri negara. Adapun 12
departemen tersebut meliputi:
1.
Departemen Dalam Negeri dikepalai RAA Wiranata Kusumah
2.
Departemen Luar Negeri dikepalai Mr. Ahmad Subardjo
3.
Departemen Kehakiman dikepalai Prof. Dr. Mr. Soepomo
4.
Departemen Keuangan dikepalai Mr. AA Maramis
5.
Departemen Kemakmuran dikepalai Soerachman Tjokroadisurjo
6.
Departemen Kesehatan dikepalai Dr. Buntaran Martoatmojo
7.
Departemen Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan dikepalai Ki Hajar Dewantara
1.

8.
Departemen Sosial dikepalai Iwa Kusumasumantri
9.
Departemen Pertahanan dikepalai Supriyadi
10. Departemen Perhubungan dikepalai Abi Kusno Tjokrosoeyoso
11. Departemen Pekerjaan Umum dikepalai Abi Kusno Tjokrosoeyoso
12. Departemen Penerangan dikepalai Mr. Amir Syarifudin
Sedangkan 4 menteri negara yaitu :
Menteri negara Wachid Hasyim
Menteri negara M. Amir
Menteri negara R. Oto Iskandardinata
Menteri negara R.M Sartono

1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.

Di samping itu diangkat pula beberapa pejabat tinggi negara yaitu :


Ketua Mahkamah Agung , Dr. Mr. Kusumaatmaja
Jaksa Agung, Mr. Gatot Tarunamiharja
Sekretaris negara, Mr. A.G. Pringgodigdo
Juru bicara negara, Soekarjo Wirjopranoto
Sidang PPKI yang ke tiga tanggal 22 Agustus 1945 memutuskan :
v Pembentukan Komite Nasional
v Membentuk Partai Nasional Indonesia
v Pembentukan Badan Keamanan Rakyat
Komite Nasional Indonesia adalah badan yang akan berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
sebelum diselenggarakan pemilihan umum. Wewenang KNIP sebagai DPR ditetapkan dalam rapat KNIP tanggal
16 Oktober 1945. Dalam rapat itu, wakil presiden Drs. Moh. Hatta mengeluarkan Keputusan Presiden RI Nomor
X yang isinya memberikan kekuasaan dan wewenang kepada KNIP untuk ikut serta menetapkan GBHN
sebelum MPR terbentuk. Komite Nasional Indonesia disusun dari tingkat pusat sampai ke daerah. Pada tingkat
pusat disebut Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan pada tingkat daerah yang disusun sampai tingkat
kawedanan disebut Komite Nasional Daerah.
Peran Komite Nasional diatur di UUD 1945 dalam Aturan Peralihan pasal IV yang isinya : sebelum MPR,
DPR dan DPA dibentuk menurut UUD ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh presiden dengan bantuan
Komite Nasional.
Peristiwa- Peristiwa Sekitar Proklamasi
a. Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah
pemuda (a.l. Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan
Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke
Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta
Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di
Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah
direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta
pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di
rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56. Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah
tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara jepang sudah berjagajaga, untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi pembacaan teks proklamasi,
dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56. Teks Proklamasi disusun di Jakarta, bukan di

Rengasdengklok, bukan di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong yang diusir dari rumahnya oleh anggota
PETA agar dapat ditempati oleh "rombongan dari Jakarta". Naskah teks proklamasi di susun di rumah
Laksamana Muda Maeda di Jakarta, bukan di Rengasdengklok. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para
pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan
Indonesia.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda
yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo,
kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan
Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan
proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di
Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan
teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang
"dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut)
Dr. Hermann Kandeler.
Pada waktu itu Soekarno dan Moh. Hatta, tokoh-tokoh menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI,
sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang
dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Moh. Hatta tidak
terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan
hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Sebelumnya golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga bakteriologi di
Pegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan
kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Hasil keputusan
disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak Soekarno karena merasa bertanggung jawab
sebagai ketua PPKI.
Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya terbakar
gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan
bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih,
salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur
yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa
Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.

Makna Proklamasi Kemerdekaan Dan Konstitusi Pertama


A. HAKIKAT DAN MAKNA PROKLAMASI KEMERDEKAAN

1. Hakikat Proklamasi

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan hasil perjuangan yang gigih para pendiri Negara
(founding father. Selanjutnya kita berkewajiban untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, sehingga
meningkatkan kualitas pemahaman kita akan makna Proklamasi Kemerdekaan itu sendiri dan makna hidup
berbangsa dan bernegara yang bebas dari belenggu penjajahan.
Latar belakang adanya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diawali dengan dijatuhkannya bom atom oleh
tentara Amerika Serikat pada tanggal 6 Agustus 1945 di kota Hiroshima dan pada tanggal 9 Agustus 1945 bom
atom kedua dijatuhkan di kota Nagasaki Jepang.
Hal ini menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu yang diketuai oleh Amerika Serikat. Pada
saat itulah kesempatan dipergunakan sebaik-baiknya oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia untuk
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan Jepang.
Namun dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan pendapat diantara para pejuang. Pejuang golongan muda
yang antara lain terdiri dari Sukarni, Adam Malik, Kusnaini, Syahrir, Soedarsono, Soepono, Chaerul Saleh
menghendaki kemerdekaan secepat mungkin, dan pejuang golongan tua yang antara lain Soekarno dan Hatta
tidak ingin terburu-buru karena mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi.
Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan dengan proklamasi kemerdekaan saat itu
dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, serta dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang
Indonesia belum siap. Kemudian pertemuanpun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI (Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zyunbi Linkai dalam bahasa Jepang). Para pejuang golongan muda tidak
menyetujui rapat itu, dan menganggap PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka
menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan dari pemberian Jepang. Pada saat itu para
pejuang golongan muda kehilangan kesabaran kemudian mereka menculik Soekarno dan Hatta serta
membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.
Tujuan penculikan adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Mereka
meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang serta
siap menanggung risikonya. Sementara itu di Jakarta, golongan muda yang diwakili Wikana, dan golongan tua
yang diwakili Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad
Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr.
Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan
kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka langsung menuju ke rumah Laksamana Maeda di Oranye Nassau
Boulevard (sekarang menjadi Jl. Imam Bonjol No. 1 gedung museum perumusan teks proklamasi) yang
diperkirakan aman dari Jepang. Sekitar 15 pemuda berkumpul di sana antara lain B.M. Diah, Bakri, Sayuti
Melik, Iwa Kusumasumantri, Chaerul Saleh, untuk menegaskan bahwa pemerintah Jepang tidak campur tangan
tentang proklamasi. Para pejuang muda menuntut Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan
melalui radio, disusul pengambilalihan kekuasaan. Mereka juga menolak rencana PPKI untuk
memproklamasikan kemerdekaan pada 16 Agustus 1945.
Di kediaman Laksamana Maeda (Jl. Imam Bonjol No.1) para pejuang kemerdekaan melakukan rapat semalam
suntuk untuk mempersiapkan teks Proklamasi. Dalam rapat tersebut dihasilkanlah konsep naskah Proklamasi
dan telah disepakati konsep Soekarnolah yang diterima, kemudian disalin dan diketik oleh Sayuti Melik, dan
pagi harinya tanggal 17 Agustus 1945 berhubung alasan keamanan pembacaan teks Proklamasi dilakukan di
rumah kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang menjadi Jalan Proklamasi No.
1). Tepat pada jam 10 pagi waktu Indonesia bagian barat hari Jumat Legi, Soekarno yang didampingi Moh
Hatta membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Apa yang dimaksud dengan Proklamasi itu?

Asal kata Proklamasi adalah dari kata proclamatio (bhs. Yunani) yang artinya pengumuman kepada
seluruhrakyat. Pengumunan tersebut terutama pada hal-hal yangberhubungan dengan ketatanegaraan.Proklamasi
Kemerdekaan merupakan pengumumankepada seluruh rakyat akan adanya kemerdekaan.Pengumuman akan
adanya kemerdekaan tersebutsebenarnya tidak hanya ditujukan kepada rakyat darinegara yang bersangkutan
namun juga kepada rakyatyang ada di seluruh dunia dan kepada semua bangsa yangada di muka bumi ini.
Dengan Proklamasi, telah diserukan kepada wargadunia akan adanya sebuah negara baru yang terbebas
daripenjajahan negara lain.Dengan Proklamasi, telah lahir sebuah negara baru yang memiliki kedudukan yang
sama dengan negara-negara lain yang telah ada sebelumnya. Proklamasi menjadi tonggak awal munculnya
negara baru dengan tatanan kenegaraannya yang harus dihormati oleh negaranegara lain di dunia. Proklamasi
Kemerdekaan bagi suatu bangsa juga dapat merupakan puncak revolusi, tonggak sejarah perjuangan bangsa
tersebut yang telah lama dilakukan untuk dapat terbebas dari belenggu penjajah. Proklamasi Kemerdekaan bagi
suatu bangsa yang belum merdeka merupakan sesuatu yang sangat diidamidamkan untuk terlaksananya,
dikarenakan dengan Proklamasi Kemerdekaan, bangsa yang bersangkutan dapat hidup sederajat dengan bangsabangsa lain. Dengan Proklamasi Kemerdekaan, bangsa yang bersangkutan dapat meningkatkan taraf kehidupan
bangsanya. Dengan Proklamasi Kemerdekaan bangsa yang bersangkutan dapat meningkatkan taraf kecerdasan
bangsanya serta dapat mengejar segala ketertinggalan yang dialami oleh bangsanya dengan mengembangkan
segala potensi yang dimilikinya. Oleh karenanya Proklamasi Kemerdekaan bagi suatu bangsa merupakan
sesuatu yang tak ternilai harganya, sehingga untuk meraihnya, suatu bangsa harus berjuang mati-matian penuh
pengorbanan.

Pada umumnya kemerdekaan bagi suatu bangsa dimaksudkan untuk:


a. melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa lain;
b. dapat hidup sederajat dengan bangsa-bangsa lain yang telah merdeka dalam pergaulan antar bangsa di dunia
internasional;
c.

mencapai tujuan nasional bangsa.

Untuk memenuhi maksud dikumandangkannya kemerdekaan, maka setelah Proklamasi Kemerdekaan bangsa
yang bersangkutan haruslah mempertahankannya dengan segala upaya dan dengan perjuangan yang gigih untuk
mengisi kemerdekaan yang telah diproklamasikannya itu, dengan tujuan untuk mencapai tujuan nasional bangsa
sebagai cita-cita bangsa yang bersangkutan yang telah lama diperjuangkan. Proklamasi Kemerdekaan bangsa
Indonesia merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia yang telah lama dilakukan agar dapat terbebas dari
belengggu penjajah Belanda. Bangsa Indonesia sudah lama berjuang untuk meraih kemerdekaan dengan penuh
pengorbanan jiwa dan raga serta harta benda. Meskipun sebelumnya perjuangan bangsa Indonesia ini masih
bersifat kedaerahan, namun sejak berdirinya pergerakan bangsa Boedi Oetomo pada tahun 1908 telah
menunjukkan tekad kuat perjuangan bangsa Indonesia untuk dapat meraih kemerdekaan dan berdirinya sebuah
negara yang berdaulat. Oleh karenanya Proklamasi Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia memiliki makna yang
sangat mendalam.

2. Makna Proklamasi Kemerdekaan


Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan oleh SoekarnoHatta memiliki makna bahwa bangsa Indonesia
telah menyatakan kepada dunia luar maupun kepada bangsa Indonesia sendiri bahwa sejak saat itu Bangsa
Indonesia telah merdeka dan berdaulat, sehingga wajib dihormati oleh negaranegara lain secara layak sebagai
bangsa dan negara yang mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat serta hak dan kewajiban yang sama
dengan bangsa-bangsa lain yang sudah merdeka dalam pergaulan antar bangsa di dalam hubungan internasional.
Sedangkan pernyataan kepada bangsa Indonesia sendiri juga untuk memberikan dorongan dan rangsangan bagi
bangsa Indonesia, bahwa sejak saat itu bangsa Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat

dengan bangsa-bangsa lain yang sudah merdeka dalam pergaulan dunia, sehingga mempunyai hak dan
kewajiban untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diperoleh dan memperjuangkan
tercapainya cita-cita nasional bangsa Indonesia. Pernyataan merdeka dari bangsa Indonesia juga mempunyai arti
sejak saat itu bangsa Indonesia telah mengambil sikap untuk menentukan nasib sendiri beserta tanah airnya
dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian berarti bahwa bangsa Indonesia akan menyusun negara sendiri
dengan tata aturan sendiri, sehingga pada saat itu telah berdiri Negara baru, yaitu Negara Indonesia. Dengan
dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan telah menandai berdirinya sebuah negara baru, dan dengan
berdirinya negara baru ini maka sebagai konsekuensinya negara baru ini harus memiliki tata hukum sendiri
untuk mengatur segala kehidupan bernegara di dalam negara baru tersebut. Sebuah negara baru merupakan
suatu organisasi kemasyarakatan yang bertujuan dengan kekuasaannya mengatur serta menyelenggarakan
sesuatu masyarakat (Logemann). Mengatur dan menyelenggarakan sesuatu masyarakat inilah diperlukan suatu
tata aturan kehidupan, yang dengan kata lain disebut pula tata hukum.
Proklamasi Kemerdekaan yang telah dikumandangkan oleh SoekarnoHatta menjadi tonggak bagi berdirinya
negara Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan tersebut menjadi dasar bagi berjalannya kehidupan bernegara
bangsa Indonesia. Oleh karena itulah Proklamasi Kemerdekaan merupakan norma pertama atau norma dasar
atau aturan dasar dari tata hukum Indonesia, sehingga Proklamasi Kemerdekaan menjadi dasar bagi berlakunya
segala macam norma atau aturan atau ketentuan hukum yang lain-lainnya. Dengan kata lain, Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia merupakan norma pertama dari pada tata hukum baru, yaitu tata hukum Indonesia.