Anda di halaman 1dari 33

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU PENYAKIT KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU KEBIDANAN
RUMAH SAKIT SIMPANGAN DEPOK

Nama Mahasiswa

: Tubagus Siswadi Wijaksana

NIM

: 11.2014.010

Dr.Pembimbing

: dr. Adi Guritno Sp.OG

I.

Tanda Tangan

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. L
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 24 th
Suku
: Sunda
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Kp Cipayung RT 01/10
Masuk RS
: 05 November 2015, pukul 09.00 WIB
IDENTITAS SUAMI PASIEN
Nama
: Tn. H
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
: 30 th
Suku
: Sunda
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Karyawan Swasta
Alamat
: Kp Cipayung RT 01/07

II.

ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 5 November 2015, pukul 14.00
A. Keluhan Utama
Os datang mengaku hamil 41 minggu, perut terasa kencang-kencang

B. Keluhan Tambahan
Tidak dirasakan mual dan muntah. Tidak ada pengeluaran pervaginam seperti lendir,
darah, dan keputihan
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien usia 24 tahun dengan G1P0A0 datang ke poli kebidanan ingin kontrol
kehamilan, pasien mengatakan sudah merasakan kencang-kencang namun masih
jarang dan cuma sebentar. Os mengatakan tidak keluar lendir darah dari vagina , air
ketuban/merembes. Tidak terdapat nyeri kepala , mual muntah maupun nyeri perut di
bagian bawah. Os masih merasakan gerakan bayinya (-), BAB dan BAK tidak ada
keluhan, Selama kehamilannya os memeriksa kehamilannya ke bidan setiap bulan,
terakhir tanggal 15 Oktober 2015. Pemeriksaan USG pernah dilakukan 1x. Selama
pemeriksaan kehamilan dikatakan keadaan janinnya sehat

D. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit jantung, hipertensi, DM, dan asma disangkal oleh pasien.
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit jantung, DM, dan asma disangkal oleh pasien.
F. Riwayat Menstruasi
Menarche
Siklus
Lamanya
Banyaknya
Dismenore
Hari Pertama Haid Terakhir
Taksiran Persalinan
Umur Kehamilan Sekarang

: 14 th
: 28 hari
: 6-7 hari
: 3-4 kali ganti pembalut/hari
: (+)
: 25 Januari 2015
: 28 Oktober 2015
: 41 minggu

G. Status Pernikahan
Status
: Menikah
Pernikahan
: 1 kali
Menikah umur: 22 tahun
Sudah menikah selama 2 tahun
H. Riwayat Obstetri

Anak

Tahun

Jenis

ke

Persalina Kelamin

Umur

Jenis

Kehamilan

Persalinan

Hidup/
mati

Penolong

Hamil
ini

I. Riwayat KB
Pasien tidak menggunakan alat kontrasepsi
J. Riwayat Operasi
(-)
K. Riwayat Kebiasaan dan Psikososial
Merokok (-), alkohol (-), narkotika (-), pemakaian obat-obatan (-), jamu (-).
L. Riwayat Pemeriksaan Antenatal
Pasien melakukan pemeriksaan antenatal di bidan teratur setiap bulan
III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda Vital
Tensi
: 110/70 mmHg
Nadi
: 88 x/menit regular , isi cukup , kuat angkat
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu
: 36,5 C
Tinggi Badan
: 141 cm
Berat Badan
: 61 kg
Kepala
: normocephal, rambut hitam, distribusi merata
Wajah
: simetris, pucat (-), sianosis (-), Chloasma gravidarum (+)
Mata
: konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, edema palpebra Telinga
: normotia
Hidung
: septum deviasi (-)
Mulut
: bibir sianosis (-), lidah kotor (-)
Tenggorokan
: faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 tenang

Leher
Thoraks
Cor
- Inspeksi
- Palpasi
- Perkusi

: KGB tidak teraba membesar

:
: Ictus cordis tidak terlihat
: Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra
: Batas atas jantung ICS III linea sternalis sinistra
Batas kiri jantung ICS V linea midclavicularis sinistra
Batas kanan jantung ICS III linea sternalis dekstra
- Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo
:
- Inspeksi : Kedua hemithoraks simetris dekstra dan sinistra
- Palpasi
: Vokal fremitus sama dekstra dan sinistra
- Perkusi : Sonor di kedua hemithoraks
- Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen
: lihat status obstetrik
Anogenital
: lihat status obstetrik
Ekstremitas
: akral hangat, edema (-/-), deformitas (-)
Pertumbuhan rambut : Merata
B. Payudara
Pembesaran

payudara

(+),

pengeluaran

ASI(-),

hiperpigmentasi

areola

mammae (+), Putting susu menonjol.


C. Pemeriksaan perut
Inspeksi : Membuncit membujur linea nigrae (+), striae livide (+ ), striae
albicans (-).
:
Palpasi :
Leopold I : TFU 2 jari di bawah processus xyphoideus (33cm). Teraba
bagian bulat dan lunak.
Leopold II : Teraba bagian-bagian kecil di kiri, bagian melengkung dan
memanjang di kanan.
Leopold III : Teraba bagian bulat keras
Leopold IV : Belum masuk PAP

Auskultasi : Denyut jantung janin (+), 144 x/menit, frekuensi 12-12-12


TBJ : 155x (TFU-12) = 3255 gram

D. Status Obstetri
Pemeriksaan dalam

Anogenital :
Inspeksi : Vagina / Vulva / Uretra : Tidak edema (Normal)
Inspekulo : Tidak dilakukan
Vagina Toucher : Portio teraba tebal
Pembukaan : tidak ada
Selaput ketuban : (+)
Osborn test (+)

Pemeriksaan panggul : Promontorium : Teraba


Spina isiadika : Teraba menonjol
Arcus pubis < 90 derajat
Konjugata vera 8 cm
Konjugata Diagonalis 10 cm
E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Dilakukan pemeriksaan laboratorium pada tanggal 05 November 2015, pukul 09.20

WIB
Hematologi
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Cloting time
Bleeding time

11.2 g%
25.300 mm3
37.9 %
296.000
730 menit
200

12-16
5000-10000
37-47
150.000-400.000
6-10
1-3

F. PEMERIKSAAN ANJURAN
USG
G.

RESUME

Pasien wanita usia 24 tahun G1P1A0 datang dengan keluhan perut terasa kencang2 tapi tidak
ada keluar cairan pervaginam.
Status generalis TD: 110/70 mmHg, Nadi: 90x/menit,RR: 22 x/menit, Suhu: 36,50C, Tinggi
Badan : 141 cm, Berat Badan: 61 kg.
Abdomen Inspeksi : Membuncit membujur linea nigrae (+),striae livide (+), Palpasi : Leopold
I : TFU 2 jari di bawah processus xyphoideus (33cm). Teraba bagian bulat dan lunak, Leopold
II : Teraba bagian-bagian kecil di kiri, bagian melengkung dan memanjang di kanan, Leopold
III : Teraba bagian bulat keras Leopold IV : belum masuk PAP
5

Vagina Toucher : Portio teraba tebal Pembukaan belum ada , Selaput ketuban (+) osborn test(+)
Pemeriksaan panggul : Promontorium : Teraba , Spina isiadika : Teraba menonjol, Arcus pubis
< 90 derajat , Konjugata vera 8 cm , Konjugata diagonalis 10 cm

H.

DIAGNOSIS
Diagnosa ibu : G1P0A0, Umur 24 tahun, Hamil 41 minggu dengan CPD
Diagnosa janin : Janin tunggal hidup intra uterine presentasi kepala U punggung
kanan

SIKAP/TINDAKAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

J.

Observasi TTV, DJJ


CTG DJJ : 144 x/menit, variable : 2-15, akselerasi (+), deselerasi (-)
Pasien puasa.
Pemberian cairan Ringer Laktat IV 500cc.
Pemasangan DC
Cefotaxime injeksi 1mg/5ml
Pasien operasi SC elektif pukul 11.00 WIB.

PENATALAKSANAAN
1. Rencana Edukasi
- Bed rest
- Memberi penjelasan mengenai kondisi pasien dan tindakan yang akan dilakukan
2. Rencana Operasi (Sectio Caesaria)
Laporan Pembedahan
a.
b.
c.
d.
e.

Anestesi Spinal
Disinfeksi abdomen, suprapubis dan sekitarnya dengan povidone iodine
Insisi pfamentiel 12cm. Insisi & tumpul sampai peritoneum
Bebaskan plica vesica uterina 8 cm dan segmen bawah rahim 8cm
Lahirkan janin jam 11.28 WIB. Jenis kelamin , berat 3000gr, panjang badan

50cm, apgar score 9/10


f. Lahirkan placenta lengkap
g. Jahit uterus
6

h.
i.
j.
k.
l.

Kontraksi uterus baik


Pantau perdarahan
Tutup luka
Cek alat lengkap
Operasi selesai

3. Rehabilitasi / Pendidikan
- Mobilisasi
- Observasi TTV
- Makan makanan bergizi tinggi protein

K.

PROGNOSIS
Ibu
Janin

X.

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

FOLLOW UP PASIEN

2 Jam Post Op
Tanggal

Jam

TFU

23/10/2015

12.15 Sepusat

Nadi Respirasi

Kesadaran

Perdarahan

Urin

72

24

CM

Minimal

200cc

68

24

CM

Minimal

200cc

70

22

CM

Minimal

230cc

72

20

CM

(-)

250cc

13.00 Sepusat

74

20

CM

(-)

280cc

13.15 Sepusat

70

20

CM

(-)

320cc

13.30 Sepusat

72

20

CM

(-)

380cc

78

20

CM

(-)

430cc

76

21

CM

(-)

500cc

12.30 Sepusat
12.45 Sepusat

13.45 Sepusat
14.00 Sepusat
14.15 Sepusat

Tanggal
05/11/2015

Jam
18.00

SOAP

S = Nyeri perut post op , mual (-), muntah (-), flatus (-)


O = KU : Baik, compos mentis

Tanggal

Jam

06/11/2015

06.00

TD : 110/70mmHg

HR : 80 x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat.

Suhu : 36.4 C
SOAP
TFU
: 1 post
Jari dibawah
S = Nyeri
perut
op , mualpusat
(-) muntah (-) , flatus (+) ,
Perdarahan
(-)
mobilisasi
(+)

A = P1A0, post SC a/i CPD < 24 jam


O = KU : Baik, compos mentis
P = Cefotaxim Injeksi 1gr/5ml jam 19.00
TD : 120/70mmHg
Pronalges Sup 100mg jam 21.00
HR : 80 x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat.

Suhu : 36.5 C

TFU : 1 Jari dibawah pusat

Perdarahan (-)

A = P1A0, post SC a/i CPD hari 1


P = R/ Sangobion caps 1x1
R/ Cefadroxil 500mg tab 2x1
R/ As Mefenamat 500mg tab

7 Nov 2015
S = Nyeri perut post op berkurang
O = KU : Baik, compos mentis
TD : 110/70mmHg
HR : 84 x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat.
Suhu : 36.5 C
TFU : 1 Jari dibawah pusat
Perdarahan (-)
A = P1A0, post SC a/i CPD hari 2
P = R/ Sangobion caps 1x1
R/ Cefadroxil 500mg tab 2x1
R/ As Mefenamat 500mg tab
Pasien boleh pulang

PEMBAHASAN

4.1.

Diagnosis

4.1.1. Anamnesis

Teori
Riwayat
Obstetri:
mengalami

persalinan

janin besar, CPD

pernah
lama,

Kasus
Merupakan kehamilan pertama
pasien dengan usia kehamilan 41
minggu

Riwayat penyakit TB tulang

Riwayat trauma pelvis

Pasien tidak pernah mengalami


penyakit

TB

tulang

ataupun

kecelakaan

4.1.2. Pemeriksaan Fisik

Teori
Antropometri Ibu
- CPD dicurigai pada wanita dengan
-

Kasus
Tinggi badan ibu 141 cm

tinggi badan kurang dari 158 cm. 7


Wanita dengan dwarfisme yaitu
tinggi badan < 147 cm setelah
dewasa, umumnya melahirkan
dengan SC dengan janin yang
cukup besar yaitu 2.600 gram.

Pemeriksaan Abdomen
Ukuran janin > 4 kg
Kepala masih diatas PAP

Pada Palpasi didapatkan TFU= 33


cm
Taksir berat badan janin: (33-12)
x 155 = 3255 gram
Pemeriksaan leopold
Leopold I
Leopold II

: teraba bokong
: teraba punggung

disebelah kanan ibu


Leopold III : teraba kepala
Leopold IV : belum masuk PAP

4.1.3 Pemeriksaan Dalam


Teori
Kesempitan PAP, PTP, PBP pada

Kasus
Pemeriksaan panggul dalam

pengukuran panggul dalam

Promontorium : Teraba

Spina isiadika : Teraba menonjol

CV < 10
Distansia Interspinarum < 9 cm

Arcus pubis < 90 derajat


10

atau spina ischiadika yang besar

Konjugata vera 8 cm

dan menonjol
Distansia intertuberosum < 8 cm

Konjugata Diagonalis 10 cm

Umumnya CPD juga disebabkan oleh


malpresentasi dan malposisi janin
Terbentuknya caput dan molase berat

Vagina Toucher : Portio teraba tebal


Pembukaan belum ada, Selaput ketuban
(+) Bagian terendah : Kepala, Osborn test
(+)

4.1.4 Kemajuan Persalinan


Teori

Kasus
Pada pasien tidak ada kemajuan

Distosia adalah persalinan yang

dalam persalinan

abnormal atau sulit dan ditandai


dengan

terlalu

lambatnya

kemajuan persalinan. 30% ibu


dengan
berkepanjangan

persalinan
mengalami

disproporsi sefalopelvik.
4.1.3.Penunjang Diagnostik

Teori
Diameter biparietal janin
ditentukan

melalui

pasien

pemeriksaan USG

Kepastian
dilakukan

CPD

Kasus
Selama masa kehamilannya,
rutin

melakukan

antenatal care di bidan dan


pernah

harus
partus

percobaan dan pelvimetri


radiologi untuk mengukur
kapasitas panggul secara

melakukan

pemeriksaan USG 1x
Pada pasien tidak dilakukan
pemeriksaan
radiologis

pelvimetri

ataupun

partus

11

pasti

percobaan.

1.2 Tatalaksana

Teori
Partus Percobaan
-

Trial of labor

Test of labor

Pada

Kasus
pasien dilakukan

sectio

sesarea

Seksio sesarea

TINJAUAN PUSTAKA
3.1

Definisi
Disproporsi

sefalopelvik

adalah

keadaan

yang

menggambarkan

ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak

12

dapat keluar melalui vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh


panggul sempit, janin yang besar ataupun kombinasi keduanya.3, 8
3.2

Anatomi Panggul dan Ukuran Panggul

3.2.1 Anatomi Panggul


Jalan lahir dibagi atas (1) bagian tulang, terdiri atas tulang-tulang
panggul dengan persendiannya (artikulasio), (2) bagian lunak, terdiri atas
otot, jaringan dan ligament.1,2
Panggul/pelvis terdiri dari 4 tulang yaitu: (1) sacrum (2) coccygis (3)
duatulang inominata (os coxae) yang mrp gabungan dari ilium, ischium, dan
pubis. Secara fungsional panggul terdiri atas 2 bagian yang disebut pelvis
mayor dan pelvis minor oleh bidang aperture pelvis superior (disebut juga
PAP). PAP dibentuk oleh: promontorium os sacrum di bagian posterior, linea
illiopectinea (linea terminalis dan pectin os pubis) di lateral, dan symfisis os
pubis di posterior.

1,2

Rongga panggul ialah pelvis verum/pelvis minor. Bentuk pelvis minor


ini meyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan
(sumbu carus) sampai dekat H III sumbu itu lurus, sejajar sacrum, untuk
seterusnya melengkung ke depan.

13

a PAP : pintu masuk rongga panggul. Disebut juga aperture pelvis


superior. PAP dibentuk oleh: promontorium os sacrum di bagian
posterior, linea illiopectinea (linea terminalis dan pectin os pubis) di
lateral, dan pinggir atas symfisis os pubis di posterior. Terdapat 4
diameter

pada

PAP

yaitu:

diameter

transversa, dan 2 diameter oblikua.

anteroposterior,

diameter

1,2

14

1 Diameter anteroposterior (konjugata vera, panjang 11cm ): jarak


antara promontorium os sacrum sampai ke tepi atas simfisis os
pubis. Tidak dapat diukur secara klinik pada pemeriksaan fisik.
Secara klinik dapat diukur konjugata diagonalis, jarak antara
promontorium os sacrum dengan tepi bawah simfisis os pubis. CV =
CD-1,5. (normal konjugata vera 10 cm) ingat bila kita tidak dapat
meraba promontorium maka pasti ukuran konjugata vera itu
normal.
2 Diameter transversa: diameter terpanjang kiri-kanan PAP. (panjang
12,5-13 cm)
3 Diameter oblikua: jarak dari sendi sakroiliaka satu sisi sampai
tonjolan pektineal sisi kontralateralnya (panjang 13 cm).

15

Dalam obstetric dikenal 4 jenis panggul (pembagian Caldwell dan


Moloy, 1933) yang mempunyai ciri2 PAP sebagai berikut:1,2,6
1 Jenis ginekoid panggul baik untuk perempuan. Ditemukan pada 45%
perempuan. Panjang diameter AP hampir sama dengan diameter
transversa
2 Jenis anthropoid: Ditemukan pada 35% perempuan, Bentuk lonjong
seperti telur dengan panjang diameter AP lebih besar dari pada
diameter transversa.

16

3 Jenis

android:

bentuk

panggul

pria.

Ditemukan

pada

15%

perempuan. Bentuk segitiga dimana panjang diameter AP hampir


sama dengan diameter transversa, diameter transversa terbesar
terletak di posterior dekat sacrum, sedangkan bagian depannya
menyempit ke depan.
4 Jenis platipeloid: ditemukan pada 5% perempuan. Panjang diameter
AP lebih kecil daripada diameter transversa.

Pelvimetri radiologic hanya dilakukan pada indikasi tertentu,


misalnya adanya dugaan ketidak seimbangan antara janin dan panggul
(fetopelvic disproportion), adanya riwayat trauma atau penyakit
tuberculosis pada tulang panggul, bekas seksio sesar yang akan
direncanakan

partus

pervaginam,

pada

presentasi muka atau kelainan letak lainnya.

janin

letak

sungsang,

17

b Cavum pelvis (bagian tengah panggul): seperti telah dikemukakan


bahwa, ruang panggul di bawah pintu atas panggul mempunyai ukuran
paling luas.
Sementara bagian tersempit panggul terdapat pada panggul
tengah dimana terdapat penyempitan dalam ukuran melintang

setinggi kedua spina iskiadika (diameter interspinosum N 10 cm).


karena pada bagian di bawah PAP mempunyai ukuran melintang
yang lebar sementara menyempit pada bagian tengah panggul
maka janin mengadakan penyesuaian dengan melakukan putaran

paksi dalam.
Kemungkinan kepala janin dapat lebih mudah masuk ke ruang
panggul jika sudut antara sacrum dan lumbal (inklinasi panggul
atau sudut antara bidang yang melalui aperture pelvis superior
dengan bidang horizontal) ialah normal atau lebih besar (600).

Untuk menentukan sampai dimanakah bagian terendah janin turun


dalam panggul selama persalinan. Dapat digunakan bidang Hodge
maupun station.

18

Bidang Hodge I: bidang datar yang dibentuk oleh promontorium,

linea iliopectinea dan tepi atas simfisis pubis (PAP)


Bidang H II: sejajar H I, terletak setinggi tepi bawah simfisis
Bidang H III: sejajar H I, terletak setinggi kedua spina iskiadika.
Merupakan bagian tersempit. Jadi disebut engaged atau masuk bila
bagian ukuran terbesar melintang kepala janin (biparietal diameter)

telah melewati H III.


Bidang H IV: sejajar H I, terletak setinggi os koksigeus.

c Pintu bawah panggul: aperture pelvis inferior merupakan 2 segitiga


yang bersekutu pada bagian alasnya (yakni garis antara kedua tuber
os ischium): (1) trigonum urogenital: bidang yang dibentuk oleh alas
dengan puncaknya di tepi bawah simfisis pubis, (2) trigonum anale:
bidang yang dibentuk oleh alas dengan puncaknya di os koksigeus.
Ukuran yang penting:
1 Sudut arkus pubis: pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke
bawah dan merupakan sudut 900 atau lebih sedikit. Bila kurang,
maka kepala janin akan susah dilahirkan.
2 Diameter anteroposterior PBP: jarak antara ujung os koksigeus
sampai ke pinggir bawah simfisis os pubis. (N = 9,5-11,5 cm)
3 Diameter transversa PBP (distansia intertuberosum): jarak antara
kedua buah tuberositas os ischium (N = 11 cm).

19

3.2.2 Ukuran luar panggul.2


a Diameter spinarum: jarak antara kedua spina iliaka anterior superior
sinistra dan dekstra (24 cm-26 cm).
b Diameter kristarum : jarak yang terpanjang antara dua tempat yang
simetris pada Krista iliaka sinistra dan dekstra. (28 cm-30 cm)
c Diameter oblikua eksterna: jarak antara spina iliaka posterior sinistra
dengan spina iliaka anterior superior dekstra dan sebaliknya. (bila
asimetrik maka ukuran kedua diameter oblikua akan jauh berbeda)
d Distansia intertrokanterika (31 cm): jarak antara kedua buah
trokanter mayor
e Konjugata eksterna (Boudeloque): jarak antara bagian atas simfisis ke
prosesus spinosus L 5 (18 cm/20 cm).
3.3

Panggul Sempit
Distosia adalah persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu

lambatnya kemajuan persalinan. Distosia dapat disebabkan oleh kelainan


pada servik, uterus, janin, tulang panggul ibu atau obstruksi lain di jalan
lahir. Kelainan ini oleh ACOG dibagi menjadi tiga yaitu: Kelainan kekuatan
(power), Kelainan yang melibatkan janin (passenger), Kelainan jalan lahir
(passage).

1,6

Ukuran panggul dapat menjadi lebih kecil karena pengaruh gizi,


lingkungan atau hal lain sehingga menimbulkan kesulitan pada persalinan
pervaginam. Panggul sempit yang penting pada obstetric bukan sempit
secara

anatomis

namun

panggul

sempit

secara

fungsional

artinya

perbandingan antara kepala dan panggul. Selain panggul sempit dengan


ukuran yang kurang dari normal, juga terdapat panggul sempit lainnya.

Panggul ini digolongkan menjadi empat, yaitu:

20

1. Kelainan karena gangguan pertumbuhan intrauterine: panggul Naegele,


panggul Robert, split pelvis, panggul asimilasi.
2. Kelainan karena kelainan tulang dan/ sendi: rakitis, osteomalasia,
neoplasma, fraktur, atrofi, nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan
sendi sakrokoksigea.
3. Kelainan panggul karena kelainan tulang belakang: kifosis, skoliosis,
spondilolistesis.
4. Kelainan panggul karena kelainan pada kaki: koksitis, luksasio koksa, atrofi
atau kelumpuhan satu kaki.
Setiap
kapasitas

penyempitan
panggul

dapat

pada

diameter

panggul

yang

mengurangi

menyebabkan

distosia

saat

persalinan.

penyempitan dapat terjadi pada pintu atas panggul, pintu tengah panggul,
pintu bawah panggul, atau panggul yang menyempit seluruhnya.

1,2,3,6

Panggul disebut sempit apabila ukurannya 1-2 m kurang dari ukuran


yang normal. Kesempitan panggul bisa pada inlet (pintu atas panggul),
midpelvic (ruang tengah panggul), dan outlet (pintu dasar panggul). 10
a. Pembagian tingkatan panggul sempit:
Tingkat I
: C.V = 9-10 cm = borderline
Tingkat II : C.V = 8 9 cm = relatif
Tingkat III : C.V = 6 -8 cm = ekstrim
Tingkat IV : C.V = < 6 = absolut
b. Pembagian menurut tindakan
Conjugata vera 8-10 cm = partus percobaan
Konjugata vera 6- 8 cm = SC primer
Konjugata vera <6
= S.C mutlak

Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari pemeriksaan umum dan


anamnesis. Dari anamnesis persalinan terdahulu juga dapat diperkirakan
kapasitas panggul. Apabila pada persalinan terdahulu berjalan lancar dengan
bayi berat badan normal, kemungkinan panggul sempit adalah kecil. 2,3
21

Penyakit
trauma

tuberculosis vertebra, poliomyelitis, kifosis, ataupun riwayat


dapat menyebabkan perubahan anatomis pada pelvis yang

memberikan manifestasi panggul sempit.2,7 Pada wanita dengan tinggi badan


yang kurang dari normal ada kemungkinan memiliki kapasitas panggul
sempit, namun bukan berarti seorang wanita dengan tinggi badan yang
normal tidak dapat memiliki panggul sempit.7 Dwarfisme adalah tinggi badan
kurang dari 147 cm setelah dewasa merupakan resiko seorang wanita
memiliki panggul sempit.2
3.3.1

Penyempitan pintu atas panggul


Pintu atas panggul dianggap sempit apabila diameter anterioposterior

terpendeknya (konjugata vera) kurang dari 10 cm atau apabila diameter


transversal terbesarnya kurang dari 12 cm.

Diameter biparietal janin berukuran 9,5-9,8 cm, sehingga sangat sulit


bagi janin bila melewati pintu atas panggul dengan diameter anteroposterior
kurang dari 10 cm. Wanita dengan tubuh kecil kemungkinan memiliki ukuran
panggul yang kecil, namun juga memiliki kemungkinan janin kecil. Dari
penelitian Thoms pada 362 nullipara diperoleh rerata berat badan anak lebih
rendah (280 gram) pada wanita dengan panggul sempit dibandingkan wanita
dengan panggul sedang atau luas.3
Pada panggul sempit ada kemungkinan kepala tertahan oleh pintu atas
panggul, sehingga gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus secara
langsung

menekan

bagian

selaput

ketuban

yang

menutupi

serviks.

Akibatnya ketuban dapat pecah pada pembukaan kecil dan terdapat resiko
prolapsus funikuli. Setelah selaput ketuban pecah, tidak terdapat tekanan
kepala terhadap serviks dan segmen bawah rahim sehingga kontraksi
menjadi inefektif dan pembukaan berjalan lambat atau tidak sama sekali.
Jadi, pembukaan yang berlangsung lambat dapat menjadi prognosa buruk
pada wanita dengan pintu atas panggul sempit.

22

3.3.2 Penyempitan panggul tengah


Kesempitan PTP pada dasarnya merupakan penyempitan bidang
dengan ukuran terkecil, yakni bidang yang melalui apex dari arcus pubis,
spina ischiadica, dan sacrum. Apabila distansia interspinarum kurang dari 9
cm, atau apabila distansia interspinarum (normal 10,5 cm) ditambah dengan
diameter sagital posterior (normal 4,5 5 cm) kurang dari 13,5 cm maka
kemungkinan ada kesempitan pintu tengah panggul. Untuk memperoleh
ukuran yang pasti diameter-diameter ini diperlukan pelvimetri rontgenologis.
Kecurigaan klinis kesempitan PTP timbul apabila pada pemeriksaan manual
didapatkan spina ischiadica yang besar dan menonjol serta distansia
intertuberosum kurang dari 8,5 cm.3
Kesempitan PTP merupakan sebab yang biasa dijumpai pada distosia
dan tindakan operatif. Penanganannya lebih sukar daripada kesempitan PAP,
sebab jika kepala janin sudah tidak dapat masuk PAP maka tidak ada keraguraguan lagi bahwa persalinan harus diakhiri dengan sectio saesarea. Akan
tetapi jika kepala dapat masuk kedalam panggul maka penolong segan untuk
melakukan sectio saecarea oleh karena mengharap kepala akan turun
sampai ketitik dimana dapat dilakukan extraksi dengan forceps.Kesempitan
PTP dapat menghalang-halangi putaran paksi dalam.3
3.3.3 Penyempitan Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul bukan suatu bidang datar melainkan dua segitiga
dengan diameter intertuberosum sebagai dasar keduanya. Penyempitan
pintu bawah panggul terjadi bila diameter distantia intertuberosum berjarak
8 cm atau kurang. Penyempitan pintu bawah panggul biasanya disertai oleh
penyempitan pintu tengah panggul.3
Disproporsi kepala janin dengan pintu bawah panggul tidak terlalu
besar dalam menimbulkan distosia berat. Hal ini berperan penting dalam
menimbulkan robekan perineum. Hal ini disebabkan arkus pubis yang
23

sempit, kurang dari 900 sehingga oksiput tidak dapat keluar tepat di bawah
simfisis pubis, melainkan menuju ramus iskiopubik sehingga perineum
teregang dan mudah terjadi robekan.3
3.4

Antropometri, Presentasi, dan Posisi Janin


Kepala janin adalah bagian tubuh yang paling besar dan paling keras

yang akan dilahirkan. Besar dan posisi kepala janin akan sangat menentukan
dan mempengaruhi jalannya persalinan. Kepala secara garis besar dapat
dibagi menjadi tulang tengkorak (cranium), tulang dasar tengkorak (basis
kranii) dan tulang muka. Ukuran diameter kepala bayi yang menentukan di
antaranya:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

suboksipito-bregmatikus (9,5 cm): pada presentasi belakang kepala.


Oksipito-frontalis (11,75 cm): pada presentasi puncak kepala
Oksipito mentalis (13,5 cm): pada presentasi dahi
Submento-bregmatikus (9,5 cm): pada presentasi muka
Biparietalis (9,5 cm): ukuran terbesar melintang dari kepala
Bitemporalis (8 cm): ukuran antara os temporal kiri dan kanan

Bagian tubuh janin yang lain: lebar bahu (diameter biacromialis): 12


cm, lingkaran bahu: 34 cm, lebar bokong (diameter intertrokanterika): 12
cm, lingkar bokong: 27 cm. 2
Pemeriksaan diameter terbesar kepala janin yang pasti hanya dapat
diperiksa dengan USG.

1,10

Jika tidak ada, maka yang digunakan

untuk

menentukan perkiraan imbang sepalopelvik adalah dengan berdasarkan nilai


taksir berat janin.
2.
3.
4.
5.

10

Umur kehamilan dan taksiran persalinan (rumus neagle)


Ditaksir melalui palpasi kepala pada abdomen (EBW).
Perhitungan menurut Poulsson-Langstadt
Rumus Johnson Toshack
Berdasarkan atas ukuran Mac Donald, yaitu jarak antara simpisis pubis
dan fundus uteri melalui konveksitas abdomen:
BBJ = (MD - ) x 155 gram
BBJ = berat badan janin

24

MD = ukuran Mac Donald dalam cm


Kepala belum masuk Hodge 3 = ( MD 13)
Kepala di Hodge 3 = ( MD 12)
Kepala lewat Hodge 3 = (MD 11)
Bila ketuban sudah pecah ditambah 10%

Normal berat neonatus pada umumnya 4000 gram dan jarang ada
yang melebihi 5000 gram. Berat badan neonatus lebih dari 4000 gram
dinamakan bayi besar. Namun ada pula referensi yang mengatakan bahwa
makrosomia apabila berat janin > 4500 gram. Faktor keturunan memegang
peranan penting sehingga dapat terjadi bayi besar. Janin besar biasanya juga
dapat dijumpai pada ibu yang mengalami diabetes mellitus, obesitas (berat
badan > 70 kg), postmaturitas, grande multipara, kenaikan berat badan
selama hamil >20 kg.

3,6,8

Untuk mendapat kepastian suatu disproporsi sepalopelvik, maka harus


dilakukan pemeriksaan radiologik dan/atau partus percobaan. 5,6,7,9,11 Tandatanda yang mengarah pada DKP tercantum pada kotak.

Tanda-tanda CPD

Pemeriksaan abdomen
Ukuran janin besar ( > 4 kg)
Kepala janin diatas PAP
Pemeriksaan panggul
Serviks mengecil setelah amniotomi
Endema serviks
Kaput tebal
Molase berat
Defleksi kepala (fontanelle anterior mudah dipalpasi)
Asinklitismus (sutura sagital tidak tepat di tengah panggul)

25

Umumnya
malposisi janin.

disproporsi

juga

disebabkan

oleh

malpresentasi

dan

5,6, 9

. Sikap janin yang fisiologis adalah badan dalam keadaan

kifose, sikap fisiologis ini menghasilkan sikap fleksi. Presentasi normal adalah
vertex dengan presentasi belakang kepala dan posisi normal adalah
occipitoanterior dimana ubun-ubun kecil berada di segmen depan sebagai
penunjuk.2 Untuk berbagai malbagai malprestasi dan malposisi dapat di lihat
tabel

Malpresentasi dan Malposisi

Malposisi

Pemeriksaan abdomen
Bagian bawah

Occiptoposterior

Pemeriksaan dalam
Fontanelle posterior

perut rata
Tungkai janin

mengarah ke sakrum.

bisa dipalpasi

mudah diraba karena

dari anterior
Bunyi denyut

adanya defleksi kepala.

Fontanelle anterior

jantung
terdengar dari
Presentasi Dahi

samping
Lebih dari

Fontanelle anterior dan

setengah bagian

lingkarannya teraba.

kepala di atas
Muka

Sungsang

simfisis pubis
Lekukan teraba

Muka dipalpasi, mulut

antara kepala

mudah dibuka. Dagu

dan punggung

dan tulang rahang,bisa

Kepala teraba di

dipaipasi.
Pantat dan/atau kaki

bagian atas perut bisa diraba. Mekonium


Sungsang teraba kental berwarna gelap
di bibir panggul
pada sungsang bawah
Bunyi denyut
adalah normal.
janin terdengar
26

lebih tinggi dari


Lintang

presentasi kepala
Kepala atau

Bahu atau lengan

pantat tidak bisa

biasanya bisa diraba.

diraba pada

Bahu bisa dibedakan

simfisis pubis

dari pantat dengan

dan kepala

cara meraba iga.

biasanya teraba
di satu sisi
3.5

Pelvimetri Radiologis
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan salah satu cara untuk

memperoleh keterangan tentang keadaan panggul. Melalui pelvimetri dalam


dengan tangan dapat diperoleh ukuran kasar pintu atas dan tengah panggul
serta memberi gambaran jelas pintu bawah panggul. Adapun pelvimetri luar
tidak memiliki banyak arti.2
Pelvimetri radiologis dapat memberi gambaran yang jelas dan
mempunyai tingkat ketelitian yang tidak dapat dicapai secara klinis.
Pemeriksaan ini dapat memberikan pengukuran yang tepat dua diameter
penting yang tidak mungkin didapatkan dengan pemeriksaan klinis yaitu
diameter transversal pintu atas dan diameter antar spina iskhiadika. 3 Tetapi
pemeriksaan ini memiliki bahaya pajanan radiasi terutama bagi janin
sehingga jarang dilakukan. Pelvimetri dengan CT scan dapat mengurangi
pajanan radiasi, tingkat keakuratan lebih baik dibandingkan radiologis, lebih
mudah, namun biayanya mahal. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan
dengan MRI dengan keuntungan antara lain tidak ada radiasi, pengukuran
panggul akurat, pencitraan janin yang lengkap. Pemeriksaan ini jarang
dilakukan karena biaya yang mahal. 1 Dari pelvimetri dengan pencitraan
dapat ditentukan jenis panggul, ukuran pangul yang sebenarnya, luas bidang
panggul, kapasitas panggul, serta daya akomodasi yaitu volume dari bayi
yang terbesar yang masih dapat dilahirkan spontan.

27

Untuk pelvimetri dibuat 2 buah foto:

10

1. Foto pintu atas panggul


Ibu dalam posisi setengah duduk (THOMS), sehingga tabung Rontgen
tegak lurus diatas pintu atas panggul
2. Foto lateral
Ibu dalam posisi berdiri, tabung rontgen diarahkan horisontal pada
trochanter mayor dari samping.
Dari kedua foto tersebut dapat dilihat:10
3.6

Diameter transversa
Distansia interspinarum
Jenis pelvis
Conjugata diagonalis
Diameter AP pintu bawah
Diameter sagital posterior
Bentuk sacrum
Luas bidang, kapasitas, dan daya akomodasi panggul

3.6.1 Luas Bidang Panggul.


Untuk menentukan luasnya suatu bidang panggul dipergunakan index
MENGERT, yaitu diameter AP dikalikan diameter transversa. Luas bidang
panggul wanita indonesia, standartnya ialah:

10

1. Pintu atas panggul 10 x 12 = 120 cm2


2. Pintu tengah panggul 10x 11,5 = 115 cm2
Untuk tiap-tiap pangggul yang dibuat pelvimetri, diukur luas bidang
menurut index mengert, kemuadian dibandingkan dengan luas standart tadi.

3.6.2 Kapasitas Panggul


Perbandingan antara luas bidang yang didapat itu dengan luas
standart dalam persen dinamakan kapasitas daripada bidang:

10

28

Contoh:
Pintu atas

: Konjugata vera 10 cm
Diameter transversa 11 cm
Luas bidang panggul = 10 x 11 cm = 110

Kapasitasnya = 110 : 120 cm2 = 92%

3.6.3 Daya Akomodasi


Daya akomodasi suatu pelvis adalah volume dari bayi yang terbesar
yang masih dapat dilahirkan secara spontan dan normal melalui panggul
yang dinyatakan dalam gram.
Suatu panggul dengan kapasitas 100% harus dapat melahirkan bayi
dengan beratnya 4000 gram. Daya akomodasi turun seimbang dengan
kapasitasnya.

10

Contoh: Untuk panggul dengan kapasitas 92% dapat diperhitungkan


daya akomodasi
92% x 4000 gram = 3680 gram
3.7

Penatalaksanaan
Pada kehamilan yang aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan

pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr. Pada
metode Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas kearah rongga
panggul dan tangan yang lain diletakkan pada kepala untuk menentukan
apakah kepala menonjol di atas simfisis atau tidak. Metode Muller Munro Kerr
dilakukan dengan satu tangan memegang kepala janin dan menekan kepala
ke arah rongga panggul, sedang dua jari tangan yang lain masuk ke vagina
untuk menentukan seberapa jauh kepala mengikuti tekanan tersebut dan ibu
29

jari yang masuk ke vagina memeriksa dari luar hubungan antara kepala dan
simfisis.2
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan antara
kepala janin dan panggul dapat diperkirakan bahwa persalinan dapat
berlangsung per vaginan dengan selamat dapat dilakukan persalinan
percobaan.

2,3

Cara ini merupakan tes terhadap kekuatan his, daya

akomodasi, termasuk moulage karena faktor tersebut tidak dapat diketahui


sebelum persalinan berlangsung beberapa waktu.2
3.7.1 Persalinan Percobaan
Persalinan percobaan hanya dilakukan pada letak belakang kepala,
tidak bisa pada letak sungsang, letak dahi, letak muka, atau kelainan letak
lainnya. Ketentuan lainnya adalah umur keamilan tidak boleh lebih dari 42
mingu karena kepala janin bertambah besar sehingga sukar terjadi moulage
dan ada kemungkinan disfungsi plasenta janin yang akan menjadi penyulit
persalinan percobaan.2, 11
Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir
setelah kita mendapat keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung
pervaginam atau setelah anak lahir pervaginam. 11 Persalinan percobaan ada
dua macam yaitu trial of labour dan test of labour. Trial of labour serupa
dengan persalinan percobaan di atas, sedangkan test of labour sebenarnya
adalah fase akhir dari trial of labour karena test of labour baru dimulai pada
pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam kemudian. Test of labor dikatakan
berhasil jika dalam 1 jam sesudahnya kepala turun sampai Hodge III.11 Saat
ini test of labour jarang digunakan karena biasanya pembukaan tidak
lengkap pada persalinan dengan pangul sempit dan komplikasi yang sering
ialah infeksi, ruptur uteri, dan kematian anak yang tinggi sekitar 25%.3,11

30

Keberhasilan persalinan percobaan adalah anak dapat lahir spontan


per vaginam atau dibantu ekstraksi dengan keadaan ibu dan anak baik.
Persalinan percobaan dihentikan apabila pembukaan tidak atau kurang sekali
kemajuannnya, keadaan ibu atau anak kurang baik, ada lingkaran bandl,
setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah kepala tidak mampu
melewati pintu atas panggul dalam 2 jam meskipun his baik. Pada keadaan
ini dilakukan seksio sesarea.11 Partus percobaan dapat berlangsung 6 sampai
18 jam, jarang sampai 24 jam. Namun, lamanya partus percobaan yang pasti
untuk kasus tertentu memerlukan pertimbangan dan hanya dapat ditentukan
oleh ahli kebidanan dan konsulennya. 3
3.7.2 Seksio Sesarea
Seksio sesarea elektif dilakukan pada kesempitan panggul berat
dengan kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata. 3,4
Seksio sesarea sekunder (sesudah persalinan selama beberapa waktu)
dilakukan karena peralinan percobaan dianggap gagal atau ada indikasi
untuk

menyelesaikan

persalinan

selekas

persalinan per vaginam belum dipenuhi.

mungkin

sedangkan

syarat

3, 11

3.7.3 Simfisiotomi
Tindakan ini dilakukan dengan memisahkan panggul kiri dan kanan
pada simfisis. Tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.2, 3
3.7.4 Kraniotomi dan Kleidotomi
Pada janin yang telah mati dapat dilakukan kraniotomi atau kleidotomi.
Apabila panggul sangat sempit sehingga janin tetap tidak dapat dilahirkan,
maka dilakukan seksio sesarea.
3.8 Komplikasi

2,3

1,9

Komplikasi pada ibu


31

1 Fistula
2 Partus lama dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, serta infeksi
intrapartum
3 Dengan his yang kuat, sedang kemajuan janin dalam jalan lahir
tertahan,

dapat

timbul

regangan

segmen

bawah

uterus

dan

pembentukan lingkaran retraksi patologik yang dapat berakhir pada


terjadinya ruptur uteri.
4 Post partum hemoragik hingga syok.
Komplikasi pada janin
1 Meningkatkan kematian perinatal
2 Prolapsus funukuli
3 Perdarahan intrakrania bila janin lahir dengan mengadakan Moulage
berat
4 Kejang
5 Asfiksia
6 Cedera fasial
DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham, F.G, Leveno, K.J, et al. 2010. Abnormal Labor in Williams Obstetry 23rd
Edition. Philadelphia : Mc-Graw-Hill.
2. Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta Pusat: Yayasan Bina Pustaka.
3. Oxorn, H & William R. Forte. 1990. Ilmu Kebidanan: patologi dan Fisiologi
persalinan. Yogyakarta: Essentia Medica.
4. Rasjidi, Imam. 2009. Manual Seksio Sesarea & laparotomi kelainan
adneksa. Jakarta: Sagung Seto.
5. Depkes

RI.

2008.

Pelayanan

Obstetri

dan

Neonatal

Emergensi

Komprehensif. Jakarta.
6. Decherney,

Alan

&

Lauren

Nathan.

2003.

Current

Obstetri

and

Gynecologic Diagnosis and Treatment, ninth Edition. Los Angeles: McGraw hill.

32

7. Hamilton, Diana. 2004. Lecture Notes: Obstetrics and gynaecology,


second edition. Australia: Blackwell.
8. Chan, Paul & Susan Johnson. 2004.

Gynecology and Obstetrics 2004

Edition New ACOG Treatment Guidelines. California: Current Clinical


Strategies.
9. Labour

and

Delivery

Care

HEAT

Module.

http://labspace.open.ac.uk/mod/oucontent/view.php?
id=452296&section=1.4. Di akses tanggal 22 September 2013
10.

Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid 2. ECG: Jakarta

11.

Martaadisoebrata,

Djamhoer.

2005.

Ilmu

Kesehatan

Reproduksi:

Obstetri Patologi Edisi 2. ECG : Jakarta.

33