Anda di halaman 1dari 13

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hibridisasi adalah perkawinan antara berbagai spesies, suku, ras atau
varietas tumbuhan yang bertujuan dapat memperoleh organisme yang diinginkan.
Tujuan Hibridisasi untuk menambah keragaman genetik melalui proses
pengkombinasian genetik dari tetua yang berbeda genotipnya. Hibridisasi
memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman (Susanto, dkk. 2003).
Hal-hal yang diperlukan dalam melakukan persilangan adalah sebagai
berikut, waktu pelaksanaan polinisasi adalah pagi hari (kira-kira 08.00-09.00
WIB) dimana bunga betina belum mekar sempurna tetapi bunga jantan sudah
menunjukkan kematangan serbuk sarinya, kondisi bunga jantan dan bunga betina
siap atau tidak melakukan persilangan. Cuaca lebih ditekankan pada hujan karena
bila persilangan dilakukan saat mendung, kemungkinan akan membusuk dan
ketelitian peletakkan serbuk sari diatas putik (Bari dan Syamsuddin, 1974).
Penyebab gagalnya dan tolak berhasilnya persilangan tanaman adalah
sebagai berikut pengetahuan tentang morfologi reproduksi tanaman yang meliputi
bunga tidak membuka, waktu anthesis dan veseftif bersamaan, butir polen busuk
sebelum bunga mekar, pistil dan polen ditutupi bagian bunga meskipun tidak
mekar, pistil memanjang segera setelah polen masuk, kondisi panas dengan suhu
tinggi dan kelembapan udara terlalu rendah menyebabkab bunga rontok demikian
pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat. Pelaksanaan tanaman
berbunga harus diperhatikan (Syukur, 2009).
Pembentukan varietas tanaman kedelai unggul adalah utuk meningkatan
produktivitas kedelai yang tidak dapat dipecahkan melalui pendekatan agronomi.

Varietas unggul kedelai peranan penting tanaman kedelai untuk mencapai


produktivitas yang hasil varietasnya unggul dapat ditanam (Effendi, 1993).
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari teknik persilangan
pada tanaman kedelai (Glycine max L.)
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk dapat mengikuti pra praktikal di Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman,
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Kedelai
Kedelai

diklasifikasikan

dengan

kingdom

:Plantae,

Divisi

:Spermathophyta, Subdivisio :Angiospermae, Kelas :Monotyledoneae, Ordo


:fabales, Family :Fabaceae,

Genus :Glycine ,

Spesies Glycine max L.

(Supartono, 2006).
Susunan akar kedelai pada umumnya sangat baik. Pertumbuhan akar
tunggang lurus masuk ke dalam tanah dan mempunyai banyak akar cabang. Pada
akar akar cabang terdapat bintil bintil akar berisi bakteri Rhizobium
jafonicum, yang mempunyai kemampuan mengikat zat lemas bebas (N2) dari
udara

yang

kemudian

dipergunakan

untuk

menyuburkan

tanah

(Andrianto dan Indarto, 2004)


Batang kedelai berasal dari poros janin sedangkan bagian atas poros
berakhir dengan epikotil yang amat pendek dan hypokotil merupakan bagian
batang kecambah. Bagian batang kecambah di bagian atas kotyledon adalah
epicotyl. Titik tumbuh epikotyl akan membentuk daun dan kuncup ketiak. Batang
dapat membentuk 36 cabang, berbentuk semak dengan tinggi 30100 cm.
Pertumbuhan batang dibedakan atas tipe diterminate dan indeterminate
(Lamina, 1989).
Daun kedelai merupakan daun majemuk yang terdiri dari tiga helai anak
daun dan umumnya berwarna hijau muda atau hijau kekuning kuningan. Bentuk
daun ada yang oval, juga ada yang segitiga. Warna dan bentuk daun kedelai ini
tergantung pada varietas masing masing. Pada saat tanaman kedelai itu sudah
tua, maka daun daunnya mulai rontok (AAK, 1989)

Tanaman kedelai memiliki bunga sempurna, yaitu dalam satu bunga


terdapat alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik). Bunga
berwarna ungu atau putih. Sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong.
Di Indonesia tanaman kedelai mulai berbunga pada umur 3050 hari
(Fachruddin, 2000)
Biji kedelai berbentuk polong, setiap polong berisi 14 biji. Biji umumnya
berbentuk bulat atau bulat pipih sampai bulat lonjong. Ukuran biji berkisar antara
6 30g/100 biji, ukuran biji diklasifikasikan menjadi 3 kelas yaitu biji kecil (610
g/100 biji), biji sedang (1112 g/100 biji) dan biji besar (13 g atau lebih/100 biji).
Warna biji bervariasi antara kuning, hijau,coklat dan hitam (Fachruddin, 2000)
Biji biji kedelai berkeping dua terbungkus kulit biji (lesta) dan tidak
mengandung jaringan endosperm. Embrio terbentuk di antara keping biji. Bentuk
biji pada umumnya bulat lonjong, tetapi ada yang bundar dan bulat agak pipih,
dengan besar dan bobot biji kedelai antara 530g/100 biji (Lamina, 1989).
Syarat Tumbuh
Iklim
Kedelai adalah tanaman beriklim tropik. Dia akan tumbuh subur di daerah
yang berhawa panas, apalagi di tempat yang terbuka tidak terlindung oleh
tanaman lain (Sugeng, 1983).
Pertumbuhan optimum tercapai pada suhu 2025 C. Suhu 1220 C
adalah suhu yang sesuai bagi sebagian besar proses pertumbuhan tanaman, tetapi
dapat menunda proses perkecambahan benih dan pemunculan kecambah, serta
pembungaan dan pertumbuhan biji. Pada suhu yang lebih tinggi dari 30 C,

fotorespirasi

cenderung

mengurangi

hasil

fotosintesis

(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).


Kedelai dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas, ditempat
tempat yang terbuka dan bercurah hujan 100400 mm3 per bulan. Oleh karena itu,
kedelai kebanyakan ditanam di daerah yang terletak kurang dari 400 m di atas
permukaan laut. Jadi tanaman kedelai akan tumbuh baik, jika ditanam di daerah
beriklim kering (Andrianto dan Indarto, 2004)
Tanah
Toleransi pH yang baik sebagai syarat tumbuh yaitu antara 5,87, namun
pada tanah dengan pH 4,5 pun kedelai masih dapat tumbuh baik. Tanah tanah
yang cocok yaitu alluvial, regosol, grumosol, latosol dan andosol. Pada tanah
tanah podzolik merah kuning dan tanah yang mengandung banyak pasir kwarsa,
pertumbuhan kedelai kurang baik, kecuali bila diberi tambahan pupuk organik
atau kompos dalam jumlah yang cukup (Andrianto dan Indarto, 2004)
Teknik Persilangan Pada Kedelai
Persilangan merupakan salah satu cara memperbesar keragaman genetik
melalui perpaduan sifat tetua untuk mendapatkan suatu varietas baru yang
diharapkan (Hidayat, 1989).
Biji yang disilangkan harus mantap dan mempunyai ketahanan terhadap
hama dan penyakit, tanah yang bermasalah dan fluktuasi musim (Supeno, 2004).
Keberhasilan

penyerbukan

buatan

yang

kemudian

diikuti

oleh

pembuahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas


tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan antesis jantan, kesuburan tanaman serta
faktor lingkungan (Yunianti et al,. 2009)

Kadang-kadang terjadi penyerbukan suatu bunga, tetapi tidak diperoleh


buah dan biji yang diharapkan karena serbuk sari mungkin gagal berkecambah
pada kepala putiknya sendiri atau pada kepala putik asing (tidak cocok) walaupun
kondisinya sangat menguntungkan dan ketidakcocokkan terhadap diri sendiri
mungkin juga diakibatkan oleh adanya perbedaan masa pemasakan gamet jantan
dan betina (Gardner et al,. 1991)

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 17 April 2015 pukul
08.00 Wib di lahan Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman Program Studi
Agroeteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
Bahan dan Alat Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1 plot tanaman
kedelai (Glycine max L.) (1 plot berisi 6 varietas

Detam II dan 6 varietas

Anjasmoro) sebagai objek yang akan disilangkan, plastik bening untuk membuat
label, isolasi untuk menutup bunga kedelai setelah disilangkan, gelang karet/tali
untuk membuat label, tissue sebagai tempat meletakkan benang sari yang telah
terpisah dari bunga untuk sementara.
Adapun alat yang digunakan adalah pinset untuk membantu melucuti
bunga yang akan disilangkan, gunting sebagai alat pemotong, jarum pentol/peniti
untuk membantu dalam mengambil benang sari, spidol permanen untuk mencatat
label berupa nama dan NIM praktikkan, tanggal persilangan, dan data varietas
yang disilangkan pada plastik bening, serta alat tulis untuk mencatat persentase
keberhasilan penyilangan.
Prosedur Kerja
-

Dilucuti kelopak dan mahkota bunga kedelai yang masih kuncup.

Diambil benang sarinya menggunakan jarum pentol/peniti.

Diletakkan benang sari di lembaran tissue.

Dilucuti bunga kedelai varietas yang lain.

Dimasukkan benang sari tadi ke kedelai varietas lainnya.

Ditutup dengan gulungan lakban.

Diberi label untuk menandakan persilangan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Presentase keberhasilan penyilangan kedelai :


PLOT

Disilangkan

Tetua Jantan

Tetua Betina

Detam II (1)

Anjasmoro (4)

Detam II (1)

Anjasmoro (1)

Detam II (2)

Anjasmoro (4)

Anjasmoro (3) Detam II (5)

Persentase keberhasilan kedelai ( % )


= Jumlah yang berhasil
Jumlah yang disilangkan
= 1 x 100%
4
=25%

x100%

Berhasil

10

Pembahasan
Persentase keberhasilan dalam melakukan persilangan kedelai (Glycine
max L.) varietas deetam II dengan kedelai (Glycine max L.) varietas anjasmoro
adalah sebesar 25%. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam persilangan
lebih rendah dibandingkan kegagalannya yaitu dari 4 yang disilangkan hanya 1
yang berhasil.
Kegagalan pada persilangan kacang kedelai (Glycine max L.) varietas
detam dengan anjasmoro adalah kondisi cuaca yang ekstrim, dan morfologi
tanaman tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur Syukur (2009) yang menyatakan
bahwa kondisi lingkungan mempengaruhu persilangan serta pengetahuan tentang
morfologi reproduksi tanaman yang meliputi, banyak yang tidak membuka, waktu
anthesis dan reseptif bersamaan, butir polen luruh sebelum bunga mekar, pistil
dan polen memanjang ditutupi bunga meskipun bunga mekar.
Adapun kendala dalam persilangan kedua spesies ini adalah cuaca yang
buruk, waktu persilangan yang kurang tepat, kondisi bunga jantan dan betinanya
hingga pemulianya sendiri yang kurang teliti. Hal ini sesuai dengan literatur Bari
dan Syamsuddin (1974) yang menyatakan bahwa untuk melaksanakan polinasi
adalah pagi hari dimana bunga betina belum keluar sempurna. Kondisi bunga
betina dan jantan yang belum matang, cuaca pada saat hujan sehingga tanaman
membusuk.
Persilangan antar tanaman kedelai (Glycine max L.) disebut dengan
Hibridisasi. Hal ini sesuai dengan literatur Susanto (2003) yang menyatakakan
bahwa hibridisasi adalah perkawinan antara berbagai spesies, suku ras atau
varietas tumbuhan yang bertujuan memperoleh organisme yang diinginkan.

11

Tujuan hibridisasi untuk menambah keragaman genetik melalui proses


pengkombinasian genetik dari tetua yang berbeda genotipenya.
Sitepu (2014) menyatakan bahwa pada tanaman kacang kedelai sifat yang
diperlukan pada tetua adalah ketahanan terhadap cekaman lingkungan, ketahanan
terhadap hama dan penyakit serta memiliki potensi hasil biji yang tinggi.
Keberhasilan dalam pelaksanaan persilangan ditentukan oleh faktor manusia, alat
yang digunakan serta faktor lingkungan. Peran pelaksana (manusia) dalam
memperbesar keberhasilan persilangan terutama ditentukan oleh keterampilan dan
pengetahuan. Faktor alat lebih berhubungan pada kebersihan alat, sedangkan
faktor lingkungan adalah seperti adanya serangan hama dan penyakit serta sifat
genetik dari tanaman yang akan disilangkan. Fluktuasi musim dan suhu seringkali
juga memiliki peran penting dalam kegiatan persilangan.

12

KESIMPULAN
1. Persentase keberhasilan persilangan tanaman kedelai (Glycine max L.) varietas
detam II dengan varietas anjasmoro sebesar 25%.
2. Faktor yang mempengaruhi kegagalan persilangan yaitu waktu pelaksanaan,
kondisi bunga jantan dan betina, cuaca dan ketelitian pemulia.
3. Kendala dalam melakukan persilangan yaitu waktu, kondisi bunga jantan dan
betina, cuaca serta ketelitian pemulia.
4. Hibridisasi merupakan perkawinan antar spesies, suku ras atau varietas tanaman
untuk menghasilkan organisme yang diinginkan.

13

DAFTAR PUSTAKA
AAK, 1989. Kedelai. Kanisius. Yogyakarta
Andrianto, T. T., dan N. Indarto, 2004. Budidaya dan Analisis Usaha Tani
Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Panjang. Absolut, Yogyakarta.
Bari, A.S. Musa dan E. Syamsuddin. 1974. Pengantar Tanaman Bagian
Pemuliaan Tanaman. Dept Agronomi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Effendi.I dan M. Utomo, 1993. Analisi Perbandingan Kerja Reproduksi dan
Pendapatan Usaha Tani Kedelai. Balai Budidaya Pertanian oleh
Tanaman/Tanah Konservasi. Lampung
Fachruddin, L., 2000. Budidaya Kacang Kacangan. Kanisius, Yogyakarta.
Gardner, F. P., Pearce, R. B., Michell, R. L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya
(terjemahan). Indonesia University Press. Jakarta.
Hidayat, J.R. 1989. Teknik Persilangan dan Penanganan generasi lanjut pada
kedelai. Latihan Field Insfection and Maintanance of Varieties of Food
Legummes. Bogor. 1-12 P
Lamina, 1989. Kedelai dan Pengolahannya. Simpleks. Jakarta
Rubatzky, V. E. and Yamaguchi, 1998. World Vegetables Van Nostrand
Reinhold A division of International Thompson Publishing.
Sitepu, M. 2014. Persilangan Genotipe-Genotipe Kedelai (Glycine max L.
Merrill.) Hasil Seleksi pada Tanah Salin dengan Tetua Betina Varietas
Anjasmoro. Jurnal online Agroekoteknologi. FP USU. Medan
Sugeng, H. R., 1983. Bercocok Tanam Palawija. Aneka Ilmu, Semarang
Supartono. 2006. Teknik Persilangan untuk Perakitan Varietas Unggul Baru.
Buletin Teknik Pertanian ( II ) : 76-80
Susanto. O. A. H Daradjat dan B. Suprihanto. 2003. Perkembangan Pemuliaan
Kedelai di Indonesia. Jurnal Litbang Peranian 22 ( 3 ) : 125-131
Syukur, M. 2009. Teknik Budidaya Pemuliaan Tanaman. Bag. Genetika dan
Pemuliaan Tanaman Dept Agronomi dan Hortikultura. IPB. Bogor
Yunianti, R., S. Sarsidi, S. Sujiprihati, S. Memen dan S.H. Hidayat. 2009. Kriteria
Seleksi untuk Perakitan Varietas Cabai Tahan Phytophthora capsici
Leonian. Jurnal Agronomi Indonesia. 38 (2) :122-129