Anda di halaman 1dari 31

Desy Purnamasari

Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan

Cari:

Pos-pos Terakhir

BISNIS

SURAT

Teknik Dasar Photography untuk Pemula

PROPOSAL

RESENSI BUKU

Arsip

Oktober 2015

Juni 2015

Mei 2015

Maret 2015

Januari 2015

November 2014

Juni 2014

Mei 2014

April 2014

Maret 2014

Januari 2014

November 2013

Oktober 2013

Maret 2013

November 2012

Oktober 2012

September 2012

Kategori

Uncategorized

Meta

Mendaftar

Masuk log

RSS Entri

RSS Komentar

WordPress.com

Follow me on Twitter : @desy_purnamaaa


Twit Saya
Blog di WordPress.com.
The Writr Theme.

CARA MEMAJUKAN KOPERASI


BESERTA SOLUSI DALAM
PERMASALAHAN KOPERASI
Standar
TUGAS EKONOMI KOPERASI

Nama

: Desy Purnamasari

Npm

: 11212910

Kelas

: 2EA28

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA PTA 2013/2014

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Koperasi merupakan salah satu organisasi di Indonesia dimana dalam UUD 1945
dinyatakan bahwa perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas
kekeluargaan, sehingga koperasi dituntut untuk mampu tampil di depan dalam sistem
kemajuan perekonomian Indonesia. Koperasi sebagai berkumpulnya orang-orang yang
bergerak dalam bidang perekonomian yang terbuka bagi para anggotanya, karena tujuan
koperasi adalah menyelenggarakan kepentingan anggotanya, dengan demikian koperasi
bekerja dan akan berkembang dengan adanya motivasi para anggotanya.
Jadi partisipasi dan motivasi anggota dalam kegiatan koperasi serta hasil yang dicapai
sebanding dengan karya dan jasanya. Salah satu agar motivasi dan partisipasi anggota tetap
meningkat adalah dengan penetapan SHU yang akan diberikan sebanding dengan partisipasi
anggota, dimana diharapkan ada hubungan timbal balik yang positif antara koperasi dengan
anggota. Dalam buku akuntansi untuk koperasi, SHU harus diperinci menjadi SHU yang
diperoleh dari transaksi dari para anggota dan transaksi yang diperoleh anggota dapat
dikembalikan bukan dari anggota.
Dewasa ini, perkembangan koperasi di Indonesia terus berkembang. Perkembangan
tersebut ditandai dengan banyaknya pertumbuhan koperasi di Indonesia. Tetapi di dalam
perkembangan tersebut banyak terjadi hambatan-hambatan. Sebelum mengetahuinya terlebih
dahulu kita perlu mengetahui sejarah awal pembentukan koperasi. Selain itu, kita juga dapat
mengetahui faktor-faktor apa saja yang bisa menghambat pertumbuhan koperasi di Indonesia.
Hal ini melatarbelakangi di dalam pembahasan pembuatan makalah koperasi Indonesia.
Sampai dengan bulan November 2001, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat
sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000 orang.
Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami
peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan
yang cukup menggembirakan. Jumlah koperasi aktif per-November 2001, sebanyak 96.180
unit (88,14 persen). Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil. Satu
catatan yang perlu di ingat reformasi yang ditandai dengan pencabutan Inpres 4/1984 tentang
KUD telah melahirkan gairah masyarakat untuk mengorganisasi kegiatan ekonomi yang
melalui koperasi.

Posisi koperasi Indonesia pada dasarnya justru didominasi oleh koperasi kredit yang
menguasai antara 55-60 persen dari keseluruhan aset koperasi. Sementara itu dilihat dari
populasi koperasi yang terkait dengan program pemerintah hanya sekitar 25% dari populasi
koperasi atau sekitar 35% dari populasi koperasi aktif. Pada akhir-akhir ini posisi koperasi
dalam pasar perkreditan mikro menempati tempat kedua setelah BRI-unit desa sebesar 46%
dari KSP/USP dengan pangsa sekitar 31%. Dengan demikian walaupun program pemerintah
cukup gencar dan menimbulkan distorsi pada pertumbuhan kemandirian koperasi, tetapi
hanya menyentuh sebagian dari populasi koperasi yang ada. Sehingga pada dasarnya masih
besar elemen untuk tumbuhnya kemandirian koperasi.

B.

Tujuan Penulisan Makalah

Dengan dibuatnya karya tulis ini, ada beberapa tujuan pokok yang ingin dicapai
adalah sebagai berikut :
1.

Bisa mengetahui apa itu koperasi.

2.

Bisa mengetahui cara memajukan koperasi.

3.

Bisa mengetahui soolusi dalam permasalah koperasi.

C.

Rumusan Masalah

Apakah yang dimaksud dengan koperasi?

Bagaimana cara-cara memajukan koperasi ?

Apa saja solusi bagi masalah koperasi ?

D.

Manfaat Penulisan Makalah

Kita dapat mengetahui mengenai koperasi.

Kita dapat mengetahui cara memajukan koperasi.

Kita dapat mengetahui solusi dari permasalahan koperasi.

DASAR-DASAR HUKUM KOPERASI DI INDONESIA


Dalam pengertian umum, ide adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai. Cita-cita berkoperasi
tumbuh dan berkembang dari berbagai ide yang melandasinya. Ide berkoperasi, telah
berkembang jauh sebelum koperasi itu sendiri berwujud sebagai koperasi. Ide yang berasal
dari berbagai pandangan itu kemudian melebur ke dalam prinsip-prinsip, asas-asas dasar
koperasi.
Indonesia adalah negara hukum yang berpedoman kepada Dasar Negara Pancasila, UUD
1945, dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai sumber hukum tertinggi yang
telah ditetapkan oleh MPR-RI sebagai suatu sumber azaz demokrasi. Di Indonesia Koperasi
telah mendapatkan tempat yang jelas dan pasti, maka dari itu koperasi berlandaskan hukum
negara yang sangat kuat.
Tinjauan Umum Tentang Koperasi Dasar hukum koperasi adalah Pasal 33 ayat (1) UndangUndang dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD N RI 1945) dan UndangUndang
Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.

Dasar-dasar Hukum Koperasi Indonesia :


1. Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
2. Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.
3. Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 1994 tentang Pembubaran Koperasi oleh
Pemerintah
4. Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Simpan Pinjam
oleh Koperasi
5. Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1998 tentang Modal Penyertaan pada Koperasi.
6. Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan PPK No. 36/Kep/MII/1998 tentang
Pedoman Pelaksanaan Penggabungan dan Peleburan Koperasi
7. Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan PKM No. 19/KEP/Meneg/III/2000
tentang Pedoman kelembagaan dan Usaha Koperasi
8. Peraturan Menteri No. 01 tahun 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan,
Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.

Landasan-landasan koperasi dapat di bagi menjadi 3 (tiga) hal, antara lain :


1. Landasan Idiil Koperasi Indonesia adalah Pancasila.
2. Landasan Strukturil dan landasan gerak Koperasi Indonesia adalah Pasal 33 ayat (1)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD N RI 1945).
3. Landasan Mental Koperasi adalah setia kawan dan kesadaran berpribadi. Dasar
hukum Koperasi Indonesia adalah UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
UU ini disahkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 1992, ditandatangani oleh
Presiden RI Soeharto, dan diumumkan pada Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor
116.

Prinsip koperasi dalam UU No. 25 tahun 1992 mengenai Perkoperasian, sebagai berikut :

Pengelolaan koperasi dijalankan secara demokrasi

Pembagian sisa hasil usaha dilaksanakan secara adil sesuai dengan jasa yang di jual
anggotanya

Koperasi harus bersifat mandiri

Balas jasa yang diberikan bersifat terbatas terhadap modal.

Dalam undang-undang ini yang dimaksudkan dengan :

Koperasi adalah suatu organisasi bisnis yang di operasikan secara bersama


berdasarkan prinsip-prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berazazkan kepada
kekeluargaan. Bertujuan untuk mencapai kepentingan ekonomi bersama dan
meningkatkan kesejahteraan bersama anggotanya maupun orang banyak yang
membutuhkan.
Perkoperasian adalah suatu hal yang sangat berkaitan dengan kehidupan koperasi.

Koperasi Primer ialah suatu koperasi yang didirikan oleh sekurangnya 20 orang
dimana setiap anggotanya berjumlah perseorangan.

Koperasi Sekunder adalah gabungan suatu badan koperasi yang memiliki jangkauan
kerjanya sangat merata dan luas.

Gerakan Koperasi adalah keseluruhan organisasi koperasi dan kegiatan


perkoperasian yang bersifat terpadu dan terarah untuk menuju tercapainya suatu citacita bersama.

DAFTAR ISI :

PENDAHULUAN
1
1. Latar
belakang.
1
2. Tujuan penulisan makalah..
2
3. Rumusan masalah
2
4. Manfaat penulisan makalah
2
DASAR-DASAR HUKUM KOPERASI DI
INDONESIA.

DAFTAR ISI 5
CARA MEMAJUKAN KOPERASI BESERTA SOLUSI DALAM PERMASALAHAN
KOPERASI..
6
1. Sejarah Koperasi Indonesia
6
2. Cara-cara Memajukan Koperasi.
11
3. Peran Koperasi dalam meningkatkan Kesejahteraan Rakyat.
16
4. Penyebab Koperasi di Indonesia Kurang Berkembang Pesat.
19
5. Solusi Dalam Menghadapi Kesulitan Koperasi..
24

6. Contoh Koperasi.
25
7. Daftar
Referensi..
28

CARA MEMAJUKAN KOPERASI BESERTA SOLUSI DALAM PERMASALAHAN


KOPERASI
A. SEJARAH KOPERASI INDONESIA
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya
merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang
sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan
ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh system kapitalisme semakin memuncak. Beberapa
orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh
penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk
menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya.
Dalam keadaan hidup demikian, pihak kolonial terus-menerusmengintimidasi penduduk
pribumi sehingga kondisi sebagian besar rakyatsangat memprihatinkan. Di samping itu para
rentenir, pengijon dan lintah daratturut pula memperkeruh suasana. Mereka berlomba
mencari keuntungan yang besar dan para petani yang sedang menghadapi kesulitan hidup,
sehingga tidakjarang terpaksa melepaskan tanah miliknya sehubungan dengan
ketidakmampuan mereka mengembalikan hutang-hutangnya yang membengkak akibat sistem
bunga berbunga yang diterapkan pengijon.
Di Indonesia, ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di Purwokerto,
Jawa Tengah, R. Aria Wiraatmadja yang pada tahun 1896 mendirikan sebuah Bank untuk
Pegawai Negeri. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan
Westerrode. Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan
peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat
peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling
Inlandschhe Cooperatiev.
Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan
kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai
Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi. Hingga saat
ini kepedulian pemerintah terhadap keberadaan koperasi nampak jelas dengan membentuk
lembaga yang secara khusus menangani pembinaan dan pengembangan koperasi.
Pada zaman Belanda pembentuk koperasi belum dapat terlaksana karena:
1. Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan
penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
2. Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.

3. Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena


pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk
tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu.
Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan
bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat
peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling
Inlandschhe Cooperatieve.
Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan
kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai
Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.Namun, pada
tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk
yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan
koperasi kumiyai.
Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat
Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.Setelah Indonesia
merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres
Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi
Indonesia. Sebagai Bapak Koperasi Indonesia, Bung Hatta pernah berkata : bukan Koperasi
namanya manakala di dalamnya tidak ada pendidikan tentang Koperasi.
Kongres Koperasi I menghasilkan beberapa keputusan penting, antara lain :

mendirikan sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia ( SOKRI )

menetapkan gotong royong sebagai asas koperasi

menetapkan pada tanggal 12 Juli sebagai hari Koperasi

Akibat tekanan dari berbagai pihak misalnya Agresi Belanda, keputusan Kongres
Koperasi I belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun, pada tanggal 12 Juli
1953, diadakanlah Kongres Koperasi II di Bandung, yang antara lain mengambil putusan
sebagai berikut :
1. Membentuk Dewan Koperasi Indonesia ( Dekopin ) sebagai pengganti SOKRI
2. Menetapkan pendidikan koperasi sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah
3. Mengangkat Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia
4. Segera akan dibuat undang-undang koperasi yang baru
Hambatan-hambatan bagi pertumbuhan koperasi antara lain disebabkan oleh hal-hal
berikut :

kesadaran masyarakat terhadap koperasi yang masih sangat rendah

pengalaman masa lampau mengakibtakan masyarakat tetap merasa curiga terhadap


koperasi

pengetahuan masyarakat mengenai koperasi masih sangat rendah


Untuk melaksanakan program perkoperasian pemerintah mengadakan kebijakan antara

lain :

menggiatkan pembangunan organisasi perekonomian rakyat terutama koperasi

memperluas pendidikan dan penerangan koperasi

memberikan kredit kepada kaum produsen, baik di lapangan industri maupun


pertanian yang bermodal kecil.

Organisasi perekonomian rakyat terutama koperasi sangat perlu diperbaiki. Para


pengusaha dan petani ekononmi lemah sering kali menjadi hisapan kaum tengkulak dan
lintah darat. Cara membantu mereka adalah mendirikan koperasi di kalangan mereka.
Dengan demikian pemerintah dapat menyalurkan bantuan berupa kredit melalui koperasi
tersebut. Untuk menanamkan pengertian dan fungsi koperasi di kalangan masyarakat
diadakan penerangan dan pendidikan kader-kader koperasi.

Kondisi Koperasi di Indonesia Setelah Merdeka


Keinginan dan semangat untuk berkoperasi yang hancur akibat politik pada masa
kolonial belanda dan dilanjutkan oleh sistem kumini pada zaman penjajahan Jepang, lambat
laun setelah Indonesia merdeka kembali menghangat. Apalagi dengan adanya UndangUndang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, pada pasal 33 yang menetapkan koperasi
sebagai soko guru perekonomian Indonesia, maka kedudukan hukum koperasi di Indonesia
benar-benar menjadi lebih mantap. Dan sejak saat itu Moh.Hatta sebagai wakil presiden
Republik Indonesia lebih intensif mempertebal kesadaran untuk berkoperasi bagi bangsa
Indonesia, serta memberikan banyak bimbingan dan motivasi kepada gerakan koperasi agar
meningkatkan cara usaha dan cara kerja, atas jasa-jasa beliau lah maka Moh.Hatta diangkat
sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Beberapa kejadian penting yang mempengaruhi perkembangan koperasi di Indonesia :


v Pada tanggal 12 Juli 1947, dibentuk SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Rakyat
Indonesia) dalam Kongres Koperasi Indonesia I di Tasikmalaya, sekaligus ditetapkannya
sebagai Hari Koperasi Indonesia.
v Pada tahun 1960 dengan Inpres no.2, koperasi ditugaskan sebagai badan penggerak yang
menyalurkan bahan pokok bagi rakyat. Dengan inpres no.3, pendidikan koperasi di Indonesia
ditingkatkan baik secara resmi di sekolah-sekolah, maupun dengan cara informal melalui
siaran media masa,dll yang dapat memberikan informasi serta menumbuhkan semangat
berkoperasi bagi rakyat.

v Lalu pada tahun 1961, dibentuk Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia
(KOKSI).
v Pada tanggal 2-10 Agustus 1965, diadakan (Musyawarah Nasional Koperasi)
MUNASKOP II yang mengesahkan Undang-Undang koperasi no.14 tahun 1965 di Jakarta.

Koperasi di Indonesia pada Zaman Orde Baru Hingga Sekarang


Tampilan orde baru dalam memimpin negeri ini membuka peluang dan cakrawala
baru bagi pertumbuhan dan perkembangan perkoperasian di Indonesia, dibawah
kepemimpinan Jenderal Soeharto. Ketetapan MPRS no.XXIII membebaskan gerakan
koperasi dalam berkiprah.
Berikut beberapa kejadian perkembangan koperasi di Indonesia pada zaman orde baru
hingga sekarang :

Pada tanggal 18 Desember 1967, Presiden Soeharto mensahkan Undang-Undang


koperasi no.12 tahun 1967 sebagai pengganti Undang-Undang no.14 tahun 1965.

Pada tahun 1969, disahkan Badan Hukum terhadap badan kesatuan Gerakan Koperasi
Indonesia (GERKOPIN).

Lalu pada tanggal 9 Februari 1970, dibubarkannya GERKOPIN dan sebagai


penggantinya dibentuk Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN).

Dan pada tanggal 21 Oktober 1992, disahkan Undang-Undang no.25 tahun 1992
tentang perkoperasian, undang-undang ini merupakan landasan yang kokoh bagi
koperasi Indonesia di masa yang akan datang.

Masuk tahun 2000an hingga sekarang perkembangan koperasi di Indonesia cenderung


jalan di tempat.

Potret Koperasi di Indonesia


Sampai dengan bulan November 2001, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat
sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000 orang.
Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami
peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan
yang cukup menggembirakan. Jumlah koperasi aktif per-November 2001, sebanyak 96.180
unit (88,14 persen). Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil. Satu
catatan yang perlu di ingat reformasi yang ditandai dengan pencabutan Inpres 4/1984 tentang
KUD telah melahirkan gairah masyarakat untuk mengorganisasi kegiatan ekonomi yang
melalui koperasi.

Secara historis pengembangan koperasi di Indonesia yang telah digerakan melalui


dukungan kuat program pemerintah yang telah dijalankan dalam waktu lama, dan tidak
mudah ke luar dari kungkungan pengalaman tersebut. Jika semula ketergantungan
terhadap captive market program menjadi sumber pertumbuhan, maka pergeseran ke arah
peran swasta menjadi tantangan baru bagi lahirnya pesaing-pesaing usaha terutama KUD.
Meskipun KUD harus berjuang untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi, namun
sumbangan terbesar KUD adalah keberhasilan peningkatan produksi pertanian terutama
pangan (Anne Both, 1990), disamping sumbangan dalam melahirkan kader wirausaha karena
telah menikmati latihan dengan mengurus dan mengelola KUD (Revolusi penggilingan kecil
dan wirausahawan pribumi di desa).
Jika melihat posisi koperasi pada hari ini sebenarnya masih cukup besar harapan kita
kepada koperasi. Memasuki tahun 2000 posisi koperasi Indonesia pada dasarnya justru
didominasi oleh koperasi kredit yang menguasai antara 55-60 persen dari keseluruhan aset
koperasi. Sementara itu dilihat dari populasi koperasi yang terkait dengan program
pemerintah hanya sekitar 25% dari populasi koperasi atau sekitar 35% dari populasi koperasi
aktif. Pada akhir-akhir ini posisi koperasi dalam pasar perkreditan mikro menempati tempat
kedua setelah BRI-unit desa sebesar 46% dari KSP/USP dengan pangsa sekitar 31%. Dengan
demikian walaupun program pemerintah cukup gencar dan menimbulkan distorsi pada
pertumbuhan kemandirian koperasi, tetapi hanya menyentuh sebagian dari populasi koperasi
yang ada. Sehingga pada dasarnya masih besar elemen untuk tumbuhnya kemandirian
koperasi.
Mengenai jumlah koperasi yang meningkat dua kali lipat dalam waktu 3 tahun 1998
2001, pada dasarnya tumbuh sebagai tanggapan terhadap dibukanya secara luas pendirian
koperasi dengan pencabutan Inpres 4/1984 dan lahirnya Inpres 18/1998. Sehingga orang
bebas mendirikan koperasi pada basis pengembangan dan pada saat ini sudah lebih dari 35
basis pengorganisasian koperasi. Kesulitannya pengorganisasian koperasi tidak lagi taat pada
penjenisan koperasi sesuai prinsip dasar pendirian koperasi atau insentif terhadap koperasi.
Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada pengembangan aliansi bisnis maupun
pengembangan usaha koperasi kearah penyatuan vertical maupun horizontal. Oleh karena itu
jenjang pengorganisasian yang lebih tinggi harus mendorong kembalinya pola spesialisasi
koperasi. Di dunia masih tetap mendasarkan tiga varian jenis koperasi yaitu konsumen,
produsen dan kredit serta akhir-akhir ini berkembang jasa lainnya.
Struktur organisasi koperasi Indonesia mirip organisasi pemerintah/lembaga
kemasyarakatan yang terstruktur dari primer sampai tingkat nasional. Hal ini telah
menunjukkan kurang efektif nya peran organisasi sekunder dalam membantu koperasi primer.
Tidak jarang menjadi instrumen eksploitasi sumberdaya dari daerah pengumpulan. Fenomena
ini dimasa datang harus diubah karena adanya perubahan orientasi bisnis yang berkembang
dengan globalisasi. Untuk mengubah arah ini hanya mampu dilakukan bila penataan mulai
diletakkan pada daerah otonom.

B. Cara Cara Memajukan Koperasi


Berikut adalah beberapa cara yang dapat ditempuh dalam upaya memajukan koperasi
di Indonesia:

1.

Menerapkan Sistem GCG

GCG merupakan singkatan dari Good Corporate Governance. GCG adalah prinsip
korporasi yang sehat yang perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan
semata-mata demi menjaga kepentingan perusahaan dalam rangka mencapai maksud dan
tujuan perusahaan. GCG ini merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh semua pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan untuk menjalankan usahanya secara baik sesuai dengan
hak dan kewajibannya masing-masing.
Implementasi GCG dalam beberapa hal dapat diimplementasikan pada koperasi.
Untuk itu, regulator, dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM perlu memperkenalkan
secara maksimal suatu konsep GCG atau tatakelola koperasi yang baik.
Implementasi GCG perlu diarahkan untuk membangun kultur dan kesadaran pihak-pihak
dalam koperasi untuk senantiasa menyadari misi dan tanggung jawab sosialnya yaitu
mensejahterakan anggotanya.
Dalam mengimplementasikan GCG, koperasi Indonesia perlu memastikan beberapa
langkah strategis yang memadai dalam implementasi GCG. Pertama, koperasi perlu
memastikan bahwa tujuan pendirian koperasi benar-benar untuk mensejahterakan
anggotanya. Pembangunan kesadaran akan tujuan perlu dijabarkan dalam visi,misi dan
program kerja yang sesuai. Pembangunan kesadaran akan mencapai tujuan merupakan modal
penting bagi pengelolaan koperasi secara profesional, amanah, dan akuntabel.
Konsep GCG sektor koperasi perlu dimodifikasi sedemikian rupa untuk menjawab
tantangan pengelolaan koperasi yang semakin kompleks. Implementasi GCG perlu diarahkan
untuk membangun kultur dan kesadaran pihak-pihak dalam koperasi untuk senantiasa
menyadari misi dan tanggung jawab sosialnya yaitu mensejahterakan anggotanya.
Dalam mengimplementasikan GCG, koperasi Indonesia perlu memastikan beberapa langkah
strategis yang memadai dalam implementasi GCG. Pertama, koperasi perlu memastikan
bahwa tujuan pendirian koperasi benar-benar untuk mensejahterakan anggotanya.
Pembangunan kesadaran akan tujuan perlu dijabarkan dalam visi,misi dan program kerja
yang sesuai. Pembangunan kesadaran akan mencapai tujuan merupakan modal penting bagi
pengelolaan koperasi secara profesional, amanah, dan akuntabel.
2.

Perekrutan Anggota yang Berkompeten

Hal mendasar yang sangat penting dalam upaya memajukan koperasi adalah dengan
merekrut anggota yang berkompeten dalam bidangnya. Tidak hanya orang yang sekedar mau
menjadi anggota melainkan orang-orang yang memiliki kemampuan dalam pengelolaan dan
pengembangan koperasi. Contohnya dengan mencari pemimpin yang dapat memimpin
dengan baik, kemudian pengelolaan dipegang oleh orang yang berkompeten dalam bidangnya
masing-masing. Serta perlu dibuat pelatihan bagi pengurus koperasi yang belum
berpengalaman.
3.

Membenahi Kondisi Internal Koperasi

Praktik-praktik operasional yang tidak tidak efisien, mengandung kelemahan perlu


dibenahi. Dominasi pengurus yang berlebihan dan tidak sesuai dengan proporsinya perlu

dibatasi dengan adanya peraturan yang menutup celah penyimpangan koperasi.


Penyimpangan-penyimpangan yang rawan dilakukan adalah pemanfaatan kepentingan
koperasi untuk kepentingan pribadi, penyimpangan pengelolaan dana, maupun praktikpraktik KKN.
4.

Memberikan Pelatihan Karyawan

Dengan memberikan pelatihan terhadap kemampuan kerja para karyawan yang di


lakukan secara berkala, diharapkan sistem keuangan dan birokrasi internal di dalam koperasi
dapat teratasi.
5.

Perlunya Dukungan Pemerintah

Kurangnya dukungan yang diberikan pemerintah dalam memajukan koperasi dapat


menjadi penghambat berkembangnya koperasi di Indonesia. Dukukan yang dibutuhkan bagi
perkembangan koperasi contohnya adalah dari segi permodalan. Pemerintah dalam hal ini
harus melakukan terobosan structural, maksudnya dilakukannya restrukturasi dalam
penguasaan factor produksi, khususnya permodalan.
6.

Penyediaan Sarana dan Prasaran

Menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan koperasi sangat penting
dilakukan untuk menunjang terlaksananya koperasi yang efektif. Pemerintah harus
menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pengurus anggota maupu pengelola agar kegiatan
dalam koperasi tidak terhambat dan menjadikan koperasi tidak berkembang.
7.

Penyuluhan Masyarakat

Penyuluhan masyarakat disini berfungsi untuk memunculkan kesadaran masyarakat


betapa pentingnya koperasi, maksudnya harus memacu kepada masyarakat agar mereka tahu
betapa pentingnya koperasi untuk kehidupan mereka.
8. Perlunya Sarana Promosi
Hal ini diperlukan untuk mengekspose kegiatan usahanya agar dapat diketahui oleh
masyarakat umum seperti badan usaha lainnya. Sehingga dengan cara tersebut masyarakat
akan lebih termotivasi untuk membentuk koperasi yang efisien.
Dengan cara-cara tersebut diharapkan dapat memajukan koperasi sebagai salah satu sektor
perekonomian di Indonesia yang sungguh-sungguh dapat mensejahterakan rakyatnya. Selain
tu juga diharapkan koperasi dapat bersaing di perekonomian dunia. Dengan hal tersebut pula
sangat diharapkan agar koperasi di Indonesia dapat terus maju dan berkembang karena
koperasi adalah salah satu badan usaha yang menyediakan fasilitas untuk masyarakat kecil
dan menengah.
9.

Meningkatkan Daya Jual Koperasi dan Melakukan Sarana Promosi

Untuk meningkatkan daya jual koperasi, yang akan saya lakukan adalah membuat
koperasi lebih bagus lagi. Membuat koperasi agar terlihat menarik supaya masyarakat tertarik
ntuk membeli di koperasi mungkin dengan cara mengecat dinding koperasi dengan warna-

warna yang indah, menyediakan AC, ruangan tertata dengan rapi dan menyediakan
pelayanan yang baik sehingga masyarakat puas.
Dan tidak hanya itu, koperasi pun memerlukan sarana promosi untuk mengekspose
kegiatan usahanya agar dapat diketahui oleh masyarakat umum seperti badan usaha lainnya
salah satu caranya dengan menyebarkan brosur dan membuat spanduk agar masyarakat
mengetahuinya. Dengan cara ini diharapkan dapat menarik investor untuk menanamkan
modalnya di koperasi.
10.

Merubah Kebijakan Pelembagaan Koperasi

Dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat kebijakan pelembagaan koperasi


dilakukan degan pola penitipan, yaitu dengan menitipkan koperasi pada dua kekuatan
ekonomi lainnya. Oleh sebab itu saya akan merubah kebijakan tersebut agar koperasi dapat
tumbuh secara normal layaknya sebuah organisasi ekonomi yang kreatif, mandiri, dan
independen.
11.

Memperbaiki Koperasi Secara Menyeluruh

Kementerian Koperasi dan UKM perlu menyiapkan blue print pengelolaan koperasi
secara efektif. Blue print koperasi ini nantinya diharapkan akan menjadi panduan bagi
seluruh koperasi Indonesia dalam menjalankan kegiatan operasinya secara profesional, efektif
dan efisien. Selain itu diperlukan upaya serius untuk mendiseminasikan dan
mensosialisasikan GCG koperasi dalam format gerakan nasional berkoperasi secara
berkesinambungan kepada warga masyarakat, baik melalui media pendidikan, media massa,
maupun media yang lainnya yang diharapkan akan semakin memajukan perkoperasian
Indonesia.
12.

Penggunaan Kriteria Identitas

Penggunaan prinsip identitas untuk mengidentifikasi koperasi adalah suatu hal yang
agak baru, dengan demikian banyak koperasiwan yang belum mengenalnya dan masih saja
berpaut pada pendekatan-pendekatan esensialis maupun hukum yang lebih dahulu, yang
membuatnya sulit atau bahkan tidak mungkin untuk membedakan suatu koperasi dari unitunit usaha lainnya seperti kemitraan, perusahaan saham atau di Indonesia dikenal dengan
Perseroan Terbatas (PT).
Dengan menggunakan kriteria identitas, kita akan mampu memadukan pandanganpandangan baru dan perkembangan-perkembangan muktahir dalam teori perusahaan ke
dalam ilmu koperasi.

13.

Menghimpun Kekuatan Ekonomi Dan Kekuatan Politis

Kebijaksanaan ekonomi makro cenderung tetap memberikan kesempatan lebih luas


kepada usaha skala besar. Paradigma yang masih digunakan hingga saat ini menitikberatkan
pada pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh usaha skala besar dengan asumsi bahwa

usaha tersebut akan menciptakan efek menetes ke bawah. Namun yang dihasilkan bukanlah
kesejahteraan rakyat banyak melainkan keserakahan yang melahirkan kesenjangan. Dalam
pembangunan, pertumbuhan memang perlu, tetapi pencapaian pertumbuhan ini hendaknya
melalui pemerataan yang berkeadilan.
Pada saat ini, belum tampak adanya reformasi di bidang ekonomi lebih-lebih disektor
moneter, bahkan kecenderungan yang ada adalah membangun kembali usaha konglomerat
yang hancur dengan cara mengkonsentrasikan asset pada permodalan melalui program
rekapitalisasi perbankan.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, alternatif terbaik bagi usaha kecil termasuk
koperasi adalah menghimpun kekuatan sendiri baik kekuatan ekonomi maupun kekuatan
polotis untuk memperkuat posisi tawar dalam penentuan kebijakan perekonomian nasional.
Ini bukanlah kondisi yang mustahil diwujudkan, sebab usaha kecil termasuk koperasi
jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh wilayah nusantara sehingga jika disatukan
akan membentuk kekuatan yang cukup besar.
Dengan ini diharapkan dapat memajukan koperasi sebagai salah satu sektor
perekonomian di Indonesia. Juga diharapkan koperasi dapat bersaing di perekonomian dunia.
Saya sangat mengharapkan agar koperasi di Indonesia dapat terus maju dan berkembang
karena koperasi adalah salah satu badan usaha yang menyediakan fasilitas untuk masyarakat
kecil dan menengah. Semoga dengan ini dapat membangun koperasi yang lebih baik lagi.
14. Membentuk Karakter Pemuda yang Bermental Wirausaha, Tangguh dan Berorientasi
Memajukan Perekonomian Rakyat.
15. Memberikan Motivasi dan Dorongan, serta Semangat Juang Pemuda/i Indonesia yang
Berjiwa Pancasila dan BerkeNegaraan.

C. Peran Koperasi dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat


Setiap orang dewasa dapat menjadi anggota sebuah koperasi. Keanggotaan koperasi
bersifat terbuka dan sukarela. Terbuka artinya anggota koperasi terbuka bagi siapa saja sesuai
dengan jenis koperasinya. Keanggotaan koperasi tidak membedakan suku, derajat maupun
agama.
Sukarela artinya keanggotaan koperasi tidak atas paksaan. Setiap anggota mempunyai
hak dan kewajiban yang sama. Sesuai dengan pengertian koperasi bahwa koperasi merupakan
kegiatan ekonomi yang berasaskan kekeluargaan. Maka tujuan utama koperasi adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Dengan adanya koperasi anggota yang
membutuhkan kebutuhan pokok dapat membeli di koperasi dengan harga yang lebih murah.
Anggota yang membutuhkan pinjaman modal usaha dapat meminjam di koperasi. Dengan

demikian para anggota dapat terbebas dari rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga
sangat tinggi.
Bagi anggota yang memiliki hasil produk tertentu juga dapat menjualnya di koperasi.
Demikian pula para petani di desa juga dapat terhindar dari tengkulak yang membeli hasil
panen dengan harga seenaknya. Koperasi bisa mendapatkan untung. Keuntungan koperasi
bisa diperoleh antara lain dari laba penjualan dan jasa peminjaman. Meskipun koperasi tidak
mengambil laba penjualan atau jasa peminjaman yang besar. Namun apabila koperasi
berjalan dengan lancar keuntungan koperasi pun bisa menjadi besar pula.
Keuntungan koperasi akan dikembalikan kepada anggota sebagai SHU (Sisa Hasil
Usaha). Tentu saja setelah dikurangi biaya-biaya operasional. Pembagian keuntungan atau
sisa hasil usaha ini dibagi secara adil sehingga tidak ada yang dirugikan. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa koperasi memiliki peran yang besar di masyarakat. Jika banyak
orang yang dapat mengambil kemanfaatan koperasi maka ekonomi masyarakat pun akan
kuat. Oleh karena itu tak heran jika koperasi disebut sebagai soko guru atau tiang utama
perekonomian di Indonesia.

Hal-hal yang menjadi kelebihan koperasi di Indonesia adalah:


1. Bersifat terbuka dan sukarela.
2. Besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib tidak memberatkan anggota.
3. Setiap anggota memiliki hak suara yang sama, bukan berdasarkan besarnya modal
4. Bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota dan bukan semata- mata mencari
keuntungan.

Namun di balik kelebihan itu, ada juga hal yang menjadi kelemahan koperasi di Indonesia,
yaitu:
a)

Koperasi sulit berkembang karena modal terbatas.

b)

Kurang cakapnya pengurus dalam mengelola koperasi.

c)

Pengurus kadang-kadang tidak jujur.

d)

Kurangnya kerja sama antara pengurus, pengawas dan anggotanya.

Prinsip pendirian koperasi adalah sebagai usaha bersama yang ditujukan untuk
kemakmuran anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pendirian koperasi
juga harus mendapat pengesahan sedagai badan hukum koperasi dari pihak yang berwenang.

Sejauh ini koperasi dengan prinsip usaha bersama atas asas kekeluargaan banyak
menolong/membantu para anggotanya.
Manfaat koperasi yang tercermin dari tujuannya adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan anggota baik dalam tataran ekonomi maupun sosial. Kesejahteraan yang erat
kaitannya dengan pemanfaatan jasa dari koperasi ikut membantu anggota dalam menghadapi
kesulitan terutama yang menyangkut persoalan keuangan.
Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi juga menjadi salah satu elemen penting dalam
meningkatkan kesejahteraan para anggota. SHU sendiri dibagikan kepada para anggota
koperasi berdasarkan kesepakatan anggota yang biasanya terakumulasi dari penghitungan
jasa kepada koperasi.
Adapun SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun
buku setelah dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lain (termasuk pajak ) dan besarnya
SHU yang dibagikan kepada masing-masing anggota sebanding dengan jasa yang dilakukan
oleh anggota tersebut. Sebagai badan usaha yang ditujukan untuk kepentingan bersama,
kesejahteraan anggota koperasi mutlak harus didahulukan karena anggota koperasi adalah
elemen terpenting yang menjadi roda penggerak koperasi.
Koperasi dapat tumbuh dan berkembang tergantung pada partisipasi aktif anggota, di
mana partisipasi menentukan kelangsungan dan berkembangnya lapangan usaha atau unit
usaha koperasi. Dengan demikian tanggungjawab berupa kesadaran berkoperasi sangat
diperlukan dan menjadi perhatian agar koperasi dapat hidup tumbuh dan berkembang maju.
Kesadaran berkoperasi yang dimaksud antara lain:

keinginan untuk memajukan koperasi,

kesanggupan mentaati peraturan dalam koperasi seperti kewajiban terhadap simpan


pinjam,

mentaati ketentuan-ketentuan baik sebagai anggota, pengurus dan badan pengawas,

membina hubungan sosial dalam koperasi,

melakukan pengawasan terhadap jalannya koperasi.

Peranan pemerintah dalam gerakan koperasi antara lain dengan:


v memberi bimbingan berupa penyuluhan, pendidikan ataupun melakukan penelitian bagi
perkembangan koperasi serta bantuan konsultasi terhadap permasalahan koperasi;
v melakukan pengawasan termasuk memberi perlindungan terhadap koperasi berupa
penetapan bidang kegiatan ekonomi yang telah berhasil diusahakan oleh koperasi untuk tidak
diusahakan oleh badan usaha lainnya;

v memberikan fasilitas berupa kemudahan permodalan, serta pengembangan jaringan usaha


dan kerja sama.

Peran pemerintah ini penting agar keberadaan koperasi terus berkembang maju.
Apalagi isu keberadaan koperasi saat ini berdasarkan tujuan jangka pendek adalah untuk
mengurangi kemiskinan dan kebodohan, dalam arti bahwa keberadaan koperasi dapat
dimanfaatkan oleh para anggota hingga mereka dan masyarakat tidak kekurangan sandang,
pangan maupun papan.
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum
koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk
menyejahterakan anggotanya.

Berdasarkan pengertian tersebut, yang dapat menjadi anggota koperasi yaitu:


1)

Perorangan, yaitu orang yang secara sukarela menjadi anggota koperasi;

2)
Badan hukum koperasi, yaitu suatu koperasi yang menjadi anggota koperasi yang
memiliki lingkup lebih luas.

Pada Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 (Revisi 1998),


disebutkan bahwa karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain,
yaitu anggota koperasi memiliki identitas ganda. Identitas ganda maksudnya anggota
koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.
Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, dimana
setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi.
Pembagian keuntungan koperasi (biasa disebut Sisa Hasil Usaha atau SHU) biasanya
dihitung berdasarkan andil anggota tersebut dalam koperasi, misalnya dengan melakukan
pembagian dividen berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh si
anggota.

D. Penyebab Koperasi di Indonesia Kurang Berkembang Pesat


Hal-hal apa saja yang menyebabkan Koperasi di Indonesia kurang berkembang pesat
dibandingkan negara-negara maju, yakni dikarenakan beberapa hal yaitu:

1. Imej koperasi sebagai ekonomi kelas dua masih tertanam dalam benak orangorang
Indonesia sehingga, menjadi sedikit penghambat dalam pengembangan koperasi
menjadi unit ekonomi yang lebih besar, maju dan punya daya saing dengan
perusahaanperusahaan besar.
2. Perkembangan koperasi di Indonesia yang dimulai dari atas (bottom up) tetapi dari
atas (top down), artinya koperasi berkembang di indonesia bukan dari kesadaran
masyarakat, tetapi muncul dari dukungan pemerintah yang disosialisasikan ke bawah.
Berbeda dengan yang di luar negeri, koperasi terbentuk karena adanya kesadaran
masyarakat untuk saling membantu memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan yang
merupakan tujuan koperasi itu sendiri, sehingga pemerintah tinggal menjadi
pendukung dan pelindung saja. Di Indonesia, pemerintah bekerja double selain
mendukung juga harus mensosialisasikanya dulu ke bawah sehingga rakyat menjadi
mengerti akan manfaat dan tujuan dari koperasi.
3. Tingkat partisipasi anggota koperasi masih rendah, ini disebabkan sosialisasi yang
belum optimal. Masyarakat yang menjadi anggota hanya sebatas tahu koperasi itu
hanya untuk melayani konsumen seperti biasa, baik untuk barang konsumsi atau
pinjaman. Artinya masyarakat belum tahu esensi dari koperasi itu sendiri, baik dari
sistem permodalan maupun sistem kepemilikanya. Mereka belum tahu betul bahwa
dalam koperasi konsumen juga berarti pemilik, dan mereka berhak berpartisipasi
menyumbang saran demi kemajuan koperasi miliknya serta berhak mengawasi kinerja
pengurus. Keadaan seperti ini tentu sangat rentan terhadap penyelewengan dana oleh
pengurus, karena tanpa partisipasi anggota tidak ada kontrol dari anggota nya sendiri
terhadap pengurus.
4. Manajemen koperasi yang belum profesional, ini banyak terjadi di koperasi koperasi
yang anggota dan pengurusnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah. contohnya
banyak terjadi pada KUD yang nota bene di daerah terpencil. Banyak sekali KUD
yang bangkrut karena manajemenya kurang profesional baik itu dalam sistem kelola
usahanya, dari segi sumberdaya manusianya maupun finansialnya. Banyak terjadi
KUD yang hanya menjadi tempat bagi pengurusnya yang korupsi akan dana bantuan
dari pemerintah yang banyak mengucur. Karena hal itu, maka KUD banyak dinilai
negatif dan disingkat Ketua Untung Duluan.
5. Pemerintah terlalu memanjakan koperasi, ini juga menjadi alasan kuat mengapa
koperasi Indonesia tidak maju maju. Koperasi banyak dibantu pemerintah lewat dana
dana segar tanpa ada pengawasan terhadap bantuan tersebut. Sifat bantuanya pun
tidak wajib dikembalikan. Tentu saja ini menjadi bantuan yang tidak mendidik,
koperasi menjadi manja dan tidak mandiri hanya menunggu bantuan selanjutnya
dari pemerintah. Selain merugikan pemerintah bantuan seperti ini pula akan
menjadikan koperasi tidak bisa bersaing karena terus terusan menjadi benalu negara.
Seharusnya pemerintah mengucurkan bantuan dengan sistem pengawasan nya yang
baik, walaupun dananya bentuknya hibah yang tidak perlu dikembalikan. Dengan
demikian akan membantu koperasi menjadi lebih profesional, mandiri dan mampu
bersaing.

Itulah penyebab-penyebab kenapa perkembangan koperasi di Indonesia belum


maksimal. Tetapi analisis masalah tadi bukan lah yang utama, justru yang utama jika ingin
koperasi maju adalah sebagai generasi penerus bangsa di masa depan tentunya kita harus
berperan aktif dalam pengembangan koperasi di negeri ini. Salah satunya melalui keikut
sertaan dalam koperasi, mempelajari dan mengetahui tentang perkoperasian secara lebih
mendalam, karena percuma kalau hanya OMDO alias omong doang seperti politikuspolitikus yang hanya mencari popularitas depan televisi atau bahasa halusnya NATO (No
Action Talk Only). Sebenarnya, secara umum permasalahan yang dihadapi koperasi dapat di
kelompokan terhadap 2 masalah, yaitu :
a)

b)

Permasalahan Internal

Kebanyakan pengurus koperasi telah lanjut usia sehingga kapasitasnya terbatas;

Pengurus koperasi juga tokoh dalam masyarakat, sehingga rangkap jabatan ini
menimbulkan akibat bahwa fokus perhatiannya terhadap pengelolaan koperasi
berkurang sehingga kurang menyadari adanya perubahan-perubahan lingkungan;

Bahwa ketidakpercayaan anggota koperasi menimbulkan kesulitan dalam


memulihkannya;

Oleh karena terbatasnya dana maka tidak dilakukan usaha pemeliharaan fasilitas
(mesin-mesin), padahal teknologi berkembang pesat; hal ini mengakibatkan harga
pokok yang relatif tinggi sehingga mengurangi kekuatan bersaing koperasi;

Administrasi kegiatan-kegiatan belum memenuhi standar tertentu sehingga


menyediakan data untuk pengambilan keputusan tidak lengkap; demikian pula data
statistis kebanyakan kurang memenuhi kebutuhan;

Kebanyakan anggota kurang solidaritas untuk berkoperasi di lain pihak anggota


banyak berhutang kepada koperasi;

Dengan modal usaha yang relatif kecil maka volume usaha terbatas; akan tetapi bila
ingin memperbesar volume kegiatan, keterampilan yang dimiliki tidak mampu
menanggulangi usaha besar-besaran; juga karena insentif rendah sehingga orang tidak
tergerak hatinya menjalankan usaha besar yang kompleks.

Permasalahan Eksternal

v Bertambahnya persaingan dari badan usaha yang lain yang secara bebas memasuki bidang
usaha yang sedang ditangani oleh koperasi;
v Karena dicabutnya fasilitas-fasilitas tertentu koperasi tidak dapat lagi menjalankan
usahanya dengan baik, misalnya usaha penyaluran pupuk yang pada waktu lalu disalurkan
oleh koperasi melalui koperta sekarang tidak lagi sehingga terpaksa mencari sendiri.

v Tanggapan masyarakat sendiri terhadap koperasi; karena kegagalan koperasi pada waktu
yang lalu tanpa adanya pertanggungjawaban kepada masyarakat yang menimbulkan
ketidakpercayaan pada masyarakat tentang pengelolaan koperasi;
v Tingkat harga yang selalu berubah (naik) sehingga pendapatan penjualan sekarang tidak
dapat dimanfaatkan untuk meneruskan usaha, justru menciutkan usaha.

Persoalan-persoalan yang dihadapi koperasi kiranya menjadi relatif lebih akut, kronis,
lebih berat oleh karena beberapa sebab :
1)
Kenyataan bahwa pengurus atau anggota koperasi sudah terbiasa dengan sistem
penjatahan sehingga mereka dahulu hanya tinggal berproduksi, bahan mentah tersedia,
pemasaran sudah ada salurannya, juga karena sifat pasar sellers market berhubungan
dengan pemerintah dalam melaksanakan politik. Sekarang sistem ekonomi terbuka dengan
cirri khas : persaingan. Kiranya diperlukan penyesuaian diri dan ini memakan waktu cukup
lama.
2)
Para anggota dan pengurus mungkin kurang pengetahuan/skills dalam manajemen.
Harus ada minat untuk memperkembangkan diri menghayati persoalan-persoalan yang
dihadapi.
3)
Oleh karena pemikiran yang sempit timbul usaha manipulasi tertentu, misalnya
dalam hal alokasi order/ tugas-tugas karena kecilnya kesempatan yang ada maka orang
cenderung untuk memanfaatkan sesuatu untuk dirinya terlebih dahulu.
4)
Pentingnya rasa kesetiaan (loyalitas) anggota; tetapi karena anggota berusaha secara
individual (tak percaya lagi kepada koperasi) tidak ada waktu untuk berkomunikasi, tidak ada
pemberian dan penerimaan informasi, tidak ada tujuan yang harmonis antara anggota dan
koperasi dan seterusnya, sehingga persoalan yang dihadapi koperasi dapat menghambat
perkembangan koperasi.
5)

Kurangnya Promosi dan Sosialisasi

6)
Promosi diperlukan agar masyarakat tahu tentang koperasi tersebut. Pemerintah dengan
gencarnya melalui media massa mensosialisasikan Koperasi kepada masyarakat namun jika
sosialisasi hanya dilakukan dengan media massa mungkin hanya akan numpang lewat saja.
Memang benar dengan mensosialisasikan melalui media massa akan lebih efektif untuk
masyarakat mengetahuinya, namun dengan sosialisasi secara langsung untuk terjun
kelapangan akan lebih efektif karena penyampaian yang lebih mudah dipahami. Dalam
masalah promosi barang yang dijual di suatu koperasi juga mengalami kendala seperti
kurangnya promo yang ditawarkan dan kurang kreatifnya koperasi untuk mempromosikan
sehingga minat masyarakat juga berkurang untuk dapat ikut serta dalam koperasi.
7)

Kesadaran Masyarakat Untuk Berkoperasi Masih Lemah

8)
Masyarakat masih sulit untuk sadar berkoperasi, terutama anak-anak muda. Kesadaran
yang masih lemah tersebut bias disebabkan kurang menariknya koperasi di Indonesia untuk
dijadikan sebagai suatu usaha bersama. Selain itu para pemuda-pemudi lebih
sukamenghabiskan waktu di luar daripada melakukan kegiatan didalam koperasi karena bagi
pemuda terkesan Kuno.
9)

Harga Barang di Koperasi Lebih Mahal Dibandingkan Harga Pasar

10) Masyarakat jadi enggan untuk membeli barang dikoperasi karena harganya yang lebih
mahal dibandingkan harga pasar. Bagi masyarakat Indonesia konsumen akan memilih untuk
membeli suatu barang dengan harga yang murah dengan kualitas yang sama atau bahkan
lebih baik dibandingkan dengan koperasi. Dengan enggannya masyarakat untuk bertransaksi
di koperasi sudah pasti laba yang dihasilkan oleh koperasi-pun sedikit bahkan merugi
sehingga perkembangan koperasi berjalan lamban bahkan tidak berjalan sama sekali.
11) Sulitnya Anggota Untuk Keluar dari Koperasi
12) Seorang anggota koperasi maupun pemilik koperasi akan sulit untuk melepaskan
koperasi tersebut, kenapa? Karena sulitnya menciptakan regenerasi dalam koperasi. Dengan
sulitnya regenerasi maka seseorang akan merasa jenuh saat terlalu dalam posisi yang ia
tempati namun saat ingin melepaskan jabatannya sulit untuk mendapatkan pengganti yang
cocok yang bias mengembangkan koperasi tersebut lebih lanjut.
13) Kurang Adanya Keterpaduan dan Konsistensi
14) Dengan kurang adanya keterpaduan dan Konsistensi antara program pengembangan
koperasi dengan program pengembangan sub-sektor lain, maka program pengembangan subsektor koperasi seolah-olah berjalan sendiri, tanpa dukungan dan partisipasi dari program
pengembangan sektor lainnya.
15) Kurang Dirasakan Peran dan Manfaat Koperasi Bagi Anggota dan Masyarakat
16) Peran dan Manfaat koperasi belum dapat dirasakan oleh anggotanya serta masyarakat
karena Koperasi belum mampu meyakinkan anggota serta masyarakat untuk berkoperasi dan
kurang baiknya manajemen serta kejelasan dalam hal keanggotaan koperasi.
17) Hal-hal tersebut merupakan factor yang mempengaruhi mengapa Koperasi sulit untuk
berkembang, maka setiap koperasi dibutuhkan untuk mengelola koperasi tersebut dengan
benar yang sesuai dengan fungsinya sebagai koperasi agar dapat berjalan dengan baik.

E. Solusi Dalam Menghadapi Kesulitan Koperasi

Dalam menghadapi kesulitan koperasi seperti akses permodalan, keterbatasan


informasi dan pasar, minim manajeriar, gagap teknologi, dll dapat diatasi dengan cara :
a)
Mengeluarkan kebijakan guna mendorong percepatan pemberdayaan koperasi secara
terarah dan bertahap. Kebijakan tersebut meliputi aspek-aspek kelembagaan, permodalan,
kemampuan teknologi, kualitas SDM, pemasaran, jaringan usaha, menciptakan iklim yang
kondusif, dan bertahap dimulai skema hibah untuk peningkatan keterampilan usaha, dana
bergulir, pinjaman lunak, modal ventura dan pinjaman lunak. Secara terarah program ini
dapat menyentuh segala aspek yang bertujuan dalam jangka pendek maupun dalam jangka
panjang.
b)
Memberikan bantuan modal kerja bagi koperasi primer khususnya KUD, dimana
bantuan tersebut harus selektif, dimonitoring dan evaluasi.
c)
Memberikan bantuan manajemen kepada koperasi primer dan KUD baik sebagai
manajer KUD atau pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan.
d) Mensinergikan program-program pembangunan dengan pemberdayaan koperasi.
Sebagai contoh, program pembangunan lumbung pangan oleh Kementerian Pertanian, juga
bantuan pengadaan penggilingan padi (RMU), bantuan alat pengering (box dryer) padi dan
jagung, bantuan hand tractor, pembangkit listrik micro hydro power, pengelolaan dana PUAP
(Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan).
e)
Memberikan peranan yang lebih besar pada dinas koperasi ataupun Kementerian
Negara Koperasi dalam pengembangan koperasi.
f)

Modifikasi produk.

Dengan memodifikasi produk-produk yang ada dikoperasi, saya yakin akan meningkatkan
selera masyarakat sehingga tertarik untuk mengkonsumsi produk dari koperasi tersebut.
g)

Optimis dalam menghadapi masalah

Sebagai contoh pada Krisis global yang mulai melanda perekonomian dunia pada
pertengahan tahun lalu, telah merambah cepat pada perkoperasian Indonesia. Sejumlah pegiat
koperasi mengaku ada penurunan omset. Namun, banyak pula yang optimis bisa berkinerja
lebih baik. Kami anggap krisis sekarang sebagai peluang, kata Sadari, Ketua Koperasi
Simpan Pinjam Wira Karya Jaya (Kowika Jaya). Ia optimis, target pendapatan tahun ini bisa
achieve. Demikian juga Hj. Yoos Luthfi, Ketua Puskowanjati. Saya yakin krisis ini tidak
akan berpengaruh pada kinerja koperasi kami. Kenapa, anggota kami kebanyakan masyarakat
kecil yang tidak bertransaksi dengan dolar. Usaha mereka juga tidak berorientasi ekspor,
ujarnya optimis.
h)
Penambahan modal, pelatihan manajemen, dan bantuan perizinan agar koperasi
memiliki posisi tawar lebih baik. Usaha lain yang harus didorong adalah melibatkan pemuda
dalam pengelolaan koperasi.

F. CONTOH KOPERASI

Disini saya akan coba memberikan contoh pembagian SHU koperasi pada Koperasi
Kredit :

Dari laporan keuangan Koperasi Kredit MANTAB per-31-12-1998 diperoleh data sebagai
berikut :
1.
Jumlah pendapatan koperasi selama 1 tahun buku sebesar Rp 20.000.000,- yang
terdiri dari usaha koperasi sendiri (bunga pinjaman, provisi, dan denda) sebesar Rp
18.000.000,- serta dari luar usaha koperasi (bunga bank dan deviden) sebesar Rp 2.000.000,2.

Jumlah biaya operasional selama 1 tahun buku yang bersangkutan : Rp 8.000.000,-

3.

Pajak pendapatan yang ditetapkan pemerintah : 10%

4.
Jumlah simpanan pokok semua anggota Rp 4.000.000,- sedangkan jumlah simpanan
wajibnya Rp. 12.000.000,-

Sesuai dengan keputusan rapat anggota, ditetapkan pebagian SHU sebagai berikut :
1.

Untuk dana cadangan

: 20 %

2.

Untuk dana pendidikan perkoperasian

: 5%

3.

Untuk dana taktis/sosial

: 5%

4.

Untuk jasa pengelola

: 10 %

5.

Untuk jasa anggota :

Jasa simpanan (pokok dan wajib)

Jasa partisipasi usaha


Jumlah

: 35 %
: 25 % +
: 100 %

Seorang anggota (No. Agt. : 05), selam tahun buku 1998 telah memiliki simpanan pokok
sebesar Rp 40.000,- dan simpanan wajib Rp 160.000,- Atas partisipasinya sebagai nasabah
koperasi, selama tahun buku 1998 ia telah memberikan sumbangan pendapatan (berupa
jasa/bunga pinjaman dan provisi) kepada koperasi sebesar Rp 225.000,-

Pertanyaan :
1. Susun dan hitunglah pembagian SHU sesuai dengan ketetapan rapat anggota di atas !
2. Hitunglah bagian SHU yang harus diterima oleh anggota dengan No. Agt. : 05 tersebut !

Jawaban :

Jumlah pendapatan

Jumlah biaya operasional

SHU (sebelum pajak)

: Rp. 20.000.000,: Rp. 8.000.000,- (-)

: Rp. 12.000.000,-

Pajak : 10 % x Rp. 12.000.000,-

: Rp. 1.200.000,- (-)

SHU bersih

: Rp. 10.800.000,-

1.

Susunan Pembagian SHU :

Dana cadangan

20%

: Rp. 2.160.000,-

Dana pendidikan perkoperasian

5%

: Rp.

Dana taktis/sosial

Jasa pengelola

Jasa anggota :

Jasa simpanan

35%

: Rp. 3.780.000,-

Jasa transaksi usaha

25%

: Rp. 2.700.000,- (+)

5%

: Rp.
10%

540.000,-

540.000,: Rp. 1.080.000,-

Jumlah

2.

100%

: Rp. 10.800.00,-

Bagian SHU yang harus diterima Anggota No. 05 :

Jasa simpanannya :

X bagian SHU untuk jasa simpanan

Simpanan Pokok + Wajib


Total Simp. Pokok + Wajib

X 3.780.000

200.000
16.000.000
= Rp. 47.250,-

Jasa transaksi usahanya :

X bagian SHU untuk jasa partisipasi

Sumbangan pendapatannya
Total pendapatan dari anggota

X 2.700.000

225.000
18.000.000
= Rp. 33.750,-

Jadi jumlah SHU yang harus diterima Anggota No. 05 adalah :


Rp. 47.250,- + Rp. 33.750,- = Rp. 81.000,-

Model pembagian SHU di atas pada dasarnya hanya merupakan contoh yang sederhana.
Setiap koperasi dapat membuat model pembagian SHU sesuai dengan kebutuhannya asalkan
merupakan ketetapan rapat anggota. Model pembagian SHU dalam contoh di atas juga tidak
memisahkan antara SHU yang berasal dari anggota dan SHU dari luar anggota. Semua SHU
yang diperoleh koperasi dalam satu tahun buku yang bersangkutan dijadikan satu, kemudian
dibagi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh rapat anggota.

Daftar Referensi :
http://anggita-nurul.blogspot.com/2012/10/cara-mensosialisasikan-koperasi-pada.html
http://ayumegadarmaberlianlestari.blogspot.com/2012/10/cara-mensosialisasikan-koperasikepada.html
http://kennysiikebby.wordpress.com/2010/09/25/usaha-usaha-yang-dilakukan-untukmemajukan-koperasi/
http://khairunnisafathin.wordpress.com/2011/10/10/cara-memajukan-koperasi-di-indonesia/
http://nabillahabsyiah.blogspot.com/2011/10/cara-cara-memajukan-koperasi.html/
http://www.rripalu.com/?q=content/koperasi-sulit-berkembang-apa-hambatannya
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/mengapa-koperasi-di-indonesia-sulit-untukberkembang/
http://dimasfahriza28.blogspot.com/2012/01/koperasi-adalah-suatu-badan-yang.html
http://kennysiikebby.wordpress.com/2010/09/25/usaha-usaha-yang-dilakukan-untukmemajukan-koperasi/
http://dwikartikasari-18211665.blogspot.com/2012/11/a-dasar-dasar-hukum-koperasiindonesia.html
http://nadia-fadhila.blogspot.com/2012/11/dasar-dasar-hukum-koperasi-indonesia.html

Share this:

Twitter

Facebook3

Terkait
TUGAS EKONOMI KOPERASI
TUGAS EKONOMI KOPERASI
TUGAS EKONOMI KOPERASI

Tanggal Januari 20, 2014

Komentar Meninggalkan komentar

Navigasi pos
MEMBERDAYAKAN EKONOMI KERAKYATAN MELALUI GERAKAN KOPERASI
NATION-STATE DAN STATE-NATION

Berikan Balasan

Ikuti

Ikuti Desy Purnamasari


Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.
Buat situs dengan WordPress.com