Anda di halaman 1dari 28

TUGAS FINAL

FISIKA TEKNIK I “GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK”

TUGAS FINAL FISIKA TEKNIK I “GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK” OLEH JORDY APRILLIANZA BUDIANG D41114308 JURUSAN TEKNIK

OLEH

JORDY APRILLIANZA BUDIANG

D41114308

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2015

BAB 33 GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

33-2. Pelangi Maxwell

Pencapaian tertinggi James Clerk Maxwell adalah ia berhasil menunjukkan bahwa sorotan cahaya itu merupakan gelombang berjalan medan dan medan listrik - gelombang elektromagnetik - sehingga optik yang merupakan ilmu mengenai cahaya tampak, merupakan sehingga cabang dari elektromagnetisme.

Pada zaman Maxwell (pertengahan 1880-an), cahaya yang diketahui hanyalah cahaya tampak, infra merah dan ultraviolet. Terdorong dengan kerja Maxwell ini, Heinrich Hertz menemukan gelombang radio dan memberikan verifikasi bahwa gelombang tersebut berjalan di laboratorium dengan kecepatan yang setara dengan kecepatan cahaya.

dengan kecepatan yang setara dengan kecepatan cahaya. Pada skala panjang gelombang Gbr 33-1, setiap tanda skala

Pada skala panjang gelombang Gbr 33-1, setiap tanda skala mewakili suatu perubahan dalam panjang gelombang dengan kelipatan 10. Skala ini tak terbatas artinya gelombang elektromagnetik tidak memiliki batas atas maupun batas bawah. spektrum elektromagnetik pada Gbr diidentifikasikan oleh label yang familiar seperti sinar x dan gelombang radio. Label-label

ini menunjukkan secara kasar mengenai kisaran panjang gelombang tertentu yang mana sumber dan detektor gelombang

ini menunjukkan secara kasar mengenai kisaran panjang gelombang tertentu yang mana sumber dan detektor gelombang elektromagnetik tipe tertentu banyak digunakan. Semua gelombang elektromagnetik, di mana pun letak spektrumnya berjalan melalui ruanghampa (vakum) dengan kecepatan yang sama c.

Batas spektrum cahaya tampak ini tidak pasti karena kurva sensitivitas m mendekati garis sensitivitas nol secara asimptotik baik itu pada panjang gelombang pendek maupun yang panjang. Jika kita mengambil batas secara acak karena panjang gelombang di mana sensitivitas mata jatuh 1% dari nilai maksimal maka batas sekitar 430 dan 690 nm. Namun mata dapat mendeteksi gelombang elektromagnetik melebihi batas tersebut jika gelombangnya cukup kuat.

33-3 Gelombang Elektromagnetik yang Merambat secara Kualitatif

Beberapa gelombang elektromagnetik seperti sinar X, sinar gamma dan cahaya tampak diradiasikan (diemisikan) oleh sumber-sumber yang memiliki ukuran atom atau nuklir (di mana fisika kuantum berlaku). Disini kita mendiskusikan mengenai bagaimana gelombang elektromagnetik dihasilkan. Untuk alasan penyederhanaan, kita membatasi pembahasan pada area spektrum (panjang gelombang lambda=1 m) di mana sumber radiasinya (gelombang yang dipancarkan) adalah makroskopik dan pada dimensi yang masih dapat diukur.

m) di mana sumber radiasinya (gelombang yang dipancarkan) adalah makroskopik dan pada dimensi yang masih dapat

Gambar 33-3 menunjukkan bagaimana gelombang dihasilkan. Sebagai pusat yaitu osilator LC yang mengeluarkan suatu frekuensi sudut LC. Muatan dan arus dalam sirkuit ini bervariasi secara sinusoidal pada frekuensi ini (seperti dalam Gbr. 31-1). Suatu sumber energi tambahan (misalnya generator AC harus disertakan untuk menambahkan energi dalam rangka mengganti hilangnya energi karena panas (temperatur pada sirkuit dan mengganti energi yang terbawa oleh gelombang elektromagnetik yang teradiasi.

yang terbawa oleh gelombang elektromagnetik yang teradiasi. Gambar 33-4 menunjukkan bagaimana medan listrik E dan medan

Gambar 33-4 menunjukkan bagaimana medan listrik E dan medan magnet B berubah seiring waktu karena satu panjang gelombang dari gelombang tersebut melewati titik jauh P pada Gbr. 33-3. Pada setiap bagian di Gbr. 33-4, gelombang berjalan secara langsung ke arah luar. (Kita memilih satu titik jauh sehingga lengkungan gelombang pada Gbr. 33-3 menjadi kecil dan bisa diabaikan. Pada titik tersebut, gelombangnya dinamakan gelombang bidang atau gelombang daar (plane wave). Dengan demikian diskusi mengenai gelombang ini menjadi lebih sederhana).

Perhatikan beberapa ciri pada Gbr. 33-4, itu semuanya ada tanpa memperhatikan bagaimana gelombang dibuat

1. Medan listrik E dan medan magnet B selalu tegak terhadap arah di mana gelombang merambat. Maka dari itu gelombangnya merupakan gelombang transversal sebagaimana dijelaskan di Bab 16.

2. Medan listrik selalu tegak lurus terhadap medan magnet.

3. Hasil perkalian E x B selalu memberikan arah di mana gelombang berialan.

4. Kedua medan selalu bervariasi secara sin seperti halnya gelombang transversal di bab 16. Selain itu, kedua medan juga bervariasi dalam frekuensi sama dan sefase satu sama lain.

Dengan ciri-ciri tersebut, kita dapat berasumsi bahwa gelombang elektromagnetik bergerak menuju P pada arah positif suatu sumbu x. Medan listrik dalam Gbr. 33-4 berosilasi secara sejajar pada sumbu y dan medan magnet berosilasi secara sejajar pada sumbu z (tentunya dengan menggunakan sistem koordinasi tangan kanan). Dengan begitu kita dapat menulis medan listrik dan medan magnet sebagai fungsi- fungsi sinusoidal posisi x dan waktu t:

sebagai fungsi- fungsi sinusoidal posisi x dan waktu t: di mana E dan B adalah amplitudo

di mana E dan B adalah amplitudo medan, adalah frekuensi sudut sedangkan k adalah bilangan gelombang. Dari persamaan ini, kita melihat bahwa kedua medan tidak hanya membentuk gelombang elektromagnetik tapi juga membentuk gelombang masing-masing.

Dari Pers. 16-13 kita tahu bahwa kecepatan gelombang adalah ω/k. Namu karena ini adalah suatu gelombang elektromagnetik, kecepatannya (dalam ruang vakum) diberikan simbol c bukan v. Pada bagian berikutnya kita dapat melihbahwa c mempunyai nilai sekitar 3,0 x 10 m/s.

dapat melihbahwa c mempunyai nilai sekitar 3,0 x 10 m/s. Semua gelombang elektromagnetik termasuk cahaya tampak

Semua gelombang elektromagnetik termasuk cahaya tampak memiliki kecepatan c yang sama di dalam ruangan vakum.

Kita juga akan melihat bahwa kecepatan gelombang c dan amplitudo medan listrik serta medan magnet memiliki hubungan seperti berikut ini:

serta medan magnet memiliki hubungan seperti berikut ini: Jika kita membagi Pers. 33-1 dengan 33-2 dan

Jika kita membagi Pers. 33-1 dengan 33-2 dan mensubstitusikannya dengan Pers. 33-4, maka kita menemukan bahwa magnitudo pada waktu dan pada titik tertentu berhubungan seperti berikut ini

dan pada titik tertentu berhubungan seperti berikut ini Kita dapat menggambarkan gelombang elektromagnetik dalam Gbr

Kita dapat menggambarkan gelombang elektromagnetik dalam Gbr 33-5a dengan suatu sinar (garis langsung yang menunjukkan arah gerak gelombang) atau dengan muka gelombang (permukaan imajiner di mana gelombang tersebut memiliki magnitudo medan listrik yang sama)

atau keduanya. Kedua muka yang ditunjukkan pada Gbr. 33-5a dipisahkan oleh satu panjang gelombang tersebut. (Gelombang yang berjalan dalam arah yang sama membentuk suatu sinar misalnya laser, yang dapat digambarkan sebagai berkas).

misalnya laser, yang dapat digambarkan sebagai berkas). Pertama perhatikan suatu medan magnet. Karena medan magnet

Pertama perhatikan suatu medan magnet. Karena medan magnet bervariasi secara sinusoidal, maka medan magnet menginduksikan (melalui hukum induksi Faraday) medan listrik yang tegak lurus yang juga bervariasi secara sinusoidal. Kemudian, karena medan listrik bervariasi secara sinusoidal, maka medan listrik menginduksikan (melalui hukum induksi Maxwell) medan magnet yang tegak lurus yang juga bervariasi secara sinusoidal, dan seterusnya. Dua medan ini secara terus menerus saling membentuk satu sama lain melalui induksi. Hasil variasi sinusoidal dalam medan-medan ini bergerak sebagai gelombang-gelombang elektromagnetik. Tanpa hasil yang menakjubkan ini, sungguh kita tidak akan bisa melihat karena kita memerlukan gelombang elektromagnetik dari sinar Matahari untuk menjaga temperatur bumi. Tanpanya kita juga tidak akan pernah ada.

Suatu Gelombang yang Paling Aneh

gelombang elektromagnetik berbeda sama sekali karena tidak memerlukan medium untuk bisa bergerak. Tentu gelombang ini bisa bergerak melalui medium udara atau kaca, namun gelombang dapat juga bergerak melalui ruang hampa di luar angkasa dari bintang-bintang menuju kita di bumi.

Ketika teori relativitas diterima, setelah Einstein menemukan nya tahun 1905, kecepatan gelombang cahaya menjadi penting. Alasan yang mendasarinya adalah karena cahaya memiliki kecepatan yang sama walaupun diukur berbeda. Jika anda mengirim cahaya sepanjang suatu sumbu dan meminta beberapa pengamat untuk mengukur kecepatannya sementara mereka juga bergerak dengan kecepatan berbeda sepanjang sumbu tersebut, baik itu pada arah cahaya atau

berlawanan, mereka semua sungguh akan mendapati bahwa cahaya tersebut memiliki kecepatan yang sama. Ukuran kecepatan

berlawanan, mereka semua sungguh akan mendapati bahwa cahaya tersebut memiliki kecepatan yang sama. Ukuran kecepatan pada masa kini telah ditetapkan sehingga kecepatan cahaya di ruang hampa adalah:

c= 299 729 458 m/s

Kecepatan ini dapat digunakan sebagai standar. Saat ini jika kita mengukur waktu berjalannya suatu cahaya dari titik lainnya, menghitung kecepatan cahayanya namun menghitung jarak antara dua titik tersebut.

33-4 Gelombang Elektromagnetik yang Merambat, secara Kuantitatif

Sekarang kita akan menurunkan Pers. 33-3 dan 33-4, lebih lagi, mengeksplorasi induksi ganda medan magnet dan medan listrik yang menghasilkan cahaya bagi kita.

Pers. 33-4 dan Medan Listrik yang Terinduksi

Persegipanjang putus - putus berdimensi dx dan h pada Gbr. 33-6 diletakkan pada titik P sumbu x dan bidang xy (ditunjukkan di sebelah kanan Gbr 33-5b) Ketika gelombang elektromagnetik bergerak ke sebelah kanan melalui persegipanjang, maka fluks magnetik melalui persegipanjang berubah dan sebagaimana menurut hukum Faraday tentang induksi, medan listrik yang terinduksi muncul seluruh bagian persegipanjang. Kita menetapkan E dan E dE menjadi medan- medan yang terinduksi di sepanjang kedua sisi persegipanjang. Medan-medan listrik yang terinduksi ini, sesungguhnya adalah komponen listrik gelombang elektromagnetik.

Medan magnet yang melalui titik-titik persegipanjang ada pada arah positif sumbu z dan magnitudonya berkurang (magnitudo lebih besar sesaat sebelum bagian merah tiba). Karena medan magnetnya berkurang, fluks magnetik yang melalui persegipanjang juga berkurang.

Menurut hukum Faraday, perubahan pada fluks ini akan dilawan oleh medan listrik yang terinduksi, yang menimbulkan medan magnet B pada arah z positif.

Menurut hukum Lenz, hal ini berarti bahwa jika kita membayangkan batas persegipanjang sebagai loop konduksi, arus terinduksi yang berlawanan dengan arah jarum jam akan muncul.

Mari kita aplikasikan hukum induksi Faraday ini Berlawanan arah jarum jam di sekeliling persegipanjang di Gbr. 33-6.

arah jarum jam di sekeliling persegipanjang di Gbr. 33-6. Tidak ada kontribusi pada integral dari atas

Tidak ada kontribusi pada integral dari atas atau bawah persegipanjang karena E dan ds saling tegak lurus satu sama lain. Nilai integral tersebut adalah:

tegak lurus satu sama lain. Nilai integral tersebut adalah: Fluks yang melalui persegipanjang ini adalah: di

Fluks yang melalui persegipanjang ini adalah:

adalah: Fluks yang melalui persegipanjang ini adalah: di mana B adalah magnitudo rata-rata B di dalam

di mana B adalah magnitudo rata-rata B di dalam persegipanjang dan h dx adalah luas dari persegipanjang. Mendiferensiasikan Pers. 33-8 terhadap t memberikan

Mendiferensiasikan Pers. 33-8 terhadap t memberikan Jika kita mensubstitusikan Pers. 33-7 dan 33-9 ke Pers, 33-6

Jika kita mensubstitusikan Pers. 33-7 dan 33-9 ke Pers, 33-6 maka diperoleh:

Atau

Pers. 33-7 dan 33-9 ke Pers, 33-6 maka diperoleh: Atau Dalam menentukan dB/dt kita harus mengasumsikan
Pers. 33-7 dan 33-9 ke Pers, 33-6 maka diperoleh: Atau Dalam menentukan dB/dt kita harus mengasumsikan

Dalam menentukan dB/dt kita harus mengasumsikan bahwa x itu konstan karena berkenaan dengan tingkat perubahan waktu B pada titik tertentu, titik P di Gbr 33-5b. Turunan dalam keadaan ini adalah turunan parsial dan Pers. 33-10 harus ditulis:

pada titik tertentu, titik P di Gbr 33-5b. Turunan dalam keadaan ini adalah turunan parsial dan

Tanda negatif dalam persamaan tersebut cocok dan penting karena walaupun E bertambah bersama x pada sisi persegi panjang di Gbr. 33-6. B berkurang bersama t.

Dari Pers. 33-1 kita memperoleh:

B berkurang bersama t. Dari Pers. 33-1 kita memperoleh: dan dari Pers. 33-2: Lalu Pers. 33-11

dan dari Pers. 33-2:

t. Dari Pers. 33-1 kita memperoleh: dan dari Pers. 33-2: Lalu Pers. 33-11 dikurangi menjadi Rasio

Lalu Pers. 33-11 dikurangi menjadi

dan dari Pers. 33-2: Lalu Pers. 33-11 dikurangi menjadi Rasio ω /k untuk gelombang yang merambat

Rasio ω/k untuk gelombang yang merambat adalah kecepatannya yang kita sebut dengan c. Persamaan 33-12 kemudian menjadi:

yang kita sebut dengan c. Persamaan 33-12 kemudian menjadi: yang mana sama dengan Pers. 33-4. Pers.

yang mana sama dengan Pers. 33-4.

Pers. 33-3 dan Medan Magnet yang Terinduksi

Gambar 33-7 menunjukkan persegipanjang putus-putus yang lain pada t titik P di Gbr 33-5b; ini berada di bidang xz. Karena gelombang elektromagnetik bergerak ke arah kanan melewati persegipanjang baru ini, maka fluk listrik yang melalui persegipanjang berubah, dan- menurut hukum induksi Maxwell- maka medan-medan magnet yang terinduksi muncul di seluruh bagian persegipanjang. Medan magnet yang terinduksi ini adalah komponen magnetik dari gelombang elektromagnetik.

Karena kedua medan tersebut sefase, medan listrik pada Gbr. 33-7 harusnya juga berkurang, begitu pula

Karena kedua medan tersebut sefase, medan listrik pada Gbr. 33-7 harusnya juga berkurang, begitu pula dengan fluks listrik yang melalui persegipanjang. Dengan mengaplikasikan penjelasan yang sama di Gbr. 33-6, kita melihat bahwa perubahan fluks akan menginduksi medan magnet dengan vektor B dan B dB yang diorientasikan Gbr. 33-7, di mana B dB lebih besar daripada B

kita aplikasikan hukum induksi Maxwell:

besar daripada B kita aplikasikan hukum induksi Maxwell: dengan memprosesnya berlawanan arah jarum jam mengelilingi

dengan memprosesnya berlawanan arah jarum jam mengelilingi persegipanjang putus-putus pada Gbr. 33-7. Hanya sisi panjang persegipanjang yang berkontribusi terhadap integral dengan nilai

yang berkontribusi terhadap integral dengan nilai Fluks yang melalui persegipanjang adalah di mana E adalah

Fluks

yang berkontribusi terhadap integral dengan nilai Fluks yang melalui persegipanjang adalah di mana E adalah

yang melalui persegipanjang adalah

dengan nilai Fluks yang melalui persegipanjang adalah di mana E adalah magnitudo rata-rata dari vektor E

di mana E adalah magnitudo rata-rata dari vektor E di dalam persegipanjang. Dengan menurunkan Pers. 33-16 terhadap t maka diperoleh:

adalah magnitudo rata-rata dari vektor E di dalam persegipanjang. Dengan menurunkan Pers. 33-16 terhadap t maka

Jika persamaan ini dan Pers. 33-15 kita substitusikan ke Pers. 33-14 maka didapatkan:

33-15 kita substitusikan ke Pers. 33-14 maka didapatkan: atau memperoleh dengan menuliskannya sebagai turunan parsial

atau

memperoleh

dengan

menuliskannya

sebagai

turunan

parsial

seperti

pada

Pers.

33-11

sebagai turunan parsial seperti pada Pers. 33-11 maka kita Tanda negatif pada persamaan tersebut penting

maka

kita

Tanda negatif pada persamaan tersebut penting karena, walau pun B meningkat bersama x pada titik P di persegipanjang Gbr 33-7, E menurun bersama dengan t.

Dengan menghitung Pers. 33-7 dengan menggunakan Pers. 33-1 dan Pers. 33.2 maka kita dapatkan:

menggunakan Pers. 33-1 dan Pers. 33.2 maka kita dapatkan: yang mana dapat ditulis menjadi: Dengan mengkombinasikan

yang mana dapat ditulis menjadi:

33.2 maka kita dapatkan: yang mana dapat ditulis menjadi: Dengan mengkombinasikan persamaan ini dengan Pers. 33-13

Dengan mengkombinasikan persamaan ini dengan Pers. 33-13 maka didapatkan:

.
.

Persamaan tersebut persis sama dengan Pers. 33-3.

33-5 Transpor Energi dan Vektor Poynting

Tingkat energi per unit luas dalam gelombang tersebut digambarkan oleh vektor S yang disebut vektor Poynting menurut nama seorang fisikawan yaitu John Henry Poynting (1852-1914) yang pertama membahas hal ini. Vektor ini didefinisikan sebagai berikut:

Magnitudo S dihubungkan dengan tingkat energi yang dibawa oleh gelombang di sepanjang unit luas pada

Magnitudo S dihubungkan dengan tingkat energi yang dibawa oleh gelombang di sepanjang unit luas pada waktu (ins) tertentu

gelombang di sepanjang unit luas pada waktu (ins) tertentu Dari sini kita tahu bahwa unit SI

Dari sini kita tahu bahwa unit SI untuk vektor S adalah watt/meter persegi (W/m 2 )

Arah vektor Poynting s suatu gelombang elektromagnetik pada titik tertentu memberikan arah gerak gelombang dan dan arah transportasi energi di titik tersebut.

Karena vektor E dan B saling tegak lurus dalam suatu gelombang elektromagnetik, magnitudo dari vektor E x B adalah EB. Maka magnitudo vektor S adalah

dari vektor E x B adalah EB. Maka magnitudo vektor S adalah di mana S, E

di mana S, E dan B adalah nilai pada saat tertentu (instan). Magnitudo E dan B sangat rapat satu sama lain sehingga kita hanya perlu menggunakan salah satunya. Dengan menggunakan B=E/c dari Pers. 33-5 maka kita dapat menulis Pers. 33-21 sebagaimana berikut ini:

maka kita dapat menulis Pers. 33-21 sebagaimana berikut ini: Dengan mensubstitusikan E=Em sin (kx-wt) ke dalam

Dengan mensubstitusikan E=Em sin (kx-wt) ke dalam Pers. 33-21 kita dapat memperoleh suatu persamaan untuk laju transportasi energi sebagai fungsi waktu. Dengan demikian dari Pers. 33- 20, intensitas I adalah:

persamaan untuk laju transportasi energi sebagai fungsi waktu. Dengan demikian dari Pers. 33- 20, intensitas I

Dari Pers. 33-21 kita menemukan

Dari Pers. 33-21 kita menemukan Selain itu, kita mendefinisikan suatu kuantitas baru, Erms yaitu nilai root-mean-square

Selain itu, kita mendefinisikan suatu kuantitas baru, Erms yaitu nilai root-mean-square dari medan listrik, yang didefinisikan sebagai:

dari medan listrik, yang didefinisikan sebagai: Kemudian kita dapat menulis Pers.33-23 menjadi: Karena E=cB

Kemudian kita dapat menulis Pers.33-23 menjadi:

sebagai: Kemudian kita dapat menulis Pers.33-23 menjadi: Karena E=cB dan c adalah jumlah yang sangat besar,

Karena E=cB dan c adalah jumlah yang sangat besar, kita biasanya menyimpulkan bahwa energi yang terkait dengan medan listrik jauh lebih besar dari energi yang terkait dengan medan magnetnya. Namun kesimpulan tersebut tidak benar, kedua energi tersebut setara. Untuk membuktikannya kita bisa mulai dengan Pers. 25-25 yang menunjukkan densitas energi di dalam suatu medan magnet, dan dengan mensubstitusikan cB untuk E maka diperoleh:

dan dengan mensubstitusikan cB untuk E maka diperoleh: Jika kita sekarang mensubstitusikan c dengan Pers. 33-3

Jika kita sekarang mensubstitusikan c dengan Pers. 33-3 maka kita dapatkan:

mensubstitusikan c dengan Pers. 33-3 maka kita dapatkan: Namun, Pers. 30-54 memberitahu kita bahwa B 2

Namun, Pers. 30-54 memberitahu kita bahwa B 2 /2µo adalah densitas energi µB dari medan magnet B; sehingga kita bisa melihat bahwa µE=µB di manapun di sepanjang gelombang elektromagnetik.

Variasi Intensitas dengan jarak Kita asumsikan bahwa energi gelombang dikonservasikan saat menyebar dari sumbernya. Mari

Variasi Intensitas dengan jarak

Kita asumsikan bahwa energi gelombang dikonservasikan saat menyebar dari sumbernya. Mari kita juga memusatkan suatu bola imajiner bejarijari r pada sumber sebagaimana ditunjukkan Gbr. 33-8. Seluruh energi yang dilepaskan oleh sumber harus melewati bola. Dengan demikian energi yang melewati bola melalui radiasi harus sama dengan energi yang dipancarkan oleh sumber, yaitu daya sumber Ps. Intensitas I pada bola harus dari Pers. 33-23,

sumber Ps. Intensitas I pada bola harus dari Pers. 33-23, di mana 4 π r 2

di mana 4πr 2 adalah luas bola. Pers, 33-25 memberitahu kita bahwa intensitas radiasi elektromagnetik dari sumber titik isotropis berkurang sebanding dengan sumbernya.

33-6 Tekanan Radiasi

Gelombang-gelombang elektromagnetik memiliki momentum linier dan juga energi. Hal ini berarti bahwa kita dapat menerapkan suatu tekanan tekanan radiasi pada objek yang disinari cahaya.

Untuk menemukan pernyataan yang tepat mengenai tekanan ini, kita coba pancarkan sinar radiasi elektromagnetik misalnya cahaya pada objek dengan interval waktu delta t lebih jauh lagi. Kita asumsikan bahwa objeknya bebas bergerak dan radiasi seluruhnya diserap oleh objek ini. Ini artinya bahwa selama interval delta t, objek memperoleh suatu energi U dari radiasinya. Maxwell menunjukkan bahwa objek juga memperoleh momentum linier. Magnitudo ∆p dari perubahan momentum objek dihubungkan dengan perubahan energi ∆U dengan

leh momentum linier. Magnitudo ∆ p dari perubahan momentum objek dihub ungkan dengan perubahan energi ∆

di mana c adalah kecepatan cahaya. Arah perubahan momentum objek adalah arah dari sinar datang (insiden) yang diserap objek.

Selain diserap, radiasi dapat dipantulkan oleh objek; dengan demikian radiasi dapat dikirimkan dengan arah baru seperti halnya memantul terhadap objek. Jika radiasi seluruhnya dipantulkan kembali sepanjang lintasan asalnya, magnitudo perubahan momentum objek dua kali dari yang disebutkan di atas, atau :

momentum objek dua kali dari yang disebutkan di atas, atau : Jika radiasi sinar datang sebagiannya

Jika radiasi sinar datang sebagiannya diserap dan sebagiannya dipantulkan, maka perubahan momentum objek tersebut adalah antara ∆U/c dan 2∆U/c.

Dari hukum Newton kedua dalam bentuk momentum linier (bagian 9-4), kita tahu bahwa perubahan momentum dihubungkan kepada suatu gaya dengan

perubahan momentum dihubungkan kepada suatu gaya dengan Untuk menemukan persamaan bagi gaya yang dikerahkan oleh

Untuk menemukan persamaan bagi gaya yang dikerahkan oleh radiasi dalam kaitannya dengan intensitas radiasi I, maka kita pertama-tama harus memperhatikan bahwa:

radiasi I, maka kita pertama-tama harus memperhatikan bahwa: Berikutnya, kita misalkan bahwa sebuah permukaan seluas A

Berikutnya, kita misalkan bahwa sebuah permukaan seluas A tegak lurus terhadap lintasan radiasi dan memotong radiasinya. Pada waktu interval ∆t, energi yang ditangkap oleh luas A adalah:

interval ∆ t, energi yang ditangkap oleh luas A adalah: Jika energi itu seluruhnya diserap, maka

Jika energi itu seluruhnya diserap, maka Pers. 33-28 memberitahu kita bahwa ∆p=IA ∆t/c dan dari Pers. 33-30 kita memperoleh magnitudo gaya pada luas A adalah

sama halnya jika energi seluruhnya dipantulkan kembali sepanjang lintasannya, maka Pers. 33-29 menya takan bahwa
sama halnya jika energi seluruhnya dipantulkan kembali sepanjang lintasannya, maka Pers. 33-29 menya takan bahwa

sama halnya jika energi seluruhnya dipantulkan kembali sepanjang lintasannya, maka Pers. 33-29 menyatakan bahwa ∆p= 2IA ∆t/c dan dari Pers. 33-30 kita dapatkan:

bahwa ∆p= 2IA ∆t/ c dan dari Pers. 33-30 kita dapatkan: Jika radiasi sebagian diserap dan

Jika radiasi sebagian diserap dan sebagian dipantulkan, maka magnitudo gaya pada luas

A ini berada di antara nilai IA/c dan 2IA/c.

Gaya per unit luas pada objek yang diakibatkan oleh radiasi adalah tekanan radiasi (p,). Kita dapat menemukan ini pada keadaan Pers. 33-32 dan Pers. 33-33 dengan membagi kedua sisi masing-masing persamaan tersebut dengan A Dengan demikian kita dapatkan

dengan membagi kedua sisi masing-masing persamaan tersebut dengan A Dengan demikian kita dapatkan dan 33-7 Polarisasi

dan

dengan membagi kedua sisi masing-masing persamaan tersebut dengan A Dengan demikian kita dapatkan dan 33-7 Polarisasi

33-7 Polarisasi

Gambar 33-9a menunjukkan sebuah gelombang elektromagnetik dengan medan listriknya yang berosilasi sejajar pada sumbu y vertikal. Bidang ini lainnya terdiri vektor E yang disebut bidang osilasi gelombang (maka dari itu gelombangnya dikatakan berpolarisasi bidang pada arah y). Kita dapat merepresentasikan polarisasi gelombang (keadaan sedang berpolarisasi) dengan menunjukkan arah medan listrik osilasi di bagian depan bidang osilasi seperti pada Gbr. 33-9b. Tanda panah ganda vertikal dalam gambar tersebut mengindikasikan bahwa gelombang bergerak melewati kita, medan listriknya berosilasi secara vertikal dan terus berubah antara diarahkan ke atas dan ke arah bawah sumbu y.

Cahaya yang Berpolarisasi

Gelombang-gelombang elektromagnetik yang dipancarkan stasiun televisi semuanya memiliki polarisasi yang sama, namun gelombang-gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh sumber-sumber cahaya yang umum (seperti sinar Matahari atau bohlam) berpolarisasi secara acak, atau tidak berpolarisasi (kedua istilah ini maksudnya sama). Dengan demikian medan listrik pada titik tertentu selalu tegak lurus pada arah jalannya gelombang namun berubah arahnya secara acak.

Pada prinsipnya, kita dapat menyederhanakan keacakan ini dengan memisahkan setiap medan listrik pada Gbr. 33-10a ke dalam komponen y dan z. Kemudian seiring gelombang bergerak melewati kita, jaring komponen y berosilasi sejajar pada sumbu y dan jaring komponen z berosilasi sejajar pada sumbu z. Kemudian kita dapa mewakili cahaya yang tidak berpolarisasi dengan sepasang panah ganda seperti pada Gbr. 33-10b. Panah ganda sepanjang sumbu y mewakili osilasi komponen y medan listrik. Panah ganda sepanjang sumbu z mewakili osilasi komponen z medan listriknya. Dalam melakukan hal ini, kita secara efektif mengubah cahaya yang tidak berpolarisasi ke dalam superposisi dari dua gelombang yang berpolarisasi yang mana bidang osilasinya saling tegak lurus, satu bidang terdiri dari sumbu y dan bidang lainnya terdiri dari sumbu z. Satu alasan untuk mengubah hal ini adalah bahwa Gbr 33-10b lebih mudah digambarkan daripada Gbr.33-10a.

dari sumbu z. Satu alasan untuk mengubah hal ini adalah bahwa Gbr 33-10b lebih mudah digambarkan
Lembaran tersebut secara komersil disebut polaroid atau filter polaroid yang ditemukan oleh Edwin Land ketika

Lembaran tersebut secara komersil disebut polaroid atau filter polaroid yang ditemukan oleh Edwin Land ketika dia masih menjadi mahasiswa. Suatu bidang polarisasi terdiri dari molekul panjang tertentu yang melekat pada plastik. Ketika lembaran ini diproduksi, lembaran ini direntangkan untuk mengatur molekul- molekul dalam barisan sejajar, seperti sawah yang sedang dibajak. Ketika cahaya dikirimkan melalui lembaran ini, komponen medan listrik sepanjang arah tertentu melewati lembaran ini, sementara itu komponen yang tegak lurus arah tersebut diserap oleh molekul-molekulnya dan kemudian menghilang.

Suatu komponen medan listrik sejajar pada arah polarisasi dilewatkan (diuransmisikan) oleh bidang polarisasi; suatu komponen yang tegak lurus pada yang diserapnya.

Intensitas Cahaya Berpolarisasi yang Ditransmisikan

Cahaya yang tidak berpolarisasi yang osilasi medan listriknya bisa kita pecah menjadi komponen-komponen y dan z sebagaimana digambarkan Gbr 33-10b. Lebih jauh lagi kita dapat menyusun sumbu y agar sejajar A pada arah polarisasi bidang. Namun hanya komponen y medan listrik cahaya yang dilewatkan bidang; komponen z-nya diserap. Seperti ditunjukkan oleh Gbr 33-10b, *jika gelombang-gelombang asalnya diarahkan secara acak, maka jumlah komponen- komponen y dan jumlah komponen-komponen z adalah sama. Ketika komponen- komponen z diserap, setengah intensitas Io cahaya asalnya menghilang. Intensitas Io cahaya berpolarisasi yang muncul itu adalah:

z diserap, setengah intensitas Io cahaya asalnya menghilang. Intensitas Io cahaya berpolarisasi yang muncul itu adalah:

Katakanlah bahwa sekarang ini cahaya yang polarisasi sudah berpolarisasi. Gambar 33-12 menunjukkan suatu bidang polarisasi pada bidang bagian depan dan medan listrik E gelombang dari suatu gelombang cahaya berpolarisasi bergerak menuju bidang tersebut. Kita dapat memecah E menjadi dua komponen yang relatif terhadap arah polarisasi bidang komponen sejajar Ey yang dipancarkan oleh bidang, dan komponen tegak lurus E yang diserap. Karena teta adalah sudut antara E dan arah polarisasi bidang, maka komponen sejajar yang dipancarkan adalah:

bidang, maka komponen sejajar yang dipancarkan adalah: Ingat bahwa intensitas gelombang elektromagnetik (seperti
bidang, maka komponen sejajar yang dipancarkan adalah: Ingat bahwa intensitas gelombang elektromagnetik (seperti

Ingat bahwa intensitas gelombang elektromagnetik (seperti gelombang cahaya) bersifat proposional pada kuadrat magnitudo medan listriknya (Pers. 33-26). Dalam kasus ini, intensitas I dari gelombang yang muncul bersifat proposional terhadap E dan intensitas Io gelombang asalnya proposional terhadap E. Maka dari itu dari Pers. 33-37 kita dapat menulis

E. Maka dari itu dari Pers. 33-37 kita dapat menulis Mari kita sebut hal tersebut sebagai

Mari kita sebut hal tersebut sebagai hukum kosinus kuadrat, kita dapat menggunakan nya hanya ketika cahaya yang mencapai bidang polarisasi sudah berpolarisasi Kemudian intensitas I yang ditransmisikan itu akan maksimum dan sama dengan intensitas lo asalnya ketika gelombang asal berpolarisasi sejajar terhadap arah polarisasi bidang. Intensitas yang ditransmisikan itu nol ketika gelombang asal berpolarisasi tegak lurus terhadap arah bidang.

3.8 Pemantulan dan Pembiasan (Refraksi)

Perjalanan cahaya melalui suatu permukaan (atau antarmuka) yang memisahkan dua media disebut pembiasan (refraksi) , dan cahayanya disebut terefraksi. Kalau suatu sinar datang tidak

tegak lurus terhadap permukaan, refraksi mengubah arah perjalanan cahaya. Perhatikan di Gbr 33-17a bahwa pembelokan

tegak lurus terhadap permukaan, refraksi mengubah arah perjalanan cahaya. Perhatikan di Gbr 33-17a bahwa pembelokan terjadi hanya di permukaanya, di dalam gelas cahayanya bergerak secara lurus.

Di Gbr. 33-16b, sinar di dalam foto diwakili dengan sinar datang, sinar terpantul, dan sinar terefraksi (dan muka gelombang). Setiap sinar diorientasikan ke arah garis yang disebut garis normal, yang mana ini tegak lurus terhadap permukaan pada titik pantul dan refraksi. Di dalam Gbr 33-16b, sudut datang adalah θ1, sudut pantul adalah θ'1 dan sudut bias adalah θ2, dan seluruhnya diukur relatif terhadap garis normal. Bidang yang terdiri dari sinar datang dan garis normal adalah bidang datang, yang berada dalam bidang halaman buku ini pada Gbr 33-

16b.

Eksperimen menunjukkan bahwa refleksi dan refraksi diatur oleh dua hukum:

Hukum Refleksi (Pemantulan): Suatu sinar yang terpantul terletak di dalam bidang datang dan memiliki sudut pantul sama dengan sudut datang. Di dalam Gbr. 33-16b hal ini berarti bahwa:

sudut datang. Di dalam Gbr. 33-16b hal ini berarti bahwa: Hukum Refraksi (Pembiasan): Seberkas sinar yang

Hukum Refraksi (Pembiasan): Seberkas sinar yang terefraksi terletak di dalam bidang datang dan memiliki sudut bias θ2 yang berhubungan dengan sudut datang , seperti berikut ini:

yang berhubungan dengan sudut datang , seperti berikut ini: Di sini tiap-tiap simbol n1 dan n2

Di sini tiap-tiap simbol n1 dan n2 adalah konstanta tak berdimensi yang disebut indeks bias, ini dihubungkan dengan material (medium) yang termasuk ke dalam refraksi. Kita menurunkan persamaan ini menjadi hukum Snell.

Tabel 33-1 menunjukkan indeks bias ruang hampa dan beberapa zat yang umum. Untuk ruang hampa, n diberi nilai 1: untuk udara, n sangat mendekati 1,0 (suatu perkiraan yang kita akan sering gunakan). Tidak ada indeks bias di bawah 1.

(suatu perkiraan yang kita akan sering gunakan). Tidak ada indeks bias di bawah 1. Kita dapat

Kita dapat menyusun Pers. 33-40 sebagai

(suatu perkiraan yang kita akan sering gunakan). Tidak ada indeks bias di bawah 1. Kita dapat
(suatu perkiraan yang kita akan sering gunakan). Tidak ada indeks bias di bawah 1. Kita dapat

untuk membandingkan sudut bias dengan sudut datang. Kemudian kita dapat melihat bahwa nilai relatif dari θ2 tergantung pada nilai relatif n1 dan n1. Bahkan kita dapat memperoleh tiga hasil dasar berikut ini:

1. Jika n2 sama dengan n1, maka sama dengan dan refraksi tidak membelokkan sinar, ini berlanjut di dalam arah sinar yang tidak terbelokkan seperti di Gbr 33-17a.

2. Jika n2 lebih besar dari n1, maka θ2 lebih kecil dari θ1.Dalam hal ini, refraksi membelokkan

sinar menjauhi arah sinar yang tak terbelokkan dan menuju ke garis normal seperti di Gbr 33-17b

3. Jika n2 lebih kecil dari n1, maka θ2l ebih besar dariθ1 . Dalam hal ini, refraksi membelokkan

sinar menjauhi arah sinar yang tak terbelokkan dan menjauhi garis normal seperti di Gbr 33-17c

Refraksi tidak dapat membelokkan suatu sinar sedemikian tajam sehingga sinar yang terefraksi menjadi di sisi yang sama terhadap garis normal seperti sinar datang.

Dispersi Kromatik

Indeks bias n cahaya di medium selain ruang hampa tergantung dari panjang gelombang cahaya. Ketergantungan n terhadap panjang gelombang mengimplikasikan bahwa ketika seberkas sinar terdiri dari serangkaian panjang gelombang yang berbeda, sinar tersebut akan direfraksikan pada sudut-sudut berbeda oleh permukaan; sehingga cahaya akan disebarkan oleh refraksi ini. Penyebaran cahaya ini disebut dispersi kromatik, di mana kromatik merujuk pada penyebaran cahaya berdasarkan panjang gelombang atau warnanya.

Seberkas cahaya putih terdiri dari komponen komponen semua (hampir semua) warna dalam spektrum tampak dengan intensitas yang rata-rata seragam. Ketika kita melihat sinar tersebut, kita lebih melihat warna putih daripada warna lainnya.

Pada Gbr. 33-19a, sinar putih di udara langsung menuju permukaan kaca. (Karena warna kertas di

Pada Gbr. 33-19a, sinar putih di udara langsung menuju permukaan kaca. (Karena warna kertas di buku ini putih, sinar putih diwakili dengan sinar abu-abu. Cahaya monokromatik juga biasanya diwakili dengan sinar merah). Cahaya yang terefraksi di Gbr. 33-19a, hanya komponen merah dan biru yang ditunjukkan. Karena komponen biru lebih dibelokkan daripada komponen merah, maka sudut sudut bias untuk komponen biru lebih kecil daripada sudut bias komponen merah. (Ingat bahwa sudut diukur relatif terhadap garis normal). Pada Gbr. 33 sinar putih di dalam kaca merupakan sinar datang pada kaca-permukaan udara).

Komponen biru lebih dibelokkan daripada komponen merah namun sekarang θ2b lebih besar dari θ2r.

Untuk meningkatkan pemisahan warna, kita dapat menggunakan prisma kaca padat dengan penampang melintang segitiga

Pelangi

Contoh yang paling menarik dari dispersi kromatik adalah pelangi. Ketika sinar Matahari (yang terdiri dari semua warna tampak) berpotongan dengan air hujan yang turun, sebagian cahaya berefraksi pada tetesan air tersebut, kemudian memantul dari permukaan dalam tetesan air kemudian berefraksi keluar dari tetesan tersebut. Gambar 33-21a menunjukkan suatu keadaan

ketika matahari pada posisi kiri horizontal (dan saat sinar matahari berada dalam posisi horizontal). Refraksi pertama memisahkan sinar matahari menjadi komponen-komponen warnanya, dan refraksi kedua meningkatkan pemisahan ini. (hanya sinar merah dan biru ditunjukkan di gambar). Jika banyak tetesan air disinari dengan cerah, kita dapat melihat warna- warna terpisah yang dihasilkannya pada sudut 42° dari arah titik antisolar A, yaitu titik berlawanan langsung dengan matahari dari pandangan kita.

berlawanan langsung dengan matahari dari pandangan kita. Untuk melihat tetesan air, hadapkan wajah kita berlawanan

Untuk melihat tetesan air, hadapkan wajah kita berlawanan dengan matahari dan ulurkan kedua tangan kita berlawanan dengan matahari menuju bayangan kepala kita. Kemudian gerakan tangan kanan kita ke atas arah kanan, atau pada arah langsung manapun sehingga sudut antara tangan kita adalah 42°. Jika tetesan yang tersinari itu terjadi pada arah tangan kanan kita, maka kita dapat melihat warna pada arah tersebut.

Karena setiap tetesan dengan sudut 42° dan pada arah apapun dari A dapat menyebabkan pelangi, maka pelangi selalu berbentuk lengkungan 42° sekitar A (Gbr. 33-21b) dan puncak matahari lebih besar dari 42° di atas garis horizontal. Ketika Matahari berada di atas garis horizontal, arah A berada di bawah garis horizontal dan lengkungan pelangi mungkin hanya akan terjadi singkat dan pendek (Gbr. 33-21c).

Karena pelangi terbentuk dengan melibatkan satu pemantulan cahaya di dalam setiap tetesan, pelangi sering disebut pelangi utama (primer). Pelangi kedua (sekunder) melibatkan dua pemantulan di dalam setiap tetesan, sebagaimana digambarkan Gbr. 33-21d. Warna-warna muncul di pelangi kedua pada sudut 52° dari arah A. Pelangi kedua lebih lebar dan lebih muram daripada pelangi utama sehingga lebih sulit dilihat. Selain itu, urutan warna di dalam pelangi kedua terbalik dari urutan pelangi pertama, seperti yang dapat kita lihat dengan membandingkan bagian-bagian a dan d di Gbr. 33-21.

Pelangi melibatkan tiga atau empat pemantulan yang terjadi pada arah matahari dan tidak bisa dilihat dengan melawan kilauan sinar matahari di langit. Pelangi yang melibatkan lebih banyak pemantulan di dalam tetesan-tetesan air dapat terjadi di bagian-bagian lain langit tapi selalu sangat buram untuk bisa dilihat.

33-9 Pemantulan Internal Total

Gambar 33-23 menunjukkan berkas sinar monokromatik dari suatu sumber titik S di dalam kaca datang ke antarmuka antara kaca dan udara. Untuk sinar a yang tegak lurus terhadap permukaan, sebagian sinar memantul pada permukaan dan sisanya bergerak melaluinya dengan tanpa perubahan arah.

dan sisanya bergerak melaluinya dengan tanpa perubahan arah. Untuk sinar b yang melalui e, yang memiliki

Untuk sinar b yang melalui e, yang memiliki sudut datang lebih besar pada permukaan bertambah, ada juga dan refraksi pada permukaan. Karena sudut datang maka sudut biasnya

bertambah: untuk sinar e yaitu 90° yang berarti bahwa sinar yang berefraksi langsung menuju permukaan. Sudut datang menjadikan situasi ini sebagaimana yang disebut sudut kritis θc. Untuk sudut-sudut datang yang lebih besar dari θc seperti untuk sinar f dan g, tidak ada sinar yang berefraksi dan semua cahaya dipantulkan; efek ini disebut pemantulan internal total.

Untuk menemukan θc , kita menggunakan Pers. 33-44; kita dengan bebas menghubungkan subskrip 1 dengan kaca dan subskrip 2 dengan udara, dan kemudian kita mensubstitusikan θc untuk θ1 dan 90° untuk θ2. dengan demikian maka:

θc untuk θ1 dan 90° untuk θ2. dengan demikian maka: Karena sinus suatu sudut tidak melebihi
θc untuk θ1 dan 90° untuk θ2. dengan demikian maka: Karena sinus suatu sudut tidak melebihi
θc untuk θ1 dan 90° untuk θ2. dengan demikian maka: Karena sinus suatu sudut tidak melebihi

Karena sinus suatu sudut tidak melebihi gabungannya, maka n2 tidak bisa melebihi n1, pada persamaan ini. Pembatasan ini memberitahu kita bahwa pemantulan internal total tidak bisa terjadi ketika sinar datang berada di dalam medium dengan indeks bias yang lebih kecil. Jika sumber S berada di udara pada Gbr 33-23, semua sinar yang masuk ke udara-permukaan kaca (termasuk f dan g) akan dipantulkan dan direfraksikan pada permukaan.

33-10 Polarisasi Karena Pemantulan

Kita dapat mengubah sorotan sinar matahari yang telah dipantulkan (misalnya) air dengan melihatnya melalui bidang polarisasi (seperti suatu lensa kacamata polarisasi) dan kemudian memutar sumbu polarisasi bidang sekitar garis pandangan kita. Kita dapat melakukan hal tersebut karena setiap cahaya yang dipantulkan dari suatu permukaan baik itu seluruhnya ataupun sebagian berpolarisasi karena pemantula (refleksi)

Gambar 33-25 menunjukkan cahaya yang tidak berpolarisasi datang pada permukaan kaca. Mari kita pecah vektor-vektor medan listrik cahaya menjadi dua komponen. komponen tegak lurus posisinya tegak lurus terhadap bidang datang dan halaman buku ini di Gbr. 33-25; komponen- komponen ini diwakili oleh titik-titik (seolah kita melihat ujung-ujung vektor). Komponen- komponen sejajar, sejajar terhadap bidang datang dan halaman buku ini, ini semua diwakili oleh anak panah bermata dua. Karena cahayanya tidak berpolarisasi, kedua komponen ini memiliki magnitudo yang sama.

Secara umum, cahaya atau sinar yang memantul juga memiliki dua komponen tersebut namun dengan magnitudo yang berbeda. Hal ini berarti bahwa cahaya yang memantul berpolarisasi sebagian medan medan magnet yang berosilasi sepanjangarah yang satu memiliki amplitudo yang lebih besar daripada yang berosilasi sepanjang arah lainnya. Namun, ketika cahaya datang dengan sebuah sudut datang tertentu. yaitu sudut Brewster θB maka sinar yang memantul hanya memiliki komponen- komponen yang tegak lurus seperti pada Gbr. 33-25. Sinar yang memantul kemudian seluruhnya berpolarisasi tegak lurus terhadap bidang datang. Komponen-komponen sejajar dari sinar datang tidak menghilang tapi (bersama komponen-komponen tegak lurus) berefraksi dengan kaca.

Kaca, air dan material materi dielektrikum lain dapat berpolarisasi sebagian dan seluruhnya karena pemantulan.

Hukum Brewster

Untuk sinar yang datang pada sudut Brewster, kita menemukan eksperimen bahwa sinar-sinar yang memantul dan berefraksi itu tegak lurus satu sama lain. Karena sinar yang memantul itu memantul pada sudut θB di Gbr. 33-25 dan sinar yang berefraksi itu pada sudut θr maka

33-25 dan sinar yang berefraksi itu pada sudut θr maka Kedua sudut ini juga dapat dihubungkan

Kedua sudut ini juga dapat dihubungkan dengan Pers. 33-44. Dengan secara sembarang menempatkan subskrip 1 di dalam Pers. 33-44 pada material di mana sinar datang dan sinar memantul itu bergerak maka kita memperoleh :

Dengan menggabungkan dua persamaan tersebut maka kita memperoleh: Menghasilkan Jika sudut datang dan sinar yang

Dengan menggabungkan dua persamaan tersebut maka kita memperoleh:

menggabungkan dua persamaan tersebut maka kita memperoleh: Menghasilkan Jika sudut datang dan sinar yang memantul

Menghasilkan

dua persamaan tersebut maka kita memperoleh: Menghasilkan Jika sudut datang dan sinar yang memantul bergerak di

Jika sudut datang dan sinar yang memantul bergerak di udara, kita dapat memperkirakan n1 sebagai satu dan n mewakili n2 untuk menulis Pers. 33-49 menjadi:

satu dan n mewakili n2 untuk menulis Pers. 33-49 menjadi: Persamaan ini adalah penyederhanaan Pers. 49

Persamaan ini adalah penyederhanaan Pers. 49 dan disebut Hukum Brewster. Seperti θ B hukum ini juga dinamai menurut Sir David Brewster yang menemukan keduanya melalui eksperimen pada tahun 1812.