Anda di halaman 1dari 12

TUGAS TERSTRUKTUR BIOLOGI DASAR

Reproduksi Ikan Belanak

Disusun oleh
Kelompok 11
Mifta Arfadina Fitri
L1B015050
Tubagus Aqaly Dahru
L1B015051
Atikah Nurul Hidayah
L1B015052
Harza Shifa Maulana
L1B015053
Urfa Hizbul Hanif
L1B015054

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................
I. PENDAHULUAN.........................................................................................
1.1. Latar Belakang..................................................................................
1.2. Tujuan................................................................................................
II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................
2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Belanak...............................................
2.2. Gonad................................................................................................
III.PEMBAHASAN..........................................................................................
3.1. Reproduksi dan Seksualitas Ikan Belanak........................................
3.2. Aspek aspek yang mempengaruhi.................................................
3.2.1 Rasio Kelamin...........................................................................
3.2.2 Tingkat Kematangan Gonad......................................................
3.2.3 Ukuran Ikan Saat Pertama Matang Gonad................................
3.2.4 Indeks Kematangan Gonad.......................................................
3.2.5 Fekunditas.................................................................................
3.2.6 Faktor Kondisi............................................................................
IV.PENUTUP..................................................................................................
4.1. Kesimpulan........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan


tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubahubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya.

Fungsi
2

reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari sistem


reproduksi yang terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad,
dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut
testis beserta salurannya. Sementara beberapa kelenjar endokrin
mempunyai peranan dalam mengatur sistem reproduksi (Hoar &
Randall, 1983). Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling
beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh
dunia. Untuk meneruskan keturunan tentu saja ikan perlu bereproduksi.
Ikan-ikan dari famili Mugillidae mempunyai prospek yang baik
untuk

dibudidayakan di

(Effendie,

antara

ikan-ikan

1984). Mugil dussumieri

laut

merupakan

dari

jenis

air payau

ikan

belanak

yang dominan di beberapa perairan Indonesia dan larvanya banyak


drjumpai

di perairan

disebabkan

pantai

dekat muara-muara sungai. Hal ini

kemampuan beradaptasi yang

didapat dan

dagingnya banyak

baik,

benihnya

disenangi masyarakat

mudah

(Tandipayuk,

1988). Sehingga reproduksi ikan belanak penting untuk diperhatikan.

1.2.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui system
reproduksi ikan belanak dan proses reproduksinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Klasifikasi dan Morfologi ikan belanak

Ikan Belanak berdasarkan sistematikanya dapat diklasifikasikan


sebagai berikut (Saanin. 1994) :

Kingdom

: Animalia

Ordo

: Parcesoces

Filum

: Chordata

Famili

: Mugilidae

Kelas

: Pisces

Spesies

Mugil

spp.

Liza

spp.

Subkelas
: Teleostei
Ikan dari famili Mugilidae termasuk ikan circum global, tersebar
di laut, estuaria dan perairan pantai daerah tropic dan subtropik.
Merupakan ikan bentopelagik (hidup didasar sampai permukaan air) dan
bergerombol dalam jumlah banyak. Penyebaran ikan belanak sangat
luas (all tropical and temperate seas) meliputi ; Indo-Pacific, laut merah,
Jepang bagian utara, dan Afrika Selatan. Famili ini diperkirakan
mempunyai 64 spesies ( Thomson, 1964), dan sekitar 28 spesies ikan ini
terdapat di Indonesia ( Weber,1922).
Warna : Bagian belakang berwarna kehijau-hijauan atau abu-abu
kecoklatan, pada bagian sisi dan perut berwarna keperakan; pinggiran
belakang sirip ekor berwarna hitam; pada permulaan sirip dada terdapat
spot biru. Ikan belanak bersisik cycloid atau ctenoid, bisa dengan jari-jari
kecil di tepinya atau tidak, ujung rahang atas melengkung ke bawah dan
terlihat pada saat mulutnya tertutup.
Famili Mugillidae merupakan ikan yang mempunyai prospek yang
paling baik untuk dijadikan ikan budidaya diantara ikan laut dan air
payau. Hal ini disebakan selain penyebarannya luas, ikan ikan tersebut
juga mampu bertoleransi pada kondisi kondisi yang ekstrim terhadap
salinitas, suhu, dan juga dapat menyesuaikan terhadap keadaan
makanan di berbagai macam habitat. Dilihat dari segi pemasaran, Ikan
belanak banyak disukai masyarakat baik sebagai ikan segar atau
sebagai ikan yang telah diawetkan secara tradisional.

2.2.

Gonad

Gonad merupakan kelenjar endokrin yang dipengaruhi oleh


gonadotropin hormone (GTH) yang disekresikan kelenjar pituitari.
3

Meskipun

gonadotropin

tidak

secara

perkembangan telur atau seperma ikan,

langsung

mempengaruhi

namun

mempengaruhi

sekresi estrogen oleh sel folikel telur dan androgen oleh jaringan testis.
Gonad ikan terletak di bagian atas rongga tubuh, memanjang pada
vertebrate rongga tubuh hingga berakhir pada lubang genital.

Pada

ikan, gonad terletak di bawah rongga tubuh, terletak memanjang dari


arah kepala menuju ekor. Perkembangan gonad yang diatur oleh sistem
endokrin dibagi menjadi

2 fase, yaitu fase pertumbuhan gonad dan

fase pematangan gonad (Mukti, 2007).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.

Reproduksi dan Seksualitas Ikan Belanak

Ikan belanak adalah ikan hetero seksual yang mana dalam satu
spesies betina dan jantannya terpisah. Berdasarkan organ tempat
embrio berkembang, ikan belanak tergolong dalam ikan ovipar (berteur).
Ovarium ikan belanak termasuk ke dalam tipe kriptovarian yang berarti
ovariumnya bersatu dengan saluran telur. Jadi telur yang di ovulasikan
tidak akan melalu rongga tubuh melainkan langsung ke saluran telur.
Ikan belanak tidak mempunyai organ atau bagian tubuh yang
memperlihatkan sifat seksual sekunder, sehingga secara morfologi
kelaminnya tidak dapat ditentukan secara eksternal termasuk lubang
genitalnya. Untuk mengetahui perbedaan antara jantan dan betina
dapat dilakukan dengan cara stripping yaitu dengan cara memijat perut
ikan sampai anus dan apabila keluar cairan berwarna putih seperti
santan (sperma) maka ikan tersebut berjenis kelamin jantan. Ikan betina
yang matang gonad mempunyai perut besar, apabila ikan tersebut
mendapatkan tekanan halus pada bagian perutya ke arah anus, maka
4

pada lubang genitalnya akan keluar tonjolan telur yang berwarna


kuning. (Effendie, 1997).
Ikan belanak ( Liza spp, Mugil spp, Valamugil sp) merupakan jenis
ikan pantai yang umumnya melakukan

pemijahan di daerah pantai

dengan salinitas yang agak tinggi. Telur-telur dikeluarkan begitu saja dan
terbawa arus sampai ke muara sungai. Anak-anak

belanak akan

bergerak ke tambak dan bahkan ada yang masuk ke perairan tawar.


Karena dilakukan pada kolam atau air terbuka, maka ikan belanak juga
termasuk dalam golongan ikan Pelaghopil.

3.2.

Aspek aspek yang mempengaruhi


Menurut Nikolsky (1963) reproduksi merupakan salah satu mata

rantai dalam siklus hidup ikan. Beberapa aspek biologi reproduksi seperti
factor kondisi, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, ukuran ikan
pertama kali matang gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan
diameter

telur

penting

diketahui

untuk

kepentingan

pengolahn

perikanan dan pelestarian spesies.

3.2.1.

Rasio Kelamin
Rasio kelamin antara ikan belanak jantan dan betina tidak
seimbang 1:1, baik dalam musim atau bulan pemijahan maupun tidak.
Adanya fluktuasi ini kemungkinan dikarenakan perbedaan musim
kemarau dan musim hujan. Berdasarkan ukuran panjang secara umum
dapat digambarkan semakin besar ukuran ikan, proporsi betina semakin
meningkat. Untuk mempertahankan kelestarian populasi diharapkan
perbandingan jantan dan betina seimbang atau sedapat dapatnya ikan
betina lebih banyak (Purwanto,1986).

3.2.2.

Tingkat kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad ikan belanak modifikasi dari Cassie


(Effendie,1977).

Tingkat
kematangan

Betina

Jantan

Ovari
seperti
benang.
Panjang sampai kedepan
rongga tubuh. Warna jernih,
permukaan licin.

Testes seperti benang,


lebih pendek(terbatas)
dan terlihat ujungnya
dirongga tubuh, warna
jernih

II

Ukuran ovari lebih besar.


Pewarnaan
lebih
gelap
kekuning-kuningan,
telur
belum terlihat jelas dengan
mata.

Ukuran
testes
lebih
besar. Pewarnaan putih
seperti susu. Bentuk
lebih jelas dari pada
tingkat 1.

III

Ovari
berwarna
kuning.
Secara morpologi telur mulai
kelihatan butirnya dengan
mata.

Permukaan
testes
tampak bergerigi. Warna
makin
putih,
testes
makin
besar,
dalam
keadaan diawet mudah
putus.

IV.

Ovari makin besar, telur Seperti pada tiingkat III


berwarna kuning, mudah di lebih
jelas,
testis
pisahkan. Butir minyak tidak semakin pejal.
tampak, mengisi 2/3
rongga perut, usus terdekat.

V.

Ovari
berkerut,
dinding
tebal,
butir
telur
sisa
terdapat di deket pelepasan.
Banyak telur seperti pada
tingkat II.

Testes bagian belakang


kempis dan di bagian
dekat pelepasan masih
berisi.

Berdasarkan histologi gonad ikan jantan pada TKG I ditunjukkan


dengan adanya spermatogonium, TKG II ditemukan spermatosit primer
yang berkembang menjadi spermatosit sekunder pada TKG III, pada TKG
IV terdapat spermatid dan spermatozoa dan TKG V didominasi oleh
spermatosit tetapi sudah muncul spermatogonium.
Sedangkan pada ikan betina, pada TKG I gonad didominasi oleh
oogonium kemudian diiringi dengan perkembangan oosit pada TKG II.
Pada TKG III ukuran sel telur terus berkembang membentuk ootid,
kemudian ootid berkembang menjadi bentuk ovum ( TKG IV ), pada TKG
V gonad didominasi oleh oosit dan ootid. ( Jannah, 2001)

3.2.3.

Ukuran Ikan saat pertama kali matang gonad


Kematangan gonad tingkat V sering didapatkan pada ikan jantan.
Kematangan seksual pertama pada ikan jantan terjadi pada ukuran 9
10 cm dan pada ikan betina pada ukuran 11 12 cm.

Berdasarkan

metode Spearman-Karber ikan jantan dan betina pertama kali matang


gonad ( TKG III dan IV ) terdapat pada ukuran 120 mm dan 140 mm.

3.2.4.

Indeks kematangan gonad


Indeks kematangan gonad pada ikan

fluktuasi

setiap bulannya tergantung

belanak mengalami

dari nilai kematangannya. IKG

pada ikan jantan lebih kecil daripada ikan betina, hal ini karena
bobot gonad ikan betina lebih besar hal ini didapatkan pada beberapa
penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Sulistiono (2001) dan
Jannah (2001) pada spesies Mugil dussumieri, serta Effendie (1984) pada
spesies Lisa subviridis .
Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Sulistiono
(2001) nilai IKG terbesar berturut-turut adalah pada bulan Juni dan
Januari. Sehingga dapat diperkirakan bahwa ikan mengalami puncak
pemijahan dua kali dalam setahun, meskipun demikian ikan ini tetap
memijah sepanjang tahun (Sari,2000).

3.2.5.

Fekunditas

Fekunditas mutlak atau fekunditas individu adalah jumlah telur


masak belum dikeluarkan pada waktu ikan memijah (Effendie, 1979).
Fekunditas ditentukan oleh tingkah laku reproduksi ikan. Ikan yang
memijah di daerah pelagis umumnya memiliki fekunditas yang besar
(Nikolsky, 1963)
Silva da De Silva (1981) menyatakan fekunditas yang di temukan
pada ikan M. Chephalus tergolong cukup tinggi adalah berkisar antara
450.000-4.800.000 butir telur dari ikan Belanak yang berada pada kelas
panjang 320-560 mm dan berat antara 700-2200 gram. Fekunditas
berkolerasi dengan panjang tubuh dan berat gonad. Sedangkan menurut
Effendie (1984) fekunditas ikan Belanak L.subviridis di muara sungai
cimanuk berkisar antara 33.000-845.000 butir telur. Variasi fekunditas ini
mungkin disebabkan karena variasi ukuran dan parameter lainya.

3.2.6.

Faktor Kondisi
Pada musim kemarau hasil tangkapan belanak di daerah teluk

berkurang, sedangkan jumlah di muara tetap dan di sungai naik. Pada


musim hujan ikan hanya tertangkap di daerah muara, dan teluk. Hasil
tangkapan pada habitat teluk pun lebih besar dibandingkan pada masa
peralihan ke musim kemarau. Ikan belanak banyak tertangkap di habitat
sungai pada musim kemarau memberi petunjuk bahwa kondisi habitat
tersebut pada musim kemarau sesuai dengan ikan belanak, dimana
arusnya tenang dan air cukup cerah. Sedangkan pada musim penghujan
habitat sungai tidak sesuai untuk ikan belanak dimungkinkan karena air
yang keruh dan arus yang deras. Sehingga ikan belanak dewasa selalu
ditemukan di habitat teluk dan muara.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Effendie (1984) ikan
jantan dan betina dengan TKG IV banyak tertangkap di habitat muara
8

dibandingkan di teluk pada peralihan ke musim hujan sampai dengan


peralihan ke musim kemarau. Sehingga musim hujan merupakan saat
aktivitas gonad yang tinggi, ditunjukkan dengan adanya oosit yang
masuk dalam tahap matang telur dengan presentase yang tinggi
daripada musim sebelumnya ( Effendie,1984 ). Hal ini juga menunjukkan
bahwasannya muara sungai adalah tempat pembesaran dan mencari
makan, sedangkan pemijahan di lakukan di teluk dan muara ( Sulistiono
et. Al, 2001 )
Bab IV
PENUTUP
Kesimpulan
Ikan Belanak adalah ikan heteroseksual yang bereproduksi dengan
cara ovipar. Ikan belanak melakukan pemijahan pada musim penghujan (
tingkat kematangan gonad tertinggi) , pemijahan dilakukan pada teluk
dan muara. Sedangkan sungai merupakan tempat ikan belanak untuk
melakukan

pembesaran.

IKG

ikan

belanak

jantan

lebih

kecil

dibandingkan ikan betina. Ikan belanak mencapai kematangan gonad


pertama ( TKG III dan IV) pada ukuran 120 mm 140 mm. Ikan belanak
memiliki fekunditas yang tinggi pada setiap jenis spesiesnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. Saunders company. Philadelphia
Effendie, H. M. I. 1984. Penilaian perkembangan gonad ikan belanak, Liza
subviridis valencienes, di perairan Muara sungai cimanuk, indramayu,
bagi usha pengadaan benih. Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
_____________. 1997. Biology Perikanan. Yayasan pustaka nusatama. Yogyakata.
163 hal.

Hoar, W.S., D.J. Randall (eds), 1983. Fish physiology. Vol. 9. Reproduction. Part
A. Endocrine tissues and hormones. New York, Academic Press, 483 hal.
Jannah, M.R. 2001. Beberapa aspek biologi reproduksi ikan belanak ( Mugil
dussumieri) di perairan ujung pangkah, gresik, jawa timur. Skripsi.
Fakults Perikanan dan ilmu Kelautan. IPB . Bogor
Mukti, Akhmad Taufiq. 2007. Perbandingan pertumbuhan dan Perkembangan
Gonad Ikan Mas (Cyprinus carpio) Diploid dan Tetraploid. Berk. Penel.
Hayati: 13 (27-32).
Nikolsky, G.V. 1963. The ecology of fishes. Academic Press. New York. 325 Hal.
Purwanto, G. 1986. Studi Pendahuluan Keadaan Reproduksi dan Perbandingan
Kelamin Ikan Cakalang ( Katsuwonus pelamis ) di Perairan Sekitar Teluk
Piru dan Elpaputih P. Seram.Jurnal penelitian perikanan laut 34:69-78
Saanin, H. 1984. Taksnomi dan kunci identifikasi ikan, jilid I dan II. Binacipta.
Bandung. 508 hal.
Sari, P. P. 2000. Reproduksi ikan Shirogisu Sillago japonica ( Temminck dan
Schlegel ) di Perairan Teluk Omura, Nagasaki, jepang. Skripsi. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor
Silva dan de Silva. 1981. Aspect of the biology of Grey Mullet, Mugil dussumieri
L.,adult population of a Coastal Lagoon in Sri Langka. Department of
Zoologi Ruhuna University College. Matara. Sri Langka
Sulistiono, M.A, Aziz, K.A. 2001. Pertumbuhan Ikan Belanak ( Mugil dussumieri)
di perairan ujung pangkah, jawa timur. Jurnal iktiologi Indonesia, Vol. 1,
No.2 . 39-47 hal.
Tandipayuk,L.S.1988.Pengaruh Berbagai Densitas Populasi Ikan Belanak Liza
subdiviris valencienes Terhadap Produksi Biomassa Ikan Banding Dalam
Tambak.Tesis.Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor.116h

Thomson, J. M. 1964. A bibliography of systematic references to the grey mullet


( mgilidae), CSIRO, Technical Paper No. 16. 127 p.
Weber, M. 1922. The fishes of the Indo-Australian archipelago, IV. E. J. Brill Ltd. ,
Leiden, 410 p.