Anda di halaman 1dari 4

PELAPORAN KINERJA SOSIAL

Audit Sosial
Audit sosial mengukur dan melaporkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari
program-program yang berorientasi sosial dan operasi perusahaan yang reguler. Ada beberapa
cara untuk melakukan hal tersebut. Salah satu strategi yang berhasil dimulai dengan
mengembangkan inventaris dari aktivitas yang memiliki dampak sosial. Audit sosial bermanfaat
bagi perusahaan dengan membuat para manajer menyadari konsekuensi sosial dari beberapa
tindakan mereka. Selain itu, audit semacam itu dapat menyebabkan manajer mencoba untuk
memperbaiki kinerja mereka dalam bidang-bidang sosial dan ukuran kinerja yang didasarkan
pada rencana itu. Dalam audit sosial, auditor memeriksa operasi untuk menilai kinerja sosial dari
suatu perusahaan dan bukannya kinerja keuangannya. Oleh karena itu, telah disarankan bahwa
akuntan tidak memiliki kualifikasi untuk melakukan audit semacam itu sendiri, tetapi bahwa
suatu tim dari para ilmuan sosial (termasuk akuntan) sebaiknya digunakan untuk mengukur dan
menilai kinerja sosial dari perusahaan tersebut.
Laporan-laporan sosial
David Linowes telah mengembangkan Laporan Operasi Sosio-Ekonomi untuk digunakan
sebagai dasar untuk melaporkan informasi akuntansi sosial. Linowes membagi laporannya ke
dalam tiga kategori: 1) hubungan dengan manusia, 2) hubungan dengan lingkungan, dan 3)
hubungan dengan produk. Pada setiap kategori, ia membuat daftar mengenai kontribusi sukarela
perusahaan dan kemudian mengurangkannya dengan kerugian yang disebabkan oleh aktivitas
perusahaan itu. Selain Linowes, Ralph Estes mengembangkan suatu model yang menggunakan
perspektif Pigou mengenai manfaat dan biaya sosial. Estes mempertimbangkan modelnya
sebagai suatu laporan koseptual yang dapat digunakan secara internal oleh manajemen dalam
menilai manfaat neto perusahaan bagi masyarakat.
Pengungkapan dalam Laporan Tahunan
Banyak perusahaan menerbitkan laporan tahunan kepada pemegang saham yang berisi beberapa
informasi sosial. Ernst & Ernst melakukan suatu survei atas pengungkapan sosial yang dibuat
oleh 500 perusahaan industri terkenal dalam laporan tahunannya dari tahun 1971 sampai tahun

1978. Ditemukan bahwa secara umum, jumlah perusahaan yang mengungkapkan informasi
sosial dan jumlah pengungkapan meningkat dengan stabil. Sekitar 90 persen dari perusahann
yang termasuk dalam laporan tahun 1978 telah membuat suatu bentuk pengungkapan sosial.
Tetapi, karena kebanyakan informasi sosial yang diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan
tahunan bersifat sukarela dan selektif, dapat diargumentasikan bahwa informasi tersebut
memiliki nilai yang dipertanyakan dan seseorang tidak dapat menilai kinerja sosial dari
perusahaan tersebut berdasarkan laporan tahunnya.
Untuk mengetahui lebih rinci mengenai informasi sosial yang diungkapkan dalam
laporan tahunan dari perusahaan-perusahaan di Indonesia, dapat dilihat pada tabel-tabel berikut
ini.
Pengungkapan Sosial Tema Masyarakat
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pos Pengungkapan Aspek Sosial


Dukungan terhadap kegiatan sosial budaya (pameran, pagelaran seni, dan lain-lain)
Dukungan terhadap kegiatan olahraga (termasuk menjadi sponsor)
Dukungan terhadap dunia anak (pendidikan)
Partisipasi terhadap kegiatan di sekitar kantor atau pabrik (perayaan hari besar)
Dukungan terhadap lembaga kerohanian ( Dewan Masjid, Bazis, dan lain-lain)
Dukungan terhadap lembaga pendidikan (termasuk beasiswa, kesempatan magang, dan

7.
8.
9.

kesempatan riset)
Dukungan terhadap lembaga sosial lainnya
Fasilitas sosial dan fasilitas umum
Prioritas lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar (termasuk pemberian fasilitas dan
motivasi oleh perusahaan untuk berwirausaha bagi masyarakat di sekitar industri tersebut)

Pengungkapan Sosial Tema Konsumen


No.
1.
2.

Pos Pengungkapan Aspek Sosial


Mutu atau kualitas produk
Penghargaan kualitas (termasuk sertifikasi kualitas, sertifikasi halal, penghargaan, dan

3.
4.
5.
6.

seterusnya)
Kepuasan konsumen (upaya-upaya untuk meningkatkan kepuasan konsumen)
Masalah komputer (Y2K)
Iklan yang terlalu mengeksploitasi dan membohongi konsumen
Spesifikasi produk, umur produk, dan masa berlaku produk

Pengungkapan Sosial Tema Tenaga Kerja

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pos Pengungkapan Aspek Sosial


Jumlah tenaga kerja
Keselamatan kerja (kebijakan dan fasilitas keselamatan kerja)
Kesehatan (termasuk fasilitas dokter dan poliklinik perusahaan)
Koperasi karyawan
Gaji/ upah
Tunjangan dan kesejahteraan lain (termasuk UMR, bantuan masa kritis untuk keluarga

7.
8.
9.

karyawan, asuransi, dan fasilitas transportasi)


Pendidikan dan latihan (termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi)
Kesetaraan gender dalam kesempatan kerja dan karier
Fasilitas peribadatan (termasuk fasilitas peribadatan dan peringatan hari besar agama) di

10.
11.
12.
13.

lingkungan perusahaan
Cuti karyawan (termasuk cuti yang diperlukan oleh pekerja wanita)
Pensiun (termasuk pembentukan atau pemilihan yayasan dana pensiun)
Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) dan Serikat Pekerja
Tingkat perputaran pekerja (termasuk pengurangan kerja dan perekrutan)

Perkembangan Luar Negeri


Perusahaan-perusahaan Eropa sudah mempelopori pengungkapan informasi sosial baik
dalam laporan khusus maupun laporan tahunan. Prancis, misalnya, telah mengeluarkan undangundang yang mengharuskan perusahaan-perusahaan dengan jumlah karyawan yang bannyak untuk
melaporkan pos-pos hubungan karyawan. Terlibat dalam laporan-laporan ini adalah: 1) lapangan
kerja, 2) gaji dan perubahan sosial, 3) kesehatan dan jaminan kerja, 4) kondisi kerja lainnya, 5)
pelatihan, 6) hubungan industri, dan 7) pengaturan sosial lainnya yang relevan. Bentuk pelaporan
model Eropa yang telah digunakan oleh sejumlah perusahaan adalah bentuk yang dikembangkan
serta digunakan oleh Deutsche Shell (perusahaan minyak Shell di Jerman). Serupa dengan
laporan dari perusahaan-perusahaan di prancis, laporan Deutsche Shell menekankan pada hubungan
perusahan dengan karyawannya. Tetapi, laporan tersebut juga memberikan informasi mengenai
sejumlah bidang lainnya yang berurusan dengan tangung jawab sosial perusahaan.
ARAH RISET
Riset dalam akuntansi sosial telah cukup ekstensif dan berfokus pada berbagai subjek
yang berkisar dari pengembangan kerangka kerja teoritis sampai mensurvei pengguna potensial
dari data akuntansi sosial. Studi mengenai kegunaan informasi sosial bagi investor dapat dibagi
menjadi dua bidang utama, yaitu: 1) survei atas investor potensial, dan 2) pengujian empiris
terhadap dampak pasar dari pengungkapan akuntansi sosial. Survei atas investor belum

menghasilkan laporan apa pun yang bersifat konklusif mengenai kebutuhan akan informasi
akuntansi sosial. Studi mengenai reaksi pasar modal terhadap pengungkapan informasi sosial
menyarankan agar investor menyesuaikan perkiraan mereka terhadap pengungkapan informasi akuntansi
sosial.