Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 TOPIK :
Pewarnaan Alumunium dengan proses Anodizing
I.2 TUJUAN PERCOBAAN
1.

merangkai rangkaian listrik yang digunakan dalam proses pewarnaan


alumunium dengan proses anodizing dengan benar.

2.

Menghitug konsentrasi asam sulfat yang digunakan dalam proses


pewarnaan alumunium dengan proses anodizing dengan benar dan tepat

3.

Mengukur arus yang digunakan dalam proses pewarnaan


alumunium dengan proses anodizing dengan benar

4.

Mewarnai permukaan logam dengan proses anodizing dengan


benar

5.

Menghitung angka banding optimal pada proses anodizing dengan


benar.

6.

Memberikan informasi empiris tentang pengaruh anodizing


terhadap angka banding optimal dengan benar dan tepat

I.3 DASAR TEORI


I.3.1 Penganodaan Alumunium
Proses penganodaan alumunium adalah proses elektrolisa sehingga
elektrolitnya adalah asam sulfat ( H 2 SO 4 ). Benda dari logam alumunium itu
dipasang pada kutub positif dan mengalami reaksi oksidasi permukaannya.
Dengan demikian terbentuklah suatu lapisan oksida alumunium pada permukaan
benda itu sehingga akan merupakan lapisan pelindung yang sekaligus berfungsi
dekoratif.
Sebenarnya proses penganodaan tidak saja dapat dilakukan pada logam
alumunium tetapi juga pada logam lain seperti : magnesium , seng , tembaga,
perak dsb. Sekalipun demikian proses penganodaan alumuniumlah yang paling
banyak dilakukan di industri.

Proses penganodaan alumunium pada prinsipnya berbeda dengan proses


pelapisan logam. Pada proses penganodaan terbentuk suatu lapisan logam
terendapkan logam, sehingga merupakan logam yang menyelubungi benda itu.
Pada proses penganodaan benda dipasang pada kutub positif (anoda) sedang pada
proses lapisan logam benda dipasang pada kutub negatif (katoda).
I.3.2 Teori terjadinya lapisan oksida
Dari reaksi oksida alumunium :
2 Al Al 2 O 3 dihitung bahwa massa alumunium setelah teroksidasi
menjadi alumunium oksida bertambah banyak dengan 1.89 kali.Angka 1,89
disebut Angka Banding Optimal. Sesuai dengan hukum Faraday, 1 gram setara
logam alumunium (8,99938 gr) akan teroksidasi menjadi 16,9935 gr alumunium
oksida, jika dialiri arus sebesar 96,500 coulomb.Angka banding optimal ternyata
diperoleh hasil rata-rata 14,3910 gr alumunium oksida atau angka banding
optimal 1,60.Tidak tercapainya angka banding optimal 1,89 kemudian disebabkan
daya hantar alumunium oksida sangat kecil sehingga memperbesar tekanannya.
Dengan angka banding optimal 1,6 sudah diperoleh lapisan aluminium oksida
yang memadai yaitu cukup banyak dan rapat pori porinya. Konsentrasi dan arus
memberi pengruh juga pada angka banding optimal ini.
Ternyata angka banding optimal munurun jika elektrolit di naikkan. Hal ini
juga terjadi pada penganodaan Al. Pada umumnya penurunan angka banding
optimal mempertinggi daya serap lapisan oksida tetapi memperkecil daya tahan
terhadap gesekan. Percobaan percobaan menunjukkan bahwa kedalaman lapisan
oksida itu terserap zat zat seperti air dan sulfat secara kimiawi. Jika pada
penganodaan alumunium menggunakan larutan elektrolit yang melarutkan oksida
logam tersebut, maka akan terbentuk lapisan oksida yang hampir tak berpori
pori dan tipis. Lapisan oksida ini disebut lapisan penghalang arus.
Sekali lapisan penghalang terbentuk, maka lapisan itu akan kian menebal,
sehingga aliran listrok akan berhenti. Jika lapisan anoda banyak pori porinya,
maka hal diatas tidak akan terjadi, karena elektrolit akan mudah mencapai logam.
Lapisan logam yang banyak pori porinya itu ketebalannya hanya beberapa per

puluhan mikrometer. Sekalipun sangat tipis. Dalam lapisan ini mungkin terbentuk
lapisan penghalang arus.
Gambar dibawah ini memperlihatkan sebagian dari lapisan oksida dimana
dipakai asam sulfat pada penganodaannya.Ukuran berat pori, sel, dinding sel
lapisan penghalang arus dinyatakan dalam satuan manometer.

Gambar Lapisan oksida


Gambar dibawah ini menunjukan sel-sel oksida berbentuk amor yang berhimpitan
satu sama lain. Dalam 1 cm ada berjuta-juta sel.

Gambar. Sel-sel oksida alumunium berbentuk amor


Besaran sel ini tergantung tegangan arus listrik pada waktu peanodaanya.

Gambar. Grafik besaran tergantung tegangan arus


I.3.3 Pengerasan lapisan oksida.
Lapisan oksida pada Al dapat dikeraskan dengan cara sebagai berikut :
1. Dengan air panas
Pengerasan lapisan oksida aluminium yang telah mengalami proses
penganodaan dilakukan dengan menggunakan air panas. Alumunium oksida
itu akan bereaksi dengan air membentuk bochmid.

Reaksinya :

Al 2 O 3 + H 2 O

2 AlOOH

Aluminium oksida + air bochmid


Jenis reaksi kimia ini disebut reaksi hedratasi. Bochmid hanya terjadi pada
bagian permukaan dari lapisan aluminium oksida dan merupakan selaput yang
meliputi seluruh lapisan oksida tersebut.
Untuk reaksi hidratasi ini diperlukan air yang tinggi kualitasnya. Kandungan
phosphat 10 mg/liter atau selikat 5 mg/liter, sangat menghambat pembentukan
bochimid ini. Demikian pula pembentukan flourida dan klorida. Derajat
keasamanpun perlu diperhatikan. Reaksi dehidratasi ini akan berjalan baik
jika pH air 5,5 sampai 6,5. supaya pH air terkontrol digunakan natrium asetat
dan asam asetat untuk mendapatkan pHnya.
2.

Dengan uap air panas


Mengeraskan lapisan dapat juga dilakukan dengan menggunakan uap air
panas. Dengan cara ini juga terbentuk lapisan bochmid pada lapisan
oksidanya. Cara pengerasan dengan metode ini dapat menghindari terlarutnya
kembali sebagian.

3.

Dengan zat lain


Mengeraskan oksida dapat juga dilakukan dengan menggunakan larutan
seperti : Nikel Asetat , Dichromat , Silikat dsb. Berikut ini adalah beberapa
cara mengeraskan lapisan oksida disamping menggunakan air panas.

Asam sulfat sebagai elektrolit.


Pada proses penganodaan alumunium dapat dipakai berbagai macam
elektrolit.dari sekian banyak elektrolit asam sulfatlah yang paling banyak
digunakan, karena :

Asam sulfat mudah didapat dan murah harganya.

Dapat membentuk lapisan oksida yang memadai untuk keperluan


dekoratif maupun sebagai lapisan pelindung.

Proses penganodaan Al dengan asam sulfat sebagai elektrolit mudah


terkontrol.
Kadar asam sulfat untuk keperluan ini berkisar 12 - 15 (% volume ).

Kadar asam sulfat dapat dinyatakan dengan konsentrasi asam sulfat.


Konsentrasi menyatakan banyaknya solud (zat terlarut dalam sejumlah
larutan). Selama proses penganodaan aluminium ini elektrolit yang dipakai
adalah asam sulfat yang dicampur dengan air distilita.
Dalam hal ini cara menghitung konsentrasi asam sulfat ada 2 cara :
1) Konsentrasi sebagai pembanding banyaknya asam sulfat terhadap
banyaknya pelarut ( aquades )
2) Konsentrasi sebagai pembanding banyaknya asam sulfat terhadap
banyaknya larutan .
Jika banyak soludnya = n dan banyak pelarut = m maka konsentrasi = n / m
atau konsentrasinya = n / (n + m). Panganodaan dapat dilaksanakan pada suhu
kamar 21C sampai dengan 27C dengan besar arus 1,3 A/dm dengan
tegangan 12 22 volt.
Pewarnaan lapisan oksida
Dalam proses penganodaan Al akan membentuk permukaan porous.
Dalam pori pori dari lapisan itu dapat diserap berbagai zat warna. Selain
larutan garam dari logam tertentu, zat warna dapat berupa zat warna organik
dan anorganik .
1)

Zat warna organik

Setelah mengalami proses penganodaan dan dibilas dengan air, lapisan


oksida pada permukaan Al dapat diberi warna dengan mencelupkannya
kedalam larutan zat wana organik yang panasnya 65C. Pelarut zat warna
ini tidak selalu air, tatapi dapat diambil juga zat pelarut organik seperti
alkohol, benzena. Kadar zat warna setiap pH larutan disesuaikan dengan
jenis zat yang dikehendaki.
2)

Zat warna anorganik


Agar berbeda dengan zat warna organik beberapa zat warna anorganik
diserap kedalam pori pori oleh larutan lainnya. Karena itu ada dua tahap
dalam proses pewarnaan ini, yaitu :
Tahap

: meneruskan zat organik dalam lapisan oksida

Tahap

II

: mengendapkan zat organik dalam pori pori dengan


larutan penendapnya.

Pengendapan logam
Seperti pewarnaan dengan zat organik, garam logam yang dikehendaki
diserapkan ke pori pori lapisan oksida. Logam dari garam logam itu lalu
diendapkan secara elektrolit. Jadi inipun dilakukan dalam 2 tahap, namun
yang kedua adalah elektrolisa. Dengan cara ini dapat diendapkan logam nikel
cobal, timah, selenium, telurium, vanadium, tembaga, besi, magnesium,
timbal, dan kalsium. Logam Al yang dikerjakan dengan cara ini akan lebih
tahan panas dan keausan.

BAB II
LANGKAH PERCOBAAN
II.1 Daftar Alat
Peralatan untuk analisa larutan

1. Pipet 5 ml

6. Beaker gelas 300 ml

2. Pipet 10 ml

7. Gelas ukur 100 ml

3. Botol tuang elemenyer 100 ml

8. Gelas ukur 200 ml

4. Botol tuang elemenuer 300 ml

9. Batang pengaduk kaca

5. Beaker gelas 1000 ml

10. Sendok

Peralatan untuk proses pewarnaan dan anodizing :

1.

Power supply DC

2.

Ampere meter

3.

Volt meter

4.

Stop clock

5.

Gelas 1 bak

6.

Kawat penggantung diusahakan yang tahan terhadap reaksi H2SO4

7.

Thermometer
Komponen percobaan :

1.

Untuk pengukuran arus


a. Power supply DC
b. Ampere meter
c. Volt meter

2.

Untuk percobaan konsentrasi asam sulfat :


a. Elemenyer 25 ml
b. Buret 25 ml
c. NaOH 1,1

3.

Untuk pewarnaan alumunium dengan proses anodisisasi :


a. Gelas gelas 1 bak, untuk tempat larutan dan pembilas

b. Katoda Pb
c. Kawat penggantung
d. Stop clock
e. Pengaduk
f. Pemanas
4.

Untuk percobaan angka banding normal :


a. Plat alumunium 15 buah ( ukuran 10 x 10 cm )
b. Neraca plastik

II.2 Bahan
1. Larutan amonia 6 M, 500 ml

6. Larutan pewarna

2. Larutan NaOH

7. Larutan lak/pernis

3. Larutan HCL

8. Pp

4. Larutan asam sulfat

9. Metyl orange (MO)

5. Lautan deterjen

10. Metyl ret (MR)

Gambar rangkaian alat kelistrikan

IV. Langkah kerja


1. Benda kerja (Al) diamplas sampai halus
2. Benda kerja (Al) dicuci dengan air sabun sampai bersih kemudian dibilas atau
dibersihkan dengan Aquades
3. Benda kerja (Al) kemudian dicelupkan kurang lebih 1 menit pada larutan
NaOH kemudian dicuci dengan Aquades.
4. Benda kerja (Al) di lap/dikeringkan untuk dilakukan penimbangan, kemudian
catat hasil penimbangan.

Data yang diperoleh dari hasil penimbangan


Benda kerja

1 = 7,58 gr

Luasnya

= 0,36 dm2

2 = 7,54 gr

= 0,36 dm2

3 = 7,79 gr

= 0,36 dm2

4. Benda kerja (Al) dianodizing

(waktu saat dianodizing

dibuat variabel)

kemudian dibilas dengan aquades setelah itu dilakukan pengeringan (tidak


boleh menggunakan lap, cukup diangin anginkan).
5. Benda kerja dicelupkan pada asam nitrat dengan waktu kurang lebih 1 detik
kemudian dibilas dengan aquades.
6. langkah yang terakhir adalah benda kerja dimasukkan dalam pewarna kurang
lebih 2 menit lalu dibilas dengan aquades, setelah itu dilakukan penimbangan.
Berikut ini adalah data data yang diperoleh setelah diberi warna

No

Benda
Kerja

I (A)

(Volt) (menit)

Hasil Pelapisan
Hasil Pelapisan
Berwarna merah
Berat tidak

Al

0,72

11,1

20

7,58

7,58

0,00 bertambah
Warnanya merata
Hasil pelapisan

Al

0,72

10,3

30

7,54

7,50

0,04 berwarna merah


berat berkurang
warna merata
Hasil pelapisan
berwarna merah

Al

0,72

9,5

40

7,79

7,68

0,11 pekat
beratnya
berkurang
Warnanya merata

BAB III
PENUTUP
III.1

Analisis
1.

Ketelitian
terhadap waktu dan bersih tidaknya benda kerja (Al) sangat

berpengaruh

terhadap hasil pewarnaan.


2.

Besar
kecilnya arus maupun tegangan, waktu menganodizing disesuaikan dengan
luas benda yang akan dianodizing.

3.

Pada
benda kerja ke 2 warna tidak pekat karena waktu membersihkan setelah
diwarnai dikeringkan dengan menggunkan kain.

4.

Semakin
lama waktu menganodizing semakin bagus hasil yang diperoleh.

III.2

Kesimpulan
Berdasarkan praktek anodizing yang dilakukan di laboratorium Politeknik
Negeri Semarang, dapat diambil kesimpulan bahwa :
Baik buruknya hasil anodizing tergantung dari proses pengampelasan dan
pembersihan.
Semakin lama proses anodizing, Al yang terurai semakin banyak sehingga
porous makin tinggi, penyerapan warnanya juga semakin baik. Sebaliknya, jika
proses anodizingnya hanya sebentar, penyerapan terhadap warnanya kurang
baik. Lama pencelupan dalam zat pewarna dan konsentrasi zat pewarna juga
mempengaruhi kualitas pewarnaan.
Semakin lama Benda kerja di Anodizing maka berat benda semakin berkurang.