Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Tulang tengkorak memiliki sejumlah ruang berisi udara yang disebut sinus. Ruang ini

membantu mengurangi berat tengkorak dan memberikan perlindungan daerah tengkorak dan
membantu dalam resonansi suara1. Terdapat empat pasang sinus, yang dikenal sebagai sinus
paranasalis, yaitu sinus frontalis di daerah dahi, sinus maksilaris di belakang tulang pipi, sinus
etmoidalis diantara kedua mata dan sinus sphenoidalis di belakang bola mata1,2,3.
Sinus yang dalam keadaan fisiologis adalah steril, apabila klirens sekretnya berkurang atau
tersumbat, akan menimbulkan lingkungan yang baik untuk perkembangan organisme patogen.
Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka
terjadilah sinusitis. Sinusitis juga dapat disebabkan oleh rinitis akut, infeksi faring (faringitis,
adenoiditis, tonsilitis), infeksi gigi rahang atas (M1, M2, M3, serta P1 dan P2), berenang dan
menyelam, trauma, serta barotrauma.
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di tempat
dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi pollen yang tinggi terkait
dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis 6. Sinusitis maksilaris adalah sinusitis dengan
insiden yang terbesar7. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan
sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita
rawat jalan di rumah sakit. Di Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita sinusitis. Virus
adalah penyebab sinusitis akut yang paling umum ditemukan. Namun, sinusitis bakterial adalah
diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik. Lima milyar dolar dihabiskan
setiap tahunnya untuk pengobatan medis sinusitis, dan 60 milyar lainnya dihabiskan untuk
pengobatan operatif sinusitis di Amerika Serikat3.
Berdasarkan fakta tersebut diatas, sinusitis adalah penyakit yang penting untuk diketahui
oleh seorang praktisi kesehatan. Dan sinusitis yang paling banyak ditemukan adalah sinusitis
maksilaris. Oleh karena itu tema ini diangkat agar diagnosis, dan penanganan sinusitis maksilaris
bisa dimengerti dengan lebih baik.

1.2

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana anatomi sinus paranasalis ?


2. Macam-macam etiologi dari sinusitis maksilaris ?
3. Bagaimana patofisiologi sinusitis maksilaris ?
4. bagaimana manifestasi klinis dari sinusistis maksilaris ?
5. bagaimana penegakan diagnosis dari sinusitis maksilaris ?
6. bagaiman penatalaksanaan dari sinusitis maksilaris ?
1.3

TUJUAN

Laporan kasus ini dibuat untuk mengetahui anatomi dari sinus maksilaris, macam-macam etiologi
sinusistis maksilaris, patofisiologi sinusitis maksilaris, manifestasi klinis sinusitis maksilaris,
penegakan diagnosis sinusitis maksilaris, dan penatalaksanaan sinusitis maksilaris.
1.4

MANFAAT

1. Dapat menjadi tambahan ilmu pengetahuan bagi pembaca serta bagi penulis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

ANATOMI SINUS PARANASALIS


Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum nasi.
Sinus sinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah, dan diberi nama sesuai
dengan tulang tersebut, yaitu sinus maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus frontalis, dan sinus
etmoidalis (Gambar 1). Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan yang mengalami
modifikasi, yang mampu mengkasilkan mukus, dan bersilia. Sekret yang dihasilkan disalurkan
ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara.1

GAMBAR 1. SINUS PARANASALIS.2

Sinus maksilaris merupakan satu satunya sinus yang rutin ditemukan pada saat lahir.1
Sinus maksilaris terletak di dalam tulang maksilaris, dengan dinding inferior orbita sebagai
batas superior, dinding lateral nasal sebagai batas medial, prosesus alveolaris maksila sebagai
batas inferior dan fossa canine sebagai batas anterior.2
2.2

DEFINISI
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang terkena,

dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid. 1,2,3
Jadi, sinusitis maksilaris adalah suatu kondisi inflamatorik yang melibatkan sinus maksilaris
Secara klinis sinusitis dibagi atas :1,3
1. Sinusitis akut, bila infeksi brlangsung beberapa hari sampai 4 minggu.
3

2. Sinusitis subakut, bila infeksi berlangsung 4 minggu hingga 3 bulan.


3. Sinusitis Kronis, bila infeksi berlangsung lebih dari 3 bulan.
Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis : 1,3
1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan
sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Contohnya rinitis akut (influenza),
polip, dan septum deviasi.
2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis
infeksi adalah pada gigi geraham atas (pre molar dan molar). Bakteri penyebabnya adalah
Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenza, Steptococcus viridans, Staphylococcus
aureus, Branchamella catarhatis.
2.3

EPIDEMIOLOGI
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek sehari-hari, bahkan

dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Sinusitis
menyerang 1 dari 7 orang dewasa di United States, dengan lebih dari 30 juta individu yang
didiagnosis tiap tahunnya. Individu dengan riwayat alergi atau asma berisiko tinggi terjadinya
rhinosinusitis4,5. Prevalensi sinusitis tertinggi pada usia dewasa 18-75 tahun dan kemudian anakanak berusia 15 tahun. Pada anak-anak berusia 5-10 tahun. Infeksi saluran pernafasan
dihubungkan dengan sinusitis akut. Sinusitis jarang pada anak-anak berusia kurang dari 1 tahun
karena sinus belum berkembang dengan baik sebelum usia tersebut4.
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di tempat
dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi

pollen yang

tinggiterkait dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis 6. Sinusitis maksilaris adalah
sinusitis dengan insiden yang terbesar7.
2.4

ETIOLOGI
Penyebab infeksius dari sinusitis adalah: 1)Bakteri : Streptococcus pneumoniae,

Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella,


Basil gram -, Pseudomonas; 2) Virus : Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus; 3)
Bakteri anaerob: fusobakteria; 4) Jamur 8.
Sinusitis akut dapat disebabkan oleh 1) Rinitis akut; 2) Faringitis; 3) Adenoiditis; 4)
Tonsilitis akut; 5) Dentogen. Infeksi dari gigi rahang atas seperti M1, M2, M3, P1 & P2; 6)
Berenang; 7) Menyelam; 8) Trauma. Menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal; 9)
Barotrauma. Menyebabkan nekrosis mukosa sinus paranasal8.
4

Infeksi kronis pada sinusitis kronis disebabkan 1) Gangguan drainase. Gangguan


drainase dapat disebabkan obstruksi mekanik dan kerusakan silia; 2) Perubahan mukosa.
Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi imunologik, dan kerusakan silia; 3)
Pengobatan. Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna. Sebaliknya, kerusakan silia dapat
disebabkan oleh gangguan drainase, perubahan mukosa, dan polusi bahan kimia9.
2.5

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


Mekanisme patofisiologi ini berhubungan dengan 3 faktor, yaitu patensi ostia, fungsi

silia, dan kualitas sekresi hidung. Perubahan salah satu dari faktor ini akan merubah sistem
fisiologis dan menyebabkan sinusitis.
1. Patensi ostia yang berkurang pengaliran mukus atau drainage akan menjadi kurang
adekuat hipoksia disfungsi silia dan perubahan produksi mukus merusak
mekanisme dari klirens atau bersihan mukus akumulasi cairan di dalam sinus media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Patensi ostia berkurang pada edema, polip hidung,
inflamasi, tumor, trauma, jaringan parut, dan variasi anatomi (misalnya concha bullosa,
deviasi septum), dan instrumen atau alat pada nasal seperti pipa nasogastrik.
2. Kerusakan fungsi silia akumulasi cairan dan bakteri di dalam sinus. Gerakan silia yang
tidak efektif dapat disebabkan oleh pergerakan silia yang lambat, hilangnya koordinasi
pergerakan silia, atau hilangnya sel silia dari epitel hidung. Lambatnya pergerakan silia dapat
diakibatkan oleh virus, bakteri, air dingin, sitokin atau mediator inflamasi lainnya.
Terganggunya gerakan silia dapat disebabkan oleh kelainan kongenital seperti pada
diskinesia silia primer pada Sindrom Kartagener. Sel silia dapat hilang sebagai hasil dari
injuri epitel hidung karena iritasi saluran pernapasan, polutan, tindakan bedah, penyakit
kronis, virus, atau bakteri.
3. Silia memerlukan medium cairan untuk bergerak dan berfungsi secara normal. Lingkungan
normal silia dibentuk oleh lapisan mukus ganda (lapisan tipis perisiliaris yang
memungkinkan pergerakan silia dan lapisan gel atau serous yang tebal sebagai tempat
melekatnya ujung silia). Lapisan mukus terdiri dari mukoglikoprotein, imunoglobulin, dan
sel inflamasi. Sekret hidung dihasilkan oleh sel goblet dan sel kolumna siliata dari sel epitel
hidung dan oleh mukus submukosa. Perubahan komposisi mukus menurunkan elastisitas
atau meningkatkan viskositas merubah efektivitas dalam membersihkan bagian dalam
hidung dan mukosa intrasinus. Perubahan komposisi mukus akan merubah pergerakan silia.
Produksi mukus yang berlebihan (seperti yang diakibatkan oleh polusi udara, alergen, iritasi
atau infeksi) akan mempengaruhi sistem klirens mukosiliaris.
5

GAMBAR 2.2 MEKANISME TERJADINYA SINUSITIS KRONIS

2.6

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

penunjang.
1. Anamnesis
Keluhan utama sinusitis maksilaris akut adalah hidung tersumbat disertai nyeri atau
rasa tekanan pada pipi unilateral atau bilateral yang bertambah ketika menunduk. Kadangkadang pasien datang dengan keluhan ingus yang purulen, yang seringkali turun ke
tenggorok (post nasal drip) dan keluhan sistemik seperti demam serta lesu. Keluhan lain
adalah sakit kepala yang kadang-kadang disertai nyeri alih ke gigi dan telinga, hiposmia atau
anosmia, halitosis, dan batuk atau sesak akibat post nasal drip1.
Keluhan pada sinusitis maksimalis kronis tidak khas, sehingga sulit didiagnosis.
Keluhan khas nyeri pada pipi tidak ditemukan. Pasien mungkin datang dengan keluhan sakit
kepala kronik, batuk kronik, gangguan tenggorokan, gangguan telinga, hiposmia dan mudah
lelah1,10.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnosis sinusitis maksilaris adalah:
a. Nyeri pada palpasi dan perkusi regio maksila yang terkena, biasanya unilateral pada
sinusitis dentogen, dan bilateral pada sinusitis rinogen

b. Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior, ditemukan adanya pus mukopurulen di meatus


medius. Dapat pula ditemukan mukosa edema dan hiperemis pada sinusitis maksilaris
akut
c. Dapat ditemukan post nasal drip pada pemeriksaan rhinoskopi posterior
d. Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram dan gelap1,11.
3. Pemeriksaan penunjang
a.

Pemeriksaan penunjang yang penting dan relatif murah adalah foto polos sinus posisi
Waters, PA dan lateral, yang terlihat adalah adanya perselubungan sinus, penebalan
mukosa, dan batas udara-cairan (air fluid level)12,13

b.

CT scan juga dapat digunakan untuk pemeriksaan, dan akan menghasilkan gambaran
sinusitis yang lebih jelas, namun jarang dilakukan secara rutin karena mahal1

c.

Pemeriksaan mikrobiologi sekret dan tes resistensi dapat dilakukan dengan mengambil
sekret dari meatus medius/ superior, yang paling baik sekret diambil dari pungsi sinus
maksilaris1.

GAMBAR 2.3 PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA SINUSITIS MAKSILARIS, A. FOTO RADIOLOGI


SINUS LATERAL : DITERMUKAN AIR FLUID LEVEL, B. FOTO SINUS POSISI WATER : TERDAPAT
PENEBALAN PADA MUKOSA SINUS MAKSILARIS DEXTRA12,13

2.7

PENATALAKSANAAN

Tujuan terapi sinusitis adalah:


1.

Mempercepat penyembuhan

2.

Mencegah komplikasi
7

3.

Mencegah perubahan menjadi kronik

4.

Mencegah berulang1

Medikamentosa :
1. Antibiotik
Beberapa pilihan antibiotik yang dapat diberikan pada pasien sinusitis adalah:
Golongan penisilin
Golongan amoksisilin-klavunamat
Golongan sefalosporin generasi ke-2
Pada sinusitis antibiotik diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala kliniknya sudah
hilang.
2. Dekongestan
Solusio efedrin 1-2% tetes hidung
Solusio oksimetasolin HCl 0,05% semprot hidung
Tablet pseudoefedrin 3 x 60 mg
3. Anti nyeri
Paracetamol 3 x 500 mg
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Tindakan :
1. Irigasi sinus
Irigasi sinus maksilaris dapat dilakukan dengan mengalirkan cairan salin hangat ke dalam
antrum maksilaris. Sebelumnya dilakukan insersi melalui bawah konka inferior atau melalui
celah bukalis gusi menembus fosa incisivus. Pengaliran cairan salin akan menyebabkan pus
akan keluar melaui meatus nasi media. Pengaliran cairan dilakukan berulang hingga pus di
dalam antrum maksilaris keluar seluruhnya1,11.

GAMBAR 2.4 IRIGASI SINUS MAKSILARIS. DILAKUKAN INSERSI MELALUI MEATUS NASI
INFERIOR10

2. Terapi bedah
Indikasi operasi adalah sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis
kronik yang disertai kista atau kelainan yang irreversibel, polip ekstensif, atau adanya
komplikasi sinusitis. Tindakan yang dilakukan adalah bedah sinus endoskopi fungsional
(BSEF / FESS)1.
Hilangkan penyebab sinusitis :
1. Sinusitis dentogen
Pada sinusitis yang diduga disebabkan asal kuman dari gigi geligi atas, maka perlu dilakukan
tindakan untuk menghilangkan sumber infeksi dari gigi tersebut
2. Sinusitis rhinogen
Pasien harus dapat menjaga kondisinya agar tidak sering terkena pilek atau rhinitis, baik
karena virus, bakteri atau reaksi alergi. Caranya adalah dengan memberikan edukasi kepada
pasien untuk meningkatkan daya tahan tubuh, berolahraga teratur, menciptakan kondisi
lingkungan rumah yang sehat, seta menghindari faktor pencetus alergi11.
2.8

KOMPLIKASI
Komplikasi sinusitis telah menurun sejak ditemukannya antibiotik. Komplikasi yang

dapat terjadi, diantaranya :


1. Kelainan intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak, dan thrombosis sinus
kavernosus

2. Osteomielitis dan abses subperiostal


Sinusitis maksilaris dapat menyebabkan osteomielitis sinus maksila yang dapat
menimbulkan fistula oroantral atau fistula pada pipi
3. Kelainan paru
Komplikasi sinusitis pada paru dapat menimbulkan bronchitis kronis dan brokiektasis. Selain
itu juga dapat menyebabkan kambuhnya asma bronkhial yang sukar dihilangkan sebelum
sinusitisnya disembuhkan1.

10

BAB III
DATA PASIEN

1. Anamnesis
A. Identitas :
- Nama : Ny. R
- Usia : 28 Th
- Alamat : Sutajayan kab. Blitar
- Pekerjaan : Guru
- Suku : Jawa
- Agama : Islam
- Status : Menikah
- Pendidikan : S1
B. Keluhan Utama : nyeri pada pipi kanan kiri
RPS :
Pasien mengeluh sakit pada kedua pipi, sakit pada kedua pipi sering kambuhkambuhan dan semakin sering beberapa bulan terakhir. Keluhan seperti ini dirasakan
sejak satu tahun yang lalu., sakit dirasakan memberat saat siang hari dan kelelahan
serta berkurang saat pasien istirahat dan meminum obat anti nyeri. Pasien juga
mengeluhkan bersin-bersin lebih dari lima kali setiap kali bersin dan hidung
mengeluarkan cairan berwarna jernih serta hidung terasa mampet saat suhu dingin
dan terkena debu. Pasien tidak mengeluhkan adanya sakit pada telinga, tenggorokan,
dan gigi.
ANAMNESIS THT
TELINGA :
Otorea

ka./ki. -/-

Lamanya -/terus-terus / kadang-kadang -/Pendengaran ka./ki. -/11

Tinnitus ka./ki. -/Nyeri -/Sakit kepala -/Pusing -/Mau jatuh ke ka./ki. -/Muka miring ke ka./ki. -/Panas -/Keluhan lain -/HIDUNG :
Pilek ka./ki. : + / +
Lamanya: + / + ( 1 tahun )
Terus-menerus/kadang-kadang
Buntu ka./ki. : kanan / Kiri
Lamanya: 1 tahun
Terus-menerus / kadang-kadang
Sekret encer/kental/tidak bisa keluar
Berbau + / +
Bercampur darah - / Bersin-bersin + / + >5 kali
Epistaksis ka./ki -/Anosmia -/Sakit kepala -/+
Sakit di hidung - / Keluhan lain: TENGGOROK :
Sakit menelan lamanya -/sering-sering -/12

yang terakhir -/Trismus -/Ptialismus -/Panas sering-sering -/yang terakhir -/Sakit kepala -/Rasa ngganjel -/Rasa mukus -/Keluhan lain : LARING :
Sakit menelan -/Parau / serak lamanya -/terus-terus / kadang-kadang
Sesak-/Rasa ngganjel -/Keluhan lain -/-

C. RPD :
Sesak

nafas

berulang

disangkal

),

MRS

(disangkal),

Riw.

Operasi

( disangkal ), DM ( disangkal ), Hipertensi ( disangkal ), Nyeri Perut / Dyspepsia


Syndrome ( disangkal ).
- RPK :
Di keluarga pasien tidak ada yang sakit serupa dan tidak didapatkan penyakit
genetik tertentu pada keluarga.
- R. Pengobatan :
Pasien mengobati keluhanya dengan meminum obat anti nyeri yang dibeli di
apotek dan keluhan berkurang saat setelah meminum obat saja.
- R. Alergi :
13

Pasien mempunyai riwayat alergi terhadap dingin dan debu.


- R. Kebiasaan :
Pasien aktifitas sehari-hari mengajar disekolah dan jarang OR, pasien tidak
mengonsumsi kopi ataupun merokok dan minum-minuman keras.

A.

Vital Signs :

- Keadaan Umum : Baik, Tampak sakit ringan, Kesadaran CM (GCS 456)


- Vital Sign : TD (120/80 mmHg), RR (20x/menit), Suhu (36,5oC) dan Nadi
(80x/menit).
PEMERIKSAAN THT
TELINGA :
LIANG TELINGA LUAR (Meatus Akustikus Externus) :
Bau Busuk : -/Sekret : tak ada / sedikit / banyak
Granulasi / polip : tak ada / sedikit / banyak
Dinding belakang atas : turun / tidak
Fistula : -/Gejala fistula pre aurikularis :
Gejala intracranial : Gejala labirin : Saraf fasialis / N.VII : Parese / Paralise : Udem / abses aurikularis : Fistel retro aurikularis : Nyeri tekan : -

14

MEMBRANA TIMPANI :
Intak + / +
Retraksi
Bombans
Perforasi
Sekret
Patologi

Tes Telinga Sisi

Kanan

Kiri

Tes Bisik 1 meter :

9/10

9/10

- 1024 Hz

- 952 Hz

- 512 Hz

- 426 Hz

- 341 Hz

- 286 Hz

Rinne Test

Schwabach Test

Normal

Normal

Weber Test Lateralisasi ke

Tidak ada lateralisasi

Tes Garpu Tala Frekuensi :

Kesimpulan Test Bisik dan Garpu Tala:

Normal / Tuli konduksi / persepsi D

Normal / Tuli konduksi / persepsi S

Semua Pemeriksaan Telinga Kesan dalam batas normal.

HIDUNG :
15

Keadaan luar : bentuk normal, deformitas (-), odem (-), hiperemia (-)
Rhinoskopia anterior :
Vestibulum nasi

: sekret -/+, krusta -/-, bisul -/-

Dasar kavum nasi

: sekret +/+ (minimal).

Meatus nasi inferior

: dBN/dBN

Konka nasi inferior

: hiperemia +/+

Meatus nasi media

: mukopus purulen (-).

Konka nasi media

: hiperemia

Fisura olfaktoria

: deviasi septum -/-

Septum nasi

: -/-

Benda asing

:-

Fenomena Palatum Molle : +


Rinoskopia posterior

: Tidak dilakukan

Koana

:-

Kauda konka nasi

:-

Nasofaring : - Atap

:-

- Dinding posterior

:-

- Dinding lateral

:-

Ostium tubae

:-

Torus tubarius

:-

Fosa rosenmuller : Transiluminasi : - Sinus Frontalis

: Terang / Terang

- Sinus Maksilaris : Gelap / Gelap


Gejala lain :
-

Dorsum nasi : krepitasi (-), deformitas (-)

Regio Frontalis : nyeri tekan -/-

16

Regio Maksilaris: nyeri tekan fossa kanina +/+


- Pemeriksaan Rhinoscopy anterior dilakukan menggunakan speculum hidung yang di
operasikan menggunakan tangan kiri pemeriksa dan tangan kanan mengoperasikan
instrument lain yang diperlukan sehingga dapat dievaluasi kelainan yang ada dalam
cavum nasi. Hasil : berdasarkan inspeksi luar tidak ditemukan deviasi septum nasi
(-), oedema (-), saddle nose (-), lorgnette nose (-), vulnus (-), maserasi bibir (-),
eritema sekitar nares anteriores (-), krusta (-), posisi septum nasi baik ditengah.
Pemeriksaan dengan Spekulum : Vestibulum nasi tidak tampak kelainan, cavum nasi
bagian bawah tampak hiperemi mukosa ringan tanpa pembengkakan konka atau
penyempitan meatus nasalis inferior serta didapatkan sekret minimal. Fenomena
palatum molle (+), pemeriksaan cavum nasi bagian atas tidak tampak kelainan secret
(-), pus (-), polip (-) dan septum nasi tidak tampak kelainan.
- Pemeriksaan Sinus : Penekanan Fossa canina sinistra et dekstra (+) menimbulkan
nyeri. Serta dilakukan pemeriksaan Diaphanoscopy (Trans-illuminasi) : didapatkan
kesimpulan bahwa bayangan sinus frontalis terang kanan dan kiri (T/T) dan
bayangan sinus maxillaris yang tertangkap pada area os frontalis pars orbitalis kanan
gelap pada bagian kiri tampak gelap (G/G).
TENGGOROK :
Bibir

: kering (-), ulkus (-), stomatitis angularis (-)

Mulut

: trismus (-), ptialismus (-), gerakan bibir dan sudut mulut dBN

Gusi

: hiperemia (-), ulkus (-), odem (-)

Lidah

: stomatitis aftosa (-), atrofi (-), tumor/massa (-)

Palatum durum : Torus palatinus - / Palatum mole

: hiperemia (-), ulkus (-)

Uvula : bentuk : dBN


posisi : Selalu menunjuk ke bawah
tumor : -

Arkus anterior : posisi

: dBN

radang : -

17

tumor

:-

Arkus posterior : posisi

: dBN

radang : tumor

:-

Tonsil :
Kanan T 1

Kiri T 1

Besar: dBN
Warna: Merah Muda
Udem: -/Kripte: dBN/dBN
Detritus: -/Membran: -/Ulkus: -/Tumor: -/Mobilitas: dBN
Faring :
warna

: Merah muda

udem

:-

granula

:-

lateral band

: dBN

secret

:-

reflex muntah

:+

lain lain

: tidak ditemukan

Kelenjar getah bening :


warna kulit

: sama dengan kulit sekitar

soliter / multiple

: -/-

ukuran

:18

konsistensi

: -/-

nyeri tekan

: -/-

mobilitas

: -/-

PEMERIKSAAN LAIN-LAIN :
-

Laringoskopi direk (tidak dilakukan)

Laringoskopi indirek (Tidak Dilakukan)

Epiglotis ( - )
Aritenoid ( - )
Plica Ventrikularis ( )
Korda vokalis ( - )
Subglotik ( - )

- Pemeriksaan Mulut : dalam batas normal


- Pemeriksaan rongga tenggorok tidak tampak kelainan yang bermaknya yaitu Tonsilla
palatina (T1/T1), arkus faring posterior hiperemis (-), granula-granula multiple (-),
lesi (-).

2. Pemeriksaan penunjang
A. Audiogram.
Tidak dilakukan
B. Darah lengkap apa saja bila diperlukan.
- Evaluasi DL diperlukan untuk melihat adanya peningkatan kadar WBC yang
secara umum meningkat pada proses peradangan dan infeksi akut.
C. Swab tonsil bila diperlukan.
Tidak dilakukan
D. Foto Roentgen apa saja jika diperlukan.
- Ro. Posisi Waters untuk mengetahui stadium dari keradangan sinus maxillaris
maupun sinus frontalis.
E. Prick Test ( Untuk Rhinitis Alergi ).
Tidak dilakukan.
F. Biopsi Nasofaring pada pasien Suspect Carcinoma Nasofaring.

19

Tidak dilakukan.

3. Penegakan Diagnosis / Diagnosis Banding :


A. Diagnosis Utama

: Sinusitis Maxillaris Sinistra et dextra kronis rhinogenik.

B. Diagnosis Banding :
1. Sinusitis Maxillaris Sinistra Akut Non-Rhinogenik.
2. Rhinitis Alergika
3. Rhinitis Vasomotor
4. Polip nasi Sinistra
5. headache
4. Tatalaksana Non-Farmakologis / Tindakan :
- Irigasi Sinus Maxillaris (Kaak Spooling) / Antrostomi Inferior.
- Pembedahan : Unisinektomi Endoskopik, Caldwell-Luc.
5. Tatalaksana Farmakologis :
Kausatif :
Antibiotik spektrum luas Cefadroxil tablet 500 mg p.o 2 dd 1
Clindamicyn capsule 300 mg p.o 2 dd 1
Simptomatik :

Dekongestan : Tetes hidung solusio ephedrin 1-2% hidung kanan kiri atau
Nose Drops Oxymethazoline 0,05 % 2-3 nose drops tiap 12 jam (untuk 4
hari). Jika ada Riw. HT dan Penyakit Jantung Pilihan Obat yang diberikan ex.
AH1 (Loratadine10 mg 1 kali sehari setelah makan.).

Anti inflamasi Steroid : Dexamethason tablet PO 3 x 0,5 mg p.c

Roborantia untuk menjaga daya tahan tubuh : Vitamin B complex 3x1 tablet
p.c

20

dr. Jefri Efendi


SIP 210.121.0050
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang
Alamat Praktik : Jl. Kalimantan no 1
R/

Cefadroxil tab. 500 mg

No. VIII

S 2 dd tab. 1 PO. pc.


R/

Clindamicyn cap

No. VIII

S 3 dd 1
R/

Oxymethazoline nose drops 0,05 %

No. I

S 2 dd gtt 2 Nasal Sinistra


R/

Dexamethasone tab. 0,5 mg

No. XII

S 3 dd tab. 1 PO. pc.


R/

Vitamin B Complex Tab.

No. XII

S 3 dd tab. 1 PO. pc.


Pro

: Ny. R

Usia

: 28 Tahun

Alamat

: Sutajayan kab. Blitar.

21

6. Komunikasi dan Atau Edukasi Pasien meliputi :


A. KIE ( Komunikasi Informasi dan Edukasi ) : Posisi pasien tidur miring ke kanan,
Larangan makan, manfaat olah raga apa saja, dll.

Memberikan pengetahuan untuk menhindari allergen seperti debu dan dingin


dengan rutin membersihkan rumah dan memakai masker.

Memberikan pengetahuan tentang makanan yang harus dihindari dan


makanan yang sebaiknya dikonsumsi oleh pasien sebagai diet nutrisi yang
baik, sehingga diharapkan tidak terjadi kekambuhan penyakit yang diderita
pasien.

menjaga daya tahan tubuh dengan olah raga agar kondisinya cepat membaik.

Edukasi penggunaan Vaporizer dan kompres hangat.

B. Komplikasi yang akan terjadi jika penyakit tersebut tidak diobati dengan baik dan
benar.

Selulitis Orbita

Osteomielitis

Meningitis

Abses Orbita

C. Kirim atau Rujuk ke Dokter Spesialis yang Bersangkutan sesuai Bidang Keahlian.

Rujukan ke dokter Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan.

KETERANGAN : KL = KURANG LENGKAP, L = LENGKAP


Dokumen Medik THT ini dibuat untuk : Laporan Kasus / Ujian Pasien. (*Coret yang tidak perlu)
Penguji:

( Dr. ERIE TRIJONO, Sp. THT )


NIP. 19610923 198901 1 002

Blitar, 22 April 2015


Dokter Muda:

(__
NIM.

______)

22

BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis sinusitis maksilaris dekstra et sinistra pada kasus ini didapatkan melalui anamnesis
, pemeriksaan fisik , dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis pada pasien didapatkan keluhan sakit
pada kedua pipi dan menjalar kekepala sejak satu tahun yang laludan memberat beberapa bulan
terakhir, pasien juga mengeluhkan sering pilek atau hidung terasa tersumbat kanan dan kiri saat pagi
hari atau udara dingin dan saat terkena debu. Pasien menegeluhkan bersin-bersin lebih dari 5 kali
dalam satu kali bersin. Pasien juga mengeluhakan hidung sering mengeluarkan cairan berwarna
jernih dan kadang-kadang berbau tidak sedap serta beberapa bulan terakhir pasien mengeluhkan
suaranya berubah menjadi sengau. Hal ini sesuai dengan gejala klinis dari sinusitis maksilaris kanan
dan kiri kronis karena geja tersebut lebih dari tiga bulan. `
Dari pemeriksaaan fisik THT didapatkan konka inferior kanan dan kiri dari pasien
mengalami hiperemi dan odema yang menyebabkan penyempitan cavum nasi . Pada pemeriksaan
fisik juga didapatkan nyeri tekan pada fossa cannina kanan dan kiri. Dari pemeriksaan tambahan
transiluminasi sinus maksilaris dan frontalis didapatkan daerah gelap pada kedua sisi sinus
maksilaris yang mengindikasikan adanya proses peradangan pada sinus maksilaris kanan dan kiri.
Berdasarkan kepustaan, hasil pemeriksaan fisik pada pasien ini merujuk pada diagnosis sinusitis
maksilaris kanan dan kiri.
Faktor predisposisi pada pasien yaitu rhinitis alergi, rhinitis alergi akan menyebabkan odema
dari konka pada kavum nasi yang nantinya akan menyebabkan penyubatakan dari muara ductus
sinus maksilaris yang nantinya akan menyebabkan perubahan lingkungan fisiologis dari sinus
sehingga meningkatkan proliferasi dari bakteri pathogen ataupun perubahan bakteri komensal
menjadi pathogen serta virus. Apabila proses tersebut tidak dihentikan atau tidak sembuh maka dam
waktu tiga bulan akan menjadi sinusitis kronis.
Penatalaksanaan pada pasien meliputi istirahat dengan posisi sinus lebih tinggi untuk
mengurangi edema, mengeluarkan secret pada sinus dengan melakukan irigasi sinus maksilaris.
Irigasi dilakukan dengan memasukan trocar pada meatus nasi inferior untuk membuat lubang
sebagai akses keluarnya sekret dari sinus. Serta menhindari agen-agen allergen yang dapat memicu
terjadinya pembengkakakan dari konka nasalis.
Terapi farmakologis meliputi pemberian antibiotic untuk mengeradikasi bakteri pathogen,
pemberian nasal dekongestan untuk mengurangi odema pada konka nasalis sehingga jalan nafas
akan terbuka dan mengurangi oklisi dari meatus nasalis media. Analgesisk dan antiinflamasi
23

diberikan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi yang terjadi pada sinus.
Roborantia seperti vitamin B complex dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh
diberikan untuk membantu meningkatkan system imun. Prognosa pasien pada kasus ini cenderung
baik dengan terapi irigasi sinus paranasalis.

24

BAB V
KESIMPULAN
Sinusitis, merupakan salah satu penyakit atau kelainan pada sinus paranasal yang akhir-akhir
ini semakin meningkat angka kejadiannya. Dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini bervariasi,
mulai dari yang ringan sampai dengan yang berat. Betapapun ringannya dampak yang ditimbulkan,
penyakit ini selalu menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya. Sehingga akan terjadi pula
kerugian, baik yang dapat ternilai maupun yang tidak dapat ternilai harganya.
Pasien dalam kasus ini didiagnosa sinusitis maksilaris dekstra et sinistra kronis berdasarkan
anamnesa dan temuan klinik. Sinusitis maxillaries kronis adalah peradangan pada bagian sinus
maksilaris yang terjadi lebih dari 3 bulan. Dari anamnesa didapatkan bahwa pasien mengeluhkan
dari hidung yang sebelah kanan dan kiri mengeluarkan cairan bening dan kadang-kadang agak
kental berwarna kekuningan dan berbau.
Penatalaksanaaan sinusitis maksilaris meliputi konservatif non farmakologis, farmakologis
dan bedah. Selain itu perlu rawat bersama dengan spesialis THT untuk penanganan sinusitis
maksilaris.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Mangunkusumo, Endang dan Nusjirwan Rifki. Sinusitis. In: Soepardi EA, Iskandar N (eds).
Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. 5th Ed. Jakarta: Gaya Baru;
2001.pp.120-124.
2. Hilger, Peter A. Penyakit pada Hidung. In: Adams GL, Boies LR. Higler PA, editor. Buku ajar
penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC; 1997.p.200.
3. Kennedy E. Sinusitis. Available from: http://www.emedicine.com/emerg/topic536.htm
4. American

Academy

of

Pediatrics. Clinical

practice

guideline:

management

of

sinusitis. Pediatrics. Sep 2001;108(3):798-808. [Medline]


5. Benninger MS, Sedory Holzer SE, Lau J. Diagnosis and treatment of uncomplicated acute
bacterial rhinosinusitis: summary of the Agency for Health Care Policy and Research evidencebased report. Otolaryngol Head Neck Surg. Jan 2000;122(1):1-7. [Medline].
6. Bajracharya

H,

Hinthorn

D.

Sinusitis.

January

16,

2003.

Available

from:

http://www.emedicine.com. Diakses pada 10 oktober 2012


7. Patel AM, Vaughan WC. Chronic Maxillary Sinusitis Surgical Treatment. May 19, 2005.
Available from: http://www.emedicine.com. Diakses tanggal 10 oktober 2012
8. Kennedy E. Chronic Sinusitis. November 28, 2005. Available from: http://www.emedicine.com.
Diakses pada 10 oktober 2012
9. Nizar W. Anatomi Endoskopik Hidung-Sinus Paranasalis dan Patifisiologi Sinusitis. Kumpulan
Naskah Lengkap Pelatihan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional Juni 2000.p 8-9
10. Brook, I. 2012. Chronic Sinusitis. Diakses dari : http://emedicine.medscape.com/article/232791overview. Diakses tanggal 9 Oktober 2012.
11. Adam, G. L. 1997. Boies: Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC.
12. Sobol,

S.

E.

2009.

Sinusitis,

Acute,

Medical

Treatment.

Diakses

dari

http://emedicine.medscape.com/article/861646-overview. Diakses tanggal 10 Oktober 2012.


13. Ramanan,

R.

V.

2011.

Sinusitis

Imaging.

Diakses

dari

http://emedicine.medscape.com/article/384649-overview. Diakses tanggal 10 Oktober 2012.

26