Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Trichomonas merupakan parasit protozoa flagelata yang termasuk dalam
filum Sarcomastigophora, sub-filum Mastigophora, kelas Zoomastigophora, ordo
Trichomonadida. Trichomonas merupakan parasit berbentuk piriform meskipun
kadang-kadang berbentuk bulat, mempunyai satu inti, 4 flagel anterior dan satu flagel
posterior yang melekat pada tepi membran bergelombang, sitoplasma berglanular,
terdapat kosta dan aksostil sepanjang sel. Trichomonas tidak membentuk kista,
bereproduksi secara mitosis dan belah pasang longitudinal.
Terdapat tiga spesies utama Trichomonas yang menginfeksi manusia, yaitu
Trichomonas tenax, Trichomonas hominis dan Trichomonas vaginalis. Hanya
Trichomonas vaginalis yang dapat menyebabkan penyakit yang disebut
trikomoniasis. Pada tahun 1836 Trichomonas vaginalis pertama kali ditemukan oleh
Donne. Parasit ini ditemukan pada sekret vagina seorang penderita vaginitis. Parasit
ini dapat ditemukan secara kosmopolit, termasuk di Indonesia.
Trichomonas vaginalis dapat ditemukan pada semua bangsa/ras dan pada
semua musim. Sukar untuk menentukan frekuensi penyakit ini di satu daerah, karena
kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan tertentu saja seperti golongan ibu
hamil (18-25% di AS) dan dari klinik ginekologi (30-40% di Eropa Timur). Angkaangka untuk Indonesia yang diambil dari hasil penelitian di RSCM Jakarta ialah 16%
dari klinik kebidanan dan 25% dari 1146 orang wanita dari klinik ginekologi. Cara
pemeriksaan yang berbeda dapat pula memberikan hasil yang berlainan. Pada pria
umumnya angka-angka yang ditemukan lebih kecil, karena parasit lebih sukar
ditemukan dan infeksi sering berlangsung tanpa gejala. Pada wanita, parasit lebih
sering ditemukan pada kelompok usia 20-49 tahun.

BAB I
PEMBAHASAN
A. Definisi dan klasifikasi
Trichomonas vaginalis adalah salah satu jenis protozoa parasit yang
menyebabkan penyakit menular seksual, yang biasanya menyerang saluran
genitourinari. Trichomonas vaginalis pertama kali dideskripsikan oleh Alfred Donn
pada saat Academy of Sciences di Paris. Pada saat itu dikatakan bahwa ia
menemukan suatu organisme yang disebutnya sebagai animalcules dari sekret segar
vagina.

Gambar. Trichomonas vaginalis


Klasifikasi Trichomonas vaginalis adalah:
Kingdom

: Protista

Sub-kingdom

: Protozoa

Filum

: Sarcomastigophora

Sub-filum

: Mastigophora

Class

: Zoomastigophora

Ordo

: Trichomonadida

Genus

: Trichomonas

Species

: Trichomonas vaginalis

B. Morfologi dan Siklus hidup

Gambar. Morfologi Trichomonas vaginalis


Hospes Trichomonas vaginalis adalah manusia. Penyakit yang ditimbulkan
oleh parasit ini antara lain trikomoniasis vaginalis, trikomoniasis urethralis, dan
trikomoniasis prostatovesicalis. Trichomonas vaginalis tidak mempunyai bentuk
kista. Bentuk trofozoit berukuran 10-25 mikron x 7-8 mikron, mempunyai 4 flagel
anterior dan 1 flagel posterior yang melekat pada tepi membran bergelombang.
Membran ini pendek bentuknya dan ujungnya tidak keluar badan sel. Membran
bergelombang ini mempunyai kosta yang halus. Intinya berbentuk lonjong dan
sitoplasmanya berbutir halus dengan butir-butir kromatin tersebar rata sepanjang
kosta dan aksostil. Sitostom tidak nyata. Aksostil halus bentuknya dan menonjol
keluar badan. Pada wanita tempat hidup parasit ini di vagina dan pada pria di uretra
dan prostat.
Trichomonas vaginalis hidup di mukosa vagina dengan memakan bakteri dan
leukosit. Parasit ini bergerak dengan cepat berputar-putar di antara sel-sel epitel dan
leukosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membran bergelombang.
Trichomonas vaginalis berkembang biak secara belah pasang longitudinal. Di luar

habitatnya, parasit mati pada suhu 50oC, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu
0oC. Dalam biakan, parasit ini mati pada pH kurang dari 4,9; inilah sebabnya parasit
tidak dapat hidup di sekret vagina yang asam (pH 3,8 - 4,4). Parasit ini tidak tahan
pula terhadap desinfektan, zat pulasan dan antibiotik. Trichomonas vaginalis agar
dapat hidup dan berkembang biak membutuhkan kondisi lingkungan yang konstan
dengan temperatur sekitar 35-37oC, pH antara 4,9 dan 7,5 dan sangat baik
pertumbuhannya pada pH berkisar 5,5 dan 6. Sangat sensitif terhadap tekanan
osmotik dan kelembaban lingkungan.
Sel-sel Trichomonas vaginalis mempunyai kemampuan untuk melakukan
fagositosis. Vakuola, partikel, bakteri, virus, ataupun leukosit dan eritrosit (tetapi
jarang) dapat ditemukan didalam sitoplasma. Trichomonas vaginalis dapat
diidentifikasi dari sediaan sekret vagina yang masih segar, dimana kita dapat melihat
organisme ini secara jelas beserta pergerakannya. Selain dari sekret vagina, protozoa
ini dapat juga kita temukan di dalam urin. Infeksi terjadi secara langsung waktu
melakukan hubungan seksual melalui bentuk trofozoit. Pada keadaan lingkungan
sanitasi kurang baik dengan banyak orang hidup bersama dalam satu rumah, infeksi
secara tidak langsung melalui alat mandi seperti lap mandi atau alat sanitasi seperti
toilet seat.

Gambar. Siklus Hidup Trichomonas vaginalis

C. Patologi
Kebanyakan spesies Trichomonas tidak begitu patogen dan gejalanya hampir
tidak terlihat. Tetapi beberapa strain dapat menyebabkan inflamasi, gatal-gatal, keluar
cairan putih yang mengandung trichomonas. Protozoa ini memakan bakteri, leukosit
dan sel eksudat. Seperti mastigophora lainnya Trichomonas vaginalis membelah diri
secara longitudinal dan tidak membetuk kista.
Beberapa hari setelah infeksi, terjadi degenerasi epithel vagina diikuti
infiltrasi leukosit. Sekresi vagina akan bertambah banyak berwarna putih kehijauan
dan terjadi radang pada jaringan tersebut. Pada infeksi akut, biasanya akan menjadi
kronis dan gejalanya menjadi tidak jelas. Pada pria yang terinfeksi, gejalanya tidak
terlihat, tetapi kadang ditemukan adanya radang urethritis atau prostatitis.
Trichomonas vaginalis yang di tularkan pada jumlah cukup ke dalam vagina
dapat berkembang biak, bila flora bakteri, pH dan keadaan fisiologi vagina yang
sesuai. Setelah berkembang biak cukup banyak, parasit menyebabkan degenerasi dan

deskuamasi sel epitel vagina. Keadaan ini disusul oleh serangan leukosi, dan disekitar
vagina tedapat banyak leukosit dan parasit bercampur dengan sel-el epitel. Sekret
vagina mengalir keluar vagina dan menimbulkan gejala flour albus atau keputihan.
Setelah lewat stadium akut, gejala berkurang dan dapat reda sendiri. Pada
pemeriksaan in speculo, tampak kelaian berupa vaginitis, dinding vagina dan porsio
tampak merah meradang dan pada infeksi berat tampak pula pendarahan-pendarahan
kecil. Flour tampak berkumpul di belakang porsio, encer atau sedikit kental pada
infeksi campur, berwarna putih kekuning-kuningan atau putih kelabu dan
berbusa.banyak flour yang di bentuk tergantung dari beratnya infeksi dan stadium
penyakit. Selain gejala flour albus yang merupakan keluhan utama penderita, pruritus
vagina atau vulva dan disuria (rasa pedih waktu kencing) merupakan keluhan
tambahan. Infeksi dapat menjalar dan menyebabkan uretritis.
D. Gejala Klinis
Pasien-pasien yang mengidap trikomoniasis dapat menimbulkan gejala
(simpatomatik) atau tanpa gejala (asimpatomatik). Biasanya parasit ini dijumpai
secara tidak sengaja melalui pemeriksaan sekret vagina (latent trichomoniasis). Masa
inkubasinya berkisar antara 3 sampai 28 hari, rata-rata 7 hari. Adapun gejala klinis
dari trikomoniasis antara lain:

Adanya cairan vagina berwarna kuning kehijaun, pada kasus berat dapat

berbusa
Cairan vagina berbau tidak sedap
Rasa gatal
Panas
Iritasi
Dispareunia
Perdarahan vagina abnormal, terutama setelah coitus
Disuria ringan

Nyeri abdomen dapat dijumpai pada 12% wanita penderita trikomoniasis


dimana kemungkinan telah terjadi vaginitis berat dan dapat dijumpai regional
lymphadenopati, atau endometritis/salpingitis.
Pada pemeriksaan vagina dengan speculum, mukosa vagina kadang tampak
heperemis dengan bintik lesi berwarna merah, yang sering disebut dengan strawberry
vaginitis atau colpitis macularis. Pemeriksaan secara mikroskopis pada cairan vagina
dari colpitis macularis ternyata rata-rata terdapat 18 organisme Trichomonas
vaginalis per lapangan pandang besar, sedangkan pada yang tidak dijumpai colpitis
macularis rata-rata hanya dijumpai 7 organisme. Apabila trikomoniasis vaginitis ini
tidak diterapi dengan baik, organisme ini dapat menjadi dorman dan berkolonisasi di
urethra serta kelenjar parauretral dan bartholini, sehingga hal ini menyebabkan
berulangnya infeksi trikomoniasis vaginitis sehingga menjadi trikomoniasis kronik.
Trikomoniasis apabila terjadi pada pria biasanya tanpa gejala (asimptomatik).
Trichomonas vaginalis biasanya dapat ditemukan di urethra, para-urethra dan kelenjar
Cowper, vesikula seminalis, prostat, epididimis, dan testis. Tetapi organisme ini
paling sering ditemukan berkumpul di prostat. Apabila telah mengenai prostat dan
vesikula seminalis atau bagian lain dari traktus urinarius, biasanya gejala menjadi
lebih berat.
Trichomonas vaginalis yang menginfeksi pria dapat ditemukan pada cairan
kelamin. Prostat mungkin bisa membesar dan kadang-kadang dihubungkan dengan
epididimis. Gejala yang dikeluhkan dapat berupa disuria dan nokturia. Gejala
trikomoniasis pada pria dapat dibagi menjadi 4 stadium, yaitu:
a. Stadium akut primer, ditandai dengan adanya eksudat urethra.
b. Stadium sub-kronik, ditandai dengan adanya eksudat yang sangat sedikit.
c. Stadium laten, gejala klinis tidak dijumpai.
d. Stadium kronik, yang dapat berlangsung sampai beberapa tahun.
Berdasarkan beberapa penelitian disebutkan bahwa Trichomonas vaginalis
ditemukan pada 14-60% pria yang merupakan pasangan wanita terinfeksi, tetapi
sebaliknya Trichomonas vaginalis ditemukan pada 67-100% wanita yang merupakan
pasangan pria yang terinfeksi. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar Zink dan

substansi antitrichomonas pada cairan prostat yang berperan menghambat


perkembangan oraganisme ini
E. Diagnosis
Diagnosis terhadap Trichomonas vaginalis didasarkan pada keluhan keputihan
(fluor albus), rasa panas, dan gatal pada vulva/vagina dan adanya sekret encer,
berbusa, berbau tidak sedap dan berwarna kekuning-kuningan, serta adanya luka
(lesi) bekas garukan karena gatal dan kemerahan (hyperemia) pada vagina
Diagnosis laboratorium dibuat dengan menemukan parasit Trichomonas
vaginalis di bahan sekret vagina, sekret uretra, sekret prostat, dan urin. Diagnosis ini
dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

Mikroskopis
Pemeriksaan preparat basah secara mikroskopis sangat mudah dan cepat,
tetapi lebih dari 103/ml dari protozoa hidup yang diperlukan untuk deteksi.
Metode ini dilakukan dengan mengambil sekret vagina dengan kapas aplikator
berujung lalu, setiap kapas aplikator berujung dibilas dalam tabung reaksi yang
berisi sekitar 2 ml normal salin. Preparat diletakkan pada kaca obyek yang
bersih dan diperiksa di bawah mikroskop cahaya untuk mengamati gerakan
cepat organisme. Trichomonas vaginalis dapat dibedakan dari gerakan khas
tropozoit, ketika tidak bergerak, tropozoit sulit dibedakan dari inti sel epitel
vagina. Sensitivitas pemeriksaan mikroskopis dapat ditingkatkan dengan
penambahan pewarna acridine orange pada preparat basah.

Kultur
Metode kultur dapat digunakan untuk jumlah parasit yang rendah, namun

metode kultur memerlukan waktu untuk inkubasi parasit dan media yang
khusus. Dari berbagai media kultur komersial yang tersedia, media Diamond
yang termodifikasi dapat mendukung pertumbuhan Trichomonas vaginalis.
Modifikasi media thioglycolate, ditambah dengan ekstrak ragi, dan agen
antimikroba diketahui sama efisiennya dengan medium Diamond dalam

memulihkan Trichomonas vaginalis dari spesimen klinis dan dapat digunakan


untuk pengganti yang lebih murah sebagai media standar. Kombinasi
pemeriksaan preparat basah dan kultur tetap menjadi pendekatan standar untuk
mendeteksi Trichomonas vaginalis dalam sampel pasien.

Polymerase Chain Reaction (PCR)

Gambar. Dua Tropozoit dari Trichomonas vaginalis yang diperoleh


melalui kultur in vitro dengan pewarnaan Giemsa
Metode amplifikasi asam nukleat, seperti polymerase chain reaction (PCR)
memiliki sensitifitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan metode
preparat basah dan kultur untuk diagnosis infeksi akibat Trichomonas vaginalis.
PCR memiliki keuntungan hanya membutuhkan DNA dari organisme dan dapat
mendeteksi Trichomonas vaginalis pada konsentrasi minimal satu sel per
campuran.

Papanicolaou smear
Diagnosis trikomoniasis dengan papanicolaou smear memiliki sensitivitas
yang rendah dan tidak dapat digunakan untuk mengobati trikomoniasis. Setiap
spesimen dioleskan pada minyak bebas pengotor dan dicampur dalam eteralkohol selama 30 menit. Spesimen kemudian diwarnai dengan metode
Papanicolaou, kemudian spesimen tersebut diperiksa di bawah mikroskop
cahaya pada daya rendah dan tinggi tujuannya untuk mendeteksi adanya
Trichomonas vaginalis. Flagela dari Trichomonas vaginalis dapat terlihat dalam
pewarnaan Papanicolaou smear.

F. Pencegahan
Sayangnya, hingga saat ini, keberadaan berbagai program pencegahan primer
untuk trikomoniasis dirasa masih kurang, dan hanya menekankan utamanya pada
manajemen individual, konseling, dan pemberitahuan informasi kepada partner
seksual. Pada area-area yang memiliki prevalensi trikomoniasis tinggi atau diantara
kelompok-kelompok yang memiliki risiko tinggi, telah diterapkan pelaksanaan
manajemen sindromik atau skrining untuk T. vaginalis yang dilakukan dalam
kapasitas sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan teknik laboratorik yang
tersedia.
Usaha promotif berupa penggunaan kondom atau metode penghalang (barrier
methods) lainnya memiliki peranan penting dalam mengurangi transmisi T. vaginalis.
Terdapat sebuah studi yang mengevaluasi efektifitas kondom, dimana dilaporkan
terjadinya penurunan risiko yang signifikan bagi PSK wanita untuk tertular dan
menderita trikomoniasis.
G. Pengobatan
Berbagai obat-obatan yang baru sangat efektif untuk mengobati trikomoniasis,
yaitu metronidazole, tinidazole, seknidazol, nimorazole, dan ornidazole.

Metronidazole
Metronidazole adalah antibiotik pilihan pertama dan yang paling baik

untuk kasus-kasus trichomoniasis, meskipun kini telah hadir sejumlah


turunannya, seperti tinidazole, ornidazole, memorazole, tioconazole, dll.
Pengobatan trichomoniasis dengan menggunakan metronidazole pertama kali
diperkenalkan oleh Cosar dan Julou yang mendemostrasikan aktivitas in vitro
metronidazole terhadap Trichomonas vaginalis.
Dosis metronidazole yang disarankan untuk trikoomoniasis ini adalah:

2 gram, dosis sekali minum (single dose)


250 mg 3 kali sehari selama 7-10 hari

10

500 mg 2 kali sehari selama 5-7 hari


Pada kasus-kasus gagal terapi maka dapat diberikan dosis 2 gram
metronidazole sehari sekali selama 3-5 hari. Pemberian metronidazole terhadap
wanita hamil tidak disarankan karena diketahui bahwa metronidazole dapat
melewati plasenta barrier, walaupun efek teratogeniknya masih dipertanyakan.
Pemberian metronidazole secara topikal pada vagina dapat mengurangi
gejala-gejala klinis, tetapi tidak dapat menyembuhkan infeksi ini karena
Trichomonas vaginalis menginfeksi urethra dan kelenjar periurethtral, sehingga
bila dilakukan pemberian topikal saja tidak akan dapat membunuh semua
organisme ini yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya re-infeksi.
Pemberian secara topikal dianjurkan pada kehamilan yang kurang dari 20
minggu atau pada penderita yang peka terhadap metronidazole. Sebaiknya
terapi juga diberikan kepada kedua pasangan, agar tidak terjadi re-infeksi dan
dapat meningkatkan persentase penyembuhan sampai dengan 95%.

Tinidazole
Baik pada wanita maupun pada pria, berikan dengan takaran 2 gram

dosis tunggal, diberikan secara oral.


Seknidazole
Diberikan untuk trichomoniasis pada wanita maupun pada pria dengan

takaran 2 gram dosis tunggal diberikan secara oral.


Nimorazole
Diberikan pada wanita maupun pada pria dengan takaran 2 kali 250 mg

selama 6 hari atau diberikan 2 gram dosis tunggal.


Ornidazole
Diberikan dalam dosis tunggal 1500 mg atau 2 kali 750 mg.

11

BAB III
KESIMPULAN
Trichomonas vaginalis adalah salah satu jenis protozoa parasit yang
menyebabkan penyakit menular seksual, yang biasanya menyerang saluran
genitourinari. Hospes Trichomonas vaginalis adalah manusia. Trichomonas vaginalis
termasuk sub-kingdom protozoa, filum Sarcomastigophora, sub-filum Mastigophora,
dan kelas Zoomastigophora. Adapun penyakit yang disebabkan oleh parasit ini adalah
trikomoniasis.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Gandahusada, S., IIahude, H.H., dan Pribadi, W. 2003. Parasitologi
Kedokteran Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
2. Widodo, H. 2013. Parasitologi Kedokteran. Jogjakarta: D-Medika
3. Onggowaluyo, J.S. 2002. Parasitologi Medik I. Jakarta: EGC
4. Sutanto, Inge dkk. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI
5. Soedarto. 2008. Parasitologi Klinik. Surabaya: Airlangga Universitas Press

13