Anda di halaman 1dari 26

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi saluran kemih merupakan penyakit infeksi yang dapat mengenai semua
kelompok umur baik anak, remaja, dewasa, maupun usia lanjut. Angka kejadian
penyakit ini lebih sering pada perempuan daripada laki-laki dengan angka populasi
umum sekitar 5%-15%. Prevalensi pada anak usia sekolah 1-3%, dan meningkat pada
remaja yang sudah melakukan hubungan seksual. Prevalensi penyakit ini akan terus
meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Sehingga perbandingan prevalensi antara
perempuan dan laki-laki yaitu 2:1. Pasien infeksi saluran kemih di dunia sekitar 150
juta, baik yang ringan maupun dengan komplikasi (Galur W E, 2001).
Penyakit infeksi saluran kemih terutama disebabkan oleh bakteri-bakteri gram
negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella, Pseudomonas, Proteus; bakteri gram positif
seperti Staphylococcus aureus; dan beberapa fungi serta virus (Tessy A. dkk, 2001).
Berdasarkan bukti-bukti yang ada, dalam mengontrol angka kesakitan,
disabilitas dan kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi dengan menggunakan
antibiotik. Antibiotik yang digunakan dalam mengatasi dan mengontrol infeksi saluran
kemih yang disebabkan oleh bakteri gram negatif diantaranya adalah antibiotik
gentamisin dan kotrimoksazol, tetapi kenyataannya banyak pasien yang tidak membaik
setelah pemberian antibiotik, salah satu faktor yang mendasari hal tersebut adalah
timbulnya resisten bakteri terhadap jenis antibiotik tertentu (Tessy A. dkk, 2001).
Pada tahun-tahun mendatang, perkembangan dan penyebaran resistensi bakteri
terhadap antibiotik dinilai sebagai ancaman utama bagi kesehatan publik di dunia.
Resistensi bakteri terhadap antibiotik telah diidentifikasi sejak awal keberadaan
antibiotik itu sendiri dan merupakan bagian dari sistem pertahanan bakteri yang dapat
meningkatkan kemampuan untuk mempertahankan diri di lingkungan hospes. Pada
awalnya resistensi bakteri ditemukan di wilayah rumah sakit. Namun, pada tahun 1960,
resistensi bakteri telah ditemukan pada strain dari bakteri yang terdapat di komunitas
yang menyebabkan gonorrhea (Neisseria gonorrhea). Oleh karena itu, pola kepekaan
bakteri terhadap antibiotik terus berubah-ubah, diperlukan adanya pengawasan dan
pemantauan dari waktu ke waktu terhadap perkembangan resistensi bakteri (Ginting Y,
2007).

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 1

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

Mengingat tingginya angka kejadian ISK, pentingnya diagnosis, dan tatalaksana


yang tepat untuk memperbaiki fungsi ginjal pada penderita ISK maka pada blok XV
Sistem Urinaria dan Genitalia Maskulina dilakukan kegiatan Tugas Pengenalan
Profesi dengan tema Infeksi Saluran Kemih untuk membahas hal tersebut dan melihat
penerapannya pada kasus klinis.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam Tugas Pengenalan Profesi ini adalah:
1. Apa saja penyakit ISK terbanyak berdasarkan data kasus penyakit di RSI Siti
Khadijah?
2. Bagaimana manifestasi klinis penyakit ISK pada pasien di RSI Siti Khadijah?
3. Bagaimana cara penegakan diagnosis penyakit ISK pada pasien di RSI Siti
Khadijah?
4. Bagaimana penatalaksanaan penyakit ISK pada pasien di RSI Siti Khadijah?
5. Bagaimana komplikasi penyakit infeksi ISK pada pasien di RSI Siti Khadijah?
1.3 Tujuan Kegiatan
Tujuan dalam Tugas Pengenalan Profesi ini adalah:
Tujuan umum:
1. Melaksanakan Tugas Pengenalan Profesi dengan judul ISK di RSI SITI
KHADIJAH sebagai kompetensi tugas kelompok yang harus dilakukan dan
diselesaikan dalam pembelajaran Blok XV yaitu Sistem Urinaria dan Genitalia
Maskulina.
Tujuan khusus:
1. Untuk mengetahui penyakit ISK terbanyak berdasarkan data kasus penyakit di
RSI Siti Khadijah.
2. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinis penyakit ISK pada pasien
di RSI Siti Khadijah.
3. Untuk mengetahui dan memahami cara penegakan diagnosis penyakit ISK pada
pasien di RSI Siti Khadijah.
4. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan penyakit ISK pada pasien di
RSI Siti Khadijah.
5. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi penyakit infeksi ISK pada pasien
di RSI Siti Khadijah.
1.4

Manfaat Kegiatan

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 2

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

Manfaat dalam Tugas Pengenalan Profesi ini adalah:


1. Untuk mahasiswa
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang penyakit-penyakit ISK.
2. Untuk staf pengajar & profesi khususnya bidang kesehatan
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang penyakit-penyakit ISK.
b. Dapat dijadikan sebagai literatur pembandingan dalam pengajaran penyakitpenyakit ISK.
c. Dapat menambah wawasan akan epidemiologi penyakit-penyakit ISK,
khususnya angka kejadian tingkat lokal seperti di RSI Siti Khadijah.
3. Untuk masyarakat
a. Dapat menambah wawasan terhadap penyakit-penyakit ISK.
b. Dapat melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit-penyakit ISK.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 3

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Anatomi dan Fisiologi Saluran Kemih
Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi
kolumna vertebralis. Pada orang dewasa, panjang ginjal adalah sekitar 12 cm 13 cm
(4,7 inci hingga 5,1 inci), lebarnya 6 cm (2,4 inci) dan sekitar 50 gram. Ukurannya
tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran tubuh. Ginjal kanan sedikit lebih rendah
dibandingkan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutub atasnya terletak
setinggi iga kedua belas, sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi iga kesebelas.
Ginjal terletak di bagian belakang abdomen atas, dibelakang peritoneum, di depan dua
iga terakhir, dan tiga otot besar transversus abdominis, kuadratus lumborum, dan
psoas mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang
tebal. Kelenjar adrenal terletak di atas kutub masing masing ginjal. Ginjal terlindung
dengan baik dari trauma langsung (Tessy, 2001).

Kedua ureter merupakan saluran yang panjangnya sekitar 10 12 inci (25


hingga 30 cm), terbentang dari ginjal sampai vesika urinaria. Fungsi satu satunya
adalah menyalurkan urine ke vesika urinaria (Corwin, 2008).

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 4

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

Vesika urinaria adalah suatu kantiong berotot yang dapat mengempis terletak di
belakang simfisis pubis. Vesika urinaria mempunyai tiga muara : dua dari ureter dan
satu menuju uretra. Dua fungsi vesika urinaria adalah : (1) sebagai tempat penyimpanan
urine sebelum meninggalkan tubuh dan (2) berfungsi mendorong urine keluar tubuh
(dibantu uretra) (Tessy, 2001).
Uretra adalah saluran kecil yang dapat mengembang berjalan dari vesika urinaria
sampai ke luar tubuh; panjang pada perempuan sekitar 1 inci (4 cm) dan pada laki
laki sekitar 8 inci (20 cm) (Corwin, 2008).
2.2 Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal, ureter, bulibuli, ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang
menunjukkan keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin (Sukandar, E., 2006).
Bakteriuria bermakna (significant bacteriuria): bakteriuria bermakna
menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme murni lebih dari 105 colony forming unit
(cfu/ml) pada biakan urin. Bakteriuria bermakna mungkin tanpa disertai presentasi
klinis ISK dinamakan bakteriuria asimtomatik (convert bacteriuria). Sebaliknya
bakteriuria bermakna dan disertai persentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria
simtomatik. Pada beberapa keadaan pasien dapat disertai dengan persentasi klinis tanpa
bakteriuria bermakna. Piuria bermakna (significant pyuria), bila ditemukan netrofil >10
per lapangan pandang. (Sukandar, E., 2006)
2.3 Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih
Menurut Sukandar (2006), Infeksi saluran kemih (ISK) diklasifikasikan
berdasarkan letak infeksinya:
A. Infeksi Saluran Kemih (ISK) Bawah
Presentasi klinis infeksi saluran kemih (ISK) bawah tergantung dari gender.
1. Perempuan
a. Sistitis, adalah presentasi klinis infeksi saluran kemih disertai
bakteriuria bermakna.
b. Sindroma uretra akut (SUA), adalah presentasi klinis sistitis tanpa
ditemukan mikroorganisme (steril).
2. Laki-laki
Presentasi ISK bawah pada laki-laki dapat berupa sistitis, prostatitis,
epidimidis, dan uretritis.
B. Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 5

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

1. Pielonefritis akut (PNA), adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang


disebabkan oleh infeksi bakteri.
2. Pielonefritis kronik (PNK), mungkin terjadi akibat lanjut dari infeksi bakteri
berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih serta
refluk vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonefritis
kronik yang spesifik.
2.4 Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) tergantung banyak faktor; seperti usia, gender,
prevalensi bakteriuria, dan faktor prediposisi yang menyebabkan perubahan struktur
saluran kemih termasuk ginjal (Sukandar, 2006).
Selama periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan
cenderung lebih banyak menderita ISK dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada lakilaki jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor prediposisi (Sukandar, 2006).
Menurut Sukandar (2006), Prevalensi bakteriuri asimtomatik lebih sering
ditemukan pada perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (school girl) 1%
meningkat menjadi 5% selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi
asimtomatik meningkat mencapai 30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai
faktor prediposisi, seperti:
1. Litiasis dan/atau Obstruksi saluran kemih
2. Penyakit ginjal polikistik
3. Nekrosis papilar
4. Diabetes melitus pasca transplatasi ginjal
5. Nefrofati analgesik
6. Penyakit sikle-sell
7. Kehamilan dan peserta KB dengan tablet progesteron
8. Kateterisasi
Tabel 2.1. Faktor Risiko Insidensi Infeksi Saluran Kemih
Umur
(Tahun)

Insidensi %
Perempuan
Laki-laki

Faktor risiko

<1

0,7

2,7

Foreskin, kelainan anatomi gastrourinary

1-5

4,5

0,5

Kelainan amatomi gastrourinary

6-15

4,5

0,5

Kelainan fungsional gastrourinary

16-35

20

0,5

Hubungan seksual, penggunaan diaphragm

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 6

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

36-65

35

20

>65

40

35

Pembedahan, obstruksi prostate,


pemasangan kateter
Inkontinensia, pemasangan kateter,
obstruksi prostat
(Sumber: Nguyen, H.T., 2004)

Pada anak yang baru lahir hingga umur 1 tahun, dijumpai bakteriuria di 2,7%
lelaki dan 0,7% di perempuan (Wettergren, Jodal, and Jonasson, 1985).
Insidensi ISK pada lelaki yang tidak disunat adalah lebih banyak berbanding
dengan lelaki yang disunat (1,12% berbanding 0,11%) pada usia hidup 6 bulan pertama
(Wiswell and Roscelli, 1986).
Pada anak berusia 1-5 tahun, insidens bakteriuria di perempuan bertambah
menjadi 4.5%, sementara berkurang di lelaki menjadi 0,5%. Kebanyakan ISK pada anak
kurang dari 5 tahun adalah berasosiasi dengan kelainan congenital pada saluran kemih,
seperti vesicoureteral reflux atau obstruction. Insidens bakteriuria menjadi relatif
constant pada anak usia 6-15 tahun. Namun infeksi pada anak golongan ini biasanya
berasosiasi dengan kelainan fungsional pada saluran kemih seperti dysfunction voiding.
Menjelang remaja, insidens ISK bertambah secara signifikan pada wanita muda
mencapai 20%, sementara konstan pada lelaki muda. Sebanyak sekitar 7 juta kasus
cystitis akut yang didiagnosis pada wanita muda tiap tahun. Faktor risiko yang utama
yang berusia 16-35 tahun adalah berkaitan dengan hubungan seksual. Pada usia lanjut,
insidens ISK bertambah secara signifikan di wanita dan lelaki. Morbiditas dan
mortalitas ISK paling tinggi pada kumpulan usia yang 65 tahun. (Nguyen, H.T., 2004).
2.5 Etiologi Infeksi Saluran Kemih
Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya
menghuni usus kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram negatif tersebut,
Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh:
Tabel 2.2. Mikroorganisme Penyebab Insidensi Infeksi Saluran Kemih
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mikroorganisme
Eschrichia coli
Klebsiela atau enterobacter
Proteus sp
Pseuomonas aeroginosa
Staphylococcus epidermidis
Enterococci

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 7

Presentase biakan (%)


50 90
10 40
5 10
2 10
2 10
12
(Sumber: Tessy, 2001)

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

Jenis kokus gram positif lebih jarang sebagai penyebab ISK sedangkan
Enterococci dan staphylococcus aureus sering ditemukan pada pasien dengan batu
saluran kemih. Lelaki usia lanjut dengan hiperplasia prostat atau pada pasien yang
menggunakan kateter urin. Demikian juga dengan pseudomonas aeroginosa dapat
mnginfeksi saluran kemih melalui jalur hematogen pada kira kira 25% pasien demam
tifoid dapat diisolasi salmonella dalam urin (Tessy, 2001).
2.6 Peran Faktor Host
Pada infeksi saluran kemih, terdapat beberapa hal yang mempengaruhi
perkembangannya pada pasien (host). Terdapat faktor predisposisi pencetus dan status
imunologi yang mempengaruhi perkembangan infeksi saluran kemih pada host.
1. Faktor Predisposisi Pencetus ISK
Penelitian epidemiologi klinik mendukung hipotensi peranan status saluran
kemih merupakan faktor risiko atau pencetus ISK. Jadi faktor bakteri dan status
saluran kemih pasien mempunyai peranan penting untuk kolonisasi bakteri pada
saluran kemih. Kolonisasi bacteria sering mengalami kambuh (eksaserbasi) bila
sudah terdapat kelainan struktur anatomi saluran kemih. Dilatasi saluran kemih
termasuk pelvis ginjal tanpa obstruksi saluran kemih dapat menyebabkan
gangguan proses klirens normal dan sangat peka terhadap infeksi. Endotoksin
(lipid A) dapat menghambat peristaltik ureter. Refluks vesikoureter ini sifatnya
sementara dan hilang sendiri bila mendapat terapi antibiotika. Proses
pembentukan jaringan parenkim ginjal sangat berat bila refluks visikoureter
terjadi sejak anak-anak. Pada usia dewasa muda tidak jarang dijumpai di klinik
gagal ginjal terminal (GGT) tipe kering, artinya tanpa edema dengan/tanpa
hipertensi. (Sukandar, E., 2006).
2. Status Imunologi
Penelitian laboratorium mengungkapkan bahwa golongan darah dan status
sekretor mempunyai konstribusi untuk kepekaan terhadap ISK.
2.7 Patogenesis Infeksi Saluran Kemih
Pada keadaan normal saluran kemih dan urin bebas dari mikroorganisme atau
steril. Infeksi saluran kemih terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 8

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

kemih dan berkembang biak di dalam media urin. Menurut Purnomo (2003),
Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui 4 cara, yaitu:
1. Ascending
2. Hematogen
3. Limfogen
4. Langsung dari organ sekitar yang sebelumnya sudah terinfeksi atau eksogen
sebagai akibat dari pemakaian instrument.
Sebagian besar mikroorgnisme memasuki saluran kemis melalui cara ascending.
Kuman patogen penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari flora
normal usus dan hidup secara komensal di introitus vagina, prepusium penis, kulit
perineum, dan sekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui uretra
prostat vas deferens testis (pada pria) buli buli ureter dan sampai ke ginjal
(Purnomo, 2003).
Dua jalur utama terjadinya ISK adalah ascending dan hematogen, tetapi dari
kedua cara ini ascending-lah yang paling sering terjadi, berikut merupakan penjelasan
mengenai 4 jalur mikroorganisme memasuki saluran kemih:

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 9

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

1. Ascending
Infeksi secara ascending (naik) dapat terjadi melalui 4 tahapan, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Kolonisasi mikroorganisme pada uretra dan daerah introitus vagina.


Masuknya mikroorganisme ke dalam buli-buli
Multiplikasi dan penempelan mikroorganisme dalam kandung kemih .
Naiknya mikroorganisme dari kandung kemih ke ginjal.

Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antara


mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran
kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena
pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agent yang
meningkat (Sukandar, 2006).
a. Faktor Host
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran
kemih disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertahanan lokal dari host
dan peranan sistem kekebalan tubuh yang terdiri dari imunitas selular dan
humoral.
Pertahananan lokal sistem saluran kemih yang paling baik adalah
mekanisme wash out urin, yaitu aliran urin yang mampu membersihkan
kuman kuman yang ada di dalam urin (Sukandar, 2006).
b. Faktor Agent (mikroorganisme)
Bakteri dilengkapi dengan pili atau fimbriae yang terdapat di
permukaannya. Pili berfungsi untuk menempel pada urotelium melalui
reseptor yang ada dipermukaan urotelium.
Selain itu beberapa bakteri mempunyai sifat dapat membentuk antigen,
menghasilkan toksin (hemolisin), dan menghasilkan enzim urease yang
dapat merubah suasana urin menjadi basa (Sukandar, 2006).
2. Hematogen
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh
yang rendah karena menderita suatu penyakit kronis atau pada pasien yang
mendapatkan pengobatan imunosupresif. Penyebaran hematogen bisa juga
timbul akibat adanya fokus infeksi di tempat lain. Misalnya infeksi
Staphilococcus Aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari
fokus infeksi di tulang, kulit, endotel, atau tempat lain. Salmonella,
pseudomonas, candida, dan proteus sp termasuk jenis bakteri/ jamur yang dapat
menyebar secara hematogen (Gardjito, 2005).

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 10

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

Walaupun jarang terjadi penyebaran hematogen ini dapat mengakibatkan infeksi


ginjal yang berat, misal infeksi staphylococcus dapat menimbulkan abses pada
ginjal (Gardjito, 2005).
3. Limfogen
Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang disalurkan
melalui hilum ginjal (Rusdidjas, R., 2002).
4. Langsung dari organ sekitar yang sebelumnya sudah terinfeksi atau eksogen
sebagai akibat dari pemakaian instrument.
Adapun jalur terjadinya ISK itu berasal dari eksogen, yakni akibat dari
pemakaian instrument seperti, pemakaian alat berupa kateter (Rusdidjas, R.,
2002).
2.8 Manifestasi Klinis Infeksi Saluran Kemih
Manifestasi / Gejala klinis infeksi saluran kemih tidak khas dan bahkan pada
sebagian pasien tanpa gejala. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria, polakisuria,
dan terdesak kencing yang biasanya terjadi bersamaan. Nyeri suprapubik dan daerah
pelvis. Polakisuria terjadi akibat kandungan kemih tidak dapat menampung urin lebih
dari 500 mL karena mukosa yang meradang sehingga sering kecing. Stranguria yaitu
kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang yang sering ditemukan pada
sistitis akut. Tenesmus ialah rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih
meskipun telah kosong. Nokturia ialah cenderung sering kencing pada malam hari
akibat kapasitas kandung kemih menurun. Ditemukan juga enuresis nokturnal sekunder
yaitu mengompol pada orang dewasa, prostatimus yaitu kesulitan memulai kencing dan
kurang deras arus kencing. Nyeri uretra, kolik ureter dan ginjal (Tessy dkk, 2001).
Gejala pada anak-anak terjadi malaise umum, demam, sakit perut, ngompol
malam hari dan hambatan pertumbuhan sedangkan pada orang lansia juga malaise,
demam, inkontinensi, serta kadang-kadang perasaan kacau yang timbul mendadak (Tjay
dan Rahardja, 2007).
Gejala klinis infeksi saluran kemih sesuai dengan bagian saluran kemih yang
terinfeksi sebagai berikut: (Tessy dkk, 2001).
1. Pasien infeksi saluran kemih bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa
sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikitsedikit
serta rasa tidak enak di daerah suprapubik.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 11

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

2. Pasien infeksi saluran kemih bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala,
malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di
pinggang.
2.9 Penegakan Diagnosis Infeksi Saluran Kemih
A. Gambaran Klinis
Menurut Tessy (2001), Gambaran klinis infeksi saluran kemih sangat bervariasi
mulai dari tanpa gejala hingga menunjukkan gejala yang sangat berat. Gejala
yang sering timbul ialah disuria, polakisuria, dan terdesak kencing yang
biasanya terjadi bersamaan, disertai nyeri suprapubik dan daerah pelvis. Gejala
klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi, yaitu:
1. Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa nyeri supra pubik,
disuria, frekuensi kemih meningkat namun urin keluar sedikit, dan hematuri.
2. Pada ISK bagian atas, dapat ditemukan gejala demam, kram, nyeri
punggung, muntah.
B. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Pemeriksaan labortorium yang dapat dilakukan untuk menegakkan
diagnosis infeksi saluran kemih, antara lain:
a. Urinalisis
1) Eritrosit
Ditemukan eritosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan
penanda bagi berbagai penyakit glomeruler maupun nongromeruler. Penyakit non-gromeruler seperti batu saluran kemh dan
infeksi saluran kemih.
2) Piuria
Piuria atau sedimen leukosit dalam urin yang didefinisikan oleh
Stamn, bila ditemukan paling sedikit 8000 leukosit per ml urin
yang tidak disentrifus atau setara dengan 2-5 leukosit perlapangan
pandang besar pada urin yang disentrifus.
b. Bakteriologis
1) Mikroskopis
Pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunkan urin segar tanpa
diputar atau pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bila
dijumpai satu bakteri lapangan pandang minyak emersi.
2) Biakan bakteri

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 12

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

Pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan


diagnosis ISK yaitu bila ditemukan akteri dalam jumlah bermakna.
c. Tes Plat-Celup (Dip-Slide)
Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan
plastik bertangkai dimana pada kedua sisi permukaannya dilpisi
pembenihan padat khusus. Lempengan tersebut dicelupkan kedalam
urin pasien atau dengan digenangi urin. Penentuan jumlah kuman/ml
dilakukan dengan membandingkn pola pertumbuhan kuman dengn
serangkaian gambar yang memperlihatkan keadaan koloni yang sesuai
dengan jumlah antara 1000 dan 10.000.000 dalam tiap ml urin yang
diperiksa.
2. Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada infeksi saluran kemih dimaksudkan unuk
mengetahui adanya, batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor
presdiposisi infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini dapat berupa foto polos
abdomen, pielonegrafi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan
lainnya, misalnya ultrasonografi dan CT-scan.
2.10 Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih
Prinsip umum penatalaksanaan infeksi Saluran kemih adalah:
1. Eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai.
2. Mengkoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor prediposisi.
Tujuan penatalaksanaaan infeksi saluran kemih adalah mencegah dan
menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria, mencegah
dan mengurangi risiko kerusakan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat
obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping yang minimal (Sukandar,
2006).
1. Infeksi saluran kemih (ISK) bawah
Prinsip penatalaksanaan ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak,
antibiotik yang adekuat, dan bila perlu terapi simtomatik untuk alkanisasi urin:
a. Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan
antibiotika tunggal, seperti ampisilin 3 gram, trimetropim 200 mg.
b. Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis (leukosuria) diperlukan
terapi konvensional selama 5 10 hari.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 13

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

c. Pemeriksaan mikroskopis urin dan biakan urin tidak diperlukan bila semua
gejala hilang dan tanpa leukosuria.
Bila pada pasien reinfeksi berulang (frequent re-infection):
a. Disertai faktor predisposisi, terapi antimikroba yang intensif diikuti dengan
koreksis faktor risiko.
b. Tanpa faktor predisposisi, terapi yang dapat dilakukan adalah asupan cairan
yang bayak, cuci setelah melakukan senggama diikuti dengan terpi
antimikroba dosis tunggal (misal trimetroprim 200 mg)
c. Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan.
d. Pasien sindroma uretra akut (SUA) dengan hitungan kuman 103 105
memerlukan antibiotika yang adekuat. Infeksi klamidia memberikan hasil
yang baik dengan tetrasiklin. Infeksi yang disebabkan miikroorganisme
anaerobik diperlukan antimikroba yang serasi (golongan kuinolon).
2. Infeksi saluran kemih (ISK) atas
Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memelihara status hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam.
The infection Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga alternatif
terapi antibiotika intravena sebagai terapi awal selama 48-72 jam sebelum
diketahui mikroorganisme penyebabnya:
1 Flurokuinolon
2 Aminoglikosida dengan atau tanpa ampisilin
3 Sefalosporin berspektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida
Tabel 2.3 Antimikroba pada Terapi Infeksi Saluran Kemih
Antimikroba
Sefepim
Siprofloksasin
Levofloksasin
Ofloksasin
Gentamisin (+ ampisilin)
Ampisilin (+gentamisin)
Tikarsilin klavulanat
Piperasilin tazobaktam
Imipenem silastarin

Dosis
1 gram
400 mg
500 mg
400 mg
3-5 mg/kgBB
1 mg/ kg BB
1-2 gram
3, 2 gram
3, 375 gram
250-500mg

Interval
12 jam
12 jam
24 jam
12 jam
24 jam
8 jam
6 jam
8 jam
28 jam
6-8 jam
(Sumber: Sukandar, 2006)

3. Infeksi saluran kemih berulang


Untuk penanganan ISK berulang dapat dilihat pada gambar berikut:
Terapi jangka panjang yang dapat diberikan antara lain trimetroprimsulfametoksazol dosis rendah (40 200 mg) tiga kali seminggu setiap malam,

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 14

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

flurokuinolon dosis rendah, nitrofurantoin makrokristal 100 mg tiap malam.


Lama pengobatan 6 bulan dan bila perlu dapat dipepanjang 1-2 tahun lagi
(Sukandar, 2006).
2.11 Komplikasi Infeksi Saluran Kemih
Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu
saluran kemih, obstruksi saluran kemih, sepsis, infeksi kuman yang multisitem,
gangguan fungsi ginjal (Tessy, 2001).

BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Tempat Pelaksanaan
Tugas Pengenalan Profesi ini dilaksanakan di RSI SITI KHADIJAH
3.2 Waktu Pelaksanaan
Hari/ Tanggal
: Jumat/13 November 2015
Pukul
: 08.00 11.00 WIB
3.3 Subjek Tugas Mandiri
Petugas medis (dokter)
3.4 Langkah-langkah Kerja
1. Membuat proposal
2. Melakukan konsultasi kepada pembimbing Tugas Pengenalan Profesi
3. Meminta surat jalan dari kampus untuk melaksanakan TPP
4. Mengumpulkan hasil kerja lapangan untuk mendapatkan suatu kesimpulan
5. Membuat laporan hasil Tugas Pengenalan Profesi dari data yang sudah
didapatkan
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam kegiatan ini adalah wawancara
berdasarkan checklist relevan yang telah dibuat penulis. Wawancara berdasarkan
kuisioner dilakukan penulis bertujuan agar dapat langsung mengumpulkan informasi
secara spesifik yang diinginkan penulis. Penulis melakukan wawancara kepada
narasumber yang dianggap relevan untuk kegiatan ini. Checklist/Kuisoner dibuat
berdasarkan studi literatur kepustakaan.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 15

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tugas Pengenalan Profesi ini dilakukan penulis pada hari Jumat, 13
November 2015 di RSI Siti Khadijah dengan judul ISK (Infeksi Saluran Kemih).
Kegiatan ini dilakukan tepatnya di poliklinik bedah urologi, penyakit dalam dan
kulit-kelamin RSI Siti Khadijah Palembang.
Pada pelaksanaan kegiatan TPP ini, penulis tidak mendapatkan satupun
pasien, baik yang tidak ataupun dirawat inap. Terdapat satu pasien dengan diagnosis
ISK namun sudah dipulangkan dari rawat inap, adanya keterbatasan waktu dan
beberapa masalah lainnya, sehingga penulis hanya mendapati penjelasan mengenai
pasien ISK tersebut dari dokter praktik yang bertanggung jawab dalam penanganan
pasien tersebut. Atas dasar tersebut, penulis melakukan wawancara beserta
berdasarkan checklist kepada dokter tersebut, dr. Eva Sahriana Sp.PD. Berikut
merupakan identitas pasien yang dideskripsikan oleh dokter tersebut:
Nama Pasien
Umur
Pekerjaan
Alamat

: Tn. H
: 60 tahun
: PNS
: Jl. Angkatan 45

Berdasarkan narasumber, dokter Eva, penyakit infeksi saluran kemih (ISK)


yang paling banyak didapati di RSI Siti Khadijah adalah ISK atas berupa
pyelonefritis. Dokter praktik juga mengungkapkan bahwa data tersebut tidak dilihat
berdasarkan poliklinik, namun secara keseluruhan kejadian ISK yang didapati, baik
dari poliklinik maupun IGD RSI Siti Khadijah Palembang.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap dokter praktik mengenai pasien,
didapati bahwa awalnya pasien datang dengan keluhan utama yaitu sering sakit
pinggang. Keluhan tersebut telah dialaminya sejak 1 bulan yang lalu sebelum
kedatangan ke RSI Siti Khadijah Palembang. Nyeri yang dikeluhkan tersebut terasa
seperti ditusuk-tusuk, hilang timbul dan terasa menjalar hingga perut. Pasien juga
mengeluh ketidaklancaran saat buang air kecil. Keluhan tersebut baru pertama kali
dirasakan oleh pasien.
Pasien sering buang air kecil (BAK) dan jumlah urin setiap BAK sedikit.
Namun, pasien merasa tidak ada masalah dengan kebersihan saat berkemih. Pasien

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 16

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

juga mengalami demam dan menggigil. Pasien merasa terdapat perubahan warna
saat buang air kecil (warna urin tidak seperti biasanya).
Pasien tidak merasa nyeri saat buang air kecil (BAK). Pasien tidak merasa
tidak tuntas saat BAK. Tidak didapati nyeri di daerah perut tengah bawah/diatas
kemaluan. Pasien juga tidak merasa sulit buang air kecil yang disertai nyeri di
daerah pinggang. Pasien tidak sering berkemih padah malam hari. Tidak didapai
mual maupun muntah. Tidak terdapat riwayat pemasangan kateter dalam jangka
waktu panjang/lama pada pasien. Pasien memiliki riwayat hipertensi.
Dari hasil wawancara, Dokter praktik melakukan pemeriksaan spesifik yaitu
pemeriksaan akan ada/tidaknya nyeri pada bagian abdomen yang memproyeksikan
saluran kemih. Dokter melakukan palpasi pada regio hipokondriaka dextra dan
sinistra. Dengan diberikan sedikit penekanan saat palpasi di regio tersebut oleh
dokter, pasien merasakan nyeri. Dokter juga melakukan perkusi pada posterior
abdomen tepatnya di segitiga imajiner yang dibentuk oleh sudut costovertebral
(CVA). Pasien merasa nyeri saat diberikan palpasi berupa ketokan pada area
tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara, pasien juga melakukan pemeriksaan urinalisis
dan BNO. Pada pemeriksaan urinalisis pasien, didapatkan hasil bakteri urin (+++),
hematuria mikroskopik dan leukosituria, serta kumpulan kristal asam urat. Dari
pemeriksaan BNO-IVP foto polos abdomen, didapati hasil berupa gambaran
hidronephrosis.
Dokter praktik menegakkan diagnosis bahwa pasien menderita Pielonefritis
akut. Pielonefritis akut yang diderita pasien merupakan ISK atas yang merupakan
komplikasi dari batu asam urat di saluran kemih pasien. Diagnosis tersebut
ditegakkan berdasarkan riwayat keluhan pasien (nyeri pinggang dan masalah buang
air kecil) dan pemeriksaan fisik spesifik (nyeri tekan abdomen) sesuai penjelasan
sebelumnya. Diagnosis juga diperkuat dengan hasil pemeriksaan penunjang
(urinalisis dan foto polos abdomen). Dengan adanya dukungan dari hasil
pemeriksaan penunjang salah satunya BNO-IVP yaitu gambaran hidronephrosis,
pasien dirawat inap.
Pasien ditatalaksana secara medikamentosa dengan pemberian obat analgetik
(Parasetamol 2x250mg), antihipertensi (Captopril 2-3x12,5-25mg), dan antibiotik
(Ciprofloxacin 2x400mg). Dengan adanya indikasi rawat inap, pasien juga diberikan
terapi cairan RL (Ringer Laktat) untuk hidrasi dan diet rendah garam. Pasien dirawat

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 17

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

inap selama lebih kurang 3-4 hari. Setelah dirawat inap dan siap dipulangkan, pasien
diberikan edukasi untuk menjaga kesehatan saluran kemih khususnya ginjal salah
satunya dengan cara konsumsi air mineral secara rutin dan teratur. Pielonefritis akut
yang diderita pasien dapat dan telah ditatalaksana dengan baik, serta tidak
menimbulkan komplikasi lanjut apapun. Setelah teratasinya ISK tersebut, dokter
menyarankan untuk terapi pemecah batu asam urat di saluran kemih pasien dengan
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy).
4.2 Pembahasan
Pada pelaksanaan kegiatan TPP ini, penulis tidak mendapatkan satupun
pasien, baik yang tidak ataupun dirawat inap. Terdapat satu pasien dengan diagnosis
ISK namun sudah dipulangkan dari rawat inap, adanya keterbatasan waktu dan
beberapa masalah lainnya, sehingga penulis hanya mendapati penjelasan mengenai
pasien ISK tersebut dari dokter praktik yang bertanggung jawab dalam penanganan
pasien tersebut. Pasien ISK terbanyak yang ditemukan di RSI Siti Khadijah yaitu
pasien pyelonefritis dan sistitis.
Tn. H datang dengan keluhan nyeri pinggang dan BAK yang tidak lancar
(polakisuria). Tidak hanya itu, pasien mengaku bahwa dirinya mengalami demam
(T: 39oC) tiga hari sebelum dibawa ke rumah sakit. Hal tersebut sesuai dengan
landasan teori tentang manifestasi klinis yang sering dialami pasien ISK atas yaitu
pasien infeksi saluran kemih bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala,
malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.
(Tessy dkk, 2001)
Saat tiba di RSI Siti Khadijah Tn. H langsung dianamnesis seputar keluhankeluhan yang dirasakannya. Dirinya mengeluh merasakan nyeri pinggang yang
semakin menjadi dan dirasakan hilang timbul hingga menjalar ke bagian perut.
Kemudian setelah mengetahui seluruh keluhan (nyeri pinggang, BAK tidak lancar,
BAK keruh dan berpasir, juga merasa menggigil dan disertai demam) yang
dirasakan. Dokter pun melakukan pemeriksaan fisik dan didapatkan nyeri ketok
pada CVA (costo vertebral angel). Selain pemeriksaan fisik, dokter juga melakukan
pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan darah rutin (leukosit: 17.000, LED: 55
mm/jam), urinalisis (bakteri +++, leukosituria 20/LPB, dan ditemukan kristal urat)
dan BNO (batu saluran kemih atas). Temuan-temuan tersebut membuat dokter

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 18

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

mediagnosis bahwa pasien mengalami pielonefritis akut et causa batu saluran


kemih. Temuan tesebut memenuhi kriteria diagnosis berdasarkan manifestasi klinis
dan hasil pemeriksaan penunjang sesuai dengan landasan teori bahwa Pada ISK
bagian atas, dapat ditemukan gejala demam, kram, nyeri punggung, muntah.
Ditemukan 2-5 leukosit perlapangan pandang besar pada urin yang disentrifus, pada
pemeriksaan mikroskopis urin bakteriuria dinyatakan positif bila dijumpai satu
bakteri lapangan pandang minyak emersi, dan pada BNO ditemukan batu saluran
kemih (Tessy dkk, 2001).
Tn. H mendapat tatalaksana berupa terapi simptomatik dan kausatif dari
dokter yang bertugas di sana. Beberapa terapi yang diberikan saat Tn. H dirawat
yaitu pemberian antibiotik untuk mengatasi penyebab dari infeksi, antipiretik
(parasetamol), antihipertensi, cairan RL untuk terapi hidrasi juga diet rendah garam
dan perbanyak konsumsi air mineral. Tatalaksana dan indikasi rawat inap pada Tn.
H tersebut sesuai dengan landasan teori yang menyatakan pada umumnya pasien
dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk memelihara status hidrasi
dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam (Sukandar, 2006).
Dari penjelasan dokter tersebut kami memahami bahwa apabila penyakit
tersebut tidak dideteksi dini dan ditangani secara komprehensif maka pasien dapat
mengalami komplikasi berupa gangguan fungsi ginjal mengingat letak infeksi yang
berlokasi di parenkim ginjal. Hal ini sesuai dengan teori mengenai komplikasi yang
dapat terjadi pada infeksi saluran kemih antara lain batu saluran kemih, obstruksi
saluran kemih, sepsis, infeksi kuman yang multisitem, gangguan fungsi ginjal
(Tessy, 2001).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada kegiatan ini, penulis menarik beberapa kesimpulan. Berikut merupakan
simpulan yang disimpulkan penulis.
1. Infeksi saluran kemih yang tersering ditemukan pada RSI Siti Khadijah
Palembang yaitu pyelonefritis & sistitis.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 19

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

2. Manifestasi klinis yang umum dirasakan pada penyakit ISK yaitu nyeri (nyeri
tekan spesifik abdomen & ketok CVA), masalah berkemih (nyeri, frekuensi
miksi), serta disertai demam dan kadang menggigil.
3. Diagnosis ISK (atas/pyelonefritis) ditegakkan berdasarkan riwayat keluhan
pasien (nyeri pinggang dan masalah buang air kecil) dan pemeriksaan fisik
spesifik (nyeri tekan abdomen spesifik).
4. Tatalaksana yang diberikan yaitu: non-farmakoterapi berupa edukasi terhadap
pasien

tentang

pentingnya

menjaga

kesehatan;

termasuk

ginjal.

Farmakoterapi berupa obat-obat antiinflamasi, antibiotik dan antihipertensi


serta obat lain yang bersifat simptomatis. Saat dirawat inap, juga diterapi
hidrasi RL (Ringer Laktat), diet rendah garam. dan rencana pemecahan BSK
dengan ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy).
5. Pada hasil yang didapati, ISK atas (pyelonefritis) yang dialami pasien tidak
berkembang menimbulkan komplikasi lanjutan karena telah ditatalaksana
secara komprehensif. Pyelonefritis yang diderita pasien merupakan
komplikasi dari riwayat obstruksi saluran kemih oleh batu (asam urat) pasien.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 20

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

5.2 Saran
Berikut merupakan saran dari penulis pada pelaksanaan Tugas Pengenalan
Profesi ini.
1. Untuk penulis
Maksimalkan sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman
khususnya segala hal yang berkaitan tentang ISK.
2. Untuk pasien dan keluarga
Berikan dukungan, kasih sayang dan perhatian terhadap pasien mengingat usia
pasien sudah menginjak 60 tahun (usila/manula) sehingga bisa membantu
kelancaran proses penyembuhan. Pasien pun harus meningkatkan kesadaran
akan penyakit yang dialami agar tidak berulang dan mengikuti anjuran dokter
tentang saran dan terapi yang diberikan.

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 21

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

DAFTAR PUSTAKA
Corwin, E.J. 2008. Infeksi Saluran Kemih. In Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta :
EGC.
Galur W E. Urinary Tract Infection and Pyelonefritis in Harrisons Principle of Internal
Medicine. Vol. 2. 15th ed. New York: Mc-Graw Hill; 2001. P-1620.
Gardjito, Puruhito dan Iwan A et all. 2005. Saluran Kemih dan Alat Kelamin lelaki. In
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit EGC.
Ginting Yosia. Antimicrobial Usage of UTIs in Elderly in Abstracts Book 8 th JADE
2007. Jakarta: Divisi penyakit tropis dan Infeksi IPD-RSCM; 2007. h-18.
Nguyen, H.T. (eds), 2004. Bacterial Infection of the Genitourinary Tract. In: Tanagho,
E.A., and McAninch, J.W., ed. Smiths General Urology 16th edtion. The
McGraw Hill companies. US of America: 203-227.
Purnomo, B. 2003. Dasar-Dasar Urologi. Malang : Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya
Rusdidjas, Ramayanti. 2002. Infeksi Saluran Kemih. In : Buku Ajar Nefrologi Anak
Edisi 2. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sukandar, E. 2006. Infeksi Saluran Kemih Pasien Dewasa. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam jilid I. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbit IPD FK UI.
Tessy A, Ardaya, Suwanto. 2001. Infeksi Saluran Kemih. In Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam jilid II. Edisi 3. Jakarta: Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan EfekEfek Sampingnya. Edisi ke VI. Jakarta: PT Elex Media Komputindo: hal. 193
Wettergren, Jodal, and Jonasson, 1985. Insiden ISK Yang Terjadi Pada Laki-laki. Sari
Pediatrik 1985;70
Wiswell, T.E., Roscelli, J.D: Corroborative evidence of ther decreased incidence of
urinary tract infections incircumcised male infants. Pediatrics 1986;78:96

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 22

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

LAMPIRAN 1. FOTO HASIL TUGAS PENGENALAN PROFESI

Gambar 1. Proses bimbingan bersama dr. Eva Sahriana Sp.PD

Gambar 2. Photo anggota tutorial 5 bersama dr. Eva Sahriana Sp.PD

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 23

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

LAMPIRAN 2. CHEKLIST DAN DAFTAR WAWANCARA TUGAS


PENGENALAN PROFESI PENDERITA ISK DI RSI SITI KHADIJAH
PALEMBANG
Identitas Pasien
Nama Pasien
Umur
Pekerjaan
Alamat
Berat/Tinggi Badan

: Tn. H.
: 60 tahun
: PNS
: Jl. Angkatan 45
: -/-

Checklist
Tanda dan gejala

Ya

Tidak Keterangan

1. Nyeri saat berkemih (disuria)

2. Nyeri terus-menerus tiap berkemih

3. Sering berkemih dengan jumlah urin yang


sedikit-dikit
4. Rasa tidak tuntas saat berkemih

5. Nyeri di daerah perut tengah bawah / diatas

kemaluan
6. Sulit berkemih disertai nyeri di daerah

pinggang (stranguria)
7. Warna uriin yang tidak seperti biasanya
(keruh, kuning kecoklatan, dan ada darah)
8. Sering berkemih pada malam hari (nokturia)
9. Demam

10. Mual muntah

11. Menggigil

12. Nyeri di daerah pinggang kanan seperti


ditusuk-tusuk, hilang

timbul dan terasa

menjalar hingga perut kanan.


13. Pernah menggunakan kateter dalam jangka
waktu yang cukup lama
Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 24

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

14. Memiliki

riwayat

Hipertensi,

Diabetes

melitus, dll
Wawancara
No
1

Pertanyaan

Jawaban

Apa keluhan utama yang mendasari Anda Sakit pinggang


pergi ke Rumah Sakit?

2
3

lalu
Apa keluhan tambahan

4
5

Keluhan terjadi sejak 1 bulan yang

Sejak kapan keluhan terjadi?


yang dikeluhkan

pasien? (sakit kepala, demam, mual muntah,


nyeri pinggang, dll)
Apakah keluhan tersebut pertama kali
dirasakan atau pernah terjadi sebelumnya?

Keluhan baru pertama kali dirasakan

Apa kemungkinan penyebab keluhan yang


dialami pasien ? (higenisasi)

BAK tidak lancar

Tidak ada masalah dengan kebersihan

Saat membersihkan saluran kemih, arahnya

saat berkemih

dari depan ke belakang atau sebaliknya?


8

Apa pernah pasien dirawat di RS lalu


dipasang kateter urin yang cukup lama?

Tidak pernah

Selain penyakit yang diderita,apakah ada


riwayat penyakit kronis (DM, Hipertensi, Mengaku mengalami hipertensi

10
11

dll) ?
Bagaimana pola makan dan minum seharihari?

Semenjak mengeluh nyeri pinggang


jadi semakin banyak minum

Bagaimana pola BAK pasien sehari-hari?

BAK sering, namun hanya keluar urin


sedikit-sedikit

Setelah datang kerumah sakit, apakah pasien


diminta

untuk

melakukan

pemeriksaan

seperti?
Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 25

Dilakukan pemeriksaan urinalisis dan


BNO

ISK di RSI Siti Khadijah Palembang

12

Pemeriksaan

laboratorium

(urinalisis, bakteorolis, Tes Plat13

Celup (Dip-Slide))
Radiologis
USG, dan lainnya

bila ada, bagaimana hasilnya?


14

Apa obat yang diberikan oleh dokter untuk


mengurangi

15

keluhan

atau

obat

untuk

Diberikan parasetamol, antihipertensi


dan antibiotik

penyakit yang diderita?


Memperbanyak konsumsi air mineral
Selain diberikan obat, terapi apa saja yang

16

sudah pasien lakukan terhadap penyakit


yang diderita?
Apakah ada riwayat keluarga yang memiliki
penyakit atau keluhan yang sama?
Setelah didiagnosis dokter, edukasi apa yang
diberikan dokter terhadap penyakit yang
diderita?
Adakah perbaikan yang progresif setelah
mendapat terapi dari dokter?

Tugas Pengenalan Profesi Blok XV 2015 26

Tidak

ada

keluarga

yang

menderia/mengeluhkan hal yang sama