Anda di halaman 1dari 22

ETIOLOGI

Penyebab terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan


berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan
factor-faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti
melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan
mengalami labioschisis. Kemungkinan seorang
bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu,
ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi
alcohol
dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama
kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan
labioschisis.
6
Menurut Mansjoer dan kawan-kawan, hipotesis yang diajukan antara lain:
7
- Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal
kuantitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat,
vitamin C, dan Zn)
- Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal
- Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia.
- Faktor genetik
Kelainan ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya
mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus nasalis
dan
maksilaris) pecah kembali.
7
KLASIFIKASI
Labioschisis diklasifikasikan berdasarkan lengkap/ tidaknya celah yang
terbentuk :
6,7
- Komplit
- Inkomplit
Dan berdasarkan lokasi/ jumlah kelainan :
6
- Unilateral
- Bilatera

Gambar 2. Klasifikasi Labioschisis.


6
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari kelainan labioschisis antara lain :
4,5
Masalah asupan makanan

Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya
labioschisis memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu
atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat
meningkatkan
kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan
reflek
menelan pada bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat
menghisap
lebih banyak udara pada saat menyusu. Memegang bayi dengan posisi tegak lurus
mungkin
dapat membantu proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala
juga
daapt membantu. Bayi yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada
palatum biasanya dapat menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya
membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar
dengan
tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio-palatoschisis dan bayi dengan
masalah pemberian makan/ asupan makanan tertentu.
Masalah Dental
Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang
berhubungan dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean
dari
celah bibir yang terbentuk.
Infeksi telinga
14
Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena
terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan dan
penutupan tuba eustachius.
Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada
perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat
menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas
nada
yang lebih tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi
palatum,
kemampuan otototot tersebut diatas untuk menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara
mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan
untuk
menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s, sh, and ch", and terapi bicara (speech
therapy)
biasanya sangat membantu.
PENATALAKSANAAN
Idealnya, anak denga labioschisis ditatalaksana oleh team labiopalatoschisis yang
terdiri
dari spesialistik bedah, maksilofasial, terapis bicara dan bahasa, dokter gigi, ortodonsi,
psikoloog, dan perawat spesialis. Perawatan dan dukungan pada bayi dan keluarganya

diberikan sejak bayi tersebut lahir sampai berhenti tumbuh pada usia kira-kira 18 tahun.
Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada saat usia anak 3 bulan.
6,7
Ada tiga tahap penatalaksanaan labioschisis yaitu :
1. Tahap sebelum operasi
Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima
tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang
dicapai
dan usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat
badan
lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10
minggu , jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan
pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah.
Misalnya
memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat
memancar
keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat
bayi
tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot
dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan
sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari
masuknya
15
susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan
dengan
menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi
tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi
kearah depan (protrusio pre maxilla) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika
hal
ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika
hasil
akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan
sampai
waktu operasi tiba.
2. Tahap sewaktu operasi
Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal
kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh
seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3
bulan Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan
sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir
sudah
terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi
kurang
sempurna.
Teknik Operasi
Terdapat beberapa metode labioplasty diantaranya : teknik Rose-Thompson, teknik

flap quadrangularis, teknik flap triangularis, teknik Millard dan takenik modifikasi
Mohler.
Namun yang paling umum digunakan adalah teknik Millard yang caranya didasari oleh
gerakan memutar dan memajukan (rotation and advancement).
Teknik operasinya yaitu pertama dari sisi lateral, mukosa dikupas dari otot orbikularis
oris. Kemudian otot orbikularis oris bagian merah bibir dipisahkan dari sisanya. Kulit dan
subkutis dibebaskan dari otot orbikularis oris secara tajam, sampai kira-kira sulkus
nasoabialis. Lepaskan mukosa bibir dari rahang pada lekuk pertemuannya, secukupnya.
Kemudian otot dibebaskan dari mukosa hingga terbentuk 3 lapis flap : mukosa, otot dan
kulit.
Lalu pada sisi medial, mukosa dilepaskan dari otot. Dibuat flap C. Kemudian dibuat insisi
2
mm dari pinggir atap lubang hidung, bebaskan kulit dari mukosa dan tulang rawan alae,
menggunakan gunting halus melengkung. Letak tulang rawan alae diperbaiki dengan
tarikan
jahitan yang dipasang ke kulit. Setelah jahitan terpasang, lekuk atap dan lengkung atas
atap
lubang hidung lebih simetris. Kolumela dengan rangka tulang rawan dan vomer yang
miring
dari depan ke belakang sulit diperbaiki, sehingga masih miring. Luka di pinggir dalam
atap
16
of 21
1

Laporan
Kasus 1
labio
schisis
ACC
by anh010
on Jun 29, 2015
Report
Category:

Documents
Download: 12
Comment: 0
1,386
views

Comments
Description
Download Laporan Kasus 1 labio schisis ACC
Transcript
Laporan Kasus Labioschicis Unilateral Complete Sinistra OLEH : Chairul Anhar H1A
004 010 PEMBIMBING : Dr. Arif Zuhan Sp.B DALAM RANGKA MENGIKUTI
KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI LAB/SMF BEDAH FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI
NTB 2011 HALAMAN PENGE AHAN Judul Referat Nama Mahasiswa NIM Fakultas :
Labioschicis Unilateral Complete Sinistra : Chairul Anhar : H1A 004 010 : Kedokteran
Laporan kasus ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian
Kepaniteraan Klinik Madya pada Bagian/SMF Bedah Rumah Sakit Umum Propinsi Nusa
Tenggara Barat/ Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Mataram, 15 Januari 2011
Dosen Pembimbing dr. Arif Zuhan, Sp.B 1 KASUS I. Identitas Pasien Nama Umur Jeni
kelamin Alamat Masuk Rumah Sakit Tanggal pemeriksaan : An. A.A : 8 bulan : Lakilaki : Kecamatan Seteluk-Kabupaten Sumbawa Barat : 29 Desember 2010 : 03 Januari
2011 II. Anamnesis (Allow anamnesis) y Keluhan utama : Bibir sumbing sejak lahir y
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dikeluhkan bibir sumbing pada bagian kiri
sejak lahir. Delapan bulan yang lalu (SMRS) pasie dilahirkan dari seorang Ibu yang
berumur 28 tahun. Ibu pasien mengatakan bahwa kelainan pada bibir pasien tidak
mengga nggu asupan ASI yang diberikan. Makan minum lancar. Keluhan demam (-),
batuk (-) sesak napas (-), susah makan (+). BAB (+), konsistensi kenyal, warna
kekuningan, darah(-), 3- kali per hari. BAK (+), konsistensi cair, berwarna putih
kekuningan, 5-6 kali per hari y Riwayat ANC: o Ibu pasien mengaku pasien adalah anak
pertamanya dan sebelumnya tidak pernah keguguran . o Selama masa kehamilan ibu
pasien mengaku riwayat konsumsi minuman beralkohol (-), merokok (-), narkotika (-),
konsumsi obat dalam jangka waktu lama (-), jamu-jamuan (-), rontgen (-). o Riwayat
menderita penyakit sistemik yang berat selama masa kehamilan ( ), kencing manis (-),
tekanan darah tinggi (-), riwayat penyakit kelamin (-), riwayat pemakaian KB hormonal

(-). o Kontrol kehamilan dilakukan ibu pasien rutin di puskesmas. Selama kontrol
kehamilannya ibu pasien mengaku tidak pernah ditemukan adanya kelainan (kelainan
letak janin (-), gemeli (-), perdarahan pervaginam (-), hiperemesis gravidarum (-), anemia
dalam kehamilan (-), panggul sempit (-)) dan biasa mendapatkan vitamin (vitamin
penambah darah) dari puskesmas. Namun ibu 2 pasien mengaku tidak pernah
mengkonsumsi vitamin-vitamin tersebut dengan alasan tidak berani minum obat.
Kebiasaan ini tetap dilakukan ibu pasien sampai pasien lahir. o Pola makan ibu pasien
selama kehahilan: makan 3- x/hari, 1x makan habis 1 piring nasi beserta lauk pauk dan
sayuran. Ibu pasien juga mengkonsumsi buah buahan. y Riwayat persalinan: Ibu pasien
mengatakan bahwa proses persalinan dibantu bidan di RSUD Sumbawa Besar. Pasien
lahir per vaginam dengan dirangsang dengan obat (induksi oxytosin). Pasien lahir dengan
berat 3 kilo gram, cukup bulan dengan kelainan bawaan bibir sumbing(+), kelainan lain
(-). y Riwayat tumbuh kembang: Tengkurap umur 6 bulan, pasien belum bisa
mengucapkan kata Riwayat Penyakit Dahulu : Asma (-), penyakit kuning (-) Riwayat
Penyakit Keluarga : Orang tua pasien mengaku tidak ada anggota keluarga baik dari
keturunan ibu ataupun ayah pasien yang pernah menderita bibir sumbing. Riwayat Alergi
: Pasien disangkal adanya alergi terhadap obat atau makanan tertentu. Riwayat sosial: Ibu
pasien berumur 28 tahun dan ayah pasien berumur 27 tahun. Pekerjan kedua orang tua
pasien adalah petani dengan penghasilan yang tak tentu. y Riwayat Pengobatan: Pada saat
pasien dilahirkan orang tua pasien dianjurkan oleh dokter untuk mengoperasi bibir
sumbing pasien setelah pasien berumur lebih dari 3 bulan. Namun, karena masalah biaya
orangtua pasien baru bisa melaksanakannya sekarang. Pertama kali pasien diperiksakan
ke PKM Seteluk-KSB pada tanggal 15 november 2010 dan langsung dirujuk ke RSUP
NTB. Setelah selesai pengurusan JAMKESDA pasien 3 dibawa orangtuanya dating ke
mataram dan memeriksakan pasien di poliklinik bedah pertama pada tanggal 22
November 2010. Kemudian dokter poliklinik bedah menganjurkan bahwa pasien harus di
operasi. Pasien baru biasa masuk bangsal seruni tanggal 29 Desember 2010. III.
Pemeriksaan Fisik a. Status present : Keadaan umum : Baik Kesadaran : CM Tanda vital :
- Nadi : 132 x/menit Pernafasan : 28 x/menit Suhu axilla : 37,6 C Berat badan(BB) : 7
kg Tinggi badan(TB): 63 cm Z Score BB/TB: 0.73 SD Status gizi Normal (rentang
normal >-2 SD sampai +2 SD) b. Pemeriksaan fisik umum : 1. Kepala Leher - Kepala :
Normochepali, deformitas (-) Mata : Konjungtiva palpebra anemis -/-, sklera ikterus -/-,
pupil isokor diameter 2 mm/2mm, refleks pupil (+/+) - THT : Telinga: bentuk telinga
kanan/kiri normal, infeksi telinga -/Hidung: deviasi (+) sedikit kearah kanan, deformitas
os nasal (-), sadle nose (). - Mulut: labium superior sinistra tampak celah sepanjang 2 cm
kearah nares nasi sinistra, celah palatum durum (-) - Leher : massa (-), tidak terdapat
pembesaran KGB 2. Thoraks Kardiovaskuler - Inspeksi : tampak pergerakan dinding
thoraks simetris, retraksi (-), iktus kordis tidak tampak. - Palpasi : Teraba pergerakan
dinding thorak simetris, Perkusi : Paru : sonor pada daerah dinding thorak sinistra dan
dekstra 4 Jantung : pekak dengan batas kanan atas ICS II parasternalis dekstra, batas kiri
atas pada ICS II parasternalis sinistra, batas kiri bawah pada ICS V midclavicular line. Auskultasi : Jantung : suara jantung S1 S2 reguler tunggal, murmur -/-, gallop -/-. Paru :
Suara napas terdengar vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. 3. Abdomen - Inspeksi :
kulit tampak normal, dinding abdomen tidak tampak distensi, tidak terdapat jaringan
sikatrik, tidak tampak massa. - Auskultasi : terdengar bising usus pada semua lapang
abdomen jumlah normal, - Perkusi : timpani pada semua lapang abdomen Palpasi :

dinding perut supel, nyeri tekan (-) pada seluruh area abdomen, 4. Urogenital
Suprapubis : massa (-), nyeri tekan (-) Genitalia : kedua testis (+), kelainan bawaan (-) 5.
Anal perianal Anus (+) 6. Ekstrimitas atas Axilla - Inspeksi : Edema -/-, deformitas
-/Palpasi : nyeri tekan (-) motorik dan sensibilitas baik Pembesaran KGB -/7. Ekstrimitas
bawah - Inspeksi : Edema -/-, deformitas -/Palpasi : nyeri tekan (-) motorik baik 5 Status l
alis : Deviasi sedikit kearah dextra Celah di labium labium superior sinistra 2 cm Celah
palatum durum (-) 6 IV. Resume a. Anamnesis Laki-laki, 8 bulan, dikeluhkan bibir
sumbing pada bagian kiri sejak lahir. Ibu yang berumur 27 tahun. Ibu pasien mengatakan
bahwa kelainan pada bibir pasien tidak mengganggu asupan ASI yang diberikan. Makan
minum lancar. Keluhan demam (-), batuk (-) sesak napas (-), susah makan (+). BAB (+),
konsistensi kenyal, warna kekuningan, darah(-), 3-4 kali per hari. BAK (+), konsistensi
cair, berwarna putih kekuningan, 5-6 kali per hari Riwayat ANC: o Ibu pasien mengaku
pasien adalah anak pertamanya dan sebelumnya tidak pernah keguguran . o Selama masa
kehamilan ibu pasien mengaku riwayat konsumsi minuman beralkohol (-), merokok (-),
narkotika (-), konsumsi obat dalam jangka waktu lama (-), jamu-jamuan (-), rontgen (-). o
Riwayat menderita penyakit sistemik yang berat selama masa kehamilan (-), kencing
manis (-), tekanan darah tinggi (-), riwayat penyakit kelamin (-), riwayat pemakaian KB
hormonal (-). o Kontrol kehamilan dilakukan ibu pasien rutin di puskesmas. Selama
kontrol kehamilannya ibu pasien mengaku tidak pernah ditemukan adanya kelain an
(kelainan letak janin (-), gemeli (-), perdarahan pervaginam (-), hiperemesis gravidarum
(-), anemia dalam kehamilan (-), panggul sempit (-)) dan biasa mendapatkan vitamin
(vitamin penambah darah) dari puskesmas. Namun ibu pasien mengaku tidak pernah
mengkonsumsi vitamin-vitamin tersebut dengan alasan tidak berani minum obat.
Kebiasaan ini tetap dilakukan ibu pasien sampai pasien lahir. o Pola makan ibu pasien
selama kehahilan: makan 3-4x/hari, 1x makan habis 1 piring nasi beserta lauk pauk dan
sayuran. Ibu pasien juga mengkonsumsi buahbuahan. Riwayat persalinan: Ibu pasien
mengatakan bahwa proses persalinan dibantu bidan di RSUD Sumbawa Besar. Pasien
lahir per vaginam dengan dirangsang dengan obat (induksi oxytosin). Pasien lahir dengan
berat 3 kilo gram, cukup bulan dengan kelainan bawaan bibir sumbing(+), kelainan lain
(-). Riwayat tumbuh kembang: Tengkurap umur 6 bulan, pasien belum bisa
mengucapkan kata Riwayat Penyakit Dahulu : 7 Asma (-), penyakit kuning (-) Riwayat
Penyakit Keluarga : Orang tua pasien mengaku tidak ada anggota keluarga baik dari
keturunan ibu ataupun ayah pasien yang pernah menderita bibir sumbing. Riwayat Alergi
: Pasien disangkal adanya alergi terhadap obat atau makanan tertentu. Riwayat sosial: Ibu
pasien berumur 28 tahun dan ayah pasien berumur 27 tahun. Pekerjan kedua orang tua
pasien adalah petani dengan penghasilan yang tak tentu. Pemeriksaan fisik Keadaan
umum : Baik Kesadaran : CM Tanda vital : - Nadi : 132 x/menit Pernafasan : 28 x/menit
Suhu axilla : 37,6 C THT : - Telinga: bentuk telinga kanan/kiri normal, infeksi telinga
-/Hidung: deviasi (+) ke kanan, deformitas os nasal (-), sadle nose (-). Mulut: labium
superior sinistra tampak celah sepanjang 2 cm kearah nares nasi sinistra, celah palatum
durum (-), pertumbuhan gigi (-). V. Diagnosis kerja: Labioschisis unilateral complete
sinistra VI. Pemeriksaan Penunjang - Pre op o o DL,UL,GDS,SC,BT, CT Rontgen
Thorax AP VII. Rencana Terapi - Labioplasty VIII. Prognosis Dubia ad bonam 8 STUDI
PUSTAKA Labioschisis atau biasa disebut bibir sumbing adalah cacat bawaan yang
menjadi masalah tersendiri di kalangan masyarakat, terutama penduduk dengan status
sosial ekonomi 1 yang lemah. Akibatnya operasi dilakukan terlambat dan malah

dibiarkan sampai dewasa. Fogh Andersen di Denmark melaporkan kasus bibir sumbing
dan celah langit-langit 1,47/1000 kelahiran hidup. Hasil yang hampir sama juga
dilaporkan oleh Woolf dan Broadbent di Amerika Serikat serta Wilson untuk daerah
Inggris. Neel menemukan insiden 2,1/1000 penduduk di Jepang.2 Insiden bibir sumbing
di Indonesia belum diketahui. Hidayat dan kawan kawan di propinsi Nusa Tenggara
Timur antara April 1986 sampai Nopember 1987 melakukan operasi pada 1004 kasus
bibir sumbing atau celah langit-langit pada bayi, anak maupun dewasa di antara 3 juta
penduduk.3 Etiologi bibir sumbing dan celah langit-langit adalah multifaktor. Selain
faktor genetik juga terdapat faktor non genetik atau lingkungan. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya bibir sumbing dan celah langit-langit adalah usia ibu waktu
melahirkan, perkawinan antara penderita bibir sumbing, defisiensi Zn waktu hamil dan
defisiensi vitamin B6.1 Bayi yang terlahir dengan labioschisis harus ditangani oleh klinisi
dari multidisiplin dengan pendekatan team-based, agar memungkinkan koordinasi efektif
dari berbagai aspek multidisiplin tersebut. Selain masalah rekonstruksi bibir yang
sumbing, masih ada masalah lain yang perlu dipertimbangkan yaitu masalah
pendengaran, bicara, gigi-geligi dan psikososial. Masalah-masalah ini sama pentingnya
dengan rekonstruksi anatomis, dan pada akhirnya hasil fungsional yang baik dari
rekonstruksi yang dikerjakan juga dipengaruhi oleh masalah-masalah tersebut. Dengan
pendekatan multidisipliner, tatalaksana yang komprehensif dapat diberikan, dan
sebaiknya kontinyu sejak bayi lahir sampai remaja. Diperlukan tenaga spesialis bidang
kesehatan anak, bedah plastik, THT, gigi ortodonti, serta terapis wicara, psikolog, ahli
nutrisi dan audiolog.4 Kelainan ini sebaiknya secepat mungkin diperbaiki karena akan
mengganggu pada waktu menyususui dan akan mempengaruhi pertumbuhan normal
rahang serta perkembangan bicara. Penatalaksanaan labioschisis adalah operasi. Bibir
sumbing dapat ditutup pada semua usia, namun waktu yang paling baik adalah bila bayi
berumur 10 minggu, berat badan mencapai 10 pon, Hb > 10g%. Dengan demikian umur
yang paling baik untuk operasi sekitar 3 bulan.1,5Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Bustami dan kawan-kawan diketahui bahwa 9 alasan terbanyak anak penderita
labioschisis terlambat (berumur antara 5- 15 tahun) untuk dioperasi adalah keadaan sosial
ekonomi yang tidak memadai dan pendidikan orang tua yang masih kurang.1
TINJAUAN PUSTAKA DEFINISI Labioschisis atau cleft lip atau bibir sumbing adalah
suatu kondisi dimana terdapatnya celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung.
Kelainan ini dapat berupa takik kecil pada bahagian bibir yang berwarna samapai pada
pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir memanjang dari bibir ke hidung. Celah pada
satu sisi disebut labioschisis unilateral, dan jika celah terdapat pada kedua sisi disebut
labioschisis bilateral.4 Gambar 1. Bayi dengan Labioschisis.7 ETIOLOGI Penyebab
terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan berpendapat
bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan factor-faktor
lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti melaporkan bahwa
40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan mengalami labioschisis.
Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis
pertama (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang
mengkonsumsi alcohol dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama
trimester pertama kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan
bayi/ anak dengan labioschisis.6 Menurut Mansjoer dan kawan-kawan, hipotesis yang
diajukan antara lain:7 10 - Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa

embrional dalam hal kuantitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas
(defisiensi asam folat, vitamin C, dan Zn) - Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu
dan kontrasepsi hormonal Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia. Faktor
genetik Kelainan ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu
(prosesus nasalis dan maksilaris) pecah kembali.7 KLASIFIKASI Labioschisis
diklasifikasikan berdasarkan lengkap/ tidaknya celah yang terbentuk :6,7 Komplit
Inkomplit Dan berdasarkan lokasi/ jumlah kelainan :6 Unilateral Bilateral Gambar 2.
Klasifikasi Labioschisis.6 MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis dari kelainan
labioschisis antara lain :4,5 Masalah asupan makanan Merupakan masalah pertama yang
terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya labioschisis memberikan kesulitan pada
bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu 11 atau dot. Tekanan lembut pada pipi
bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral.
Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan pada bayi
dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak
udara pada saat menyusu. Memegang bayi dengan posisi tegak lurus mungkin dapat
membantu proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala juga
daapt membantu. Bayi yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada
palatum biasanya dapat menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya
membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar
dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio-palatoschisis dan bayi
dengan masalah pemberian makan/ asupan makanan tertentu. Masalah Dental Anak yang
lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang berhubungan
dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari celah bibir
yang terbentuk. Infeksi telinga Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk
menderita infeksi telinga karena terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot
yang mengontrol pembukaan dan penutupan tuba eustachius. Gangguan berbicara Pada
bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada perkembangan
otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat menutup ruang/
rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih
tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum,
kemampuan otototot tersebut diatas untuk menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara
mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan
untuk menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s, sh, and ch", and terapi bicara (speech
therapy) biasanya sangat membantu. PENATALAKSANAAN Idealnya, anak denga
labioschisis ditatalaksana oleh team labiopalatoschisis yang terdiri dari spesialistik
bedah, maksilofasial, terapis bicara dan bahasa, dokter gigi, ortodonsi, psikoloog, dan
perawat spesialis. Perawatan dan dukungan pada bayi dan keluarganya 12 diberikan sejak
bayi tersebut lahir sampai berhenti tumbuh pada usia kira-kira 18 tahun. Tindakan
pembedahan dapat dilakukan pada saat usia anak 3 bulan.6,7 Ada tiga tahap
penatalaksanaan labioschisis yaitu : 1. Tahap sebelum operasi Pada tahap sebelum operasi
yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi
yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai.
Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds
atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu , jika bayi belum
mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar

kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya m emberi minum
harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri
dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak
atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot dengan
besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok
secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya
susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan
dengan menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir
menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan
menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre maxilla) akibat dorongan lidah pada
prolabium , karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi
sulit dan secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik
tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba. 2. Tahap sewaktu operasi Tahapan
selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan
tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli
bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan Usia ini
dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika
koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur
salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang
sempurna. Teknik Operasi 13 Terdapat beberapa metode labioplasty diantaranya : teknik
Rose-Thompson, teknik flap quadrangularis, teknik flap triangularis, teknik Millard dan
takenik modifikasi Mohler. Namun yang paling umum digunakan adalah teknik Millard
yang caranya didasari oleh gerakan memutar dan memajukan (rotation and advancement).
Teknik operasinya yaitu pertama dari sisi lateral, mukosa dikupas dari otot orbikularis
oris. Kemudian otot orbikularis oris bagian merah bibir dipisahkan dari sisanya. Kulit dan
subkutis dibebaskan dari otot orbikularis oris secara tajam, sampai kira-kira sulkus
nasoabialis. Lepaskan mukosa bibir dari rahang pada lekuk pertemuannya, secukupnya.
Kemudian otot dibebaskan dari mukosa hingga terbentuk 3 lapis flap : mukosa, otot dan
kulit. Lalu pada sisi medial, mukosa dilepaskan dari otot. Dibuat flap C. Kemudian dibuat
insisi 2 mm dari pinggir atap lubang hidung, bebaskan kulit dari mukosa dan tulang
rawan alae, menggunakan gunting halus melengkung. Letak tulang rawan alae diperbaiki
dengan tarikan jahitan yang dipasang ke kulit. Setelah jahitan terpasang, lekuk atap dan
lengkung atas atap lubang hidung lebih simetris. Kolumela dengan rangka tulang rawan
dan vomer yang miring dari depan ke belakang sulit diperbaiki, sehingga masih miring.
Luka di pinggir dalam atap nares dijahit. Kemudian mukosa oral mulai dari kranial,
menghubungkan sulkus ginggivo labialis. Jahitan diteruskan ke kaudal sampai ke dekat
merah bibir. Setelah itu otot dijahit lapis demi lapis. Jahitan kulit dimulai dari titik yang
perlu ditemukan yaitu ujung busur Cupido. Diteruskan ke atas dan ke mukosa bibir.
Jaringan kulit atau mukosa yang berlebihan dapat dibuang. Sebaiknya luka operasi
ditutup dengan tule yang mengandung bahan pencegah perlenngketan dan kasa lembab
selama 1 hari, untuk menyerap rembesan darah/serum yang masih akan keluar. 1 hari
sesudahnya baru luka dirawat terbuka dengan pemberian salep antibiotik. Gambar 3.
Reparasi labioschisis (labioplasti). (A and B) pemotongan sudut celah pada bibir dan
hidung. (C) bagian bawah nostril disatukan dengan sutura. (D) bagian atas bibir 14
disatukan, dan (E) jahitan memanjang sampai kebawah untuk menutup celah secara
keseluruhan. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 20 bulan

mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Operasi yang
dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika
tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah
terbiasa melafalka n suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan
lidah pada posisi yang salah. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi
labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 89 tahun bekerja
sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi. 3. Tahap setelah operasi. Komplikasi Operasi y
Wound dehiscence paling sering terjadi akibat ketegangan yang berlebih dari tempat
operasi y Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. Bila
hal ini terjadi, anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan,
dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan
anestesi yang terpisah. y Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang
terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi
akibat kontaminasi pascaoperasi, trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana
sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat
terjadi akibat simpul yang terbenam. y Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau
retrusion, yang dapat terjadi setelah operasi. y Whistle deformity merupakan defisiensi
vermilion dan mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi bibir. Hal
ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari segmen lateral otot orbikularis. y
Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran
intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung Perawatan Pasca
bedah y Pemberian makanan per-oral : Untuk anak-anak yang mengkonsumsi ASI, dapat
terus disusui setelah operasi. Bagi anak-anak yang menggunakan botol, disarankan untuk
15 menggunakan ujung kateter yang lunak selama 10 hari, baru dilanjutkan dengan
penggunaan ujung dot yang biasa. y Aktivitas : Tidak ada batasan aktivitas tertentu yang
perlu dilakukan, namun hendaknya aktivitas perlu diperhatikan untuk meminimalisasi
risiko trauma pada luka operasi. y Perawatan bibir : Garis jahitan yang terpapar pada
dasar hidung dan bibir dapat dibersihkan dengan kapas yang diberi larutan hidrogen
peroksida dan salep antibiotika yang diberikan beberapa kali perhari. Jahitan dapat
diangkat pada hari ke 5 -7. Follow up Setelah operasi labioplasti, pasien harus
dievaluasi secara periodik terutama status kebersihan mulut dan gigi, pendengaran dan
kemampuan berbicara, dan juga keadaan psikososial. Gambar 4. Sebelum dan sesudah
tindakan operasi. PROGNOSIS Kelainan labioschisis merupakan kelainan bawaan yang
dapat dimodifikasi/ disembuhkan. Kebanyakan anak yang lahir dengan kondisi ini
melakukan operasi saat usia masih dini, dan hal ini sangat memperbaiki penampilan
wajah secara signifikan. Dengan adanya teknik pembedahan yang makin berkembang,
80% anak dengan labioschisis yang telah ditatalaksana mempunyai perkembangan
kemampuan bicara yang baik. Terapi bicara yang berkesinambungan menunjukkan hasil
peningkatan yang baik pada masalahmasalah berbicara pada anak labioschisis. 16
Lampiran 1 Tabel1: Intervesi pada pasien labiognatopalatoschisis8 Intervensi berdasarkan
umur* Umur Intervensi y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Prenatal Referred to
cleft lip and palate team Diagnosis dan konseling genetik Mengatasi masalah psikososial
Memberikan petunjuk pemberian makan Membuat perencanan pemberian makan
Referred to cleft lip and palate team Diagnosis dan konseling genetik Mengatasi masalah
psikososial Menyediakan instruksi pemberian makan dan memeriksa pertumbuhan
Periksa pemberian makan dan pertumbuhan Operasi bibir sumbing (labioplasty)

Pemeriksaan telinga dan pendengaran Periksa pemberian makan dan tumbuh kembang
Pemeriksaan telinga dan pendengaran Operasi celah palatum (palatoplasty) Menyediakan
instruksi menjangga hygiene mulut Menilai telinga dan pendengaran Menilai pecakapan
dan bahasa Memeriksa perkembangan Menilai pecakapan dan bahasa, Mengatasi
velopharyngoplasty Pemeriksaan telinga dan pendengaran Pertimbangkan revisi
bibir/hidung sebelum masuk sekolah Menilai pengembangan dan penyesuaian psikososial
Menilai pecakapan dan bahasa, Mengatasi velopharyngoplasty Intervensi orthodontic
(pengaturan lengkung gigi) Cangkok tulang alveolar Menilai sekolah / penyesuaian
psikososial Operasi rahang dan Rhinoplasty kalau diperlukan Jembatan Ortodonti, implan
yang diperlukan Konseling genetik Menilai sekolah / penyesuaian psikososial lahir-1
bulan 1-4 bulan 5-15 bulan 16-24 bulan 2-5 tahun 6-11 tahun y y 12-21 tahun y y y y 17
DAFTAR PUSTAKA 1. Bustami N, Joni R, Zahari A. Bibir Sumbing di Kabupaten 50
Kota dan Solok, Sumatra Barat. Padang : Ilmu Bedah FK Universitas Andalas/ RSUP Dr
M Jamil.1997. 2. Converse JM, hogan VM, McCarthy JG. Cleft Lip And Palate,
Introduction. Dalam: Reconstructive Plastic Surgery, ed. 11, vol. 4. Philadelphia: WB
Saunders. 3. Hidayat dkk. Defisiensi Seng (Zn) Maternal Dan Tingginya Prevalensi
Sumbing Bibir/Langit-Langit Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
(Laporan Pendahuluan). Disitasi dari : http://www.kalbe.co.id /files/cdk/files/18.html.
Pada tanggal 7 januari 2011. 4. Webmaster. Bibir sumbing. Disitasi dari :
http://www.klikdokter.com/ illness/detail/104.htm. Pada tanggal 7 januari 2011.
Perbaharuan terakhir: Januari 2008. 5. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu
Bedah. Jilid 2. Jakarta : EGC.2005. 6. Webmaster. Cleft Lip and Palate. Disitasi dari :
http://www.healthofchild ren.com/C/Cleft-Lip-and-Palate.html?
Comments[do]=mod&Comments[id] =4.htm. Pada tanggal : 7 januari 2011. Perbaharuan
terakhir : Janurai 2009. 7. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Sumbing Bibir dan
Langitan. Dalam : Kapita Selekta. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius FK UI. 2005. 8.
Seattle Childrens Hospital, Research and Foundation. Cleft Lip and Palate. Disitasi dari
http://www.seattlechildrens.org/. pada tanggal 10 Januari 2011. 18
Recommended

Laporan Kasus
Hernia
Acc Bu
Yy

Labio

LABIO/PALATOSCHISIS
Bagian Ilmu Bedah FK-UKI

2003 Labio/Palatoschisis PENDAHULUAN - Labioschisis (sumbing bibir) &


Palatoschisis(sumbing langitan) adalah suatu kombinasi

Acc 1

DAMPAK GEDUNG TERBAGI


DUA TERHADAP SISWA DI
SMA NEGERI 3 BANDUNG
Diajukan untuk Memenuhi
Tugas Mandiri Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia dari Ibu Wiwin oleh: Fairuz Ikhsanul

LABIOPALATO

SCHISIS

LABIOPALATO SCHISIS Minggu, Mei 16, 2010 A. Pengertian Labioschizis terdiri dari
dua pengertian yaitu: 1. Labioshizis (bibir sumbing) adalah suatu celah yang membentang
dari

Laporan Perancangan ACC Multazam

Pra rancangan BAB I PENDAHUUAN 1.1 Latar belakang Prarancangan ( konsep


design ) adalah rancangan awal dari sebuah kapal untuk mendapatkan dimensi dimensi
dari suatu

ACC 1 OK

Sistem Perencanaan Dan


Prasarana Transportasi
(Perc.Bandar Udara) BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar
Belakang Potensi sebuah daerah
dapat berkembang dengan maksimal jika didukung

ACC 1 OK1

Sistem Perencanaan Dan


Prasarana Transportasi
(Perc.Bandar Udara) BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar
Belakang Potensi sebuah daerah
dapat berkembang dengan maksimal jika didukung

BAB 1 (acc)

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pulp merupakan
bahan baku utama
dalam pembuatan

kertas. Oleh sebab itu perkembangan kertas dan perkembangan pulp tidak dapat
dipisahkan.

Standar 1 fak
acc

1. STANDAR 1.
VISI, MISI,
TUJUAN,
SASARAN
SERTA
STRATEGI
PENCAPAIAN1.1Jelaskan mekanisme penyusunan visi, misi, tujuan, sasaran UPPSN
sertastrategi pencapaiannya, serta pihak-pihak

bab 1 acc

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Al-Quran sebagai kitab suci rahmatan lil
alamin, rahmat bagi seluruh alam yang didalamnya mengandung berbagai macam
ilmu,

LAPORAN KASUS 1 lipoma

LAPORAN KASUS 1 Melan


handayani 2006730048

Pembimbing : dr. Lili K, SpB IDENTITAS Nama : Tn. M Umur : 68 tahun


Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Sukaratu

LAPORAN KASUS 1

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA TN. E 42 TAHUN
DENGAN DIAGNOSA POST
LE ILEOSTOMI
REANASTOMOSIS DI
RUANG BEDAH UMUM (PRIA) RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. HASAN
SADIKIN BANDUNG OLEH :

LAPORAN KASUS
REVISI
1

LAPORAN
KASUS CLOSE
FRAKTUR 1/3
DISTAL
HUMERUS
DEXTRA
Disusun Oleh :
Handri Poerniawan Rabiah 02.34865.00058.09 03.37472.00128.09 Pembimbing dr.
Yasser Ridwan, Sp.OT LAB/SMF

1. FORMAT LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN Nama Mahasiswa NIM Ruang No. Regester Tgl masuk/
Jam Diagnosa : : : : : : : Pengkajian diambil tanggal 1. IDENTITAS PASIEN Nama Umur
Suku/Bangsa Agama

laporan kasus 1

PENDAHULUAN Berat badan


merupakan salah satu indikator
kesehatan bayi baru lahir,
dimana bayi cukup bulan
merupakan bayi yang dilahirkan
dengan masa gestasi antara 3742 minggu

Seminar Laporan
Kasus
1

SEMINAR
LAPORAN
KASUS 1
Seorang LakiLaki dengan
Kelainan Hepar
Kelompok 2
Ahmad Rayhan (03010013) Mega Martin (03011184) Anastasia Yunike Eka
( 03010027)

LAPORAN KASUS 1

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA TN. E 42 TAHUN
DENGAN DIAGNOSA POST
LE ILEOSTOMI
REANASTOMOSIS DI

RUANG BEDAH UMUM (PRIA) RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. HASAN
SADIKIN BANDUNG OLEH :

laporan kasus 1
ppt

LAPORAN
KASUS
Pembimbing : dr.
Slamet Trijono,
Sp.S Disusun
oleh : Atika
Rochmahyanti
406117089
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara IDENTITAS PASIEN

LAPORAN KASUS 1

LAPORAN
KASUS 1 A.
Keluhan Utama
Klien mengeluh
sakit kepala B.
Riwayat
Kesehatan
Sekarang Klien
datang ke RSCM
dibawa oleh keluarga karena mengamuk dan bicara meracau sejak

Laporan Kasus Asfiksia+Ikterik 1

Laporan Kasus BAYI CUKUP BULAN SESUAI MASA KEHAMILAN DENGAN


ASFIKSIA BERAT DAN IKTERIK NEONATORUM Oleh Lia Sasmithae Nim.
I1A004047 Pembimbing Dr. Pudji Andayani, Sp.A Pendahuluan

View more

psikososial. Masalah-masalah ini sama pentingnya dengan rekonstruksi anatomis, dan


pada
akhirnya hasil fungsional yang baik dari rekonstruksi yang dikerjakan juga dipengaruhi
oleh
masalah-masalah tersebut. Dengan pendekatan multidisipliner, tatalaksana yang
komprehensif dapat diberikan, dan sebaiknya kontinyu sejak bayi lahir sampai remaja.
Diperlukan tenaga spesialis bidang kesehatan anak, bedah plastik, THT, gigi ortodonti,
serta
terapis wicara, psikolog, ahli nutrisi dan audiolog.
4
Kelainan ini sebaiknya secepat mungkin diperbaiki karena akan mengganggu pada
waktu menyususui dan akan mempengaruhi pertumbuhan normal rahang serta
perkembangan
bicara. Penatalaksanaan labioschisis adalah operasi. Bibir sumbing dapat ditutup pada
semua
usia, namun waktu yang paling baik adalah bila bayi berumur 10 minggu, berat badan
mencapai 10 pon, Hb > 10g%. Dengan demikian umur yang paling baik untuk operasi
sekitar
3 bulan.
1,5
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bustami dan kawan-kawan diketahui bahwa
alasan terbanyak anak penderita labioschisis terlambat (berumur antara 5- 15 tahun)
untuk
dioperasi adalah keadaan sosial ekonomi yang tidak memadai dan pendidikan orang tua
yang
masih kurang.
1
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Labioschisis atau cleft lip atau bibir sumbing adalah suatu kondisi dimana terdapatnya
celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung. Kelainan ini dapat berupa takik kecil
pada
bahagian bibir yang berwarna samapai pada pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir
memanjang dari bibir ke hidung. Celah pada satu sisi disebut labioschisis unilateral, dan
jika
celah terdapat pada kedua sisi disebut labioschisis bilateral.
4
Gambar 1. Bayi dengan Labioschisis.7
12
ETIOLOGI
Penyebab terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan
berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan
factor-faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti
melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan
mengalami labioschisis. Kemungkinan seorang
bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu,
ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi
alcohol
dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama
kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan
labioschisis.
6
Menurut Mansjoer dan kawan-kawan, hipotesis yang diajukan antara lain:
7
- Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal
kuantitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat,
vitamin C, dan Zn)
- Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal
- Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia.
- Faktor genetik
Kelainan ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya
mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus nasalis
dan
maksilaris) pecah kembali.
7
KLASIFIKASI
Labioschisis diklasifikasikan berdasarkan lengkap/ tidaknya celah yang
terbentuk :
6,7
- Komplit
- Inkomplit
Dan berdasarkan lokasi/ jumlah kelainan :
6

- Unilateral
- Bilateral
13

Lampiran 1
Tabel1: Intervesi pada pasien labiognatopalatoschisis
8
Intervensi berdasarkan umur*
Umur Intervensi
Prenatal
Referred to cleft lip and palate team
Diagnosis dan konseling genetik
Mengatasi masalah psikososial
Memberikan petunjuk pemberian makan
Membuat perencanan pemberian makan
lahir-1 bulan
Referred to cleft lip and palate team
Diagnosis dan konseling genetik
Mengatasi masalah psikososial
Menyediakan instruksi pemberian makan dan memeriksa pertumbuhan
1-4 bulan
Periksa pemberian makan dan pertumbuhan
Operasi bibir sumbing (labioplasty)
Pemeriksaan telinga dan pendengaran
5-15 bulan
Periksa pemberian makan dan tumbuh kembang
Pemeriksaan telinga dan pendengaran
Operasi celah palatum (palatoplasty)
Menyediakan instruksi menjangga hygiene mulut
16-24 bulan
Menilai telinga dan pendengaran
Menilai pecakapan dan bahasa
Memeriksa perkembangan
2.5 tahun
Menilai pecakapan dan bahasa, Mengatasi velopharyngoplasty
Pemeriksaan telinga dan pendengaran
Pertimbangkan revisi bibir/hidung sebelum masuk sekolah
Menilai pengembangan dan penyesuaian psikososial
6-11 tahun
Menilai pecakapan dan bahasa, Mengatasi velopharyngoplasty
Intervensi orthodontic (pengaturan lengkung gigi)
Cangkok tulang alveolar
Menilai sekolah / penyesuaian psikososial

12.21tahun
Operasi rahang dan Rhinoplasty kalau diperlukan
Jembatan Ortodonti, implan yang diperlukan
Konseling genetik
Menilai sekolah / penyesuaian psikososial
20