Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PEMBAHASAN

A. LATAR BELAKANG

Setelah nidasi,trofoblas terdiri atas 2 lapis yaitu bagian dalam disebut


sitotrofoblas dan luar disebut sinsitrofoblas dan bagian luar disebut
sisiotrofoblas. Endometrium atau sel desidua dimana terjadi nidasi menjadi
pucat dan besar disebut sebagai reaksi desidua. Sebagian lapisan desidua
mengalami fagositosis oles sel trofoblas. Reaksi desidua agaknya
merupakan proses untuk menghambat invasi, tetapi berfungsi sebagai
sumber pasokan makanan.
Sebagian sel trofoblas terus menembus bagian dalam lapisan
endometriummendekati lapisan basal endometrium dimana terdapat
pembuluh spiralis,kemudian terbentuk lacuna yang berisi plasma ibu.
Proses pelebaran darah arteri spiralis

sangat penting sebagai bentuk

fisiologik yaitu model mangkuk. Hal ini dimungkinkan karena penipisan


endotel arteri akibat invasi trofoblas yang menumpuk lapisan fibrin disana.
Proses invasi

trofoblas tahap kedua mencapai bagian myometrium

arteri spiralis terjadi pada kehamilan 14-15 minggu dan saat itu
perkembangan plasenta telah lengkap. Apabila model mangkuk tersebut
kurang sempurna, akan timbul kekurangan pasokan.
Bagian dasar trofoblas akan menebal yang disebut korion frondusem
dan berkembang menjadi plasenta. Sementara ,bagian luar yang menghadap
ke kavum uteri disebut korion leave yang diliputi oleh desdidua kapsularis.
Desidua yang menjadi tempat implantasi plasenta disebut desidua basalis.
Pada usia kehamilan 8 minggu (6 mingggu dari nidasi) zigot telah
melakukan invasi terhadap 40-60 arteri spiralis di daerha desidua basalis .
1

villi sekunder akan mengapung di kolom darah ibu , ditempat sebagian vili
melekatkan diri melalui integrin kepada desidua.
B. TUJUAN MAKALAH

Bertujuan untuk mengetahui tentang asuhan prenatal care

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian Asuhan Prenatal


American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and
Gynecologists (1997) mendefinisikan asuhan prenatal sebagai berikut: Suatu program
perawatan antepartum komprehensif yang melibatkan pendekatan terpadu perawatan
medis dan dukungan psikososial yang secara optimal dimulai sebelum konsepsi dan
meluas ke periode antepartum. Isi dari perawatan komprehensif semacam ini
mencakup penilaian selama masa prakonsepsi, pada kunjungan awal perawatan kehamilan, dan selama kunjungan tindak-lanjut prenatal. Masing-masing komponen ini
dibahas dalam bagian berikut dan rekan (1982) melaporkan pengamatan yang pada
dasarnya serupa sampai gestasi 34 minggu.
2.2 Pengkajian Asuhan Prenatal
2.2.1 Usia Gestasi.
Salah satu hal yang penting ditentukan pada pemeriksaan prenatal adalah
perkiraan usia janin. Untungnya, kita dapat mengidentifikasi hal ini dengan presisi
yang cukup baik melalui pemeriksaan klinis yang tepat waktu dan cermat, disertai
informasi tentang waktu awitan menstruasi terakhir. Apabila tanggal ini dan tinggi
fundus berulang-ulang memperlihatkan kesesuaian waktu, maka durasi gestasi dapat
ditentukan dengan pasti. Apabila usia gestasi tidak dapat ditentukan dengan jelas,
maka sonografi mungkin sangat membantu.
Pada tahap kehamilan lebih lanjut, pengetahuan yang jelas tentang usia gestasi
mungkin sangat penting, karena dapat timbul sejumlah penyulit kehamilan yang
penanganannya bergantung pada usia janin. Sebagai contoh, apabila terjadi preeklamsia pada usia 38 minggu, maka persalinan akan sangat bermanfaat bagi ibu maupun

janinnya. Namun, apabila durasi gestasi baru 28 minggu saat timbul preeklamsia maka
upaya konservatif dan penundaan persalinan mungkin lebih bermanfaat.
2.2.2 SURVEILANS PRENATAL
Pada setiap kunjungan ulang, dilakukan langkah-langkah untuk menentukan
kesejahteraan ibu dan janinnya. Informasi tertentu, yang diperoleh dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik, sangatlah penting.
Janin

Bunyi jantung.

Ukuran saat ini dan laju perubahannya.

Jumlah cairan ketuban.

Bagian terbawah janin dan penurunannya/ station (pada kehamilan tahap


lanjut).

Aktivitas.

Tekanan darah saat ini dan besar perubahannya.

Berat badan saat ini dan besar perubahannya.

Gejala, termasuk nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri abdomen, mual dan

Ibu

muntah, perdarahan, cairan dari vagina, disuria.

Tinggi fundus dari simfisis dalam cm.

Pemeriksaan dalam (vaginal touche) pada kehamilan tahap lanjut sering


memberikan informasi berharga.

Memastikan bagian terbawah janin.

Penurunan bagian terbawah janin (Bab 13, hal. 339).

Perkiraan klinis kapasitas panggul dan konfigurasi umumnya (Bab 3, hal. 63).

Konsistensi, pendataran, dan pembukaan serviks.

2.2.3 Pemeriksaan Laboratorium Selanjutnya.


4

Apabila hasilnya normal, maka sebagian besar pemeriksaan awal tidak perlu
diulang. Pengukuran hematokrit (atau hemoglobin) dan serologi sifilis, apabila sering
ditemukan dalam populasi, harus diulang pada usia gestasi sekitar 8 sampai 32
minggu. Pengukuran konsentrasi alfa-fetoprotein di dalam serum ibu pada usia gestasi
16 sampai 18 minggu (15 sampai 20 minggu dapat diterima) dianjurkan untuk menapis
kemungkinan defek tabung saraf (neural tube) terbuka dan beberapa anomali
kromosom. Pengetahuan tentang usia gestasi yang pasti sangat penting untuk
keakuratan penapisan ini
2.2.4 Kebutuhan Prenatal Spesifik.
Berbagai kebutuhan atau masalah yang spesifik bagi wanita yang bersangkutari
dapat ditemukan selama kunjungan prenatal awal apabila kebutuhan tersebut belum
ditangani selama pemeriksaan prakonsepsi. Remaja usia sekolah menengah (11 sampai
15 tahun) berisiko tinggi mengalami persalinan prematur serta berbagai masalah
psikososial. Sebagai contoh, Satin dkk. (1994) dalam sebuah studi terhadap 16.500
wanita nulipara yang melahirkan di Parkland Hospital, mendapatkan bahwa persalinan
prematur meningkat secara bermakna pada 1622 kehamilan remaja ini. Peneliti lain
melaporkan temuan serupa (Amini dkk., 1996).
2.3 Pemeriksaan Prenatal Tambahan
A. Diabetes Gestasional
Bagi wanita yang berisiko mengidap diabetes gestasional, pemeriksaan penapis
dianjurkan dilakukan pada usia gestasi 24 sampai 28 minggu.
B. Chlamydia Irachomatis
Pemeriksaan universal untuk mendeteksi infeksi klamidia terhadap semua
wanita hamil tidak dianjurkan (American Academy of Pediatrics dan American
College of Obstetricians and Gynecologists, 1997). Pada wanita berisiko tinggi dari
status sosioekonomi lemah, infeksi pada usia gestasi 24 minggu berkaitan dengan
peningkatan insiden persalinan prematur sebanyak dua sampai tiga kali lipat (Andrews
dkk., 2000).
5

C. Vaginosis Bakterialis
Pemeriksaan penapisan rutin untuk vaginosis bakterialis tidak dianjurkan
(American College of Obstetricians and Gynecologists, 1998a). Carey dkk'. (2000b),
dalam sebuah studi yang disponsori oleh National Institute of Child Health and Human
Development, mengambil 1953 wanita secara acak dari populasi obstetric umum
dengan vaginosis bakterialis asimtomatik untuk mendapat metronidazol dosis 2 g atau
placebo pada gestasi 16 sampai 24 minggu. Terapi tidak mengurangi persalinan
prematur. Pada uji klinis yang sama, terapi metronidazol meningkatkan risiko persalinan prematur pada wanita dengan infeksi trikomonas asimtomatik (Carey dkk.,
2000a). Penapisan untuk vaginosis bakterialis dapat dipertimbangkan pada wanita
yang berisiko tinggi mengalami persalinan prematur.
D. Fibronektin Janin
Pengukuran protein ini dalam cairan vagina pernah digunakan untuk memperkirakan persalinan prematur pada wanita dengan kontraksi. Committee on Obstetric
Practice dari American College of Obstetricians and Gynecologists (1997a) tidak
merekomendasikan penapisan rutin pada populasi obstetrik umum.
E. Streptokokus Grup B
Eradikasi organisms ini selama persalinan secara substansial mengurangi sepsis
neonatorum awitan dini. Namun, saat ini belum ada konsensus yang jelas mengenai
penapisan biakan untuk kolonisasi streptokokus. American College of Obstetricians
and Gynecologists Committee on Obstetrics (1996) dan Centers for Disease Control
and Prevention (1996) menganjurkan salah satu dari dua strategi. Yang pertama adalah
mengobati wanita dengan kemoprofilaksis semata-mata berdasarkan faktor risiko tanpa
melakukan penapisan pembiakan. Yang kedua adalah melakukan penapisan biakan
pada minggu ke-35 sampai 37, dan menawarkan terapi intrapartum dengan penisilin
apabila biakan positif. Di Parkland Hospital, wanita dengan faktor risiko untuk infeksi
neonatus oleh streptokokus grup B diberi ampisilin intravena intrapartum dan semua
bayi diberi penisilin G di kamar bersalin. Rejimen ini berhasil mengeliminasi hampir
semua infeksi streptokokus grup B pada neonatus (Wendel dkk., 2000).
6

F. Penapisan Untuk Penyakit Genetik


Penapisan ini dapat ditawarkan berdasarkan riwayat keluarga atau latar
belakang etnik/ras pasangan (American College of Obstetricians and Gynecologists,
1995b). Contoh-contohnya adalah pemeriksaan untuk penyakit Tay-Sachs bagi
keturunan Yahudi Eropa Timur atau Kanada keturunan Perancis; talasemia-P untuk
keturunan Mediterrania, Asia Tenggara, India, Pakistan, atau Afrika; talasemia- untuk
keturunan Asia Tenggara atau Afrika; dan anemia sel sabit untuk keturunan Afrika,
Mediterrania, Timur Tengah, Karibia, Amerika Latin, atau India. Penapisan untuk
fibrosis kistik dapat ditawarkan kepada mereka yang memiliki riwayat keluarga
mengidap penyakit ini.
2.4 Nutrisi
Pertambahan berat ibu selama kehamilan memang mempengaruhi berat lahir
bayi. Abrams dan. Laros (1986) mempelajari efek pertambahan berat ibu terhadap
berat lahir pada 2946 kehamilan dengan persalinan aterm. Hanya delapan wanita tidak
mengalami

pertambahan

berat.

Dilakukan

analisis

regresi

multipel

untuk

mengendalikan faktor usia ibu, ras, paritas, status sosioekonomi, konsumsi rokok, dan
usia gestasi. Pertambahan berat ibu mempengaruhi berat lahir; wanita yang beratnya
kurang melahirkan bayi yang lebih kecil sedangkan yang sebaliknya berlaku pada
wanita yang berat badannya berlebih. Rerata pertambahan berat ibu selama kehamilan
adalah 33 lb (15 kg). Temuan penting dalam studi ini adalah bahwa pertambahan berat
tampaknya tidak merupakan syarat bagi pertumbuhan janin pada wanita kegemukan.
Informasi mengenai pertambahan berat ibu dikumpulkan dari akte kelahiran
(Ventura dkk., 2000). Pada tahun 1998,sebagian besar wanita (64 persen) bertambah
26 lb (sekitar 12 kg) atau lebih selama hamil. Median pertambahan berat adalah
30,5.1b, (sekitar 14 kg). Pertambahan berat ibu memiliki korelasi positif dengan berat
lahir, dan wanita yang berisiko paling besar melahirkan bayi berat lahir rendah (<2500
7

g) adalah mereka yang pertambahan beratnya kurang dari 16 lb (sekitar 7 kg). Memang
benar, I dari 7 wanita yang pertambahan beratnya kurang dari 16 lb melahirkan bayi
yang beratnya kurang dari 2500 g. insiden ini adalah 1 dari 5 pada wanita Amerika Afrika.
2.4.1 Rekomendasi Pertambahan Berat
Selama paruh pertama abad ke-20, pertambahan berat yang direkomendasikan
selama kehamilan dibatasi sampai di bawah 20 lb (9,1 kg). Saat itu dianggap bahwa
restriksi ini dapat mencegah timbulnya hipertensi dalam kehamilan dan makrosomia
janin yang menyebabkan harus dilakukannya seksio sesarea. Namun, pada tahun
1970an, wanita dianjurkan untuk menambah beratnya paling sedikit 25 lb (11,4 kg)
untuk mencegah kelahiran prematur dan gangguan pertumbuhan janin. pada tahun
1990, Institute of Medicine merekomendasikan pertambahan berat 25 sampai 35 lb
(11,5 sampai 16 kg) untuk wanita dengan indeks massa tubuh/IMT (body mass index,
BMI) prahamil normal
Feig dan Naylor (1998) dari Kanada menyanggah penggunaan rekomendasi ini
sebagai strategi umum pertambahan berat liberal di negara-negara industrialis. Mereka
menyebutnya sebagai kebijakan berpotensi merugikan yang mendorong wanita makan
berlebihan selama hamil, dan tanpa mempertimbangkan kausa lain berat lahir rendah
misalnya kurangnya asuhan prenatal, kehamilan remaja, penyalahgunaan obat, dan
merokok berlebihan. Mereka menganjurkan rekomendasi yang dibuat oleh Committee
on Medical Aspects of Food Policy di Inggris, yaitu seorang wanita hamil dengan BMI
normal seyogyanya mengalami peningkatan berat 15 sampai 25 lb (7 sampai 11 kg)
selama hamil (Report of the Panel on Dietary Reference Values, 1991).
Hytten (1991) mengkaji berbagai data yang terkumpul selama lebih 20 tahun
dan mengamati bahwa pertambahan berat total selama kehamilan pada primigravida
sehat yang makan tanpa batasan adalah sekitar 12,5 kg (27,5 lb). Proses-proses fisiologis kumulatif menghasilkan penambahan 9 kg yang berupa janin, plasenta, air ketuban,
hipertrofi uterus dan payudara, peningkatan volume darah, serta retensi cairan ekstrasel
dan intrasel. Sisa 3,5 kg tampaknya sebagian besar berupa lemak simpanan ibu.
8

Hytten dan Leitch (1971) meneliti laju pertambahan berat selama paruh kedua
kehamilan pada wanita nulipara normal. Kecepatan pertambahan antara minggu ke-20
hingga persalinan adalah sekitar 1 lb/minggu, Pada kedua kelompok, pertambahan
berat dari minggu ke-8 sampai 20 adalah sekitar 0,7 lb/minggu dan sekitar 1 lb/minggu
dari minggu ke-20 sampai persalinan. Hickey dkk. (1995) melaporkan angka yang
sedikit lebih tinggi yaitu 1 lb/minggu pada trimester kedua dan ketiga.
Beberapa kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh pertambahan berat badan
berlebihan yang disebabkan oleh lebih beratnya janin-bayi harus dipertimbangkan.
Parker dan Abrams (1992) meneliti keterkaitan antara pertambahan berat ibu di luar
rekomendasi Institute of Medicine pada 6690 kelahiran tunggal. Berat rata-rata
prahamil adalah 57 kg (125 lb), dan pertambahan rata-rata berat ibu adalah 15,2 + 5,2
kg (33,4 + 11,4 lb) pada wanita yang terutama dari golongan Kaukasus dan Asia ini.
Kurang dari separuh yang memperlihatkan pertambahan berat dalam rentang yang
direkomendasikan oleh Institute berdasarkan BMI mereka. Pertambahan berat dalam
rentang rekomendasi menurunkan risiko gangguan pada hasil akhir kehamilan. Sebaliknya, kurangnya pertambahan berat untuk habitus tertentu berkaitan dengan bayi
kecil untuk usia kehamilannya. Terdapat beberapa studi lain yang menunjukkan
pertambahan berat yang lebih rendah daripada yang dianjurkan berkaitan dengan persalinan prematur atau bayi berat lahir rendah (Abrams dan Selvin, 1995; Hickey dkk.,
1995; SiegaRiz dkk., 1994). Parker dan Abrams (1992) memperlihatkan bahwa
pertambahan berat yang berlebihan berkaitan dengan bayi besar untuk usia kehamilannya sehingga meningkatkan angka seksio sesarea (16 versus 22 persen). Witter
dkk. (1995) melaporkan bahwa risiko seksio sesarea meningkat secara linier seiring
dengan pertambahan berat selama kehamilan, tanpa bergantung pada berat lahir.
Johnson dan Yancey (1996) menekankan bahwa efek dari rekomendasi Institute of
Medicine untuk meningkatkan pertambahan berat selama hamil belum diteliti secara
tuntas.
Tidak semua pertambahan berat yang terjadi selama kehamilan hilang selama
atau segera setelah persalinan (Hytten, 1991). Wanita normal yang bertambah
sebanyak. 12,5 kg (27,5 lb) selama hamil memiliki berat 4,4 kg (9 lb) lebih besar
9

daripada berat prahamil sewaktu is pulang pascapartum. Schauberger dkk. (1992)


meneliti berat prenatal dan postnatal pada 795 wanita yang melahirkan di Wiscousin.
Rata-rata pertambahan berat adalah 13,0 + 4,8 kg (28,6 + 10,6 lb). Seperti
diperlihatkan di Gambar 10-6, sebagian besar penurunan berat ibu (sekitar 5,5 kg atau
12,1 lb) terjadi saat persalinan dan dalam 2 minggu berikutnya (sekitar 4 kg atau 8,8
lb). Sebanyak 2,5 kg (5,5 lb) lain hilang antara 2 minggu sampai 6,bulan postpartum.
Rerata penurunan berat total adalah 12,2 + 4,6 kg (26,8 + 10,1 lb), sehingga retensi
berat rerata akibat kehamilan adalah 1,4 + 4,8 kg (3 + 10,5 lb). Secara keseluruhan,
semakin banyak pertambahan berat selama hamil, semakin banyak yang hilang
postpartum. Wanita para lebih banyak menahan berat badan saat hamil, tetapi interval
antara kehamilan tidak berkaitan dengan kegemukan jangka-panjang. Efek menyusui
pada penyusutan berat ibu dapat diabaikan.
Mungkin temuan paling mencolok mengenai pertambahan berat pada
kehamilan adalah bahwa prognosis yang baik dapat dihasilkan dari kisaran
pertambahan yang lugs. Penyimpangan dari 'normal' bersifat sangat tidak spesifik
untuk prognosis kehamilan pada individu tertentu.

2.5 Asupan Makanan Yang Dianjurkan


Secara berkala, Food and Nutrition Board dari National Research Council
merekomendasi asupan gizi (dietary allowances) untuk wanita, termasuk mereka yang
hamil atau menyusui. Asupan harian yang dianjurkan tidak dimaksudkan untuk
aplikasi pada individu, tetapi sebagai petunjuk tentang kebutuhan populasi dan
kelompok, karena kebutuhan masing-masing orang jelas sangat bervariasi. Beberapa
suplemen vitamin-mineral prenatal dapat menimbulkan asupan yang jauh melebihi
anjuran ini. Hal ini mungkin tidak mudah diketahui baik oleh konsumen maupun
dokter yang meresepkan, karena informasi label dinyatakan berdasarkan US Recommended Daily Allowances dari Food and Drug Administration (FDA), yang secara
substansial berbeda untuk beberapa nutrien (Institute of Medicine, 1990). Selain itu,
penggunaan suplemen yang berlebihan (misalnya, 10 kali daripada asupan harian yang
10

dianjurkan), yang sering dibeli sendiri oleh cukup banyak anggota masyarakat,
menimbulkan kekhawatiran terjadinya toksisitas nutrien selama kehamilan. Zat-zat
gizi yang berpotensi menimbulkan efek toksik adalah besi, seng, selenium, dan vitamin
A, B6, C, dan D. Asupan vitamin dan mineral lebih dari dua kali lipat daripada asupan
gizi harian yang dianjurkan yang diperlihatkan pada Tabel 10-8 seyogyanya dihindari
selama hamil (American Academy of Pediatrics dan the American College of Obstetricians and Gynecologists, 1997).
2.6 Suplementasi Vitamin Dan Mineral Prenatal.
Sebelum munculnya rekomendasi untuk suplementasi folat untuk mencegah
defek tabung saraf (neural tube), satu-satunya nutrien yang kebutuhannya selama
kehamilan tidak dapat terpenuhi hanya oleh diet adalah besi (Institute of Medicine,
1990). Suplemen harian 30 mg besi elemental merupakan profilaksis yang dianjurkan
untuk defisiensi besi pada wanita yang berisiko rendah mengalami defisiensi gizi.
Konsumsi saat perut kosong akan mempermudah penyerapan besi untuk profilaksis
atau tempi anemia defisiensi besi (Bab 49, hal. 1465). Pada tahun 1997, FDA
mensyaratkan bahwa preparat besi yang mengandung 30 mg atau lebih besi elemental
per dosis harus dikemas sebagai dosis individual (mis. kemasan blister). Aturan ini
ditujukan untuk mencegah keracunan besi secara tidak sengaja pada anak.
American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and
Gynecologists (1997) tidak menganjurkan suplementasi multivitamin rutin, kecuali
apabila diet ibu diragukan atau is berisiko mengalami defisiensi nutrisi. Yang terakhir
mencakup gestasi multipel, penyalahgunaan obat terlarang, vegetarian total, pengidap
epilepsi, dan wanita dengan hemoglobinopati. Pada para wanita berisiko tinggi ini,
dianjurkan suplementasi multivitamin-mineral setiap hari dimulai pada trimester
kedua. Komposisi suplemen multivitamin-mineral yang dianjurkan adalah 30 sampai
60 mg besi, 15 mg seng, 2 mg tembaga, 250 mg kalsium, 10 g (400 IU) vitamin D, 50
mg vitamin C, 2 mg vitamin B6, 300 g folat, dan 2g vitamin B,, (Institute of
Medicine, 1992).

11

a. Kalori
Kehamilan memerlukan tambahan 80.000 kkal, yang terutama terakumulasi pada
20 minggu terakhir. National Research. Council (1989) menganjurkan peningkatan
asupan kalori 300 kkal sepanjang kehamilan. Kalori diperlukan untuk energi, dan
apabila asupan kalori tidak adekuat, maka protein akan dimetabolisasi untuk
menghasilkan energi dan tidak digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan
janin. Kebutuhan fisiologis total selama kehamilan tidak harus merupakan
penjumlahan dari kebutuhan biasa saat tidak hamil ditambah kebutuhan yang spesifik
untuk kehamilan. Sebagai contoh, tambahan energi yang diperlukan selama kehamilan
mungkin dikompensasi secara sebagian atau seluruhnya oleh berkurangnya aktivitas
fisik (Hytten, 1991).
b. Protein
Terhadap kebutuhan dasar protein pada wanita tidak hamil ditambahkan
kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, plasenta, uterus, dan payudara
serta peningkatan volume darah ibu. Selama 6 bulan terakhir kehamilan, terjadi
pengendapan sekitar 1, kg protein, yang setara dengan 5 sampai 6 g/hari (Hytten dan
Leitch, 1971). Asam amino dalam plasma ibu belum diteliti secara menyeluruh. di luar
pengamatan terjadinya penurunan mencolok konsentrasi ornitin, glisin, taurin, dan
prolin (Hytten, 1991). Pengecualian selama kehamilan adalah asam glutamat dan
alanin, yang konsentrasinya meningkat.
Sebagian besar protein dianjurkan berasal dari sumber hewani, misalnya daging,
susu, telur, keju, produk ayam, dan ikan, karena makanan-makanan ini mengandung
kombinasi asam amino yang optimal. Susu dan produk susu telah lama dianggap
sebagai cumber nutrien, terutama protein dan kalsium, yang ideal bagi wanita hamil
dan menyusui.
c. Mineral.
Asupan yang dianjurkan oleh National Research Council (1989) untuk berbagai
mineral disajikan di Tabel 10-8. Hampir semua makanan yang menghasilkan cukup
12

kalori untuk menghasilkan pertambahan berat yang memadai mengandung cukup,


mineral untuk mencegah defisiensi. apabila yang digunakan adalah garam beriodium.
d. Besi
Dari sekitar 300 mg besi yang dipindahkan ke janin dan placenta dan 500 mg yang
diserap, apabila tersedia, hampir semua digunakan setelah pertengahan kehamilan.
Selama waktu itu, kebutuhan besi yang ditimbulkan oleh kehamilan dan ekskresi ibu
berjumlah total 7 mg per hari (Pritchard dan Scott, 1970). Sangat sedikit wanita yang
memiliki simpanan besi yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan ini, dan makanan
jarang mengandung besi yang dapat memenuhi kebutuhan ini.
Suplementasi besi secara luas dipraktekkan di Amerika Serikat dan di tempat lain,
walaupun manfaat dari praktek ini terns dipertanyakan oleh sebagian kalangan.
Memang, US Preventive Service Task Force (1993) mengambil posisi netral, mungkin
karena anemia ibu belum terbukti menyebabkan kelainan hasil-akhir kehamilan. Hal
ini kurang logic karena bukanlah suatu keadaan yang menguntungkan apabila seorang
wanita hamil dalam keadaan anemik masuk ke ruang bersalin tempat perdarahan
obstetric menjadi ancaman yang nyata.
Scott dkk. (1970) menetapkan bahwa diperlukan paling kurang 30 mg besi
elemental dalam bentuk garam besi sederhana misalnya fern glukonat, sulfat, atau
fumarat yang diminum setiap hari sepanjang separuh terakhir kehamilan untuk
menghasilkan besi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan selama hamil dan
melindungi simpanan besi yang sudah ada. Jumlah ini diperkirakan memadai untuk
memenuhi kebutuhan besi selama. menyusui. Wanita hamil mungkin memperoleh
manfaat dari pemberian 60 sampai 100 mg besi per hari apabila is bertubuh besar,
memiliki janin kembar, berada, dalam tahap akhir kehamilan, mengkonsumsi besi
secara tidak teratur, atau kadar hemoglobinnya agak rendah. Wanita yang jelas anemik
akibat defisiensi besi berespons baik terhadap pemberian 200 mg besi per hari dalam
dosis terbagi (Bab 49, hal. 1466).
Karena selama 4 bulan pertama kehamilan kebutuhan besi tidak banyak, maka
selama masa ini tidak diperlukan suplementasi besi. Tidak memberikan suplementasi
13

besi selama trimester pertama kehamilan akan menghindari risiko memburuknya mual
dan muntah. Ingesti besi sebelum tidur juga tampaknya memperkecil kemungkinan
reaksi simpang di saluran cerna. Obat yang mengandung besi seyogyanya dihindari
dari jangkauan anak-anak.
e. Kalsium.
Wanita hamil meretensi sekitar 30 g kalsium, yang sebagian besar mengendap di
janin pada akhir kehamilan (Pitkin, 1985). Jumlah kalsium ini mencerminkan hanya
sekitar 2,5 persen dari total kalsium ibu, yang sebagian besar terdapat di tulang dan
mudah dimobilisasi untuk pertumbuhan janin. Selain itu, Heaney dan Skillman (1971)
membuktikan adanya peningkatan-penyerapan kalsium oleh usus dan retensi progresif
sepanjang kehamilan. Menurut Pitkin (1985), kadar kalsium terikat, dan bukan kadar
kalsium terionisasi, sedikit menurun di dalam plasma ibu seiring dengan berkurangnya
konsentrasi albumin.
f. Fosfor
Distribusi fosfor yang meluas memastikan bahwa asupan mineral ini adekuat
sepanjang keha,milan. Kadar fosfor inorganik dalam plasma tidak banyak, berbeda dari
kadar nonhamil.
g. Seng
Defisiensi seng yang parah dapat menyebabkan penurunan nafsu makan,
pertumbuhan suboptimal, dan gangguan penyembuhan luka. Defisiensi seng yang
berat dapat menyebabkan kecebolan dan hipogonadisme. Hal ini juga dapat
menyebabkan gangguan kulit spesifik, akrodermatitis enteropatik, yang disebabkan
oleh defisiensi seng kongenital parah yang jarang dijumpai. Walaupun janin hewan
yang mengalami defisiensi seng memperlihatkan peningkatan insiden malformasi susunan saraf pusat, namun peran seng dalam menentukan hasil akhir kehamilan pada
manusia masih belum jelas (Goldenberg dkk., 1995).
Jumlah seng dalam plasma hanya sekitar 1 persen dari total seng dalam tubuh.
Selain itu, seng plasma hampir seluruhnya terikat ke beberapa asam amino dan protein
14

plasma. Dengan demikian, konsentrasi yang rendah di plasma umumnya lebih


disebabkan oleh perubahan konsentrasi berbagai zat pengikat di plasma daripada oleh
kekurangan seng sejati (Swanson dan King, 1983). Walaupun konsentrasinya
berkurang, kompartemen seng total dalam plasma pada wanita hamil normal
sebenarnya meningkat akibat sangat meningkatnya volume plasma selama kehamilan.
Goldenberg dkk. (1995) memberikan suplementasi seng (25 mg) dalam sebuah studi
teracak pada 580 wanita tunawisma yang rata-rata dimulai pada kehamilan 19 minggu.
Kadar seng plasma sedikit dan secara bermakna lebih tinggi pada wanita yang
mendapat suplementasi. Bayi yang lahir dari wanita yang mendapat suplemen seng
sedikit lebih besar (rata-rata 125 g) dan lingkar kepalanya sedikit lebih besar
(peningkatan rerata 4 mm). Walaupun kadar suplementasi seng yang aman bagi wanita
hamil belum dipastikan, namun asupan harian yang dianjurkan selama kehamilan
adalah 15 mg.
h. Yodium
Semua wanita hamil dianjurkan memakai garam beryodium untuk memenuhi
kebutuhan bayi dan mengatasi meningkatnya pengeluaran yodium melalui urin ibu. Di
Amerika Serikat, asupan yodium diperkirakan sudah memadai, walaupun dalam 15
tahun terakhir terjadi penurunan yang bermakna (Utiger, 1999). Perhatian terhadap
peningkatan yodium dalam makanan selama kehamilan diperkuat oleh laporan terakhir
yang mengaitkan hipotiroidisme ibu dengan retardasi mental pada anak mereka
(Haddow dkk., 1999).
Defisiensi yodium yang parch pada ibu hamil menimbulkan predisposisi
kretinisme endemik pada janin, yang ditandai oleh defek neurologic berat dan multipel
(Bab 50, hal. 1506). Pada beberapa daerah di Cina dan Afrika, tempat defisiensi ini
menjadi endemik, suplementasi yodium pada awal kehamilan dapat mencegah
kretinisme (Cao dkk., 1994). Ingesti yodium dalam jumlah farmakologis selama
kehamilan dapat menekan fungsi tiroid dan memicu gondok yang cukup besar pada
janin. Konsumsi rumput laut dalam jumlah besar oleh pars pengikut mode makanan
juga dapat menimbulkan efek serupa.

15

i. Magnesium
Defisiensi magnesium akibat kehamilan belum pernah dilaporkan. Tidak
diragukan lagi bahwa selama sakit berkepanjangan disertai tidak adanya asupan
magnesium, kadar plasma dapat sangat rendah, seperti yang akan terjadi pada keadaan
tidak hamil. Kami pernah menjumpai defisiensi magnesium selama kehamilan yang
dipersulit oleh konsekuensi riwayat bedah pintas usus. Sibai dkk. (1989) membagi
secara acak 400 wanit/]/a primigravida normotensif untuk mendapat tablet plasebo
atau suplementasi magnesium elemental 365 mg dari 13 sampai 24 minggu.
Suplementasi tidak memperbaiki satupun parameter hasil akhir kehamilan.
j. Tembaga
Enzim-enzim yang mengandung tembaga, misalnya sitokrom oksidase, berperan
penting dalam banyak proses oksidatif dan oleh karenanya penting dalam produksi
sebagian besar energi yang dibutuhkan untuk metabolisme. Kehamilan menimbulkan
dampak besar pada metabolisme tembaga ibu, disertai peningkatan mencolok kadar
seruloplasmin serum dan tembaga plasma. Defisiensi tembaga selama kehamilan pada
manusia belum pernah dilaporkan. Belum ada dilaporkan adanya studi mengenai
suplementasi tembaga pada wanita hamil, namun scat ini beberapa suplemen prenatal
mengandung 2 mg tembaga per tabletnya.
k. Selenium
Ini adalah komponen esensial pada enzim glutation peroksidase, yang
mengkatalisis perubahan hidrogen peroksida menjadi air. Selenium adalah komponen
pertahanan yang penting terhadap kerusakan akibat radikal bebas. Defisiensi selenium
pernah dijumpai di suatu daerah yang lugs di Cina, tempat terjadinya suatu defisiensi
geokimiawi yang parch. Defisiensi selenium bermanifestasi sebagai kardiomiopati
yang sering fatal pada anak dan wanita usia subur. Sebaliknya, juga pernah dijumpai
toksisitas selenium akibat suplementasi berlebihan. Belum pernah ada laporan tentang
perlunya suplementasi selenium pada wanita hamil di Amerika Serikat.

16

l. Kromium
Kromium diperkirakan memiliki peran fisiologik sebagai kofaktor untuk insulin,
mempermudah perlekatan awal hormon ke reseptornya di perifer. Seberapa penting
kromium dalam nutrisi manusia masih belum diketahui, dan belum ada data yang
mengisyaratkan bahwa wanita hamil perlu diberi suplemen kromium.
m. Mangan
Logam

mi

berfungsi

sebagai

kofaktor

untuk

enzim-enzim

seperti

glikosiltransferase, yang penting untuk sintesis polisakarida dan glikoprotein.


Defisiensi mangan belum pernah dijumpai pada orang dewasa, dan suplemen tidak
diindikasikan selama kehamilan.
n. Kalium
Konsentrasi kalium dalam plasma ibu menurun sekitar 0,5 mEq/1 pada
pertengahan kehamilan (Brown dkk., 1986). Defisiensi kalium terjadi pada keadaankeadaan yang sama seperti apabila wanita tidak sedang hamil. Mual dan muntah yang
berkepanjangan dapat menyebabkan hipokalemia dan alkalosis metabolik. Kausa yang
dulu sering dijumpai, yaitu pemakaian diuretik, sekarang sudah hampir tidak pernah
ditemukan.
o. Natrium
Defisiensi selama kehamilan kecil kemungkinannya terjadi kecuali apabila
pasien mengkonsumsi diuretik atau asupan natrium dalam makanan menurun secara
drastis. Secara umum, mengasinkan makanan agar terasa lezat akan memberikan
natrium dalam jumlah besar. Konsentrasi natrium plasma dalam keadaan normal
menurun beberapa mEq selama kehamilan; namun, ekskresi natrium tidak berubah,
dan berkisar antara 100 sampai 110 mEq/hari (Brown dkk., 1986).
p. Fluorida.
Manfaat suplementasi fluorida selama kehamilan telah dipertanyakan. Horowitz
dan Heifetz (1967) meneliti prevalensi karies pada gigi susu dan gigi tetap pada anak17

anak yang setelah lahir mendapat pajanan yang sama terhadap air terfluorinisasi
optimal tetapi sebelum lahir mengalami pola pemajanan yang berbeda-beda. Mereka
menyimpulkan bahwa tidak terdapat manfaat tambahan dari ingesti air berfluor oleh
ibu hamil apabila anak mengkonsumsi air yang sama setelah lahir.
Glenn dkk. (1982) melaporkan insiden karies yang jauh lebih rendah (99 persen)
pada anak yang ibunya mengkonsumsi 2,2 mg natrium fluorida per hari selama hamil,
dibandingkan dengan mereka yang ibunya hanya menggunakan air berfluor.
Suplementasi fluorida selama kehamilan belum disahkan oleh American Dental
Association (Institute of Medicine, 1990).
Suplemen fluorida yang dikonsumsi oleh ibu menyusui tidak meningkatkan
konsentrasi fluorida dalam ASI (Ekstrand, 1981).
2.6.1 Vitamin
Sebagian besar bukti mengenai pentingnya vitamin untuk keberhasilan
reproduksi diperoleh dari hewan percobaan. Biasanya, defisiensi yang parch pada
hewan ditimbulkan dengan penghentian sama sekali asupan vitamin, dimulai jauh sebelum saat kehamilan; atau dengan memberikan antagonis vitamin yang sangat poten.
Pemberian sebagian vitamin dalam jumlah berlebihan kepada hewan hamil dibuktikan
menimbulkan efek yang merugikan pada janin dan neonatus.
ASAM FOLAT
Di Amerika Serikat, setiap tahun sekitar 4000 kehamilan mengalami penyulit
defek tabung saraf (neural-tube) dan lebih dari separuhnya dapat dicegah dengan
asupan harian 400 g asam folat sepanjang periode perikonsepsi (Centers for Disease
Control and Prevention, 1999). Sejak tahun 1992, Public Health Service telah
merekomendasikan agar semua wanita yang mungkin hamil mengkonsumsi 400 g
asam folat setiap hari selama usia subur. Food and Drug Administration (1996)
kemudian menetapkan standar untuk memperkaya produk sereal dan biji-bijian
misalnya sereal, rote, nasi, dan pasta dengan asam folat. Dengan menambahkan 140 g

18

asam folat ke dalam setiap 100 g produk biji-bijian, diperkirakan bahwa asupan asam
folat wanita Amerika usia subur akan meningkat 100g per hari.
Terdapat bukti bahwa kebijakan ini berperan dalam meningkatnya kadar folat
serum (Lawrence dkk., 1999). Juga terdapat silang pendapat mengenai seberapa
banyak suplementasi asam folat yang dianggap cukup untuk mencegah defek neuraltube (Mills, 2000). Dengan demikian, tidak diketahui berapa dosis asam folat terendah
yang akan mencegah 50 persen defek yang diperkirakan berkaitan dengan metabolisms
asam folat. Daly dkk. (1997) berpendapat bahwa pemberian 200 g per hari melalui
fortifikasi pangan efektif untuk mengatasi defek neural-tube dan lebih aman bagi:
populasi umum. Pentingnya program fortifikasi pangan nasional ditekankan oleh
pengalaman-pengalaman di Inggris dan Wales yang tidak menerapkan program semacam ini (Kadir dkk., 1999). Walaupun terjadi peningkatan besar dalam suplemen asam
folat baik yang dengan maupun tanpa resep selama tahun 1990an di Inggris dan Wales,
angka defek neural-tube tidak berubah. Salah satu penjelasannya adalah bahwa
penjualan suplemen mungkin tidak mencerminkan konsumsi asam folat yang
sebenarnya.
Pada tahun 1997, March of Dimes mengontrak Gallup Organization untuk
melaksanakan survei telepon dengan nomor yang diambil secara acak terhadap 2001
wanita berusia 15 sampai 45 tahun sebagai sampel nasional untuk menilai pengetahuan
tentang pemakaian asam folat (Centers for Disease Control and Prevention, 1999).
Kurang dari sepertiga wanita berusia subur mengkonsumsi suplemen yang mengandung asam folat secara harian. Yang mengejutkan, hanya 13 persen wanita mengetahui
bahwa asam folat membantu mencegah cacat lahir, dan hanya 7 persen yang
mengetahui bahwa asam folat harus dikonsumsi sebelum hamil. March of Dimes akan
menginvestasikan sampai US$10 juta untuk program pendidikan asam folat nasional
selama 3 tahun
Karena itu, suplementasi rutin selama kehamilan tidak dianjurkan. Beberapa
laporan kasus mengisyaratkan adanya keterkaitan antara cacat lahir dan asupan vitamin
A dosis tinggi (10.000 sampai 50.000 IU) setiap hari selama kehamilan. Cacat-cacat
lahir ini serupa dengan yang ditimbulkan oleh turunan vitamin A isotretinoin
19

(Accutane), yang terbukti merupakan teratogen bagi manusia (Bab 38, hal. 1133).
Beta-karoten, prekursor vitamin A yang terdapat dalam buah dan sayuran, belum
terbukti menimbulkan toksisitas vitamin A.
VITAMIN B12.
Kadar vitamin B12 dalam plasma ibu menurun secara bervariasi selamakehamilan normal. Hal ini, terutama terjadi karena menurunnya transkobalamin
plasma dan dapat dicegah sebagian oleh suplementasi. Vitamin B12 terdapat secara
alami hanya di dalam makanan yang berasal dari hewan. Sekarang sudah dipastikan
bahwa vegetarian total dapat menyebabkan lahirnya bagi yang simpanan vitamin B12nya rendah.
Selain itu, karena ASI dari ibu vegetarian kemungkinan besar hanya
mengandung sedikit vitamin 131, maka defisiensi dapat semakin mencolok pada bayi
yang mendapat ASI ini (Higginbotton dkk., 1978). Ingesti berlebihan vitamin C juga
dapat menyebabkan defisiensi fungsional vitamin B
VITAMIN B6
Sebagian besar uji klinis pada wanita hamil gagal membuktikan adanya
manfaat suplementasi vitamin B6 (Institute of Medicine, 1990). Bagi wanita yang
berisiko mengalami kurang gizimis. penyalah-gunaan obat, remaja, dan mereka
dengan gestasi multipeldianjurkan suplementasi 2 mg vitamin 136harian.
VITAMIN C
Asupan harian yang dianjurkan untuk vitamin C selama kehamilan adalah 70
mg/hari, atau sekitar 20 persen lebih banyak daripada wanita tidak hamil (label 10-8).
Makanan yang wajar umumnya mengandung sejumlah ini. Kadar di dalam plasma ibu
berkurang selama kehamilan sedangkan kadar di tali pusat lebih tinggi, suatu
fenomena yang dijumpai pada sebagian besar vitamin larut-air.

20

SURVEILANS GIZI PRAGMATIK


Walaupun ilmu gizi terns berusaha mengidentifikasi jumlah ideal protein,
kalori, vitamin, dan mineral bagi wanita ha-mil dan janinnya, namun mereka yang
bertanggung jawab langsung merawat wanita hamil mungkin sebaiknya melakukan
tugasnya sebagai berikut:
Secara umum, nasehati wanita hamil untuk makan apa yang ia inginkan dalam
jumlah sesuai kebutuhannya; makanan diberi garam agar lezat.Pastikan bahwa tersedia
cukup makanan untuk dikonsumsi, terutama pada kasus wanita yang keadaan
sosioekonominya kurang. Pastikan bahwa ia mengalami pertambahan berat, dengan
sasaran sekitar 25 sampai 35 pon (11,5-16 kg) pada wanita dengan indeks massa tubuh
normal.
Secara berkala, nilai asupan makanan dengan anamnesis. Dengan cara ini,
kadang-kadang kita dapat mengungkapkan diet kandungan nutrisinya tidak sesuai.
Berikan tablet garam besi yang mengandung paling sedikit 30 mg besi setiap
hari. Berikan suplementasi folat sebelum dan pada minggu-minggu awal kehamilan.
Periksa ulang hematokrit atau konsentrasi hemoglobin pada minggu ke-28
sampai 32 untuk mendeteksi adanya penurunan yang bermakna aerobik baru atau
meningkatkan intensitas olah raga. Sebagai contoh, pada wanita yang sebelumnya
tidak banyak berolah raga, aktivitas aerobik yang lebih berat daripada berjalan tidak
dianjurkan.
Pada beberapa penyulit kehamilan, ibu dan janin mungkin memperoleh
manfaat apabila ibu tidak banyak beraktivitas. Sebagai contoh, wanita dengan
hipertensi dalam kehamilan sebaiknya tidak banyak beraktivitas, demikian juga wanita
dengan dua atau lebih janin, wanita yang pertumbuhan janinnya diperkirakan terganggu dan mereka yang mengidap penyakit jantung berat.

21

PEKERJAAN
Gerakan sosial dan hukum untuk memperjuangkan persamaan kesempatan di
tempat kerja di Amerika Serikat telah mencakup wanita Yang sedang atau mungkin
hamil. Annas (1991) mengulas masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan
pekerjaan selama hamil. Yang utama, Mahkamah Agung Amerika Serikat mendukung
Pregnancy Discrimination Act tahun 1978 dengan menetapkan pada tahun 1991 bahwa
hukum federal melarang majikan menolak wanita untuk bekela di suatu kategori
pekerjaan berdasarkan keadaan atau kemungkinan hamil. Lebih dari 120 negara di
seluruh dunia saat ini menetapkan secara hukum adanya cuti hamil yang ditanggung
perusahaan dan pemberian tunjangan kesehatan, termasuk sebagian besar negara
industri kecuali Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru (Luke dkk., 1999).
Walaupun Family. and Medical Leave Act (FMLA = Undang-undang Cuti Medis dan
Keluarga) telah disetujui pada tahun 1993, namun sebuah laporan terakhir yang
dikirim ke Kongres menjelaskan bahwa karena cuti ini tanpa dibayar, maka wanita
yang berhak cuti tidak mengambilnya atas alasan keuangan. Diperkirakan hampir
separuh wanita usia subur di Amerika Serikat termasuk dalam angkatan kerja. Bahkan
pada kelompok sosioekonomi kurang, lebih banyak lagi wanita yang bekerja.
Manshande dkk. (1987) melaporkan peningkatan insiden janin berat lahir
rendah sebesar tujuh kah lipat pada wanita dari Zaire yang bekerja di ladang. Teitelman
dkk. (1990) mengevaluasi aktivitas kerja ibu dan hasil akhir kehamilan pada 4186
wanita yang melahirkan di Yale-New Haven Hospital. Wanita digolongkan sesuai jenis
pekelaan yang mereka jalani. Pekerjaan berdiri, misalnya Sebagai kasir, teller bank,
atau dokter gigi, yang memerlukan berdiri dalam posisi yang sama selama lebih dari 3
jam sehari. Pekerjaan aktif, misalnya dokter, pelayan, dan agen real estat, yang
mengharuskan berjalan secara kontinu atau intermiten. Pekerjaan sedentary misalnya
pustakawan,. petugas pembukuan, atau sopir bis, yang memerlukan berdiri kurang dari
1 jam per hari. Mereka mendapatkan bahwa wanita hamil yang melakukan pekerjaan
yang mengharuskan mereka berdiri lama berisiko lebih besar mengalami persalinan
prematur, tetapi tidak terdapat efek pada pertumbuhan janin. Mozurkewich dkk. (2000)
mengkaji 29 penelitian terhadap lebih dari 160.000 kehamilan. Mereka memastikan
22

adanya peningkatan 20 sampai 60 persen persalinan prematur, restriksi pertumbuhan


janin, atau hipertensi pada pekerjaan yang banyak menuntut kegiatan fisik. Gabbe dan
Turner (1997) melakukan pengkajian terhadap kerja selama kehamilan. Paul (1997)
menelaah pajanan terhadap zat-zat yang berbahaya di tempat kerja selama kehamilan.
Akal sehat mengatakan bahwa setiap pekerjaan yang menyebabkan wanita
hamil mengalami tekanan fisik hebat harus dihindari. Secara ideal, pekerjaan atau
permainan apapun yang menyebabkan timbulnya kelelahan fisik harus dihentikan.
Selama hari kela, harus disediakan periode istirahat yang memadai. Wanita yang
kehamilan sebelumnya bermasalah yang besar kemungkinannya berulang, misalnya
berat lahir bayi rendah, mungkin harus meminimalkan kerja fisik. American Academy
of Pediatrics dan American College of Obstetricians and Gynecologists (1997)
menyimpulkan bahwa wanita dengan kehamilan tanpa komplikasi biasanya dapat
melanjutkan pekerjaannya sampai awitan persalinan. Dianjurkan adanya periode
istirahat 4 sampai 6 minggu sebelum wanita yang bersangkutan kembali bekerja.
BEPERGIAN
Wanita sehat yang bepergian tidak berefek buruk bagi kehamilan. Perjalanan di
dalam pesawat udara yang tekanan udaranya memadai tidak menimbulkan risiko
spesifik, dan American Airlines mengijinkan perjalanan tanpa restriksi se-lama wanita
yang bersangkutan merasa sehat dan tidak dalam 7 hari menjelang tanggal perkiraan
persalinan. Delta Airlines tidak memiliki aturan pembatasan perjalanan, tetapi
menganjurkan bahwa wanita hamil memeriksakan diri ke dokter mereka apabila akan
bepergian setelah "bulan kedelapan". Paling tidak setiap 2 jam is harus berjalan-jalan.
Mungkin risiko terbesar pada perjalanan, terutama perjalanan mancanegara, adalah
timbulnya penyulit saat berada jauh dari fasilitas yang memadai untuk menangani
penyulit tersebut.
American College of Obstetricians and Gynecologists (1998c) telah `
merumuskan petunjuk mengenai pemakaian sabuk pengaman oleh penumpang kendaraan bermotor. Tidak ada bukti bahwa sabuk pengaman meningkatkan kemungkinan
cedera pada janin. anin. Memang benar, penyebab utama kematian janin dalam
23

kecelakaan lalu lintas adalah kematian ibu (Bab 43, hal. 1309). Oleh karenanya, wanita
hamil harus dianjurkan untuk menggunakan sabuk pengaman tiga-titik dengan benar
selama kehamilan apabila naik mobil. Bagian bawah dari sabuk pengaman harus
dipasang di bawah perut dan melintang di atas paha bagian atas. Sabuk harus terpasang
dengan pas dan nyaman. Sabuk bagian bahu harus diletakkan dengan pas di antara
payudara, walaupun tampaknya tidak terjadi cedera serius apabila payudara mengalami
tekanan saat tabrakan. Masih sedikit bukti mengenai pemakaian kantung udara (air
bag) selama kehamilan (Bab 43, hal. 1309). Walaupun beberapa laporan
mengisyaratkan bahwa kantung udara aman, namun kami serta sebagian yang lain
(Schultze dkk., 1998) pernah menjumpai kasus lahir coati pada penggunaannya.
MANDI
Tidak ada larangan untuk mandi selama hamil atau masa nifas. Selama
trimester terakhir, uterus yang berat biasanya mengganggu keseimbangan wanita hamil
dan meningkatkan kemungkinan wanita hamil terpeleset dan jatuh di bathtub kamar
mandi. Karena itu, menjelang akhir kehamilan wanita dianjurkan menggunakan
shower.
BUSANA
Secara umum direkomendasikan bahwa busana yang digunakan selama hamil
seyogyanya nyaman dan tidak ketat. Namun, menurut para pakar busana, busana ibu
hamil telah banyak berubah akhir-akhir ini (Morgan, 2000). Salah satu perancang
mode menyatakan: Biasanya [baju hamil] bersifat menutupi, tetapi sekarang menjadi
mempertunjukkan. Keelokan ibu hamil saat ini adalah pada busana ketat yang tidak
menyembunyikan tubuh.
Meningkatnya massa payudara dapat menyebabkan payudara menggantung dan
terasa nyeri, dan untuk menjaga kenyamanan diindikasikan penggunaan bra yang
menopang secara pas. Stocking yang ketat sebaiknya dihindari.
KEBIASAAN BUANG AIR BESAR

24

Konstipasi sering terjadi, mungkin karena memanjangnya waktu transit dan


tertekannya usus bagian bawah oleh uterus atau oleh bagian presentasi janin. Selain
rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh lewatnya bahan feses yang keras, dapat terjadi
perdarahan dan fisura yang nyeri di mukosa rektum yang edematosa dan hiperemik.
Frekuensi hemoroid juga meningkat dan dapat terjadi prolaps mukosa rektum,
walaupun lebih jarang.
Wanita yang kebiasaan buang air besarnya normal selama tidak hamil dapat
mencegah konstipasi selama hamil dengan memperhatikan lebih seksama kebiasaan
buang air besar, mengkonsumsi cairan dalam jumlah memadai, dan cukup berolahraga
setiap hari serta, apabila diperlukan, penggunaan laksatif ringan, misalnya jus prem,
larutan pencahar yang mengandung magnesium, zat penambah massa atau pelunak
tinja.
KOITUS
Apabila ada ancaman abortus atau partus prematurus, koitus harus dihindari. Di
luar itu, hubungan seks pada wanita hamil yang sehat umumnya dianggap tidak
berbahaya sebelum sekitar 4 minggu terakhir kehamilan. Dalam wawancara kepada
hampir 10.000 wanita yang ikut serta dalam suatu penelitian prospektif, Vaginal
Infection and Prematurity Study Group mendapatkan penurunan frekuensi hubungan
seks yang bermakna wiring dengan usia gestasi (Read dan Klebanoff, 1993). Pada
minggu ke-36, 72 persen melaporkan frekuensi hubungan seks kurang dari sekali
seminggu. Bartellas dkk. (2000) melaporkan bahwa hal ini disebabkan oleh
berkurangnya hasrat (58 persen) dan khawatir akan bahaya terhadap kehamilan (48
persen).
Risiko akibat hubungan kelamin menjelang akhir kehamilan belum sepenuhnya
diketahui. Grudzinkas dkk. (1979) tidak menemukan keterkaitan antara usia gestasi
saat persalinan dengan frekuensi koitus selama 4 minggu terakhir kehamilan. Naeye
(1979), dengan menggunakan data dari Collaborative Perinatal Project, melaporkan
bahwa infeksi cairan ketuban dan mortalitas perinatal secara bermakna meningkat
apabila ibu berhubungan seks sekali atau lebih setiap minggu selama bulan terakhir.
25

Dalam studi kolaboratif besar yang dilaporkan di atas oleh Read dan Klebanoff (1993),
tidak terdapat keterkaitan antara frekuensi koitus dengan persalinan prematur. Ekwo
dkk. (1993) mewawancarai lebih dari 1350 wanita dan mendapatkan bahwa sebagian
besar posisi dan aktivitas hubungan seks tidak berkaitan dengan gangguan pada hasil
akhir kehamilan. Terdapat peningkatan dua kali lipat insiders pecahnya selaput ketuban
pada posisi prig di atas.
Kadang-kadang, hasrat seksual di tengah larangan melakukan hubungan
kelamin menjelang akhir kehamilan mendorong dilakukannya praktek-praktek seks
yang membahayakan. Aronson dan Nelson (1967) melaporkan satu kasus embolisms
udara yang fatal menjelang akhir kehamilan akibat tertiupnya udara ke dalam vagina
selama cunnilingus (seks oral yang dilakukan pada wanita). Kasus-kasus lain yang
hampir fatal juga pernah dilaporkan (Bernhardt dkk., 1988).
PERAWA TAN GIGI
Pemeriksaan gigi harus tercakup dalam pemeriksaan fisik umum prenatal.
Kehamilan jarang menjadi kontraindikasi terapi gigi. Konsep bahwa karies gigi
diperparah oleh kehamilan tidak terbukti.
IMUNISASI
Terdapat beberapa kekhawatiran mengenai keamanan berbagai imunisasi
selama kehamilan. Rekomendasi yang sekarang berlaku diringkas pada Tabel 10-9.
Masalah imunisasi pada orang dewasa telah dibahas oleh Foley dan Kopelman (1995)
serta Gardner dan Schaffner (1993).

26