Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini, ukuran menjadi topic yang penting bagi kalangan

engineer. Semakin meningkatnya perkembangan teknologi yang bertambah canggih,


maka probematika yang dihadapi pun semakin kompleks dan lebih menantang. Tidak
sedikit penyelesaian yang diutarakan harus membutuhkan perhatian hingga pada
ukuran yang sangat kecil sekalipun, yang mana ukuran tersebut belum pernah
terfikirkan oleh benak manusia. Contoh, manusia ingin mengambil air murni dari air
laut dengan cara memisahkan antara garamnya dari kandungan air laut tersebut.
Langkah simpelnya yang dapat dilakukan manusia adalah dengan cara menguapkan
air laut sampai garam yang tertinggal, kemudian uap air tersebut dapat diembunkan,
sehingga didapatkan air suling. Akan tetapi langkah ini sangatlah memerlukan energy
yang banyak dan tidak selayaknya diterapkan pada zaman berteknologi seperti saat
ini. Karena biaya energy yang menjadi semakin mahal. Solusi berikutnya yaitu
bagaimana manusia dapat menyaring ion-ion garam dalam air laut sehingga dapat
diperoleh air murni seperti yang diharapkan tanpa memerlukan energy yang banyak
dan biaya yang tinggi. Sehingga manusia merekayasa saringan molekuler tersebut
untuk dapat memisahkan air tersebut dari kandungan garamnya. Saringan tersebut
hingga mencapai ukuran atau skala nanometer. 1 nm = 0,000000001 m.
Pengembangan ukuran nanometer disebut dengan nanoteknologi atau
teknologi rekayasa suatu zat yang berskala nanometer yang belum lama terkenal pada
abad 20 ini. Orang yang pertama kali menemukan istilah nanoteknologi adalah Prof.
Nario Taniguchi dari Tokyo Science University 1940. Beliau mempelajari mekanisme
pembuatan nanomaterial yang berasal dari Kristal kuarts, silikan dan keramik alumina
dengan menggunakan mesin ultrasonic.Potensi untuk penerapan nano teknologi
memiliki andil yang sangat besar. Banyak bidang yang membutuhkan teknologi nano

seperti dibidang produk makanan, kemasan, mainan anak-anak, peralatan rumah dan
kebun, kesehatan, industry, obat-obatan, dan kosmetik.
Material yang berskala nano merupakan material yang sangat atraktif karena
mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dibandingkan dengan material yang
berskala mikroskopis. Adanya berbagai fenomena yang tampak akibat pengecilan
ukuran material hingga mencapai ukuran nano. Material inert dapat berubah menjadi
material katalitik jika ukuran material tersebut diperkecil hingga ukuran nano.
Material stabil seperti alumunium, menjadi mudah terbakar, bahan-bahan isolator
berubah menjadi konduktor. Sehingga dengan nanoteknologi akan memungkinkan
pengurangan berat serta peningkatan stabilitas dan fungsionalnya.

1.2
1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5
1.2.6

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Nanomaterial?
Mengapa Nanomaterial penting ?
Apa saja aplikasi dari Nanomaterial ?
Bagaimana proses pembentukan Nanomaterial ?
Apa saja karakteristik dari Nanomaterial ?
Apa saja kelebihan dan kekurangan dari Nanomaterial ?

1.3
1.3.1
1.3.2
1.3.3
1.3.4
1.3.5
1.3.6

Tujuan
Untuk mengetahui Nanomaterial.
Untuk mengetahui pentingnya Nanomaterial.
Untuk mengetahui aplikasi dari Nanomaterial.
Untuk mengetahui proses pembuatan Nanomaterial.
Untuk mengetahui karakteristik dari Nanomaterial.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari Nanomaterial.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Nanomaterial
Atom-atom yang berukuran nano merupakan penyusun dari semua benda

kecil atau besar bahkan makhluk hidup. Susunan atom sangat mempengaruhi
karakteristik dari benda tersebut. Adanya perbedaan struktur atau susunan atom dapat
mengubah hasil dari sifat molekulnya. Molekul atau materi yang disusun ulang
sehingga membentuk struktur yang berbeda pula maka akan mengahsilkan sifat atau
karakteristik yang berbeda pula. Misalkan atom-atom yang terdapat dalam grafit dan
berlian (diamond) itu mempunyai atom sejenis, namun yang membedakan diantara
keduanya adalah susunan strukturnya. Bahkan penyusun dari air, udara, dan partikelpartikel debu sebenarnya sama semua, hanya saja sedikit perbedaan susunan stryuktur
dari semuanya itu dapat mengubah karakteristik dari suatu benda.
Nanomaterial adalah bidang ilmu material dengan pendekatan berbasis
nanoteknologi. Nanoteknologi adalah pembuatan dan penggunaan materi atau devais
pada ukuran sangat kecil (1-100) satuan nanometer. 1 nanometer sama dengan 10 -9
meter atau satu per miliar. Artinya ukuran tersebut samadengan 50.000 kali lebih
kecil daripada ukuran rambut manusia. Ukuran nano ini jufa sering disebut dengan
skala nano atau nanoscale. Dengan ukurannya yang sangat kecil (berukuran nano),
maka teknologi nano ini banyak diminati oleh banyak kalangan, karena sifat
materialnya lebih menguntungkan dari pada material yang berukuran besar. Rekayasa
material yang mempelori teknologi ini merupakan rekayasa pengendalian ukuran,
bentuk, morfologi, dan penataan material pada ukuran nano, sehingga akan
mempengaruhi karakteristik nanopartikel hasil sintesis.

2.2

Pentingnya Nanomaterial
Pentngnya Nanomaterial yaitu sebagai berikut :
2.2.1 Menawarkan kemampuan untuk memanipulasi, mengontrol, dan mensintesa
material pada level partikel nano.
3

2.2.2 Kemampuan menyediakan afinitas, kapasitas, dan selektifitas tingkat tinggi


dari suatu material disebabkan sifat kimia, biologi, dan fisika yang unik.
2.2.3 Nanomaterial dapat meningkatkan reaktifitas kimia serta meningkatkan
kekuatan sifat elektronik.
2.2.4 Adanya fenomenal quantum atraktif akibat dari ukuran material hingga
berukuran nano.
2.3
Aplikasi Nanomaterial
2.3.1 Elektronika
Kini nanoteknologi telah diperkenalkan secara diam-diam. Bahwa proses
produksi teknologi tinggi saat ini didasarkan pada strategi atau konsep tradisional dari
atas ke bawah. Skala panjang kritis sirkuit terpadu sudah pada skala nano (50 nm)
mengenai panjang gerbang transistor di CPU atau pada perangkat RAM.
Salah satu ap;ikasi dalam elektronika adalah sebagai penyimpanan memory
(Memory Storage). Pembentukan transistor menjadi acuan sebagai desain memory
elektronik pada zaman dulu. Akan tetapi, penelitian dari Crossbar Switch Based
Electronics telah mempromosikan alternative dengan menggunakan reconfigurable
interconnection antara pengkabelan array vertical dan horizontal untuk mendapatkan
memory dengan kerapatan yang sangat tinggi. Pelopor dari semua ini adalah Nantero
dan Hewlet-Packart. Dimana Nantero yang telah mengembangkan karbon nanotube
berbasis crossbar memory yang disebut Nano-memory RAM. Sedangkan HewlettPackard yang telah mengusulkan penggunaan bahan Memsistor sebagai pengganti
masa depan memori Flash.
2.3.2

Lingkungan Hidup
Aplikasi nanomaterial dalam bidang lingkungan hidp yaitu nanopiltration.

Pengaruh yang kuat nanochemistry pada pengolahan air limbah, pemurnian udara,
dan perangkat penyimpanan energy. Mekanisme yang dapat digunakan adalah metode
mekanik yang dapat digunakan untuk teknik penyaringan yang lebih efektif. Dasar
teknik penyaringan yang digunakan adalah pada penggunaan membrane dengan
ukuran lubang yang sesuai. Dimana jika pada saat cairan ditekan ion-ionnya dapat

melalui membram yang ada. Nanoporous adalah membrane yang cocok untuk filtrasi
mekanis karena dengan pori-porinya yang sangat kecil lebih kecil dari 10 nm.
Nanofiltraton digunakan untuk menghilangkan ion atau memisahkan fluida
yang berbeda. Untuk skala yang lebih besar, teknik filtrasi membrane yang disebut
dengan ultrafiltrasi, yang mana bekerja turun antara 10 dan 100 nm. Salah satu bidang
yang penting dari ultrafiltrasi adalah aplikasi untuk keperluan medis, misalnya dapat
ditemukannya alat ginjal dialysis.
Nanopartikel magnetic mempromosikan metode yang efektif serta dapat
diandalkan guna untuk menghilangkan kontaminan logam berat dari air limbah
dengan menggunakan teknik pemisahan magnetic. Dengan menggunakan nano
partikel dapat meningkatkan efisiensi untuk menyerap kontaminan dan relative murah
dibandingkan dengan curah hujan tradisional serta menggunakan metode filtrasi.
Baru-baru ini telah terbukti efektif akan adanya metode pmisahan membrane
nanostruktur yang murah dan beredar banyak dipasar.
2.3.3

Kesehatan
Nanomaterial telah dimanfaatkan oleh komunitas penelitian biologis dan

medis untuk aplikasi kontras agent. Kontast agent ini digunakan untuk pencitraan sel
dan terapi untuk mengobati kanker. Sedangkan nanotechnology biomedis,
bionanotechnology, dan nanomedicine digunakan untuk menggambar bidang hibrida.
Fungsi dari nanomaterial sendiri dapat ditingkatkan dengan menambahkan atau
mencampurinya dengan struktur biologis, sehingga nanomaterial dapat bermanfaat
bagi in vivo dan in vitro penelitian biomedis.
Dewasa ini kemujuan akan teknologi terhadap nanomaterial telah membuat
pengembangan perangkat diagnostic, kontras agen, alat-alat analisis, aplikasi terapi
fisik, dan drug delivery vehicles. Magnetic nanopartikel yang diikat pada antibody
yang telah sesuai dimanfaatkan untuk label molekul spesifik dari struktur atau
mikroorganisme. Gold nanopartikel ditandai dengan segmen DNA pendek yang dapat
digunakan untuk mendeteksi urutan genetic dalam sampel. Pengkodean multicolor
optic untuk pengujian biologis telah dicapai dengan menanamkan titik kuantum
dengan ukuran yang berbeda-beda ke dalam polimer microbeads. Teknologi nanopore
5

digunakan untuk menganalisa asam nukleat untuk enkonversi rangkaian nukleotida


langsung ke elektronik signature.
2.4

Proses Pembuatan Nanomaterial


Pembuatan nanomaterial dapat dilakukan dengan menggunakan 2 pendekatan

yaitu :
Pendekatan Top-Down
Pendekatan Button-Up
2.4.1

Pendekatan Top-Down
Pada pendekatan top-down ini yang pertama bulk material dihancurkan

kemudian dihaluskan sampai berukuran nanometer. Teknik yang digunakan dalam


pendekatan ini yaitu teknik MA-PM (Mechanical Alloying Powder Metallurgy) dan
atau MM-PM (Mechanical Milling Powder Metallurgy).
Dalam mekanisme MA-PM, material dihancurkan sampai menjadi bubuk
kemudian dilanjutkan dengan penghalusan butiaran partikelnya hingga mencapai
ukuran puluhan nanometer. Lalu, bubuk yang telah halus tersebut disenter hingga
didapatkan material final. Misalnya, nano baja didapat dari penghalusan bubuk besi
dan karbon sampai berukuran 30 nm, dan disenter pada suhu 723 o C pada tekanan 41
MPa dalam suasana gas nitrogen.
Dalam mekanisme teknik MM-PM dapat dilakukan dengan :
2.4.1.1 Ball Milling
Dengan mengunakan energy tumbukan antara bola-bola penghancur dan
dinding wadahnya. Untuk mendapatkan partikel nano dalam jumlah banyak dan
dalam waktu yang relative pendek., perlu dilakukan inovasi pada esin ball mill,
dengan merubah putaran mill hingga menjadi berlintasan planet di dalam wadahnya
yang memiliki luas pada kedua sisi guna untuk mengatur sudut putaran yang optimal.
Kemudian distabilisasi dengan menggunakan larutan kimia polyvinyl Alcohol atau
Polyethilene Glycol sehingga membentuk nanokoloid yang stabil.
2.4.1.2 Ultrasonic Milling atau Sonikasi
Proses teknik ini yaitu dengan cara menggunakan gelombang ultrasonik
dengan rentang frekuensi 20 kHz 10 MHz. Gelombang ultrasonik ditembakkan ke
6

dalam medium cair untuk menghasilkan kavitasi bubble yang dapat membuat partikel
memiliki diameter dalam skala nano. Gelombang ultrasonik bila berada di dalam
medium cair akan dapat menimbulkan acoustic cavitation. Selama proses cavitation
akan terjadi bubble collapse (ketidakstabilan gelembung), yaitu pecahnya gelombang
akibat suara. Akibatnya akan terjadi peristiwa hotspot yang melibatkan energi yang
sangat tinggi. Dimana hotspot adalah pemanasan lokal yang sangatintens sekitar 5000
K pada tekanan sekitar 1000 atm, laju pemanasan dan pendinginannya sekitar 1010
K/s.
2.4.2

Bottom-Up
Dalam pendekatan bottom-up, material dibuat dengan menyusun dan

mengontrol atom demi atom atau molekul demi molekul sehingga menjadi suatu
bahan yang memenuhi suatu fungsi tertentu yang diinginkan. Sintesa nanomaterial
dilakukan dengan mereaksikan berbagai larutan kimia dengan langkah-langkah
tertentu yang spesifik sehingga terjadi suatu proses nukleasi yang menghasilkan
nukleus-nukleus sebagai kandidat nonpartikel setelah melalui proses pertumbuhan.
Laju pertumbuhan nukleus dikendalikan sehingga menghasilkan nanopartikel dengan
distribusi uku-ran yang relatif homogeny.
Paduan logam organik didekomposisi (direduksi) secara terkontrol sehingga
ikatan logam dan ligannya terpisah. Ion-ion logam hasil posisi bernukleasi
membentuk

nukleus-nukleus

yang

stabil,

yang

dibangkitkan

baik

dengan

menggunakan katalis maupun melalui proses tumbukan. Selanjutnya nukleus-nukleus


stabil tersebut tumbuh membentuk nanopartikel. Untuk menghindari proses
aglomerasi antara nanopartikel-nanopartikel yang ada, langkah stabilisasi dilakukan
dengan menggunakan larutan separator.
Pendekatan bottom up ini dapat dilakukan dengan :
2.4.2.1 Dekomposisi Termal
1.

Evaporasi

Dekomposisi lapisan tipis dengan cara penguapan dan pengembunan yang


dilakukan di ruang vakum.
2.

Sputtering
Proses sputering adalah proses dengan cara penembakan bahan pelapis atau

target dengan ion-ion berenergi tinggi sehingga terjadi pertukaran momentum. Proses
sputtering mulai terjadi ketika dihasilkan lucutan listrik dan gas sputer secara listrik
menjadi konduktif karena mengalami ionisasi.
3.

CVD (Chemical Vapour Deposition)


Merupakan proses yang didasarkan pada hidrolisis dan polikondensasi dari

prekusor yang dibentuk melalui metode dip coating atau spin coating.

4.

MOCVD
Merupakan teknik deposisi uap kimia dengan metode pertumbuhan epitaksi

pada material. Misalnya material semikonduktor yang berasal dari material


metalorganik dan hidrida logam.

2.5

Karakteristik Nanomaterial
Fenomena unik yang dapat diamati pada sifat-sifat magnetik, mekanik, listrik,

termal, optik, kimia dan biologi yaitu :


1. Sifat elektrik
Nanomaterial dapat mempunyai energi lebih besar dari pada material ukuran
biasa karena memiliki surface area yang besar. Hal ini berkaitan dengan resistivitas
elektrik yang mengalami kenaikan dengan berkurangnya ukuran partikel. Contohnya :
material yang bersifat isolator dapat bersifat konduktor ketika berskala nano,

sedangkan contoh aplikasinya: Baterai logam nikel hibrida terbuat dari nanokristalin
nikel dan logam hibrida yang membutuhkan sedikit recharging dan memiliki masa
hidup yang lama. Efisiensi efek termoelektrik akan meningkat pada bahan beskala
nano. Partikel logam/semikonduktor berukuran nano memiliki warna emisi berbeda
dibandingkan partikel tersebut dengan ukuran skala mikro.
2. Sifat magnetik
Tingkat kemagnetan akan meningkat dengan penurunan ukuran butiran
partikel dan kenaikan spesifik surface area persatuan volume partikel sehingga
nanomaterial memiliki sifat yang bagus dalam peningkatan sifat magnet (ketika
ukuran butir bahan magnetik diperkecil hingga skala nano, bahan feromagnetik
berubah menjadi bahan superparamagnetik). Contohnya: Magnet nanokristalin
Tytrium-samarium-cobalt memiliki sifat magnet yang luar biasa dengan luas
permukaan yang besar.
3. Sifat mekanik
Lebih besar bila dibandingkan dengan material dengan ukuran biasa (salah
satu sifat mekanik bahan adalah kekuatan luluh yaitu batas maksimum kekuatan suatu
bahan sebelum mengalami deformasi plastis (berubah bentuk). Jika ukuran butir suatu
logam atau keramik lebih kecil dari ukuran butir kritis (<100 nm) , sifat mekanik
bahan berubah dari keras menjadi lunak.Contoh aplikasinya :Apabila material nano
digunakan pada cat, akan berefek antigores, antiluntur, dan memantulkan panas. Cat
berpartikel nano akan membuat rumah atau kendaraan tetap sejuk meski terpapar
sinar matahari.
4. Sifat optic
Sistem nanomaterial memiliki sifat optik yang menarik, yang mana berbeda
dengan sifat kristal konvensional. Kunci penyumbang faktor masuknya quantum

tertutup dari pembawa elektrikal pada nanopartikel, energi yang efisien dan
memungkinkan terjadinya pertukaran karena jaraknya dalam sekala nano serta
memiliki sistem dengan interface yang tinggi. Dengan perkembangan teknologi dan
material mendukung perkembangan sifat nanofotonik. Dengan sifat optik linier dan
nonlinier material nano dapat dibuat dengan mengontrol dimensi kristal dan surface
kimia, teknologi pembuatan menjadi faktor kunci untuk mengaplikasikan. Contoh:
Electrochromik untuk liquid crystal display (LCD).
5. Sifat kimia
Merupakan faktor yang penting untuk aplikasi kimia nanomaterial yaitu
penumbahan surface area yang mana akan mngningkatkan aktivitas kimia dari
material tersebut. Contoh aplikasi : Teknologi fuel cell dimana dalam fuel cell
digunuakan logam Pt dan Pt-Ru
6. Sifat katalisis
Nanomaterial cenderung memiliki aktivitas katalisis yang lebih baik. Hal ini
disebabkan luas permukaan yang bertambah dan atom diujung ujung permukaan
semakin banyak mengakibatkan bertambahnya reaktivitas dari bahan. Dibawah ini
dicontohkan data aktivitas dari logam emas untuk mengkatalis oksidasi CO dengan
semakin mengecilnya ukuran partikel.

2.6

Kelebihan dan Kekurangan Nanomaterial

2.7.1 Kelebihan yang dimiliki oleh adana nanomaterial adalah sebagai


berikut:
Dengan ukuran partikel yang sangat kecil namun efisiensi yang jauh lebih
tinggi dibanding pada saat partikel berukuran normal.

10

Fenomena unik sifat-sifat mekanik, fisika, kimia, biologi, listrik, termal dan
elektrik pada skala nano membuka peluang aplikasi bahan dan teknologi nano
diberbagai bidang.
Dengan adanya fenomena unik diatas maka banyak inovasi baru misalnya :
mengubah polusi panas menjadi energi listrik, mobil berbahan baku nanas.
Penerapan material nano bukan hanya pada bidang teknik, melainkan juga
pada produk makanan, obat-obatan, dan kosmetik.
Produk yang dihasilkan jauh lebih berkualitas, yaitu tidak mudah aus, hemat
enrgi karena tahan panas, dan tidak memerlukan pendinginan, dengan
demikian , akan menghemat biaya oprasional dan pemeliharaan serta ramah
lingkungan.

2.7.2 Kekurangan yang dimiliki oleh adanya Nanomaterial adalah sebagai berikut :
o Nanopartikel

berbahaya

bagi

kesehatan

karena

Nanopartikel

dapat

mengganggu jalannya transportasi substansi vital masuk dan keluar sel,


sehingga mengakibatkan kerusakan fisiologis sel dan mengganggu fungsi sel
normal.
o Bioavailability, didefinisikan sebagai kemampuan bahan untuk menembus
membran/lapisan jaringan tubuh melalui berbagai cara paparan (kulit,
pernafasan, dan pencernaan).
o Bioaccumulation, didefinisikan sebagai kemampuan partikel yang terabsorpsi
untuk terakumulasi didalam jaringan tubuh organisme dengan berbagai jalur
paparan.
o Toxic Potential, efek dari toksisitas nanomaterial dimungkinkan melalui
berbagai sebab yaitu kemampuan oksidasi, inflamasi dari iritasi fisis,
pelepasan dari radikal yang terkandung dan dari pengotor (impurities) dari

11

pembuatan nanomaterial misalkan sisa katalis, pengotor bahan baku yang


kurang murni.

12

BAB 3
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Nanomaterial adalah material yang berukuran sangat kecil yakni berkisar
antara (1-100) nm atau bersekala nano.
Pentingnya Nanomaterial :
o Kemampuan untuk memanipulasi, mengontrol, dan mensintesa material
pada level partikel nano.
o Kemampuan menyediakan afinitas, kapasitas, dan selektifitas tingkat tinggi
dari suatu material disebabkan sifat kimia, biologi, dan fisika yang unik.
o Dapat meningkatkan reaktifitas kimia serta meningkatkan kekuatan sifat
elektronik.
o Adanya fenomenal quantum atraktif akibat dari ukuran material hingga
berukuran nano.
Aplikasi :
o Kesehatan

Contrast agent untuk pencitraan sel dan terapi untuk mengobati kangker

Nanoteknologi-on-a-chip

Drug delivery vehicles

Kosmetik yang dapat melindungi diri dari bahaya sinar ultraviolet .

o Lingkungan Hidup

Nanofiltration terutama digunakan untuk menghilangkan ion atau


pemisahan fluida yang berbeda.

o Elektronika

Sebagai Memori Storage.

Pembuatan nanomaterial dapat dilakukan dengan menggunakan 2 pendekatan


yaitu :

13

o Pendekatan Top-Down

Ball Milling

Ultrasonic Milling atau Sonikasi


o Pendekatan Button-Up
Dekomposisi Termal
Karakteristik Nanomaterial
o Sifat elektrik
o Sifat magnetik
o Sifat mekanik
o Sifat optic
o Sifat kimia
o Sifat katalisis

Kelebihan yang dimiliki oleh adana nanomaterial adalah sebagai berikut:


o Dengan ukuran partikel yang sangat kecil namun efisiensi yang jauh
lebih tinggi dibanding pada saat partikel berukuran normal.
o Membuka peluang aplikasi bahan dan teknologi nano diberbagai
bidang.
o Dengan adanya fenomena unik diatas maka banyak inovasi baru
o Penerapan material nano bukan hanya pada bidang teknik, melainkan
juga pada produk makanan, obat-obatan, dan kosmetik.
o Produk yang dihasilkan jauh lebih berkualitas, yaitu tidak mudah aus,
hemat enrgi karena tahan panas, dan tidak memerlukan pendinginan,
dengan demikian, akan menghemat biaya oprasional dan pemeliharaan
serta ramah lingkungan.

Kekurangan yang dimiliki oleh adanya Nanomaterial adalah sebagai berikut :


o Nanopartikel berbahaya bagi kesehatan karena Nanopartikel dapat
mengganggu jalannya transportasi substansi vital masuk dan keluar
14

sel, sehingga mengakibatkan kerusakan fisiologis sel dan mengganggu


fungsi sel normal.
o Bioavailability,
o Bioaccumulation,
o Toxic Potential,

15